Rasa Sakit, Kesedihan, dan Kesusahan adalah untuk membimbing kita

13680573_10153808007070886_5264570428305723337_n

Rasa sakit, kesedihan, dan kesusahan adalah penting karena mereka berfungsi untuk membimbing kita. Mereka mendorong seseorang menuju keselamatan dan mengarahkan kalian menuju ke jalan dan keadaan yang Allah (swt) kehendaki bagi diri kalian. Ketika seseorang berada dalam kesusahan, dia akan teringat dan menjadi sadar akan Allah. Ketika seseorang berada dalam kepedihan, dia pun mengingat Allah. Ketika seseorang dalam kesedihan, ia pun mengingat Allah. Ketika ia sakit, ia pun mengingat Allah. Ketika seseorang merasa kesepian atau tertimpa depresi, ia akan mengingat Allah. Dan ketika seseorang merindukan orang yang ia kasihi atau sayangi, ia pun akan mengingat Allah.

Shaykh Hisham Kabbani

Pain, sadness and difficulty are important in that they serve to guide us. They propel one towards safety and so direct you back to the way and state that Allah ﷻ wants you to be in. When one is in a difficulty, he or she remembers and becomes conscious of Allah. When one is in pain, he or she remembers Allah. When one is in sadness he or she remembers Allah. When one is sick he or she remembers Allah. When one is in any state of loneliness or depression, he or she remembers Allah. When one longs for someone that he or she cares for, one remembers Allah.

Shaykh Hisham Kabbani

Tentang Percobaan Kudeta di Turki

13775511_1051487738238912_8362404732098420136_n

Shuhba, Syekh Hisyam Kabbani

16 Juli 2016

 

Apa yang terjadi kemarin di Turki adalah suatu malam yang gelap; kita tidak mengatakan siapa yang benar atau salah, tetapi dalam sesaat ia bisa saja pecah menjadi suatu peperangan besar, namun ‘inaayatullah, Perlindungan Allah, telah menghentikannya. Awliyaullah telah bekerja keras, berdoa untuk mencegah pecahnya pertumpahan darah, dan mereka berhasil mencegahnya dengan izin Allah (swt). Sebetulnya peristiwa tersebut akan menjadi drama yang lebih besar, tetapi hal itu dapat dicegah. Jadi, kita mesti berhati-hati dari sekarang dan seterusnya karena peristiwa ini adalah suatu tanda dari ‘gempa bumi’ yang besar, bukan suatu ‘gempa bumi’ fisik yang menghancurkan bangunan-bangunan, tetapi ia akan berkesudahan seperti itu juga (yaitu hancurnya bangunan-bangunan, penj.). Artinya, peristiwa kemarin itu adalah suatu tanda bahwa apa yang Allah (swt) firmankan dalam Quran Suci dan apa yang Nabi (saw) sabdakan dalam Hadits Mulia memang akan terjadi. Karena itu, kita harus sangat berhati-hati dan berhenti mengumpat (ghibah) dan menyakiti satu sama lain, dan berhenti melakukan apa pun yang salah karena bila peristiwa tersebut tidak dapat terkendalikan lagi, maka tak seorang pun dapat menghentikannya karena pada saat itu semua berada di Tangan Allah. Allah (swt) Sang Maha Pembalas dan Ia (swt) dapat menghukum setiap orang dan Ia dapat membalas perbuatan setiap orang jika kita tidak mengikuti Syari’ah-Nya!

Karena itu Nabi (saw) bersabda, “Tak ada yang tertinggal dari Islam kecuali sebagai nama,” karena atas nama Islam setiap orang melakukan sesuatu yang malah bertentangan dengannya.

يوشك أن يأتي على الناس زمان لا يبقى من الإسلام إلا اسمه ولا يبقى من القرآن إلا رسمه ، مساجدهم عامرة وهي خراب من الهدى ، علماؤهم شر من تحت أديم السماء ، من عندهم تخرج الفتنة ، وفيهم تعود

Akan datang suatu masa bagi manusia di mana tiada yang tertinggal dari Islam kecuali hanya nama, dan tiada yang tertinggal dari Qur’an kecuali bentuk lukisan huruf-hurufnya, masjid-masjid akan dibangun tetapi kosong akan hidayah, ulama-ulama mereka akan menjadi orang-orang terjahat di bawah kolong langit, dan kekacauan akan muncul dari mereka dan kembali kepada mereka. (Bayhaqi)

Sekarang setiap orang menafsirkan Islam menurut pemahaman mereka sendiri-sendiri dan hasilnya hanyalah kebingungan belaka. Karena itulah, Nabi (saw) bersabda saat ini kita hanya mengambil bentuk fisik dari Islam saja, hanya mengambil huruf dan kata-kata belaka, dan kita tidak faham akan makna yang terkandung di dalamnya. Ia menjadi seperti karya seni saja, tertulis “Islam” dengan berbagai bentuk, tetapi tidak ada konteks lagi di situ dan tak seorang pun mengamalkan Islam lagi. Setiap orang kini hanya mengikuti dirinya masing-masing. Setiap orang berjuang demi ego mereka sendiri dan demi kekuasaan, menginginkan kursi kekuasaan, setiap orang menempel di kursinya (kursi kekuasaan).

Ketika Sayyidina ‘Umar (ra) ditunjuk sebagai Khalifah, beliau menangis karena beliau tidak menginginkan kedudukan tersebut. Istrinya pun bertanya, “Yaa Amiir al-Mu’miniin, mengapakah dirimu menangis padahal Syuuraa, Majelis Permusyawaratan Muslim, telah menunjukmu sebagai pemimpin Ummat Islam?” Beliau pun menjawab, “Sekarang aku bertanggung jawab pada para gelandangan, orang-orang yang sakit, kaum miskin, dan mereka yang lapar, dan aku akan ditanya oleh Allah (swt) pada Hari Pembalasan nanti atas apa yang telah kulakukan, ada lebih banyak tanggung jawab atasku dan karena itulah aku menangis. Aku khawatir.”

Sedangkan sekarang, orang-orang malah melakukan kebalikannya. Setiap orang memperebutkan kursi kekuasaan. Serahkanlah kursi itu! Engkau tidak akan hidup terlalu lama lagi; hidupmu tidaklah lebih lama dari suatu saat dari rahim ibumu hingga maksimum 100 tahun, yang bagi Allah (swt) tidaklah lebih daripada sekejap saja: hidupmu hanya sekejap! Jika pada setiap saat dari hidupmu itu, engkau tidak berusaha agar Allah (swt) rida atasmu, tentu engkau akan beroleh berbagai masalah di kubur nanti. Kita berlindung kepada Allah (swt) agar menyelamatkan diri kita dari siksa kubur dan dari azab sakaratul maut yang pedih. Bagi orang beriman, sakaratul maut itu bagaikan sehelai rambut yang ditarik lembut dari mentega cair murni (“ghee”), tetapi bagi orang-orang yang tak beriman, sakitnya sakaratul maut adalah bagaikan ditusuk-tusuk di setiap sudut badan, kalian akan merasakan rasa sakit itu. Seandainya manusia dapat mendengarkan rasa sakit sakaratul maut tersebut, tentulah mereka akan pingsan sepenuhnya!

Hari-hari akhir itu tengah datang. Setiap orang tahu tahu apa yang tengah mereka lakukan, karena itu kita perlu untuk melakukan istighfaar, agar kita tidak menjadi agresif, untuk tidak menyakiti orang atau membuat mereka merasa kecewa. Jadi, kalian harus merasa malu akan diri kalian di hadapan Allah (swt) dan Rasul-Nya  ﷺ  bila kalian hanya melihat Islam sebagai suatu karya seni atau desain, jika tak ada yang tertinggal dari Islam melainkan nama belaka, dan jika amal perbuatan kita menjadi fitnah yang membingungkan, dan jika tak ada sesuatu pun yang tinggal dari Quran Suci melainkan hanya sebagai karya seni, atau ketika kita hanya kagum ketika kita melihat kaligrafinya. Hal-hal inilah yang kita perbuat hari ini, tidak ada yang dipelajari dari Quran melainkan aspek kaligrafinya belaka. Mereka memiliki ahli-ahli kaligrafi di seluruh dunia yang membuat kaligrafi Quran Suci dalam huruf China, huruf Bengali, dalam huruf Sri Lanka, dalam Bahasa Inggris, Perancis, Jerman, mereka tengah melukis ayat-ayat Quran Suci. Hanya itu yang mereka tahu dari Quran, tidak lebih dari itu.

Kami di sini hari ini untuk mengatakan bahwa salah satu dari malam-malam gelap gulita di Timur Tengah telah terjadi kemarin malam. Seandainya Allah (swt) tidak menghentikannya, tentu peristiwa tersebut akan memburuk menjadi pertumpahan darah yang dahsyat, dan itu adalah salah satu tanda-tanda besar Akhir Zaman yang akan terjadi:

عن أبي هريرة:أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لا تقوم الساعة حتى تقتتل فئتان عظيمتان، يكون بينهما مقتلة عظيمة، دعوتهما واحدة.

Dari Abu Hurayrah (ra) meriwayatkan bahwa Nabi (saw)  bersabda, “Hari Kiamat tidak akan terjadi hingga muncul dua kelompok besar yang saling berperang dalam sebuah Perang Besar dan tujuan mereka adalah satu.” (Bukhari)

Dan ini terdapat dalam Sahih Bukhari, maka akankah mereka mengatakannya sebagai hadits lemah? Semoga Allah (swt) menyelamatkan kita semua, manusia, dari pertumpahan darah yang akan terjadi. Ada banyak Hadits tentang Tanda-tanda Akhir Zaman yang akan segera terjadi dan Awliyaullah serta banyak ulama’ sudah menjelaskan hadits-hadits ini, yang dapat kalian jumpai di Sahih Bukhari dan kitab-kitab hadits lainnya. Ada banyak bukti bahwa Tanda-Tanda Akhir Zaman itu telah terjadi pada banyak peristiwa akhir-akhir ini. Semoga Allah (swt) memberkati kita semua dan menjaga diri kita tetap pada Siraath al-Mustaqiim dan untuk tidak mendukung pihak mana pun. Kita tidak berpihak, kita mesti berpihak pada Kesempurnaan dan berada pada Siraath al-Mustaqim, dan untuk tidak turut campur, sebagaimana Nabi (saw) bersabda dalam sebuah Hadits yang panjang yang kami kutip sebagai berikut, “Orang yang duduk pada masa itu lebih baik daripada orang yang berdiri dan orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari.”

Orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan pada hari-hari di mana terjadi gempa bumi secara masif ini. Semoga Allah (swt) menjaga kita agar tidak terjatuh dan memaafkan kita, serta mengampuni dua bagian Ummatu n-Nabi  (saw): Ummat ad-Da`wah dan Ummat al-Ijaaba. Ummat al-Ijabah ialah mereka yang menerima Risalah Nabi dan pesan Tawhid, Asy-hadu an laa ilaaha illa-Llah wa asy-hadu anna Muhammadan Rasuulullah; sedangkan Ummatu d-Da`wah, adalah mereka yang belum menerima Syahadah, tetapi insya-Allah akan menerimanya sebelum mereka wafat.

اللهم اني قد بلغت فاشهد. اللهم اني قد بلغت فاشهد. اللهم اني قد بلغت فاشهد.

Yaa Allah, sungguh aku telah menyampaikan Pesan itu, maka jadilah Engkau sebagai Saksiku! Yaa Allah, sungguh aku telah menyampaikan Pesan itu, maka jadilah Engkau sebagai Saksiku! Yaa Allah, sungguh aku telah menyampaikan Pesan itu, maka jadilah Engkau sebagai Saksiku!

(Khutbah al-Wada’ / Khotbah Perpisahan Nabi (saw): Bukhari and Muslim)

 

Semoga Allah (swt) menjadi saksi saya bahwa saya telah menyampaikan Pesan yang mereka sampaikan pada saya, dan untuk bersiap diri duduk menghindari masalah-masalah tersebut, serta untuk tidak melibatkan diri dengan pihak mana pun, untuk menyibukkan diri dengan Al-Quran Suci dan dengan awraad serta salat kita. Jangan melalaikan salat lima waktu kalian, salatlah dengan khusyu’ pada waktunya dan pastikan kalian selalu tepat waktu, dan berbuat baiklah dengan setiap orang di sekeliling kalian dan doakan yang terbaik bagi kehidupan mereka, juga bagi keluarga-keluarga kita, anak-anak kita, sahabat-sahabat kita, saudara-saudara kita dan isteri/suami. Semoga Allah (swt) memberkati mereka semua dengan apa yang mereka sukai, insya-Allah.

As-salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh

 

Bay’at Online

Bergabung dengan Tarekat Naqsybandi

Assalamu’alaykum wr.wb

Bagi orang-orang yang tidak bisa menemui salah satu wakil talqin (orang yang telah mendapat izin untuk memberikan bay’at), Syekh telah memberikan izin untuk membaca teks bay’at bersama dengan rekaman ini.  Setelah Anda melakukan bay’at ini, dimohon untuk mengirimkan email kepada kami untuk memberikan data detail tentang diri Anda.  Data tersebut akan disampaikan kepada Syekh bahwa Anda telah melakukan bay’at melalui internet.


Pertama klik link di bawah ini:

https://www.youtube.com/watch?v=pUTD8rULqxY&feature=youtu.be

Ikuti bacaan bay’at di bawah ini untuk berbay’at dengan Mawlana Syekh Nazim (q), mursyid Tarekat Naqsybandiyya Nazimiyya, sebagaimana yang dibaca oleh khalifah beliau, Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q):

 

أشهد ان لا اله الا الله , وأشهد أن محمدا رسول الله

أشهد ان لا اله الا الله , وأشهد أن محمدا عبده ورسوله (x2)

بسم الله الرحمن الرحيم

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَى نَفْسِهِ

وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

asy-hadu an laa ilaaha ill-Allah wa asy-hadu anna Muhammadan `abduhuu wa rasuuluh (2x)

bismillaahi ‘r-rahmaani ‘r-rahiim

Inna ‘l-ladziina yubaayi`uunaka innamaa yubaayi`uun-Allaah, yadullaahi fawqa aydiihim faman nakatsa fa-innamaa yankutsu ‘alaa nafsih wa man awfaa bimaa `aahada `alayhullaaha fa-sayu’tiihi ajran `azhiimaa [al-Fath, 48:10]

رضينا بلله رباً و بالاسلام ديناً وبسيّدنا و نبيّا محمد صلّى الله تعلى عليه و سلّم رسولاً  ونبيّا بالقران كتابا

ً والله علي ما نقل وكيل و قبلنا بسيّدنا الشيخ محمد ناظم الحقاني شيخأ و مرشدأ.

الله الله الله حق الله الله الله حق الله الله الله حق.

Radhiinaa billaahi rabban, wa bi ‘l-Islaami diinaa wa bi sayyidinaa wa nabiyyinaa Muhammadun shall-Allaahu ta`aala `alayhi wa sallam Rasuulan wa Nabiyyan wa bi ‘l-Qur’aani kitaaban w’Allaahu `alaa maa naquula wakiil, w’Alhamdulillaahi rabbi ‘l-`aalamiin, wa qabilnaa bi sayyidinaa asy-Syaykh Muhammad Naazhim al-Haqqaani qudwatan lanaa ila mahabati ‘n-Nabiyy shall-Allaahu ta`aala `alayhi wa sallam wa ila t`aliiminaa thariiqi ‘l-Islaam wa thariiqati ‘n-Nabiyyinaa sayyidinaa Muhammad shall-Allaahu `alayhi wa sallam wa thariqat asy-syari`ah wa sunnatu ‘n-nabawiyya-t-isy-syariifa w’Allaahu `ala maa naquulu wakiil

Allaahu Allaahu Allaahu Haqq

Allaahu Allaahu Allaahu Haqq

Allaahu Allaahu Allaahu Haqq

إلى حَضْرَة النبي وآلِهِ وصحْبِهِ الكرم، وإلى أرْواحِ إخْوانِهِ مِن الأنْبياء والمُرسَلين وخُدَماءِ شَرائعهم

وإلى أرْواحِ الأئمَّة الأرْبَعُة، وإلى أرْواحِ مَشايِخِنا في الطَرِيقَة النَقْشْبَنْدِيّة العَليِّة خاصَة إلى رُوحِ إمامِ الطَّريقة

وغَوْثِ الخَليقَة الشيخ  مُحَمَّدُ شاه النَقْشْبَنْد وإلى حَضْرَة مولانا سلطان الأولياء الشيخ عبد الله الدغستاني

ومولانا الشيخ محمد ناظم الحقاني وإلى اهل الخَواجخان وإلى سائر ساداتنا والصِدِّيقِين. الفاتِحَة .

ila hadhratin-Nabii shall-Allaahu `alayhi wa sallam wa shaahbihi ‘l-kiraam wa ilaa arwaahi ikhwaanihi min al-anbiiyaa’i wa ’l-mursaliin wa khudamaa’i syaraa`ihim wa ila arwaahi ’l-a’immati ’l-arba`ah wa ila arwaahi masyayikhinaa fi’th-thariiqatin-Naqsybandiyya-t-il-`aliyya khassatan ila ruuhi imaamith-thariiqah wa ghawtsil khaliiqah asy-Syaykh Muhammad Syah Naqsyband wa ilaa hadhrati Mawlanaa Sulthaanu’l-awliyaa asy-Syaykh `Abdullaahi ad-Daghistaanii wa mawlaanaa asy-Syaykh Muhammad Naazhim al-Haqqaanii wa ilaa saa’iri saadaatinaa wash-shiddiqiiyuuna al-Faatihah! [baca Surat al-Fatihah].

Selamat datang di Tarekat Naqsybandi,

Silakan isi form biodata Anda melalui tautan berikut:

http://goo.gl/forms/QLt6IxCp9DNUuXSF3

 

Bagaimana setelah bay’at?
silakan lihat keterangan di tautan berikut:

http://wiridnaqsybandi.blogspot.co.id/ 

Wa ‘s-salaamu`alaykum wr.wb.

 

Pentingnya Laylatu ‘l-Qadr

capture image

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
Khotbah Jumat
Fenton, MI; 24 Juni 2016

 

Wahai Muslim, wahai Mukmin,

Allah (swt) memberkahi kita dengan Syahru Ramadhan dengan puasa, dan Dia berfirman Ash-shawmu li wa ala ajibih, “Puasa adalah untuk-Ku dan Aku akan memberi pahala untuk itu.” Salat lainnya atau sesuatu yang ingin kalian lakukan sebagai ibadah nawafil adalah untuk kalian sendiri, untuk kebaikan kalian sendiri. Allah ingin mengatakan kepada kita bahwa “Kalian adalah hamba-hamba-Ku.  Kalian berhenti makan sejak pagi hingga petang, Aku akan memberi ganjaran atas apa yang telah kalian lakukan.  Tetapi Aku akan memberi lebih banyak lagi bila kalian berhenti menggunjing dan menyebarkan fitnah dan melakukan perbuatan dosa.”  

Jadi Allah memberi kita Ramadan, bulan penyucian diri, bulan tarawih.  Mengapa Nabi (saw) melakukan salat tarawih?  Tidak ada yang tahu apa rahasia dari salat tarawih, tetapi pasti ada sesuatu di bulan Ramadan sehingga Nabi (saw) mengkhususkan salat tarawih tersebut, yang pada saat itu dilakukan sebanyak 8 rakaat, kemudian Sayyidina Umar memanjangkannya dan semua Sahabat setuju menjadi 20 rakaat.  Ada apa di dalamnya?  Ada apa di bulan itu yang tidak kita ketahui.  Bulan itu pasti mempunyai sesuatu yang bersifat spiritual.  Sesuatu yang Allah bukakan kepada sebagian orang yang saleh dan ikhlas.  Allah memberi mereka beberapa petunjuk.  Dan para ulama, mereka menyatakannya di dalam banyak tafsir mereka.

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim

Poin penting pertama adalah bahwa Allah telah menurunkan al-Qur’an Suci kepada Nabi (saw) di bulan Ramadan.  Dan Nabi (saw) mampu membawa kitab suci al-Qur’an sementara langit dan gunung tidak mampu membawa al-Qur’an Suci.  Allah ingin menunjukkan Azhamah, Kebesaran al-Qur’an Suci.

Allah berfirman,

Law anzalnaa haadzaa al-Qur’aana `alaa Jabalin lara’aytahu khaasyi`an mutashaddi`an min khasy-yatillaahi

Jika Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, artinya jika Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada makhluk apa pun yang telah Kami ciptakan selain daripad Nabi (saw), segala sesuatu akan hancur terpecah belah, segala sesuatunya akan musnah. Tetapi kalbu Sayyidina Muhammad selalu berada di sana, selalu tangguh.

Law anzalnaa haadzaa al-Qur’aana `alaa Jabalin “Jika Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung,” Nabi (saw) lebih kuat dari gunung manapun, lebih kuat daripada alam semesta manapun.  Itulah sebabnya Allah (swt) menurunkan al-Qur’an Suci kepada Sayyidina Muhammad (saw).  

Innaa anzalnaahu fii laylati ‘l-Qadr

Sebelumnya Dia berfirman Law anzalnaa haadzaa al-Qur’aana `alaa Jabalin “Jika Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, ia akan hancur terpecah belah”  Dalam Surat lainnya Innaa anzalnaahu fii laylati ‘l-Qadr “Tetapi Kami telah menurunkannya pada Malam Kemuliaan, secara khusus pada Malam Kemuliaan”  Ada ada pada Malam Kemuliaan itu?  Apakah Laylatul Qadr itu?  Ada penjelasan tersembunyi bahwa Allah telah menghadiahkan kepada Nabi (saw), bahwa Allah telah menurunkan al-Qur’an Suci pada malam itu.  

Jadi bila kita melihat al-Qur’an Suci dan kita membaca Surat Innaa anzalnaahu fii laylati ‘l-Qadr, wa maa adraaka maa laylatu ‘l-Qadr, laylatu ‘l-Qadri khayrun min alfi syahr, tanazzalu ‘l-malaa’ikatu wa ‘r-ruuhu fiihaa bi ‘idzni rabbihim min kulli amr, salaamun hiya hattaa mathla`i ‘l-fajr  

Berapa kali Dia mengulang kata Laylatu ‘l-Qadr dalam Surat tersebut?  Tiga kali.  Dan Laylatu ‘l-Qadr terdiri dari 9 huruf; 3 dikali 9 menjadi 27 huruf, benar bukan?  Dan juga disebutkan hiya hattaa mathla`i ‘l-fajr.  Imam Suyuthi mengatakan bahwa “hiya” kembali pada Laylatu ‘l-Qadr, dan ia terdiri dari 2 huruf, jadi ditambahkan dengan 27 huruf–hiya adalah 2 huruf, ditambahkan ke 27 menjadi 29 huruf.  Jadi al-Qur’an telah diturunkan dalam 29 huruf alfabet, artinya setiap huruf mempunyai rahasia masing-masing.  

Jadi kalian harus mempersiapkan diri kalian pada hari pertama bulan Ramadan; kalian harus mengetahui bahwa kalian sedang memasuki gua dari makna Laylatu ‘l-Qadr dan lambat laun gua itu akan terbuka bagi kalian karena kalian datang kepada Allah (swt), berlari menuju gua, fa firru illa’l-Laah, berlari kepada Allah (swt).  Ketika kalian berlari menuju Allah (swt), kalian memulai puasa kalian, berlari menuju Allah dengan menghentikan diri kalian dari malakukan perbuatan buruk dan kalian mengimplementasikannya hingga sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan di mana kalian mempersiapkan diri kalian, awwaluhu rahmah, wa awsatuhu maghfirah, wa akhiruhu itqun minan naar.  10 hari pertama adalah rahmat, 10 hari kedua adalah maghfirah dan 10 hari ketiga adalah pembebasan dari api neraka.  

Sekarang kita berada pada 10 hari terakhir dan kita melakukan adab Laylatu ‘l-Qadr pada hari-hari ganjil: 21, 23, 25, 27 dan 29.  Barang siapa yang menjumpai Laylatu ‘l-Qadr itu lebih baik daripada beribadah selama 1000 bulan.  laylatu ‘l-Qadri khayrun min alfi syahr, 1 malam lebih baik daripada  1000 bulan, artinya pada malam itu Allah telah menurunkan seluruh al-Qur’an ke dalam kalbu Nabi (saw), dan malam itu lebih baik daripada 1000 bulan.

Jadi setiap orang yang berjumpa dengan Laylatu ‘l-Qadr atau ia masih melakukan awrad untuk Laylatu ‘l-Qadr dan membaca atau melakukan apa pun yang ia inginkan sebagai ibadah nawafil pada malam itu, itu merupakan suatu keberuntungan karena kalian akan diberi ganjaran oleh Allah (swt) dengan ganjaran yang diberikan kepada orang yang berjumpa dengan Laylatu ‘l-Qadr.    

Nabi (saw), ketika Jibril (as) datang menemuinya pada malam Laylatu ‘l-Qadr sebelum Subuh.  Itulah waktu di mana ktia harus berkonsentrasi pada hari-hari yang akan datang di hadapan kita, untuk berhati-hati bagaimana kita akan berjumpa dengan mereka dan bagaimana kita harus berperilaku di hadapan hari-hari yang sangat berharga di dalam Islam.  

Alhamdulillah kita berharap bahwa Allah (swt) merahmati kita pada 10 hari pertama karena Dia berfirman, awwaluhu rahmah, awalnya adalah rahmat, artinya awalnya adalah pembukaan bagi rahmatullah, dan rahmatullah–wamaa arsalnaaka illaa rahmatan lil `aalamiin, artinya Nabi (saw) akan mempertimbangkan orang-orang yang mengharapkan Laylatu ‘l-Qadr dan mengharapkan untuk berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan, sejak awal hingga akhir, akan diberi ganjaran 10 hari pertama seolah-olah kalian berada di antara hadirat Nabi (saw).  

10 hari kedua, Allah (swt) ketika Dia mengirimkan rahmat-Nya pada kalian, Dia menyiapkan kalian untuk datang menuju maghfirah.  Ketika kalian berada di bawah rahmat Allah, artinya semua dosa yang telah kalian lakukan akan dihapuskan oleh Allah (swt).  Allah tidak melihat pada sesuatu yang kotor.  Dia akan membersihkan kalian dengan mengucapkan astaghfirullah, jadi bagaimana menurut kalian apakah Dia tidak akan membersihkan kalian dengan puasa Ramadan?  

Jadi 10 hari kedua adalah maghfirah, Allah (swt) akan memberi kita maghfiratum minallah, Dia akan memberi kita pengampunan atas semua dosa kita dan mempersiapkan kita untuk itqun minan naar.  Dan kita sekarang berada di 10 hari terakhir, di mana kita berada dalam itqun minan naar.

Allah (swt), Yawmul Qiyamah yunaadi, Allah (swt) pada Hari Kiamat Dia memanggil, ayna shaimuun–Allah Mahatahu–tetapi Dia ingin seluruh umat mendengar di mana orang-orang yang telah berpuasa selama hidupnya, biarkan mereka datang, dan semua orang yang telah berpuasa akan datang, dan diantar para malaikat Allah mengirim mereka ke sebuah pintu.  Pintu itu adalah Jannatu ‘r-Rayyan.  Pintu Surga, Surga khusus bagi orang-orang yang telah berpuasa, mereka akan masuk tanpa dihisab, tidak ada perhitungan bagi mereka.  Allah dengan rahmat dan maghfirah-Nya akan mengirim mereka ke Surga.

Kita berharap bahwa Allah (swt) akan membawa kita pada rahmat-Nya dan Dia akan membusanai kita dengan rahmat dari Nabi-Nya, Sayyidina Muhammad (saw).

Aqulu qawli hadza wastaghfirullah al-azhiim lii walakum walisairil mustaghfirin….              

Kami Menginginkan Surat al-Fatihah

13315700_10207880010092557_5657824066458064115_n

Hajjah Amina Adil
Shuhba, tahun 2000

 

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim

Pada suatu hari Nabi (saw) sedang berada di Masjid al-Saadah.  Ketika beliau sedang duduk di sana, ada dua orang yang mendatanginya.  Keduanya bertubuh tinggi, berwajah sangat tampan, tidak seperti kebanyakan orang pada saat itu.  Mereka memberi salam kepada Nabi (saw).  Nabi (saw) pun membalas salam mereka.  Beliau bertanya, “Dari mana asal kalian?”  Mereka berkata, “Ya Rasulallah (saw), kami datang menemuimu karena ada suatu keperluan.”  Beliau bertanya, “Apa yang kalian perlukan?”  Mereka berkata bahwa satu di antara mereka adalah Khidr sementara yang kedua adalah Ilyas.  Mereka berdua adalah Nabi.  “Tuhan kami mengaruniai kami dengan umur yang panjang,” katanya.  Ilyas (as) telah menjalani kehidupan yang sangat panjang, begitu pula dengan Khidr (as) karena mereka meminum air kehidupan.  Dan mereka juga akan hidup hingga Hari Kiamat.  Salah seorang di antara mereka berkata, “Kami berdoa kepada Allah karena kami mempunyai sebuah permintaan.  Kami berdoa selama 1000 tahun, memohon, ‘Ya Rabbi, kabulkanlah permintaan kami ini.’  Setelah 1000 tahun terdengar jawaban, ‘Apa permintaanmu?  Apa yang kau inginkan?’” Mereka berkata, “Kami menginginkan Surat al-Fatihah.”  Surat al-Fatihah hanya ada di dalam al-Qur’an di antara 104 kitab suci yang diturunkan dari Surga.  Ia tidak berada di dalam kitab-kitab lainnya.

Tidak ada jawaban atas pertanyaan mereka sehingga mereka melanjutnya doanya selama 1000 tahun berikutnya.  Setelah 1000 tahun, muncullah jawaban yang mengatakan, “Aku tidak bisa memberi kalian Surat al-Fatihah karena itu adalah milik Kekasih-Ku Muhammad (saw) dan umatnya.  Surat al-Fatihah begitu berharga sehingga itu hanya menjadi miliknya.”  Mereka melanjutkan lagi doanya hingga 1000 tahun kemudian.  Setelah mereka berdoa selama 3000 tahun, sebuah pesan tiba pada mereka, “Apa yang kalian inginkan?”  “Ya Rabbi, karena Engkau tidak akan memberikan Surat ini kepada kami, panjangkanlah umur kami agar kami dapat mencapai Sayyidina Muhammad (saw).  Kami dapat menjadi bagian dari umatnya dan kami dapat membaca Surat al-Fatihah sekali saja.  Setelah itu Engkau bisa mencabut nyawa kami bila Engkau menghendakinya.”

Jadi kami memintanya selama 3000 tahun.  Kini 3000 tahun sudah berlalu dan kami datang kepadamu wahai Rasulullah (saw).  Surat al-Fatihah diturunkan sebanyak 2 kali.  Apa pun niat kalian, bi-iznillah—dengan izin Allah, Tuhan Surgawi akan menerimanya.  Itulah sebabnya kita harus membaca Surat al-Fatihah dalam setiap rakaat salat.  Mereka berkata, “Jadi kami datang seperti ini ya Rasulullah.  Kami tidak lagi menjadi Nabi, bukan Nabi Ilyas dan bukan pula Nabi Khidr, tetapi kami hanyalah bagian dari umatmu.  Mereka lalu mengucapkan syahadat, “Asyhadu an la ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammad al Rasulullah” dan mereka menjadi umat Nabi (saw).  Mereka rela menjadi umat.  Tuhan kita mengaruniai kehormatan yang begitu besar sehingga Dia menjadikan kita sebagai umat Muhammad (saw) sejak lahir, dan seterusnya hingga leluhur kita tanpa kita perlu bersusah payah.  Dia langsung meletakkan iman di dalam kalbu kita, Alhamdulillah.  Semoga Dia tidak mencabutnya.  Semoga Dia meningkatkan keimanan kita.

Jadi mereka berkata, “Ajari kami Surat al-Fatihah ya Rasulallah”  Nabi kita (saw) mengajari mereka membacanya dari awal hingga akhir.  Ketika mereka sampai pada ayat “Wa La Adh-Dhaallina ‘Aamin” mereka bertanya, “Ya Rasulallah (saw), apakah arti ‘Aamin ini?”  Itu tidak termasuk ke dalam Surat al-Fatihah.  Ketika kita mengucapkan “Wa La Adh-Dhallina” Fatihah selesai.  Ketika kita mengucapkan “‘Aamin” itu artinya “Ya Rabbi, terimalah doa kami.”  Ketika mereka tiba-tiba berkata, “Karena kami sudah membaca Fatihah sekarang kami bisa…” Nabi (saw) segera memotongnya, “Hush!”  Beliau berkata, “Jangan katakan itu.”  Tadinya mereka akan mengatakan, “Kami telah membaca Fatihah, sekarang Engkau dapat mencabut nyawa kami.  Kami telah mencapai apa yang kami inginkan.”  Nabi (saw) menghentikan mereka.  Beliau berkata, “Tuhan Surgawi mengaruniai kalian kehidupan dan Dia mengaruniai kalian kekuatan, memberi kalian otoritas.  Oleh sebab itu sekarang, salah satu di antara kalian akan menolong umatku di perairan, di samudra; dan yang satunya lagi menolong di daratan.  Karena umatku adalah umat yang lemah.  Seringkali mereka berada dalam kesulitan, jadi kalian akan datang untuk menyelamatkan mereka pada saat-saat seperti itu.”  Mereka pun menerima hal ini.

“Tetapi kami mempunyai permintaan lain darimu wahai Rasulullah (saw).”  “Apa itu?”  “Katakan kepada kami tentang tsawab (pahala) dari Surat al-Fatihah ini.”  Dengan huruf abjad, ada 6 huruf yang tidak ada di sini, misalnya huruf “Syin” tidak ada.  Ya, Dia (swt) memberikan 3 jenis karamah kepada umat Muhammad (saw).   Dari ketiga karamah ini, misalnya yang pertama, karena huruf “Syin” tidak ada, ia tidak akan meninggal dunia tanpa iman.  Barang siapa yang membaca Fatihah, ia tidak akan mati kecuali dalam keadaan beriman.  Kedua, ia akan memperoleh syafaat Nabi (saw).  Dan ketiga, Allah mengaruniai mereka maqam-maqam yang tinggi.  Ia dapat mencapai maqam yang tinggi dengannya.  Jadi dari masing-masing huruf dari keenam huruf yang tidak ada tadi, Allah memberikan 3 jenis karamah bagi orang yang membaca al-Fatihah.

Tetapi sekarang saya hanya mengingat satu huruf.  Jadi setelah ini, apa yang dikatakan oleh Nabi (saw)?  “Jika Allah memanjangkan umurku sampai Kiamat sehingga aku bisa terus menjelaskan pahala dari membaca Fatihah, niscaya aku tidak akan dapat menyelesaikannya.  Pahala dari membaca sekali Surat al-Fatihah begitu luas.  Oleh sebab itu aku hanya dapat mengatakan kepada kalian mengenai pahala dari apa yang dibaca setelah Fatihah, yaitu ‘Aamiin, “Wa La Adh-Dhallina ‘Aamiin“. Mereka berkata, “Katakan kepada kami, wahai Rasulullah (saw).”  Nabi kita (saw) mengatakan bahwa beliau tidak mampu menjelakan tentang pahala dari membaca Fatihah sekali—tidak mungkin untuk diselesaikan maupun dijelaskan.

Kemudian ia menjelaskan tentang “Aamiin”. Itu terdiri dari 4 huruf dengan huruf abjad, dengan huruf Turki kuno misalnya.  ‘Alif, mim, ya, nun. dibaca ‘Aamiin.  Beliau (saw) berkata, “Alif tertulis pada Arasy ar-Rahman.  Mim pada Kursi, Ya di Loh Mahfuz dan Nun pada Kalam.  Keempat huruf ini muncul bersama dan menyusun kata ‘Aamiin. ‘A, m, y, nun.  Keempat huruf ini tertulis pada 4 tempat.  Jika seseorang mengucapkan ‘Aamiin setelah Fatihah, Tuhan Surgawi akan mengaruniakannya pahala dari keempat tempat tadi, yaitu: Arasy, Kursi, Loh Mahfuz dan Kalam. Mereka (kedua Nabi tersebut) sangat tersentuh dengan hal ini dan mulai gemetar.

Beliau (saw) berkata, “Apakah perlu kulanjutkan?”  “Ya, katakanlah wahai Rasulullah.” Beliau (saw) berkata, “‘Alif ada di kening Israfil (as).”  Ada empat malaikat, mereka adalah Nabinya para malaikat.  “Alif ada di kening Israfil (as), Mim pada kening Mikail (as), Ya pada kening Jibril (as) dan Nun pada kening Izrail (as).”  Keempatnya adalah Nabinya para malaikat.  Jika seseorang membaca Surat al-Fatihah lalu mengucapkan ‘Aamiin ia mendapat pahala dari keempat malaikat tersebut.  Dan keempat malaikat ini begitu luar biasa, di mana Israfil (as) adalah malaikat yang akan meniup sangkakala.  Mikail (as) adalah malaikat yang mendistribusikan rezeki.  Jibril (as) adalah malaikat yang menyampaikan wahyu kepada para Nabi. Izrail (as) adalah malaikat yang mencabut nyawa.  Jadi orang yang membaca ‘Aamiin tadi mendapat tsaawab dari keempat malaikat ini. Israfil (as) adalah malaikat pertama yang sujud ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam (as).  Oleh sebab itu di antara kedua alisnya tertulis seluruh al-Qur’an.  Seluruh Qur’an tertulis di antara kedua alisnya.  Tuhan Surgawi menyukainya karena ia adalah yang pertama memenuhi perintah Allah untuk bersujud.  Yang tidak sujud adalah Iblis.  Ia kemudian diusir dan dicampakkan.  Ia dibusanai dengan cincin kutukan.  

Beliau (saw) berkata bahwa orang yang mengucapkan ‘Aamiin dianugerahkan pahala dari keempat malaikat ini.  Tidak sulit untuk mengucapkan Aamiin, tetapi Rahmat Tuhan Surgawi begitu luas, begitu besar.  Hamba-hamba-Nya mungkin berpikir, “Apakah bisa seluas ini?”  karena berkah dan perbendaharaan Tuhan Surgawi begitu luas.  Dia memberi, tidak pernah menolak dan Dia mencari alasan untuk mengampuni hamba-hamba-Nya.  Setelah mendengar hal ini, mereka bahkan lebih terkejut lagi.

Nabi (saw) berkata, “Apakah perlu kulanjutkan?”  “Katakanlah wahai Rasulullah (saw).”  Beliau (saw) berkata, “Alif tertulis dalam Taurat”  4 Kitab Suci utama diturunkan dari Surga.  “Alif tertulis pada Taurat.  Mim pada Zabur.”  Itu adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Dawud (as).  Taurat adalah Kitab Suci yang dikirimkan kepada Nabi Musa (as) sedangkan Zabur kepada Nabi Dawud (as).  Mim tertulis padanya dan Ya tertulis dalam Injil dan itu juga adalah kitab yang haqq.  Namun orang-orang kafir mengubahnya, kalau tidak itu akan menjadi kitab yang luar biasa.  Ya, dan setelah itu, Nun tertulis di dalam al-Qur’an.  Ada surat yang dimulai dengan “Nun Wa Al-Qalami Wa Ma Yasturuna” (68:1) tepat setelah Tabarak (surat al-Mulk).  Oleh sebab itu ketika seseorang mengucapkan ‘Aamiin, Tuhan Surgawi memberi mereka pahala seolah-olah ia telah membaca keempat kitab suci itu.  Nama mereka bisa saja Aisyah, Fatima, atau Ali… tidak masalah, semua adalah hamba Allah.  Apa pun asal mereka, ketika mereka menjadi Muslim, lalu membaca Fatihah sekali dan mengucapkan ‘Aamiin, mereka akan memperoleh hal ini.”  Mendengar hal ini mereka tambah terkejut lagi.

Ketika beliau berkata, “Maukah kulanjutkan lagi?”  Mereka berkata, “Katakan ya Rasulallah.”  Nabi (saw) berkata, “Alif tertulis pada kening Abu Bakr (ra). Mim pada kening Umar (ra), Ya di kening Utsman (ra) dan Nun di kening Ali (ra).  Ketika keempatnya muncul, ia membentuk ‘Aamiin.”  Ketika mereka mendengar hal ini, mereka menjadi lebih terkejut lagi.  Mereka sangat senang dan berkata, “Ya Rasulullah (saw), pahalanya begitu besar.”  Beliau berkata, “Ini pahala hanya dari satu ‘Aamiin.  Lebih dari ini, pahala dari Qur’an tidak ada yang tahu kecuali Allah.”  

Oleh sebab itu wahai saudaraku, bacalah Qur’an.  Ini adalah Qur’an, ini adalah perintah.  Yang mengirimkannya adalah ar-Rahman.  Yang menemukannya adalah Ridhwan.  Jadi bacalah Qur’an siang dan malam.”  Bacalah baik dalam hati maupun dengan mushaf, bacalah!  Karena apa yang diturunkan kepada Nabi (saw) yang pertama kali adalah “Iqra” yang artinya “Bacalah.”  Jadi membaca al-Qur’an yang agung mempunyai begitu banyak berkah dan pahala, apakah kalian mengerti artinya atau tidak.  Pahalanya tetap sama.  Jadi, bacalah dengan hati, bacakan untuk seseorang, bacalah untuk sesuatu yang kalian inginkan, bacalah untuk penyembuhan.  Misalnya jika kalian membaca Fatihah untuk penyembuhan, ia akan menjadi obat.  Jika kalian menginginkan sesuatu, jika kalian mempunyai hajat tertentu, bacalah Fatihah.  Demi kehormatan Fatihah itu, Allah memberikan apa yang kalian minta.  Jadi, seperti pada sore ini, ada sesuatu dari Tuhan Surgawi.  Setelah mendengar semua ini, mereka menjadi sangat senang dan mereka akan membacanya.

 

Program Ramadan 1437H

poster ramadhan_hires

Majelis Naqsybandiyya Nazimiyya Indonesia mengadakan beberapa kegiatan selama bulan Ramadan ini, di antaranya:

1. Tadarus Al-Qur’an setiap hari mulai pukul 08.30-10.30WIB sehari 2 juz bersama Ust.Jamal

2. Tarawih setiap hari di rumah Bp.Muchtony, Jl.Puri Kencana 39 Cipete (kecuali saat zikir, tarawih dilakukan di lokasi zikir)

3. Zikir dan Mawlid bersama Ust.Bahrudien dan Ust.Surya

Kamis, 9 Juni 2016 di rumah Bp.Soenarto, Jl.Mandala Setalan 16, Tomang
Kamis, 16 Juni 2016 di rumah Bp.Malik Tarigan, Jl.Cempaka Putih 114, Cempaka Putih
Kamis, 23 Juni 2016 di rumah Bp.Ahmaddin Ahmad, Jl.Arteri Kelapa Dua Raya No.1, Kebon Jeruk

4. Zikir, Mawlid dan Kajian Fiqh dan Dasar-Dasar Tasawuf bersama Ust.Sohib setiap Sabtu mulai Ashar.

5. I’tikaf Menyambut Laylatul Qadr di Zawiyah Cikereteg (1-3 Juli 2016)

6. Berbagi Ta’jil setiap hari Senin-Sabtu

7. Bakti sosial berbagi sembako dan santunan anak yatim.

8. Menerima dan menyalurkan zakat mal

Kami mengundang murid-murid dan para pecinta Mawlana Syekh Nazim dan Mawlana Syekh Hisyam untuk mengikuti acara ini dan turut berpartisipasi untuk mendukung acara ini agar dapat terselenggara dengan baik, insya Allah.

Donasi dapat disampaikan melalui panitia atau transfer ke rekening BCA No. 342 341 7893 atas nama Melza Marlinas.

Untuk informasi lebih lanjut, jangan ragu-ragu untuk menghubungi kami melalui whatsApp ke 0819-100-00065 atau email ke nazimiyya62@gmail.com.

Majelis Zikir
Naqshbandiyya Nazimiyya Indonesia
Jl. Warung Jati Barat Raya No.9C Rt.012/09
Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan 12740
Telp: 021-79199468
Seluler: 081910000065
www.naqsybandi.com

Pentingnya Puasa Ramadan

maxresdefault

Syekh Hisyam Kabbani
Khotbah Jumat
Masjid Ash-Shiddiq, Burton, Michigan
5 September 2008

 

Wahai Muslim, wahai Mukmin!  Bulan ini adalah bulan Ramadan dan dalam bahasa Arab kita mengatakan, “Ramadhan kariim – Ramadan yang pemurah.”  Kariim berasal dari al-karam al-Ilahi, Kemurahan Ilahi.  Itu artinya Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, itu adalah bulan yang penuh pertolongan.  Itu adalah bulan untuk semua amal baik, semua berada di bulan itu.  Dan agar Allah membantu kita mengingat-Nya, di bulan ini Dia membuat kita berpuasa.  Karena ketika kalian berpuasa, kalian akan mengingat Tuhan kalian dan kalian akan ingat betapa besar nikmat yang Dia karuniakan sepanjang tahun di mana setiap saat kalian bisa makan dan minum siang dan malam.  Tetapi di bulan ini kalian tidak bisa makan dan minum kecuali pada jam-jam tertentu untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang miskin.

Nama Ramadan berasal dari kata ramadha, yang artinya untuk menghapus, Ramadan adalah bulan ketika Allah menghapus dosa hamba-hamba-Nya.  Dia memberi pahala kepada mereka.  Dan sebagaimana Allah menjadikan Jumat sebagai hari terbaik dalam seminggu, Dia juga menjadikan Ramadan sebagai bulan terbaik dalam setahun.

Wahai Muslim!  Ada orang-orang yang kelaparan dan ada orang-orang yang tidak mempunyai rumah, dan itu merupakan tanggung jawab kita bersama, khususnya para pemimpin dan pihak yang berwenang untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang menderita kelaparan.

Ramadan menguji kalian untuk melihat seberapa teguhnya kalian berpuasa.  Ada orang yang mengatakan, “Aku haus, aku tidak bisa berpuasa.”  “Oh, aku tidak bisa berpuasa karena perutku sakit, perutku akan kelaparan.”  Tentu saja perut kalian akan merasa lapar; itu adalah untuk membuat kalian menderita di siang hari.  Bahkan anak-anak pun berpuasa.  Banyak Muslim sekarang ini yang tidak tahu kapan Ramadan dan mengapa Ramadan.  Puasa kalian adalah untuk kalian.  Jika kalian tidak berpuasa kalian tahu di mana kalian berakhir.

Nabi ﷺ telah menekankan pentingnya Ramadan dan saya akan mengutip beberapa hal yang penting.  Sebelumnya saya akan bercerita tentang Sayyidina `Umar (r) ketika beliau menjadi amirul mukminiin, ketika beliau menjadi khalifah Nabi ﷺ yang kedua.  Ketika beliau mendapat kewenangan, ketika setiap orang memberikan bay’at kepadanya—itu artinya memberi dukungan kepadanya untuk menjadi khalifah.  Beliau pulang ke rumah dan menangis, bukannya tangisan biasa, tetapi tangisan yang mendalam.  Istri beliau melihatnya dan berpikir, “Apakah ia menangis karena terharu atau karena hal lainnya?”  Ia bertanya, “Wahai Umar!  Mengapa engkau menangis?”  Beliau berkata, “Wahai istriku, kau harus tahu bahwa sebelumnya aku tidak mengemban tanggung jawab tetapi sekarang aku mempunyai tanggung jawab terhadap setiap orang yang kelaparan, orang-orang yang terbunuh dan orang-orang yang melakukan ini, itu.  Aku akan ditanya oleh Allah (swt), “Apa yang telah kau lakukan, wahai Umar untuk para pengikutmu?  Apakah engkau membiarkan mereka kelaparan?’”

Beliau sering menyamar di malam hari dan membawakan makanan untuk orang-orang yang kelaparan.  Tetapi lihatlah pada presiden di seluruh dunia sekarang.  Apakah kalian melihat mereka membawakan makanan bagi orang-orang yang kelaparan?  Kalian bahkan tidak bisa bicara dengan mereka, mereka mempunyai ratusan pengawal.  Sayyidina `Umar (r) tidak memerlukan pengawal.  Allah yang menjaganya.

Wahai Muslim, apakah kalian membantu orang lain dengan puasa kalian?  Khususnya memberi makanan.  Orang-orang memerlukan makanan.  Bila kalian memberi uang, mereka bisa memboroskannya.  Bila kalian memberi makanan, mereka akan memakannya.  Itulah sebabnya itu penting sekali bagi kita semua, bukannya mengatakan, “Oh zakat fitrahku adalah 5 dolar, atau 7 atau 10 dolar per orang, aku membayar 50 dolar dan selesai.”  Ada 5 orang di rumah.  Tidak, itu adalah zakat fitrah, dan tidak ada hubungannya dengan memberi makanan kepada orang miskin.  Untuk orang miskin kalian harus memberinya sesuatu agar mereka senang.  Jadi berikanlah makanan, sedekahkan makanan.  Akan ada berkah di sana.  Ketika mereka mengucapkan “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim” itu akan dituliskan bagi kalian karena makanan itu adalah untuk Ramadan.

وجاء في حديث آخر إذا كان يوم القيامة أوحى الله إلى رضوان إنّي أخرجت الصائمين من قبورهم جائعين عطاشا فاستقبلهم بشهواتهم من الجنة فيصيح رضوان أيها الغلمان والولدان عليكم بأطباق من نور فتجتمع عنده أكثر من الكواكب بالفاكهة والأشربة اللذيذة فيستقبلون الصائمين والصائمات ويقال لهم كلوا واشربوا هنيئا بما أسلفتم في الأيام الخالية.

Wahai Muslim, disebutkan bahwa ketika Hari Kiamat tiba, idza kaana yawm al-qiyama awha Allahu tala ila Sayyidina Ridhwan – bahwa Allah berkata kepada Sayyidina Ridwan, malaikat penjaga Surga, “Aku telah membawa semua orang yang berpuasa di bulan Ramadan dari kubur mereka.  Aku membawa mereka dalam keadaan lapar, dan Aku memanggil mereka dari kubur-kubur mereka dan Aku membuat mereka dalam keadaan lapar.”

Dan kalian tahu ketika seseorang merasa lapar, ia ingin agar Maghrib segera tiba sehingga ia bisa segera berbuka puasa, dan memang sunnah untuk segera berbuka.

“Aku membuat mereka haus, dan mereka datang dari kubur-kubur mereka.  Jadi, segeralah datangi mereka dan tawarkan makanan dan minuman surgawi untuk mereka.”  Wa yuqaaluu lahum kuluu w’asyrabuu haniyyan bima aslaftum fii ayaamin khaliyyah -” (Dan kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan nikmat disebabkan amal yang telah engkau kerjakan pada hari-hari yang telah berlalu!'” [69:24]

Jadi ini bukan mengenai puasa atau tidak puasa, atau memberi alasan bagi diri kalian untuk tidak puasa.  Saya tahu banyak orang dari negeri Arab yang bepergian di bulan Ramadan.  Mengapa?  Untuk membatalkan puasa mereka.

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an,

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau sedang dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” [2:184 juga 2:185]

Jadi mereka mencari alasan untuk tidak puasa, dengan mengatakan bahwa mereka sedang dalam perjalanan.  Mengapa?  Karena waktu yang lebih singkat.  Mereka berbuat curang.  Di musim dingin yang waktunya lebih singkat, mereka baru berpuasa.

Karena sekarang Ramadan datang di musim panas dan siang hari bisa sangat panjang.  Sebagian orang mungkin berpuasa selama 18 jam.

Saya mengenal seseorang yang berpuasa sepanjang tahun, ia tidak berpuasa selama 5 hari: Iedul Fitri, Iedul Adha dan (3 hari Tasyrik).  Sepanjang tahun ia berpuasa dan ia berasal dari daerah gurun di antara Suriah dan Irak.  Ia telah lama meninggal dunia. 5 hari dalam setahun ia tidak berpuasa, sementara bagi kita, kita mengatakan, “Aku sakit, aku sekarat.”  Kita mengatakan, “Tolonglah aku.”  Kalahkan dia, kalahkan dia dengan lidah kalian.

وقال علي بن أبي طالب رضي الله عنه: لو أراد الله أن يعذب أمة محمد صلى الله عليه وسلم ماأعطاهم رمضان وقل هو الله أحد.

Wa qaala `Aliyun wa law arad-Allah an yu`adziba ummata Muhammad ma ataahum Ramadhan.”

Sayyidina `Ali (r) berkata, “Jika Allah ingin menghukum umat Nabi Muhammad (saw), Dia tidak akan memberikan Ramadan kepada mereka.”  Ramadan adalah pagar yang menjaga agar tetap aman, seperti sabuk pengaman.  Dengan sabuk itu kalian akan aman berada di tempat kalian di Surga, tidak ada yang dapat membawa kalian ke tempat penghukuman.  Sayyidina `Ali (r) berkata, “Allah tidak akan memberikan mereka Ramadan dan Dia tidak akan memberikan mereka qul huwa Allahu ahad.”

Apakah kita membaca qul huwa Allahu ahad tiga kali sehari atau tidak?  Jika kita tidak melakukannya, maka lakukanlah; tetapi bila kita telah melakukannya, tambahkanlah sebanyak yang kalian inginkan.

وسأل موسى عليه الصلاة والسلام ربه: يارب أكرمتني بالتكليم فهل أعطيت أحداً مثل ذلك؟ فأوحى الله تعالى إليه : ياموسى إن لي عباداً أخرجهم في آخر الزمان وأكرمهم بشهر رمضان فأكون أقرب لأحدهم منك، لأنك كلمتني وبيني وبينك سبعون ألف حجاب فإذا صامت أمة محمد صلى الله عليه وسلم حتى ابيضت شفاههم واصفرت ألوانهم أرفع الحجاب بيني وبينهم وقت إفطارهم.. ياموسى طوبى لمن عطش كبده وأجاع بطنه في رمضان..

Qaala Musa, ya Rabbii, Engkau telah memberiku kenikmatan di mana aku bisa berbicara langsung kepada-Mu, takliim, apakah Engkau memberikan kenikmatan seperti itu kepada yang lainnya?

Karena Sayyidina Musa (as) adalah Kaliimullah, ia tidak mempunyai malaikat perantara antara dirinya dengan Allah.  Allah memberi keistimewaan itu dan Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.

Allah berfirman, “Inna lii `ibadan ukhrijahum fii akhira ‘z-zaman – Aku mempunyai hamba-hamba dan Aku menyimpannya sekarang tetapi akan Kubawa pada Akhir Zaman dari dunia ini.”

Wa ukrimahum bi syahri Ramadhan fa akuunu aqrab li-ahadihim minka – Aku akan memberi mereka kenikmatan dengan bulan Ramadan,… dan Aku akan lebih dekat dengan mereka daripada denganmu.  Aku lebih dekat dengan mereka karena mereka berpuasa.  Itulah sebabnya Aku memberi mereka Ramadan.  Ketika Aku berbicara kepadamu, ada 70.000 hijab di antara Aku denganmu tetapi ketika Ummat an-Nabi (saw) berpuasa, hatta abyadat syifahahum sampai bibir mereka menjadi putih.  Ketika bibir mereka menjadi putih (itu artinya mereka begitu kehausan, bibir ini mulai pecah-pecah, mulai luka karena tidak ada air).  Sekarang orang-orang berbuat curang dengan mengatakan, gunakan make up ini.  Mereka menjualnya di apotek.  Apa itu?  Chopstick.  Mereka terus memakainya.  Itu memang tidak membatalkan puasa, karena itu tidak mempunyai rasa dan tidak berwarna.  Allah ingin agar kalian mempunyai bibir yang putih.  Dan orang-orang juga mengatakan, “Mulut kita bau.”  Tidak, Allah ingin kalian mempunyai bau yang tidak enak itu, tetapi para malaikat senang dengan bau itu.

“Mereka yang menjadi pucat sampai bibirnya putih dan kulit mereka menjadi kuning, arfa` al-hujjub baynii wa baynahum wa asfarat alwaanahum arfa` al-hujub baynii wa baynahum waqt iftaarhim– Aku singkirkan hijab antara Aku dengan mereka, pada saat mereka berbuka puasa.”

وقال كعب الأحبار أوْحى الله إلى موسى عليه السلام إنّي كَتبْتُ على نفسي أنْ لا أَرُدَّ دعْوَةَ صائمِ رمضانَ.

“Wahai Musa, jika mereka berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya.”

Oleh sebab itu sangat dianjurkan untuk berdoa pada saat berbuka.  Sebagian orang mengatakan, “Mengapa engkau terlambat berbuka?”  Tidak, tunggulah sampai adzan selesai.  Ucapkan,  Allahumma rabba haadzihi dawata at-taama wash-shalaat al-qa’imah ati Sayyidina Muhammadi’l-wasiilah wa’l-fadiilah wa’d-darajat ar-rafii`a wa’b`atsu’l-maqaam al-mahmuud alladzii wa a`datahu… Sekarang sebagian orang begitu Allahu Akbar [dikumandangkan], mereka langsung (berbuka) tanpa Bismillah, tanpa berdoa, kurma sudah ada di mulut, tunggulah satu atau dua menit!  Bacalah doa setelah adzan, bacalah shalawat Nabi lalu berdoalah untuk segala keperluan kalian, berdoalah agar dihilangkan segala kesulitan kalian, Allah akan mengatasinya.

Dan kemudian Dia berkata, tuuba liman atasya batanahu … kabar gembira bagi orang yang berpuasa dan kehausan, dan menderita karenanya.  Allah akan memberkati kita di bulan Ramadan dengan berkah Sayyidina Muhammad ﷺ .

Aqulu qawli hadza wa astaghfirullah al-azhiim….