Ketahuilah Siapa yang Tertulis sebagai Syekhmu

Seri Ramadan 2011, Volume 3

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

1 Agustus 2011 Zawiya Fenton, Michigan



A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim.

Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah,

nawaytu ‘r-riyaadhah, nawaytu ‘s-suluuk, lillahi ta`ala fii haadza ‘l-masjid.

Kita memohon dukungan dari syuyukh kita, dari Grandsyekh hingga Nabi (s). Setiap amal yang ingin kalian lakukan, salat, bekerja, makan, atau minum, yang tidak dimulai dengan “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim” menjadi tidak tersambung; ia tidak mempunyai nilai, sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam kitab suci Al-Qur’an:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْإِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim. inna a`taynaaka al-kawtsar. fa shalli li rabbika wanhar inna syaaniaka huwal-abtar.

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu nikmat yang banyak; maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah, sesungguhnya orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari harapan). (Surat al-Kawthar, 108: 1-3)

Sebagian dari orang-orang di lingkungan Nabi (s) berkata, “Wahai kau, Muhammad! Tidak ada yang akan menjadi penerusmu!” Itu artinya, “Engkau tidak mempunyai anak laki-laki (sebagai pewaris), sehingga engkau menjadi tidak tersambung, abtar, namamu tidak akan ada yang membawa, itu sudah tamat, karena siapa yang akan membawa namamu darimu kepada putramu hingga cucumu?” Seorang raja mempunyai keturunan yang mewarisi takhtanya, jadi mereka ingin mempermalukan Nabi (s), yu`ayyibuun an-nabi.

Kemudian Allah menurunkan Surat al-Kawtsar: “Kami telah memberikanmu sungai Kawtsar; oleh sebab itu salatlah kepada Tuhanmu, karena orang-orang yang menentangmu, dialah orang yang terputus! Engkau tidak terputus karena Aku angkat namamu dengan Nama-Ku, dan engkau membawa rahasia itu, yaa Muhammad! Engkaulah orang yang Aku sandangkan dengan tanggung jawab terhadap seluruh alam semesta di Hadirat-Ku.”

كل عمل لم يبدأ باسم الله فهو أبتر

Jadi Nabi (s) bersabda, “Setiap amal yang kalian lakukan, jika tidak dimulai dengan “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim” maka ia menjadi terputus.” Oleh sebab itu, orang-orang mempunyai masalah karena kita adalah manusia yang pelupa; Setan membuat kita lupa melakukan apa yang Allah ridai. Itulah sebabnya di dalam beberapa mazhab mereka mengatakan bahwa mengucapkan “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim” adalah bagian dari Surat al-Fatihah, sementara mazhab lainnya mengatakan bahwa Fatihah berdiri sendiri, tetapi itu tidak berarti bahwa kalian tidak membaca “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim” sebelum Fatihah. Kita melakukan banyak amal di dalam kehidupan sehari-hari yang tidak dimulai dengan “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim,” dan begitu banyak amal di mana kita berbagi dengan Setan dan ini membuat kita berada di dalam berbagai kesulitan.

Tidak ada rasa malu di dalam Islam, la hayya fiid-diin. Banyak orang di Barat yang mandi sebelum mereka tidur bersama. Jika kalian mandi sebelumnya, itu tidak masalah, tetapi kalian harus mandi setelahnya. Kalian tidak suci ketika tenggelam di dalam kenikmatan duniawi dan kalian harus keluar dari sana, jadi kalian harus mandi. Sangat penting ketika kalian tidur bersama istri kalian, untuk memulainya dengan, “A`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim. Bismillahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim,” setelah itu anak yang baik akan datang. Jika kalian tidak mengucapkan, “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim,” anak itu akan menjadi abtar. Itu artinya ia akan menemui banyak masalah di dalam hidupnya, karena berkah dari Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim tidak disandangkan padanya. Itulah sebabnya ketika kalian melihat seorang anak melakukan hal-hal yang buruk dan orang tuanya mengeluh, “Anakku membuat masalah.”

Jadi kalian harus tahu bahwa ketika kalian berhubungan intim dengan pasangan kalian, kalian harus mengucapkan, “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim.” Ketika kalian menyusui anak kalian, kalian haru mengucapkan, “Bismillahi ‘r- Rahmani ‘r-Rahiim,” dan ketika kalian membesarkan anak kalian, kalian harus mengucapkan, “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim,” kalau tidak ia akan dibesarkan dengan refleksi energi yang buruk yang berada di sekeliling kalian.

Grandsyekh `Abdullah al-Fa’iz ad-Daghestani (q) mengatakannya berulang kali, dan itu ada di dalam ajaran Sayyid Muhammad al-Busayri mengenai “Perilaku kekanak-kanakan yang tercela:”at-tifl an-nafs al-mazhmumahman syabba `ala syay syaaba `alay, “Siapa yang dibesarkan pada sesuatu, bahkan ketika ia sudah tua dan rambutnya sudah memutih, ia akan tetap seperti ketika ia dibesarkan.” Jadi itu akan sangat sulit ketika kalian akan memperbaiki diri kalian di dalam tasawwuf, atau marilah kita tinggalkan kata itu dan katakanlah seperti yang Mawlana katakana, di dalam “Rabbaaniyuun,” ketika kalian mengambil langkah pertama di dalam istikamah pada level Rabbaniyuun, kalian tidak akan menghilangkan karakter kekanak-kanakan yang tercela ini dengan cepat. Kalian harus melakukannya secara perlahan dan kalian tidak akan disandangkan dengan wilayah, kewalian.

Saya mendengar hal ini berulang kali dari Grandsyekh `AbdAllah al-Fa’iz ad-Daghestani (q) dan juga dari Mawlana Syekh (q), tetapi beliau mengatakan sekarang bahwa tidak berguna untuk memberikan ilmu-ilmu level tinggi atau pelajaran-pelajaran berat ini. Ketika beliau masih berusia lebih muda, beliau sangat antusias untuk memberikan ilmu macam ini; beliau mengisi kami, tetapi pada tiga puluh tahun atau empat puluh tahun terakhir, beliau tidak berbicara mengenai sesuatu kecuali tentang ego dan demokrasi; dan itulah yang menjadi subjek zaman ini, Hubb ar-Riyasah, kecintaan untuk menjadi boss. Di dalam demokrasi, kalian membawa orang-orang terburuk ke dalam parlemen, dan mereka mendapatkan uang dan mulai memerintah kalian, meskipun jutaan orang lebih baik daripada mereka. Itulah yang dianggap korupsi oleh Mawlana, bukan di dalam konsep demokrasi farabi, sebagaimana yang disebutkan oleh salah seorang sejarawan terdahulu dan seorang pemimpin spiritual di dalam tasawwuf yang ingin menciptakan al-Madinat al-Faadilah, “kota yang paling mulia.” Mereka mengajarkan hal itu di dalam masing-masing mazhab. Kita tidak tinggal di dalam madinat al-fadilah, mengambil orang terbaik; kini kita tinggal di peradaban yang penuh ketidakpedulian, bukannya di “dunia yang modern,” karena tidak ada hal-hal semacam itu. Ini adalah peradaban terburuk yang dapat kalian bayangkan, di mana kita tinggal, dan itu akan semakin parah dan semakin parah sampai Allah mengirimkan, sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi (s) di dalam banyak hadis:

قال النبي صلى الله عليه وسلم لا تنقضي الدنيا حتى يملك الأرض رجل من أهل بيتي يملأ الأرض عدلا كما ملئت قبله جورا يملك سبع سنين

laa tanqadii ‘d-dunya hatta yamliku ‘l-ardha rajulun min ahli baytii yamlaa al-ardha `adlan kama muli’at juura yamliku saba` siniin.

“Dunia ini tidak akan berakhir hingga ia dipimpin oleh seorang laki-laki yang berasal dari Ahlulbaitku yang akan mengisi dunia dengan keadilan dan kebahagiaan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kerusakan. Ia akan memerintah selama tujuh tahun.”

Jadi sampai saat itu tidak ada yang dapat menyelamatkan dunia ini. Saya berbicara dengan Mawlana kemarin setelah ada berita bahwa Mufti Besar Mesir memberikan fatwa untuk merayakan kemunculan al-Mahdi (a). Itu adalah suatu perubahan besar, menyebutkan bahwa kalian dapat merayakan dan menunggu kedatangannya, yang artinya untuk mempersiapkan diri kalian, jangan melihat pada perbedaan, apakah Syi`ah atau Sunni. Jadi kedatangan Mahdi (a) adalah sebuah fakta, dan membuat itu penting adalah sesuatu yang hebat. Para ulama mengetahui bahwa Sayyidina `Isa (a), Dajjal, dan Mahdi (a) akan datang. Jadi apa yang telah disampaikan oleh para awliyaullah sejak lama sekarang bertepatan dengan apa yang dikatakan oleh Mufti Besar. Saya terkejut. (Mawlana bertanya pada seorang murid.) Apakah engkau ingat ketika mereka menerbitkan sebuah buku di Berkeley, California di mana mereka merujuk Mawlana Syekh Nazim sebagai “al-Mahdawiyya”? Itu artinya bahwa kita adalah tarekat Sufi yang berhubungan dengan Mahdi (a), karena ceramah Grandsyekh dan Mawlana Syekh berfokus pada aspek itu. (Ya, saya ingat.)

Dua puluh tahun yang lalu mereka terkejut mengenai hal itu dan bertanya, “Apa yang kalian bicarakan mengenai Mahdi?” Banyak Koran Islami yang menulis bahwa Naqsybandi menantikan Mahdi, tetapi sekarang Mufti Besar Mesir, yang artinya Mufti Besar bagi dunia Muslim karena Mesir mewakili dunia Muslim, yaitu Azhar asy-Syariif, kepalanya berkata, “Ya, hal itu diperbolehkan.” Itu artinya beliau mengakui bahwa al-Mahdi akan datang. Apa yang telah disebutkan oleh para syuyukh Naqsybandi dan saya belum pernah melihat tarekat lain menyebutkan al-Mahdi hingga 200 tahun yang lalu di masa Sayyidina Khalid al-Baghdadi (q), yang mengirimkan para pengikutnya ke Mekah untuk bertemu Mahdi (a). Itu artinya Mufti Besar itu menginginkan kemunculannya.

Sebelumnya Grandsyekh `Abdullah al-Fa’iz ad-Daghestani (q) berkata bahwa itu belum muncul di Loh Mahfuz, tetapi ketika Sayyidina Khalid muncul, itu muncul di Loh Mahfuz sehingga beliau mengirimkan murid-muridnya ke Mekah untuk bertemu dengan al-Mahdi dan memberikannya bay’at. Mereka dibusanai dengan realitas kemunculan Mahdi karena mereka mengikuti perintah syuyukh mereka; itulah faktanya yang membuat mereka dibusanai.

Jadi kalian tidak bisa menghilangkan nafs al-tifl al-mazhmoumah. Syekh berada di dalam hidup kalian untuk memoles kalian secara perlahan, dan jangan berpikir bahwa bila kalian sudah terpoles maka kalian akan menjadi seorang wali karena kalian masih di dalam tahap pelatihan. Seperti seseorang yang mempunyai kekurangan, kalian memerlukan banyak operasi untuk bisa berdiri. Itulah yang membuat saya sampai pada: Grandsyekh mengatakan bahwa seorang wali tidak akan menjadi wali jika ia tidak membersihkan semua garis keturunannya hingga ke Sayyidina Adam (a), semua kakek moyang atau leluhurnya. Jika ia mampu membersihkan mereka semua satu per satu, seluruh garis leluruhnya hingga mencapai Sayyidina Adam (a), maka melalui proses itu ia akan dibusanai dengan level pertama dari kewalian. Hal itu bukan semata kalian mengenakan turban dan memelihara janggut lalu menjadi seorang syekh. Tidak, kalian adalah seorang aktor, bahkan bukan aktor, melainkan aktris! Itu bukan untuk merendahkan gender lain karena kita semua, di dalam termin spiritual, di sana ada “level kedewasaan (manhood)”, di mana bahkan kaum wanita juga bisa mencapainya karena di dalam tarekat berlaku kesetaraan, tetapi jika kalian tidak mencapainya, maka kalian masih dianggap berada di “level belum dewasa (womanhood).” Kedewasaan sejati adalah level di mana seseorang mampu menghilangkan semua busana untuk mencapai level Makrifatullah dan mencapai masa untuk mencapai level kedewasaan.???

Misalnya, di sebuah paspor seorang wanita membawa nama belakang suaminya. Bahkan di Amerika dan Eropa, meskipun mereka mempunyai pilihan untuk tidak melakukannya, sebagian besar menggunakan nama suaminya sampai sekarang, dan anak-anak membawa nama ayahnya. Itulah identitas paspor kalian. Mereka mengikuti apa yang tertulis di dalam kitab suci al-Qur’an:

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ

id`uuhum li-aabaahim.

Panggilah mereka (dengan memakai) nama ayah-ayah mereka. (al-Ahzaab, 33:5)

Karena prialah yang menanamkan benihnya ke dalam tanah yang subur yang Allah ciptakan. Kehormatan seorang ibu adalah memberikan kalian buah yang matang, tetapi benihnya berasal dari ayah. Itulah sebabnya kalian dipanggil menurut ayah mereka, karena mereka membawa nama kalian. Oleh sebab itu, bagaimana seorang wali membawa nama orang tuanya jika ayahnya tidak bersih? Jadi untuk menjadi seorang syekh di dalam tasawwuf tidaklah mudah. (…) Wali itu harus pergi satu per satu dan membersihkan mereka, dan jika ia tidak mengeahui sumbernya, maka ia menjadi terputus. Ada dua garis keturunan: satu adalah fisik dan yang kedua spiritual, dan keduanya adalah penting. Jadi, bila kalian tidak mengetahui garis keturunan kalian, di mana syekh kalian, maka kalian adalah abtar. Itu seperti menunggu air dari pipa yang patah, jika kalian tidak tersambung dengan syekh yang benar yang tertulis bagi kalian di Loh Mahfuz.

Misalnya, bila kalian adalah seorang yang jujur dan teguh pada iman kalian, kalian tidak membuat diri kalian seperti Firaun yang mengatakan, “Aku adalah Tuhanmu, Yang Maha Tinggi!” Kalian cukup rendah hati untuk mengatakan, “Aku bukan apa-apa,” dan tidak memanggil orang untuk diri kalian sendiri dan membuat mereka menyembah kalian, dan tidak membiarkan mereka mengunjungi syekh tanpa izin kalian. Tidak perlu bagi mereka untuk meminta izin dari kalian atau tidak! Saya tahu syekh di sini di Amerika dan negara-negara lain, para perwakilan, yang memberi “izin” kepada para pengikutnya untuk mengunjungi Mawlana Syekh Nazim, dan itu tidak benar, karena setiap orang bisa pergi mengunjungi Mawlana Syekh.

Ketika Mawlana masih muda, beliau pergi ke Istanbul untuk mempelajari Kimia Teknik dan kemudian beliau meninggalkannya karena beliau tidak mempedulikannya. Itu adalah tujuh puluh tahun yang lalu. Beliau mempunyai dua orang syekh yang mengajarinya Bahasa Arab dan tasawwuf di Masjid Sultan Ahmed. Setelah beberapa lama, beliau berkata kepada Syekh al-Lasuuni, yang mengajar banyak murid, “Aku ingin berbay’at denganmu.” Beliau adalah seorang syekh sejati, bukannya pura-pura, syekh plastik, beliau adalah buah sejati. Syekh plastik terlalu banyak untuk dihitung. Kita semua adalah syekh plastik. Semoga Allah mengambil kita dari plasticisme dan kedunguan seperti keledai, dan mengembalikan kita kembali pada buah-buahan yang banyak buahnya. Mawlana mengatakannya di depan orang-orang, “Yaa Sayyidii, aku ingin mengambil bay’at.” Syekh Nazim sangat terpelajar dan orang tuanya sangat terkenal di Turki dan Siprus. Syekh itu melihatnya di depan ratusan dan ribuan murid, dan beliau berkata, “Yaa waladii, aku tidak bisa memberimu bay’at.” Sementara di sini kalian datang dan berkata, “Berikan kami bay’at,” itu sangat murah. Membawa orang sebanyak-banyaknya untuk mengambil bay’at (demi kecintaan menjadi boss). Bahkan jika kalian mempunyai izin untuk memberikan bay’at, jangan diberikan, karena syekh melihat pada kalbu kalian dan ia tahu aspek tersembunyinya. Apakah kalian memberi bay’at karena kalian sombong, arogan, gembira, atau sakit—syekh akan mengetahuinya. “Apakah kalian memanggil mereka untuk dirimu sendiri atau untukku?” Oleh sebab itu, lebih baik tidak memberikannya karena itu berasal dari karakter buruk dari ego, yang memerlukan pelatihan untuk mengatasinya.

Siapakah yang memberikan bay’at? Segera setelah kalian melakukan dosa, bay’at kalian hilang, jangan pikir ia masih ada. Sampai kalian meminta maaf dari orang yang kalian sakiti. Itulah sebabnya kalian tidak boleh bergunjing atau menyebarkan rumor yang tidak benar. Jika itu haqq dan orang itu menyakiti kalian, kalian boleh mengekspos orang itu.

Syekh itu berkata, “Aku tidak akan memberimu bay’at,” Mawlana Syekh berkata, “Mohon, Sayyidii.

Beliau menolak untuk memberinya di depan ratusan orang, dan karena setiap orang bukan wali, mereka muali berpikiran buruk. Kemudian Syekh mengizinkan Mawlana untuk pergi dan beliau patah hati. Itu adalah ujian dari wali. Itu bukan seperti sekarang ketika mereka datang dan berkata, “Beri aku bay’at,” bahkan tanpa wudu! Kita berharap bay’at kita dijaga bersama Mawlana Syekh. Mereka menjaganya, tetapi kita tidak menjaganya. Ketika kita berdosa, berarti kita melanggarnya, dan Allah memberi mereka kekuatan untuk memperbaiki apa yang telah dilanggar.

Beberapa rumor tersebar menyerang saya oleh beberapa kelompok. Saya berada di Siprus dan beberapa wanita dan pria dari Jerman sangat menyukai saya, dan mereka adalah orang-orang yang tulus, tetapi ada dua atau tiga wanita di antara yang lain di dergah wanita, dan satu Jumat mereka membaca Surat al-Mulk, at-Tabaraka, menunggu Mawlana memberikan pelajarannya. Saya duduk di mihrab menunggu selesainya salat karena Mawlana telah menempatkan saya sebagai imam. Kami menyelesaikan salat dan kemudian keluar. Kemudian seorang wanita datang dan berkata, “Aku ingin berbicara denganmu.” Dia adalah seorang Arab tetapi tinggal di Jerman dan dia mengerti Bahasa Jerman. Dia berkata kepada saya bahwa ada dua wanita di sana, dan Mawlana duduk dan mereka berkata, “Syekh Hisyam tidak memberikan bay’at kecuali dengan membayar $100.” Rumor dan ghibah dilarang oleh Nabi (s). Wanita itu menjawab mereka dengan kasar.

Orang-orang mendengar bahwa syekh tidak memberi bay’at kepada Mawlana, dan itu adalah sebuah ujian. Beberapa orang mengatakan, “Syekh mempermalukan aku,” tetapi itu adalah tarfi` ad-darajaat, bagaimana mereka meningkatkan level kalian. Jika syekh plastik mempermalukan kalian, ia melakukan dosa dengan menyakiti hati kalian. Jika seorang syekh sejati melakukan hal itu, ia mengangkat kalian, jadi jangan mempunyai keraguan terhadap syekh kalian. Mawlana kembali keesokan harinya, karena beliau tidak mempunyai keraguan, dan kemudian syekh berkata kepadanya, “Nazim Effendi, namamu tidak tertulis sebagai salah satu muridku. Namamu adalah bersama Syekh `AbdAllah ad-Daghestani di Damaskus, Sultan al-Awliya. Pergilah dan ambil bay’at dengannya.”

Ini adalah sebuah contoh bagaimana para awliyaullah mengetahui hierarki mereka. Mereka tidak semua berada dalam syekh yang sama karena ada banyak level syekh, tetapi apapun levelnya, tetap saja kalian harus rendah hati dan penuh hormat. “Pergilah ke Damaskus, kepada Syekh `Abdullah ad-Daghestani. Beliau adalah syekhmu. Aku tidak bisa melewati batas.”

Saat itu adalah Perang Dunia II, ledakan dan bombardir ada di mana-mana karena Perancis dan Inggris berperang di Suriah. Mawlana Syekh pergi ke Homs dan tinggal di sana selama satu tahun, jadi beliau melakukan khalwat di sana. Beliau mempelajari buku-buku fiqh dan itu dilakukan di makam Sayyidina Khalid ibn al-Waliid (r). Beliau tinggal di sebuah kamar di sebelah makam dan mendengarkan Syekh Ayyuun as-Suud. Kemudian perang berakhir dan beliau pergi menuju Grandsyekh, tetapi beliau tidak tahu ke mana harus pergi. Jadi mereka menurunkannya di Hayy al-Miidan, tetapi sangat mengejutkan bahwa mereka tidak menurunkannya di Marja, di tempat pemberhentian taksi utama, tetapi mereka menurunkannya dua jam dari sana! Saat itu sedang perang dan tidak ada orang di jalan, tetapi seseorang melihatnya mengenakan jubah dan membawa tongkat seperti Sayyidina Musa (a).

Seseorang melihatnya dan berkata, “Apa yang kau lakukan di sini, syekh? Mari, mari, ke mari.” Orang itu memberi makan Mawlana dan berkata, “Bagaimana aku dapat membantumu?” Mawlana berkata, “Aku mencari Syekh `AbdAllah al-Fa’iz ad-Daghestani.”

Ia berkata, “Beliau adalah tetanggaku! Aku akan membawamu ke sana.”

Hari berikutnya Mawlana pergi ke pintu, tetapi sebelum beliau mengetuk, Grandsyekh membuka pintu dan berkata, “Kami telah menanti kedatanganmu.”

Kita akan melanjutkan kisahnya besok. Tarekat tidak mudah, banyak hal di jalan kalian yang mungkin merintangi kalian, tetapi kalian harus mengatasinya. Jika kalian mengatakan kepada beberapa orang, “Tidak ada bay’at,” mereka akan pergi menyimpang, berpikir, “Syekh itu berpikir bahwa ia lebih baik daripada aku, jadi aku akan mencari syekh lain.”

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.