Kita Belum Menjadi Murid

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
20 Oktober 2012,  Fenton, Michigan
Shubhah setelah Zikir
A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah,
nawaytu ‘r-riyaadhah, nawaytu ‘s-suluuk, lillahi ta`alaa fii haadza ‘l-masjid.
أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

Athii`uullaha wa athii`uu ‘r-Rasuula wa uuli ‘l-amri minkum.
Taati Allah, taati Rasul, dan taati orang-orang yang mempunyai otoritas di antara kalian. (Surat an-Nisa, 4:59)

Madad yaa Sayyidii, yaa Rasuulullah! Madad, yaa Awliyaullah! Madad, yaa Sulthan al-Awliya, madad.

As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. 
Saya tidak berencana untuk memberi shuhbah, tetapi karena banyak orang yang datang, saya akan membuat shuhbah singkat, kemudian Syekh Shahib akan memimpin (salat) `Isya.

Islam adalah mempelajari apa yang bermanfaat bagi kita, karena Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an,

ِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُُ

Inna ad-diina `inda Allaahi al-Islaam.

Agama (yang diridai) di sisi Allah adalah Islam (tunduk pada Kehendak-Nya).  (Surat Aali-`Imraan, 3:19)

Jadi, untuk dapat memahami Islam, kita perlu memahami struktur yang Allah (swt) kirimkan kepada Utusan-Nya, Sayyidina Muhammad (saw), dan membangun di atas stuktur tersebut apa pun yang telah kita pelajari dari Islam karena itu adalah struktur utamanya.  Ketika kalian membangun sebuah gedung, kalian memperkuatnya dengan baja dan beton sehingga ia dapat menyokong banyak tingkat. Islam juga mempunyai struktur yang telah Allah kirimkan kepada Nabi (saw) sebagai pedoman bagi kita. Itu sangat sederhana dan orang-orang banyak melewatkannya, tetapi tidak menerapkannya.  Kita harus memperhatikan apa yang dikatakan oleh Nabi (saw), khususnya di masa yang penuh dengan nafsu duniawi yang mempengaruhi iman kita. Islam sepenuhnya berdasarkan pada apa yang disebutkan oleh Nabi (saw),

اإنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

Innamaa bu`itstu li utammima makaarim al-akhlaaq.
Aku tidak diutus melainkan untuk melengkapi akhlak. (Bukhari in Adab al-Mufrad)

Kita harus memperhatikan kata dalam Bahasa Arab, “Innamaa” yaitu menegaskan bahwa “Aku telah,” “bu`itstu” artinya “diutus,” dan “li utammima” diterjemahkan sebagai “untuk melengkapi”, bukan seperti yang banyak dijelaskan oleh para ulama sekarang, “untuk menyempurnakan”.  Tetapi ulama-ulama Arab mengatakan bahwa “utammin” adalah “untuk melengkapi” akhlak dan perilaku, yang artinya Nabi (saw) mengambilnya sebagai tanggung jawabnya di hadapan Allah bahwa, “Yaa Rabbii! Engkau telah mengutusku untuk melengkapi,” yang artinya, “Aku tidak akan membiarkan seseorang datang dengan tidak lengkap (pada Hari Kiamat).”  Allah memberinya sesuatu yang tidak diberikan kepada makhluk apa pun dan tak seorang pun dapat melengkapinya. Kullu nafsin, setiap orang bertanggung jawab atas diri mereka sendiri, tetapi Nabi (saw) bersabda, “Aku akan bertanggung jawab untuk semua orang.”  Tak seorang pun yang tidak lengkap pada saat Hari Kiamat dengan kekuatan yang Allah berikan kepada Nabi (saw). Beliau (saw) tidak mengharapkan kita menjadi lengkap, karena beliau (saw) tahu bahwa kita senantiasa berjuang, satu hari kita berada di jalan yang benar, satu hari lainnya kita di jalan yang salah.  “Melengkapi” maksudnya menghilangkan semua karakter buruk dan membusanai kalian dengan karakter yang baik. Misalnya, Nabi (saw) menyingkirkan semua pakaian yang kotor dan memberi pakaian yang bersih dari sisinya, artinya beliau (saw) membuang `amal yang buruk dan menggantinya dengan `amal yang baik.

Dalam sebuah hadits Nabi (saw) disebutkan bahwa,

حياتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم ، فإذا أنا مت كانت وفاتي خيرا لكم ، تعرض علي أعمالكم فان رأيت خيرا حمدت الله تعالى وإن رأيت شرا استغفرت لكم

Hayaatii khayrun lakum tuhaditsuuna wa yuhdatsa lakum fa idzaa anaa mitt kanat wafaatii khayran lakum. Tu`radhu `alayya `amal ummatii, wa in wajadtu khayran hamadt ‘Allah wa in wajadtu ghayrah  astaghfarta lakum.

Aku mengamati `amal umatku.  Jika aku mendapatinya baik, aku bersyukur kepada Allah, tetapi bila aku menjumpainya selain dari itu, menjumpainya dalam keadaan buruk, aku memohon ampun bagi mereka. (al-Bazzaar di dalam Musnad-nya)

Jadi kita beruntung menjadi bagian dari Ummat an-Nabi (saw), tetapi kita tidak memberikan haknya, memuliakan bahwa atas nama kita Nabi (saw) melakukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan.  Paling tidak kita musti menunjukkan bahwa kita berjuang, tetapi sekarang orang-orang ceroboh dan tidak memberi perhatian pada apa yang berada di sekitar mereka.  Jika kalian melihat bahwa seorang Muslim tidak berpuasa dan bertanya pada kalian mengapa, mereka mengatakan, “Oh, kepalaku sakit.” Kalian bertanya pada orang kedua, “Mengapa engkau tidak puasa?”  “Oh, aku sedang sekolah.” Kalian bertanya pada orang ketiga, “Mengapa engkau tidak puasa?” Ia akan berkata, “Karena aku sedang jogging!”  Mengapa engkau jogging?  Setiap orang mempunyai alasan.  Mengapa engkau tidak salat? “Aku tidak punya waktu.”

Pada Hari Kiamat, akankah kalian berkata kepada Allah, “Aku tidak punya waktu.”  Apa yang akan Dia katakan pada kalian? “Masuklah ke Neraka, karena sekarang Aku tidak punya waktu untukmu!”  Ketika Nabi (saw) melihat kemalasan dari umat ini, beliau (saw) mengambil tanggung jawab pada dirinya sendiri dan berkata, “Aku akan melengkapinya atas nama kalian dan kalian akan muncul sebagai yang terbaik di Hari Kiamat.”  (Tetapi itu) adalah sepanjang kalian bershalawat atas Nabi (saw), “Allahumma shalli `alaa Sayyidina Muhammad wa `ala aali Sayyidina Muhammad.”

Shalawat adalah apa yang Allah (swt) inginkan dari kita, agar kita tahu nilai dari Nabi-Nya (saw)!  Allah (swt) memerintahkan para malaikat untuk bershalawat untuk mengetahui nilai Nabi-Nya dan itu artinya shalawat adalah jalan menuju “tanah yang aman” atau “tepi yang aman”.  Setiap saat kalian mengalami kesulitan, ingatlah bahwa Allah (swt) memerintahkan kalian untuk bershalawat atas Kekasih-Nya di mana Dia akan membuat sepuluh shalawat untuk kalian, yang artinya Dia akan menghilangkan segala kesulitan!  Nabi (saw) menyebutkan dalam sebuah hadits,

من صلى علي مرة صلى الله عليه بها عشرا

Man shalla `alayya marrah, shalla ’Laahu `alayhi bihaa `asyara.
Barang siapa yang bershalawat atasku sekali, Allah akan bershalawat atanya sepuluh kali. (Sahih)

Shalawatnya Allah tidak seperti kita; shalawatnya Allah penuh dengan pahala dan menghilangkan semua kesulitan.  Jika kalian sakit, mempunyai masalah secara umum atau mempunyai masalah dalam pernikahan, bershalawatlah dan semua masalah itu akan hilang!  Jika kalian hanya duduk di tempat tidur dengan kaki terentang, tidak bershalawat, itu tidak akan berhasil. Jika kalian sakit, kita pergi ke dokter dan kita menunggu dengan cemas di ruang gawat darurat hingga empat jam.  Serupa halnya, Allah mengatakan kepada kita untuk bershalawat atas Nabi (saw) dengan harap-harap cemas. Jika kalian bershalawat selama satu jam, setengah jam, atau bahkan selama lima menit, itu sudah cukup!

Allahumma shalli `alaa Sayyidina Muhammad! Allahumma shalli wa sallim wa baarik `alaa habiibika wa nabiyyika, Sayyidina Muhammad (saw)!

Jadi Allah ingin hamba-hamba-Nya mempunyai akhlak yang baik dan tidak kasar.  Setiap orang mempunyai jalan yang berbeda dalam menunjukkan kekasarannya. Allah (swt) tidak menyukai sikap yang kasar.  Nabi (saw) tidak pernah berkata, “laa” sepanjang hidupnya, beliau (saw) menerima segalanya.  Bagi kita, jika sesuatu itu tidak sesuai dengan diri kita, kita katakan, “Tidak!”  Kita tidak setuju dengan apa saja kecuali istri kita. Kalian tidak bisa mengatakan tidak kepada mereeka, benar kan?  Mengapa? Saya tidak tahu, tetapi ini sudah menjadi tradisi sekarang, jadi kita ikuti hal itu.

Allah (swt) tidak menyukai seseorang yang kasar, itulah sebabnya Dia mengutus Nabi (saw), yaitu untuk menyingkirkan sifat kasar itu dari manusia dan menjadikan mereka sebagai orang yang baik.  Ketika orang melihatnya, mereka senang, bukannya marah, serius atau sepanjang waktu tidak senyum. Allah (swt) tidak menyukai karakter itu. Sering-seringlah senyum dan bershalawat, kalian akan memiliki dunia dan akhirat dan semoga Allah memberi kita dunia dan akhirat!

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbanaa atinaa fii ‘d-dunyaa hasanatan wa fii’l-akhirati hasanatan waqinaa `adzaba an-naar.

Wahai Tuhan kami!  Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa Api Neraka!” (Surat al-Baqarah, 2:201)

“Selamatkan kami dari Api Neraka.”  Jika kita ingin diselamatkan, itu seperti itu.  Itu artinya mintalah agar Allah (swt) mengaruniai kalian agar mempunyai satu kaki di dunia dan satu di akhirat, tidak semuanya hanya di dunia.  Alhamdulillah, kehadiran kalian di sini memperlihatkan bahwa kalian sehat dalam ibadah kalian, dan kalian senang untuk berada di Rumah Allah.  Beberapa orang datang dari jauh, untuk apa? Untuk hubb, cinta.  Allahu Akbar!  Ia berasal dari dua huruf, yaitu “Haa” dan “Baa”, membentuk kata, “Cinta”

Allah (swt) berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Qul in kuntum tuhibbuuna ‘Llaaha fattabi`uunii yuhbibkumullaahu wa yaghfir lakum dzunuubakum w ‘Allaahu Ghafuuru ‘r-Rahiim.

Katakanlah (Wahai Muhammad), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku!  Niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surat Aali-‘Imraan, 3:31)

Itu artinya Allah mencintai hamba-Nya. ‘Haa’ adalah simbol dari hayyat, hidup.  Allah tidak hanya akan memberi kalian hubb (cinta di dunia ini), tetapi Allah memberikan hayyat al-abadiyya, Kehidupan yang Abadi. ‘Baa’ melambangkan “baqa,” yang artinya “kekal” atau “tidak pernah berakhir,” dan itulah makna dari ‘hubb:’ ketika Allah mencintai kallian, Dia memberi kalian kesehatan, kebaikan, kehidupan yang kekal, di dunia dan akhirat.  Itu dari dua huruf dan kita tidak ingin lagi! Cinta Allah (swt) dan cinta Nabi (saw), kalian akan selamat, karena bila kalian mencintai seseorang, kalian akan patuh padanya.  Jika kalian mencintai istri kalian, kalian mematuhinya dan begitu pula sebaliknya. Jadi, bagaimana menurut kalian tentang cinta pada Allah dan Nabi-Nya (saw)? Athii`uullaha wa athii`uu ‘r-Rasuul, karena bila kalian cinta, Allah memberi kalian kepatuhan dan menempatkan kalian di jalur yang benar.  Semoga Allah (swt) membuat kita semua cinta pada-Nya dan cinta Nabi-Nya, dan menyingkirkan semua kesulitan, dan mengaruniakan kita apa pun yang kita minta.

Allah tidak senang bila kalian mengeluh, Dia lebih senang jika hamba-Nya mengingat-Nya!  Sekarang bila kalian bertanya pada orang-orang di sini, “Apakah kalian murid?” Mereka akan berkata, “Ya,” tetapi pada hakikatnya tidak.  Kita belum mencapai level murid, kita masih pemula.

Sayyidina Syah Naqsyband (q), Imam ath-Thariqah Naqsybandi, sangat kaya sejak usia muda.  Paling tidak lima ribu orang menghadiri majelisnya dan beliau memberi makam mereka semua dari pendapatannya.  Suatu hari beliau berjalan dan mulai merasakan keinginan untuk mengunjungi Syekhnya, Sayyidina Amir Kulal (q).  Beliau berada di lorong, merasakan antara sahuw dan ghaybah, antara keadaan terjaga dan tertidur–namun itu bukan kata-kata yang tepat.  Ghaybah dan sahuw artinya antara keadaan jazbah dan haal, suatu keadaan spiritual, dalam level yang tidak merasakan apa-apa kecuali cinta pada Allah (swt) dan Nabi (saw).  Beliau datang dekat rumah Syekh dan segera setelah beliau masuk, Syekh mengetahui nama Syah Naqsyband (q), walaupun mereka belum pernah bertemu, tetapi Sayyidina Syah Naqsyband (q) telah mengambil baya` melalui seseorang yang dikenal oleh Syekh.

Syekh bertanya, “Siapa ini?”
Murid-murid berkata, “Ini adalah Syah Naqsyband.”
Beliau berkata, “Usir dia!”

Syah Naqsyband berkata, “Pada saat itu aku merasa tidak senang dan Setan mulai bermain denganku dan egoku berkata, ‘Apa yang ingin kau lakukan dengan Syekh ini?’  Namun demikian kesadaranku berkata, ‘Tidak (jangan pergi).’”

Jadi, mereka mengeluarkan Syah Naqsyband (q), tetapi tidak ada tempat baginya untuk pergi, karena hari sudah malam dan turun salju.  Beliau pergi ke ambang pintu Sayyidina Amir Kulal (q), berlutut dan meletakkan kepalanya di dasar pintu dan tinggal di sana. Kepalanya benar-benar dipenuhi salju, tetapi beliau tidak merasakan dinginnya karena beliau dalam keadaan ghaybah, gaib/tidak hadir/absen.  Waktu Subuh tiba dan Syekh keluar untuk berwudu, beliau melangkah ke atas kepala Syah Naqsyband (karena beliau tidak tahu Syah Naqsyband  berada di situ).

Sayyidina Amir Kulal (q) berkata, “Oh, kau di sini?”
Syah Naqsyband (q) berkata, “Ya, aku di sini.”
Sayyidina Amir Kulal (q) berkata, “Aku mengujimu.  Engkau sungguh seorang murid.”

Beliau membawa Syah Naqsyband (q) ke dalam, membersihkannya dan menghilangkan duri-duri dari kakinya dan mulai membusanainya dengan ma`arifah, Ilmu Ilahiah.  Ini adalah murid sejati, dan dengan kisah singkat ini, kita dapat mengatakan bahwa kita bukanlah murid sejati, kita berusaha (untuk menjadi murid), karena Syekh tidak mengatakan kepada kalian untuk pergi, karena kalian bukan murid sejati, tetapi kita tahu bahwa kita sedang berusaha.  Lanjutkan perjuangan kalian, karena jika kalian menjadi lebih baik satu persen, itu berarti lebih baik dan membuat Allah rida, sebagaimana dinyatakan dalam hadits:

يقول الله عز وجل: من ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي، ومن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منه، ومن تقرب إلي شبراً تقربت منه ذراعاً، ومن تقرب مني ذراعاً تقربت منه باعاً، ومن أتاني يمشي أتيته هرولة

Man dzakaranii fii nafsihi dzakartahu fii nafsii wa man dzakaranii fii mala’ain dzakartahu fii mala’ain khayra minhu wa man taqarrab ilayya syibran taqarrabtu minhu dziraa`an wa man taqarrab minnii dziraa`an taqarrabtu minhu baa`an wa man ataanii yamsyii aataytahu harwalah.

Aku seperti yang dipikirkan oleh hamba-Ku. Aku bersamanya ketika dia menyebut nama-Ku. Jika dia menyebut nama-Ku di dalam hatinya, Aku menyebut namanya di dalam hati-Ku; dan jika dia menyebut nama-Ku dengan berjamaah, Aku menyebut namanya dalam jamaah yang lebih besar. Dan jika dia mendekatiku sejangkauan tangan, Aku akan mendekatinya sejangkauan lengan; dan jika dia mendekati-Ku sejangkauan lengan, Aku akan mendekatinya sejangkauan galah. Dan jika dia mendekati-Ku dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari” (Hadits Qudsi).

Bahkan jika kalian melakukan satu persen kebaikan dalam hidup kalian, kalian akan masuk Surga.  Nabi (saw) bersabda (kepada para Sahabat), “Jika kalian melakukan sembilan puluh persen dari apa yang aku perintahkan, kalian akan berada di tangan-tangan yang baik.  Akan tiba suatu masa di mana jika mereka hanya melakukan sepuluh persen dari apa yang aku katakan kepada mereka, mereka akan masuk Surga.”

Jadi sekarang mereka hanya meminta kita untuk melakukan sepuluh persen, artinya jika kalian menunjukkan perbuatan baik apa pun yang kalian lakukan, mereka akan membawa kita pada keselamatan dan membuat mereka bahagia.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

http://www.sufilive.com/We_are_not_Mureeds-4666.html

© Copyright 2012 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Bagaimana Iblis Berkhidmah pada Syah Naqsyband (q) selama Tujuh Tahun

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

17 September 2009    Fenton, Michigan                                                                             

 

A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim.

Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim.

Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah,

nawaytu ‘r-riyaadhah, nawaytu ‘s-saluuk, lillahi ta’ala al-`Azhiim fii hadza ‘l-masjid.

Athii`uullaha wa athii`uu ‘r-Rasuula wa uuli ‘l-amri minkum. 

Saya pikir kita harus memindahkan siaran langsung ini ke Siprus karena mereka akan menyiarkan Salat Jumat dari sana, jadi saya akan menceritakan sebuah kisah singkat dari Grandsyekh, kisah mengenai Iblis yang datang dan mengetuk pintu Sayyidina Syah Naqsyband (q) pada suatu hari, dan bagaimana beliau hidup dengan Iblis.  Ada kisah lain juga mengenai Grandsyekh Syarafuddin (q) dan bagaimana beliau menggunakan Iblis untuk melimpahkan dosa-dosa manusia kepadanya.  Kita akan menceritakan kisah kecil ini lalu memindahkan siaran langsungnya ke Siprus. 

Allah berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an,  إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ  – “Inna `ibadii laysa laka `alayhim sulthankamu tidak mempunyai kekuasaan atas hamba-hamba-Ku”. (15:42)  Di sini Allah (swt) berbicara kepada Iblis.  Dia mengatakan, “Kau tidak bisa mempunyai kekuasaan atas hamba-hamba-Ku, mereka yang berhak menyandang predikat penghambaan; kau dan tidak ada seorang pun yang mempunyai kekuasaan atas mereka, karena mereka adalah hamba-hamba-Ku,” sebagaimana Allah menyebutkan Sayyidina Khidr (a) `abdan min `ibaadinaa, “salah seorang di antara hamba-hamba-Ku.” 

Jadi Iblis dengan segala kekuatannya, ia berusaha menjangkau di mana para awliyaullah melakukan pertemuan mereka, ia berusaha menjadi salah satu di antara orang-orang yang menghadiri pertemuan itu untuk mengganggu pertemuan itu dan ia bisa datang dengan berbagai cara yang berbeda, kalian bisa saja tidak mengenalinya dan siapa yang dapat mengenalinya?  Ia bisa saja datang sebagai orang berpenampilan normal, dengan janggut islami dan bahkan memakai turban dan bahkan ia pun mengambil bay’at dan tinggal selama bertahun-tahun sehingga orang-orang mulai menyukainya.  Setelah itu ia akan keluar dan membuat keributan, bukan dari mulutnya, tetapi dari bagian lain.  Ia datang kepada orang-orang dan mengatakan, “Aku adalah perwakilan syekh.”  Jika baginya mungkin untuk mendatangi Sayyidina Adam (a) dan mengatakan, “Aku akan menunjukkan kepadamu sebuah pohon yang membuat kehidupan menjadi kekal,” maka apakah ia tidak mungkin untuk mendatangi kalian?  Apakah kalian lebih baik daripada Adam (a)? 

Jadi, itulah sebabnya mengapa dalam setiap tarekat ada Iblis di dalamnya.  Itulah sebabnya kalian lihat bahwa ketika ia mendapati bahwa kalian adalah seorang yang ikhlas, ia akan pergi dan mulai berbicara buruk mengenai zikir dan majelisnya.  Jadi Iblis datang kepada Syah Naqsyband (q), mengetuk pintunya dan minta izin untuk masuk.  Ia datang dalam bentuk seorang manusia–sangat tampan, enak dipandang, seorang yang tinggi besar, rajulun `azhiim.  Dengan janggut hitam yang rapi, dan orang-orang menghormatinya, dan dengan turban yang sangat besar, jadi kalian melihat turban juga?… Ada banyak sekali di dalam tarekat ini, mereka mempunyai turban besar dan mereka adalah para pewaris Iblis.  Tunggulah sampai kebenaran akan datang, inn Allaha yumhil wa la yuhmil…Allah akan membiarkan mereka dan kemudian akan menghukumnya.  Rajulun `azhiim bi `amaamatun kabiira – Seorang pria besar datang dengan busana sunnah yang sempurna dan dengan turban besar meminta izin untuk masuk ke hadirat Syah Bahauddin Naqsyband (q) dan bersama Syah Naqsyband (q) hadir seorang murid senior, Syekh Muhammad  Parsa dan salah satu khalifah pertamanya dari Persia, bukannya `Alauddin `Aththar.  Beliau juga adalah orang yang mempunyai otoritas. 

Jadi orang itu datang dan ia terlihat sangat saleh dan tulus… apakah Iblis saleh dan tulus?  Ia telah dikutuk oleh Allah.  Nabi (s) berkata, “Berhati-hatilah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”  Jadi berhati-hatilah dengan orang yang menggunakan nama Mawlana.  Jadi beliau (Syekh Muhammad Parsa) bertanya pada Sayyidina Syah Naqsyband (q), “Ada seorang syekh di pintu dan ia meminta izin untuk mendapat kehormatan untuk berada di hadiratmu,” dan Sayyidina Syah Naqsyband (q) berkata, “Biarkan ia masuk.”  Ia masuk dengan tongkatnya… lihat, mereka semua membawa tongkat, memakai turban, pakaian yang bersih dan rapi, janggut panjang dan pandangannya direndahkan, baik sekali, dengan adab yang baik sekali, dan ia datang, dan Sayyidina Syah Naqsyband (q) menyambutnya dan ia datang dan duduk dengan posisi berlutut.  Beliau berkata kepadanya, “santai saja,” dan ia menjawab, “Ya Sayyidii!  Kita harus menjaga adab terbaik, aku merasa rileks dengan posisi berlutut ini,” jadi beliau meminta Muhammad Parsa untuk meninggalkan ruangan.  Beliau khawatir bahwa murid bisa mempunyai keraguan mengenai apa yang akan terjadi. 

Jadi Sayyidina Syah Naqsyband (q) dengan kekuatan kewaliannya, sebagaimana para awliyaullah mempunyai dua macam kekuatan: sebagian memiliki wilayah terhadap aspek fisik, mereka bisa bergerak menembus ruang, mereka dapat mengatakan kepada kalian apa yang terjadi besok, mereka membawa sesuatu yang tidak terduga, mereka dapat memberi penyembuhan, dan kemudian ada juga tipe lainnya di mana mereka dapat mengangkat derajat kalian dengan ilmu dan ini jauh lebih baik dan mereka mewarisinya dari Nabi (s), yang menerima kitab suci al-Qur’an, dan mereka mewarisinya sehingga mereka berusaha untuk mengunduh berbagai macam ilmu ke dalam kalbu kalian.  Kemudian ada tipe ketiga yang dapat menggabungkan aspek fisik dan spiritual.

Dan Syah Naqsyband (q) mempunyai kedua kekuatan itu (beliau termasuk tipe ketiga).  Beliau terlihat normal, tetapi beliau tahu bahwa Iblis akan datang sebelum ia datang. Iblis menyamarkan dirinya sepenuhnya.  Beliau dulunya adalah kepala malaikat.  Allah (swt) memberinya kekuatan itu, sehingga ia menutupi seluruh kepribadiannya dan sangat langka seorang wali dapat menembus hijab ini dan melihat siapa di balik hijab itu.  Jadi beliau tahu bahwa ini adalah Iblis, yang terkutuk. 

Jadi beliau berkata, “Wahai tamu kami, biasanya tamu-tamu kami tinggal selama tiga hari.  Kau dipersilakan untuk tinggal selama tiga hari di sini.”  Iblis sangat senang.  Ia berpikir bahwa Sayyidina Syah Naqsyband (q) tidak mengenalinya karena ia menyamarkan dirinya yang sebenarnya, jadi ia tinggal selama tiga hari di sana dan selama itu ia membuat dirinya turut mengikuti salat bersama beliau.  Salat berjamaah bersama seluruh pengikutnya di majelisnya.  Ketika kami mengunjungi masjidnya di Bukhara, orang mengatakan bahwa biasanya ada 5000 orang yang belajar dan bermukim di sana.  Jadi beliau membuat Iblis yang terkutuk terpaksa mengikuti salat, karena Iblis tidak bisa membongkar penyamarannya karena ia ingin memperdaya Sayyidina Syah Naqsyband (q) dan ia ingin memperdaya jemaahnya, jadi ia bergabung dengan jemaah, ia berusaha untuk membuat mereka kebingungan, tetapi kekuatan Sayyidina Syah Naqsyband (q) lebih tinggi darinya.  Beliau berkata kepadanya, “Dengan hormatku kepada Tuhanku,” itu artinya, “Dengan hormat kepada Tuhanku yang mengutukmu, aku menghormati kutukan itu padamu, yang mencambukmu, aku menghormati perintah itu, dapatkah aku bertanya bagaimana aku bisa membantu?” (karena beginilah cara kerjanya) dan ia berkata, “Ya, aku datang ke sini untuk menjadi salah satu muridmu.”  Orang-orang di sana merasa senang, ada seorang dengan janggut dan turban, orang yang tulus.  Mereka berpikir, “Oh, ia akan tinggal bersama kita, mungkin kita bisa belajar tentang adab darinya, karena ia mempunyai adab yang tinggi dengan Syah Naqsyband (q).”

Mereka datang kepada Mawlana Syekh dengan adab sempurna, mengatakan, “Aku ingin memimpin zikir di daerahku, memimpin zikir dan mendapatkan khilafah.”  Segera Mawlana akan memberi stempel pada kertas dan berkata, “Pergilah!” (Itu artinya) “Kau seperti Iblis itu.”

Jadi ia (Iblis) berkata, “Aku ingin menjadi muridmu, dapatkah engkau menunjukkan jalan terbaik untuk menjadi muridmu, aku siap.  Dapatkah aku berkhidmah padamu?”  Beliau (Syah Naqsyband (q)) berkata, “Kau tahu tentang tradisi dan jalan kami.  Orang yang ingin menjadi murid kami harus bekerja di dergah, khaniqah, zawiya, lalu setelah ia bekerja, kami akan melihat sejarahnya dan barulah kami memutuskannya,” mengisyaratkan kepada Iblis.  Iblis tidak pernah mengetahui bahwa Syah Naqsyband (q) mengetahui realitasnya, sehingga ia berpikir, “Seperti semua orang yang kutipu, aku akan menipunya dan menjadi muridnya.”  Sekarang Syah Naqsyband tahu bahwa Iblis tidak akan pernah mau bertobat, sekali seseorang dikutuk, ia tidak akan mau bertobat, tetapi beliau ingin mengikis kesombongannya.  Iblis berkata Syah Naqsyband (q), “Jadi apakah hal terbaik yang dapat kulakukan agar aku dapat menjadi muridmu?” 

Beliau berkata, “Kau tahu murid kami, ketika mereka baru datang kepada kami, kami mengirim mereka untuk membersihkan kamar mandi untuk mengajari mereka tentang ketawadukan.”  Jadi, kau harus pergi ke kota, bukan seperti sekarang, kita bahkan mempunyai kamar mandi di rumah.  Ada banyak kamar mandi di sana, bukan yang dapat dibongkar pasang, tetapi kamar mandi yang memang dibangun di sana.  “Kau harus membersihkannya, ini adalah tugasmu setiap hari, selama 7 tahun.”  Dan pada saat itu kalian harus membersihkannya, termasuk batu-batu yang ada di sana, tidak ada kertas toilet pada saat itu.  Sampai sekarang jika kalian mengunjungi Uzbekistan mereka masih menyimpan batu di kamar mandi.  Kalian menggunakan tiga ember dan menggunakan batu-batu itu lalu meletakkannya di ember yang kotor dan kemudian membuangnya.  Tetapi beliau berkata, “Jangan buang batu-batu itu, kau harus membersihkannya dan menyimpannya kembali, setelah itu barulah kau menjadi murid kami dan kami akan memberimu otoritas.”  Dan ia berkata, “Otoritas?”  Syah Naqsyband (q) bertanya, “Apakah kau terima?”  “Ya, aku terima.”  Jadi Iblis melakukan pekerjaan itu selama 7 tahun.  Beliau membuatnya melakukan hal itu selama 7 tahun. 

(Siprus sudah siap sekarang?)

Jadi beliau mengatakan hal itu dan Iblis lalu pergi dan bekerja sangat keras untuk memperlihatkan kepada murid-murid bahwa ia adalah seorang pekerja keras, padahal Sayyidina Syah Naqsyband (q) mendorongnya keluar dari halaqah zikir.  Jadi ia datang pada sore hari dalam keadaan lelah karena ia mengambil bentuk sebagai manusia.  Tujuannya adalah untuk menipu Sayyidina Syah Naqsyband (q).  Jadi ia adalah seorang pekerja keras, ia melakukan pekerjaannya dengan sempurna, ia tidak suka melakukan suatu kesalahan, ia menarik perhatian manusia dengan kesempurnaan.  Apakah kita melakukan `ibadah kita dengan kesempurnaan?   Ia mendedikasikan hal itu untuk menciptakan kebingungan.  Jadi ia bekerja sangat keras selama 7 tahun dan setelah itu ia datang kepada Sayyidina Syah Naqsyband (q), berkata, “Aku sudah siap.”  Syah Naqsyband (q) berkata, “Aku telah melihat dedikasimu.  Aku senang melihatnya dan aku pikir kau bisa menjadi salah satu pengikutku tetapi aku berpikir bahwa engkau mempunyai begitu banyak dosa, dan sekarang sejak engkau melakukan pekerjaan itu, kau menjadi sangat dekat denganku, aku sangat gembira dengan apa yang telah kau lakukan dan yang telah kau capai.”  Jadi sekarang kita akan melihat apa yang telah kau capai dan pada saat itu Sayyidina Syah Naqsyband (q) sedang mengadakan Mawlid Nabi (s) dan Iblis mendatanginya dan Syah Naqsyband (q) mengatakan kepadanya bahwa ia mempunyai begitu banyak dosa, tetapi ia telah mencapai apa yang beliau inginkan, kemudian beliau berkata, “Aku percaya bahwa engkau adalah makhluk yang terburuk.”  Setelah membuatnya berkhidmah selama 7 tahun.  “Aku melihat bahwa engkau tidak pantas kecuali untuk membersihkan kamar mandi dan itulah sebabnya aku memberikan tugas itu, sekarang kuberitahu wahai yang terkutuk, wahai yang telah Allah kutuk.  (Kau) tidak akan bisa melawan `ibaadullah karena Rahmat Allah bersama mereka.  Apapun yang mereka tinggalkan di kamar mandi ini, mulai sekarang ini akan menjadi makananmu.”

Jadi dalam makna spiritual itu artinya, “Semua dosa manusia akan dilimpahkan kepadamu, semua dosa kotor mereka.  Aku akan meletakannya di atasmu melalui cucuku yang akan muncul di masa depan, ia akan menjadikanmu sebagai binatang raksasa dan menarikmu dengan tali kekang dan melimpahkan semua dosa para pengikut Naqsybandi kepadamu dan kemudian dosa-dosa manusia-manusia lainnya.  Jadi, pergilah sekarang dari sisiku wahai yang terkutuk!” 

Jadi para awliyaullah melakukan hal-hal yang tidak dimengerti oleh manusia.  Dan beliau melakukan hal itu untuk memberi tanda kepadanya bahwa ia akan dilemparkan dengan semua dosa manusia sejak lahir hingga akhir hayatnya.  Dan itulah Sayyidina Syekh Syarafuddin (q) yang akan muncul di masa depan yang akan menarik tali kekang pada Iblis dan melimpahkan seluruh kotoran murid Naqsybandi dan semua kotoran manusia padanya.  Beliau berkata, “Wahai yang terkutuk, kau pantas menjadi yang terjauh dari Hadirat Allah dan Sayyidina Muhammad (s) adalah yang terdekat dengan Allah (swt), jangan pernah mencoba untuk datang ke sini lagi dan jika kau melakukannya, kau akan melihat hal-hal yang tidak akan kau sukai.”  Kemudian Iblis lari dari hadirat Sayyidina Syah Naqsyband (q). 

Ada lebih banyak lagi, tetapi kita tinggalkan itu sekarang, bi hurmati ‘l-Fatiha.  Itu adalah kisah Sayyidina Syah Naqsyband (q) yang berurusan dengan Iblis pada suatu waktu. 

Ada banyak kisah lainnya dan kami akan menceritakannya satu per satu, insya’Allah dan semoga Allah (swt) mendukung kita dan mendukung kalian,  bi hurmati ‘l-Fatiha. Kalian telah mendengar kisah itu sebelumnya. Awliyaullah mempunyai kisah-kisah, bukan kisah biasa, tetapi kisah nyata dan itulah sebabnya kita mendengar Mawlana Syekh selalu mengatakan, “Aku adalah orang yang meletakkan kekufuran di bawah kakiku.”  Kisah tadi akan memberi kalian sebuah tanda apa artinya, jadi jika kalian meletakkan simbol kekufuran di bawah kaki kalian maka kekufuran itu berada di bawah kakinya. Jadi Iblis selalu berada di bawah kaki Mawlana.  Iblis selalu berada di bawah Mawlana.  Ketika ia mencoba untuk mengangkat kepalanya, beliau mendorongnya kembali, seperti seseorang yang duduk di toilet dan Iblis membuka mulutnya.  Itulah makanan dan minumannya.  Bagaimana?  Dengan kekuatan dari wali, itu membuatnya tetap berada di bawah. Jadi itulah yang Mawlana Syekh maksud dengan “kekufuran di bawah kakiku.” … bagaimana?  Karena orang yang mempunyai simbol kekufuran berarti ia adalah murtad.  Ia beriman, tetapi kemudian tidak beriman.  Bahkan untuk membuat sakit hati seseorang, Nabi (s) bersabda, “Jangan lakukan hal itu.” 

Bagaimana dengan seseorang yang menjadi murtad?  Di Surga Iblis masih tetap percaya kepada Allah (swt), tetapi di sini ia tidak percaya, ia menjadi murtad, ia tidak percaya terhadap apapun. 

Semoga Allah (swt) memanjangkan umur Mawlana dan kita semua untuk bertemu Mahdi (as). Wa min Allah at-tawfiiq bi hurmati ‘l-Fatiha.

 

http://www.sufilive.com/rnd.cfm?m=1846

© copyright 2014 Sufilive.com

hak cipta dilindungi oleh Undang Undang