Pentingnya Memohon Dukungan

71B148C2-D596-4E87-371913E729C61D87

Seri Ramadhan 2018

Dr. Nour Hisham Kabbani

23 Mei 2018 Fenton, Michigan

Shuhbah Subuh

 

Grandsyekh, Sulthanul Awliya Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani, semoga Allah senantiasa mengangkat derajatnya, berkata bahwa salah satu tanda iman adalah diluaskan dadanya, dan tanda lainnya adalah bila seorang pembicara memohon dukungan, madad.  Ini akan menundukkan ego.  Dukungan dari siapa? Dari Khalifah Rasulullah (saw), Shahibul Waqt, Sang Penguasa Waktu.  Setiap masa memiliki Penguasa Waktunya, seorang wali yang memberikan dukungan kepada manusia.

Imam Rabbani, Abdul Wahhab Asy-Sya’rani (qs) mengatakan bahwa setiap kali beliau duduk memberikan shuhba, beliau akan mengucapkan, “Madad yaa Sayyidi, yaa Shahibal Waqt, yaa Shahibaz Zaman”, memohon dukungan dari Sang Penguasa Waktu.  Orang yang tidak meminta dukungan sebelum berbicara, misalnya dalam sebuah seminar, ia berbicara bagaikan seorang tiran, dan Allah akan meninggalkan dirinya bersama egonya dan Setan.  Dan ia akan menghancurkan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Oleh sebab itu Grandsyekh menasihati agar kita selalu memohon dukungan ketika kita duduk di sebuah majelis dzikir atau suatu asosiasi, ketika memberikan nasihat atau suatu ceramah, selalu katakan, “Wahai Tuhanku, aku memohon dukungan-Mu, wahai Shahibal Waqt, wahai Khalifah Rasulullah (saw), aku memohon dukunganmu agar aku dapat menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi diriku dan bagi orang-orang di sekitarku.”  

Khususnya bagi orang-orang yang telah diberi wewenang untuk memimpin zikir dan memberi nasihat di seluruh dunia, jangan lupa, jangan duduk bagaikan seorang tiran, mintalah selalu dukungan dari guru kalian, berusahalah selalu untuk mendundukkan ego kalian dan katakan bahwa kalian bukanlah tuan tertinggi–ana rabbukum a`la; tetapi guru kitalah yang mengajari kita, guru kitalah yang membawa kita ke Hadirat Ilahi, dan beliau adalah Sulthanul Awliya, Grandsyekh Muhammad Nazim al-Haqqani dan BELIAU SENANTIASA HIDUP, di mana pun kita berada, dukungannya sampai pada khalifahnya, dan kemudian sampai kepada kita, dan kita bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut.   Dalam situasi apa pun kalian dapat memohon dukungan kepada Grandsyekh, dan beliau tidak akan meninggalkan kita, beliau akan mengirimkan dukungannya kepada khalifahnya dan dari beliau kepada kita.

Mengapa kita memerlukan dukungan?

Grandsyekh mengatakan bahwa melalui ibadahnya, melalui tafakurnya, melalui dzikirnya seorang manusia dapat mencapai suatu maqam tertentu.  Dan Grandsyekh mengatakan bahwa Sayyidina Ahmad Badawi (qs) telah mencapai maqam Kalimullaah, di mana Allah berbicara langsung kepadanya dari balik hijab dan ini adalah maqamnya Sayyidina Musa (as).  

Suatu hari seorang Qutub, Shahibul Waqt melihat Sayyidina Ahmad Badawi, dan beliau berkata, “Wahai Ahmad, datanglah padaku, aku mempunyai kuncimu.”  Tetapi Ahmad Badawi berkata, “Aku tidak memerlukan kunci darimu. Aku hanya akan mengambil kunci dari al-Fattah, Yang Maha Membuka, Allah (swt). Aku mengambil dari-Nya dan aku tidak memerlukan kunci darimu.”  

Grandsyekh berkata, “Mengapa kita mengangkat kisah ini?”  Karena manusia tidak senang untuk merendahkan dirinya, ego mereka.  Ego tidak mau menghentikan apa yang dilakukannya, karena ego kita berpikir bahwa semakin banyak kita beribadah, semakin kuat perjuangan kita, semakin tinggi pahalanya; sehingga kita mengatakan, “Aku yang mencapainya sendiri, aku mencapainya dengan ibadah-ibadahku, aku mencapainya dengan tafakurku, dengan dzikirku, dengan shalawatku.  Akulah orang yang telah sampai pada hakikat, akulah orang yang … akulah, akulah, akulah….” Itulah ego. Jadi pada awalnya Sayyidina Ahmad Badawi melakukan ibadah hingga ia mencapai maqamnya Sayyidina Musa (as). Egonya memompa dirinya sehingga ia mengatakan, “Akulah orang yang telah mencapai maqam tersebut dengan ibadahku, dengan kekuatanku, dengan kecakapanku, dengan perjuanganku.”  

Shahibul Waqt tersebut datang padanya untuk meruntuhkan egonya.  Itu adalah contoh bagi kita. Betapa banyak di antara kita yang berpikir bahwa dengan membaca ini, atau dengan melakukan ini, itu, kita akan terbang, bergerak ke sana ke mari dan berkelana ke Langit.  Kita tidak menerima orang lain yang berkata, “Datanglah padaku, aku akan tunjukkan jalanmu, aku akan memberikan kuncimu.” “Tidak. Apa itu, aku tidak mau menerimanya darimu. Aku ingin mendapatkannya dari Tuhanku.”  Begitu banyak di antara kita yang melakukannya.

Grandsyekh mengatakan bahwa nafsul insan, yaitu ego manusia tidak akan membiarkan dirinya untuk merendahkan dirinya.  Tetapi Aturan Allah (swt) mengharuskan kalian untuk mengikuti Ahlullaah, orang-orang di Jalan Allah, para Awliya-Nya dan kalian menyerahkan ego kalian kepada mereka. Ego itu tidak mau berserah diri pada Ahlullaah, ia akan terus mengatakan “Ana rabbukum a’la”  Aku adalah tuhanmu yang tertinggi.   

Jadi apa yang terjadi pada Sayyidina Ahmad Badawi?  Suatu ketika saat ia sedang bertafakur, ia berkata, “Wahai Tuhanku, izinkan aku melihat-Mu.”  Itu artinya Sayyidina Ahmad Badawi rindu untuk melihat Tuhannya, seperti kita semua, dan ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyidina Musa (as) kepada Tuhannya.  Allah berkata, “Engkau tidak akan melihat-Ku.” Artinya “Selama dirimu masih ada, engkau tidak akan melihat-Ku. Selama engkau mengaku bahwa engkau ada, bahwa engkaulah yang bergerak, engkau yang melakukan sesuatu, engkau yang beribadah, engkau yang telah sampai; engkau tidak akan mencapai apa-apa, engkau tidak akan melihat-Ku.”  Grandsyekh mengatakan, “Barang siapa yang mengaku bahwa dirinya ada, ia tidak akan melihat Tuhannya.”

Itu artinya ia menjadikan egonya sebagai “yang kedua”.   Grandsyekh mengatakan bahwa Istana dari Raja dari semua raja tidak akan menerima adanya raja kedua, tidak ada yang kedua, hanya ada satu.  Allah berkata kepada Sayyidina Ahmad Badawi, “Wahai hamba-Ku, engkau tidak akan melihat-Ku, Aku telah memberikan kuncimu pada seorang Qutub, pada Shahibul Waqt, pergilah temui dia.”  Allah mengirimnya pada Qutub itu agar egonya dihancurkan sehingga tidak ada lagi “yang kedua” di istana Hadirat Ilahiah-Nya. “Kunci itu adalah jalan bagimu untuk berada di Hadirat-Ku, dan Aku telah memberikannya kepada Shahibal Waqt.”  Dan ini juga merupakan sebuah contoh bagi kita.

Kita semua ingin berada di Hadirat Tuhan kita, kita semua, termasuk semua Muslim, semua Imam, semua syuyukh, semuanya, bahkan semua non Muslim, tetapi untuk berada di Hadirat Ilahi, kalian harus menemukan, kalian harus mengikuti Qutbuz Zamaan, kalian harus menemukan Qutub dari zaman ini.  Kalian tidak bisa pergi begitu saja ke sembarang orang. Kalian harus menemukan Qutub, Qutub Mutasharrif, Sultan Awliya. Dan ketika kita telah menemukannya, ketika kita duduk, kita memohon dukungan kepada Qutub Mutasharrif, Sulthanul Awliya. Sampai sekarang banyak orang yang tidak memohon dukungan kepadanya.  Untuk mencapai Hadirat Ilahi, kita harus menemukan Qutub Mutasharrif, Sulthanul Awliya.

Jadi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Grandsyekh Sulthanul Awliya, Sayyidina Ahmad Badawi akhirnya pergi untuk mencari Qutub yang memegang kunci tersebut, namun ia tidak dapat menemukannya.  Ia terus mencari dan mencari hingga akhirnya ia menyerah. Saat itulah sang Qutub menampakkan dirinya, dan berkata,

“Jadi engkau datang yaa Ahmad,”

“Ya Sayyidi, aku datang.”  

“Apakah engkau menyerahkan dirimu kepadaku?”  

“Ya Sayyidi, aku menyerahkan diriku padamu.”

Grandsyekh mengatakan bahwa Qutub itu memandang Ahmad Badawi sekali dan dengan sekali pandangannya itu, ia telah mencabut seluruh ingatan Ahmad Badawi dan mencabut seluruh ilmu dari dadanya.  Ia membuat Ahmad Badawi benar-benar berada di derajat terendah dan kemudian ia meninggalkannya. Selama enam bulan bahkan Ahmad Badawi tidak tahu lagi bagaimana caranya shalat.

Grandsyekh berkata, “Sebelum itu, ia shalat untuk dirinya sendiri, bukan untuk Tuhannya. Ia telah menjadikan dirinya sebagai Imam, ia menyebutkan dirinya sendiri, ia mengingat dirinya sendiri dan ia shalat untuk dirinya sendiri.”  Dan itu adalah contoh bagi kita. Betapa banyak di antara kita yang berdzikir dan shalat untuk diri sendiri. Mengapa? Untuk mengangkat derajat diri kita di depan orang-orang. Kita memberi mereka ilmu untuk menunjukkan bahwa diri kita seorang alim, kita berzikir untuk menunjukkan bahwa diri kita seorang dzaakir, kita memberi mereka nasihat untuk menunjukkan bahwa diri kita luar biasa, itu semua adalah untuk kita, untuk mengangkat diri kita dan sayangnya itu yang terjadi sekarang ini.  Kita tidak beribadah untuk Allah (swt). Kalian dapat melihat pada hati kalian. Wahai Tuhan kami, ampunilah kami.

Jadi Qutub itu mencabut semua ilmu yang telah dicapai oleh egonya Ahmad Badawi–ilmu yang telah dipelajari oleh ego untuk mengangkat dirinya.  Dan ia dibiarkan selama 6 bulan sampai tidak mengetahui bagaimana caranya shalat. Sayyidina Ahmad Badawi berusaha mencari Qutub itu dan ia berjuang dengan sekuat tenaga namun ia tetap bersabar.  Dan setelah 6 bulan Qutub itu memperlihatkan dirinya kembali. Sayyidina Ahmad Badawi bertanya, “Ke mana saja engkau pergi yaa Sayyidi?” Qutub itu berkata, “Aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku bersamamu, tetapi engkau tidak melihatku.”   Jadi jangan berpikir bahwa Sulthanul Awliya Grandsyekh Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani meninggalkan kita, tidak, beliau bersama kita, tetapi kita tidak melihatnya.

Kemudian sekali lagi Qutub itu melihat pada Ahmad Badawi (qs) dan ia menuangkan ke dalam hatinya sebagaimana Rasululllah (saw) menuangkan ke dalam hati Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra) dan ia mengangkat kembali derajat Ahmad Badawi ke derajatnya semula, tetapi bukan melalui amal atau perbuatannya Ahmad Badawi.  Kita harus memahami hal ini, bahwa Qutub itu telah memenuhi hati Ahmad Badawi dengan ilmu dan cahaya, tetapi bukan melalui amal Sayyidina Ahmad Badawi, melainkan dari Kemurahan Allah (swt). Dan itu yang terjadi pada murid, pada seorang dzaakir, pada syaakir, pada shaabur, pada orang yang mengikuti jalan ini, mereka tidak perlu melihat buku-buku, mereka tidak perlu mempelajari ilmu-ilmu ini itu; yang mereka perlukan adalah menanti syekhnya untuk melihatnya dengan suatu pandangan dan mereka akan dipenuhi dengan ilmu dan cahaya kewalian dan itu berasal dari Kemurahan Allah (swt), itu berasal dari nikmat Allah (swt), bukan dari hasil perbuatan egonya, dan bukan dari pekerjaan setan.  Tidak ada lagi ananiyya, keinginan dan ilmu egoistik.   Ia tidak lagi dicap dengan cap ego.  Itu adalah dari Kemurahan Allah (swt).  Karena Ahmad Badawi tidak lagi dipengaruhi egonya, seluruh cahaya turun padanya, dan ia dibusanai dengan cahaya Allah (swt) dan cahaya Rasulullah (saw) dan saking kuatnya cahaya itu, Sayyidina Ahmad Badawi harus menutupi dirinya, kalau tidak orang akan pingsan ketika melihatnya.  Itulah yang berusaha kita raih.

Jangan terlalu berusaha untuk meraih suatu maqam dengan membaca atau belajar untuk diri kalian sendiri atau dengan diri kalian sendiri.  Tetap istiqomah berada di bawah gerbangnya Sang Qutub. Temukanlah Qutub itu, perkerjaan kalian adalah untuk menemukannya. Mencari apa? Mencari Qutbuz Zamaan.  Sekarang semua orang berusaha mencari melalui Google Search, tetapi ia tidak akan membawa kalian pada Qutbuz Zamaan.  Kalian harus menemui seorang shaadiq, orang yang dapat dipercaya.  Jika kalian belum dapat menemukan seorang mursyid, carilah seorang saudara yang dapat dipercaya.  Dan Allah akan tetap membukakan pintu itu sampai kalian menemukan seorang Qutub. Dan Qutub itu akan memenuhi hati kalian dengan ilmu dan cahaya, dan itu bukan dari ego tetapi dari Kemurahan Allah (swt), dan itu adalah ilmu sejati, ilmu ladunni, ilmu haqiqi.  

Jangan terkecoh oleh Setan, jangan terkecoh oleh ego yang mengatakan bahwa orang akan melihat kalian bila kalian mempunyai ilmu, yang artinya kalian bekerja untuk ego kalian, bukannya berusaha untuk mencapai Hadirat Ilahi.  Semoga Allah menjauhkan kita dari kendali ego kita. Semoga Allah senantiasa membuat kita berada di ambang gerbang Sang Qutub. Temukanlah Qutub itu, bila kalian tidak tahu siapa dia, mintalah kepada Allah dalam shalat kalian.  Al-Qutub adalah orang yang bersama dengan Shahibuz Zamaan, mintalah, “Wahai Tuhanku, jadikanlah aku bersama dengan Shahibuz Zamaan. Panjangkan umurku untuk mencapai masanya.” Dan kalian akan menemukan Qutub yang akan membawa kalian pada Shahibuz Zamaan.  Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang diterima oleh Qutub dan membawa kita pada Shahibuz Zamaan, membawa kita pada Hadirat Ilahi. Aamiin yaa Rabbii.

Allahumma la takilna lii anfusina tharfata ‘ain, wa laa aqalla min dzalik“, ini adalah doa Rasulullah (saw), mengapa orang-orang tidak memahami doanya.  Beliau berkata, wahai Tuhanku, jangan tinggalkan aku pada egoku walau hanya sekejap mata.  Apa artinya? Itu artinya jangan membuat egoku sebagai guruku; jangan menjadikan egoku sebagai mursyidku; jangan membuat nafsuku menjadi pedoman bagaimana aku berbuat di dunia ini dan bagaimana tingkah lakuku dalam beragama; jangan membuat ego sebagai bos bagiku, bahkan untuk sekejap mata, itu artinya, “Jagalah diriku agar senantiasa bersama-Mu, Engkaulah guruku, Engkaulah pembimbingku, jangan tinggalkan aku pada egoku.”  Sayangnya begitu banyak dari kita yang dikuasai ego kita melalui perbuatan kita sendiri. Bacalah doa itu, mintalah dukungan pada Allah (swt), Dia akan melindungi kalian dari ego kalian.

Semoga Allah melindungi kita dari ego kita, semoga Allah memberikan kita dari Cahaya-Nya yang tak terhingga.

© Copyright 2018 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Advertisements

Pentingnya Malam Laylat al-Bara`ah

26196482_1555977204456627_3864816671046252175_n

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

Zawiyah Fenton, Michigan, 1 Juni 2015

 

A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.
Sebagaimana yang dikatakan oleh para Awliyaullah bahwa sebuah majelis yang melakukan dzikrullah, bahkan dengan hanya 3 orang pun akan membersihkan 70,000 majlis suu’ (buruk), yaitu majelis setani (majelis yang di dalamnya tidak disebutkan nama Allah–penerj.), jadi ini adalah pembersihan bagi kita.  Dan khatm ini dari generasi ke generasi, selama 1436 tahun dari Hijrahnya Nabi (saw) dari Mekah ke Madinah, senantiasa dilakukan secara terus-menerus tanpa henti, mengikuti perintah man tasyabbaha bi qawmin fa huwa minhum, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, ia akan digolongkan sebagai kaum tersebut,” dan ktia melakukannya atas perintah Allah (swt), yang mengatakan kepada Nabi (saw) dalam sebuah Hadits Qudsi,

أَنَا جَلِيْسُ مَنْ ذَكَرَنِي

Aku duduk bersama orang-orang yang berdzikir (mengingat-Ku). (Hadits Qudsi. Ahmad, Bayhaqi)

“Aku duduk bersama orang yang mengingat-Ku,” bukannya duduk sebagaimana yang kita pikirkan karena kita tidak percaya dengan tajsim, tetapi di sini artinya adalah bersama kita, Hadirat Ilahiah-Nya.  

Kita lakukan dzikrullah dan selesai menjelang Maghrib, lalu kita baca Yasiin tiga kali.  Grandsyekh (q) menjelang akhir hayatnya, beliau berada di rumah kami di Beirut dan saat itu tanggal 15 Sya`baan 1973, beliau berkata, “Aku tidak ingin tinggal lebih lama lagi di Beirut setelah 15 Sya’ban, bawalah aku kembali ke Damaskus.”  Setidaknya itu memerlukan sebuah shuhba, tetapi beliau berkata, “Untuk membuat rumahmu manis seperti surga, tidak perlu pergi ke pasar, temukan buah apa pun yang kau temukan, baik yang sedang musim maupun di luar musimnya.”  Pada saat itu, di sana tidak seperti di sini yang mudah untuk menemukan segala hal. Tetapi kami mendapatkannya, orang-orang datang membawakan buah-buahan.

Beliau berkata, “Kita akan membaca (melakukan adab) Laylat al-Bara`ah dan ada banyak kejadian yang akan terjadi, tetapi kalian akan selamat, dan insyaAllah sebagian dari kalian akan hidup di zamannya Mahdi (as).  Setalah menyelesaikan awraad, makanlah buah-buahan itu dan hidup kalian akan menjadi manis, insyaAllah.”

Saya mengatakan kepada Ishaq sebelum naik pesawat hari ini bahwa kata-kata Mawlana Syekh datang kepada kami untuk melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh Grandsyekh, karena dunia sedang memanas sekarang dan agar kita selamat dan kehidupan kita menjadi manis, oleh sebab itu saya minta untuk membawa buah-buahan dan memakannya setelah khatm, dan beberapa orang membawa jus!  Itu boleh saja, bahkan air pun boleh, itu adalah berkah untuk kita, itu sudah cukup bagi kita.

15 Sya’ban adalah tanggal dimulainya tahun surgawi.  Insya Allah, semoga Allah memberkahi kita dengan tajali malam Nisfu (pertengahan) Sya’ban itu, di mana Allah akan memberitahu kepada para malaikat apa yang akan terjadi pada tahun yang akan datang.  Allah turun ke Langit Pertama, dan bagi orang-orang yang melakukan adab pada malam itu, sesuai dengan zona waktu masing-masing, Allah akan memberi kabar kepada para malaikat bahwa kita duduk memuji-Nya dan pahalanya akan begitu besar, dan kejadian atau peristiwa yang akan terjadi pada tahun itu akan dikabarkan kepada para malaikat.  Saya tidak akan membahasnya lebih lanjut mengenai apa yang telah dikabarkan kepada para malaikat karena masih terlalu awal, tetapi kita katakan semoga Allah mengaruniai kita kehidupan yang manis dan kehidupan tanpa perselisihan!

Jika kalian marah, tinggalkanlah rumah kalian dan kembalilah beberapa saat kemudian ketika sudah tenang.  Jangan berdebat, perdebatan berasal dari Setan, sedangkan tawakal berasal dari Rahman, jadi pilihlah. Kita memohon kepada Allah (swt) untuk memberkahi kita dengan tawakal kepada-Nya dan tawakal kepada perintah-Nya, tawakal pada Ketetapan-Nya, dan untuk menunjukkan cinta kepada Sayyidina Muhammad (saw).

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq bi hurmati ‘l-habiib bi hurmati ‘l-Fatihah.

http://sufilive.com/The-Significance-of-Lailatul-Bara-ah–5879.html

 

© Copyright 2015 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Agenda Kunjungan Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

untitled

 

KAMIS, 2 Nov 2017
20-23 WIB
Zikir dan Shuhbah
Di rumah Bp.Soenarto, Jl.Mandala Selatan 16, Tomang, Jakbar

JUMAT, 3 Nov 2017
Salat Jumat di Mushalla Bp.Ahmaddin Ahmad, Jl.Arteri Kelapa Dua Raya No.1, Kebon Jeruk, Jakbar

SABTU, 4 Nov 2017
18-23 WIB
Mawlid dan Doa untuk Bangsa bersama Habib Hasan bin Ja’far Assegaf, Majelis Nurul Mushthofa
Di Masjid Istiqlal, Jakarta

AHAD, 5 Nov 2017
20-23 WIB
Zikir dan Shuhbah
Di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia

SELASA, 7 Nov 2017
20-23 WIB
Mawlid di Pesantren at-Taufiqy, Wonopringgo, Pekalongan (hanya utk pria)
Peserta harus memakai Nametag yang disediakan oleh panitia (hubungi kami untuk mendapatkannya)

CATATAN:
Bila ada perubahan/penambahan acara nanti akan diinformasikan lewat whatsapp, facebook, twitter dan media lainnya.

DONASI:
Rek BCA No. 375 600 7100 atas nama Yay. Jam’iyyat Attaqwa
konfirmasi donasi: WA ke 0816-295-313

Demikian pengumuman ini kami sampaikan.
Wassalamu’alaykum wr.wb.

Majelis Nazimiyya Indonesia
Jl. Warung Jati Barat Raya No.9C Rt.012/09
Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan 12740
Telp: 021-79199468
Seluler: 0816-295-313

Tour ke PPAT bersama Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

Assalamu’alaykum wr.wb.
Dalam rangka kunjungan ke Pesantren at-Taufiqy, Pekalongan bersama Mawlana Syekh Hisyam Kabbani pada:

🗓 Hari : Selasa s/d Rabu
📆 Tgl. : 7 – 8 Nov 2017

dengan jadwal sbb:

Berangkat hari Selasa, 7 Nov 2017
⏰ Jam : 9.30 – 13.49 WIB
🚉 KA Argo Bromo Anggrek

Kembali ke Jakarta hari Rabu, 8 Nov 2017
⏰ Jam : 12.40 – 17.00
🚃 KA Argo Bromo Anggrek

🏨 : Hotel bintang 4

💸 : biaya Rp. 1.600.000, sudah termasuk:
– tiket KA pp
– makan 3x
– bus selama di Pekalongan
– menginap di hotel bintang 4
– Name Tag

📋 Pendaftaran:
Melly Wa 089528413878
Mahda Wa 081932031670
Abdurrauf 0816295313

💳 Pembayaran melalui transfer ke Rek BCA No. 375.600.7100 a/n Yayasan Jam’iyyat Attaqwa

Catatan:
– Bagi jamaah yg telah mendaftar harap segera melakukan pembayaran
– Pendaftaran terakhir tgl 1 Nov 2017

Demikian pengumuman ini kami sampaikan, terima kasih atas perhatiannya.

Wassalam,

Majelis Zikir Naqshbandiyya Nazimiyya Indonesia
Jl. Warung Jati Barat Raya No.9C Rt.012/09
Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan 12740
Telp: 021-79199468
Seluler: 0816-295-313
http://www.naqsybandi.com

Mengingat Mati dan Menghormati Ahli Kubur

Shuhba
Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani ق

15325310_1180187118702306_1231173489499364410_o

Suatu ketika ada sekelompok orang yang membangun sebuah hotel besar bersebelahan dengan sebuah masjid. Ketika hampir selesai, mereka berkonsultasi dengan seorang ahli Yahudi, tentang bagaimana sebaiknya menjalankan hotel itu.  Mereka datang lengkap dengan foto-foto lokasi hotel. Ketika melihat foto-foto tersebut, si Yahudi mengatakan bahwa mustahil hotel itu dapat memberi keuntungan, karena letaknya tepat di sebelah masjid. Menurut sang ahli, dua hal yang berlawanan tersebut tidak mungkin saling mendukung-–karena sebuah hotel harus mengandalkan tiga hal demi keuntungannya, yaitu: judi, minuman dan seks.

Para tamu hotel yang sedang tenggelam dalam perbuatan dosa-dosa itu akan mendengar panggilan Adzan selama lima kali dalam sehari.  Mereka akan kembali teringat Tuhannya dan lari meninggalkan hotel.  Bagaimana mau bersenang-senang dengan segala kemaksiatan bila masjid sebelah mengingatkan untuk menyembah Tuhan?  Sayangnya, manusia abad dua puluh memohon agar bisa melupakan Sang Pencipta mereka.

Di kota-kota tua, kompleks pemakaman mengelilingi masjid-masjid.  Namun pemerintah sekarang ini mencegah pemakaman seperti itu, dengan alasan membuat lingkungan menjadi tidak sehat.  Mereka lalu meminta penguburan diharuskan beberapa ratus kilometer jauhnya dari kota.

Mengatakan bahwa lingkungan menjadi tidak sehat adalah kebohongan besar.  Padahal dulu makam-makam diletakkan di taman di depan rumah.  Mereka akan mengatakan, ”Ini makam ayahku, yang di sana makam bibiku, lalu yang di sini makam ibuku.”  Ini bukan hanya mengingat para leluhur mereka, tetapi juga mengingatkan akan kematian mereka sendiri, mengingat Tuhan mereka dan juga adanya kehidupan akhirat.

Wahabi adalah jenis lain dari kaum Iblis, mereka akan memakamkan di dekat rumah atau masjid, tetapi tidak mengizinkan ada tanda di makam tersebut.  Ketika saya bersama seseorang yang ingin berziarah di makam ayahnya di dekat Masjid Dehiwela,  Sri Lanka-–ternyata dia tidak tahu di mana tepatnya makam ayahnya, karena tidak ada tanda atau nisan.  Dia mengatakan ada sekumpulan manusia Iblis yang mencegah dibuatnya tanda-tanda atau nisan.  Mereka ini adalah para penyangkal adanya akhirat.

Imam-imam kita yang tak pernah bimbang akan syariat memiliki hikmah akan penulisan nama orang yang meninggal pada batu nisan.  Para pengunjung makam dapat membacakan al-Fatihah bagi para ahli kubur.  Penulisan itu sebagai sebuah pengingat terhadap mereka yang telah meninggal.  Namun kaum Wahabi menyebut hal itu sebagai syirik.  Semoga bebatuan menimpa kepala mereka yang mengatakan bahwa penulisan nama-nama orang tua mereka di batu nisan sebagai syirik dan bid’ah.  Suatu ketololan dari para kaum Iblis.

Bila mereka tidak menandai makam-makam itu, mereka bisa terjatuh ke dalam sesuatu yang makruh – yaitu menginjak-injak makam-makam yang tidak terlihat keberadaannya – seperti yang saya lihat di pemakaman Dehiwela.  Bukan hanya tidak menghormati, hal itu juga mengganggu mereka yang di makamkan di situ.  Melangkahi sebuah makam bisa diibaratkan berjalan di atas perut wanita yang sedang hamil.

Rasulullah (saw) mengajari sebuah doa bagi mereka yang mengunjungi makam, Subbuhun Quddusun Rabbu ’l-Malaaikati Wa ‘r-Ruuh, Subbuhun Quddusun Rabbu ’l-Malaaikati Wa ‘r-Ruuh, Subbuhun Quddusun Rabbu ’l-Malaaikati Wa ‘r-Ruuh.”  Ketika kalian membaca tasbih ini saat memasuki makam, maka berkah akan turun menaungi ahli kubur yang dituju, dan penghuni makam yang lain akan berharap kalian juga berkenan mendekati makam-makam mereka

Ribuan sahabat dimakamkan di Jannatul Baqi dan Jannatul Mualla, tetapi orang-orang melangkahi makam-makam itu tanpa adab sama sekali.  Dan kemerosotan moral ini telah berjalan selama 50 tahun terakhir dalam dunia Islam.  Semoga Allah (swt) menjauhkan ide-ide buruk seperti itu dari Hijaz.  Orang-orang yang lalai itu mengira mereka telah melakukan kebaikan, padahal yang dilakukan adalah hal terburuk.

Antara Ibadah dan Pekerjaan

photo_2016-11-21_13-24-09

Sultan al-Awliya Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q)
3 Februari 2002

Setan selalu mencoba untuk memisahkan manusia dari ibadahnya, membuat mereka menunda ibadah karena sibuk dengan pekerjaan yang satu disusul pekerjaan lainnya.  Manusia zaman sekarang selalu menginginkan makanan yang masih segar.  Gaya hidup manusia yang sombong tidak mau makan dari makanan yang telah tersedia.  Bagaimana dengan Allah (swt)?  Kepada-Nya, kalian berani mengirim ‘makanan lama.’  Begitu terdengar adzan, kalian harus langsung shalat dan meninggalkan segala pekerjaan.  Siapa pun yang membuat Allah murka pasti akan berakhir masanya.

Jangan mempekerjakan orang yang tidak shalat.  Sebelum membangun sebuah pabrik, bangunlah sebuah masjid di sana.  Siapa pun yang tidak mengerjakan shalat dan tidak menyerukan orang untuk shalat, Allah katakan, “Mereka adalah musuh-Ku.”   Di Shirath al-Mustaqim nanti ada tujuh pertanyaan, satu di antaranya adalah apakah kalian telah menyeru orang agar beribadah.  Tak ada yang membicarakan hal ini sekarang, karena setiap orang disibukkan oleh gaji bulanannya.

Ketika Abu Yazid al-Bisthami (q) sedang melakukan suatu perjalanan, beliau tiba di sebuah desa yang masih asing.  Beliau shalat di belakang imam.  Selesai shalat, sang imam menyapanya, “Engkau siapa?”  “Aku adalah seorang hamba Allah.”  ”Apa pekerjaanmu?  Di kebun, toko, atau pabrik?  Punya gaji bulanan?”  “Aku piker engkau adalah seorang muslim, seorang imam, oleh sebab itu aku shalat di belakangmu.  Tetapi sekarang engkau meragukan darimana makananku berasal, berarti engkau meragukan Allah.  Sebelum menjawabnya, aku harus mengulangi shalatku dulu.”

Setelah shalat, Abu Yazid (q) berkata pada imam itu, ”Mengapa engkau tidak menanyakan bagaimana kucing dan anjing menjalani hidupnya?  Dia yang menyediakan makanan bagi mereka, Dia juga yang menyediakan makan bagi Abu Yazid (q).”

Manusia telah kehilangan keimanannya.  Selama 60 tahun orang-orang datang ke sini dan selalu tersedia roti dan sup bagi mereka.  Dan dengan berkah yang mereka bawa, saya pun bisa hidup.  Namun manusia selalu terikat pada perutnya, sehingga mereka kebingungan.

Salah satu tamu yang berkunjung hari ini berasal dari Turki dan sering bersedekah untuk kaum Muslim.  Dia punya sebuah pabrik peralatan dari baja, dan buatannya adalah nomor satu di dunia.  Dia mengirimi saya banyak sekali dan saya berdoa baginya serta memberi nasihat yang dia patuhi. Banyak pabrik bangkrut dan hanya dia yang masih bertahan. Dengan 300 pekerja, dia menjaga dan meminta mereka agar selalu beribadah.  Saya tekankan agar tidak memberi toleransi bagi mereka yang tidak beribadah.  Ketika terdengar adzan, mereka harus berhenti bekerja dan mengatakan, ‘Matikan listrik, mari kita shalat.’

Selain mengirim peralatan rumah tangga, dia juga mengirim apa yang kami butuhkan: kacang, gula, beras, minyak, dan segala yang kami masak di sini.  Dia adalah Shahibu-l khayrat wa hasanat.  Dia yang menolong Fuqara, maka Allah (swt) akan menolongnya.  Jika dia kirim satu, Allah (swt) kirim sepuluh.  Jika dia kirim 100, akan datang 1000 baginya.  Sedekah di bulan Muharram adalah 10 kali lebih berharga dibanding bulan-bulan lain.  Siapa yang memberi, maka bahan pangannya tidak akan habis.  al-Fatiha.