Pengalaman Syekh `Abdullah (q) di Angkatan Bersenjata

Syekh `Abdullah (q) bercerita mengenai sebuah insiden yang terjadi selama pengabdiannya dalam Angkatan Bersenjata Kekhalifahan Utsmani (Ottoman),

Aku berjumpa dengan ibuku hanya dalam waktu satu atau dua minggu. Mereka lalu membawaku ke sebuah pertempuran yang dikenal dengan Safar Barlik di Dardanelles. Suatu hari terjadi serangan dari musuh dan sekitar 100 orang dari kami ditinggalkan untuk mempertahankan wilayah perbatasan. Aku adalah seorang penembak jitu yang mampu mengenai sehelai benang dari jarak jauh. Kami mendapat serangan bertubi-tubi sehingga tidak mampu lagi mempertahankan posisi kami. Aku merasakan sebuah peluru menembus jantungku, aku pun tersungkur ke tanah dengan keadaan terluka parah.

Ketika aku terbaring sekarat, aku melihat Nabi (saw) menghampiriku. Beliau (saw) berkata, ”Wahai anakku, kau ditakdirkan untuk meninggal dunia di sini, namun kami masih memerlukanmu di bumi ini, baik secara rohaniah maupun secara fisik. Aku datang kepadamu untuk menunjukkan bagaimana seorang manusia mengalami kematian dan bagaimana malaikat `Izra’il mencabut nyawa.” Beliau (saw) memberiku suatu rukyat, penglihatan di mana aku melihat rohku mulai meninggalkan tubuhku, sel demi sel, dimulai dari jari-jemari kakiku. Ketika kehidupan itu ditarik, aku dapat melihat berapa banyak sel di dalam tubuhku dan mengetahui fungsi-fungsi dari setiap sel, dan penyembuh bagi setiap penyakit masing-masing sel. Aku juga mendengar zikir dari setiap sel itu.

Begitu rohku mulai bergerak meninggalkan tubuhku, aku mengalami apa yang orang rasakan ketika meninggal dunia. Aku dibawa untuk melihat berbagai keadaan saat kematian: kematian yang menyakitkan, kematian yang mudah, dan kematian yang sangat membahagiakan. Nabi (saw) mengatakan, “Engkau termasuk orang yang meninggal dengan keadaan bahagia.” Aku sangat menikmati kematian itu karena aku akan kembali ke tempat Asalku, yang membuatku memahami ayat Qur’an, ‘Inna lillaahi wa inna ilayhi raji`uun, ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah (swt), dan kepada-Nya kami kembali‘ [2:156].

Penglihatan itu berlanjut sampai aku mengalami keadaan di mana rohku sampai pada napas terakhir. Aku melihat malaikat `Izra’il datang dan mendengar pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan. Segala macam penglihatan mengenai orang yang sedang sekarat aku alami, namun demikian aku masih dalam keadaan hidup ketika mengalaminya dan hal ini membuatku dapat memahami rahasia dari maqam itu.

Kemudian dalam penglihatan itu aku melihat rohku memandang ke bawah pada tubuhku, dan Nabi (saw) berkata padaku, “Datanglah padaku!” Aku menemani Nabi (saw) dan beliau (saw) membawaku ke dalam sebuah penglihatan mengenai Tujuh Surga. Aku melihat segala sesuatu yang Nabi (saw) inginkan aku melihatnya di dalam Tujuh Surga itu, kemudian beliau mengangkatku ke Maqam Ash-Shiddiq di mana aku bertemu dengan seluruh nabi, para awliya, seluruh syuhada, dan orang-orang yang saleh.

Beliau (saw) lalu mengatakan, “Wahai anakku, sekarang aku akan membawamu melihat siksaan di Neraka.” Di sana aku melihat semua yang pernah disebutkan oleh Nabi (saw) di dalam hadits-hadits dan sabda beliau (saw) tentang siksa Neraka. Aku pun berkata, “Wahai Nabi (saw), engkaulah yang dikirim sebagai wasilah bagi umat manusia, adakah cara agar mereka dapat diselamatkan?” Beliau (saw) berkata, “Ya, wahai anakku, dengan syafaatku mereka dapat diselamatkan. Aku akan menunjukkan padamu, takdir dari orang-orang itu bila aku tidak mempunyai kekuatan untuk memberi syafaat bagi mereka.”

Nabi (saw) lalu berkata, “Anakku, kini aku akan mengembalikan dirimu ke dunia, ke dalam tubuhmu.” Begitu Nabi (saw) mengatakan hal itu, aku melihat ke bawah dan aku melihat tubuhku yang sudah membengkak. Aku melihatnya dan berkata, “Wahai Nabi (saw), lebih baik aku berada di sini bersamamu. Aku tidak ingin kembali. Aku bahagia bersamamu di Hadirat Ilahi. Lihatlah dunia itu. Aku sudah pernah berada di sana dan sekarang aku telah meninggalkannya. Mengapa aku harus kembali? Lihat, tubuhku sudah membengkak.”

Nabi (saw) menjawab, “Wahai anakku, kau harus kembali. Itulah tugasmu.” Atas perintah Nabi (saw), aku kembali pada tubuhku, meskipun aku tidak menginginkannya. Ketika aku memasuki tubuhku, aku melihat peluru di jantungku telah terbungkus dalam daging, dan pendarahan telah berhenti. Ketika aku memasuki tubuhku dengan lembut, penglihatan itu pun berakhir. Aku melihat tim medis di medan peperangan sedang mencari orang-orang yang masih hidup di antara mereka yang telah gugur. Salah seorang berteriak, “Orang itu masih hidup! Orang itu masih hidup!” Aku terlalu lemah untuk bergerak ataupun berbicara, dan aku menyadari bahwa tubuhku telah tergeletak di sana selama 7 hari.

Mereka membawaku dan merawatku, sampai kesehatanku kembali pulih. Mereka mengembalikan aku pada pamanku. Begitu aku bertemu, beliau mengatakan, “Wahai anakku, apakah kau menikmati kunjunganmu?” Aku tidak menjawab “Ya” ataupun “Tidak” karena aku tidak tahu mana yang dimaksud pamanku, kunjungan ke Angkatan Bersenjata atau kunjungan untuk bertemu Nabi (saw). Beliau kembali bertanya, “Wahai anakku, apakah kamu menikmati kunjunganmu bersama Nabi (saw)?” Barulah aku menyadari bahwa beliau mengetahui segala hal yang telah terjadi padaku. Aku pun langsung menghampirinya dan mencium tangannya sambil berkata, “Wahai Syekhku, aku pergi bersama Nabi (saw) dan harus ku akui bahwa aku tidak ingin kembali. Tetapi beliau (saw) berkata bahwa itu adalah tugasku.”

dikutip dari :

The Naqshbandi Sufi Way: History and Guidebook of the Saints of the Golden Chain
oleh Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
© 1995, KAZI Publications