Hadits: Hati Berada di Antara Dua Jemari ar-Rahman

Seri Ramadhan 2021, Bagian 4

Dr. Nour Mohamad Kabbani

22 April 2021 Zawiya, Michigan

Dari Buku Catatan Mawlana Shaykh Nazim

Bismillaahi ‘r-rahmaani ‘r-rahiim

Assalamu`alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh,

Alhamdulillah, salah satu jalan agar kita merasa lega adalah dengan datang ke masjid.  Kita semua, termasuk saya, sebelum datang ke masjid kita merasa berat, stres, dan penuh beban.  Subhanallah, sejak pertama kita masuk dan melakukan Shalat Ashar, kita merasa lega.  Ini adalah berkah dari guru kita.  

Masjid ini dibuka oleh Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q).  Saya ingat, beliau masuk dari pintu sebelah sana.  Pada saat itu tempat ini belum sebesar ini, dan beliau masuk dari pintu tersebut, dan ruangan ini masih belum ada dindingnya, baru ada atapnya, tempat ini adalah tempat piknik, sebagaimana yang kalian lihat di taman-taman di luar sana.  

Jadi energi Mawlana Syekh Nazim (q), berkah dan cahaya beliau selalu ada di sini, dan cahaya Grandsyekh terlihat oleh Mawlana di sisi sebelah sana.  Jadi cahaya Grandsyekh ada di sana, di area maqam sekarang dan cahaya Mawlana Syekh Nazim (q) di sini.  Itulah sebabnya tempat ini menjadi tenang dan kalian akan merasa nyaman di sini.  Semoga Allah (swt) selalu menjadikannya sebagai pintu bagi kita untuk mendatangi majelis Syekh kita.

Tempat ini terbuka, bila kalian ingin datang berkunjung dan berziarah ke maqam Grandsyekh, lalu shalat dua rakaat tahiyyatul masjid di sini kemudian pulang, Allah akan membuat kalian merasa ringan.  Orang-orang mengalami banyak kesulitan, khususnya kabar yang datang dari Perancis, apa yang bisa kita katakan?  Jahalat, kebodohan telah menguasai segalanya, menyelimuti dunia dan menguasai hati.

Orang-orang tidak terlalu sering mendengarkan shuhbah Mawlana Syekh Nazim (q), termasuk diri saya.  Alhamdulillah setiap kali kita membaca suatu shuhbah, kita diingatkan kembali dengan apa yang beliau katakan di masa lalu.  Ketika kita berada dalam keraguan untuk melakukan sesuatu, kembalilah selalu pada ajaran mursyid kita.  Ajaran beliau berlaku sepanjang masa, sebagaimana al-Qur’anul kariim dan Hadits Rasulullah (saw).  Setiap kali kalian membacanya, muncul makna yang baru dan berlaku dalam situasi kalian; begitu pula dengan ajaran mursyid kita, Grandsyekh Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q), Semoga Allah meninggikan derajat mereka selama-lamanya, dan semoga Allah mendukung kita dengan dukungan mereka, kata-kata beliau juga berlaku setiap waktu.

Saya tidak tahu apa yang harus saya baca, lalu saya membuka halaman ini dan subhanallah Mawlana Syekh Nazim (q) kembali mengajarkan adab kepada murid-muridnya berulang kali, namun murid-murid masih belum belajar tentang adab.  

Dengarkanlah mursyid kalian, Grandsyekh, dan saya juga mendengarkannya.  Ini adalah orang yang menuliskan kata-kata Mawlana.  Mawlana Syekh Nazim (q) mengatakan, “Muqallib al-quluub Huwa Allah, Yang membolak-balikan hati adalah Allah (swt)–apakah menuju kebaikan atau menuju keburukan, apakah menuju iman atau tanpa iman, apakah menuju Muslim atau Yahudi, Sikh atau Buddha atau apa pun itu–sebagaimana dalam Hadits dinyatakan bahwa, “Hati berada di antara dua Jemari Allah (swt).” 

Grandsyekh mengatakan bahwa, “Karakteristik ini tidak diberikan kepada siapa pun.  Tidak seorang pun dibusanai dengan kekuatan untuk membolak-balikkan iman, menuju iman atau tanpa iman, menuju kebaikan atau keburukan, tidak seorang pun dibusanai dengan kekuatan tersebut, bahkan kepada Rasulullah (saw) pun tidak; karena jika beliau memilikinya, beliau (saw) akan membalikkan hati paman beliau, Abu Thalib ke dalam Islam.”  Betapa kerasnya beliau berusaha, bahkan menjelang wafatnya, Rasulullah (saw) menjenguk Abu Thalib dan mengajaknya untuk masuk Islam, tetapi beliau (saw) tidak bisa mengubah hati pamannya untuk masuk Islam.

Dia (swt) dapat membuat kalian merasa sedingin-dinginnya atau sepanas-panasnya, terhadap Cinta-Nya dan terhadap iman kepada-Nya, seperti halnya tombol AC di mobil kalian, kalian dapat menyetelnya ke kanan atau ke kiri.  Ini hanyalah untuk Allah (swt).  Dialah satu-satunya yang dapat mengubah hati, bukan di tangan Awliyaullah maupun Anbiyaullah.  Mereka tidak dapat mengubah hati manusia.  Oleh sebab itu, dengarkanlah wahai orang yang telah kehilangan adab!  Takutlah kepada Allah (swt) dari apa yang Dia lakukan terhadap hamba-hamba-Nya. Di Tangan-Nya adalah al-Mulk, yakni dunia fisik ini, dan di Tangan-Nya adalah Malakut, alam rohaniah.  Dia dapat melakukan apa pun yang diinginkan-Nya pada dunia fisik ini dan Dia dapat melakukan apa pun pada alam rohaniah sesuai dengan Kehendak dan Hikmah-Nya.  

Oleh sebab itu jagalah adab kalian dengan Allah (swt) dan hamba-hamba-Nya.  Jangan meremehkan atau merendahkan siapa pun, jangan membuka aib atau membicarakan hal-hal yang buruk tentang seseorang.  Ini adalah adab yang telah hilang sekarang ini.  Kita berpikir bahwa kita adalah hamba yang lebih baik daripada orang lain.  

Jika Allah (swt) menghendaki, Dia dapat mengubah hati kalian!  Wahai orang yang suka memfitnah orang lain, dan mengatakan, “Mereka adalah orang-orang yang buruk, kita baik.”  Grandsyekh mengatakan bahwa jika Allah berkehendak, Dia dapat menjadikan kalian sebagai orang yang paling buruk di antara manusia, dan Dia dapat menjadikan kalian sebagai orang yang paling tidak terhormat di antara manusia, dan sebaliknya Dia dapat menjadikan orang yang tidak terhormat menjadi orang yang paling terhormat.  Oleh sebab itu jagalah adab kalian dan jangan merendahkan orang lain!

Ini adalah masalah kita sekarang ini.  Kita berpikir bahwa kita lebih tinggi, paling baik ibadahnya, kita lebih baik daripada orang lain.  Ini bukanlah adab, karena setiap saat Allah (swt) dapat mengubah hati kalian dan membalikkan kalian dari posisi di atas menjadi ke bawah.  Dia adalah Dzat yang dapat mengubah hati, jadi jagalah adab dan jangan memfitnah siapa pun.  Allah (swt) adalah Hakim!  

Berapa kali kalian membaca Surat YaaSiin syariif?  Begitu sering.  Masya Allah pada waktu Subuh lidah kalian bagaikan burung bulbul membaca Surat Yaasiin dan sebagaimana guru kita mengajarkan kepada kita, ketika kalian sampai pada bagian akhir, kalian membaca, 

Asta`idzubillaah,

كُلُّ شَيۡءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجۡهَهُۥۚ لَهُ ٱلۡحُكۡمُ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ 

Kullu syay’in haalikun illaa wajhahu, lahu ‘l-ḥukm (QS al-Qasas, 28:88) 

Tiap-tiap sesuatu pasti akan binasa, illaa wajhahu kecuali Wajah Suci-Nya, artinya Cahaya-Nya dan Shifaat-Nya, lahu ‘l-ḥukm, lahu artinya bagi-Nya, al-hukm, segala penentuan.  Segala penentuan bersandar pada Allah (swt), kalian bukanlah hakim, kalian bahkan tidak mengikuti Qur’an, kalian tidak mengikuti apa yang kalian baca setiap Subuh. 

Grandsyekh mengatakan, lahu ‘l-hukm, Dia tidak membiarkan siapa pun menghakimi hamba-hamba-Nya kecuali Dia Sendiri, al-Hakam, Sang Hakim.  Lalu mengapa kalian menghakimi orang lain?  Waspadalah, ini adalah ma`adz Allah dan dapat mengarah pada kekufuran dan keluar dari Islam!  Berhati-hatilah, seberapa agresifnya kalian.  Ini bukanlah suatu permainan.  Hamba-hamba Allah, `abiid bukanlah permainan kalian, untuk mengangkat siapa pun yang kalian inginkan atau menurunkan siapa pun yang kalian inginkan; untuk memuji seseorang dan merendahkan yang lain.  Itu adalah permainan yang sangat berbahaya, wahai manusia! 

Grandsyekh memberi sebuah contoh.  Suatu ketika seorang Waliyullah sedang berjalan dan ia berpapasan dengan seorang Yahudi.  Wali itu memandang Yahudi tersebut dan tiba-tiba ia jatuh pingsan.  Murid-muridnya segera mengangkatnya dan bertanya, “Wahai guru, apa yang terjadi denganmu sehingga engkau pingsan ketika melihat Yahudi itu?”  Ia menjawab, “Wahai anakku, ketika aku melihatnya, Allah (swt) memanggilku melalui sirr-ku, melalui rahasia di dalam hatiku.  Sebuah ilham masuk ke dalam hatiku yang mengatakan, ‘Wahai hamba-Ku, orang itu adalah hamba-Ku dan engkau adalah hamba-Ku juga.’

Jadi Allah (swt) mengatakan kepada Mukmin, kepada Waliyyullah tersebut, “Jagalah adab kepada hamba-Ku, kepada Yahudi itu, karena ia adalah hamba-Ku dan engkau juga adalah hamba-Ku, hadza `abdi wa anta `abdi.”  Dengan Keadilan-Ku, Aku telah membusanai dia sebagai Yahudi dan Aku telah membusanai dirimu dengan busana Iman dan Islam dan Aku dapat melakukan apa yang Aku kehendaki.  Jika Aku kehendaki, Aku bisa mengambil busana Iman dan Islam dari dirimu dan memakaikannya kepadanya dan mengambil busana Yahudi dari dirinya dan memakaikannya pada dirimu. Siapa yang bisa menghalangi-Ku?  

Ketika ia mendengar “Siapa yang dapat menghalangi-Ku,” ia paham bahwa Allah telah menegurnya dan itu membuat lututnya gemetar dan ia jatuh pingsan.  Para Anbiyaullah pun akan gemetar para Hari Perhitungan karena takut kepada Allah (swt).  Bahkan Sayyidina Isa (as) pun akan mendapat teguran pada Hari Perhitungan, sebagaimana firman Allah (swt), 

وَإِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ

“Wahai Isa putra Maryam! Apakah engkau yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” dan seterusnya hingga akhir ayat di dalam Surat al-Ma’idah (QS 5:116).  

Ya, Sayyidina Isa (as) juga akan mendapatkan pertanyaan besar di Hari Perhitungan.  Beliau menjawab, “Qaala subhaanak, Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku.”  Ya, tetapi beliau tetap akan gemetar.  

Jadi ketika Waliyyulah ini mendengar Allah (swt) mengatakan, “Siapa yang bisa menghalangi-Ku untuk membuatmu menjadi Yahudi dan membuatnya menjadi Mukmin?” Ia lalu jatuh pingsan.  Oleh sebab itu, jangan merendahkan orang, jangan membuka aib atau memfitnah orang lain.  Belajarlah adab al-Qur’an suci, adab dari Awliyaullah, adab dari mursyid kita, Mawlana Syekh Nazim (q).  Kita telah kehilangan adab tersebut.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita.

Saya tidak ingin berlama-lama lagi, perut saya sudah mengatakan, “Ayo kita buka puasa!” (tersenyum)    

Jadi Allah (swt) adalah Sang Hakim.  Dia yang menghakimi Muslim, Yahudi, Kristen, Buddha, Dia yang menghakimi orang yang buruk, Dia yang menghakimi orang yang baik, itu semua tidak tergantung pada kalian.   

Hasil dari kehidupan manusia dan akhir dari kehidupan itu ada di Tangan Allah.  Kalian tidak tahu apa yang akan terjadi pada akhir hidup seorang hamba.  Ada suatu rahasia di sana, tetapi saya tidak akan mengungkapkannya, karena banyak Salafi yang akan keberatan jika saya melemparkan permata yang tidak dimengerti mereka.  Jika saya memberi kalian batu rubi merah atau permen merah, kalian akan mengambil permennya.  Jadi untuk apa memberi batu rubi merah itu.  Ini bukanlah untuk kalian. Bila kalian mempunyai cinta terhadap Awliyaullah di mana kalian menerima segala sesuatu yang berasal dari Syekh barulah kita dapat berbicara.

Jadi, akhir seorang hamba ada di Tangan Allah (swt) dan kalian tidak akan mengetahui bagaimana orang itu akan mengakhiri hidupnya, karena al-i`tibaar atau yang menjadi pertimbangannya adalah akhir hayat seorang hamba. Rasulullah (saw) telah bersabda 

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

Innalaaha yaqbalu tawbata ‘l-`abdi maa lam yugharghir,

Sesunguhnya Allah (swt) menerima tobat seorang hamba hingga ruhnya mencapai tenggorokannya dan ia mengeluarkan suara gharghir (seperti dengkuran) karena ia tidak bisa menelan lagi–saya sudah sering menyaksikan hal itu di rumah sakit, ketika mereka mengeluarkan air ludahnya.  Mereka tidak mempunyai kekuatan lagi pada saat itu sehingga mereka tidak bisa berbicara.  Sampai saat itu pintu tobat Allah (swt) masih terbuka untuk semua orang, jadi kita tidak pernah tahu seperti apa akhir dari seorang hamba.  

Oleh sebab itu jagalah adab. Belajarlah adab dari mursyid kita.  Kita adalah pengikut Mawlana Syekh Nazim (q) dan Grandsyekh Naqsybandiyyah dan kita menjaga adab terhadap semua orang.  Kita tidak memfitnah orang lain, kita tidak mengganggap siapa  pun sebagai musuh kita, kita tidak merendahkan orang, dan kita tidak menyanjung orang Itu adalah terserah kepada Allah (swt).  Dia akan merendahkan siapa pun yang dikehendaki-Nya dan Dia akan mengangkat siapa pun yang dikehendaki-Nya. Allah (swt) memegang kendali sepenuhnya.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita. 

Dia berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, Aku telah membimbingmu ke dalam Iman dan Islam, dan ke pintu Syekh Nazim (q), oleh sebab itu akuilah dan bersaksilah atas nikmat dan karunia-Ku kepadamu, dan jangan melihat dirimu lebih daripada orang lain, bahwa kalian dapat menyapu lantai dengan mereka, seolah-olah mereka adalah lap. Dan kalian menganggap bahwa mereka adalah ‘para pendosa yang tidak taat.’” 

Lihatlah ini adalah kata-kata Mawlana Syekh Nazim (q).  Kata-kata yang telah kalian lupakan karena kalian hanya melihat diri sendiri dan merasa sebagai orang yang lebih tinggi.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita.  Semoga Allah (swt) selalu menjaga kita di pintu Grandsyekh, belajar adab, menghormati orang lain, menghormati manusia sebagaimana mereka pantas dihormati.  Dan semoga Allah membimbing semua orang ke Hadirat Ilahiah-Nya dengan syafaat Rasulullah (saw).

Wa min Allah at-tawfiq, bi hurmatil habiib, wa bi sirri suuratil Faatihah   

https://sufilive.com/-The-Heart-Is-Between-the-Two-Fingers-of-the-Most-Merciful-Hadith-7472.html

© Hak Cipta 2021 Sufilive. Seluruh hak cipta. Transkrip ini dilindungioleh hukum hak cipta internasional. Harap cantumkan Sufilive saat membagikannya. JazakAllahu khayr.