Pentingnya Bulan Suci Rajab dan Sya`ban

91070140_2773558369365165_108589310252417024_o

Shaykh Hisham Kabbani
Burton, Michigan, 20 Mei 2016
Khotbah Jumu`ah di As-Siddiq Institute & Mosque (ASIM)
As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

[Doa Khotbah]

Wahai Muslim, wahai Mukmin!  Setiap saat dalam kehidupan kita diperhitungkan; kita hanyalah seorang hamba yang lemah, tanpa kekuatan, dan tidak berdaya.  Kita berusaha menjadi seorang hamba yang ikhlas kepada Allah (swt) dan itulah sebabnya kita tidak dapat mengangkat kepala kita dan mengatakan, “Kami di sini.”  Yang ada hanyalah Allah (swt), Sang Pencipta. Dia membawa kita ke dunia dan membawa kita ke Akhirat dalam perjalanan yang penuh dengan rintangan, kesulitan; penuh masalah, dan berbagai penderitaan yang dihadapi dunia Muslim seluruhnya.  Tetapi Allah (swt) Maha Penyayang, dan Dia ingin menolong kita dalam ibadah kita dan agar diterima oleh-Nya. 

Hamba terbaik atau dapat kita katakan Hamba yang Unik adalah Sayyidina Muhammad `alayhi afdhalu ’sh-shalaatu wa ’s-salaam.  Allah (swt) mengangkat derajatnya di bawah Pengawasan-Nya dan menjadikannya sebagai Penghulu dari seluruh Rasul, sejak Adam (as) hingga Hari Kiamat, dan tidak ada lagi Rasul setelah beliau. 

Sayyidina Muhammad, `alayhi afdhalu shalaatu wa salaam, berusaha untuk tidak terlalu membebani umatnya. 

عن عبد الله بن بسر رضي الله عنه أن رجلا قال: يا رسول الله إن شرائع الإسلام قد كثرت علي فأخبرني بشيء أتشبث به؟ قال لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله” الترمذي.

Seorang pria datang kepada Nabi (saw) dan berkata, “Wahai Rasulullah (saw)!  Sesungguhnya Syariat Islam terlalu banyak bagi kami, berikanlah suatu amalan yang dapat kami pertahankan.  Rasulullah (saw) menjawab, “Senantiasa basahi lidahmu dengan dzikrullah.” (Tirmidzi)

Ketika seorang Badui mendatangi Rasulullah (saw) dan mengatakan, “Terlalu banyak Syariat Islam, berikanlah sesuatu yang dapat kulakukan.”  Nabi (saw) menjawab, “Ij`al lisaanaka ratban bi-dzikrillah, “Basahi lidahmu dengan dzikrullah.”  Dzikrullah adalah kitab suci al-Qur’an, oleh sebab itu jadikanlah ia sebagai sahabatmu, agar Allah menyelamatkan dirimu!  Nabi (saw) tidak memberikan sesuatu yang tidak dapat dipikul orang itu, tetapi makna dan tafsir hadits tersebut pada hakikatnya mengatakan bahwa kitab suci al-Qur’an dapat membawa seluruh alam semesta!  Allah (swt) ingin menyelamatkan Ummat an-Nabi (saw), jadi Dia memberikan waktu-waktu yang berharga dalam kehidupan mereka, seperti sekarang ini, kita berada di tiga bulan suci yang sangat dicintai oleh Nabi (saw), di mana beliau (saw) mengatakan dalam Haditsnya, 

رجب شهر الله، وشعبان شهري، ورمضان شهر أمتي

Rajab adalah bulannya Allah, Sya`baan adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.   (Abul-Fath ibn Abi Fawaris dalam `Amalii dari al-Hasan)

Ketika Nabi (saw) mengatakan, “Rajabun syahrullah, “Rajab adalah bulannya Allah,”  Allah tidak memerlukannya, itu adalah untuk kita!  Dia menawarkan satu bulan dengan piring emas kepada kita, di mana bila kalian melakukan ibadah di dalamnya, kalian akan meraih keberhasilan.  Ketika beliau (saw) mengatakan, “Rajabun syahrullah, itu artinya ibadah apa pun yang kalian lakukan di bulan itu akan diangkat oleh Allah (swt) secara langsung, bukan oleh para malaikat, karena itu adalah bulannya Allah.

Wa Rajabun tsalatsatu ahrufin fa ar-Raa rahmatullah, huruf pertama, Ra, adalah Rahmatullah, Rahmat Allah pada kita; wa ‘l-jiim juuduhu `alayna, huruf Jiim melambangkan Kemurahan-Nya kepada kita; wa ‘l-Baa, huruf Baa adalah birruhu `alayna, memberi birr, nikmat kepada kita.  Li anna ar-rahmata tasubbu fiihi sabban, itulah sebabnya ia disebut ‘Rajabun syahrullah,’ karena rahmat akan turun secara langsung kepada kita di bulan itu, tidak ada malaikat yang membawakannya; wa ismuhu ‘l-asamm, dan Allah menyebutnya, “Rajabun syahrullah al-asamm,” artinya, “tidak mendengar apa-apa,” karena bertengkar di bulan ini tidak diperbolehkan, termasuk bertengkar di antara saudara-saudari kalian, kerabat dan tetangga.  Lupakan tentang perang, bahkan bertengkar pun tidak dapat diterima di bulan Rajab.  

Allah akan bertanya kepada bulan Rajab, “Apa yang telah dilakukan oleh hamba-Ku untuk-Ku, wahai Rajab?”  Allah akan bertanya kepada bulan Rajab, “Apa yang telah dilakukan oleh hamba-Ku untuk-Ku?” dan jawabannya adalah, Inna Rajab yurfa`u ila ‘Llahi ta`ala idzaa anqada fa-yas’aluhu ‘Llahu ta`ala `an `amali `ibaadihi fa yaskut. Allah akan bertanya kepada bulan Rajab ketika ia berakhir, “Apa yang telah dilakukan oleh hamba-Ku?  Katakan pada-Ku.” Apakah Allah tidak tahu? Dia tahu, tetapi Dia ingin agar kita mengetahui karena di bulan Rajab amal kita akan diangkat secara langsung kepada-Nya.  

Dan Allah bertanya kepadanya (Rajab), “Katakan apa yang mereka lakukan?” Fa yaskut. Lihatlah adabnya, ia tidak menjawab.  Tsumma yas’aluhu tsaaniyan fa yaskut, kemudian Dia bertanya sekali lagi, dan bulan Rajab tetap diam. Tsumma yasa’luhu tsaalitsan, kemudian Dia bertanya untuk ketiga kalinya, dan bulan Rajab tetap diam, tsumma yaquul, karena tiga kali ia tidak mengatakan apa-apa, kemudian ia ingin membela kita, “Yaa Rabb, Anta amarta `ibaadaka an yastura ba`dahum ba`da, “Wahai Tuhanku, Engkau telah memerintahkan hamba-Mu untuk tidak saling membuka aib masing-masing, untuk saling menutupi jika mereka melakukan kesalahan,” wa sammaanii nabiyyuka Muhammad shallAllahu `alayhi wa sallama al-asamm, fa anna ‘l-asamm,” dan Nabi (saw) menyebutku, “Bulan yang tidak mendengar, dan aku tidak mendengar apa-apa, fa anna ‘l-asamm sama`atu ta`atahum,” tetapi aku mendengar ibadah mereka.”  Duuna ma`aasiihim, “Aku tidak mendengar dosa-dosa mereka, aku hanya mendengar sisi baiknya, dan aku tidak ingin mendengar sisi buruknya.”  Fa yaghfiru ‘Llah `azza wa jall li ‘l-ummat al-Muhammadiyya, Allah akan mengampuni umat Muhammad karena bulan Rajab ini, syahrullah, wa qiil rajabun li-istighfaaru ’dz-dzunuub, Allah telah menjadikan Rajab sebagai bulan pengampunan dari dosa untuk mempersiapkan kita memasuki bulan Sya`ban dan Ramadhan, wa qiil Rajab syahru ‘t-tawbah, wa Sya`baanu syahru ‘l-mahabbah wa Ramadhanu syahru ‘l-qurbah. Dikatakan bahwa Rajab adalah bulan tawbah, ampunan, dan Sya`baan adalah bulan cinta dan Ramadhan adalah bulan keakraban.  Itulah sebabnya mengapa Nabi (saw) sering mengatakan, “Sya`baanu syahrii, beliau mencintai bulan itu, wa Ramadhanu syahru qurba,“ dan Ramadhan adalah bulan keakraban, yakni ketika hamba akan dekat dengan Allah (swt), sebagaimana Dia berfirman, 

Nabi (saw) bersabda bahwa Allah (swt) berfirman,

« كل عمل ابن آدم يضاعف الحسنة عشرة أمثالها إلى سبعمائة ضعف. قال الله عز وجل: إلا الصوم، فإنه لي وأنا أجزي به. يدع شهوته وطعامه من أجلي. للصائم فرحتان: فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه. ولخلوف فيه أطيب عند الله من ريح المسك» رواه مسلم

“Setiap amal anak Adam akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat, dan Allah (`azza wa jalla) berfirman, “Kecuali puasa, karena amal itu dilakukan (murni) untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.  Ia telah meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya demi Aku. Ada dua kebahagiaan yang didapatkan oleh orang yang berpuasa, yaitu kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sesungguhnya bau mulut (orang yang berpuasa) lebih harum di sisi Allah daripada harumnya minyak kasturi.” (Muslim)

Sekarang (malam) kelima belas Sya`ban akan tiba.  Dikatakan oleh banyak ulama bahwa Nabi (saw) bersabda, 

عن النبي صلى الله عليه وسلم من صلى أول ليلة من شعبان اثنتي عشرة ركعة يقرأ في الركعة الأولى فاتحة الكتاب مرة وقل هو الله أحد خمس مرات أعطاه الله تعالى ثواب اثنى عشر ألف شهيد وخرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه ولا يكتب عليه خطيئة إلى ثمانين يوما

Barang siapa yang shalat dua belas rakaat pada malam pertama bulan Sya`ban dan membaca Surat al-Fatihah sekali dan Qul Huwa ‘Llahu Ahad lima kali pada rakaat pertama, Allah akan memberinya pahala dari 12.000 syuhada dan ia akan dibebaskan dari dosa-dosanya seperti ketika baru dilahirkan ibunya dan tidak ada dosa yang akan dituliskan baginya selama delapan puluh hari berikutnya. (Nuzhat al-Majalis oleh as-Safuri).

Jadi, itu adalah Rahmatan li ‘l-Ummah, Allah (swt) memberi kita kesempatan untuk melakukannya.  Saya akan menyebutkan sebuah sebuah kisah dari kitab Nuzhatu ‘l-Majalis dan di dalam Rawdhatu ‘l-Afkaar:

مر عيسى بن مريم عليه السلام على جبل فرأى فيه صخرة بيضاء فطاف بها عيسى وتعجب منها، فأوحى الله إليه أتريد أن أبين لك أعجب ممارأيت، قال: نعم فانفلقت الصخرة عن رجل بيده عكازة خضراء وعنده شجرة عنب، فقال: هذا رزق كل يوم، فقال: كم تعبد الله في هذه الحجر، فقال: منذ أربعمائة سنة، فقال عيسى: يارب ما أظن أنك خلقت خلقاً أفضل منه، فقال: من صلى ليلة النصف من شعبان من أمة محمد صلى الله عليه وآله وسلم ركعتين فهو أفضل من عبادته أربعمائة عام، قال عيسى: ليتني من أمة محمد صلى الله عليه وآله وسلم

Sayyidina `Isa (as) melewati sebuah gunung dan beliau melihat sebuah batu berwarna putih di sana. Beliau berjalan mengelilinginya dan tercengang melihatnya.  Kemudian Allah (swt) mewahyukan kepadanya, “Maukah engkau Kutunjukkan sesuatu yang lebih menakjubkan dari apa yang kau lihat di sini?” Beliau menjawab, “Ya.”  Kemudian batu itu pun terbelah. (Nuzhat al-Majalis oleh as-Safuri)

Seperti halnya Nabi-Nabi lainnya, Sayyidina `Isa (as) sering bepergian di padang pasir atau hutan untuk melakukan suatu siyaaha, perjalanan.  Dalam perjalanannya, fa ra’aa fiihi sakhratun baydaa’ “Ketika beliau menemukan sebuah batu putih yang besar dan sangat bersih.” Fa-taafa bihaa `Isa, “Beliau berjalan mengitarinya dan berpikir, ‘Betapa mengagumkannya batu ini.’ Wa ta`ajjaba minha, “Beliau tercengang pada batu putih yang indah yang ada di sana di tengah-tengah daerah antah berantah.”  Fa-awha ‘Llahu ilayh, “Allah mewahyukan kepadanya, a-turiidu an ubayyina laka a`jaba mimmaa ra’ayt, ‘Maukah engkau Kutunjukkan sesuatu yang lebih menakjubkan dari apa yang kau lihat di sini?’  Sayyidina `Isa (as) mengatakan, qaala na’am, ‘Ya, aku ingin melihatnya.’”

Fa anfalaqat as-sakhrah, “Batu itu pun terbelah,” seperti dalam kisah tiga orang yang berlindung di dalam gua, Nabi (saw) menyebutkannya dalam sebuah Hadits, gua itu tertutup oleh sebuah batu dan setiap orang menceritakan pengalamannya tentang ibadah terbaik yang mereka lakukan untuk Allah, kemudian batu itu terbuka sehingga mereka bisa keluar.  Jadi ketika Allah berkata kepadanya, “Maukah engkau Kutunjukkan yang lebih hebat dari itu?” Nabi `Isa (as) menjawaba, “Na`am yaa Rabbii.” Fa anfalaqat as-sakhrah `an rajulin bi yadihi ukaazah khadraa. “Batu itu pun terbelah dan ada seorang pria yang duduk di sana dengan sebuah tongkat hijau.”  Wa `indahu syajaratu `inab, “dan di sampingnya terdapat sebatang pohon anggur.”

Hal itu lebih mencengangkan, bagaimana sebatang pohon anggur dan pria itu hidup di dalam batu itu, karena Allah berfirman, infalaqat, “Batu itu terbelah dan mereka pun terlihat.”  Orang itu berkata kepada Sayyidina `Isa, “Wahai `Isa,” ia langsung menyebutkan namanya.  Sayyidina `Isa (as) lebih terkejut lagi dan berpikir, “Bagaimana ia bisa mengetahui namaku?” Fa qaala hadza rizqu kulli yawm, “Ini adalah milikku, Allah mengirimkannya kepadaku.  Aku tidak peduli dengan dunia, aku hanya peduli dengan Akhirat, dan orang yang peduli dengan Akhirat, Allah akan memberi mereka rezeki [bahkan] di dalam sebuah batu.”  

Kita mengejar dunia seolah-oleh kita tidak melihatnya, kita menginginkan semuanya dalam kantong kita.  Kita tidak bersyukur kepada Allah (swt) bahwa Dia telah memberi kita kepala, mata, telinga dan hidung untuk mengucapkan, “Laa ilaaha illa-Llah Muhammadun Rasuulullah.”  Dia memberi kita lidah untuk membuat kita senantiasa berdzikir.  Dia memberi kita hati untuk menjaga dzikrullah!  Orang itu menyembah Allah di dalam batu dan Allah mengirimkan rezekinya di sana.  Jangan terkejut, mereka ini adalah para anbiyaa. Allah memberi tanda-tanda kepada mereka, karena kehidupan mereka adalah untuk Allah (swt), tetapi kehidupan kita adalah untuk diri kita, kita tidak hidup untuk Allah (swt), kita adalah hamba yang lemah dan tidak berdaya, kita tidak bisa seperti mereka.  Namun kita dapat mengambil teladan dari kisah-kisah mereka. 

Hadza rizq kulli yawm, fa qaala kam ta`budullah fii hadzihi ‘l-hajar, “Sudah berapa lama engkau beribadah di dalam batu itu?”  Fa qaala, mundzu arba`a mi’ata sannah, “Aku sudah berada di dalam batu itu selama empat ratus tahun.”  Sebelum Ummat an-Nabi (saw) dan Ummat Bani Israiil hingga ke Sayyidina `Isa (as), orang-orang terdahulu berumur panjang, sekarang tidak seperti itu.  Faa qaala `Isa, yaa Rabb, beliau terkejut karena orang itu bergantung kepada Allah sepenuhnya; Allah mengirimkan makanan untuknya.  Sayyidina `Isa (as) berkata, “Yaa Rabb, ma azhunnu annaka khalaqta khalqan afdhala minhu,” “Wahai Tuhan, aku pikir Engkau tidak menciptakan orang yang lebih baik darinya, sebagai seorang manusia, sebagai seorang makhluk.” 

Allah (swt) mewahyukan kepadanya, laa yaa `Isa, “Jangan berkata begitu `Isa,” Fa qaal, yaa `Isa, man shalla Laylat al-nisf Sya`baan min Ummati Muhammad shall`Allahu `alayhi wa-sallam bi raka`tain fa huwa afdhal min `ibadatihi arba`a mi’ata `aam, “Karena ini adalah bulannya Sayyidina Muhammad (saw), barang siapa yang melakukan shalat dua rakaat di bulan Sya`ban, terutama pada hari kelima belas bulan Sya`ban, itu lebih baik daripada ibadah selama 400 tahun.”  

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyerukan untuk berbuat yang makruf, dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah. (Surat Aali-`Imraan, 3:110)

“Kalian adalah umat terbaik yang telah dilahirkan untuk manusia, Ummat an-Nabi (saw).” Allah mengaruniakan berbagai rahmat dan ampunan, walaupun kita tidak banyak melakukannya, Allah mengaruniakan umat ini segala sesuatu untuk Akhirat, sudah disiapkan untuk kita di Surga, insyaa-Allah.  Itu tidak berarti bahwa kita bisa sombong, Allah (swt) mengaruniainya kepada kita karena Dia menjadikan kita sebagai bagian dari Ummat an-Nabi (saw), kehormatan itu adalah untuk Nabi (saw), Allah (swt) memuliakan Nabi (saw) untuk Ummatnya, untuk shalat dua rakaat dan memberi mereka `ibadaat saa’ir al-umam bi arba`a mi’ata `am.

Dia memuliakan Ummat an-Nabi lebih dari Dia memuliakan Ummah lain karena Sayyidina Muhammad (saw)!  Itulah sebabnya mengapa, Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim, wa law annahum idz zhalamuu anfusahum jaa’uuka fa astaghfaruullaah, “Ketika mereka telah menganiaya dirinya, satu-satunya jalan keluar adalah dengan mendatangimu yaa Muhammad (saw),” sebagaimana firman Allah di dalam kitab suci al-Qur’an.

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Jika sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (Surat an-Nisaa, 4:64)

Jadi kehormatan itu adalah untuk Nabi (saw) karena Allah mengampuni kita melalui beliau!  Semoga Allah (swt) mengampuni kita. 

Banyak syuyukh yang mengatakan, kaana ash-shaalihuuna yuhafizhuuna `alaa shalaati ’t-tasaabiih fii syahri sya`baan: Pada Hari Kiamat, Allah akan bertanya pada kita, “Apakah kalian melakukan Shalaat at-Tasaabiih di bulan Sya`ban?” sebagaimana Nabi (saw) telah menyebutkannya ketika beliau menunjukkan Shalaat at-Tasaabiih kepada para Sahaabah (ra), bahkan jika kalian melakukannya sekali seumur hidup, kalian akan masuk Surga, insyaa-Allah.

[Doa penutup khotbah.]

http://sufilive.com/The-Significance-of-the-Holy-Month-of-Rajab-and-Shaban-LS–6190.html
© Copyright 2016 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

Waspadalah di Bulan Muharram

448c42289d04f01857325643bd302ab7

Sultan al-Awliya Mawlana Shaykh Nazim al-Haqqani
Lefke, Siprus, 16 November 2011
(Diterjemahkan dari bahasa Arab)

Sesungguhnya tahun ini adalah Haji al-Akbar, tetapi mereka (para Awliyaullah) menundanya satu hari karena para Awliya berkumpul di Arafat pada tahun ini, dan mereka tidak ingin bila orang-orang berada di sana tahun ini.  Hari pertama bulan Muharram akan jatuh pada hari Sabtu (26 November 2011). Bulan Dzul Hijjah ini ada 29 hari, artinya Sabtu lebih tepat. 

Allah (swt) mengetahui apa yang akan terjadi di bulan Muharram, oleh sebab itu jika tidak ada keperluan yang mendesak atau keperluan yang sangat mutlak, tidak perlu melakukan perjalanan, tidak ke Amerika, tidak ke Eropa.  Kalian harus mengambil langkah-langkah pencegahan, lebih hati-hati dan waspada. 

Mungkin Perang Dunia III akan bermula di Timur Tengah dan pasukan Russia akan masuk ke dataran Amuq di Suriah.  Perang akan terjadi. Allah (swt) akan membuat Islam berjaya. Allah memberi dukungan dan membuka jalan ke Turki.  Allah akan membuka jalan ke Istanbul. Dari sana Sultan akan datang dan masuk ke Istanbul, dan Imam Mahdi (as) sudah ada dalam pergerakan ini, tetapi beliau belum muncul. 

Mungkin peristiwa ini akan terjadi di bulan Rajab atau setelahnya, ketika Imam Mahdi (as) akan masuk ke Istanbul.  Ini artinya daerah di Timur Tengah sedang bergolak. Pasukan akan datang dari Damaskus dan mereka berperang melawan tentara Russia.  Tangan Imam Mahdi (as) bersama pasukan itu, tetapi beliau sendiri belum muncul.  

Saya tidak merasa takut, tetapi lebih berhati-hati dengan terjadinya Armageddon ini karena waktunya sudah sangat dekat!  Oleh sebab itu orang-orang harus berhati-hati dan mengambil langkah-langkah pencegahan di bulan Muharram. Mereka tidak boleh pergi ke sana ke mari bila tidak ada keperluan yang mendesak.  Setiap orang harus tinggal di daerahnya dan tinggal di rumah-rumah mereka.

Udkhuluu masaakinakum, “Masuklah ke dalam sarang-sarangmu!”  

قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Qaalat namlatun yaa ayyuha ‘n-namlu ‘dkhuluu masaakinakum laa yahthimannakum Sulaymaanu wa junuuduhuu wa hum la yasy`uruun.

Salah satu semut berkata, “Wahai semut-semur!  Masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kalian tidak diinjak oleh Sulayman dan bala tentaranya. (an-Naml, 27:18)

Itu artinya jangan pergi keluar rumah kecuali ada keperluan yang mendesak.  Tinggallah di dalam rumah kalian, karena orang-orang yang tinggal di dalam rumahnya akan aman dan selamat, tetapi orang-orang yang keluar dari rumahnya, mereka berada dalam bahaya karena sesuatu bisa menghantam mereka. 

Oleh sebab itu, setiap orang sesuai dengan situasi dan kondisinya harus menyimpan persediaan (makanan) di rumah-rumah mereka sehingga mereka tidak perlu keluar rumah.  Kalian tidak pernah tahu kapan toko-toko sembako itu akan tutup sehingga kalian tidak bisa mendapat apa-apa, dengan demikian kalian hanya bisa mendapatkan sesuatu yang ada di rumah kalian.  Dari persediaan yang kalian buat untuk kalian dan keluarga selama dua puluh hari, dengan izin dan berkah ilahiah, itu akan cukup untuk empat puluh hari. Jika seseorang mampu membeli lebih, melebihi keparluan keluarganya dan ia ingin memberikan kepada orang-orang miskin yang datang ke pintunya, ia juga dapat menjangkau mereka.  Dengan Kemurahan Allah dan dengan Nikmat dan Keberkahan-Nya, jika kalian membelanjakan harta kalian untuk orang-orang miskin, Allah (swt) akan menambah rezeki kalian di rumah tanpa kalian sadari, kalian paham?  

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim… (doa).  Semoga apa yang kita makan dan kita minum memberikan kekuatan kepada tubuh kita, memberikan cahaya kepada hati kita dan menyembuhkan dada kita, demi kemuliaan Nabi (saw), para Sahabatnya (ra), syuyukh kita, Um Hiram (ra), Hajjah Amina (q) dan para pengikut, dan orang-orang yang beriman, 

al-Faatihah.

(Apakah instruksi ini untuk semua orang?) Ya, tentu saja ini untuk semua orang, khususnya bagi mereka yang tinggal di Timur Tengah.

Zamannya Shaahib uz-Zamaan telah tiba.  Tidak perlu pergi ke luar negeri. Jika memungkinkan mereka harus menjaga diri mereka.  Jika ada sesuatu yang terjadi di rumah kalian, ambil wudhu, shalat dua rakaat dan duduklah di sana; tidak ada yang dapat menyentuh kalian. Alhamdulillah, barakat.

(Kapankah ini?)  Sepanjang bulan Muharram, segala sesuatu akan jungkir balik!

[selesai]

Nabi Muhammad (saw) adalah Pilar Pendukung Kita

photo_2020-03-28_10-26-14
Mawlana Syekh Hisyam Kabbani berbicara mengenai prediksi Mawlana Syekh Nazim (q) mengenai pandemi virus Corona, kedatangan Sayyidina al-Mahdi (as) dan pentingnya Nabi Muhammad (saw) sebagai pilar pendukung kita.
______
A`udzu billah mina ‘sy-Syaythani ‘r-rajiim
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
 
Hanya kepada-Nya (Allah) kita memohon pertolongan dalam memenuhi kebutuhan kita.
 
Yaa Rabbi, angkatlah semua kezaliman dari kami, kezaliman dari manusia dan dari semua musuh. Yang menjadi musuh kini telah diketahui, yakni karena virus Corona ini. Itu adalah musuhnya orang-orang Islam.
 
Mawlana Syekh Nazim (q) pernah menggambarkannya. Beliau berbicara secara umum, tidak secara spesifik; dan beliau menggambarkan virus itu satu demi satu. Beliau banyak menyebutkan tentang virus dan banyak ceramah tentangnya di Sufilive.

Mereka ingin agar saya mengatakan sesuatu. Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, a`udzu billaah mina ‘sy-syaythani ‘r-rajiim… Nabi (saw) memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan syayaathiin, itu artinya Setan akan tetap ada hingga masanya Iblis berakhir.
 
Dan insyaAllah ajalnya akan jatuh di tanah ini dan mahabbatu ‘r-Rasuul, kecintaan terhadap Rasulullah (saw) akan dituliskan untuk setiap orang.
 
Dan ini merupakan isyarat bahwa kedatangan Sayyidina Mahdi (as) tidak begitu dekat namun juga tidak begitu jauh, beliau sudah ada, beliau mendengar dan juga menyaksikan.
 
Kita harus membaca Surat al-Jinn, karena di dalamnya terkandung banyak makna. Jangan mengatakan masih ada waktu, karena ini seperti orang yang mengatakan, “Waktu sudah berlalu.” Waktu itu bagaikan emas, dan kemunculan Mahdi (as) adalah emas; kemunculan Awliyaullah bersama Mahdi (as) bagaikan permata.
 
Jadi kabar gembira bagi kalian, wahai orang-orang Islam. Alhamdulillah, segala puji bagi-Nya yang telah mengumpulkan kita, kaum Muslimin, Muwahidin (monotheis), Muhibbiin (para pecinta), dan kita bukanlah Zhalimiin, orang-orang yang zalim. Dan buktinya adalah bahwa seluruh dunia bersatu melawan kuman yang kecil ini, seperti yang masuk ke dalam kepalanya Namrud.
 
Ia masuk dalam keadaan kecil, namun keluar dalam keadaan besar. Kita memohon kepada Allah `azza wa Jalla agar Dia tidak membawanya kepada kita, tetapi menghancurkannya melalui kecintaan kita kepada Nabi (saw) dan dengan kekuatan Nabi (saw); karena Allah `azza wa Jalla memberi kekuatan kepada Nabi (saw) di dunia dan di Akhirat. Para Awliya dan orang-orang yang alim mengetahuinya dan kita memohon agar kita dapat mengikuti jejak mereka.
 
بشرى لنا معشر الإسلام إن لنا من العناية ركنًا غير مُنهدم
 
Busyra lanaa ma’syaral Islami inna lanaa
minal `inayati ruknan ghayra munhadimi

Kabar gembira wahai golongan umat islam!
Karena kita punya tiang besar yang tidak akan rubuh atas pertolongan Allah (swt)
(Qasidah Burdah)
 
Persoalan ini sudah selesai. Nabi (saw) mengatakan dalam lisan Imam Busayri bahwa persoalan ini sudah selesai, karena kalian mempunyai pilar inayatullah (Perawatan Allah) yang besar, kokoh dan tidak akan hancur. Perawatan Allah akan datang pada kalian melalui sebuah pilar yang besar dan pilar itu tidak lain adalah Nabi (saw).
 
Di masanya, kehadiran Nabi (saw) merupakan suatu kejutan yang besar bagi para Sahabat. Dan sekarang, Nabi (saw) bersabda dalam sebuah hadits,
 
اَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُمْلَأَ الْأَرْضُ ظُلْمًا وَجَوْرًا وَعُدْوَانًا، ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي مَنْ يَمْلَؤهَا قِسْطًا وَعَدْلًا ، كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَعُدْوَانًا

Dari Abu Said al-Khudri (ra), sesungguhnya Rasulullah (saw) bersabda, “Akan muncul di antara keturunanku, ia akan mengisi dunia dengan keseimbangan dan keadilan sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan penindasan dan ketidakadilan. (Ahmad, Al-Hakim)
 
Dan beliau adalah al-Mahdi (as). Kemunculannya merupakan suatu yang pasti (dalam Islam). Saya telah membaca lebih dari 100 Ahadits mengenai Mahdi (as). Dan kemunculannya ini akan menghapus yang salah sebagaimana ia telah menghapus yang salah di masa lalu. Jika ia (Dajjal) muncul, itu adalah agar ia terbunuh, karena jika ia bersembunyi, ia tidak bisa dibunuh; tetapi bila ia muncul, itu merupakan sebuah pertanda besar bahwa ia akan dibunuh dan tidak ada seorang pun yang dapat membunuhnya kecuali Mahdi (as).
 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيمَتَانِ ، يَكُونُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ ،

Sebagaimana Nabi (saw) bersabda, “Hari Kiamat tidak akan muncul sebelum ada dua kelompok besar saling berperang satu sama lain, dan di antara mereka akan terjadi suatu pertempuran yang besar, padahal seruan dakwah mereka adalah sama. (Bukhari)
 
Ini adalah bentuk penantian (intizhar) yang makbul, dapat diterima, sehingga tidak ada pertumpahan darah atas nama Islam dan kaum Muslim dan mereka yang mengikuti jejaknya–dan insyaAllah kita berada di jejak mereka–dan selamat.
 
Hadirkan hati kalian, wahai Muslim! Waktunya telah sempurna; meskipun membela umat Muslim dan rumah-rumah mereka adalah tugas bagi setiap Muslimin dan Muslimah, tetapi hal itu hanya ketika Allah memerintahkannya, yaitu ketika Mahdi (as) telah muncul. Jadi, kita berdoa kepada Allah agar beliau muncul dan kedatangannya akan memunculkan `aynul Haqiqat. `Aynul Haqiqat ini adalah bersama Awliya dalam mencakup samudra biru.
 
Beliau akan muncul dari tempatnya dan beliau akan membusanai umat Muslim dari berbagai maqamnya. Kemudian maqam al-Haqq akan tersebar dan bersamanya seruan kepada Allah (swt) juga akan tersebar. Setelah itu tidak ada lagi orang-orang di dunia yang tidak mengucapkan, “Laa ilaaha illaAllah“, atau “Allah, Allah,” dan pada saat itu al-Massih ad-Dajjal akan terbunuh.
 
Kita memohon kepada Allah (swt) untuk tidak menunjukkan kepada kita apa yang dikandung dalam hari-hari sekarang ini, kita memohon agar kita hanya ditunjukkan hari-hari yang terbaik, karena mereka mengandung mata air hikmah. Dari sana hikmah itu akan muncul. Kita sebagai umat Muslim menginginkan hikmah tersebut. Ini adalah sikap kita dan cinta kita untuk al-Habiibi ‘l-Mushthafa (saw). Beliau telah menunjukkan agama yang haqq.
 
Kita memohon kepada Allah untuk membusanai kita dengan apa yang belum pernah dilihat oleh mata, apa yang belum pernah didengar oleh telinga dan apa yang belum pernah terjadi pada hati manusia dari apa yang telah Allah berikan dari Surga-Nya yang hijau dan indah. Ini berasal dari `Aynul Haqiqat, sebagaimana yang ditunjukkan dalam peristiwa Israa’ Mi’raaj. Sekarang kita berada di awal bulan Sya`ban. Insya Allah kita akan bersama dengan orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang muhsin, dan mereka inilah teman sebaik-baiknya.
 
As-salamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakatuhu.

Jangan takut… Ada malaikat-malaikat yang meliputi dua Timur (al-masyriqayni) dan dua Barat (al-maghribayni). Mereka hadir membela umat Muslim dan juga umat-umat lainnya, karena mereka pun tidak bersalah dalam persoalan ini. Ini adalah kesalahan dari jin-jin pembangkang. Jin mempunyai banyak pertanyaan, mereka selalu bertanya. Mereka selalu mempunyai pertanyaan sampai mereka tahu bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Itulah sebabnya banyak jin yang menjadi Muslim di tangan Rasuuli ‘l-Mushthafa, Sayyidina Muhammad (saw). Dan di antara jin-jin itu, sebagian di antaranya adalah Mukmin dan yang lainnya tidak beriman. Dan jin yang beriman dilindungi, sementara yang tidak beriman, mereka tidak peduli dengan agama dan pada akhirnya mereka akan dikalahkan.
walhamdulillaahi ‘r-Rabbi ‘l-`aalamiin, al-Fatihah

Kehidupan Kita adalah tentang Perjalanan ke Hadirat Ilahiah

89591512_871362696659943_7271272168413757548_n

Dr.Nour Kabbani
Shuhbah
Fenton, Michigan, 19 Maret 2020


a`uudzu billaahi syamii`i ‘l-`aliim mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
a`uudzu billaahi syamii`i ‘l-`aliim mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Rabbii laa hawla wa laa quwwata illa billaahi ‘l-`aliyyi ‘l-`azhiim 

Destur yaa Sayyidi Madad, yaa Sulthaanil Awliya, 
Yaa Sayyidi Quthbal Mutasharrif, 

Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Aziiz Allah
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Kariim Allah
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhan Allah
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Sulthan Allah

Engkau adalah Sulthan yaa Rabbii, Engkau yang mengendalikan segala sesuatu, dengan kendali penuh, kendali yang mutlak.  Tidak ada yang dapat melarikan diri dari-Mu yaa Rabbii, Engkau Maha Mengetahui apa pun yang terjadi. Yaa Rabbii, kami adalah hamba-Mu yang lemah, tolonglah kami yaa Rabbii, berikanlah apa yang kami perlukan.  

Assalamu’alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh,

Selamat datang!  Selamat datang! Selamat datang untuk kalian dan selamat ulang tahun untuk saya. (tertawa)

Mawlana Syekh Nazim, mursyid kita, guru kita.  Semoga Allah (swt) memberkahi beliau selama-lamanya, dan menjadikan kita senantiasa mengikuti jejaknya.  Alhamdulillah kita melanjutkan perjalanan kita. Perjalanan kita ke mana? Ke Hadirat Allah, ilal hadhrah qudsiyyah, ke Hadirat Ilahiah-Nya yang suci, al-hadhratul wahidiyyah, al-hadhratil asma’iyyah, semoga Allah (swt) membuka pintu itu untuk kita.  

Kita semua meminta untuk hidup.  Ini adalah perkataan Mawlana Syekh Nazim (q).  Semua kata-kata saya berasal dari kata-kata guru saya.  Saya berusaha untuk tidak mengatakan apa-apa dari imajinasi saya; saya berusaha untuk mengikuti dan mengulangi apa yang telah dikatakan oleh guru saya, untuk diri saya agar dapat mengerti dan untuk orang lain agar dapat bermanfaat.       

Beliau mengatakan, “Nahnu jamii`an tathlubul hayaat,” kita semua meminta hayat, kehidupan.  Semua orang mencintai kehidupan. Setiap orang senang untuk melanjutkan kehidupannya.  Mereka tidak senang untuk mati. Semua orang di dunia tidak ingin mati, semua orang di dunia ingin agar tetap hidup.  Setiap orang takut dengan kematian. Dan setiap orang ingin hidup selamanya. Ini adalah kata-kata dari guru kita, Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani an-Naqsybandi al-Qubrusi (qaddasAllaahu sirruhu).  Beliau mengatakan, “Setiap orang ingin hidup, setiap orang ingin agar tetap hidup selamanya. Tidak ada orang yang ingin mati.”      

Allah (swt) telah menciptakan manusia; Allah (swt) telah menciptakan kalian dan saya, Allah (swt) tetah menciptakan semua manusia di bumi dan telah memberi mereka dari ruuh-Nya, dari napas-Nya, wa nafakhtu fiihi min ruuhii, dan Aku telah meniupkan Ruh-ku ke dalamnya (QS al-Hijr: 15-29).  Allah (swt) telah memberikan napas suci itu (ruh) kepada manusia setelah Dia menciptakannya.  Dan Dia telah memberinya kekuatan, qudrah; Dia telah memberinya kemampuan; Dia membuat manusia mampu untuk belajar, untuk memahami, untuk mengetahui, untuk merasakan, untuk mencintai; dan Dia juga memberinya kemampuan untuk berkehendak dan untuk menginginkan sesuatu, dan untuk meminta, dan untuk bergerak sesuai dengan keinginannya, dan sesuai dengan permintaannya.  

Allah telah membuat kalian mampu, wahai manusia dengan kehidupan yang Dia berikan kepada kalian.  Dia telah memberi kalian kehidupan itu. Dan Dia telah memberikan kalian perlengkapan di dalamnya.  Kalian mempunyai peralatan dalam diri kalian. Peralatan, yang mereka sebut isti`adaad, kesiapan.  Allah (swt) telah memberi kalian isti`adaadun fithri, Dia telah memberi kalian kesiapan sejak Dia menciptakan kalian.  Ini adalah isti`adaad kalian, modal kalian.  Allah telah memberi kalian kesiapan untuk memulai suatu perjalanan ke Hadirat Ilahiah-Nya.  Dan itu adalah kehidupan kalian.  

Kehidupan kalian bukanlah tentang kenikmatan sebagaimana yang dilakukan oleh binatang, tidak!  Kehidupan kalian adalah tentang mengambil manfaat dari karunia yang telah Allah berikan kepada kita untuk mencari perjalanan tersebut.  Perjalanan ke Hadirat Ilahiah-Nya. Jadi kehidupan kalian adalah tentang melakukan perjalanan ke Hadirat Ilahiah itu. 

Grandsyekh mengatakan, “Laqad `athaanaa hayaat,” Allah (swt) telah memberi kita kehidupan.  Tetapi kehidupan ini tidak diberikannya kepada yang lain.  Binatang tidak mempunyai kehidupan seperti manusia. Binatang tidak akan mengetahui apa yang diketahui oleh manusia.  Binatang tidak akan mengerti apa yang dimengerti oleh manusia. Binatang tidak akan merasakan apa yang dirasakan oleh manusia.  Kehidupan kalian berbeda dengan kehidupan binatang. Binatang tidak mempunyai kekuatan untuk berkehendak. Manusia diberikan iraadah, kehendak. Kita dapat merasakan kehidupan; kita mengetahui tentang kehidupan; kita merasakan kehidupan; kita mencari kehidupan; kita meminta kehidupan.  Jadi manusia adalah seorang mujaahid, seorang pejuang.  Ia berjuang untuk apa?  Manusia berjuang agar tetap hidup dan tidak mati.  Ahh… kita ingin hidup!

Jadi Grandsyekh mengatakan, “Kalian ingin hidup, tidakkah kalian pikir bahwa Allah (swt) mengetahui keinginan itu di dalam dirimu, wahai manusia?”  Allah (swt) mengetahui keinginan manusia untuk hidup. Dia bersama kita. Apakah menurut kalian Dia tidak mengetahui hal itu? Wallaahu bi kulli syay’in `aliim, dalam Surat at-Taghabun, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.  Wahai manusia, Dia tahu bahwa kalian ingin hidup. Tidak hanya sekarang, Dia tahu bahwa kalian ingin hidup selamanya dan setiap orang ingin masuk Surga.  Setiap orang ingin berada dalam kesenangan yang abadi. Allah (swt) mengetahui hal itu tentang manusia. Jika kalian berpikir bahwa Dia tidak tahu bahwa kalian ingin hidup, berarti kalian salah.  

Grandsyekh mengatakan, “Innahu ya`lam, Allah (swt) mengetahui bahwa sepanjang hidupnya manusia akan mengalami tamparan dalam kondisi terburuk yang mungkin terjadi.  Walaupun begitu manusia ingin tetap hidup dan tidak mau mati. Menghadapi hal itu, Grandsyekh mengatakan bahwa manusia terdiri dari dua golongan.  Kebanyakan orang melihat hal itu dan mereka merasa takut. Mereka berpikir bahwa kematian adalah akhir dari keberadaan mereka. Mereka berpikir bahwa kematian adalah pintu menuju ketiadaan.  Mereka berpikir bahwa kematian merampas keberadaannya. Mayoritas orang yang berpikir seperti itu, mereka tidak mengerti tentang rahasia kehidupan; dan mereka tidak mengerti tentang hakikat kematian.  Mereka tidak mengerti tentang rahasia kehidupan yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka tidak mengerti apa makna dari kehidupan dan makna dari kematian. Mereka tidak mengerti tentang konsekuensi berada dalam kehidupan dan kematian.  Mayoritas orang tidak mengerti tentang hakikat kematian dan mereka tidak mengetahui rahasia kehidupan.         

Hanya sedikit orang yang memahami hakikat kematian dan kehidupan sejati.  Dan yang sedikit ini, mereka mengetahui apa yang diinginkan oleh Allah (swt) dan mereka mengerti hikmah dalam penciptaan ini.  Oleh sebab itu mereka adalah orang-orang yang bahagia. Mereka adalah orang-orang yang ridha. Mereka merasa puas. Orang-orang ini, mereka mengetahui hakikat kehidupan dan hakikat kematian.  Jadi ketika manusia dihadapkan dengan kematian, mayoritas orang ketakutan karena mereka tidak mengerti tentang hakikat kematian dan hanya sedikit yang menyambut kematian itu dengan senang hati, karena mereka mengerti tentang hakikat kematian dan apa yang dibawa oleh kematian itu bagi mereka.  

Jadi mayoritas orang yang takut akan kematian dan mereka berpikir bahwa kematian adalah pintu menuju ketiadaan, mereka adalah orang-orang yang menyedihkan, mereka adalah orang-orang yang tertekan.  Hari demi hari mereka jatuh semakin dalam ke dalam sumur penderitaan dan kesedihan. Orang-orang yang tidak mengerti tentang kehidupan sejati, tentang rahasia kehidupan. Tetapi yang lain, mereka bahagia, karena mereka tahu apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan mereka.  

Wahai Mukmin, di mana iman kalian?  Iman adalah senjata kalian. Iman adalah pendukung kalian; iman adalah tempat bernaung kalian, tempat kalian berlindung.  Dalam Surat at-Taghabun (QS 64: 11), wa man yu’min billaahi yahdi qalbahWa man yu’min billaahi, dan barang siapa yang mempunyai iman, barang siapa yang percaya kepada Allah (swt); yahdi qalbah, Allah menjadikan hati mereka mendapat petunjuk menuju ketenangan dan ketenteraman.  Dia memberikan ketenangan dan kedamaian di dalam hati kalian. Apa? Yu’min billaah, iman kepada Allah (swt).  Allah tidak melanjutkannya pada yang lainnya, karena iman itu adalah asal, iman adalah target utamanya; sedangkan yang lainnya akan mengikuti.  Orang-orang ini tahu bahwa Allah (swt) mengetahui bahwa kita ingin melanjutkan kehidupan kita.  

Jika Allah (swt) memberikan karunia kehidupan kepada kalian dan Dia menjadikan kalian dapat merasakan keindahan dalam kehidupan dan membuat kalian melanjutkan kehidupannya, apakah menurut kalian Allah (swt) akan mencabut nikmat tersebut dari kalian?  Grandsyekh mengatakan, “Jangan berpikir bahwa Allah (swt) akan mencabut nikmat tersebut.” Nikmat apa? Nikmat kehidupan. Jangan berpikir bahwa Allah (swt) akan menjadi pelit, dan mengeluarkan kalian dari kehidupan abadi. Kehidupan yang abadi, itulah tujuannya.  Untuk tujuan itu, Allah (swt) telah mengutus manusia pertama.  

Orang-orang bertanya, “Mengapa Adam dikeluarkan dari Surga?”  Adam keluar dari Surga untuk menyeru kepada anak cucunya, menyeru kepada hamba Allah (swt) untuk kehidupan yang abadi.  Grandsyekh mengatakan, “Allah (swt) telah mengutus manusia pertama, rasul pertama, dengan pesan pertama di bumi. Apakah pesan yang dibawa oleh Ayah dari seluruh manusia?  Ayah kalian! Apakah pesan yang dibawa oleh Nabi pertama bagi manusia? Apakah pesan pertama untuk manusia? Pesan pertama dari Allah (swt), Sang Pencipta adalah, “Wahai hamba-Ku, Aku berjanji padamu, dan Aku memanggilmu untuk masuk ke dalam kehidupan yang kekal.”  “Karena panggilan menuju kehidupan yang kekal itu, Aku telah membuat kematian untuk tinggal bersamamu. Aku telah membuat kematian berada di antara kalian.” “Aku memanggil kalian menuju kehidupan yang kekal!” Itulah pesan pertama yang datang bersama manusia pertama, dan Nabi pertama di bumi.  

Wahai manusia, Allah (swt) memanggil kalian menuju kehidupan yang kekal.  Menuju kekekalan dengan kebahagiaan dan kesenangan. Apa pun yang kalian rasakan di sini, itu akan dilipatgandakan di sana.  Apa pun yang kalian nikmati di sini, itu akan dilipatgandakan di sana. Dan di sana lebih mulia, lebih besar, lebih terhormat, tidak ada kematian dalam kehidupan di sana.  Itulah pesan pertama kepada manusia. “Itulah sebabnya Aku menciptakan kematian di antara kalian.” Alladzii khalaqa ‘l-mawta wa ‘l-hayaata… di dalam Surat Tabarak (QS 67:2).  MasyaAllah, saudara-saudari kita, kalian membaca Surat Tabarak.

Allah (swt) berfirman di dalam Surat al-Mulk, Alladzii khalaqa ‘l-mawta, Dia telah menciptakan kematian, wa ‘l-hayaata, dan kehidupan, liyabluwakum, untuk menguji kamu, ayyukum ahsanu `amala, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, itu artinya siapa di antara kalian yang akan memenuhi panggilan Rasulullah (saw), yang akan memenuhi panggilan Rasul-Rasul, yang akan memenuhi panggilan Rasul pertama.  Panggilan seperti apa? Allah (swt) mengundang kalian untuk masuk ke kehidupan yang kekal di tanah yang penuh kebahagiaan, kesenangan dan kedamaian.  

Jadi mengapa kalian takut?  Mengapa kalian termasuk golongan mayoritas tadi?  Di mana hari demi hari mereka semakin tertekan. Hari demi hari mereka semakin menderita.  Hari demi hari mereka berada dalam kegelapan. Mengapa? Kalian seharusnya termasuk golongan yang minoritas.  Minoritas yang bahagia dengan Tuhannya; mereka mengharapkan dan menyambut hari di mana mereka akan kembali kepada Tuhannya.    

Apa yang dikatakan oleh Allah (swt)?  Suatu ketika Sayyidina Umar (ra) mendapati seorang Mukmin yang sedang berdoa, “Allahumma ‘j-alni mina ‘l-Khaliil,”  “Wahai Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang sedikit.  Sayyidina Umar (ra) berkata, “Doa macam apa ini?” Orang itu berkata, “Yaa Sayyidi, yaa Amira ‘l-Mu’miniin, aku pernah mendengar firman Allah (swt), “Hanya sedikit dari hamba-Ku yang bersyukur.”  Aku berdoa agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang sedikit ini.” Kelompok mana yang sedikit ini?  Mereka adalah orang-orang yang bersyukur. Apa yang mereka syukuri? Mereka bersyukur bahwa mereka telah diciptakan dan telah ditemukan.  Mengapa? Sehingga mereka dapat mengikuti Rasulullah (saw), agar mereka dapat menjawab panggilan Allah (swt).  

Apa yang dikatakan oleh Allah (swt)?  Wahai Mukmin, bukankah Dia berfirman, “falyastajiibuu lii wa ‘l-yu’minuu bii la`allahum yarsyuduun,” (QS 2: 186)

Hendaklah mereka itu memenuhi panggilan-Ku, katakan pada mereka untuk memenuhi panggilan-Ku, kalian semua, penuhilah panggilan-Ku. Panggilan untuk apa?  Panggilan menuju kehidupan yang kekal, hayatun abadiyya, laa mawta fiiha, tidak ada kematian di sana.   

Grandsyekh memberi kita kabar gembira.  Mukmin harus bergembira setiap saat. Mukmin harus merasa puas setiap saat.  Mukmin harus menyambut datangnya hari di mana ia akan bertemu Tuhannya setiap saat.  Mengapa kalian takut, wahai Mukmin? Wahai Mukmin di Saudi, wahai Mukmin di Lebanon, wahai Mukmin di Turki, di Pakistan, di Afrika, di Amerika, di Eropa, wahai Mukmin, wahai orang-orang yang beriman, orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan Surgawi.  Mengapa kalian bersedih? Mengapa kalian takut? Allah (swt) telah menjanjikan kepada kalian kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan ini. Allah (swt) telah menjanjikan kepada kalian kehidupan yang indah dan manis yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya.  Allah (swt) telah menjanjikan kepada kalian untuk berada di Surga dengan Awliya dan Anbiya untuk mendapat maqam laa khawfun `alayhim wa laa hum yahzanuun.  Maqam itu bukan untuk setiap orang, sekarang kalian mengerti bukan?  

Untuk mendapat maqam di mana tidak ada rasa takut pada diri mereka, tidak ada kesedihan pada diri mereka, Allah (swt) memberi ujian di dunia ini.  Mereka yang telah mencapai maqam laa khawfun `alayhim wa laa hum yahzanuun tidak ada ketakutan menimpa mereka.  Tidak ada kesedihan menimpa mereka. Perhatikanlah, mana yang telah mencapai maqam tersebut, di antara masya Allah para Imam, dan Syuyukh, dan para ulama di seluruh dunia.  Mereka semua takut dan bersembunyi. Allah (swt) menunjukkan Awliya-Nya pada kalian.  Mana yang tidak takut dan tidak bersedih hati? Mereka malah senang dan merasa puas. Mereka malah penuh cinta kepada Tuhannya.  Hal itu menunjukkan kepada kalian siapa yang sesungguhnya Awliyaullah; itu menunjukkan siapa Mukmin sejati. 

Grandsyekh mengatakan bahwa nikmat terbesar yang telah dikaruniakan Allah dari Kemurahan-Nya kepada manusia adalah janji bagi mereka untuk kehidupan yang kekal.  Kehidupan dalam keabadian. Kalian tahu contoh saya dan contoh kalian? Kita adalah kuda. Saya dan kalian adalah kuda. Apa yang mereka lakukan terhadap kuda-kuda ini?  Mereka memasangkan kereta padanya. Kalian tahu di masa lalu ketika mereka mempunyai kuda-kuda dan keretanya. Sebelum semua teknologi ini, ada kuda dan kereta yang diikatkan pada kuda itu.  Apa yang dilakukan kuda-kuda ini sejak pagi hingga sore? Mereka membawa manusia, mereka membawa barang dagangan, mereka bekerja. Mereka melakukan pekerjaan berat untuk memberi manfaat bagi manusia.  Tugas saya, tugas kalian adalah itu, kita ini adalah kuda yang melakukan pekerjaan berat demi memberi manfaat bagi kemanusiaan. Ketika pekerjaan kita selesai, apa yang mereka lakukan? Ketika pekerjaan seekor kuda telah selesai, apa yang orang lakukan?  Mereka melepaskan kuda-kuda itu. Mereka melepaskan keretanya, mereka membawa kuda itu ke tempat istirahat yang nyaman, memberi mereka makanan terbaik dan membersihkannya, membelainya dan mungkin menciumnya, kita tidak tahu.  

Mereka mengatakan, “Kalian telah melakukan tugas kalian.  Kalian telah melakukan pekerjaan kalian, kalian telah memberi manfaat bagi manusia.  Sekarang waktunya bagi kalian untuk beristirahat. Grandsyekh mengatakan bahwa gerbang menuju kehidupan yang kekal adalah ketika mereka mengatakan kepada kalian, “Sekarang kalian bebas dari semua tanggung jawab ini.  Kalian telah melakukan yang terbaik, wahai manusia, wahai hamba Allah (swt), wahai hamba Tuhan, kalian telah melakukan yang terbaik untuk masyarakat kalian, kalian telah melakukan yang terbaik untuk keluarga kalian, kalian telah melakukan yang terbaik bagi tetangga kalian.  Kalian telah melakukan yang terbaik bagi negara kalian, kepada dunia, kalian telah melakukan yang terbaik untuk ciptaan Allah. Sekarang Allah menyambut kalian menuju kehidupan yang kekal. Mari lepaskan kereta ini dari kalian untuk membebaskan kalian. Itulah hikmah yang telah diberikan oleh Grandsyekh Naqsybandi ke dalam hati guru kita.  Dan hikmah itu sepatutunya berada dalam hati kalian wahai Mukmin, bahwa Allah telah menjanjikan kepada kalian hayatun abadiyya, kehidupan yang kekal dan Dia telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian apakah kalian akan melakukan pekerjaan yang baik atau tidak.  Jadi, janganlah bersedih hati, jadilah di antara mereka yang sedikit, yang bahagia, yang bersyukur dan memohon kepada Allah (swt) untuk memasukkan mereka ke dalam kehidupan yang kekal.  

Kita semua ingin hidup, tidak ada orang yang ingin mati, jadi ambillah tindakan pencegahan sehingga kalian dapat dimasukkan ke dalam hayatun abadiyya, kehidupan yang kekal.  Itulah yang penting, dan untuk masuk melalui pintu tersebut, yakni melalui kematian.  Melalui pintu itu menuju kehidupan yang kekal. Jadi bergembiralah.  

Grandsyekh mengatakan, dan saya akan mengakhirinya di sini, “Kalian harus meminta kepada Allah (swt), kalian harus berdoa, “Yaa Rabbii an im `alayya, wahai Tuhanku, karuniakan kepadaku lebih banyak nikmat dengan kehidupan yang tidak akan berakhir.”  Itulah sebabnya kita semua ingin hidup, itulah sebabnya setiap orang merasa takut, kita ingin hidup selamanya, tetapi kehidupan di dunia pada akhirnya akan berakhir.  Engkau menjanjikan kehidupan yang kekal. Jadi mintalah kepada Tuhan kalian ketika kalian berada di sini, “Yaa Rabbii, berikanlah kepada kami kehidupan yang tidak pernah berakhir, kehidupan yang akan berlangsung selamanya, hayatan khalida.”  

Mawlana sering mengatakan, “Kehidupan yang tidak pernah berakhir.”  Mintalah kepada Allah (swt) kehidupan yang tidak pernah berakhir, hayatan khalida.  Semoga Allah (swt) mengaruniai kehidupan tersebut.  Kita semua ingin hidup dan kita memohon kepada Allah agar dikaruniai kehidupan yang kekal. Kita katakan, “yaa Rabbii, kami telah memenuhi panggilan-Mu.  Tolonglah kami yaa Rabbii, tolonglah kami untuk memberi manfaat bagi manusia, agar kami dapat melakukan yang terbaik bagi kemanusiaan, sebagaimana seekor kuda telah melakukan pekerjaan terbaiknya, izinkanlah kami melakukan yang terbaik di dunia ini.”  Ketika kita telah melakukan yang terbaik, Mereka akan melepaskan kita dan mengatakan, “Engkau telah melakukan yang terbaik, Tuhanmu menantikanmu.” Itulah yang penting.  

Semoga Allah (swt) senantiasa mengumpulkan kita bersama.  Semoga Allah (swt) menjaga kita dalam jejak para Shadiqiin, jejak orang-orang yang benar, jejaknya Grandsyekh kita yang luar biasa.     

[doa]

wa min Allah at-tawfiiq bi hurmatil habib wa bi sirri Suuratul Faatihah          

Shuhbah pada Malam Laylatul Israa’ wal Mi’raaj

89591512_871362696659943_7271272168413757548_n

Dr. Nour Kabbani
Fenton, Michigan, 21 Maret 2020

A`uudzubillaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Alhamdulillaahirabbi ‘l-`aalamiin
Wa ‘sh-shalaatu wa ‘s-salaamu `alaa Sayyidinaa Muhammad wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin

Destur yaa Sayyidi wa Mawlay, destur yaa Sayyidi Syekh Nazim, nadharak yaa Sayyidi, madadak yaa Sayyidi, himmatak yaa Sayyidi, destur yaa Rijalallaah

Subhanaka, la `ilma lana illa ma `alamtana, innaka Anta ‘l-`Aziizu ‘l-Hakim, innaka Anta ‘l-`Aliimu ‘l-Hakim

Assalamu`alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh, 

Semoga Allah (swt) senantiasa mengumpulkan kita bersama.  Allah (swt) Mahabesar, tidak peduli apa pun situasinya, rahmat-Nya selalu hadir.  

Mawlana Syekh Nazim, semoga Allah memberkahi ruhnya, semoga Allah (swt) senantiasa mengangkat derajatnya.  Beliau mengatakan, “Apa pun situasi yang mungkin terjadi, rahmat Allah (swt) yang akan selalu unggul. Rahmat Allah selalu hadir dan selalu terlihat.  Ketika kita mengingat Rahmat-Nya, kita menjadi bahagia. Ketika kita bahagia, semua kekhawatiran menjadi hilang.  

Majelis kita ini, majelisnya Mawlana Syekh Nazim, majelisnya Grandsyekh Naqsybandiyya, majelis dzikrullah adalah majelis di mana rahmat itu muncul.  Itulah yang dikatakan oleh Syekh kita bahwa ketika kita duduk bersama, ketika kita berkumpul bersama, rahmat itu mulai muncul. Mengapa? Karena kita berkumpul di sini untuk menghidupkan apa yang dibawa oleh Rasulullah (saw).  

Kita adalah manusia di bumi ini, kita berada dalam kegelapan.  Kegelapan dari dunia ini. Allah (swt) berfirman, “waja `ala zhulumaati wa ‘n-nuur dalam Surat al-Anam, 

alhamdulillaahi ‘l-ladzii khalaqa ‘s-samaawaati wa ‘l-ardh, ayat pertama. 

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَجَعَلَ ٱلظُّلُمَٰتِ وَٱلنُّورَ ۖ 

alhamdulillaahi ‘l-ladzii khalaqa ‘s-samaawaati wa ‘l-ardha waja `ala zhulumaati wa ‘n-nuur  

Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang. (QS 6:1).

Di bumi kita berada dalam kegelapan.  Rasulullah (saw) telah membawa cahaya, jadi majelis kita, majelis Naqsybandiyya, majelisnya Grandsyekh, majelis bagi seluruh Muslimin dan Mukminin adalah majelis untuk menghidupkan apa yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw).  Apa yang telah beliau bawa? Beliau membawa cahaya tersebut. Beliau membawa nuur, cahaya.  

Jadi pertemuan kita adalah untuk Allah (swt).  Pertemuan kita di sini adalah untuk mengingat. Untuk mengingat apa yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw), untuk mengingat apa yang telah diberikan oleh Allah (swt) kepada kita.  Itulah sebabnya kita duduk di majelisnya Awliyaullah. Majelisnya Awliyaullah adalah majelis untuk mengingat, mengingat siapa diri kalian, apa yang seharusnya kalian lakukan, bagaimana seharusnya kalian bertingkah laku.  Ketika persoalan muncul, sebagaimana yang dinyatakan oleh Mawlana Syekh Nazim dalam shuhbah-nya, ketika awdha`, ketika muncul persoalan, apa yang kalian lakukan wahai Mukmin?  Jangan menjadi seperti orang yang jahil, jangan menjadi seperti orang yang putus asa terhadap rahmat Allah.  Sebagaimana yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim ketika beliau mengawali shuhbah-nya, “Rahmatullaahi ghaalib, Rahmat Allah yang akan selalu hadir dan terlihat.”  Jangan menjadi seperti yang lain. Kalian adalah Mukmin yang percaya kepada apa yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw), nuur, cahaya.  

Sekarang kita berada dalam suatu situasi, kita berada dalam situasi di mana Allah (swt) telah menciptakannya, Allah (swt) sadar mengenai hal ini.  Apa yang kita lakukan? Kita pergi ke majelis Awliyaullah untuk mendengar dan mengingat serta menghidupkan kembali apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah (saw).  

Jadi, kita selalu bisa mengatakan suatu hal di mana-mana.  Pembicaraan kita bukan hanya mengenai rahasia. Di mana pun kita berada di dunia ini, pembicaraan kita sama, yaitu untuk menghidupkan apa yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw).  Untuk mengingatkan orang terhadap apa yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw), itulah yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim (q).  

Asosiasi Grandsyekh Abdullah (q), asosiasi Mawlana Syekh Nazim (q), asosiasi Grandsyekh Naqsybandiyya, asosiasi para ulama Awliyaullah adalah untuk mengingat.  Nabi (saw) telah datang sebagai pemberi peringatan, siffatuhum mudzakiriin, sifat atau karakter dari para Anbiya, Nabi-Nabi dan Rasul adalah sebagai pengingat, untuk mengingatkan kalian wahai manusia, karena kalian sendiri sudah mempunyai pengetahuan tentang hal itu.  

Manusia sudah mempunyai pengetahuan.  Kalian mempunyai pengetahuan, kalian hanya lupa, karena kalian telah bergerak dari kegelapan menuju kegelapan, dari satu daerah ke daerah yang lain, dari satu tingkat ke tingkatan lainnya, kalian telah bergerak dari alaamil arwaah, ke alaamil asaam, kalian telah bergerak dari alam jiwa ke alam raga, alam fisik.  Wahai manusia, kalian telah bergerak dari alam rohaniah ke alam fisik.  Kalian telah melupakan apa yang terjadi di alam rohaniah.

Itu adalah pekerjaannya Anbiyaullah, itu adalah tugas para Awliyaullah.  Ketika seseorang mengatakan, “Aku adalah seorang Waliyullah,” Apa tugasmu wahai Waliyullah?  Atau orang yang mengaku sebagai seorang yang arif di zaman ini, orang yang mengaku mengetahui segalanya di zaman ini, orang yang mengatakan bahwa “Aku adalah Qutub di zaman ini.”  Apakah tugasmu wahai Qutub? Apakah tugasmu wahai Alim? Wahai Waliyullah? Apa tugasmu wahai para filsuf? Para filsuf juga mengaku bahwa mereka mengetahui alam spiritual. Baiklah, apa tugas kalian?  Tugas kalian adalah untuk mengingatkan orang-orang dari alam yang telah mereka tinggalkan. Mereka menjadi absen dari alam yang pernah mereka masuki. Apakah kalian mengetahui apa yang terjadi di alam tersebut wahai Qutub?  Apakah kalian mengetahui apa yang terjadi di alam tersebut wahai Wali? Apakah kalian mengetahui apa yang terjadi di alam tersebut wahai khalifah? Apakah kalian mengetahui apa yang terjadi di alam tersebut wahai Imam? Apakah kalian mengetahui apa yang terjadi di alam spiritual wahai alim?  Apa yang terjadi, apakah kalian mengetahuinya?

Tugas kalian, wahai para ulama, baik Muslim maupun non Muslim, para ulama Yahudi, para ulama Kristen, para ulama Buddha; tugas kalian adalah untuk mengatakan kepada orang-orang apa yang telah mereka janjikan kepada Tuhan mereka di alam rohaniah tersebut.  Bahkan mungkin kalian sendiri tidak ingat apa janji kalian kepada Tuhan kalian.  

Jadi, wa dzakkir, Allah (swt) mengatakan kepada Rasulullah (saw), “Ingatkan mereka, wahai Habib-Ku, ingatkan mereka apa yang telah mereka lupakan.”  Ketika kalian telah pindah dari alam rohaniah dan masuk ke dalam rahim ibu kalian, tubuh kalian mulai diciptakan. Tubuh kalian diciptakan di dalam rahim ibu kalian.  Ruh sampai pada tubuh fisik itu. Sebagian orang keluar dari rahim dalam keadaan tidak bernyawa, sebagian lagi keluar dari rahim dalam keadaan hidup. Ruh itu telah sampai dari alam arwah, dari alam rohaniah, ia telah sampai ke rahim ibu kalian dan masuk ke dalam tubuh fisik yang telah diciptakan untuk masuk ke alam fisik. 

Wa dzakkir yaa Habibi yaa Muhammad, yaa Muhammadul aamiin, wahai Muhammad yang dapat dipercaya.  Mengapa nama beliau Aamiin? Wahai orang yang dapat dipercaya, ingatkan mereka, fa inna dzikraa tanfa`u ‘l-mu’miniin (QS Ad-Dzaariat, 51:55), ketika mereka ingat, mereka akan mendapat manfaat, karena mereka akan menemukan apa yang telah mereka janjikan pada Tuhan mereka. 

Eey Waliyullah, masyaAllah kita mempunyai banyak sekali Syuyukh; begitu banyak Syuyukh dan Rabbi, pendeta serta orang-orang suci di seluruh dunia yang mengaku sebagai pembimbing.  Ini bukanlah mengenai pengetahuan dari buku-buku, ini adalah tentang mengingat apa yang terjadi di alamul arwah, alam rohaniah.  

Kapankah alamul arwah itu bermula?  Kapankah alam rohaniah itu bermula?  Siapa yang tahu? Kapan ruh itu bermula?  Orang yang telah melihatnya, orang yang telah menyaksikannya adalah orang yang merupakan Nabi sejati, Anbiyaullah, Awliyaullah, yang merupakan para ahli kasyaf, yang matanya terbuka, dan mereka telah melihat.  Nabiyullah, Rasulullah (saw) adalah orang yang telah mengambil ruh-ruh ini. Demikianlah yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim (q).  

Beliau mengatakan bahwa Allah (swt) telah memberi perintah, pertama kita semua harus mengingat perintah Allah (swt).  Mawlana Syekh Nazim (q) mengatakan bahwa Rasulullah (saw) telah mengajarkan kepada kita untuk menghormati perintah Allah (swt).  Kalian harus menghormati perintah Allah (swt) dalam Qur’anil Kariim, dan jalan kita adalah untuk menghormati apa yang Allah perintahkan dalam Qur’anil Kariim.  Moto kita adalah ayat berikut:  

yaa ayyuha ‘l-ladziina aamanuu athi’ullaah wa athi’u ‘r-rasuula wa uli ‘l-amri minkum, 

wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasulullah (saw) dan taatilah ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kalian. (QS. An Nisa’ 4:59)

Kita tidak pernah berpikir untuk tidak taat. Kita sebagai pengikut Mawlana Syekh Nazim (q), pengikuti Grandsyekh, pengikut para Syekh Naqsybandi, dalam sedetik pun kita tidak pernah berpikir untuk menentang para penguasa.  Kita tidak pernah menentang orang-orang yang mempunyai otoritas, kita tidak pernah menentang perintah Rasulullah (saw), kita tidak pernah menentang perintah Allah (swt). Jika hal itu terjadi pada diri kita, hal itu adalah karena lupa atau kita telah berbuat kesalahan.  

Kita tidak pernah berniat secara sengaja untuk tidak patuh, malah setiap hari kita berniat, “Yaa Rabbii, wahai Tuhan kami, kami berniat untuk mematuhi perintah-Mu, kita berniat untuk mematuhi Rasulullah (saw), kita berniat untuk mematuhi ulil amri, para pemegang kekuasaan, orang-orang yang kalian tempatkan di posisi atas.  

Perhatikan adabnya.  Adab yang berusaha diajarkan oleh para Syuyukh kepada kita.  Hormati perintahnya dan patuhi. Kita menghormati semua orang, baik pemegang kekuasaan, maupun yang tidak, kita menghormati semua orang.  Kita menjaga perintah. Kita tidak pernah menjadi orang-orang yang tidak menjaga perintah dan kita patuh. Kita mematuhi Pencipta kita, kita mematuhi Nabi (saw) dan kita mematuhi para ulil amri.  Jadi apa yang telah kita lupakan, di mana Mawlana Syekh Nazim (q) berusaha mengingatkan kita dalam shuhbah ini?  Ketika kita berada di alam rohaniah, dan tidak banyak orang yang mengetahui hal ini, itulah sebabnya banyak orang yang keberatan dengan hal ini.  Orang-orang yang keberatan dengan ajaran para Awliyaullah adalah orang-orang yang tidak mengetahui tentang apa yang terjadi di alam rohaniah sebelum kita datang ke sini.

Dalam Surat al-A’raf ayat 172, Allah (swt) berbicara tentang suatu pertemuan yang pernah diadakan di antara para arwah.  Sebelum tubuh diciptakan, Allah (swt) telah mengambil dzarrah, saripati dari Bani Adam, dari keturunan Adam (as), dan Dia berfirman, “Alastu birabbikum, bukankah Aku ini adalah Tuhanmu?”  Ini terjadi sebelum kita datang ke sini.  Pada hari itu Allah (swt) telah menunjuk orang-orang yang akan menjadi ulil amri; orang-orang yang akan menjadi presiden di dunia ini; orang-orang yang akan menjadi perdana menteri di dunia ini; orang-orang yang akan menjadi menteri-menteri, raja, kaisar, walikota, anggota parlemen, apa pun itu, setiap orang yang akan menempati suatu posisi di dunia ini  sekarang ini, mereka semua telah ditunjuk pada hari itu di alam rohaniah.  

Allah telah memberi sari pati atau hakikat keturunan Adam ini kepada Rasulullah (saw).  Dan Dia berfirman, “Aku mempercayakan mereka semua kepadamu.” Itulah sebabnya Rasulullah (saw) disebut dengan al-Aamiin, orang yang tidak akan mengkhianati amanatnya.  Beliau telah meneriman amanat seluruh anak cucu Adam dari Allah (swt) dan beliau mengatakan, “Yaa Rabbii, engkau dapat memberikan amanat-Mu kepadaku. Aku akan menjaga amanat ini.”  Hal ini tidak kalian ketahui. Jadi jangan protes. Awliyaullah berbicara tentang kejadian yang terjadi di alam rohaniah.  

Jadi Rasulullah (saw) telah mengambil hakikat manusia, sari pati manusia, dan Allah (swt) telah mengatakan kepadanya siapa yang akan menjadi presiden di dunia ini, siapa yang akan menjadi raja di dunia ini, siapa yang akan menjadi kaisar di dunia ini, siapa yang akan menjadi gubernur di dunia ini.  Dia mengatakan bahwa hamba-hamba yang telah kau ambil ini, wahai Kekasih-Ku, mereka telah sepakat dengan-Ku. Ada kesepakatan yang terjadi antara mereka dengan Allah (swt). Kalian telah menyepakati sesuatu dengan Allah (swt), ketika Dia mengatakan, “Bukankah Aku ini adalah Tuhanmu?” Dia telah memberi kesepakatan itu kepada kalian, dan kalian mengatakan, “Balaa, ya, wahai Tuhanku, aku akan melaksanakan perintah-Mu.  Aku akan melaksanakan apa yang Engkau inginkan dariku, Engkau adalah Tuhanku, dan aku adalah hamba-Mu.”  Ketika Dia mengatakan, “Bukankah Aku adalah Tuhanmu?” Kita mengatakan, “Ya, kami adalah hamba-Mu.” Rasulullah (saw) mengetahui apa yang telah diberikan kepada orang itu; apa yang telah diberikan kepada setiap manusia.  Apa pun yang telah disepakati dengan Tuhannya, maka di dunia ini mereka harus melakukannya.  

Grandsyekh mengatakan bahwa pada hari itu, pada pertemuan itu, ketika kita masih di alam arwah, (Surat al-A’raf ayat 172, bacalah).  Pada hari itu Allah (swt) telah membusanai presiden dengan atribut kepresidenan; Allah telah membusanai raja dengan atribut kerajaan, dan Rasulullah (saw) kemudian mengkonfirmasinya dan menandatanganinya.  Salah satu nama dari Rasulullah (saw) adalah Raafi`u ‘r-Ruthab, orang yang mengangkat derajat, Raafi` adalah mengangkat,  baik di dunia maupun di Akhirat, apakah kalian presiden di dunia atau sultan di Akhirat, seorang Waliyullah, Allah (swt) telah membusanai kalian dengan atribut masing-masing dan Rasulullah (saw) telah sepakat dan menandatanganinya, karena beliau adalah Raafi`u ‘r-Ruthab fi ‘d-dunya wa fi ‘l-Akhrat.  Jabatan atau posisi apa pun yang diambil manusia di dunia ini dan di Akhirat harus dikonfirmasi dan ditandatangani oleh Rasulullah (saw).  Bahkan jika itu adalah sersan, mayor, atau presiden, Rasulullah (saw) telah mengetahui bahwa posisi itu telah disandangkan kepada orang itu, baik bagi Mukmin, maupun non Mukmin.  Rasulullah (saw) adalah orang yang akan bertanggung jawab atas mereka semua. Untuk memenuhi janji mereka, Rasulullah (saw) harus bertanggung jawab, beliau harus memastikan bahwa setiap manusia memenuhi janjinya kepada Tuhannya.  Lihatlah seberapa jauhnya tugas Rasulullah (saw). Beliau patut menjadi orang yang dapat dipercaya, seorang yang Aamiin yang dapat membuat setiap manusia memenuhi janjinya kepada Allah (swt).

Itu artinya tak ada seorang pun di antara kita yang boleh keberatan dengan aturan seorang raja, dengan peraturan seorang presiden, karena yang telah menunjuk mereka adalah Allah (swt) dan Rasulullah (saw) telah mengangkat derajat mereka.  Kalian tidak bisa mengatakan, “Wahai Tuhanku, mengapa engkau menempatkannya sebagai pemegang kekuasaan?” Karena Rasulullah (saw) telah bersabda, “Kama takuunuun, yuwalla `alaykum, sebagaimana (kondisi) diri kalian, kalian akan mendapatkan ulil amri yang sesuai dengan kalian.  Jika kalian baik, maka kalian akan mendapat penguasa yang baik, dan sebaliknya. Namun jika presiden terburuk pun yang muncul, atau raja terburuk yang muncul, atau kaisar terburuk yang muncul, Mawlana Syekh Nazim mengatakan, “Jika kalian adalah orang yang lurus dan adil, kalian tidak akan mendapat suatu bahaya pun dari mereka.  Tidak ada bahaya yang akan mengenai kalian. Tidak ada bahaya yang akan mencapai kalian bahkan dari seorang presiden terburuk pun. Tidak ada bahaya yang akan mencapai kalian dari seorang penguasa yang buruk. Jika kalian lurus dan adil. Mengapa tidak ada bahaya yang dapat menyentuh kalian? Karena seorang Mukmin sejati, ahlul hakikat, mereka melihat bahwa bahaya sesungguhnya bukanlah bahaya di dunia ini; bahaya sesungguhnya adalah bahaya pada iman kalian.   

Wahai manusia, bahaya yang akan mencapai kalian tidak ada kaitannya dengan dunia ini, karena dunia ini tidak akan berlangsung selamanya.  Akan ada masa di mana dunia akan berakhir.     

Jadi tidak ada bahaya akan mencapai kalian wahai Mukmin, terkait urusan dunia ini.  Itu bukanlah bahaya yang sesungguhnya. Jangan sedih bila kalian tidak bisa tidur dengan nyaman; jangan sedih bila kalian tidak bisa makan dengan enak, kalian tidak dapat mengumpulkan uang seperti sebelumnya, kalian tidak bisa bepergian seperti sebelumnya.  Kalian tidak dapat bersenang-senang seperti sebelumnya. Kalian tidak bisa berpesta seperti sebelumnya. Jangan mengatakan, “Oh aku terluka.” Ini semua hanya terkait dengan dunia. Wahai Mukmin sejati, tidak ada bahaya yang dapat menyentuh kalian terkait dengan urusan dunia ini karena bahaya sesungguhnya terletak pada iman kalian, wahai Muslim.  Demikian yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim (q) kepada kita.

Jadi apa pun yang terjadi sekarang ini, itu semua adalah dunia.  Jika kalian makan lebih sedikit, jika kalian lebih jarang bertemu orang-orang, jika kalian lebih sedikit bersenang-senang, ini semua adalah dunia.  Dunia tidak mempunyai keberlanjutan. Ia akan berakhir. Jadi wahai Mukmin, bahaya sesungguhnya yang akan datang pada kalian adalah melalui iman kalian.  Jangan biarkan iman kalian terluka. Ingatlah selalu apa yang dikatakan oleh Rasulullah (saw), ikuti selalu apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah (saw).  Jika kalian tidak tahu apa yang beliau katakan, ikuti Syekh kalian, apa yang dikatakan oleh Syekh kalian, apa yang diingatkan oleh Syekh kalian. Jangan kehilangan iman kalian karena itu adalah bahaya sesungguhnya.  Jangan seperti orang lain, yang terlalu khawatir, tertekan, cemas dan sedih. Lindungi iman kalian. Ketahuilah bahwa Allah (swt) mempunyai kendali atas segala sesuatu.  

Dalam Surat at-Thalaq (QS 65:3), Allah (swt) berfirman, wa man yatawakkal `alallaahi fahuwa hasbuh, innallaaha baalighu amrih, qad ja`alallaahu likulli syay’in qadraa

Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah (swt) sudah cukup baginya, Allah (swt) akan memberikan segala yang diperlukannya, dan apa yang diperlukan keluarganya.  Allah (swt) akan memastikan bahwa apa yang telah ditetapkan untuknya akan terjadi. Dan itu akan terjadi. Qada dan qadar Allah (swt) yang akan berlaku. Tetapi Allah (swt) melanjutkan pada ayat karimah itu qad ja`alallaahu likulli syay’in qadraa, Allah telah menetapkan batas bagi segala sesuatu, batas dan umurnya, kapan ia akan berakhir.  Jadi Mukmin adalah orang yang ridha dengan Keputusan Tuhannya, dengan takdir Tuhannya, dan ia mengatakan “Ya Rabbii, terserah pada-Mu.”  

Sebagaimana yang sering dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim kepada kita, “Kama tuhibbu Rabbii wa tardha.”  “Seperti yang Engkau sukai dan ridhai, Yaa Rabbii, aku adalah hamba-Mu.”  Itu adalah janji yang telah kita berikan kepada Tuhan kalian, bahwa “Yaa Rabbii, Engkau adalah Tuhan dan aku adalah seorang hamba.”  

Ajaran Mawlana Syekh Nazim, Syekh kita, mursyid kita, Awliyaullah, adalah untuk mengingatkan apa yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw); untuk menghidupkan apa yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw) dan membawa cahaya yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw).  Kita semua telah melupakan Nuurun Nabi (saw), kita telah melupakan cahaya Rasulullah (saw).  Kita telah membenamkan diri kita dalam kegelapan dari kesenangan dunia ini.  Kita telah membenamkan diri kita dalam kegelapan dari kesenangan mengejar emas, dollar dan Euro, saham dan obligasi serta kesenangan dunia ini.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita. Semoga Allah (swt) mengampuni kita.  

Mawlana Syekh Nazim (q) mengatakan, “Laa baqa lil jismi wa laa lil maali innamal baqa lil iimaani, tidak ada baqa, tidak ada kekekalan bagi jasad, karena ia akan musnah ditelan tanah; tidak ada kekekalan bagi harta, bagi uang, ia akan pergi kepada orang lain, sesungguhnya yang kekal itu adalah iman.  Jagalah iman kalian dari Setan yang berusaha untuk memberi keraguan dalam iman kalian. Jagalah agar iman kalian tetap kuat. Datanglah ke majelis Awliyaullah. Kalian akan mendapat peringatan terhadap apa yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw).  Kalian akan mendapatkan peringatan dari shuhbah Grandsyekh, dari perkataan Grandsyekh.  Datanglah, dan raihlah manfaatnya.

Wahai Muslim, lindungi iman kalian.  Di dalam Surat at-Thalaq (QS 65:12), Allah (swt) berfirman, “Allahu ‘l-ladzii khalaqa sab`a samaawaatin wa mina ‘l-ardhi mitslahunna, yatanazzalu ‘l-amru baynahunna, lita`lamuu annallaaha `alaa kulli syay’in qadiir,

Allah (swt) yang menciptakan tujuh langit dan Dia juga telah menciptakan tujuh bumi.  Sebagimana Dia menciptakan tujuh langit, Dia juga menciptakan tujuh bumi. Takdir Allah turun dari tujuh langit ke tujuh bumi, itu artinya apa yang ada di antaranya semuanya merupakan takdir Allah, perintah dan ketetapan-Nya, agar kamu mengetahui wahai manusia, bahwa Allah (swt) Maha Mengetahui segalanya dan mencakup segalanya.  Tidak ada yang luput dari-Nya. Dia melihat pada iman kalian, wahai manusia.

Wahai Muslim, wahai murid, wahai para pengikut dan pecinta Mawlana Syekh Nazim (q), Allah (swt) melihat pada iman kalian.  Dia menempatkan kalian pada situasi yang paling sulit, dan Dia melihat pada hati kalian. Apakah ada keraguan dalam iman kalian, dalam cinta kalian kepada Allah (swt); adakah guncangan pada cinta kalian terhadap Rasulullah (saw), pada cahaya yang telah dibawanya.  Adakah guncangan pada cinta kalian terhadap mereka. Berhati-hatilah, jangan biarkan cinta itu terguncang. Jagalah agar iman kalian tetap kuat. Ya, kalian mengalami penurunan, tetapi Allah (swt) memang menghendakinya dan Dia akan melindungi kalian dan melindungi keluarga kalian.  Patuhi Allah (swt), patuhi Rasulullah (saw), dan patuhi orang yang mempunyai otoritas atas kalian.

Ketahuilah apa yang telah kalian janjikan pada Tuhan kalian pada hari itu di alam rohaniah, dan jalan untuk mengetahuinya adalah dengan cara diingatkan oleh Waliyullah yang mengambil dari Rasulullah (saw).  Semoga Allah (swt) melindungi kalian, melindungi saya, melindungi keluarga kita, melindungi Mawlana, melindungi Syuyukh kita, melindungi para ulama kita. Semoga Allah (swt) melindungi orang-orang yang baik, dan semoga Allah (swt) membuat yang jahat  berubah menjadi baik, dan semoga Allah (swt) melindungi kita semua, orang-orang yang telah mengikuti cahaya dan pesan Surgawi yang telah datang melalui para Nabi melalui langit. Semoga Allah (swt) mengampuni kita.

Wa min Allah at-tawfiq, sekali lagi, Laylatul Israa’ wal Mi’raj Mubarak untuk kalian! 


Jangan biarkan iman kalian terguncang, lanjutkan cinta kalian, lanjutkan cinta kalian terhadap Allah dan para Utusan-Nya.  Ketahuilah bahwa Allah (swt) dapat memperluas dan membuatnya sempit. Lanjutkan cinta kalian, iman kalian kepada Allah (swt), jangan pernah membiarkan ia terguncang, dan hidupkan malam ini.  Lakukan lebih banyak ibadah di malam ini, Laylatul Israa’ wal Mi’raj.  Mawlana Syekh Nazim biasa melakukannya bersama jemaah, Shalat Tasbih dan Syukur dan kemudian Ziarah.  Jika kalian dapat melakukan ziarah, maka lakukanlah. Jika kalian mempunyai sesuatu yang suci, maka lakukanlah ziarah bersama keluarga kalian di rumah.  Itu adalah adab yang biasa dilakukan oleh Mawlana Syekh Nazim, dan selebihnya kalian dapat melakukan ibadah lainnya yang kalian inginkan. Tetapi hal utama yang biasa dilakukan oleh Mawlana Syekh Nazim adalah setelah Isya, Shalat Tasbih, Syukur dan ziarah rambut suci Rasulullah (saw).  Jika kalian tidak mempunyai rambut suci, ziarah apa pun dapat kalian lakukan, dan Allah (swt) akan memberkahi kalian dan memberkahi keluarga kalian, dan Dia akan melindungi kalian. Dia telah membuat batas bagi segala sesuatu, jangan putus asa. wa man yatawakkal `alallaahi fahuwa hasbuh, innallaaha baalighu amrih, qad ja`alallaahu likulli syay’in qadraa, Allah telah menetapkan batas bagi segala sesuatu, ini akan berakhir.  Segala sesuatu akan berakhir, kecuali Kekekalannya Allah (swt), oleh sebab itu kejarlah itu dan jagalah agar iman kalian tetap kuat. 

wa Mubarak Laylatul  Israa’ wal Mi’raj untuk kalian semua, dan untuk semua ummatun Nabi Muhammad (saw).  Kita semua mengharapkan Surga. Surga sekarang, sepuluh tahun dari sekarang, dan seratus tahun dari sekarang, kita memohon agar dimasukkan ke dalam Surga.  Jangan khawatir, jagalah iman kalian. Semoga Allah (swt) mengampuni kita.     

Wa min Allah at-tawfiq wa bi hurmatil Habib, wa bi sirri suuratil Fatihah

  

     

Kisah mengenai Laylat al-Israa wal-Mi’raaj

58372893_315522412475040_1331549168677683200_o

Dr. Nour Hisham Kabbani

2 April 2019 Burton, Michigan

As-Siddiq Institute & Mosque (ASIM)

 

Dalam setiap ibadah, kalian memerlukan dukungan Allah.  Di dalam Surat al-Fatihah, kita membaca, “Iyyaka na`abudu wa iyyaka nasta`iin, hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan,” karena kita tidak kuat, kita lemah, kita melakukan kesalahan, dan semoga Allah (swt) mengampuni kita.  Tetapi insya Allah kita dapat melaksanakan perintah yang telah diberikan oleh Grandsyekh, perintah yang telah diberikan oleh Mawlana Syekh Hisyam (q) dan berbicara sedikit mengenai Isra Mi`raaj.   Peristiwa Isra Mi’raj adalah adalah peristiwa besar yang dapat dibahas dalam banyak bab atau volume buku, tetapi kita tidak akan membahasnya semua; kita hanya akan menyampaikan beberapa poin yang singkat. 

Awliyaullah telah mengatakan bahwa kita harus tahu bahwa ketika Rasulullah (saw) melaksanakan Isra, perjalanan malam, beliau pergi dari Mekah ke Baitul Maqdis di Quds asy-Syariif atau Jerusalem dengan Buraaq.  Allah (swt) memberinya Buraaq di mana orang-orang mengatakan bahwa hal itu adalah bukti bahwa beliau pergi dengan tubuh fisiknya, karena ad-daaba tuyuur il-jism, itu adalah seekor binatang dan hanya mengangkut tubuh fisik saja.  Beberapa orang mengatakan bahwa hanya ruh Nabi (saw) saja yang pergi, tetapi menurut aqidah kita, Ahl as-Sunnah wa ’l-Jama`ah–beliau (saw) pergi dengan tubuh fisik dan rohaninya.  Saat itu beliau (saw) berusia 52 tahun, setahun sebelum beliau hijrah ke Madinah. Di Mekah al-Mukarramah, Allah mengutus Sayyidina Jibril, Sayyidina Mika`il, Sayyidina Israfil (`alayhimu ‘s-salam) dan malaikat lainnya yang membawa Rasulullah (saw) ke kota Quds asy-Syariif dalam sekejap mata, bahkan ada yang mengatakan lebih cepat lagi.  Meskipun demikian, Allah (swt) tidak memerlukan waktu dan tidak mempunyai batas.

Jadi beliau (saw) pergi dengan binatang suci surgawi tersebut, dari Mekah ke Quds asy-Syariif dan kemudian dari Bayt al-Maqdis ke Langit Pertama.  Dikatakan bahwa dalam Mi’rajnya Rasulullah (saw) menaiki anak tangga dari emas, perak dan permata hingga ke Langit Pertama, dan dari sana beliau melanjutkan perjalanannya dengan menaiki sayap para malaikat melewati seluruh Langit hingga ke Langit Ketujuh, dan dari sana beliau (saw) melanjutkan dengan sayap Sayyidina Jibril hingga ke Sidrah. 

Nabi (saw) dibawa dengan makhluk surgawi di Bumi, melewati Langit ke Sidrat al-Muntaha ke Pohon Teratai yang disebut sebagai Barzakh, di mana cabang-cabang bagian atasnya adalah Cahaya-Cahaya dan bagian akarnya menjulur ke Neraka Jahannam.  Itu merupakan gabungan dari dua alam, yaitu Barzakh dan maqaam Sayyidina Jibril (as). Dari sana, Rasulullah (saw) melanjutkan perjalanannya ke raffraff, bantal-bantal indah yang disediakan Allah (swt).

Di Arasy dengan tubuh fisiknya, disebutkan bahwa beliau tiba di Dua Kaki.  Sekarang kita tidak dapat mengatakannya bahwa itu adalah kaki fisik, karena ar-Rahman `ala ‘l-`Arsy istauwaa, “ar-Rahman telah naik ke atas Arasy”, yang merupakan sebuah maqaam. Rasul (saw) telah mengetahui al-Mustauwaa, (istauwaa artinya “ia telah naik”), dan dalam tingkatan Mi’rajnya beliau (saw) juga melihatnya dengan Qudrah Allah (swt).  Dari sana, dikatakan bahwa pada tingkat Arasy tersebut, beliau meninggalkan komposisinya, tarkiib, taraka tarkiiba, dengan raffraff di Mustauwaa tersebut, dan beliau pergi dengan `Ayn, Essens, dan Allah (swt) Maha Mengetahui apa itu.

Saya mengatakan hal ini karena ketika beliau mencapai Level (`Ayn) tersebut, Allah memberi shalat pada Rasulullah (saw) pada level yang sangat dekat antara dirinya dengan Allah.  Dikatakan bahwa Dia (swt) mengumpulkan semua shalat yang tersebar di antara para Nabi.

SUBUH

Yang pertama melakukan shalat Subuh adalah Sayyidina Adam (as).  Dikatakan bahwa Allah (swt) membuatnya mendarat di Bumi pada malam hari, jadi kegelapan malam menyelimutinya.  Ketika beliau tidak lagi melihat apa-apa yang sebelumnya dilihat di Surga, beliau menjadi sangat takut dan sedih dan ketika Subuh tiba, beliau melakukan shalat dua rakaat untuk mensyukuri bahwa Nuur atau cahaya telah kembali dan kegelapan telah pergi.  Allah menerima tobatnya dan mengirimkan Cahaya dari keharmonisan, sukses dan tawfiq ini serta menghilangkan kegelapan dari mukhalafa, ketidakpatuhan.  Adam (as) dikaruniai Cahaya Kesuksesan dari shalatnya di waktu Subuh.  Itulah sebabnya kita bangun saat Subuh, untuk menyaksikan kegelapan itu pergi dan mengatakan, “Ya Allah, kegelapan dari ketidakpatuhanku telah pergi dan Cahaya dari Hidayah-Mu akan datang.” 

ZHUHUR

Sayyidina Ibrahim (as) shalat pada saat Zhuhur, setelah zawaal.  Mengapa?  Karena Allah mengirimkan hewan untuk dikurbankan, dan pada hari pertama dari Haji, kita tahu bahwa kita harus mengorbankan hewan kurban sebelum Zhuhur, sejak awal sebelum melempar jumrah.Jadi ketika Allah mengirimkan hewan itu kepada Ibrahim (as), beliau melakukan shalat Syukur pada waktu Zhuhur; rakaat pertama karena putranya telah diselamatkan; kedua karena Allah telah ridha dengannya; ketiga karena putranya sabar; dan keempat karena Allah telah menghilangkan kesedihan dalam hatinya.

`ASHAR

Yang pertama melakukan shalat `Ashar adalah Sayyidina Yunus (as) setelah Allah menyelamatkannya dari kegelapan dalam perut ikan paus.

MAGHRIB

Yang pertama melakukan shalat Maghrib adalah Sayyidina `Isa (as), dan mengapa tiga rakaat?  Awliyaullah telah menjelaskan bahwa rakaat pertama adalah untuk menyangkal ketuhanan pada dirinya sendiri, lalu pada ibunya [sebagaimana yang salah dipahami oleh orang Kristen], kemudian menegaskan Ketuhanan pada Tuhannya. 

`ISYA

Sayyidina Musa (as) adalah yang pertama melakukan shalat `isya. 

Allah (swt) mengumpulkan seluruh shalat para Nabi itu dan memberikannya kepada umat Nabi Muhammad (saw).  Jadi, jagalah shalat-shalat kalian karena itu sangat berharga dan telah dilakukan oleh para Nabi.

WITIR

Semua shalat lainnya telah dilakukan oleh para Nabi, tetapi Allah (swt) memberikan shalat Witir kepada Rasulullah (saw).  Beliaulah yang pertama melakukan shalat Witir ketika beliau memimpin shalat untuk seluruh malaikat di Sidrat al-Muntaha. 

Rasulullah (saw) adalah Kekasih kita yang telah dimuliakan khususnya di malam ini.  Allah (swt) menunjukkan Rasulullah (saw) kepada setiap orang. Beliau (saw) adalah yang terbaik di Bumi dan yang terbaik di Langit.  Beliau (saw) adalah Imam di Bumi dan Imam di Langit, dan beliau memberi kita hadiah berupa shalat, yang dengannya kalian akan mencapai Allah (swt) dan tanpanya tidak ada seorang pun yang dapat mencapai Allah.  Kalian harus melaksanakan semua shalat tersebut!

Rabbana wa ta qabal du`a, wahai Tuhan kami, terimalah doa kami, sebagaimana doanya Sayyidina Ibrahim, “Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat.  Wahai Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Wahai Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua Ibu Bapakku, dan semua orang yang beriman pada Hari diadakannya Perhitungan (Yawmil Hisab).” (Surah Ibrahim, 14:40-41)

Bi sirrii Surat al-Fatihah.

 

https://sufilive.com/The-Story-of-Laylat-al-Isra-wal-Mi-raj-6817.html

© Copyright 2019 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Perang Rohaniah Melawan Jin

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Shuhbah
Fenton, MI, 19 Maret 2020

Assalamu`alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh,

Kita sedang berada dalam perang yang belum pernah dikenal sebelumnya. Setiap orang terlibat di dalamnya. Kita berserah diri kepada Allah `azza wa jalla. Dia Maha Mengetahui apa yang Dia ciptakan. Kita perlu menjaga dzikir yang mengikuti pertempuran ini dari dekat; di mana ini merupakan pertempuran rohaniah yang melibatkan jin dan manusia, antara orang-orang yang saleh dengan orang-orang yang fasad, yang suka berbuat kerusakan.

Dan kita adalah orang-orang yang dizalimi dalam pertempuran yang telah menimpa kita dari segala sisi ini, tetapi (pada akhirnya) kitalah yang akan menjadi pemenangnya. Pada akhirnya kita akan menjadi pemenangnya dan kemenangan ini adalah untuk para Ahlil Islam dan untuk seluruh Ummat, jadi jangan takut.

Ini adalah pertempuran yang melibatkan jin, karena ia berasal dari jin yang fasik, jin yang jahat. Akan tiba waktunya di mana jin yang fasik ini akan binasa, seperti halnya jin-jin fasik lainnya yang telah musnah sebelumnya. Jadi, tetaplah teguh di mana pun kalian berada dan jangan takut.

Akan datang seseorang yang akan memurnikan bumi, dan beliau adalah al-Mahdi (as), dan para Ahlulbait Nabi (saw). Dan kita, Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah mengikuti mereka, mengikuti sikap mereka, ilmu mereka, dan kita ucapkan,

Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Sayyidanaa wa Mawlaanaa Muhammadan `abduhu wa Rasuuluh

Arsalahu min arjahil ‘arabi miizaan, wa aw-dhahihaa bayaanan, Dia (swt) telah mengutusnya dari bangsa Arab yang paling unggul kekuatannya dan paling tegas bicaranya. Beliau menjelaskan jalan Syariat dan menasihati seluruh makhluk.

Shallallaahu ta`aala `alayhi wa `aalaa aalihi wa shahbihi ajma`iin, walhamdulillaahi rabbil `aalamiin.
Wassalamu`alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh,

Tetap teguhlah di tempat kalian dan jangan takut.

https://sufilive.com/Coronavirus-War-Onscreen-Text–7210.html