Mawlānā Syekh Nour Kabbani
Permata Hijau, 20 September 2025
Shuhbah setelah Qiyamul Lail
Apa kabarmu Muhammad Arif? Bagaimana kabar kru Anda? Apakah orang Inggris baik-baik saja? Saya tidak melihat mereka, di mana mereka? Baiklah, mereka masih tidur. Di mana mereka? Mereka di sana? Tarik juga ada di sini, māsyāʾ Allāh, assalāmu ‘alaikum Bangladesh. Apakah Tasmia di sini? Atau dia masih tidur. Orang-orang Washington, orang-orang DC di sini. Māsyāʾ Allāh, Mawlana selalu mempunyai pengikut internasional, karena beliau menarik hati melintasi batas negara. Bengali, Kanada, Prancis, Afrika, Arab, Persia — tidak masalah. Mawlana telah menangkap hati manusia, tidak peduli apa kebangsaan kalian. Di mana Berny, siapa penerjemah hari ini? Oh, Nashran. Abu Luf (tersenyum). Shany, kau bisa duduk di sebelah saya.
Saya tidak tahu apakah engkau mengingat apa yang tadi saya katakan (berbicara kepada penerjemah). Tidak? InsyāʾAllāh pertama kita mulai dengan,
A‘ūżū billāhi mina as-syaiṭāni ar-rajīm.
Bismillāh ar-Raḥmān ar-Raḥīm.
Alḥamdulillāhi Rabb al-‘Ālamīn,
Waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Sayyidinā Muḥammadin, wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi ajma‘īn.
Wa man tabi‘ahum bi iḥsānin ilā yaumid-dīn,
Destūr yā Sayyidī Quṭb al-Mutaṣarrif.
Madad yā Sulṭān al-Awliyā,
Naẓarakum, himatukum, yā sādatanā al-kirām,
Destūr yā Sayyidī wa Mawlāyā.
Bismillāh ar-Raḥmān ar-Raḥīm.
Mawlana menangkap hati melintasi negara. Hal itu tidak ada hubungannya dengan ras, warna kulit, atau kebangsaan, karena hati manusia adalah sama. Hati mencari alam malakut, dan para Awliyā’ullāh adalah yang membawa hati menuju alam malakut. Jadi, jika hati itu berada dalam tubuh yang hitam, putih, kuning, hijau, atau merah — itu tidak masalah. Hati ingin pergi ke alam malakut, ke alam rohani. Dan para Awliyā’ullāh adalah orang yang menangkap hati. Apa istilahnya Sidi Abdullah? Pengumpul hati.
Jadi, ketika kalian melihat seorang Waliyyullāh, kalian berkata, “Oh, ada orang Jerman bersamanya.” “Oh, ada orang Inggris bersamanya.” “Oh, ada orang Argentina bersamanya.” “Oh, ada orang Jepang bersamanya.” Itu tidak masalah. Bukan itu yang seharusnya kalian lihat. Kalian harus melihatnya sebagai hati manusia. Jadi Waliyyullāh sejati mengumpulkan hati terlepas dari kebangsaan mereka. Jadi bersama seorang Waliyyullāh kalian akan melihat orang Jerman, Kanada, Inggris, Rusia, Asia, Jepang — itu tidak masalah. Waliyyullāh sejati adalah orang yang mampu mengumpulkan semua hati dari timur ke barat.
Orang-orang yang berusaha menjadi besar, agar terlihat besar — apakah dia mampu mengumpulkan hati orang-orang barat? Siapakah di antara mereka yang mampu masuk ke dalam keramaian non-Muslim, lalu hati non-Muslim itu akan beralih kepada mereka dan berlari ke arah mereka? Siapa di antara kita yang melakukan hal itu sekarang ini? Siapa yang melakukannya? Siapa yang pertama melakukannya?
MāsyāʾAllāh, mereka semua bagus di lingkungan Muslim — saluran YouTube Muslim, halaman Facebook Muslim, konferensi Muslim, dan acara-acara Muslim. MāsyāʾAllāh, mereka sangat bagus, semua orang akan mendatanginya. Tetapi apakah kalian pernah mencoba untuk mendatangi non-Muslim dan melihat tanpa berbicara apakah kalian bisa mengalihkan hati mereka?
Setelah Rasulullah (ﷺ) pergi ke ar-Rafīq al-A‘lā, para Sahabat al-kirām menyebar. Mereka tidak tahu bahasa negara-negara yang mereka kunjungi, tetapi bagaimana mereka bisa mengubah orang menjadi Islam? Mereka tidak tahu bahasanya. Apa rahasianya? Apa yang ada di hati mereka? Bagaimana mereka bisa mengumpulkan hati orang-orang non-Arab — di Afghanistan, di Khurasan, di Syam, di Afrika, di Timur Jauh, atau katakanlah Afganistan, Pakistan — ketika mereka menyebar? Bagaimana mereka mampu mengumpulkan hati orang-orang untuk mengubah mereka dari non-Islam menjadi Islam?
Sebagian besar mereka mengubah dari non-Muslim, dari kepercayaan lain kepada Islam dengan cara damai. Mereka memasuki kota-kota, mereka memasuki desa-desa; orang-orang mencintai mereka, orang-orang tertarik pada mereka, padahal mereka tidak tahu bahasanya, karena mereka adalah pewaris sejati Rasulullah (ﷺ). Rasulullah (ﷺ) telah memberi mereka cahaya di dalam hatinya; beliau telah mengizinkan mereka memiliki nūr ma‘rifatullāh.
Ketika nūr ma‘rifatullāh — cahaya, bimbingan, pengetahuan dari makrifat Allah subḥānahu wa ta‘ālā — masuk ke dalam hati, apa yang muncul dari hati? Dikatakan bahwa ada seorang Waliyyullah, Abu Sa’id al-Kharrazi di dalam mimpinya melihat Syaitan. Ia mengambil tongkat dalam mimpinya itu dan berlari mengejar Syaitan untuk memukulnya. Syaitan berkata, “Wahai Abu Sa’id, aku tidak takut pada tongkatmu. Aku takut ketika syamsu nūri al-ma‘rifah — matahari dari cahaya makrifat — muncul dalam hati seorang ‘ārif. Itulah yang membuatku takut, bukannya tongkat, tetapi nūr ma‘rifah.”
Ketika nūr dari syamsu al-ma‘rifah muncul dalam hati manusia, sekarang kita akan memiliki matahari, apa yang akan hilang? Kegelapan akan sirna. Ketika nūr menetap dalam hati seorang Mukmin atau seorang Muslim yang menerima ajaran Rasulullah (ﷺ); ketika nūr itu masuk ke dalam hati, kegelapan dalam hati mulai keluar. Apakah kegelapan itu? Itu adalah Syaithan. Ketika nūr masuk, Syaithan akan meninggalkan hati kalian.
Lihatlah ulama di zaman sekarang, atau ustadz atau profesor atau anggota parlemen atau politisi atau apa pun. Lihatlah pada manusia, ada apa di dalam hati mereka? Apakah mereka mempunyai nūr ma‘rifatullāh di dalam hati mereka? Atau apakah mereka masih mempunyai Syaithan di dalam hati mereka? Ketika nūr masuk, Syaithan keluar dan ketika ia keluar, bersamanya keluar juga ḥasad, ḥirṣ, syahwah, ghaḍab, ḥiqd, bukhl, semua karakteristik buruk Syaithan ini, karena Syaithan adalah yang pertama yang mempunyai kibr. Semua karakteristik buruk ini pergi bersamanya ketika nūr ma‘rifah menetap di dalam hati, dan tidak ada lagi kegelapan di langit hati; semua akhlāq al-ẓamīmah pergi bersama Syaithan.
Jadi, ketika kalian masih memiliki hasad di dalam hati kalian terhadap orang lain, ketika kalian masih hasud terhadap orang lain; ketika kalian masih ḥarīṣ (tamak) kepada orang lain, ‘alā ṭalabi ad-dunyā wa as-sa‘yi warā’a man żātihā, bertujuan untuk mencari dunia dan berusaha mengejar (sesuatu) karena dirinya sendiri, kalian masih bakhil–menahan apa yang kalian miliki; jika kalian masih cemburu kepada orang lain, ketika kalian masih menyimpan kebencian dalam hati kalian kepada orang lain, ketika kalian masih merencanakan bagaimana menjatuhkan orang lain, ketika kalian merasa pelit di dalam hati untuk memberi di jalan Allah, jika kalian masih memiliki semua karakteristik buruk ini, kalian bisa saja Qutub tertinggi di zaman ini, namun kalian masih memiliki Syaithan di dalam hati kalian.
Kalian harus memberi tahu mereka bahwa jika mereka cemburu pada orang lain, penting bagi mereka untuk menyadarinya. Semua orang tahu apa itu kecemburuan, tetapi ketika kalian berkata, “Aku cemburu padanya,” “Mengapa aku cemburu kepadanya?” “Karena dia menyaingi ketenaranku di hadapan orang-orang, ia mencuri panggung, ia menjadi terkenal.”
Jika kalian melihat seorang alim yang memiliki ilmu dan pengetahuan, serta żū waqār wa adab, yang memiliki kewibawaan dan adab, orang-orang tertarik kepadanya dan mereka mencintainya, lalu kalian berkata, “Aku tidak suka orang ini.” “Mengapa orang-orang mengejarnya? Mereka seharusnya mengejarku.” “Hmm, coba aku pikirkan, apa yang bisa aku lakukan padanya. Aku bisa menggali kesalahan yang ia lakukan, atau mungkin ia tidak melakukannya, tetapi aku bisa memutarbalikkannya, aku bisa melakukan sesuatu agar orang-orang meninggalkannya dan datang kepadaku.” Jadi, jika kalian melihat orang seperti itu, orang itu memiliki Syaithan di dalam hatinya, ia tidak memiliki nūr di dalam hatinya.
Ketika para Sahabat al-kirām, mereka menyebar dari tanah Arab ke negeri-negeri lainnya, mereka tidak memiliki ḥirṣ, bukhl, ḥasad di dalam hatinya. Tidak ada sedikit pun di dalam hatinya, “Aku akan pergi ke sana dan aku akan mengumpulkan dunia.” Orang-orang melihat hal itu pada diri Sahabat. Tidak ada Syaithan di dalam hatinya, mereka tertarik dengan nūr tersebut. Para Sahabat menangis ketika dunia mulai datang kepada mereka, setelah penaklukan Persia dan penaklukan Syam. Segala sesuatu datang, dunia datang pada Sayyidina Umar (ر) pada dasarnya yang paling banyak. Sayyidina Umar (ر) dan Sahabat lainnya menangis, apa yang harus dilakukan dengan semua gangguan itu. Apa yang harus dilakukan dengan semua gangguan dari Allah kepada dunia. Dunia telah datang ke kaki mereka. Meski demikian, mereka adalah para Wali, sehingga dunia itu tidak mempengaruhi hati mereka. Mereka tidak berubah. Sayyidina Umar (ر) menunggangi keledai ketika pergi ke Yerusalem, sementara yang lain datang dengan kuda dan unta dalam iring-iringan besar. Ketika mereka melihat Sayyidina Umar (ر) datang dengan tawaduk dan sangat sederhana, mereka bertanya-tanya, “Inikah khalifah?” Mereka terheran-heran melihat pemimpin besar Islam tampil begitu sederhana. Dunia tidak mengubah hatinya.
Dikisahkan bahwa seorang utusan dari Romawi datang ke Madinah al-Munawwarah dan bertanya, “Di mana khalifah?”, “Di mana Dārul Khalifah?”, “Di mana istana gubernur?”, “Di mana istana raja?”, “Di mana istananya?” Ia mencari khalifah umat Muslim. Mereka menjawab, “Rumah Hazrat Umar (ر) ada di sana.” Mereka menunjuk ke arah rumahnya. Ia lalu pergi ke rumah itu; itu adalah sebuah rumah tua, semuanya di bawah rata-rata, bahkan catnya pun tidak seperti rata-rata cat. Tidak ada yang mewah, semuanya di bawah rata-rata, tetapi tetap berfungsi. Ia menanyakan di mana Hazrat Umar (ر), dan seseorang mengatakan bahwa beliau berada di pasar.
Dunia datang kepadanya, namun rumahnya masih tetap rumah yang sederhana. Māsyāʾ Allāh, kaum saya, orang-orang Arab, mereka mempunyai uang, lalu mereka membangun istana, lalu istana lainnya, dan istana lainnya. Di setiap kota mereka mempunyai istana, bagitu pula di kota lain. Itulah sifat manusia. Itu berarti ada Syaithan dalam hati. Jadi utusan itu pergi ke pasar untuk mencari Sayyidina Umar (ر). Orang-orang membawanya pada Sayyidina Umar (ر), mereka menunjukkan di mana beliau berada. Beliau sedang istirahat, berbaring di bawah pohon. Tidak ada penjaga yang menjaganya, tidak ada barang-barang mewah di sekelilingnya, dan beliau tidur di bawah pohon.
Melihat hal itu, utusan itu berkata, “ʿadilta fa aminta”, “Engkau telah berlaku adil, sehigga engkau menjadi aman, wahai Umar, sehingga engkau bisa tidur dan beristirahat.” Ketika kalian memerintah dengan adil, kalian tidak akan ketakutan dengan hidup kalian, karena kalian adil dan semua orang mencintai keadilan. ʿAdilta fa aminta, engkau aman, karena engkau adil. Utusan itu melanjutkan, “Raja kami selalu dikelilingi oleh tentara, tetapi engkau, engkau aman, engkau bisa beristirahat di bawah pohon dengan penuh kesederhanaan.” Karena di dalam hatinya telah masuk nūr ma‘rifah di mana Rasulullah (ﷺ) telah memberikannya kepada mereka sehingga Syaithan meninggalkan hati mereka dan mereka tidak mempunyai keinginan untuk mengikuti Syaithan dan tidak tergoda oleh apa yang dibisikkan Syaitan kepada mereka.
Jadi, nūr ma‘rifah, baiklah saya akan memberikan sebuah contoh, sebuah contoh sederhana tentang apa itu nūr ma‘rifah. Apakah yang dimaksud ketika kalian mengatakan, “Aku mengenal Allah?” Apa yang kalian ketahui mengenai Allah? Para Awliyaullah berkata,
مَعْرِفَةُ اللهِ بِأَنْ تَعْرِفَ اللهَ فِي السِّرِّ وَالْعَالَمِيَّةِ وَأَنَّهُ لَا مُعْطِيَ وَلَا مَانِعَ إِلَّا هُوَ
Ma‘rifatullāh bi’an ta‘rifa Allāha fī as-sirri wa al-‘ālamiyyah wa annahu lā mu‘ṭiya wa lā māni‘a illā Huwa.
Ma‘rifat (pengenalan) kepada Allah ialah bahwa engkau mengenal Allah dalam keadaan tersembunyi maupun dalam keadaan nyata (lahiriah), dan bahwa tidak ada pemberi dan tidak ada penahan kecuali Dia (Allah).
Untuk mengenal Allah subḥānahu wa ta‘ālā, kalian harus memahami bahwa tidak seorang pun dapat memberi dan tidak seorang pun dapat mencegah kecuali Allah. Jadi segala sesuatu terjadi pada Muslimin, dari apa yang mereka dapatkan, Allah yang memberi dan tidak ada yang lain yang dapat memberinya, dan apa pun bahaya yang bisa menimpa kalian, hanya Allah yang dapat mencegahnya. Sayyidina Umar (ر) menerima apa yang Allah berikan dan menggunakannya di Jalan-Nya, dan Sayyidina Umar (ر) tahu bahwa Allah (ﷻ) akan mencegah bahaya apa pun yang akan terjadi padanya. Mu‘ṭiy, Māni‘.
Beliau mempunyai Nūr mengenal Nama-Nama Suci Allah (ﷻ). Kalian harus mempunyai cahaya itu di dalam hati kalian untuk mulai mengenal Nama-Nama Suci Allah (ﷻ) dan memahami apa maksudnya. Apa itu Māni‘? al-Māni‘ artinya “Yang mencegah, yang menghalangi, yang menghentikan.” Kalian berkata, “Oh, mengapa hal ini terjadi padaku?” Jadi, kalian harus tahu bahwa hal ini terjadi pada diri kalian karena Allah (ﷻ) tidak mencegahnya untuk terjadi pada diri kalian. Jika kalian mau, al-Māni‘ tersebut, Nama Suci tersebut dapat menghalangi semua yang datang pada kalian, tetapi Allah (ﷻ) tidak menggunakannya. Jadi, lā māni‘a illā Huwa. Yang dapat mencegah semua hal ini terjadi hanyalah Allah (ﷻ).
Mengapa orang-orang ini mendapatkan semua uang mereka? Allah bisa mencegahnya untuk terjadi. Kalian harus melihat hal itu wahai Muslim, mengapa kekacauan itu terjadi? Allah (ﷻ) dapat mencegahnya terjadi, tetapi Dia tidak melakukannya. Kalian harus melihat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Jadi kalian harus tahu, paling tidak mengetahui hal tersebut dari Allah (ﷻ). “Mengapa orang itu datang ke kotaku dan bersaing denganku?” Karena Allah tidak mencegah orang itu untuk datang ke kotamu dan bersaing denganmu.
Jadi ketika tajjali Asmā’ Allāh al-Ḥusnā datang, kalian akan menjadi Musa yang tersungkur jatuh ke tanah dalam ketundukan kepada Allah. Ketika tajjali Asmā’ Allāh al-Ḥusnā muncul dan kalian menyaksikannya, nafs kalian akan menjadi Musa. Nafs kalian yang tadinya tidak beriman atau meragukan apa yang kalian yakini karena nafs selalu menentang kalian–dari tidak beriman ketika Asmā’ Suci Allah terwujud dan kalian dapat melihat dengan nūr ma‘rifah bagaimana ia terwujud, nafs kalian menjadi tunduk dan akan tersungkur ke tanah dalam posisi sujud. Maka kalian ucapkan, “Yā Rabbī, terserah kepada-Mu.”
Jika tajalli itu datang kepada Nabi Musa (ع), maka gunung pun hancur karena tajalli Allah (ﷻ). Nafs kalian membuat kalian ragu dengan apa yang kalian yakini, karena nafs selalu melawan kalian. Ketika Nama Suci Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā termanifestasi dan kalian dapat melihat dengan nūr yang bercahaya, ego akan tunduk dan jatuh ke tanah. Maka ucapkan, “Yā Rabbī, terserah pada kehendak-Mu.” “Apa pun yang terjadi — padaku, padanya, atau pada orang lain — semuanya sesuai kehendak-Mu. Engkau tidak mencegahnya terjadi, karena Engkau adalah Rabb al-Syay’, aku tunduk kepada-Mu. Mereka mengambil semua uang, mereka memiliki semua kekayaan, yā Rabbī, Engkau tidak mencegah hal itu terjadi, Engkau memperkenankan hal itu terjadi, aku tunduk.” “Yā Rabbī, orang itu masih bersaing denganku, tetapi Engkau tidak mencegahnya untuk datang, Engkau mengizinkannya datang. Maka aku berkata, ‘Yā Rabbī, aku tunduk.’” Dia adalah al-Māni‘. Ini adalah nūr ma‘rifah. Tajjali ini,
فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ
Falammā tajallā rabbuhū lil-jabali ja‘alahū dakkan wa kharra Mūsā ṣa‘iqā.
Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, Dia menjadikannya hancur luluh, dan Musa pun jatuh pingsan. (QS. Al-A‘rāf, 7: 143)
Ketika Allah membukakan tajalli ini kepada nafs kalian–nafs kalian adalah gunung tersebut. Ketika Dia membukakan tajjali tersebut, gunung itu hancur luluh dan menjadi bukan apa-apa. Itu artinya penyerahan total terhadap apa yang terjadi, penyerahan penuh kepada Nūr Allah (ﷻ) dari Asmā’ Allāh al-Ḥusnā, yang terwujud pada diri kalian atau pada diri saya.
Itulah sebabnya Syaitan takut ketika nūr itu muncul di dalam hati kalian, karena kalian akan tunduk, “Kamā tuḥibbu rabbī wa tarḍā,” “Sesuai kehendak-Mu, wahai Tuhanku; sebagaimana Engkau ridha; sebagaimana yang Engkau kehendaki.” Bagaimana dia akan menipu kalian lagi bila makrifat hadir dalam hati kalian. Bagaimana mungkin Syaithan bisa menipu kalian lagi?
Bila kalian mengetahui bahwa Allah (ﷻ) adalah pencegah segala sesuatu–ada orang yang ingin bepergian tetapi terserang flu — siapa yang mengirim virus itu? Allah. Maka mereka tidak bisa berangkat. Ada pula yang ingin datang, tetapi mobilnya mogok, atau mereka dihentikan di perbatasan, atau terjadi sesuatu hingga tak bisa melanjutkan perjalanan. Maka siapakah yang mencegah mereka datang? Mereka harus melihat hal itu. Jika Allah (ﷻ) menghendaki, Dia bisa mengizinkannya dan jika Dia menghendaki, Dia bisa mencegahnya; jadi apa yang saya lakukan? Saya berkata, “Yā Rabbī, aku tunduk, sebagaimana yang Engkau kehendaki.”
Ada satu negara yang mengundang saya lima tahun yang lalu. Saya berencana untuk pergi, tetapi saya jatuh sakit. Jadi saya katakan, “Undanglah saudaraku tercinta.” Mereka pun mengundangnya, tetapi dia juga jatuh sakit. Allah (ﷻ) mencegah saya pergi dan juga mencegah saudara saya pergi. Itu berarti Dialah yang bertindak, bukan kita. Kalian harus melihat hal itu. Orang-orang di negara itu menjadi kecewa; karena mereka belum mencapai tingkat pemahaman (ma‘rifah) yang cukup. InsyāʾAllāh kalian bisa meningkatkan tingkat ma‘rifah itu. Kalian harus melihat Asmā’ Allāh al-Ḥusnā dalam tindakan. Al-Karim, Ar-Razzaq, Ar-Rahim, Al-Muntaqim, Al-Mu‘izz, Al-Mudzill, As-Sami‘, Al-Basir — Dialah yang meninggikan dan merendahkan siapa pun yang Dia kehendaki. Mawlana Syekh Nazim (ق) berkata, “Jangan menentang orang-orang yang diangkat derajatnya, karena siapa pun mengangkat mereka, Dia juga dapat menurunkannya.” Itu adalah Al-Mu‘izz dan Al-Mudzill — Yang memberi izzat dan Yang memberi dzillat. Yang mengangkat mereka dan membuatnya berkuasa; begitu pula dengan al-Mudzill, Yang membuat mereka hina dan lemah.
Itu adalah ajaran Mawlana Syekh Nazim (ق) bertahun-tahun yang lalu dalam bahasa Turkiye, ketika saya masih muda. Saya biasa mendengarkannya dan saya memahami mengapa kita melihat seseorang mempunyai kedudukan atau kekuasaan, karena yang telah mengangkat mereka adalah Allah. Nama Suci Allah adalah Ar-Rāfi‘, berarti “Yang Meninggikan”. Dan pasangannya adalah Al-Khāfiḍ, “Yang Merendahkan”. Jadi Dialah yang meninggikan siapa yang Dia kehendaki dan merendahkan siapa yang Dia kehendaki. Mengapa kalian ikut campur? Karena ego kalian mempunyai Syaithan di dalam hati kalian.
Jadi para Sahabat al-kirām mempunyai nūrul ma‘rifah. Rasulullah (ﷺ) mengajari mereka yang terbaik. Mereka menjadi yang terbaik, sayyidul qalbi, khayrul ulūmil qalbi, yang terbaik pada masa itu. “Manusia terbaik adalah orang-orang yang bersamaku.” Jadi, Sahabat al-kirām, mereka semua mencapai level tertinggi, di mana Syaithan tidak lagi ada di hati mereka. Ia tidak bisa menipu mereka lagi. Dunia tidak bisa menipu mereka, wanita tidak bisa menipu mereka, uang tidak bisa menipu mereka. Tidak ada lagi yang bisa menipu mereka.
Karena itu, kita harus mengikuti seperti mereka. Kita seharusnya mengikuti para Sahabat, walladzīna taba‘ūhum bil-iḥsān, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan.
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ
Wa as-sābiqūnal-awwalūna minal-muhājirīna wal-anṣāri walladzīna ittaba‘ūhum bi-iḥsānin
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan (QS. At-Taubah, 9: 100)
Para Sahabat ini, yakni kaum Muhajirin dan Anshar, raḍiya Allāhu ‘anhum wa raḍū ‘anhu, kita diperintahkan untuk mengikuti mereka dalam kebaikan, dan melihat apa yang telah mereka lakukan dan mengikuti jalan yang sama.
Jadi, kita mengikuti apa yang telah mereka pelajari. Mulailah dari Asmā’ullāh al-Ḥusnā. Jika kalian ingin memiliki kemudahan dalam hati kalian dan iman menjadi lebih kuat di dalamnya, mulailah pelajari Asma’ullah al-Ḥusnā agar kita bisa memahami Af‘ālullāh, yakni segala tindakan Allah, jika kita bisa, astaghfirullāh al-‘Aẓīm.
Saya mendengar dari Mawlana, bahwa af‘āl menunjuk kepada Asmā’— tindakan-tindakan Allah (ﷻ) menunjukkan kalian kepada Nama-Nama Allah (ﷻ); dan Asmā’menunjuk kepada Shifat. Nama-Nama Allah (ﷻ) akan menunjukkan kalian kepada Sifat-Sifat Allah (ﷻ). Kita harus mengetahui bahwa segala sesuatu yang terjadi di langit dan bumi—tetapi tinggalkan dulu yang di langit, karena kita tidak tinggal di sana. Segala sesuatu yang terjadi di bumi adalah atas izin Allah (ﷻ). Semua terjadi dengan kehendak-Nya.
Sayyidina Ibn ‘Arabī (ق), suatu kali, mereka menempatkannya di atas seekor keledai — sebenarnya itu adalah keledai yang bagus, ia sudah disiapkan dan dihias dengan indah. Tiba-tiba keledai itu menjadi gila dan mulai berlari. Dalam kisah itu, Sayyidina Muḥyiddīn Ibn ‘Arabī (ق) berada di sisi keledai itu dan beliau hampir terjatuh. Beliau terluka karena terkena bebatuan di sepanjang jalan. Murid-muridnya berlari untuk menangkap keledai itu. Sayyidina Muḥyiddīn Ibn ‘Arabī (ق) berkata, “Tunggu sampai aku tahu di mana dalam Al-Qur’an, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā membiarkan hal ini terjadi.” Sayyidina Muḥyiddīn Ibn ‘Arabī (ق) melihat bahwa apa pun yang terjadi adalah dari Allah dan beliau ingin tahu, di mana dalam al-Qur’an disebutkan apa yang terjadi padanya.
Sebagaimana yang saya dengar dari Mawlana, beliau sampai pada ayat,
أَسْتَعِيذُ بِاللّٰهِ
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا ۚ
asta‘īdzubillāh
Qul lan yuṣībanā illā mā kataba Allāhu lanā (QS. At-Taubah, 9: 51)
“Allah (ﷻ) telah menuliskan untukku, maka itu yang terjadi. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menyentuh kita, tidak ada sesuatu yang datang pada kita atau mempengaruhi kita, kecuali telah dituliskan oleh Allah. Huwa mawlānā, Dialah Mawlānā, pelindung dan penolong kita.”
Jadi beliau memiliki iman dan yaqīn. Iman adalah kepercayaan, sedangkan yaqīn adalah keyakinan tanpa keraguan sedikit pun bahwa apa yang terjadi padanya telah ditulis oleh Allah (ﷻ), dan bahwa Allah adalah Mawlā-nya. Beliau lalu berdoa, dan keledai itu pun berhenti.
Seandainya itu adalah saya, dan kalian menempatkan saya pada keledai itu, mungkin saya akan marah dan berkata, “Siapa yang menempatkan saya pada keledai ini? Panggil dia ke sini!” Sayyidina Muḥyiddīn Ibn ‘Arabī (ق) tidak melihat pada muridnya, tetapi beliau melihat pada Allah. Beliau tidak melihat fanī, tetapi beliau melihat bāqī. Beliau tidak melihat pada sesuatu yang akan binasa, kita semua adalah fanī, kita akan binasa setelah beberapa waktu. Beliau hanya melihat pada bāqī, yang kekal. Jadi beliau tidak marah kepada siapa pun. Beliau tidak menghina siapa pun, dan tidak menghukum siapa pun. Beliau memaafkan semuanya. “Idzhabū antum ṭulaqā’,” “Pergilah kalian, kalian semua adalah orang-orang yang dibebaskan.”
Rasulullah (ﷺ) melihat semuanya. Allah (ﷻ) berkehendak melakukan apa yang Dia kehendaki. Beliau berkata, “Aku tidak akan–kecuali kepada beberapa orang yang Allah izinkan, tetapi secara umum beliau mengatakan kepada mereka, “Kalian semua bebas. Aku memafkan.” Mengapa? Karena Syaithan tidak ada di dalam hatinya.
Hal yang sama terjadi pada Sayyidina ‘Abd al-Khalīq al-Ghujduwanī (ق). Seorang wanita melemparkan air kotor kepadanya dari balkon. Murid-muridnya marah, mereka mendobrak pintu, masuk ke dalam, dan memanggilnya, “Ke sini kau!”
Sayyidina ‘Abd al-Khalīq al-Ghujduwanī (ق) berkata, “Adab! Siapa yang mengizinkan kalian untuk mendobrak pintu dan mengejar wanita itu?” Ketika air itu membasahinya, beliau berkata, “Yā Rabbī, Engkau bisa saja menurunkan api kepadaku, tetapi Engkau membiarkan air yang turun kepadaku.” Beliau tidak memandang si wanita, beliau tidak memandang rumah, tidak memandang apa pun. Beliau tidak melihat pada yang fanī, beliau tidak memandang pada yang fana, tetapi beliau hanya memandang pada yang bāqī, yang mengujinya. Beliau melihat Asmā’Allah (ﷻ) terwujud, maka beliau berkata, “Alhamdulillāh, itu bukan api, tetapi air. Yā Rabbī, terima kasih. Aku pantas mendapatkan api, tetapi Engkau menurunkan air kepadaku.”
Saya mendengar kisah ini dari Mawlana Syekh Hisham (ق). Cerita-cerita seperti ini harus kita ambil ke dalam hati. Ini adalah makrifat. Jadi ketika Syekh menceritakan kisah-kisah kepada kita, itu bukannya untuk membuat kita tertawa atau bersenang-senang, melainkan agar kita paham: jika hal seperti itu terjadi pada kalian, maka ikutilah apa yang telah dilakukan oleh para Awliyā’.
Para Sahabat, Awliya, mereka semua telah menunjukkan teladan mereka. Kita sering mendengar teladan mereka, namun kita cepat melupakannya. Allah (ﷻ) sekali lagi, kita mengulangi ayat yang sama, tetapi ini adalah jāmi‘atu makārimal akhlāq, kumpulan dari akhlak mulia. Ada sebuat ayat, di mana Allah (ﷻ) berfirman, “Khudz al-‘afw” (QS. Al-A‘rāf, 7: 199) — berpeganglah pada pemaafan, jagalah diri kalian dalam pemaafan, tunjukkan pemaafan; bawalah ‘afuww ke mana pun kalian pergi, dan jadikan ‘afuww sebagai sikap yang selalu menyertai kalian. Jadi ke mana pun kalian pergi, jadilah seseorang yang mempunyai ‘afuww. Alih-alih memasukkan iPhone, masukkanlah ‘afuww ke dalam saku. Tulislah sticker sebagai pengingat. Kadang-kadang saya menulis sticker di iPhone saya agar setiap saya buka, saya akan melihat, “Khudz al-‘afw,” baiklah saya akan melakukannya. Saya akan memberi maaf kepada orang-orang. Kalian meletakkan foto kalian, istri kalian, kalian letakkan foto gunung, pasir, pantai, matahari—letakkanlah al-‘afuww.
Setiap kali mereka membuka iPhone-nya, mereka melihat, “Oh ada foto selfie.” “Oh, aku di gunung,” “Oh, aku di Ka’bah,” “Oh, aku di mana-mana.” Apa pun yang mereka letakkan, letakkanlah al-‘afuww di sana, letakkanlah Hadits Rasulullah (ﷺ), “I‘fu ‘amman ẓalamak, Maafkanlah orang yang menzalimimu atau berbuat tidak adil kepadamu.” Bawalah ‘afuww atau pemaafan tersebut bersama kalian ke mana pun kalian pergi.
Rasulullah (ﷺ) adalah sosok yang pemaaf. Para Sahabat al-kirām juga pemaaf, Awliyaullah juga memaafkan, maka kalian juga harus mulai belajar memaafkan. Āmīn, insyāʾAllāh.
Jadi iPhone saya berwarna hitam. Ketika saya membukanya, itu hanya layar hitam tanpa gambar, tidak ada gangguan, tetapi putri saya terus mengganti gambar latarnya dengan berbagai gambar. Alhamdulillāh, semoga Allah (ﷻ) senantiasa membuat kita berada di jalan yang benar. Apa pun yang terjadi, Mawlana telah menasihati kita: ambillah ke dalam hati. Apa pun yang telah diajarkan oleh Mawlana Syekh Nazim (ق) kepada kita, bawalah ke dalam hati. Semua ‘ulamā’ yang baik dan terhormat, yang tidak mengejar dunia dan ketenaran, ambillah perkataan mereka yang bermanfaat dan simpanlah dalam hati kalian, dan gunakanlah itu. Itulah sebabnya kita berdoa, “Allāhumma anfa‘nā bimā ‘allamtanā, wa ‘allimnā mā yanfa‘unā — “Ya Allah, jadikanlah kami mendapat manfaat dari ilmu yang telah mereka pelajari, dan izinkanlah kami untuk mempelajari apa yang bermanfaat bagi kami. Rabbi zidnī ‘ilmā, wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu. Itu adalah doa dari Rasulullah (ﷺ). Jadi, itulah yang harus kita lakukan: selalu mengambil pelajaran dengan hati.
Jika kalian tidak ingat apa pun dari semua yang saya katakan, setidaknya ingatlah, māni‘ al-Māni‘, bahwa Dia Mahakuasa untuk mencegah sesuatu terjadi. Jika Dia membiarkan sesuatu terjadi, itu akan terjadi. Dia selalu mampu: dahulu, sekarang, dan selamanya. Tidak ada waktu di mana Dia tidak berkuasa untuk menahan sesuatu. Maka, jika kita memiliki keyakinan itu, Syaithan tidak akan lagi mampu bermain-main dengan kalian.
Al-ḥamdu lillāh, al-ḥamdu lillāh, wa asy-syukru lillāh.
Al-ḥamdu lillāh, al-ḥamdu lillāh, wa asy-syukru lillāh.
Astaghfirullāh, astaghfirullāh, astaghfirullāh.
Min kulli dzanbin wa ma‘ṣiyatin, min kulli mā yukhālifu dīnal-Islām, min kulli mā yukhālifu asy-syarī‘ah, aṭ-ṭarīqah, al-ḥaqīqah, min kulli mā yukhālifu al-ma‘rifah,
min kulli mā yukhālifu al-‘aẓīmah. Yā Mawlana, yā Allāh, yā Arḥamar-Rāḥimīn.
Ziyādatan ilā syarafi nabiyyinā ﷺ wa ālihī wa aṣḥābihil-kirām, wa ilā arwāḥi ābā’inā wa ummahātinā, wa ḥaḍrati ustādzinā wa ustādzi ustādzinā, wa aṣ-ṣiddīqiyyīn Al-Fātiḥah.