Baksos Ramadhan 1438

banner fb

Assalamu’alaykum wr.wb.
Ramadhan Kariim!

Alhamdulillah, kita diberi kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, cahaya, dan ampunan Allah. Ramadhan juga adalah bulan untuk berbagi dengan sesama, sebagai tanda rasa syukur kita atas segala nikmat Allah yang telah kita dapatkan.

Untuk itu, kami mengundang murid-murid dan para pecinta Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani dan Mawlana Syekh Hisyam Kabbani untuk turut berpartisipasi dalam acara Baksos Ramadhan 1438 di mana kita akan membagikan 313 paket baksos masing-masing senilai Rp.100.000 kepada anak yatim dan duafa di wilayah Jabodetabek.

Donasi dapat disampaikan melalui panitia atau transfer ke rekening BCA No. 342 341 7893 atas nama Melza Marlinas (mohon konfirmasi ke nomor 0816-295-313 setelah mentransfer).

Kegiatan baksos ini juga atas nama Hajjah Naziha Charitable Society (HNCS), sebuah lembaga amal yang dipelopori oleh Hajjah Naziha Kabbani dan bekerja sama dengan Muhammadan Art (www.muhammadanart.com) di mana mereka memberikan harga spesial untuk produk kaligrafinya dan penjualannya akan disumbangkan sepenuhnya untuk program baksos ini.

Untuk informasi lebih lanjut, jangan ragu-ragu untuk menghubungi kami melalui whatsApp ke 0816-295-313 atau email ke info@naqsybandi.com

Terima kasih atas perhatiannya wassalamu’alaykum wr.wb.

Majelis Zikir
Naqshbandiyya Nazimiyya Indonesia
Jl. Warung Jati Barat Raya No.9C Rt.012/09
Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan 12740
Telp: 021-79199468
Seluler: 0816-295-313
http://www.naqsybandi.com

Haul ke-3 Sultan al-Awliya Mawlana Syekh Nazim Adil al-Haqqani (q)

17554236_1636018516412432_5181135000999241624_n

Assalamu’alaykum wr.wb.
Kami mengundang seluruh murid, muhib, pecinta Mawlana Syekh Nazim Adil al-Haqqani (q) untuk hadir dalam acara Haul ke-3 Mawlana Syekh Nazim Adil al-Haqqani (q) bersama Mawlana Syekh Hisyam Kabbani di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia Jakarta pada hari Minggu, 9 April 2017 mulai Isya.

Terima kasih atas perhatiannya. wassalamu’alaykum wr.wb.

Majelis Nazimiyya Indonesia
Jl. Warung Jati Barat Raya No.9C Rt.012/09
Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan 12740
Telp: 021-79199468
Seluler: 0816-295-313

Berserahdirilah kepada Allah Ta’ala!

17022468_1272518766135807_3119648654061690335_n

Pasrahlah kepada Kehendak Tuhan.  Berserahdirilah kalian!  Hancurkan batas yang ada antara dirimu dan Tuhanmu.  Jika engkau tidak menghancurkannya, engkau tak akan mampu berserah diri.  Batas itu adalah ‘Engkau’ dan ‘Aku’. Kalian mengatakan pada Tuhan kalian, ‘Engkau,’ dan kalian mengatakan pada diri kalian sendiri, ‘Aku.’ Semestinya kalian tidak mengatakan, ‘Aku.’ Kalian mesti mengatakan ‘Engkau’ setiap saat.

Tak ada ‘Aku’ dalam laku berserah diri dan pasrah kepada Kehendak Tuhan. Jika masih ada ‘Aku’, itu artinya kalian belum berserah diri kepada Tuhan. Kalian perlu berjuang memerangi ego kalian hingga ego kalian berkata, ‘Aku tak wujud lagi.’ Ketika kalian mencapai titik itu, Tuhan akan memperlihatkan Diri-Nya kepada kalian. Seorang Waliyullah besar pernah berkata, ‘Aku melihat Tuhanku dengan mata Tuhanku.’ Ini artinya, ‘Aku tak dapat melihat dengan kedua mataku sendiri.’ Ia tidak memiliki penglihatan apa pun kecuali melalui Tuhannya. Diri sang wali telah lenyap, dan Tuhannyalah yang muncul.

Ketika Tuhan kalian muncul, kalian dapat ‘melihat’ Tuhan kalian. Sekelompok orang beraliran spiritual tertentu menyebut pengalaman ini sebagai ‘kekosongan paripurna’. Mereka mencapai suatu tingkatan di mana tak ada apa pun lagi. Ketiadaan Mutlak. Mereka berkata, ‘Kami telah mencapai kesempurnaan.’ Memang mereka telah mencapai sesuatu, tetapi tingkatan itu bukanlah kesempurnaan. Mereka tak mampu untuk menyeberanginya dan mencapai tingkatan setelahnya, karena itulah mereka berpikir bahwa tingkatan itu adalah tujuan tertinggi. Ketika kalian mencapai ketiadaan, kalian tengah berdiri di depan pintu kewujudan penuh dalam Kewujudan Tuhan.

Ketika beberapa kaum spiritual mencapai kekosongan paripurna, mereka memerlukan suatu cara untuk menyeberang. Mereka tidak menemukan cara itu. Semestinya, dengan cara atau sarana itu, mereka dapat menyeberang dan menemukan kewujudan paripurna. Lawan dari ketiadaan mutlak, pasti ada kewujudan mutlak, sebagaimana lawan dari ciptaan, pasti ada Tuhan, Sang Pencipta. Ada suatu jembatan di antaranya.

Untuk menyeberang dari yang satu ke yang lai, kalian mesti melalui jembatan tersebut. Tuhan berfirman dalam suatu Hadits Qudsi, ‘Aku adalah Harta Tersembunyi yang Tak Diketahui, dan Aku ingin untuk diketahui, maka Aku ciptakan Makhluq.’ Jika kalian tidak melihat-Nya, kalian akan berfikir tentang ketiadaan, ketidakwujudan. Tidak. Ketika kalian mencapai kekosongan paripurna-dan ini adalah suatu maqam yang tinggi-kalian mesti menemukan jembatan yang dapat membawa diri kalian ke kewujudan paripurna yang berada di seberang maqam ketiadaan paripurna tadi, karena ada suatu tingkatan yang lebih tinggi, dan suatu tingkatan yang masih lebih tinggi lagi daripada itu.

Sebagaimana Allah (swt) telah berfirman, ‘’dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi lebih mengetahui.” (QS. Yusuf, 12:76). Kita harus pula memahami bahwa ‘Di atas setiap orang yang memiliki suatu maqam ada seseorang lain yang berada di maqam lebih tinggi.’ Ia yang berada di atas dapat melihat ia yang berada di bawahnya, tetapi yang di bawah tidak mampu melihat yang di atasnya. Bagaimana kemudian kita bisa mengatakan bahwa tingkatan yang kita berada di atasnya adalah suatu tingkatan terakhir? Kita tak mampu melihat di atas tingkatan kita. Karena itulah, Allah memperingatkan kita bahwa seseorang tak mampu mengetahui seluruh pengetahuan tak peduli seberapa dekat ia telah mendekati. Kalian hanya akan memiliki sebagian dari pengetahuan itu.

Pengetahuan sempurna hanya dimiliki oleh-Nya. Karena itu, janganlah mengatakan seperti apa yang mereka katakan ketika mereka mencapai kekosongan sejati, ‘Ini adalah tingkatan terakhir.’ Memang tingkatan itu adalah suatu tingkatan yang cukup tinggi dan berharga bagimu, tetapi pasti ada seseorang yang Allah telah tempatkan lebih tinggi darimu.

Jangan meremehkan kekuatan Tuhan. Tuhan tak pernah dapat dibatasi. Ada tak berhingga banyaknya maqam dan tingkatan. Kemana pun dirimu telah mencapai, masih ada lagi maqam-maqam berikutnya.

Mawlana Syaikh Hisham Kabbani
http://www.naqsybandi.com

Pentingnya memiliki Niat yang Baik

16835731_10154365063835886_772839708438681323_o

Setiap gerakan yang kalian lakukan dan setiap perbuatan yang kalian lakukan bergantung pada niyyah kalian: jika niyyat kalian adalah untuk Allah dan Nabi-Nya (saw) dan kalian ingin berbuat suatu kebaikan, kalian akan dikaruniai pahala atas kebaikan tersebut, bahkan seandainya kalian tidak jadi melakukannya, tetapi kalian telah meniatkannya, Allah (swt) akan mengaruniakan pahala bagi kalian. Jika seseorang berniat melakukan perbuatan itu untuk dunia, maka Allah (swt) akan memberinya bagian dari dunia dan melarang mereka mendapatkan bagian dari Akhirah, sesuatu yang tidak diinginkan kaum Muslimin dan Mukminin.

Karena itulah, Nabi (saw) menyuruh kita untuk berhati-hati, “Innama ‘l-a’maalu bi ‘n-niyyaat” artinya jika apa yang kalian niatkan dalam hati adalah untuk Allah dan Nabi-Nya (saw), maka itulah yang terbaik. Namun, jika yang kalian niatkan dalam hati adalah untuk suatu persekongkolan atau untuk bertengkar, atau untuk menunjukkan kesalehan dan ketulusan palsu sambil menyembunyikan ego negatif dan syaitani kalian, maka hijrah kalian, adalah untuk kenikmatan dunia belaka.

Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Ingatlah Allah Sebanyak-Banyaknya

16252131_1231276273593390_5881064429397819291_o

Ingatlah Allah (swt) sebanyak-banyaknya, sebanyak yang kalian mampu, dan pujilah Dia sebelum dan setelah kerja (“sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam”). Hari ini, siapakah yang mengingat Allah (swt) ketika meninggalkan atau memasuki rumah mereka? Mungkin ada beberapa yang melakukannya, tetapi tidak begitu banyak; kalian dapat menghitung mereka dengan jari. Karena itulah dikatakan bahwa segala sesuatunya akan lenyap kecuali dzikrullah, yang akan menyertai kalian ke Surga.

Hidup di Surga adalah dzikrullah, seperti Malaikat yang hidup dengan dzikrullah, sebagaimana Allah (swt) menciptakan dan memerintahkan mereka untuk melakukan dzikrullah. Dan perintah paling indah yang Ia (swt) berikan pada mereka dalam Qur’an Suci adalah “Bershalawatlah atas Nabi-Ku, wahai para Malaikat-Ku! Kalian suci dan tak berdosa, tetapi jika kalian ingin Aku ridha atas diri kalian, dan jika kalian ingin datang ke Hadirat-Ku, bershalawatlah atas Nabi Kekasih-Ku ﷺ!”

Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Jatuhkan Egomu

16252131_1231276273593390_5881064429397819291_o
 
Seorang murid yang sangat setia dengan Syaikh-nya selama 25 atau 27 tahun, melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Syaikhnya, akhirnya, karena suatu sebab, sang murid ini menjadi frustrasi dan tertekan, serta berkata kepada dirinya sendiri, “Telah kuhabiskan waktuku bertahun-tahun dengan syaikhku dan aku tidak melihat apa-apa. Aku punya kawan-kawan dari tariqah lain yang sudah lebih maju dan hijab mereka sudah tersingkap, mereka melihat dan mengalami kasysyaf, dan bahkan juga kawan-kawanku dari Tariqah yang sama, sedangkan aku belum juga melihat apapun! Lalu, kenapa aku mesti menghabiskan waktuku dengan syaikhku? Aku harus berbicara dengannya!”
 
Sang murid pun pergi menemui syaikhnya dan berkata, “Yaa Sayyidii, maafkan aku, namun aku sudah bersamamu selama 25 tahun dan aku pun mendengar suhbah-suhbahmu, tetapi aku belum melihat hal-hal ghaib (kasyaf) seperti kawan-kawanku yang lain. Aku tidak melihat apa pun.”
 
Sang Syaikh berkata, “Yaa waladii (wahai anakku), mereka mengalami kemajuan dalam waktu yang singkat dibandingkan dirimu karena engkau melihat dirimu lebih baik daripada setiap orang. Kesombongan dalam dirimu inilah yang menundamu mencapai Amaanahmu, Amanah Surgawimu. Artinya, engkau mesti meninggalkan diri (ego)mu sepenuhnya dan berpegang teguh hanya kepada cinta Allah (SWT) dan Nabi-Nya (SAW) serta Syaikh-mu di dalam hatimu, kemudian melakukan awraad-mu, baru kemudian engkau akan mengalami kemajuan. Namun, jangan pernah berpikir bahwa itu karena engkau pandai dan mampu. Jika engkau berpikir seperti itu syaikh akan menghentikanmu.”
 
Murid itu pun bertanya, “Apa yang mesti kulakukan sekarang?”
 
Sang Syaikh pun menjawab, “Mudah saja: engkau mesti menghempaskan kesombonganmu dan satu-satunya cara untuk menghempaskannya adalah bukan hanya dengan melengkapi awraadmu, tetapi engkau mesti pula melakukannya secara fisik. Apa pun yang syaikhmu perintahkan untuk kau lakukan, engkau mesti melakukannya.”
 
Murid itu menjawab, “Oke!”
 
Sang Syaikh pun berkata, “Pergilah beli sebuah keranjang, penuhi keranjang itu dengan biji kenari dan duduklah di pintu masjid. Tanyalah setiap orang yang datang apakah mereka ingin kenari, dan jika mereka menjawab ya, maka suruhlah mereka untuk memukulmu di kepala dengan sepatumu dan mengatakan padamu, ‘Jangan sombong, jangan bangga pada dirimu sendiri.’ Jika orang kedua datang dan menginginkan dua kenari, berikan padanya kedua sepatumu dan suruhlah dirinya untuk memukulmu di kepalamu. Bila biji-biji kenari itu telah habis, datanglah kepadaku karena ada tugas lain menantimu.”
 
Murid itu pun berkata, “Yaa Sayyidii, aku tak mempu mengerjakan tugas pertama ini, bagaimana lagi dengan tugas kedua? Aku tak ingin Tariqahmu, aku tak ingin berurusan apa pun lagi denganmu, aku akan lakukan sendiri jalanku.”
 
Murid itu pun pergi dan hilang. Kita tak ingin diri kita hilang; karena itu, bahkan jika syaikh memerintahkanmu untuk melakukan sesuatu yang sangat sulit, engkau mesti melakukannya, setidaknya mulailah melakukannya dan jika dirimu tidak berhasil mereka akan melengkapkannya bagimu, tetapi engkau mesti menunjukkan pada mereka bahwa engkau mau melakukannya.
 
Semoga Allah selalu menjaga kita untuk mengikuti Sayyidina Muhammad (SAW); sebagaimana para Sahaabah (r.a.) yang memberikan nyawa mereka bagi beliau, semoga Allah (SWT) membimbing kita di Jalan yang Benar dan untuk mengorbankan diri kita sendiri bagi kecintaan pada Kemanusiaan, kecintaan pada sesama Makhluq, pada Cinta Sayyidina Muhammad (SAW) dan cinta Awliya’!
 
Mawlana Syaikh Hisham Kabbani (ق )
Nazimiyya Indonesia

Iman Memberi Kekuatan

16142398_10154291778070886_2477357459733761701_n

Iman memberikan kekuatan kepada kalian; iman datang dari Allah (swt) kepada Nabi (saw), yang menyuntikkannya kepada kalian agar diri kalian tabah melewati ujian-ujian ini. Jadi, jangan mengeluh, “Aku punya masalah ini dan kesulitan ini,” karena setiap Wali (Kekasih Allah) memiliki kesulitan-kesulitan dan masalah-masalahnya sendiri. Dan orang-orang pun membicarakan tentang sang Wali secara baik maupun secara buruk karena Wali tersebut tidaklah lolos dari kritikan mereka. Semakin banyak mereka mengkritiknya, bermakna kedudukan wali tersebut semakin tinggi dan tinggi.

Setan selalu menyerang orang yang kalian percayai, untuk menjadikan iman kalian berkurang.

Nabi (saw) diserang tanpa henti oleh kedua pamannya, Abu Lahab dan Abu Jahal, yang mengklaim bahwa beliau adalah tukang sihir terbesar, padahal mereka tahu bahwa beliau bukanlah seorang tukang sihir. Tetapi takabbur dan tajabbur, rasa bangga dan sombong telah menjadikan mereka melakukan hal tersebut. Siapa pun yang merasa dirinya lebih baik, Allah (swt) akan menghinakannya!

Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia