Akhir Zaman

20476578_1413878435333172_3249580991497912249_n

Shaykh Muhammad Nazim Al-Haqqani An-Naqshbandi
Shohbat tahun 1998
Lefke – Siprus

 

Bismillahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Kami telah menyampaikan beberapa kata di sini untuk orang-orang Inggris,untuk orang-orang Jerman, namun sebenarnya kata-kata ini harus disampaikan dalam semua bahasa.

Sejak pertama manusia berada di dunia ini, kita–di antara semua orang yang pernah hidup, adalah orang-orang yang telah sampai pada hari-hari yang sangat berbahaya dan menakutkan. Di samping hal ini, ketakutan ini adalah ringan dibandingkan ketakutan hari-hari yang akan datang, yang sekarang bukan apa-apa. Karena di masa mendatang akan ada kejadian-kejadian di mana orang-orang yang terlibat di dalam peperangan, mereka akan tertembak mati atau tidak sanggup untuk menanggung beban pada saat itu. Mereka akan mengalami depresi–mentalnya runtuh. Ketika mental seseorang runtuh tubuhnya tidak mampu lagi untuk membawa dirinya lebih jauh lagi. Ketika mentalnya hidup, tubuh seseorang menjadi segar dan aktif. Ketika mentalnya kehilangan kekuatan, ketika ia runtuh, tak peduli betapa kuat tubuhnya, ia tidak akan mampu bertahan. Agar mampu menahan beratnya hari-hari saat kita hidup sekarang ini dan agar mampu menanggung beban menghadapi kejadian-kejadian yang mengerikan di masa mendatang, maka orang harus memiliki kehidupan spiritual yang kuat. Orang yang mentalnya tidak didukung atau diperkuat akan menderita dalam situasi ini, dan ia tidak akan mampu menanggung beban berat hari-hari yang akan datang.

“Mereka akan seperti benteng-benteng dari kardus”, saya katakan. Berapa lama benteng kardus itu dapat bertahan? Ia tidak akan mampu menahan apa-apa, ia tidak bisa melindungi orang. Orang hanya akan terlindungi dengan benteng yang kuat. Benteng itu adalah iman mereka. Orang yang imannya imitasi, mereka tidak akan mampu bertahan menghadapi badai-badai besar yang akan datang, mereka akan tersapu bersih. Situasi sekarang membuat mereka tertekan, tetapi kejadian-kejadian yang akan datang akan menghancurkan mereka berkeping-keping. Oleh sebab itu iman yang kuat adalam elemen penting pertama agar orang dapat bertahan dengan kokoh pada situasi tersebut. Iman yang kuat adalah satu-satunya kekuatan yang akan membuat orang mampu berdiri kokoh menghadapi kejadian-kejadian yang mengerikan di masa mendatang. Tanpa iman yang kuat orang tidak akan bertahan menghadapi situasi sekarang maupun kejadian yang mengerikan di masa mendatang. Tanpanya mereka akan hancur.

Jika seseorang tidak terbunuh, tidak tertembak oleh berbagai jenis senjata, maka beratnya kejadian-kejadian tersebut akan menghancurkan mereka, mereka tidak akan sanggup untuk bertahan. Jumlah orang yang akan tewas–bukan karena tertembak, namun karena tidak sanggup menahan beratnya beban mereka akan mencapai jutaan orang. Jika ada beberapa orang yang tidak meninggal, mereka akan menjadi gila. Jutaan orang akan kehilangan pikiran mereka, mereka menjadi gila. Kejadian-kejadian yang akan datang begitu berat, begitu menakutkan. Satu-satunya yang dapat menolong orang adalah iman yang kuat, tidak ada lagi yang lainnya. Tidak ada lagi yang dapat menolong. Sebagaimana yang saya katakan, jika tidak tertembak, maka kejadian-kejadian yang akan menimpa manusia nanti akan membunuh mereka atau mencabik-cabik hati mereka karena ketakutan dan membuat mereka menjadi gila. Tidak ada yang bisa menolongnya.

Kejadian-kejadian saat ini sangat kecil dibandingkan kejadian-kejadian di masa mendatang. Walau demikian banyak juga orang yang menjadi gila sekarang ini. Kejadian-kejadian saat ini bukanlah apa-apa. Ia bagaikan permen dibandingkan kejadian-kejadian yang akan datang, ya permen. Apa yang membuatnya menjadi tertekan? Huuu ya Lathif. Kita berlindung kepada Allah, kita berlindung kepada Allah. Mengenai hal ini saya berbicara sedikit dalam bahasa Inggris, kalian harus mendengarnya juga.

Pada hari-hari tersebut, hanya iman yang kuat yang akan menguntungkan kalian. Bagaimana meraih iman yang kuat? Kalian tidak dapat mencapainya dengan membaca buku-buku. Mungkin kalian dapat meraihnya dari para Awliya yang merupakan para pemilik iman yang kuat, yang dapat mereka transmisikan dari qalbu ke qalbu. Nabi kita `alayhi ‘sh-shalatu wa ‘s-salam, membangun para Sahabatnya dari tingkat kebodohan terbawah hingga ke tingkat keimanan tertinggi. Beliau memenangkan mereka semua melalui jalan qalbu.

Sekarang di masa ini ada para pewaris Nabi (saw). Para awliya yang merupakan para pewaris Nabi (saw) tidak pernah absen. Meskipun kalian tidak mengetahui mereka. Kalian mungkin tidak mengetahui mereka, tetapi bila kalian memohon agar dapat menemukan mereka, maka ada izin untuk memanggil mereka.

Jika kalian mengenal seseorang, panggillah ia sebagaimana yang dikatakan oleh qalbu kalian. Jika tidak, katakanlah, “Wahai Awliyaullah, wahai teman-teman Allah, wahai ahlul Haqq, tolonglah kami (madad)!” Kapanpun dan di manapun kalian berada dalam situasi yang sulit, panggillah mereka. “Demi Nabi (saw), wahai Ahlul Haqq, raihlah aku.” Segera setelah kalian mengucapkannya, ia harus menolong kalian. Saya mengatakan kepada orang-orang Kristen untuk berkata, “Demi Nabi Isa/Yesus,” dan untuk umatnya Nabi Musa (as), “Demi Musa `alayhi ‘s-salam, raihlah kami.” Mereka harus mengucapkannya. Mereka bisa mengatakan, “Tolonglah kami demi Nabi Ibrahim `alayhi ‘s-salam.” “Demi Ahlul Bayt Rasulullah (saw)” – orang dapat meminta pertolongan demi mereka. Jika seseorang tidak mengetahui caranya, “Demi Nabi kita (saw)” namun ia memanggil demi Nabi-Nabi lainnya, para Awliya diperintahkan untuk tetap menolong mereka.

Tamu: Sejak sekarang hingga hari-hari yang penuh masalah?

Kapan saja, sejak sekarang, mereka boleh memanggilnya. Tidak masalah! Para Awliya diperintahkan untuk mendatangi mereka untuk menolongnya. Sekarang waktunya sudah sangat dekat, kami diperintahkan untuk menyampaikan hal tersebut. Peperangan sangat dekat. Para Awliya bekerja pada qalbu. Mereka adalah orang yang dapat melihat qalbu. Mereka menolong orang-orang yang memanggil mereka melalui qalbu. Jika orang memanggil mereka hanya lewat lidah, mereka akan tetap mendatanginya. Jika orang tidak terlalu takut, mereka akan muncul kepada orang yang memanggilnya. Tetapi mereka tidak menampakkan diri mereka untuk tidak menakutkan bagi orang-orang. Orang dapat merasakan kehadiran mereka, jika ia dapat menerima kedatangannya. Ia akan merasakan kedatangan mereka di hadapannya.

Jadi ini adalah masalah yang penting. Perhatikan hal ini! Jalan menuju keimanan yang kuat terbuka melalui pertemuan dengan para Awliya yang merupakan para pemilik iman yang kuat. Jika kalian tidak mengenal mereka, panggillah salah seorang di antara mereka secara umum, katakan, “Ya Awliyaullah, adrikni, wahai Awliyaullah, raihlah aku.” Katakan, “Tolonglah aku demi Nabi `alaihi ‘sh-shalatu wa ‘s-salam.” Maka situasi kalian yang sulit akan menjadi mudah. Ketakutan kalian akan hilang, iman kalian akan dikokohkan, dan perbuatan kalian akan diperbaiki.

Bi hurmati ‘l-Habib bi hurmati ‘l-Fatihah

Mengirim Salam kepada Nabi ﷺ

19956799_1398343806886635_445656343689160005_o
 
Para Sahabat (ra) biasa melewati Nabi (saw) dan memberi salam. Tugas kita adalah mengucapkan, “As-salaamu `alayka yaa ayyuha ‘n-Nabi.”  Kita harus bertafakur ketika mengucapkan “As-Salaamu `alayka” di dalam shalat kita, bahkan hanya untuk sesaat, karena Nabi (saw) hadir. Shalat tidak diterima bila beliau (saw) tidak hadir dan melihat kalian. Jika beliau tidak hadir maka kalian akan merugi.
 
Jadi beliau hadir karena kita mengucapkannya di dalam at-Tahiyyat, “As-salaamu `alayka yaa ayyuhan- nabiyyu (yaa Muhammad)!” menyapanya secara langsung dan beliau hadir, tetapi kalian tidak melihatnya, beliau berada di sana. Allahumma shalli `ala Sayyidina Muhammad.
 
Sebagaimana yang dikatakan oleh para Awliya, kita harus bersyukur kepada Allah bahwa Dia telah menjadikan kita sebagai bagian dari umatnya dan mengajarkan kita apa yang perlu kita pelajari dari para Sahabatnya (ra). Para Sahabat (ra) menanggung beban yang berat, mereka menyebarkan Islam ke mana-mana; mereka berkorban dan ada yang terbunuh, sementara kita tidak melakukan apa-apa.
 
Dengan semua itu, Nabi (saw) bersabda, “Kalian adalah ash-haabi, mereka adalah ahbaabi, mereka percaya padaku walau tidak melihatku, namun aku melihat mereka.” Nabi (saw) melihat kita. Jika beliau mengatakan, “Aku mengamati amal umatku setiap hari,” di Makamnya yang Suci, apakah maksudnya? Beliau melihat, namun kita tidak hadir. Beliau hadir. Ketika kita mengatakan, “hadhirun, nadhirun,” Nabi (saw) melihat! Oleh sebab itu kit harus menjaga adab.
 
Ketika kalian pergi bekerja di pagi hari, kalian mandi terlebih dahulu, mengapa? Untuk membersihkan diri kita agar siap ketika berada di depan boss atau presiden perusahaan. Mengapa kita tidak membersihkan diri kita di hadapan Nabi (saw)? Pertanyaan kedua, mengapa kita tidak menunjukkan hormat kepada Allah (swt)? Agar bersih, kalian membersihkan jiw dan raga kalian. Itulah yang mereka inginkan melalui shalat, tetapi kalian harus detang dalam keadaan bersih dan kita, kita penuh dengan… kita mohon ampun. Jika kita mohon ampun, Allah akan mengampuni. Untuk itu kita ucapkan, “astaghfirullah.”
 
Jadi, ketika kalian akan pergi menjumpai tunangan atau istri kalian, atau kalian akan pergi mengunjungi teman kalian, kalian akan mengenakan pakaian terbaik kalian bukan? Mengapa? Karena kalian mencintai orang yang akan kalian jumpai, kalian tidak akan berpenampilan kotor.
 
Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Awliya’ullah ingin agar Murid-Muridnya Berhasil

20031555_1398315943556088_6797954207478564640_n

Lensa terbesar di dunia adalah Teleskop Hubble. Salah satu di antara orang-orang yang membangunnya mengatakan kepada saya bahwa lensa yang dibutuhkan (diameternya) adalah sepanjang jarak antara San Francisco ke New York, tetapi karena terus-menerus dipoles dan dipoles lensa lebar sepanjang tiga kakinya dapat menjangkau begitu jauh. Jika kita semua memoles qalbu kita, kita akan menjadi seperti Teleskop Hubble dan dapat melihat apa yang tidak bisa dilihat orang, mendengar apa yang tidak bisa didengar orang, karena pada saat itu qalbu kita terhubung dengan sangat baik kepada Syekh kita, sehingga mulai melihat penglihatan spiritual dan mimpi-mimpi. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh salah satu Awliya yang Agung, Sayyidina Muhiyyidin ibn `Arabi (q), “Ketika Allah ingin melihat pada Ciptaan-Nya, Dia tidak melihatnya secara langsung, melainkan melihat pada Sayyidina Muhammad (saw), sang cermin!

Antara Ciptaan dengan Pencipta adalah Sayyidina Muhammad (saw): itulah sebabnya nama beliau diangkat, agar seluruh makhluk mengetahui Hakikat tersebut. Laa ilaaha illa-Llah Muhammadun Rasuulullah: bagian akhir dari ‘laa ilaaha illa-Llah’ adalah Allah dan haa di sana artinya tersembunyi, Qul Huw Allahu Ahad. Laa ilaaha illa-Llah ilaa Huw, bagian akhir dari ‘Allah’ adalah Huw, yang merupakan Ghayban Mutlaaq, Ghaib Mutlak, tak seorang pun dapat melihatnya, tetapi:

“Katakanlah, yaa Muhammad, ‘Qul Huw Allahu Ahad.’ Dia adalah Yang Tidak Bisa Dilihat, Dia adalah Yang Maha Unik, Sang Pencipta, Dia adalah Segalanya!” Ketika Allah ingin melihat pada hamba-hamba-Nya ketika mereka dikirim ke Surga Pertama, Dia melihat mereka melalui cerminnya Nabi (saw), karena apa pun yang mereka lakukan akan terpantul pada cerminnya Nabi (saw), dan dari sana ia akan sampai pada Alastu bi-rabbikum qaaluu balaa:

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَىٰ
[Allah bertanya] “Bukankah Aku Tuhanmu?” Mereka berkata, “Ya!” (Surat al-A’raaf, 7:172)

Awliyaullah sangat hati-hati dalam mengarahkan pandangan mata mereka. Seorang Wali, sejak kelahirannya… karena sebagian mereka tidak terhijab, mereka dapat melihat segalanya, bahkan al-Lawh al-Mahfuuzh, apakah orang suka atau tidak. Nabi (saw) adalah orang yang Allah beri kewenangan atas seluruh manusia, bukankah begitu?

Awliyaullah mengamati para pengikutnya untuk membawa mereka ke Jalan yang Benar; mereka mengetahui apa yang dikerjakan oleh murid-muridnya untuk mendukung mereka agar terlihat pada cerminnya Nabi (saw). Ketika seorang Wali ingin melihat muridnya, ia melihatnya pada qalbu Nabi (saw), yang memantulkan apa yang dikerjakan oleh murid tersebut, apakah itu baik atau buruk:

تعرض علي أعمالكم
Aku mengamati amal umatku. (al-Bazzaar di dalam Musnadnya)

Beliau (saw) melihat kita dan beliau mempersembahkan kita kepada Allah (swt) dalam keadaan suci, dan itu merupakan kehormatan bagi kita. Semoga Allah (swt) senantiasa menjaga kita di dalam jalan yang benar, yang tersambung dengan Nabi (saw), yang merupakan mesin utama bagi dunia dan seluruh Ciptaan. Allah menciptakan Ciptaan dan tidak memandangnya, Dia hanya melihat pada Nabi (saw)! Dari Cahaya yang Allah berikan kepadanya setiap `abd muncul dan ketika Cahaya itu diambil, kalian tidak tampak lagi kepada mereka. Jika amal kalian baik, kalian akan diberi Surga, dan setiap orang yang diberikan Surga di dalam hidupnya, ia tidak akan menjadi buta, matanya selalu dapat melihat segala sesuatu. Mari kita membuat mata kita dapat melihat segala sesuatu dengan merefleksikan Kalimat at-Tawhiid karena itu merupakan Miftah al-Jannah, Kunci ke Surga.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Tafsir Surat Al-Kautsar (bagian 1)

17861479_1307162532671430_8107538454058164747_n

Kami akan menjelaskan tentang Surat Al-Kautsar, Surat ke-108.

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Inna a`thaynaaka al-kautsar, fa shalli li rabbika wanhar, inna syaa-ni’aka huwa al-abtar”

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Karunia yang Banyak (Al-Kautsar). (1) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (2) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (3)

Allah (swt) berfirman, “Innaa a`thaynaaka al-Kautsar” — “Sesungguhnya Kami telah memberimu Al-Kautsar.”

Ia (swt) tidak mengatakan, “Kami sedang memberimu.” Ia (swt) tidak pula mengatakan, “Kami akan memberimu.” Ia (swt) mengatakan dalam bentuk lampau, “Innaa a`thaynaaka” — “Sungguh Kami telah berikan kepadamu…”

Ketika Allah (swt) berfirman, “Kami telah memberikan kepadamu,” itu artinya, “Kami telah memberikannya sebelum dirimu diciptakan dan sebelum apa pun lainnya diciptakan, Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar, Karunia Allah yang banyak.”

Apakah Karunia Allah yang banyak itu? Tidak ada penjelasannya, tidak ada detailnya, jadi tak seorang pun mengetahuinya. Allah (swt) mengatakan, “Sungguh Kami telah memberikan padamu,” bermakna, “Tak seorang pun tahu apa yang telah Ku-berikan padamu, Yaa Muhammad; Aku telah memberimu menurut Keagungan-Ku, tanpa batas.”

Artinya, dengan cara apa pun kalian berusaha memberikan batas atas Nabi (saw), itu adalah suatu kesalahan. Ketika kalian mengatakan, “Nabi (saw) adalah seseorang yang hanya membawa risalah dan kemudian wafat dan hanya itu,” maka mengatakan seperti itu adalah suatu kesalahan besar.

Setiap orang akan wafat, dan memang Nabi (saw) telah meninggalkan kehidupan fana dunia ini, tetapi itu bukan berarti beliau seperti diri saya atau diri kalian atau seperti yang lain. Tidak.

Allah (swt) tidak mengatakan pada nabi-nabi lain seperti apa yang telah Ia katakan pada Baginda Nabi (saw), “Kami telah memberikan padamu ‘Al-Kautsar’, ‘Sesuatu yang Banyak’.”

Dan apakah yang telah Ia (swt) katakan? Al-Kautsar. Kautsar berasal dari bahasa Arab “Katsiir.” “Katsiir” bermakna “terlalu banyak.” Kami telah memberimu sesuatu yang terlalu banyak. Bagaimana kemudian kita dapat membatasi sesuatu yang telah Allah karuniakan kepada Sayyidina Muhammad (saw)?

Apa pun kelebihan dan keutamaan yang telah kalian sebutkan saat memuji Nabi (saw), dan apa pun yang telah kalian puji tak ada bandingannya dengan apa yang telah Allah karuniakan pada beliau dan pada ketinggian maqam yang Ia (swt) telah tempatkan beliau di sana. Namun, kalian memerlukan keduanya, yaitu: akal dan hati untuk mampu memahami hal ini.

Pada hari ini, mereka (kaum Wahabi dan Salafi, red.) menyerang orang-orang, yang seperti Imam Muhammad al-Bushayri, memuji Nabi (saw) dengan penuh cinta. Sekalipun demikian, pada hari ini orang-orang tetap membaca syair-syair beliau, Al-Burdah asy-Syarif dan Al-Mudariyyah. Beberapa orang malah membacanya setiap hari. Dan sebagian orang yang lain mencela mereka, “Jangan, jangan kalian lakukan hal itu; itu berarti kalian memuji Nabi (saw) terlalu berlebihan.”

Dalam tiga ayat Surat Al-Kautsar ini, Allah (swt) telah memberitahukan pada diri kita, “Wahai umat manusia, katakanlah apa pun yang ingin kalian katakan untuk memuji Nabi (saw), sebanyak yang kalian rasa perlu untuk dikatakan sebagai pujian atas beliau, hal itu bukanlah syirik, karena kalian tak akan mampu memujinya sebagaimana Aku telah memujinya.”

Dan dari rahasia ayat-ayat Al-Kautsar inilah, Muhammad Al-Busayri mengatakan dalam Al-Burdah-nya, “Katakan apa pun yang ingin kau katakan tentang Nabi (saw), tetapi jangan katakan seperti orang-orang Kristen berkata tentang ‘Isa bahwa ia adalah Tuhan atau anak Tuhan.” Artinya, pujilah Nabi (saw) setinggi yang kalian inginkan untuk memuji beliau (saw).

دَعْ مَــا ادَّعَتْهُ النَّصَارٰى فِيْ نَبِيِّهِـمِ
وَاحْكُمْ بِمَا شِئْتَ مَدْحاً فِيْهِ وَاحْتَكِـمِ

“Tinggalkan apa yang dikatakan orang-orang Kristen tentang Nabi mereka (yaitu ‘Isa),
Lalu putuskan apa yang kau inginkan untuk memujinya.”

Jadi siapakah yang dapat memuji lebih tinggi daripada Ia (swt) yang telah mengatakan “Muhammadun Rasulullah” setelah “Laa ilaaha ill-Allah”?

Ketika seseorang ingin untuk memberi, misalnya saya ingin memberimu sesuatu, harus ada seseorang yang memberi dan seseorang yang lain menerima. Seseorang memberi dan seseorang menerima. Jika tak seorang pun menerima, bagaimana kalian dapat memberi? Apakah kalian memberikan sesuatu di udara? Tentu tidak.

Jadi ketika Allah (swt) berfirman, “Kami telah memberikan padamu,” maka pemberian ini bukanlah terjadi ketika di dunia, melainkan sudah terjadi sebelum dunia ini. Artinya, sesuatu telah diberikan oleh Allah (swt) pada seseorang yang telah wujud.

Karena itulah ketika Jaabir bertanya kepada Nabi (saw), “Apakah yang Allah ciptakan pertama-tama?” Beliau (saw) menjawab, “Yang pertama-tama Allah ciptakan adalah cahaya Nabimu, wahai Jaabir.” Dan cahaya itu berputar dalam Bahru ‘l-Qudrah, Samudra Sifat Kekuasaan Allah. Di sana, beliau berputar, mengumpulkan energi lebih banyak dan lebih banyak lagi.  Ketika seseorang berputar ia mengumpulkan gaya sentrifugal.  Lebih banyak dan lebih banyak lagi kekuatan terkumpul ketika cahaya beliau (saw) berputar dalam Bahr al-Qudrah.

Dan hadits tersebut berlanjut, dari cahaya itu Ia (swt) menciptakan makhluk, dan dari seperempat cahaya itu, dunia diciptakan.

Artinya, “Kami telah memberikan padamu karunia yang tak bisa dijelaskan. Kami telah memberimu ‘al-katsiir, min kulli syai-in,’ dari apa pun yang telah Kami ciptakan, Kami berikan kepadamu, Yaa Muhammad, bahkan lebih dari itu.”

Jadi apa yang telah diberikan kepada Nabi (saw)? Itu adalah sesuatu yang tak seorang pun mengetahuinya. Artinya pula, apa pun maqam yang Allah telah karuniakan pada beliau, tak seorang pun mengetahuinya. Tak seorang pun kecuali Allah yang mengetahuinya. Tak seorang pun lainnya.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Rahasia Wirid Harian: Yaa Haliim dan Yaa Hafiizh

17861495_1307171372670546_8800717509846707579_n

Nabi ﷺ pernah berkata kepada Abu Bakar (ra), “Al-ghadhabu kufr, yaa Abaa Bakr. Amarah itu adalah kekufuran.” Amarah membuat kita kehilangan kendali atas apa yang kita kerjakan.

Iblis menjadi dengki kepada Sayyidina Adam (as) dan ia marah kepada Allah (swt). Karena itulah amarah adalah kekufuran, karena kalian tidak menerima situasi yang Allah (swt) tempatkan diri kalian di dalamnya. Adalah sulit untuk bersabar dan menahan diri.

Itulah mengapa kalian mesti membaca “Yaa Haliim” 100 kali setiap pagi sebelum fajar, berdiri menghadap kiblat untuk memastikan diri kalian dapat bersabar di hari itu, dan Allah (swt) akan mengirimkan malaikat khusus dalam naungan nama itu yang akan datang untuk melindungi kalian pada hari itu.

Jadi mereka menyuruh untuk membaca “Yaa Haliim” 100 kali dengan menghadap kiblat. Allah (swt) akan menjaga kalian untuk tetap lembut sepanjang hari; Ia (swt) akan memberi kalian kesabaran. Kemudian ucapkan “Yaa Hafiizh” 100 kali.  Wirid “Yaa Hafiizh” 100 kali akan menjaga kalian pada hari itu dari berbagai bencana.

Jangan datang dan mengeluh saja; tapi, lakukanlah wirid-wirid itu.

Orang-orang datang dan mengeluh. Jangan mengeluh; pergi dan amalkan wirid tersebut – 100 kali “Yaa Haliim” dan 100 kali “Yaa Hafiizh”.

Baca “Yaa Haliim” untuk melindungi diri kalian dari segala macam bentuk amarah, dan “Yaa Hafiizh” untuk melindungi kalian dari berbagai macam bencana yang datang dari bumi maupun langit. Jika kalian tak ingin melakukannya, terserah kalian, maka tanggung jawabnya ada pada diri kalian sendiri.

Jika kalian konsisten melakukannya, kalian akan melihat masalah-masalah kalian terselesaikan.

Saya kenal beberapa orang yang tadinya tidak membaca Wirid “Yaa Haliim” dan “Yaa Hafiizh” dan kemudian mereka mulai mengamalkannya, kehidupan mereka berubah; mereka menjadi suami-suami atau istri-istri yang lebih berbahagia, laki-laki dan wanita yang berbahagia.

Yaa Haliim: Allah mengatakan bahwa setiap kali kalian mengatakan “Yaa Haliim”, ‘Yaa’ terdiri atas dua huruf dan ‘Haliim’ terdiri atas empat huruf, artinya semua tersusun atas enam huruf.

Artinya, ucapan itu memiliki enam maqam. Setiap kali kalian mengatakan “Yaa Haliim”, Allah mengaruniakan pada kalian dari Langit Pertama, makna dan cahaya Nama Indah itu. Ketika kalian menyebutkan huruf kedua, Allah akan mewujudkan bagi kalian tajali Nama itu yag berasal dari Langit Kedua: cahaya yang keluar dari Nama itu dari Langit Kedua. Ketika kalian membaca huruf ketiga dari wirid itu, Allah akan menyelimuti diri kalian dengan apa yang datang dengan Nama itu dari Langit Ketiga; ketika kalian menyebut huruf keempat Nama itu, Allah akan mengaruniakan pada kalian apa yang datang melalui Nama itu dari Langit Keempat; pada huruf kelima, ketika kalian menyebut Nama itu, Allah akan menurunkan tajali Nama itu dari Langit Kelima; dan ketika kalian menyebutkan huruf keenam dari Nama itu, Allah akan mengirimkan tajalli Nama itu dari Langit Keenam. Dan diri kalian akan mencapai maqam Tujuh Langit yang merupakan maq’adi shidiqin ‘inda maliikin muqtadir.  Kalian akan berada di perbatasannya di sana. Ketika kalian menyebut “Yaa Haliim”, kalian mendapatkan tajali enam Langit yang berbeda.

Jangan jadikan kata-kata ini sekedar masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri; timbang dan pikirkan baik-baik sekarang. Saya mengucapkan ”Yaa Haliim”, jadi sekarang saya mendapatkan enam tajali ini dari Langit yang berbeda-beda. Jika kalian mengucapkannya untuk kedua kalinya, kalian pun mendapatkan enam tajali dari Langit yang lebih tinggi, karena setiap ucapan akan menuntun kalian ke maqam yang lebih tinggi.

Allah (swt) menciptakan dari huruf-huruf itu enam Malaikat, dan begitu kalian mengatakan “Yaa Haliim”, keenam malaikat ini akan diciptakan untuk kalian yang akan mengucapkan “Yaa Haliim” hingga Hari Kiamat. Dan pada kali ketiga kalian mengucapkan “Yaa Haliim”, enam lagi Malaikat anak diciptakan dengan tajali yang berbeda, pada tajali yang lebih tinggi, dan mereka akan bertasbih “Yaa Haliim” pada tingkatan yang lebih tinggi sekarang.

Setiap kali kalian membacanya, ada suatu tajali dari enam Langit dan setiap kali pula tajali tersebut muncul dari tingkatan yang lebih tinggi.  Setiap kali kalian membacanya, Malaikat-malaikat itu akan diciptakan dan tasbih-tasbih mereka akan dituliskan untuk kalian. Seandainya satu saja dari para Malaikat ini menampakkan dirinya, keseluruhan alam semesta ini akan runtuh oleh keindahan Nama Suci itu.

Jadi berpikirlah: 100 kali kalian mengucapkannya setiap hari. Artinya 100 kali enam, berarti ada 600 Malaikat setiap hari yang Allah karuniakan kepada kalian dengan tajali yang lebih tinggi setiap kalinya, dan puji-pujian mereka akan dikaruniakan bagi kalian. Dan seandainya kalian konsisten melanjutkan wirid ini, malaikat-malaikat ini akan mulai nampak dan kalian pun mulai dapat membayangkan wujud mereka. Mereka akan muncul dan nampak bergantung kepada ketulusan hati kalian dan kalian pun akan mencium wangi mereka.

Jika kalian kehilangan satu hari wirid ini, kalian pun mesti mengulanginya dari awal.

Kalian mesti kembali ke awal, karena satu pintu membuka pintu yang lain. Kita tidak dapat memberikan contoh seperti itu, tetapi kita mesti memberikan suatu perumpamaan; jadi apa yang mesti kita buat? Jika kalian menaruh botol-botol ini, yang satu bersandar pada yang lain, mereka akan berjatuhan, satu demi satu. Bukan saya yang memberikan contoh itu. Botol yang satu akan mendorong botol yang lain, dan botol yang kedua ini akan mendorong botol berikutnya hingga semua botol tersebut jatuh, pecah dan lenyap.

Jadi, “Yaa Haliim” akan membawa kalian ke maqam fana (lenyapnya ego keakuan, red.) sepenuhnya di Hadirat Ilahi. Karena itulah mengapa Awliya’ menyuruh pengikutnya membaca “Yaa Haliim” di permulaan pagi. Amalan ini akan membawamu ke maqam al-Fana’.

Jangan berkata, “Saya tak mampu melakukannya.” Lakukanlah di waktu apa saja. Jika kalian tak mampu melakukannya di pagi hari (walaupun waktu ini adalah waktu terbaik, karena kode pin-nya ada di pagi hari), jika kalian kesiangan, maka begitu kalian terbangun, berwudhu’lah dan bacalah “Yaa Haliim” 100 kali dan kemudian lakukan shalat Fajar (Subuh).

Kemudian “Yaa Hafiizh”… ketika kalian mengucapkan, “Wahai Allah, Engkaulah Dzat Yang Maha Penyantun dan Sabar, maka lindungilah diriku!” Mengapa “Yaa Hafizh” dibaca yang kedua, karena Allah adalah Zat Yang Melindungi. Ketika kalian menyebut Nama-Nya “Yaa Hafiizh”, Allah akan melindungi kalian dari segala macam bencana dan Ia (swt) akan menciptakan enam malaikat dari Surga untuk melindungi kalian dari energi negatif serta terlindungi sepanjang hari, dan tasbih mereka akan dituliskan bagi kalian. Hingga kalian akan mampu membayangkan wujud malaikat-malaikat ini.

Ada anak-anak kecil yang memiliki hati suci dan lembut yang dapat melihat hal-hal ghaib. Beberapa di antara mereka mengatakan melihat seseorang yang bercahaya atau gelap atau seseorang yang bergerak dan mengenakan jubah dan berjenggot, datang dan berjalan berkeliling. Ini adalah Awliya’ atau Malaikat yang tengah lewat, dan anak-anak suci ini dapat melihat mereka, dan Allah mengaruniakan kemampuan ini pada mereka yang memiliki hati lembut serta suci.

Jadi, “Yaa Hafiizh” akan melindungi diri kita dan “Yaa Haliim” akan menjaga kalian dari amarah. Kalian meminta orang-orang untuk melakukannya dan kalian menuliskannya dalam buku Awraad, tetapi mereka tidak mengamalkannya. Mereka malah datang dan berkata, “Kami punya masalah-masalah.” Kedua awraad ini, “Yaa Haliim” dan “Yaa Hafiizh”, akan melindungi kalian sepanjang hari.

Allah berfirman bahwa hal baik maupun hal buruk datang dengan izin Allah semata. Jangan bersedih. Pergi dan amalkan “Yaa Haliim” dan “Yaa Hafiizh”. Allah akan menghilangkan masalah-masalah kalian.  Ada kejahatan di muka bumi ini dan ada pula banyak masalah-masalah. Masalah-masalah ini terjadi karena ulah manusia dari satu generasi ke generasi yang lain oleh para orang tua yang memelihara penyakit-penyakit dalam hati mereka dan meneruskannya ke anak-anak mereka. Ada banyak masalah, dan untuk menyelesaikannya, Allah memberikan kedua Nama-Nama Indah ini untuk kalian baca dengan kode-kode tertentu.

Karena itulah, Guru Pembimbing kita akan menyuruh kalian untuk membaca Nama-nama Indah (Asma’ul Husna) itu dengan cara ini atau dengan cara itu, untuk menyelesaikan masalah-masalah kalian.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Tak Ada Kekuatan Apa pun Di Tangan Siapa pun

17990975_10154521785165886_6571231729702897088_n

Allah akan memerintahkan yang terakhir, Sayyidina Israfil (‘alayhissalam), untuk meniup Terompet dan segala sesuatunya akan mati; tak satu pun kehidupan tertinggal di muka Bumi dan Allah (swt) akan berkata, “Li man il-Mulk al-Yaum? Lillahi ‘l-Waahidi ‘l-Qahhaar!” “Milik siapakah Kerajaan di hari ini? Siapakah yang mampu mengangkat kepalanya dari kuburnya dan berkata, ‘Aku adalah sesuatu, atau seseorang?’” Tak seorang pun mampu mengatakan hal itu! Itulah suatu Hakikat dan Fakta yang akan terjadi, “li man al-Mulk al-Yaum?” Allah (swt) akan menjawabnya sendiri, “Lillaahi ‘l-waahid al-Qahhar” Kerajaan itu berada di Tangan-Nya dan tak seorang pun mampu memiliki sesuatu tanpa izin Allah. Bila kita tak mampu memahami hal ini, maka kita menjadi orang-orang yang merugi. Tak ada kekuatan apa pun di tangan siapa pun. Kita tidak dapat mengatakan ‘Orang ini berkuasa,’ atau ‘orang ini mampu melakukan ini atau itu’. Suatu hari akan datang di mana segala sesuatunya akan dimatikan.

Shaykh Hisham Kabbani

Dzikrullah Membawa Kita ke Maqam Tertinggi

17855142_10154509516290886_1807937837903623257_o

Dzikrullah membawa kalian ke maqam (tingkatan) tertinggi, dan maqam tertinggi itu adalah dengan membaca Al-Qur’an Suci. Bagaimana kalian dapat membaca Al Qur’an suci dengan cara yang paling sempurna? Alquran Suci adalah Sulthan adz-Dzikr, Rajanya Dzikir: tidak ada satu buku atau kitab pun yang menyerupai Kitab Suci Allah, bahkan seluruh Hadits-hadits Nabi (SAW) tidak dapat dibandingkan dengannya. Allah SWT mewahyukan Qur’an Suci kepada Nabi (SAW) dan Nabi (SAW) menyampaikannya kepada para Sahabat (radiyAllahu Ta’ala ‘anhum). Apakah haqiqat sejati dzikrullah? Hakikat dzikrullah adalah untuk mengingat-Nya, dan untuk mengingat-Nya adalah suatu hal yang amat mulia, tetapi mengingat-Nya saja tidaklah cukup.

Ketika kalian membaca Al-Qur’an Suci, Allah (SWT) ‘duduk’ bersama kalian, sebagaimana disebutkan dalam suatu Hadits (*), namun bukan berarti Ia SWT sungguh-sungguh ‘duduk’; arti yang sebenarnya ialah Allah (SWT) tengah hadir bersama kalian di Hadirat Ilahiah. Ia SWT membawa kalian ke Hadirat Ilahiah-Nya ketika kalian membaca Qur’an Suci. Jadi, jika kalian suka untuk berada di Hadirat Ilahi, bacalah Alquran Suci! Mungkin kalian tak melihatnya sekarang, namun jika seseorang mampu melihat Haqiqat segala sesuatu, mereka dapat melihat bahwa Qur’an Suci adalah bentuk tertinggi dari dzikrullah dan bahwa Allah Ta’ala membawa diri kalian lebih dekat dan lebih dekat kepada-Nya ketika kalian membacanya. Karena itulah ketika seseorang menyela kalian saat kalian membaca Qur’an Suci, hal ini bertentangan dengan etiket membaca Alquran. Ketika kalian tengah membaca Alquran, mereka tidak boleh menyela dan bercakap-cakap dengan kalian, dan kalian pun semestinya tidak berbicara dengan mereka.

Syaikh Hisham Kabbani.

Catatan:
(*) Hadits Qudsi dari Nabi SAW, “Ana jalisu man dzakaranii” “Aku duduk bersama orang yang berdzikir mengingat-Ku”. Hadits riwayat Imam Ad-Dailami dengan sanad dha’if, namun terdapat hadits dengan makna serupa dalam Sahih Bukhari, dengan matan:
وأنا معه إذا ذكرني
“Dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku”