Nasihat dalam Membesarkan Anak

51858292_810860759256262_837368813136391599_n

 

Bismillaahi r-Rahmaani r-Rahiim.

Wahai manusia, kalian harus merawat anak-anak kalian. Jika mereka melakukan sesuatu yang baik, berilah pujian dan penghargaan kepadanya, sehingga mereka akan merasa senang dan akan lebih sering melakukan perbuatan yang baik. Tetapi jika mereka melakukan tindakan yang buruk, paling tidak kalian harus menegurnya, jangan sampai tindakan yang salah ini berlalu begitu saja tanpa mereka mengerti bahwa kalian tidak setuju dengan perbuatannya.

Katakan pada mereka, “Jangan lakukan hal itu; tidak baik melakukan itu; itu menyakiti orang lain; itu adalah perilaku yang buruk.” Kadang-kadang jika pesan ini tidak sampai, kalian boleh menjewer telinga mereka dengan lembut (untuk mendapat perhatian mereka).

Yang menjadi pilar pendidikan adalah harapan untuk mendapatkan suatu penghargaan, dan ketakukan untuk mendapat teguran atau hukuman. Orang Barat telah menghilangkan kedua pilar tersebut dan seringkali membiarkan anak-anak mereka tumbuh dengan liar, itulah kesalahan mereka.

Pendidikan dengan gaya bebas telah mendatangkan bencana besar bagi peradaban Barat, begitu besarnya sehingga pemerintah bertanya, “Apa yang dapat kita lakukan untuk mempertahankan perdamaian di masyarakat kita?” Bagaimana kita dapat membendung gelombang kekerasan? Apa yang dapat kita lakukan dengan orang-orang liar ini?” Dan orang-orang bertanya, “Apa yang dapat kita lakukan terhadap peraturan-peraturan yang menentang kita ini?”

Apa yang kita saksikan di zaman ini adalah pemenuhan dari prediksi Nabi Suci (saw) yang bersabda, “Akan tiba masanya di mana pemerintah akan mengutuk warganya dan warga akan mengutuk pemerintahnya.”

Bagaimana orang-orang dewasa itu dapat dikontrol jika orang tua mereka tidak pernah menanamkan bekal pada mereka ketika masih kecil? Ada sebuah ungkapan, “Barang siapa yang dibesarkan dengan jalan tertentu, maka ia akan berakhir dengan jalan itu juga.” Inilah asalannya mengapa pohon-pohon yang batangnya bengkok perlu diikat ketika mereka masih muda dan lentur agar dapat dibentuk. Ketika batangnya sudah besar dan mengeras, siapa yang dapat membengkokkannya? Oleh sebab itu, pendidikan harus dimulai sejak bayi.

Salah satu bagian yang sangat penting dalam pendidikan yang baik adalah mengajarkan anak-anak kalian untuk bersabar dengan tidak langsung memberikan apa pun yang diinginkannya. Katakan pada mereka, “Kau tidak akan mendapatkannya sekarang, tetapi lima menit lagi (atau setengah jam lagi atau besok; atau jika engkau berprestasi di sekolah). Atau kalian juga bisa mengatakan, “Saya tidak akan memberikannya kepadamu sampai kamu berhenti mengganggu saya, jadi lupakan saja keinginanmu itu; setelah itu mungkin saya akan memberikannya kepadamu.”

Poin lainnya adalah, kita harus melatih anak-anak kita untuk menghormati dan menghargai orang tuanya, khususnya karena hubungan kekeluargaan sudah sangat memburuk di masyarakat Barat. Jangan membiarkan anak-anak untuk memakan permen yang didapatnya sebelum mereka menawarkannya terlebih dahulu kepada ibunya. Dengan begitu Insya Allah, ketika dewasa mereka akan berpikir untuk memberikan sebagian yang mereka peroleh untuk ibunya. Ajari juga anak-anak untuk mencium tangan dan pipi kalian ketika mereka bagun di pagi hari dan sebelum tidur di malam hari. Hal ini akan menanamkan rasa kasih sayang dan hormat kepada orang tua dalam diri mereka.

~Mawlana Shaykh Nazim | 1999

Advertisements

Rahasia Zikir Khatm Khwajagan

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
Shuhba 
25 Desember 2014
Permata Hijau

5554
 
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Alhamdulillahi Rabbi ‘l-‘Alamiin, wa ’sh-shalaatu wa ’s-salaamu ‘alaa asyrafi ‘l-mursaliina Sayyidina wa Nabiyyina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin
kalimataan khafiifataan `ala al-lisaan tsaqiilataan fil-miizan subhanallah wa bihamdihi subhanallah al-`azhiim istaghfirullah, qaal an-Nabi ad-diinu nasiiha, ad-diinu nasiiha, ad-diinu nasiiha
 
Nabi (s) bersabda, “Agama adalah nasihat, agama adalah nasihat, agama adalah nasihat.”  Itu artinya segala sesuatu untuk menasihati orang adalah agama.  Segala sesuatu yang baik bagi manusia dan kalian memberi nasihat mengenai hal itu, maka itu adalah bagian dari agama, karena sebagaimana sabda Nabi (s), agama adalah nasihat.  Jadi jika kalian memberi nasihat, seolah-olah kalian sedang menjalankan agama kalian.
 
Setan tidak menyukai hal itu.  Ia berusaha melakukan usaha terbaiknya untuk membuat orang menjadi tersesat.  Ia tidak bisa mengambil iman dari kalbu mereka, tetapi ia dapat memblok dan menghijab iman itu.  Allah menanam imaan di dalam kalbu manusia sebagaimana Nabi (s) menyebutkannya di dalam hadits, allaahuma shalli `alayka ya Rasuulullah (s), “yulid al-insaanu `alaa’l-fitrah.”  “Manusia lahir dalam keadaan fitrah.”  Jika ada fitrah, maka Setan tidak dapat menghilangkannya tetapi ia dapat menutupinya, dan hijab itu ada pada setiap orang.  Ia dapat menutupi cahaya iman yang ada pada setiap orang.
 
Untuk menghilangkan hijab atau penutup itu bukanlah hal mudah.  Setan membuat pentup itu seperti dinding yang terbuat dari semen.  Dapatkah kalian menghancurkannya?  Kalian perlu bor untuk menghancurkan dinding itu agar kalian bisa membuat lubang kecil agar cahaya bisa masuk ke dalamnya.  Satu-satunya yang dapat menghancurkan dinding itu, dinding semen yang menutupi kalbu adalah dengan zikrullah.   Itulah sebabnya mengapa Allah menyebutkan di dalam al-Qur’an untuk mengingat-Nya.  Dengan mengingat-Nya, kita mengutuk Setan.  Dengan mengingat bahwa Setan adalah musuh Allah, dan ia menjaga dinding itu pada diri kalian.  Jadi untuk menghancurkan hijab itu, majelis zikrullah akan menyingkirkan hijab dan membawa cahaya iman agar dapat terlihat.  Jadi untuk majelis atau pertemuan semacam itu, hijab di dalam diri kita sekarang hancur dengan zikrullah.
 
Alladziina yadzkuruunallah qiyaaman wa qu`uudan wa `ala junuubihm wa yatafakaruun fii khalqi-samaawaati wal-ardh.  Mereka yang melakukan zikrullah mampu memikirkan penciptaan langit dan bumi.  Bukanlah hal mudah untuk melakukannya, hal itu memerlukan dukungan dan dengan zikrullah, kalian akan mampu melakukannya.
 
Malam ini, kita seharusnya berada di acaranya Kyai Amir Hamzah, ada majelis besar di sana, tetapi mereka mengubahnya.  Bukannya mereka yang mengadakan acara tersebut yang mengubahnya, tetapi hal itu tidak pada Iradatullah, Kehendak Allah tidak menginginkan hal itu terjadi untuk alasan tertentu. 
 
Bulan ini adalah bulan Mawlid an-Nabi (s) dan malam ini adalah Kamis pertama dan besok adalah hari Jumat.  Dan Kamis malam adalah Laylatun mubarakah, Kehendak Allah membawa murid-murid dan yang bukan murid untuk berkumpul melakukan Khatm al-Khawajagan, zikir yang dilakukan oleh Nabi (s) bersama Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r) di Gua Tsur dan zikrullah itu seolah-olah kita berada di dalam gua itu bersama Nabi (s) dan itu lebih penting karena itu bagaikan bor yang membuka kalbu manusia.  Kita melakukan Khatm al-Khawajagan yang dilakukan oleh Nabi (s) bersama Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r) dan seluruh Wali Naqsybandi di Gua Tsur. 
 
Jika kita pergi ke sana untuk mendengar Mawlid an-Nabawi asy-syariif. Mawlid dapat dilakukan setiap saat, seperti Mawlid yang mereka lakukan di sini dan di atas itu, kita mulai dengan pembacaan Mawlid dan di atasnya kita mencapai rida Allah bersama kita bahwa kita melakukan zikir di tempat ini. Maqaam itu sekarang, tempat ini sekarang menjadi sebuah maqaam di mana nuur muncul dari tempat ini hingga ke langit karena setiap orang bergabung dalam zikrullah, menjadi bagian dari zikir itu.
 
Mereka akan dikenal dengan cahaya pada kening mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang melakukan zikrullah di dunia, bahkan jika kalian melakukannya sekali sepanjang hidup kalian, kalian akan menjadi seorang dzaakir.  Bahkan jika ada seseorang yang datang dan duduk bersama kalian selama lima menit karena ada suatu keperluan dengan orang yang berada di sini, kemudian ia pergi, ia juga akan dianggap sebagai dzaakir oleh Allah, itulah sebabnya kita harus mengucapkan alhamdulillah dan asy-syukur lillah.
 
Mengapa dalam zikrullah dimulai dengan syahadat?  Itu adalah seperti orang yang mandi, membersihkan diri.  Syahadat membersihkan segala sesuatu, jadi kita mulai dengan mengucapkan asyhadu an la ilaha ill ‘Llah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah (s), dengan mandi itu kalian akan menjadi bersih.  Setelah itu kalian membaca istighfaar, Allah akan mengampuni kalian.  Kemudian kalian membaca Surat al-Fatihah, sekarang kalian memasuki rahasia kitab suci al-Qur’an dan malaikat membukakan bagi kalian untuk menyelam ke dalam samudra rahasia al-Qur’an. 
 
Dan kalian membaca Surat al-Fatihah sebanyak tujuh kali.  Mengapa bukan sepuluh?  Mengapa bukan sekali?  Tujuh kali karena ada tujuh ayat di dalam Surat al-Fatihah dan, saba` matsaani, untuk itulah kita membacanya tujuh kali, dan itu adalah kunci-kunci bagi ketujuh langit.  Jadi, satu, dua,…. Tujuh.  Kalian akan diberi kunci dari ketujuh ayat yang merupakan pembuka bagi ketujuh langit.  Jadi dengan berkah dari syuyukh kita, Allah membukakan bagi kita hakikat dari semua ini dan meneruskannya dari langit pertama hingga langit ketujuh dan tidak keluar lagi dari sana sampai Hari Kiamat. 
 
Kemudian apa lagi yang kita baca?  Kita membaca 10 shalawat.  Segala sesuatu kalian harus membungkusnya dengan shalawat.  Setiap amal yang kalian lakukan, kalian harus menyebutkan Nabi (s) dengan demikian itu akan aman. Tidak ada yang dapat menyentuhnya, segera setelah kalian menyebutkan Nabi (s), Setan akan pergi.  Jadi 10 shalawat adalah untuk membungkus syahadat, istighfar dan Surat al-Fatiha, itu akan dimasukkan ke dalam kotak penyimpanan untuk Hari Kiamat.  Nabi (s) akan menjaganya untuk kalian. 
 
Kemudian kalian membaca alam nashrah laka shadrak, bukankah Kami telah melapangkan dadamu ya Muhammad?  Dan Kami akan terus memberi padamu hingga engkau berkata, “Ya, aku senang.”  Apakah Nabi (s) akan mengatakan, “Aku senang”?  Tidak!  Beliau akan terus meminta dan meminta, tidak pernah berhenti karena apapun yang Allah berikan, beliau (s) akan memberikannya kepada umatnya.  Wa wadha`naa `anka wizrak, dan kemudian Kami ambil wizr bebanmu, seluruh dosa kalian telah dihapuskan. 
 
Kemudian Surat al-Ikhlash, setelah kalian dibersihkan, kalian membaca Surat al-Insyiraah, alam nashrah laka shadrak wa wadha`naa `anka wizrak, alladzii anqadha zhahrak, ketika Kami hilangkan beban berat berupa dosa-dosa, maka kalian dapat memasuki Samudra Tawhiid, ketika kalian mengucapkan, “asyhadu an la ilaha ill ‘Llah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah (s), kalian melihatnya dari level tersebut, dunia telah lenyap, setelah kalian dibersihkan dengan membaca Khatm al-Khawajagan dan ini adalah ringksan pendek dari rahasia Khatm al-Khawajagan.
 
Ketika kalian telah mencapai level fitrah itu dan kalian telah diangkat, dibukakan bagi kalian samudra Qul huw Allahu ahad, kalian menyelam dalam rahasia itu dan kalian akan merasakan hakikat Tawhiid, bukan lagi tawhiid imitasi, itu adalah tawhid yang sejati.  Kemudian kalian membaca lagi Surat al-Fatihah, tujuh kali, tetapi kali ini kalian membacanya pada level Tawhiid.  Yang pertama setelah istighfaar, kali ini setelah Tawhiid, yang pertama setelah tobat dan yang kedua membaca al-Fatihah dengan Hakikat Tawhiid.  Sekarang kalian memasuki tujuh langit, dengan ketujuh ayat ini dengan Tawhiid penuh, tidak ada lagi syirik di dalam kalbu kalian. 
 
Kemudian apa lagi yang kalian baca?  Shalawat atas Nabi (s) untuk membungkus Surat al-Fatihah dan samudra Tawhiid yang telah Allah bukakan bagi kalian.  Kalian berada di suatu tempat dan tidak ada orang yang dapat mengeluarkan kalian.  Itu terbungkus hingga Hari Kiamat.  Itulah pentingnya Khatm al-Khawajagan, jadi kalian jangan sampai melewatkan Khatm, lakukan sekali seminggu, karena itu akan membersihkan kalian dan hakikat alam nasyrah laka sadhrak, rahasia Surat al-Fatihah akan dibukakan bagi kalian di masa mendatang, insya-Allah.  Jika kalian tidak mempunyai kendaraan untuk pergi ke zawiyah di mana mereka mengadakan Khatm al-Khawajagan, maka tinggallah di rumah dan lakukan zikir itu sendiri. 
 
Jika kita pergi ke acara Mawlid malam ini, kita akan menjadi mahruumiin,  kita tidak akan mendapat shuhba ini malam ini.  Dan jika kita berada di sana, kita tidak akan mendapat rahasia ini yang Mawlana curahkan ke dalam kalbu untuk disampaikan kepada orang-orang mengenai pentingnya zikrullah dan Khatam al-khawajagan.
 
Surat al-Fatihah terdiri dari 3 level yang berbeda.  Insya Allah, Allah akan membukakan rahasia dari Surat al-Fatihah. 
[doa]

Langit dan Bumi Bersuka Cita untuk Mawlid an-Nabi (saw)!

Sulthan al-Awliya

Mawlana Shaykh Nazim al-Haqqani

Lefke, Siprus, 22 Februari 2010

 

Bismillaah Sayyidii, madad. (Mawlana Syekh berdiri.)  La ilaaha illa-Llaah, la ilaaha illa-Llaah, la ilaaha illa-Llaah, Sayyidina Muhammad-ur Rasuulullah. Sayyidi ‘l-awwaliin wa’l-akhiriin, Sayyidina Muhammad (saw), zidhu `izzan wa syarafan, nuuran wa suruuran. Syafa`atak, kami memohon syafaatmu, dan menentang orang-orang bodoh yang menyangkal syafaatmu. syafa`ata ‘l-uzhma adalah untukmu! (Mawlana Syekh duduk.)

Sulthan al-Awliya, kami memohon dukungan surgawimu, wahai tuan kami, yang mengawasi segala sesuatu di planet ini.  Allah Allah, Allahu akbar al-akbar. Dan kami ucapkan, “Dastuur, memohon dukunganmu.”  Kami adalah orang-orang yang lemah, tidak mengetahui apa-apa.  Ajarilah kami segala yang kami perlukan untuk menjadi hamba yang baik bagi Tuhan Surgawi.  Awal dari adab yang baik adalah mengucapkan, “a`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim, menyatakan bahwa kita tidak bersama kelompok setani.  Begitu banyak kelompok berada di bawah payung Islam. Nabi (saw) mengatakan bahwa akan ada 73 golongan; satu di antara mereka akan selamat di dunia dan akhirat, dan mendapat kemuliaan yang lebih tinggi di antara seluruh makhluk, hanya satu (golongan) di antara mereka.

Para Sahabat (ra) Nabi Suci (saw) bertanya, “Siapakah mereka wahai Nabi yang kami cintai?”  

Nabi (saw) menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang akan bersamaku dan mengikuti kalian, karena kalian mengikuti aku.  Dan mereka akan berusaha untuk mengikuti kalian karena mereka tahu bahwa jalan kalian adalah jalan yang lurus, Shiraatha ‘l-Mustaqiim. Dan itu hanya ada satu, tidak mungkin ada dua Shiraatha ‘l-Mustaqiim.  Kalian dan orang-orang yang mengikuti kalian akan menjadi firqatun naajiyyah, golongan orang-orang yang selamat.  Mereka akan masuk Surga karena jalan mereka adalah jalan yang benar.”

“Bagaimana dengan 72 golongan lainnya?”

“Mereka akan mengaku bahwa, ‘Kami bersama Khatamul Anbiya, Nabi Penutup,’ tetapi mereka adalah para pembohong.  Mereka tidak mengikutiku, mereka mengikuti Setan. Ke-72 golongan itu semuanya bersama Setan. Jika Setan tidak bersama mereka, maka mereka akan menghormatiku.  Tetapi mereka tidak menghormatiku karena Setan mengatakan kepada mereka, ‘Engkau berada di jalan yang benar, dan merekalah yang tidak berada di jalan yang benar.”  

Guru dan pemimpin mereka yaitu Setan telah meletakkan sesuatu ke dalam 72 golongan ini.  Jika kalian bertanya siapa saja mereka, itu mudah. Besok malam adalah hari kelahiran Nabi (saw), Milad un-Nabi.  Orang-orang yang menolak untuk merayakan hari kelahiran Nabi Penutup (saw), kalian tahu–mereka bersama Setan. Hal ini karena Setan begitu hasad, begitu dengki dengan Nabi (saw), dan membuat orang-orang tidak merayakan hari kelahiran dan malam pertama dari Nabi Penutup (saw).  Mereka semua ini merayakan hari ulang tahun seseorang, ptuuh (meludah), tetapi jika kalian merayakan hari ulang tahun Nabi Penutup (saw), mereka mengatakan itu adalah haram, syirik, bid’ah dan kufur.

Di kepala mereka akan tertulis raghab `ala anfihim, kutukan bagi mereka!  Mereka begitu dengki terhadap manusia yang seharusnya dihormati, manusia yang paling mulia di antara seluruh makhluk!  Apa itu? Setan tidak senang, ia iri dengan Nabi (saw), sebagai makhluk yang paling dicintai, yang paling agung, yang paling mulia.  Setan adalah makhluk yang paling iri terhadap Nabi Penutup (saw), terhadap Kekasih Allah, makhluk yang paling dicintai di Hadirat Ilahi!  Saya bertanya pada kalian, wahai ulama Salafi dan orang-orang Wahhabi, siapakah makhluk yang paling dicintai di Hadirat Ilahi? Katakan!! (Mawlana Syekh berdiri)  Jika Muhammad (saw) bukan orang itu, lalu siapa yang akan berada di Hadirat Ilahi?!! (Mawlana Syekh duduk.)

Kalian adalah bangsa Arab, dan kalian mengerti bahasa Arab.  Allah (swt) berfirman kepada Kekasih-Nya,

لولاك لولاك ما خلقت الأفلاك

Law laak law laak maa khalaqtu ‘l-aflaak.

Jika bukan untukmu (wahai Muhammad), Aku tidak akan menciptakan aflaak (tubuh Surgawi; alam semesta).”

Itu adalah bahasa Arab, ya, dan kalian mengatakan bahwa itu tidak benar, tetapi kami katakan haatuu burhaanukum, bawa bukti-bukti kalian!  Itu adalah hadits qudsi, di mana Allah berfirman kepada Kekasih-Nya (saw), “Kapan dan di mana?  Yaitu ketika belum ada waktu dan ruang,” Allah (swt) mengatakannya kepada Nabi Penutup (saw). Ya, Allah mengatakannya tetapi tidak ada orang yang mengetahui jika Nabi (saw) tidak mengatakannya, tidak ada orang yang tahu, tidak ada orang yang membawa buku catatan dari sakunya dan mencatatnya, tidak.  Itu terjadi sebelum ada waktu dan ruang, “tidak ada waktu dan ruang,” ketika Allah mengatakannya kepada Kekasih-Nya. Hanya satu! Kepada satu-satunya!

Wahai orang-orang yang lalai, wahai para pendengki, para pengikuti Setan, khalifahnya Setan!  Seseorang bertanya kepada saya, “Wahai Syekh, engkau mengatakan bahwa Khalifah Nabi (saw) ada terus hingga Hari Kebangkitan.  Bagaimana dengan Setan, apakah ia juga mempunyai khalifah?” Ya, Setan mempunyai khalifah yang menentang Nabi Penutup (saw), yang penuh kedengkian.  Mereka adalah para khalifah Setan. Khalifah Setan artinya deputi, penerus atau pengikuti sejati dari Setan. Ya, itu begitu jelas. Mereka mengatakan hal-hal yang berbeda dan mempertahankan gagasannya.  Darimana kalian membawa hal-hal semacam itu dan mengatakan bahwa hadits qudsi tadi tidak benar? Katakan, “Law laak law laak maa khalaqtu ‘l-aflaak,”  “Jika bukan untukmu, Kami tidak akan menciptakan seluruh alam semesta.”   Selama 1400 tahun (hadits) ini sudah dikenal, ia tertulis untuk setiap ulama yang mengikuti jalannya Nabi (saw) hingga sekarang.  Hatuu burhanakum, bawa bukti-bukti kalian jika ini bukan hadits qudsi sungguhan.  Katakan, dari mana sumbernya? Apakah menurut kalian Islam dimulai dari Muhammad `Abdu ‘l-Wahhab, dan umat Muslim telah mengikuti jalan yang salah dan mereka semua akan menjadi musyrik dan kafir?  Darimana ia berasal, Abdul Wahhab? Tiba-tiba muncul sesuatu yang bertentangan dengan Nabi (saw)?

Tidak, kalian yang bertentangan dengan Syariatullah, dengan perintah Allah.  Islam tidak dimulai dengan `Abdu ‘l-Wahhab, Islam dimulai dengan Nabi Penutup (saw)!  Mereka bertanya, “Mengapa kalian menyebut kami ‘Wahhabi’?” Mereka sendiri yang mengatakan bahwa mereka adalah Wahhabi!  Saya bertanya pada ulama Salafi, satu pertanyaan. Apakah kalian membaca al-Qur’an suci? Siapa yang mengatakan, `ala dhalaalah (orang-orang yang sesat)?  Bagaimana kalian mengubah nama kalian?  Mengapa kalian tidak mengatakan, “Kami adalah Muslim!”  Allah (swt) menyebut kalian Muslim, mengapa kalian mengatakan, “Kami adalah Wahhabi!”  Mengapa kalian tidak mengatakan, “Kami adalah Muslim!” Kalian telah melanggar Islam dan melakukan dosa terbesar, sebuah kejahatan dalam Islam.  Mengapa kalian tidak mengatakan, sammaakum; mengapa kalian tidak mengatakan, “Kami menjadi Muslim.”  Kalian menyangkal diri sendiri dengan mengatakan, “Kami adalah Wahhabi!”

Wahai manusia!  Siapa yang mengikuti kaum Wahhabi, maka kutukan akan datang pada mereka.  Saya pikir mereka tidak mengetahui bahwa tafriqa (pemecahan) akan terjadi, dalam setengah abad berikutnya tidak ada satu pun dari mereka yang akan hidup di Bumi.  Seluruh dunia hanya untuk Muslim, dan kita tidak mengatakan, “Kami adalah Wahhabi,” kita mengatakan, “Kami adalah Muslim.”  Dan saya mengatakan ini kepada seluruh kaum Muslim, mengapa kalian mengikuti orang-orang itu? Mereka mengubah nama mereka, dengan mengatakan, “Kami mengikuti  `Abdu ‘l-Wahhab.” Mengapa kalian tidak mengatakan, “Kami adalah Muslim.” Apakah `Abdu ‘l-Wahhab seorang Nabi? Memberi kalian nama, “Kami adalah Wahhabi.” Siapa di antara kalian yang memberikan wewenang kepada mereka?  Para pengikut Setan, khaaf Allah, takutlah kepada Allah, qudratuh (Kekuasaan-Nya), atau kalau tidak, tidak ada seorang pun yang akan hidup di dunia.

Saya rasa tidak ada seorang pun di antara orang-orang yang mengatakan “Kami adalah Wahhabi” akan sampai pada zaman Sayyidina `Isa (as).  Ini adalah sebuah pengakuan yang besar. Kita mendapat deklarasi istimewa ini sekarang, malam ini, bahwa mereka berada di jalan yang salah, karena mereka mengatakan, “Kami adalah pengikut `Abdu ‘l-Wahhab,” dan, “Kami adalah Wahhabi,” dan memberi mereka nama bahwa mereka adalah “Wahhabi.”

إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ

inna bathsya rabbuka la syadiid.

Sungguh azab Tuhanmu sangat keras. (Al-Buruj, 85:12)

Allahu Akbar `alayhim, Allahu Akbar `alayhim, Allahu Akbar `alayhim dan kepada para pengikutnya!

A`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim.  Di manakah Islam sejati dan di mana (posisi dari) orang-orang yang mengikuti jalan yang salah sekarang?  Mereka begitu hasad, dengki, mereka tidak pernah rela untuk menghormati Nabi Penutup (saw). Allah (swt) sangat memuliakannya!  Itu artinya kalian berkelahi dan bertengkar dengan Allah (swt)! Kalian menentang Allah dan mengatakan, “Mengapa kalian bersama orang ini?”

Ohh, ohh, yaa Rabbii, subhaanallah!  As-salaamu `alaykum wahai para pendengar kami,

وَالسَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

wa ‘s-salaamu `alaa mani ‘ttaba`a ‘l-huda.

Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. (Thaha, 20:47)

Keselamatan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk Nabi (saw).  Ya, kita berusaha untuk mengikuti jalan Nabi Penutup (saw), Sayyidi ‘l-awwaliin wa ‘l-akhiriin.  Kita adalah para pendosa. Kita tahu bahwa kita adalah para pendosa, tetapi saya pikir kita tidak mengganggu kehormatan Nabi Penutup (saw).  Kita adalah para pendosa, tetapi manusia yang paling mulia adalah Sang Nabi Penutup (saw), (Mawlana Syekh berdiri lalu duduk kembali) dan kita berharap bahwa beliau akan memberikan syafaatnya bagi para pengikutnya yang lemah!

Wahai Tuhan kami!  Kami tidak menyukai orang-orang yang salah, dan fitnah itu akan menjadi akhir dari zaman ini.  Begitu banyak fitnah yang muncul, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi Penutup (saw), begitu banyak hal-hal palsu yang muncul menentang Islam sejati dari para pengikut Setan.  Mereka akan datang menentang posisi mansyuur (yang mendapat Dukungan Ilahi) dan mereka akan mengatakan, “Ini salah, itu benar.”   Akhbathu ‘n-naas, orang-orang yang sangat kotor, yang mengikuti ego mereka, heh?  Ego itu mengikuti Setan.

Wahai Tuhan kami!  Jagalah kami agar tidak terjatuh dalam perangkap Setan.  Setan berusaha sejak zamannya Nabi Penutup (saw) hingga akhir zaman, mengatakan, “Aku tidak akan membiarkan umatmu mengikutimu, tetapi aku akan membuat umatmu mengikutiku, khususnya di akhir zamanmu.”  Setan telah melakukan yang terburuk untuk membuat fitnah besar melalui Islam, mengapa? Sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Penutup (saw), “Akan ada 73 golongan.” Beliau (saw) memberi peringatan kepada umatnya, “Wahai manusia!  Ikutilah jalan yang benar, karena ada begitu banyak jalan yang akan muncul dan setiap orang akan mengatakan, ‘Ikutilah jalan kami, ikutilah jalan kami,’ tetapi mereka membawa kalian ke dalam perangkap mereka. Mereka semua akan terjatuh dari jembatan Shirath.”  Semoga Allah mengampuni kita.

Wahai manusia!  Apa yang kami katakan adalah tidak mudah, karena hari Kamis (atau Rabu malam) adalah hari kelahiran Nabi Penutup (saw), sebuah perayaan menentang gagasan yang salah akan terjadi di Bumi dan begitu pula di Langit.  Seluruh Langit akan dihiasi dengan dekorasi yang begitu rupa yang belum pernah muncul sebelumnya, untuk merayakan “Malam Kelahiran Nabi Penutup (saw)!” (Mawlana Syekh berdiri). Yaa Muhammad!! Yaa Allah!! (Mawlana Syekh duduk kembali).

Seluruh malaikat, seluruh Muslim sejati, ruh mereka bernyanyi, jiwa sejati mereka bernyanyi, yaa Muhammad, Dost Muhammad canım pek sever seni.  Ribuan dan ribuan nasyid yang indah dilantunkan di Langit; malam itu akan menjadi malam perayaan di Langit, untuk Mukmin sejati yang hatinya penuh dengan kecintaan pada Sayyidina Muhammad!! (Mawlana Syekh berdiri dan duduk kembali.)  Oleh sebab itu, seluruh Muslim selama berabad-abad, mereka menyanyi dan melantunkan,

Huuuuu Huuuu Huuuuu Huuuuu Huuuuuu Huuuuuu

Huuuuu Huuuu Huuuuu Huuuuu Huuuuuu Huuuuuu Huuuu yaa Muhammad

Huu Huuu Huuuu Huuu Huuuuu Hu Huuu Hu Huuu Hu Huuuu Huuuu Hu Huuuuuu.

Fatihah.

Dari Samudra yang Tak Bertepi, apa yang kita katakan adalah sebagai takzim, penghormatan kepada Nabi Penutup (saw), dan itu lebih kecil daripada sebuah atom!

Huu Huuuu Huuuu Huuuuu Huuuu Huuuu.

Wahai para malaikat, bawalah mereka pergi, mereka yang penuh kedengkian, yang membenci Nabi Penutup (saw); Nabi yang paling dicintai di Hadirat Ilahi!  Bawalah mereka pergi atau bawalah mereka pada jalannya.

Fatihah.

(43 menit) (535)

Alhamdulillah.

(Mawlana Syekh berbicara dengan Hajjah Naziha di telepon.)

 

Perlunya Latihan untuk Menghindari Perdebatan

36471655_1734014739986205_925039254369730560_n

Tarekat kita adalah mengenai adab.  Setiap orang harus mempelajari adab agar ia menjadi orang yang baik.  Manusia bisa mempunyai kepribadian yang baik atau kepribadian yang buruk.  Pada awalnya, setiap orang yang tidak dilatih mempunyai akhlak yang buruk. Pada awalnya ego sangat kuat.  Untuk mempunyai akhlak yang baik, kalian harus mengambil alih kendali dari ego kalian. Jika kalian menyerahkan diri kepadanya, kalian akan mempunyai kepribadian yang buruk.  

Itulah sebabnya pada saat Allah menciptakan manusia pertama, Dia juga mengangkatnya sebagai Nabi.  Manusia pertama adalah nabi pertama, jadi ia dapat mengajari anak cucunya dengan adab dan karakter yang baik.  

Manusia memerlukan pelatihan; oleh sebab itu Allah memberi mereka orang tua yang dapat mengajarinya sejak bayi dan semasa kanak-kanak.  Tetapi pelatihan yang diberikan oleh para Nabi adalah yang terpenting. Sementara yang lain mengajarkan kalian untuk menuruti keinginan ego, para Nabi mengajarkan kita agar selamat dari keinginan ego, karena keinginannya tidak terbatas.  Ia selalu meminta dan meminta lagi, tak terbatas. Kita akan merasa lelah bila menuruti keinginannya sampai kita akan mati kelelahan. Para Nabi mengajarkan kita untuk berhenti dalam batas-batas tertentu, menjaga seseorang dari pekerjaan yang melelahkan dan tak ada habis-habisnya.  Mereka mengajarkan kita tentang tujuan hidup, dan menunjukkan tujuan akhir kita. Siapa pun yang mengikuti jalan ini, ia akan mempunyai kepribadian yang baik, karena ajaran para Nabi bertujuan untuk melatih adab yang baik kepada semua orang.

Sekarang para Nabi telah tiada, namun para penerus mereka dapat ditemukan jika orang mencarinya.  Mereka mengajarkan manusia untuk menyelamatkan diri dari serangan ego mereka.

Sekarang, salah satu adab yang baik adalah untuk mendengar dan melakukan perbuatan yang sesuai dengannya.  Inilah pengobatan yang perlu diambil.

Seseorang yang sakit tidak akan meninggalkan obatnya di meja dan mengabaikannya.  Adab adalah melakukan sesuatu. Mendengarkan setiap orang yang berbicara kepada kalian adalah salah satu adab yang baik.  Sebaliknya, berdebat adalah adab yang buruk. Jika kalian berada pada pihak yang benar 100%, tetap saja jangan berdebat. Ini adalah hal yang terlarang.  Jika kalian melihat bahwa seseorang bertanya untuk mengetahui mana yang lebih baik, maka kalian dapat menjawabnya; di situ ada celah untuk masuk. Tetapi jika kalian melihat bahwa ia hanya ingin berdebat, kalian harus meninggalkannya, karena ia telah menutup dirinya.  Katakan saja padanya, “Oh begitu?” Berdebat sama sekali tidak bermanfaat, ia hanya akan menimbulkan permusuhan di antara manusia. Inilah makna dari ayat, “lakum diinukum waliyadiin, untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.”

Perdebatan memadamkan cahaya iman di dalam hati kita.  Barangkali ada kata-kata yang terucap di mana kalian tidak pernah memikirkannya sebelumnya dan menyebabkan Iman kalian menurun.  Adab terbaik adalah tidak berdebat dan tidak mengucapkan, “Tidak, itu adalah suatu kebodohan.”

Tidak ada persahabatan setelah perdebatan.  Hati menjadi dingin. Grandsyekh kita berkata bahwa Grandsyekhnya tidak pernah menyangkal kata-kata seseorang, bahkan di hadapan orang-orang yang tidak berbicara dengan baik.   Tetapi bila beliau bicara di dalam suatu majelis, beliau akan menyinggung topik tadi dan orang-orang itu dapat merasakan, “Ah, ini untukku,” sehingga di lain waktu, mereka akan mempertimbangkan kembali ucapannya.  Setiap orang ingin dihormati. Itu artinya, “Jangan menunjukkan gigi kalian seperti anjing. Manusia tersenyum!”

Mawlana Shaykh Nazim

(Mercy Oceans – from the Teachings of the Saints of the Golden Chain).

RINGKASAN SUHBAH FAJAR 28 RAMADHAN

Dr. Nour Kabbani dari catatan Grandsyaikh Nazim

 

Awliya’Allah memiliki cahaya dari Allah, yang dengan cahaya itu mereka berjalan. Dengan cahaya itu pula mereka mampu melihat apa yang terlintas maupun tersimpan dalam hati manusia.

Syaitan juga memiliki kemampuan yang sama. Syaitan tidak memiliki cahaya Ilahi, tetapi Allah SWT mengaruniakan padanya kemampuan untuk melihat dan mengetahui apa yang terlintas di hati manusia.

Perbedaan antara kemampuan Awliya’ dengan Syaitan adalah, Awliya’ juga dikaruniai pengetahuan akan hikmah munculnya niat yang timbul di hati seseorang, sedangkan syaitan tidak faham hikmahnya.

Karena itulah, Awliya’Allah terkadang membiarkan munculnya niat buruk pada orang / murid yang hadir di majelis mereka, karena mereka faham akan hikmah yang lebih dalam akan niat tersebut, misalnya mungkin untuk menguji murid yang lain, dan sebagainya.

Sedangkan syaitan tidak memahaminya. Bila ia melihat niatan baik pada hati seseorang, ia akan berusaha mencegahnya. Sebaliknya, bila ia melihat niatan buruk dalam hati seseorang, ia akan mendorongnya.

Demikianlah hati manusia pada level qalb, ditempatkan di dalamnya cahaya Awliya’ dan kegelapan Syaitani. Dan di antara keduanya, Allah SWT letakkan haqiqat (realitas) diri kita.

Hakikat Insaniyah itu yang telah Allah ciptakan dari citra / refleksi Ilahiah-Nya, berdasarkan hadits sahih di Bukhari dan Muslim:
Innallaha khalaqa Adama ‘alaa suuratih

Sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas citra-Nya.

Maksudnya sebagai refleksi Atribut dan Asma-Nya.

Ketika diri kita mencari cahaya Ilahi yaitu melalui Awliya’Allah, dan meninggalkan kegelapan syaitani, maka saat itulah perlahan2 ruh kita menjadi bercahaya, Ruh Nurani. Dan jika kita istiqomah pada jalan tersebut, maka kita akan mencapai Maqam berikutnya dari hati, yaitu Sirr qalbu. Kita akan mencapai Syarqiy tempat terbitnya cahaya Ilahi dalam diri kita.

Allah SWT berfirman:

وَاذْكُرْ فِى الْـكِتٰبِ مَرْيَمَ ۘ اِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ اَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا
wazkur fil-kitaabi maryam, izintabazat min ahlihaa makaanan syarqiyyaa

“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al-Qur’an), (yaitu) ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitulmaqdis),”
(QS. Maryam 19: Ayat 16)

* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Dengan mengasingkan diri dari “keluarga” kita, yaitu Nafs (ego), Hawa’ (keinginan2 buruk), Syaithan dan Dunia, maka kita akan mencapai Syarqiyy.

Allah SWT berfirman:

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُوْنِهِمْ حِجَابًا ۗ فَاَرْسَلْنَاۤ اِلَيْهَا رُوْحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
fattakhozat min duunihim hijaabaa, fa arsalnaaa ilaihaa ruuhanaa fa tamassala lahaa basyaron sawiyyaa

“lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.”
(QS. Maryam 19: Ayat 17)

dan ketika kita telah memasuki Maqam Sirr, maka Allah akan menurunkan hijab-Nya untuk melindungi kita dari Syaithan, Ego, Hawa dan Dunia. Keempat musuh2 kita tersebut tidak akan mampu mengakses diri kita di Maqam Sirr.

Kemudian Allah akan menurunkan ruh-Nya yaitu Awliya’Nya untuk membimbing kita di maqam ini. Grandsyaikh mengatakan bahwa Maqam Sirr ini diperuntukkan bagi Aimmah (Imam-imam) dari 40 Turuq (Tariqah2) selain Naqsybandi. Karenanya, Grandsyaikh menjelang wafatnya selalu menyeru Shah Mardan Sayyidina ‘Ali alayhissalaam, sebagai Pir, Pemimpin dari 40 Turuq, sebagai Pintu menuju Haqiqat kita. Karena kita tidak bisa menjadi Naqsybandi sebelum menjadi ke 40 Turuq lainnya.

InsyaAllah pada kesempatan berikutnya, kita akan membahas Maqam Hati berikutnya. Namun, yang lebih penting bukanlah sekedar mendengarnya, karena ego suka mendengar tanpa melakukannya.

Yang lebih penting adalah untuk memalingkan diri kita dari keburukan 4 musuh kita, mengarahkan wajah kita ke cahaya Ilahi yang dibawa Awliya’Allah.

Itulah makna doa yang diajarkan Nabi SAW:

Allahumma arina l-haqqa haqqan warzuqna t-tibaa’ah, wa arina l-bathila bathilan, warzuqna j-tinaabah

Yaa Allah tunjukkanlah bahwa yang Haqq itu adalah Haqq dan karuniakan kami untuk mengikutinya, dan tunjukkan bahwa yang bathil adalah bathil, dan karuniakan kami untuk menjauhinya.

Wallahu a’lam bissawab, wa min Allah at Taufiq, Alfatihah.

Catatan Ringkas SUHBAH ZUHUR 28 RAMADAN 1439H

 

Dr. Nur Kabbani

 

Penyakit di zaman ini adalah Depresi. Setiap orang memiliki depresi. Dan obat untuk depresi adalah Dzikrullah. Jangan buang waktumu dengan pergi ke Psikiater untuk mengobati depresimu. Mereka hanya memberikan obat yang membuatmu tidur dan tidak sadar. Obat terbaik untuk depresi adalah Dzikrullah. Karena itu kita datang ke majelis ini, untuk memperoleh Hudhur, ketenangan. Dan hudhur hanya dapat diperoleh dengan dzikrullah, seperti yang disebutkan dalam Alquran untuk orang2 yang menginginkan tuma’ninah, ketenangan, obatnya adalah dzikrullah.

Allah SWT berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
allaziina aamanuu wa tathma`innu quluubuhum bizikrillaah, alaa bizikrillaahi tathma`innul-quluub

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 28)

Juga dalam surat Jumu’ah, ketika kita diperintahkan Allah untuk berlari menuju dzikrullah.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۗ ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu izaa nuudiya lish-sholaati miy yaumil-jumu’ati fas’au ilaa zikrillaahi wa zarul baii’, zaalikum khoirul lakum ing kuntum ta’lamuun

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
(QS. Al-Jumu’ah 62: Ayat 9)

Jadi, ketika kita ingin meninggalkan keadaan sekeliling kita yang membuat depresi, kita ke masjid, untuk berlari menuju Hadirat Allah di Masjid itu, bukan kepada orang2 yang berada di masjid itu.

Tiap kali kita merasa depresi, lakukan dzikrullah. Kalian tidak akan menemukan kepuasan dengan berteriak dan marah. Namun berdzikirlah. Datanglah ke masjid, dengarkan para Syuyukh, untuk bisa pulang dalam keadaan bahagia. Kebahagiaan adalah sesuatu yang hilang di dunia saat ini. Qalbu kita berada di Tangan Allah. Ia berkuasa untuk membalikkan hati kita dari situasi depresi ke situasi bahagia.

 

Madad yaa Sayyidii, Madad yaa Mawlana…

Mawlana Grandsyaikh berkata, Ketika Yaqin bertambah, Raahah, Ketenangan pun bertambah.

Allah SWT berfirman:

… وَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗ …

…, wa may yu`mim billaahi yahdi qolbah,…

“…; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. ….”
(QS. At-Taghabun 64: Ayat 11)

Haadii atau petunjuk itu muncul sebagai Huzhur, ketenangan. “Jika kalian yaqin terhadap Allah, Allah akan memberikan petunjuk padamu menuju kebahagiaan dan ketenangan.”

Ketika seseorang beriman kepada Allah SWT, dan imannya mencapai level yaqin, Tuma’ninah akan mewujud di hatinya, tidak ada rasa khawatir lagi dalam hatinya. Seandainya seluruh dunia dilanda api, “Terserah Engkau, wahai Tuhanku”. Seandainya seluruh dunia diliputi banjir, “Terserah Engkau, wahai Tuhanku!”

Ketika Iman mencapai Yaqin, Sakinah ketenangan akan datang. Sakinah dari kata Sakan yang bermakna rumah, kalian akan merasa berada di rumah sendiri, merasa aman dan tentram, yaitu ketika qalbu kalian hanya berisi Allah SWT.

Sekarang, di rumah kalian, kalian memasang gembok di setiap pintu, bahkan jeruji. Tetapi, kalian lupa memasang gembok di hati kalian untuk mencegah masuknya syaitan. Akibatnya, segala bentuk kekhawatiran dan depresi datang.

Ketika Iman meliputi segenap qalbu, tak ada lagi syaitan tertinggal dalam qalbu. Tak ada lagi syaitan yang membuatmu ragu akan Tuhan. Ketika Iman kita bertambah hingga tiada lagi yang tersisa dalam hati kecuali Tuhan, bahkan seandainya seluruh dunia diliputi api, kita bersikap “Hasbiyallahu” Cukup Allah sebagai Penolong.

Lihatlah teladan Sayyidina Ibrahim ‘alayhissalaam yang menggantungkan dirinya pada Allah semata, bahkan ketika Jibril dan Malaikat2 lainnya telah menawarkan pertolongan pada beliau.

Inilah iman yang kita cari, iman orang2 di shaf terdepan. Bahkan seandainya mereka dilempar ke api, mereka tetap tenang, tiada kekhawatiran. Untuk itulah, kita berada di sini sekarang, untuk menghilangkan keresahan kita dengan meningkatkan iman kita.

Jadi, bagaimana kita dapat meningkatkan Iman kita?

Mawlana mengatakan, bahwa jika Allah SWT adalah Ia Yang Menggerakkan diri kalian pada arah perjalanan kalian, maka tiada keraguan bahwa pastilah Dia tengah menunjukkan kita pada jalan Kebaikan. Jadi, mengapa kita mesti khawatir? Inilah Islam, untuk berserah diri kepada Kehendak Allah SWT. Jika kita memahami bahwa Allah SWT tengah menunjukkan kita menuju tujuan kita, maka tidak perlu ada keresahan dalam hati kita.

Orang2 yang memiliki iman yang lemah, mereka berlarian mencari berbagai hal yang berbeda siang dan malam. Seperti diri kita yang mengejar dunia siang dan malam tanpa hasil.

Mengapa? Karena orang2 ini bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya mereka cari. Ketika kalian bekerja, kalian mengejar begitu banyak target.

Sebenarnyalah yang mereka cari adalah Tauhid, mencari Allah SWT saja. Banyak orang mencari uang, padahal semestinya mereka hanya mencari Allah SWT.

Begitu banyak Muslim mereka tidak tahu apa yang mesti mereka cari. Semestinya mereka berkata, “Aamantu billahi”, kami mencari Allah.

Ketika mereka mencari sesuatu selain Allah, syayathin, setan2 akan bersemayam dalam hati mereka. Dan mereka pun menjadi resah dan khawatir. Namun, seandainya mereka hanya mencari Allah SWT, mereka akan tenang tanpa rasa khawatir. Seperti Sayyidina Ibrahim a.s. Karena itulah Nabi kita Muhammad SAW diperintahkan untuk mengikuti Millata Ibraahim, Jalan Nabi Ibrahim alayhissalaam.

Kita harus meminta Tuhan kita. Ketika kita mencapai Tuhan kita, kita mendapatkan segalanya. Karena setiap permintaan manusia, jawabannya ada pada Allah SWT. Inilah Tauhid, mintalah hanya Allah SWT! Karena apapun yang kalian perlukan ada pada-Nya! Sayangnya Muslim saat ini justru mencari penolong2 yang lain, tuhan jadi2an.

Grandsyaikh berkata, mintalah kalian Allah SWT: inilah Tauhid! Mereka yang mendapatkannya, mendapatkan Hadirat Ilahiah Allah, mereka mendapatkan semuanya.

Sebaliknya, mereka yang mendapatkan sesuatu selain Allah, pada hakikatnya, mereka tidak mendapatkan apa2. Kalian punya uang, tetapi uang itu ada di Bank, atau di pasar saham, dlsb. Apa yang kalian pegang dengan tangan kalian? Tidak ada! Namun, jika kalian memiliki Allah SWT bersama kalian, kalian memiliki segalanya di ujung jari kalian. Kalian dapat membelah laut menjadi gunung. Atau, seperti Sayyidina ‘Isa ‘alayhissalaam yang dapat membuat burung dari tanah liat. Jika kalian bersama Allah SWT, segala sesuatunya akan bersama kalian. Apapun yang kalian miliki selain Allah, akan pergi. Bahkan seandainya kalian memiliki seluruh dunia, atau 10x dunia, suatu waktu kalian mesti memberi salam perpisahan pada mereka. Apa yang tidak akan berpisah dari kalian adalah jika kalian bersama Tuhan kalian.

Jadi, berusahalah untuk mencapai Tauhid, Tauhid yang sejati. Jangan ikuti badut2 yang mengajarkan kalian tauhid palsu (kaum Wahabi Salafi, penerj.) yang sebenarnya hanya ingin mengajak kalian mengikuti mereka, menjadikan mereka sebagai tuhan2 palsu kalian.

Suatu waktu seseorang mengeluh dan menangis kepada Sayyidina Jalaluddin Rumi. Beliau pun bertanya padanya, apa yang terjadi. Orang tersebut berkata, “Wahai Syaikhku, aku kehilangan anakku”. Sayyidina Rumi pun berkata, “Lihatlah orang ini yang menangis karena kehilangan anakknya, padahal manusia telah kehilangan Tuhan mereka, namun mereka tidak mencari-Nya. Carilah Tuhanmu agar Ia dapat mengembalikan anakmu, sebagaimana Ia mengembalikan Yusuf alayhissalaam kepada ayahandanya, Ya’qub alayhissalaam.” Ketika Ya’qub alayhissalaam berkata Fa sabrun jamiil, Wallahu l-musta’aan.

Allah SWT berfirman:

وَجَآءُوْ عَلٰى قَمِيـْصِهٖ بِدَمٍ كَذِبٍ ۗ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَـكُمْ اَنْفُسُكُمْ اَمْرًا ۗ فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ ۗ وَاللّٰهُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ
wa jaaa`uu ‘alaa qomiishihii bidaming kazib, qoola bal sawwalat lakum anfusukum amroo, fa shobrun jamiil, wallohul-musta’aanu ‘alaa maa tashifuun

“Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Ya’qub) berkata, Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 18)

Inilah contoh orang2 yang berada pada saf terdepan ummat ini.

Utlub Rabbak
Carilah Tuhanmu!

Mawlana Syaikh Nazim biasa berdzikir “Allahu Rabbii, Kafaanii Rabbal”
“Allah Tuhanku, Ia mencukupi semua kebutuhan”.

Carilah iman seperti itu. Semoga Allah SWT mengaruniakan kita Iman dan Yaqin seperti itu. Dialah Yang Awal sebelum segala sesuatu, dan Dialah Yang Akhir setelah segala sesuatu.

Marilah kita mengejar Tauhid sejati, Laa ilaaha illAllah. Ketika kalian bersama-Nya, dan tidak bersama yang selain-Nya, kalian akan mendapatkan segalanya. Berusahalah mencapai Yaqin seperti itu.

Ketika Iman dan Yaqin kita bertambah, kebahagiaan dan ketentraman kita pun bertambah. Dan kita telah memberikan contoh Sayyidina Ibrahim dan Sayyidina Ya’qub alayhimassalam.

Semoga Allah menyelamatkan kita dengan Iman dan jalan terbaik menambah keimanan adalah dengan Dzikrullah, dan sebaik2 Dzikrullah adalah Laa ilaaha illAllah.

Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai Muwahhidin sejati, bukan seperti orang2 palsu itu.

Wa min Allah At Taufiq, Alfatihah

Adab dalam Hadirat Syekh

Mawlana Syekh Hisham Kabbani

dari buku At the Feet of My Master: Sufi Guidance for the 21st Century

 

Madad yaa Sulthan al-Awliya, Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani
Madad yaa Sulthan al-Awliya, Syekh `Abd Allaah al-Fa’iz ad-Daghestaani

Kita memulai dengan topik ini karena ini sangat penting bagi perkembangan spiritual kita. Berbicara dalam kehadiran fisik Mawlana sangat berbeda dengan berbicara ketika kalian berada jauh darinya, ketika kalian merasa lebih bebas. Berada dalam kehadiran Mawlana bagaikan berenang di samudra di mana kalian bisa saja tenggelam. Jika kalian berenang di sebuah danau atau sungai yang kecil, di sana tidak ada arus yang kuat sehingga kalian dapat menyelamatkan diri kalian. Dapat pula kalian katakan bahwa berbicara di hadapan Mawlana bagaikan berbicara di hadapan singa yang sedang mengaum di mana kalian tidak boleh membuat kesalahan sekecil apa pun, sebab ia bisa menerkam kalian. Tetapi bila kalian jauh dari samudra atau singa itu, setiap kali kalian melakukan suatu hal yang tidak sempurna, kalian masih aman.

Itulah sebabnya sangat penting untuk mengetahui tentang adab atau disiplin yang benar. Berada dalam hadirat Mawlana Syekh Nazim, semoga Allah memanjangkan umurnya, tidak seperti berada di sekitar syekh biasa. Ada banyak ulama dan syekh biasa yang dapat kalian temui di seluruh dunia.

Nabi (saw) bersabda, “Para ulama umatku seperti nabi-nabi Bani Israil.”
Itu artinya ilmu tentang al-Qur’an suci dan hadits membuat para ulama tersebut mewarisi rahasia spiritual dari Nabi (saw). Namun demikian para Awliyaullah sama sekali berbeda.

Wali-wali-Ku berada di bawah Kubah-Ku, tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Aku.
Alaa inna awliyaullaahi la khawfun `alayhim wa laa hum yahzanuun.
Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Surat Yunus, 10:62)

Allah (swt) mengatakan di sini, sudah tentu, para awliyaullah tidak mempunya rasa takut atau sedih karena Dia melindungi mereka! Awliyaullah sudah sangat mapan, dan mereka terdiri dari dua tipe: awliya biasa, yang secara bertahap mengalami kemajuan dalam ilmu-ilmu Ilahiah; dan mereka yang berada di ujung kesempurnaan, yaitu Sulthan al-Awliya yang hanya ada seorang pada setiap abad. Jadi ada protokol atau perilaku yang harus kita ikuti agar tidak membuat kesalahan serius.

Saya akan memberikan sebuah contoh. Di mana pun kalian berada di dunia ini, jika kalian hanya berpikir tentang melakukan sebuah dosa tetapi kalian tidak melakukannya, hal itu tidak dituliskan dalam catatan amal kalian di Loh Mahfuz. Berbeda halnya dengan Mekah atau Madinah, jika kalian hanya berpikir untuk berbuat dosa, itu sudah dituliskan dalam catatan amal kalian. Jadi itu sungguh berbeda!
Dalam hadirat Syekh, niat saja sudah dituliskan, apakah itu baik atau buruk, jadi ini berbahaya. Ketika kita berada di sini, jika kita mempunyai niat buruk terhadap satu sama lain, itu sudah tertulis. Hal itu seolah-olah kalian telah memberi air beracun kepada syekh. Kita datang ke sini untuk dibersihkan, bukan untuk tertular penyakit. Jadi, pertama kita harus menegakkan adab, kita harus menjaga adab terhadap syekh dan juga terhadap sesama pengunjung.

Syekh dapat membaca hati kalian dan beliau tidak ingin melihat ada monster di hadapannya. Meskipun beliau tidak menunjukannya, beliau tidak senang bila ada seseorang yang kondisinya seperti itu. Beliau senang melihat seseorang yang seperi orang sedang kasmaran. Tentu saja, setiap orang yang datang ke sini adalah para pecinta syekh, tetapi kadang-kadang ketidakmurnian kita mendorong kita berbuat kesalahan dan menciptakan masalah.


Kedekatan dengan Syekh

Mengenai kedekatan dengan syekh, banyak orang yang berpikir–karena mereka melihat syekh setiap hari atau duduk bersamanya–bahwa mereka lebih baik atau lebih maju dalam terekat daripada mereka yang mengunjungi Mawlana setahun sekali. Hal ini tidaklah benar.

Nabi (saw) bersabda, “Rubba asy `ats aghbar law aqsama `alaa Allaahi laa-abarrah
Bisa saja seseorang yang berambut kusut dan berdebu ketika ia berdoa kepada Allah memohon sesuatu, Allah segera mengabulkannya. (Sahih Muslim 2622)

Di masa Nabi (saw), seseorang bisa menempuh perjalanan selama sebulan dengan berjalan kaki atau mengendarai unta untuk bertemu beliau. Ketika mereka sampai, tubuh mereka kotor dan berdebu. Lihatlah bagaimana tanggapan Nabi (saw). Itu artinya orang yang telah menempuh perjalanan jauh, menempuh perjalanan yang sulit dan datang hanya untuk bertemu syekhnya, kemudian dengan berat hati mereka harus kembali lagi, jika mereka berdoa kepada Allah, Allah akan segera mengabulkannya.

Bagi mereka yang datang berkunjung namun harus kembali, jangan berpikir, “Oh, jika saja aku bisa tinggal di sini.” Tidak, seratus kali lebih baik jika kalian datang dan pergi, daripada kalian tinggal di tempat yang sama dan berpikir bahwa kalian begitu dekat dengan Syekh kemudian kehilangan penghormatan kalian. Karena banyak orang yang ketika mereka sangat dekat, mereka kehilangan penghormatan mereka dan tidak lagi menjaga adab. Kita belajar dari hadits ini bahwa lebih baik untuk tinggal di tempat yang jauh dan kemudian datang sekali-sekali, karena kalian akan memperoleh pahala yang lebih besar.

Sebagai contoh, Nabi (saw) bersabda di dalam hadits bahwa barang siapa yang datang ke masjid untuk shalat, Allah akan memberi pahala 10 hasanat (kebaikan) dan menghilangkan 1 sayyi’at (keburukan) untuk setiap langkahnya. Jika kalian tinggal satu blok dari syekh, kemudian kalian datang, shalat dan kembali lagi, ada berapa langkah jarak yang ditempuh? Satu, dua atau tiga ribu langkah? Mari hitung ada berapa hasanat yang akan kalian dapatkan karena untuk setiap langkah kalian akan mendapat 10 hasanat. Jadi jika kalian tinggal 10.000 kaki jauhnya, maksimum kalian akan mendapat 100.000 hasanat.

Namun demikian banyak orang yang datang dari segala penjuru dunia, dari Timur Jauh, dari Barat Jauh, datang dari jarak 10.000 mil untuk sampai ke Siprus. Sekarang kalikan pahalanya untuk 10.000 mil. Apakah lebih baik memperoleh 100.000 hasanat jika kalian tinggal 1000 kaki jauhnya atau mendapat 450.000.000 hasanat jika kalian tinggal 10.000 mil jauhnya. Ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, namun ini adalah hadits dari Sayyidina Muhammad (saw).

Kita ingin berada dekat dengan syekh, tetapi ada adabnya dan ini adalah pelajaran pertama. Kita akan melanjutkan tentang pentingnya adab yang harus kita ikuti. Jika kita tidak dapat mengikuti adab-adab ini, maka kita tidak akan dapat meraih apa yang kita cari. Kita tidak datang ke sini untuk pergi ke pasar, kita datang ke sini untuk mencari pemurnian spiritual melalui suatu pengasingan dari dunia fisik. Kita harus menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an, Hadits, dalam belajar, dan menjelaskan satu sama lain, dan bertanya kepada mereka yang lebih tinggi ilmunya tentang apa-apa yang perlu kita ketahui. Jangan merasa malu untuk bertanya kepada orang lain.

Nasihat kami untuk setiap orang, sebagaimana untuk diri saya sendiri, adalah agar selalu menjaga adab, dan khususnya adab untuk mencatat. Ketika saya berumur 20an, ketika kami pergi menemui Grandsyekh, kami selalu membawa buku catatan dan alat perekam. Pada saat itu kami hanya mempunyai alat perekam yang besar yang kami letakkan di rumah Grandsyekh, karena beliau biasanya memberi shuhba tiga sampai empat kali sehari dan dari catatan Grandsyekh, Mawlana Syekh Nazim memberi shuhba setiap bakda Shalat Subuh dan Ashar. Grandsyekh biasa memberi shuhba sekali dalam dua jam, sepanjang masih ada tamu yang datang dan pergi, beliau akan berbicara, jadi kalian tidak berhenti untuk mencatat.

Sekarang orang-orang tidak lagi mencatat ketika mereka hadir dalam shuhba Mawlana Syekh, dan itu melanggar adab. Alat perekam ini sangat berharga, tetapi ia tidak menunjukkan dedikasi murid yang menggunakannya untuk merekam shuhba. Jika kalian kuliah di universitas, apakah kalian merekam pelajaran dari dosennya? Jika kalian adalah murid yang serius, kalian akan mencatat, menunjukkan hormat kepada dosen dan pada ilmunya.

Ketika syekh berbicara dan beliau melihat kalian mencatat, beliau menghitung dengan matanya. Bila kita mencatat, beliau akan membukakan lebih banyak rahasia. Tetapi dengan alat perekam hal itu tidak sama, alat perekam tidak akan menciptakan perasaan yang intim antara guru dan murid, tidak seperti dengan catatan. Ketika ada perasaan, maka tercipta hubungan. Ketika guru melihat muridnya mencatat, ia akan membuka lebih banyak lagi ilmunya.

Jadi, sekarang kita kehilangan salah satu adab yang paling penting, karena Allah telah menyebutkannya kepada Sayyidina Muhammad (saw) dalam wahyu pertama, “Iqra!” Perintah suci, “Bacalah!” Nabi (saw) bertanya pada malaikat Jibril (as), “Apa yang harus kubaca? Aku tidak tahu.” Nabi (saw) sebenarnya tahu, tetapi karena adabnya yang luhur, beliau (saw) bertanya, bagian mana yang engkau ingin aku membacanya?”
Membaca adalah dari sesuatu yang tertulis. Untuk mengatakan “iqra” artinya ada sesuatu yang tertulis di depan Nabi (saw). “Ya Muhammad (saw), bacalah dari situ.” Itulah sebabnya turunnya wahyu, “Iqra bismi rabbik alladzi khalaq” “Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang menciptakan (semua yang ada).” (Surat al-Alaq, 96:1)

Sekarang hubungan antara guru dan murid sudah hilang, jadi bagaimana guru akan memberikan rahasianya pada kalian? Ajaran Mawlana Syekh Nazim yang dulu sepenuhnya berbeda dengan yang sekarang. Ajaran yang sekarang berdasarkan ego, ego dan ego. Ceramah beliau yang terkini bahkan tidak menyebutkan tentang rahasia spiritualitas, apa yang dilihat oleh orang-orang arif dalam perjalanannya menuju ke Hadirat Ilahi, hubungan muraqabah antara guru dan muridnya, bagaimana syekh membawa muridnya ke Hadirat Ilahi, atau apa yang akan dihadapi oleh murid dalam perjalanan yang luar biasa itu. Saya tidak lagi melihat ajaran-ajaran ini dari Mawlana Syekh, karena tidak ada yang menaruh perhatian penting dengan mencacat. Alat perekam ini memang bermanfaat, tetapi dalam catatan kalian dapat menggarisbawahi hal-hal yang penting, kalian dapat segera mencari bagian spesifik dari shuhba tersebut; dan dengan mencatat juga membantu membentuk hubungan mental karena kalian menggunakan lebih banyak indera kalian (pendengaran, sentuhan, penglihatan). Jadi bawalah selalu buku catatan dan pena.

Allah (swt) berfiman bahwa malaikat di sisi kanan dan kiri setiap manusia mempunyai buku catatan dan mereka merekam untuk kalian. Allah berkata pada mereka, “Bawalah sebuah buku catatan, suhuf.” Itu adalah sebuah tanda bagi kita. Kalian harus membuat catatan dari apa yang dikatakan oleh syekh setiap hari, dan dari apa yang telah kalian capai. Itu adalah salah satu adab. Ketika syekh melihat hal itu dari murid-muridnya, beliau akan mulai membuka lebih banyak dari ilmu-ilmu Ilahiah. Menjaga adab ini akan mendatangkan lebih banyak ilmu bagi masa depan kita di Jalan ini.

Semoga Allah mengampuni kita, semoga Allah memberkahi kita, dan semoga Dia mengaruniai kita manfaat dari cinta dan penghormatan yang kita tunjukkan pada syekh kita.


Sebuah Peringatan bagi para “Perwakilan Syekh”

Sangat penting untuk diketahui bahwa dalam setiap pertemuan, baik di Argentina atau di mana pun, kita harus mengerti bahwa tidak ada seorang pun yang menjadi syekh, kecuali Mawlana Syekh Nazim, dan kita semua adalah murid-murid di kaki beliau. Betapa pun tingginya maqam yang telah diraih oleh para perwakilan tersebut ia harus tahu bahwa dirinya adalah seekor semut, sedangkan syekh adalah gajahnya. Seorang wakil atau siapa pun yang menganggap dirinya sebagai deputi atau khalifah mustahil menjadi sesuatu. Kita bukanlah apa-apa di pintunya Mawlana Syekh! Beliau dapat menghancurkan kita kapan saja, khususnya mereka yang memberi bay’at atas nama beliau. Mereka harus memperjelas bahwa bay’at tersebut adalah kepada Mawlana Syekh Nazim.

Saya melihat banyak orang di berbagai zawiyah di seluruh dunia. Ketika saya tanya, “Siapa Syekhmu?” Mereka menjawab, “Oh, Syekhku adalah orang ini.” Bagaimana mungkin orang itu adalah syekhnya ketika ia juga adalah murid Mawlana Syekh? Syekh kalian bukan orang ini–Syekh kalian adalah Syekh Nazim. Ayah kalian adalah Syekh Nazim, ibu kalian adalah Syekh Nazim, dan saudara kalian adalah Syekh Nazim. Kalian memberi bay’at kepadanya dan peranan kalian selesai, sekarang hubungan orang itu secara langsung adalah kepada syekh. Pastikan bahwa kalian tetap menghormati perwakilan tersebut, tetapi arahkan cinta kalian, niat dan pengorbanan kalian kepada syekh dari Tarekat Naqsybandi, yaitu Mawlana Syekh Nazim.

wa min Allah at-tawfiq, bi hurmatil habib, wa bi hurmatil Fatihah.