Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
5 Mei 2015 Lefke, Siprus
Shuhbah di Dergah Mawlana Syekh Nazim (ق)
As-salāmu ‘alaykum wa raḥmatullāhi wa barakātuh.
Bismi ’llāhi ’r-Raḥmāni ’r-Raḥīm.
Al-ḥamdu lillāhi Rabb al-‘ālamīn, wa ’ṣ-ṣalātu wa ’s-salāmu ‘alā asyraf al-mursalīn Sayyidinā wa Nabiyyinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Al-ḥamdu lillāhi yā Rabb alladzī ja‘altanā min atbā‘i Sayyidinā Syekh Muḥammad Nāẓim al-Ḥaqqānī wa ayyadtanā bi-ta’yīd minhu wa ‘allamtanā mā lam nakun na‘lam, wa hādzā bi-faḍl al-masyāyikh al-‘iẓām.
Yā Allāh! Segala puji bagi-Mu bahwa Engkau telah membawa kami menjadi pengikut Mawlana Syekh Nazim—semoga Allah memberkati ruhnya. Satu tahun telah berlalu dan saya tidak bisa menerima, bukan ‘menerima’ dalam arti sebenarnya, tetapi saya tidak dapat menggambarkan bahwa Mawlana meninggalkan dunia karena saya masih mengingatnya setiap saat, dan bagaimana beliau berada di dalam kubur, bahwa beliau—sebagaimana Allah (ﷻ) berfirman,
بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Tidak, mereka itu hidup di Sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (Surat Āli ‘Imrān, 3:169)
“Mereka hidup di kubur mereka, yurzaqūn, mereka mendapat rezeki, berupa apa? Apakah buah-buahan, daging, atau manisan? Allah (ﷻ) berfirman, ‘Mereka mendapat rezeki,’ dan ketika Dia memberi rezeki kepada seseorang, itu artinya Dia menghiasinya dengan Khazanah Ilmu-Nya yang tak terhingga! Allah (ﷻ) menciptakan makhluk untuk mengenali-Nya. Jadi ketika Allah membusanai awliyā’-Nya, itu adalah untuk lebih mengenali-Nya lebih banyak lagi, yang artinya untuk belajar. Ketika kalian belajar di universitas, mereka membawa kalian dari gelar Sarjana menuju gelar Doktor, kalian meningkat pada setiap langkah, bukannya menurun.
أولياء الله تحت قبابي لا يعلمهم غيري
Awliya-Ku berada di bawah Kubah-Ku, tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Aku. (Hadits Qudsi)
Ketika Allah (ﷻ) berkata, “Lā ya‘lamu walīyyī illā Anā,” dan “Yurzaqūna ‘inda Rabbihim,” itu tidak mudah, itu artinya orang yang berada di Ḥaḍrat Ilāhiyyah dilindungi dan Allah menjaganya bersama-Nya. Ketika Allah telah memberi Awliyā’ullāh derajat rezeki itu, itu adalah derajat perlindungan dari Api Neraka, azab dan segala perbuatan setan di dalam diri kita untuk para pengikutnya. Ini adalah berkat kewaliannya dan karena ia berada di Ḥaḍrat Ilāhiyyah, bukannya di luar. Itu adalah salah satu makna dari yurzaqūn; itu tidak berarti memperoleh sesuatu yang bersifat duniawi di dalam kubur, itu artinya kubur itu akan menjadi sebuah surga. Dan apa manfaatnya jika sebuah surga itu kosong, kalian duduk sendiri dan berkata, “Aku ada di surga.” Wali itu memerlukan sahabat dan kalian adalah sahabatnya dan juga anaknya, kalian adalah segalanya baginya, beliau duduk dengan para pengikutnya.
Tahun lalu di bulan Maret sebelum meninggalkan dunia, Mawlana Syekh Nazim (ق) menyebutkan sesuatu, saya tidak tahu apakah ada yang memperhatikannya. “Aku menginginkan sahabat-sahabatku, aku menginginkan sahabat lamaku, aku menginginkan murid-murid lamaku, aku merindukan mereka dan ingin bertemu dengan mereka.” Jika Mawlana merindukan murid-murid lamanya, beliau juga merindukan murid baru karena yang baru menjadi lama, jadi itu artinya beliau merindukan semua orang!
Pertemanan dengan Awliyā’ullāh adalah penting. Ketika Allah (ﷻ) berfirman,
أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
Ingatlah! Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Surat Yūnus, 10:62)
“Jangan takut mengenai Awliyā’ullāh, tidak perlu repot-repot untuk berusaha memahami level mereka, karena itu adalah mustahil. Ia (wali itu) bersama kita dan bersama Nabi (ﷺ).” ‘Mendapat rezeki di kubur mereka’ maksudnya mereka berada dalam asosiasi bersama Nabi (ﷺ), bersama umatnya, para awliyā’ dan para anbiyā’ di Ḥaḍrat Ilāhiyyah. Itulah sebabnya apa yang kita lihat dari sisi luarnya sama sekali berbeda dengan sisi batinnya, seperti halnya ketika kalian mencari sebuah sumur dan kalian melihat air dari kejauhan, tetapi ketika kalian mendekat ternyata itu hanyalah fatamorgana, tidak ada airnya. Air itu ada, tetapi mata kalian tidak dapat melihatnya. Awliyā’ullāh tidak akan mengatakan kepada kalian untuk mencari bila memang tidak ada apa-apa! Itu bukan fatamorgana, tetapi orang awam tidak dapat melihat airnya. Orang-orang yang diberi ilmu oleh Allah dan menjadikan kubur itu sebagai mi‘rāj, itu adalah Surga. Mereka berada di ‘Ālam al-Barzakh, yang disebutkan dalam aḥādīts mengenai Tanda-Tanda Akhir Zaman, di mana ruh orang Mukmin bergerak bebas ke seluruh dunia tanpa batasan dalam gerakan mereka, karena kubur mereka adalah Surga.
Jadi mereka mempunyai dua macam ilmu: pertama, yang mereka sampaikan kepada kalian, dan satunya lagi yang mereka sampaikan pada seseorang lainnya, yang berbeda dengan kalian, atau mereka dapat mengatakan kepada seseorang tentang sesuatu yang sama dengan yang dikatakan kepada kalian tetapi dengan cara yang berbeda. Sebagaimana dalam aḥādīts: Nabi (ﷺ) menyampaikan sebuah ḥadīts dan tergantung pada waktu dan kejadiannya, bagaimana wahyu itu turun dan siapa yang duduk, beliau akan menyampaikan ḥadīts yang sama, namun lebih panjang atau lebih singkat. Jika seorang wali duduk bersama Mawlana Syekh Nazim (ق), ilmunya akan berbeda dengan ilmu yang beliau berikan kepada murid-murid seperti kita. Ketika dua orang awliyā’ duduk bersama, mereka berbicara wali-ke-wali, tetapi ketika mereka bersama murid mereka, itu bagaikan ayah kepada putranya atau ayah kepada putrinya, karena mereka menyayangi anak-anaknya dan ia menutupi mereka di bawah sayapnya. Kalian adalah anak-anaknya, putra-putrinya. Jadi ilmunya berbeda, ia mempunyai dua wajah: satu pada pemahaman ilāhiyyah, yang lainnya pada pemahaman normal. Saya tidak ingin berbicara tentang hal ini hari ini, kita hanya ingin berziarah dan mengikuti acara ‘Urs.
Mengapa mereka mengatakan “‘Urs”, apakah ada yang bertanya tentang hal ini? Dalam bahasa Arab ‘urs artinya “pernikahan.” Ya, ia berada dalam pernikahan, karena kalian memberikan yang terbaik dalam sebuah pernikahan. Allah memberi para Awliyā’-Nya tahun-tahun lebih banyak dari tahun sebelumnya dan itu adalah ‘urs bagi mereka. Misalnya, lihatlah bagaimana ilmu itu berubah: Allah (ﷻ) menyebutkan beberapa huruf, al-ḥurūf al-muqaththa‘ah, di dalam Al-Qur’an Suci, dan huruf pertama dalam Surat al-Fātiḥah dan Surat al-Baqarah adalah alif.
Bagi para Awliyā’ullāh dan bagi Mawlana Syekh, alif melambangkan al-wujūd al-kāmil yang mutlak, “Wujud yang Sempurna.” Dari alif, awliyā’ Allāh dapat menganalisis dan mengeluarkan wujud yang terbaik, karena wujūd itu adalah bagi Allah (ﷻ), bukan bagi yang lainnya, karena semua orang akan pergi sedangkan Allah tetap ada. Dia adalah Sang Pencipta dan kita adalah hamba-Nya. Jadi alif itu melambangkan wujūd, dan kalian dapat mengambil ilmu dari segala sesuatu yang berada di bawah wujūd itu, bahkan jika itu adalah sehelai daun dari sebuah pohon atau loquat. Jadi awliyā’ Allāh dapat mengambil semua rahasia ini dan itulah sebabnya Al-Qur’an Suci dimulai dengan huruf alif.
Allah mengirim ilmu ini bahwa Dia ingin dikenal kepada Jibrīl (ع), yang merepresentasikan al-mulk wa ’l-malakūt. Ada dua lām dalam “Allāh”; satu berada dalam mulk dan satu lagi dalam malakūt, kita tidak akan membicarakannya sekarang. Tetapi kedua lām merujuk pada wujud al-mulk wa ’l-malakūt, yaitu “Ilmu Duniawi” dan “Ilmu Surgawi,” atau “Khazanah Duniawi” dan “Khazanah Surgawi.” Lām merepresentasikan makhluk yang Allah berikan untuk memberi, yakni Jibrīl (ع). Itulah sebabnya dikatakan di antara para Awliyā’ullāh bahwa lām melambangkan Sayyidinā Jibrīl (ع); kita tidak akan lebih jauh membicarakannya.
Jadi apa yang tersisa? Mīm.
Alif untuk Allah, Lām untuk Jibrīl (ع), al-mulk wa ’l-malakūt, dan seluruh alam semesta yang Allah ciptakan berada pada Mīm. Dan Mīm itu adalah Muḥammad (ﷺ).
Sementara Mīm mewakili Nabi (ﷺ) saja, ada rahasia di dalamnya; bukan seperti ketika orang membaca “Alif Lām Mīm” dan berpikir bahwa itu tidak ada artinya. Mīm dibentuk dari dua mīm. Ketika kalian melihat alfabet, kalian mengucapkan mīm dua kali, dan di antara kedua mīm adalah yā’. Yā’ adalah huruf terakhir dari alfabet. Alif adalah huruf pertama dan yā’ terakhir; alif mewakili keseluruhan wujūd dan yā’ mewakili Yang Tersembunyi, dan ini berada di antara kedua mīm.
Dalam tata bahasa Arab, yā’ adalah alif, bukannya yā’; kalian tidak mengucapkannya kecuali sebagai alif. Jadi ketika yā’ berada di antara dua mīm, itu artinya satu mīm berada dekat yā’, yaitu alif, dan mīm kedua berada di sisi lainnya yang terbuka bagi semua orang. Itulah sebabnya Nabi (ﷺ) bersabda,
ولكل شيء وجهان وجه الى الخلق ووجه الى ربه
Segala sesuatu mempunyai dua wajah: satu wajah menghadap ciptaan dan satu wajah menghadap Tuhannya. (Al-Ghazālī dalam Misykāt al-Anwār)
Jadi satu mīm bersama Ḥaḍrat Ilāhī, dan yang lainnya bersama umat. Apa yang Jibrīl (ع) berikan kepada mīm pertama, Nabi (ﷺ), diberikan dengan kekuatan terbaik, “Alif Lām Mīm.”
Ketika ia sampai pada mīm kedua pada sisi lainnya, ilmu itu diberikan secara perlahan karena Nabi (ﷺ) mengalami mi‘rāj, seperti ketika listrik masuk ke dalam transformator, ia akan dikurangi sehingga dapat dialirkan; ilmu yang sampai pada mīm kedua sebenarnya tidak dikurangi, tetapi diberikan secara perlahan dalam mi‘rāj-nya Nabi (ﷺ).
Itulah sebabnya Nabi (ﷺ) bersabda,
أوتيت جوامع الكلم
Aku telah diberikan induknya kalam. (Muslim)
Awliyā’ullāh menerima ilmu semacam itu dan mereka tidak membukanya untuk orang-orang tertentu, melainkan hanya kepada orang yang dapat memahaminya, jadi ketika mereka membukanya, itu dalam jumlah tertentu. Namun demikian kita harus tahu bahwa ketika mereka membaca “Alif Lām Mīm,” itu bukan seperti kita membacanya. Dan itu bukan berarti mereka tidak akan memberikannya kepada murid-murid apa yang mereka sembunyikan dari mereka, tetapi murid itu tidak dapat membawanya sehingga mereka menghiasi mereka dengannya dan itu akan diberikan secara perlahan-lahan ke dalam qalb mereka, baik pria maupun wanita. Itulah sebabnya Allah (ﷻ) berfirman,
أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
Ingatlah! Sesungguhnya walī-walī Allāh itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Surat Yūnus, 10:62)
“Mereka tidak mempunyai sesuatu untuk dikhawatirkan atau disedihkan, Aku memberi rezeki pada mereka.” Mereka hidup: Mawlana hidup, tetapi beliau tidak berada di sini. Segera setelah beliau ditempatkan di makamnya, para malaikat membawanya ke Syām. Pada suatu waktu, Grandsyekh—semoga Allah memberkahi ruhnya—mengatakan dari rahasia ini, “Ketika seorang walī, mukmin, atau siapa pun dari pengikutku meninggal dunia, mereka akan dipindahkan ke Syām, karena itu adalah tempat di mana Allah akan menurunkan Singgasana-Nya pada Hari Kiamat.”
Jadi mereka akan diberkahi dengan keberkahan yang turun pada makam-makam Muslim dan mukmin yang dikuburkan di Syām. Beliau berkata, “Setiap Muslim atau mukmin dengan iman yang baik yang memasuki Syām, ketika ia keluar, dosa-dosanya akan dihapuskan.” Jasad Mawlana tidak berada di sini. Sebagaimana yang dikatakan oleh Grandsyekh (q), dan saya kutip, “Seluruh 124.000 awliyā’ bertemu pada setiap hari Senin, Kamis, dan Jumat dalam sebuah asosiasi bersama Nabi (ﷺ) di Jabal al-Qaṣyūn dalam kehidupan rohaniah mereka, (di alam) Barzakh.” Itulah sebabnya seluruh awliyā’ dipindahkan ke sana.
Menjelang akhir hayatnya, sebelum Mawlana meninggalkan dunia ini, beliau sering mengatakan bahwa Syām adalah Siprus sekarang. Apa yang beliau maksudkan dengan hal itu, tidak ada yang mengerti. Itu artinya ketika beliau berada di sini, tajallī Syām turun ke Siprus dan kini karena keberadaan beliau di sini, itu akan menjadi seperti tajallī yang turun di Syām. Jadi Awliyā’ullāh memindahkan Mawlana ke Syām asy-Syarīf. Grandsyekh (q) menambahkan, “Seluruh Nabi selain Sayyidinā Muḥammad (ﷺ) pindah dari tempat asalnya,” hal ini tidak diketahui orang karena ada banyak sekali makam dan ada banyak sekali nabi, “dan ketika Sayyidinā al-Mahdī (ع) muncul, tajallī mereka juga akan muncul dan kekuatan mereka akan muncul.”
Semoga Allah (ﷻ) riḍa dengan kita! Kalian beruntung karena kalian dapat melakukan ziarah setiap hari. Kami melakukan ziarah dan mengingat Mawlana Syekh dari jarak jauh, tetapi kami percaya bahwa jarak bukanlah masalah karena mereka dapat menjumpai kita dalam sekejap. Di mana pun murid berada di seluruh dunia ini, ketika ia memanggil Syekhnya, beliau hadir, bahkan jika ia tidak melihatnya secara bertatap muka, syekhnya hadir ketika ia memanggilnya! Sekarang kita memanggil Syekh kita dan membaca ayat:
وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا
Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (Surat an-Nisā’, 4:64)
Kami membaca ayat ini, yā Sayyidī, dan kami datang padamu! Kami memohon syafaatmu di hadirat Nabi (ﷺ), untuk menghiasi kami dengan rahasia dari ayat tersebut! Semoga Allah memberkahimu dan semoga Allah riḍa dengan kami semua.
Kita menghadapi masalah besar, jika orang tidak mengetahui, biarkan mereka tahu. Kita perlu bersatu, karena sebatang lidi mudah dipatahkan, tetapi seratus lidi tidak dapat dipatahkan. Saya berada di Inggris, memberikan ceramah dan ada seorang ulama terkenal dari Pakistan di sana. Beliau senang dengan ceramah saya dan mengundang saya untuk datang ke Pakistan bulan Juni, tetapi saya pikir saya tidak dapat pergi ke sana. Pada akhir acara, beliau mendatangi saya dan berkata, “Saya seorang Naqsybandī. Saya mempunyai lima juta murid dan saya ingin semua orang mendengar apa yang engkau katakan. Ini adalah berkah dari syekh Anda, Mawlana Syekh Nāẓim (ق).” Jadi ini adalah sebuah kabar gembira, tetapi ada serangan besar pada Ṭarīqat Naqsybandī dari sebuah negeri di Timur Jauh, dari menteri agamanya. Kami berusaha untuk tenang. Kami telah mencoba segala cara yang mungkin, tetapi mereka telah ditekan untuk melakukannya. Mereka mulai mengambil beberapa daerah dan mengatakan bahwa kami adalah kelompok yang sesat. Kita harus menunjukkan yang sebaliknya pada mereka, dengan mengikuti Syarī‘ah dalam setiap perbuatan sebagaimana seharusnya. Ada kesalahpahaman dan saya harus menjaga pada level itu, yang artinya mereka harus menghentikan apa yang mereka tuduhkan pada kita. Jika kita bersatu seperti keluarga di sini, tidak akan ada kesalahpahaman dalam segala hal karena insya-Allah seluruh murid akan bersatu dan menunjukkan cinta kepada Mawlana Syekh, dan Mawlana Syekh akan menunjukkan cintanya kepada kita.
Wa min Allāhi ’t-tawfīq, bi ḥurmati ’l-Ḥabīb, bi ḥurmati ’l-Fātiḥah.
http://sufilive.com/Why-We-Celebrate-the-Urs-of-the-Wali-5839.html
© Hak Cipta 2015 Sufilive. Seluruh hak dilindungi. Transkrip ini dilindungi oleh undang-undang hak cipta internasional. Mohon cantumkan atribusi kepada Sufilive saat membagikannya. JazakAllāhu khayr.