Ṣuḥbah pada ‘Urs Syekh Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi (q)
Syekh Hisham Kabbani
Feltham, England, UK, 19 November 2016
Centre for Spiritual & Cultural Advancement (CSCA)
A‘ūżū billāhi mina asy-syaiṭāni ar-rajīm.
Bismillāh ar-Raḥmān ar-Raḥīm.
Nawaitu l-arba‘īn, nawaitu l-i‘tikāf, nawaitu l-khalwah, nawaitu l-‘uzlah, nawaitu r-riyāḍah, nawaitu s-sulūk, lillāhi Ta‘ālā al-‘Aẓīm fī hāżā l-masjid.
أَطِيعُوا اللّٰهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
Aṭī‘ūllāha wa aṭī‘ūr-Rasūla wa ulī ’l-amri minkum.
Taati Allah, taati Rasul, dan taatilah para pemegang otoritas di antara kalian.
(QS. An-Nisā’, 4:59)
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمٰنِ سُبْحَانَ اللّٰهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللّٰهِ الْعَظِيمِ
Kalimatāni khafīfatāni ‘alā al-lisāni, tsaqīlatāni fī al-mīzāni, ḥabībatāni ilā al-Raḥmān:
subḥānallāhi wa biḥamdih, subḥānallāhi al-‘aẓīm.
Terdapat dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat di timbangan, dan sangat dicintai oleh Ar-Raḥmān: ‘Subḥānallāh wa biḥamdih, subḥānallāhil-‘Aẓīm.’ (HR. Bukhari dan Muslim)
As-salāmu ‘alaykum wa raḥmatullāhi wa barakātuh.
Karena kami akan bepergian besok pagi, saya harus memutuskan apakah akan melakukan dzikrullāh atau langsung qasīdah atau ziyārah, karena kami mempunyai beberapa relik suci untuk ditunjukkan kepada kalian. Lalu kami katakan, saya dan Ali, saya membagikan hal ini kepada kalian, kami memutuskan untuk melakukan dzikir singkat, bukan begitu? Ia menyarankan kepada saya untuk melakukan dzikir singkat. Namun segera setelah saya memulai dzikrullāh, Mawlana Syekh Nazim (ق), semoga Allah memberkahi ruhnya, dan Grandsyekh Syekh ‘Abdullāh Fa’iz ad-Dāghistānī (ق), berkata kepada saya, mengeluh. Saya berada di bawah tekanan berat. Beliau berkata, “Bagaimana engkau berani menempatkan sesuatu di depan dzikir? Tidak ada apa pun yang didahulukan sebelum itu! Dzikrullāh adalah yang pertama, kemudian apa pun yang ingin kau lakukan setelahnya, silakan. Kau tidak melakukan apa-apa, kau melakukan sesuatu, apa pun itu, tetapi dzikrullāh tetap yang pertama. Dan bukan dzikir pendek; kau harus menyelesaikan seluruh dzikir.”
Karena peristiwa seperti ini tidak sering terjadi, tidak setiap hari kita duduk seperti ini. Mungkin setiap tahun hanya dua atau tiga kali. Dan untuk memiliki keramaian sebanyak ini, mā syā’ Allāh, di samping jin dan malaikat yang juga ada di sini dan masih berada di sini. Ini adalah barakah Mawlana. Majelis seperti ini tidak selalu terjadi; ia sangat langka dan berharga. Melakukan dzikir besar lebih baik daripada memotongnya menjadi pendek. Maka saya seperti berada dalam keadaan terancam. “Dengar, Hisham, dzikir panjang lebih baik daripada yang pendek.” Meskipun yang pendek juga sangat berharga, tetapi yang panjang lebih berharga bagi Allah dan Nabi-Nya.
Itulah sebabnya kita akan melanjutkan dengan dzikir, tetapi suasananya sangat panas dan semua orang berkeringat. Saya meminta seseorang untuk membuka jendela agar orang-orang mendapat udara, namun ia hanya memberi isyarat, dan jendela tetap tidak dibuka sampai sekarang.
Dan Mawlana berkata—sekali lagi beliau menyampaikan ke dalam hati saya—“Katakan kepada mereka, di mana mereka yang duduk di sini seperti dua atau tiga ratus orang, empat ratus, lima ratus, mungkin tujuh ratus antara laki-laki dan perempuan. Jika mereka kelak menjadi miliaran, bagaimana mereka akan merasakan panas matahari? Karena panas matahari menyala, dan pusat matahari itu sendiri mencapai lima puluh juta derajat Celsius. Pada Hari Perhitungan, matahari akan berada di atas kepala kita. Maka kita mohon naungan, insyā’ Allāh, di atas kepala kita. Semoga Allah mengampuni kita.
Dan beliau berkata, “Bagaimana dengan Jannah?” Saat kalian berkeringat dan kalian tahu bahwa kalian melakukan sesuatu yang salah, lalu kalian melakukan istighfar, kalian akan diberi surga. Pada saat itu mereka membukanya. Kalian melihat pintunya? Dan kemudian di sini menjadi sejuk, sebagian dari AC. Beliau berkata, “Kalian duduk di dalam ruangan yang panas, tetapi di ruangan yang sama Allah membuatnya seperti Sayyidina Ibrahim (ع), bardan wa salāman. Artinya bardan wa salāman bukan hanya dalam pertemuan ini, tetapi seluruh hidup kalian akan menjadi bardan wa salāman (sejuk dan damai).
Awliyā’ullāh, mereka melakukan hal-hal, mereka mengatakan hal-hal yang kita tidak mengerti. Tetapi tajallī malam ini adalah tajallī yang nyata dan jarang terjadi. Namun karena Sayyidinā Aḥmad al-Fārūqī al-Sirhindī al-Mujaddidī Alf-i Tsānī (ق), beliau mengajarkan kembali Islam sejati, iman sejati, dan tasawuf. Itulah sebabnya pada awalnya saya menerima perkataan Mawlānā, “Jangan mulai kecuali dengan memanggil Nabi (ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam) dan seluruh awliyā’.”
Itulah sebabnya kita mengatakan:
“Yā Sayyid as-Sādāt wa Nūr al-Mawjūdāt,
yā man huwa al-malja’u liman massahu ḍaymun wa ghammun wa alam.
Yā Aqrab al-Wasā’il ilā Allāh Ta‘ālā wa yā Aqwa al-Mustanad,
at-tawassalu ilā janābika al-a‘ẓam bi hā’ulā’i as-sādāt,
wa Ahlillāh, wa Ahl al-Baytika al-Kirām,
li daf‘i ḍurrin lā yudfa‘u illā bi-wasīṭatik,
wa raf‘i ḍaymin lā yurfa‘u illā bi-dalālatik,
bi-Sayyidī wa Mawlāyā, yā Sayyidī yā Rasūlallāh.”
Nabī (ﷺ)
Shiddiq (ر)
Salmān (ر)
Qāsim (ر)
Ja`far (ع)
Thayfūr (ق)
‘Abul Ḥasan (ق)
‘Abū ‘Alī (ق)
Yūsuf (ق)
‘Abul ‘Abbās (ع)
‘Abdul Khāliq (ق)
Ārif (ق)
Maḥmūd (ق)
‘Alī (ق)
Muḥammad Bābā as-Samāsī (ق)
Sayyid Amīr Kulāli (ق)
Khawājah Bahā`uddin Naqsyabandi (ق)
‘Alā`uddīn (ق)
Ya`qūb (ق)
Ubayd Allāh (ق)
Muḥammad az-Zāhid (ق)
Darwīsy Muḥammad (ق)
Khawājah al-Amkanāki (ق)
Muḥammad al-Bāqi (ق)
Aḥmad al-Fārūqi (ق)
Muḥammad Ma’sūm (ق)
Sayfuddīn (ق)
Nūr Muḥammad (ق)
Ḥabīb Allāh (ق)
‘Abdullāh (ق)
Syekh Khālid (ق)
Syekh Ismā’īl (ق)
Khās Muḥammad (ق)
Syekh Muḥammad Effendi al-Yarāghi (ق)
Sayyid Jamāluddīn al-Ghumūqi al-Ḥusaynī (ق)
Abū Aḥmad as-Sughūri (ق)
Abū Muḥammad al-Madanī (ق)
Sayyidina Syekh Syarafuddin ad-Daghestānī (ق)
Sayyidina Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh ‘Abd Allāh al Fā’iz ad-Dhaghestānī (ق)
Sayyidina Syekh Muḥammad Nāzhim al-Ḥaqqānī (ق)
Bacalah itu dan terhubung dengan kami. Alhamdulillah, kita terhubung dan mereka pun menghubungkan kita. Kita semua didukung oleh mereka. Itulah barakah sebagaimana yang Nabi (ﷺ) katakan kepada para Sahabat, “Idzā marartum bi-riyāḍil-jannati farta‘ū” “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah,“ Mereka bertanya, “Apakah bertanya, “Apakah riyāḍil-jannah ini ya Rasulallah? Apakah lingkaran Surga, taman-taman Surga ini? Beliau menjawab, “ḥilaq al-dzikr,” yakni majelis seperti ini. Majelis yang suci. Orang-orang berdatangan dari mana-mana.
Pada Hari Perhitungan, Allah akan menyatukan kita dan mengulangi peristiwa yang sama di hadapan seluruh manusia. Apa yang kita bacakan malam ini, kita bacakan atas nama seluruh Rantai Emas Naqsybandi dan seluruh silsilah ṭarīqah lainnya. Semoga Allah menyatukan mereka semua dan memberkahi mereka.
Ada 41 ṭarīqah, dan ada 41 ṭarīqah rantai emas (as-silsilatu ad-dzahabiyyah). Ada cabang-cabang, ribuan cabang selama bertahun-tahun. Semuanya terhubung; sebagian terhubung dengan akar, sebagian dengan cabang-cabang, sebagian dengan daun, dan sebagian dengan buah. Semuanya terhubung dengan pohon itu. Yang dikatakan Sayyidinā Ādam (ع), itulah sebabnya Allah berkata, “Jangan sentuh pohon itu.” Itulah pohonnya: pohon Muḥammad, Rasulullah (ﷺ). Tidak ada yang bisa menyentuhnya tanpa izin Nabi (ﷺ).
Allah menunjukkan seluruh surga kepada Adam, dan Dia berfirman, “Ambil semuanya kecuali pohon itu. Itu adalah untuk-Ku,” yang berarti Muḥammad itu adalah untuk-Ku. Beliau adalah pohon Surga. Itulah sebabnya Allah menaruh nama Sayyidinā Muḥammad (ﷺ) pada setiap sudut dan setiap daun dari daun-daun pohon di Surga: Muhammad Rasulullah (ﷺ).
Kebahagiaan apa lagi yang kalian inginkan? Pulanglah dengan bahagia. Allah bersama kita. Allah bersama orang-orang yang tulus. Semoga Allah menjadikan kita termasuk mereka.
Jadi pohon itu–tidak, engkau tidak bisa melampaui batasanmu. Pohon itu dilarang bagi Adam (ع). Tetapi beliau jatuh ke dalam masalah, ke dalam ketidaktaatan, karena beliau ingin makan dari pohon itu. Namun pohon itu bukan miliknya. Iblis memberinya angan-angan tentang apa yang akan beliau dapatkan jika memakannya: “Kau akan menjadi kekal.” Ya, pohon itu adalah pohon abadi. Itu adalah pohon Surgawi, tetapi bukan untuk siapa pun kecuali untuk Muḥammad (ﷺ). Dengan izin Allah beliau memilikinya. Syajaratun min ‘indillāh ‘azza wa jalla. Pohon seperti apa, kita tidak tahu. Apa yang Allah jelaskan di dalam al-Qur’an al-Karīm:
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ ۚ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allāhu nūru al-samāwāti wa al-arḍ. Matsalu nūrihī kamisy-kātin fīhā miṣbāḥ. Al-miṣbāḥu fī zujājah, al-zujājah ka-annahā kawkabun durrīyun yūqadu min syajaratin mubārakatin zaytūnatin lā syarqiyyatin wa lā gharbiyyah. Yakādu zaytuhā yuḍī’u wa law lam tamsas-hu nār. Nūrun ‘alā nūr. Yahdī Allāhu li-nūrihī man yasya’. Wa yaḍribu Allāhu al-amtsāla li al-nās. Wa Allāhu bikulli syay’in ‘alīm.
Allah adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita; pelita itu di dalam kaca; kaca itu seakan-akan bintang yang berkilau, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tidak tumbuh di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. an-Nūr, 24: 35)
Cahaya itu berasal dari pohon yang diberkahi, bukan milik timur ataupun barat. Itu bukan milik siapa pun di dunia kecuali untuk Sayyidinā Muḥammad (ﷺ). Pohon itu adalah untuk beliau.
Semoga Allah memberi kita rasa dari pohon itu pada Hari Perhitungan dan di Surga kelak. Siapa pun yang menghubungkan hatinya di dunia dengan Awliyā’ullāh, ketika ia sedang sakaratul maut, para Wali akan datang kepadanya. Dan lebih dari itu, jika kalian menghubungkan hati kalian dengan Nabi ((ﷺ), beliau akan siap menyambut kalian di kubur dan menyelamatkan kalian, memastikan kalian mengucapkan syahadat dan kalian akan masuk Surga.
Ummatun Nabi (ﷺ), ummatun marḥūmah. Ummatun Nabi (ﷺ) adalah ummat yang dirahmati. Allah telah memaafkan mereka sebelum Dia menciptakan mereka. Sebelum Allah menciptakan, Dia sudah mengetahui ketidaktaatan apa yang akan dilakukan manusia di bumi, tetapi Dia tetap menciptakan kita.
يَمْحُوا اللّٰهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
Yamḥu Allāhu mā yasyā’u wa yutsbitu, wa ‘indahu Ummu al-Kitāb
Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki; dan di sisi-Nya-lah Ummul Kitāb. (QS. ar-Ra‘d, 13: 39)
Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan Dia meneguhkan apa yang Dia kehendaki. Dia memiliki kekuatan dan seluruh rahasia dalam “Tangan”-Nya, Yadul qudrah—bukan tangan seperti tangan kita, tetapi Yadul qudrah, Tangan Kekuasaan.
Semoga Allah (ﷻ) memberi kita naungan-Nya pada Hari Perhitungan untuk menaungi kita dari saat-saat yang berat itu.
[DOA]
Wa min Allāhi at-taufīq, bi ḥurmati al-ḥabīb, bi ḥurmati al-Fātiḥah
© Hak Cipta 2016 Sufilive. Seluruh hak dilindungi. Transkrip ini dilindungi oleh undang-undang hak cipta internasional. Mohon cantumkan atribusi kepada Sufilive saat membagikannya. Jazakallāhu khayran.