JANGAN MENJADI VIRUS BAGI DIRI KALIAN SENDIRI DAN BAGI ORANG LAIN

90260650_10215384003895398_9093989248029163520_n

Shaykh Hisham Kabbani | 13 Desember 2004
Atas perkenan Sufilive.com

Mana yang lebih kecil, virus atau bakteri? Virus yang dapat berjalan ke sana ke sini lebih kecil daripada bakteri, kecil tetapi beracun! Setiap racun berasal dari virus dan orang-orang mengatakan bahwa mereka tidak dapat menghentikannya. Kalian dapat menghentikan bakteri dengan antibiotik, karena mereka lebih besar daripada virus.

Kita-kita ini adalah virus! Kita beracun, kita semua—pikiran kita, tubuh kita, hati kita, kaki kita, tangan kita, darah kita—dan kita harus diremajakan (rejuvenated). Itu artinya kalian harus mengambil segala sesuatunya dan memasukannya ke dalam mesin cuci, lalu kalian harus mencucinya untuk memastikan bahwa kalian telah terbebas dari segala virus. Bahkan di mesin cuci pun, jika kalian tidak mencucinya dengan suhu tinggi (dry clean), masih ada bakteri yang tersisa. Itulah sebabnya sekarang mereka mengatakan agar jangan mencuci peralatan makan dengan tangan, karena masih ada bakteri atau virus di sana. Sekarang mereka memasukan peralatan makan itu dalam panas yang sangat tinggi untuk memurnikannya. Apa istilahnya? Sterilisasi. Kalian harus mensterilisasi diri kalian! Dan kalian tidak dapat melakukannya sendiri, kalian memerlukan seorang pemandu (mursyid) untuk mensterilisasi diri kalian.

Kalian adalah virus, tetapi tidak lebih daripada sebuah virus yang bisa dihancurkan! Dengan segala virus yang beracun itu, kita tetap saja sombong, begitu bangga dengan diri kita, pikiran kita, dan bangga dengan segala sesuatu yang kita miliki! Kita ingin segala sesuatunya sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan kita tidak mau mendengar pendapat orang lain. Kita adalah virus, dan virus yang bertengkar satu sama lain, meracuni satu sama lain, virus ini melawan virus itu.

Itulah sebabnya mengapa para Awliyaullah tersembunyi sekarang. Mereka mundur karena sekarang ini adalah zaman jahiliah, zaman yang penuh kebodohan. Nabi Muhammad (saw) menyebutkan, “Pada akhir zaman kebodohan akan memenuhi bumi.” Jadi sekarang virus itu ada di mana-mana. Orang-orang telah korup, lalai dan mereka seperti virus bagi diri mereka sendiri. Jangan berpikir bahwa ada seseorang yang sempurna di antara orang-orang itu, kecuali para Awliyaullah, Sahabat Allah. Bahkan seorang wali pun tidak seratus persen sempurna, karena ada berbagai tingkatan di antara mereka.

Jangan menjadi virus! Tingkatkanlah diri kalian sedikit, jadilah bakteri, itu lebih baik [tertawa]. Bila kalian mengangkat diri kalian dari virus menjadi bakteri, dan dari bakteri masuk ke sterilisasi, pada saat itu kalian akan mampu memahami bahasa-bahasa gerak. Kalian akan mampu memahami bahasa rasi bintang dan benda-benda langit yang bergerak di alam semesta, dan kalian akan melihat Keseimbangan dan berbagai bintang dalam orbitnya. Kalian dapat memahami semuanya! Ketika mereka bergerak, mereka menghasilkan bahasa, seperti lantunan musik. Itu bukan musik sungguhan, karena itu tidak dapat dijelaskan, tetapi itu adalah sumber pencerahan malaikati yang mana para Awliyaullah dapat memahami rahasia-rahasia. Allah (swt) akan membusanai mereka dengan busana yang indah tersebut karena suara-suara malaikati yang indah dan musikal yang mereka terima melalui gerakan dari konstelasi bintang-bintang ini mengelilingi satu sama lain dengan cara surgawi!

Semoga Allah (swt) membuat kita dapat memahaminya dan menempatkan kita pada kaki Awliyaullah, untuk belajar dari mereka dan agar tidak menjadi virus dan bakteri, tetapi agar kita disterilisasi.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq bi hurmati ‘l-Fatihah.

AYAT SUCI YANG DAPAT MENYELAMATKAN MANUSIA DARI SEGALA PENYAKIT

89614700_10157130179505886_2694062736572153856_o

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

12 Maret 2020 | Fenton Zawiya, Michigan



Adab terhadap Syekh adalah jika kalian mengaitkan sesuatu kepada diri kalian sendiri, maka tidak akan ada yang berhasil. 


Duduklah di rumah!  Jika kalian mempunyai masalah, bacalah: 

‏بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.

Dzalika taqdiiru ‘l-`Aziizi ‘l-`Aliim.

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Surah Yasiin, 36:38)

 

Masalah tersebut akan cair dengan sendirinya. Itulah yang diajarkan oleh Grandsyekh AbdAllah ad-Daghestani (q) kepada kami pada tahun-tahun yang baik di masa lalu.  Sekarang kita berada di tahun-tahun yang buruk. Tahun yang buruk, tetapi insyaAllah khalaash, keselamatan akan datang.  Pada akhirnya Islam akan menyebarkan kedamaian di mana-mana dan kita (Muslim) tidak menyebarkan apa-apa selain kedamaian.  


As-salam `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh 

Semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat dan keberkahan kepada kalian.  

 

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim dibaca sebelum ayat untuk mengikutsertakan setiap orang yang telah meninggal dunia akibat penyakit ini agar mereka diampuni.  Itulah sebabnya mengapa Umat Sayyidina Muhammad (saw) sangat beruntung memperoleh semua keselamatan dari Langit ini.
 

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.

Dzalika taqdiiru ‘l-`Aziizi ‘l-`Aliim.

 

Dan Dia memberitahukan pentingnya Dzikrullah waqt al-masaa’ib, mengingat Allah pada masa-masa sulit.  

Ja’at al-ayat ats-tsaaniya Dzalika taqdiiru ‘l-`Aziizi ‘l-`Aliim.

Kemudian ayat kedua muncul: 

Demikianlah ketetapan dari-Nya, Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, artinya Dia mengetahui segalanya, jadi jangan menempatkan iraadah, kehendak kalian di atas Kehendak-Nya.  Iraadah kalian adalah seberapa banyak dzikrullah yang dapat kalian lakukan dalam sehari: itulah yang Allah (swt) berikan kepada kalian untuk memilihnya; sementara Iraadah Allah, Kehendak Ilahiah adalah untuk menghapuskan kezaliman, kegelapan dan penindasan, dan memberikan umat Muslim dari ketetapan pentingnya Bahr al-`Azhama, Samudra Keagungan, Qudratullah, Samudra Kekuasaan Allah di seluruh dunia ini. 

Keagungan-Nya adalah, bahwa dari satu ayat al-Qur’an suci seluruh dunia selamat.  Ketika Allah tidak senang dengan manusia, Dia menarik kekuatan dari dunia dan sebelum itu terjadi, seluruh dunia akan mengalami kejatuhan.  Jadi, agar kalian selamat dari masalah ini, `alaykum bi qira’at hadzihi ayah, kalian harus membaca ayat ini: 

 

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.

Dzalika taqdiiru ‘l-`Aziizi ‘l-`Aliim. (36:38)

 

Itu adalah dzikirnya Mawlana Syekh AbdAllah yang biasa beliau baca 100 kali sebelum terbang, atau mengendarai kendaraan atau ketika bepergian.  Bila kalian membacanya atau menuliskannya, Allah (swt) akan membukakan bagi kalian sebuah taj (mahkota), satu derajat, satu maqam di atas maqam lainnya di atas maqam lainnya di atas maqam lainnya dan seterusnya sampai seluruhnya habis. 


Pada saat itu kemurnian akan muncul ke dunia dan Allah (swt) akan menunjukkan `Azhamat-Nya kepada manusia.  Jadi berusahalah untuk menjadi orang yang baik, daripada melakukan maksiat setiap saat, lebih baik melakukan dzikrullah.  

Dzikrullah (adalah apa) yang harus kita tunjukkan kepada Allah bahwa betapa kita sangat tertarik untuk mengikuti apa yang telah dijelaskan oleh Nabi (saw) mengenai ayat ini dan apa yang telah dijelaskan oleh para ulama mengenai hal ini.  

Semoga Allah mengampuni kita dan memberkahi kita, dan semoga Allah menyingkirkan penyakit (virus Corona) tersebut.  Barang siapa yang membaca dzikir ini 100 kali setiap hari ia akan diselamatkan dari segala penyakit. Jadi siapa pun yang mempunyai masalah dari penyakit semacam ini, biarkan mereka membaca ayat tersebut 100 kali setiap hari dan insyaAllah itu akan terbuka. 

Wa min Allah at-tawfiiq, dan segala keberhasilan berasal dari Allah. 

Sekilas tentang Kehidupan dan Ajaran Mawlana Syekh Nazim (q) yang Kita Cintai

Salinan dari urs

Oleh Dr. Gibril Fouad Haddad

Damaskus, 12 Rabiul Awal 1425 H/1 Mei 2004

 

Segala puji dan syukur bagi-Mu, wahai Tuhan kami, yang telah membimbing kami pada Samudra Rahmat dari Kebenaran dan Cahaya-Mu.   Allaahumma! Shalawat dan salam semoga Engkau curahkan kepada junjungan kami Sayyidina Muhammad (saw), Penutup para Nabi dan Rasul-Mu, yang membawa Quranul Karim, juga bagi keluarga dan seluruh Sahabatnya, serta para pewaris beliau, baik yang hidup di masa lalu, maupun di masa sekarang, terutama pewaris dan wakil utama beliau di zaman ini.

Hamba yang dhaif ini, Gibril ibn Fouad diminta untuk “Menulis biografi dan artikel tentang kekasih kita Mawlana Syekh Nazim (q) dengan kata-kata saya sendiri, khususnya tentang kehidupan dan ajaran-ajaran beliau dan pengalaman bersama beliau.”  Bulan ini adalah bulan Rabiul Awal 1425H (Mei 2004) dan ini adalah saat yang tepat untuk melakukannya. Semoga Allah (swt) mengilhami penulis dan pembaca tentang Mawlana Syekh Nazim (q) agar memiliki gambaran yang adil dan tepat terhadap figur yang mulia ini. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan-Nya.  Sebagaimana Dia melingkupi kebodohan kita dengan Ilmu-Nya, semoga pula Dia melingkupinya dengan Rahmat-Nya, Amin! (Al-Hamdulillah, izin telah diperoleh dari Mawlana untuk merilis tulisan ini pada hari ini.)

Nama lengkap Mawlana adalah Muhammad Nazim `Adil ibn al-Sayyid Ahmad ibn Hasan Yashil Bash al-Haqqani al-Qubrusi ash-Shalihi al-Hanafi (q), semoga Allah mensucikan ruhnya dan merahmati kakek moyangnya.  Kunyah (nama panggilan) beliau adalah Abu Muhammad – diambil dari nama anak laki-laki tertua beliau – selain itu beliau juga adalah ayah dari Baha’uddin, Naziha, dan Ruqayya.

Beliau dilahirkan pada tahun 1341 H (1922 M) di kota Larnaka, Siprus (Qubrus) dari keluarga Arab dengan akar budaya Tatar.  Beliau mengatakan kepada saya bahwa ayah beliau adalah keturunan dari Syekh `Abdul Qadir Al-Jailani (q).  Diceritakan pula kepada saya bahwa ibu beliau adalah keturunan dari Mawlana Jalaluddin ar-Rumi (q).  Ini menjadikan beliau sebagai keturunan dari Nabi suci Muhammad (saw) dari sisi ayahnya, dan keturunan dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra) dari sisi ibunya.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Siprus, Mawlana melanjutkan ke perguruan tinggi di Istanbul dan lulus sebagai sarjana Teknik Kimia.  Di sana, beliau juga belajar bahasa Arab dan Fiqh di bawah bimbingan Syekh Jamal al-Din al-Alsuni (wafat 1375H/1955M) dan menerima ijazah dari beliau.  Mawlana juga belajar tasawuf dan Tarekat  Naqsybandi dari Syekh Sulayman Arzarumi (q) (wafat 1368H/1948M) yang akhirnya mengirim beliau ke Syam (Suriah).

Mawlana melanjutkan studi Syariahnya ke Halab (Aleppo), Hama, dan terutama di Homs.  Beliau belajar di zawiyah dan madrasah Masjid Sahabat Agung Khalid ibn Al-Walid (ra) di Hims/Homs di bawah bimbingan Ulama besarnya dan memperoleh ijazah dalam Fiqh Hanafi dari Syekh Muhammad ‘Ali ‘Uyun al-Sud dan Syekh ‘Abd al-Jalil Murad, dan ijazah dalam ilmu Hadits dari Muhaddits Syekh ‘Abd al-‘Aziz ibn Muhammad ‘Ali ‘Uyun al-Sud al-Hanafi.

Perlu dicatat bahwa nama terakhir tadi adalah salah satu dari sepuluh guru hadits dari Rifa’i Hafizh di Aleppo, Syekhul Islam ‘Abd Allah Siraj al-Din (1924-2002 M), yang duduk berlutut selama dua jam di bawah kaki Mawlana Syekh ‘Abdullah Faiz Daghestani (q) ketika beliau mengunjungi Aleppo pada tahun 1959 dan yang memberikan bay’at dalam Tarekat Naqsybandi pada Mawlana Syekh Nazim (q) ketika beliau mengunjunginya terakhir kali di Aleppo pada tahun 2001, sebagaimana diriwayatkan kepada saya oleh Ustadz Muhammad `Ali ibn Mawlana al-Syekh Husayn ‘Ali dari Syekh Muhammad Faruq ‘Itqi al-Halabi yang juga hadir pada peristiwa tersebut.

Mawlana Syekh Nazim (q) juga belajar di bawah bimbingan Syekh Sa’id al-Siba’i yang kemudian mengirim beliau ke Damaskus setelah menerima suatu pertanda berkaitan dengan kedatangan Mawlana Syekh `Abdullah Faiz Ad-Daghestani (q) ke Suriah.  Setelah kedatangan awal beliau ke Suriah dari Daghestan di akhir tahun 30-an, Mawlana Syekh `Abdullah (q) tinggal di Damaskus, tetapi sering pula mengunjungi Aleppo dan Homs.  Di kota yang terakhir inilah, beliau mengenal Syekh Sa’id al-Siba’i yang adalah pimpinan dari Madrasah Khalid bin Walid (ra).  Syekh Sa’id menulis pada beliau (Mawlana Syekh ‘Abdullah (q), “Kami mempunyai seorang murid dari Turki yang luar biasa, yang sedang belajar pada kami.” Mawlana Syekh `Abdullah (q) menjawab, “Murid itu adalah milik kami; kirimkan dia kepada kami!”  Murid tersebut adalah guru kita, Mawlana Syekh Nazim (q), yang kemudian datang ke Damaskus dan memberikan bay’at beliau pada Grandsyekh kita pada kurun waktu antara tahun 1941 dan 1943.

Pada tahun berikutnya, Mawlana Syekh `Abdullah (q) pindah ke rumah baru beliau yang dibeli oleh murid Suriah pertamanya, dan khalifahnya yang masih hidup saat ini, Mawlana Syekh Husayn ibn ‘Ali  ibn Muhammad ‘Ifrini al-Kurkani ar-Rabbani al-Kurdi as-Syekhani al-Husayni (q) (lahir 1336H/1917M) – semoga Allah (swt) mensucikan ruhnya dan merahmati kakek moyangnya – di Qasyoun, sebuah gunung yang menghadap Damaskus, di mana Allah (swt) berfirman tentangnya; “Demi Tiin dan buah Zaitun! Demi Bukit Thursina!” (QS. 95:1-2).  Qatadah dan al-Hasan Al-Basri berkata, “At-Tiin adalah Gunung di mana Damaskus terletak [Jabal Qasyoun] dan Zaitun adalah Gunung di mana Jerusalem terletak.”  Diriwayatkan oleh ‘Abd al-Razzaq, al-Tabari, al-Wahidi, al-Bayzawi, Ibn al-Jawzi, Ibn Katsiir, al-Suyuti, as-Syaukani, dll., semua dalam tafsir-tafsir mereka.

Mawlana Syekh Nazim (q) juga membeli sebuah rumah dekat rumah Grandsyekh dan bersama Mawlana Syekh Husayn, membantu membangun Masjid al-Mahdi, Masjid Grandsyekh, yang akhir-akhir ini diperbesar menjadi sebuah Masjid Jami’, di mana di belakangnya terletak maqam dan zawiyah Grandsyekh, di mana hingga saat ini, makanan dan sup ayam yang lezat selalu disiapkan dalam kendi-kendi besar dan dibagi-bagikan kepada fakir miskin dua kali seminggu.

Mawlana Syekh Nazim (q) tinggal di Damaskus sejak pertengahan tahun 40-an hingga awal 80-an, sambil sesekali melakukan perjalanan untuk belajar atau sebagai wakil dari Grandsyekh, hingga Grandsyekh wafat pada tahun 1973. Setelah tahun itu, Mawlana tinggal di Damaskus selama beberapa tahun sebelum pindah ke Siprus.

Jadi, Mawlana, yang aslinya Cypriot, dan Grandsyekh, yang asalnya Daghistani, keduanya telah menjadi penduduk Damaskus “Syamiyyun” dan tinggal di distrik orang-orang salih (ash-shaalihiin) yang disebut Shalihiyya!  Tak ada keraguan lagi, bahwa pentingnya Damaskus bagi Mawlana dan Grandsyekh adalah karena Syam adalah negeri yang penuh berkah dan dilindungi melalui para Nabi dan Awliya’.

Imam Ahmad dan murid beliau, Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa Nabi suci (saw) bersabda, “Kalian harus pergi ke Syam.  Tempat itu telah terpilih secara Ilahiah oleh Allah (swt) di antara seluruh tempat di bumi-Nya ini.  Di dalamnya Dia melindungi hamba-hamba pilihan-Nya; dan Allah (swt) telah memberikan jaminan padaku berkenaan dengan Syam dan penduduknya!” Imam al-Nawawi (ra) berkata dalam kitabnya Irsyad Tullab al-Haqa’iq ila Ma’rifati Sunan Khayr al-Khala’iq, “Hadits ini berkenaan dengan fadilah (keistimewaan) yang besar dari Syam dan merupakan suatu fakta yang dapat teramati!”

Direktur pimpinan Dar al-Ifta’ (secara harfiah artinya “Rumah Fatwa”, maksudnya Majelis Fatwa seperti MUI di Indonesia, penerj.) di Beirut, Lebanon, Syekh Salahud Diin Fakhri mengatakan pada saya di rumah beliau di Beirut dan menulis dengan tangan beliau kepada diri saya,

“Pada suatu pagi di hari Ahad, 20 Rabiul Akhir 1386 H, bertepatan dengan hari Minggu 7 Agustus 1966 M, kami mendapat kehormatan untuk mengunjungi Syekh ‘Abd Allah al-Daghistani (q)–rahimahullah (semoga Allah merahmatinya) – di Jabal Qasyoun di Damaskus atas inisiatif serta disertai pula oleh Mawlana al-Syekh Mukhtar al-‘Alayli– rahimahullah – Mufti Republik Lebanon saat itu; [yang adalah paman dari Syekh Hisyam Kabbani], Syekh Husayn Khalid, imam dari Masjid Nawqara; Hajj Khalid Basyir – rahimahumallah (semoga Allah merahmati keduanya); Syekh Husayn Sa’biyya [saat ini adalah direktur dari Dar al-Hadits al-Asyrafiyya di Damaskus]; Syekh Mahmud Sa’d; Syekh Zakariyya Sya’r; dan Hajj Mahmud Sya’r.  Syekh ‘Abdullah (q) menerima kami dengan amat baik dengan penyambutan yang ramah serta penuh kebahagiaan dan kegembiraan.  Syekh Nazim al-Qubrusi (q) – semoga Allah (swt) merahmati dan menjaga beliau – juga berada di situ saat itu!

Kami duduk dari pukul sembilan di pagi hari hingga tiba panggilan adzan Zhuhur, sementara Syekh (Grandsyekh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani, penerj.) – rahimahullah – menjelaskan tentang Syam (Suriah), keutamaannya, kelebihan-kelebihannya yang luar biasa, dan bahwa tempat itu merupakan tempat Kebangkitan dan bahwa Allah akan mengumpulkan seluruh manusia di sana untuk diadili dan dihisab.  Beliau menyebutkan pula hal-hal yang membuat hati dan pikiran kami tersentuh, dikuatkan pula oleh pengaruh suasana distrik Salihiyya yang suci, dan beliau berbicara pula tentang hubungan yang tak terpisahkan – dalam praktik maupun dalam teori – antara tasawwuf dengan Syariah… Semoga Allah membimbing dan menunjukkan pada kita petunjuk-Nya dalam perkumpulan dan shuhbah dengan Awliya’-Nya yang shiddiq.  Aamiin, yaa Rabbal ‘Aalamiin!”

Masih banyak lagi nama-nama Ulama dan Awliya’ Syam yang prestisius yang mencintai dan bersahabat dengan Syuyukh kita dalam periode keemasan tersebut, seperti Syekh Muhammad Bahjat al-Baytar (1311-1396), Syekh Sulayman Ghawji al-Albani (wafat 1378H), ayah dari guru kami, Syekh Wahbi, Syekh Tawfiq al-Hibri, Syekh Muhammad al-‘Arabi al-‘Azzuzi (1308-1382H) Mufti dari Lebanon, dan Syekh utama dari guru kami Syekh Husayn ‘Usayran, al-‘Arif Syekh Syahid al-Halabi, al-‘Arif Syekh Rajab at-Ta’i, Syekh al-Qurra’(ahli qira’at Quran, penerj.) Syekh Najib Khayyata al-Farazi al-Halabi, al-‘Arif Syekh Muhammad an-Nabhan, Syekh Ahmad ‘Izz ad-Din al-Bayanuni, al-‘Arif Syekh Ahmad al-Harun (1315-1382H), Syekh Muhammad Zayn al-‘Abidin al-Jadzba, dan lain-lain – semoga Allah (swt) merahmati mereka semuanya!

Dari tiga puluh tahun shuhbah (asosiasi) yang penuh berkah antara Mawlana dan Grandsyekh tersebut, muncullah buku Mercy Oceans (secara harfiah berarti Samudra Kasih Sayang, merujuk pada buku-buku lama kumpulan shuhbah Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani, penerj.) yang tak tertandingi, yang hingga kini masih tersebar pada setiap salik dengan judul-judulnya: Endless Horizons (“Cakrawala tanpa Batas”, penerj.), Pink Pearls (“Mutiara-Mutiara Merah Muda”, penerj.), Rising Suns (“Matahari-Matahari yang sedang terbit”, penerj.). Tak ada keraguan lagi, kumpulan-kumpulan shuhbah awal tersebut adalah tonggak-tonggak utama dari seruan dakwah Islam seorang diri Mawlana Syekh Nazim (q) di Amerika Serikat dan Eropa, dengan karunia Allah (swt)!

Semoga Allah (swt) melimpahkan lebih banyak berkah-Nya pada Mawlana Syekh Nazim (q) dan mengaruniakan kepada beliau maqam-maqam tertinggi yang pernah Dia karuniakan kepada kekasih-kekasih-Nya, berdekatan dengan junjungan kita, Sayyidina Muhammad (saw), yang bersabda,

“Jika seseorang melakukan perjalanan untuk mencari ilmu, Allah (swt) akan membuatnya berjalan di salah satu di antar jalan-jalan Surga, dan para Malaikat akan merendahkan sayap mereka karena bahagia dan gembira pada orang yang mencari ilmu, dan para penduduk langit dan bumi serta ikan-ikan dalam lautan akan memohonkan ampunan bagi seorang pencari ilmu!  Keutamaan dari seorang yang berilmu atas orang-orang beriman secara umum bagaikan terangnya bulan purnama di kegelapan malam atas segenap bintang-gemintang!  Ulama adalah para pewaris Nabi, dan para Anbiya itu tidaklah memiliki dinar ataupun dirham, mereka hanya meninggalkan ilmu dan pengetahuan; dan orang yang mengambilnya sungguh telah mengambil bagian yang banyak!”

Tempat pertama yang saya datangi untuk mencari pengetahuan Nabawi ini adalah London di bulan Ramadan 1411 H, setelah saya bersyahadat laa ilaaha illa Allah, Muhammadun Rasulullah.  Di sanalah, saya meraih tangan suci Mawlana untuk pertama kali dan melakukan bay’at (janji setia) setelah diperkenalkan pada Tarekat ini oleh menantu beliau, dan khalifah beliau di Amerika Serikat, Syekh Hisyam Kabbani (q) – semoga Allah membimbingnya dan membimbing seluruh sahabat-sahabat Mawlana!

Saya mengunjungi Mawlana beberapa kali di rumah beliau di Siprus dan juga bertemu beliau di Damaskus.  Di antara hadiah Shuhba yang diberikan Mawlana adalah pada dua minggu terakhir di bulan Rajab di tahun 1422H – Oktober 2001 – di rumah dan zawiyah beliau di kota Lefke, Siprus. Catatan pengalaman ini telah ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta diterbitkan dengan judul Qubrus al-Tarab fii Shuhbati Rajab atau Kebahagiaan Siprus dalam Shuhbat.

Pada saat itulah, dan juga saat-saat berikutnya, selama dua kunjungan terakhirnya ke Amerika Serikat, Inggris, serta di Siprus dan Damaskus, saya mendapatkan petunjuk agung yang sama bagi setiap pencari kebenaran:

“Tujuan kita adalah untuk melindungi serta melukiskan Nabi Muhammad (saw) dan sifat-sifat beliau yang luhur dan agung, baginya shalawat dan salam serta bagi ahli-bait dan sahabat-sahabat beliau; yang untuk ini Allah (swt) mendukung kita!”

Dari sini, saya mengerti bahwa murid yang sesungguhnya dalam Tarekat Naqsybandi-Haqqani adalah sahabat, penolong dan pendukung dari setiap pembela Sayyidina Muhammad (saw), dan adalah tugasnya untuk bersahabat dan berasosiasi dengan para pembela seperti itu karena mereka berada pada jalan Mawlana, tak peduli apakah mereka adalah Naqsybandi atau bukan.

Ketika seorang Waliullah yang telah berumur delapan puluh tahunan di Batu Pahat, Johor, Malaysia, al-Habib ‘Ali ibn Ja’far ibn ‘Abd Allah al-‘Aydarus menerima kami di rumahnya di bulan Mei 2003, beliau mengenakan pakaian yang tidak pernah berubah sejak tahun 1940-an, beliau terlihat seperti Mawlana Syekh Nazim (q) dalam segenap aspeknya, dan bahkan terlihat menyerupainya ketika beliau meminta maaf atas bahasa Arabnya yang tidak fasih.  Ketika kami memohon doa beliau untuk negeri-negeri kami yang terluka dan bagi penduduknya, beliau menjawab, “Umat ini terlindungi dan berada pada tangan-tangan yang baik, dan pada Syekh Nazim (q) telah kau dapati kebercukupan!”

Jadi dalam setiap perjumpaan murid Mawlana yang sederhana ini dengan para Awliya di antara umat ini; mereka semua menunjukkan penghormatan yang tinggi serta kerendahan hati yang amat dalam terhadap Mawlana dan silsilah beliau, sekalipun mereka secara lahiriah (penampakan luar) berada pada jalan (tarekat) yang berbeda, seperti al-Habib ‘Ali al-‘Aydarus di Malaysia, Sayyid Muhammad ibn ‘Alawi al-Maliki di Mekah, al-Habib ‘Umar ibn Hafizh di Tarim, Sayyid Yusuf ar-Rifa’i di Kuwait, Syekh ‘Isa al-Himyari di Dubai, Sayyid ‘Afif ad-Din al-Jailani dan Syekh Bakr as-Samarra’i di Baghdad, as-Syarif Mustafa ibn as-Sayyid Ibrahim al-Basir di Maroko tengah, Grandmufti Suriah (alm.) Syekh Ahmad Kuftaro ibn Mawlana al-Syekh Amin dan sahabat-sahabatnya Syekh Bashir al-Bani, Syekh Rajab Dib, dan Syekh Ramazan Dib; Syuyukh Kattani dari Damaskus; Syekh (alm.) ‘Abd Allah Siraj ud-Din dan keponakan beliau Dr. Nur ud-Din ‘Itr; Mawlana as-Syekh ‘Abd ur-Rahman as-Shaghuri; Dr. Samer al-Nass; dan guru-guru serta saudara-saudara kita lainnya di Damaskus – semoga Allah (swt) selalu melindungi Damaskus dan melimpahkan rahmat-Nya bagi mereka dan diri kita!  Saya telah bertemu dengan semua nama yang saya sebut di atas kecuali Syekh Sirajud-Din dan mereka semua mengungkapkan tarazzi atas Mawlana as-Syekh Nazim, mengungkapkan keyakinan atas ketinggian wilayah-nya (derajat kewalian, penerj.) dan memohon doa beliau atau doa pengikut-pengikut beliau; 

“…Dan cukuplah Allah (swt) sebagai saksi. Muhammad itu adalah utusan Allah…” (QS. 48:28-29)

Sudah menjadi suatu aturan yang disepakati di antara para Rijal-Allah (maksudnya para Kekasih Allah, penerj.) bahwa keragaman jalan ini adalah tema (dandana, maksudnya kira-kira “diperuntukkan bagi”, penerj.) mereka yang belum terhubungkan (mereka yang belum mencapai akhir perjalanan, mereka yang belum mendapatkan ‘amanat’-nya, penerj.), sementara mereka yang telah mawsul (“sampai”, penerj.) semua berada pada satu jalan dan dalam satu lingkaran dan mereka saling mengetahui dan mencintai satu sama lain.  Mereka akan berada di mimbar-mimbar cahaya pada Hari Kebangkitan.  Oleh karena itu, kita, murid-murid dari jalan-jalan (Thuruq, jamak dari Thariqat) itu mestilah pula saling mengetahui, mengenal dan mencintai satu sama lain demi keridhaan Allah (swt) dan Nabi-Nya serta para Kekasih-Nya agar diri kita mampu memasuki cahaya penuh berkah tersebut dan masuk dalam lingkaran tertinggi dari shuhba (persahabatan) dan jama’ah, serta jauh dari furqa (perpecahan) dan keangkuhan.

Sebagaimana Allah (swt) berfriman: “Yaa Ayyuha l-ladziina aamanu t-taqu ul-laaha wa kuunuu ma’as shadiqiin” “Wahai orang-orang beriman takutlah kalian akan Allah dan tetaplah berada [dalam persahabatan dan kesetiaan] dengan orang-orang yang Benar (Shiddiqiin)!”; dan Nabi Suci kita (saw) bersabda, “Aku memerintahkan pada kalian untuk memgikuti sahabat-sahabatku dan mereka yang mengikutinya (tabi’in, penerj.), kemudian mereka yang mengikutinya (tabi’it tabi’in, penerj.); setelah itu, kebohongan akan merajalela… Tetapi kalian mestilah tetap berada pada Jama’ah dan berhati-hatilah terhadap perpecahan!” 

Jamaah inilah yang dilukiskan dalam suatu hadits mutawatir (diriwayatkan banyak orang, penerj.): Ia yang dikehendaki Allah (swt) untuk beroleh kebajikan besar, akan Dia karuniakan padanya pemahaman yang benar (haqq) dalam Agama. Aku (mengacu pada Nabi (saw), penerj.) hanyalah membagikan dan adalah Allah yang mengkaruniakan!  Kelompok itu akan tetap menjaga Perintah dan Aturan Allah, tak akan terlukai oleh kelompok yang menentang mereka, hingga datangnya Ketetapan Allah.”

Ya Allah, jadikanlah kami selalu bersyukur atas apa yang telah Kau karuniakan dan yang telah Rasul-Mu dan Habib-Mu bagikan!

Saya mendengar Mawlana Syekh Nazim (q) berkata beberapa kali atas nama guru beliau, Sultan al-Awliya’ Mawlana as-Syekh ‘Abd Allah ibn Muhammad ‘Ali ibn Husayn al-Fa’iz ad-Daghestani tsumma asy-Syami ash-Shalihi (q) (ca. 1294-1393 H) [1]

  • dari Syekh Syaraf ud-Din Zayn al-‘Abidin ad-Daghestani ar-Rasyadi (q) (wafat 1354 H)
  • dari paman maternal (dari sisi ibu) beliau, Syekh Abu Muhammad al-Madani ad-Daghistani al-Rasyadi (q) [2],
  • dari Syekh Abu Muhammad Abu Ahmad Hajj ‘Abd ar-Rahman Effendi Ad-Daghistani ats-Tsughuri (q) (wafat 1299 H) [3],
  • dari Syekh Jamal ud-Din Effendi al-Ghazi al-Ghumuqi al-Husayni (q) (wafat 1292 H) [4],
  • juga (keduanya baik ats-Tsughuri maupun al-Ghumuqi) dari Muhammad Effendi ibn Ishaq al-Yaraghi al-Kawrali (q) (wafat 1260 H) [5],
  • dari Khass Muhammad Effendi asy-Syirwani ad-Daghestani (q) (wafat 1254 H) [6],
  • dari Syekh Diya’uddin Isma’il Effendi Dzabih Allah al-Qafqazi asy-Syirwani al-Kurdamiri ad-Daghestani (q) (wafat. ? )
  • dari Syekh Isma’il al-Anarani (q) (wafat 1242 H),
  • dari Mawlana Diya’uddin Khalid Dzul-Janahayn ibn Ahmad ibn Husayn as-Shahrazuri al-Sulaymani al-Baghdadi al-Dimashqi an-Naqsybandi al-‘Utsmani ibn ‘Utsman ibn ‘Affan Dzun-Nurayn (q) (1190-1242 H) dengan rantai sanadnya yang masyhur hingga Syah Naqsyband Muhammad ibn Muhammad al-Uwaysi al-Bukhari (q) yang berkata,

 

“Tarekat kami adalah SHUHBAT (persahabatan) dan kebaikannya adalah dalam JAMA’AH (kelompok)”

Semoga Allah (swt) meridhai mereka semuanya, merahmati mereka, dan mengaruniakan pahala-Nya bagi mereka, dan memberikan manfaat bagi kita lewat mereka melalui telinga kita, hati-hati kita, dan keseluruhan wujud kita, Amin!

Beberapa kritik dari “Calon Sufi” atas Tarekat Haqqani mengatakan atas tarekat kita dengan apa yang mereka sebut sebagai “kurang dalam sisi ilmu”.  Seorang Sufi yang teliti akan menjadi orang terakhir yang mengatakan kritik yang menyesatkan seperti itu!  Semestinya mereka menjadi orang-orang pertama yang mengetahui bahwa ilmu, sebagai ilmu saja, tidak hanya tanpa manfaat, tetapi juga dapat menjadi perangkap mematikan yang mengarah kepada kebanggaan syaithaniyyah.  Tak ada maaf baik bagi orang yang sombong (yaitu dengan ilmunya, penerj.) maupun orang yang bodoh; hanya Sufi yang penuh cinta, ketulusan, serta bertobatlah, walau memiliki kekurangan dalam ilmu dan adabnya, yang lebih dekat pada Allah (swt) dan pada ma’rifatullah (pengenalan akan Allah) daripada seorang Sufi berilmu yang menyimpan dalam hatinya kesombongan walau hanya setitik debu.  Semoga Allah (swt) melindungi diri kalian dan diri kami!

Ibrahim al-Khawwass berkata bahwa ilmu (pengetahuan) bukanlah untuk mengetahui banyak hal, tapi untuk menaati Sunnah dan mengamalkan apa yang diketahui sekalipun itu hanya sedikit.

Imam Malik berkata bahwa ilmu bukanlah untuk mengetahui banyak hal, tapi ia adalah cahaya Allah (swt) yang Dia timpakan pada hati.

Imam as-Syafi’i berkata bahwa ilmu bukanlah untuk mengetahui bukti dan dalil, melainkan untuk mengetahui apa yang bermanfaat.

Dan ketika seseorang berkata tentang Ma’ruf al-Karkhi (murid dari Dawud at-Ta’i, yang merupakan murid dari Habib ‘Ajami, murid dari Hasan al-Bashri; guru dari Sari as-Saqati, guru dari Sayyid Taifa Junayd al-Baghdadi, penerj.), “Dia bukanlah seseorang yang amat alim (berilmu),” Imam Ahmad pun berkata, “Mah!  Semoga Allah (swt) mengampunimu!  Adakah hal lain yang dimaksudkan oleh Ilmu selain dari apa yang telah dicapai oleh Ma’ruf?!”

Kritik lain berisi keberatan atas Rabithah atau “Ikatan”, suatu karakteristik khusus dari Tarekat Naqsybandi.  Lebih jelasnya, mereka yang mengkritik rabithah ini berkeberatan atas unsur tasawwur atau “Penggambaran” dalam rabithah yang meminta Murid untuk menggambarkan wujud sang Syekh dalam hatinya pada permulaan maupun selama dzikir.  Tetapi Allah (swt) telah berfirman, Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah e itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [33:21] dan Dia berfirman pula, “Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; “ [2:189] dan karena itulah kita datang kepada Nabi (saw) melalui ash-Shiddiq (ra), dan datang kepada beliau melalui Salman (ra), dan datang kepada beliau melalui Qasim (ra), dan kepada beliau dari Sayyid Ja’far (as), dan seterusnya.  Karena “Ulama adalah para pewaris Nabi”, dapat dipahami bahwa Mursyid adalah teladan kita bagi teladan Nabi tersebut (merujuk pada ayat 33:21 di atas, penerj.) dan ia (Mursyid) mestilah seseorang di antara mereka yang atas mereka, Nabi e bersabda, “Jika kalian melihat mereka, kalian ingat akan Allah!” Hadits ini diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas , Asma’ bint Zayd, dan Anas (semoga Allah ridha atas diri mereka semua), juga dari Tabi’in Sa’id ibn Jubayr, ‘Abd al-Rahman ibn Ghanam, dan Muslim ibn Subayh.

Beberapa orang memprotes terhadap konsep fana’ sang Murid dalam diri Syekh, atau fana’ fis-Syekh. Mereka berkata, “Syekhmu hanyalah seorang manusia; jadikanlah fana’-mu pada diri Rasulullah (saw)!” Tetapi, adalah salah untuk menyamakan Syekh pembimbing sama seperti yang lain.  Syekh Ahmad Sirhindi qaddas-Allahu sirrahu – berkata: “Ketahuilah bahwa melakukan perjalanan (suluk) pada tarekat yang paling mulia ini adalah dengan ikatan (rabithah) dan cinta pada Syekh yang kita ikuti.  Syekh seperti itulah yang berjalan dalam tarekat ini dengan keteguhan (istiqamah), dan ia tercelupi (insabagha) dengan segenap macam kesempurnaan melalui kekuatan daya tarik Ilahiah (jadzbah).  Pandangannya menyembuhkan penyakit-penyakit hati dan konsentrasinya atau pemusatan pikirannya (tawajjuh) mengangkat habis cacat-cacat rohani.  Pemilik dari kesempurnaan-kesempurnaan ini adalah Imam dari zaman ini dan Khalifah pada waktu itu… jadi, ikatan kita (padanya) adalah (melalui) cinta, dan hubungan (nisbah) kita dengannya adalah pencerminan dan pencelupan diri, tak peduli apakah diri kita dekat atau jauh (secara fisik darinya, penerj.). Hingga kemudian sang murid akan tercelupkan dalam tarekat ini melalui ikatan cintanya pada Syekh, jam demi jam, dan tercerahkan oleh pantulan cahaya-cahayanya.

Dengan pola seperti ini, pengetahuan terhadap proses bukanlah suatu prasyarat untuk memberi atau menerima manfaat.  Buah semangka matang oleh panas matahari jam demi jam dan menghangat dengan berlalunya hari… Buah semangka itu semakin matang, namun pengetahuan seperti apakah yang dimiliki oleh semangka terhadap proses ini?  Apakah sang surya mengetahui bahwa dirinya sedang mematangkan dan menghangatkan semangka itu?

Sebagaimana disebutkan di atas, keberatan terhadap konsep fana’ fis-Syekh berarti pula keberatan terhadap cinta pada Syekh.  Kita semua memiliki keinginan dan tujuan untuk mencintai Syekh kita dan mengetahui bahwa beliaulah objek yang paling patut menerima cinta dan hormat kita di dunia ini.

Sebagaimana sang penyair berpuisi:

Atas kesetiaan padamu yang suci dan tuluslah, aku berkata,

“Cinta atasmu terpahat dalam kalbu dari kalbu-kalbuku,

sebagai suatu ukiran yang dalam [NAQSY], suatu prasasti kuno.

Tak kumiliki lagi kehendak [IRADAH] apa pun, selain cintamu,

tak pula dapat kuucapkan apa pun padamu, selain “aku cinta padamu.”

Tentang hal ini, Mawlana berkata pada suatu kesempatan baru-baru ini,  “Kita telah diperintahkan untuk mencintai orang-orang suci.  Mereka adalah para Nabi, dan setelah para Nabi, adalah para pewaris mereka, Awliya’. Kita telah diperintahkan untuk beriman pada para Nabi, dan iman memberikan pada diri kita Cinta. Cinta membuat manusia untuk mengikuti ia yang dicintai. ITTIBA’ bermakna untuk mencintai dan mengikuti, sementara ITA’AT bermakna [hanya] untuk mengikuti.  Seseorang yang taat mungkin taat karena paksaan atau karena cinta, tetapi tidaklah selalu karena cinta.”

“Nah, Allah I menginginkan hamba-hamba-Nya untuk mencintai-Nya. Dan para hamba tidaklah mampu menggapai secara langsung cinta atas Tuhan mereka. Karena itulah, Allah I mengutus, sebagai utusan dari Diri-Nya, para Nabi yang mewakili-Nya di antara para hamba-Nya.  Dan setiap orang yang mencintai Awliya’ dan Anbiya’, melalui Awliya’ akan menggapai cinta para Nabi. Dan melalui cinta para Nabi, kalian akan menggapai cinta Allah.”

“Karena itu, tanpa cinta, seseorang tak mungkin dapat menjadi orang yang dicintai dalam Hadirat Ilahi.  Jika kalian tak memberikan cinta kalian, bagaimana Allah I akan mencintai kalian?”

“Namun manusia kini sudah seperti kayu, yang kering, kayu kering, mereka menyangkal cinta.  Mereka adalah orang-orang yang kering – tak ada kehidupan! Suatu pohon, dengan cinta, terbuka, bersemi dan berbunga di kala musim semi.  Tetapi kayu yang telah kering, bahkan seandainya tujuh puluh kali musim semi mendatanginya, tak akan pernah terbuka.  Cinta membuat alam ini terbuka dan memberikan buah-buahannya, memberikan keindahannya bagi manusia.  Tanpa cinta, ia tak akan pernah terbuka, tak akan pernah berbunga, tak akan pernah memberikan buahnya.”

“Jadi Cinta adalah pilar utama paling penting dari iman.  Tanpa cinta, tak akan ada iman. Saya dapat berbicara tentang hal ini hingga tahun depan, tetapi kalian harus mengerti, dari setetes, sebuah samudra!” (akhir shuhbat Mawlana).

Dengan dan melalui Mawlana, Allah (swt) telah membuat segala macam hal yang sulit menjadi mudah.  Kita sangat bersyukur mengetahui beliau karena beliaulah jalan pintas bagi kita menuju nuur/cahaya dalam Agama ini.  Nur ini adalah tujuan dan sasaran dari setiap orang yang sehat.  Nur dan cahaya inilah yang dilukiskan dalam Ayat yang Agung,

Allah (swt) menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.  Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” [2:269]

Semoga Allah (swt) mengaruniakan bagi diri kita hikmah ini dan menjaga diri kita pada Jalan yang telah Dia perintahkan dan Dia ridhai bagi diri kita!  Semoga Allah (swt) mengaruniakan pada Mawlana umur panjang dalam kesehatan dan mengaruniakan pada diri kita tingkatan (maqam) Murid Sejati demi kehormatan orang yang paling mulia, Sayyidina Muhammad  (saw)!

 

Catatan:

[1] Ada beberapa variasi pendapat tentang tahun lahirnya Mawlana as-Syekh ‘Abd Allah (q), berkisar antara 1284 H (dalam kitab at-Thariqat an-Naqsybandiyya, karangan Muhammad Darniqa) hingga 1294 H menurut murid tertua Syekh ‘Abdullah (q), Mawlana as-Syekh Husayn (q) (dalam kitab at-Thariqat an-Naqsybandiyya al-Khalidiyya ad-Daghistaniyya, karangan Ustadz Muhammad ‘Ali ibn as-Syekh Husayn) hingga 1303 H dalam kitab al-Futuhat al-Haqqaniyya, karangan Syekh ‘Adnan Kabbani (q) serta 1309 H dalam buku The Naqshbandi Sufi Way, karangan Syekh Hisyam Kabbani (q). 

[2]  Beliau menerima pula Tarekat Qadiriah dari Syekh Ibrahim al-Qadiri (demikian pula Syekh Jamaluddin) yang dengan bimbingannya, beliau memulai suluknya hingga Syekh Ibrahim menyuruhnya ke Syekh ats-Tsughuri, lihat ‘Ali, Thariqat Naqsybandiyya (halaman 229).

[3]  lihat Hadaya al-Zaman fi Tabaqat al-Khawajagan an-Naqsybandiyya (halaman 375) karangan Syu’ayb ibn Idris al-Bakini.  Beliau mengambil pula dari al-Yaraghi, lihat Sullam al-Wusul karangan Ilyas al-Zadqari, sebagaimana dikuti di Hadaya (halaman 378).

[4]  lihat Hadaya, al-Bakini (halaman 396). Beliau menerima Thariqat Qadiri dari Syekh Ibrahim al-Qadiri dan memperkenalkan dzikir jahr dalam cabang Daghistani dari Naqshbandiyya melalui ijazah tersebut, lihat al-Bakini, Hadaya (halaman 396); ‘Ali, Thariqat Naqsybandiyya (halaman 229).

[5] dan bukannya 1254 H, sebagaimana secara salah disebutkan di beberapa sumber. Koreksi ini dari ‘Ali, Thariqat Naqsybandiyya (halaman 214). Muhammad al-Yaraghi juga mengambil secara langsung  dari Syekh Isma’il asy-Syirwani, lihat al-Bakini, Hadaya (hal. 350-351).

[6] dari Syirwan di masa sekarang di Azerbaijan.  Beliau wafat di Damaskus dan dimakamkan di Jabal Qasyoun, di samping Mawlana Khalid (q) dan Mawlana Isma’il al-Anarani (q) yang merupakan penerus pertama Mawlana Khalid (q), yang wafat tujuh belas hari setelah wafatnya Mawlana Khalid (q), keduanya karena wabah – semoga Allah (swt) merahmati mereka semua dan seluruh Syuhada’-Nya.

 

Enam Tanda Mendekatnya Hari Kiamat

82711117_2653195414734795_8931220780763578368_o

Seri Tanda-Tanda Akhir Zaman, Bagian ke-7

 Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

7 Februari 2015 Burton, Michigan

Shuhbah di Ash-Shiddiq Institute & Mosque (ASIM)

 

Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, `Aziiz Allah. Tidak ada Maalik kecuali Allah: Maalik al-Muluuk, tidak ada raja kecuali Dia.  Maaliki Yawmi ’d-diin. Sang Pemilik Hari Kebangkitan.

Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ’r-riyaadhah, nawaytu ‘s-saluuk, lillahi ta`ala fii hadza ‘l-masjid.

[Khatm]


Ketika kita membaca Istighfar, ini mencakup seluruh Tarekat.  Jika seseorang dari suatu Tarekat mengucapkan, “istaghfirullah” seolah-olah seluruh 41 Tarekat juga mengucapkannya, dan pada saat itu para malaikat akan siap untuk membawa istighfaar yang telah dibaca pada waktu tertentu, di tempat tertentu di negeri-negeri lainnya.  Para malaikat akan membawa istighfaar itu kepada seluruh Tarekat.  Ada 41 Tarekat, 40 dari Sayyidina `Ali (ra) dan satu dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra), dan ketika mereka melakukan suatu dzikrullah, mereka mencakup seluruh 41 Tarekat dan mereka mencakup seluruh umat.  Serupa halnya, jika kita membaca istighfaar itu mencakup mereka semua dan berlaku juga sebaliknya, saling berbagi.  

Salaam `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Kita berada di zaman yang telah disebutkan oleh Nabi (saw), yang telah diprediksikan oleh beliau 1500 tahun yang lalu.  Hari ini saya akan menyebutkan sebuah Hadits dan kita sekarang menyebutkan lima sampai enam Ahadits tentang Tanda-Tanda Akhir Zaman, yang semuanya adalah Hadits dan Tanda-Tanda yang sangat kuat.  Saya akan menyebutkan Hadits ini karena ia disertai dengan tetesan air mata di mata Nabi (saw) karena beliau khawatir terhadap umatnya tetapi mereka tidak memahaminya dan mereka memberi fatwa sesuai dengan keinginan mereka. 

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ , صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَهُوَ فِي بِنَاءٍ لَهُ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ , فَقَالَ لِي : ” أَعَوْفٌ ؟ ” ، فَقُلْتُ : نَعَمْ ، فَقَالَ لِي : ” ادْخُلْ ” ، فَقُلْتُ : أَكُلِّي أَمْ بَعْضِي ؟ فَقَالَ : ” بَلْ كُلُّكَ ” ، فَقَالَ لِي : ” يَا عَوْفُ , اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ ؛ أَوَّلُهُنَّ مَوْتِي ” ؛ فَاسْتَبْكَيْتُ حَتَّى جَعَلَ يُسْكِتُنِي . ثُمَّ قَالَ لِي : ” قُلْ : إِحْدَى ” ، فَقُلْتُ : إِحْدَى ، فَقَالَ : ” وَالثَّانِيَةُ : فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ , قُلِ : ” اثْنَتَانِ ” ، فَقُلْتُ : اثْنَتَانِ , فَقَالَ : وَالثَّالِثَةُ : مُوتَانٌ يَكُونُ فِي أُمَّتِي يَأْخُذُهُمْ مِثْلَ قُعَاصِ الْغَنَمِ ، قُلْ : ثَلاثٌ ” . فَقُلْتُ : ثَلاثٌ ، فَقَالَ : ” وَالرَّابِعَةُ : فِتْنَةٌ تَكُونُ فِي أُمَّتِي وَعَظَّمَهَا ” فَقَالَ : ” قُلْ : أَرْبَعٌ ” ، قَالَ : فَقُلْتُ : أَرْبَعٌ ، ” وَالْخَامِسَةُ : يَفِيضُ فِيكُمُ الْمَالُ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ لَيُعْطَى الْمِائَةَ دِينَارٍ فَيَتَسَخَّطُهَا ، قُلْ : خَمْسٌ ” ، فَقَالَ : قُلْتُ : خَمْسٌ ، ” وَالسَّادِسَةُ : هُدْنَةٌ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي الأَصْفَرِ فَيَسِيرُونَ إِلَيْكُمْ عَلَى ثَمَانِينَ رَايَةً ، تَحْتَ كُلِّ رَايَةٍ اثْنَا عَشَرَ أَلْفًا ، فَفُسْطَاطُ الْمُسْلِمِينَ يَوْمَئِذٍ فِي أَرْضٍ يُقَالُ لَهَا : الْغُوطَةُ ، فِي مَدِينَةٍ يُقَالُ لَهَا : دِمَشْقُ ” .

`Awf bin Maalik (ra) mengatakan, “Aku datang kepada Rasulullah (saw) dan beliau sedang berada di sebuah bangunan dan aku memberi salam padanya, kemudian beliau (saw) berkata kepadaku, ‘Apakah ini `Awf?’ dan aku menjawab, ‘Ya’. Kemudian beliau (saw) berkata, ‘Masuklah,’ lalu aku berkata, ‘Apakah aku masuk dengan seluruh diriku atau separuh diriku?’ lalu beliau (saw) menjawab, ‘Seluruhnya!’  Kemudian beliau mengatakan, ‘Wahai `Awf! Hitunglah enam tanda Hari Kiamat! Yang pertama adalah kematianku.’ Aku mulai menangis sampai beliau harus meredakan tangisanku, kemudian beliau berkata kepadaku, ‘Katakan “Satu,” lalu aku mengatakan “Satu.” Kemudian beliau berkata, ‘Yang kedua adalah pembebasan Jerusalem (Baitul Maqdis). Katakan, “Dua,” lalu aku mengatakan, “Dua.” Yang ketiga adalah kematian umatku.  Mereka akan jatuh bagaikan biri-biri yang terkena wabah penyakit. Katakan “Tiga,” lalu aku mengatakan, “Tiga.” Kemudian beliau mengatakan, ‘Yang keempat adalah timbulnya fitnah di antara umatku. Katakan, “Empat,” lalu aku mengatakan, “Empat.” Kemudian beliau mengatakan, ‘Dan yang kelima adalah melimpahnya harta kekayaan sehingga seseorang yang diberi seratus dinar akan marah (karena masih merasa kurang). Katakan “Lima,” lalu aku mengatakan, “Lima.”  Kemudian beliau berkata, ‘Dan yang keenam adalah adanya perjanjian antara kalian dengan Bani Ashfar dan pasukan mereka akan berbaris mengepung kalian dengan delapan puluh bendera di mana pada setiap bendera terdapat dua belas ribu (pasukan). Pada saat itu perlindungan bagi umat Muslim akan berada di daerah yang disebut “Ghouta” di kota yang dinamakan “Damaskus.” (Bukhari)

`Awf ibn Malik,  ataytu rasuulullah wa huwa fii binaa’in lahu… `Awf ibn Malik meriwayatkan bahwa, “Aku datang kepada Rasulullah (saw) dan beliau sedang berada di sebuah bangunan, al-binaa’, itu bisa sebuah rumah dengan dua kamar, atau sebuah bangunan.  Beliau sedang duduk di sana, fa sallamtu `alayh, kemudian aku menyalami beliau.  Fa qaala lii, dan beliau (saw) berkata kepadaku, “`Awf?”  dan aku menjawab, “Qultu na`m yaa Rasuulallah, aku mengatakan, ‘Ya, wahai Rasuulallah.’”

“Masuklah, udkhul.”

Karena adabnya–perhatikan adab beliau, ia mengatakan, “Kullii am ba`dhii, apakah aku masuk dengan separuh diriku, hanya kepalaku atau dengan seluruh tubuhku?”  Mereka tahu batas-batas mereka, mereka tahu tentang adab, mereka tahu tentang kebudayaannya, tidak seperti sekarang, orang-orang masuk ke dalam rumah seorang Muslim, tetapi mereka tidak peduli tentang etika dalam Islam, dan mereka masuk hingga mendekati kaum wanita seolah-olah tidak ada apa-apa.  Padahal dalam Islam, tidak seperti itu, Islam menjaga kehormatan pria dan wanita. Jadi ketika kita masuk ke dalam rumah seseorang, kita harus menjaga adab, dan tinggal di mana mereka menempatkan kita, bukan masuk ke tempat-tempat lainnya. Itulah sebabnya Sahabat `Awf (ra) tadi mengatakan, “Apakah aku masuk hanya dengan kepalaku saja atau dengan seluruh tubuhku, apakah hanya separuh tubuhku yang masuk, atau seluruh tubuhku masuk?”

Nabi (saw) berkata, “Bal kullukaa, masuklah dengan seluruh tubuhmu.”  Dan beliau mengatakan kepadaku, “Yaa `Awf, `iddad sittan, hitunglah enam.”  Kami telah menyebutkan sebelumnya di dalam buku Armageddon.  “Bayna yadayya as-sa`at, ada enam perkara sebelum Kiamat, yang merupakan tanda-tanda Hari Akhir, aku akan mengatakannya kepadamu.”

Itulah sebabnya mengapa kita melihat orang-orang yang tidak mengerti tentang Hadits, dan mengatakan, “Ini adalah ini, dan ini adalah ini,”  Nabi (saw) bisa saja memberi sebuah Hadits kepada seorang Sahabi dan di waktu lainnya beliau memberi Hadits lainnya kepada Sahabi lainnya; dan sesuai dengan Maqam Mi’raj beliau, Nabi (saw) dapat memberi Ahadits yang berbeda mengenai subjek yang sama.  Itulah sebabnya Hadits itu bisa berbeda-beda, dari satu waktu dengan waktu lainnya, dari seorang Sahabi dengan Sahabi lainnya, tetapi sekarang orang-orang ingin mengoreksinya. Tinggalkan hal itu, jangan berusaha untuk mengoreksinya. Jangan mengatakan, “Kami mengetahui tentang hal ini, kami tahu tentang hal itu,” atau “Hadits ini lemah, atau yang ini tidak dapat diterima.”  Tidak! Adab ma` ar-rasuul, jagalah adab kepada Rasul (saw), apa pun Hadits yang muncul di antara kedua tangan kita, kita katakan, “Aamanna wa shadaqnaa, Allah Yang Maha Mengetahui.”  Jangan menjadi seperti… karena sekarang engkau (merujuk pada seorang murid) mempelajari Hadits, jangan menjadi orang yang suka pililh-pilih!  

Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an:

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ

Saat (Hari Kiamat) semakin dekat, dan bulan pun terbelah. (Surat al-Qamar, 54:1)

Tanda-tanda Hari Kiamat adalah ketika bulan terbelah, ketika Nabi (saw) memerintahkan bulan untuk membelah dan ia pun terbelah, menurut al-Qur’an Suci, itu adalah tanda terbesar, tetapi di sini kita berbicara mengenai Hadits Suci, jadi Nabi (saw) berkata, “Wahai `Awf, hitunglah enam.”  Yang pertama di antaranya adalah, jika seseorang datang kepadamu dan mengatakan kepadamu, “Husayn, ayahmu sedang sekarat.” Apa yang akan kalian lakukan? Kalian akan menangis. Bagaimana menurut kalian jika seorang Sahaabi dan Nabi (saw) memintanya untuk menghitung kematiannya? Bagaimana orang itu akan menerima pesan atau berita tersebut? 

  1. Beliau (saw) bersabda, “Yang pertama dari Tanda-Tanda Hari Kiamat adalah kematianku.”  Itu adalah Tanda Hari Kiamat, karena beliau adalah Nabi terakhir. Fa astabkaytu, “Jadi aku mulai menangis dan aku tidak bisa menahan diri, air mata bercucuran dari mataku seperti sungai yang mengalir, dan Nabi (saw) mulai menenangkan dan menghiburku.  Kemudian beliau (saw) berkata, “Tsumma qaal, qul, “Katakan, ‘ihdaa’.  Aku mengatakan, ‘Ihdaa’ (satu).  Tanda Pertama adalah wafatnya Nabi (saw).”
  2. W ‘ats-tsaaniya, yang kedua adalah fathu bayt al-maqdis, “Pembebasan Bayt al-Maqdis dan shalat akan didirikan di sana dan ia menjadi bagian dari Muslim, dan katakan ‘Dua,’ Tanda Kedua, lalu qul, aku mengatakan, ‘Dua.’”
  3. Tsaalitsa, mawtun, yakuunu fii ummatii mitsla qu`aash al-ghanam, “Tanda Ketiga adalah banyaknya kematian dan kematian itu seperti penyakit yang menimpa biri-biri dan mereka akan mati dalam satu tembakan, di antara umatku, mereka akan mati seperti itu.”  Dan sekarang kalian melihat bagaimana orang-orang terbunuh baik dari kedua belah pihak (yang berperang), maupun dari pihak yang tidak melakukan apa-apa, tetapi mereka tinggal di desa-desa di dekat tempat peperangan itu dan mereka pun ikut terbunuh.  Apakah kalian melihat hal ini atau tidak? Dapatkah kalian menghitungnya? Kalian tidak dapat menghitungnya. Sebagaimana ghanam, kambing, atau biri-biri atau sapi, yakni hewan yang kalian makan mati karena wabah penyakit, seperti itulah umat akan meninggal dunia.
  4. Keempat adalah fitnah, tidak ada satu rumah di antara rumah-rumah kaum Arab, rumah-rumah Muslim yang tidak dimasuki fitnah tersebut.  Sekarang jika kalian mengatakan bahwa kalian adalah Muslim, maka kalian membawa masalah bagi diri kalian sendiri. Sekarang kalian tidak dapat mengatakan, “Saya adalah Muslim,” karena beberapa Muslim menghancurkan nama Islam, “dan Tanda Keempat adalah adanya fitnah di antara umatku, Qul yaa `Awf arba`a, dan aku mengatakan, “Empat.” 
  5. Wa ‘l-khaamisu yufiidu fiikumu ‘l-maal. Akan banyak uang di antara tangan-tangan manusia, banyak sekali.  Jangan lihat orang-orang di sini (yang hadir bersama Mawlana saat itu), mereka tidak punya apa-apa.  Lihatlah orang-orang Badui, mereka membangun gedung-gedung tinggi. Kalian lihat orang-orang Badui yang tadinya tidak memakai sandal, telanjang, sekarang berlomba-lomba membangung gedung pencakar langit, inilah yang kita lihat di kawasan Teluk.  Setiap orang ingin berlomba dalam membangun gedung yang lebih tinggi dari gedung-gedung lainnya, dan setiap gedung memakan biaya miliaran dollar; pada saat yang sama banyak sekali uang yang beredar di pasar. Sekarang jika kalian memberi uang kepada orang yang miskin, bukan di negeri ini, tetapi di negeri yang lain, jika kalian memberi mereka satu dollar, ia akan memandang kalian dan melemparkan uang itu ke muka kalian, mereka tidak senang dan mengemis menjadi sebuah bisnis bagi mereka.
  6. Kemudian, “Kalian membuat perjanjian dengan Bani Ashfar,” yaitu China dan Russia, mereka turun untuk berperang melawan Muslim, kemudian mereka mengadakan perjanjian.  Itu adalah sebuah prediksi tentang perang besar yang akan terjadi di Wadi `Umuq di Suriah Utara dan Turki Selatan, di mana sebuah pertempuran besar akan terjadi. Orang-orang beriman akan berkumpul di Damaskus. 

Saya akan mengatakan kepada kalian apa yang akan terjadi selanjutnya mengenai ‘Kondisi dan Tanda-Tanda Hari Kiamat,’ pertama tentang gempa-gempa yang akan terjadi, kedua akan terjadi pertempuran besar antara dua kelompok besar, laa taquumu s-sa`atu hatta taqtatila fi’ataani `azhiimataani; kemudian, kharaabu ‘l-madina, penghancuran Madinah, penghancuran Mekah, penghancuran Yaman, penghancuran Kufa, penghancuran Iraq, penghancuran Basra, penghancuran Syam, penghancuran Mesir, penghancuran Afrika, penghancuran Andalusia.  Kemudian bab tentang Nabi (saw) berlindung kepada Allah (swt) dari fitnah, kebingungan yang muncul dari al-Maghrib, dari Barat. Ini mungkin ada lima belas prediksi, tetapi dalam buku ini terdapat ratusan prediksi.


Semoga Allah (swt) melindungi kita dan menyelamatkan kita. 

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq bi hurmati ‘l-Fatihah.


https://sufilive.com/Six-Signs-of-the-Approach-of-the-Last-Days-5787-EN-print.html

 

© Copyright 2015 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Hakikat Bay’at dan Khalwat di Hijaz

Shuhbah oleh Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Madinah, 11 Januari 2020

Bulan ini adalah bulannya Awliya.
Bulan ini menyatukan para Awliya dari Timur ke Barat dan dari Utara hingga Selatan. Jadi, apa pun yang mereka katakan amanna wa shadaqna (kami percaya dan kami membenarkan). Kami berada di bawah kaki Nabi ﷺ.

Ketika bulan ini dimulai kami melihat kebesaran syekh kami. Mereka bertemu dengan ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah. Memberi mereka dorongan yang besar. Itulah sebabnya mengapa terjadi perubahan besar di jalan Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah.

Saya melihat Grandsyekh, semoga Allah memberkahi ruhnya dan Mawlana Syekh Nazim (q); mereka berkata kepada saya, “Hisyam, waktunya telah tiba. Kami akan mengajakmu berkeliling untuk melihatnya.” Dan itu bukan mimpi. (Mawlana Syekh Hisyam menangis)

Mereka membawa tangan saya dan mereka masuk ke dalam sebuah nafaq, terowongan besar. Ia mempunyai awal, tetapi tidak ada ujungnya. Ujungnya ada di tangan Mahdi (as). Mereka mengatakan, “Ini adalah jalan kita dan ini adalah kehidupan kita di dunia.”

Mereka memberi kita terowongan. Ada juga orang-orang yang lain, mereka adalah para Ashab an-Nabi ﷺ, dan mereka mempunyai terowongan yang lain sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan di masa Nabi ﷺ.
Agar kami mendapat sesuatu dari mereka, mereka membawa kami dalam sebuah perjalanan yang tidak diketahui, dan itu adalah sebuah perjalan menuju sesuatu yang sangat penting di mana setiap Muslim pasti ingin melihatnya. Mereka membawa kami ke maqam dari Ahlu ‘l-Bay’at, di mana pada zamannya Nabi ﷺ, mereka memberi bay’at kepada Nabi ﷺ.

(Mawlana membacakan Ayat Bay’at)
Inna ‘l-ladziina yubaayi`uunaka innamaa yubaayi`uun-Allaah, yadullaahi fawqa aydiihim faman nakatsa fa-innamaa yankutsu ‘alaa nafsih wa man awfaa bimaa `aahada `alayhullaaha fa-sayu’tiihi ajran `azhiimaa [al-Fath, 48:10]
Radhiinaa billaahi rabban, wa bi ‘l-Islaami diinaa wa bi sayyidinaa Muhammad shall-Allaahu`alayhi wa sallam… Masyayikhina ‘l-kiraam

Kami pergi ke maqam tersebut dan itu adalah tempat di mana para Sahabat biasa memberikan bay’atnya kepada Nabi ﷺ. Mereka mengatakan, “Lakukan bay’at di sini! Ia telah terbuka untukmu,” dan orang-orang yang bersama saya, sekitar dua belas orang. Kami melakukan bay’at kepada Grandsyekh dan Mawlana Syekh Nazim dan dari mereka kami mengambil bay’at dan memperoleh dukungan dari mereka. Kemudian kami membaca doa dari Ahlu ‘l-Bay’at. Itu bukanlah sebuah peristiwa kecil, tetapi itu adalah sebuah peristiwa besar bagi mereka yang dapat melihat. Orang-orang yang tidak dapat melihat, bahkan jika mereka melakukan bay’at sepanjang hari, mereka tetap tidak dapat melihat. Tetapi bagi Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah dan para Ahlu ‘n-Naqsy, para Sahabat membuat naqsy, ukiran. Para Sahabat menuliskan di dalam hati kita, dengan kekuatan spiritual “Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah,” Itu tertulis pada Maqam ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah sekitar seminggu sebelumnya.

Jadi itu adalah kekuatan spiritual dari Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah yang dapat mereka ambil dari para Awliyaullah. Dan tanda dari hal tersebut adalah bahwa kalian akan datang ke sini, karena kalian adalah bagian dari mereka. Kalian termasuk Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah, dan kalian adalah Naqsybandi. Kita adalah orang-orang yang cinta damai. Setiap saat, kita berada di sini, sebuah pembukaan baru dibukakan, banyak hal yang telah ditunjukkan, sesuai dengan level setiap orang, mereka akan diberi kekuatan ini. Ini adalah sebuah karunia, ini adalah dukungan dan cinta dari Langit.

Semoga Allah (swt) membukakan bagi kita, bagi hati kita, dan kita telah melakukan bay’at, artinya kita harus menerima; dan ketika kita menerimanya, dan ada banyak pembukaan yang dibukakan pada malam tersebut. Jangan berpikir bahwa mereka tidak menyadari apa yang kita lakukan. Mereka ada di belakang, mendukung kita.

Kalian bisa duduk dan merasa lelah, tetapi bagi mereka hal itu tidak melelahkan. Bagi mereka, para Awliyaullah dapat melihat bahwa kalian lelah, tetapi kelelahan itu penting dalam kehidupan kalian untuk membersihkan kalian dari berbagai dosa. Sekarang, seolah-olah kalian baru dilahirkan, khususnya orang-orang dari Jakarta, maksud saya Indonesia, dan Malaysia dan Singapura, dan seluruh daerah di Timur.

Saya berbicara ke hati, itu akan menjadi naqsy (ukiran) di dalam hati. Itu akan terus bersama kalian hingga Akhir Zaman. Saya tahu karena saya sakit, dan saya tidak dapat berbicara lebih keras lagi. Alhamdulillah, ruh saya telah dibawa untuk menjadi seperti pewaris Grandsyekh dan Mawlana Syekh Nazim, di mana mereka berdua, ruhnya telah dibawa ke hadirat Mahdi (as).

Saya tidak ingin membuka hal ini, tetapi karena kalian meminta, saya katakan bahwa Grandsyekh telah diambil dari dunia, di Turki sejak dulu; dan kemudian Mawlana Syekh Nazim telah diambil menjelang wafatnya, dan sekarang sebagai pewaris dari para Syuyukh, ruh saya telah diambil untuk menjauh dari orang-orang, itulah sebabnya kami tinggal di sini, antara dua puluh sampai empat puluh hari, dan ternyata itu belum cukup, mereka meminta saya untuk tinggal dua puluh hari lagi di sini. Jadi kami akan tinggal lebih lama lagi di sini, insyaAllah, dekat Sayyidina Muhammad ﷺ.

Hajjah Naziha telah melakukan yang terbaik. Beliau terus membaca kitab suci al-Qur’an dan setiap dua atau tiga hari khatam. Beliau akan membuat sekitar dua puluh khatam, khatmil Qur’an. Jadi, inilah pekerjaannya. Karena dengan membaca Qur’an, kalian akan mengangkat para Ahlu ‘th-Thariqah, para pengamal tarekat di seluruh dunia. Mereka memberi posisi itu padanya. Awalnya beliau tidak menyadarinya, tetapi sekarang beliau sudah mengetahuinya.

Jadi, mereka mengambil ruh saya sebagai pewaris Nabi ﷺ, dan Grandsyekh serta Mawlana Syaikh, Mawlana Syaikh Nazim. Mereka membukakan dari rahasia-rahasia Al-Quran dalam Samudra Ilmu-ilmu, dan dalam Samudra Naqsy, dan dalam Samudra Iman, dan dalam Samudra Kesempurnaan, dan dalam Samudra Pertolongan, dan dalam Samudra-Samudra Thariqah, dan dalam Samudra-Samudra Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jama’ah, dan dalam samudra-samudra yang belum pernah dibukakan sebelumnya, namun kini telah terbuka melalui pertemuan ini! Alhamdulillah untuk hal ini. Kemudian mereka berkata pada saya, “Ini sudah cukup.”
Rabbana taqabbal minna bi hurmati ‘l-Fatihah
Adzan Ashar.

Apa yang Ada di Dalam Ka`bah

81565876_10214877895242998_2440839470619033600_o

Syekh Hisyam Kabbani

Fenton Zawiya, Michigan, 27 Juni 2015
Zhuhr Suhbah (2)

(lanjutan dari Shuhbah sebelumnya oleh Syekh Nour Kabbani

Saya ingin menambahkan mengenai rahasia Ka`bah yang tadi disebutkan oleh Nour [Kabbani].  Segala sesuatu mempunyai cerminannya dan Allah (swt) menciptakan segala sesuatu zawjayni zawjayn, dengan dua identitas dari seseorang: Dia memberi mereka identitas melalui ibu jari dan Dia memberinya identitas melalui retina mata mereka. Jadi kalian dapat melihat lebih baik melalui mata kalian daripada melihat dengan ibu jari kalian.  Jika mata-mata ini dibukakan melalui suatu perjuangan (riyadhah) agar mendapat petunjuk dari Allah (swt), karena Allah akan memberi petunjuk bagi orang yang berjuang untuk-Nya:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad di (Jalan) Kami, benar-benar akan tunjukkan kepada mereka Jalan-Jalan Kami, dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Surat al-`Ankabut, 29:69) 

“Orang-orang yang berjihad di (Jalan) Kami,  Kami akan tunjukkan kepada mereka Jalan-Jalan Kami”, dan ketika Dia mengatakan “jalan-jalan” itu artinya jalan yang tak pernah berakhir, di mana setiap orang akan mempunyai sebuah jalan atau sepuluh jalan atau dua jalan yang dapat diraih melalui awraad-nya; bahkan ia mungkin membuat awraad-nya sendiri dan itu adalah jalannya, dan Allah akan memberi petunjuk kepada setiap orang menuju Jalan-Nya!

Bayangkan apa yang terjadi di Masjid al-Haraam di Mekah: ketika kalian masuk, kalian melihat jutaan orang berdesakan dari berbagi penjuru dunia. Siapa yang menarik mereka bagaikan sebuah magnet, menarik mereka ke Ka`batullah, Baytullah?  Ka`bah aslinya adalah Bayt al-Maa’muur yang dibawa dengan jalan surgawi.  Ia berada di Surga Keempat! Bayt al-Maa’muur menarik rahasia itu dan menarik jutaan orang ke Ka`batullah; hakikat rahasia yang berada di Surga Keempat menarik orang untuk mengunjungi Baitullah.  Jika kalian menyingkirkan temboknya, apa yang ada di sana? Beberapa orang akan mengatakan tidak ada apa-apa, tetapi tidak: 

ما وسعني أرضي ولا سمائي ولكن وسعني قلب عبدي المؤمن

Langit dan Bumi tidak dapat menampung-Ku, tetapi kalbu orang beriman dapat mengandung-Ku. 

(Hadits Qudsi, Al-Ihya dari Imam al-Ghazali)

Ada Ka’bah di sana, di dalam hati kalian, ada qiblat, yang akan mengantarkan kalian kepada Ka`bah sesungguhnya, mengantarkan kalian ke Bayt al-Maa’muur.

Jadi itu adalah untuk Bayt al-Maa’muur dalam sepersekian detik, di mana tidak ada waktu.  Kita mengenal tiga dimensi dan waktu adalah dimensi imajiner.  Para ilmuwan berkata, “Kita akan mengambil waktu dan membaginya ke dalam fraksi dari satu detik”, dan sebanyak mungkin mereka membagi satu detik hingga ke angka 10-23 (1 dengan 23 nol) .  Di sana, pada saat itu, tidak ada waktu lagi, segala sesuatunya adalah energi, jadi di dalam Ka`bah yang kita lihat adalah Tajalli Allah (swt) dalam setiap partikel waktu terkecil, mengirimkan dari Langit Tajali Asmaul Husna wal Shifat-Nya yang berbeda-beda, itu juga yang menarik orang-orang ke Ka`batullah, untuk mencapai spiritualitas tingkat tinggi itu.  Kisah yang engkau [Syekh Nour] sebutkan mengenai Mawlana Syekh terangkat, meskipun mereka diangkat dengan jalan spiritual, dan meskipun awliyaullah dapat melihat secara fisik dan yang lain dapat melihat secara spiritual dan yang lain tidak dapat melihat apa-apa, jadi beliau diangkat dan tawafnya awliyaullah berada pada level kedua, di mana [baru-baru ini] mereka mendirikan jembatan, sebagaimana yang engkau sebutkan.  Apa rahasia Ka`bah? Itu adalah batu yang berasal dari Langit. Ada dua tempat yang berasal dari Langit: Hajar al-As`ad dan kemudian Rawdhah asy-Syarifah:

ما بين قبري و منبري روضة من رياض الجنة

Di antara kubur dan mimbarku terdapat sebuah taman dari Taman Surga. (Ahmad)

Jadi ketika kalian masuk Surga, kalian masuk tanpa dosa karena kalian tidak bisa mempunyai dosa di Surga.  Itulah sebabnya orang-orang saling mendorong untuk sampai ke sana, karena mereka tahu jika mereka melangkahkan kaki ke sana, mereka akan melangkah ke dalam Surga tanpa dihisab pada Hari Kiamat: setiap orang yang melangkahkan kaki di Rawdhah berarti melangkahkan kaki ke dalam Surga.  Jadi alasan Nabi (saw) mencium Hajar al-As`ad, sebagaimana yang disebutkan oleh Sayyidina `Ali (ra), ketika Sayyidina `Umar (ra) berkata, “Aku menciummu (Hajar Aswad), karena aku melihat Nabi (saw) menciummu, tetapi aku tahu bahwa engkau adalah sebuah batu yang tidak membahayakan dan juga tidak mendatangkan manfaat.”  

عن عابس بن ربيعة عن عمر رضي الله عنه أنه جاء إلى الحجر الأسود فقبله فقال إني أعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع ولولا أني رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يقبلك ما قبلتك

روى الحاكم من حديث أبي سعيد أن عمر لما قال هذا قال له علي بن أبي طالب : إنه يضر وينفع ، وذكر أن الله لما أخذ المواثيق على ولد آدم كتب ذلك في رق ، وألقمه الحجر ، قال : وقد سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : يؤتى يوم القيامة بالحجر الأسود وله لسان ذلق يشهد لمن استلمه بالتوحيد

Sebuah hadits mencatat ketika Khalifah kedua, `Umar ibn al-Khattab (ra) datang mencium Hajar Aswad.  Di depan semua orang yang hadir beliau berkata, “Tidak ada keraguan lagi, aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak membahayakan dan juga tidak mendatangkan manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu.”  Sayyidina `Ali (ra) menanggapi perkataan Sayyidina `Umar (ra), “Sesungguhnya batu ini (Hajar al-Aswad) dapat mendatangkan manfaat dan juga kerugian,” dan beliau mengingatkannya bahwa Allah (swt) berfirman di dalam al-Qur’an bahwa Dia menciptakan manusia dari keturunan Nabi Adam (as) dan membuat mereka bersaksi atas diri mereka sendiri dan Allah bertanya pada mereka, ‘Bukankah Aku adalah Penciptamu?’   Terhadap hal ini mereka semua mengiakannya. Jadi Allah menuliskan konfirmasi ini dan batu ini mempunyai sepasang mata, telinga dan lidah, dan ia membuka mulutnya atas perintah Allah (swt), Yang meletakkan konfirmasi tersebut di dalamnya dan memerintahkannya untuk bersaksi bagi seluruh hamba yang menegaskan keyakinannya pada Keesaan Allah.” 

Hadits lainnya mengenai keutamaan Hajar al-Aswad dari ibn `Abbas (ra):

 حَدِيث ابْن عَبَّاس رَضِي الله عَنهُ انه قَالَ: الْحجر الْأسود يَمِين الله فِي الأَرْض يُصَافح بهَا عباده أَو قَالَ:
خلقه كَمَا يُصَافح النَّاس بَعضهم بَعْضًا.

Sesungguhnya Batu itu adalah Tangan Kanan Allah di Bumi; dan melaluinya Dia bersalaman dengan hamba-hamba-Nya.  (Ibn Qutayba dalam Ghariib al-Hadits)

Untuk menjadi saksi bagi setiap orang yang pergi ke sana dan memberikan salam, walaupun dari kejauhan, karena sekarang kalian tidak leluasa untuk mencapainya.  Kalian ucapkan, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, itu sudah cukup bagi Hajar al-Aswad untuk menjadi saksi bagi kalian di Hari Kiamat bahwa kalian adalah seorang Mukmin dan Muslim dan kalian telah menyentuh Surga walau dengan mengangkat tangan kalian dari kejauhan, sehingga kalian dapat masuk ke dalam Surga tanpa dihisab.

Tinggalkan hal ini, tetapi ketika kalian melakukan shalat sunnah, Nabi (saw) menganjurkan kita untuk melaksanakan shalat setelah shalat fardhu.  Jadi, ketika kalian melakukan shalat sunnah, kalian menghadapkan wajah kalian ke arah Qiblat. Ketika kalian mengucapkan, “Allahu Akbar,” karena di dalam shalat, kalian melakukan kelima rukun Islam; kalian shalat, kalian puasa karena kalian tidak makan ketika shalat, kalian mengarahkan wajah kalian ke arah Mekah, ini adalah haji, dan kalian membayar zakat, karena kalian menyerahkan waktu kalian kepada Allah (swt) padahal kalian dapat menggunakannya untuk berbisnis.  Jadi kelima rukun Islam ada di dalam shalat. Ketika kalian mengucapkan, “Allahu Akbar,” kalian mengarahkan wajah ke arah Ka`bah, ke arah Batu Kebahagiaan atau Batu Hitam, dan ia akan menjadi saksi bagi kalian lima kali sehari, setiap kali kalian mengucapkan “Allahu Akbar,” itu sampai ke sana.  

Untuk Madinata ’l-Munawwarah, ketika kalian melakukan sunnah, seolah-olah kalian telah memasuki mihrab Nabi yang berada di Rawdhah asy-Syarifah.  Setiap kali ia (Sayyidina Zakaria) masuk ke mihrab Sayyida Maryam, ia mendapati makanan di sana.  Setiap kali ia masuk ke ruang istimewanya Sayyida Maryam, ia mendapati makanna di sana. Jadi Rawdhah asy-Syarifah dan juga mihrab tersebut seperti tempat suci di mana doa-doa dikabulkan.Sayyidina Zakariya (as) pergi ke mihrab tersebut dan berdoa agar ia dikaruniai anak dan akhirnya ia dikaruniai Sayyidina Yahya (as), di usianya yang sudah tua.  Jadi bila kalian berdoa di sana, maka tempat itu akan memberi wasilah bagi kalian di Hari Kiamat karena kalian telah shalat di sana.  

Ada begitu banyak penjelasan dan insyaAllah di lain waktu Taher akan bicara dan Ishaq akan bicara, dan kita akan melihat permata-permata yang keluar dan memberi kita cita rasa sejati, sebagaimana Ibn `Ajiiba berkata,  

Al-`ilmu`ilmaan `Ilm al-Awraaq wa `Ilm al-Adzwaaq

Ada dua jenis ilmu, yaitu ilmu kertas dan ilmu rasa.

Ada begitu banyak ulama yang menyentuh pada Ilm al-Awraaq, atau ilmu kertas, tetapi dalam `Ilm al-Adzwaaq, yakni ilmu rasa, kalian menyentuh pada Syariah dan juga Makrifat.  Kita berharap para ulama Syariah juga akan berbicara mengenai tasawwuf karena kalian memerlukan rasa tersebut, seperti ketika kalian datang untuk ifthar, berbuka puasa, setiap orang minum, tetapi kalian tidak minum dan mereka mengatakan, “Ini enak, airnya manis,” tetapi mereka tidak memberikannya kepada kalian untuk dicicipi.  Jadi para Ahl al-Haqaa’iq, para ahli hakikat, mereka memberi kalian rasa dari air tersebut, bukan hanya cangkir yang berwarna saja. 

Jadi dari yang benar-benar abstrak, `adm, dari non-eksistensi, Allah menciptakan makhluk dan dari sana Allah mengirimkan ke non-eksistensi.  Jadi karena hal tersebut, Ibn `Arabi mengatakan bahwa kita kembali kepada non-eksistensi.

http://sufilive.com/What-is-Inside-the-Kaaba–5920.html 

© Copyright 2015 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.