Langit dan Bumi Bersuka Cita untuk Mawlid an-Nabi (saw)!

Sulthan al-Awliya

Mawlana Shaykh Nazim al-Haqqani

Lefke, Siprus, 22 Februari 2010

 

Bismillaah Sayyidii, madad. (Mawlana Syekh berdiri.)  La ilaaha illa-Llaah, la ilaaha illa-Llaah, la ilaaha illa-Llaah, Sayyidina Muhammad-ur Rasuulullah. Sayyidi ‘l-awwaliin wa’l-akhiriin, Sayyidina Muhammad (saw), zidhu `izzan wa syarafan, nuuran wa suruuran. Syafa`atak, kami memohon syafaatmu, dan menentang orang-orang bodoh yang menyangkal syafaatmu. syafa`ata ‘l-uzhma adalah untukmu! (Mawlana Syekh duduk.)

Sulthan al-Awliya, kami memohon dukungan surgawimu, wahai tuan kami, yang mengawasi segala sesuatu di planet ini.  Allah Allah, Allahu akbar al-akbar. Dan kami ucapkan, “Dastuur, memohon dukunganmu.”  Kami adalah orang-orang yang lemah, tidak mengetahui apa-apa.  Ajarilah kami segala yang kami perlukan untuk menjadi hamba yang baik bagi Tuhan Surgawi.  Awal dari adab yang baik adalah mengucapkan, “a`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim, menyatakan bahwa kita tidak bersama kelompok setani.  Begitu banyak kelompok berada di bawah payung Islam. Nabi (saw) mengatakan bahwa akan ada 73 golongan; satu di antara mereka akan selamat di dunia dan akhirat, dan mendapat kemuliaan yang lebih tinggi di antara seluruh makhluk, hanya satu (golongan) di antara mereka.

Para Sahabat (ra) Nabi Suci (saw) bertanya, “Siapakah mereka wahai Nabi yang kami cintai?”  

Nabi (saw) menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang akan bersamaku dan mengikuti kalian, karena kalian mengikuti aku.  Dan mereka akan berusaha untuk mengikuti kalian karena mereka tahu bahwa jalan kalian adalah jalan yang lurus, Shiraatha ‘l-Mustaqiim. Dan itu hanya ada satu, tidak mungkin ada dua Shiraatha ‘l-Mustaqiim.  Kalian dan orang-orang yang mengikuti kalian akan menjadi firqatun naajiyyah, golongan orang-orang yang selamat.  Mereka akan masuk Surga karena jalan mereka adalah jalan yang benar.”

“Bagaimana dengan 72 golongan lainnya?”

“Mereka akan mengaku bahwa, ‘Kami bersama Khatamul Anbiya, Nabi Penutup,’ tetapi mereka adalah para pembohong.  Mereka tidak mengikutiku, mereka mengikuti Setan. Ke-72 golongan itu semuanya bersama Setan. Jika Setan tidak bersama mereka, maka mereka akan menghormatiku.  Tetapi mereka tidak menghormatiku karena Setan mengatakan kepada mereka, ‘Engkau berada di jalan yang benar, dan merekalah yang tidak berada di jalan yang benar.”  

Guru dan pemimpin mereka yaitu Setan telah meletakkan sesuatu ke dalam 72 golongan ini.  Jika kalian bertanya siapa saja mereka, itu mudah. Besok malam adalah hari kelahiran Nabi (saw), Milad un-Nabi.  Orang-orang yang menolak untuk merayakan hari kelahiran Nabi Penutup (saw), kalian tahu–mereka bersama Setan. Hal ini karena Setan begitu hasad, begitu dengki dengan Nabi (saw), dan membuat orang-orang tidak merayakan hari kelahiran dan malam pertama dari Nabi Penutup (saw).  Mereka semua ini merayakan hari ulang tahun seseorang, ptuuh (meludah), tetapi jika kalian merayakan hari ulang tahun Nabi Penutup (saw), mereka mengatakan itu adalah haram, syirik, bid’ah dan kufur.

Di kepala mereka akan tertulis raghab `ala anfihim, kutukan bagi mereka!  Mereka begitu dengki terhadap manusia yang seharusnya dihormati, manusia yang paling mulia di antara seluruh makhluk!  Apa itu? Setan tidak senang, ia iri dengan Nabi (saw), sebagai makhluk yang paling dicintai, yang paling agung, yang paling mulia.  Setan adalah makhluk yang paling iri terhadap Nabi Penutup (saw), terhadap Kekasih Allah, makhluk yang paling dicintai di Hadirat Ilahi!  Saya bertanya pada kalian, wahai ulama Salafi dan orang-orang Wahhabi, siapakah makhluk yang paling dicintai di Hadirat Ilahi? Katakan!! (Mawlana Syekh berdiri)  Jika Muhammad (saw) bukan orang itu, lalu siapa yang akan berada di Hadirat Ilahi?!! (Mawlana Syekh duduk.)

Kalian adalah bangsa Arab, dan kalian mengerti bahasa Arab.  Allah (swt) berfirman kepada Kekasih-Nya,

لولاك لولاك ما خلقت الأفلاك

Law laak law laak maa khalaqtu ‘l-aflaak.

Jika bukan untukmu (wahai Muhammad), Aku tidak akan menciptakan aflaak (tubuh Surgawi; alam semesta).”

Itu adalah bahasa Arab, ya, dan kalian mengatakan bahwa itu tidak benar, tetapi kami katakan haatuu burhaanukum, bawa bukti-bukti kalian!  Itu adalah hadits qudsi, di mana Allah berfirman kepada Kekasih-Nya (saw), “Kapan dan di mana?  Yaitu ketika belum ada waktu dan ruang,” Allah (swt) mengatakannya kepada Nabi Penutup (saw). Ya, Allah mengatakannya tetapi tidak ada orang yang mengetahui jika Nabi (saw) tidak mengatakannya, tidak ada orang yang tahu, tidak ada orang yang membawa buku catatan dari sakunya dan mencatatnya, tidak.  Itu terjadi sebelum ada waktu dan ruang, “tidak ada waktu dan ruang,” ketika Allah mengatakannya kepada Kekasih-Nya. Hanya satu! Kepada satu-satunya!

Wahai orang-orang yang lalai, wahai para pendengki, para pengikuti Setan, khalifahnya Setan!  Seseorang bertanya kepada saya, “Wahai Syekh, engkau mengatakan bahwa Khalifah Nabi (saw) ada terus hingga Hari Kebangkitan.  Bagaimana dengan Setan, apakah ia juga mempunyai khalifah?” Ya, Setan mempunyai khalifah yang menentang Nabi Penutup (saw), yang penuh kedengkian.  Mereka adalah para khalifah Setan. Khalifah Setan artinya deputi, penerus atau pengikuti sejati dari Setan. Ya, itu begitu jelas. Mereka mengatakan hal-hal yang berbeda dan mempertahankan gagasannya.  Darimana kalian membawa hal-hal semacam itu dan mengatakan bahwa hadits qudsi tadi tidak benar? Katakan, “Law laak law laak maa khalaqtu ‘l-aflaak,”  “Jika bukan untukmu, Kami tidak akan menciptakan seluruh alam semesta.”   Selama 1400 tahun (hadits) ini sudah dikenal, ia tertulis untuk setiap ulama yang mengikuti jalannya Nabi (saw) hingga sekarang.  Hatuu burhanakum, bawa bukti-bukti kalian jika ini bukan hadits qudsi sungguhan.  Katakan, dari mana sumbernya? Apakah menurut kalian Islam dimulai dari Muhammad `Abdu ‘l-Wahhab, dan umat Muslim telah mengikuti jalan yang salah dan mereka semua akan menjadi musyrik dan kafir?  Darimana ia berasal, Abdul Wahhab? Tiba-tiba muncul sesuatu yang bertentangan dengan Nabi (saw)?

Tidak, kalian yang bertentangan dengan Syariatullah, dengan perintah Allah.  Islam tidak dimulai dengan `Abdu ‘l-Wahhab, Islam dimulai dengan Nabi Penutup (saw)!  Mereka bertanya, “Mengapa kalian menyebut kami ‘Wahhabi’?” Mereka sendiri yang mengatakan bahwa mereka adalah Wahhabi!  Saya bertanya pada ulama Salafi, satu pertanyaan. Apakah kalian membaca al-Qur’an suci? Siapa yang mengatakan, `ala dhalaalah (orang-orang yang sesat)?  Bagaimana kalian mengubah nama kalian?  Mengapa kalian tidak mengatakan, “Kami adalah Muslim!”  Allah (swt) menyebut kalian Muslim, mengapa kalian mengatakan, “Kami adalah Wahhabi!”  Mengapa kalian tidak mengatakan, “Kami adalah Muslim!” Kalian telah melanggar Islam dan melakukan dosa terbesar, sebuah kejahatan dalam Islam.  Mengapa kalian tidak mengatakan, sammaakum; mengapa kalian tidak mengatakan, “Kami menjadi Muslim.”  Kalian menyangkal diri sendiri dengan mengatakan, “Kami adalah Wahhabi!”

Wahai manusia!  Siapa yang mengikuti kaum Wahhabi, maka kutukan akan datang pada mereka.  Saya pikir mereka tidak mengetahui bahwa tafriqa (pemecahan) akan terjadi, dalam setengah abad berikutnya tidak ada satu pun dari mereka yang akan hidup di Bumi.  Seluruh dunia hanya untuk Muslim, dan kita tidak mengatakan, “Kami adalah Wahhabi,” kita mengatakan, “Kami adalah Muslim.”  Dan saya mengatakan ini kepada seluruh kaum Muslim, mengapa kalian mengikuti orang-orang itu? Mereka mengubah nama mereka, dengan mengatakan, “Kami mengikuti  `Abdu ‘l-Wahhab.” Mengapa kalian tidak mengatakan, “Kami adalah Muslim.” Apakah `Abdu ‘l-Wahhab seorang Nabi? Memberi kalian nama, “Kami adalah Wahhabi.” Siapa di antara kalian yang memberikan wewenang kepada mereka?  Para pengikut Setan, khaaf Allah, takutlah kepada Allah, qudratuh (Kekuasaan-Nya), atau kalau tidak, tidak ada seorang pun yang akan hidup di dunia.

Saya rasa tidak ada seorang pun di antara orang-orang yang mengatakan “Kami adalah Wahhabi” akan sampai pada zaman Sayyidina `Isa (as).  Ini adalah sebuah pengakuan yang besar. Kita mendapat deklarasi istimewa ini sekarang, malam ini, bahwa mereka berada di jalan yang salah, karena mereka mengatakan, “Kami adalah pengikut `Abdu ‘l-Wahhab,” dan, “Kami adalah Wahhabi,” dan memberi mereka nama bahwa mereka adalah “Wahhabi.”

إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ

inna bathsya rabbuka la syadiid.

Sungguh azab Tuhanmu sangat keras. (Al-Buruj, 85:12)

Allahu Akbar `alayhim, Allahu Akbar `alayhim, Allahu Akbar `alayhim dan kepada para pengikutnya!

A`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim.  Di manakah Islam sejati dan di mana (posisi dari) orang-orang yang mengikuti jalan yang salah sekarang?  Mereka begitu hasad, dengki, mereka tidak pernah rela untuk menghormati Nabi Penutup (saw). Allah (swt) sangat memuliakannya!  Itu artinya kalian berkelahi dan bertengkar dengan Allah (swt)! Kalian menentang Allah dan mengatakan, “Mengapa kalian bersama orang ini?”

Ohh, ohh, yaa Rabbii, subhaanallah!  As-salaamu `alaykum wahai para pendengar kami,

وَالسَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

wa ‘s-salaamu `alaa mani ‘ttaba`a ‘l-huda.

Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. (Thaha, 20:47)

Keselamatan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk Nabi (saw).  Ya, kita berusaha untuk mengikuti jalan Nabi Penutup (saw), Sayyidi ‘l-awwaliin wa ‘l-akhiriin.  Kita adalah para pendosa. Kita tahu bahwa kita adalah para pendosa, tetapi saya pikir kita tidak mengganggu kehormatan Nabi Penutup (saw).  Kita adalah para pendosa, tetapi manusia yang paling mulia adalah Sang Nabi Penutup (saw), (Mawlana Syekh berdiri lalu duduk kembali) dan kita berharap bahwa beliau akan memberikan syafaatnya bagi para pengikutnya yang lemah!

Wahai Tuhan kami!  Kami tidak menyukai orang-orang yang salah, dan fitnah itu akan menjadi akhir dari zaman ini.  Begitu banyak fitnah yang muncul, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi Penutup (saw), begitu banyak hal-hal palsu yang muncul menentang Islam sejati dari para pengikut Setan.  Mereka akan datang menentang posisi mansyuur (yang mendapat Dukungan Ilahi) dan mereka akan mengatakan, “Ini salah, itu benar.”   Akhbathu ‘n-naas, orang-orang yang sangat kotor, yang mengikuti ego mereka, heh?  Ego itu mengikuti Setan.

Wahai Tuhan kami!  Jagalah kami agar tidak terjatuh dalam perangkap Setan.  Setan berusaha sejak zamannya Nabi Penutup (saw) hingga akhir zaman, mengatakan, “Aku tidak akan membiarkan umatmu mengikutimu, tetapi aku akan membuat umatmu mengikutiku, khususnya di akhir zamanmu.”  Setan telah melakukan yang terburuk untuk membuat fitnah besar melalui Islam, mengapa? Sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Penutup (saw), “Akan ada 73 golongan.” Beliau (saw) memberi peringatan kepada umatnya, “Wahai manusia!  Ikutilah jalan yang benar, karena ada begitu banyak jalan yang akan muncul dan setiap orang akan mengatakan, ‘Ikutilah jalan kami, ikutilah jalan kami,’ tetapi mereka membawa kalian ke dalam perangkap mereka. Mereka semua akan terjatuh dari jembatan Shirath.”  Semoga Allah mengampuni kita.

Wahai manusia!  Apa yang kami katakan adalah tidak mudah, karena hari Kamis (atau Rabu malam) adalah hari kelahiran Nabi Penutup (saw), sebuah perayaan menentang gagasan yang salah akan terjadi di Bumi dan begitu pula di Langit.  Seluruh Langit akan dihiasi dengan dekorasi yang begitu rupa yang belum pernah muncul sebelumnya, untuk merayakan “Malam Kelahiran Nabi Penutup (saw)!” (Mawlana Syekh berdiri). Yaa Muhammad!! Yaa Allah!! (Mawlana Syekh duduk kembali).

Seluruh malaikat, seluruh Muslim sejati, ruh mereka bernyanyi, jiwa sejati mereka bernyanyi, yaa Muhammad, Dost Muhammad canım pek sever seni.  Ribuan dan ribuan nasyid yang indah dilantunkan di Langit; malam itu akan menjadi malam perayaan di Langit, untuk Mukmin sejati yang hatinya penuh dengan kecintaan pada Sayyidina Muhammad!! (Mawlana Syekh berdiri dan duduk kembali.)  Oleh sebab itu, seluruh Muslim selama berabad-abad, mereka menyanyi dan melantunkan,

Huuuuu Huuuu Huuuuu Huuuuu Huuuuuu Huuuuuu

Huuuuu Huuuu Huuuuu Huuuuu Huuuuuu Huuuuuu Huuuu yaa Muhammad

Huu Huuu Huuuu Huuu Huuuuu Hu Huuu Hu Huuu Hu Huuuu Huuuu Hu Huuuuuu.

Fatihah.

Dari Samudra yang Tak Bertepi, apa yang kita katakan adalah sebagai takzim, penghormatan kepada Nabi Penutup (saw), dan itu lebih kecil daripada sebuah atom!

Huu Huuuu Huuuu Huuuuu Huuuu Huuuu.

Wahai para malaikat, bawalah mereka pergi, mereka yang penuh kedengkian, yang membenci Nabi Penutup (saw); Nabi yang paling dicintai di Hadirat Ilahi!  Bawalah mereka pergi atau bawalah mereka pada jalannya.

Fatihah.

(43 menit) (535)

Alhamdulillah.

(Mawlana Syekh berbicara dengan Hajjah Naziha di telepon.)

 

Advertisements

Perlunya Latihan untuk Menghindari Perdebatan

36471655_1734014739986205_925039254369730560_n

Tarekat kita adalah mengenai adab.  Setiap orang harus mempelajari adab agar ia menjadi orang yang baik.  Manusia bisa mempunyai kepribadian yang baik atau kepribadian yang buruk.  Pada awalnya, setiap orang yang tidak dilatih mempunyai akhlak yang buruk. Pada awalnya ego sangat kuat.  Untuk mempunyai akhlak yang baik, kalian harus mengambil alih kendali dari ego kalian. Jika kalian menyerahkan diri kepadanya, kalian akan mempunyai kepribadian yang buruk.  

Itulah sebabnya pada saat Allah menciptakan manusia pertama, Dia juga mengangkatnya sebagai Nabi.  Manusia pertama adalah nabi pertama, jadi ia dapat mengajari anak cucunya dengan adab dan karakter yang baik.  

Manusia memerlukan pelatihan; oleh sebab itu Allah memberi mereka orang tua yang dapat mengajarinya sejak bayi dan semasa kanak-kanak.  Tetapi pelatihan yang diberikan oleh para Nabi adalah yang terpenting. Sementara yang lain mengajarkan kalian untuk menuruti keinginan ego, para Nabi mengajarkan kita agar selamat dari keinginan ego, karena keinginannya tidak terbatas.  Ia selalu meminta dan meminta lagi, tak terbatas. Kita akan merasa lelah bila menuruti keinginannya sampai kita akan mati kelelahan. Para Nabi mengajarkan kita untuk berhenti dalam batas-batas tertentu, menjaga seseorang dari pekerjaan yang melelahkan dan tak ada habis-habisnya.  Mereka mengajarkan kita tentang tujuan hidup, dan menunjukkan tujuan akhir kita. Siapa pun yang mengikuti jalan ini, ia akan mempunyai kepribadian yang baik, karena ajaran para Nabi bertujuan untuk melatih adab yang baik kepada semua orang.

Sekarang para Nabi telah tiada, namun para penerus mereka dapat ditemukan jika orang mencarinya.  Mereka mengajarkan manusia untuk menyelamatkan diri dari serangan ego mereka.

Sekarang, salah satu adab yang baik adalah untuk mendengar dan melakukan perbuatan yang sesuai dengannya.  Inilah pengobatan yang perlu diambil.

Seseorang yang sakit tidak akan meninggalkan obatnya di meja dan mengabaikannya.  Adab adalah melakukan sesuatu. Mendengarkan setiap orang yang berbicara kepada kalian adalah salah satu adab yang baik.  Sebaliknya, berdebat adalah adab yang buruk. Jika kalian berada pada pihak yang benar 100%, tetap saja jangan berdebat. Ini adalah hal yang terlarang.  Jika kalian melihat bahwa seseorang bertanya untuk mengetahui mana yang lebih baik, maka kalian dapat menjawabnya; di situ ada celah untuk masuk. Tetapi jika kalian melihat bahwa ia hanya ingin berdebat, kalian harus meninggalkannya, karena ia telah menutup dirinya.  Katakan saja padanya, “Oh begitu?” Berdebat sama sekali tidak bermanfaat, ia hanya akan menimbulkan permusuhan di antara manusia. Inilah makna dari ayat, “lakum diinukum waliyadiin, untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.”

Perdebatan memadamkan cahaya iman di dalam hati kita.  Barangkali ada kata-kata yang terucap di mana kalian tidak pernah memikirkannya sebelumnya dan menyebabkan Iman kalian menurun.  Adab terbaik adalah tidak berdebat dan tidak mengucapkan, “Tidak, itu adalah suatu kebodohan.”

Tidak ada persahabatan setelah perdebatan.  Hati menjadi dingin. Grandsyekh kita berkata bahwa Grandsyekhnya tidak pernah menyangkal kata-kata seseorang, bahkan di hadapan orang-orang yang tidak berbicara dengan baik.   Tetapi bila beliau bicara di dalam suatu majelis, beliau akan menyinggung topik tadi dan orang-orang itu dapat merasakan, “Ah, ini untukku,” sehingga di lain waktu, mereka akan mempertimbangkan kembali ucapannya.  Setiap orang ingin dihormati. Itu artinya, “Jangan menunjukkan gigi kalian seperti anjing. Manusia tersenyum!”

Mawlana Shaykh Nazim

(Mercy Oceans – from the Teachings of the Saints of the Golden Chain).

RINGKASAN SUHBAH FAJAR 28 RAMADHAN

Dr. Nour Kabbani dari catatan Grandsyaikh Nazim

 

Awliya’Allah memiliki cahaya dari Allah, yang dengan cahaya itu mereka berjalan. Dengan cahaya itu pula mereka mampu melihat apa yang terlintas maupun tersimpan dalam hati manusia.

Syaitan juga memiliki kemampuan yang sama. Syaitan tidak memiliki cahaya Ilahi, tetapi Allah SWT mengaruniakan padanya kemampuan untuk melihat dan mengetahui apa yang terlintas di hati manusia.

Perbedaan antara kemampuan Awliya’ dengan Syaitan adalah, Awliya’ juga dikaruniai pengetahuan akan hikmah munculnya niat yang timbul di hati seseorang, sedangkan syaitan tidak faham hikmahnya.

Karena itulah, Awliya’Allah terkadang membiarkan munculnya niat buruk pada orang / murid yang hadir di majelis mereka, karena mereka faham akan hikmah yang lebih dalam akan niat tersebut, misalnya mungkin untuk menguji murid yang lain, dan sebagainya.

Sedangkan syaitan tidak memahaminya. Bila ia melihat niatan baik pada hati seseorang, ia akan berusaha mencegahnya. Sebaliknya, bila ia melihat niatan buruk dalam hati seseorang, ia akan mendorongnya.

Demikianlah hati manusia pada level qalb, ditempatkan di dalamnya cahaya Awliya’ dan kegelapan Syaitani. Dan di antara keduanya, Allah SWT letakkan haqiqat (realitas) diri kita.

Hakikat Insaniyah itu yang telah Allah ciptakan dari citra / refleksi Ilahiah-Nya, berdasarkan hadits sahih di Bukhari dan Muslim:
Innallaha khalaqa Adama ‘alaa suuratih

Sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas citra-Nya.

Maksudnya sebagai refleksi Atribut dan Asma-Nya.

Ketika diri kita mencari cahaya Ilahi yaitu melalui Awliya’Allah, dan meninggalkan kegelapan syaitani, maka saat itulah perlahan2 ruh kita menjadi bercahaya, Ruh Nurani. Dan jika kita istiqomah pada jalan tersebut, maka kita akan mencapai Maqam berikutnya dari hati, yaitu Sirr qalbu. Kita akan mencapai Syarqiy tempat terbitnya cahaya Ilahi dalam diri kita.

Allah SWT berfirman:

وَاذْكُرْ فِى الْـكِتٰبِ مَرْيَمَ ۘ اِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ اَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا
wazkur fil-kitaabi maryam, izintabazat min ahlihaa makaanan syarqiyyaa

“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al-Qur’an), (yaitu) ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitulmaqdis),”
(QS. Maryam 19: Ayat 16)

* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Dengan mengasingkan diri dari “keluarga” kita, yaitu Nafs (ego), Hawa’ (keinginan2 buruk), Syaithan dan Dunia, maka kita akan mencapai Syarqiyy.

Allah SWT berfirman:

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُوْنِهِمْ حِجَابًا ۗ فَاَرْسَلْنَاۤ اِلَيْهَا رُوْحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
fattakhozat min duunihim hijaabaa, fa arsalnaaa ilaihaa ruuhanaa fa tamassala lahaa basyaron sawiyyaa

“lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.”
(QS. Maryam 19: Ayat 17)

dan ketika kita telah memasuki Maqam Sirr, maka Allah akan menurunkan hijab-Nya untuk melindungi kita dari Syaithan, Ego, Hawa dan Dunia. Keempat musuh2 kita tersebut tidak akan mampu mengakses diri kita di Maqam Sirr.

Kemudian Allah akan menurunkan ruh-Nya yaitu Awliya’Nya untuk membimbing kita di maqam ini. Grandsyaikh mengatakan bahwa Maqam Sirr ini diperuntukkan bagi Aimmah (Imam-imam) dari 40 Turuq (Tariqah2) selain Naqsybandi. Karenanya, Grandsyaikh menjelang wafatnya selalu menyeru Shah Mardan Sayyidina ‘Ali alayhissalaam, sebagai Pir, Pemimpin dari 40 Turuq, sebagai Pintu menuju Haqiqat kita. Karena kita tidak bisa menjadi Naqsybandi sebelum menjadi ke 40 Turuq lainnya.

InsyaAllah pada kesempatan berikutnya, kita akan membahas Maqam Hati berikutnya. Namun, yang lebih penting bukanlah sekedar mendengarnya, karena ego suka mendengar tanpa melakukannya.

Yang lebih penting adalah untuk memalingkan diri kita dari keburukan 4 musuh kita, mengarahkan wajah kita ke cahaya Ilahi yang dibawa Awliya’Allah.

Itulah makna doa yang diajarkan Nabi SAW:

Allahumma arina l-haqqa haqqan warzuqna t-tibaa’ah, wa arina l-bathila bathilan, warzuqna j-tinaabah

Yaa Allah tunjukkanlah bahwa yang Haqq itu adalah Haqq dan karuniakan kami untuk mengikutinya, dan tunjukkan bahwa yang bathil adalah bathil, dan karuniakan kami untuk menjauhinya.

Wallahu a’lam bissawab, wa min Allah at Taufiq, Alfatihah.

Catatan Ringkas SUHBAH ZUHUR 28 RAMADAN 1439H

 

Dr. Nur Kabbani

 

Penyakit di zaman ini adalah Depresi. Setiap orang memiliki depresi. Dan obat untuk depresi adalah Dzikrullah. Jangan buang waktumu dengan pergi ke Psikiater untuk mengobati depresimu. Mereka hanya memberikan obat yang membuatmu tidur dan tidak sadar. Obat terbaik untuk depresi adalah Dzikrullah. Karena itu kita datang ke majelis ini, untuk memperoleh Hudhur, ketenangan. Dan hudhur hanya dapat diperoleh dengan dzikrullah, seperti yang disebutkan dalam Alquran untuk orang2 yang menginginkan tuma’ninah, ketenangan, obatnya adalah dzikrullah.

Allah SWT berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
allaziina aamanuu wa tathma`innu quluubuhum bizikrillaah, alaa bizikrillaahi tathma`innul-quluub

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 28)

Juga dalam surat Jumu’ah, ketika kita diperintahkan Allah untuk berlari menuju dzikrullah.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۗ ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu izaa nuudiya lish-sholaati miy yaumil-jumu’ati fas’au ilaa zikrillaahi wa zarul baii’, zaalikum khoirul lakum ing kuntum ta’lamuun

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
(QS. Al-Jumu’ah 62: Ayat 9)

Jadi, ketika kita ingin meninggalkan keadaan sekeliling kita yang membuat depresi, kita ke masjid, untuk berlari menuju Hadirat Allah di Masjid itu, bukan kepada orang2 yang berada di masjid itu.

Tiap kali kita merasa depresi, lakukan dzikrullah. Kalian tidak akan menemukan kepuasan dengan berteriak dan marah. Namun berdzikirlah. Datanglah ke masjid, dengarkan para Syuyukh, untuk bisa pulang dalam keadaan bahagia. Kebahagiaan adalah sesuatu yang hilang di dunia saat ini. Qalbu kita berada di Tangan Allah. Ia berkuasa untuk membalikkan hati kita dari situasi depresi ke situasi bahagia.

 

Madad yaa Sayyidii, Madad yaa Mawlana…

Mawlana Grandsyaikh berkata, Ketika Yaqin bertambah, Raahah, Ketenangan pun bertambah.

Allah SWT berfirman:

… وَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗ …

…, wa may yu`mim billaahi yahdi qolbah,…

“…; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. ….”
(QS. At-Taghabun 64: Ayat 11)

Haadii atau petunjuk itu muncul sebagai Huzhur, ketenangan. “Jika kalian yaqin terhadap Allah, Allah akan memberikan petunjuk padamu menuju kebahagiaan dan ketenangan.”

Ketika seseorang beriman kepada Allah SWT, dan imannya mencapai level yaqin, Tuma’ninah akan mewujud di hatinya, tidak ada rasa khawatir lagi dalam hatinya. Seandainya seluruh dunia dilanda api, “Terserah Engkau, wahai Tuhanku”. Seandainya seluruh dunia diliputi banjir, “Terserah Engkau, wahai Tuhanku!”

Ketika Iman mencapai Yaqin, Sakinah ketenangan akan datang. Sakinah dari kata Sakan yang bermakna rumah, kalian akan merasa berada di rumah sendiri, merasa aman dan tentram, yaitu ketika qalbu kalian hanya berisi Allah SWT.

Sekarang, di rumah kalian, kalian memasang gembok di setiap pintu, bahkan jeruji. Tetapi, kalian lupa memasang gembok di hati kalian untuk mencegah masuknya syaitan. Akibatnya, segala bentuk kekhawatiran dan depresi datang.

Ketika Iman meliputi segenap qalbu, tak ada lagi syaitan tertinggal dalam qalbu. Tak ada lagi syaitan yang membuatmu ragu akan Tuhan. Ketika Iman kita bertambah hingga tiada lagi yang tersisa dalam hati kecuali Tuhan, bahkan seandainya seluruh dunia diliputi api, kita bersikap “Hasbiyallahu” Cukup Allah sebagai Penolong.

Lihatlah teladan Sayyidina Ibrahim ‘alayhissalaam yang menggantungkan dirinya pada Allah semata, bahkan ketika Jibril dan Malaikat2 lainnya telah menawarkan pertolongan pada beliau.

Inilah iman yang kita cari, iman orang2 di shaf terdepan. Bahkan seandainya mereka dilempar ke api, mereka tetap tenang, tiada kekhawatiran. Untuk itulah, kita berada di sini sekarang, untuk menghilangkan keresahan kita dengan meningkatkan iman kita.

Jadi, bagaimana kita dapat meningkatkan Iman kita?

Mawlana mengatakan, bahwa jika Allah SWT adalah Ia Yang Menggerakkan diri kalian pada arah perjalanan kalian, maka tiada keraguan bahwa pastilah Dia tengah menunjukkan kita pada jalan Kebaikan. Jadi, mengapa kita mesti khawatir? Inilah Islam, untuk berserah diri kepada Kehendak Allah SWT. Jika kita memahami bahwa Allah SWT tengah menunjukkan kita menuju tujuan kita, maka tidak perlu ada keresahan dalam hati kita.

Orang2 yang memiliki iman yang lemah, mereka berlarian mencari berbagai hal yang berbeda siang dan malam. Seperti diri kita yang mengejar dunia siang dan malam tanpa hasil.

Mengapa? Karena orang2 ini bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya mereka cari. Ketika kalian bekerja, kalian mengejar begitu banyak target.

Sebenarnyalah yang mereka cari adalah Tauhid, mencari Allah SWT saja. Banyak orang mencari uang, padahal semestinya mereka hanya mencari Allah SWT.

Begitu banyak Muslim mereka tidak tahu apa yang mesti mereka cari. Semestinya mereka berkata, “Aamantu billahi”, kami mencari Allah.

Ketika mereka mencari sesuatu selain Allah, syayathin, setan2 akan bersemayam dalam hati mereka. Dan mereka pun menjadi resah dan khawatir. Namun, seandainya mereka hanya mencari Allah SWT, mereka akan tenang tanpa rasa khawatir. Seperti Sayyidina Ibrahim a.s. Karena itulah Nabi kita Muhammad SAW diperintahkan untuk mengikuti Millata Ibraahim, Jalan Nabi Ibrahim alayhissalaam.

Kita harus meminta Tuhan kita. Ketika kita mencapai Tuhan kita, kita mendapatkan segalanya. Karena setiap permintaan manusia, jawabannya ada pada Allah SWT. Inilah Tauhid, mintalah hanya Allah SWT! Karena apapun yang kalian perlukan ada pada-Nya! Sayangnya Muslim saat ini justru mencari penolong2 yang lain, tuhan jadi2an.

Grandsyaikh berkata, mintalah kalian Allah SWT: inilah Tauhid! Mereka yang mendapatkannya, mendapatkan Hadirat Ilahiah Allah, mereka mendapatkan semuanya.

Sebaliknya, mereka yang mendapatkan sesuatu selain Allah, pada hakikatnya, mereka tidak mendapatkan apa2. Kalian punya uang, tetapi uang itu ada di Bank, atau di pasar saham, dlsb. Apa yang kalian pegang dengan tangan kalian? Tidak ada! Namun, jika kalian memiliki Allah SWT bersama kalian, kalian memiliki segalanya di ujung jari kalian. Kalian dapat membelah laut menjadi gunung. Atau, seperti Sayyidina ‘Isa ‘alayhissalaam yang dapat membuat burung dari tanah liat. Jika kalian bersama Allah SWT, segala sesuatunya akan bersama kalian. Apapun yang kalian miliki selain Allah, akan pergi. Bahkan seandainya kalian memiliki seluruh dunia, atau 10x dunia, suatu waktu kalian mesti memberi salam perpisahan pada mereka. Apa yang tidak akan berpisah dari kalian adalah jika kalian bersama Tuhan kalian.

Jadi, berusahalah untuk mencapai Tauhid, Tauhid yang sejati. Jangan ikuti badut2 yang mengajarkan kalian tauhid palsu (kaum Wahabi Salafi, penerj.) yang sebenarnya hanya ingin mengajak kalian mengikuti mereka, menjadikan mereka sebagai tuhan2 palsu kalian.

Suatu waktu seseorang mengeluh dan menangis kepada Sayyidina Jalaluddin Rumi. Beliau pun bertanya padanya, apa yang terjadi. Orang tersebut berkata, “Wahai Syaikhku, aku kehilangan anakku”. Sayyidina Rumi pun berkata, “Lihatlah orang ini yang menangis karena kehilangan anakknya, padahal manusia telah kehilangan Tuhan mereka, namun mereka tidak mencari-Nya. Carilah Tuhanmu agar Ia dapat mengembalikan anakmu, sebagaimana Ia mengembalikan Yusuf alayhissalaam kepada ayahandanya, Ya’qub alayhissalaam.” Ketika Ya’qub alayhissalaam berkata Fa sabrun jamiil, Wallahu l-musta’aan.

Allah SWT berfirman:

وَجَآءُوْ عَلٰى قَمِيـْصِهٖ بِدَمٍ كَذِبٍ ۗ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَـكُمْ اَنْفُسُكُمْ اَمْرًا ۗ فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ ۗ وَاللّٰهُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ
wa jaaa`uu ‘alaa qomiishihii bidaming kazib, qoola bal sawwalat lakum anfusukum amroo, fa shobrun jamiil, wallohul-musta’aanu ‘alaa maa tashifuun

“Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Ya’qub) berkata, Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 18)

Inilah contoh orang2 yang berada pada saf terdepan ummat ini.

Utlub Rabbak
Carilah Tuhanmu!

Mawlana Syaikh Nazim biasa berdzikir “Allahu Rabbii, Kafaanii Rabbal”
“Allah Tuhanku, Ia mencukupi semua kebutuhan”.

Carilah iman seperti itu. Semoga Allah SWT mengaruniakan kita Iman dan Yaqin seperti itu. Dialah Yang Awal sebelum segala sesuatu, dan Dialah Yang Akhir setelah segala sesuatu.

Marilah kita mengejar Tauhid sejati, Laa ilaaha illAllah. Ketika kalian bersama-Nya, dan tidak bersama yang selain-Nya, kalian akan mendapatkan segalanya. Berusahalah mencapai Yaqin seperti itu.

Ketika Iman dan Yaqin kita bertambah, kebahagiaan dan ketentraman kita pun bertambah. Dan kita telah memberikan contoh Sayyidina Ibrahim dan Sayyidina Ya’qub alayhimassalam.

Semoga Allah menyelamatkan kita dengan Iman dan jalan terbaik menambah keimanan adalah dengan Dzikrullah, dan sebaik2 Dzikrullah adalah Laa ilaaha illAllah.

Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai Muwahhidin sejati, bukan seperti orang2 palsu itu.

Wa min Allah At Taufiq, Alfatihah

Adab dalam Hadirat Syekh

Mawlana Syekh Hisham Kabbani

dari buku At the Feet of My Master: Sufi Guidance for the 21st Century

 

Madad yaa Sulthan al-Awliya, Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani
Madad yaa Sulthan al-Awliya, Syekh `Abd Allaah al-Fa’iz ad-Daghestaani

Kita memulai dengan topik ini karena ini sangat penting bagi perkembangan spiritual kita. Berbicara dalam kehadiran fisik Mawlana sangat berbeda dengan berbicara ketika kalian berada jauh darinya, ketika kalian merasa lebih bebas. Berada dalam kehadiran Mawlana bagaikan berenang di samudra di mana kalian bisa saja tenggelam. Jika kalian berenang di sebuah danau atau sungai yang kecil, di sana tidak ada arus yang kuat sehingga kalian dapat menyelamatkan diri kalian. Dapat pula kalian katakan bahwa berbicara di hadapan Mawlana bagaikan berbicara di hadapan singa yang sedang mengaum di mana kalian tidak boleh membuat kesalahan sekecil apa pun, sebab ia bisa menerkam kalian. Tetapi bila kalian jauh dari samudra atau singa itu, setiap kali kalian melakukan suatu hal yang tidak sempurna, kalian masih aman.

Itulah sebabnya sangat penting untuk mengetahui tentang adab atau disiplin yang benar. Berada dalam hadirat Mawlana Syekh Nazim, semoga Allah memanjangkan umurnya, tidak seperti berada di sekitar syekh biasa. Ada banyak ulama dan syekh biasa yang dapat kalian temui di seluruh dunia.

Nabi (saw) bersabda, “Para ulama umatku seperti nabi-nabi Bani Israil.”
Itu artinya ilmu tentang al-Qur’an suci dan hadits membuat para ulama tersebut mewarisi rahasia spiritual dari Nabi (saw). Namun demikian para Awliyaullah sama sekali berbeda.

Wali-wali-Ku berada di bawah Kubah-Ku, tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Aku.
Alaa inna awliyaullaahi la khawfun `alayhim wa laa hum yahzanuun.
Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Surat Yunus, 10:62)

Allah (swt) mengatakan di sini, sudah tentu, para awliyaullah tidak mempunya rasa takut atau sedih karena Dia melindungi mereka! Awliyaullah sudah sangat mapan, dan mereka terdiri dari dua tipe: awliya biasa, yang secara bertahap mengalami kemajuan dalam ilmu-ilmu Ilahiah; dan mereka yang berada di ujung kesempurnaan, yaitu Sulthan al-Awliya yang hanya ada seorang pada setiap abad. Jadi ada protokol atau perilaku yang harus kita ikuti agar tidak membuat kesalahan serius.

Saya akan memberikan sebuah contoh. Di mana pun kalian berada di dunia ini, jika kalian hanya berpikir tentang melakukan sebuah dosa tetapi kalian tidak melakukannya, hal itu tidak dituliskan dalam catatan amal kalian di Loh Mahfuz. Berbeda halnya dengan Mekah atau Madinah, jika kalian hanya berpikir untuk berbuat dosa, itu sudah dituliskan dalam catatan amal kalian. Jadi itu sungguh berbeda!
Dalam hadirat Syekh, niat saja sudah dituliskan, apakah itu baik atau buruk, jadi ini berbahaya. Ketika kita berada di sini, jika kita mempunyai niat buruk terhadap satu sama lain, itu sudah tertulis. Hal itu seolah-olah kalian telah memberi air beracun kepada syekh. Kita datang ke sini untuk dibersihkan, bukan untuk tertular penyakit. Jadi, pertama kita harus menegakkan adab, kita harus menjaga adab terhadap syekh dan juga terhadap sesama pengunjung.

Syekh dapat membaca hati kalian dan beliau tidak ingin melihat ada monster di hadapannya. Meskipun beliau tidak menunjukannya, beliau tidak senang bila ada seseorang yang kondisinya seperti itu. Beliau senang melihat seseorang yang seperi orang sedang kasmaran. Tentu saja, setiap orang yang datang ke sini adalah para pecinta syekh, tetapi kadang-kadang ketidakmurnian kita mendorong kita berbuat kesalahan dan menciptakan masalah.


Kedekatan dengan Syekh

Mengenai kedekatan dengan syekh, banyak orang yang berpikir–karena mereka melihat syekh setiap hari atau duduk bersamanya–bahwa mereka lebih baik atau lebih maju dalam terekat daripada mereka yang mengunjungi Mawlana setahun sekali. Hal ini tidaklah benar.

Nabi (saw) bersabda, “Rubba asy `ats aghbar law aqsama `alaa Allaahi laa-abarrah
Bisa saja seseorang yang berambut kusut dan berdebu ketika ia berdoa kepada Allah memohon sesuatu, Allah segera mengabulkannya. (Sahih Muslim 2622)

Di masa Nabi (saw), seseorang bisa menempuh perjalanan selama sebulan dengan berjalan kaki atau mengendarai unta untuk bertemu beliau. Ketika mereka sampai, tubuh mereka kotor dan berdebu. Lihatlah bagaimana tanggapan Nabi (saw). Itu artinya orang yang telah menempuh perjalanan jauh, menempuh perjalanan yang sulit dan datang hanya untuk bertemu syekhnya, kemudian dengan berat hati mereka harus kembali lagi, jika mereka berdoa kepada Allah, Allah akan segera mengabulkannya.

Bagi mereka yang datang berkunjung namun harus kembali, jangan berpikir, “Oh, jika saja aku bisa tinggal di sini.” Tidak, seratus kali lebih baik jika kalian datang dan pergi, daripada kalian tinggal di tempat yang sama dan berpikir bahwa kalian begitu dekat dengan Syekh kemudian kehilangan penghormatan kalian. Karena banyak orang yang ketika mereka sangat dekat, mereka kehilangan penghormatan mereka dan tidak lagi menjaga adab. Kita belajar dari hadits ini bahwa lebih baik untuk tinggal di tempat yang jauh dan kemudian datang sekali-sekali, karena kalian akan memperoleh pahala yang lebih besar.

Sebagai contoh, Nabi (saw) bersabda di dalam hadits bahwa barang siapa yang datang ke masjid untuk shalat, Allah akan memberi pahala 10 hasanat (kebaikan) dan menghilangkan 1 sayyi’at (keburukan) untuk setiap langkahnya. Jika kalian tinggal satu blok dari syekh, kemudian kalian datang, shalat dan kembali lagi, ada berapa langkah jarak yang ditempuh? Satu, dua atau tiga ribu langkah? Mari hitung ada berapa hasanat yang akan kalian dapatkan karena untuk setiap langkah kalian akan mendapat 10 hasanat. Jadi jika kalian tinggal 10.000 kaki jauhnya, maksimum kalian akan mendapat 100.000 hasanat.

Namun demikian banyak orang yang datang dari segala penjuru dunia, dari Timur Jauh, dari Barat Jauh, datang dari jarak 10.000 mil untuk sampai ke Siprus. Sekarang kalikan pahalanya untuk 10.000 mil. Apakah lebih baik memperoleh 100.000 hasanat jika kalian tinggal 1000 kaki jauhnya atau mendapat 450.000.000 hasanat jika kalian tinggal 10.000 mil jauhnya. Ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, namun ini adalah hadits dari Sayyidina Muhammad (saw).

Kita ingin berada dekat dengan syekh, tetapi ada adabnya dan ini adalah pelajaran pertama. Kita akan melanjutkan tentang pentingnya adab yang harus kita ikuti. Jika kita tidak dapat mengikuti adab-adab ini, maka kita tidak akan dapat meraih apa yang kita cari. Kita tidak datang ke sini untuk pergi ke pasar, kita datang ke sini untuk mencari pemurnian spiritual melalui suatu pengasingan dari dunia fisik. Kita harus menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an, Hadits, dalam belajar, dan menjelaskan satu sama lain, dan bertanya kepada mereka yang lebih tinggi ilmunya tentang apa-apa yang perlu kita ketahui. Jangan merasa malu untuk bertanya kepada orang lain.

Nasihat kami untuk setiap orang, sebagaimana untuk diri saya sendiri, adalah agar selalu menjaga adab, dan khususnya adab untuk mencatat. Ketika saya berumur 20an, ketika kami pergi menemui Grandsyekh, kami selalu membawa buku catatan dan alat perekam. Pada saat itu kami hanya mempunyai alat perekam yang besar yang kami letakkan di rumah Grandsyekh, karena beliau biasanya memberi shuhba tiga sampai empat kali sehari dan dari catatan Grandsyekh, Mawlana Syekh Nazim memberi shuhba setiap bakda Shalat Subuh dan Ashar. Grandsyekh biasa memberi shuhba sekali dalam dua jam, sepanjang masih ada tamu yang datang dan pergi, beliau akan berbicara, jadi kalian tidak berhenti untuk mencatat.

Sekarang orang-orang tidak lagi mencatat ketika mereka hadir dalam shuhba Mawlana Syekh, dan itu melanggar adab. Alat perekam ini sangat berharga, tetapi ia tidak menunjukkan dedikasi murid yang menggunakannya untuk merekam shuhba. Jika kalian kuliah di universitas, apakah kalian merekam pelajaran dari dosennya? Jika kalian adalah murid yang serius, kalian akan mencatat, menunjukkan hormat kepada dosen dan pada ilmunya.

Ketika syekh berbicara dan beliau melihat kalian mencatat, beliau menghitung dengan matanya. Bila kita mencatat, beliau akan membukakan lebih banyak rahasia. Tetapi dengan alat perekam hal itu tidak sama, alat perekam tidak akan menciptakan perasaan yang intim antara guru dan murid, tidak seperti dengan catatan. Ketika ada perasaan, maka tercipta hubungan. Ketika guru melihat muridnya mencatat, ia akan membuka lebih banyak lagi ilmunya.

Jadi, sekarang kita kehilangan salah satu adab yang paling penting, karena Allah telah menyebutkannya kepada Sayyidina Muhammad (saw) dalam wahyu pertama, “Iqra!” Perintah suci, “Bacalah!” Nabi (saw) bertanya pada malaikat Jibril (as), “Apa yang harus kubaca? Aku tidak tahu.” Nabi (saw) sebenarnya tahu, tetapi karena adabnya yang luhur, beliau (saw) bertanya, bagian mana yang engkau ingin aku membacanya?”
Membaca adalah dari sesuatu yang tertulis. Untuk mengatakan “iqra” artinya ada sesuatu yang tertulis di depan Nabi (saw). “Ya Muhammad (saw), bacalah dari situ.” Itulah sebabnya turunnya wahyu, “Iqra bismi rabbik alladzi khalaq” “Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang menciptakan (semua yang ada).” (Surat al-Alaq, 96:1)

Sekarang hubungan antara guru dan murid sudah hilang, jadi bagaimana guru akan memberikan rahasianya pada kalian? Ajaran Mawlana Syekh Nazim yang dulu sepenuhnya berbeda dengan yang sekarang. Ajaran yang sekarang berdasarkan ego, ego dan ego. Ceramah beliau yang terkini bahkan tidak menyebutkan tentang rahasia spiritualitas, apa yang dilihat oleh orang-orang arif dalam perjalanannya menuju ke Hadirat Ilahi, hubungan muraqabah antara guru dan muridnya, bagaimana syekh membawa muridnya ke Hadirat Ilahi, atau apa yang akan dihadapi oleh murid dalam perjalanan yang luar biasa itu. Saya tidak lagi melihat ajaran-ajaran ini dari Mawlana Syekh, karena tidak ada yang menaruh perhatian penting dengan mencacat. Alat perekam ini memang bermanfaat, tetapi dalam catatan kalian dapat menggarisbawahi hal-hal yang penting, kalian dapat segera mencari bagian spesifik dari shuhba tersebut; dan dengan mencatat juga membantu membentuk hubungan mental karena kalian menggunakan lebih banyak indera kalian (pendengaran, sentuhan, penglihatan). Jadi bawalah selalu buku catatan dan pena.

Allah (swt) berfiman bahwa malaikat di sisi kanan dan kiri setiap manusia mempunyai buku catatan dan mereka merekam untuk kalian. Allah berkata pada mereka, “Bawalah sebuah buku catatan, suhuf.” Itu adalah sebuah tanda bagi kita. Kalian harus membuat catatan dari apa yang dikatakan oleh syekh setiap hari, dan dari apa yang telah kalian capai. Itu adalah salah satu adab. Ketika syekh melihat hal itu dari murid-muridnya, beliau akan mulai membuka lebih banyak dari ilmu-ilmu Ilahiah. Menjaga adab ini akan mendatangkan lebih banyak ilmu bagi masa depan kita di Jalan ini.

Semoga Allah mengampuni kita, semoga Allah memberkahi kita, dan semoga Dia mengaruniai kita manfaat dari cinta dan penghormatan yang kita tunjukkan pada syekh kita.


Sebuah Peringatan bagi para “Perwakilan Syekh”

Sangat penting untuk diketahui bahwa dalam setiap pertemuan, baik di Argentina atau di mana pun, kita harus mengerti bahwa tidak ada seorang pun yang menjadi syekh, kecuali Mawlana Syekh Nazim, dan kita semua adalah murid-murid di kaki beliau. Betapa pun tingginya maqam yang telah diraih oleh para perwakilan tersebut ia harus tahu bahwa dirinya adalah seekor semut, sedangkan syekh adalah gajahnya. Seorang wakil atau siapa pun yang menganggap dirinya sebagai deputi atau khalifah mustahil menjadi sesuatu. Kita bukanlah apa-apa di pintunya Mawlana Syekh! Beliau dapat menghancurkan kita kapan saja, khususnya mereka yang memberi bay’at atas nama beliau. Mereka harus memperjelas bahwa bay’at tersebut adalah kepada Mawlana Syekh Nazim.

Saya melihat banyak orang di berbagai zawiyah di seluruh dunia. Ketika saya tanya, “Siapa Syekhmu?” Mereka menjawab, “Oh, Syekhku adalah orang ini.” Bagaimana mungkin orang itu adalah syekhnya ketika ia juga adalah murid Mawlana Syekh? Syekh kalian bukan orang ini–Syekh kalian adalah Syekh Nazim. Ayah kalian adalah Syekh Nazim, ibu kalian adalah Syekh Nazim, dan saudara kalian adalah Syekh Nazim. Kalian memberi bay’at kepadanya dan peranan kalian selesai, sekarang hubungan orang itu secara langsung adalah kepada syekh. Pastikan bahwa kalian tetap menghormati perwakilan tersebut, tetapi arahkan cinta kalian, niat dan pengorbanan kalian kepada syekh dari Tarekat Naqsybandi, yaitu Mawlana Syekh Nazim.

wa min Allah at-tawfiq, bi hurmatil habib, wa bi hurmatil Fatihah.

Kita Berenang dalam Rahmat Allah

Seri Ramadhan 2018

Dr. Nour Hisham Kabbani

Mawlana Shaykh Nazim’s Notebook Series

22 Mei 2018 Fenton, Michigan

Shuhbah Subuh

 

Allah (swt) adalah ar-Rahmaan, ar-Rahiim, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.  Grandsyekh Sulthanul Awliya Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (qs), semoga Allah (swt) memberkahi ruhnya dan mengangkat derajatnya setinggi-tingginya di Surga dan senantiasa menjadikan kita berada di bawah bimbingan dan dukungannya.  Beliau selalu memulai shuhbah-nya dalam bahasa Inggris dengan menyebut Nama Allah (swt) Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kita mengucapkan nama-nama ini, tetapi apa maknanya?  Kita mengatakan bahwa Allah (swt) adalah Maha Pengasih, kita mengatakan bahwa Allah (swt) Maha Penyayang, kita katakan bahwa Dia adalah ar-Rahmaan, kita katakan bahwa Dia adalah ar-Rahiim; itu artinya Dia mempunyai rahmat dan itu artinya Dia mempunyai kasih sayang.  Kasih sayang seperti apa?

Ketika saya membaca dari catatan shuhba Mawlana Syekh, ini adalah samudra ilmu yang sangat-sangat dalam yang beliau selami dan beliau berikan beberapa permatanya bagi kita.  Apa yang akan kalian dengar, belum pernah kalian dengar sebelumnya dan kalian tidak akan mendengarnya dari yang lain, dari para imam atau pendeta atau biarawan yang berada di luar sana, atau dari para rabi, atau guru yang berada di luar sana.  Kalian tidak akan mendengar hal semacam ini, karena mereka tidak menyelami Samudra Rahmat Allah (swt), tetapi Grandsyekh kita, Sulthanul Awliya, beliau menyelam ke dalam Samudra Allah (swt) dan beliau membawakan segelintir permata bagi kita, karena yang segelintir itu merupakan samudra bagi kita.  Beliau berbicara tentang Rahmatullah.

Kita mengatakan bahwa Allah adalah ar-Rahmaan, Yang Maha Pengasih, jadi Grandsyekh, Sulthanul Awliya Syekh Nazim al-Haqqani (qs), beliau mengatakan, “Rahmatullaahi waasi`ah, Rahmat Allah waasi`ah.”  Waasi`ah artinya ia dapat menampung segala sesuatu di dalamnya.  Segala sesuatu dapat masuk ke dalamnya, seperti misalnya ketika kalian masuk ke dalam lift, mereka katakan kapasitasnya 15 orang, itu artinya 15 orang bisa masuk ke dalamnya.  Tetapi kalian bisa masuk ke dalam lift yang lebih besar, misalnya di Sears Tower, sekarang mereka menyebutnya Menara Willis yang kapasitas liftnya 50. Kalian bisa juga mendapati lift yang kapasitasnya 100, beberapa pesawat kapasitasnya 200, beberapa aula kapasitasnya 500 dan ada juga yang 5000, beberapa masjid kapasitasnya 50.000, ada juga yang kapasitasnya 250.000.  Kapasitas Masjidil Haram, kita katakan mencapai 1 juta orang. Jadi semuanya ada kapasitasnya, apa artinya? Artinya semuanya dapat masuk ke dalamnya.

Lalu bagaimana dengan kapasitas Rahmatullah?  Seberapa besar kapasitas rahmat dari Sang Pencipta?  Grandsyekh mengatakan “Waasi`ah”, sangat luas.  Ada apa di dalamnya?  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, “Wa rahmati waasi`ah” Rahmat-Ku mencakup segalanya, artinya kapasitas dari Rahmat Allah–tentu saja tidak ada batasnya, kita tidak dapat membatasi kapasitas Rahmat-Nya, tetapi agar kita dapat memahaminya, apa yang Dia katakan?  4 huruf: Rahmat-Ku, waasi`ah, mencakup, kullu syay’in, segalanya.  Apakah yang dimaksud segalanya?  Dapatkah kalian memberi batasan untuk segalanya?  Apakah kalian dapat mengatakan bahwa orang ini bukan bagian dari segalanya?  Dapatkah kalian mengatakan bahwa wanita ini bukan bagian dari segalanya? Dapatkah kalian mengatakan bahwa orang Kristen ini bukan bagian dari segalanya? Dapatkah kalian mengatakan bahwa burung-burung ini bukan bagian dari segalanya?  Dapatkah kalian mengatakan bahwa malaikat ini bukan bagian dari segalanya? Dapatkah kalian mengatakan bahwa orang-orang non Mukmin ini, manusia-manusia yang ada di depan kalian bukan bagian dari segalanya?

Allah (swt) berfirman bahwa, “Rahmat-Ku, kapasitas dari Rahmat-Ku, artinya apa yang bisa masuk ke dalamnya mencakup segalanya.  Segalanya!” Jadi pada dasarnya kita berenang dalam Rahmat Allah (swt). Kita berada dalam Rahmat Allah (swt). Kita bergerak dalam Rahmat Allah (swt).  Kita dikelilingi oleh Rahmat Allah (swt).

Dan Grandsyekh mengatakan bahwa dosa-dosa dari orang-orang di dalam rahmat tersebut tidak akan mampu mengotori rahmat tersebut.  Kita berenang di samudra, kita bergerak di Samudra Rahmat dari Sang Pencipta. Dan Grandsyekh mengatakan bahwa dosa-dosa semua orang yang berada di dalam Samudra Rahmat itu, sebagaimana Allah berfirman bahwa, “Segala sesuatu berada di dalam Rahmat-Ku,” Grandsyekh mengatakan bahwa dosa-dosa hamba-hamba tidak akan pernah mengalahkan Rahmat Allah.  Dosa-dosa manusia tidak akan pernah melampaui rahmat Tuhan mereka. Sebagai contoh, misalnya kalian mempunyai limbah yang masuk ke dalam samudra, samudra itu tidak akan berubah menjadi limbah, tidak, justru samudra itu akan membersihkan limbah tersebut. Dan samudra yang membersihkan limbah tersebut bahkan tidak sampai setetesnya dari Samudra al-Haqq (swt), di dalam Samudra-Nya Allah (swt).  Samudra yang membersihkan semua limbah tersebut tidak sampai setetes dari Samudra Rahmat-Nya Allah (swt). Oleh sebab itu dosa-dosa manusia tidak akan pernah mengalahkan atau melampaui atau mengotori Samudra Rahmat yang dimiliki oleh Allah (swt). Oleh sebab itu rahmat Allah akan membersihkan semua dosa manusia.

Sebagian orang akan mengatakan, “Oh, darimana engkau mengatakan begitu?” Hadits.  Ada haditsnya dan hadits ini disebutkan dalam Bukhari. Bahwa Allah (swt) telah menulis sebuah kitab–dan setiap orang dapat mengeceknya kembali untuk mendapatkan haditsnya secara lengkap.  Allah (swt) telah menulis sebuah kitab sebelum Dia menciptakan ciptaan. Di dalam kitab itu Dia telah menuliskan “Inna rahmati sabaqat ghadabi, sesungguhnya Rahmat-Ku lebih kuat daripada Amarah-Ku.”  Dan tulisan ini tergantung di atas Arasy, dan ini adalah hadits Rasulullah (saw) yang disebutkan dalam sahih Bukhari.  Inilah yang dikatakan oleh Grandsyekh.

Grandsyekh menambahkan, “Oleh sebab itu semua pintu Surga terbuka bagi semua hamba.  Jika mereka tidak masuk dari salah satu pintu, mereka akan masuk lewat pintu kedua; jika mereka tidak masuk dari pintu kedua, mereka akan masuk dari pintu ketiga.”  Semua Surga seluruh pintunya terbuka bagi hamba, seluruh anak cucu Adam (as). Mereka semua akan bahagia pada akhirnya. Tidak peduli betapa banyak keburukan, dosa, ketidakpatuhan, kekufuran yang muncul dari mereka di dunia ini, karena yang harus kita lihat adalah bagaimana mereka mengakhiri hidup mereka.  

Dan Grandsyekh juga mengutip Hadits Rasulullah (saw) dan ini disebutkan dalam sahih Bukhari, bahwa Rasulullah (saw) bersabda, “Innamal a`malu bil khawatim, sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada akhirnya.”  Amal, perbuatan kita tergantung pada bagaimana kita mengakhiri perbuatan tersebut.  Bagaimana kalian mengakhiri hidup kalian, itulah yang dilihat. Bagaimana seorang hamba menutup hidupnya, itulah yang terpenting.  Jika seorang hamba, baik yang beriman maupun yang tidak beriman menutup hidupnya dengan perbuatan baik melalui apa yang ia katakan atau apa yang ia lakukan; atau bahkan hanya dengan niat untuk mengatakan sesuatu yang baik atau melakukan sesuatu yang baik, karena hal itu Allah (swt) akan membukakan jalan baginya ke Surga.  Oleh sebab itu akhir dari setiap nasib manusia adalah rahasia dan tersembunyi. Itu adalah antara ia dan Tuhannya dan itu tidak dapat diketahui. Allah (swt) yang mengetahui rahasia tersebut.

Allah (swt) berfirman di dalam Surat Thaaha (QS 20:7), “fa innahu ya`lamu ‘s-sirra wa akhfa. Sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.  Dan akhir dari setiap hidup manusia, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya karena itu adalah hal yang tersembunyi dari manusia.  Jadi Grandsyekh mengatakan bahwa “Tidak peduli apa pun yang mereka lakukan dalam hidup ini, mereka akan selalu mempunyai akhir yang baik sebagaimana Allah (swt) berfirman “Rahmat-Ku mengalahkan Amarah-Ku.”  Dan semua pintu Surga terbuka bagi seluruh hamba ini.

Sekarang kita masuk lebih dalam lagi.   Yang akan kalian dengar ini akan lebih membingungkan pikiran kalian.  Ini berasal dari ilmu seseorang yang telah menjumpai hakikat, bukan dari seseorang yang hanya membicarakan tentang hakikat.  Ini berasal dari orang yang telah melihat hakikat tersebut dan mereka mengatakan kepada kita apa yang telah dilihatnya.

Grandsyekh berkata bahwa Allah (swt) akan bertanya kepada mereka apa yang telah mereka lakukan di dunia.  Ini adalah apa yang terjadi antara hamba dengan Tuhannya. Ini adalah suatu hal yang tersembunyi, di mana saya tidak melihat, kalian tidak melihat, tidak ada yang dapat melihatnya, tetapi para Awliyaullah, mereka telah melihatnya dan mereka telah mengalaminya.  Jadi ketika Allah (swt) bertanya kepada hamba ketika mereka berada di antara kehidupan ini dengan kehidupan berikutnya, Allah (swt) bersama hamba-Nya. Dia berkata, “Apa yang kau lakukan di dunia?” Karena setiap orang akan ditanya apa yang mereka lakukan di dunia ini.  Allah (swt) akan memberi mereka jawabannya.

Mereka akan mengatakan, “Wahai Tuhan kami, kami melakukan persis seperti apa yang Engkau inginkan.”  Setiap hamba akan mengatakan demikian. Orang beriman dan yang tidak beriman. Mereka akan mengatakan, “Wahai Tuhanku, aku melakukan apa yang Kau inginkan.”  “Kami tidak menyimpang dari apa yang Kau inginkan.” “Jika Engkau ingin kami menjadi patuh, kami patuh. Bila Engkau ingin kami menjadi orang yang tidak patuh, kami pun tidak patuh.”  “Dan kami datang sesuai dengan apa yang Engkau inginkan dari kami wahai Tuhan kami.” Jawaban seperti ini akan diinspirasikan oleh Allah (swt) kepada para hamba untuk diucapkan.

Mereka mengatakan, “Engkau membiarkan kami melakukan apa yang kami inginkan, dan Engkau mengatakannya di dalam kitab suci al-Qur’an, “i`maluu maa syi’tum innahu bimaa ta`maluuna bashiir”  (QS41: 40)  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, “Lakukanlah apa yang kalian sukai, i`maluu maa syi’tum”  i`maluu–lakukanlah, dalam bentuk jamak, kalian semua; lakukanlah; maa–apa pun, syi’tum–apa yang kalian sukai.   Lakukanlah apa yang kalian sukai.  “Wahai Tuhan kami, kami telah melakukan apa yang kami sukai, dan kami datang pada-Mu.”  Allah (swt) tidak akan menanyai mereka karena mereka tidak berarti untuk ditanyai. Ini dari kitab suci al-Qur’an dan kita percaya sepenuhnya dengan apa yang dikatakan oleh Grandsyekh, Sulthanul Awliya kepada kita.  

Jadi Allah (swt) berkata, “Apa yang telah engkau lakukan di dunia?”  Mereka katakan, “Wahai Tuhan kami, Engkau telah memerintahkan kepada kami di dalam kitab suci-Mu, i`maluu maa syi’tum, lakukanlah apa yang kalian sukai, apa yang kalian inginkan.  Dan kami telah memenuhi perintah-Mu dan kami telah melakukan apa yang kami sukai, dan kami datang kepada-Mu wahai Tuhan kami.”  Allah (swt) akan membiarkan mereka karena mereka telah memenuhi perintah-Nya.

Ini adalah dari Kemurahan-Nya Allah, jangan salah paham dengan mengatakan, “Aku akan melakukan apa pun yang aku inginkan.”  Tunggu dulu. Tidak, kalian mengetahui lebih baik dari mereka. Ini adalah untuk orang yang tidak tahu, bahwa Rahmat Allah (swt) mencakup kalian, wahai Mukmin dan juga mencakup non Mukmin.  Itu berasal dari Kebesaran Allah (swt), dari Luasnya Rahmat Allah (swt). Tetapi kalian… tidak, kalian ikuti apa yang Allah perintahkan kepada kalian dalam Syari’ah, jangan menyimpang. Tetapi bagi yang lain, yang tidak dimuliakan dengan kemuliaan Islam; tidak dimuliakan dengan kemuliaan Iman, Allah (swt) telah membukakan pintu bagi mereka, telah membuka jalan bagi mereka—di dalam kitab suci al-Qur’an agar mereka masuk ke dalam Rahmat-Nya yang luas.  Karena Rahmat Allah, sebagaimana yang Dia katakan dalam kitab suci al-Qur’an, wa Rahmati wasi`ah–Rahmat-Ku mencakup kulla sya’in–segala sesuatu, semua umat manusia.  

Sekarang kita masuk lebih dalam lagi.  Grandsyekh berkata bahwa jasad manusia adalah benda yang diam dari bumi sedangkan ruh, jiwa adalah cahaya dari Hadirat Ilahi.  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, “Quli ‘r-ruuhu min amri Rabbi. Katakanlah wahai Rasul, wahai Kekasih-Ku, katakan kepada mereka yang bertanya kepadamu mengenai ruh bahwa ruh berasal dari perintah Tuhanku.”  Grandsyekh mengatakan bahwa benda diam tidak dapat melakukan apa-apa. Lihatlah meja ini. Ia sudah berada di sini sejak 2 bulan yang lalu dan ia tidak bergerak.  Benda diam tidak bergerak. Jasad manusia tidak bergerak. Jika kalian meletakkan jasad itu di tanah, ia tidak bergerak. Ia tidak akan bergerak.

Jadi Grandsyekh berkata bahwa jasad manusia tidak mampu menghasilkan suatu perbuatan sementara ruh yang masuk ke dalam tubuh manusia adalah cahaya murni yang berasal dari Hadirat Ilahi.  Dan sesuatu yang murni tidak dapat dikotori. Sesuatu yang sejatinya murni tidak dapat diubah menjadi sesuatu yang tidak murni. Kegelapan tidak dapat menguasai cahaya. Oleh sebab itu dari ruh manusia tidak akan pernah tercipta kegelapan.  Ruh itu adalah cahaya dari Hadirat Ilahi dan tidak ada kegelapan di dalamnya. Sementara jasad adalah benda diam, tidak bergerak.

Jadi Allah (swt) akan bertanya pada jasad, dan ini adalah apa yang dikatakan oleh Grandsyekh.  Dan jasad itu akan menjawab, “Wahai Tuhanku, aku tidak bisa bergerak tanpa ruh. Jika Engkau tidak mengirimkan ruh ke dalam diriku, aku tidak akan melakukan suatu perbuatan buruk pun.”  Ruh pun akan mengatakan hal yang sama, “Wahai Tuhanku, aku adalah cahaya dari Hadirat Ilahiah-Mu, jika bukan untuk jasad ini, aku tidak akan melakukan hal-hal yang salah.” Jadi Allah (swt) akan memberikan inspirasi kepada ruh dan jasad agar selamat dari hukuman.

Jadi perbuatan anak cucu Adam (as) tidak bisa dihubungan dengan jasad atau tubuhnya dan tidak pula dengan ruhnya.  Kalian tidak dapat mengatakan bahwa ini adalah perbuatan jasad atau ini adalah perbuatan dari ruh karena jasad adalah benda diam sedangkan ruh dari Hadirat Ilahi. Contoh untuk hal ini adalah ketika kalian menggosokkan bati api dengan logam, darimana percikan apinya timbul?  Dari batu apinya atau dari logamnya? Ketika keduanya diadukan akan muncul percikan api, apakah itu berasal dari logam atau dari batu apinya?

Grandsyekh mengatakan bahwa perbuatan manusia muncul antara jasad dan ruh dengan Kekuatan Allah (swt). Kekuatan Allah (swt) adalah asal-muasal dari perbuatan anak cucu Adam (as).  Itulah makna dari khayrihi wa syarrihi minallaahi ta`aala.   Kita percaya pada qadar, baik dan buruk, keduanya berasal dari Hadirat Ilahi yang datang dengan Hikmah Allah (swt).  Dan Allah (swt) berfirman bahwa itu adalah fardhu bagi kalian.  Dalam iman kita wajib mengatakan wa bil qadri wa khayrihi wa syarrihi, kita percaya pada qadar Allah (swt), baik dan buruk adalah dari-Nya.  Oleh sebab itu perbuatan tidak bisa dihubungkan dengan jasad atau dengan ruh.  

Ini adalah perkara yang mendalam yang menunjukkan Rahmat Allah (swt) kepada seluruh umat manusia, apakah mereka Mukmin atau bukan, apakah mereka patuh atau tidak, Allah (swt) akan mengampuni mereka.  Rahmat Allah mencakup segalanya. Tetapi sekali lagi ini tidak berarti bahwa kalian wahai Muslim, wahai Mukmin yang percaya pada Allah dan mengikuti perintah-Nya, kalian mengatakan, “Baiklah, aku akan melakukan segala sesuatu yang bisa kulakukan.”  Tidak! Itu bukan untuk kalian. Itu adalah untuk orang-orang yang tidak tahu. Kalian tahu. Kalian tahu. Dan ada berapa banyak orang yang tidak tahu? Begitu banyak! Begitu banyak orang yang tidak mengetahui Allah (swt). Begitu banyak orang tidak mengetahui Rasulullah (saw), begitu banyak orang yang tidak mengetahui tentang Nabi mereka sendiri.  Jadi ini untuk mencakup mereka semua. Itulah betapa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia akan memberi rahmat pada siapa saja. Grandsyekh mengatakan bahwa semua surga terbuka bagi hamba-hamba-Nya. Jika mereka tidak dapat masuk melalui pintu pertama, mereka akan memasukinya lewat pintu kedua. Dan kami telah menjelaskan beberapa jalan yang telah dilihat oleh Grandsyekh kita, telah dialami oleh Grandsyekh kita dan beliau membaginya dengan kita.  

Kita masuk semakin dalam lagi sekarang.  Beliau mengatakan bahwa perbuatan yang muncul dari manusia adalah dari Kekuatan Allah (swt).  Pada Hari Kiamat perbuatan-perbuatan ini akan muncul sebagai sosok-sosok tertentu. Apa pun perbuatan yang telah kita lakukan akan muncul sebagai suatu sosok.  Dan sosok-sosok ini muncul pada Hari Kiamat. Grandsyekh mengatakan, “Tukhlaq a`maluna, amal atau perbuatan kita diciptakan, dan tumatsal–diberikan sebuah rupa, bentuk atau sosok pada Hari Kiamat.”  Dan pada perbuatan-perbuatan ini diberlakukan perhitungan: engkau adalah perbuatan buruk dari hamba-Ku, engkau adalah perbuatan baik dari hamba-Ku.  Jadi Allah (swt) akan menghakimi amal perbuatan manusia. Allah (swt) tidak akan TIDAK mengatakan kebenaran. Dia mengatakan bahwa Dia akan menghakimi amal perbuatan kalian, jika kalian melakukan kebaikan, kalian akan melihatnya dan jika kalian melakukan kejahatan kalian akan melihatnya, itu artinya kalian akan melihat amal perbuatan itu dibuat ke dalam suatu rupa.  Dan pada Hari Kiamat Allah akan mengadili sosok-sosok tersebut dari perbuatan yang buruk. Dan perbuatan-perbuatan yang buruk ini sosoknya akan muncul dengan bentuk kalian.

Jika kalian, wahai Hasan, wahai Husain, wahai Wilayat, wahai Bisyarat, wahai Selamat, apa pun nama kalian, semua sosok buruk akan muncul dengan rupa kalian.  Jadi jangan mempunyai banyak sosok semacam itu pada hari Kiamat. Kalian tidak mau melihat diri kalian dalam sosok yang buruk rupa, kalian ingin melihat banyak sosok kalian yang dibusanai dengan cahaya.  

Jadi Allah (swt) akan meciptakan sosok buruk dari amal yang telah kalian lakukan dengan rupa kalian pada hari Kiamat.  Dan ini berasal dari pembukaan yang telah dilihat dan dialami oleh Grandsyekh. Dan sosok-sosok yang telah diciptakan ini dengan bentuk rupa kalian akan dilemparkan ke dalam Neraka.  Dan ketika sosok ini terbakar dalam api Neraka, amal buruk kalian dalam api Neraka, ruh kalian akan tetap tinggal sampai Allah (swt) selesai dengan sosok-sosok ini. Dan ketika itu sudah selesai ruh kalian akan kembali ke posisi asalnya.  Dan itu berdasarkan ilmu-Nya Allah (swt). Beliau mengatakan bahwa hukuman akan berlangsung dengan cara seperti ini. Azab Neraka Jahanam akan berlangsung dengan cara seperti ini dan ini adalah berkat Rahmat Allah (swt).

Allah (swt) adalah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.  Haqq.  Alhamdulillah kita mempunyai Tuhan Yang Maha Pengasih.  Kalian harus merasa malu untuk melakukan sesuatu yang buruk kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, melanggar perintah-Nya, perintah Tuhan Yang Maha Pengasih seperti itu.  Malah semestinya kalian terus-menerus dalam posisi sujud untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih ini. Semoga Allah (swt) mengampuni kita semua.

Ingatlah bahwa Rahmat Allah mencakup segalanya.  Jangan menyakiti manusia. Jangan menggunjing sesama.  Jangan menyakiti siapa pun. Jangan mengatakan ia adalah orang yang buruk, jangan katakan ia begini,.. tinggalkan itu.  Allah (swt) akan merawat seluruh hamba-Nya. Dan seluruh hamba-Nya akan masuk Surga. Seluruh ruh akan kembali ke posisi semula.  Dan Allah (swt) adalah Yang Maha Pengasih. Jangan berpikir sebaliknya. Milikilah kasih sayang dalam hati kalian terhadap setiap orang, termasuk Mukmin dan non Mukmin, Atheis atau Kristen, Yahudi atau Buddha, Hindu atau apa pun agama yang mereka ikuti.  Milikilah selalu kasih sayang itu dalam hati kalian karena Allah (swt) mempunyai kasih sayang terhadap mereka. Jadilah seperti Tuhan kalian, jadilah orang yang penyayang. Semoga Allah (swt) mengampuni kita. Semoga Allah (swt) menjadikan rahmat itu memasuki hati kita untuk seluruh ciptaan-Nya.  Dan semoga Allah (swt) tidak membuat kita malu pada hari itu (hari Kiamat). Semoga Dia menciptakan amal kita menjadi sosok yang sangat indah.

Dan ini semua dari Ahadits.  Rasulullah (saw) telah bersabda bahwa amal kalian akan bersama kalian dalam kubur kalian.  Sebagian dari mereka akan muncul dalam sosok yang sangat buruk sehingga ia akan bertanya, “Siapa engkau?”  Dan sosok itu akan berkata, “Aku adalah amal perbuatanmu.” Dan amal itu mempunyai bau yang busuk dan menjijikan dan ia akan bersama kalian hingga hari Kiamat. Ini semua berasal dari Hadits dan Qur’an.  

Grandsyekh kita tidak akan keluar dari Qur’an atau Hadits.  Tetapi penglihatan kita sangat terbatas, kita tidak dapat melihat lebih dari itu.  Jika kita tidak dapat melihat di luar itu, tidak berarti bahwa hal itu tidak ada. Kalian hanya tidak dapat melihatnya.  Jadi itulah yang namanya iman atau percaya kepada yang gaib. Kita percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mawlana. Semoga Allah (swt) memberkahi ruhnya.  Dan semoga seperti yang tadi kita katakan, semoga Allah menjadikan amal kita sebagai sosok yang sangat indah dengan cahaya yang indah sehingga kita akan merasa bahagia dan Tuhan kita pun ridha dengan kita dan Dia menciptakan amal kita menjadi sosok yang akan membuat kita bahagia, bukan sesuatu yang membuat kita malu.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita semua. Semoga Allah (swt) mengampuni leluhur kita, kakek dan nenek kita, dan saudara-saudari kita. Semoga Allah (swt) mengampuni seluruh umat Muhammad (saw). Bi hurmatil habib wa bi hurmatil Fatihah.    

   

https://sufilive.com/We-Are-Swimming-in-Allah-s-Mercy-6587.html

© Copyright 2018 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

Pentingnya Memohon Dukungan

71B148C2-D596-4E87-371913E729C61D87

Seri Ramadhan 2018

Dr. Nour Hisham Kabbani

23 Mei 2018 Fenton, Michigan

Shuhbah Subuh

 

Grandsyekh, Sulthanul Awliya Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani, semoga Allah senantiasa mengangkat derajatnya, berkata bahwa salah satu tanda iman adalah diluaskan dadanya, dan tanda lainnya adalah bila seorang pembicara memohon dukungan, madad.  Ini akan menundukkan ego.  Dukungan dari siapa? Dari Khalifah Rasulullah (saw), Shahibul Waqt, Sang Penguasa Waktu.  Setiap masa memiliki Penguasa Waktunya, seorang wali yang memberikan dukungan kepada manusia.

Imam Rabbani, Abdul Wahhab Asy-Sya’rani (qs) mengatakan bahwa setiap kali beliau duduk memberikan shuhba, beliau akan mengucapkan, “Madad yaa Sayyidi, yaa Shahibal Waqt, yaa Shahibaz Zaman”, memohon dukungan dari Sang Penguasa Waktu.  Orang yang tidak meminta dukungan sebelum berbicara, misalnya dalam sebuah seminar, ia berbicara bagaikan seorang tiran, dan Allah akan meninggalkan dirinya bersama egonya dan Setan.  Dan ia akan menghancurkan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Oleh sebab itu Grandsyekh menasihati agar kita selalu memohon dukungan ketika kita duduk di sebuah majelis dzikir atau suatu asosiasi, ketika memberikan nasihat atau suatu ceramah, selalu katakan, “Wahai Tuhanku, aku memohon dukungan-Mu, wahai Shahibal Waqt, wahai Khalifah Rasulullah (saw), aku memohon dukunganmu agar aku dapat menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi diriku dan bagi orang-orang di sekitarku.”  

Khususnya bagi orang-orang yang telah diberi wewenang untuk memimpin zikir dan memberi nasihat di seluruh dunia, jangan lupa, jangan duduk bagaikan seorang tiran, mintalah selalu dukungan dari guru kalian, berusahalah selalu untuk mendundukkan ego kalian dan katakan bahwa kalian bukanlah tuan tertinggi–ana rabbukum a`la; tetapi guru kitalah yang mengajari kita, guru kitalah yang membawa kita ke Hadirat Ilahi, dan beliau adalah Sulthanul Awliya, Grandsyekh Muhammad Nazim al-Haqqani dan BELIAU SENANTIASA HIDUP, di mana pun kita berada, dukungannya sampai pada khalifahnya, dan kemudian sampai kepada kita, dan kita bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut.   Dalam situasi apa pun kalian dapat memohon dukungan kepada Grandsyekh, dan beliau tidak akan meninggalkan kita, beliau akan mengirimkan dukungannya kepada khalifahnya dan dari beliau kepada kita.

Mengapa kita memerlukan dukungan?

Grandsyekh mengatakan bahwa melalui ibadahnya, melalui tafakurnya, melalui dzikirnya seorang manusia dapat mencapai suatu maqam tertentu.  Dan Grandsyekh mengatakan bahwa Sayyidina Ahmad Badawi (qs) telah mencapai maqam Kalimullaah, di mana Allah berbicara langsung kepadanya dari balik hijab dan ini adalah maqamnya Sayyidina Musa (as).  

Suatu hari seorang Qutub, Shahibul Waqt melihat Sayyidina Ahmad Badawi, dan beliau berkata, “Wahai Ahmad, datanglah padaku, aku mempunyai kuncimu.”  Tetapi Ahmad Badawi berkata, “Aku tidak memerlukan kunci darimu. Aku hanya akan mengambil kunci dari al-Fattah, Yang Maha Membuka, Allah (swt). Aku mengambil dari-Nya dan aku tidak memerlukan kunci darimu.”  

Grandsyekh berkata, “Mengapa kita mengangkat kisah ini?”  Karena manusia tidak senang untuk merendahkan dirinya, ego mereka.  Ego tidak mau menghentikan apa yang dilakukannya, karena ego kita berpikir bahwa semakin banyak kita beribadah, semakin kuat perjuangan kita, semakin tinggi pahalanya; sehingga kita mengatakan, “Aku yang mencapainya sendiri, aku mencapainya dengan ibadah-ibadahku, aku mencapainya dengan tafakurku, dengan dzikirku, dengan shalawatku.  Akulah orang yang telah sampai pada hakikat, akulah orang yang … akulah, akulah, akulah….” Itulah ego. Jadi pada awalnya Sayyidina Ahmad Badawi melakukan ibadah hingga ia mencapai maqamnya Sayyidina Musa (as). Egonya memompa dirinya sehingga ia mengatakan, “Akulah orang yang telah mencapai maqam tersebut dengan ibadahku, dengan kekuatanku, dengan kecakapanku, dengan perjuanganku.”  

Shahibul Waqt tersebut datang padanya untuk meruntuhkan egonya.  Itu adalah contoh bagi kita. Betapa banyak di antara kita yang berpikir bahwa dengan membaca ini, atau dengan melakukan ini, itu, kita akan terbang, bergerak ke sana ke mari dan berkelana ke Langit.  Kita tidak menerima orang lain yang berkata, “Datanglah padaku, aku akan tunjukkan jalanmu, aku akan memberikan kuncimu.” “Tidak. Apa itu, aku tidak mau menerimanya darimu. Aku ingin mendapatkannya dari Tuhanku.”  Begitu banyak di antara kita yang melakukannya.

Grandsyekh mengatakan bahwa nafsul insan, yaitu ego manusia tidak akan membiarkan dirinya untuk merendahkan dirinya.  Tetapi Aturan Allah (swt) mengharuskan kalian untuk mengikuti Ahlullaah, orang-orang di Jalan Allah, para Awliya-Nya dan kalian menyerahkan ego kalian kepada mereka. Ego itu tidak mau berserah diri pada Ahlullaah, ia akan terus mengatakan “Ana rabbukum a’la”  Aku adalah tuhanmu yang tertinggi.   

Jadi apa yang terjadi pada Sayyidina Ahmad Badawi?  Suatu ketika saat ia sedang bertafakur, ia berkata, “Wahai Tuhanku, izinkan aku melihat-Mu.”  Itu artinya Sayyidina Ahmad Badawi rindu untuk melihat Tuhannya, seperti kita semua, dan ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyidina Musa (as) kepada Tuhannya.  Allah berkata, “Engkau tidak akan melihat-Ku.” Artinya “Selama dirimu masih ada, engkau tidak akan melihat-Ku. Selama engkau mengaku bahwa engkau ada, bahwa engkaulah yang bergerak, engkau yang melakukan sesuatu, engkau yang beribadah, engkau yang telah sampai; engkau tidak akan mencapai apa-apa, engkau tidak akan melihat-Ku.”  Grandsyekh mengatakan, “Barang siapa yang mengaku bahwa dirinya ada, ia tidak akan melihat Tuhannya.”

Itu artinya ia menjadikan egonya sebagai “yang kedua”.   Grandsyekh mengatakan bahwa Istana dari Raja dari semua raja tidak akan menerima adanya raja kedua, tidak ada yang kedua, hanya ada satu.  Allah berkata kepada Sayyidina Ahmad Badawi, “Wahai hamba-Ku, engkau tidak akan melihat-Ku, Aku telah memberikan kuncimu pada seorang Qutub, pada Shahibul Waqt, pergilah temui dia.”  Allah mengirimnya pada Qutub itu agar egonya dihancurkan sehingga tidak ada lagi “yang kedua” di istana Hadirat Ilahiah-Nya. “Kunci itu adalah jalan bagimu untuk berada di Hadirat-Ku, dan Aku telah memberikannya kepada Shahibal Waqt.”  Dan ini juga merupakan sebuah contoh bagi kita.

Kita semua ingin berada di Hadirat Tuhan kita, kita semua, termasuk semua Muslim, semua Imam, semua syuyukh, semuanya, bahkan semua non Muslim, tetapi untuk berada di Hadirat Ilahi, kalian harus menemukan, kalian harus mengikuti Qutbuz Zamaan, kalian harus menemukan Qutub dari zaman ini.  Kalian tidak bisa pergi begitu saja ke sembarang orang. Kalian harus menemukan Qutub, Qutub Mutasharrif, Sultan Awliya. Dan ketika kita telah menemukannya, ketika kita duduk, kita memohon dukungan kepada Qutub Mutasharrif, Sulthanul Awliya. Sampai sekarang banyak orang yang tidak memohon dukungan kepadanya.  Untuk mencapai Hadirat Ilahi, kita harus menemukan Qutub Mutasharrif, Sulthanul Awliya.

Jadi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Grandsyekh Sulthanul Awliya, Sayyidina Ahmad Badawi akhirnya pergi untuk mencari Qutub yang memegang kunci tersebut, namun ia tidak dapat menemukannya.  Ia terus mencari dan mencari hingga akhirnya ia menyerah. Saat itulah sang Qutub menampakkan dirinya, dan berkata,

“Jadi engkau datang yaa Ahmad,”

“Ya Sayyidi, aku datang.”  

“Apakah engkau menyerahkan dirimu kepadaku?”  

“Ya Sayyidi, aku menyerahkan diriku padamu.”

Grandsyekh mengatakan bahwa Qutub itu memandang Ahmad Badawi sekali dan dengan sekali pandangannya itu, ia telah mencabut seluruh ingatan Ahmad Badawi dan mencabut seluruh ilmu dari dadanya.  Ia membuat Ahmad Badawi benar-benar berada di derajat terendah dan kemudian ia meninggalkannya. Selama enam bulan bahkan Ahmad Badawi tidak tahu lagi bagaimana caranya shalat.

Grandsyekh berkata, “Sebelum itu, ia shalat untuk dirinya sendiri, bukan untuk Tuhannya. Ia telah menjadikan dirinya sebagai Imam, ia menyebutkan dirinya sendiri, ia mengingat dirinya sendiri dan ia shalat untuk dirinya sendiri.”  Dan itu adalah contoh bagi kita. Betapa banyak di antara kita yang berdzikir dan shalat untuk diri sendiri. Mengapa? Untuk mengangkat derajat diri kita di depan orang-orang. Kita memberi mereka ilmu untuk menunjukkan bahwa diri kita seorang alim, kita berzikir untuk menunjukkan bahwa diri kita seorang dzaakir, kita memberi mereka nasihat untuk menunjukkan bahwa diri kita luar biasa, itu semua adalah untuk kita, untuk mengangkat diri kita dan sayangnya itu yang terjadi sekarang ini.  Kita tidak beribadah untuk Allah (swt). Kalian dapat melihat pada hati kalian. Wahai Tuhan kami, ampunilah kami.

Jadi Qutub itu mencabut semua ilmu yang telah dicapai oleh egonya Ahmad Badawi–ilmu yang telah dipelajari oleh ego untuk mengangkat dirinya.  Dan ia dibiarkan selama 6 bulan sampai tidak mengetahui bagaimana caranya shalat. Sayyidina Ahmad Badawi berusaha mencari Qutub itu dan ia berjuang dengan sekuat tenaga namun ia tetap bersabar.  Dan setelah 6 bulan Qutub itu memperlihatkan dirinya kembali. Sayyidina Ahmad Badawi bertanya, “Ke mana saja engkau pergi yaa Sayyidi?” Qutub itu berkata, “Aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku bersamamu, tetapi engkau tidak melihatku.”   Jadi jangan berpikir bahwa Sulthanul Awliya Grandsyekh Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani meninggalkan kita, tidak, beliau bersama kita, tetapi kita tidak melihatnya.

Kemudian sekali lagi Qutub itu melihat pada Ahmad Badawi (qs) dan ia menuangkan ke dalam hatinya sebagaimana Rasululllah (saw) menuangkan ke dalam hati Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra) dan ia mengangkat kembali derajat Ahmad Badawi ke derajatnya semula, tetapi bukan melalui amal atau perbuatannya Ahmad Badawi.  Kita harus memahami hal ini, bahwa Qutub itu telah memenuhi hati Ahmad Badawi dengan ilmu dan cahaya, tetapi bukan melalui amal Sayyidina Ahmad Badawi, melainkan dari Kemurahan Allah (swt). Dan itu yang terjadi pada murid, pada seorang dzaakir, pada syaakir, pada shaabur, pada orang yang mengikuti jalan ini, mereka tidak perlu melihat buku-buku, mereka tidak perlu mempelajari ilmu-ilmu ini itu; yang mereka perlukan adalah menanti syekhnya untuk melihatnya dengan suatu pandangan dan mereka akan dipenuhi dengan ilmu dan cahaya kewalian dan itu berasal dari Kemurahan Allah (swt), itu berasal dari nikmat Allah (swt), bukan dari hasil perbuatan egonya, dan bukan dari pekerjaan setan.  Tidak ada lagi ananiyya, keinginan dan ilmu egoistik.   Ia tidak lagi dicap dengan cap ego.  Itu adalah dari Kemurahan Allah (swt).  Karena Ahmad Badawi tidak lagi dipengaruhi egonya, seluruh cahaya turun padanya, dan ia dibusanai dengan cahaya Allah (swt) dan cahaya Rasulullah (saw) dan saking kuatnya cahaya itu, Sayyidina Ahmad Badawi harus menutupi dirinya, kalau tidak orang akan pingsan ketika melihatnya.  Itulah yang berusaha kita raih.

Jangan terlalu berusaha untuk meraih suatu maqam dengan membaca atau belajar untuk diri kalian sendiri atau dengan diri kalian sendiri.  Tetap istiqomah berada di bawah gerbangnya Sang Qutub. Temukanlah Qutub itu, perkerjaan kalian adalah untuk menemukannya. Mencari apa? Mencari Qutbuz Zamaan.  Sekarang semua orang berusaha mencari melalui Google Search, tetapi ia tidak akan membawa kalian pada Qutbuz Zamaan.  Kalian harus menemui seorang shaadiq, orang yang dapat dipercaya.  Jika kalian belum dapat menemukan seorang mursyid, carilah seorang saudara yang dapat dipercaya.  Dan Allah akan tetap membukakan pintu itu sampai kalian menemukan seorang Qutub. Dan Qutub itu akan memenuhi hati kalian dengan ilmu dan cahaya, dan itu bukan dari ego tetapi dari Kemurahan Allah (swt), dan itu adalah ilmu sejati, ilmu ladunni, ilmu haqiqi.  

Jangan terkecoh oleh Setan, jangan terkecoh oleh ego yang mengatakan bahwa orang akan melihat kalian bila kalian mempunyai ilmu, yang artinya kalian bekerja untuk ego kalian, bukannya berusaha untuk mencapai Hadirat Ilahi.  Semoga Allah menjauhkan kita dari kendali ego kita. Semoga Allah senantiasa membuat kita berada di ambang gerbang Sang Qutub. Temukanlah Qutub itu, bila kalian tidak tahu siapa dia, mintalah kepada Allah dalam shalat kalian.  Al-Qutub adalah orang yang bersama dengan Shahibuz Zamaan, mintalah, “Wahai Tuhanku, jadikanlah aku bersama dengan Shahibuz Zamaan. Panjangkan umurku untuk mencapai masanya.” Dan kalian akan menemukan Qutub yang akan membawa kalian pada Shahibuz Zamaan.  Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang diterima oleh Qutub dan membawa kita pada Shahibuz Zamaan, membawa kita pada Hadirat Ilahi. Aamiin yaa Rabbii.

Allahumma la takilna lii anfusina tharfata ‘ain, wa laa aqalla min dzalik“, ini adalah doa Rasulullah (saw), mengapa orang-orang tidak memahami doanya.  Beliau berkata, wahai Tuhanku, jangan tinggalkan aku pada egoku walau hanya sekejap mata.  Apa artinya? Itu artinya jangan membuat egoku sebagai guruku; jangan menjadikan egoku sebagai mursyidku; jangan membuat nafsuku menjadi pedoman bagaimana aku berbuat di dunia ini dan bagaimana tingkah lakuku dalam beragama; jangan membuat ego sebagai bos bagiku, bahkan untuk sekejap mata, itu artinya, “Jagalah diriku agar senantiasa bersama-Mu, Engkaulah guruku, Engkaulah pembimbingku, jangan tinggalkan aku pada egoku.”  Sayangnya begitu banyak dari kita yang dikuasai ego kita melalui perbuatan kita sendiri. Bacalah doa itu, mintalah dukungan pada Allah (swt), Dia akan melindungi kalian dari ego kalian.

Semoga Allah melindungi kita dari ego kita, semoga Allah memberikan kita dari Cahaya-Nya yang tak terhingga.

© Copyright 2018 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.