Ketahuilah Posisi Kalian di dalam Tarekat

IMG-20160824-WA0026

Syekh Hisyam Kabbani
Masjid Peckham, 23 Februari 1995 – Ramadan

 

A`udzu billaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim 
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim

Allah (swt) berfirman di dalam Al-Qur’an, “Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.  Taatilah Allah (swt), taatilah Rasul, Sayyidina Muhammad (saw), dan taatilah ulil amri (para pemimpin) di antara kalian,” ini artinya patuh kepada syekh kalian.  Dan Nabi (saw) bersabda di dalam sebuah hadits sahih, “ad-diinu nasiiha” “Agama adalah nasihat.”  Agama bukan seperti materi kuliah untuk diajarkan oleh seorang ulama kemudian pergi begitu saja.  Agama adalah nasihat, dan nasihat tidak akan muncul tanpa melalui pengalaman. Nasihat tidak bisa berupa teori saja.  Orang yang memberi nasihat harus mempunyai pengalaman tentang apa yang diberikannya itu.

Sayyidina Syah Naqsyband (q) berkata, “Thariqatuna ‘sh-shuhbah wa ‘l-khayru fi jam`iyyah “Tarekat kita berdasarkan pada asosiasi, yaitu menjaga kebersamaan, shuhbah atau asosiasi, perkumpulan; dan kebaikan dicapai melalui kebersamaan.”  Bisa juga dikatakan, “Jalan kita adalah melalui bimbingan, dan kebaikan ada dalam asosiasi.”  Tanpa asosiasi, tanpa nasihat, tidak mungkin kita mendapatkan mudarat atau kebaikan.

Sekarang, setiap kali Mawlana Syekh Nazim (q) meminta saya untuk berbicara, saya merasa malu.  Karena kalian semua, masya Allah adalah murid-murid senior.  Dan kalian semua mempunyai pengalaman yang luas, kalian memiliki bintang di pundak kalian, seperti saudara kita di sini, Syekh `Ali, kalian semua adalah perwira.  Mustahil seorang prajurit memberi nasihat kepada perwira. Jadi makin sering Mawlana berkata, “Bicaralah sesuatu,” saya merasa, diri saya ini tidak mengetahui apa-apa.  Ini juga merupakan ujian bagi saya di mana saya merasa seperti terpojok. Karena saya merasa apa pun yang akan saya katakan, ada beberapa orang yang bisa menerima, dan ada pula yang tidak.  Saya tidak ingin mengatakan bahwa pembicaraan itu tidak ada gunanya sama sekali, karena selama ada orang yang mendapat manfaat, saya akan berbicara. Tetapi, pada saat yang sama, saya merasa malu kepada orang yang tidak senang dengan apa yang saya katakan.  Mungkin mereka merasa bahwa mereka telah dipaksa untuk mendengarkannya.

Saya masih sangat muda ketika pertama kali datang kepada Mawlana Syekh.  Tidak perlu untuk membicarakan apa yang saya lihat dari Mawlana, tetapi jangan berpikir bahwa ego akan menyerah begitu saja.  Ego tidak pernah menyerah. Bahkan jika salah seorang dari kita berkata bahwa ia mencintai Mawlana Syekh Nazim (q), ego kita juga tidak menyerah.  Kita telah bepergian dari jarak yang cukup jauh untuk sampai ke sini (Inggris), untuk duduk bersama Mawlana Syekh selama 10 hari atau 1 minggu, sebagian datang hanya selama 3 hari, kemudian pergi.  Bahkan mereka, dengan antusiasme dan energi yang tinggi, ego mereka juga tidak menyerah.

Bagaimana kalian mengetahui bahwa ego tidak menyerah?  Itu mudah. Ketika Syekh mengirimkan ujian kepada kalian, Syekh biasanya mengirimkan ujian, bukan untuk mengetahui sampai di mana tingkat pencapaian kalian, atau apakah kalian gagal atau tidak—karena mereka telah mengetahui semuanya.  Mereka tidak memerlukan informasi semacam itu, karena mereka adalah orang-orang yang berdiri di belakang kalian—tetapi mereka ingin KALIAN mengetahui sampai di mana kalian mampu berdiri sendiri.

Jika seorang anak—seorang bayi—tidak jatuh, ia tidak akan belajar bagaimana caranya berjalan.  Kita harus jatuh, dan mereka (syekh) akan membiarkan kita jatuh, agar kita bisa berdiri sendiri nantinya.  Agar kita bisa mendatangi mereka. Seorang ibu mencoba menjaga jarak dengan bayinya, satu atau dua meter darinya, lalu ia memanggilnya sehingga si bayi akan menghampirinya, kemudian bayi itu terjatuh—barulah sang ibu mengangkatnya.  Dengan cara ini seorang ibu mengajarkan bayinya untuk datang kepadanya di waktu-waktu berikutnya dengan berjalan kaki.  

Ujian ini diletakkan di depan kita agar kita tidak pernah kehilangan harapan, kita harus selalu mempunyai pikiran bahwa suatu hari nanti kita akan berserah diri.  Nabi (saw) adalah orang yang sempurna, Sayyidina Muhammad (saw), beliau adalah manusia yang sempurna, beliau memiliki jiwa yang sempurna, beliau yang akan sampai di Hadratillah pertama kali, beliau adalah cermin dan juga pintu bagi seluruh makhluk.  Dengan semua kebesaran itu, hidup beliau tetap saja penuh dengan kesulitan dan perjuangan.

Orang-orang Quraisy datang kepadanya dan berkata, “Wahai Muhammad!  Jika kau menginginkan kekayaan, kami akan memberikannya kepadamu, jika kau menginginkan Ka`bah, kami akan memberikannya kepadamu.  Jika kau menginginkan ketenaran, kami akan memberikannya kepadamu, dan jika kau menginginkan jabatan, kami akan mengangkatmu sebagai pemimpin.”  Lalu beliau menjawab dengan ucapannya yang sangat terkenal, “Jika mereka memberikan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, Aku tidak akan meninggalkan risalah ini.”  Jadi apa pun yang akan terjadi, kita harus berjuang untuk mencapai yang terbaik. Kita harus menjaga iman kita sebagaimana Syekh kita datang, menunjukkan dan membuka jalan yang benar bagi kita.

Pertama kita harus meraih hati Syekh dan dari beliau kepada hati Nabi (saw), lalu ke Hadratillah.  Sebagaimana yang digambarkan Allah (swt) di dalam Al-Qur’an, “Ketika manusia menzalimi diri sendiri, mereka datang kepadamu, wahai Muhammad (saw).”  Ini adalah ayat dalam Al-Qur’an. Ayat itu mengisyaratkan adanya perantaraan. “Mereka datang kepadamu, wahai Muhammad (saw), dan mereka bertobat kepada Allah (swt),” dan itu saja belum cukup.  Allah mengatakan hal itu! Jika bertobat kepada Allah (swt) saja sudah cukup, maka seseorang dapat berhenti di situ. Ketika mereka mendatangi Muhammad (saw) dan memintakan pengampunan atas namanya, SAAT ITU barulah mereka akan mendapati bahwa Allah Maha Pengampun.

Allah (swt) mengatakan hal itu!  Jika bertobat kepada Allah (swt) saja sudah cukup, maka seseorang dapat berhenti sampai di situ, tetapi ayat di dalam Al-Qur’an tidak berhenti sampai di situ.  Keseluruhan ayat itu berbunyi, “Dan ketika mereka telah menzalimi diri mereka sendiri, jika mereka datang kepadamu dan memohon ampunan Allah (swt) dan meminta Nabi (saw) untuk memohonkan ampunan bagi mereka, barulah mereka akan mendapati bahwa Allah (swt) Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”  “Pada saat itu mereka akan mendapati bahwa Allah (swt) Maha Pengampun,” berarti itu adalah kondisi pada saat Nabi (saw) memohonkan ampunan atas nama kita. Dan para pemimpin yang disebutkan oleh Allah (swt) di dalam ayat, “Taatilah Allah (swt), taatilah Rasul (saw) dan taatilah ulil amri di antara kalian.”  Itu berarti ketika kita memohon ampun, kita harus benar-benar bertobat dalam kehadiran mereka kepada Allah (swt) karena doa orang–orang yang saleh akan dikabulkan oleh Allah (swt). Dengan kata lain kita harus berdoa melalui perantaraan mereka. Sebagaimana firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah (swt) dan berkumpullah bersama orang-orang yang dapat dipercaya.”  Para pemimpin (ulil amri) itu adalah orang-orang yang dapat dipercaya. Ketika mereka mengangkat tangannya untuk berdoa, “Ya Allah, ampunilah mereka!” Allah (swt) akan mengampuni kalian.

Kita semua adalah bayi dan kita terjatuh, kita bangun, lalu jatuh lagi.  Satu hari bangkit, sehari kemudian jatuh, satu hari jatuh hari berikutnya bangun.  Walaupun seorang bayi terjatuh, ia tidak mengetahui apa yang sedang dilakukannya, ibunya sangat sayang kepadanya, begitu juga keluarganya.  Mereka membersihkannya, memandikannya, memberinya bedak, mereka tidak pernah merasa bosan atau jemu dalam membesarkan anaknya. Dalam pandangan Syekh, kita semua adalah anak-anaknya, oleh sebab itu beliau memandikan kita, membersihkan kita, memberi kita bedak agar tubuh kita menjadi wangi walaupun pada kenyataannya kita berbau busuk, tetapi beliau memberi kita bedak wangi yang sangat spesial—mahal dan eksklusif.

Orang kaya tidak suka membeli parfum yang murah, palsu, atau bercampur alkohol—mereka membeli parfum tua yang nilainya sangat tinggi dan dengan merek yang terkenal.  Mereka berkata, “Parfum seharga lima puluh pound, itu baru bagus; kalau yang dua pound, itu tidak bagus.” Syekh memberi kita wewangian tua semacam itu, yang bernilai tinggi, dan mahal, jangan menyia-nyiakannya dengan terus melakukan akhlak dan perilaku yang buruk.

Kita semua masih seperti bayi, bahkan beberapa orang dari kita masih berada dalam momongan.  Beberapa yang lain mulai merangkak dengan kedua kaki dan tangannya seperti makhluk lain yang saya tidak mau sebutkan namanya, karena nanti mereka akan bilang, “Syekh Hisyam (q) menyebut kita binatang.”  Hal ini karena saya berada dalam pengawasan yang ketat, mereka sangat memperhatikan setiap kata yang saya ucapkan, sehingga mereka akan meninggalkan 99% bagian yang baik yang telah diberikan dalam pelajaran ini, mereka juga akan mengeluarkan kritik.  Saya senang dengan sifat kritis ini agar nanti saya bisa mengoreksi diri dan untuk yang berikutnya saya akan lebih akurat lagi. Jadi kita harus seimbang dengan memperhatikan kondisi hati setiap orang. 

Saya lanjutkan, yang lain bisa berjalan dan merangkak dengan kaki dan tangannya, atau mereka bisa berjalan dengan kakinya.  Yang lain bisa berjalan namun karena belum kuat mereka terjatuh, sementara yang lain lagi bisa berjalan dengan tegap. Walaupun mereka bisa berjalan, tetap saja ibunya masih memegangi tangannya.  Mereka belum bisa dilepaskan begitu saja, karena kalau dibiarkan mereka akan mengambil apa saja yang ada di atas meja, menghancurkannya dan akan merusak rumah. Begitu mereka mulai berjalan, mereka menjadi masalah, mereka menjadi berisik.  Ayah dan ibu harus berlarian ke sana ke mari seharian untuk mengejar mereka, karena kalau saja pintu terbuka kemungkinan anaknya akan keluar dan bisa saja ia tertabrak mobil lalu meninggal. Ia akan menghancurkan dirinya sendiri, ini adalah keadaan yang paling membahayakan.  Ketika ia mulai sedikit terlihat dewasa, orang tua mulai memberi kepercayaan kepada mereka untuk melakukan pekerjaannya sendiri. Walaupun ia masih mungkin melakukan kesalahan tetapi ini masih bisa dipantau dan kesalahan ini tergolong minor. Sampai ia bisa bertanggung jawab dan Syariah mengharuskan ia melakukan segala kewajiban dalam agama ketika ia berusia 15 tahun dan telah dewasa atau akil balig.

Tetapi di dalam tarekat walaupun kalian telah mencapai usia 70 tahun, kalian masih dianggap sebagai anak kecil tanpa “tanggung jawab” yang sebenarnya.  Jangan berkata, “Aku telah bersama Syekh selama 70 tahun tetapi aku tidak mencapai apa-apa!” Perhatikanlah apa yang bisa terjadi. Kalian mungkin bisa merusak diri kalian sendiri dan siapa saja yang berada di dekat kalian.

[komentar: yang dimaksud Syekh Hisyam di sini: Syekh tidak memberikan amanat rohaniah kepada kita, karena kita belum cakap dalam menggunakan amanat itu dengan benar–bukannya mendatangkan kebaikan, boleh jadi kita malah dapat menyebabkan sesuatu yang berbahaya.  Dengan demikian orang tidak pernah melihat ada kekuatan ajaib atau keramat yang muncul dari murid-murid Syekh Nazim (q) dan seringkali kita merasa bahwa kita telah mencapai sedikit kemajuan rohani. Hal ini berbeda dengan tarekat yang lain, di mana seringkali keadaan kasyaf dan beberapa keramat dianugerahkan kepada murid bahkan dalam tahap-tahap awal di jalur mereka. Wallaahu a`alam – dan Allah Maha Mengetahui.]

Kalian harus mencapai suatu keadaan di mana mereka memperbolehkan kalian melakukan jalan kalian sendiri.  Tetap saja ketika kalian terjatuh, mereka akan membantu mengangkat kalian. Kalian akan terjatuh, mustahil kalian mengatakan, “Tidak, aku tidak akan membuat kesalahan lagi.  Sekarang aku adalah seorang syekh besar; tidak mungkin, aku adalah seorang deputi sekarang; atau aku adalah murid senior; atau aku adalah seorang wakil atau utusan dari syekh.  Aku yang memimpin zikir, syekh memberi ijazah kepadaku untuk memimpin zikir. Oh, sekarang aku adalah sebuah balon yang besar.” (tertawa) Penuh udara di dalamnya. Psssh! [membuat gerakan seperti balon yang kempis]  Selesailah sudah. Kalian harus seperti roket, bertekad kuat, barulah tidak ada yang dapat mempengaruhi kalian, sebagaimana ketika kalian mengalami kemajuan dan membawa orang-orang bersama kalian ke hadirat Syekh.

“Deputi” adalah salah satu jabatan besar, “Representatif” (dari seorang Syekh) adalah jabatan besar.  Itu berarti syekh bergantung kepada orang itu baik dalam kehadirannya maupun ketika beliau tidak hadir untuk memberikan nasihat, menyembuhkan suatu penyakit dengan izin Allah (swt), melakukan pembacaan (ayat Qur’an atau zikir), menafsirkan mimpi, membimbing murid, memimpin zikir dan memberikan izin kepada seseorang untuk memimpin zikir, mengangkat level murid ke jenjang yang mampu mereka raih, membesarkan bayi hingga mereka bisa berjalan atau mencapai usia di mana bayi itu bisa berjalan.  Lalu ia akan membawa mereka semua dan mempersembahkan mereka kepada Syekh. 

Sayyidina Khalid Al-Baghdadi (q) mempunyai 300 deputi atau khalifah.  Kita mengucapkan kata “Khalifah” dalam bahasa Arab, tetapi orang Arab mengetahui bahwa “Khalifah” bukan berarti “penerus”, tetapi “deputi”.  Beliau mempunyai 300 deputi dan beliau menyebarkannya ke seluruh penjuru Timur dan Barat, dan mereka semua membawa murid-muridnya ke hadirat Syekh, mereka semua memimpin murid-muridnya kepada Syekh.  Namun demikian setelah Syekh Khalid (q) wafat terbentuklah 300 cabang dalam Tarekat Naqsybandi. Karena setiap orang begitu terikat dengan Khalifahnya masing-masing, di mana mereka biasa berasosiasi dengannya, Khalifah yang telah ditunjuk oleh Sayyidina Khalid (q) kepada mereka.

Setiap orang begitu dekat dengan  Khalifah setempatnya, mereka berkata, “Oh, dialah milik kami!  Dialah pembimbing kami, setelah Syekh, dialah pembimbing kami.  Kami tidak bisa menerima yang lain.” Bisa jadi (khalifah-khalifah) yang lain lebih tinggi tetapi karena ia tidak mempunyai hubungan dengan mereka, ia tidak mengetahui apa-apa tentang mereka.  Ia hanya terhubung dengan khalifah yang diikutinya, dan orang yang diikutinya itu membawanya ke hadirat Sayyidina Khalid (q). Namun demikian, beberapa di antara mereka membawa para pengikutnya dengan keledai, seperti mengendarai keledai, yang lain dengan unta, ada yang berjalan, ada yang seolah-oleh dengan mobil, pesawat, kereta api, atau roket, tergantung kapabilitas dari deputi atau khalifahnya. 

Tetapi ada juga hikmah dan manfaatnya dari terbentuknya 300 cabang dalam Tarekat Naqsybandi setelah wafatnya Sayyidina Khalid (q).  Tetapi rahasia dari Mata Rantai Emas hanya diturunkan ke satu cabang, dan tidak kepada 299 cabang lainnya. Jadi apa yang terjadi dengan yang lain itu?  Apakah kita bisa menganggap mereka itu telah putus hubungan? Tidak, mereka tidak terputus, dan itulah sebabnya di dalam Sufisme, ada dua macam Syekh, yaitu: Syaykh ul-wilayat dan Syaykh at-tabarrukSyaykh ul-wilayat adalah Syekh yang mempunyai kekuatan awliya dan kekuatan untuk mengangkat muridnya ke tingkatan wali.  Syekh inilah yang memegang rahasia utama. Syekh yang kedua adalah Syekh yang membawa tajali atau berkah, berkah dari tarekat.  Inilah yang mengakibatkan berkah tersebut menyebar luas, karena terdapat hikmah di balik segala sesuatu. Orang yang mempunyai kekuatan dan rahasia kewalian inilah yang memegang cabang utama dari tarekat.  Rahasia utama atau arus listrik yang utama. Kalian perhatikan bahwa arus listrik ini masuk ke dalam gedung dari luar, tetapi ia dapat menerangi seluruh gedung. Setiap lampu melambangkan satu cabang, tetapi seluruh kekuatan berasal dari luar.  Mengerti?

Cabang-cabang ini hanya bisa memberi cahaya seperti dua atau tiga buah lampu.  Jika kalian menambahkan lebih banyak mereka akan meledak. Situasi semacam ini terjadi pada masa setelah wafatnya Sayyidina Khalid Baghdadi (q).  Satu di antara mereka adalah cabang utamanya, yang lain adalah cabang yang kecil-kecil, yang hanya menerangi orang-orang di daerahnya. Yang pertama adalah Syaykh ul-Wilayat, Syekh dengan kekuatan wali, orang yang menanggung semua tanggung jawab dari seorang Syekh, yang lainnya adalah syekh-syekh yang tugasnya menyebarkan tarekat ke seluruh penjuru Timur dan Barat.  Karena yang satu tidak bisa berada di mana-mana, oleh sebab itu lewat ke-299 syekh, terbentuklah 299 cabang, masing-masing di daerah yang berbeda sehingga lebih banyak orang yang mengikuti tarekat. Walaupun rahasia utama tidak mencapai hati mereka, paling tidak mereka mempunyai hubungan dengan tarekat ini.  Karena setiap orang yang mengatakan, “Aku adalah seorang pengikut Naqsybandi”, pasti telah berada di Hadirat Nabi (saw) dan Sayyidina Abu Bakar (ra) ketika berada di Gua Tsur, ketika Nabi (saw) hijrah dari Mekah ke Madinah. Itulah saat pertama mereka menerima Tarekat Naqsybandi dari Sayyidina Abu Bakar (ra) dan untuk pertama kali zikir Khatam Syariif dilaksanakan di gua itu.  Setiap orang yang mengatakan dirinya, “Aku seorang Naqsybandi,” walaupun ia terhubung melalui salah satu cabangnya, melalui Syaykh al-Barakah, ia tetap hadir di sana.  Namun demikian, rahasia utama tetap berada di satu cabang saja. 

Jadi, sebagian dari 299 khalifah dari Sayyidina Khalid Al-Baghdadi (q) menerima seorang pemegang rahasia utama, tetapi kebanyakan tidak menerimanya.  Beberapa khalifah itu mentransfer para pengikutnya kepada Syekh utama, yaitu Syekh Ismail (q), tetapi yang lain tidak. Jadi, tipe percabangan ini juga terjadi pada masa Grandsyekh `Abdullah (q).  Saya hadir di sana, Saya berada di Suriah. Pada saat itu banyak murid Grandsyekh dari Suriah yang menerima Mawlana Syekh, tetapi yang lainnya tidak. Itu adalah ego, egoisme. Bagaimana mereka akan menerima?  Mereka adalah syekh besar dengan turban yang besar, lebih besar dari turbannya Mawlana Syekh Nazim (q). Beberapa di antara mereka mempunyai turban sekitar 40 yards di kepalanya, ya! (tertawa) Mereka semua hadir ketika Mawlana Grandsyekh (`Abdullah (q)) membuat surat wasiatnya, seminggu sebelum beliau wafat.  Mereka yang hadir dan duduk bersama mendorong dan melihat pada Mawlana Grandsyekh, “Di mana nama kami dalam daftar itu?” dan nama-nama mereka tidak pernah disebutkan. Mereka berada di sana, duduk di sana dan ketika Mawlana pergi, setelah beliau membuat surat wasiat, mereka membuat satu salinannya lalu mereka menambahkan nama-nama mereka.  Saya tidak bisa menyebutkan nama-nama mereka. Itu akan selalu menjadi masalah. Jadi kita harus membuka hati kita.

Seperti yang dikatakan oleh Syekh Jamaluddin (q), “Ego tidak akan membiarkan kalian menerima fakta dan kebenaran.”  Dengan perintah Syekh Nazim (q) ia akan berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain di Eropa. Oleh sebab itu ia mempunyai pengalaman tentang hal itu, dan seperti itulah tarekat.  Tarekat adalah pengalaman. Kalian tidak bisa duduk di rumah dan berkata, “Aku mengerjakan bisnisku, tugasku di universitas, aku mengajar, aku melakukan bisnisku di kantor dan aku ikut tarekat, aku melaksanakan zikir dan datang pada malam hari, berzikir dan aku mengetahui segala hal!”  Tidak! Itu bukan pengalaman namanya, pengalaman berarti bergaul dengan masyarakat, datang dan berbicara dengan mereka dan mengetahui cara berpikir mereka, bagaimana mereka merasakan kesulitan yang dihadapi, melalui ujian, lewat beragam ujian yang berbeda, dan dengan cara itu kalian membangun pengalaman kalian.

Itulah sebabnya Mawlana Syekh Nazim (q) menginginkan kalian untuk bepergian, agar kalian bisa belajar dari kebudayaan ini dan dari kebudayaan itu.  Beliau ingin agar kita selalu waspada terhadap segala hal [terkait budaya setempat sebelum kita berbicara]. Namun demikian, bukan berarti kalian tidak mempunyai izin untuk berbicara dengan orang-orang itu jika kalian tidak mengenal kebudayaan mereka—bukan, bicaralah dengan siapa saja yang kalian inginkan.  Tetapi harus diingat, kalian harus berhati-hati terhadap hal-hal dalam kebudayaan mereka yang tidak kalian sadari.

Ketika Saya sedang berada di Amerika ada seseorang yang datang kepada saya dengan mengeluh.  Ia berkata, “Syekh, Aku ingin mengeluarkan unek-unek kepadamu.” Ia mengatakan, “Aku tidak mau menerima caramu memperlakukan kami!”  Ia adalah orang yang baik, dan ia menyukai saya, tetapi bukan berarti apa yang dilakukannya adalah baik. Saya hanya akan mengatakan satu hal, dan itu menunjukkan kepada kalian betapa buruknya ego.  Hal itu mustahil dan luar biasa! Ia adalah orang Amerika, dan itu adalah cara mereka–untuk mengekspresikan sesuatu, tidak memendam sesuatu dalam hatinya. Mereka harus mengeluarkan apa yang mereka rasakan atau mereka merasa bahwa mereka akan meledak. 

Ia berkata, “Ini adalah negeri yang bebas, dan kami bukan Nazi di sini.  Di sini tidak ada perjuangan, kau tidak bisa memaksa orang lain.” Saya berkata, “Saya tidak pernah memaksa seseorang di Amerika, siapa saja.”  Ia berkata, “Tidak, tidak, tidak, kau memaksa semua orang.” Saya heran, “Dalam hal apa?” Ia berkata, “Orang-orang, ketika mereka datang untuk menemuimu pada waktu Zuhur, Ashar atau Maghrib—itu adalah suatu masalah yang sangat besar.”  Itu dianggap sebagai komplain yang besar bagi setiap orang. Orang Amerika merasa malu untuk salat. Ia berkata lagi, “Kau telah mencampuri urusan pribadi kami.” Saya lalu berpikir, “Hari kiamat akan datang kepada saya dan saya dalam masalah besar.” (tertawa) Ia berkata, “Ketika kami datang menemuimu, kadang-kadang kami datang pada saat Zuhur, atau Ashar, saat itu kau sedang makan, dan kau menyodorkan makanan kepada kami dan kami bilang, ‘tidak!’ lalu engkau memaksa kami untuk makan, dengan berkata, “Kalian duduk dan sekarang kalian harus makan.”  “Kau tidak bisa memaksa kami untuk makan dengan paksaan seperti itu. Kami adalah orang Amerika, kami berada di negeri yang bebas, kau tidak bisa memaksa kami. Ini adalah suatu kezaliman, ini adalah penindasan, kami tidak mau makan.”

Di negeri saya, jika kalian tidak mendesaknya, tamu selalu merasa malu untuk mengatakan “ya” ketika diminta untuk makan.  Tetapi jika saya tidak mengajaknya makan, saya merasa bahwa saya telah menghina tamu. Dalam kebudayaan Amerika, yang terjadi adalah kebalikannya.  Jika kalian mendesak tamu untuk makan, itu berarti kalian telah mengintervensi tamu. Ketika ia bilang “tidak” itu artinya ia tidak ingin makan, jadi tidak perlu memaksanya untuk makan.  Orang itu datang kepada saya untuk mengatakan bahwa inilah yang menjadi keluhan orang Amerika tentang perilaku saya. Jadi untuk itulah mereka mengeluh.

Jadi ini adalah masalah besar bagi orang Amerika, sementara bagi kami itu adalah simbol keramahan.  Jadi Mawlana Syekh mengirimkan murid-muridnya, murid yang senior atau deputinya untuk bepergian ke negeri yang berbeda-beda, dengan tujuan untuk mengenal budaya mereka.  Karena semua kebudayaan harus melebur menjadi satu dalam tarekat ini. Kita tidak bisa bilang bahwa kita adalah orang Amerika, Perancis, Arab, Jerman, Turki, Inggris, Skotlandia, Irlandia, Malaysia, atau Pakistan.  Yang ada hanya satu simbol, yaitu kecintaan Syekh kita—kita semua berasal darinya. Ini adalah sasaran terbesar, itulah sebabnya Mawlana mengirimkan setiap orang untuk belajar untuk mendapat pengalaman.

Perawi hadis yang paling penting adalah Imam Bukhari.  Beliau tidak pernah menulis hadis sebelum mandi, salat 2 rakaat lalu tidur.  Lalu dalam mimpinya beliau akan bertemu Nabi (saw) yang mengatakan, “Tulislah hadis ini pertama, kemudian yang itu, berikan nama bab itu sebagai, ‘Bab tentang Wudu’, tentang Zakat, Salat, dan begitu seterusnya.  Beliau tidak pernah membaca hadis walaupun itu diizinkan kecuali setelah beliau mandi, dan salat dua rakaat, lalu tidur dan bertemu dengan Nabi (saw) dalam mimpinya. Nabi (saw) kemudian memerintahkan untuk meletakkan suatu hadis di bab tertentu.  Hadis pertama yang beliau tuliskan dalam bukunya adalah, “Perbuatan seseorang adalah tergantung pada niatnya, jika niatnya untuk Allah (swt) dan Nabi (saw), maka ia akan diberi balasan sesuai dengan niatnya itu.” Bahkan jika orang itu membuat kesalahan [dalam melakukan pekerjaannya] tetapi jika niatnya baik [ia juga akan diberi balasan yang setimpal]. “Dan bagi siapa yang berniat untuk dunya, untuk kesenangan dunia ini orang itu akan mendapatkannya pula.”

Jadi niat adalah hal yang sangat penting dan harus kita perhatikan.  Bisa jadi seseorang tidak beruntung, tetapi ia berusaha dengan sebaik-baiknya.  Tetapi karena tidak beruntung mereka malah menghinanya. Kemudian ia menjadi lelah.

Dan seperti yang dikatakan oleh Nabi (saw), “Berhati-hatilah dengan kesabaran orang yang sabar, bisa jadi ia akan meledak.”  Ketika hal itu terjadi ia akan bergerak seperti kereta api, melabrak dan menghancurkan semua yang ada di hadapannya. Jadi kita harus menetapkan niat, dan itulah sebabnya Nabi (saw) bersabda, “Berusahalah selalu untuk melihat sesuatu dari sisi yang baik, segalanya dilihat dengan tafsir yang baik.”  Jangan memandang suatu masalah dengan tafsir yang salah karena kalian tidak bisa melihat hati seseorang, kalian tidak bisa mengerti apa yang ada di dalam hati. Jika kalian menarik tafsir yang salah, pemahaman yang salah mengenai niat seseorang, kalian akan membuat suatu kesalahan. Jika kalian memandang segala sesuatu dengan kebaikan, SEGALANYA, Nabi (saw) berkata SEGALANYA, dengan tafsir yang baik kalian mungkin benar.  Oleh sebab itu kita harus selalu berada dalam hubungan dengan Mawlana Syekh. Bukannya bayi, yang masih sering jatuh, jatuh, jatuh, jatuh.

Jangan pernah berkata bahwa kalian tawaduk  Jika kalian berkata bahwa kalian tawaduk ketika kalian berbicara dengan orang lain dan berkata, “Tidak Aku tidak mengetahui apa-apa, ENGKAU-lah sumber inspirasiku.”  Mereka akan memandang kalian seolah-olah kalian adalah sampah (tertawa). Kalian sebaiknya berkata, “Aku adalah yang paling pandai di sini.” Jangan! Jangan! Jangan! Jangan berkata seperti itu di Amerika!  Jangan menjadi bodoh seperti saya (tertawa). Jika kalian pergi ke Amerika dan berkata demikian, kalian akan habis, tamat! Kalian tidak bisa berkata, “Aku rendah hati”, kalian tidak bisa berkata, ”Oh! Maafkan Aku! Aku orang yang lemah yang duduk bersamamu.”  Ketika kalian datang, insya Allah ke Amerika untuk menghadiri undangan di suatu Universitas atau di mana pun, jangan pernah berkata, “Aku yang terlemah”, mencoba untuk merendah.  Katakanlah, “Aku adalah Presiden (tertawa)” Inilah cara berpikir mereka.

Jangan berpikir bahwa Mawlana Syekh tidak dapat mendengar kalian.  Jika beliau mengerahkan kekuatan yang Allah berikan untuk menjadi kasyaf atau tanpa hijab, beliau dapat mendengar seluruh percakapan kalian.  Bagaimana kalian mendengar suara guntur? Sejelas itulah kira-kira suara yang didengar oleh para awliya.  Hal itu tidak sulit bagi Allah (swt), bukankah Dia memberi Sayyidina `Isa (as) kemampuan untuk melihat isi suatu rumah dan apa yang dimakan mereka?  Bukankah Dia telah menganugerahkan Sayyidina `Umar (ra) kemampuan untuk melihat apa yang terjadi dengan salah satu jendralnya 2000 kilometer jauhnya.  Beliau mengatakan, “Ya Sariya, al-jabal”  “Wahai Sariya, gunung!”  Beliau memberi peringatan kepadanya terhadap serangan dari balik gunung.  Dan Sariya mendengar suaranya! Tidak ada yang bisa menyangkal hal ini—Ini harus diyakini oleh seorang Muslim.  [Bahkan ulama yang paling ketat, Ibn Taymiyyah, mengatakan bahwa percaya kepada kasyaf dan keramat (kekuatan ajaib) para awliya merupakan persyaratan keimanan, di dalam kitabnya`Aqidat al-wasitiyya.–penerj.]

Keistimewaan seperti itu merupakan karunia Allah (swt), namun demikian mereka tetap saja seorang hamba.  Mereka tidak berpikir bahwa dirinya lebih dari sekedar hamba-Nya, mereka adalah “`abd”, mereka adalah hamba Allah.  Allah (swt) adalah Sang Pencipta, tidak seperti kaum Wahhabi yang gila, ketika kalian bilang, “Seorang wali mempunyai kekuatan istimewa,” mereka akan mengatakan, “Apa kamu bilang, dia seperti Allah?” Mereka berkhayal bahwa Allah (swt) seperti manusia!  Allahu Akbar! Takbir! Takbir! Allah Mahabesar.  Allah memberi umat manusia, kepada awliya, raghman `an anfihim.

http://www.naqshbandi.org/teachings/suhbats/know-your-station-in-tariqa/

Kita Belum Menjadi Murid

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
20 Oktober 2012,  Fenton, Michigan
Shubhah setelah Zikir
A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah,
nawaytu ‘r-riyaadhah, nawaytu ‘s-suluuk, lillahi ta`alaa fii haadza ‘l-masjid.
أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

Athii`uullaha wa athii`uu ‘r-Rasuula wa uuli ‘l-amri minkum.
Taati Allah, taati Rasul, dan taati orang-orang yang mempunyai otoritas di antara kalian. (Surat an-Nisa, 4:59)

Madad yaa Sayyidii, yaa Rasuulullah! Madad, yaa Awliyaullah! Madad, yaa Sulthan al-Awliya, madad.

As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. 
Saya tidak berencana untuk memberi shuhbah, tetapi karena banyak orang yang datang, saya akan membuat shuhbah singkat, kemudian Syekh Shahib akan memimpin (salat) `Isya.

Islam adalah mempelajari apa yang bermanfaat bagi kita, karena Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an,

ِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُُ

Inna ad-diina `inda Allaahi al-Islaam.

Agama (yang diridai) di sisi Allah adalah Islam (tunduk pada Kehendak-Nya).  (Surat Aali-`Imraan, 3:19)

Jadi, untuk dapat memahami Islam, kita perlu memahami struktur yang Allah (swt) kirimkan kepada Utusan-Nya, Sayyidina Muhammad (saw), dan membangun di atas stuktur tersebut apa pun yang telah kita pelajari dari Islam karena itu adalah struktur utamanya.  Ketika kalian membangun sebuah gedung, kalian memperkuatnya dengan baja dan beton sehingga ia dapat menyokong banyak tingkat. Islam juga mempunyai struktur yang telah Allah kirimkan kepada Nabi (saw) sebagai pedoman bagi kita. Itu sangat sederhana dan orang-orang banyak melewatkannya, tetapi tidak menerapkannya.  Kita harus memperhatikan apa yang dikatakan oleh Nabi (saw), khususnya di masa yang penuh dengan nafsu duniawi yang mempengaruhi iman kita. Islam sepenuhnya berdasarkan pada apa yang disebutkan oleh Nabi (saw),

اإنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

Innamaa bu`itstu li utammima makaarim al-akhlaaq.
Aku tidak diutus melainkan untuk melengkapi akhlak. (Bukhari in Adab al-Mufrad)

Kita harus memperhatikan kata dalam Bahasa Arab, “Innamaa” yaitu menegaskan bahwa “Aku telah,” “bu`itstu” artinya “diutus,” dan “li utammima” diterjemahkan sebagai “untuk melengkapi”, bukan seperti yang banyak dijelaskan oleh para ulama sekarang, “untuk menyempurnakan”.  Tetapi ulama-ulama Arab mengatakan bahwa “utammin” adalah “untuk melengkapi” akhlak dan perilaku, yang artinya Nabi (saw) mengambilnya sebagai tanggung jawabnya di hadapan Allah bahwa, “Yaa Rabbii! Engkau telah mengutusku untuk melengkapi,” yang artinya, “Aku tidak akan membiarkan seseorang datang dengan tidak lengkap (pada Hari Kiamat).”  Allah memberinya sesuatu yang tidak diberikan kepada makhluk apa pun dan tak seorang pun dapat melengkapinya. Kullu nafsin, setiap orang bertanggung jawab atas diri mereka sendiri, tetapi Nabi (saw) bersabda, “Aku akan bertanggung jawab untuk semua orang.”  Tak seorang pun yang tidak lengkap pada saat Hari Kiamat dengan kekuatan yang Allah berikan kepada Nabi (saw). Beliau (saw) tidak mengharapkan kita menjadi lengkap, karena beliau (saw) tahu bahwa kita senantiasa berjuang, satu hari kita berada di jalan yang benar, satu hari lainnya kita di jalan yang salah.  “Melengkapi” maksudnya menghilangkan semua karakter buruk dan membusanai kalian dengan karakter yang baik. Misalnya, Nabi (saw) menyingkirkan semua pakaian yang kotor dan memberi pakaian yang bersih dari sisinya, artinya beliau (saw) membuang `amal yang buruk dan menggantinya dengan `amal yang baik.

Dalam sebuah hadits Nabi (saw) disebutkan bahwa,

حياتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم ، فإذا أنا مت كانت وفاتي خيرا لكم ، تعرض علي أعمالكم فان رأيت خيرا حمدت الله تعالى وإن رأيت شرا استغفرت لكم

Hayaatii khayrun lakum tuhaditsuuna wa yuhdatsa lakum fa idzaa anaa mitt kanat wafaatii khayran lakum. Tu`radhu `alayya `amal ummatii, wa in wajadtu khayran hamadt ‘Allah wa in wajadtu ghayrah  astaghfarta lakum.

Aku mengamati `amal umatku.  Jika aku mendapatinya baik, aku bersyukur kepada Allah, tetapi bila aku menjumpainya selain dari itu, menjumpainya dalam keadaan buruk, aku memohon ampun bagi mereka. (al-Bazzaar di dalam Musnad-nya)

Jadi kita beruntung menjadi bagian dari Ummat an-Nabi (saw), tetapi kita tidak memberikan haknya, memuliakan bahwa atas nama kita Nabi (saw) melakukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan.  Paling tidak kita musti menunjukkan bahwa kita berjuang, tetapi sekarang orang-orang ceroboh dan tidak memberi perhatian pada apa yang berada di sekitar mereka.  Jika kalian melihat bahwa seorang Muslim tidak berpuasa dan bertanya pada kalian mengapa, mereka mengatakan, “Oh, kepalaku sakit.” Kalian bertanya pada orang kedua, “Mengapa engkau tidak puasa?”  “Oh, aku sedang sekolah.” Kalian bertanya pada orang ketiga, “Mengapa engkau tidak puasa?” Ia akan berkata, “Karena aku sedang jogging!”  Mengapa engkau jogging?  Setiap orang mempunyai alasan.  Mengapa engkau tidak salat? “Aku tidak punya waktu.”

Pada Hari Kiamat, akankah kalian berkata kepada Allah, “Aku tidak punya waktu.”  Apa yang akan Dia katakan pada kalian? “Masuklah ke Neraka, karena sekarang Aku tidak punya waktu untukmu!”  Ketika Nabi (saw) melihat kemalasan dari umat ini, beliau (saw) mengambil tanggung jawab pada dirinya sendiri dan berkata, “Aku akan melengkapinya atas nama kalian dan kalian akan muncul sebagai yang terbaik di Hari Kiamat.”  (Tetapi itu) adalah sepanjang kalian bershalawat atas Nabi (saw), “Allahumma shalli `alaa Sayyidina Muhammad wa `ala aali Sayyidina Muhammad.”

Shalawat adalah apa yang Allah (swt) inginkan dari kita, agar kita tahu nilai dari Nabi-Nya (saw)!  Allah (swt) memerintahkan para malaikat untuk bershalawat untuk mengetahui nilai Nabi-Nya dan itu artinya shalawat adalah jalan menuju “tanah yang aman” atau “tepi yang aman”.  Setiap saat kalian mengalami kesulitan, ingatlah bahwa Allah (swt) memerintahkan kalian untuk bershalawat atas Kekasih-Nya di mana Dia akan membuat sepuluh shalawat untuk kalian, yang artinya Dia akan menghilangkan segala kesulitan!  Nabi (saw) menyebutkan dalam sebuah hadits,

من صلى علي مرة صلى الله عليه بها عشرا

Man shalla `alayya marrah, shalla ’Laahu `alayhi bihaa `asyara.
Barang siapa yang bershalawat atasku sekali, Allah akan bershalawat atanya sepuluh kali. (Sahih)

Shalawatnya Allah tidak seperti kita; shalawatnya Allah penuh dengan pahala dan menghilangkan semua kesulitan.  Jika kalian sakit, mempunyai masalah secara umum atau mempunyai masalah dalam pernikahan, bershalawatlah dan semua masalah itu akan hilang!  Jika kalian hanya duduk di tempat tidur dengan kaki terentang, tidak bershalawat, itu tidak akan berhasil. Jika kalian sakit, kita pergi ke dokter dan kita menunggu dengan cemas di ruang gawat darurat hingga empat jam.  Serupa halnya, Allah mengatakan kepada kita untuk bershalawat atas Nabi (saw) dengan harap-harap cemas. Jika kalian bershalawat selama satu jam, setengah jam, atau bahkan selama lima menit, itu sudah cukup!

Allahumma shalli `alaa Sayyidina Muhammad! Allahumma shalli wa sallim wa baarik `alaa habiibika wa nabiyyika, Sayyidina Muhammad (saw)!

Jadi Allah ingin hamba-hamba-Nya mempunyai akhlak yang baik dan tidak kasar.  Setiap orang mempunyai jalan yang berbeda dalam menunjukkan kekasarannya. Allah (swt) tidak menyukai sikap yang kasar.  Nabi (saw) tidak pernah berkata, “laa” sepanjang hidupnya, beliau (saw) menerima segalanya.  Bagi kita, jika sesuatu itu tidak sesuai dengan diri kita, kita katakan, “Tidak!”  Kita tidak setuju dengan apa saja kecuali istri kita. Kalian tidak bisa mengatakan tidak kepada mereeka, benar kan?  Mengapa? Saya tidak tahu, tetapi ini sudah menjadi tradisi sekarang, jadi kita ikuti hal itu.

Allah (swt) tidak menyukai seseorang yang kasar, itulah sebabnya Dia mengutus Nabi (saw), yaitu untuk menyingkirkan sifat kasar itu dari manusia dan menjadikan mereka sebagai orang yang baik.  Ketika orang melihatnya, mereka senang, bukannya marah, serius atau sepanjang waktu tidak senyum. Allah (swt) tidak menyukai karakter itu. Sering-seringlah senyum dan bershalawat, kalian akan memiliki dunia dan akhirat dan semoga Allah memberi kita dunia dan akhirat!

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbanaa atinaa fii ‘d-dunyaa hasanatan wa fii’l-akhirati hasanatan waqinaa `adzaba an-naar.

Wahai Tuhan kami!  Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa Api Neraka!” (Surat al-Baqarah, 2:201)

“Selamatkan kami dari Api Neraka.”  Jika kita ingin diselamatkan, itu seperti itu.  Itu artinya mintalah agar Allah (swt) mengaruniai kalian agar mempunyai satu kaki di dunia dan satu di akhirat, tidak semuanya hanya di dunia.  Alhamdulillah, kehadiran kalian di sini memperlihatkan bahwa kalian sehat dalam ibadah kalian, dan kalian senang untuk berada di Rumah Allah.  Beberapa orang datang dari jauh, untuk apa? Untuk hubb, cinta.  Allahu Akbar!  Ia berasal dari dua huruf, yaitu “Haa” dan “Baa”, membentuk kata, “Cinta”

Allah (swt) berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Qul in kuntum tuhibbuuna ‘Llaaha fattabi`uunii yuhbibkumullaahu wa yaghfir lakum dzunuubakum w ‘Allaahu Ghafuuru ‘r-Rahiim.

Katakanlah (Wahai Muhammad), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku!  Niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surat Aali-‘Imraan, 3:31)

Itu artinya Allah mencintai hamba-Nya. ‘Haa’ adalah simbol dari hayyat, hidup.  Allah tidak hanya akan memberi kalian hubb (cinta di dunia ini), tetapi Allah memberikan hayyat al-abadiyya, Kehidupan yang Abadi. ‘Baa’ melambangkan “baqa,” yang artinya “kekal” atau “tidak pernah berakhir,” dan itulah makna dari ‘hubb:’ ketika Allah mencintai kallian, Dia memberi kalian kesehatan, kebaikan, kehidupan yang kekal, di dunia dan akhirat.  Itu dari dua huruf dan kita tidak ingin lagi! Cinta Allah (swt) dan cinta Nabi (saw), kalian akan selamat, karena bila kalian mencintai seseorang, kalian akan patuh padanya.  Jika kalian mencintai istri kalian, kalian mematuhinya dan begitu pula sebaliknya. Jadi, bagaimana menurut kalian tentang cinta pada Allah dan Nabi-Nya (saw)? Athii`uullaha wa athii`uu ‘r-Rasuul, karena bila kalian cinta, Allah memberi kalian kepatuhan dan menempatkan kalian di jalur yang benar.  Semoga Allah (swt) membuat kita semua cinta pada-Nya dan cinta Nabi-Nya, dan menyingkirkan semua kesulitan, dan mengaruniakan kita apa pun yang kita minta.

Allah tidak senang bila kalian mengeluh, Dia lebih senang jika hamba-Nya mengingat-Nya!  Sekarang bila kalian bertanya pada orang-orang di sini, “Apakah kalian murid?” Mereka akan berkata, “Ya,” tetapi pada hakikatnya tidak.  Kita belum mencapai level murid, kita masih pemula.

Sayyidina Syah Naqsyband (q), Imam ath-Thariqah Naqsybandi, sangat kaya sejak usia muda.  Paling tidak lima ribu orang menghadiri majelisnya dan beliau memberi makam mereka semua dari pendapatannya.  Suatu hari beliau berjalan dan mulai merasakan keinginan untuk mengunjungi Syekhnya, Sayyidina Amir Kulal (q).  Beliau berada di lorong, merasakan antara sahuw dan ghaybah, antara keadaan terjaga dan tertidur–namun itu bukan kata-kata yang tepat.  Ghaybah dan sahuw artinya antara keadaan jazbah dan haal, suatu keadaan spiritual, dalam level yang tidak merasakan apa-apa kecuali cinta pada Allah (swt) dan Nabi (saw).  Beliau datang dekat rumah Syekh dan segera setelah beliau masuk, Syekh mengetahui nama Syah Naqsyband (q), walaupun mereka belum pernah bertemu, tetapi Sayyidina Syah Naqsyband (q) telah mengambil baya` melalui seseorang yang dikenal oleh Syekh.

Syekh bertanya, “Siapa ini?”
Murid-murid berkata, “Ini adalah Syah Naqsyband.”
Beliau berkata, “Usir dia!”

Syah Naqsyband berkata, “Pada saat itu aku merasa tidak senang dan Setan mulai bermain denganku dan egoku berkata, ‘Apa yang ingin kau lakukan dengan Syekh ini?’  Namun demikian kesadaranku berkata, ‘Tidak (jangan pergi).’”

Jadi, mereka mengeluarkan Syah Naqsyband (q), tetapi tidak ada tempat baginya untuk pergi, karena hari sudah malam dan turun salju.  Beliau pergi ke ambang pintu Sayyidina Amir Kulal (q), berlutut dan meletakkan kepalanya di dasar pintu dan tinggal di sana. Kepalanya benar-benar dipenuhi salju, tetapi beliau tidak merasakan dinginnya karena beliau dalam keadaan ghaybah, gaib/tidak hadir/absen.  Waktu Subuh tiba dan Syekh keluar untuk berwudu, beliau melangkah ke atas kepala Syah Naqsyband (karena beliau tidak tahu Syah Naqsyband  berada di situ).

Sayyidina Amir Kulal (q) berkata, “Oh, kau di sini?”
Syah Naqsyband (q) berkata, “Ya, aku di sini.”
Sayyidina Amir Kulal (q) berkata, “Aku mengujimu.  Engkau sungguh seorang murid.”

Beliau membawa Syah Naqsyband (q) ke dalam, membersihkannya dan menghilangkan duri-duri dari kakinya dan mulai membusanainya dengan ma`arifah, Ilmu Ilahiah.  Ini adalah murid sejati, dan dengan kisah singkat ini, kita dapat mengatakan bahwa kita bukanlah murid sejati, kita berusaha (untuk menjadi murid), karena Syekh tidak mengatakan kepada kalian untuk pergi, karena kalian bukan murid sejati, tetapi kita tahu bahwa kita sedang berusaha.  Lanjutkan perjuangan kalian, karena jika kalian menjadi lebih baik satu persen, itu berarti lebih baik dan membuat Allah rida, sebagaimana dinyatakan dalam hadits:

يقول الله عز وجل: من ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي، ومن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منه، ومن تقرب إلي شبراً تقربت منه ذراعاً، ومن تقرب مني ذراعاً تقربت منه باعاً، ومن أتاني يمشي أتيته هرولة

Man dzakaranii fii nafsihi dzakartahu fii nafsii wa man dzakaranii fii mala’ain dzakartahu fii mala’ain khayra minhu wa man taqarrab ilayya syibran taqarrabtu minhu dziraa`an wa man taqarrab minnii dziraa`an taqarrabtu minhu baa`an wa man ataanii yamsyii aataytahu harwalah.

Aku seperti yang dipikirkan oleh hamba-Ku. Aku bersamanya ketika dia menyebut nama-Ku. Jika dia menyebut nama-Ku di dalam hatinya, Aku menyebut namanya di dalam hati-Ku; dan jika dia menyebut nama-Ku dengan berjamaah, Aku menyebut namanya dalam jamaah yang lebih besar. Dan jika dia mendekatiku sejangkauan tangan, Aku akan mendekatinya sejangkauan lengan; dan jika dia mendekati-Ku sejangkauan lengan, Aku akan mendekatinya sejangkauan galah. Dan jika dia mendekati-Ku dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari” (Hadits Qudsi).

Bahkan jika kalian melakukan satu persen kebaikan dalam hidup kalian, kalian akan masuk Surga.  Nabi (saw) bersabda (kepada para Sahabat), “Jika kalian melakukan sembilan puluh persen dari apa yang aku perintahkan, kalian akan berada di tangan-tangan yang baik.  Akan tiba suatu masa di mana jika mereka hanya melakukan sepuluh persen dari apa yang aku katakan kepada mereka, mereka akan masuk Surga.”

Jadi sekarang mereka hanya meminta kita untuk melakukan sepuluh persen, artinya jika kalian menunjukkan perbuatan baik apa pun yang kalian lakukan, mereka akan membawa kita pada keselamatan dan membuat mereka bahagia.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

http://www.sufilive.com/We_are_not_Mureeds-4666.html

© Copyright 2012 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Perayaan Mawlid Nabi Muhammad (saw)

47230846_1943462812374729_6910494193332781056_o

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
Feltham, London, Inggris, 8 November 2018



A`uudzubillaahi mina ‘sy syaythaani ‘r-rajiim

Bismillaahi ‘r-rahmaani  ‘r-rahiim

كلمتان خفيفتان على اللسان ثقيلتان فى الميزان حبيبتان إلى الرحمن سبحان الله و بحمده سبحان الله العظيم

Kalimataani khafiifataani `alaa ’l-lisaan tsaqiilataan fi ’l-miizaan habiibataan li ’r-rahmaan: SubhaanAllah wa bihamdihi subhaanAllahi ’l-`Azhiim.

Dua kalimat yang sangat mudah diucapkan, namun sangat berat di Mizan, sangat dicintai oleh Sang Maha Penyayang, “SubhaanAllah wa bihamdihi subhaanAllahi ’l-`Azhiim.  (Bukhari dan Muslim)

 

Secara keseluruhan Islam berdasarkan pada dua kalimat.  Allah menyebutkannya pada Nabi (saw) dan Nabi (saw) menyebutkannya pada kita dua kalimat yang sangat ringan di lidah tetapi sangat berat di Mizan. 

Apakah kalian ingin masuk Surga?  [Ya…]

Kalau begitu, ingatlah ini: Kalimataani khafiifataani `alaa ’l-lisaan tsaqiilataan fi ’l-miizaan habiibataan li ’r-rahmaan: SubhaanAllah wa bihamdihi subhaanAllahi ’l-`Azhiim, astaghfirullaah. Itu akan membawa kalian dengan ghad al-bashara, dalam sekejap ke Surga kalian, bukan hanya pada Hari Perhitungan, tetapi pada hari-hari kalian di dunia.

Allah (swt) ridha dengan orang-orang yang ridha terhadap-Nya.  Apakah kalian ridha dengan Allah (swt)? [Ya…]

Islam adalah sesuatu yang tidak dapat kalian sentuh.  Itu adalah sebuah kata. Kalian harus memahaminya. Ketika kalian paham, maka kalian akan mengetahui segalanya.  Kalian harus memahami apa arti dari Kalimataani khafiifataani `alaa ’l-lisaanKalimataani artinya dua kata, yaitu Allah, Muhammad.  Begitu sederhana. Orang yang memahami Hakikat Sayyidina Muhammad (saw) akan meraih segalanya.  Sebagaimana yang beliau katakan, Kalimataani khafiifataani `alaa ’l-lisaan, dua kalimat yang ringan di lidah tetapi berat di Mizan.  Selesai!  

Sekarang, berapa kali kita membaca kata “Allah” dan “Muhammad” tadi?  Mungkin kita membacanya sepuluh kali. Sayyidina Muhammad (saw) menyebutkan bahwa pada Hari Perhitungan kalian akan melewati Shirath menuju Jannatal Firdaus bersama dengan Ahlu ‘l-Bayt karena Allah, Muhammad.  Muhammad adalah Ahlu ‘l-Bayt, beliau adalah al-Bayti, beliau adalah Jannah, beliau adalah al-Qasr, beliau adalah segalanya!  

Sekarang kita merayakan hari kelahiran Nabi (saw).  Apa artinya bahwa kita merayakan hari kelahiran Nabi (saw)?  Arti yang paling rendah adalah bahwa kita merayakan apa yang beliau ingin kita ketahui tentang beliau.  Bukannya semuanya tentang qasidah dan nasyid. Qasidah dan nasyid adalah contoh dari apa yang Nabi (saw) inginkan agar kita menyebutkannya untuk dapat masuk ke dalam Surga kita.  Kalian memerlukan kunci, dan setiap orang memerlukan sebuah kunci yang terhubung di lehernya. Kalian akan datang pada Hari Kiamat dalam keadaan dilucuti, tidak ada yang tersisa, bahkan pakaian. 

Sayyida `Aisyah (ra) bertanya, “Ya Rasulullah, mungkinkah mereka telanjang?” Nabi (saw) menjawab, “Bagaimana menurutmu?  Dengan Api di depanmu, apakah engkau masih peduli bahwa engkau telanjang atau tidak?” Setiap orang akan diadili sesuai dengan apa yang ia lakukan, tetapi para pecinta Sayyidina Muhammad (saw) akan melintasi jembatan itu dalam waktu sekejap mata.  Quluu minhum, jadilah seperti mereka. Jika kita seperti mereka, mereka akan ridha dengan kita. Jika mereka tidak ridha dengan kita, kita akan menghadapi masalah, dan masalah di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalah di Akhirat! Kita bertanya di sini, apakah ada masalah di Akhirat?  Tentu saja ada masalah di Akhirat. Bagi orang yang tidak melakukan kebaikan di dunia, ia akan menderita di Akhirat, ketika mereka melewati Jahannam. 

Jadi, kita merayakan hari kelahiran Nabi (saw), menjadi hari rekognisi, hari pengenalan, di mana setiap orang berpikir tentang Hakikatnya.  Di sana Allah akan membukakan pintu bagi hakikat semua orang, mereka yang mempunyai hakikat yang baik akan masuk Surga, sedangkan yang hakikatnya buruk akan masuk ke Jahannam.  

Semoga Allah (swt) memberi kita kekuatan untuk memahami apa yang harus kita lakukan pada hari-hari ini.  Itulah sebabnya Dia mengirim para Awliya, bukannya Nabi. Para Anbiya telah meninggalkan dunia dan kita menunggu untuk Akhirat.  Sekarang Allah masih memberikan kesempatan bagi orang-orang yang masih berada di dunia. Sepuluh sampai lima belas tahun yang lalu, tidak ada kesulitan semacam ini di dunia, di mana-mana telanjang.  Ke mana pun kalian pergi, kalian melihat orang-orang telanjang, dan barang siapa yang telanjang di dunia, ia akan telanjang di Akhirat. 

Semoga Allah mengampuni semua orang.

Perayaan itu penting, karena ketika kalian merayakan, kalian belajar, ketika kalian belajar, kalian melakukan tafakur.  Ketika kalian melakukan tafakur, kalian akan mendekati Nabi (saw) dan Awliyaullah. Semakin sering tafakur, kalian akan menjadi wali dan Mereka akan membawa kalian pada ilmu-ilmu Surgawi.   Ilmu-ilmu Surgawi akan diberikan untuk Akhirat. Itu adalah kunci untuk Akhirat. Itulah sebabnya beliau (saw) bersabda, “Berikan aku dua kalimat, dan aku akan memberimu Surga. Kalimataani khafiifataani `alaa ’l-lisaan tsaqiilataan fi ’l-miizaan: SubhaanAllah wa bihamdihi subhaanAllahi ’l-`Azhiim.  Ada dua kalimat yang sangat ringan di lidah namun sangat berat di Mizan.”  Beliau (saw) memuji Allah (swt), artinya Allah (swt) senang dipuji. Salah satu Kesenangan-Nya terhadap orang-orang di dunia adalah ketika mereka memuji-Nya, seperti di dalam Surat al-Fatihah, kalian tidak melakukan apa-apa melainkan memuji-Nya, memuji Allah (swt), alhamdulillaahi rabbil `alaamin (dst.. Mawlana membaca Surat al-Fatihah.]   Semuanya adalah pujian. Tidak ada satu ayat pun dalam Surat al-Fatihah yang tidak memuji Allah (swt). Allah senang dipuji dan Sayyidina Muhammad (saw) mengetahui bagaimana memuji-Nya, tasbih apa yang harus diucapkannya untuk memuji Allah (swt).  

Semoga Allah mengampuni kita dan memberkahi kita di dunia dan Akhirat.  Selama kita masih berada di dunia, doa-doa tidak pernah berhenti. Insya Allah kita akan berbicara tentang hal itu besok.  Sekarang saya merasa agak lelah, saya akan melanjutkannya besok insyaAllah, dan orang-orang juga tidak teralu suka dengan shuhbah yang panjang, mereka senang dengan shuhbah yang singkat.  [Kami senang dengan shuhbah-mu yang panjang, kami beruntung mempunyaimu dan mendengar shuhbah-mu.  Terima kasih.  Kami tidak pantas berada di hadiratmu.]  Terima kasih, semoga Allah memberkahi kalian, Wa ’s-salaam `alaykum.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq bi hurmati ‘l-Habiib bi hurmati ‘l-Fatihah.

https://sufilive.com/Celebrating-the-Mawlid-of-Sayyidna-Muhammad-pbuh–6699.html

© Copyright 2018 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Aku Memerlukan Seorang Pemandu

64899673_10213614800186411_3892114018063613952_o

Shuhbah
Shaykh Muhammad Hisyam Kabbani 

 

Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an [9:109] bahwa jika seseorang membangun rumahnya pada karang yang terjal tanpa fondasi yang kuat, maka rumahnya pasti akan runtuh.  Jika seseorang membangun fondasi rumahnya dengan bahan yang baik, atau pada tanah yang padat, lapisan demi lapisan disusun dengan baik, ia akan mempunyai rumah yang kokoh.  Segalanya memerlukan orang yang ahli. Jika Saya bilang kepada saudara saya, “Bisakah kamu membuatkan rumah untuk kami?” Ia akan menjawab, “Tidak, saya bukan tukang kayu.” Jadi kita harus memanggil orang lain dan berkata, “Tolong buatkan rumah untuk kami karena engkau ahlinya.”  Orang itu akan menjawab, “Baiklah! Begini rencananya, di sini kita meletakkan dinding, lalu di sini fondasi, di sini semen dan seterusnya.”

Jika kalian memerlukan seorang ahli untuk membangun rumah yang biasa, lalu bagaimana dengan hati kalian?  Bagaimana kalian membuat suatu pendekatan kepada Tuhan kalian tanpa dibimbing seorang ahli? Kalian harus mencari ahlinya.  Kalian tidak dapat mencapai-Nya tanpa bantuan seorang pemandu, tidak peduli betapa keras kalian mencoba mengikuti jalan-Nya sendirian.  Tak seorang pun yang dapat mencapainya sendirian karena kadang-kadang walaupun seseorang tahu bahwa ia berada di jalur yang benar, bisa saja ia melakukan sesuatu yang bukan pada tempat dan waktunya.  Dan dengan demikian seterusnya ia akan gagal. Jadi kita memang memerlukan bantuan seorang ahli dan ia akan menjadi pemandu kita. 

Untuk mencapai Tuhan, kalian tidak akan menemukan jalan dalam mengarungi gurun kehidupan ini kecuali dengan bantuan seorang pemandu karena angin yang berasal dari keinginan ego dan nafsu dapat mengubah segalanya.  Ego memiliki keinginan. Tiupan angin dari ego adalah keinginan yang kosong dan nafsu untuk menonjolkan diri. Bila keinginan itu muncul, ia akan menutupi jalur yang benar sehingga kalian akan tersesat. Kalian akan berhenti dan tidak tahu cara melanjutkannya.  Itulah sebabnya kalian memerlukan bantuan dari seorang pemandu yang benar-benar ahli dalam mengarungi gurun kehidupan tersebut. Ia adalah ahli dalam mengarungi jalur-jalur ego. Bila kalian tidak dapat menemukannya berarti buang-buang waktu saja dalam mencoba mendekati Tuhan di kehidupan ini.  Tuhan Maha Penyayang, karena kalian berusaha untuk mencapai-Nya, kalian akan menemukan-Nya juga di akhir hayat kalian walaupun tanpa bantuan seorang pemandu, tetapi kalian tidak dapat mencapai-Nya dengan cepat. Sekarang kalian telah kehilangan waktu tanpa kemajuan yang berarti, tetapi segera setelah kalian menemukan seorang pemandu dan kalian menerima panduan yang diberikannya, melewati kemauan ego dan nafsu, maka kalian akan sampai di sisi sebrang.  Sebaliknya jika kalian tidak menerimanya, kalian akan tersesat di gurun yang sangat luas.

Ketika Rasulullah SAW diperintahkan untuk hijrah dari Mekah ke Madinah, beliau bersabda, “Aku memerlukan seorang pemandu.”  Beliau adalah seorang rasul, mengapa beliau memerlukan seorang pemandu? Hal itu untuk mengajari kita bahwa walaupun beliau adalah seorang rasul, beliau tetap memerlukan seorang pemandu, pemandu lahiriah yang dapat menunjukkan jalan menuju Madinah.  Misalnya kita ingin menunjukkan jalan ke air terjun Niagara kepada anak kita, tetapi kita tidak tahu jalan menuju ke sana, maka kita akan mencari seorang ahli, yang tidak akan menyesatkan kita. Beliau adalah rasul tetapi beliau tetap mencari seorang pemandu, apakah beliau tidak tahu?  Nabi ‘Isa AS bersabda, “Salah satu di antara kalian akan mengkhianatiku.” Ini adalah benar, dan sebagai Muslim kita wajib mempercayainya. Beliau mengatakan ‘salah satu di antara kalian,’ apakah beliau tidak tahu? Beliau tahu tetapi tidak mengatakannya. Rasulullah SAW pun tahu, tetapi mereka (Nabi ‘Isa AS dan Rasulullah SAW) ingin menunjukkan kelemahan dan kerendahan hati sepenuhnya.  Beliau mengajari kita untuk mencari seorang pemandu. Mereka memerlukan seorang pemandu untuk menunjukkan jalan dari Mekah ke Madinah dan dengan bantuannya mereka bisa sampai di Madinah dengan aman. 

Jika kita memerlukan seorang pemandu untuk mengarungi gurun pasir, bagaimana dengan kehidupan rohaniah kita?  Ini lebih sulit. Kalian jelas memerlukan seorang pemandu untuk masalah ini. Rasulullah SAW mempunyai pemandu, yaitu malaikat Jibril AS yang memberinya inspirasi dan menyampaikan wahyu.  Pada peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah SAW dibimbing menuju Hadirat Ilahi. Jadi secara lahiriah beliau memerlukan seorang pemandu yaitu ketika hijrah dari Mekah ke Madinah dan secara internal beliau juga memerlukan seorang pemandu, ketika hijrah menuju Tuhannya di malam Isra’ Mi’raj.  Tanpa ada jalan mustahil melakukan hijrah, kalian tidak bisa pergi ke mana-mana tanpa ada jalan.

Itulah sebabnya mengapa setiap orang harus mencari seorang pemandu untuk menunjukkan jalan kebenaran dan jalan menuju realitas.  Tanpa panduannya kalian akan berada dalam keraguan, apakah yang kalian lakukan benar atau salah. Kalian tidak akan mengetahuinya.  Dengan adanya pemandu, kalian akan bergantung kepadanya karena ia adalah seorang yang ahli. Seperti yang telah dikatakan bahwa Rasulullah SAW mengambil seorang pemandu untuk menunjukkan jalan ke Madinah.  Beliau tidak berkata kepadanya, “Tidak! Mengapa kamu membawaku ke jalan yang ini, bukan yang itu?” Beliau menggantungkan dirinya kepada pemandunya karena keahliannya.

Pemandu yang menunjukkan jalan harus dapat dipercaya.  Kalian tidak bisa mengambil sembarang pemandu dan mengaku bahwa ia adalah pemandu kalian.  Jika kalian mengambil pemandu yang keliru, bisa saja ia membawa kalian ke dalam samudra Setan.  Kalian akan tersesat dalam samudra halusinasi. Banyak orang yang mengikuti pemandu semacam ini, suatu saat para pengikutnya akan mengalami halusinasi.  Apa yang mereka lihat sebenarnya tidak ada. Oleh sebab itu pemandu yang sejati sangatlah penting.

Bagaimana kalian bisa mengenalinya?  Grandsyekh pernah berkata bahwa jika kalian ingin mengetahui apakah seseorang itu adalah seorang pemandu yang sejati, pertama kali yang harus dilakukan adalah melihat pakaian luarnya.  Apakah ia telah memakai pakaian luar dengan lengkap? Jika belum, berarti ada kerusakan di dalam hatinya, oleh sebab itu jangan ikuti dia. Segala sesuatu pada seorang guru Sufi, (kita berbicara tentang Sufisme, bukan hal yang lain) yang tidak sesuai dengan pakaian dan perilaku seorang guru yang sejati, menunjukkan suatu ketidaksempurnaan atau kesalahan.  Grandsyekh berkata, “Jika kalian mempunyai sebuah jam dan jam itu secara internal bekerja 100% tetapi tidak mempunyai jarum, jam itu tidak bisa menunjukkan waktu kepada kalian sehingga tidak ada manfaat yang dapat diambil darinya. Sama halnya dengan jam yang mempunyai jarum, tetapi mekanik internalnya tidak bekerja 100%, ia juga tidak dapat menunjukkan waktu yang tepat bagi kalian.”  Jadi bagi seorang pemandu sisi lahir dan batinnya harus sempurna.

Kita tidak berbicara tentang diri kita.  Kita mengikuti guru kita. Beliaulah pemandu kita.  Beliau bekerja 100% lahir dan batin. Kita hanya mencoba mengikutinya.  Itulah sebabnya bila kita melihat kepada seseorang dan berpikir apakah ia adalah seorang pemandu sejati, kalian harus melihat bahwa ia telah melengkapi sisi lahiriah tanpa ada kekurangan.  Jika ada sesuatu yang hilang, kalian jangan mengikutinya. Bila ia kehilangan salah satu sisi lahiriahnya berarti ia telah kehilangan banyak sisi batiniahnya, yang tidak dapat diketahui orang.  Kalian berpakaian dengan rapi karena tahu bahwa orang melihat kalian. Tetapi bila menyangkut hal-hal yang tidak dapat dilihat, kalian berkata, “Biarkan saja, toh tidak ada yang melihat.” Jika kalian kehilangan salah satu item dari pakaian luar yang jelas akan dilihat orang, berarti kalian ‘tidak fit’.  Apalagi kalau menyangkut hal-hal yang tidak terlihat, tentu akan lebih banyak yang hilang. Orang seperti itu tidak bisa menjadi pemandu sejati. Dia adalah pemandu yang tidak terhubung. Bisa saja ia membawa kalian ke jarak tertentu dalam kehidupan spiritual, tetapi ia tidak terhubung dengan tingkat yang lebih tinggi lagi.  Pemandu sejati harus mempunyai eksterior yang lengkap, tidak kurang sedikit pun!

Grandsyekh berkata bahwa itu adalah langkah pertama untuk menentukan seorang pemandu sejati.  Bila kalian melihatnya dan mengatakan, “Ia sudah lolos,” bukan ujian pertama, tetapi lolos dari “kriteria pertama.”  Berikutnya kita tinjau dari sisi batin. Bagaimana kalian bisa melihat sisi batinnya? Grandsyekh berkata, “Kalian harus lihat bahwa orang itu mempunyai rasa hormat kepada setiap orang tanpa diskriminasi sekecil apa pun, tanpa memandang agama karena setiap manusia adalah hamba Tuhan yang sama.  Sang pemandu harus menghormatinya, pertama karena seluruh manusia adalah ciptaan Tuhan dan mempunyai Cahaya Ilahi dalam hatinya. Selain itu ia juga harus mempunyai rasa cinta terhadap mereka. Menerima apa yang ia inginkan baginya dan bagi anak-anaknya, untuk menjadi dan bertindak atas nama mereka, walaupun mereka hanya orang biasa yang belum menjadi pengikutnya.  Jadi ia harus bisa menunjukkan rasa hormat dan cinta kepada mereka. Ketiga, ia harus menunjukkan kerendahan hati kepada mereka. Ia tidak bisa berkata bahwa ia lebih tinggi dari mereka. Tidak ada seorang pun yang tinggi kecuali Tuhan. Jika ia menganggap dirinya lebih tinggi dari mereka berarti ia seperti Setan yang menganggap dirinya lebih tinggi dari Adam AS. 

Ketiga kriteria ini adalah “aksesoris batin” yang dimiliki pemandu sejati.  Dalam hal pakaian ia harus memiliki pakaian lengkap seorang guru Sufi. Jika guru kalian seperti itu, barulah ia seorang pemandu sejati, ikutilah ia.  Bersamanya kalian akan menemukan kepuasan hati dan menemukan hal-hal yang telah hilang. Jika kalian tidak menemukan orang seperti itu, lanjutkan pencarian kalian.  Kalian akan menemukannya karena Allah SWT Maha Penyayang. Bila kalian melihatnya, Allah SWT akan memberi. Bila kalian tidak meminta, Allah SWT tidak akan memberi. Jika kalian sungguh-sungguh, memohonlah dengan hati kalian.  Kalian akan menemukannya dan ia akan memberi kunci hati kalian. Jika kalian tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh, tidak melakukannya sepenuh hati, hanya di lidah saja mungkin kalian akan menemukannya atau mungkin juga tidak.

Ahmad al-Badawi QS adalah seorang wali yang sangat terkenal di semua kalangan Sufi.  Ia menyatakan “Aku tidak memerlukan seorang pemandu. Pemanduku adalah al-Qur’an,” sebagaimana yang dikatakan orang Wahhabi sekarang, “…dan cara hidup Rasulullah SAW.”  Ia mencoba mendekati Tuhannya sebagaimana Rasulullah SAW bersabda atas nama Tuhannya, “Hambaku tidak berhenti untuk mendekati-Ku melalui ibadah sunnah atau perbuatan baik, sampai Aku mencintainya.  Dan bila Aku mencintainya, pada saat itu Aku akan menjadi telinga yang digunakan untuk mendengar, mata yang dipakainya untuk melihat, tangan untuk merasakan, dan kaki untuk berjalan. Jika ia meminta, Aku akan memberi.  Jika ia memohon perlindungan, Aku akan melindunginya. Aku akan menjadi dirinyaa, dan ia dapat mengatakan kepada sesuatu, “Jadilah!” maka jadilah ia.” Orang-orang Wahhabi biasanya memotong bagian terakhir dari hadis tersebut, tetapi kita mengucapkannya secara lengkap.

Ahmad al-Badawi QS berusaha mendekatai Tuhannya sampai mencapai pintu Hadirat Ilahi, lalu ia berkata, “Ya Tuhanku!  Bukakanlah pintu ini untukku.” Tetapi ia tidak mendapat jawaban. Ia mencobanya berulang-ulang sampai akhirnya ia ‘secara tidak sengaja’ bertemu dengan seseorang.  Saya bilang ‘tidak sengaja’ tetapi sebetulnya itu sudah direncanakan dengan sangat rapi, karena itu adalah Kehendak Allah SWT untuk mengujinya. Ia bertemu orang itu di jalan, seseorang yang kelihatannya biasa-biasa saja.  Orang itu lalu memanggilnya, “Hei Ahmad!” bahkan ia tidak menyebutnya “Syekh Ahmad!” sebagai tanda penghormatan. Ia berkata, “Wahai Ahmad! Engkau perlu kunci untuk mencapai Hadirat Ilahi? Aku punya kuncinya dan jika kau mau, datanglah kepadaku dan akan kuberikan kepadamu.”

Banyak di antara kita yang menolak fakta atau kenyataan karena merasa bangga, walaupun ia tahu sebenarnya itu adalah jalan yang benar.  Mereka tidak mau menerimanya sebab ego mereka mengatakan, “tidak!” Ego Ahmad QS berkata kepadanya, “Bagaimana mungkin Engkau menerima sesuatu darinya?  Jangan menerima kunci darinya. Terimalah dari Tuhan.” Lalu ia berkata, “Wahai saudaraku, Aku tidak akan menerima kunci darimu, tidak juga dari orang lain, kecuali dari Sang Pembuat Kunci.  Siapa Engkau. Engkau bukan siapa-siapa.”

Selanjutnya Ahmad QS berusaha untuk mencapai Hadirat Ilahi sampai ia mendengar Suara Tuhan (hatif Rabbani) kepadanya, “Wahai Ahmad QS, kehidupan ini adalah kehidupan yang mengandung sebab dan akibat.  Aku tidak akan memberimu kunci. Sesuai Kehendak-Ku kunci untukmu berada pada orang itu. Pergilah dan dapatkan kunci itu darinya.”  Sekarang persoalannya sudah selesai. Ia mendengarnya langsung dari Tuhannya, dan ia menerima hal itu. Sekarang ia harus mencari pemandunya.  Tetapi sang pemandu telah lenyap. Orang itu telah meninggalkannya. Selama enam bulan pemandu itu mengamati hati Ahmad QS secara rahasia, melihat bahwa ia mencarinya dan berdoa kepada Tuhan siang dan malam, “Ya Tuhanku kirimkanlah orang itu kembali kepadaku,” sampai akhirnya ia bisa menemukannya kembali.  Dengan segera orang itu membuka hijab yang ada pada dirinya selama ini.  

Jadi sang pemandu membuka hijab dan menampakkan dirinya di hadapan Ahmad QS.  Ahmad QS berkata, “Wahai Syekhku! Aku menemukanmu.” Ia tidak menemukannya tetapi sang pemandulah yang menghilangkan hijabnya.  Tetapi tetap saja ia berpikir bahwa ia telah menemukannya. Ia berkata, “Wahai Syekhku, Aku menerimamu sebagai pemanduku.” Sang pemandu menjawab, “Jika engkau menerimaku sebagai pemandumu sekarang, engkau harus pasrah, menyerahkan diri, dan menyerahkan seluruh kehendakmu kepadaku.  Engkau tidak diperkenankan mempunyai kemauan selama bersamaku. Engkau telah membangun ilmu pengetahuanmu pada sebuah karang yang hanya dengan satu tiupan dari ego, ia akan jatuh. Aku harus membangun fondasi yang kuat bagimu. Jadi, lihatlah ke dalam mataku.” Ahmad melihat ke matanya dan pemandu itu dengan segera menghapus seluruh pengetahuan yang telah dipelajari oleh Ahmad al-Badawi QS dari buku.  “Lewat buku” maksudnya ada banyak hal yang berasal dari ego si penulis. Maka ia menghilangkan pengetahuan itu dari hati Ahmad QS dan kemudian lenyap. Ia meninggalkannya selama 6 bulan lagi bahkan dalam keadaan tidak tahu bagaimana mengucapkan, “Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim,” bahkan tanpa mengetahui bagaimana mengucapkan Nama Allah SWT. 

Orang-orang di kota kini mengejek Ahmad al-Badawi QS, yang kelihatannya seperti orang gila setelah sebelumnya menjadi ulama yang terkemuka.  Karena keterbatasan pengetahuan spiritual mereka, mereka berpikir bahwa ia benar-benar sakit. Yang mereka ketahui hanyalah bahwa ia mengikuti seseorang yang membuatnya gila, tetapi Ahmad al-Badawi QS tahu bahwa ia telah mendengar suara Tuhannya yang mengatakan bahwa, “Kuncimu ada pada orang itu.”  Tidak ada yang membuatnya gila. Ia mengikuti orang itu. Tetapi bila ia menerimanya sejak awal, ketika pemandu itu datang untuk pertama kalinya atas Kehendak Allah SWT, ia tidak harus melewati ujian ini. Jadi mengapa kalian membuat diri kalian harus melewati ujian yang sama? Bila kalian menemukan kebenaran, seorang pemandu yang benar, terimalah ia dengan segera! Jangan bermain-main dengan ego kalian. 

Dia meninggalkannya selama 6 bulan lagi dan muncul kembali di waktu yang lain.  Dalam kurun waktu tersebut Ahmad al-Badawi QS terus mencarinya dan ketika ia bertemu kembali, Ahmad al-Badawi QS berkata, “Wahai Syekhku, Aku menemukanmu lagi.”  Saat itu sang pemandu memandang mata Ahmad al-Badawi QS dan memancarkan sesuatu dari lubuk hatinya kepada hati Ahmad al-Badawi QS melalui matanya. Pada saat itu terjadi transfer pengetahuan batin, pengetahuan dari Kitab Allah SWT dan rahasia-rahasianya.  Pemandu itu melakukannya 3 kali sampai mata Ahmad al-Badawi QS memancarkan cahaya yang begitu kuat bahkan orang yang melihatnya pun bisa mati. Oleh sebab itu ia menutup wajahnya dengan cadar. Saat itu ia bisa memasuki Hadirat Ilahi dan ia menerima kuncinya.

Tanpa bantuan pemandu sejati kalian tidak akan bisa mencapai Hadirat-Nya.  Dialah yang akan membukakan pintu bagimu ke mana pun kalian akan pergi. Ahmad al-Badawi QS adalah seorang ulama besar yang mengetahui banyak hal.  Ia bangga dengan pengetahuannya itu dan tidak mau menerima pelajaran dari orang lain. Ia hanya mau mengambil langsung dari posisi Yang Mahatinggi. Ia tidak melihat ada yang lebih tinggi darinya kecuali Tuhan.  Bagaimana mungkin ia akan mengambil pelajaran dari orang lain? Berarti tidak ada sifat rendah hati pada dirinya. Ia telah kehilangan satu dari tiga karakteristik yang diperlukan oleh hamba Allah SWT. Ia mempunyai rasa hormat, ia juga mencintai sesamanya, tetapi ia tidak mempunyai kerendahan hati untuk menerima nasihat dari orang lain.  Dan karena ia telah kehilangan satu karakteristik itu, seolah-olah ia tidak mengalami kemajuan lagi.

Seorang wali, seorang guru harus memiliki karakteristik hormat, cinta dan rendah hati.  Jika kalian melihat salah satunya tidak ada, maka ia bukanlah seorang pemandu sejati. Ia hanya akan membawa kalian ke jarak tertentu seperti yang kita lihat pada diri Ahmad al-Badawi QS yang bisa mencapai Tuhan sampai pada jarak tertentu, namun tidak bisa membukanya.  Ia memerlukan seseorang yang mempunyai kunci tetapi ketika ditemukan ia tidak menerimanya langsung karena kesombongannya. Ia terlalu banyak memikirkan dirinya. Akhirnya ia menerima juga setelah mendengar langsung dari Tuhannya, tetapi ia harus melewati ujian tertentu.  Jika pada mulanya ia langsung menerimanya tanpa melalui rasa bangga terhadap dirinya, pintu itu segera terbuka baginya tanpa harus melewati ujian selama 2 tahun. 

Bila kalian menemukan seorang pemandu dan hatimu merasa senang dengan kehadirannya, jangan dengarkan ego kalian.  Katakan kepada ego, “Kau salah! Apa ruginya jika Aku menerimanya sebagai guru?“ Kalian tidak akan kehilangan apa pun.  Bila kalian menunjukkan sifat rendah hati, ini cukup bagi Allah SWT untuk mengangkat kalian. Jika Saya datang dan mengatakan, “Si Anu dan si Anu” adalah Syekh saya, dan Saya telah berbay’at dengannya.  Apa salahnya? Saya menerimanya dan Saya menunjukkan kerendahan hati, Allah SWT akan mengangkat saya.

Mempunyai sifat rendah hati adalah sangat penting.  Jika kalian bersifat rendah hati, kalian akan menerima semua orang sebab setiap orang dapat menjadi pemandu bagi kalian.  Ada sebuah ungkapan di Turki, berupa pertanyaan kepada seorang yang bijak,

“Dari mana engkau belajar adab yang sempurna dalam masyarakat?”  jawabnya, “Dari orang-orang yang bersalah. Aku mengamatinya, melihat kesalahan yang mereka lakukan lalu Aku menghindarinya. Jadi Aku bisa memperbaiki diriku lewat kesalahan orang lain.” 

Jika kalian bisa menerima semua orang sebagai pemandu kalian, bahkan orang yang jahat pun dapat memandu kalian. Dengan mengamati dan melihat kesalahan yang dilakukannya, kalian berhenti (melakukannya). 

Wa min Allah at tawfiq

 

 

Khotbah Jumat: Jalan Kita adalah Shalat

72374768_399587174068563_818247134527619072_o

Dr.Nour Muhamad Kabbani
Khotbah Jumat, Darul Uloom Islamia, Manchester, Inggris

11 Oktober 2019

 

shalawat…

wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahi ‘l-`Aliyyi ‘l-`Azhiim

destur yaa Sayyidi…

Assalamu’alaykum wa rahmatullahi ta`aala wa barakatuh,

Merupakan sebuah kehormatan bagi kami untuk berada di antara Muslim, di antara Mukmin yang mempunyai hati yang terbuka.  Ini merupakan tanda keimanan, sebagaimana guru kami Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q) mengatakan, “Iman membuat manusia menerima untuk percaya, dan Rasulullah (saw) telah datang untuk memberi kita cahaya iman ke dalam hati kita.  Dan beliau telah memberikannya kepada para Sahabat al-Kiraam, para Ahlul Bait, yang pada gilirannya mereka memberikannya kepada para Tabi’iin, Tabi Tabi’iin, pada Awliyaullah dan alhamdulillah ia juga datang kepada kita. Semoga Allah (swt) menambah iman kita, dan membuat iman kita kokoh.

Dalam iman, Allah (swt) memuji umat Mukmin bahwa mereka tidak takut terhadap kesalahan yang mungkin dilimpahkan kepada mereka.  Kita katakan, “Haqq!” Seorang Mukmin, seorang Muslim harus mengatakan, “Haqq!” Para ulama harus mengatakan Haqq, dan mereka tidak dapat menyembunyikannya.  Para ulama harus mengatakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah (saw) dan tidak bermain-main dengan hal itu.  Sayangnya para ulama sekarang telah mengubah Aturan Allah (swt), telah mengubah Sunnah Rasulullah (saw) untuk menyesuaikan dengan zaman.

Allah (swt) Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya, bukannya setiap waktu ada sesuatu yang lebih baik bagi hamba-hamba-Nya.  Allah (swt) Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya sepanjang waktu, setiap saat, setiap abad, tidak ada yang lebih baik selain mengikuti Sunnah Rasulullah (saw). Dan itu berlaku untuk seluruh umat, untuk seluruh manusia. Insya Allah kita senantiasa ada dalam jalur tersebut.  Kita belajar dari guru-guru kita untuk mengikuti Sunnah Rasulullah (saw). Seorang guru yang baik, seorang guru yang saleh adalah guru yang mengajarkan Sunnah yang benar. Tetapi sekarang ini orang-orang telah mengubah rambu-rambunya, seperti ketika kalian berjalan di jalan raya–saya mendengar dari guru saya, Mawlana Syekh Nazim (q), “Bila engkau berjalan di jalan raya, kau harus mengikuti rambu-rambu yang ada, jalur ini ke Birmingham, jalur ini ke Liverpool, jalur ini ke London, jalur ini ke sini, jalur ini ke sana, tetapi Setan kemudian mengubah rambu-rambu tersebut dan memutarbalikkannya sehingga sekarang misalnya arah ke Timur, ke Leeds misalnya, dan sekarang Leeds menjadi di Barat.  Kiblat telah diubah oleh Setan untuk manusia. Bukannya mengarahkan manusia kepada Allah, mereka telah diarahkan kepada sesuatu yang lainnya. Setan adalah orang yang duduk di jalannya Mukmin, Muslim dan umat manusia, dan jalan itu adalah Sunnah Rasulullah (saw). Ia duduk di sana dan berusaha untk mengubah jalurnya.

Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, dalam surat al-Baqarah,


asta`idzubillah
yaa ayyuha ‘n-naasu kuluu mimmaa fii ‘l-ardhi halalan thayyiban, wa laa tattabi`uu khuthuwaati ‘sy-syaythaani innahu lakum `aduuwum mubiin

Wahai manusia, Allah (swt) mengetahui apa yang terbaik untukmu. 


Itulah sebabnya Dia mengatakan, “Yaa ayyuha ‘n-naas!”  pada ayat ini, bukannya “yaa ayyuhal ladziina aamanuu. wahai orang-orang yang beriman,”  tetapi di sini, “Wahai manusia!” Manusia artinya manusia di seluruh abad, setiap saat, dari sekarang hingga Hari Kiamat.  Sejak Sayyidina Adam hingga Yaumul Qiyamah, Allah (swt) mengatakan kepada manusia, “Makanlah, dapatkanlah, apa yang halal dan apa yang thayyib dan jangan ikuti jejaknya Setan, ia adalah musuh yang nyata bagimu.

Allah (swt) mengatakan kepada kita apa yang baik bagi kita, setan adalah musuh yang nyata, ia adalah bukti bahwa ia adalah musuh bagi kalian, bagaimana?  Ia telah menunjukkan dirinya sebagai musuh kepada ayah kalian, Adam (as). Itu artinya ia tidak akan membiarkan kalian, sebagaimana ia tidak membiarkan ayah dan ibu kalian wahai manusia, yaa ayyuhan naas.  Sekarang, setiap orang mengikuti jejaknya Setan.  Apakah jejaknya Setan itu? Setan datang dan berbisik di pikiran manusia, atau telinga atau hati, apa pun itu, ia berbisik.  Dan ia membisiki sesuatu yang disukai ego kalian. Ia mengatakan hal-hal yang kalian inginkan. Secara alami dan karena ego kalian menyukainya, jadi ia mengatakan kepada kalian, “Ayo, ambil saja!”  “Ayo, lakukan saja!” Dan manusia, bila ia mengikuti waswasah Setan, berarti ia mengikuti jejaknya.  

Jadi Setan ketika melemparkan waswasah itu, waswasah pertama kepada manusia adalah, “Jangan percaya kepada Allah (swt)!”  Bukankah ada manusia sekarang ini yang menerima waswasah dari Setan tersebut? Bisikan pertama, “Jangan mau menerima adanya Tuhan!”  “Jangan terima adanya Sang Pencipta!” “Jangan terima Tuhan Yang Mahaesa, Allah (swt)!” Itu adalah kufur. Jadi waswasah pertama Setan kepada manusia adalah menjadikannya seorang kafir.  Lihatlah, sekarang ini begitu banyak orang yang atheis, bukan hanya menerima banyak tuhan, tetapi mereka juga tidak menerima Tuhan! Jadi atheis atau politheis, orang-orang yang menyekutukan Tuhan atau orang-orang yang menyangkal Allah (swt) mereka mengikuti waswasah Setan.  Mereka mengikuti jejaknya Setan. Ke mana mereka akan membawa kalian? Mereka mungkin akan membawa kalian ke jalan mereka, waspadalah!     

Jangan mengikuti orang yang bukan Mukmin atau bukan Muslim.  Kalian dapat berteman dengan mereka di universitas, atau di sekolah, dalam pekerjaan, itu tidak masalah.  Kalian dapat berurusan dengan mereka dan menunjukkan akhlak yang baik kepada mereka. Tetapi jangan pergi keluyuran di malam hari bersama mereka.  Mereka hanya akan mengajari kalian hal-hal yang buruk!  

Alhamdulillah anak-anak muda sekarang banyak yang pergi ke masjid, mereka sudah kelelahan untuk keluyuran.  Sekarang yang tua, ketika mereka beranjak tua, mereka mulai shalat, alhamdulillah, itu bagus. Mereka bertobat.  Tetapi anak-anak muda, Setan mengejar mereka. Setan tidak mengejar orang tua, mereka tidak dapat melakukan apa-apa lagi, mereka tidak bisa berjalan, tidak bisa bergerak, tidak bisa melakukan apa yang dapat dilakukan oleh anak muda.  Jadi Setan mengejar kalian, wahai anak-anak muda! Mereka tidak akan meninggalkan kalian. Mereka akan mengatakan, “Tinggalkan itu halal-haram, apa itu…kalian suka kan, ambillah, lakukanlah yang kalian suka.” Jadi teman kalian, masyaAllah, mereka yang senang berpesta mereka ingin berpesta bersama kalian.  Jadi kalian pergi dan itu adalah waswasah Setan. Kalian harus berhati-hati.    

Jika Setan tidak bisa menggoda manusia dengan kufur, dengan menyangkal Allah (swt) atau menyekutukan Allah (swt), apa yang ia lakukan?  Ia berkata, “Jangan dengarkan para Nabi dan Rasul, jangan terima mereka. Buatlah agamamu sendiri. Buatlah jalan kalian sendiri!” Berapa banyak syayathin yang telah membuat jalan mereka sendiri?  Mereka mengatakan, “Ini adalah jalan kami! Kami tidak mendengar Sayyidina Muhammad (saw)–jika mereka mengatakan Sayyidina–jika mereka mengatakannya, itu artinya mereka menerimanya dan mereka menjadi Muslim–tetapi mereka tidak mengatakannya.  Mereka bahkan tidak memberikan gelar penghormatan apa pun kepada Rasulullah (saw). 

“Jangan dengarkan dia, jangan dengarkan Isa (as), jangan dengarkan Musa (as), jangan dengarkan Nuh (as) dan Ibrahim (as).”  Seperti itulah ia mengatakan pada orang-orang saat itu, menyangkal risalah mereka. “Lalu apa yang harus kulakukan?” “Membuat jalanmu sendiri!”  Berapa banyak orang yang membuat agamanya sendiri? Jalan mereka sendiri, filosofi mereka sendiri?  

Para filsuf mengklaim sebagai Nabi, bahwa mereka menunjukkan jalan bagi kalian.  Mereka bukanlah orang yang menunjukkan jalan ke Surga bagi kalian. Jalan ke Surga tidak berasal dari Bumi ke Langit, tetapi dari Langit ke Bumi.  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, “faman tabi`a hudaaya, Aku mengirimkan kalian huda. (QS 2:38)” Sang Khaliq akan mengirimkan petunjuk (bimbingan), bukannya orang-orang di Bumi akan menemukan atau menciptakan petunjuk tersebut, itu adalah bid’ah.  Itu adalah Ahlul Bid’ah. Mereka menciptakan petunjuk, dan mereka mengatakan, “Kami akan menemukan jalan menuju Sang Pencipta, ke Hadirat Ilahi.” Tidak! Huda itu berasal dari Langit! Dia telah mengutus para Nabi. Huda hanya datang kepada para Nabi melalui wahyu, melalui Sayyidina Jibril (as).  Manusia harus menerimanya. Jangan ikuti para filsuf. Jangan ikuti orang-orang yang menciptakan jalannya sendiri ke Surga. Mereka menunjukkan slide kepada kalian:

Untuk mencapai Allah (swt), partama kalian lakukan ini, lalu ini, lalu ini… kalian melihat slide-slide tersebut dan kalian tidak mengerti apa itu. 

Jalan menuju Allah (swt) bukannya menunjukkan slide-slide seperti itu.  Jalan menuju Allah (swt) sangat sederhana. Ia adalah shalat! Daripada menujukkan slide, lakukan shalat berjamaah bersama orang-orang dan usahakan agar khusyuk.  Itulah yang perlu kalian lakukan. Bukannya mengatakan, “Bagaimana aku memurnikan hatiku?” “Bagaimana aku memurnikan pikiranku?” “Bagaimana aku memurnikan jiwaku?”  “Bagaimana aku melakukan meditasi?” Tidak perlu hal itu. Rasulullah (saw) telah mengatakan kepada kita, “Shalat!” Dua rakaat, empat rakaat, tiga rakaat fardhu kalian.  Sayyidina Jibril (as) mengajarkan Rasulullah (saw) cara mengerjakan shalat. Huda telah datang dari Langit melalui Sayyidina Jibril (as) kepada Rasulullah (saw). Rasulullah (saw) telah mengatakan kepada kita bagaimana kita dapat mendekati Tuhan kita.  Apa yang seharusnya kalian capai dalam shalat. Seperti itulah guru spiritual, orang yang mengaku sebagai Imam atau syuyukh dalam spiritualitas. Kalian tidak memerlukan orang-orang seperti itu. Yang kalian perlukan adalah mencapai khusyuk dalam shalat.  Itu adalah antara diri kalian dengan Tuhan, bukannya untuk dipamerkan kepada orang lain bahwa kalian tahu tentang spiritualitas. Datanglah shalat dengan jamaah dan capailah khusyuk dalam shalat dengan demikian Allah (swt) akan menerima kalian dan akan menunjukkan pada kalian.  Menunjukkan apa? Jannatal Firdaus!  

Syekh-syekh ini yang mengaku membimbing orang-orang ke chakra-chakra tertentu dan memberikan pencerahan, dan semua yang palsu ini.  “Jika engkau mengikuti jalanku, aku akan membukakan rahasia dan hakikat bagimu.” Kita tidak memerlukan semua ini, yang kalian perlukan hanyalah shalat dan mencapai khusyuk dalam shalat.  Kalian tidak memerlukan yang lain.  

Pertama kalian menerima Rasulullah (saw), kalian masuk ke dalam Iman dan Islam.  Kemudian kalian lakukan shalat kalian. Itulah yang kalian perlukan. Jangan ikuti orang yang mengatakan, “Aku akan menunjukkan jalan ke Surga.”  Katakan pada mereka, “Aku sudah tahu jalan ke Surga.” “Apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah (saw) kepada kita, dua rakaat shalat adalah jalan kita ke Surga, kau tidak perlu menunjukkan apa-apa lagi!”

Allah (swt) menegaskan hal itu dalam Surat al-Mu’minuun.

Asta`idzu billaah,

Qad aflaha ‘l-Mu’minuun     

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman

Orang yang percaya kepada Rasulullah (saw) dan Nabi-Nabi lainnya serta percaya pada risalah yang dibawanya, mereka telah mencapai keberhasilan, mereka telah mencapai falah, mereka adalah para Muflihuun, mereka adalah orang-orang yang berhasil.  Siapa mereka? Rasulullah (saw) telah memerintahkan kita untuk mengenal kesepuluh ayat ini, atau menasihati kita atau menganjurkan kepada kita, tetapi kebanyakan di antara kita tidak mengetahuinya, oleh sebab itu bacalah sepuluh ayat pertama Surat al-Mu’minuun.  

Jika kalian melakukannya, Allah menjanjikan kepada kalian Jannatul Firdaus!  Itulah yang perlu kalian katakan pada guru-guru spiritual, yakni orang-orang yang membuat aplikasi (di HP atau yang lainnya), orang-orang yang membuat iklan di media sosial, kita tidak perlu semua itu.  Kita mengetahui jalan kita. Jalan kita adalah masjid. Jalan kita adalah shalat fardu bersama jemaah. Jalan kita adalah khusyuk dalam shalat.  

Alladziina hum fii shalaatihim khaasyi`uun

(yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya. 

Allah (swt) menjanjikan Jannatul Firdaus, dan Dia menegaskan bahwa orang yang telah mencapai sukses adalah orang yang telah mencapai khusyuk dalam shalatnya.  Jadi yang perlu kalian lakukan adalah shalat dan berusaha mencapai khusyuk. Khusyuk dicapai pada saat sujud. Khusyuk adalah ketika kalian berserah diri kepada Allah sepenuhnya.  Kalian paling dekat dengan Allah ketika dalam posisi sujud, bukannya pada saat kalian berpikir bagaimana aku melakukan meditasi hari ini, atau besok. Lakukan sujud, dan itulah saat terdekat kalian dengan Allah (swt).  Kalian tidak perlu membayar seribu Euro, atau dolar, atau pound untuk mengikuti acara retreat 3 hari dan mencapai pencerahan. Kalian tidak memerlukan semua itu, yang kalian perlukan adalah sujud.

Alladziina hum fii shalaatihim khaasyi`uun, orang yang datang ke Hadirat Tuhan mereka dan mereka mencapai khusyuk

walladziina hum `ani ‘l-laghwi mu`ridhuun

dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna

walladziina hum li ‘z-zakaati ffa`iluun

dan orang yang memurnikan dirinya (dengan menunaikan) zakat.  

Zakat memurnikan uang kalian dan juga memurnikan perbuatan buruk kalian, dari akhlak buruk kalian, semua itu dicapai dalam shalat.  Agar akhlak buruk keluar dari ego kalian, kalian harus melakukan shalat, mengapa? Para Awliyaullah mengatakan, “Satu-satunya jalan untuk membuat ego kalian tunduk adalah melalui shalat,” karena ada tiga hal dalam shalat yang kalian lakukan.  Kalian melakukan tadallul, wudhu dan khusyuk. Tadallul adalah ketika kalian merendahkan diri kalian. Jadi ketika kita shalat kepada Allah (swt), kita menempatkan kedua tangan kita dalam posisi menghadap Sang Raja. Bagaimana postur tubuh kalian ketika bertemu dengan seorang walikota?  Bagaimana postur kalian ketika bertemu dengan seorang ratu? Bagaimana postur kalian ketika bertemu dengan seorang raja atau presiden? Bukankah kalian merendahkan diri kalian ketika menyapanya? Bukankah kalian melakukan hal itu kepada manusia?  

Ketika kalian shalat, kalian mengajari diri kalian, kalian mengajari ego kalian bahwa “Aku berada dalam Hadirat Sang Raja dari semua raja, Sang Khaliq, Allah (swt).”  Jadi ketika kalian menempatkan kedua tangan kalian, itu merupakan tanda hormat, tawaduk dan rendah hati kepada Tuhan kalian, itulah cara menundukkan ego kalian, dengan menundukkan diri.  

Ketika kalian ruku, itu adalah hudu, kalian membuat diri kalian menunduk kepada Allah (swt), itu artinya jangan sombong.  Berikutnya sujud. Berikutnya kalian akan berada di lantai. Itu adalah jalan untuk menundukkan ego kalian.    

walladziina hum li ‘z-zakaati ffa`iluun

dan orang yang memurnikan dirinya adalah orang yang membuat egonya tunduk, menyingkirkan semua akhlak buruk yang dimiliki egonya, termasuk takabur, serakah, suka menipu, berbohong.

Shalat, 2 rakaat, itu cukup.


Tidak perlu berpikir bagaimana aku mencapai Allah (swt).  Heeh jangan menjadi buta, itu adalah untuk orang-orang yang tidak tahu.  Kalian tahu apa yang diajarkan oleh Rasulullah (saw) kepada kita untuk mencapai Allah (swt).  Beliau (saw) bersabda, “ash-shalaatu ma’rajal Mu’minin,” shalat adalah mi’rajnya kalian, kalian ingin mencapai Hadirat Allah (swt), sejak kalian mengucapkan Takbiratul Ihram, Allahu Akbar dan kalian mengarahkan wajah kalian ke kiblat, ke Kakbah Mu`azhzhamah, kalian sudah hadir di sana, kalian tidak perlu lagi bertanya, “Apakah aku hadir di sana?  Apakah aku tidak ada di sana?” Tetapi bila kita buta, maka kita buta. Dikatakan bahwa ketika Awliyaullah mengarahkan wajahnya ke kiblat, mereka melihat Kakbah Mu`azhzhamah, mereka melihat ke mana wajah mereka menghadap, mereka tidak buta, 

wa man kaana fii hadzihi a`maa fa huwa fi ‘l-aakhirati a`maa  (QS 17:72)

Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, maka di Akhirat ia akan buta dan situasinya lebih buruk lagi.  Awliyaullah, mereka tidak buta di dunia ini, dan mereka tidak buta di Akhirat, mereka melihat ke mana mereka mengharahkan pandangannya. Sejak saat mereka mengucapkan “Allahu Akbar” mereka melihat diri mereka di depan Kakbah Mu`azhzhamah, tidak seperti kita yang melihat ke kanan ke kiri.    

walladziina hum li ‘z-zakaati ffa`iluun

walladziina hum li furuujihim haafizhuun

dan orang-orang yang memelihara kemaluannya.

Ini penting bagi anak-anak muda.  Lupakan orang-orang tua. Allah (swt) telah mengambil kekuatan dari mereka.  Tetapi anak-anak muda. Kalian lindungi martabat kalian, kalian lindungi kehormatan kalian.  Jaga kalian bersama istri kalian. Kalian jaga diri kalian dengan menikah, bukannya pergi ke sana ke mari.  Itu adalah untuk anak-anak muda. Setan akan datang dan akan menggoda kalian, berbisik pada telinga kalian, hati kalian, “Ini enak sekali, mengapa kalian tidak mencobanya!”  Karena Rasulullah (saw) dan Allah (swt) melarangnya. Rasulullah (saw) bersabda, “An-nikaahu sunnati man raghiba `an sunnati falaysa minni, nikah adalah sunnahku.”  Sayyidina Adam (as) ketika Allah mengatakan untuk masuk ke dalam Surga, Dia berfirman, “yaa Aadamuskun anta wa zawjuka ‘l-jannah, wahai Adam tinggallah engkau dan istrimu di dalam Surga. (QS2:35)”

Perintah pertama bagi Adam (as) sebagaiman yang dikatakan oleh guru kita, Mawlana Syekh Nazim adalah untuk menikah.  Perintah pertama adalah melakukan pernikahan antara dirinya dengan Sayyida Hawwa (radhiyallaahu `anwa wa karamallaahu wajhah).  Karena Allah (swt) telah berfirman, “uskun anta wa zawjuka ‘l-jannah,” wa zawj artinya istrimu, pasanganmu.  Syekh kita mengatakan bahwa orang yang melakukan pernikahan Sayyidina Adam (as) dan Sayyida Hawwa (`alayha ‘s-salaam) adalah Rasulullah (saw) di Surga.  Ini adalah jalannya Nabi (saw), jalannya Rasulullah (saw), ajaran al-Qur’an suci.  

Kita dapat melanjutkan dengan ayat berikutnya, tetapi kita tidak mempunyai waktu yang cukup.  Dan saya tidak ingin membuat kalian kehilangan fokus, fokus pada shalat. Dua rakaat sebelum kalian meninggalkan rumah, jika kalian tidak bisa melakukan shalat Subuh pada waktunya, paling tidak lakukan dua rakaat qadha, semoga Allah (swt) membuat kita semua dapat melakukan shalat fardhu, bukannya qadha.  Tetapi bila kalian tidak bisa, dan beberapa orang mempunyai alasan tertentu, lakukanlah shalat dua rakaat sebelum kalian meninggalkan rumah. Tegaskan pengabdian kalian kepada Allah (swt). Katakan,

“Wahai Tuhanku, mungkin aku terlambat. tetapi Engkau adalah Yang Maha Pemaaf. Engkau adalah Afuww, maafkanlah aku. Yang dapat kulakukan adalah dua rakaat.  Terimalah dariku yaa Rabbi.”

Allah (swt) akan melindungi kalian sepanjang hari.    

Orang-orang datang dan mengatakan “Oh sepanjang hari ini begitu mengerikan!  Begitu banyak masalah sepanjang hari.” Saya bertanya apakah kalian melakukan shalat Subuh?  “Tidak!”


Lakukanlah shalat Subuh, absen masuk (seperti di tempat kerja). Setiap orang melakukan absen masuk dan absen keluar/pulang.  Apa yang terjadi jika kita tidak melakukan absen masuk? Kalian tidak akan mendapat bayaran. Shalat Subuh adalah seperti melakukan absen masuk, menandakan kalian telah masuk ke dalam Hadirat Allah.  Allah (swt) akan memberi pahala bagi kalian. Jika kalian tidak melakukannya, maka Allah tidak akan memberi pahala bagi kalian, Allah senang terhadap orang-orang yang datang pada-Nya. Datanglah kepada Allah (swt), jangan lalai.  Jangan mengabaikan shalat dan usahakan agar khusyuk. Ajarkan diri kalian untuk khusyuk. Khusyuk adalah ketika kalian menghosongkan hati kalian dari segala hal yang mengganggu kalian; mengosongkan pikiran dari segala hal yang mengganggu kalian.   

Saya akan memberikan sebuah contoh yang mungkin kita alami.  Saya sering mengulangi cerita ini, karena saya menyukainya. Seorang pria datang untuk melakukan shalat Isya berjamaah di masjid. Imam mulai melakukan takbiratul Ihram dan memulai shalat, seluruh jemaah mengikutinya sampai Imam mengucapkan salam dan jemaah pun mengucapkan salam.  Imam lalu bertanya kepada jemaah, apakah aku shalat tiga rakaat atau empat rakaat? Imamnya juga tidak tahu. Jemaah juga tidak tahu, mereka bilang, “Kami tidak tahu, kami mengikutimu, engkau adalah Imam yang memimpin kami.” Pekerjaan Imam adalah sulit! Kalian yang memimpin mereka, dan mereka mengikuti kalian.  Jadi yang salah bukanlah mereka, kesalahan bukan pada kambing gembala, tetapi pada pengembalanya, jadi kalian harus berhati-hati.

Jadi Imam ini tidak tahu dan jemaah pun tidak tahu, kecuali seorang.  Ia mengatakan, “Wahai Imam, engkau shalat tiga rakaat!” “Dari mana engkau tahu?” tanya Imam.  Ia berkata, “Saya mempunyai empat toko! Rakaat pertama saya memikirkan seluruh penjualan di toko pertama.  Rakaat kedua saya memikirkan penjualan di toko kedua. Begitu pula dengan rakaat ketiga. Tetapi saya tidak sampai memikirkan toko keempat, jadi saya tahu kalau shalatnya tiga rakaat!”  

Sayangnya begitulah shalat kita.  Berusahalah untuk mencapai khusyuk dalam shalat.  Khusyuk, kosongkan hati kalian dari segala hal yang mengganggu kalian.  Dikatakan bahwa, dan ini adalah seorang Awliyaullah, ia mengatakan, “Sebelum masuk waktu shalat, aku mengambil wudhu dan duduk di tempat shalatku dan berdiam diri.”  Duduk selama lima atau sepuluh menit dan berdiam diri di tempat kalian akan shalat. “Kemudian aku membawa Kakbah Mu`azhzhamah di antara kedua mataku, seolah-olah aku sedang menatapnya.  Dan aku membawa Maqamul Ibrahim ke depan dadaku, seolah-olah aku shalat di Haramu ‘sy-syariif.” Betapa indahnya shalat di belakang Maqamul Ibrahim dengan memandang Kakbah Mu`azhzhamah. Insya Allah, Allah (swt) membuat kita bisa mengunjunginya lebih sering lagi, umrah, haji, insyaAllah.  “Aku letakkan Maqamul Ibrahim di hadapan dadaku, jadi aku shalat di belakang Maqamul Ibrahim. Aku letakkan Kakbah Mu`azhzhamah di antara kedua mataku dan Aku tahu bahwa Allah (swt) melihatku. Aku melihat Surga di sisi kananku, dan Jahannam di sisi kiriku. Dan aku berjalan di shirath dalam shalatku”  Ia telah meletakkan, ia telah mengelilingi dirinya dengan semua yang penting bagi kita di Akhirat. Dengan demikian dunia selesai. “Dan seperti itulah aku melakukan shalatku.” Siapa di antara kita yang melakukan hal itu? Siapa di antara kita yang benar-benar memberikan shalat dengan hak-haknya? Sangat sedikit.  Mereka adalah orang-orang yang saleh, yang telah mencapai khusyuk. Itulah yang harus kita coba. Jadi ketika kalian menghadap kiblat, bayangkan bahwa kalian sedang melihat Kakbah Mu`azhzhamah. Hadirkan di hadapan kalian. Bayangkan bahwa kalian berada dalam Hadirat Allah (swt). Rendahkan diri kalian. Kalian akan mencapai khusyuk dan kalian akan mencapai Jannatul Firdaus.  

Kalian tidak memerlukan guru-guru spiritual yang mengajarkan kalian bagaimana cara meditasi dan mencapai sesuatu.  Yang kalian perlukan hanyalah shalat dua rakaat. Semoga Allah (swt) mengampuni kita. Insya Allah kita akan bertemu lagi.

Wa min Allah at-tawfiq, aquulu qawli hadza…             

Video: https://www.facebook.com/drnourmohamadkabbani/videos/1174989786029160/

 

Membedakan Inspirasi dan Khayalan

Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q)

Pertanyaan: “Bagaimana kita membedakan apa yang datang ke dalam hatimelalui inspirasi dari Allah, Rasulullah atau Syekh kita, dan apa yang menyerang hati dari ‘bisikan setan’?

Syekh: Grandsyekh mengajarkan kepada kita suatu metode yang dapat
digunakan secara langsung sejak awal kita terjun ke dalam tarekat untuk
membedakan inspirasi yang berasal dari pikiran sesat dan bisikan setan. Metode itu adalah dengan menunggu dan melihat apakah inspirasi tersebut muncul kembali atau tidak. Jika hal itu datang ke dalam hatimu secara berulang-ulang, boleh jadi itu merupakan inspirasi yang benar. Grandsyekh membandingkan
dengan rasa sakit pada saat melahirkan anak. Jika kontraksi ibu hamil dirasakan berulang-ulang dan intervalnya semakin menurun, maka itu merupakan suatu tanda bahwa kelahiran akan segera terjadi. Inspirasi yang benar terjadi
dengan cara yang sama. Sekali dia datang kepada seorang murid, berikutnya akan datang secara berulang-ulang, tetapi jika itu adalah suatu pikiran yang sesat, maka dia tidak akan bertahan lama, dan jika itu adalah bisikan setan, walaupun berlangsung lama, lama-kelamaan akan menjadi jelas bahwa hal itu
tidak baik dan akan timbul perasaan tidak enak dalam hati. Dalam hal ini
seorang pemula pun dapat membedakan inspirasi yang benar yang dikirimkan kepada mereka oleh Rasulullah (saw) melalui Syekh mereka dengan segala macam pikiran lainnya.

Sejauh menyangkut penglihatan spiritual, hal itu tidak perlu dan juga tidak patut diidamkan oleh seorang pemula dalam tarekat Naqsybandi. Dalam tarekat kita, penglihatan spiritual hanya diberikan ketika telah sampai di tujuan, sementara di tarekat lain boleh jadi itu memegang peranan utama sejak awal. Adanya
perbedaan dalam metode ini adalah karena kita sangat berhati-hati dalam
menjaga para pengikut agar tidak jatuh ke dalam jebakan yang berbahaya. Jika seorang murid dapat dengan mudah melihat suatu penglihatan spiritual, dia mungkin akan merasa puas dengan pengalaman itu sehingga lupa untuk mencari peningkatan. Kebanggaan dan perasaan palsu tentang apa yang telah dicapainya itu juga akan merusaknya. Dia bisa bilang, “Ini hebat! Saya tidak pernah melihat
yang seperti ini di dunia,” dia menjadi tertambat pada tempatnya itu. Dia bisa merasa puas dengan posisinya sekarang dan berpikir bahwa dia telah mencapai tujuannya. Hal itu juga mungkin bisa sangat menyesatkannya, padahal yang
lebih sempurna masih belum datang.

Agar tidak keluar dari relnya, para Guru tarekat Naqsybandi membimbing para pengikutnya menuju kesempurnaan tanpa pandangan spiritual semacam itu, jadi
para pengikut dapat berkonsentrasi pada pemurnian dirinya hanya demi Allah semata, tidak untuk hal-hal lain, termasuk mencari penglihatan atau kekuatan spiritual tertentu.

Kita beribadah kepada Allah hanya untuk–Nya, untuk mencapai Hadirat-Nya, dan sama sekali bukan untuk lainnya, dan sudah jelas bukan untuk mendapatkan akses ke penglihatan spiritual tertentu. Jika seorang darwis Naqsybandi berpikir kalau dia melakukan sesuatu untuk mencari penglihatan supranatural, maka dia
harus menganggap dirinya sudah tidak murni dalam konteks keagamaan dan dia harus segera mandi (penyucian secara menyeluruh untuk menghilangkan pengotor dalam konteks ritual, dinamakan juga, “ghusl”) untuk menghindarkan
dirinya dari pengotor spiritual yang membuatnya tidak bisa mendekati Hadirat Ilahi. Pikiran seperti itu menunjukkan bahwa seorang murid telah menyerah dalam mendekati Hadirat Ilahi—tujuan utama dari tarekat—dan lebih menyukai bermain dan menyenangkan dirinya sepanjang jalan.

Ya, para pemula dan mereka yang telah menjalani tarekat dilindungi dari penglihatan spiritual. Hijab hanya akan disingkap ketika murid telah mencapai posisi yang aman. Seperti halnya al-Qur’an yang diturunkan di Mekah sebagai tempat yang aman (pembunuhan dan tawuran dilarang di daerah yang
dianggap suci). Jadi ada maqam spiritual yang dinamakan maqam yang aman, station of safety. Dan untuk menuju ke sana terdapat suatu perjalanan panjang yang sangat berat dari posisi kita sekarang ini; kenyataannya mereka yang bisa
sampai di sana hanya sedikit.

Tetapi siapa pun yang mencapai maqam tersebut akan mengalami penglihatan spiritual yang lain, dan semuanya bersifat khas bagi tiap-tiap murid. Jika kalian berdua sampai pada posisi itu, penglihatan kalian akan sama sekali berbeda, baik
warna, wangi, dan perwujudannya tidak pernah sama. Tetapi untuk sekarang yang harus dilakukan adalah melanjutkan tugas dan bergerak dengan sabar menuju ridha Allah.

Ismullaah al A`zham

photo_2019-05-30_07-33-48.jpg

Jika seseorang ingin agar doanya segera terkabul, maka doa itu harus disertai dengan Ismullah al-A`zham اسْمُ اللَّهِ الأَعظَمُ, yaitu Nama-Nama Allah yang paling Agung, yang tertanam pada tiga ayat pertama setiap Surat dalam kitab suci al-Qur’an mulai dari awal hingga akhir. Jadi jika kalian membaca tiga ayat pertama dari setiap Surat setiap hari, tentu saja kalian akan melewati Ismulaah al-A`zham.

Para Awliyaullah menjadikannya sebagai wirid harian, tetapi jika kalian membacanya sekali seumur hidup, itu sudah diterima!

Shaykh Hisham Kabbani

Pembacaan Ayat Pertama dari setiap Surat:
https://sufilive.com/Recitation-of-First-Ayat-of-Every-Surah-Ismulllah-al-A-zam-is-contained-in-the-first-verses-6571.html

Ayat Pertama setiap Surat:
https://www.dropbox.com/s/3dzu0xola65ur6b/Qalbul%20Quran.pdf?dl=0