Mengenai Futuhat, Shuhbah, Ilham dan Waswasah

Shuhbah Shaykh Taher Siddiqui
Masjid ASIM, Burton, 10 Januari 2021


Assalamualaykum warahmatullaahi wabarakatuh, kulluaamin wa antum bi khayr (aamiin…). Mereka bilang, “Selamat tahun baru!” Semoga Allah menjadikannya tahun yang bahagia. (aamiin…)

Masya Allah, setiap orang mengeluh, oooh 2020 adalah tahun yang sulit! Ya Allah berikan kami tahun yang lebih baik. Aamiin! Kita tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi dari satu hari ke hari berikutnya. Apakah akan membawa keberkahan yang lebih besar atau kesulitan yang lebih besar, karena Masyayikh kita, semoga Allah memberkahi mereka dan mengangkat derajat mereka, mengatakan kepada kita bahwa waktu-waktu yang berat ada di depan kita, jadi bukannya tahun yang mudah. Semoga Allah senantiasa mengumpulkan kita bersama mereka di waktu-waktu ini. (aamiin…) Hal ini tidaklah mudah, berpegang teguh dengan Syekh tidaklah mudah.

Audzubillaahi mina 'sy-syaythaani 'r-rajiim, bismilaahi 'r-rahmaani 'r-rahiim, Athiuullaha wa athi`uu ‘r-Rasuula wa uuli ‘l-amri minkum.
Patuhi Allah, patuhi Rasul dan patuhi orang-orang yang mempunyai otoritas di antara kalian. (Surat an-Nisaa, 4:59)

Nawaytu’l-arbaiin, nawaytu'l-itikaaf, nawaytu’l-khalwah, nawaytu’l-riyaadha, nawaytu’s-suluuk, nawaytu’l-‘uzlah, nawaytu ‘sh-shiyaam anil ma’shiyati fii haadza ‘l-masjid bika yaa Sayyidi yaa Sulthanu ‘l-Awliya wa ana niyyati … Sayyidi Shaykh Hisham Kabbani, madad, madadu ‘l-Haqq.

Kita memohon dukungan mereka. Tanpa dukungan, tidak ada bimbingan; tanpa dukungan tidak ada shuhba; tanpa dukungan tidak ada dzikir, tidak ada apa-apa. Kita hanya bisa pulang ke rumah. Insya Allah mereka akan mengirimkan dukungan.

Beberapa hari sebelumnya Mawlana memberikan shuhba privat kepada Syekh Shahib, masyaAllah, itu indah sekali. Jadi Syekh Shahib bertanya apakah makna dari futuhat itu? Dan futuhaat dalam bahasa Arab artinya pembukaan-pembukaan, bukan hanya satu pembukaan, tetapi banyak pembukaan. Suuratu ‘l-Fatihah, Fatihah artinya pembuka. Jadi futuhaat dalam istilah tasawuf artinya pembukaan; sesuatu yang besar, sesuatu yang baru kepada seorang hamba.

Mawlana mengatakan, “Apa pun yang sang hamba inginkan, ia memintanya dari Allah, “yaa Rabbii, iftah `alaynaa fathan jamiilaa” “Yaa Allah, bukakan bagi kami suatu pembukaan yang indah!” Kemudian, akan dibukakan bagi hamba tersebut dari pembukaan ini. Jadi itu adalah adab, bahwa kalian harus meminta futuhaat ini kepada Allah. Sekarang ini orang-orang berpikir, “Oh, aku akan membuka pintu itu sendiri, aku mempunyai semua kuncinya di tanganku.” “Aku mempunyai kunci digital,” kalian membuka pintu rumah kalian 10 menit sebelum kalian tiba di rumah. Lampu-lampu menyala dan semuanya sudah siap untuk kalian. Apa yang terjadi bila kalian tidak sampai ke rumah?

Jadi orang-orang berpikir bahwa mereka mempunyai kunci, buka buku, baca buku sampai levelnya makin tinggi dan makin tinggi. Tetapi Mawlana mengatakan, “Tidak, itu dimulai dengan adab!” Langkah pertama untuk menerima dari-Nya adalah dengan meminta-Nya.

Kemudian Mawlana mengatakan, “Kemudian sang Wali yang bertanggung jawab, al-wali al-mukallaf akan membawa hamba tersebut dan mengumpulkannya bersama para Awliya’, dengan barakah shuhbah, asosiasi atau berkumpul dalam majelis mereka.

Wali yang bertanggung jawab. Siapakah itu? Mawlana mengajarkan bahwa setiap orang mempunyai seorang Wali yang bertanggung jawab untuk kehidupannya. Bertanggung jawab untuk merawatnya. Allah (swt), mengatur segala sesuatu dengan sempurna. Jadi, Allah mengatur kehidupan setiap orang dan kehidupan itu harus berada di bawah pengawasan seorang direktur.

Sebagaimana dalam suatu perusahaan, kalian bekerja untuk seorang boss, dan boss itu pun tidak sendirian, ia tidak mengambil keputusannya sendiri, ia pun bekerja untuk bossnya dan begitu seterusnya hingga boss paling atas. Jika tidak seperti itu, perusahaan itu tidak akan berhasil. Jadi Yang Maha Pemurah menyampaikan kepada hamba tersebut melalui wali yang bertanggung jawab terhadapnya. Orang yang mengetahui hal ini adalah seperti orang yang mengatakan kepada bossnya, “Wahai bossku, bisakah aku mendapat kenaikan gaji? Aku merasa telah bekerja dengan baik.” Boss akan mengatakan, “Oh ya, aku akan mengeceknya, ya, aku rasa aku akan memberimu kenaikan gaji.” Tetapi orang yang tidak mengenali bossnya, ia akan seperti terombang-ambing dalam angin, ia tidak tahu bahwa ia akan mendapat kenaikan gaji dan ia tidak tahu bagaimana ia memintanya. Ia mengatakan, “Aku akan menanyakannya kepada Direktur Utama dari perusahaan ini.” Ia lalu datang mengetuk pintunya tetapi penjaga akan mengusirnya. “Siapa engkau? Kami tidak mengenalmu! Datanglah ke jalur yang benar, datanglah pada atasanmu.”

Jadi, orang-orang sekarang, mereka melakukan metode yang salah. Mereka ingin melompat ke posisi tertinggi tetapi mereka akan ditolak. Mereka akan dicampakkan dan tidak diterima. Jadi Mawlana mengatakan bahwa adabnya adalah mengenali siapa yang bertanggung jawab atas diri kalian. Kalian bisa mengetahuinya dan bisa pula tidak. Yang terbaik adalah bila kalian mengetahuinya sehingga kalian dapat mengarahkan permintaan kalian kepadanya. Hal itu tidak berarti syirik! Hasha!

Ketika kalian pergi ke toko dan kalian membeli makanan, apakah itu syirik? Tidak! Kalian membeli makanan dan kalian membayarnya dan orang itu memberi makanan kepada kalian. Apakah kalian mengatakan bahwa orang itu adalah ar-Razzaq? A`udzubillah! Dia bukan ar-Razzaq, tetapi dia adalah wasilah agar makanan itu sampai pada kalian. Demikian pula para Awliya adalah wasilah agar rahmat Allah sampai pada kita.

Ketika kalian pergi ke toko dan kalian membeli makanan, apakah itu syirik? Tidak! Kalian membeli makanan dan kalian membayarnya dan orang itu memberi makanan kepada kalian. Apakah kalian mengatakan bahwa orang itu adalah ar-Razzaq? A`udzubillah! Dia bukan ar-Razzaq, tetapi dia adalah wasilah agar makanan itu sampai pada kalian. Demikian pula para Awliya, mereka adalah wasilah agar rahmat Allah sampai pada kita.

Tanpa wasilah, yang terjadi adalah rahmat itu datang secara langsung dan kita akan terbakar, sebagaimana ketika Musa (as) meminta untuk melihat Allah (swt), tetapi Allah tidak mengizinkannya. Allah memberi peringatan kepadanya, “Jika gunung itu dapat menerima tajali-Ku–kita tidak tahu seberapa besar Allah mengirimkan tajali-Nya kepada gunung itu, barangkali tajali yang paling kecil–jika gunung itu dapat menerima tajali-Ku, maka engkau dapat melihat-Ku.” Ternyata setelah tajali itu turun kepada gunung itu Musa (as) pun jatuh pingsan, syok. Jadi Musa (as) pun berakhir, selesai. Jadi orang yang ingin melompat langsung menuju Allah artinya ia ingin berakhir.

Selain itu banyak pula murid yang berpikir, “Oh kita akan melompat tinggi. Aku akan melakukan ini, aku akan melakukan itu,” tetapi mereka melupakan hubungan itu, mereka melupakan tertib dalam organisasi ini. Alhamdulillah kita berada dalam tarekat, kita diberkahi dengan keberkahan yang tidak dapat dibayangkan oleh seorang pun. Alhamdulillah, karena Mawlana mengatakan bahwa kita terhubung dengan Sultan al-Awliya dan setiap kali kita menyebutkan nama Masyayikh kita, siapa pun di antara Masyayikh kita, karena mereka terhubung satu sama lain, mata rantai silsilah itu akan bergetar hingga ke Hadirat Ilahi. Allahu Akbar, itu adalah sesuatu yang indah. Sungguh suatu kemurahan yang luar biasa yang kita terima.

Jadi Mawlana mengatakan bahwa Wali yang mukallaf, yang bertanggung jawab membawa hamba tersebut dan mengumpulkannya bersama para Awliya. Jadi beliau membawanya ke dalam hadrah, hadirat para Awliya, terlepas dari hamba itu tahu atau tidak. Kebanyakan kita tidak mengetahuinya. Ketika kita shalat, hati kita tidak di sana. Hati kita bersama rekening bank, pajak, Covid-19, dan lain-lain.

Hati kita tidak hadir di sana, tetapi tidak masalah, para Awliya tidak peduli dengan hal itu, mereka melihat, “Hamba ini bersamaku, khalas, aku akan membawanya ke mana pun aku pergi, itulah pekerjaanku.” Mereka mendapat tugas dan mereka mengerjakannya. Mereka tidak seperti kita, kita mendapat tugas, tetapi kita tidak mengerjakannya lalu melupakannya. Syekh mengatakan, “Lakukan ini!” “Oh Mawlana, aku akan mengerjakannya.” Tetapi kemudian mereka tidak melakukannya. Para Awliya tahu bagaimana diri kita. Itulah sebabnya mereka membawa kita dan menarik kita ke mana pun mereka berada.

Kemudian Mawlana mengatakan bahwa shuhbah (صحبة ) bermakna hadirnya sekian banyak orang. Jadi shuhbah tidak dapat dilakukan sendiri. Kita tidak dapat memberikan shuhbah kepada diri kita sendiri, kecuali kalian adalah seorang Awliya. Salah satu Awliya memberikan shuhbah kepada dirinya sendiri, tetapi kemudian ia tidak sendiri. Sebagaimana yang dikatakan oleh Mawlana, para Awliya sepanjang waktu berada dalam lingkaran, dalam perkumpulan. Mereka bersama para Masyayikhnya. Mereka bersama Nabi (saw), mereka bersama Nabi-Nabi lainnya, mereka senantiasa berada dalam perkumpulan itu, hati mereka ada di situ.

Jadi shuhbah bermakna hadirnya sekian banyak orang. Setiap orang memasuki Futuhat ini, pembukaan-pembukaan Ilahiah; karena hal itu seperti shalat berjamaah, kalian akan mendapat pahala dari atqa, dari orang yang paling ikhlah dalam jemaah tersebut. Shalat beliau adalah yang paling diterima dan Allah membagikan pahalanya secara merata kepada seluruh makmumin. Atau bahkan jika ia bukanlah seorang Imam, ia shalat di shaf paling belakang, ia ingin menyembunyikan dirinya, tetapi karena dirinya adalah yang paling murni, maka pahala dari hamba ini akan disebarkan secara merata kepada semua orang yang hadir.

Jadi lihatlah berkah dalam shalat berjamaah, dan Mawlana selalu mengajarkan kepada kita, shalatlah dalam jamaah! Jangan melewatkannya! Tetapi kita selalu melewatkannya, setiap orang shalat sendiri-sendiri. Ya khayr insya Allah, tetapi rahmat itu datang kepada orang banyak (jamaah). Dan alasannya adalah bahwa tarekat kita bukanlah tarekat yang egois, bukanlah seperti mengatakan, “Aku akan menuju Allah dan memperoleh futuhaat.” Tidak! Tarekat kita adalah berbagi segalanya. Jalan daripada Iman, Islam dan Ihsan adalah berbagi dengan sesama, itulah sebabnya thariqatunna ash-shuhbah. Tarekat sama dengan shuhbah, shuhbah sama dengan tarekat, mereka berjalan bersama. Kita tidak bisa memiliki tarekat tanpa shuhbah. Jadi shuhbah itu adalah berbagi keberkahan. Ketika rahmat itu dibagi, setiap orang akan diangkat ke level tertinggi yang dimiliki oleh orang yang hadir dalam shuhba tersebut. Dan kita tidak tahu siapa dia, barangkali orang yang tersembunyi.

Ketika membuka masjid ini, Mawlana Syekh mengatakan, “Jangan berpikir bahwa masjid ini adalah kosong.” Orang-orang berpikir, “Oh Masjid ASIM (Ash-Shiddiq Institute and Mosque di Michigan) sekarang ditutup.” Ya, itu ditutup untuk kita, karena hati kita tidak di sini, tetapi Mawlana mengatakan bahwa para Awliya dan Malaikat selalu datang dalam masjid ini. Jadi masjid ini adalah masjid yang sangat diberkahi, kalian datang kapan saja dan shalat di sini, kalian akan mendapat pahala dari Awliya dan Malaikat tersebut.

Mawlana mengatakan bahwa setiap orang dalam shuhbah akan masuk ke dalam futuhaat ini. Jadi futuhaat itu turun kepada orang yang maqamnya tertinggi, kemudian beliau menyebarkannya seperti sebuah pemancar zzzz, kepada setiap orang di sana seperti server, sebagaimana yang selalu dijelaskan oleh Mawlana. Server-server itu menerima dari sumber utama kemudian menyebarkannya kepada setiap orang yang terhubung dengannya, bahkan jika ada jutaan orang, mereka akan mendapatkannya.

Contohnya Netflix, ia adalah sebuah server dan ia mengirimkan sinyal kepada setiap orang. Sebagian orang menerima sinyal di bagian awal, sebagian lagi sudah di bagian akhir, tetapi mereka semua menerima sinyal dari keseluruhan film tersebut. Jadi para Awliya mengirimkan kepada setiap orang yang ada dalam shuhbah. Jika kalian berniat untuk hadir dalam shuhbah itu, kalian akan mendapat manfaat dari shuhbah tersebut.

Kemudian Mawlana mengatakan bahwa ilham, inspirasi, datang dan pergi. Mawlana menjelaskan bahwa ilham berasal dari hati. Ada malaikat yang bertanggung jawab untuk mengirimkan ilham tersebut. Jadi ilham-ilham tersebut masuk ke dalam hati, kemudian pergi, kecuali bila orang itu fokus dan ia menangkap ilham tersebut ketika ilham itu datang dan bila ia pintar, ia akan menuliskannya, karena ilham itu datang dan pergi sehingga ketika ia sudah pergi, kalian tidak bisa mengingatnya lagi. Jadi orang yang pintar akan menulisnya sehingga ia dapat melihatnya kembali.

Mawlana mengatakan bahwa futuhaat berasal dari ilham; dan ilham atau inspirasi datang dari tempat yang lebih tinggi, dan ilham mengantarkan hamba tersebut ke hati seseorang yang bertanggung jawab (al-wali al-mukallaf). Wali tersebut adalah yang bertanggung jawab atas rohaniah kalian, dan ilham itu berasal dari hatinya kepada hati hamba tersebut. Karena wali itu yang bertanggung jawab, beliau ingin membimbing kalian. Jika beliau dapat membimbing kalian dalam setiap langkah, itulah yang beliau inginkan, karena kita membaca, “Ihdina ‘sh-shiraata ‘l-mustaqiim,” apa itu shirath? Shirath adalah jalan, dan untuk melaluinya, kalian melangkah langkah demi langkah. Bagi orang yang mendapat ilham dan membuka ilham tersebut setiap langkahnya dibimbing.

Itulah sebabnya Mawlana mengatakan bahwa ilham muncul setiap saat; tetapi segera setelah ilham itu muncul, muncul pula hal yang bertentangan, yakni waswasah. Setan selalu mengawasi dan ia tidak ingin membiarkan kalian menerima ilham tersebut. Jadi setelah kalian memperoleh ilham dengan segera ia mengirim kebalikannya. Jadi ketika kalian melihat sebuah batu di jalan, kemudian hati kalian mengatakan agar kalian menyingkirkannya, sebagaimana hadits Nabi (saw), dengan segera Setan mengatakan, “ah ada banyak batu di jalan, untuk apa engkau menyingkirkannya semua?” Ia ingin menentang ilham tersebut dengan segera dan biasanya kita lebih banyak mendengarnya.

Mawlana mengatakan bahwa selalu ada 2: yang pertama adalah ilham dan yang kedua adalah waswasah. Jika kalian belajar untuk mendeteksinya, kalian akan tahu mana yang ilham dan mana yang berasal dari Setan.

Jadi kita datang ke dalam shuhbah untuk memperoleh ilham untuk memperoleh futuhaat, tetapi setiap saat wali al-mukallaf ingin memberikannya kepada kita. Beliau tahu apa yang harus diberikannya kepada kita dan apa yang harus ditahannya.

Mawlana juga menginspirasikan muridnya untuk mengajukan pertanyaan, seperti ketika Shaykh Shahib bertanya tentang futuhaat, kemudian Mawlana membukakan jawabannya, karena itulah yang datang dan beliau ingin membukanya. Beliau ingin memberikan pemberian ini kepada kita agar kita memahaminya dan sekarang beliau membukakan banyak channel, saluran, mengenai siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana hierarki kepemimpinan dalam keorganisasian ini berjalan. Jadi kita sangat beruntung untuk mendapatkan ajaran ini karena ini adalah ajaran yang sangat langka dan tidak biasa. Alhamdulillah, aqulu qawli haadza, astaghfirullah li wa lakum wa li sa’iri ‘l-mu`miniin wa yahfadz mustaghfiriin, astaghfirullaah.

===

Adalah sunnah untuk menggunakan miswak (sebelum melakukan dzikir), tetapi dengan segera Setan mengatakan, “Woi corona, corona, jangan lepaskan maskermu! Nanti kamu akan kena Corona!” Siwak ini melindungi kita dari syirik. Nabi (saw) bersabda, “Allaahumma thahhir qalbi minal syirki wa ‘n-nifaq.” Ini melindungi kita dari syirik dan nifaq, apakah ia tidak melindungi kita dari Corona? Allahu Akbar!

Video: https://www.youtube.com/watch?v=WJn82FWeSxg