Tafsir Surat Al-Kautsar (bagian 1)

17861479_1307162532671430_8107538454058164747_n

Kami akan menjelaskan tentang Surat Al-Kautsar, Surat ke-108.

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Inna a`thaynaaka al-kautsar, fa shalli li rabbika wanhar, inna syaa-ni’aka huwa al-abtar”

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Karunia yang Banyak (Al-Kautsar). (1) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (2) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (3)

Allah (swt) berfirman, “Innaa a`thaynaaka al-Kautsar” — “Sesungguhnya Kami telah memberimu Al-Kautsar.”

Ia (swt) tidak mengatakan, “Kami sedang memberimu.” Ia (swt) tidak pula mengatakan, “Kami akan memberimu.” Ia (swt) mengatakan dalam bentuk lampau, “Innaa a`thaynaaka” — “Sungguh Kami telah berikan kepadamu…”

Ketika Allah (swt) berfirman, “Kami telah memberikan kepadamu,” itu artinya, “Kami telah memberikannya sebelum dirimu diciptakan dan sebelum apa pun lainnya diciptakan, Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar, Karunia Allah yang banyak.”

Apakah Karunia Allah yang banyak itu? Tidak ada penjelasannya, tidak ada detailnya, jadi tak seorang pun mengetahuinya. Allah (swt) mengatakan, “Sungguh Kami telah memberikan padamu,” bermakna, “Tak seorang pun tahu apa yang telah Ku-berikan padamu, Yaa Muhammad; Aku telah memberimu menurut Keagungan-Ku, tanpa batas.”

Artinya, dengan cara apa pun kalian berusaha memberikan batas atas Nabi (saw), itu adalah suatu kesalahan. Ketika kalian mengatakan, “Nabi (saw) adalah seseorang yang hanya membawa risalah dan kemudian wafat dan hanya itu,” maka mengatakan seperti itu adalah suatu kesalahan besar.

Setiap orang akan wafat, dan memang Nabi (saw) telah meninggalkan kehidupan fana dunia ini, tetapi itu bukan berarti beliau seperti diri saya atau diri kalian atau seperti yang lain. Tidak.

Allah (swt) tidak mengatakan pada nabi-nabi lain seperti apa yang telah Ia katakan pada Baginda Nabi (saw), “Kami telah memberikan padamu ‘Al-Kautsar’, ‘Sesuatu yang Banyak’.”

Dan apakah yang telah Ia (swt) katakan? Al-Kautsar. Kautsar berasal dari bahasa Arab “Katsiir.” “Katsiir” bermakna “terlalu banyak.” Kami telah memberimu sesuatu yang terlalu banyak. Bagaimana kemudian kita dapat membatasi sesuatu yang telah Allah karuniakan kepada Sayyidina Muhammad (saw)?

Apa pun kelebihan dan keutamaan yang telah kalian sebutkan saat memuji Nabi (saw), dan apa pun yang telah kalian puji tak ada bandingannya dengan apa yang telah Allah karuniakan pada beliau dan pada ketinggian maqam yang Ia (swt) telah tempatkan beliau di sana. Namun, kalian memerlukan keduanya, yaitu: akal dan hati untuk mampu memahami hal ini.

Pada hari ini, mereka (kaum Wahabi dan Salafi, red.) menyerang orang-orang, yang seperti Imam Muhammad al-Bushayri, memuji Nabi (saw) dengan penuh cinta. Sekalipun demikian, pada hari ini orang-orang tetap membaca syair-syair beliau, Al-Burdah asy-Syarif dan Al-Mudariyyah. Beberapa orang malah membacanya setiap hari. Dan sebagian orang yang lain mencela mereka, “Jangan, jangan kalian lakukan hal itu; itu berarti kalian memuji Nabi (saw) terlalu berlebihan.”

Dalam tiga ayat Surat Al-Kautsar ini, Allah (swt) telah memberitahukan pada diri kita, “Wahai umat manusia, katakanlah apa pun yang ingin kalian katakan untuk memuji Nabi (saw), sebanyak yang kalian rasa perlu untuk dikatakan sebagai pujian atas beliau, hal itu bukanlah syirik, karena kalian tak akan mampu memujinya sebagaimana Aku telah memujinya.”

Dan dari rahasia ayat-ayat Al-Kautsar inilah, Muhammad Al-Busayri mengatakan dalam Al-Burdah-nya, “Katakan apa pun yang ingin kau katakan tentang Nabi (saw), tetapi jangan katakan seperti orang-orang Kristen berkata tentang ‘Isa bahwa ia adalah Tuhan atau anak Tuhan.” Artinya, pujilah Nabi (saw) setinggi yang kalian inginkan untuk memuji beliau (saw).

دَعْ مَــا ادَّعَتْهُ النَّصَارٰى فِيْ نَبِيِّهِـمِ
وَاحْكُمْ بِمَا شِئْتَ مَدْحاً فِيْهِ وَاحْتَكِـمِ

“Tinggalkan apa yang dikatakan orang-orang Kristen tentang Nabi mereka (yaitu ‘Isa),
Lalu putuskan apa yang kau inginkan untuk memujinya.”

Jadi siapakah yang dapat memuji lebih tinggi daripada Ia (swt) yang telah mengatakan “Muhammadun Rasulullah” setelah “Laa ilaaha ill-Allah”?

Ketika seseorang ingin untuk memberi, misalnya saya ingin memberimu sesuatu, harus ada seseorang yang memberi dan seseorang yang lain menerima. Seseorang memberi dan seseorang menerima. Jika tak seorang pun menerima, bagaimana kalian dapat memberi? Apakah kalian memberikan sesuatu di udara? Tentu tidak.

Jadi ketika Allah (swt) berfirman, “Kami telah memberikan padamu,” maka pemberian ini bukanlah terjadi ketika di dunia, melainkan sudah terjadi sebelum dunia ini. Artinya, sesuatu telah diberikan oleh Allah (swt) pada seseorang yang telah wujud.

Karena itulah ketika Jaabir bertanya kepada Nabi (saw), “Apakah yang Allah ciptakan pertama-tama?” Beliau (saw) menjawab, “Yang pertama-tama Allah ciptakan adalah cahaya Nabimu, wahai Jaabir.” Dan cahaya itu berputar dalam Bahru ‘l-Qudrah, Samudra Sifat Kekuasaan Allah. Di sana, beliau berputar, mengumpulkan energi lebih banyak dan lebih banyak lagi.  Ketika seseorang berputar ia mengumpulkan gaya sentrifugal.  Lebih banyak dan lebih banyak lagi kekuatan terkumpul ketika cahaya beliau (saw) berputar dalam Bahr al-Qudrah.

Dan hadits tersebut berlanjut, dari cahaya itu Ia (swt) menciptakan makhluk, dan dari seperempat cahaya itu, dunia diciptakan.

Artinya, “Kami telah memberikan padamu karunia yang tak bisa dijelaskan. Kami telah memberimu ‘al-katsiir, min kulli syai-in,’ dari apa pun yang telah Kami ciptakan, Kami berikan kepadamu, Yaa Muhammad, bahkan lebih dari itu.”

Jadi apa yang telah diberikan kepada Nabi (saw)? Itu adalah sesuatu yang tak seorang pun mengetahuinya. Artinya pula, apa pun maqam yang Allah telah karuniakan pada beliau, tak seorang pun mengetahuinya. Tak seorang pun kecuali Allah yang mengetahuinya. Tak seorang pun lainnya.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Rahasia Wirid Harian: Yaa Haliim dan Yaa Hafiizh

17861495_1307171372670546_8800717509846707579_n

Nabi ﷺ pernah berkata kepada Abu Bakar (ra), “Al-ghadhabu kufr, yaa Abaa Bakr. Amarah itu adalah kekufuran.” Amarah membuat kita kehilangan kendali atas apa yang kita kerjakan.

Iblis menjadi dengki kepada Sayyidina Adam (as) dan ia marah kepada Allah (swt). Karena itulah amarah adalah kekufuran, karena kalian tidak menerima situasi yang Allah (swt) tempatkan diri kalian di dalamnya. Adalah sulit untuk bersabar dan menahan diri.

Itulah mengapa kalian mesti membaca “Yaa Haliim” 100 kali setiap pagi sebelum fajar, berdiri menghadap kiblat untuk memastikan diri kalian dapat bersabar di hari itu, dan Allah (swt) akan mengirimkan malaikat khusus dalam naungan nama itu yang akan datang untuk melindungi kalian pada hari itu.

Jadi mereka menyuruh untuk membaca “Yaa Haliim” 100 kali dengan menghadap kiblat. Allah (swt) akan menjaga kalian untuk tetap lembut sepanjang hari; Ia (swt) akan memberi kalian kesabaran. Kemudian ucapkan “Yaa Hafiizh” 100 kali.  Wirid “Yaa Hafiizh” 100 kali akan menjaga kalian pada hari itu dari berbagai bencana.

Jangan datang dan mengeluh saja; tapi, lakukanlah wirid-wirid itu.

Orang-orang datang dan mengeluh. Jangan mengeluh; pergi dan amalkan wirid tersebut – 100 kali “Yaa Haliim” dan 100 kali “Yaa Hafiizh”.

Baca “Yaa Haliim” untuk melindungi diri kalian dari segala macam bentuk amarah, dan “Yaa Hafiizh” untuk melindungi kalian dari berbagai macam bencana yang datang dari bumi maupun langit. Jika kalian tak ingin melakukannya, terserah kalian, maka tanggung jawabnya ada pada diri kalian sendiri.

Jika kalian konsisten melakukannya, kalian akan melihat masalah-masalah kalian terselesaikan.

Saya kenal beberapa orang yang tadinya tidak membaca Wirid “Yaa Haliim” dan “Yaa Hafiizh” dan kemudian mereka mulai mengamalkannya, kehidupan mereka berubah; mereka menjadi suami-suami atau istri-istri yang lebih berbahagia, laki-laki dan wanita yang berbahagia.

Yaa Haliim: Allah mengatakan bahwa setiap kali kalian mengatakan “Yaa Haliim”, ‘Yaa’ terdiri atas dua huruf dan ‘Haliim’ terdiri atas empat huruf, artinya semua tersusun atas enam huruf.

Artinya, ucapan itu memiliki enam maqam. Setiap kali kalian mengatakan “Yaa Haliim”, Allah mengaruniakan pada kalian dari Langit Pertama, makna dan cahaya Nama Indah itu. Ketika kalian menyebutkan huruf kedua, Allah akan mewujudkan bagi kalian tajali Nama itu yag berasal dari Langit Kedua: cahaya yang keluar dari Nama itu dari Langit Kedua. Ketika kalian membaca huruf ketiga dari wirid itu, Allah akan menyelimuti diri kalian dengan apa yang datang dengan Nama itu dari Langit Ketiga; ketika kalian menyebut huruf keempat Nama itu, Allah akan mengaruniakan pada kalian apa yang datang melalui Nama itu dari Langit Keempat; pada huruf kelima, ketika kalian menyebut Nama itu, Allah akan menurunkan tajali Nama itu dari Langit Kelima; dan ketika kalian menyebutkan huruf keenam dari Nama itu, Allah akan mengirimkan tajalli Nama itu dari Langit Keenam. Dan diri kalian akan mencapai maqam Tujuh Langit yang merupakan maq’adi shidiqin ‘inda maliikin muqtadir.  Kalian akan berada di perbatasannya di sana. Ketika kalian menyebut “Yaa Haliim”, kalian mendapatkan tajali enam Langit yang berbeda.

Jangan jadikan kata-kata ini sekedar masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri; timbang dan pikirkan baik-baik sekarang. Saya mengucapkan ”Yaa Haliim”, jadi sekarang saya mendapatkan enam tajali ini dari Langit yang berbeda-beda. Jika kalian mengucapkannya untuk kedua kalinya, kalian pun mendapatkan enam tajali dari Langit yang lebih tinggi, karena setiap ucapan akan menuntun kalian ke maqam yang lebih tinggi.

Allah (swt) menciptakan dari huruf-huruf itu enam Malaikat, dan begitu kalian mengatakan “Yaa Haliim”, keenam malaikat ini akan diciptakan untuk kalian yang akan mengucapkan “Yaa Haliim” hingga Hari Kiamat. Dan pada kali ketiga kalian mengucapkan “Yaa Haliim”, enam lagi Malaikat anak diciptakan dengan tajali yang berbeda, pada tajali yang lebih tinggi, dan mereka akan bertasbih “Yaa Haliim” pada tingkatan yang lebih tinggi sekarang.

Setiap kali kalian membacanya, ada suatu tajali dari enam Langit dan setiap kali pula tajali tersebut muncul dari tingkatan yang lebih tinggi.  Setiap kali kalian membacanya, Malaikat-malaikat itu akan diciptakan dan tasbih-tasbih mereka akan dituliskan untuk kalian. Seandainya satu saja dari para Malaikat ini menampakkan dirinya, keseluruhan alam semesta ini akan runtuh oleh keindahan Nama Suci itu.

Jadi berpikirlah: 100 kali kalian mengucapkannya setiap hari. Artinya 100 kali enam, berarti ada 600 Malaikat setiap hari yang Allah karuniakan kepada kalian dengan tajali yang lebih tinggi setiap kalinya, dan puji-pujian mereka akan dikaruniakan bagi kalian. Dan seandainya kalian konsisten melanjutkan wirid ini, malaikat-malaikat ini akan mulai nampak dan kalian pun mulai dapat membayangkan wujud mereka. Mereka akan muncul dan nampak bergantung kepada ketulusan hati kalian dan kalian pun akan mencium wangi mereka.

Jika kalian kehilangan satu hari wirid ini, kalian pun mesti mengulanginya dari awal.

Kalian mesti kembali ke awal, karena satu pintu membuka pintu yang lain. Kita tidak dapat memberikan contoh seperti itu, tetapi kita mesti memberikan suatu perumpamaan; jadi apa yang mesti kita buat? Jika kalian menaruh botol-botol ini, yang satu bersandar pada yang lain, mereka akan berjatuhan, satu demi satu. Bukan saya yang memberikan contoh itu. Botol yang satu akan mendorong botol yang lain, dan botol yang kedua ini akan mendorong botol berikutnya hingga semua botol tersebut jatuh, pecah dan lenyap.

Jadi, “Yaa Haliim” akan membawa kalian ke maqam fana (lenyapnya ego keakuan, red.) sepenuhnya di Hadirat Ilahi. Karena itulah mengapa Awliya’ menyuruh pengikutnya membaca “Yaa Haliim” di permulaan pagi. Amalan ini akan membawamu ke maqam al-Fana’.

Jangan berkata, “Saya tak mampu melakukannya.” Lakukanlah di waktu apa saja. Jika kalian tak mampu melakukannya di pagi hari (walaupun waktu ini adalah waktu terbaik, karena kode pin-nya ada di pagi hari), jika kalian kesiangan, maka begitu kalian terbangun, berwudhu’lah dan bacalah “Yaa Haliim” 100 kali dan kemudian lakukan shalat Fajar (Subuh).

Kemudian “Yaa Hafiizh”… ketika kalian mengucapkan, “Wahai Allah, Engkaulah Dzat Yang Maha Penyantun dan Sabar, maka lindungilah diriku!” Mengapa “Yaa Hafizh” dibaca yang kedua, karena Allah adalah Zat Yang Melindungi. Ketika kalian menyebut Nama-Nya “Yaa Hafiizh”, Allah akan melindungi kalian dari segala macam bencana dan Ia (swt) akan menciptakan enam malaikat dari Surga untuk melindungi kalian dari energi negatif serta terlindungi sepanjang hari, dan tasbih mereka akan dituliskan bagi kalian. Hingga kalian akan mampu membayangkan wujud malaikat-malaikat ini.

Ada anak-anak kecil yang memiliki hati suci dan lembut yang dapat melihat hal-hal ghaib. Beberapa di antara mereka mengatakan melihat seseorang yang bercahaya atau gelap atau seseorang yang bergerak dan mengenakan jubah dan berjenggot, datang dan berjalan berkeliling. Ini adalah Awliya’ atau Malaikat yang tengah lewat, dan anak-anak suci ini dapat melihat mereka, dan Allah mengaruniakan kemampuan ini pada mereka yang memiliki hati lembut serta suci.

Jadi, “Yaa Hafiizh” akan melindungi diri kita dan “Yaa Haliim” akan menjaga kalian dari amarah. Kalian meminta orang-orang untuk melakukannya dan kalian menuliskannya dalam buku Awraad, tetapi mereka tidak mengamalkannya. Mereka malah datang dan berkata, “Kami punya masalah-masalah.” Kedua awraad ini, “Yaa Haliim” dan “Yaa Hafiizh”, akan melindungi kalian sepanjang hari.

Allah berfirman bahwa hal baik maupun hal buruk datang dengan izin Allah semata. Jangan bersedih. Pergi dan amalkan “Yaa Haliim” dan “Yaa Hafiizh”. Allah akan menghilangkan masalah-masalah kalian.  Ada kejahatan di muka bumi ini dan ada pula banyak masalah-masalah. Masalah-masalah ini terjadi karena ulah manusia dari satu generasi ke generasi yang lain oleh para orang tua yang memelihara penyakit-penyakit dalam hati mereka dan meneruskannya ke anak-anak mereka. Ada banyak masalah, dan untuk menyelesaikannya, Allah memberikan kedua Nama-Nama Indah ini untuk kalian baca dengan kode-kode tertentu.

Karena itulah, Guru Pembimbing kita akan menyuruh kalian untuk membaca Nama-nama Indah (Asma’ul Husna) itu dengan cara ini atau dengan cara itu, untuk menyelesaikan masalah-masalah kalian.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Tak Ada Kekuatan Apa pun Di Tangan Siapa pun

17990975_10154521785165886_6571231729702897088_n

Allah akan memerintahkan yang terakhir, Sayyidina Israfil (‘alayhissalam), untuk meniup Terompet dan segala sesuatunya akan mati; tak satu pun kehidupan tertinggal di muka Bumi dan Allah (swt) akan berkata, “Li man il-Mulk al-Yaum? Lillahi ‘l-Waahidi ‘l-Qahhaar!” “Milik siapakah Kerajaan di hari ini? Siapakah yang mampu mengangkat kepalanya dari kuburnya dan berkata, ‘Aku adalah sesuatu, atau seseorang?’” Tak seorang pun mampu mengatakan hal itu! Itulah suatu Hakikat dan Fakta yang akan terjadi, “li man al-Mulk al-Yaum?” Allah (swt) akan menjawabnya sendiri, “Lillaahi ‘l-waahid al-Qahhar” Kerajaan itu berada di Tangan-Nya dan tak seorang pun mampu memiliki sesuatu tanpa izin Allah. Bila kita tak mampu memahami hal ini, maka kita menjadi orang-orang yang merugi. Tak ada kekuatan apa pun di tangan siapa pun. Kita tidak dapat mengatakan ‘Orang ini berkuasa,’ atau ‘orang ini mampu melakukan ini atau itu’. Suatu hari akan datang di mana segala sesuatunya akan dimatikan.

Shaykh Hisham Kabbani

Dzikrullah Membawa Kita ke Maqam Tertinggi

17855142_10154509516290886_1807937837903623257_o

Dzikrullah membawa kalian ke maqam (tingkatan) tertinggi, dan maqam tertinggi itu adalah dengan membaca Al-Qur’an Suci. Bagaimana kalian dapat membaca Al Qur’an suci dengan cara yang paling sempurna? Alquran Suci adalah Sulthan adz-Dzikr, Rajanya Dzikir: tidak ada satu buku atau kitab pun yang menyerupai Kitab Suci Allah, bahkan seluruh Hadits-hadits Nabi (SAW) tidak dapat dibandingkan dengannya. Allah SWT mewahyukan Qur’an Suci kepada Nabi (SAW) dan Nabi (SAW) menyampaikannya kepada para Sahabat (radiyAllahu Ta’ala ‘anhum). Apakah haqiqat sejati dzikrullah? Hakikat dzikrullah adalah untuk mengingat-Nya, dan untuk mengingat-Nya adalah suatu hal yang amat mulia, tetapi mengingat-Nya saja tidaklah cukup.

Ketika kalian membaca Al-Qur’an Suci, Allah (SWT) ‘duduk’ bersama kalian, sebagaimana disebutkan dalam suatu Hadits (*), namun bukan berarti Ia SWT sungguh-sungguh ‘duduk’; arti yang sebenarnya ialah Allah (SWT) tengah hadir bersama kalian di Hadirat Ilahiah. Ia SWT membawa kalian ke Hadirat Ilahiah-Nya ketika kalian membaca Qur’an Suci. Jadi, jika kalian suka untuk berada di Hadirat Ilahi, bacalah Alquran Suci! Mungkin kalian tak melihatnya sekarang, namun jika seseorang mampu melihat Haqiqat segala sesuatu, mereka dapat melihat bahwa Qur’an Suci adalah bentuk tertinggi dari dzikrullah dan bahwa Allah Ta’ala membawa diri kalian lebih dekat dan lebih dekat kepada-Nya ketika kalian membacanya. Karena itulah ketika seseorang menyela kalian saat kalian membaca Qur’an Suci, hal ini bertentangan dengan etiket membaca Alquran. Ketika kalian tengah membaca Alquran, mereka tidak boleh menyela dan bercakap-cakap dengan kalian, dan kalian pun semestinya tidak berbicara dengan mereka.

Syaikh Hisham Kabbani.

Catatan:
(*) Hadits Qudsi dari Nabi SAW, “Ana jalisu man dzakaranii” “Aku duduk bersama orang yang berdzikir mengingat-Ku”. Hadits riwayat Imam Ad-Dailami dengan sanad dha’if, namun terdapat hadits dengan makna serupa dalam Sahih Bukhari, dengan matan:
وأنا معه إذا ذكرني
“Dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku”

Haul ke-3 Sultan al-Awliya Mawlana Syekh Nazim Adil al-Haqqani (q)

17554236_1636018516412432_5181135000999241624_n

Assalamu’alaykum wr.wb.
Kami mengundang seluruh murid, muhib, pecinta Mawlana Syekh Nazim Adil al-Haqqani (q) untuk hadir dalam acara Haul ke-3 Mawlana Syekh Nazim Adil al-Haqqani (q) bersama Mawlana Syekh Hisyam Kabbani di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia Jakarta pada hari Minggu, 9 April 2017 mulai Isya.

Terima kasih atas perhatiannya. wassalamu’alaykum wr.wb.

Majelis Nazimiyya Indonesia
Jl. Warung Jati Barat Raya No.9C Rt.012/09
Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan 12740
Telp: 021-79199468
Seluler: 0816-295-313

Mengapa Kita Memperingati Urs Seorang Wali

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
5 Mei 2015   Lefke, Siprus
Shuhbah di Dergah Mawlana Syekh Nazim

 

As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim. Alhamdulillahi Rabbi ‘l-`Alamiin, wa ’sh-shalaatu wa ’s-salaamu `alaa asyrafi ‘l-mursaliina Sayyidina wa Nabiyyina Muhammadin wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin. Alhamdulillahi yaa Rabb al-ladzii ja`altanaa min atbaa`i Sayyidinaa Syaykh Muhammad Nazim al-Haqqani wa ayyadtanaa bi ta`yiidin minhu wa `allamtanaa maa lam nakun na`lam wa haadza bi-fadl al-masyaaykh al-`izhaam.

Ya Allah!  Segala puji bagi-Mu bahwa Engkau telah membawa kami menjadi pengikut Mawlana Syekh Nazim–semoga Allah memberkati ruhnya.  Satu tahun telah berlalu dan saya tidak bisa menerima, bukan ‘menerima’ dalam arti sebenarnya, tetapi saya tidak dapat menggambarkan bahwa Mawlana meninggalkan dunia karena saya masih mengingatnya setiap saat dan bagaimana beliau berada di dalam kubur, bahwa beliau–sebagaimana Allah (swt) berfirman,

بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Tidak, mereka itu hidup di Sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (Surat Aali-`Imraan, 3:169)

“Mereka hidup di kubur mereka, yurzaquun,” mereka mendapat rezeki, berupa apa?  Apakah buah-buahan, daging, atau manisan?  Allah (swt) berfirman, “Mereka mendapat rezeki,” dan ketika Dia memberi rezeki kepada seseorang, itu artinya Dia menghiasinya dengan Khazanah Ilmu-Nya yang tak terhingga!  Allah (swt) menciptakan makhluk untuk mengenali-Nya.  Jadi ketika Allah membusanai awliya-Nya, itu adalah untuk lebih mengenali-Nya lebih banyak lagi, yang artinya untuk belajar.  Ketika kalian belajar di universitas, mereka membawa kalian dari gelar Sarjana menuju gelar Doktor, kalian meningkat pada setiap langkah, bukannya menurun.

أولياء الله تحت قبابي لا يعلمهم غيري

Awliya-Ku berada di bawah Kubah-Ku, tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Aku. (Hadits Qudsi)

Ketika Allah (swt) berkata, “Tidak ada yang mengetahui wali-Ku kecuali Aku,” dan “Mereka mendapat rezeki di Sisi Tuhannya,” itu tidak mudah, itu artinya orang yang berada di Hadirat Ilahi dilindungi dan Allah menjaganya bersama-Nya.  Ketika Allah telah memberi awliyaullah derajat rezeki itu, itu adalah derajat perlindungan dari Api Neraka, azab dan segala perbuatan Setan di dalam diri kita untuk para pengikutnya.  Ini adalah berkat kewaliannya dan karena ia berada di Hadirat Ilahi, bukannya di luar. Itu adalah salah satu makna dari yurzaquun; itu tidak berarti memperoleh sesuatu yang bersifat duniawi di dalam kubur, itu artinya kubur itu akan menjadi sebuah Surga.  Dan apa manfaatnya jika sebuah surga itu kosong, kalian duduk sendiri dan berkata, “Aku ada di Surga.”  Wali itu memerlukan sahabat dan kalian adalah sahabatnya dan juga anaknya, kalian adalah segalanya baginya, beliau duduk dengan para pengikutnya.

Tahun lalu di bulan Maret sebelum meninggalkan dunia, Mawlana Syekh Nazim (q) menyebutkan sesuatu, saya tidak tahu apakah ada yang memperhatikannya.  “Aku menginginkan sahabat-sahabatku, aku menginginkan sahabat lamaku, aku menginginkan murid-murid lamaku, aku merindukan mereka dan ingin bertemu dengan mereka.”  Jika Mawlana merindukan murid-murid lamanya, beliau juga merindukan murid baru karena yang baru menjadi lama, jadi itu artinya beliau merindukan semua orang!

Pertemanan dengan awliyaullah adalah penting.  Ketika Allah (swt) berfirman,

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

Ingatlah!  Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. [QS 10:62]

“Jangan takut mengenai awliyaullah, tidak perlu repot-repot untuk berusaha memahami level mereka, karena itu adalah mustahil.  Ia (wali itu) bersama kita dan bersama Nabi (saw).”  ‘Mendapat rezeki di kubur mereka’ maksudnya mereka berada dalam asosiasi bersama Nabi (saw) bersama umatnya, para awliya dan para anbiya di Hadirat Ilahi.  Itulah sebabnya apa yang kita lihat dari sisi luarnya sama sekali berbeda dengan sisi batinnya, seperti halnya ketika kalian mencari sebuah sumur dan kalian melihat air dari kejauhan, tetapi ketika kalian mendekat ternyata itu hanyalah fatamorgana, tidak ada airnya.  Air itu ada, tetapi mata kalian tidak dapat melihatnya.  Awliyaullah tidak akan mengatakan kepada kalian untuk mencari bila memang tidak ada apa-apa!  Itu bukan fatamorgana, tetapi orang awam tidak dapat melihat airnya.  Orang-orang yang diberi ilmu oleh Allah, dan menjadikan kubur itu sebagai mi’raj, itu adalah Surga.  Mereka berada di `Aalam al-Barzakh, yang disebutkan dalam Ahadiits mengenai Tanda-Tanda Akhir Zaman, di mana ruh orang Mukmin bergerak bebas ke seluruh dunia tanpa batasan dalam gerakan mereka, karena kubur mereka adalah Surga.

Jadi mereka mempunyai dua macam ilmu: pertama, yang mereka sampaikan kepada kalian dan satunya lagi yang mereka sampaikan pada seseorang lainnya, yang berbeda dengan kalian, atau mereka dapat mengatakan kepada seseorang tentang sesuatu yang sama dengan yang dikatakan kepada kalian tetapi dengan cara yang berbeda.  Sebagaimana dalam Ahadiits: Nabi (saw) menyampaikan sebuah hadits dan tergantung pada waktu dan kejadinnya, bagaimana wahyu itu turun dan siapa yang duduk, beliau akan menyampaikan hadits yang sama, namun lebih panjang atau lebih singkat.  Jika seorang wali duduk bersama Mawlana Syekh Nazim (q), ilmunya akan berbeda dengan ilmu yang beliau berikan kepada murid-murid seperti kita.  Ketika dua orang awliya duduk bersama, mereka berbicara wali-ke-wali, tetapi ketika mereka bersama murid mereka, itu bagaikan ayah kepada putranya atau ayah kepada putrinya, karena mereka menyayangi anak-anaknya dan ia menutupi mereka di bawah sayapnya. Kalian adalah anak-anaknya, putra putrinya.  Jadi ilmunya berbeda, ia mempunyai dua wajah: satu pada pemahaman ilahiah, yang lainnya pada pemahaman normal.  Saya tidak ingin berbicara tentang hal ini hari ini, kita hanya ingin berziarah dan mengikuti acara Urs.

Mengapa mereka mengatakan “Urs”, apakah ada yang bertanya tentang hal ini?  Dalam bahasa Arab Urs artinya “pernikahan.” Ya, ia berada dalam pernikahan, karena kalian memberikan yang terbaik dalam sebuah pernikahan.  Allah memberi para Awliya-Nya tahun-tahun lebih banyak dari tahun sebelumnya dan itu adalah Urs bagi mereka.  Misalnya, lihatlah bagaimana ilmu itu berubah, Allah (swt) menyebutkan beberapa huruf, huruf al-muqaththa`ah, di dalam Al-Qur’an Suci dan huruf pertama dalam Surat al-Fatihah dan Surat al-Baqarah adalah Alif.  Bagi para awliyaullah dan bagi Mawlana Syekh, Alif melambangkan al-Wujuud al-Kamil yang mutlak, “Wujud yang Sempurna.” Dari Alif, awliyaullah dapat menganalisis dan mengeluarkan wujud yang terbaik, karena ‘Wujud’ itu adalah bagi Allah (swt) bukan bagi yang lainnya karena semua orang akan pergi sedangkan Allah tetap ada. Dia adalah Sang Pencipta dan kita adalah hamba-Nya.  Jadi Alif itu melambangkan Wujud dan kalian dapat mengambil ilmu dari segala sesuatu yang berada di bawah Wujud itu, bahkan jika itu adalah sehelai daun dari sebuah pohon atau loquat.  Jadi awliyaullah dapat mengambil semua rahasia ini dan itulah sebabnya Al-Qur’an Suci dimulai dengan huruf Alif.

Allah mengirim ilmu ini bahwa Dia ingin dikenal kepada Jibril (as), yang merepresentasikan al-Mulk wal Malakut.  Ada dua Laam dalam “Allah,” satu berada dalam “Mulk” dan satu lagi dalam “Malakut,” kita tidak akan membicarakannya sekarang.  Tetapi kedua Laam merujuk pada Wujud al-Mulk wal Malakut, yaitu “Ilmu Duniawi” dan “Ilmu Surgawi,” atau “Khazanah Duniawi” dan “Khazanah Surgawi.” Laam merepresentasikan (makhluk) yang Allah berikan untuk memberi, yakni Jibriil (as).  Itulah sebabnya dikatakan di antara para awliyaullah bahwa Laam melambangkan Sayyidina Jibriil (as), kita tidak akan lebih jauh membicarakannya.

Jadi apa yang tersisa?  Miim. Alif untuk Allah, Laam untuk Jibriil (as), al-Mulk wal Malakut, dan seluruh alam semesta yang Allah ciptakan berada pada Miim.  Dan Miim itu adalah Muhammad (saw).  Sementara Miim mewakili Nabi (saw) saja, ada rahasia di dalamnya; bukan seperti ketika orang membaca “Alif, Laam, Miim,” dan berpikir bahwa itu tidak ada artinya. Miim dibentuk dari dua Miim.  Ketika kalian melihat alfabet, kalian mengucapkan Miim dua kali, dan di antara kedua Miim adalah Yaa.  Yaa adalah huruf terakhir dari alfabet. Alif adalah huruf pertama dan Yaa terakhir; Alif mewakili keseluruhan Wujud dan Yaa mewakili Yang Tersembunyi, dan ini berada di antara kedua Miim.  Dalam tata bahasa Arab, Yaa adalah Alif, bukannya Yaa; kalian tidak mengucapkannya kecuali sebagai Alif. Jadi ketika Yaa berada di antara dua Miim, itu artinya satu Miim berada dekat Yaa, yaitu Alif, dan Miim kedua berada di sisi lainnya yang terbuka bagi semua orang.  Itulah sebabnya Nabi (saw) bersabda,

ولكل شيء وجهان وجه الى الخلق ووجه الى ربه

Segala sesuatu mempunyai dua wajah: satu wajah menghadap ciptaan dan satu wajah menghadap Tuhannya. (Ghazali dalam Misykat al-Anwar)

Jadi satu Miim bersama Hadirat Ilahi dan yang lainnya bersama umat.  Apa yang Jibril (as) berikan kepada Miim pertama, Nabi (saw), diberikan dengan kekuatan terbaik, ‘Alif, Laam, Miim.’  Ketika ia sampai pada Miim kedua pada sisi lainnya, ilmu itu diberikan secara perlahan karena Nabi (saw) mengalami mi’raj, seperti ketika listrik masuk ke dalam transformator, ia akan  dikurangi sehingga dapat dialirkan; ilmu yang sampai pada Miim kedua sebenarnya tidak dikurangi, tetapi diberikan secara perlahan dalam mi’rajnya Nabi (saw).  Itulah sebabnya Nabi (saw) bersabda,

أوتيت جوامع الكلم

Aku telah diberikan induknya kalam. (Muslim)

Awliyaullah menerima ilmu semacam itu dan mereka tidak membukanya untuk orang-orang tertentu, melainkan hanya kepada orang yang dapat memahaminya, jadi ketika mereka membukanya, itu dalam jumlah tertentu.  Namun demikian kita harus tahu bahwa ketika mereka membaca  “Alif, Laam, Miim,” itu bukan seperti kita membacanya.  Dan itu bukan berarti mereka tidak akan memberikannya kepada murid-murid apa yang mereka sembunyikan dari mereka, tetapi murid itu tidak dapat membawanya sehingga mereka menghiasi mereka dengannya dan itu akan diberikan secara perlahan-lahan ke dalam qalbu mereka, baik pria maupun wanita.  Itulah sebabnya Allah (swt) berfirman,

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

Ingatlah! Sesungguhnya Wali-Wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Surat Yunus, 10:62)

“Mereka tidak mempunyai sesuatu untuk dikhawatirkan atau disedihkan, Aku memberi rezeki pada mereka.”  Mereka hidup: Mawlana hidup, tetapi beliau tidak berada di sini.  Segera setelah beliau ditempatkan di makamnya, para malaikat membawanya ke Syaam.  Pada suatu waktu, Grandsyekh–semoga Allah memberkahi ruhnya, mengatakan dari rahasia ini, “Ketika seorang Wali, Mukmin, atau siapa pun dari pengikutku meninggal dunia, mereka akan dipindahkan ke Syaam, karena itu adalah tempat di mana Allah akan menurunkan Singgasana-Nya pada Hari Kiamat.”

Jadi mereka akan diberkahi dengan keberkahan yang turun pada makam-makam Muslim dan Mukmin yang dikuburkan di Syaam.  Beliau berkata, “Setiap Muslim atau Mukmin dengan Iman yang baik yang memasuki Syaam, ketika ia keluar, dosa-dosanya akan dihapuskan.”  Jasad Mawlana tidak berada di sini.  Sebagaimana yang dikatakan oleh Grandsyekh (q), dan saya kutip, “Seluruh 124,000 awliya bertemu pada setiap hari Senin, Kamis, dan Jumat dalam sebuah asosiasi bersama Nabi (saw) di Jabal al-Qasiyoun dalam kehidupan rohaniah mereka, (di alam) Barzakh.”  Itulah sebabnya seluruh awliya dipindahkan ke sana.

Menjelang akhir hayatnya, sebelum Mawlana meninggalkan dunia ini, beliau sering mengatakan bahwa Syaam adalah Siprus sekarang.  Apa yang beliau maksudkan dengan hal itu, tidak ada yang mengerti.  Itu artinya ketika beliau berada di sini, tajali Syaam turun ke Siprus dan kini karena keberadaan beliau di sini, itu akan menjadi seperti tajali yang turun di Syaam.  Jadi awliyaullah memindahkan Mawlana ke Syaam asy-Syariif. Grandsyekh (q) menambahkan, “Seluruh Nabi selain Sayyidina Muhammad (saw) pindah dari tempat asalnya,” hal ini tidak diketahui orang karena ada banyak sekali makam dan ada banyak sekali Nabi, “dan ketika Sayyidina Mahdi (as) muncul, tajali mereka juga akan muncul dan kekuatan mereka akan muncul.”

Semoga Allah (swt) rida dengan kita!  Kalian beruntung karena kalian dapat melakukan ziarah setiap hari.  Kami melakukan ziarah dan mengingat Mawlana Syekh dari jarak jauh, tetapi kami percaya bahwa jarak bukanlah masalah karena mereka dapat menjumpai kita dalam sekejap.  Di mana pun murid berada di seluruh dunia ini, ketika ia memanggil Syekhnya, beliau hadir, bahkan jika ia tidak melihatnya secara bertatap muka, syekhnya hadir ketika ia memanggilnya!  Sekarang kita memanggil Syekh kita dan membaca ayat:

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (Surat an-Nisa, 4:64)

Kami membaca ayat ini, yaa Sayyidi dan kami datang padamu!  Kami memohon syafaatmu di hadirat Nabi (saw), untuk menghiasi kami dengna rahasia dari ayat tersebut!  Semoga Allah memberkahimu dan semoga Allah rida dengan kami semua.

Kita menghadapi masalah besar, jika orang tidak mengetahui, biarkan mereka tahu.  Kita perlu bersatu, karena sebatang lidi mudah dipatahkan, tetapi seratus lidi tidak dapat dipatahkan.  Saya berada di Inggris, memberikan ceramah dan ada seorang ulama terkenal dari Pakistan di sana.  Beliau senang dengan ceramah saya dan mengundang saya untuk datang ke Pakistan bulan Juni, tetapi saya pikir saya tidak dapat pergi ke sana.  Pada akhir acara, beliau mendatangi saya dan berkata, “Saya seorang Naqsybandi.  Saya mempunyai lima juta murid dan saya ingin semua orang mendengar apa yang engkau katakan.  Ini adalah berkah dari syekh Anda, Mawlana Syekh Nazim (q).”  Jadi ini adalah sebuah kabar gembira, tetapi ada serangan besar pada Tarekat Naqsybandi dari sebuah negeri di Timur Jauh, dari menteri agamanya.  Kami berusaha untuk tenang.  Kami telah mencoba segala cara yang mungkin, tetapi mereka telah ditekan untuk melakukannya.  Mereka mulai mengambil beberapa daerah dan mengatakan bahwa kami adalah kelompok yang sesat.  Kita harus menunjukkan yang sebaliknya pada mereka, dengan mengikuti Syari`ah dalam setiap perbuatan sebagaimana seharusnya.  Ada kesalahpahaman dan saya harus menjaga pada level itu. yang artinya mereka harus menghentikan apa yang mereka tuduhkan pada kita.  Jika kita bersatu, seperti keluarga di sini, tidak akan ada kesalahpahaman dalam segala hal karena  insyaa-Allah seluruh murid akan bersatu dan menunjukkan cinta kepada Mawlana Syekh, dan Mawlana Syekh akan menunjukkan cintanya kepada kita.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

 

http://sufilive.com/Why-We-Celebrate-the-Urs-of-the-Wali-5839.html

© Copyright 2015 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

Keutamaan Bulan Rajab

6e5fc588-7303-42f8-a50e-5825d34e0d55

Nabi (saw) telah menegaskan bahwa Rajab adalah bulannya Allah (swt), Sya’ban bulannya Nabi (saw), dan Ramadan adalah bulannya umat. Itu artinya Rajab adalah persiapan bagi setiap orang untuk berjumpa dengan Nabi (saw) di bulan Sya’ban, dan di bulan Sya’ban kita berpuasa dan memuji Allah (swt) serta Nabi (saw) untuk mempersiapkan diri memasuki Ramadan. Dan Sayyidina Muhammad (saw) bersabda, “Barang siapa yang berpuasa satu hari di bulan Rajab, Allah (swt) akan senang terhadapnya dan ia akan memperoleh rida Allah (swt) dan tingkat tertinggi dari Jannat al-Firdaus.”

Dan Nabi (saw) bersabda,
Hormatilah Rajab, bulannya Allah, Allah akan memberi penghormatan bagi kalian.
Penghormatan Allah tidak seperti penghormatan kita; penghormatan kita adalah penghormatan biasa. Kita adalah orang yang lemah, tidak berdaya dan lalai. Penghormatan kita tidak diperhitungkan, tetapi Allah (swt) berfirman, “Jika engkau memberi penghormatan kepada-Ku di bulan Rajab, Aku akan memberimu penghormatan.” Dikatakan bahwa pada Hari Kiamat, Allah akan memberi 1000 penghormatan bagi setiap hari yang diisi dengan puasa selama bulan Rajab!

(Melanjutkan hadits) “Dan barang siapa yang melakukan ghusl (mandi) pada hari pertama di bulan Rajab dengan niat memasuki hari pertama bulan Rajab dan pada hari ke-15 serta hari terakhir, Allah (swt) akan menghapus seluruh dosanya seolah-olah ia bagaikan baru dilahirkan.”

Allah (swt) memberi kita banyak jalan untuk menyelamatkan kita, untuk menjadi suci, dan bahagia di dunia dan akhirat. Nabi (saw) bersabda, “Kehormatan Rajab dibandingkan bulan-bulan yang lain bagaikan kehormatan al-Qur’an di antara kitab-kitab yang lain.”

Shaykh Hisham Kabbani