Tuhanku, Aku Mencintai-Mu

Mawlana Shaykh Nazim al-Haqqani (q)

Dengan Nama Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.  Segala sesuatu terjadi atas perintah-Nya, segala sesuatu menjadi terwujud melalui Kehendak-Nya.  Dialah Sang Pencipta dan kita adalah makhluk-Nya.

Itulah hal terpenting yang harus diketahui oleh setiap orang.  Kalian bisa menjadi apa saja – laki-laki atau perempuan, pria atau wanita, kaya atau miskin, penguasa atau rakyat, profesor, doktor, sultan, awliya atau anbiya, orang Amerika, Kanada, Inggris, Arab, Turki, Spanyol, Rusia, Cina, Jepang, apa pun – tetapi kalian harus tahu bahwa kalian adalah makhluk, yang diciptakan oleh Pencipta kita, yang memiliki begitu banyak Nama, dan kita mengatakan bahwa Nama-Nya yang paling terkenal, yang mencakup semua Nama Suci-Nya adalah Allah (swt).

Dia adalah Sang Pencipta dan kita adalah makhluk.  Tidak ada gelar lain bagi anak cucu Adam (as) yang lebih terhormat atau lebih dihormati dan terpuji daripada “hamba Allah”.  Kalian harus tahu hal ini dan kalian harus mengajarkan hal ini, dan kemudian kalian harus berusaha melakukan yang terbaik bagi Tuhan kalian, Allah (swt), dan bagi makhluk-makhluk-Nya.

Setiap Nabi—semuanya—datang untuk mengajarkan manusia mengenai tujuan mereka dan pentingnya keberadaan mereka.  Kalian bisa saja menjadi Muslim, dan ada begitu banyak golongan di antara Muslim.  Kristen – dan ada begitu banyak sekte dalam Kristen – kelompok-kelompok yang berbeda.  Lalu dalam kepercayaan Yahudi, Yudaisme, mereka pun memiliki banyak sekte, dan di luar tiga agama samawi ini, masih terdapat begitu banyak mazhab-mazhab pemikiran dan ideologi.

Manusia, menurut perasaan mereka atau menurut citarasa rohaniah mereka, masing-masing mengejar beberapa sekte yang berbeda ini.  Dan orang-orang menjadi bahagia untuk menjadi bagian dari kelompok mereka masing-masing, dan Allah (swt) berfirman tentang hal ini, “Kullu hizbin bimaa ladayhim farihuun.” (QS Al-Mu’minuun, 23:53), di dalam ayat ini Allah (swt) mengatakan bahwa, “Hamba-hamba-Ku akan terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok, dan setiap kelompok akan bahagia dengan kelompoknya sendiri.”  Mereka berbahagia dengan kelompok-kelompok mereka, menurut kepercayaan mereka.

Setiap orang boleh memilih kepercayaannya; di antara sekian banyak kepercayaan yang berbeda, ia boleh memilih dan menerima satu di antaranya.  Ia bisa berkata, “Aku adalah seorang Muslim,” atau ia mungkin berkata, “Aku seorang Kristen”; yang lain berkata, “Yahudi”; yang lain lagi berkata, “Buddha.”   Ya; mereka beriman dan percaya, dan mereka bahagia dengan kepercayaan mereka, berbahagia dengan kelompok mereka, menikmati apa yang mereka miliki.  

Ini adalah kenyataan; ia tidak bisa diubah.  Ia selalu benar.  Artinya, kebenaran itu adalah satu; di antara seratus ide atau seribu kepercayaan, satu di antara mereka akan menjadi yang benar.  Itu artinya setiap orang percaya terhadap sesuatu, tetapi tidak berarti bahwa setiap kepercayaan akan menjadi kepercayaan yang benar – tidak.  Kalian boleh percaya sesuka kalian.  Ok, ok saja; tidak ada yang akan melarang kalian.  

Oleh karena itulah, Allah (swt) berfirman, “Kalau kalian suka, percayalah.  Jika kalian tak suka, tidak usah percaya.” (QS Al-Kaafiruun, 109: 1-6).  Kalian ingin percaya dan kalian boleh memilih kepercayaan kalian, tetapi kalian tidak bisa mengatakan bahwa setiap kepercayaan adalah kepercayaan yang benar.  Tidak; hanya satu yang benar.

Pada akhirnya kita akan sampai pada akhir hidup kita.  Di dalam hidup kita, kita pasti akan mencapai akhir hidup kita, dan setiap orang akan membawa sesuatu di tangannya, dan berkata, “Aku menyimpan permata.  Aku membawa sesuatu yang benar-benar berharga.”  Ya, kalian mungkin berkata, “Aku membawa iman sejati.”  Selama kalian hidup di dunia ini, kalian boleh mengklaim, “Aku berada pada kebenaran sejati, iman sejati, dan aku membawa permata yang asli”, tetapi pada akhirnya, hakikatnya adalah kalian akan meninggalkan hidup ini dan pergi ke Surga.  Kematian kalian adalah perjalanan kalian dari kehidupan yang hina ini menuju kehidupan sejati.  Jangan berpikir bahwa kematian adalah suatu hal yang buruk, sebagaimana yang ditakuti oleh banyak orang.  Tidak.  Kematian adalah jalan menuju Surga, jalan menuju Langit.

Selama kalian belum mati, kalian masih berada di bumi ini, dalam kehidupan yang hina.  Tetapi ketika kalian mati, kalian akan terbebas dari kehidupan yang berat ini dan naik ke atas.  Dan saat itulah, mereka berkata pada kalian, “Apa yang kau bawa ke sini sekarang?  Bukalah tanganmu!”  Ya; pada saat itu setiap orang akan tahu apakah ia telah membawa sesuatu yang paling berharga atau ia telah tertipu oleh Iblis, tertipu oleh Syaithan, dan mereka (Syaithan-Syaithan itu) mengambil hal-hal yang sungguh berharga darinya.  Saat itulah, saat kematian itulah, ia akan mengerti sepenuhnya.

Oleh karena itu, wahai manusia, sudah menjadi tren saat ini bahwa setiap orang melakukan pemeriksaan kesehatan, terutama bagi orang-orang kaya, paling tidak mereka melakukannya setahun sekali.  Mereka datang untuk check-up di Amerika, London, Rusia, Cina, atau Jepang.  Mereka melakukan check-up, untuk apa?  Jika kalian melakukan check-up seribu kali pun, tubuh ini tidak akan terus bersama kalian.  Tidak perlu melakukan semua check-up itu, mereka semua tidak berguna.  Tetapi kalian harus melakukan check-up terhadap apa yang kalian bawa, apa yang kalian simpan – yaitu, “Apakah aku sedang menyimpan permata yang berharga dari hidup ini ataukah permata yang asli telah tercuri dariku dan digantikan dengan permata plastik imitasi.”  Pemeriksaan seperti inilah yang penting!

Wahai manusia, jagalah iman kalian.  Jika ia adalah iman yang sejati, ia akan membimbing kalian dari kegelapan menuju cahaya.  Bagaimana perasaan kalian tahun ini dibandingkan tahun lalu; bagaimana perasaan kalian atas diri kalian sendiri?  Apakah kalian merasakan peningkatan dalam kehidupan spiritual kalian atau tidak?  Tanyalah diri kalian sendiri.  Ya, inilah hal terpenting…

Satu hal penting lainnya: manusia sedang berlari, setiap orang berlari, untuk memakan sesuatu dari hidup ini, pria dan wanita.  Mereka mengejar untuk mengambil sesuatu dari hidup ini, tetapi kebanyakan hanya mengejar aspek material dari hidup ini.  Dan sebagai tandanya, melalui kitab-kitab suci, dan ilmu yang telah sampai kepada kita, bahwa modal paling berharga bagi manusia – adalah apa?  Bagi Ahl ad-Dunya, mereka yang hidup hanya untuk dunia ini, bagi mereka, modal terbesar mereka adalah uang, uang, uang; bagi para wanita, emas, emas, emas, perhiasan, perhiasan, perhiasan.  Laki-laki lebih tertarik untuk menyimpan dolar, sementara perempuan lebih senang mengejar perhiasan, setiap tahun, hanya untuk sepuluh jari mereka, (mereka beli) dua puluh cincin atau tiga puluh cincin, menaruhnya di sini [sambil menunjuk ke jari-jari beliau]; mereka bahkan tak mampu membawa semua perhiasan emas mereka yang berat.  Ya; itulah modal paling menarik yang dikejar oleh orang-orang di abad ke dua puluh ini.  Siapapun yang memperoleh modal mereka, yang berupa material itu – akan menyimpan berjuta-juta lagi untuk menjadi jutawan, atau bagi kaum perempuan, akan menyimpan lebih banyak perhiasan, lebih banyak istana, lebih banyak kapal layar, lebih banyak gaun pakaian, lebih banyak memboroskan uangnya.

Wahai hadirin, jangan tidur!  Pandanglah saya, jangan melihat satu sama lain.  Apa yang sedang saya katakan, bukan berasal dari diri saya sendiri: jagalah!  Dan modal sejati yang utama, yang harus dikejar oleh manusia adalah CINTA.  Siapapun yang meminta dan mencari cinta, untuk mendapatkannya lebih dan lebih banyak lagi, orang itu akan memperoleh sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya di bumi ini.

CINTA – cinta adalah karunia terbesar yang Allah berikan kepada anak cucu Adam (as).  Tanpa cinta, manusia bagaikan kayu kering.  Ini [sambil menunjuk ke sebuah meja kayu] telah kehilangan cintanya dan sekarang mengering.  Pohon-pohon yang masih hidup, masih membawa cinta dan mendapatkan cinta.

Dan cinta memberikan pada manusia keindahan dan cahaya.  Jangan menaruh ini [lipstik] di sini, atau pergi ke salon-salon kecantikan.  Kalian tidak akan menjadi cantik dengan benda-benda seperti itu, membuat seperti ini [sambil mendemonstrasikan sesuatu] atau melakukan suatu operasi untuk melakukan hal ini [sambil mendemonstrasikan facelift, pengencangan muka].  Ini tak akan menjadikan kalian cantik.

Cintalah yang akan menjadikan kalian indah, penuh rasa, terhormat, dan terpuji.  Siapapun yang mendapat lebih banyak cinta akan menjadi lebih indah di sini maupun di Surga nanti.  Ya, itu adalah suatu karunia, karunia terbesar dari Sang Pencipta.  Dengan Cinta-Nya, Dia telah menciptakan kalian.  Jangan berpikir bahwa Allah (swt) menciptakan kalian tanpa cinta; tidak!  Dan kita bersyukur bahwa Dia mencintai hamba-hamba-Nya dan mengaruniakan cinta pada mereka.

Dan apakah yang Dia minta dari kalian, wahai hamba-hamba Allah?  Dia hanya meminta cinta dari kalian – Dia memberi kalian cinta dan meminta cinta dari kalian.  Di antara seluruh agama, dari seluruh kepercayaan, itulah yang terpenting: bahwa Dia telah mengaruniai kita dari Cinta Ilahiah-Nya dan meminta cinta dari kita untuk Hadratillah-Nya.

Sekarang, kita memberikan cinta kita kepada kenikmatan-kenikmatan hidup yang hina ini.  Itulah kutukan terbesar bagi umat manusia saat ini; inilah yang menjadi alasan munculnya berbagai kekerasan, kekejian, dan munculnya berbagai masalah; karena orang-orang tidak memberikan cinta mereka kepada Tuhan mereka.  Dan Dia melihat, “Wahai hamba-Ku, Aku telah mengaruniaimu dengan Cinta Ilahiah-Ku.  Apa yang kau berikan kepada-Ku?”

Dia tak meminta apa-apa dari kalian; tidak!  Semua doa kalian, itu adalah tanda cinta kalian kepada Hadratillah-Nya yang Mahamegah.  Berikanlah sebanyak yang mampu kalian berikan, dan kalian akan mendapatkan lebih lagi.  Jangan mengatakan, “Aku orang Kristen,” “Aku Muslim,” “Aku Yahudi,” “Aku Buddha,” “Aku Hindu,” sementara kalian tidak mempersembahkan cinta kalian kepada Tuhan kalian.  Kalian telah ditipu oleh musuh kalian, musuh bersama seluruh manusia, markas besar bagi kejahatan, yang mewakili markas-markas kejahatan, yaitu Syaithan.

Kalian harus menjaga diri kalian, kalian harus melakukan check up itu, karena Syaithan menipu kalian setiap hari, membuat kalian memberikan cinta kalian untuk kehidupan yang fana ini, dan kalian pun memberikan semua perhatian kalian untuk tubuh fisik ini, yang kondisinya semakin menurun hari demi hari, kemudian sekarat dan mati, masuk ke dalam tanah.  Lihatlah setiap hari; lakukan pemeriksaan bagi diri kalian sendiri, “Apakah aku sudah tertipu atau tidak?”  Jika kalian melihat bahwa kalian telah tertipu, kalian harus berusaha agar tidak tertipu besoknya.

Setiap saat kalian mengatakan, “Wahai Tuhanku, aku mencintai-Mu,” ini suatu ungkapan yang begitu indah dari hamba kepada Allah (swt).  “Oh, Tuhanku, aku mencintai-Mu.”  Ketika kalian sedang sendiri, katakanlah, “Wahai Tuhanku, aku mencintai-Mu, aku mencintai-Mu, aku mencintai-Mu.”  Katakanlah tiga kali, “Wahai Tuhanku, aku mencintai-Mu.”  Maka, tak seorang pun akan mengalami depresi lagi.  Lakukanlah ghusl (mandi) di malam hari, dan berpakaianlah sebaik mungkin dan pergilah ke suatu ruangan yang kosong, dan katakan, “Wahai Tuhanku, aku mencintai-Mu, aku mencintai-Mu.” Kalian akan melihat bahwa depresi akan hilang dalam tiga malam.  Tidak perlu minum tablet atau obat; tak perlu.  Obat-obatan, untuk siapa itu?  Untuk mereka yang sedang depresi.  Depresi adalah suatu hukuman dari Allah (swt) karena hamba-hamba-Nya itu tidak memberikan cinta mereka kepada Tuhan mereka; itu adalah suatu hukuman.  Allah (swt) telah memberi mereka segala sesuatu, tetapi mereka tak mau memberikan cintanya kepada Tuhan mereka Yang Mahakuasa.  Dia tidak meminta makanan atau minuman atau pakaian yang indah dari kalian;  yang Dia minta dari kalian hanyalah cinta!

Oleh sebab itu, ketika Musa (as)– kita bisa melanjutkan pembicaraan ini sampai pagi, sampai minggu depan, tetapi kalian sudah lelah; jadi kami akan membuatnya seringkas mungkin.  Tetapi, saya harus menceritakan kisah ini juga – Musa (as) pergi menemui Tuhannya di Bukit Sinai.  Allah (swt) berfirman, “Wahai Musa (as), jagalah hamba-hamba-Ku.  Wahai Musa (as), berikanlah yang terbaik bagi hamba-hamba-Ku.  Buatlah mereka agar mencintai-Ku.”

Itulah Musa (as), salah satu dari Nabi terbesar, Sayyidina Muhammad (saw) yang pertama, Sayyidina Ibrahim (as) kedua, Sayyidina Musa (as) ketiga, Sayyidina `Isa (as) yang keempat.  Dan Allah (swt) berfirman, “Wahai Musa (as), mintalah dari hamba-hamba-Ku agar mereka memberikan cintanya kepada-Ku.  Perintahkan mereka untuk mencintai-Ku.”

Apakah kalian mengerti? Saya berbicara dalam bahasa Inggris, tetapi kalian seperti domba, hanya melihat dengan mata lebar.  Tidak; kalian harus mengerti!  Itu adalah kata-kata emas yang penting untuk dikatakan pada diri kalian sendiri dan seluruh masyarakat, untuk membersihkan seluruh dunia.  Allah (swt) meminta kepada Musa (as), salah satu dari Nabi terbesar, “Mintalah, ajari mereka, katakan kepada mereka, jadikan mereka mencintai-Ku.”

Allah meminta cinta dari hamba-hamba-Nya.  Dan sungguh sayang, disayangkan dan merupakan suatu kekotoran bagi seorang hamba ketika ia meninggalkan dunia ini sementara matanya masih melihat dengan keterkaitan pada dunia ini, tidak diarahkan menuju`Arasy Allah yang Agung.  Sangat disayangkan dan merupakan kekotoran bagi mereka yang tak mau memberi, tidak membawa cinta kepad Tuhan mereka pada saat terakhir hidup mereka.  Siapa pun yang membawa cinta tak akan takut pada kematian karena cinta membuat mereka berada dalam kehidupan sejati, kehidupan yang abadi.

Suatu ketika, seorang wali, seorang syekh besar, seorang grandsyekh, meninggal dunia.  Muridnya memakamkannya di dalam kuburnya dan ia berusaha mengarahkan wajah syekhnya agar menghadap ke Ka’bah.  Tiba-tiba syekhnya berkata, “Wahai pelayanku, Dia baru memalingkah wajahku kepada Diri-Nya, hatiku menuju Hadirat Ilahiah Tuhanku.”  Dan murid itu menjadi gemetar dan ia berkata, “Kkk..kau belum mati?”  Syekh menjawab, “Tidak, aku telah wafat, tetapi hidupku, kehidupan sejati ruhku terus berlanjut.”

Oleh sebab itu, suatu saat saya berada di Damaskus dan pemerintah sedang membangun jalan, memperlebar jalan, dan mereka memindahkan makam suci seorang grandsyekh dari jalan itu, memindahkannya untuk membuka jalan di tempat itu bagi jalan baru yang akan dibangun.  Saya juga berada di sana saat itu.  Syekh tersebut telah dimakamkan sejak lima ratus tahun sebelumnya.  Ketika mereka membuka kuburnya, beliau berada dalam kain kafannya, dalam kain putih, dan saya melihat ke arahnya.  Janggutnya tidak putih seperti janggut saya, tetapi hitam.  Dan ketika kain kafannya dibuka, terpancar wangi semerbak–yang tak seorang pun mampu melukiskannya–ari makam beliau; wangi mawar merebak keluar dan jasadnya diambil dan dimasukkan ke dalam peti yang lain.  Jasadnya masih dalam keadaan yang sama seperti ketika beliau dimakamkan di situ.  Orang-orang itu, ratusan orang di situ dan sejarah menjadi saksi bahwa orang-orang suci itu yang telah mencapai kehidupan sejati mereka dalam hidup ini, mereka tak akan pernah menjadi debu dalam kubur-kubur mereka karena cinta telah menyebabkan mereka tetap hidup.

Wahai hamba-hamba Tuhanku, saya adalah seorang hamba dan kalian pun hamba, dan saya sedang melakukan suatu asosiasi [shuhba].  Saya tidak sedang memberikan sebuah ceramah, tetapi saya sedang memberi nasihat, dan saya juga sedang menasihati ego saya sendiri: “Berikan lebih banyak cinta bagi Tuhanmu dan Dia juga akan memberikan kepadamu.  Kalian akan menjadi orang-orang yang bercahaya.”

Semoga Allah (swt) mengampuni kita dan memberkati kalian.  Saya pikir ini sudah cukup, apa yang kita bicarakan, untuk diberikan kepada hadirin yang terhormat ini.  Saya menghormati kalian dan memuji kalian satu demi satu, bukan untuk gelar-gelar duniawi kalian yang sementara, tetapi bagi gelar-gelar abadi kalian yang telah dikaruniakan Tuhan pada kalian—`IbadAllah – hamba-hamba Allah.

Allah (swt) telah memberi karunia kepada kalian dari Samudra Berkah-Nya yang tak terhingga dan memberikan kehormatan bagi kalian sebagai khalifah-khalifah-Nya di alam semesta ini, dan kehormatan ini sudah cukup bagi kalian.  Kalian telah dipilih sebagai khalifah, menjadi representatif di bumi ini, suatu kehormatan yang diminta oleh setiap makhluk, terutama para malaikat, mereka meminta untuk mendapatkannya; tetapi, mereka tidak diberikan kehormatan itu, dan Allah (swt) menciptakan manusia untuk menjadi wakil-Nya.  Kehormatan itu adalah kehormatan tertinggi!  Ketika kalian mengatakan, “Orang itu begitu dan begitu, orang ini begini dan begini”, perkataan seperti itu tidak bermakna sama sekali; menjadi khalifah adalah pujian dan kehormatan tertinggi dari Allah (swt) bagi kalian.  Berusahalah untuk menjaga kehormatan itu dan berusahalah untuk memberikan lebih banyak lagi cinta pada Tuhanmu, Allah (swt).

Engkaulah satu-satunya Sultan, wahai Tuhan kami; Engkau mengumpulkan hamba-hamba-Mu.  Berkatilah majelis ini, komunitas ini; terimalah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang tulus.  Kami mencintai-Mu, kami mencintai-Mu; Aku mencintai-Mu, wahai Tuhan kami!

Semoga Allah (swt) mengampuni kita dan memberkati kalian dari cahaya-cahaya-Nya dan berkah-Nya yang tak terhingga.  Di lain waktu saya akan berbicara pada kalian, Insya Allah tentang beberapa hakikat yang dalam, bukan dari bumi tetapi dari surga-surga yang bercahaya.  Persiapkan diri kalian.