Tugas Setiap Muslim adalah Menghormati Rasulullah (saw)

Dr. Nour Mohamad Kabbani
4 Juli 2020 | Zawiyah Fenton, Michigan

Assalamu`alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh,

InsyaAllah salam Allah (swt), kedamaian tercurah kepada kita semua, semoga Rahmat-Nya, Barakah-Nya insyaAllah tercurah kepada kita semua, baik di dunia maupun di Akhirat sehingga kita hidup di dunia dengan Rahmat-Nya dan Dia juga akan mengaruniakan Rahmat-Nya bagi kita di Akhirat.

Grandsyekh Mawlana Syekh Nazim, semoga Allah memberkahi ruhnya dan mensucikan rahasianya, beliau mengingatkan kita tentang Hadits suci Rasulullah (saw). Beliau bersabda,

أدبني ربي فأحسن تأديبـي
Addabani Rabbii fa ahsana ta’diibii
Allah (swt) telah mengajariku adab.

Al-Qur’an suci, al-Qur’anul kariim penuh dengan adab, moral, kebaikan yang diajarkan kepada manusia. Jika orang-orang dapat memahami adab dalam al-Qur’an suci, mereka akan meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti apa yang dibawa oleh al-Qur’an, tetapi Setan menghijab mata mereka. Setan mengatakan kepada mereka, “Jangan sampai kalian melihat kitab itu, jangan dengarkan kitab itu.” Padahal kitab suci itu mengajarkan manusia adab terbaik. Jadi Rasulullah (saw) mengatakan bahwa Allah telah mengajarinya adab terbaik, yaitu al-Qur’an suci.

Grandsyekh mengatakan, “Oleh sebab itu murid-murid harus mempunyai adab.” Rasulullah (saw) bersabda, “Aku mempunyai adab yang diajarkan oleh Tuhanku, addabani Rabbii, oleh Penciptaku.” Grandsyekh mengatakan bahwa sebagaimana Rasulullah (saw) telah mempelajari adab, murid-murid juga harus mempelajari adab. Grandsyekh mengatakan bahwa adab pertama yang harus dipelajari oleh seorang murid adalah patuh kepada gurunya, kepada syekhnya; dan ini adalah adab yang baik. Ia juga harus menghormati segala sesuatu yang berhubungan dengan syekhnya, kepada orang di mana Allah (swt) mengirimkan segala nikmat kepada hamba-hamba-Nya melalui dirinya. Rasulullah (saw) adalah orang yang melalui dirinya muncul segala nikmat yang Allah (swt) berikan kepada seluruh manusia.

Banyak orang yang keberatan dengan pernyataan tersebut. Dari mana nikmatul hidayah yang mereka dapatkan? Apakah dari kantung ayah kalian? Nikmat hidayah sampai kepada kalian melalui Rasulullah (saw). Nikmat Allah telah sampai kepada kalian wahai manusia, dan nikmat terbaik adalah iman. Ia telah sampai kepada kalian melalui Rasulullah (saw). Beliaulah yang memiliki Samudra Nikmat Allah (swt). Jadi sebagaimana Syekh kalian telah menyampaikan nikmat dari Rasulullah (saw) kepada kalian, dan kita menghormati syekh dan orang-orang yang terhubung dengannya dan segala sesuatu yang terhubung dengannya, begitu pula dengan Rasulullah (saw). Grandsyekh mengatakan, “Karena Rasulullah (saw) yang mempunyai nikmat untuk manusia dan karena beliaulah seluruh makhluk diciptakan, jika beliau tidak diciptakan, tidak ada satu pun makhluk yang akan diciptakan, sebagaimana dalam Hadits yang dikatakan oleh Grandsyekh,

لولاك لولاك لمّ خلقت الأفلاك
law laka law lak lamma khalqtul aflak
Jika bukan karenamu (wahai habib, wahai Rasul, wahai Kekasih), jika bukan karenamu, Aku tidak akan menciptakan orbit.

Masing-masing berada dalam orbitnya, itu artinya seluruh makhluk tidak akan diciptakan jika bukan karena Rasulullah (saw). Sebagian orang mengatakan bahwa itu bukanlah sebuah hadits, tetapi Grandsyekh mengatakan bahwa ini adalah hadits yang sahih, tidak ada keraguan di dalamnya.

Jadi Mukmin percaya bahwa mereka harus menghormati Rasulullah (saw), itu merupakan tugas bagi setiap Mukmin karena Allah (swt) sendiri telah memuliakannya. Allah (swt) sendiri telah mengangkatnya, telah menyempurnakannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Grandsyekh, wa akmalahu, menyempurnakannya; wa ajmaalahu, mengindahkannya. Rasulullah (saw) adalah makhluk terindah yang pernah Allah ciptakan. Itu adalah iman kita, wahai Mukmin. Jadi kalian harus mengagungkan Allah (swt) dan berterima kasih atas nikmat Rasulullah (saw) dan kita harus menghormati Rasulullah (saw) dan segala sesuatu yang terhubung dengan beliau, sebagaimana yang kita katakan mengenai adab, bahwa seorang murid harus menghormati Syekhnya dan segala sesuatu yang terhubung dengan Syekh. Itulah sebabnya kita menghormati setiap orang yang terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim. Kita mencintai semua orang yang terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim. Kita memuliakan semua orang yang terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim. Kita tidak merendahkan mereka. Kita tidak mengatakan hal-hal yang buruk mengenai mereka karena kita menghormati mereka dan mencintai mereka karena cinta kita kepada Syekh kita. Itulah adab yang selalu kita jaga.
Sebagaimana kita melakukan hal tersebut kepada Syekh kita, hal yang sama juga kita lakukan terhadap Rasulullah (saw). Grandsyekh mengatakan bahwa segala sesuatu yang terhubung dengan Rasulullah (saw), yang terkait dengan Rasulullah (saw), kalian harus menghormatinya. Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani (q) mengatakan kepadaku–kepada Grandsyekh Mawlana Syekh Nazim, “Kehadiran seseorang dari Ahlulbait Nabi (saw), bahkan jika ia adalah seorang yang fasik, seorang yang tidak patuh menjadi asbab untuk menyingkirkan bala, kesulitan, kesukaran dari 70 majelis suu’ سوء, majelis yang buruk di sekitarnya. Allah akan menyingkirkan bala yang telah dituliskan untuk diturunkan kepada 70 majelis suu’ tersebut karena kehadiran seseorang dari ahlulbait Nabi (saw) di daerah tersebut.

Lihatlah, bagaimana kehormatan yang harus kita jaga terhadap ahlulbait, kepada seseorang yang terhubung dengan Rasulullah (saw), bahkan jika ia adalah seorang yang fasik, artinya ia melakukan sesuatu yang tidak baik.
Grandsyekh mengatakan bahwa kehormatan terhadap sebagian merupan kehormatan terhadap keseluruhan, dan kita menghormati seluruh ahlulbait dan kita tidak memata-matai apa yang mereka lakukan.
Memata-matai Mukmin yang lain adalah haram bagi seorang Mukmin. Seorang Mukmin yang menyibukkan dirinya bermain sebagai detektif dan memata-matai Mukmin lain adalah haram; kecuali orang yang melakukan keburukan itu telah menunjukkannya. Jika seseorang melakukan suatu perbuatan buruk kemudian ia munzhiran, menunjukkan perbuatannya itu berarti ia telah mengatakan kepada seluruh dunia mengenai dirinya. Tetapi bila seseorang melakukan suatu ketidakpatuhan dengan tidak sengaja, tanpa niat, artinya ia terjerumus ke dalam perbuatan itu dan ia berusaha menutupi perbuatannya, maka haram bagi kalian untuk menceritakannya kepada orang lain, terutama bila ia adalah seorang ahlulbait; karena setiap orang tidaklah maksum, setiap orang dapat berbuat kesalahan.

Grandsyekh mengatakan, “Jika kalian melihat kesalahan orang lain, jangan menyebarkan kotoran tersebut, jangan membawa kotoran tersebut.” Siapa pun yang membawa najasat atau kotoran tersebut, Allah (swt) tidak akan menerimanya, Rasulullah (saw) tidak akan menerimanya. Orang-orang pun tidak akan menerimanya. Orang yang bermain sebagai detektif untuk mencari kesalahan orang lain, orang yang memata-matai orang lain di rumahnya secara rahasia, ia bagaikan seekor lalat hitam. Di manakah lalat hitam itu hinggap? Ia hinggap di bagian tubuh manusia yang mempunyai luka, yang mempunyai abses, qa’ih, luka bernanah. Ia membawa nanah itu dan menyebarkannya ke tempat-tempat lainnya. Jadi orang yang mencari kesalahan orang lain dan ketika ia menemukannya lalu menyebarkan kotoran itu berarti ia ibarat seekor lalat hitam yang hinggap di tempat yang kotor, dengan darah dan nanah kemudian membawanya kepada orang lain. Itulah karakteristik orang tersebut, yakni orang yang hinggap di qa’ih, di luka bernanah. Mereka menikmatinya. Itulah sebabnya mereka masuk ke Jahannam. Allah (swt) berfirman,

وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنْ غِسْلِينٍ
wa tha’aamun ilaa min ghisliin, (QS al-Haqqah, 69: 36)
Mereka tidak akan memperoleh makanan kecuali ghisliin, yakni cairan yang keluar dari daging yang telah membusuk.

Karena mereka menikmatinya di dunia, mereka senang menjadi lalat, menyebarkan kotoran orang lain kepada orang lain, di Jahannam mereka akan makan dari kotoran tersebut.

لَّا يَأْكُلُهُۥٓ إِلَّا ٱلْخَٰطِـُٔونَ
laa ya’kuluhuu illa ‘l-khaathiuun
Tidak ada yang memakannya, kecuali orang-orang yang berdosa, yakni orang yang salah dalam memberi penilaian (tentang orang lain). (QS al-Haqqah, 69: 37)

Allah (swt) memberi kepada kalian apa yang kalian cari. Orang-orang mengatakan, “Oh, mengapa Tuhan senang memberi hukuman?” Dia tidak menghukum kalian! Dia hanya memberi apa yang kalian sukai. Jika kalian selalu mencari kotoran orang lain, karena kalian menyukainya, kalian akan berakhir di kolam kotoran. Grandsyekh mengatakan bahwa sebagian orang mempunyai kuburan seperti WC. Orang-orang menggali kuburnya, dan di dalamnya dipenuhi dengan benda-benda WC. Mereka mengatakan, “Kalian menyukainya di dunia, maka bawalah ke Akhirat.” Itulah yang kalian dapatkan. Jadi kalian harus berhati-hati, jangan menjadi seekor lalat. Jangan hinggap di kotoran. Jangan mencari kesalahan orang lain.

Grandsyekh mengajarkan adab. Seorang murid tidak mencari kesalahan murid lain. Seorang Muslim tidak mencari kesalahan sesama Muslim dan menyebarkannya ke mana-mana. Hal itu bertentangan dengan al-Qur’an. Hal itu bertentangan dengan Sunnah. Hal itu bertentangan dengan ajaran para Syuyukh. Grandsyekh mengatakan, “al-hadzaru al-hadzar minal insyighaal biuyubi ‘n-naas,” perhatian-perhatian, jangan menyibukkan diri dengan kesalahan orang lain. Tinggalkanlah kesalahan mereka, dan sibukkanlah diri kalian dengan kesalahan kalian sendiri. Wahai manusia, sibukkan diri kalian dengan kekuarangan diri kalian sendiri, dengan keburukan kalian sendiri. Biarkan orang lain, mereka juga sedang berjuang untuk menjadi lebih baik. Grandsyekh mengatakan, “Lihatlah kesalahan kalian sendiri, karena orang lain juga mempunyai mata, dan mata mereka akan melihat kesalahan kalian.” Jika kalian melihat kesalahan orang lain, Allah (swt) akan mengirimkan orang lain untuk melihat kesalahan kalian. Siapa pun yang menunjukkan karakteristik saudaranya yang memalukan, Allah (swt) akan mengirimkan seseorang yang akan menunjukkan karakteristik dirinya yang memalukan. Berhati-hatilah!

Semoga Allah (swt) menjadikan kita sebagai orang-orang yang mengikuti Sunnah, mengikuti Hadits, mengikuti Qur’an; tidak melakukan ghibah, tidak mengekspos kesalahan orang lain, tidak menunjukkan keburukan mereka, tetapi sebaliknya menutupi aib mereka. Kalian hanya mengatakan hal-hal yang baik tentang mereka. Jika kalian tidak dapat mengatakan yang baik, lebih baik diam; sebagaimana yang telah dikatakan oleh Rasulullah (saw), terutama menyangkut ahlulbait. Grandsyekh mengatakan bahwa kita harus menutup mulut kita, khususnya menyangkut ahlulbait. Kepada ahlulbait, kita tidak mengatakan apa-apa, begitu pula kepada Mukmin dan Muslim. Kita memohon kepada Allah (swt) agar membimbing mereka kepada kebaikan.

Insya Allah kita dapat menjaga adab ini. Ini adalah ajaran para Syuyukh tarekat. Sayangnya sekarang ini Muslim sibuk mengekspos kekurangan orang lain. “Oh lihatlah orang ini, apa yang telah ia lakukan!” “Oh lihatlah orang itu, apa yang telah ia lakukan!” Daripada menyibukkan diri seperti itu, lebih baik kalian menyibukkan diri dengan kesalahan kalian sendiri. Kalau tidak, Allah (swt) akan mengekspos kalian. Jadi berhati-hatilah.

Jangan membicarakan (hal yang buruk) tentang Waliyullah! Jangan membicarakan (hal yang buruk) tentang Sayyid! Jangan membicarakan (hal yang buruk) tentang saudara-saudari Mukmin dan Muslim! Allah (swt) telah memberi mereka sitr ستر, Allah telah menutupi mereka sehingga orang-orang tidak melihat kesalahannya. Bahkan ada riwayat yang mengatakan bahwa ada beberapa kesalahan yang tidak dapat dilihat oleh Rasulullah (saw). Saya telah membacanya dalam beberapa buku tentang Awliyaullah bahwa Allah (swt) mengatakan kepada Rasulullah (saw) bahwa beliau akan sedih bila mengetahuinya. “Aku adalah as-Sattar. Ini adalah hamba-hamba-Ku. Aku akan menutupi kesalahan mereka.” Ada beberapa orang yang Allah tutupi kesalahannya sehingga tidak seorang pun mengetahui apa yang telah dilakukannya. Itu adalah Sattar! Itulah Tuhan kita.

Semoga Allah (swt) mengampuni kita. Semoga Allah (swt) menjadikan kita sebagai orang yang mengikuti apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah (saw),

فليقل خيرًا أو ليصْمُت
Fal yaqul khayran aw layashmut
Hendaklah ia berkata yang baik atau diam.

Dan seperti yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim, “Jangan menjadi lalat hitam!” Kalau tidak, kalian akan makan dari kotoran di Akhirat. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang masuk Surga dengan syafaat Rasulullah (saw). Aamiin, aamiin, bi hurmatil Habiib (saw) wa bi sirri Suuratil Faatihah.