Unknown's avatar

Pentingnya `Āsyūra

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

`Āsyūra adalah hari yang mempunyai makna sejarah yang besar.  Pada hari ini Allah (swt) menerima tobatnya Sayyidina Adam (as) setelah ia dikucilkan dari Surga; Allah (swt) menyelamatkan Sayyidina Nuh (as) dan para sahabatnya di bahteranya; Allah memadamkan api di mana Sayyidina Ibrahim (as) dilemparkan ke dalamnya oleh Namrud; dan Allah (swt) berbicara secara langsung dengan Sayyidina Musa (as) dan memberinya Perintah-Nya.  Pada hari yang sama, 10 Muharram, Sayyidina Ayyub (as) dipulihkan kesehatannya (dari penyakit lepra); Sayyidina Yusuf (as) bertemu kembali dengan ayahnya, Ya`qub (as); Sayyidina Yunus (as) dikeluarkan dari perut ikan; laut terbelah ketika bani Israil dibebaskan dari tawanan dan pasukan Firaun dihancurkan.   `Āsyūra juga merupakan hari di mana Sayyidina Dawud (as) diampuni; kerajaan Sulaiman (as) dipulihkan; Sayyidina `Isa (as) diangkat ke Surga dan Sayyidina al-Husayn (as) [cucu Nabi Suci shallallahu `alayhi wa sallam] mencapai derajat syahid. 

Beribadahlah kepada Allah (swt) sebanyak-banyaknya pada hari `Āsyūra.  Siapa yang berpuasa pada hari ini bagaikan orang yang berpuasa seumur hidupnya.  Siapa yang memberi pakaian kepada orang yang telanjang, Allah (swt) akan melepaskannya dari hukuman yang menyakitkan.  Siapa yang menjenguk orang sakit, Allah (swt) akan memberinya pahala yang tidak akan berkurang.  Siapa yang meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim, atau memberi makan orang yang kelaparan atau memberi minum kepada orang yang kehausan, Allah akan memberinya jamuan di Surga dan akan memuaskan dahaganya dengan Salsabil (anggur yang tidak memabukkan). Siapa pun yang melakukan ghusl (mandi suci) pada hari ini, ia kan menikmati kesehatan yang prima dan kebebasan dari penyakit dan kemalasan.  Siapa pun yang dermawan kepada keluarganya pada hari ini, Allah (swt) akan dermawan kepadanya sepanjang tahun.  Dan siapa yang menggunakan kohl (celak mata) di matanya, ia tidak akan menderita penyakit mata lagi, insyaAllah al-`Aziiz.

عن حميد بن عبدالرحمن أنه سمع معاوية رضي اللَّه عنه يقول: سمعت رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم يقول: ” هذا يوم عاشوراء، ولم يكتب اللَّه عليكم صيامه، وأنا صائم، فمن شاء فليصم، ومن شاء فليفطر” .

Mu`awiyah ibn Abu Sufyan (ra) meriwayatkan, “Aku mendengar bahwa Rasulullah (saw) bersabda, ‘Ini adalah hari `Āsyūra. Allah (swt) tidak menjadikan puasa wajib untuk kalian, tetapi aku berpuasa.  Siapa saja yang ingin melakukannya, maka berpuasalah dan siapa saja yang tidak ingin melakukannya, maka berbukalah.” [Sahih Muslim]

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ وَسُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Abu Qatadah (ra) meriwayatkan bahwa Nabi (saw) bersabda bahwa puasa pada tanggal 10 Muharram menebus dosa-dosa pada satu tahun sebelumnya. [Sahih Muslim]

في رواية لمسلم عن ابن عباس – رضي الله عنهما  – أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قدم المدينة . فوجد اليهود صياماً يوم عاشوراء . فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما هذا اليوم الذي تصومونه ؟ فقالوا : هذا يوم عظيم . أنجى الله فيه موسى وقومه . وغرق فرعون وقومه . فصامه موسى شكراً . فنحن نصومه . فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” فنحن أحق وأولى بموسى منكم ” فصامه رسول الله صلى الله عليه وسلم . وأمر بصيامه

Nabi (saw) menjalani `Āsyūra’ dengan berpuasa.  Beliau bertanya kepada kaum Yahudi mengapa mereka berpuasa pada hari itu dan mereka berkata, “Itu adalah hari di mana Allah menenggelamkan Firaun dan menyelamatkan Musa (as), oleh sebab itu kami berpuasa pada hari itu untuk berterima kasih kepada Allah (swt).”  Nabi (saw) membalasnya dengan mengatakan, “Kami lebih berhak atas Musa (as) daripada kalian.”  Oleh sebab itu beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa pada hari itu.  Menjelang akhir hayatnya beliau juga bersabda, “Demi Allah, jika aku hidup lebih lama lagi aku akan berpuasa pada tanggal 9 Muharram.”  Jadi beliau (saw) akan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

أخرج مسلم من حديث أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (أفضل الصيام بعد شهر رمضان شهر الله الذي تدعونه المحرم وأفضل الصلاة بعد الفريضة قيام الليل

Di dalam sahih Muslim dari Abu Hurayrah (ra), Nabi (saw) bersabda, “Bulan terbaik untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah bulan Allah yang kalian sebut Muharram, dan shalat terbaik setelah shalat wajib adalah Qiyamul Lail.”

وأخرج ابن المنذر وابن أبي حاتم والبيهقي في الشعب، عن قيس بن عباد – رضي الله عنه – قال: لله أمر في كل ليلة العاشر من أشهر الحرم، أما العشر من الأضحى، فيوم النحر. وأما العشر من المحرم، فيوم عاشوراء. وأما العشر من رجب، ففيه {يمحو الله ما يشاء ويثبت} قال: ونسيت ما قال في ذي القعدة.

Qays ibn `Abbaad (ra) mengatakan, 

Kepunyaan Allah-lah perintah pada malam kesepuluh dari setiap bulan haram (suci).  Untuk malam kesepuluh dari bulan kurban (Adha), itu adalah Hari Pengorbanan (yawmu nahar); malam kesepuluh bulan Muharram, itu adalah Hari `Āsyūra; untuk malam kesepuluh bulan Rajab, di dalamnya [Allah mewahyukan tentangnya] “Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki.”  [13:39]; tetapi aku lupa apa yang beliau (saw) katakan mengenai Dzu’l-Qa`dah.”

وأخرج ابن عساكر عن خالد الزيات قال: بلغنا أن نوحا عليه السلام ركب السفينة أول يوم من رجب وقال لمن معه من الجن والإنس: صوموا هذا اليوم فإنه من صامه منكم بعدت عنه النار مسيرة سنة، ومن صام منكم سبعة أيام أغلقت له أبواب جهنم السبعة، ومن صام منكم ثمانية أيام فتحت له أبواب الجنة الثمانية، ومن صام منكم عشرة أيام قال الله له: سل تعطه، ومن صام منكم خمسة عشر يوما قال الله له: استأنف العمل قد غفرت لك ما مضى، ومن زاد زاده الله. فصام نوح عليه السلام في السفينة رجب، وشعبان، ورمضان، وشوالا، وذا القعدة، وذا الحجة، وعشرا من المحرم، فأرست السفينة يوم عاشوراء فقال نوح عليه السلام لمن معه من الجن والإنس: صوموا هذا اليوم.

Khalid az-Ziiyaat berkata,

Telah sampai kepada kami bahwa pada awal Rajab, Sayyidina Nuh (as) berlayar dengan bahteranya dan beliau berpuasa dan memerintahkan semua yang bersamanya dari golongan jin dan manusia untuk berpuasa  juga, dengan mengatakan, ‘Berpuasalah hari ini karena sesungguhnya barang siapa yang berpuasa di antara kalian akan dijauhkan dari Neraka sejauh satu tahun perjalanan; … Sayyidina Nuh (as) berpuasa di dalam bahteranya di bulan Rajab, Sya`ban, Ramadhan, Syawwal, Dzul-Qa`dah dan Dzul-Hijjah serta sepuluh hari di bulan Muharram. Kemudian bahtera tersebut berlabuh pada hari `Āsyūra dan Nuh (as) berkata kepada semua yang bersamanya dari golongan jin dan manusia, ‘Puasalah pada hari ini.’ 

قال الزمخشري‎:‎ خصه من بين الأشهر الحرم لمكان عاشوراء فأفضل الأشهر لصوم التطوع المحرم ثم رجب ثم بقية الأشهر الحرم ثم شعبان


Al-Zamakhsyari mengatakan,  “[Muharram] berbeda dengan bulan-bulan haram lainnya karena adanya `Āsyūra.  Bulan terbaik untuk melakukan puasa sukarela adalah Muharram, lalu Rajab dan bulan haram lainnya, baru kemudian Sya`bān.”

Diriwayatkan dari Ibn Mas`ud bahwa beliau berkata, “Adalah wajib bagi seorang Mukmin untuk berniat menghabiskan Laylat al-Qadr di dalam shalat sejak malam pertama di bulan Muharram (bulan pertama dalam setahun) hingga akhir tahun, sehingga ia pasti akan mendapatkan kesempatan untuk itu.” 


Syah Bahauddin Naqsyband Muhammad al-Uwaisi al-Bukhari (q) adalah Mursyid dari Tarekat ini dan Imam dari Silsilah Keemasan dan yang terbaik di antara mereka yang membawa silsilah ini dari para Khwajagan.  Beliau dilahirkan di bulan Muharram, tahun 717 H./1317 CE, di desa Qasr al-‘Arifan dekat Bukhara.

Kita memohon kepada Allah (swt) agar Dia menghiasi diri kita demi orang yang telah menyerahkan dirinya–dan berapa banyak orang yang telah menyerahkan dirinya demi kemaslahatan kita–dan yang pertama di antara mereka dan yang terbesar adalah Sayyidina Muhammad (saw) yang bersabda, 

ما أوذي نبي مثلما أوذيت

“Tidak ada Nabi yang disakiti seperti halnya aku disakiti.” 

Setelah itu adalah anak dan cucu beliau–mereka dibunuh namun mereka tidak pernah berpaling.  Sayyidina al-Husayn (as) berkata, “Aku datang.”  Sayyidina al-Husayn (as) berjanji untuk datang, walaupn banyak orang yang menasehatinya untuk tidak pergi, beliau tetap pergi.  Ketika beliau tiba para pendukungnya mundur, tetapi beliau tetap pergi–siapa pun yang mengingat peristiwa itu dan berpuasa pada hari `Āsyūra  – sebagaimana ketika Nabi (saw) memasuki Madinah dan beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa karena pada hari itu Allah telah menyelamatkan Musa (as) dari Firaun.  Nabi (saw) bersabda, “nahnu ahaqq wa awla bi musa minkum  – Kami lebih mempunyai hak atas Musa (as) daripada kalian.”  Dan di dalam `Am Fath  – tahun terakhir Sayyidina Muhammad di mana beliau melakukan haji, beliau bersabda, “Jika Allah (swt) memanjangkan umurku, aku juga akan berpuasa pada tanggal 9 [Muharram].” 

Jadi siapa pun yang berpuasa `Āsyūra Allah (swt) akan menghapuskan dosa-dosanya pada satu tahun sebelumnya–semua dosa kalian akan dihapuskan, dan pada hari itu Sayyidina al-Husayn (as) dibunuh–ketika kalian berpuasa pada hari itu, ingatlah Sayyidina al-Husayn (as).  Puasalah, kalian akan diselamatkan.

Permata-permata ini, berlian-berlian yang Allah (swt) berikan kepada kita, kita harus menghargainya.  Majlis dzikir adalah untuk membersihkan kita dari segala dosa.  Semoga Allah (swt) memberkahi kita dan mengirimkan tajali terbaik dan tertinggi-Nya kepada Sayyidina Muhammad (saw), keluarga, anak cucunya, khususnya Sayyidina Abi `Abdillah al-Husayn (as) wa rufaqa’ihi (dan para sahabatnya) serta para syuhada Karbala  wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al Fatihah.

sumber: https://sunnah.org/2008/07/18/importance-of-ashura/

Leave a comment