Agenda Kunjungan Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

untitled

 

KAMIS, 2 Nov 2017
20-23 WIB
Zikir dan Shuhbah
Di rumah Bp.Soenarto, Jl.Mandala Selatan 16, Tomang, Jakbar

JUMAT, 3 Nov 2017
Salat Jumat di Mushalla Bp.Ahmaddin Ahmad, Jl.Arteri Kelapa Dua Raya No.1, Kebon Jeruk, Jakbar

SABTU, 4 Nov 2017
18-23 WIB
Mawlid dan Doa untuk Bangsa bersama Habib Hasan bin Ja’far Assegaf, Majelis Nurul Mushthofa
Di Masjid Istiqlal, Jakarta

AHAD, 5 Nov 2017
20-23 WIB
Zikir dan Shuhbah
Di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia

SELASA, 7 Nov 2017
20-23 WIB
Mawlid di Pesantren at-Taufiqy, Wonopringgo, Pekalongan (hanya utk pria)
Peserta harus memakai Nametag yang disediakan oleh panitia (hubungi kami untuk mendapatkannya)

CATATAN:
Bila ada perubahan/penambahan acara nanti akan diinformasikan lewat whatsapp, facebook, twitter dan media lainnya.

DONASI:
Rek BCA No. 375 600 7100 atas nama Yay. Jam’iyyat Attaqwa
konfirmasi donasi: WA ke 0816-295-313

Demikian pengumuman ini kami sampaikan.
Wassalamu’alaykum wr.wb.

Majelis Nazimiyya Indonesia
Jl. Warung Jati Barat Raya No.9C Rt.012/09
Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan 12740
Telp: 021-79199468
Seluler: 0816-295-313

Advertisements

Tour ke PPAT bersama Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

Assalamu’alaykum wr.wb.
Dalam rangka kunjungan ke Pesantren at-Taufiqy, Pekalongan bersama Mawlana Syekh Hisyam Kabbani pada:

🗓 Hari : Selasa s/d Rabu
📆 Tgl. : 7 – 8 Nov 2017

dengan jadwal sbb:

Berangkat hari Selasa, 7 Nov 2017
⏰ Jam : 9.30 – 13.49 WIB
🚉 KA Argo Bromo Anggrek

Kembali ke Jakarta hari Rabu, 8 Nov 2017
⏰ Jam : 12.40 – 17.00
🚃 KA Argo Bromo Anggrek

🏨 : Hotel bintang 4

💸 : biaya Rp. 1.600.000, sudah termasuk:
– tiket KA pp
– makan 3x
– bus selama di Pekalongan
– menginap di hotel bintang 4
– Name Tag

📋 Pendaftaran:
Melly Wa 089528413878
Mahda Wa 081932031670
Abdurrauf 0816295313

💳 Pembayaran melalui transfer ke Rek BCA No. 375.600.7100 a/n Yayasan Jam’iyyat Attaqwa

Catatan:
– Bagi jamaah yg telah mendaftar harap segera melakukan pembayaran
– Pendaftaran terakhir tgl 1 Nov 2017

Demikian pengumuman ini kami sampaikan, terima kasih atas perhatiannya.

Wassalam,

Majelis Zikir Naqshbandiyya Nazimiyya Indonesia
Jl. Warung Jati Barat Raya No.9C Rt.012/09
Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan 12740
Telp: 021-79199468
Seluler: 0816-295-313
http://www.naqsybandi.com

Mengingat Mati dan Menghormati Ahli Kubur

Shuhba
Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani ق

15325310_1180187118702306_1231173489499364410_o

Suatu ketika ada sekelompok orang yang membangun sebuah hotel besar bersebelahan dengan sebuah masjid. Ketika hampir selesai, mereka berkonsultasi dengan seorang ahli Yahudi, tentang bagaimana sebaiknya menjalankan hotel itu.  Mereka datang lengkap dengan foto-foto lokasi hotel. Ketika melihat foto-foto tersebut, si Yahudi mengatakan bahwa mustahil hotel itu dapat memberi keuntungan, karena letaknya tepat di sebelah masjid. Menurut sang ahli, dua hal yang berlawanan tersebut tidak mungkin saling mendukung-–karena sebuah hotel harus mengandalkan tiga hal demi keuntungannya, yaitu: judi, minuman dan seks.

Para tamu hotel yang sedang tenggelam dalam perbuatan dosa-dosa itu akan mendengar panggilan Adzan selama lima kali dalam sehari.  Mereka akan kembali teringat Tuhannya dan lari meninggalkan hotel.  Bagaimana mau bersenang-senang dengan segala kemaksiatan bila masjid sebelah mengingatkan untuk menyembah Tuhan?  Sayangnya, manusia abad dua puluh memohon agar bisa melupakan Sang Pencipta mereka.

Di kota-kota tua, kompleks pemakaman mengelilingi masjid-masjid.  Namun pemerintah sekarang ini mencegah pemakaman seperti itu, dengan alasan membuat lingkungan menjadi tidak sehat.  Mereka lalu meminta penguburan diharuskan beberapa ratus kilometer jauhnya dari kota.

Mengatakan bahwa lingkungan menjadi tidak sehat adalah kebohongan besar.  Padahal dulu makam-makam diletakkan di taman di depan rumah.  Mereka akan mengatakan, ”Ini makam ayahku, yang di sana makam bibiku, lalu yang di sini makam ibuku.”  Ini bukan hanya mengingat para leluhur mereka, tetapi juga mengingatkan akan kematian mereka sendiri, mengingat Tuhan mereka dan juga adanya kehidupan akhirat.

Wahabi adalah jenis lain dari kaum Iblis, mereka akan memakamkan di dekat rumah atau masjid, tetapi tidak mengizinkan ada tanda di makam tersebut.  Ketika saya bersama seseorang yang ingin berziarah di makam ayahnya di dekat Masjid Dehiwela,  Sri Lanka-–ternyata dia tidak tahu di mana tepatnya makam ayahnya, karena tidak ada tanda atau nisan.  Dia mengatakan ada sekumpulan manusia Iblis yang mencegah dibuatnya tanda-tanda atau nisan.  Mereka ini adalah para penyangkal adanya akhirat.

Imam-imam kita yang tak pernah bimbang akan syariat memiliki hikmah akan penulisan nama orang yang meninggal pada batu nisan.  Para pengunjung makam dapat membacakan al-Fatihah bagi para ahli kubur.  Penulisan itu sebagai sebuah pengingat terhadap mereka yang telah meninggal.  Namun kaum Wahabi menyebut hal itu sebagai syirik.  Semoga bebatuan menimpa kepala mereka yang mengatakan bahwa penulisan nama-nama orang tua mereka di batu nisan sebagai syirik dan bid’ah.  Suatu ketololan dari para kaum Iblis.

Bila mereka tidak menandai makam-makam itu, mereka bisa terjatuh ke dalam sesuatu yang makruh – yaitu menginjak-injak makam-makam yang tidak terlihat keberadaannya – seperti yang saya lihat di pemakaman Dehiwela.  Bukan hanya tidak menghormati, hal itu juga mengganggu mereka yang di makamkan di situ.  Melangkahi sebuah makam bisa diibaratkan berjalan di atas perut wanita yang sedang hamil.

Rasulullah (saw) mengajari sebuah doa bagi mereka yang mengunjungi makam, Subbuhun Quddusun Rabbu ’l-Malaaikati Wa ‘r-Ruuh, Subbuhun Quddusun Rabbu ’l-Malaaikati Wa ‘r-Ruuh, Subbuhun Quddusun Rabbu ’l-Malaaikati Wa ‘r-Ruuh.”  Ketika kalian membaca tasbih ini saat memasuki makam, maka berkah akan turun menaungi ahli kubur yang dituju, dan penghuni makam yang lain akan berharap kalian juga berkenan mendekati makam-makam mereka

Ribuan sahabat dimakamkan di Jannatul Baqi dan Jannatul Mualla, tetapi orang-orang melangkahi makam-makam itu tanpa adab sama sekali.  Dan kemerosotan moral ini telah berjalan selama 50 tahun terakhir dalam dunia Islam.  Semoga Allah (swt) menjauhkan ide-ide buruk seperti itu dari Hijaz.  Orang-orang yang lalai itu mengira mereka telah melakukan kebaikan, padahal yang dilakukan adalah hal terburuk.

Antara Ibadah dan Pekerjaan

photo_2016-11-21_13-24-09

Sultan al-Awliya Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q)
3 Februari 2002

Setan selalu mencoba untuk memisahkan manusia dari ibadahnya, membuat mereka menunda ibadah karena sibuk dengan pekerjaan yang satu disusul pekerjaan lainnya.  Manusia zaman sekarang selalu menginginkan makanan yang masih segar.  Gaya hidup manusia yang sombong tidak mau makan dari makanan yang telah tersedia.  Bagaimana dengan Allah (swt)?  Kepada-Nya, kalian berani mengirim ‘makanan lama.’  Begitu terdengar adzan, kalian harus langsung shalat dan meninggalkan segala pekerjaan.  Siapa pun yang membuat Allah murka pasti akan berakhir masanya.

Jangan mempekerjakan orang yang tidak shalat.  Sebelum membangun sebuah pabrik, bangunlah sebuah masjid di sana.  Siapa pun yang tidak mengerjakan shalat dan tidak menyerukan orang untuk shalat, Allah katakan, “Mereka adalah musuh-Ku.”   Di Shirath al-Mustaqim nanti ada tujuh pertanyaan, satu di antaranya adalah apakah kalian telah menyeru orang agar beribadah.  Tak ada yang membicarakan hal ini sekarang, karena setiap orang disibukkan oleh gaji bulanannya.

Ketika Abu Yazid al-Bisthami (q) sedang melakukan suatu perjalanan, beliau tiba di sebuah desa yang masih asing.  Beliau shalat di belakang imam.  Selesai shalat, sang imam menyapanya, “Engkau siapa?”  “Aku adalah seorang hamba Allah.”  ”Apa pekerjaanmu?  Di kebun, toko, atau pabrik?  Punya gaji bulanan?”  “Aku piker engkau adalah seorang muslim, seorang imam, oleh sebab itu aku shalat di belakangmu.  Tetapi sekarang engkau meragukan darimana makananku berasal, berarti engkau meragukan Allah.  Sebelum menjawabnya, aku harus mengulangi shalatku dulu.”

Setelah shalat, Abu Yazid (q) berkata pada imam itu, ”Mengapa engkau tidak menanyakan bagaimana kucing dan anjing menjalani hidupnya?  Dia yang menyediakan makanan bagi mereka, Dia juga yang menyediakan makan bagi Abu Yazid (q).”

Manusia telah kehilangan keimanannya.  Selama 60 tahun orang-orang datang ke sini dan selalu tersedia roti dan sup bagi mereka.  Dan dengan berkah yang mereka bawa, saya pun bisa hidup.  Namun manusia selalu terikat pada perutnya, sehingga mereka kebingungan.

Salah satu tamu yang berkunjung hari ini berasal dari Turki dan sering bersedekah untuk kaum Muslim.  Dia punya sebuah pabrik peralatan dari baja, dan buatannya adalah nomor satu di dunia.  Dia mengirimi saya banyak sekali dan saya berdoa baginya serta memberi nasihat yang dia patuhi. Banyak pabrik bangkrut dan hanya dia yang masih bertahan. Dengan 300 pekerja, dia menjaga dan meminta mereka agar selalu beribadah.  Saya tekankan agar tidak memberi toleransi bagi mereka yang tidak beribadah.  Ketika terdengar adzan, mereka harus berhenti bekerja dan mengatakan, ‘Matikan listrik, mari kita shalat.’

Selain mengirim peralatan rumah tangga, dia juga mengirim apa yang kami butuhkan: kacang, gula, beras, minyak, dan segala yang kami masak di sini.  Dia adalah Shahibu-l khayrat wa hasanat.  Dia yang menolong Fuqara, maka Allah (swt) akan menolongnya.  Jika dia kirim satu, Allah (swt) kirim sepuluh.  Jika dia kirim 100, akan datang 1000 baginya.  Sedekah di bulan Muharram adalah 10 kali lebih berharga dibanding bulan-bulan lain.  Siapa yang memberi, maka bahan pangannya tidak akan habis.  al-Fatiha.

Berbicara mengenai Perdamaian

21271108_1424693734284281_3460458339077253381_n

Mawlana Syekh Nazim Adil al-Haqqani
Dari buku Mercy Oceans: Divine Sources

Seseorang bertanya kepada saya, “Kita selalu berdoa untuk perdamaian. Bagaimanakah orang-orang yang berbeda dapat hidup bersama dengan damai?”

Ini adalah suatu pertanyaan yang penting, dan saya berterima kasih karena dia telah menanyakan hal ini. Kita memiliki suatu ungkapan: “Pertanyaan adalah setengah dari ilmu.” Menanyakan suatu pertanyaan yang penting seperti itu menandakan adanya kehidupan mental yang aktif dan ketulusan pada diri si penanya.   Tidak semua pertanyaan dapat dikategorikan sebagai “setengah dari ilmu”, karena beberapa pertanyaan menunjukkan ketidaktulusan dan tertutupnya pikiran: yaitu ketika jawaban yang diharapkan atau pendapat yang diinginkan sudah tercakup dalam pertanyaannya. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukanlah suatu pertanyaan sama sekali, dan yang semacam itu datang kepada kita bagai beratnya sebuah gunung: pertanyaan-pertanyaan seperti itu hanya mempersempit perspektif suatu pembicaraan atau diskusi. Tetapi, suatu pertanyaan yang tulus seperti pertanyaan tentang perdamaian ini adalah sesuatu yang membuat kami senang menerimanya dan senang pula untuk menjawabnya.

Kami berdoa demi perdamaian, kalian pun berdoa demi perdamaian dan umat Kristen pun berdoa untuk perdamaian.  Tetapi perdamaian tetap tidak tercapai, baik secara individual maupun secara umum – mengapa? Apa pun yang terjadi di dunia ini memerlukan kondisi dan syarat yang tepat agar bisa muncul dan terjadi. Perdamaian pun bukanlah pengecualian terhadap aturan ini. Agar perdamaian dapat terwujud, diperlukan kondisi dan syarat tertentu yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Yang pertama adalah perdamaian batiniah (inner peace), kemudian perdamaian antara diri kalian dengan orang-orang yang berada di sekitar kalian. Tetapi, perdamaian akan tetap menjadi suatu sasaran yang tak pernah tercapai selama kondisi-kondisi untuk pencapaiannya ini tidak terpenuhi.

Agar suatu perdamaian dapat tercapai di antara manusia, syarat primer dan utamanya adalah melihat satu sama lain dengan sikap murah hati dan toleransi. Lihatlah taman yang indah ini: tanahnya sama dan menyatu; beratus-ratus jenis pohon dan tanaman yang berbeda tumbuh di atasnya!  Kita tidak pernah melihat mereka mengeluh mengenai posisi tanaman lain yang tumbuh terlalu dekat.  Mereka bukanlah fanatik yang bersikeras agar seluruh pohon di area tersebut berasal dari satu jenis saja.

Jika kalian hidup di lingkungan dengan berbagai latar belakang dan agama yang berbeda, kemudian masing-masing saling menghormati hak-haknya, maka kalian pun akan hidup di lingkungan mereka tanpa menemui masalah apa pun. Nabi kita Muhammad (saw), pernah hidup bertetangga dengan seorang Yahudi. Beliau tidak pernah protes dan berkata, “Bawa orang itu pergi dari lingkunganku dan biarkan dia tinggal bersama kaumnya.” Tidak! Teladan dan contoh dari Nabi Suci (saw) adalah teladan yang terbaik bagi kita, dan beliau selalu menekankan pentingnya hubungan bertetangga yang baik. Dalam Quran Suci, telah pula disebutkan secara spesifik bahwa tetangga adalah termasuk di antara yang pertama-tama menerima pertolongan dan sedakah.  Karena itu, bertetangga adalah suatu konsep yang penting dalam Islam, dan berdekatannya orang-orang yang berbeda akan menghancurkan fanatisme yang sempit.  Kalian telah diserukan dan diperintahkan untuk menjadi tetangga-tetangga yang baik.

Kalian mempunyai agama kalian, jalan hidup kalian dan ide-ide kalian, dan mereka pun memiliki agama, jalan hidup, dan ide-idenya sendiri. Serahkanlah mereka pada Tuhannya dalam urusan-urusan yang berbeda dengan kalian, tetapi dengan berbagai cara, jagalah penghormatan pada tetangga kalian dan berikan yang terbaik baginya.  Inilah tugas kalian, dan jika kalian melakukan tugas ini, kalian bisa berharap bahwa tetangga kalian pun akan menunjukkan kebaikan yang serupa terhadap kalian.  Jangan mencari-cari kesalahannya atau menyebabkan kedengkian dan kebencian dengan menyerang kepercayaannya. Biarkanlah Tuhan kalian, Sang Hakim dari segala hakim, untuk memutuskan; dan fanatisme kalian pun akan mati.

Saat ini saya duduk bersama kalian. Jika saya melihat kalian (dan pada semuanya) sebagai makhluk Tuhan, sebagai buah yang unik dan sempurna dari penciptaan yang luhur oleh Tuhan saya; melihat diri kalian seperti seseorang yang sedang melihat pada sekuntum mawar atau sebuah pohon yang sedang berbuah, itu artinya sekarang saya sedang duduk di sebuah taman surgawi, dan kedamaian batiniah datang dari setiap orang ke dalam hati saya.  Jika kita dapat melihat satu sama lain dengan adab seperti itu, kita pun tidak hanya akan memperoleh penerimaan dan toleransi, tapi juga keakraban, kekeluargaan dan penghargaan (apresiasi), dan yang paling utama, cinta dan kedamaian.

Tetapi, karena manusia sekarang tidak menghargai satu sama lain sebagai makhluk Tuhan mereka yang unik dan terkasih, mereka pun tidak mampu untuk bersikap toleran terhadap satu sama lain, apalagi untuk mampu menghargai mereka atau menjadi lebih akrab dengan mereka. “Dunia ini tak cukup besar untuk menampung kita berdua,“ kata salah seorang kepada yang lainnya, juga satu bangsa atau negara kepada bangsa dan negara lainnya. Setiap orang berteriak lantang mengenai dirinya masing-masing demikian kerasnya untuk menekan eksistensi yang lain. Dan perilaku semacam ini membuat orang menjadi sedemikian berat pula, hingga Bumi pun hampir-hampir tak mampu lagi menampung keseluruhan ras manusia, bukan karena jumlah mereka tapi karena sikap dan perilaku mereka.

Kita telah menghalangi diri kita sendiri dari sikap menghargai orang lain dan mencari keakraban dengan mereka.  Kita melihat mereka tidak sebagai wakil-wakil Tuhan kita yang tercinta di muka bumi ini, tetapi sebagai ancaman-ancaman bagi diri kita sendiri.  Dan mereka pun, sebagai gantinya, melihat kita sebagai orang-orang yang berbahaya, dan menarik keakraban mereka dari diri kita. Karena itulah, sikap liar dan buas tengah berjangkit dan tumbuh secara cepat pada manusia, dan dari sifat liar inilah muncul kebekuan, kebencian dan kedengkian di antara manusia.

Ego dan nafsu rendah kita telah membangun dinding-dinding di sekeliling kita – dinding dan tembok yang tak dapat ditembus.  Hancurkanlah tembok-tembok itu agar kalian mampu menghargai orang lain dan mendekati mereka.  Kalian pun kemudian akan menemukan bahwa perasaan-perasaan yang tulus mulai mengalir dari hati kalian, dan sebagian besar orang akan mulai menunjukkan sikap yang lebih baik terhadap kalian.  Tetapi, jika kalian suka bertengkar dan dikuasai oleh ego rendah kalian yang buruk dan serakah, tak seorang pun mampu mendekati kalian dan kalian pun tak mampu mendekati seorang pun kecuali dengan kekerasan.  Ini adalah sesuatu yang bersifat timbal balik.  Jadi, hal pertama yang harus diperbaiki adalah diri kalian sendiri, yaitu dengan mengendalikan ego atau nafsu rendah kalian, agar kalian mampu memberikan keakraban yang tulus pada semua orang.

Salah seorang di antara wali-wali besar di Jalan Sufi biasa melakukan perjalanan di gurun dengan menunggangi punggung seekor harimau dan menggunakan seekor ular sebagai cambuk.  Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Apa rahasianya? Allah (swt) telah memberikan perasaan, intuisi dan persepsi kepada setiap makhluk-Nya. Jika kalian dapat bersikap terbuka dan memberikan keakraban yang tulus bahkan pada seekor harimau yang besar, dia pun dapat dijinakkan dan kalian dapat menggunakannya sebagai hewan tunggangan.  Dan itu hanya seekor hewan liar, maka bagaimana pula dengan bani Adam `alayhis-salam, yang telah dikaruniai begitu banyak potensi oleh Tuhan mereka sehingga Dia memanggil mereka sebagai “Mahkota dari Ciptaan-Nya” dan menjadikan mereka sebagai wakil-wakil-Nya di muka Bumi? Kalian pun harus meraih keakraban yang tulus dengan mereka untuk menjinakkan mereka.

Dan di hadapan demikian banyak kejahatan dan kebuasan yang sedang terjadi di dunia ini, kita tak boleh berputus asa dan berkata, “Tuhan macam apakah yang telah menciptakan manusia-manusia yang jahat dan bengis yang melukai manusia lainnya dan menyebabkan kekerasan masal dan perang di dunia ini?” Kita mesti menjinakkan keliaran ini dengan Keluhuran dan Kemurahan Hati. Jangan katakan bahwa tidak ada suatu Hikmah Ilahiah dalam penciptaan harimau dan ular (atau manusia-manusia yang menyerupai hewan-hewan ini dalam tindakan-tindakan mereka)! Katakanlah bahwa Dia Yang Maha Agung telah menciptakan harimau untuk ditunggangi dan ular untuk digunakan sebagai cambuk tunggangan!

Suatu waktu, pernah ada seorang laki-laki yang merasa terganggu oleh kecoak. Ke mana pun dia pergi, dia selalu menjumpai hewan kotor menjijikkan ini.  Dan tak peduli apa pun yang telah dia lakukan, dia tak mampu menyingkirkan kecoak-kecoak itu dari sekelilingnya.  Dia bahkan telah berpindah rumah beberapa kali dalam kota di kampung halamannya sambil berharap bahwa rumahnya yang baru tidak akan tercemari kecoak, tetapi kenyataannya malah selalu ada kecoak.  Akhirnya, setelah kehilangan harapan, dia pun pindah ke negara lain di mana jumlah kecoaknya lebih sedikit.  Dia menetap di negara baru tersebut.

Pada akhirnya, laki-laki ini menderita suatu penyakit berupa abses (bengkak bernanah) yang sangat parah di kakinya.  Dia pergi ke banyak dokter, tetapi semua obat yang mereka resepkan justru membuat penyakit absesnya makin parah, dan membuatnya makin menderita.  Dia pun akhirnya menyerah untuk melakukan usaha lebih lanjut untuk mengobatinya.  Suatu hari dia sedang duduk di depan rumahnya dengan kakinya diangkat ke atas, sambil mengeluh dan mengaduh kesakitan: “Ah, eeh, oh, ooh!” saat itu datang seorang darwis pengembara. Sang darwis bertanya padanya, “Mengapa engkau duduk di situ dan berkata ‘Ah, eeeh, oh, ooh’?”  Dia menjawab, “Aku menderita abses kronis di kakiku dan tak peduli apa pun yang kulakukan, penyakitku ini tak kunjung sembuh; malahan dia bertambah parah setiap kali aku berusaha mengobatinya.”

Sang darwis berkata, “Oh, ini adalah penyakit termudah di dunia untuk diobati.  Pernahkah engkau melihat seekor kecoak?” “Kecoak! Hewan itu adalah kutukan dalam hidupku! Di negara asalku ada begitu banyak kecoak hingga mereka membuatku gila.  Karena itulah aku datang untuk hidup di negeri ini, hanya untuk lari dari kecoak.”  Sang darwis berkata, “Kau mesti menangkap kecoak banyak-banyak, lalu bunuh mereka, dan bakar mereka, kemudian ambillah abunya dan taburkan ke lukamu; Insya Allah  penyakitmu akan sembuh dengan cepat.”  Laki-laki itu mengikuti nasihat sang darwis, memburu kecoak di negeri itu dan menemukannya dengan susah payah, kemudian kini abses-nya telah sembuh. Setelah kejadian itu, dia tak pernah lagi mengutuk keberadaan kecoak.

Dan bagaimana dengan bani Adam `alayhis-salam yang paling dihormati, yang telah dijadikan Allah (swt) sebagai khalifah-khalifah-Nya di muka Bumi? Jangan benci mereka atas tindakan-tindakan buruk mereka, tetapi ingatkan diri kalian sendiri bahwa mereka juga adalah ciptaan-ciptaan tercinta Tuhan kalian; dan berusahalah untuk menjadi pemurah dan penyantun, sebagaimana Quran Suci telah menyebutkan:

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.  Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fusshilat, 41: 34-35)

Lihatlah, sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya, Nabi Suci (saw) pernah hidup bersebelahan dengan seorang Yahudi di Madinah. Nabi (saw) bersikap toleran atas kehadirannya, sekalipun orang itu biasa membuang sampahnya di depan rumah Nabi (saw) setiap hari sebagai suatu tanda penghinaan bagi beliau. Suatu hari Nabi Suci (saw), memperhatikan bahwa tak ada sampah di depan rumahnya.  Pada hari berikutnya pun demikian. Beliau kemudian bertanya tentang keadaan si tetangga itu dan mendapat kabar bahwa ternyata dia sedang sakit.

Kemudian Nabi Suci (saw) berniat mengunjunginya.  Sang laki-laki Yahudi itu sangat terkejut melihat Nabi (saw) di pintu rumahnya, dan bertanya, “Bagaimana dirimu tahu kalau aku sedang sakit?” Beliau menjawab, “Aku perhatikan bahwa hadiah harianmu tak ada lagi di depan rumahku seperti biasanya, maka aku pun berpikir bahwa sesuatu yang tidak baik mungkin telah terjadi pada dirimu.  Karena itulah, aku bertanya dan mendapat kabar bahwa dirimu sedang sakit.”

Tetapi, jauh dari sikap menunjukkan kebaikan pada anggota-anggota masyarakat lainnya, orang-orang saat ini tak lagi mampu menghargai, ataupun berbagi keakraban bahkan dengan anggota-anggota keluarga mereka sendiri. Para istri tak dapat menghargai sifat-sifat baik suami mereka, dan sebaliknya pula. Keluarga-keluarga itu mungkin tinggal dalam satu atap, tetapi sama sekali tak ada perasaan akan rumah atau keluarga.  Orang-orang telah menjadi asing terhadap kerabat-kerabat terdekat mereka, setiap orang telah terbungkus dalam dunia keinginan hawa nafsunya, dan tak ada figur seorang pun dalam dunia itu melainkan dirinya sendiri, atau dunia itu adalah untuk ekploitasi egoisnya.

Jika keakraban tak lagi dapat dijumpai dalam keluarga-keluarga, apalagi dalam komunitas yang lebih besar? Tak mungkin! Maka, berbicara tentang perdamaian dunia adalah sesuatu yang lebih sia-sia lagi, karena keakraban, cinta, dan kedamaian mestilah dibangun dalam individu, kemudian dalam keluarga, dan seterusnya, dari unit terkecil ke yang lebih besar, dan bukan sebaliknya.

Kita berdoa untuk dunia yang damai, agar semua api yang sedang terbakar ini dapat dipadamkan, dari Timur ke Barat.  Tetapi, tembok dan dinding keterasingan telah menjadi demikian menakutkan hingga tak satu pun bangsa atau negara yang mempertimbangkan untuk saling mendekat dan melakukan kerja sama sejati dengan yang lainnya.  Keakraban sedang terpenjara, dan keliaran serta keterasingan tengah menyebar hari demi hari dengan begitu cepatnya hingga, kecuali arus ini dapat dibendung, akan menyapu habis seluruh dunia.  Arus kebuasan itu sedang memancar keluar, dan tak satu pun bendungan yang kita bangun mampu menampungnya, karena manusia hanya dapat menuai benih yang telah dia tanam. Manusia menanam benih-benih keliaran dan kebuasan, maka dia pun akan memanen kebuasan, bukan keakraban dan persahabatan. Arus ini sedang menyapu habis semua level dari hubungan manusiawi; dia telah menyelimuti seluruh Bumi ini. Apa yang akan menjadi hasilnya?  Menurut suatu tradisi sunnah, manusia akan memakan dirinya sendiri dalam suatu semburan kekerasan hingga Intervensi Ilahiah membuat api yang sedang berkobar itu padam dan berhenti.

Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang berbaris dan berdemonstrasi untuk perdamaian – membawa spanduk dan bernyanyi – apakah mereka memajukan perdamaian ataukah malah merusaknya?

Jika orang-orang itu berada dalam kedamaian dengan dirinya sendiri, dalam kehidupan batiniah mereka, maka usaha-usaha mereka mungkin akan membawa manfaat.  Tetapi, jika mereka masih liar dan keras dalam diri mereka, apa yang akan menjadi hasil dari aktivitas mereka itu? Lebih banyak kedengkian, kebencian, dan kebuasan akan muncul, dan hanya itu.

Kini, perdamaian dilukiskan dalam banyak surat kabar sebagai seekor merpati, tetapi ada begitu banyak elang yang sedang menunggu untuk memangsanya.  Jika tak ada sarana untuk melindungi merpati itu, perdamaian hanya akan menjadi kata yang tak bermakna. Saat ini, sekelompok besar wanita sedang berpawai dari Skotlandia menuju London untuk perdamaian, Masya Allah! Begitu banyak ibu dan wanita membawa perdamaian dari Skotlandia! Demonstrasi-demonstrasi semacam itu hanya akan menjadi bahan tertawaan dan hinaan orang-orang, bukan apa-apa lagi; karena masalah ini membutuhkan Dukungan Ilahiah.

Perdamaian haruslah didukung, dan untuk mendukung perdamaian, seseorang membutuhkan kekuatan dan kekuasaan: tak ada kekuatan maka tak ada perdamaian.  Dan dukungan terkuat bagi perdamaian adalah kehidupan batiniah yang telah bangkit: keakraban dan familiaritas yang tumbuh dalam hati kita dan menyebarkan cabang-cabangnya ke seluruh dunia.  Tanpa adanya hati yang subur dan berbuah seperti itu, apakah arti dari suatu “Pawai Perdamaian”? Itu hanyalah permainan anak-anak, siapa yang akan menganggapnya serius?

Akhir Zaman

20476578_1413878435333172_3249580991497912249_n

Shaykh Muhammad Nazim Al-Haqqani An-Naqshbandi
Shohbat tahun 1998
Lefke – Siprus

 

Bismillahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Kami telah menyampaikan beberapa kata di sini untuk orang-orang Inggris,untuk orang-orang Jerman, namun sebenarnya kata-kata ini harus disampaikan dalam semua bahasa.

Sejak pertama manusia berada di dunia ini, kita–di antara semua orang yang pernah hidup, adalah orang-orang yang telah sampai pada hari-hari yang sangat berbahaya dan menakutkan. Di samping hal ini, ketakutan ini adalah ringan dibandingkan ketakutan hari-hari yang akan datang, yang sekarang bukan apa-apa. Karena di masa mendatang akan ada kejadian-kejadian di mana orang-orang yang terlibat di dalam peperangan, mereka akan tertembak mati atau tidak sanggup untuk menanggung beban pada saat itu. Mereka akan mengalami depresi–mentalnya runtuh. Ketika mental seseorang runtuh tubuhnya tidak mampu lagi untuk membawa dirinya lebih jauh lagi. Ketika mentalnya hidup, tubuh seseorang menjadi segar dan aktif. Ketika mentalnya kehilangan kekuatan, ketika ia runtuh, tak peduli betapa kuat tubuhnya, ia tidak akan mampu bertahan. Agar mampu menahan beratnya hari-hari saat kita hidup sekarang ini dan agar mampu menanggung beban menghadapi kejadian-kejadian yang mengerikan di masa mendatang, maka orang harus memiliki kehidupan spiritual yang kuat. Orang yang mentalnya tidak didukung atau diperkuat akan menderita dalam situasi ini, dan ia tidak akan mampu menanggung beban berat hari-hari yang akan datang.

“Mereka akan seperti benteng-benteng dari kardus”, saya katakan. Berapa lama benteng kardus itu dapat bertahan? Ia tidak akan mampu menahan apa-apa, ia tidak bisa melindungi orang. Orang hanya akan terlindungi dengan benteng yang kuat. Benteng itu adalah iman mereka. Orang yang imannya imitasi, mereka tidak akan mampu bertahan menghadapi badai-badai besar yang akan datang, mereka akan tersapu bersih. Situasi sekarang membuat mereka tertekan, tetapi kejadian-kejadian yang akan datang akan menghancurkan mereka berkeping-keping. Oleh sebab itu iman yang kuat adalam elemen penting pertama agar orang dapat bertahan dengan kokoh pada situasi tersebut. Iman yang kuat adalah satu-satunya kekuatan yang akan membuat orang mampu berdiri kokoh menghadapi kejadian-kejadian yang mengerikan di masa mendatang. Tanpa iman yang kuat orang tidak akan bertahan menghadapi situasi sekarang maupun kejadian yang mengerikan di masa mendatang. Tanpanya mereka akan hancur.

Jika seseorang tidak terbunuh, tidak tertembak oleh berbagai jenis senjata, maka beratnya kejadian-kejadian tersebut akan menghancurkan mereka, mereka tidak akan sanggup untuk bertahan. Jumlah orang yang akan tewas–bukan karena tertembak, namun karena tidak sanggup menahan beratnya beban mereka akan mencapai jutaan orang. Jika ada beberapa orang yang tidak meninggal, mereka akan menjadi gila. Jutaan orang akan kehilangan pikiran mereka, mereka menjadi gila. Kejadian-kejadian yang akan datang begitu berat, begitu menakutkan. Satu-satunya yang dapat menolong orang adalah iman yang kuat, tidak ada lagi yang lainnya. Tidak ada lagi yang dapat menolong. Sebagaimana yang saya katakan, jika tidak tertembak, maka kejadian-kejadian yang akan menimpa manusia nanti akan membunuh mereka atau mencabik-cabik hati mereka karena ketakutan dan membuat mereka menjadi gila. Tidak ada yang bisa menolongnya.

Kejadian-kejadian saat ini sangat kecil dibandingkan kejadian-kejadian di masa mendatang. Walau demikian banyak juga orang yang menjadi gila sekarang ini. Kejadian-kejadian saat ini bukanlah apa-apa. Ia bagaikan permen dibandingkan kejadian-kejadian yang akan datang, ya permen. Apa yang membuatnya menjadi tertekan? Huuu ya Lathif. Kita berlindung kepada Allah, kita berlindung kepada Allah. Mengenai hal ini saya berbicara sedikit dalam bahasa Inggris, kalian harus mendengarnya juga.

Pada hari-hari tersebut, hanya iman yang kuat yang akan menguntungkan kalian. Bagaimana meraih iman yang kuat? Kalian tidak dapat mencapainya dengan membaca buku-buku. Mungkin kalian dapat meraihnya dari para Awliya yang merupakan para pemilik iman yang kuat, yang dapat mereka transmisikan dari qalbu ke qalbu. Nabi kita `alayhi ‘sh-shalatu wa ‘s-salam, membangun para Sahabatnya dari tingkat kebodohan terbawah hingga ke tingkat keimanan tertinggi. Beliau memenangkan mereka semua melalui jalan qalbu.

Sekarang di masa ini ada para pewaris Nabi (saw). Para awliya yang merupakan para pewaris Nabi (saw) tidak pernah absen. Meskipun kalian tidak mengetahui mereka. Kalian mungkin tidak mengetahui mereka, tetapi bila kalian memohon agar dapat menemukan mereka, maka ada izin untuk memanggil mereka.

Jika kalian mengenal seseorang, panggillah ia sebagaimana yang dikatakan oleh qalbu kalian. Jika tidak, katakanlah, “Wahai Awliyaullah, wahai teman-teman Allah, wahai ahlul Haqq, tolonglah kami (madad)!” Kapanpun dan di manapun kalian berada dalam situasi yang sulit, panggillah mereka. “Demi Nabi (saw), wahai Ahlul Haqq, raihlah aku.” Segera setelah kalian mengucapkannya, ia harus menolong kalian. Saya mengatakan kepada orang-orang Kristen untuk berkata, “Demi Nabi Isa/Yesus,” dan untuk umatnya Nabi Musa (as), “Demi Musa `alayhi ‘s-salam, raihlah kami.” Mereka harus mengucapkannya. Mereka bisa mengatakan, “Tolonglah kami demi Nabi Ibrahim `alayhi ‘s-salam.” “Demi Ahlul Bayt Rasulullah (saw)” – orang dapat meminta pertolongan demi mereka. Jika seseorang tidak mengetahui caranya, “Demi Nabi kita (saw)” namun ia memanggil demi Nabi-Nabi lainnya, para Awliya diperintahkan untuk tetap menolong mereka.

Tamu: Sejak sekarang hingga hari-hari yang penuh masalah?

Kapan saja, sejak sekarang, mereka boleh memanggilnya. Tidak masalah! Para Awliya diperintahkan untuk mendatangi mereka untuk menolongnya. Sekarang waktunya sudah sangat dekat, kami diperintahkan untuk menyampaikan hal tersebut. Peperangan sangat dekat. Para Awliya bekerja pada qalbu. Mereka adalah orang yang dapat melihat qalbu. Mereka menolong orang-orang yang memanggil mereka melalui qalbu. Jika orang memanggil mereka hanya lewat lidah, mereka akan tetap mendatanginya. Jika orang tidak terlalu takut, mereka akan muncul kepada orang yang memanggilnya. Tetapi mereka tidak menampakkan diri mereka untuk tidak menakutkan bagi orang-orang. Orang dapat merasakan kehadiran mereka, jika ia dapat menerima kedatangannya. Ia akan merasakan kedatangan mereka di hadapannya.

Jadi ini adalah masalah yang penting. Perhatikan hal ini! Jalan menuju keimanan yang kuat terbuka melalui pertemuan dengan para Awliya yang merupakan para pemilik iman yang kuat. Jika kalian tidak mengenal mereka, panggillah salah seorang di antara mereka secara umum, katakan, “Ya Awliyaullah, adrikni, wahai Awliyaullah, raihlah aku.” Katakan, “Tolonglah aku demi Nabi `alaihi ‘sh-shalatu wa ‘s-salam.” Maka situasi kalian yang sulit akan menjadi mudah. Ketakutan kalian akan hilang, iman kalian akan dikokohkan, dan perbuatan kalian akan diperbaiki.

Bi hurmati ‘l-Habib bi hurmati ‘l-Fatihah