Imam Tarekat, Syah Baha`uddin Naqsyband (q)

ShahBahauddinNaqshband_2457

Dalam gugusan bintang ini, akhirnya kita sampai pada Muhammad Baha`uddin Uways al-Bukhari (q), yang dikenal sebagai Syah Naqsyband (q), Imam dari Tarekat Naqsybandi yang tiada tandingannya.  Beliau lahir pada tahun 1317 M, di desa Qasr al-`Arifan, di dekat Bukhara.  Setelah beliau menguasai ilmu Syariah pada usia muda 18 tahun, beliau tetap menemani Syekh Muhammad Baba as-Samasi (q), yang merupakan seorang ahli hadits di Asia Tengah.  Sepeninggal Syekhnya, beliau mengikuti Syekh Amir Kulal (q) yang melanjutkan dan menyempurnakan pelatihannya baik dalam ilmu lahir maupun batin.

Murid-murid Syekh Amir Kulal (q) biasanya melakukan dzikir zahar (dengan suara keras) ketika duduk bersama, dan dzikir khafi (dalam hati) bilamana sedang sendirian.  Walau tak pernah mengkritik ataupun keberatan, namun Syah Naqsyband (q) lebih menyukai dzikir khafi.  Mengenai hal ini, beliau berkata, ”Terdapat dua cara berzikir; satu khafi dan lainnya zahar.  Saya memilih yang khafi karena ia lebih kuat dan oleh karenanya lebih disukai.”  Kemudian dzikir khafi inilah yang menjadi ciri pembeda Naqsybandiyya di antara tarekat-tarekat lainnya.

Syah Naqsyband (q) melaksanakan ibadah Haji tiga kali, di mana setelah itu, beliau tinggal di Merv dan Bukhara.  Menjelang akhir hayatnya, beliau kembali ke kampung halamannya, Qasr al-`Arifan.  Pengajarannya dikutip di mana-mana dan namanya disebut oleh siapa saja.  Pengunjung berdatangan dari berbagai penjuru untuk meminta nasihatnya.  Mereka menerima pengajaran di sekolah dan masjidnya, suatu kompleks yang dapat menampung lebih dari lima ribu orang.  Sekolah ini merupakan pusat studi Islam yang terbesar di Asia Tengah dan masih ada hingga saat ini.  Baru-baru ini bangunan tersebut direnovasi dan dibuka kembali setelah bertahan selama tujuh puluh tahun dalam masa pemerintahan komunis.

Pengajaran Syah Naqsyband (q) mengubah hati para muridnya dari kegelapan hingga menemukan cahaya.  Beliau terus mengajarkan ilmu tentang Ke-Esaan Allah (swt) yang telah dikhususkan oleh para pendahulunya, dengan penekanan pada ihsan bagi para pengikutnya sesuai hadits Rasulullah (s), “Ihsan adalah beribadah kepada Allah (swt) seolah-olah engkau melihat-Nya.”

Ketika Syah Naqsyband (q) wafat, beliau dimakamkan di kebunnya, sebagaimana permintaannya.  Raja-raja penerus Bukhara merawat madrasah dan masjidnya.  Mereka memperluas dan menambahkan waqafnya.

Syekh-Syekh penerus Tarekat Naqsybandi menuliskan banyak biografi tentang Syah Naqsyband (q).  Salah satunya adalah Mas’ud al-Bukhari (q) dan Syarif al-Jarjani (q), yang menyusun Awrad Baha`uddin yang menceritakan tentang kehidupan beliau dan karya-karyanya termasuk fatwanya.  Syekh Muhammad Parsa (q), yang wafat di Madinah pada tahun 822 H (1419 M) menulis Risalah Qudsiyyah yang di dalamnya terdapat tulisan tentang kehidupan Syah Naqsyband (q), kehebatan-kehebatannya, serta pengajaran-pengajarannya.

Tulisan-tulisan warisan Syah Naqsyband (q) mencakup beberapa buku.  Di antaranya adalah Awrad an-Naqsybandiyyah, wiridan Syah Naqsyband (q).  Buku lainnya adalah Tanbih al-Ghafilin.  Buku ketiga adalah Maslakul Anwar.  Yang keempat adalah Hidayyatu-s-Salikan wa Tuhfat at-Talibin.  Beliau meninggalkan banyak pernyataan hormat memuji Rasulullah (s) dan beliau pun menulis banyak aturan.  Salah satu pendapatnya adalah bahwa semua jenis dan praktik peribadatan yang berbeda, baik yang wajib maupun sunnah, diperbolehkan bagi para muridnya dalam rangka mencapai kebenaran.  Salat, puasa, zakat, mujahadah (berusaha keras) dan zuhud (penyangkalan diri) ditekankan sebagai jalan menuju Allah (swt) Yang Maha Kuasa.

Syah Naqsyband (q) membangun sekolahnya atas dasar pembaharuan pengajaran agama Islam.  Beliau menggarisbawahi pentingnya mengamalkan al-Qur’an dan pengajaran Sunnah.  Ketika mereka bertanya kepada beliau, “Apa persyaratan bagi yang ingin mengikuti tarekatmu?”  Beliau menjawab, ”Mengikuti Sunnah Rasulullah (s).” Beliau lalu melanjutkan, ”Tarekat kami adalah sesuatu yang langka.  Yang menjaga ‘Urwat ul-Wutsqa, ikatan yang tak terputuskan, dan tak meminta apapun dari pengikutnya melainkan untuk selalu memegang teguh Sunnah yang murni dari Rasulullah (s) dan mengikuti jalan para Sahabat dalam  ijtihad (usaha untuk Allah (swt)) mereka.

“Sekolah Naqsybandi merupakan jalan termudah dan paling sederhana bagi para murid untuk memahami tauhid.  Dia mengharuskan pengikutnya untuk mencari peribadatan yang sempurna kepada Allah (swt) baik secara umum maupun pribadi dengan jalan melaksanakan adab Sunnah Rasulullah (s) secara sempurna.  Juga mendorong orang agar menjalankan jenis ibadah yang paling ketat (‘azhima) dan untuk mengabaikan keringanan (rukhsah).  Juga terbebas dari bias dan bid’ah.  Dia tak menuntut pemeluknya untuk terus-menerus berada dalam keadaan lapar dan terjaga.  Begitulah Naqsybandiyyah telah mengatur agar tetap terpelihara dari pengaruh-pengaruh orang yang kurang paham dan orang yang pura-pura mengetahui banyak hal (musya’wazan).  Ringkasnya, bisa dikatakan bahwa tarekat kami adalah ibu dari semua tarekat dan penunjuk bagi seluruh kepercayaan spiritual.  Inilah jalan yang paling aman, paling bijak, serta paling jelas.  Inilah maqam pelepas dahaga termurni, saripati yang tersuling.  Naqsybandiyyah tak ada hubungannya dengan serangan apapun karena menjalankan Sunnah Rasulullah tercinta (s).”

Atas izin Syekh kami, Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (q), Syekh keempatpuluh dalam Mata Rantai Emas Para Wali Naqsybandi,  kami mempublikasikan sebuah buku serba singkat yang berisikan cahaya dari para Wali Sejati ini, ungkapan-ungkapan bijak mereka, pengajaran-pengajaran mereka, jalan hidup mereka, serta teladan-teladan kewalian mereka.  Kami berharap akan mengajak pembaca untuk dapat mengecap kehidupan para Syekh ini, yang menerangi jalan kita akan ilmu tentang Kenyataan dan Kebenaran, akan Cinta kepada Rasulullah tercinta (s), serta akan tujuan akhir kita, yakni mencapai Hadirat Ilahi Sang Pencipta.

“Kubiarkan air mata mengalir pada malam saat kuingat Engkau Kekasihku; Kuserap dalam lelapku, seluruh pikiran akan Engkau wahai Kekasihku.”

“Untuk apakah mata yang terbuka tetapi tak menatap Engkau;

Berarti apakah air mata mengalir untuk yang selain Engkau.”

“Para pencinta mati pada setiap saat, setiap kematian tak sama.

Pencinta telah diberkahi dua ratus jiwa dari Sang Pembimbing Jiwa,

dan dia korbankan semuanya begitu saja.

Untuk setiap jiwa yang dia korbankan, sepuluh kali lipat dia terima kembali.

-bacalah Al Qur’an: Sepuluh kali lipatnya [QS al-Anam, 6: 160]”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s