Hakikat Bay’at dan Khalwat di Hijaz

Shuhbah oleh Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Madinah, 11 Januari 2020

Bulan ini adalah bulannya Awliya.
Bulan ini menyatukan para Awliya dari Timur ke Barat dan dari Utara hingga Selatan. Jadi, apa pun yang mereka katakan amanna wa shadaqna (kami percaya dan kami membenarkan). Kami berada di bawah kaki Nabi ﷺ.

Ketika bulan ini dimulai kami melihat kebesaran syekh kami. Mereka bertemu dengan ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah. Memberi mereka dorongan yang besar. Itulah sebabnya mengapa terjadi perubahan besar di jalan Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah.

Saya melihat Grandsyekh, semoga Allah memberkahi ruhnya dan Mawlana Syekh Nazim (q); mereka berkata kepada saya, “Hisyam, waktunya telah tiba. Kami akan mengajakmu berkeliling untuk melihatnya.” Dan itu bukan mimpi. (Mawlana Syekh Hisyam menangis)

Mereka membawa tangan saya dan mereka masuk ke dalam sebuah nafaq, terowongan besar. Ia mempunyai awal, tetapi tidak ada ujungnya. Ujungnya ada di tangan Mahdi (as). Mereka mengatakan, “Ini adalah jalan kita dan ini adalah kehidupan kita di dunia.”

Mereka memberi kita terowongan. Ada juga orang-orang yang lain, mereka adalah para Ashab an-Nabi ﷺ, dan mereka mempunyai terowongan yang lain sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan di masa Nabi ﷺ.
Agar kami mendapat sesuatu dari mereka, mereka membawa kami dalam sebuah perjalanan yang tidak diketahui, dan itu adalah sebuah perjalan menuju sesuatu yang sangat penting di mana setiap Muslim pasti ingin melihatnya. Mereka membawa kami ke maqam dari Ahlu ‘l-Bay’at, di mana pada zamannya Nabi ﷺ, mereka memberi bay’at kepada Nabi ﷺ.

(Mawlana membacakan Ayat Bay’at)
Inna ‘l-ladziina yubaayi`uunaka innamaa yubaayi`uun-Allaah, yadullaahi fawqa aydiihim faman nakatsa fa-innamaa yankutsu ‘alaa nafsih wa man awfaa bimaa `aahada `alayhullaaha fa-sayu’tiihi ajran `azhiimaa [al-Fath, 48:10]
Radhiinaa billaahi rabban, wa bi ‘l-Islaami diinaa wa bi sayyidinaa Muhammad shall-Allaahu`alayhi wa sallam… Masyayikhina ‘l-kiraam

Kami pergi ke maqam tersebut dan itu adalah tempat di mana para Sahabat biasa memberikan bay’atnya kepada Nabi ﷺ. Mereka mengatakan, “Lakukan bay’at di sini! Ia telah terbuka untukmu,” dan orang-orang yang bersama saya, sekitar dua belas orang. Kami melakukan bay’at kepada Grandsyekh dan Mawlana Syekh Nazim dan dari mereka kami mengambil bay’at dan memperoleh dukungan dari mereka. Kemudian kami membaca doa dari Ahlu ‘l-Bay’at. Itu bukanlah sebuah peristiwa kecil, tetapi itu adalah sebuah peristiwa besar bagi mereka yang dapat melihat. Orang-orang yang tidak dapat melihat, bahkan jika mereka melakukan bay’at sepanjang hari, mereka tetap tidak dapat melihat. Tetapi bagi Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah dan para Ahlu ‘n-Naqsy, para Sahabat membuat naqsy, ukiran. Para Sahabat menuliskan di dalam hati kita, dengan kekuatan spiritual “Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah,” Itu tertulis pada Maqam ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah sekitar seminggu sebelumnya.

Jadi itu adalah kekuatan spiritual dari Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah yang dapat mereka ambil dari para Awliyaullah. Dan tanda dari hal tersebut adalah bahwa kalian akan datang ke sini, karena kalian adalah bagian dari mereka. Kalian termasuk Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah, dan kalian adalah Naqsybandi. Kita adalah orang-orang yang cinta damai. Setiap saat, kita berada di sini, sebuah pembukaan baru dibukakan, banyak hal yang telah ditunjukkan, sesuai dengan level setiap orang, mereka akan diberi kekuatan ini. Ini adalah sebuah karunia, ini adalah dukungan dan cinta dari Langit.

Semoga Allah (swt) membukakan bagi kita, bagi hati kita, dan kita telah melakukan bay’at, artinya kita harus menerima; dan ketika kita menerimanya, dan ada banyak pembukaan yang dibukakan pada malam tersebut. Jangan berpikir bahwa mereka tidak menyadari apa yang kita lakukan. Mereka ada di belakang, mendukung kita.

Kalian bisa duduk dan merasa lelah, tetapi bagi mereka hal itu tidak melelahkan. Bagi mereka, para Awliyaullah dapat melihat bahwa kalian lelah, tetapi kelelahan itu penting dalam kehidupan kalian untuk membersihkan kalian dari berbagai dosa. Sekarang, seolah-olah kalian baru dilahirkan, khususnya orang-orang dari Jakarta, maksud saya Indonesia, dan Malaysia dan Singapura, dan seluruh daerah di Timur.

Saya berbicara ke hati, itu akan menjadi naqsy (ukiran) di dalam hati. Itu akan terus bersama kalian hingga Akhir Zaman. Saya tahu karena saya sakit, dan saya tidak dapat berbicara lebih keras lagi. Alhamdulillah, ruh saya telah dibawa untuk menjadi seperti pewaris Grandsyekh dan Mawlana Syekh Nazim, di mana mereka berdua, ruhnya telah dibawa ke hadirat Mahdi (as).

Saya tidak ingin membuka hal ini, tetapi karena kalian meminta, saya katakan bahwa Grandsyekh telah diambil dari dunia, di Turki sejak dulu; dan kemudian Mawlana Syekh Nazim telah diambil menjelang wafatnya, dan sekarang sebagai pewaris dari para Syuyukh, ruh saya telah diambil untuk menjauh dari orang-orang, itulah sebabnya kami tinggal di sini, antara dua puluh sampai empat puluh hari, dan ternyata itu belum cukup, mereka meminta saya untuk tinggal dua puluh hari lagi di sini. Jadi kami akan tinggal lebih lama lagi di sini, insyaAllah, dekat Sayyidina Muhammad ﷺ.

Hajjah Naziha telah melakukan yang terbaik. Beliau terus membaca kitab suci al-Qur’an dan setiap dua atau tiga hari khatam. Beliau akan membuat sekitar dua puluh khatam, khatmil Qur’an. Jadi, inilah pekerjaannya. Karena dengan membaca Qur’an, kalian akan mengangkat para Ahlu ‘th-Thariqah, para pengamal tarekat di seluruh dunia. Mereka memberi posisi itu padanya. Awalnya beliau tidak menyadarinya, tetapi sekarang beliau sudah mengetahuinya.

Jadi, mereka mengambil ruh saya sebagai pewaris Nabi ﷺ, dan Grandsyekh serta Mawlana Syaikh, Mawlana Syaikh Nazim. Mereka membukakan dari rahasia-rahasia Al-Quran dalam Samudra Ilmu-ilmu, dan dalam Samudra Naqsy, dan dalam Samudra Iman, dan dalam Samudra Kesempurnaan, dan dalam Samudra Pertolongan, dan dalam Samudra-Samudra Thariqah, dan dalam Samudra-Samudra Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jama’ah, dan dalam samudra-samudra yang belum pernah dibukakan sebelumnya, namun kini telah terbuka melalui pertemuan ini! Alhamdulillah untuk hal ini. Kemudian mereka berkata pada saya, “Ini sudah cukup.”
Rabbana taqabbal minna bi hurmati ‘l-Fatihah
Adzan Ashar.

Apa yang Ada di Dalam Ka`bah

81565876_10214877895242998_2440839470619033600_o

Syekh Hisyam Kabbani

Fenton Zawiya, Michigan, 27 Juni 2015
Zhuhr Suhbah (2)

(lanjutan dari Shuhbah sebelumnya oleh Syekh Nour Kabbani

Saya ingin menambahkan mengenai rahasia Ka`bah yang tadi disebutkan oleh Nour [Kabbani].  Segala sesuatu mempunyai cerminannya dan Allah (swt) menciptakan segala sesuatu zawjayni zawjayn, dengan dua identitas dari seseorang: Dia memberi mereka identitas melalui ibu jari dan Dia memberinya identitas melalui retina mata mereka. Jadi kalian dapat melihat lebih baik melalui mata kalian daripada melihat dengan ibu jari kalian.  Jika mata-mata ini dibukakan melalui suatu perjuangan (riyadhah) agar mendapat petunjuk dari Allah (swt), karena Allah akan memberi petunjuk bagi orang yang berjuang untuk-Nya:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad di (Jalan) Kami, benar-benar akan tunjukkan kepada mereka Jalan-Jalan Kami, dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Surat al-`Ankabut, 29:69) 

“Orang-orang yang berjihad di (Jalan) Kami,  Kami akan tunjukkan kepada mereka Jalan-Jalan Kami”, dan ketika Dia mengatakan “jalan-jalan” itu artinya jalan yang tak pernah berakhir, di mana setiap orang akan mempunyai sebuah jalan atau sepuluh jalan atau dua jalan yang dapat diraih melalui awraad-nya; bahkan ia mungkin membuat awraad-nya sendiri dan itu adalah jalannya, dan Allah akan memberi petunjuk kepada setiap orang menuju Jalan-Nya!

Bayangkan apa yang terjadi di Masjid al-Haraam di Mekah: ketika kalian masuk, kalian melihat jutaan orang berdesakan dari berbagi penjuru dunia. Siapa yang menarik mereka bagaikan sebuah magnet, menarik mereka ke Ka`batullah, Baytullah?  Ka`bah aslinya adalah Bayt al-Maa’muur yang dibawa dengan jalan surgawi.  Ia berada di Surga Keempat! Bayt al-Maa’muur menarik rahasia itu dan menarik jutaan orang ke Ka`batullah; hakikat rahasia yang berada di Surga Keempat menarik orang untuk mengunjungi Baitullah.  Jika kalian menyingkirkan temboknya, apa yang ada di sana? Beberapa orang akan mengatakan tidak ada apa-apa, tetapi tidak: 

ما وسعني أرضي ولا سمائي ولكن وسعني قلب عبدي المؤمن

Langit dan Bumi tidak dapat menampung-Ku, tetapi kalbu orang beriman dapat mengandung-Ku. 

(Hadits Qudsi, Al-Ihya dari Imam al-Ghazali)

Ada Ka’bah di sana, di dalam hati kalian, ada qiblat, yang akan mengantarkan kalian kepada Ka`bah sesungguhnya, mengantarkan kalian ke Bayt al-Maa’muur.

Jadi itu adalah untuk Bayt al-Maa’muur dalam sepersekian detik, di mana tidak ada waktu.  Kita mengenal tiga dimensi dan waktu adalah dimensi imajiner.  Para ilmuwan berkata, “Kita akan mengambil waktu dan membaginya ke dalam fraksi dari satu detik”, dan sebanyak mungkin mereka membagi satu detik hingga ke angka 10-23 (1 dengan 23 nol) .  Di sana, pada saat itu, tidak ada waktu lagi, segala sesuatunya adalah energi, jadi di dalam Ka`bah yang kita lihat adalah Tajalli Allah (swt) dalam setiap partikel waktu terkecil, mengirimkan dari Langit Tajali Asmaul Husna wal Shifat-Nya yang berbeda-beda, itu juga yang menarik orang-orang ke Ka`batullah, untuk mencapai spiritualitas tingkat tinggi itu.  Kisah yang engkau [Syekh Nour] sebutkan mengenai Mawlana Syekh terangkat, meskipun mereka diangkat dengan jalan spiritual, dan meskipun awliyaullah dapat melihat secara fisik dan yang lain dapat melihat secara spiritual dan yang lain tidak dapat melihat apa-apa, jadi beliau diangkat dan tawafnya awliyaullah berada pada level kedua, di mana [baru-baru ini] mereka mendirikan jembatan, sebagaimana yang engkau sebutkan.  Apa rahasia Ka`bah? Itu adalah batu yang berasal dari Langit. Ada dua tempat yang berasal dari Langit: Hajar al-As`ad dan kemudian Rawdhah asy-Syarifah:

ما بين قبري و منبري روضة من رياض الجنة

Di antara kubur dan mimbarku terdapat sebuah taman dari Taman Surga. (Ahmad)

Jadi ketika kalian masuk Surga, kalian masuk tanpa dosa karena kalian tidak bisa mempunyai dosa di Surga.  Itulah sebabnya orang-orang saling mendorong untuk sampai ke sana, karena mereka tahu jika mereka melangkahkan kaki ke sana, mereka akan melangkah ke dalam Surga tanpa dihisab pada Hari Kiamat: setiap orang yang melangkahkan kaki di Rawdhah berarti melangkahkan kaki ke dalam Surga.  Jadi alasan Nabi (saw) mencium Hajar al-As`ad, sebagaimana yang disebutkan oleh Sayyidina `Ali (ra), ketika Sayyidina `Umar (ra) berkata, “Aku menciummu (Hajar Aswad), karena aku melihat Nabi (saw) menciummu, tetapi aku tahu bahwa engkau adalah sebuah batu yang tidak membahayakan dan juga tidak mendatangkan manfaat.”  

عن عابس بن ربيعة عن عمر رضي الله عنه أنه جاء إلى الحجر الأسود فقبله فقال إني أعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع ولولا أني رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يقبلك ما قبلتك

روى الحاكم من حديث أبي سعيد أن عمر لما قال هذا قال له علي بن أبي طالب : إنه يضر وينفع ، وذكر أن الله لما أخذ المواثيق على ولد آدم كتب ذلك في رق ، وألقمه الحجر ، قال : وقد سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : يؤتى يوم القيامة بالحجر الأسود وله لسان ذلق يشهد لمن استلمه بالتوحيد

Sebuah hadits mencatat ketika Khalifah kedua, `Umar ibn al-Khattab (ra) datang mencium Hajar Aswad.  Di depan semua orang yang hadir beliau berkata, “Tidak ada keraguan lagi, aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak membahayakan dan juga tidak mendatangkan manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu.”  Sayyidina `Ali (ra) menanggapi perkataan Sayyidina `Umar (ra), “Sesungguhnya batu ini (Hajar al-Aswad) dapat mendatangkan manfaat dan juga kerugian,” dan beliau mengingatkannya bahwa Allah (swt) berfirman di dalam al-Qur’an bahwa Dia menciptakan manusia dari keturunan Nabi Adam (as) dan membuat mereka bersaksi atas diri mereka sendiri dan Allah bertanya pada mereka, ‘Bukankah Aku adalah Penciptamu?’   Terhadap hal ini mereka semua mengiakannya. Jadi Allah menuliskan konfirmasi ini dan batu ini mempunyai sepasang mata, telinga dan lidah, dan ia membuka mulutnya atas perintah Allah (swt), Yang meletakkan konfirmasi tersebut di dalamnya dan memerintahkannya untuk bersaksi bagi seluruh hamba yang menegaskan keyakinannya pada Keesaan Allah.” 

Hadits lainnya mengenai keutamaan Hajar al-Aswad dari ibn `Abbas (ra):

 حَدِيث ابْن عَبَّاس رَضِي الله عَنهُ انه قَالَ: الْحجر الْأسود يَمِين الله فِي الأَرْض يُصَافح بهَا عباده أَو قَالَ:
خلقه كَمَا يُصَافح النَّاس بَعضهم بَعْضًا.

Sesungguhnya Batu itu adalah Tangan Kanan Allah di Bumi; dan melaluinya Dia bersalaman dengan hamba-hamba-Nya.  (Ibn Qutayba dalam Ghariib al-Hadits)

Untuk menjadi saksi bagi setiap orang yang pergi ke sana dan memberikan salam, walaupun dari kejauhan, karena sekarang kalian tidak leluasa untuk mencapainya.  Kalian ucapkan, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, itu sudah cukup bagi Hajar al-Aswad untuk menjadi saksi bagi kalian di Hari Kiamat bahwa kalian adalah seorang Mukmin dan Muslim dan kalian telah menyentuh Surga walau dengan mengangkat tangan kalian dari kejauhan, sehingga kalian dapat masuk ke dalam Surga tanpa dihisab.

Tinggalkan hal ini, tetapi ketika kalian melakukan shalat sunnah, Nabi (saw) menganjurkan kita untuk melaksanakan shalat setelah shalat fardhu.  Jadi, ketika kalian melakukan shalat sunnah, kalian menghadapkan wajah kalian ke arah Qiblat. Ketika kalian mengucapkan, “Allahu Akbar,” karena di dalam shalat, kalian melakukan kelima rukun Islam; kalian shalat, kalian puasa karena kalian tidak makan ketika shalat, kalian mengarahkan wajah kalian ke arah Mekah, ini adalah haji, dan kalian membayar zakat, karena kalian menyerahkan waktu kalian kepada Allah (swt) padahal kalian dapat menggunakannya untuk berbisnis.  Jadi kelima rukun Islam ada di dalam shalat. Ketika kalian mengucapkan, “Allahu Akbar,” kalian mengarahkan wajah ke arah Ka`bah, ke arah Batu Kebahagiaan atau Batu Hitam, dan ia akan menjadi saksi bagi kalian lima kali sehari, setiap kali kalian mengucapkan “Allahu Akbar,” itu sampai ke sana.  

Untuk Madinata ’l-Munawwarah, ketika kalian melakukan sunnah, seolah-olah kalian telah memasuki mihrab Nabi yang berada di Rawdhah asy-Syarifah.  Setiap kali ia (Sayyidina Zakaria) masuk ke mihrab Sayyida Maryam, ia mendapati makanan di sana.  Setiap kali ia masuk ke ruang istimewanya Sayyida Maryam, ia mendapati makanna di sana. Jadi Rawdhah asy-Syarifah dan juga mihrab tersebut seperti tempat suci di mana doa-doa dikabulkan.Sayyidina Zakariya (as) pergi ke mihrab tersebut dan berdoa agar ia dikaruniai anak dan akhirnya ia dikaruniai Sayyidina Yahya (as), di usianya yang sudah tua.  Jadi bila kalian berdoa di sana, maka tempat itu akan memberi wasilah bagi kalian di Hari Kiamat karena kalian telah shalat di sana.  

Ada begitu banyak penjelasan dan insyaAllah di lain waktu Taher akan bicara dan Ishaq akan bicara, dan kita akan melihat permata-permata yang keluar dan memberi kita cita rasa sejati, sebagaimana Ibn `Ajiiba berkata,  

Al-`ilmu`ilmaan `Ilm al-Awraaq wa `Ilm al-Adzwaaq

Ada dua jenis ilmu, yaitu ilmu kertas dan ilmu rasa.

Ada begitu banyak ulama yang menyentuh pada Ilm al-Awraaq, atau ilmu kertas, tetapi dalam `Ilm al-Adzwaaq, yakni ilmu rasa, kalian menyentuh pada Syariah dan juga Makrifat.  Kita berharap para ulama Syariah juga akan berbicara mengenai tasawwuf karena kalian memerlukan rasa tersebut, seperti ketika kalian datang untuk ifthar, berbuka puasa, setiap orang minum, tetapi kalian tidak minum dan mereka mengatakan, “Ini enak, airnya manis,” tetapi mereka tidak memberikannya kepada kalian untuk dicicipi.  Jadi para Ahl al-Haqaa’iq, para ahli hakikat, mereka memberi kalian rasa dari air tersebut, bukan hanya cangkir yang berwarna saja. 

Jadi dari yang benar-benar abstrak, `adm, dari non-eksistensi, Allah menciptakan makhluk dan dari sana Allah mengirimkan ke non-eksistensi.  Jadi karena hal tersebut, Ibn `Arabi mengatakan bahwa kita kembali kepada non-eksistensi.

http://sufilive.com/What-is-Inside-the-Kaaba–5920.html 

© Copyright 2015 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr. 

Hormatilah Orang Tuamu, Khususnya Ibumu

780d027b-f094-4ee4-bb32-f9e808664e6e

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
Zawiyah Fenton, Michigan, 16 Agustus 2012

Pesan Penting dan Sebuah Peringatan Keras / Setelah Dzikir Khatm Khwajagan

 

As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.
Audzubillahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.

Ini adalah sebuah pesan yang sangat penting yang datang kepada saya pada hari ini dari Mawlana Syekh Nazim qs, semoga Allah (swt) memanjangkan umurnya, dan juga dari Grandsyekh Abdullah `ad-Daghestani (qs). Ini adalah sebuah peringatan untuk semua orang.  Kalian harus sangat berhati-hati terhadap pesan ini.

Sebagian orang mungkin tidak menganggap nasihat ini sebagai suatu yang penting, tetapi pesan Mawlana ini sungguh sangat penting.  Meskipun mungkin terlihat seperti pesan yang sangat sederhana untuk semua orang, tetapi pesan ini tidak sederhana di hadapan Allah (swt).  Ini adalah masalah yang sangat berbahaya dan hampir semua orang terjatuh dalam bahaya di dalamnya!

Pesannya adalah tentang perlakuan kalian terhadap orang tua kalian.  Siapa pun yang berteriak, memaki orang tua mereka, maka ia tidak akan melihat wajah Mawlana Syekh Nazim (qs) pada Hari Perhitungan dan beliau tidak akan mendoakan mereka!

Allah (swt) telah menyebutkan dalam Al-Qur’an suci:

Wa qadhaa rabbuka allaa ta`budu illaa iyyaahu wabi ‘l-waalidayni ihsaanan immaa yablughanna`indaka’ l-kibara ahaduhumaa aw kilaahumaa falaa taqul lahumaa uffin wa laa tanharhumaa wa qul lahumaa qawlan karim.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.  Jika salah seorang di antara mereka atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah perkataan yang baik kepada keduanya. (QS. Al-Isra’, 17:23)

Mengatakan “Ah” kepada orang tua kalian menunjukkan bahwa mereka menyebalkan bagi kalian.  Ketika orang tua kalian mengatakan sesuatu, bahkan hanya satu kata; tiba-tiba kalian marah dan melawan orang tua, sementara Allah (swt) mengatakan dalam Al-Qur’an bahwa kita bahkan tidak boleh mengatakan “Ah” kepada orang tua kalian, karena Allah (swt) akan melarang kalian masuk kedalam surga-Nya, khususnya mereka yang memaki, dan menyumpahi orang tua mereka, baik ayah maupun Ibunya!

Mawlana Syekh Nazim (qs) mengatakan bahwa ada tajali yang datang sekarang ini terutama pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan.  Siapa pun yang memaki di hadapan Ibu atau Ayahnya, maka Nabi Muhammad (saw) tidak akan memandangnya di Hari Perhitungan dan Mawlana Syekh Nazim (qs) tidak akan melihat wajahnya dan ia tidak akan mendapatkan syafaatnya!

Banyak sekali anak-anak muda saat ini yang membentak orang tua mereka.  Mereka memberontak melawan orang tuanya dan melarikan diri dari rumah.  Mereka pikir mereka mempunyai pemikiran yang hebat dan orang tua tidak tahu apa-apa. Jika saya mendengar seseorang memaki Ayah atau Ibunya, maka saya akan melaporkannya kepada Mawlana Syekh Nazim (qs) dan Mawlana akan melaporkan kepada Nabi Muhammad (saw)!  Ini adalah suatu peringatan yang keras, dan teguran Mawlana sangat keras, dan kita mendapatkan izin untuk berbicara seperti ini, kita mendapatkan izin dari Nabi Muhammad (saw), di mana beliau (saw) bersabda,

Al-jannatu Tahta aqdaami ‘l-ummahaat.
Surga terletak di bawah kaki ibu. (HR Bukhari, Muslim)

Kalian tidak akan dapat masuk Surga, jika kalian berteriak memaki Ibu kalian!  Waspadalah!  Nabi (saw) memperingatkan umat Muslim untuk berhati-hati dan memahami bahwa orang tua kalian adalah suci dalam pandangan Allah, karena merekalah yang melahirkan kalian, merawat kalian, memberi makan kalian, mereka menghabiskan hidup mereka demi menjaga kalian, mereka melakukan segala sesuatu untuk kalian sehingga kalian bisa hidup bahagia!

Lihatlah, sekarang kalian seperti melemparkan batu di wajah mereka dengan memaki dan marah kepada mereka; dan menolak untuk mengikuti apa yang mereka nasihatkan kepada kalian.  Kalian memberikan berbagai masalah yang menyusahkan mereka dan juga meminta hal-hal yang tidak bermanfaat sama sekali.  Lihatlah mereka membelikan kalian pakaian, perhiasan, sepatu, bahkan mobil, mereka membelikan segala sesuatu yang kalian perlukan dan mereka menyekolahkan kalian ke sekolah terbaik, tetapi pada akhirnya kalian datang dan memaki mereka di depan wajah mereka!

Saya mengatakan hal ini untuk pertama kali dan juga terakhir kalinya, “Siapa pun yang memaki dan menyumpahi orang tuanya khusunya Ibunya, dan juga Ayahnya, maka ia tidak akan masuk Surga-Nya, dan Nabi (saw) bersabda bahwa orang pertama yang harus kalian beri penghormatan tertinggi adalah ibu kalian.  Jadi, kalian harus sangat berhati-hati dalam hal ini.

Dan ingatlah bahwa jika kalian memaki dan marah di depan wajah mereka, maka Mawlana Syekh Nazim Adil Haqqani (qs) tidak akan memandang kalian!  Awliyaullah senantiasa melihat dan menjaga kalian, tetapi bila kalian marah kepada orang tua kalian, maka mereka akan melempar kalian dalam kesulitan.  Maka malulah kalian pada diri sendiri karena pada Hari Kiamat dan hari Perhitungan, kalian akan mendapat banyak penderitaan, baik di dunia maupun di Akhirat.  Mengapa orang-orang menderita berbagai penyakit?  Hal ini karena energi negatif yang masuk ke dalam tubuh mereka akibat pertengkaran antara orang tua dan anak-anaknya!

Jadi hari ini kalian harus berjanji dalam hati, berjanji di depan Nabi (saw), berjanji di depan Mawlana Syekh Nazim (qs), di depan Grandsyekh Abdullah Faiz `ad-Daghestani (qs) dan di depan semua orang!  Katakanlah, “Yaa Rabbii, tubtu wa raja’tu ilayh,”  Wahai Tuhanku aku memohon ampunan-Mu, aku bertobat dan kembali ke jalan-Mu!  Maafkan kami yaa Allah dan terimalah tobat kami”.

Kalian harus berjanji mulai hari ini, tidak boleh ada pertengkaran antara kalian dengan orang tua kalian. Jika kalian melawan orang tua kalian, maka saya akan memalingkan wajah saya dari kalian dan kalian akan terputus di dunia ini, kalian akan ditinggalkan sendirian, dan kalian tidak dapat menikah, memiliki anak-anak, kalian tidak akan menemukan istri atau suami yang baik, dan kalian akan sangat menderita!  Jangan pernah marah sekalipun dalam menghadapi Ibu atau Ayah kalian.  Katakan “Sami’na, wa atha’na“, “Kami mendengarkan dan kami taat.” Apakah kalian akan mematuhi kata-kata saya ini? [Ya!]  Untuk setiap orang yang berada di sini, berjanjilah dan angkat tangan kalian!  al-Fatihah.

Saat ini begitu banyak keluhan datang dari seluruh murid di seluruh dunia tentang masalah ini, sehingga hal ini sampai ke hati Mawlana Syekh Nazim (qs).  Grandsyekh `AbdAllah Faiz ad-Daghestani (qs) mengatakan (dan saya memberitahu kalian), “Jangan membuat Ibu atau Ayah kalian masuk ke dalam penderitaan yang berat karena diri kalian!  Taatilah mereka, dan jangan menjadi seorang anak yang selalu memberontak dan melawan orangtua kalian.”

Jadilah anak yang baik, jadilah warga negara yang baik, jadilah orang yang baik yang setia kepada masyarakatnya, dan terutama untuk Ayah dan Ibunya.

Wa min Allahi ‘at-Tawfiq, Bi hurmati’ l-Habib, Bi hurmati ‘l-Fatihah.

http://sufilive.com/Respect_Your_Parents_Especially_Your_Mothers-4521.html
© Copyright 2012 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

Jahiliyah Kedua dan Kedatangan Imam Mahdi (as)

IMG-20160831-WA0001

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
London, 25 Maret 1992

22 Ramadhan 1412 

Wahai saudara-saudariku, khususnya yang baru bergabung, kalian semua datang ke sini karena cinta kepada Syekh.  Kalian tidak datang karena cinta terhadap Islam. Tak seorang pun yang datang ke London karena cintanya kepada Islam.  Kita semua, termasuk pembicara, datang karena cinta kepada Syekh, beliau menunjukkan jalan kebenaran kepada kita, beliau menunjukkan pula bahwa jalan kebenaran itu melalui Islam.  

Allah (swt) telah menciptakan manusia dalam pola keislaman.  Benih keislaman terdapat dalam setiap orang. Islam, seperti keselamatan, berarti “damai” dalam bahasa Arab, dan ia merujuk pada kedamaian hati.  Cahaya kedamaian Allah (swt) telah diberikan ke dalam hati setiap manusia. Tanpa disadari, kita semua datang kepada Mawlana Syekh Nazim (q) melalui pintu cinta, pintu tawaduk dan penghormatan, dan beliau telah membawa kita ke dalam Islam.  

Mengapa para Sahabat menerima Rasulullah (saw)?  Mengapa Allah (swt) memilih makhluk terbaik untuk menjadi Rasulullah?  Sebab akhlak yang baik selalu membuat orang tertarik, sebaliknya akhlak yang buruk tidak akan mampu melakukan hal itu.  Ketika kita melihat akhlak Mawlana Syekh Nazim (q), kita akan tertarik kepadanya. Daya tarik itu membuat kita mengikuti jalannya, yang pada kenyataannya merupakan jalan keimanan dalam Islam.  

Di Amerika, banyak orang yang mendatangi kita, dan setelah kedatangan mereka yang ketiga atau keempat kalinya, mereka minta syahadat, ikrar keimanan dalam Islam, mereka bahkan tidak mengetahui apa yang membuat mereka terinspirasi untuk bersyahadat.  Setelah mereka duduk dan shalat bersama kita, ketika mereka ditanya apa agama mereka, mereka menjawab, “Kami adalah Sufi”. Hal ini disebabkan karena mereka tidak datang semata-mata karena Islam. Selang beberapa waktu kemudian, empat sampai enam bulan, mereka baru menyadari bahwa mereka adalah Muslim! 

Islam adalah ajaran spiritual yang tertinggi, dan ia merupakan agama Allah.  Nabi Musa (as) membawa Judaisme kepada umat Yahudi di masa mereka. Ketika Nabi ‘Isa (as) datang, Judaisme diambil alih dan setiap orang percaya kepada Nabi ‘Isa (as).  Ketika Nabi Muhammad (saw) datang, semuanya lenyap, yang tersisa hanya Islam. Oleh sebab itu, kepercayaan yang tertinggi adalah Islam.  

Mengapa kita tidak menyangkal Nabi Musa (as), tetapi umat Yahudi menolak Islam?  Mengapa kita tidak menyangkal Nabi ‘Isa (as) tetapi orang Kristen, yang mengakui Nabi Musa (as), malah menyangkal Islam?  Kita tidak menolak siapa pun. Ini merupakan bukti kesempurnaan. Sesuatu yang tidak sempurna tidak mungkin dapat melampauinya.  Rasulullah (saw) adalah yang tertinggi, dan itulah sebabnya agama lain tidak dapat menjangkaunya. Namun demikian, sebagai Muslim dan pengikut Rasulullah (saw) dan mematuhi ajarannya, kita menerima orang-orang Kristen, sebab kita tahu bahwa mereka benar dalam mengakui Nabi ‘Isa (as), dan kita juga menerima orang-orang Yahudi karena mereka menerima Nabi Musa (as).  Sama halnya dengan orang-orang Kristen yang tingkatannya lebih tinggi dari orang-orang Yahudi karena agama mereka lebih sempurna—mereka bisa melihat Nabi Musa (as) sebagai seorang rasul, tetapi umat Yahudi tidak dapat melihat Nabi ‘Isa (as) sebagai rasul, mereka tidak bisa melihat yang lebih tinggi atau yang paling tinggi tingkatannya.  

Ketika Nabi Musa (as) datang, Allah (swt) memberinya seratus pelat (kepingan-kepingan berisi ajaran Allah).  Ketika beliau kembali dari berkhalwat kepada Allah (swt) selama empat puluh hari dan melihat bahwa umatnya telah menyimpang dari jalan yang benar, beliau melemparkan pelat-pelat itu, sehingga sembilan puluh delapan di antaranya hilang.  Hanya dua pelat yang diberikan kepada umatnya. Itulah salah satu contoh ketidaksempurnaan yang sifatnya relatif dalam agama, yang mengharuskan umat Kristen untuk terus melakukan proses penyempurnaan, dan kelanjutan proses ini, serta penyempurnaan agama Kristen dilakukan oleh Islam. 

Islam datang untuk membawa orang-orang dari kegelapan menuju cahaya.  Masa itu disebut Jahiliyah yang dalam bahasa Arab berarti Masa Kebodohan.  Menyesal sekali, di abad sekarang ini terjadi lagi Jahiliyyah Ukhra.  Di mana-mana kalian bisa menjumpai kebodohan tersebut.  Orang-orang yang berada di jalan yang benar ditentang, tidak disukai, diserang dan dilawan.  Orang-orang yang salah justru dipuja dan dihormati. Hal ini telah diprediksi oleh Rasulullah (saw),

Yukhawwanul amiin wa yushaddaqul khaa’in,”
orang yang khianat dipercaya tetapi orang yang jujur tidak dipercaya.
 

Kita telah sampai pada akhir zaman.  Tidak ada lagi waktu yang tersisa bagi dunia ini untuk terus berlanjut.  Hari ini kita mendengar kabar yang sangat mengejutkan, Tarekat Naqsybandi dilarang di salah satu negeri Timur Tengah.  Ini adalah pengaruh dari golongan Wahabi. Dengan uang mereka, mereka berusaha mengontrol dan memerangi cinta kepada Rasulullah (saw).  Mereka tidak suka orang lain mencintai Rasulullah (saw), dan untuk itu Allah (swt) akan menempatkan mereka di bawah kaki para pengikut Tarekat Naqsybandi.   

Wahabi menyebarkan ajaran yang salah untuk menentang pengikut Rasulullah (saw) dan menentang ajaran keempat mazhab, untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang kering dan liar.  Merekalah yang bertanggung jawab terhadap skandal yang baru-baru ini terjadi, yang menyebabkan Islam mempunyai nama buruk di muka Barat. Mereka berkata bahwa kaum Yahudilah yang harus bertanggung jawab dalam melontarkan gagasan bahwa Islam adalah agama yang liar.  Sebenarnya hal ini tidak benar dan kebalikannya yang benar, hal-hal yang menyakitkan bagi Islam lebih banyak berasal dari golongan Wahabi daripada Yahudi. Kebencian Wahabi terhadap Rasulullah (saw) melebihi orang-orang Yahudi, bahkan lebih buruk lagi. Ketika Imam Mahdi (as) datang, ia akan memenggal leher 70.000 orang pengikutnya untuk  membersihkan bumi ini dari orang-orang kotor yang menyebarkan ajaran Wahabi secara luas dari Timur ke Barat dengan uang mereka. Mereka membeli institusi keagamaan di setiap negeri. Mereka memprovokasi orang dengan memberikan banyak uang agar cintanya terhadap Rasulullah (saw) menjadi luntur.  

Ada sejarah yang panjang mengenai hal ini.  Di masanya, mereka mendatangi Rasulullah (saw) dan meminta agar beliau berdoa untuk mereka.  Beliau bersabda,

“Allaahumma baarik lanaa fii Syaaminaa wa fii Yamaninaa.”
“Yaa Allah, berkahilah Syam kami dan Yaman kami.”

Mereka bertanya, “Bagaimana dengan Nejd, Ya Rasulallah (saw)?”  Nejd adalah seluruh area yang mencakup Riyadh sekarang ini. Di lain kesempatan Rasulullah (saw) bersabda, “Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman.”  Mereka lalu bertanya lagi, “Bagaimana dengan Nejd?” dan lagi-lagi beliau tidak menjawab pertanyaan mereka, kecuali dengan permohonan rahmat terhadap Syam dan Yaman.  Ketiga kalinya mereka bertanya tentang Nejd, Rasulullah (saw) bersabda,

Yakhruju minha qarnayyi ‘sy-syaythani wa yakthuru fiha az-zalazilu wa ‘l-fitan.” 
Kedua tanduk Setan akan muncul di sana, dan keguncangan-keguncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah dan korupsi akan banyak terjadi di sana.”  (Bukhari—Muslim).

Sekarang adalah awal dari kejadian yang telah diprediksi dalam hadits tersebut.  Dalam hadits yang lain Rasulullah (saw) bersabda, 

Sawfa tudhi’u naarun min ardhi Najdin yashra’ibbu laha a’naqul ibili bi Bushra,”
“Api seperti itu akan datang dari tanah Nejd sehingga unta di Bushra akan lari karena panasnya.” (Bukhari—Muslim).  

Itu terjadi tahun lalu (Perang Iraq).  Oleh sebab itu persiapkanlah diri kalian, bukan untuk yang terbaik tetapi untuk yang terburuk.  Bukannya kemajuan yang akan muncul, melainkan masa-masa kegelapan. Barulah setelah masa tersebut akan datang masa keemasan, yaitu masanya Imam Mahdi (as).  

Dalam waktu dekat banyak kejadian yang akan terjadi di sekitar kita.  Setiap orang dari kita harus berhati-hati menjaga imannya, termasuk iman istri dan keluarga, serta anak-anaknya.  Setan tidak akan meninggalkan orang sendirian. Ia mencoba untuk mengubah iman kalian dan menggoyahkan cinta kalian terhadap para Awliya, pengikut Sufi, dan Rasulullah (saw). 

Allah (swt) berfirman dalam Hadits Qudsi,

“lawla Muhammadun ma khalaqtu ahadan min khalqi.”
“Jika bukan untuk Muhammad (saw), Aku tidak akan menciptakan satu makhluk pun.” 

Mereka menentang Rasulullah (saw) sebab mereka pikir beliau akan berasal dari golongan mereka, dari Nejd.  Mereka tidak menerimanya, bahkan di masanya sekalipun. Mereka itu termasuk orang-orang munafik, sama seperti sekarang ini.  Hal ini telah dilukiskan dalam al-Quran. Jika kalian membacanya, kalian akan menemukannya di sana. Ketika Imam Mahdi (as) datang dan berkata,”Laa hawla wa laa quwwata illa billaahi ‘l-`Aliyyi ‘l-`Azhiim,” mereka akan gemetar ketakutan terhadap apa yang akan menimpa mereka.  

Mereka mempersiapkan dirinya untuk peristiwa itu dengan bantuan dari negara-negara Barat.  Mereka menyimpan senjata dengan harapan dapat membantu mempertahankan kerajaan mereka. Tidak akan!  Jika Allah (swt) menginginkan yang lain, Dia dapat mengirimkan gempa bumi dan segalanya akan musnah. Tetapi Allah (swt) meninggalkan mereka karena mereka menyebarkan fitnah, pemandu mereka akan kebingungan, dan Allah (swt) menguji hati hamba-hamba-Nya dan mengecek siapa di antara mereka yang hatinya baik dan siapa yang tidak.  

Bergembiralah, karena halaqah kita, halaqahnya Mawlana Syekh Nazim (q) adalah halaqah yang terbaik, dan termasuk halaqah yang langka, yang menunggu kedatangan Imam Mahdi (as), insya Allah, beliau akan muncul.  Imam Mahdi (as) melihat kegelapan sekarang dan dengan senang hati beliau akan segera muncul.  Mawlana berkata jika kalian meletakkan cinta itu pada semua gunung di bumi ini, gunung-gunung itu akan hancur luluh menjadi kerikil dan debu.  Sampai sekarang, meskipun dengan cinta seperti itu, beliau masih menunggu untuk muncul sebab izin dari Allah (swt) belum diberikan kepadanya. Beliau menunggu izin itu, dan izin itu insya Allah akan diberikan kepada kita semua, sebab kehadiran Imam Mahdi (as) menandakan kehadiran Syekh kita, dan kehadiran Syekh adalah kehadiran kita semua sebagai pengikutnya.   

Kehadiran Syekh ada di tangan Rasulullah (saw).  Sekarang kita mendatangi Mawlana untuk bersalaman atau menciumnya, suatu saat nanti kalian tidak akan mampu mendekatinya, karena kalian akan melihat jutaan orang mencoba mendekatinya, seperti yang kita lakukan sekarang ini, melihat dan menyentuhnya.  Itu adalah masa keemasan, dan insya Allah, Allah (swt) akan memanjangkan umur kita untuk menyaksikan masa itu.  

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah (saw) kepada para Sahabat mengenai tanda-tanda Hari Kiamat, “Afdhalul ummah,akhyarul ummah akhirul ummah,” “Umat terbaik, umat yang paling disukai, adalah umat terakhir,”  Sayyidina ‘Umar (ra) mengangkat tangannya dan berkata, “Ya Rasulallah, Aku rela untuk mengorbankan semua pahala yang engkau berikan kepadaku agar Aku bisa dimasukkan sebagai umat terakhir!”  Rasulullah (saw) menjawab, “Tidak, ini hanya untuk mereka saja.” 

Alhamdulillah, kita talah mencapai masanya umat terakhir.  Rasulullah (saw) bersabda, 

Idza saluhat ummati falaha ma’ishatu yawmin wa in fasudat falaha ma’ishatu nisfi yawmin, wa innayawman ‘inda rabbika ka’alfi sanatin mimma ta’uddun,” 
“Jika umatku tetap menjaga kemurniannya dan berlaku baik, mereka akan merasakan kenikmatan selama satu hari, tetapi bila mereka korup, mereka tinggal menyisakan setengah hari.” (hadits)

Dan satu hari menurut perhitungan Allah (swt) adalah 1000 tahun menurut perhitungan kalian.” [al-Hajj: 47].  

Dengan demikian menurut Rasulullah (saw), Allah (swt) telah memberikan kita seribu lima ratus tahun.  Sekarang kita berada di tahun 1412 hijriah (1992 M), tidak banyak lagi waktu yang tersisa untuk dunia ini. 

Semua tanda bagi kedatangan Nabi ‘Isa (as) sudah ada, beliau akan memerintah dunia ini selama empat puluh tahun, begitu pula untuk Imam Mahdi (as) yang muncul mendahului beliau dan akan memerintah selama tujuh  tahun.  Peristiwa ini akan terjadi tak lebih dari delapan puluh tahun yang akan datang. Kita telah mendekati akhir zaman dan tidak ada lagi waktu yang tersisa. Kita harus mempersiapkan diri kita dengan jalan mempersiapkan hati kita.  Bagaimana cara melakukan hal itu? Caranya adalah dengan meninggalkan nafs, ego kita. 

Kita bertanya,”Bagaimana kita dapat meninggalkan ego seperti yang selalu dikatakan oleh guru kita, Mawlana Syekh Nazim (q)?”  Setiap orang mempunyai ego. Bila Allah (swt) tidak memberikan ego kepada kita, kita semua akan menjadi malaikat tanpa dosa. Suatu hari Sayyidinna Abu Yazid al-Bisthami (q) pergi ke Ka’bah, sambil memegang rantai di pintu Ka’bah, baliau berdoa, “Wahai Tuhanku, izinkanlah Aku merantai kaki Setan dan menahannya, dengan kekuatan yang Engkau berikan kepadaku, sehingga seluruh makhluk dapat melihatnya, dan ia tidak dapat melihat orang-orang, sehingga ia tidak dapat mengganggu hamba-hamba-Mu lagi dan mereka semua tidak lagi berdosa!”  Allah (swt) telah memberikan wali ini kekuatan yang luar biasa sehingga beliau dapat berdoa seperti itu. Tetapi Allah (swt) berbicara melalui hatinya, “Wahai Abu Yazid (q), lihatlah di atasmu.” Ini berarti, lihatlah ke dalam maqam yang lebih tinggi dalam hatinya. Ketika Abu Yazid (q) melakukannya, beliau kehilangan kesadarannya dan tetap tinggal di sana selama 1 jam. Setelah bangun, beliau merayap ke pintu Ka’bah dan berbisik, “Ya Afuw, Ya Afuw, Wahai Yang Maha Pengampun, ampunilah aku!” 

Dan Allah (swt) berkata, “Wahai Abu Yazid (q), untuk siapa Aku meninggalkan Samudra Rahmat yang telah Ku-ciptakan kalau bukan untuk hamba-hamba-Ku?  Jika Aku membiarkan engkau merantai setan, maka orang-orang menjadi tidak berdosa, sementara Aku adalah Yang Maha Pengampun!” “Ana ‘l-Ghafuru ‘r-Rahiim” [al-Hajr: 49], Aku Maha Pengampun dan Maha Penyayang!  Siapa lagi yang akan Ku-ampuni kalau bukan para pendosa? Jika mereka menjadi tidak berdosa mereka akan seperti malaikat, tanpa mengenal tingkatan.  Biarkan mereka berdosa, Aku akan mengampuni mereka dan akan Ku angkat derajatnya lebih tinggi. Samudra Rahmat ini adalah untuk para pendosa. Oleh sebab itu, jangalah ikut campur dalam Kehendak-Ku.  Aku adalah pencipta manusia, dan Akulah yang menjaga dan melindungi mereka dari Setan, dengan Samudra Rahmat ini, biarkan mereka datang kepada-Ku ketika mereka berdosa.”

Jika seorang anak kecil terluka, ia akan segera berlari kepada ibu atau ayahnya.  Ketika Setan melukai kalian dan membuat kalian berdosa, berlarilah menuju Allah (swt) dan katakan, ‘Ya Allah, Aku telah berbuat dosa, ampunilah aku.’  Kalian akan segera mendapatkan pengampunan-Nya. Mengapa wahai para pendosa, kalian tidak datang kepada Allah? Mengapa kita tidak, dengan seluruh ego kita, datang kepada Allah?  Kita harus mendatangi-Nya. Bergegaslah dan dapatkan pengampunan-Nya, tetapi jika kalian tidak datang kepada-Nya, bagaimana Dia dapat memaafkan kalian? 

Kita berkata, ”Bagaimana kita dapat menghindari ego kita?” Mawlana Syekh Nazim (q) memberikan teladan yang sangat baik untuk menjauhi ego kita.  Setiap hari tuliskan sebanyak-banyaknya perilaku buruk yang ada dalam hati kalian dan yang kalian lakukan pada hari itu. Setiap orang mempunyai sedikitnya 700 karakter buruk dalam hatinya.  Semuanya harus dibersihkan dari diri kita. Beberapa orang berkata, “Kami tidak mempunyai perilaku yang buruk.” Tidak!! Duduk dan renungkanlah, dan tuliskan perilaku buruk apa saja yang masih ada dalam hati kalian.  Setiap orang mengenal dirinya sendiri dan tahu bahwa hatinya menyimpan perilaku buruk. Tuliskanlah, dan cobalah setiap hari menghilangkan satu perilaku buruk tersebut. Hari demi hari akan kalian lihat bahwa kalian telah meninggalkan perilaku buruk itu satu per satu. 

Setan tidak akan membiarkan orang melakukan hal ini.  Ketika kalian duduk dan merenung, kalian akan menemukan begitu banyak perilaku buruk yang bisa kalian pikirkan.  Kita semua adalah pendosa, kalian lebih mengenal diri kalian daripada orang lain. Namun ketika seorang Wali melihat ke dalam hati kalian, ia tahu apakah kalian bersih atau tidak.  Dengan demikian, ia tahu, kapan ia akan mengirimkan kalian untuk berkhalwat atau tidak sama sekali. Khalwat berarti kalian mencoba untuk maju dan meninggalkan perilaku buruk. Ketika seorang Wali melihat bahwa kalian mencoba meninggalkan perilaku buruk di dalam hati, ia akan memberikan izin untuk berkhalwat.  Tetapi kalau ia tidak melihat hal ini, tentu saja ia tidak mungkin memberikan izin tersebut. 

Perangilah ego kalian!  Apa pun yang diinginkan olehnya, lakukanlah yang sebaliknya.  Jangan menerima nasihat darinya, sebab ia akan menyesatkan kalian.  “Fa la tuzakku anfusakum,” “Jangan menyembah dirimu sendiri,” “Jangan pernah memberikan alasan kepada ego” [an-Najm: 32] “An-nafsu ammaratun bissu’” Ego kalian selalu menganjurkan, mengizinkan dan menyuruh kalian untuk berbuat sesuatu yang buruk dan melakukan kesalahan.  Oleh sebab itu jangan sekali-kali mendengarkannya, sebagaimana sabda Rasulullah (saw), ”Jangan dengarkan dirimu sendiri, tetapi dengarkan aku.”  Tetapi siapa yang mau mendengarkan Rasulullah (saw)? Tidak ada. 

Alhamdulillah, kelompok kita mendengarkan dengan cinta mereka.  Cinta itu akan membawa kita keluar dari kegelapan dunia dan menuju cahaya dari akhirat.  Mawlana berkata bahwa seorang Badui mendatangi Rasulullah (saw) ketika beliau sedang berada di mimbar menyampaikan khotbah Jumat.  Orang itu berdiri di pintu masjid dan berkata, “Yaa Sayyidi yaa Rasulallah, matas saa`atu yaa Rasulallah,” “Ya Rasulallah (saw) kapankah Hari Kiamat tiba?” “Mendengar dan melihat hal ini para Sahabat yang duduk di sana menjadi geram, seolah-olah mereka ingin membunuhnya karena orang itu berbicara dengan nada tinggi, namun tentu saja hal itu tidak diperbolehkan.  Ketika seorang pemimpin berada di sana, para pengikut tidak diperkenankan melakukan apa pun. 

Ini adalah adab! Ketika Mawlana berada di antara kalian, apa pun yang kalian lihat, siapa pun yang datang, siapa pun yang lewat, jangan menoleh kepada mereka.  Mata kalian harus selalu tertuju pada Syekh. Ketika beliau di sana, beliaulah yang menjadi pemimpin dan kalian tidak bertanggung jawab atas apa pun. Bahkan jika kalian melihat anak-anak membuat keributan, atau seseorang melakukan suatu perbuatan buruk, jangan ikut campur, beliau yang akan menanganinya.  

Jika seseorang masuk pada saat Syekh sedang memberikan shuhbah, ia harus duduk di mana pun tempat yang ditemukannya.  Pada saat itu mendatangi Syekh dan mencium tangannya adalah tarkul adab, bertentangan dengan adab, tidak hormat.  Mereka harus memberi salam dalam hati lalu duduk dan menyembunyikan diri mereka.  Kita juga tidak boleh melihat orang-orang yang baru datang, atau memberi salam, atau menjawab salam mereka.  Hanya Syekh yang memberi atau membalas salam. Andaikata ada beberapa orang yang datang, bersalaman dengan Syekh, kemudian  bersalaman dengan yang lainnya dengan membelakangi Syekh, semua itu adalah adab yang buruk. Setelah kalian memberi salam kepada Syekh, selesai, dan kalian boleh duduk.  

Para Sahabat marah tetapi tidak dapat berbicara apa-apa di hadapan Rasulullah (saw).  Ketika Badui itu berbicara dengan keras untuk ketiga kalinya, “Kapankah Hari Kiamat tiba?”  Saat itu Jibril (as) datang dan meminta Rasulullah (saw) untuk menjawabnya. Lalu beliau pun menjawabnya.  

Dari teladan ini, kita bisa melihat bagaimana Rasulullah (saw) secara konstan mendengar dan patuh.  Hanya ketika ada inspirasi yang datang, beliau patuh dan menjawabnya. Kita tidak mendengar Syekh dan tidak juga mematuhinya.  Kita hanya patuh ketika kita bisa memperlihatkannya kepada semua orang, misalnya ketika mendapat hak istimewa untuk membawakan sepatu beliau, tongkat atau jubahnya.  Ketika diperintahkan untuk meninggalkan ego kalian dan perilaku buruk kalian, tiada yang menghormatinya lagi. Pada saat itu kita lebih suka mendengarkan ego kita dari pada perintah Syekh.  Berhentilah membawakan jubah untuk Syekh, jika kalian ingin agar orang lain melihatnya. Tetapi berlarilah dalam hati kalian menyambut perintahnya untuk meninggalkan ego kalian, dan dengarkan perintahnya, jagalah ego kalian. 

Rasulullah (saw) berkata, “Wahai orang Badui, Hari Kiamat adalah suatu perjalanan yang panjang, dan engkau membutuhkan banyak bekal untuk itu; amal dan ibadah apa yang telah engkau persiapkan?”  Orang itu menjawab,”Ala mahabbatuka, Yaa Rasulallah,” “Bukankah Aku mempunyai cintamu, Ya Rasulallah! Cintamu, Ya Rasulallah! Cintamu!” Dan Rasulullah (saw) pun membalas, “Kafi yai’rabi,” “Ya, itu sudah cukup wahai orang Badui, engkau akan bersama orang yang engkau cintai”(diriwayatkan oleh Bukhari, Ahkam).  Orang itu pergi, bahkan tanpa masuk ke dalam masjid dan shalat bersama yang lain.  

Cinta kepada Syekh adalah sangat penting.  Ia akan membawa kalian bersamanya ke mana pun beliau pergi!  Jangan sampai membiarkan cinta itu menjadi lemah! Apa pun yang terjadi, jangan menerima serangan terhadap cinta itu.  Jika orang Wahabi mendatangi kalian dan menentang apa yang kalian lakukan dengan mengatakan, ”Ini syirik, ini bid’ah, ini tidak baik,” jangan dengarkan mereka.  Ambil tongkat dan pukul mereka. Jangan coba-coba untuk menasihati mereka. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau mendengar dan sangat keras kepala, sehingga mereka tidak akan menerima kalian.  Oleh sebab itu, jangan dengarkan mereka.  

Sufisme tidak pernah merupakan syirik atau bid’ah selama 1400 tahun dan tidak bisa dinyatakan demikian karena 30 tahun  yang lalu. Pernyataan yang keliru ini timbul karena kebencian terhadap Rasulullah (saw) dalam hati orang-orang itu. Jangan dengarkan mereka,   jangan pergi ke masjid mereka, jangan shalat dengan mereka. Jika kalian tidak menemukan masjid yang imamnya mencintai Rasulullah (saw) dan memujinya, jangan shalat di sana, shalatlah di rumah.  Kalau tidak, kegelapan akan menyelimuti hati kalian, berhati-hatilah, Grandsyekh berkata bahwa satu jam bersama orang yang tidak mempunyai cinta terhadap Rasulullah (saw) atau Syekh dalam hatinya, akan mendatangkan setahun kegelapan di dalam hati kalian.  Perlu waktu satu tahun untuk membersihkan kegelapan itu dari hati kalian! Dengan demikian, jagalah diri kalian, jangan dengarkan orang-orang seperti itu. Jangan takut. Ketika mereka datang kepada kalian, katakanlah, “Lakum diinukum wa liya diin.”  “Bagimulah agamamu dan bagikulah agamaku.” [al-Kafirun: 6].  Jika mereka menyangkal bahwa kalian bukan Muslim, katakanlah, “Kami Muslim, kalianlah yang bukan!” 

Kita adalah orang-orang yang mengikuti jalur yang benar, jalannya Rasulullah (saw), para Sahabat, khalifah Rasulullah (saw), dan keempat imam dalam Islam.  Keempat imam itu mempunyai Syekh yang sufi! Mereka belajar kepada Syekh, walaupun ada beberapa Syekh yang buta huruf, misalnya, Syekh Bisyr al-Hafi (q) dan Syekh Syayban ar-Ra’i (q).  Setiap kali Imam Syafi’i bersama Syekh Bisyr al-Hafi (q) yang membuat tujuh kesalahan dalam membaca al-Fatihah, beliau tetap meminta Syekhnya untuk menjadi imam shalat. Syekh Bisyr (q) membaca, bukan dari ilmu-ilmu dari buku, melainkan dari cahaya hati.  Inilah yang kita butuhkan. Insya Allah, kita berdoa semoga cahaya akan diberikan kepada kita karena kecintaan kita kepada Syekh.  Semoga kecintaan kepadanya juga akan berkembang di hati kita. Tanpanya kita tidak akan bisa sampai ke pintu Rasulullah (saw).  

Kita harus bersikap rendah hati kepada sesama dan kepada orang lain.  Menerima saudara-saudari kita bukanlah suatu kejahatan. Agama ini berdasarkan cinta, agama ini berdasarkan hormat, dan agama ini berdasarkan kerendahan hati.  Jika kita tidak mempunyai perilaku yang baik ini, kita tidak akan menemukan Cahaya Allah dalam hati kita, sebagaimana yang diterangkan Allah (swt) dalam Hadits Qudsi, “Qalbu ‘l-Mu’min baytur Rabb,” “hati orang-orang yang beriman adalah rumah Allah.”  Untuk menjadi seorang Mukmin yang baik berarti menjadi seorang yang rendah hati, penuh hormat, dan mencintai sesama.  Tanpa ketiga perilaku baik ini, kalian tidak akan menemukan cahaya dalam hati kalian dalam kehidupan ini, ketika kita meninggal dan mengeluarkan tujuh napas terakhir—tanpa menghirup, tetapi hanya mengeluarkan—pada saat itu Syekh kita berada di sana untuk menarik kita ke dalam hatinya.  Sampai detik itu, kita tidak akan menemukan atau melihat cahaya hati kecuali, pertama kita harus memiliki ketiga perilaku baik tersebut. Berusahalah untuk mendapatkannya sekarang. Berusahalah untuk mempengaruhi ego kita agar menerima ketiga sifat ituBersikaplah rendah hati, jika seorang menyakiti kalian, jangan sakit hati, datangilah ia dan beri maaf, lebih jauh lagi ciumlah tangannya atau kakinya—itu bukan suatu kejahatan!  Sejauh kalian bisa merendah terhadap orang lain, maka lakukanlah, Allah (swt) akan mengangkat derajat kalian.  

Insya Allah, kita semua akan bersatu, karena kita memerlukan persatuan.  Biarkan semua percaya dengan hal ini, dan ikuti selalu satu Imam, satu Syekh, satu bay’at, satu pintu, satu sumber cahaya dari Sumbernya, satu stasiun pemancar untuk seluruh hati.  Pada saat itu kalian akan terangkul dengan tulus kepadanya. Semakin kuat kalian berusaha mendatanginya, semakin kuat dan kokoh rangkulannya. 

Wa min Allah at-Tawfiq bi hurmat al-Fatihah

 

Doa Penyembuhan Khusus dengan Asmaa’ Allah

74666339_10156784413965886_8446017264477536256_o

Seri Penyembuhan dalam Qur’an dan Sunnah, Volume 6

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Zawiyah Fenton, Michigan, 26 Desember 2012

Shuhbah bakda Zhuhur

 

A`uudzu billaahi min asy-syaythaani r-rajiim, Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Nawaytu ‘l-arba’īn, nawaytu ‘l-`itikāf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ‘r-riyādhah, nawaytu ‘s-sulūk, lillāhi ta`āla fī hadza ‘l-masjid 

Dastuur yaa Sayyidii, madad!

Grandsyekh `AbdAllah (q) mengatakan bahwa jika Allah (swt) ingin membuka hakikat seorang yang telah meninggal dunia di kuburnya, karena sebagian orang mempunyai bau yang tidak sedap–seperti ketika kalian berdoa, sebagian dari doa yang kalian baca keluar dengan bau yang tidak sedap karena dosa-dosa kalian–jadi jika seseorang meninggal dunia dan Allah (swt) ingin mengekspos bau dari ghibah, gunjingan, namiimah, rumor palsu yang ia sebarkan, dan perbuatannya meninggalkan shalat, puasa, senang minum-minuman, senang bermain wanita, merokok, dan bau dari segala perbuatan yang dilarang Allah (swt), maka seluruh dunia akan jatuh pingsan!  Tetapi bagaimana dengan doa seseorang yang Allah (swt) gambarkan dalam kitab suci al-Qur’an sebagai orang yang saleh, seorang wali? Doanya segera diterima, sebagaimana Allah (swt) berfirman di dalam sebuah Hadits Suci,

من عادا لي وليا فقد آذنته بالحرب

Man `adaa lii waliyyan faqad aadzantahu bi ’l-harb.

(Allah [swt] berfirman) Barang siapa yang menentang Wali-Ku, Aku nyatakan perang terhadapnya. 

(Hadits Qudsi; Bukhari, dari Abu Hurayrah)

Jadi, apakah Allah (swt) akan menyatakan perang terhadap seseorang yang Dia gambarkan sebagai seorang wali?  Allah (swt) akan menyatakan perang terhadap orang yang menentang wali-Nya! Itu artinya, para awliyaullah tidak mempunyai musuh karena Allah (swt) menjadikan mereka murni.  Itulah sebabnya mengapa Nabi (saw) mengatakan (bahwa Allah berfirman), “Barang siapa yang menentang Wali-Ku, Aku nyatakan perang terhadapnya,” yang artinya bahwa Dia akan menerima doa wali tersebut.  Allah tidak akan memerangi seorang wali.

Kalian mungkin bertanya, “Baiklah, jika tidak seorang pun dapat menyakiti seorang wali, lalu mengapa mereka mempunyai masalah?”  Masalah mereka sebenarnya bukanlah masalah mereka; lebih tepatnya masalah mereka adalah seperti kamera siaran yang mempunyai sebuah hub dan kita membawa hub kita dan datang ke sang mursyid dengan mengatakan, “Kami mengambil tanganmu untuk berbay’at kepadamu.”  Jika mursyid itu mengulurkan tangannya dan memberi bay’at kepada kita maka ia menjadi bertanggung jawab atas hub tersebut (yakni kerusakan atau penyakit yang kita semua bawa) dan ia harus menyingkirkannya. Jadi itu adalah kesalahan kita, kekejian kita, keburukan kita, dan kegelapan kita yang kita bawa kepada wali tersebut dan membuatnya memikulnya untuk kita karena ia menerima bay’at kita kepadanya, jadi menjadi tanggung jawabnya untuk untuk membersihkan diri kita dan memikul kesalahan kita.  

Itulah sebabnya ketika ia berdoa untuk seseorang yang datang dengan berbagai macam paket, seperti malas atau terlalu banyak bicara, doanya menjadi tertunda.  Hal tersebut bukanlah karena wali itu tidak suci, karena mereka semua adalah suci dan doa mereka bisa cepat, tetapi kalian juga harus suci agar doanya sampai pada tempatnya.  Ketika kalian menceritakan situasi kalian kepadanya dan ia berdoa, jika kalian 90% dalam keadaan suci, maka doanya meluncur bagaikan roket untuk sampai ke tempatnya dan masalahnya menjadi terpecahkan, tetapi bila kalian 10% suci, maka kecepatan doanya pun menurun sebesar 90%!

Itulah sebabnya Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, 

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

Alaa inna awliyaa’ullaahi laa khawfun `alayhim wa laa hum yahzanuun. Alladziina amanuu wa kaanuu yattaquun.

Ingatlah! Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati, (yaitu) mereka yang beriman dan senantiasa bertakwa. (Surat Yunus, 10:62-63)

“Tidak ada rasa takut” artinya tidak ada sesuatu yang akan menunda agar doa mereka segera diterima; namun demikian, hal itu tergantung pada kita dan bagaimana kita datang kepadanya.  Doa apa pun yang kalian panjatkan dengan Ismullaahi ’l-`A’zham, Nama Allah Teragung, akan menjadi seperti pedang yang akan memotong masalah kalian dengan cepat dan membawa kalian ke Hadirat Ilahi!  Itulah sebabnya ada doa-doa yang disebutkan oleh para Sahabat (ra) dan Nabi (saw) menyetujuinya. Dan kalian semua mengetahui kedua ayat ini, wa ilaahukum ilaahun waahidun laa ilaaha illa Huwa ’r-Rahmaanu ‘r-Rahiim, dan Alif. Laam. Miim. Allaahu laa ilaaha illa Huwa ‘l-Hayyu ‘l- Qayyum; satu dari Surat al-Baqarah dan satunya dari Ali-`Imraan.  Siapa pun yang mempunyai masalah dan berdoa dengan kedua ayat yang mengandung Ismullaah al-`A’zham ini, Allah (swt) akan menerima apa yang ia inginkan!

حديث أبي هريرة – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – كان إذا أهمه الأمر رفع رأسه إلى السماء ، وإذا اجتهد في الدعاء ، قال : يا حي يا قيوم .

Anna ’n-Nabi (saw) kaana idzaa ahamahu ’l-amra rafa`a raasahu ila ’s-samaa wa idzaa ’jtahada fi ’d-du`aa, qaala: Ya Hayyu Yaa Qayyum.


Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah (ra), setiap kali Nabi (saw) ditimpa kesulitan, beliau akan menengadahkan kepalanya ke langit, dan ketika beliau berusaha keras dalam doanya, beliau akan mengatakan, “Yaa Hayyu, yaa Qayyum!” (Sahih Tirmidzi)

Biasanya kita melihat tangan kita ketika berdoa, namun ketika ada masalah besar, alih-alih menunjukkan ketawadukan, kalian mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi sambil berdoa, “Yaa Rabbii!  Yaa Rabbii!” Untuk menunjukkan bahwa kalian sungguh memerlukan pertolongan. Jadi Nabi (saw) mengangkat kedua tangannya, menengadah ke langit dan berdoa, “Yaa Hayyu, yaa Qayyum! Yaa Hayyu, yaa Qayyum! Yaa Hayyu, yaa Qayyum! Yaa Hayyu, yaa Qayyum! Yaa bad`ii as-samawaati wa ‘l-ardh, yaa Dzu ’l-Jalaali wa ’l-Ikraam.

Ketika kalian berdoa seperti ini, Allah (swt) akan menerima doa kalian.

من حديث أنس بن مالك ، قال : كان النبي – صلى الله عليه وسلم – إذا حزبه أمر قال : يا حي يا قيوم برحمتك أستغيث.

Kaan an-Nabi (saw) idzaa hazabahu amran qaala: Yaa Hayyu, yaa Qayyum! Bi-rahmatika astaghiits.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik (ra), setiap kali Nabi (saw) ditimpa kesulitan, beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Yaa Hayyu, yaa Qayyum! Bi-rahmatika astaghiitsh,”  “Wahai Yang Mahahidup! Wahai Yang Maha Berdiri Sendiri, dengan Rahmat-Mu aku meminta pertolongan!” (Sahih Tirmidzi)

Terakhir saya akan menyebutkan “Doa Nabi Yunus” yang dibaca oleh Sayyidina Yunus (as) ketika beliau berada dalam perut seekor paus.

وفي جامع الترمذي وصحيح الحاكم من حديث سعد بن أبي وقاص عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال : دعوة ذي النون ، إذ دعا وهو في بطن الحوت ” لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين [ سورة الأنبياء : 87 ] إنه لم يدع بها مسلم في شيء قط إلا استجاب الله له . قال الترمذي : حديث صحيح

`an an-Nabi (saw) qaala: da`wata dzi’n-nuun, idz da`a wa huwa fii buthuuni’l-huut “laa ilaha illa anta subhaanak innii kuntu min azh-zhaalimiin.” innahu lam yad`u bihaa Muslim fii syay’in qath illa’stajaab allaahu lahu.

Nabi (saw) bersabda, “Doa saudaraku Dzun Nun (Yunus (as)), ketika ia berada dalam perut seekor paus adalah, ‘Laa ilaaha illa anta, subhaanaka inni kuntu min azh-zhaalimiin,’ “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.  Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim.’ (Surat al-Anbiya 21:87). Sesungguhnya tidaklah seorang Muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah mengabulkan doanya.” (Tirmidzi)

Ketika Sayyidina Yunus (as) merasa kesal dengan umatnya, Allah (swt) mengutusnya ke sebuah desa dengan penduduk sebanyak 100.000 orang.  Tak seorang pun percaya kepadanya, sehingga beliau pergi dan berhenti menyampaikan risalahnya. Untuk memberinya pelajaran, Allah (swt) mengirimkan seekor paus untuk menelannya.  Paus itu bisa saja mencabik-cabik tubuhnya, namun ia tidak melakukannya, karena Allah (swt) menyelamatkan seorang Mukmin dari kesulitan. Janganlah kalian datang dan mengatakan, “Aku mempunyai masalah.”  Setiap orang mempunyai masalah, namun sebagaimana yang tadi kami katakan, ketika Nabi (saw) ditimpa kesulitan beliau mengangkat tangannya dan berdoa, “Yaa Hayyu, yaa Qayyum! Bi-rahmaatika astaghiits.”  Kalian tidak lebih baik daripadanya!  Jadi Sayyidina Yunus (as) membaca doa di dalam perut seekor paus, “laa ilaha illa anta subhaanak innii kuntu min azh-zhaalimiin.”

Masalah itu muncul untuk memurnikan dan memberi pahala pada kalian dan untuk mengangkat derajat kalian lebih tinggi dan tinggi lagi, tetapi ini tergantung pada kesabaran kalian, dengan ayah kalian, dengan ibu kalian, dengan Nabi (saw), dan dengan ujian yang datang dari mursyid kalian.  Allah (swt) Mahasabar! Nama terakhir dari Sembilan Puluh Sembilan Nama-Nya adalah ash-Shabuur, Yang Mahasabar, yang muncul setelah Nama-Nama yang kuat dan berat seperti al-Jabbar dan al-Qahhar.  Melalui ujian ini, Allah (swt) mengatakan kepada kita, “Aku adalah ash-Shabuur, Yang Mahasabar.”  Mengapa Dia sabar? Dia biasa menghancurkan umat (terdahulu), menjungkirbalikkan mereka, dan menjatuhkan batu-batu dari Neraka!  Allah (swt) melemparkan batu-batu atau komet ini dari Neraka ke Bumi, yang artinya Jahannam itu ada di mana-mana karena mereka berasal dari tepat di atas atmosfer, bukannya dari empat miliar tahun cahaya jauhnya.  Ini juga berarti bahwa azab ada di mana-mana, tetapi mengapa Allah tidak mengirimkan mereka, mengapa Dia sabar dengan kita? Dia sabar karena Cinta-Nya terhadap Nabi (saw) dan ummatnya dan demi beliaulah Allah (swt) mengampuni ummat ini!  Jangan berpikir bahwa kalian hidup bahagia di mana Allah (swt) memberi kalian dengan berbagai rezeki adalah berkat kebaikan kalian! Tidak, kita tidak baik, namun (Dia memberi kita) karena salah satu ayat dalam kitab suci al-Qur’an,

قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى

Qul laa as’alukum `alayhi ajran illa al-mawaddata fi ‘l-qurbah.

Katakanlah (wahai Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan apa pun atas seruanku, kecuali cinta kepada keluargaku.” (Surat asy-Syura, 42:23)


Allah (swt) mencintai kalian karena Dia mencintai Nabi (saw) yang mencintai Ahlu ‘l-Baitnya!  Ahlu ‘l-Bait ada dua macam, yaitu: ummat secara keseluruhan, karena kita termasuk ummat an-Nabi (saw), dan keluarga Nabi (saw), keluarga inti yang berada di pusat lingkaran keluarga.  Nabi (saw) adalah pusat dari lingkaran itu sedangkan ummatnya berada di sekelilingnya dan menerima dari pusat. Nabi (saw) bersama Ahlu ‘l-Baitnya berada di lingkaran tersebut. Siapa yang berada di bawah abaya, gamis Nabi (saw), siapa yang berada di bawah jubah Nabi (saw) ketika beliau mengenakannya?  Mari kita mulai dari yang paling muda: Sayyidina al-Husayn (ra), Sayyidina al-Hasan (ra), Sayyidina Fatima az-Zahra (ra), Sayyidina `Ali (ra) dan Sayyidina Muhammad (saw)–kelimanya adalah dari Ahlu ‘l-Bait dan yang lainnya adalah keturunan langsung mereka, yang semuanya berada di pusat lingkaran dan yang lainnya berada di sekelilingnya.  Jadi demi Cinta-Nya kepada Nabi (saw), Allah (swt) menyelamatkan seluruh lingkaran tersebut, baik yang di pusat maupun di sekelilingnya!

Allah (swt) sabar dengan diri kalian sampai akhir hayat kalian, dan Dia berfirman, “Jika engkau memohon ampun, pada saat itu Aku akan memberikannya kepadamu, jangan khawatir!”  Tetapi jangan datang seperti orang-orang sekarang ini dengan segala macam dosa. Sekarang anak-anak tidak lagi mendengar orang tuanya. Allah ingin agar kalian mendengar orang tua kalian!  Para orang tua juga tidak patuh kepada Allah (swt), karena mereka mengatakan, “Sekarang adalah Tahun Baru (mari kita rayakan).” Setiap saat dalam kehidupan kalian adalah sebuah Tahun Baru, bukan hanya dua atau tiga hari itu!  Karena orang-orang yang tidak baik merayakan Tahun Baru dengan minum-minum, bermain wanita, kita harus menghindari perkumpulan semacam itu. Kalian tidak perlu keluar dan berbusana dengan kegelapan pada malam itu, lebih baik kalian tinggal di rumah, dan membaca istighfaar setelah Shalaat al-`Isyaa.  Duduk dan makanlah bersama keluarga kalian, jangan pergi keluar, jangan menjadi bagian dari mereka. Kalian bisa pergi mengunjungi orang tua kalian atau anak-anak, tetapi jangan merayakan seperti mereka merayakannya dengan minum-minum dan sebagainya. Waspadalah! Kalian tidak tahu, seperti ketika Allah (swt) mengirim komet pada kaum `Ad dan Tsamud, mereka mengirim semua orang yang baik keluar dari desa itu bersama Sayyidina Luth (as) karena jika mereka tinggal di sana, mereka juga akan dihancurkan!

Pada kesempatan berikutnya kita akan berbicara mengenai topik yang berbeda tentang doa, insyaAllah.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.


http://www.sufilive.com/Healing_in_the_Quran_and_Sunnah_6-4749.html

© Copyright 2013 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Ketahuilah Posisi Kalian di dalam Tarekat

IMG-20160824-WA0026

Syekh Hisyam Kabbani
Masjid Peckham, 23 Februari 1995 – Ramadan

 

A`udzu billaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim 
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim

Allah (swt) berfirman di dalam Al-Qur’an, “Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.  Taatilah Allah (swt), taatilah Rasul, Sayyidina Muhammad (saw), dan taatilah ulil amri (para pemimpin) di antara kalian,” ini artinya patuh kepada syekh kalian.  Dan Nabi (saw) bersabda di dalam sebuah hadits sahih, “ad-diinu nasiiha” “Agama adalah nasihat.”  Agama bukan seperti materi kuliah untuk diajarkan oleh seorang ulama kemudian pergi begitu saja.  Agama adalah nasihat, dan nasihat tidak akan muncul tanpa melalui pengalaman. Nasihat tidak bisa berupa teori saja.  Orang yang memberi nasihat harus mempunyai pengalaman tentang apa yang diberikannya itu.

Sayyidina Syah Naqsyband (q) berkata, “Thariqatuna ‘sh-shuhbah wa ‘l-khayru fi jam`iyyah “Tarekat kita berdasarkan pada asosiasi, yaitu menjaga kebersamaan, shuhbah atau asosiasi, perkumpulan; dan kebaikan dicapai melalui kebersamaan.”  Bisa juga dikatakan, “Jalan kita adalah melalui bimbingan, dan kebaikan ada dalam asosiasi.”  Tanpa asosiasi, tanpa nasihat, tidak mungkin kita mendapatkan mudarat atau kebaikan.

Sekarang, setiap kali Mawlana Syekh Nazim (q) meminta saya untuk berbicara, saya merasa malu.  Karena kalian semua, masya Allah adalah murid-murid senior.  Dan kalian semua mempunyai pengalaman yang luas, kalian memiliki bintang di pundak kalian, seperti saudara kita di sini, Syekh `Ali, kalian semua adalah perwira.  Mustahil seorang prajurit memberi nasihat kepada perwira. Jadi makin sering Mawlana berkata, “Bicaralah sesuatu,” saya merasa, diri saya ini tidak mengetahui apa-apa.  Ini juga merupakan ujian bagi saya di mana saya merasa seperti terpojok. Karena saya merasa apa pun yang akan saya katakan, ada beberapa orang yang bisa menerima, dan ada pula yang tidak.  Saya tidak ingin mengatakan bahwa pembicaraan itu tidak ada gunanya sama sekali, karena selama ada orang yang mendapat manfaat, saya akan berbicara. Tetapi, pada saat yang sama, saya merasa malu kepada orang yang tidak senang dengan apa yang saya katakan.  Mungkin mereka merasa bahwa mereka telah dipaksa untuk mendengarkannya.

Saya masih sangat muda ketika pertama kali datang kepada Mawlana Syekh.  Tidak perlu untuk membicarakan apa yang saya lihat dari Mawlana, tetapi jangan berpikir bahwa ego akan menyerah begitu saja.  Ego tidak pernah menyerah. Bahkan jika salah seorang dari kita berkata bahwa ia mencintai Mawlana Syekh Nazim (q), ego kita juga tidak menyerah.  Kita telah bepergian dari jarak yang cukup jauh untuk sampai ke sini (Inggris), untuk duduk bersama Mawlana Syekh selama 10 hari atau 1 minggu, sebagian datang hanya selama 3 hari, kemudian pergi.  Bahkan mereka, dengan antusiasme dan energi yang tinggi, ego mereka juga tidak menyerah.

Bagaimana kalian mengetahui bahwa ego tidak menyerah?  Itu mudah. Ketika Syekh mengirimkan ujian kepada kalian, Syekh biasanya mengirimkan ujian, bukan untuk mengetahui sampai di mana tingkat pencapaian kalian, atau apakah kalian gagal atau tidak—karena mereka telah mengetahui semuanya.  Mereka tidak memerlukan informasi semacam itu, karena mereka adalah orang-orang yang berdiri di belakang kalian—tetapi mereka ingin KALIAN mengetahui sampai di mana kalian mampu berdiri sendiri.

Jika seorang anak—seorang bayi—tidak jatuh, ia tidak akan belajar bagaimana caranya berjalan.  Kita harus jatuh, dan mereka (syekh) akan membiarkan kita jatuh, agar kita bisa berdiri sendiri nantinya.  Agar kita bisa mendatangi mereka. Seorang ibu mencoba menjaga jarak dengan bayinya, satu atau dua meter darinya, lalu ia memanggilnya sehingga si bayi akan menghampirinya, kemudian bayi itu terjatuh—barulah sang ibu mengangkatnya.  Dengan cara ini seorang ibu mengajarkan bayinya untuk datang kepadanya di waktu-waktu berikutnya dengan berjalan kaki.  

Ujian ini diletakkan di depan kita agar kita tidak pernah kehilangan harapan, kita harus selalu mempunyai pikiran bahwa suatu hari nanti kita akan berserah diri.  Nabi (saw) adalah orang yang sempurna, Sayyidina Muhammad (saw), beliau adalah manusia yang sempurna, beliau memiliki jiwa yang sempurna, beliau yang akan sampai di Hadratillah pertama kali, beliau adalah cermin dan juga pintu bagi seluruh makhluk.  Dengan semua kebesaran itu, hidup beliau tetap saja penuh dengan kesulitan dan perjuangan.

Orang-orang Quraisy datang kepadanya dan berkata, “Wahai Muhammad!  Jika kau menginginkan kekayaan, kami akan memberikannya kepadamu, jika kau menginginkan Ka`bah, kami akan memberikannya kepadamu.  Jika kau menginginkan ketenaran, kami akan memberikannya kepadamu, dan jika kau menginginkan jabatan, kami akan mengangkatmu sebagai pemimpin.”  Lalu beliau menjawab dengan ucapannya yang sangat terkenal, “Jika mereka memberikan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, Aku tidak akan meninggalkan risalah ini.”  Jadi apa pun yang akan terjadi, kita harus berjuang untuk mencapai yang terbaik. Kita harus menjaga iman kita sebagaimana Syekh kita datang, menunjukkan dan membuka jalan yang benar bagi kita.

Pertama kita harus meraih hati Syekh dan dari beliau kepada hati Nabi (saw), lalu ke Hadratillah.  Sebagaimana yang digambarkan Allah (swt) di dalam Al-Qur’an, “Ketika manusia menzalimi diri sendiri, mereka datang kepadamu, wahai Muhammad (saw).”  Ini adalah ayat dalam Al-Qur’an. Ayat itu mengisyaratkan adanya perantaraan. “Mereka datang kepadamu, wahai Muhammad (saw), dan mereka bertobat kepada Allah (swt),” dan itu saja belum cukup.  Allah mengatakan hal itu! Jika bertobat kepada Allah (swt) saja sudah cukup, maka seseorang dapat berhenti di situ. Ketika mereka mendatangi Muhammad (saw) dan memintakan pengampunan atas namanya, SAAT ITU barulah mereka akan mendapati bahwa Allah Maha Pengampun.

Allah (swt) mengatakan hal itu!  Jika bertobat kepada Allah (swt) saja sudah cukup, maka seseorang dapat berhenti sampai di situ, tetapi ayat di dalam Al-Qur’an tidak berhenti sampai di situ.  Keseluruhan ayat itu berbunyi, “Dan ketika mereka telah menzalimi diri mereka sendiri, jika mereka datang kepadamu dan memohon ampunan Allah (swt) dan meminta Nabi (saw) untuk memohonkan ampunan bagi mereka, barulah mereka akan mendapati bahwa Allah (swt) Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”  “Pada saat itu mereka akan mendapati bahwa Allah (swt) Maha Pengampun,” berarti itu adalah kondisi pada saat Nabi (saw) memohonkan ampunan atas nama kita. Dan para pemimpin yang disebutkan oleh Allah (swt) di dalam ayat, “Taatilah Allah (swt), taatilah Rasul (saw) dan taatilah ulil amri di antara kalian.”  Itu berarti ketika kita memohon ampun, kita harus benar-benar bertobat dalam kehadiran mereka kepada Allah (swt) karena doa orang–orang yang saleh akan dikabulkan oleh Allah (swt). Dengan kata lain kita harus berdoa melalui perantaraan mereka. Sebagaimana firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah (swt) dan berkumpullah bersama orang-orang yang dapat dipercaya.”  Para pemimpin (ulil amri) itu adalah orang-orang yang dapat dipercaya. Ketika mereka mengangkat tangannya untuk berdoa, “Ya Allah, ampunilah mereka!” Allah (swt) akan mengampuni kalian.

Kita semua adalah bayi dan kita terjatuh, kita bangun, lalu jatuh lagi.  Satu hari bangkit, sehari kemudian jatuh, satu hari jatuh hari berikutnya bangun.  Walaupun seorang bayi terjatuh, ia tidak mengetahui apa yang sedang dilakukannya, ibunya sangat sayang kepadanya, begitu juga keluarganya.  Mereka membersihkannya, memandikannya, memberinya bedak, mereka tidak pernah merasa bosan atau jemu dalam membesarkan anaknya. Dalam pandangan Syekh, kita semua adalah anak-anaknya, oleh sebab itu beliau memandikan kita, membersihkan kita, memberi kita bedak agar tubuh kita menjadi wangi walaupun pada kenyataannya kita berbau busuk, tetapi beliau memberi kita bedak wangi yang sangat spesial—mahal dan eksklusif.

Orang kaya tidak suka membeli parfum yang murah, palsu, atau bercampur alkohol—mereka membeli parfum tua yang nilainya sangat tinggi dan dengan merek yang terkenal.  Mereka berkata, “Parfum seharga lima puluh pound, itu baru bagus; kalau yang dua pound, itu tidak bagus.” Syekh memberi kita wewangian tua semacam itu, yang bernilai tinggi, dan mahal, jangan menyia-nyiakannya dengan terus melakukan akhlak dan perilaku yang buruk.

Kita semua masih seperti bayi, bahkan beberapa orang dari kita masih berada dalam momongan.  Beberapa yang lain mulai merangkak dengan kedua kaki dan tangannya seperti makhluk lain yang saya tidak mau sebutkan namanya, karena nanti mereka akan bilang, “Syekh Hisyam (q) menyebut kita binatang.”  Hal ini karena saya berada dalam pengawasan yang ketat, mereka sangat memperhatikan setiap kata yang saya ucapkan, sehingga mereka akan meninggalkan 99% bagian yang baik yang telah diberikan dalam pelajaran ini, mereka juga akan mengeluarkan kritik.  Saya senang dengan sifat kritis ini agar nanti saya bisa mengoreksi diri dan untuk yang berikutnya saya akan lebih akurat lagi. Jadi kita harus seimbang dengan memperhatikan kondisi hati setiap orang. 

Saya lanjutkan, yang lain bisa berjalan dan merangkak dengan kaki dan tangannya, atau mereka bisa berjalan dengan kakinya.  Yang lain bisa berjalan namun karena belum kuat mereka terjatuh, sementara yang lain lagi bisa berjalan dengan tegap. Walaupun mereka bisa berjalan, tetap saja ibunya masih memegangi tangannya.  Mereka belum bisa dilepaskan begitu saja, karena kalau dibiarkan mereka akan mengambil apa saja yang ada di atas meja, menghancurkannya dan akan merusak rumah. Begitu mereka mulai berjalan, mereka menjadi masalah, mereka menjadi berisik.  Ayah dan ibu harus berlarian ke sana ke mari seharian untuk mengejar mereka, karena kalau saja pintu terbuka kemungkinan anaknya akan keluar dan bisa saja ia tertabrak mobil lalu meninggal. Ia akan menghancurkan dirinya sendiri, ini adalah keadaan yang paling membahayakan.  Ketika ia mulai sedikit terlihat dewasa, orang tua mulai memberi kepercayaan kepada mereka untuk melakukan pekerjaannya sendiri. Walaupun ia masih mungkin melakukan kesalahan tetapi ini masih bisa dipantau dan kesalahan ini tergolong minor. Sampai ia bisa bertanggung jawab dan Syariah mengharuskan ia melakukan segala kewajiban dalam agama ketika ia berusia 15 tahun dan telah dewasa atau akil balig.

Tetapi di dalam tarekat walaupun kalian telah mencapai usia 70 tahun, kalian masih dianggap sebagai anak kecil tanpa “tanggung jawab” yang sebenarnya.  Jangan berkata, “Aku telah bersama Syekh selama 70 tahun tetapi aku tidak mencapai apa-apa!” Perhatikanlah apa yang bisa terjadi. Kalian mungkin bisa merusak diri kalian sendiri dan siapa saja yang berada di dekat kalian.

[komentar: yang dimaksud Syekh Hisyam di sini: Syekh tidak memberikan amanat rohaniah kepada kita, karena kita belum cakap dalam menggunakan amanat itu dengan benar–bukannya mendatangkan kebaikan, boleh jadi kita malah dapat menyebabkan sesuatu yang berbahaya.  Dengan demikian orang tidak pernah melihat ada kekuatan ajaib atau keramat yang muncul dari murid-murid Syekh Nazim (q) dan seringkali kita merasa bahwa kita telah mencapai sedikit kemajuan rohani. Hal ini berbeda dengan tarekat yang lain, di mana seringkali keadaan kasyaf dan beberapa keramat dianugerahkan kepada murid bahkan dalam tahap-tahap awal di jalur mereka. Wallaahu a`alam – dan Allah Maha Mengetahui.]

Kalian harus mencapai suatu keadaan di mana mereka memperbolehkan kalian melakukan jalan kalian sendiri.  Tetap saja ketika kalian terjatuh, mereka akan membantu mengangkat kalian. Kalian akan terjatuh, mustahil kalian mengatakan, “Tidak, aku tidak akan membuat kesalahan lagi.  Sekarang aku adalah seorang syekh besar; tidak mungkin, aku adalah seorang deputi sekarang; atau aku adalah murid senior; atau aku adalah seorang wakil atau utusan dari syekh.  Aku yang memimpin zikir, syekh memberi ijazah kepadaku untuk memimpin zikir. Oh, sekarang aku adalah sebuah balon yang besar.” (tertawa) Penuh udara di dalamnya. Psssh! [membuat gerakan seperti balon yang kempis]  Selesailah sudah. Kalian harus seperti roket, bertekad kuat, barulah tidak ada yang dapat mempengaruhi kalian, sebagaimana ketika kalian mengalami kemajuan dan membawa orang-orang bersama kalian ke hadirat Syekh.

“Deputi” adalah salah satu jabatan besar, “Representatif” (dari seorang Syekh) adalah jabatan besar.  Itu berarti syekh bergantung kepada orang itu baik dalam kehadirannya maupun ketika beliau tidak hadir untuk memberikan nasihat, menyembuhkan suatu penyakit dengan izin Allah (swt), melakukan pembacaan (ayat Qur’an atau zikir), menafsirkan mimpi, membimbing murid, memimpin zikir dan memberikan izin kepada seseorang untuk memimpin zikir, mengangkat level murid ke jenjang yang mampu mereka raih, membesarkan bayi hingga mereka bisa berjalan atau mencapai usia di mana bayi itu bisa berjalan.  Lalu ia akan membawa mereka semua dan mempersembahkan mereka kepada Syekh. 

Sayyidina Khalid Al-Baghdadi (q) mempunyai 300 deputi atau khalifah.  Kita mengucapkan kata “Khalifah” dalam bahasa Arab, tetapi orang Arab mengetahui bahwa “Khalifah” bukan berarti “penerus”, tetapi “deputi”.  Beliau mempunyai 300 deputi dan beliau menyebarkannya ke seluruh penjuru Timur dan Barat, dan mereka semua membawa murid-muridnya ke hadirat Syekh, mereka semua memimpin murid-muridnya kepada Syekh.  Namun demikian setelah Syekh Khalid (q) wafat terbentuklah 300 cabang dalam Tarekat Naqsybandi. Karena setiap orang begitu terikat dengan Khalifahnya masing-masing, di mana mereka biasa berasosiasi dengannya, Khalifah yang telah ditunjuk oleh Sayyidina Khalid (q) kepada mereka.

Setiap orang begitu dekat dengan  Khalifah setempatnya, mereka berkata, “Oh, dialah milik kami!  Dialah pembimbing kami, setelah Syekh, dialah pembimbing kami.  Kami tidak bisa menerima yang lain.” Bisa jadi (khalifah-khalifah) yang lain lebih tinggi tetapi karena ia tidak mempunyai hubungan dengan mereka, ia tidak mengetahui apa-apa tentang mereka.  Ia hanya terhubung dengan khalifah yang diikutinya, dan orang yang diikutinya itu membawanya ke hadirat Sayyidina Khalid (q). Namun demikian, beberapa di antara mereka membawa para pengikutnya dengan keledai, seperti mengendarai keledai, yang lain dengan unta, ada yang berjalan, ada yang seolah-oleh dengan mobil, pesawat, kereta api, atau roket, tergantung kapabilitas dari deputi atau khalifahnya. 

Tetapi ada juga hikmah dan manfaatnya dari terbentuknya 300 cabang dalam Tarekat Naqsybandi setelah wafatnya Sayyidina Khalid (q).  Tetapi rahasia dari Mata Rantai Emas hanya diturunkan ke satu cabang, dan tidak kepada 299 cabang lainnya. Jadi apa yang terjadi dengan yang lain itu?  Apakah kita bisa menganggap mereka itu telah putus hubungan? Tidak, mereka tidak terputus, dan itulah sebabnya di dalam Sufisme, ada dua macam Syekh, yaitu: Syaykh ul-wilayat dan Syaykh at-tabarrukSyaykh ul-wilayat adalah Syekh yang mempunyai kekuatan awliya dan kekuatan untuk mengangkat muridnya ke tingkatan wali.  Syekh inilah yang memegang rahasia utama. Syekh yang kedua adalah Syekh yang membawa tajali atau berkah, berkah dari tarekat.  Inilah yang mengakibatkan berkah tersebut menyebar luas, karena terdapat hikmah di balik segala sesuatu. Orang yang mempunyai kekuatan dan rahasia kewalian inilah yang memegang cabang utama dari tarekat.  Rahasia utama atau arus listrik yang utama. Kalian perhatikan bahwa arus listrik ini masuk ke dalam gedung dari luar, tetapi ia dapat menerangi seluruh gedung. Setiap lampu melambangkan satu cabang, tetapi seluruh kekuatan berasal dari luar.  Mengerti?

Cabang-cabang ini hanya bisa memberi cahaya seperti dua atau tiga buah lampu.  Jika kalian menambahkan lebih banyak mereka akan meledak. Situasi semacam ini terjadi pada masa setelah wafatnya Sayyidina Khalid Baghdadi (q).  Satu di antara mereka adalah cabang utamanya, yang lain adalah cabang yang kecil-kecil, yang hanya menerangi orang-orang di daerahnya. Yang pertama adalah Syaykh ul-Wilayat, Syekh dengan kekuatan wali, orang yang menanggung semua tanggung jawab dari seorang Syekh, yang lainnya adalah syekh-syekh yang tugasnya menyebarkan tarekat ke seluruh penjuru Timur dan Barat.  Karena yang satu tidak bisa berada di mana-mana, oleh sebab itu lewat ke-299 syekh, terbentuklah 299 cabang, masing-masing di daerah yang berbeda sehingga lebih banyak orang yang mengikuti tarekat. Walaupun rahasia utama tidak mencapai hati mereka, paling tidak mereka mempunyai hubungan dengan tarekat ini.  Karena setiap orang yang mengatakan, “Aku adalah seorang pengikut Naqsybandi”, pasti telah berada di Hadirat Nabi (saw) dan Sayyidina Abu Bakar (ra) ketika berada di Gua Tsur, ketika Nabi (saw) hijrah dari Mekah ke Madinah. Itulah saat pertama mereka menerima Tarekat Naqsybandi dari Sayyidina Abu Bakar (ra) dan untuk pertama kali zikir Khatam Syariif dilaksanakan di gua itu.  Setiap orang yang mengatakan dirinya, “Aku seorang Naqsybandi,” walaupun ia terhubung melalui salah satu cabangnya, melalui Syaykh al-Barakah, ia tetap hadir di sana.  Namun demikian, rahasia utama tetap berada di satu cabang saja. 

Jadi, sebagian dari 299 khalifah dari Sayyidina Khalid Al-Baghdadi (q) menerima seorang pemegang rahasia utama, tetapi kebanyakan tidak menerimanya.  Beberapa khalifah itu mentransfer para pengikutnya kepada Syekh utama, yaitu Syekh Ismail (q), tetapi yang lain tidak. Jadi, tipe percabangan ini juga terjadi pada masa Grandsyekh `Abdullah (q).  Saya hadir di sana, Saya berada di Suriah. Pada saat itu banyak murid Grandsyekh dari Suriah yang menerima Mawlana Syekh, tetapi yang lainnya tidak. Itu adalah ego, egoisme. Bagaimana mereka akan menerima?  Mereka adalah syekh besar dengan turban yang besar, lebih besar dari turbannya Mawlana Syekh Nazim (q). Beberapa di antara mereka mempunyai turban sekitar 40 yards di kepalanya, ya! (tertawa) Mereka semua hadir ketika Mawlana Grandsyekh (`Abdullah (q)) membuat surat wasiatnya, seminggu sebelum beliau wafat.  Mereka yang hadir dan duduk bersama mendorong dan melihat pada Mawlana Grandsyekh, “Di mana nama kami dalam daftar itu?” dan nama-nama mereka tidak pernah disebutkan. Mereka berada di sana, duduk di sana dan ketika Mawlana pergi, setelah beliau membuat surat wasiat, mereka membuat satu salinannya lalu mereka menambahkan nama-nama mereka.  Saya tidak bisa menyebutkan nama-nama mereka. Itu akan selalu menjadi masalah. Jadi kita harus membuka hati kita.

Seperti yang dikatakan oleh Syekh Jamaluddin (q), “Ego tidak akan membiarkan kalian menerima fakta dan kebenaran.”  Dengan perintah Syekh Nazim (q) ia akan berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain di Eropa. Oleh sebab itu ia mempunyai pengalaman tentang hal itu, dan seperti itulah tarekat.  Tarekat adalah pengalaman. Kalian tidak bisa duduk di rumah dan berkata, “Aku mengerjakan bisnisku, tugasku di universitas, aku mengajar, aku melakukan bisnisku di kantor dan aku ikut tarekat, aku melaksanakan zikir dan datang pada malam hari, berzikir dan aku mengetahui segala hal!”  Tidak! Itu bukan pengalaman namanya, pengalaman berarti bergaul dengan masyarakat, datang dan berbicara dengan mereka dan mengetahui cara berpikir mereka, bagaimana mereka merasakan kesulitan yang dihadapi, melalui ujian, lewat beragam ujian yang berbeda, dan dengan cara itu kalian membangun pengalaman kalian.

Itulah sebabnya Mawlana Syekh Nazim (q) menginginkan kalian untuk bepergian, agar kalian bisa belajar dari kebudayaan ini dan dari kebudayaan itu.  Beliau ingin agar kita selalu waspada terhadap segala hal [terkait budaya setempat sebelum kita berbicara]. Namun demikian, bukan berarti kalian tidak mempunyai izin untuk berbicara dengan orang-orang itu jika kalian tidak mengenal kebudayaan mereka—bukan, bicaralah dengan siapa saja yang kalian inginkan.  Tetapi harus diingat, kalian harus berhati-hati terhadap hal-hal dalam kebudayaan mereka yang tidak kalian sadari.

Ketika Saya sedang berada di Amerika ada seseorang yang datang kepada saya dengan mengeluh.  Ia berkata, “Syekh, Aku ingin mengeluarkan unek-unek kepadamu.” Ia mengatakan, “Aku tidak mau menerima caramu memperlakukan kami!”  Ia adalah orang yang baik, dan ia menyukai saya, tetapi bukan berarti apa yang dilakukannya adalah baik. Saya hanya akan mengatakan satu hal, dan itu menunjukkan kepada kalian betapa buruknya ego.  Hal itu mustahil dan luar biasa! Ia adalah orang Amerika, dan itu adalah cara mereka–untuk mengekspresikan sesuatu, tidak memendam sesuatu dalam hatinya. Mereka harus mengeluarkan apa yang mereka rasakan atau mereka merasa bahwa mereka akan meledak. 

Ia berkata, “Ini adalah negeri yang bebas, dan kami bukan Nazi di sini.  Di sini tidak ada perjuangan, kau tidak bisa memaksa orang lain.” Saya berkata, “Saya tidak pernah memaksa seseorang di Amerika, siapa saja.”  Ia berkata, “Tidak, tidak, tidak, kau memaksa semua orang.” Saya heran, “Dalam hal apa?” Ia berkata, “Orang-orang, ketika mereka datang untuk menemuimu pada waktu Zuhur, Ashar atau Maghrib—itu adalah suatu masalah yang sangat besar.”  Itu dianggap sebagai komplain yang besar bagi setiap orang. Orang Amerika merasa malu untuk salat. Ia berkata lagi, “Kau telah mencampuri urusan pribadi kami.” Saya lalu berpikir, “Hari kiamat akan datang kepada saya dan saya dalam masalah besar.” (tertawa) Ia berkata, “Ketika kami datang menemuimu, kadang-kadang kami datang pada saat Zuhur, atau Ashar, saat itu kau sedang makan, dan kau menyodorkan makanan kepada kami dan kami bilang, ‘tidak!’ lalu engkau memaksa kami untuk makan, dengan berkata, “Kalian duduk dan sekarang kalian harus makan.”  “Kau tidak bisa memaksa kami untuk makan dengan paksaan seperti itu. Kami adalah orang Amerika, kami berada di negeri yang bebas, kau tidak bisa memaksa kami. Ini adalah suatu kezaliman, ini adalah penindasan, kami tidak mau makan.”

Di negeri saya, jika kalian tidak mendesaknya, tamu selalu merasa malu untuk mengatakan “ya” ketika diminta untuk makan.  Tetapi jika saya tidak mengajaknya makan, saya merasa bahwa saya telah menghina tamu. Dalam kebudayaan Amerika, yang terjadi adalah kebalikannya.  Jika kalian mendesak tamu untuk makan, itu berarti kalian telah mengintervensi tamu. Ketika ia bilang “tidak” itu artinya ia tidak ingin makan, jadi tidak perlu memaksanya untuk makan.  Orang itu datang kepada saya untuk mengatakan bahwa inilah yang menjadi keluhan orang Amerika tentang perilaku saya. Jadi untuk itulah mereka mengeluh.

Jadi ini adalah masalah besar bagi orang Amerika, sementara bagi kami itu adalah simbol keramahan.  Jadi Mawlana Syekh mengirimkan murid-muridnya, murid yang senior atau deputinya untuk bepergian ke negeri yang berbeda-beda, dengan tujuan untuk mengenal budaya mereka.  Karena semua kebudayaan harus melebur menjadi satu dalam tarekat ini. Kita tidak bisa bilang bahwa kita adalah orang Amerika, Perancis, Arab, Jerman, Turki, Inggris, Skotlandia, Irlandia, Malaysia, atau Pakistan.  Yang ada hanya satu simbol, yaitu kecintaan Syekh kita—kita semua berasal darinya. Ini adalah sasaran terbesar, itulah sebabnya Mawlana mengirimkan setiap orang untuk belajar untuk mendapat pengalaman.

Perawi hadis yang paling penting adalah Imam Bukhari.  Beliau tidak pernah menulis hadis sebelum mandi, salat 2 rakaat lalu tidur.  Lalu dalam mimpinya beliau akan bertemu Nabi (saw) yang mengatakan, “Tulislah hadis ini pertama, kemudian yang itu, berikan nama bab itu sebagai, ‘Bab tentang Wudu’, tentang Zakat, Salat, dan begitu seterusnya.  Beliau tidak pernah membaca hadis walaupun itu diizinkan kecuali setelah beliau mandi, dan salat dua rakaat, lalu tidur dan bertemu dengan Nabi (saw) dalam mimpinya. Nabi (saw) kemudian memerintahkan untuk meletakkan suatu hadis di bab tertentu.  Hadis pertama yang beliau tuliskan dalam bukunya adalah, “Perbuatan seseorang adalah tergantung pada niatnya, jika niatnya untuk Allah (swt) dan Nabi (saw), maka ia akan diberi balasan sesuai dengan niatnya itu.” Bahkan jika orang itu membuat kesalahan [dalam melakukan pekerjaannya] tetapi jika niatnya baik [ia juga akan diberi balasan yang setimpal]. “Dan bagi siapa yang berniat untuk dunya, untuk kesenangan dunia ini orang itu akan mendapatkannya pula.”

Jadi niat adalah hal yang sangat penting dan harus kita perhatikan.  Bisa jadi seseorang tidak beruntung, tetapi ia berusaha dengan sebaik-baiknya.  Tetapi karena tidak beruntung mereka malah menghinanya. Kemudian ia menjadi lelah.

Dan seperti yang dikatakan oleh Nabi (saw), “Berhati-hatilah dengan kesabaran orang yang sabar, bisa jadi ia akan meledak.”  Ketika hal itu terjadi ia akan bergerak seperti kereta api, melabrak dan menghancurkan semua yang ada di hadapannya. Jadi kita harus menetapkan niat, dan itulah sebabnya Nabi (saw) bersabda, “Berusahalah selalu untuk melihat sesuatu dari sisi yang baik, segalanya dilihat dengan tafsir yang baik.”  Jangan memandang suatu masalah dengan tafsir yang salah karena kalian tidak bisa melihat hati seseorang, kalian tidak bisa mengerti apa yang ada di dalam hati. Jika kalian menarik tafsir yang salah, pemahaman yang salah mengenai niat seseorang, kalian akan membuat suatu kesalahan. Jika kalian memandang segala sesuatu dengan kebaikan, SEGALANYA, Nabi (saw) berkata SEGALANYA, dengan tafsir yang baik kalian mungkin benar.  Oleh sebab itu kita harus selalu berada dalam hubungan dengan Mawlana Syekh. Bukannya bayi, yang masih sering jatuh, jatuh, jatuh, jatuh.

Jangan pernah berkata bahwa kalian tawaduk  Jika kalian berkata bahwa kalian tawaduk ketika kalian berbicara dengan orang lain dan berkata, “Tidak Aku tidak mengetahui apa-apa, ENGKAU-lah sumber inspirasiku.”  Mereka akan memandang kalian seolah-olah kalian adalah sampah (tertawa). Kalian sebaiknya berkata, “Aku adalah yang paling pandai di sini.” Jangan! Jangan! Jangan! Jangan berkata seperti itu di Amerika!  Jangan menjadi bodoh seperti saya (tertawa). Jika kalian pergi ke Amerika dan berkata demikian, kalian akan habis, tamat! Kalian tidak bisa berkata, “Aku rendah hati”, kalian tidak bisa berkata, ”Oh! Maafkan Aku! Aku orang yang lemah yang duduk bersamamu.”  Ketika kalian datang, insya Allah ke Amerika untuk menghadiri undangan di suatu Universitas atau di mana pun, jangan pernah berkata, “Aku yang terlemah”, mencoba untuk merendah.  Katakanlah, “Aku adalah Presiden (tertawa)” Inilah cara berpikir mereka.

Jangan berpikir bahwa Mawlana Syekh tidak dapat mendengar kalian.  Jika beliau mengerahkan kekuatan yang Allah berikan untuk menjadi kasyaf atau tanpa hijab, beliau dapat mendengar seluruh percakapan kalian.  Bagaimana kalian mendengar suara guntur? Sejelas itulah kira-kira suara yang didengar oleh para awliya.  Hal itu tidak sulit bagi Allah (swt), bukankah Dia memberi Sayyidina `Isa (as) kemampuan untuk melihat isi suatu rumah dan apa yang dimakan mereka?  Bukankah Dia telah menganugerahkan Sayyidina `Umar (ra) kemampuan untuk melihat apa yang terjadi dengan salah satu jendralnya 2000 kilometer jauhnya.  Beliau mengatakan, “Ya Sariya, al-jabal”  “Wahai Sariya, gunung!”  Beliau memberi peringatan kepadanya terhadap serangan dari balik gunung.  Dan Sariya mendengar suaranya! Tidak ada yang bisa menyangkal hal ini—Ini harus diyakini oleh seorang Muslim.  [Bahkan ulama yang paling ketat, Ibn Taymiyyah, mengatakan bahwa percaya kepada kasyaf dan keramat (kekuatan ajaib) para awliya merupakan persyaratan keimanan, di dalam kitabnya`Aqidat al-wasitiyya.–penerj.]

Keistimewaan seperti itu merupakan karunia Allah (swt), namun demikian mereka tetap saja seorang hamba.  Mereka tidak berpikir bahwa dirinya lebih dari sekedar hamba-Nya, mereka adalah “`abd”, mereka adalah hamba Allah.  Allah (swt) adalah Sang Pencipta, tidak seperti kaum Wahhabi yang gila, ketika kalian bilang, “Seorang wali mempunyai kekuatan istimewa,” mereka akan mengatakan, “Apa kamu bilang, dia seperti Allah?” Mereka berkhayal bahwa Allah (swt) seperti manusia!  Allahu Akbar! Takbir! Takbir! Allah Mahabesar.  Allah memberi umat manusia, kepada awliya, raghman `an anfihim.

http://www.naqshbandi.org/teachings/suhbats/know-your-station-in-tariqa/

Kita Belum Menjadi Murid

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
20 Oktober 2012,  Fenton, Michigan
Shubhah setelah Zikir
A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah,
nawaytu ‘r-riyaadhah, nawaytu ‘s-suluuk, lillahi ta`alaa fii haadza ‘l-masjid.
أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

Athii`uullaha wa athii`uu ‘r-Rasuula wa uuli ‘l-amri minkum.
Taati Allah, taati Rasul, dan taati orang-orang yang mempunyai otoritas di antara kalian. (Surat an-Nisa, 4:59)

Madad yaa Sayyidii, yaa Rasuulullah! Madad, yaa Awliyaullah! Madad, yaa Sulthan al-Awliya, madad.

As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. 
Saya tidak berencana untuk memberi shuhbah, tetapi karena banyak orang yang datang, saya akan membuat shuhbah singkat, kemudian Syekh Shahib akan memimpin (salat) `Isya.

Islam adalah mempelajari apa yang bermanfaat bagi kita, karena Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an,

ِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُُ

Inna ad-diina `inda Allaahi al-Islaam.

Agama (yang diridai) di sisi Allah adalah Islam (tunduk pada Kehendak-Nya).  (Surat Aali-`Imraan, 3:19)

Jadi, untuk dapat memahami Islam, kita perlu memahami struktur yang Allah (swt) kirimkan kepada Utusan-Nya, Sayyidina Muhammad (saw), dan membangun di atas stuktur tersebut apa pun yang telah kita pelajari dari Islam karena itu adalah struktur utamanya.  Ketika kalian membangun sebuah gedung, kalian memperkuatnya dengan baja dan beton sehingga ia dapat menyokong banyak tingkat. Islam juga mempunyai struktur yang telah Allah kirimkan kepada Nabi (saw) sebagai pedoman bagi kita. Itu sangat sederhana dan orang-orang banyak melewatkannya, tetapi tidak menerapkannya.  Kita harus memperhatikan apa yang dikatakan oleh Nabi (saw), khususnya di masa yang penuh dengan nafsu duniawi yang mempengaruhi iman kita. Islam sepenuhnya berdasarkan pada apa yang disebutkan oleh Nabi (saw),

اإنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

Innamaa bu`itstu li utammima makaarim al-akhlaaq.
Aku tidak diutus melainkan untuk melengkapi akhlak. (Bukhari in Adab al-Mufrad)

Kita harus memperhatikan kata dalam Bahasa Arab, “Innamaa” yaitu menegaskan bahwa “Aku telah,” “bu`itstu” artinya “diutus,” dan “li utammima” diterjemahkan sebagai “untuk melengkapi”, bukan seperti yang banyak dijelaskan oleh para ulama sekarang, “untuk menyempurnakan”.  Tetapi ulama-ulama Arab mengatakan bahwa “utammin” adalah “untuk melengkapi” akhlak dan perilaku, yang artinya Nabi (saw) mengambilnya sebagai tanggung jawabnya di hadapan Allah bahwa, “Yaa Rabbii! Engkau telah mengutusku untuk melengkapi,” yang artinya, “Aku tidak akan membiarkan seseorang datang dengan tidak lengkap (pada Hari Kiamat).”  Allah memberinya sesuatu yang tidak diberikan kepada makhluk apa pun dan tak seorang pun dapat melengkapinya. Kullu nafsin, setiap orang bertanggung jawab atas diri mereka sendiri, tetapi Nabi (saw) bersabda, “Aku akan bertanggung jawab untuk semua orang.”  Tak seorang pun yang tidak lengkap pada saat Hari Kiamat dengan kekuatan yang Allah berikan kepada Nabi (saw). Beliau (saw) tidak mengharapkan kita menjadi lengkap, karena beliau (saw) tahu bahwa kita senantiasa berjuang, satu hari kita berada di jalan yang benar, satu hari lainnya kita di jalan yang salah.  “Melengkapi” maksudnya menghilangkan semua karakter buruk dan membusanai kalian dengan karakter yang baik. Misalnya, Nabi (saw) menyingkirkan semua pakaian yang kotor dan memberi pakaian yang bersih dari sisinya, artinya beliau (saw) membuang `amal yang buruk dan menggantinya dengan `amal yang baik.

Dalam sebuah hadits Nabi (saw) disebutkan bahwa,

حياتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم ، فإذا أنا مت كانت وفاتي خيرا لكم ، تعرض علي أعمالكم فان رأيت خيرا حمدت الله تعالى وإن رأيت شرا استغفرت لكم

Hayaatii khayrun lakum tuhaditsuuna wa yuhdatsa lakum fa idzaa anaa mitt kanat wafaatii khayran lakum. Tu`radhu `alayya `amal ummatii, wa in wajadtu khayran hamadt ‘Allah wa in wajadtu ghayrah  astaghfarta lakum.

Aku mengamati `amal umatku.  Jika aku mendapatinya baik, aku bersyukur kepada Allah, tetapi bila aku menjumpainya selain dari itu, menjumpainya dalam keadaan buruk, aku memohon ampun bagi mereka. (al-Bazzaar di dalam Musnad-nya)

Jadi kita beruntung menjadi bagian dari Ummat an-Nabi (saw), tetapi kita tidak memberikan haknya, memuliakan bahwa atas nama kita Nabi (saw) melakukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan.  Paling tidak kita musti menunjukkan bahwa kita berjuang, tetapi sekarang orang-orang ceroboh dan tidak memberi perhatian pada apa yang berada di sekitar mereka.  Jika kalian melihat bahwa seorang Muslim tidak berpuasa dan bertanya pada kalian mengapa, mereka mengatakan, “Oh, kepalaku sakit.” Kalian bertanya pada orang kedua, “Mengapa engkau tidak puasa?”  “Oh, aku sedang sekolah.” Kalian bertanya pada orang ketiga, “Mengapa engkau tidak puasa?” Ia akan berkata, “Karena aku sedang jogging!”  Mengapa engkau jogging?  Setiap orang mempunyai alasan.  Mengapa engkau tidak salat? “Aku tidak punya waktu.”

Pada Hari Kiamat, akankah kalian berkata kepada Allah, “Aku tidak punya waktu.”  Apa yang akan Dia katakan pada kalian? “Masuklah ke Neraka, karena sekarang Aku tidak punya waktu untukmu!”  Ketika Nabi (saw) melihat kemalasan dari umat ini, beliau (saw) mengambil tanggung jawab pada dirinya sendiri dan berkata, “Aku akan melengkapinya atas nama kalian dan kalian akan muncul sebagai yang terbaik di Hari Kiamat.”  (Tetapi itu) adalah sepanjang kalian bershalawat atas Nabi (saw), “Allahumma shalli `alaa Sayyidina Muhammad wa `ala aali Sayyidina Muhammad.”

Shalawat adalah apa yang Allah (swt) inginkan dari kita, agar kita tahu nilai dari Nabi-Nya (saw)!  Allah (swt) memerintahkan para malaikat untuk bershalawat untuk mengetahui nilai Nabi-Nya dan itu artinya shalawat adalah jalan menuju “tanah yang aman” atau “tepi yang aman”.  Setiap saat kalian mengalami kesulitan, ingatlah bahwa Allah (swt) memerintahkan kalian untuk bershalawat atas Kekasih-Nya di mana Dia akan membuat sepuluh shalawat untuk kalian, yang artinya Dia akan menghilangkan segala kesulitan!  Nabi (saw) menyebutkan dalam sebuah hadits,

من صلى علي مرة صلى الله عليه بها عشرا

Man shalla `alayya marrah, shalla ’Laahu `alayhi bihaa `asyara.
Barang siapa yang bershalawat atasku sekali, Allah akan bershalawat atanya sepuluh kali. (Sahih)

Shalawatnya Allah tidak seperti kita; shalawatnya Allah penuh dengan pahala dan menghilangkan semua kesulitan.  Jika kalian sakit, mempunyai masalah secara umum atau mempunyai masalah dalam pernikahan, bershalawatlah dan semua masalah itu akan hilang!  Jika kalian hanya duduk di tempat tidur dengan kaki terentang, tidak bershalawat, itu tidak akan berhasil. Jika kalian sakit, kita pergi ke dokter dan kita menunggu dengan cemas di ruang gawat darurat hingga empat jam.  Serupa halnya, Allah mengatakan kepada kita untuk bershalawat atas Nabi (saw) dengan harap-harap cemas. Jika kalian bershalawat selama satu jam, setengah jam, atau bahkan selama lima menit, itu sudah cukup!

Allahumma shalli `alaa Sayyidina Muhammad! Allahumma shalli wa sallim wa baarik `alaa habiibika wa nabiyyika, Sayyidina Muhammad (saw)!

Jadi Allah ingin hamba-hamba-Nya mempunyai akhlak yang baik dan tidak kasar.  Setiap orang mempunyai jalan yang berbeda dalam menunjukkan kekasarannya. Allah (swt) tidak menyukai sikap yang kasar.  Nabi (saw) tidak pernah berkata, “laa” sepanjang hidupnya, beliau (saw) menerima segalanya.  Bagi kita, jika sesuatu itu tidak sesuai dengan diri kita, kita katakan, “Tidak!”  Kita tidak setuju dengan apa saja kecuali istri kita. Kalian tidak bisa mengatakan tidak kepada mereeka, benar kan?  Mengapa? Saya tidak tahu, tetapi ini sudah menjadi tradisi sekarang, jadi kita ikuti hal itu.

Allah (swt) tidak menyukai seseorang yang kasar, itulah sebabnya Dia mengutus Nabi (saw), yaitu untuk menyingkirkan sifat kasar itu dari manusia dan menjadikan mereka sebagai orang yang baik.  Ketika orang melihatnya, mereka senang, bukannya marah, serius atau sepanjang waktu tidak senyum. Allah (swt) tidak menyukai karakter itu. Sering-seringlah senyum dan bershalawat, kalian akan memiliki dunia dan akhirat dan semoga Allah memberi kita dunia dan akhirat!

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbanaa atinaa fii ‘d-dunyaa hasanatan wa fii’l-akhirati hasanatan waqinaa `adzaba an-naar.

Wahai Tuhan kami!  Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa Api Neraka!” (Surat al-Baqarah, 2:201)

“Selamatkan kami dari Api Neraka.”  Jika kita ingin diselamatkan, itu seperti itu.  Itu artinya mintalah agar Allah (swt) mengaruniai kalian agar mempunyai satu kaki di dunia dan satu di akhirat, tidak semuanya hanya di dunia.  Alhamdulillah, kehadiran kalian di sini memperlihatkan bahwa kalian sehat dalam ibadah kalian, dan kalian senang untuk berada di Rumah Allah.  Beberapa orang datang dari jauh, untuk apa? Untuk hubb, cinta.  Allahu Akbar!  Ia berasal dari dua huruf, yaitu “Haa” dan “Baa”, membentuk kata, “Cinta”

Allah (swt) berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Qul in kuntum tuhibbuuna ‘Llaaha fattabi`uunii yuhbibkumullaahu wa yaghfir lakum dzunuubakum w ‘Allaahu Ghafuuru ‘r-Rahiim.

Katakanlah (Wahai Muhammad), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku!  Niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surat Aali-‘Imraan, 3:31)

Itu artinya Allah mencintai hamba-Nya. ‘Haa’ adalah simbol dari hayyat, hidup.  Allah tidak hanya akan memberi kalian hubb (cinta di dunia ini), tetapi Allah memberikan hayyat al-abadiyya, Kehidupan yang Abadi. ‘Baa’ melambangkan “baqa,” yang artinya “kekal” atau “tidak pernah berakhir,” dan itulah makna dari ‘hubb:’ ketika Allah mencintai kallian, Dia memberi kalian kesehatan, kebaikan, kehidupan yang kekal, di dunia dan akhirat.  Itu dari dua huruf dan kita tidak ingin lagi! Cinta Allah (swt) dan cinta Nabi (saw), kalian akan selamat, karena bila kalian mencintai seseorang, kalian akan patuh padanya.  Jika kalian mencintai istri kalian, kalian mematuhinya dan begitu pula sebaliknya. Jadi, bagaimana menurut kalian tentang cinta pada Allah dan Nabi-Nya (saw)? Athii`uullaha wa athii`uu ‘r-Rasuul, karena bila kalian cinta, Allah memberi kalian kepatuhan dan menempatkan kalian di jalur yang benar.  Semoga Allah (swt) membuat kita semua cinta pada-Nya dan cinta Nabi-Nya, dan menyingkirkan semua kesulitan, dan mengaruniakan kita apa pun yang kita minta.

Allah tidak senang bila kalian mengeluh, Dia lebih senang jika hamba-Nya mengingat-Nya!  Sekarang bila kalian bertanya pada orang-orang di sini, “Apakah kalian murid?” Mereka akan berkata, “Ya,” tetapi pada hakikatnya tidak.  Kita belum mencapai level murid, kita masih pemula.

Sayyidina Syah Naqsyband (q), Imam ath-Thariqah Naqsybandi, sangat kaya sejak usia muda.  Paling tidak lima ribu orang menghadiri majelisnya dan beliau memberi makam mereka semua dari pendapatannya.  Suatu hari beliau berjalan dan mulai merasakan keinginan untuk mengunjungi Syekhnya, Sayyidina Amir Kulal (q).  Beliau berada di lorong, merasakan antara sahuw dan ghaybah, antara keadaan terjaga dan tertidur–namun itu bukan kata-kata yang tepat.  Ghaybah dan sahuw artinya antara keadaan jazbah dan haal, suatu keadaan spiritual, dalam level yang tidak merasakan apa-apa kecuali cinta pada Allah (swt) dan Nabi (saw).  Beliau datang dekat rumah Syekh dan segera setelah beliau masuk, Syekh mengetahui nama Syah Naqsyband (q), walaupun mereka belum pernah bertemu, tetapi Sayyidina Syah Naqsyband (q) telah mengambil baya` melalui seseorang yang dikenal oleh Syekh.

Syekh bertanya, “Siapa ini?”
Murid-murid berkata, “Ini adalah Syah Naqsyband.”
Beliau berkata, “Usir dia!”

Syah Naqsyband berkata, “Pada saat itu aku merasa tidak senang dan Setan mulai bermain denganku dan egoku berkata, ‘Apa yang ingin kau lakukan dengan Syekh ini?’  Namun demikian kesadaranku berkata, ‘Tidak (jangan pergi).’”

Jadi, mereka mengeluarkan Syah Naqsyband (q), tetapi tidak ada tempat baginya untuk pergi, karena hari sudah malam dan turun salju.  Beliau pergi ke ambang pintu Sayyidina Amir Kulal (q), berlutut dan meletakkan kepalanya di dasar pintu dan tinggal di sana. Kepalanya benar-benar dipenuhi salju, tetapi beliau tidak merasakan dinginnya karena beliau dalam keadaan ghaybah, gaib/tidak hadir/absen.  Waktu Subuh tiba dan Syekh keluar untuk berwudu, beliau melangkah ke atas kepala Syah Naqsyband (karena beliau tidak tahu Syah Naqsyband  berada di situ).

Sayyidina Amir Kulal (q) berkata, “Oh, kau di sini?”
Syah Naqsyband (q) berkata, “Ya, aku di sini.”
Sayyidina Amir Kulal (q) berkata, “Aku mengujimu.  Engkau sungguh seorang murid.”

Beliau membawa Syah Naqsyband (q) ke dalam, membersihkannya dan menghilangkan duri-duri dari kakinya dan mulai membusanainya dengan ma`arifah, Ilmu Ilahiah.  Ini adalah murid sejati, dan dengan kisah singkat ini, kita dapat mengatakan bahwa kita bukanlah murid sejati, kita berusaha (untuk menjadi murid), karena Syekh tidak mengatakan kepada kalian untuk pergi, karena kalian bukan murid sejati, tetapi kita tahu bahwa kita sedang berusaha.  Lanjutkan perjuangan kalian, karena jika kalian menjadi lebih baik satu persen, itu berarti lebih baik dan membuat Allah rida, sebagaimana dinyatakan dalam hadits:

يقول الله عز وجل: من ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي، ومن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منه، ومن تقرب إلي شبراً تقربت منه ذراعاً، ومن تقرب مني ذراعاً تقربت منه باعاً، ومن أتاني يمشي أتيته هرولة

Man dzakaranii fii nafsihi dzakartahu fii nafsii wa man dzakaranii fii mala’ain dzakartahu fii mala’ain khayra minhu wa man taqarrab ilayya syibran taqarrabtu minhu dziraa`an wa man taqarrab minnii dziraa`an taqarrabtu minhu baa`an wa man ataanii yamsyii aataytahu harwalah.

Aku seperti yang dipikirkan oleh hamba-Ku. Aku bersamanya ketika dia menyebut nama-Ku. Jika dia menyebut nama-Ku di dalam hatinya, Aku menyebut namanya di dalam hati-Ku; dan jika dia menyebut nama-Ku dengan berjamaah, Aku menyebut namanya dalam jamaah yang lebih besar. Dan jika dia mendekatiku sejangkauan tangan, Aku akan mendekatinya sejangkauan lengan; dan jika dia mendekati-Ku sejangkauan lengan, Aku akan mendekatinya sejangkauan galah. Dan jika dia mendekati-Ku dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari” (Hadits Qudsi).

Bahkan jika kalian melakukan satu persen kebaikan dalam hidup kalian, kalian akan masuk Surga.  Nabi (saw) bersabda (kepada para Sahabat), “Jika kalian melakukan sembilan puluh persen dari apa yang aku perintahkan, kalian akan berada di tangan-tangan yang baik.  Akan tiba suatu masa di mana jika mereka hanya melakukan sepuluh persen dari apa yang aku katakan kepada mereka, mereka akan masuk Surga.”

Jadi sekarang mereka hanya meminta kita untuk melakukan sepuluh persen, artinya jika kalian menunjukkan perbuatan baik apa pun yang kalian lakukan, mereka akan membawa kita pada keselamatan dan membuat mereka bahagia.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

http://www.sufilive.com/We_are_not_Mureeds-4666.html

© Copyright 2012 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.