Rahmat Allah bagi Umat Muhammad (saw) di Bulan Ramadhan

WhatsApp Image 2020-04-23 at 4.55.38 PM

Khotbah Jumat Dr. Nour Kabbani

Fenton, Michigan; Sabtu, 17 April 2020

 

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Syahru ramadhānalladzī unzila fīhi ‘l-qur`ānu hudal lin-nāsi wa bayyinātim mina ‘l-hudā wa ‘l-furqān, fa man syahida mingkumu ‘sy-syahra falyashum-h, wa mang kāna marīdhan au `alā safarin fa `iddatum min ayyāmin ukhar, yurīdullāhu bikumu ‘l-yusra wa lā yurīdu bikumu ‘l-`usra wa litukmilu ‘l-`iddata wa litukabbirullāha `alā mā hadākum wa la`allakum tasykurụn (Surat al-Baqarah, 2:185)

Assalamu`alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh, 

Wahai Mukmin, wahai orang-orang yang beriman!  MubarakInsya Allah bulan suci Ramadhan akan datang pada hari Kamis atau Jumat depan, insya Allah.  Kita akan memulainya dengan ibadah di bulan suci Ramadhan, yakni Tarawih dan shiyam.  Semoga Allah (swt) memberi kekuatan bagi umat untuk memikul beban di bulan ini.  

Syahru Ramadhan.  Bulan ini adalah bulan yang sulit.  Bulan ini adalah bulannya hidayah.  Saya membaca di Surat al-Baqarah ayat 185, Allah (swt) menjelaskan tentang bulan Ramadhan.  Dia mengatakan, alladzī unzila fīhil-qur`ānu hudal lin-nāsi, di bulan ini diturunkan petunjuk ke Hadirat Ilahiah-Nya.  Al-Qur’anul Kariim adalah huda, petunjuk bagi manusia, petunjuk bagi makhluk kepada Penciptanya.  Jalan bagi makhluk mencapai Penciptanya adalah melalui Al-Qur’an suci, tidak ada jalan lain.  Al-Qur’an menegaskan apa yang telah dibawa oleh risalah sebelumnya dan ia dilengkapi dengan jalan yang paling mudah dan paling cepat.  

Jadi di bulan ini, bulan Ramadhan, dan itulah sebabnya ia disebut Ramadhan, ia berasal dari kata RamdhaRamdha artinya ketika terik matahari membakar bumi.  Itu artinya wahai manusia, kalian akan berada di bawah panas yang terik.  Di bulan Ramadhan, terik matahari, artinya terik dari nuur.  Kalian akan berada di bawah nuur dan naar di bulan Ramadhan.  Kalian akan berada di bawah panas dari nuur, Nuur IlaahiNuur Ilaahi tersebut adalah jalan turunnya al-Qur’an, itulah sebabnya ia disebut Ramadhan, ia membakar, dan kalian akan terbakar.

Para Awliyaullah mengatakan bahwa nafs atau ego terbakar dengan cahaya, dengan nuuril haqq di bulan Ramadhan.  Itulah yang terjadi pada ego.  Cahaya Ilahiah bersinar padanya melalui petunjuk dari al-Qur’an suci.  Petunjuk itu sampai ke bumi, sampai pada kalian, ardhu ‘n-nafs, ego.  Ini adalah makna spiritual, makna rohaniah.  Tentu saja ada makna secara fisik.  Kita percaya padanya, az-zhahir, makna secara fisik, tetapi juga ada makna batiniah.  Dan ini adalah salah satu makna yang dikatakan oleh Awliyaullah.  Allah (swt) membimbing ego melalui cahaya Qur’an ke Hadirat Ilahiah-Nya.  

Barang siapa yang menyaksikan–itu artinya ada sesuatu yang harus disaksikan di bulan Ramadhan, dan itu adalah Maqamul Wahdah, syuhuudi maqaamil wahdah.  Di bulan Ramadhan, ketika ego kalian terbakar dengan nuuril haqq, dan ia dibimbing oleh cahaya al-Qur’an suci, dan sang Imam, Rasulullah (saw), ego itu akan menyaksikan sesuatu, ia akan terbakar lalu lenyap, itu adalah Maqamil Wahdah, artinya hanya Allah (swt) yang harus disaksikan, itulah sebabnya kita katakan, “Laa ilaaha illaAllaah, laa mawjuuda illa Allaah, laa ma`buda illa Allaah,” itu adalah Maqaamu ‘t-Tawhiid. Jadi lakukanlah yang terbaik di bulan Ramadhan, untuk mengikuti apa yang dibawa oleh Syari`ah, yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw); dan secara rohaniah Syekh kalian akan membimbing kalian kepada nuurul haqq ke Hadirat Ilahiah-Nya.      

fa man syahida mingkumu ‘sy-syahra falyashum-h, orang yang dapat menjadi saksi, dapat melihat, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, artinya kalian berpuasa dari perkataan yang bukan haqq, dari segala perbuatan yang bukan haqq, sehingga tidak ada lagi kebatilan, segala sesuatunya adalah haqq, dan ini adalah jalan yang tersembunyi, jalan batin, yang juga harus ditempuh oleh seorang Muslim; bukan hanya yang zhahir saja kalian berpuasa dan shalat, tidak!  Tetapi ada juga jalan batin.  Insya Allah kita akan mencapainya, nuurul haqq, nuur Allah (swt).

Rasulullah (saw) bersabda bahwa Allah (swt) akan mengampuni dosa-dosa kalian, jika kalian menghindari dosa-dosa besar, Dia akan mengampuni dosa-dosa kalian dari Jumat ke Jumat berikutnya.  Alhamdulillah, dari Jumat ke Jumat berikutnya dosa-dosa kita diampuni bila kalian mendirikan shalat dan menjauhi dosa-dosa besar; juga dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya dan di antara kelima waktu shalat.  Ini adalah jalan-jalan bagi Rahmat Allah dan Ampunan-Nya untuk sampai kepada kita.  Jadi jagalah shalat lima waktu kalian, jagalah Ramadhan kalian, dan jagalah Jumat kalian.  

Dan saya akan membacakan sebuah Hadits dari Jabir (ra).  Rasulullah (saw) bersabda, “Allah (swt) telah mengaruniai umatku, yaitu kita, ummatu Muhammad (saw), suatu kehormatan untuk menjadi seorang pengikut Rasulullah, khatami ‘n-Nabiyyiin (saw), tidak ada kehormatan lain yang melebihinya.  Itu adalah kehormatan terbesar.  Mengapa kalian masih mencari yang lain?   

Ketika risalah yang sempurna telah datang, mengapa kalian masih mencari risalah yang lain?  Ketika Nabi yang sempurna telah datang, dan Rasul terakhir telah datang, mengapa kalian masih mencari yang lain?  Mengapa kalian masih mencari orang yang lain, mencari filsuf yang lain dan orang-orang palsu lainnya?  Ketika seseorang yang sempurna telah datang dan ketika risalah yang sempurna telah datang dan ketika kitab yang sempurna telah datang, maka mencari ketidaksempurnaan adalah sesuatu yang tidak masuk akal.  Oleh sebab itu, maka tinggallah. Tinggallah sebagai pengikut Rasulullah (saw). 

Beliau (saw) bersabda, “Para pengikutku telah diberikan lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada umat terdahulu.  Hal pertama yang diterima oleh umatku tetapi tidak pernah diberikan kepada umat lainnya adalah malam pertama dari Syahru Ramadhan, ketika nuurul haqq mulai terwujud pada diri kalian, pada hati kalian, pada ego kalian, pada sisi lahir dan batin kalian, di bulan yang terik tersebut.  

Allah (swt) akan memandang diri kalian, dan siapa pun yang telah dipandang oleh Allah (swt), ia tidak akan pernah dihukum.  Jadi malam pertama dari Syahru Ramadhan adalah penting.  Berusahalah agar kalian mendapatkannya dengan benar, dengan sebaik-baiknya.  Kita bukanlah seorang astronom, kita tidak mempunyai teleskop. Kita hanya mengikuti saja, ketika mereka mengatakan bahwa bulan telah terlihat, maka kita mulai berpuasa.  Kita adalah orang yang lemah.  

Hal kedua yang dikaruniakan kepada umatku adalah bahwa napas mereka di penghujung hari lebih manis daripada wanginya kesturi.  Karena dengan mulut itu, kalian tidak berbohong sepanjang hari; dengan mulut itu, kalian tidak berbuat curang sepanjang hari; dengan mulut itu kalian tidak melakukan gosip sepanjang hari.  Mulut itu, lisan itu dalam keadaan suci sepanjang hari, sehingga tentu saja ia akan lebih manis daripada wangi kesturi. 

Bila kita tidak berpuasa, kita sudah membuat gosip sejak pagi hingga sore hari, sehingga bau itu muncul.  Malaikat mencium bau busuk dari gosip tersebut.  Jadi ketika kita berpuasa, kita tidak melihat apa-apa kecuali yang haqq.  Wangi dari amal baik lisan kalian lebih manis daripada wangi kesturi di Hadirat Ilahi. 

Hal ketiga adalah bahwa para malaikat akan memintakan ampun bagi kalian setiap hari, siang dan malam di bulan Ramadhan.  Inilah yang dikaruniakan kepada para pengikut Rasulullah (saw).  Jangan tinggalkan risalah beliau, kalian tidak akan mendapatkan karunia ini.  Kalian hanya akan mendapat kerikil.  Allah (swt) mengirimkan permata kepada Rasulullah (saw).  Jangan menjadi orang-orang yang bodoh dengan mengumpulkan kerikil-kerikil tersebut. 

Jadi, pertama Allah (swt) akan memandang kalian pada malam pertama di bulan Ramadhan, yang kedua, amal dari mulut dan lisan kalian akan menjadi lebih manis daripada wangi kesturi, dan Allah berfirman bahwa di Surga kalian akan diberi minuman di mana yang menjadi segelnya adalah kesturi.  Itu artinya amal kalian, lisan kalian akan lebih manis daripada minuman tersebut.  Jadi yang kedua, amal dari mulut dan lisan kalian lebih manis daripada wangi yang dimiliki Surga.  Ketiga, malaikat akan diminta untuk memohonkan ampunan bagi kalian, wahai manusia, siang dan malam.  

Hal keempat, Allah (swt) memerintahkan Surga untuk mempersiapkan diri mereka, menghiasi diri mereka untuk hamba-hamba-Nya.  “Mereka akan segera mendapat kebebasan dari kesulitan mereka di dunia dan masuk ke rumah-Ku, ke Daar-Ku.”  Jadi jangan takut!  “Oh mungkin aku akan mati hari ini, mungkin aku akan mati besok atau lusa.”  Mintalah kepada Allah (swt) agar memanjangkan umur kalian untuk mencapai Ramadhan.  Itulah sebabnya Rasulullah (saw) selalu mengingatkan kita, “Allaahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya`bana wa ballighnaa Ramadhan,” “Sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan yaa Rabbii, sehingga Engkau dapat memandang kami, sehingga para Malaikat dapat membacakan istighfar untuk kami, sehingga Surga dapat menghiasi diri mereka untuk kami, dan agar amal kami lebih manis daripada apa pun di Surga.  

Dan yang kelima, pada malam terakhir di bulan Ramadhan–itu artinya kalian telah berpuasa sepanjang bulan–jangan lewatkan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang, mereka melewatkan di sini, mereka melewatkan di sana, tidak!  Jika kalian mampu, maka berpuasalah.  Ketika malam terakhir tiba, Allah (swt) akan menyirami mereka dengan Rahmat-Nya, Ampunan-Nya dan Cinta-Nya.  Sebagian orang mengatakan, “Yaa Rasulallah, engkau menyebutkan malam terakhir, apakah hal itu berarti Laylatul Qadar?”  Rasulullah (saw) menjawab, “Tidak, tetapi pekerjaan itu akan dibayarkan pada akhir bulan.”  Jadi pada malam terakhir bulan Ramadhan, Allah (swt) akan mengampuni semua dosa.  

Jadi, ini adalah hal-hal yang zhahir, sedangkan sisi batinnya adalah ketika kalian meraih fana.  Ketika diri kalian lenyap, hanya haqq yang muncul, itu adalah fana.  Ketika orang melihat kalian, mereka hanya melihat nuurul haqq pada diri kalian. Nuun, huruf pertama dari an-Nuur.  Rasulullah (saw) adalah Nuur.  Ketika orang-orang melihat kalian, mereka akan melihat nuurul haqq, tidak ada lagi diri kalian.  Yang ada hanyalah nuurul haqq, dan itulah yang kita cari melaui bimbingan para Awliyaullah, bimbingan Grandsyekh kita dan bimbingan Rasulullah (saw).  Kita berusaha untuk mencari hal tersebut, di mana ketika orang melihat diri kalian, mereka melihat nuurul haqq.  Dan itulah yang lihat pada diri Mursyid kita. 

Semoga Allah (swt) menjaga kita untuk senantiasa berada di jalur mereka.  Semoga Allah (swt) membuat kita sampai ke bulan Ramadhan, insya Allah kita dapat meraih kehormatan dari Allah (swt), kita semua insya Allah.  Semoga Allah (swt) memberi kalian umur panjang, memberi kita semua umur panjang.  Jika kita sakit, semoga Allah (swt) menyingkirkan penyakit itu, menghilangkan kesulitan itu, dan menjadikan ummatu Muhammad, umat yang diberkahi, umat yang diampuni, umat yang mendapat kehormatan mengikuti Nabi mereka, Rasulullah (saw).

(doa)

 

     

Rahmat Allah Tak Terhingga

89591512_871362696659943_7271272168413757548_n

Dr. Nour Kabbani
Fenton, Michigan, Sabtu, 11 April 2020

A`uudzubillaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
A`uudzubillaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Alhamdulillaahirabbi ‘l-`aalamiin
Wa ‘sh-shalaatu wa ‘s-salaamu `alaa Sayyidinaa Muhammad wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin 
wa man tabi`ahum bi ihsan ila yaumiddin
Wa `ala saa’iri ‘l-Anbiyaa’i wa ‘l-Mursaliin wa ‘l-Awliyaa’ wa `ibaadilaahi ‘sh-shaalihiin wa `alayna ma’ahum ajma`iin yaa Arhama ‘r-raahimiin,  wa laa hawlaa wa laa quwwata illa bilaahi ‘l-`Aliyyi ‘l-`Azhiim

Destur yaa Sayyidi wa Mawlay, yaa Sayyidi Syaykh Naazhim, nadharak yaa Sayyidi, madadak yaa Sayyidi, himmatak yaa Sayyidi ‘l-kariim, 
 
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim,
Assalamu`alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh, 

Selamat datang kembali, selamat datang kembali.  Semoga Allah (swt) senantiasa membuat kita bahagia, menjaga agar kita senatiasa kuat, semoga Allah (swt) selalu mengampuni kita, memaafkan kita, dan menyirami kita dengan rahmat dan berkah-Nya, dan melindungi kita, khususnya di masa-masa yang sulit ini, di mana Allah (swt) akan melindungi siapa pun yang dikehendaki-Nya.  Alhamdulillah, alhamdulillah kita masih dapat menyebut Nama-Nama Suci-Nya, kita masih mampu melakukan shalat, dan insya Allah kita akan berpuasa di bulan Ramadhan yang akan datang. 

(suara terputus…)

Saya merasa malu untuk berbicara… (suara terputus).  Allah (swt) mempunyai begitu banyak hamba, hamba-hamba yang kuat, tetapi kami ditempatkan di posisi untuk menyampaikan sesuatu kepada sesama manusia.  Saya hanyalah manusia biasa seperti orang lain, dengan dua mata, dengan lidah, dengan pikiran, dengan tubuh, dan saya juga membaca. Itu saja, tidak lebih.  Saya tidak berpura-pura untuk menjadi seorang ulama atau Awliya, atau ini itu, tidak! Saya adalah hamba yang paling lemah, semoga Allah (swt) mengampuni saya.  

Sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, saya diminta untuk memberikan shuhba dan melaksanakan dzikir, dan inilah yang kita lakukan pada hari ini, mengikuti perintah syuyukh kita.  Insya Allah saya berniat untuk membacakan dari ajaran Awliyaullah, dan kemudian kita akan melakukan Khatm Khwajagan dan insyaAllah, Allah akan mengampuni kita, dan menolong kita dari apa yang akan kita lalui.  Semoga Allah (swt) memanjangkan umur setiap orang yang bekerja bagi kebaikan umat. Semoga Allah (swt) memberi kekuatan dan kesehatan yang baik bagi mereka semua, insyaAllah.

Mawlana Syekh Nazim (q), Grandsyekh kita dalam tarekat—tarekat kita, mata air kita adalah Naqsybandiyya, kita minum dari sungai tersebut.  Mawlana Syekh Nazim (q), guru kita, beliau mengatakan bahwa Rahmatullaahi waasi`a, Rahmat Allah (swt) itu luas, Rahmat Allah (swt) dapat menampung segala sesuatu yang berada di dalamnya.  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur`an,

Wa rahmatii wasi`at kulla syay’in,    

Dan Rahmat-Ku mencakup segala sesuatu. (QS al-A`raf, 7:156)

Segala sesuatu dikelilingi oleh Rahmat Allah (swt).  Tidak ada satu pun di antara ciptaan-Nya yang berada di luar Rahmat Allah (swt).  Setiap orang berada dalam Rahmat Tuhan Surgawi. Rahmat-Nya mencakup segala sesuatu yang berada di dunia, Rahmat-Nya mencakup segala sesuatu yang ada di Akhirat, Rahmat-Nya mencakup segala sesuatu sebelum masa azali, dan segala sesuatu setelah masa azali.  Dengan Rahmat Allah (swt) tersebut segala sesuatu menjadi muncul, segala sesuatu diciptakan dan segala sesuatu dapat ditemukan; dan bagian dari Rahmat tersebut adalah iman.  

Grandsyekh mengatakan, Mawlana Syekh Nazim (q) mengatakan bahwa iman adalah hibah, itu adalah pemberian dari Allah (swt).  Itu juga berasal dari Rahmat-Nya. Dan beliau mengatakan, “Sejak kapan kalian memiliki iman wahai manusia? Sejak kapan kalian menjadi seorang Mukmin, sejak kapan kalian menjadi seorang Muslim?”  Jika seseorang bertanya, “Sejak kapan engkau menjadi seorang Mukmin?” “Sejak kapan engkau menjadi seorang Muslim?” Grandsyekh mengatakan, “Kalian harus mengatakan sejak sebelum kalian datang ke dunia ini.”  Ada suatu hari di mana kita semua hadir pada hari tersebut dan Grandsyekh mengatakan dan kalian mengatakan, “Aku adalah orang yang percaya pada Tuhan Surgawi,” sejak saat itu. Hari alastu birabbikum, hari di mana Allah (swt) telah mengumpulkan kita dan Dia berkata, “Bukankah Aku ini adalah Tuhanmu?”  Dan kita semua mengatakan, “Ya!”  

Jadi dari Rahmat-Nya, Dia telah memberi kita iman sejak hari itu.  Dan apa yang sudah diberikan oleh Allah (swt) tidak akan ditariknya kembali.  Allah (swt) adalah al-Wahhab, Yang Maha Pemberi dan tidak mengharapkan kembali.  Allah (swt) memberikan hibah dan Dia tidak mengharapkan hibah itu kembali. Dan iman itu diberikan kepada seluruh bani Adam (as).  Siapa pun yang hadir pada hari itu, Hari Perjanjian, yakni di alam rohaniah sebelum kita muncul ke dunia ini, ke alam yang lebih rendah ini, di alam yang lebih tinggi kita memberikan pernyataan, “Engkau adalah Tuhan kami, Sang Pencipta, dan kami adalah hamba-Mu.”  

Grandsyekh mengatakan bahwa sebagian di antara kita telah diizinkan untuk menunjukkan iman mereka di alam yang lebih rendah ini (dunia), dan sebagian lagi tidak diizinkan untuk menunjukkan iman mereka di alam yang lebih rendah ini, tetapi kita semua di alam yang lebih tinggi, di alam rohaniah, kita semua telah memberikan ikrar bahwa Dia adalah Tuhan kita dan Pencipta kita.

Wahai manusia, dengan Rahmat-Nya, Allah (swt) menciptakan bani Adam (as); dengan Rahmat-Nya Dia mengangkat mereka; dengan Rahmat-Nya Dia membuat rohaniah kalian berkembang; dengan Rahmat-Nya Dia membuat fisik kalian, kecerdasan kalian dan keuangan kalian berkembang; dan dengan Rahmat-Nya Dia telah mencurahkan berbagai kenikmatan kepada kalian; karena kalian adalah makhluk yang sangat istimewa bagi Tuhan Surgawi.  

Oleh sebab itu, `inda ahlil haqiqah, Mawlana Syekh Nazim (q), Grandsyekh, guru kita mengatakan bahwa para Ahli haqiqat, para ahli kebenaran, orang-orang yang menyaksikan kebenaran, mereka semua telah melewati semua hijab ini, dan mereka dihadapkan pada kebenaran.  Mereka melihat bahwa seluruh bani Adam (as), pada akhirnya akan berada di Surga.

Jadi apakah seseorang itu menunjukkan imannya di dunia ini, atau orang yang tidak menunjukkan iman mereka di dunia ini, pada akhirnya Allah (swt) akan membawa mereka ke dalam Rahmat-Nya.  Dan Grandsyekh mengatakan bahwa pada akhirnya seluruh bani Adam (as) akan masuk Surga dengan Rahmat Allah. Dan ini adalah sebuah kabar gembira yang besar bagi kita. Allah (swt) Maha Pemaaf.

Grandsyekh mengatakan bahwa jika seseorang senantiasa membutuhkan Rahmat Allah, tetapi Dia tidak bisa memberikan Rahmat-Nya kepadanya, bagaimana mungkin Dia menjadi Rahiim?  Bagaimana mungkin Dia menjadi Rahmaan?  Bagaimana mungkin Dia menjadi Arhama ‘r-Raahimiin?  Jika seseorang membutuhkan Rahmat Allah tetapi Allah tidak dapat memberikannya kepada mereka, maka Dia bukanlah Rahmaan dan RahiimRahmaan artinya Maha Pemberi Rahmat bagi semua.  Lihatlah di dunia ini, Allah telah memberi Rahmat-Nya kepada semua orang, baik orang-orang yang beriman maupun orang-orang yang tidak menunjukkan keimanannya.  Dia telah memberi mereka makanan, tempat tinggal, kenyamanan, kemudahan kepada seluruh manusia di Bumi, apakah mereka percaya kepada Allah (swt) atau tidak! Ini adalah Rahmaan, Rahmat-Nya adalah ammah, berlaku umum kepada setiap orang.  Jadi jika ada seseorang yang memerlukan rahmat, Nama-Nya adalah Rahmaan, jadi Dia pasti memberikannya; Nama-Nya adalah Rahiim, jadi Dia pasti memberikannya.  Allah (swt) Maha Penyayang untuk semuanya dan pada akhirnya setiap orang akan masuk Surga.  

Kita mengambil pernyataan ini dari Grandsyekh, dan kita senang mendengarnya.  Kita pun senang karena ini berlaku untuk sesama manusia. Kita senang bahwa setiap orang akan berakhir dalam Rahmat Allah (swt).  Kita tidak menginginkan penderitaan bagi siapa pun, kita tidak menginginkan penderitaan bagi sesama manusia. Kita menginginkan kebaikan bagi semua.  Allah (swt) berfirman, wa rahmatii kulla syay’in, Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.  Syay’in artinya sesuatu, apakah kalian bagian dari sesuatu?  Apakah kalian sesuatu? Ya! Segala sesuatu di antara ciptaan adalah syay’in, dan Rahmat Allah (swt) mencakup segala sesuatu.  Oleh sebab itu Grandsyekh mengatakan bahwa kalian harus mempunyai tuma’ninah, ketenangan dalam hati, Allah (swt) akan mengatur segalanya.  Allah (swt) adalah ar-Rahmaanu ‘r-Rahiim, al-Kariim, al-Afuww, Akramul Akramiin, Arhaamu ‘r-Raahimiin.  Rahmat-Nya adalah karam, untuk kalian, wahai manusia. Dan Allah (swt) akan memberikannya.  Semoga Allah (swt) menjadikan kita termasuk orang-orang yang mempunyai kebaikan di dalam hatinya kepada orang lain, kepada orang lain.

Ketika seseorang memiliki kebaikan di dalam hatinya, mempunyai perasaan baik dan mencintai sesama manusia, itu adalah tandanya iman.  Ketika hati kalian terbuka, maka ia dapat mengambil sesuatu dan ia dapat menerima lebih banyak orang ke dalamnya. itu artinya iman kalian besar.  Sebaliknya, jika dada kalian tertutup, jika hati kalian sempit, maka yang terjadi adalah, “Orang ini tidak boleh masuk, yang ini ditolak, yang ini harus keluar, yang ini begini, yang itu begitu.”  Itu juga mencerminkan iman kalian. Jika iman kalian besar, setiap orang bisa masuk, jika iman kalian lemah, maka banyak orang yang tidak bisa masuk. Berhati-hatilah! Ini adalah perkataan Mawlana Syekh Nazim (q).  Setiap kali iman masuk ke dalam hati, maka ia dapat menampung lebih banyak orang. Jadi berhati-hatilah! Hati kalian harus bisa menampung lebih banyak orang!  

Para Imam, orang-orang yang religius, rabbi, pendeta, manusia secara umum, hati kalian harus bisa menampung lebih banyak orang.  Itu adalah tandanya iman. Itu adalah tanda kebaikan. Itu adalah tanda rahmat. Jika hati kalian menjauhkan orang-orang, jika kalian menolak orang-orang, jika kalian menyakiti orang-orang, maka itu adalah sebuah pertanda buruk.  Ketika iman masuk ke dalam hati, ia akan mampu menampung lebih banyak orang. Oleh sebab itu, kalian melihat pada Awliyaullah–bukan yang lain, ada begitu banyak orang yang berada pada posisi yang tinggi, baik di bidang keagamaan maupun tidak, tetapi mereka menolak begitu banyak kelompok orang, begitu banyak ras, begitu banyak keyakinan yang berbeda.  

Seorang Waliyullah, yang berada pada maqam rohaniah yang tinggi, kalian akan mendapati mereka mempunyai dada yang lapang, hati yang luas, artinya mereka dapat menampung semua orang.  Wa ‘r-rahma, kalian akan mendapatkan rahmat dalam hatinya untuk semua orang, apakah mereka Mukmin, fasik, kafir, munafik, mufsid, atau musyrik, kalian akan mendapati rahmat di dalam hati Awliyaullah bagi mereka semua.  Dadanya terbuka bagi mereka semua. Mereka bahkan akan berdoa, “Yaa Rabbii, aku akan memikul beban mereka.” “Aku akan memikul penderitaan orang lain, tetapi lepaskanlah mereka dari beban mereka, lepaskan penderitaan mereka.  Jadikanlah mereka bahagia.” Para Awliyaullah dan Anbiyaullah dan Rasulullah (saw), mereka semua memohon kepada Allah (swt) untuk mengampuni dan memaafkan setiap orang. Itu adalah syafaat mereka. Awliyaullah, mereka mengatakan, “Yaa Rabbii, kami akan memikul apa yang telah Engkau tuliskan bagi mereka.”  Dan apa yang Allah (swt) putuskan, itu terserah pada-Nya. Kita tidak dapat mengatakan, “Ya atau tidak! Allah tidak dapat melakukan hal itu.” Allah (sw) melakukan apa yang Dia kehendaki dan memerintah sesuai keinginan-Nya. Ada sebuah pembukaan di sana.  

Awliyaullah, mereka melihat pada manusia, Muslim, Kristen, Yahudi, Buddha, Sikh, Hindu, atheis, semuanya.  Para Wali, para kekasih Allah, mereka memandang seluruh manusia dengan cinta, dengan rahmat, dengan kebaikan dan dada yang lapang, untuk membawa mereka semua ke dalamnya.  Dan mereka berdoa, “Yaa Rabbii, aku akan memikul penderitaan mereka. Berikanlah kenyamanan pada mereka.” Mereka mengatakan, “Bagi seluruh hamba-Mu.” Mereka tidak mengatakan “kuffar”.  Allah (swt) mengajarkan adab di dalam al-Qur’an suci. Di dalam Surat al-Ma`idah, apa yang dikatakan oleh Sayyidina `Isa (as)?  

Allah (swt) berfirman melalui lisan Sayyidina `Isa (as),
In tu `adzdzibhum fa’innahum `ibaaduk (QS al-Ma`idah, 5:118)


Kita menjadikan Sayyidina `Isa (as) sebagai contoh bagi kita, beliau adalah seorang Waliyullah, beliau adalah seorang Nabiyullah, beliau adalah seorang Rasulullaah, beliau adalah seorang yang istimewa bagi Allah (swt).  Beliau mengatakan, “Yaa Rabbii, in tu `adzdzibhum fa’innahum `ibaaduk, jika Engkau menghukum mereka, jika Engkau memberi kesulitan pada mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu.”  Beliau mengatakan, “innahum `ibaaduk,” artinya mereka semua: Mukmin dan non Mukmin, orang-orang yang telah percaya kepada Sayyidina `Isa (as) di masanya dan orang-orang yang tidak percaya kepadanya di masanya.   

Kemudian, 

Wa in taghfir lahum fa’innaka anta ‘l-`Aziizu ‘l-Hakiim 

Dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana

Beliau menyebut mereka sebagai hamba, dan beliau mengatakan, “Yaa Rabbii, jika Engkau menghukum mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, lakukanlah apa yang ingin Engkau lakukan dalam Kerajaan-Mu dengan ciptaan-Mu, tetapi bila Engkau mengampuni mereka, Engkau mampu melakukannya, Engkau Mahaperkasa dan Engkau Mahabijaksana.”  Ini adalah karakeristik dari Awliyaullah, karakteristik dari Anbiyaullah.

Jika kalian ingin mengetahui seorang Waliyullah, lihatlah pada seseorang yang menerima semua orang, lihatlah pada seseorang yang mencintai semua orang, lihatlah pada seseorang yang menyayangi semua orang.  Jika kalian ingin mengikuti seorang yang baik, maka orang yang baik itu haruslah orang yang tidak menolak orang ini, orang yang tidak mengusir orang itu, orang yang tidak menghindari orang ini, tidak menghina orang ini, tidak menyakiti orang itu, tidak mengatakan hal-hal yang buruk tentang orang itu, tidak!  Waliyullah adalah seseorang yang mempunyai dada yang lapang, sebagaimana yang dikatakan oleh Mawlana Shaykh Nazim (q). Waliyullah menerima semua orang, ia mencintai semua orang, ia menyayangi semua orang, dan inilah jalan kita, tarekat kita, jalan kita Tarekat Naqsybandiyya mengajarkan hal itu kepada kita, yakni bahwa kalian harus berada di jejaknya Awliyaullah, kalian harus berada di jejaknya Rasulullah (saw).  Lalu apa jejak beliau (saw)? Beliau adalah Rahmatan lil `aalamiin, beliau adalah rahmat bagi semua orang.     

Jika kalian mengaku sebagai Waliyullah atau mengaku sebagai orang yang baik, tetapi kalian tidak mempunyai rasa sayang terhadap semua orang, berarti ada suatu PR yang harus dilakukan.  Kita harus berbuat lebih banyak, kita harus lebih maju, semoga Allah (swt) menjadikan kita sebagai bagian dari orang-orang yang berada di jejak tersebut. Selalu bersikap baiklah kepada orang lain, cintailah mereka selalu, dan sayangilah mereka selalu.  Ini adalah karakteristik Awliyaullah. Dan mereka mengambil karakteristik itu dari guru mereka, yaitu Rasulullah (saw). Dan Rasulullah (saw) mengambilnya dari siapa? Dari ar-Rahmaan ar-Rahiim, dari Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim, dengan Nama Allah, ar-Rahmaan ar-Rahiim.  Mereka semua mengambil dari Rahmaan tersebut, dari Nama Suci Rahma.  Wahai manusia, jadilah di antara `ibaadu ‘r-Rahmaan, jadilah orang yang baik, yang mencintai dan menyangi orang lain!  Allah (swt) mencintai hal itu. Insya Allah kita dapat menjadi salah satu dari mereka. 

Rahmatullaahi waasi`a, sebagaimana yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim (q) bahwa Rahmat Allah itu luas dan setiap orang telah memberikan ikrarnya kepada Tuhan mereka dan Allah (swt) akan membawa mereka ke dalam Rahmat-Nya, ke dalam Surga-Nya.  Jadi, jangan bersedih! Jangan gundah! Laa taqnathuu min Rahmatillaah, janganlah berputus asa dengan Rahmat Allah, karena ia mencakup segala sesuatu.  Allah (swt) akan memberikan Rahmat-Nya kepada semua orang. Semoga Allah (swt) mengampuni kita semua, insyaAllah.

Saya rasa ini cukup untuk kita sekarang.  Insya Allah kita akan melakukan Khatmul Khwajagan dan semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang bermurah hati kepada orang lain. 

Saya berniat untuk membaca beberapa halaman berikutnya, tetapi saya pikir ini sudah cukup untuk malam ini.  Insya Allah Kamis depan, hamba yang lemah ini, hamba yang dhaif ini–guru kita mengajarkan kita untuk mengatakan bahwa kita adalah orang-orang yang lemah, kita tidak berpura-pura untuk menjadi sesuatu.  Kita adalah orang yang lemah. Kita hanya berbicara dari apa yang telah kita baca, yang telah kita dengar dari guru kita. Semoga Allah (swt) memberkahi ruh mereka, mensucikan asrar (rahasia-rahasia) mereka, dan menjadikan kita selalu sebagai mutaraabithiin, selalu tersambung dengan mereka. 

Dalam Surat Ali `Imran, Allah (swt) berfirman,
Yaa ayyuhalladziina aamanushbiruu 

Ayat terakhir Surat Ali `Imran, karena sebagian orang merasa keberatan dengan pertalian atau koneksi antara kita dengan guru kita.  Allah (swt) berfirman di dalam Surat Ali `Imran, ayat karimah terakhir,

Asta`idzubillah, 

Yaa ayyuhalladziina aamanushbiruu 


Wahai orang-orang yang beriman, orang-orang yang mempunyai iman kepada Allah (swt), dan Rasul-Nya, kepada kitab-kitab suci dan malaikat-Nya, pada Hari Akhir dan takdir, ushbiruu, bersabarlah!  Itu artinya buatlah ego kalian bersabar dalam beribadah.  Ego kalian harus setuju dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah (swt).  Ego kalian harus berserah diri pada apa yang Allah (swt) inginkan, ego kalian harus tunduk.  Jadi sabar di sini adalah untuk ego, nafs.

Yaa ayyuhalladziina aamanushbiruu wa shaabiruu 


Dan shaabiruu ma`a Allah, lakukan yang terbaik untuk terus menempuh jalan kalian, artinya mampu menghadapi kesulitan dan beban untuk dijalankan ma`a Allah bersama Allah (swt), ini adalah untuk hati.  Allah (swt) harus mengirim min shifatil Jalaal, karakteristik Jalaal di dalam hati untuk membersihkan karakter-karakter buruk dalam hati.  Jadi Yaa ayyuhalladziina aamanushbiruu wa shaabiruu artinya bersabarlah dalam ketaatan, dalam kepatuhan, itu adalah untuk ego, nafs; wa shaabiruu dan berusahalah agar mampu memikul beban yang datang pada kalian untuk membersihkan hati kalian; wa raabithuu sambungkan diri kalian dan ini adalah untuk ruh. 

Sejak Hari Perjanjian ada beberapa ruh yang saling terhubung, menjadi bersahabat, dan ada beberapa ruh yang tidak terhubung.  Jadi kalian harus mencari tahu kepada siapa ruh kalian terhubung, raabithuu, dan ini adalah Syekh kalian, ini adalah Grandsyekh kalian, Waliyullah, ini adalah Mursyid kalian.  Kalian harus membuat pertalian dengan Mursyid kalian, wa raabithuu wattaqullaaha , kemudian bertakwalah kepada Allah, la`allakum tuflihuun agar kalian menjadi orang-orang yang beruntung, yang akan masuk Surga.

Jadi, jangan lupa: bersabar dengan ego kalian, biarkan ego kalian bersabar pada ketaatan, dan biarkan hati kalian menanggung kesulitan yang muncul dan biarkan ruh kalian terhubung dengan ruh Mursyid kalian dan lakukan kebaikan sehingga kalian bisa masuk ke Surga.  Kita dapat melakukan keempat-empatnya. Ini adalah ayatul kariimah terakhir dalam Surat Ali `Imran.  Insya Allah yaa Rabbii, jadikanlah kami sebagai orang yang dapat melakukan hal tersebut. 

Bi hurmatil habib wa bi sirri Suuratil Faatihah.     

        

Penuhilah Maksud dan Tujuan Penciptaanmu sebelum sampai ke Liang Lahad

7213

Sultan al-Awliya Mawlana Shaykh Nazim al-Haqqani
Lefke, Siprus, 4 Agustus 2011 
(Diterjemahkan dari Bahasa Turki)


(Mawlana Syekh berdiri) Wahai Mukmin! 
As-salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh.  Hari ini adalah minggu pertama dari bulan Ramadhan asy-syariif.  Ini adalah Kamis malam, yang menyambungkan Kamis ke Jumat.  Semoga Allah (swt) tidak menyingkirkan kita dari cahaya, kesejahteraan dan keberkahan dari bulan suci Ramadhan ini!

Wahai Mukmin, kita bertakbir mengagungkan Allah (swt), kita berdiri dan mengucapkan, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa ilaaha illa-Llah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahi ‘l-hamd!”  Bacalah takbir ini sembilan kali setiap hari.  

Wahai Muslim!  Shalat al-`Eid dilakukan dengan sembilan kali takbir, dan kita bahkan bisa membaca takbir sebelum `Eid.  Kita membaca takbir, jadi berhati-hatilah mengenai hal ini.  

Kemudian pada Sultan kedua alam, sang Habibullah, junjungan seluruh alam, semoga tercurah shalawat dan salam yang tak terhingga, alfu shalaat, alfu salaam `alayka wa `ala aalika wa shahaabatika wa man tabi`aka bi ihsaanin ila yawmi ’d-diin.

Yaa Sayyidii, yaa Rasuulallah (saw)!  Kami memohon rahmat dan kasih sayangmu.  Janganlah tinggalkan kami dalam keadaan lemah; kirimkan kepada kami orang-orang yang akan menunjukkan jalan yang benar, yaa Sayyidi ‘l-Awwaliin wa ’l-akhiriin.  Kami juga mengirimkan salam dan pujian kepada seluruh Anbiya dan Awliyaullah, dan kami memohon dukungan mereka.  Semoga dukungan mereka sampai kepada kami semua sehingga kami dapat mempunyai kekuatan untuk bangkit dalam pengabdian kepada Allah (swt)!  Kami juga memohon agar mereka menolong kami dan memandang kami dengan pandangan surgawi.

A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.  Semoga Allah melindungi kita dari segala kejahatan dan para pengikut Setan.  Semoga kejahatan mereka jatuh pada kepala mereka sendiri! “Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim” adalah pedang yang haqq, tariklah pedang itu dan jangan merasa takut!  (Mawlana Syekh duduk).

Dastuur yaa RijaalAllah, madad.  Bagi mereka yang mendengar, semoga karunia surgawi dari Allah (swt) sampai kepada mereka dan kita semua, dan semoga Rahmat-Nya turun kepada mereka yang telah wafat.  Kalian dapat menjadi wasilah bagi rahmat tersebut untuk sampai kepada leluhur kalian dan kepada keluarga kalian yang telah wafat. Oleh sebab itu, wahai Muslim, carilah majelis (perkumpulan) yang baik, karena ada dua jenis majelis, yakni majelis yang murni dan majelis yang kotor.  Wahai manusia yang telah diciptakan dalam keadaan murni! Jagalah kemurnian kalian dan berkumpullah dalam majelis yang murni. Jangan lemparkan diri kalian ke tempat yang kotor; kalau tidak, kelak kubur kalian akan lebih buruk daripada lubang WC! Kalian akan dibenamkan dalam lubang kotor itu berkali-kali dalam sehari.  Mereka akan menarik kalian, kemudian membenamkan kembali selama 24 jam! Mereka akan membenamkan kalian dalam kotoran itu dan menarik kalian lalu membenamkannya kembali!  

Perhatikanlah kata-kata ini.  Kubur kalian bisa menjadi taman Surga sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi (saw), atau sebuah parit dari parit-parit Neraka!  Apa isi lubang ini? Api! Dan apa yang dibakar api itu? Semua kotoran dibakar dalam api itu, dan bila kalian pergi ke majelis yang buruk, maka kalian akan habis.  Mereka akan melemparkan kalian ke dalam lubang kotor yang mendidih dengan api dari Neraka. Kalian akan berusaha untuk menyelam lebih dalam agar kaki kalian dapat menyentuh sesuatu untuk menyelamatkan kalian, tetapi kalian tidak bisa diselamatkan karena mereka akan menarik kalian dan melemparkannya kembali ke dalam lubang itu, dan hukuman itu akan berlangsung terus hingga Hari Kiamat!

Wahai Muslim!  Janganlah pergi ke majelis yang kotor; atau kalau tidak, kubur kalian akan menjadi lubang yang kotor seperti ini, penuh api.  Amaan yaa Rabbii, ampunilah kami dan jagalah agar kami senantiasa berkumpul dengan hamba-hamba-Mu yang murni.

Wahai Muslim!  Bulan suci Ramadhan adalah bulan untuk memurnikan umat Muhammad (saw), oleh sebab itu berusahalah untuk menjadi bersih.  Tinggalkan jalannya orang-orang yang tidak beriman: doktrin mereka, apa yang mereka makan, apa yang mereka pakai, busana mereka, apa yang mereka katakan dan apa yang mereka ajarkan, apa yang mereka lakukan agar kalian selamat!  Jika tidak, tidak ada lagi kesempatan untuk selamat! Pada saat itu kalian akan dibungkam, mereka akan membawa kalian ke kubur kalian, menguburkan kalian di dalamnya dan menutupi bagian atasnya. Kemudian semua orang akan mundur dan seorang imam akan maju dan berkata, “Wahai hamba Allah!  Ketika para malaikat datang dan bertanya kepadamu, ‘Siapakah Tuhanmu?’ Maka jawablah, ‘Tuhanku adalah Allah!’ dan ketika mereka bertanya, ‘Siapa Nabimu? jawablah, ‘Nabiku adalah Sayyidi ‘l-awwaliin wa ’l-akhiriin, Sayyidina Muhammad al-Mushthafa (saw)!’”

(Mawlana Syekh berdiri) Akankah kalian sanggup untuk memberikan jawaban-jawaban ini?  “Kitabku adalah al-Qur’an! Qiblatku adalah Ka`abah al-Mu`azzamah! Sekte (firqah) ku adalah Ahlu ‘s-Sunnah wal-Jama`ah!  Kami bukan Syiah, kami bukan Salafi, bukan Wahhabi, kami adalah Ahlu ‘s-Sunnah!” (Mawlana Syekh duduk)

Hari ini kami mendapat dastuur, izin; mereka membuat kami berbicara dari mata air ini.  Selamat datang, marhaban.

Wahai orang-orang yang malas (dari daerah timur Laut Hitam)!  Kalian memiliki pemahaman yang baik. Dari luar, kalian mungkin terlihat bodoh, tetapi hati kalian terbuka; kalian memahami apa yang kami katakan kepada kalian.  Hari ini kita berada di sini, besok kita ada di alam kubur, atau bulan ini kita di sini, tetapi bulan depan kita di alam kubur. Setiap orang pada akhirnya akan dikuburkan. 

Sulthan al-Anbiya (saw) bersabda, 

من لا يقبل النصيحة حلّت له الندامة

man lam yaqbal an-nashiiha hallat lahu an-nadaamat.
Barang siapa yang tidak mau menerima nasihat, ia akan menyesal pada akhirnya. 

Orang-orang Eropa mempunyai ungkapan, “Sekarang sudah terlambat.”  Tidak, berhati-hatilah! Kita bisa atau kita tidak bisa mencapai Ramadhan berikutnya, atau bahkan kita tidak mengetahui apakah kita akan sampai pada akhir Ramadhan ini.  Jangan mengatakan, “Aku masih muda.” Berapa ratus orang yang tewas terbunuh sekarang ini, mereka ditembak dan tewas di jalan-jalan dan dimasukkan ke dalam liang lahad bahkan tanpa memakai kain kafan?

Wahai manusia!  Jagalah dan lindungi diri kalian dan berusahalah untuk menjadi hamba Tuhan yang menciptakan kalian, selain itu tidak ada lagi yang bermanfaat bagi kalian.  Jika mau, kalian dapat menumpuk kekayaan seperti Qarun. Timbunlah sebanyak-banyaknya, tetapi ia tidak akan bermanfaat bagi kalian dan tidak akan pernah bermanfaat.  Kunci-kunci ruang harta Qarun sendiri harus diangkut dengan enam puluh unta dan setiap kunci berukuran sebesar jari telunjuk saya. Ia mempunyai harta yang sangat banyak, tetapi apa yang terjadi?  Apa manfaat yang didapatnya? Apakah hartanya dapat menyelamatkannya? Pada akhirnya ia menghadapi Kemurkaan Allah karena ia tidak menerima Tuhannya dan tidak menerima Rasul yang Allah kirim kepadanya, ia hanya mengatakan, “Ini semua berkat usahaku, aku mempelajari ini, dan tidak ada orang yang memberikan ini kepadaku.”  Ia begitu sombong, sehingga pada akhirnya ia berakhir dalam keadaan hina!

Allah (swt) berkata pada Sayyidina Musa (as), “Wahai Musa!  Aku jadikan bumi berada di bawah perintahmu, berikan hukuman yang pantas untuknya!” Nabi Musa (as) berkata, “Wahai bumi, telan dia!”  Bumi pun kemudian memegang tubuh Qarun, dan ia mulai menjerit dan memohon ampun. Nabi Musa (as) adalah seorang Nabi yang syadiid, kuat dan tegas; oleh sebab itu beliau memerintahkan bumi untuk memegang tubuh Qarun dan menelannya mulai dari kakinya.  Qarun kembali memohon ampun, namun Musa (as) tetap pada pendiriannya, “Telan dia, telah dia!” Akhirnya bumi menelan tubuh Qarun sepenuhnya.  Pembalasan surgawi turun padanya dan dikatakan bahwa bumi ini terus menelan Qarun hingga Hari Kiamat, dan semakin dalam ia ditelan, semakin panas apinya.    

Wahai orang-orang yang bodoh!  Apakah kalian menyukai hal ini? Begitulah akhir dari orang-orang yang senang mengumpulkan dari dunia ini!  Kalian tidak mengejar Allah `azza wa jalla, kalian mengejar dunia seperti halnya seekor serigala yang mengejar kelinci.  Apa yang kalian tangkap? Paling tidak Qarun mengisi peti hartanya dengan emas dan permata, tetapi apa yang kalian kumpulkan?  Kertas, mata uang! Jangan tanya kalau itu setara. Pemerintah mengatakan, “Kita harus menyisihkan emas dan sebagai gantinya kami akan memberi kalian uang kertas karena stempel kami ada di sana sebagai tanda keabsahannya.”  Sejumlah angka dituliskan pada uang kertas itu, “50 lira,” tetapi nilai apa yang dimilikinya? Bila kalian tarik, ia akan robek, bila kalian masukkan ke dalam air, ia akan hancur, dan bila kalian lempar ke dalam api, ia akan terbakar.  Apakah ini uang?  

Wahai pemerintah!  Wahai orang-orang yang tidak berguna!  Mengapa kalian menipu orang-orang? Kalian mengklaim bahwa karena kalian bangsa yang besar, maka kalian harus mencetak uang. (…) Sekarang seluruh manusia, khususnya mereka yang mengaku sebagai Muslim, mereka semua mengejar dunia, hanya demi memegang kertas ini.  Semua emas dikumpulkan di bank, sementara uang kertas yang tidak bernilai ini, orang-orang mengatakan bahwa uang mereka tidak cukup. Nilai apa yang dibawa uang kertas ini? Hanya karena di situ tertulis 100 atau 200, tidak berarti itu memberi nilai padanya, lalu mengapa kalian mengejarnya?  Kalian harus mengejar sesuatu yang mempunyai nilai sejati.  

Wahai manusia!  Wahai Muslim! Mengapa kalian tidak mengejar emas yang tidak pernah kehilangan nilainya?  (Allah berfirman), “Emas hanya berlaku di dunia. Di Akhirat, ada berbagai permata yang berharga di samping emas yang akan Kuberikan kepada kalian, jadi untuk apa kalian bersusah payah?”  Dan orang-orang menjawab, “Untuk mengumpulkan lebih banyak dari dunia ini.” Banyak orang-orang terdahulu sebelum kalian juga mengumpulkan, dan banyak orang kaya yang pernah datang dan pergi.  Mereka juga berusaha mengambil sesuatu dari dunia ini, namun tidak berhasil dan mereka mati dengan penderitaannya itu. 

Wahai Muslim!  Wahai manusia! Jangan berpikir bahwa kalian muncul ke dunia ini dengan kemauan kalian sendiri atau bahwa ayah dan ibu kalian membawa kalian ke dunia ini, jangan berbicara omong kosong semacam ini.  Ketahuilah batas-batas kalian atau mereka akan membuat kalian mengetahuinya! Wahai Jubbali Ahmad Effendi, di mana engkau berada? Marhaban.  Engkau belum keluar akhir-akhir ini.  Di mana engkau memberikan khotbah sehingga aku juga dapat mendengarmu.  Jangan berbicara hal-hal yang omong kosong; engkau harus tahu dan fokus pada hal yang paling sensitif dan mempelajarinya, sebagaimana Nabi (saw) bersabda, 

طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة

thalabu ‘l-`ilmi faridhatun `alaa kulli muslimun wa ‘l-muslimah.
Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim laki-laki dan perempuan. (HR Ahmad dan Ibn Majah)

اطلبوا العلم من المهد إلى اللحد

uthlubu ‘l-`ilma mina ‘l-mahdi ila ’l-lahad.
Carilah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahad.

Jangan muncul di depan umum dan mengatakan, “Aku tahu segalanya!” 

وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

fawqa kulli dzi `ilmin `aliim.
Di atas orang yang berilmu ada yang lebih tinggi ilmunya. (QS Yusuf, 12:76)

Di atas orang yang berilmu ada Tuhan semesta alam, Sang Pemilik Mutlak alam semesta ini, yang ilmu-Nya tak terhingga!  Memangnya kalian pikir siapa kalian? Apa yang kalian tunggu? Dengar dan bicaralah. Jika ada yang salah dengan kata-kata kami, katakanlah, “Ini salah.”  Jika kalian tidak dapat menemukan sesuatu yang salah, maka nyatakanlah kebenaran dan beritahu orang-orang mengenai hal ini. Apa yang tidak kalian ketahui, orang lain mungkin mengetahuinya dan itu akan bermanfaat bagi orang-orang. 

Carilah ilmu, jangan buang-buang waktu!  Katakanlah, “Wahai umat manusia! Jagalah perintah Dia yang telah menciptakan kalian, dan menciptakan Langit dan Bumi!  Tidak ada batas bagi Kekuatan-Nya. Dia adalah Allah `azza wa jalla, yang telah menciptakan manusia dari dua tetes cairan.”  (Mawlana Syekh berdiri) Allah `azza wa jalla membawa kita ke dunia dan mengutus Nabi-Nabi-Nya agar kita dapat belajar.  Yaa Rabbii! (Mawlana Syekh duduk).

Manusia telah memulai perjalanan ini tanpa menggunakan kompas, peta atau pemandu.  Apakah Allah `azza wa jalla, Tuhan Langit dan Bumi, menciptakan manusia dan tidak mengabarkan kepada kita mengenai maksud dan tujuan penciptaan kita?  Katakanlah! Ketika Allah `azza wa jalla membawa atom kita dari tulang sulbi Sayyidina Adam (as) dan bertanya, “Bukankah Aku Tuhanku yang telah menciptakanmu?”   Kita menjawab, “Qaaluu balaa! Benar, Engkau adalah Tuhan kami!” Ini artinya, sejak masa Qaaluu balaa (Hari Perjanjian) kita menjawab, “Wahai Tuhan kami, Engkau adalah yang menciptakan kami!”  

Lalu mengapa kalian tidak memenuhi janji kalian di dunia ini?  Hal itu seolah-olah orang-orang berpikir bahwa mereka diciptakan hanya untuk mengumpulkan sampah dari bangkai di dunia ini dan mereka mengejar hal itu selama 24 jam sehari.  Betapa bodohnya! Kita harus menarik diri kita bersama-sama. Sekarang di dunia, besok kalian mungkin akan berakhir di dalam kubur dan kalian akan ditanya. Dzat yang memberi kalian kehidupan dapat mengambilnya kembali kapan pun yang Dia kehendaki dan jasad kalian akan dikuburkan di dalam tanah.  Mereka menyebutnya Alam Barzakh. Dalam kehidupan dunia kalian berbicara sesuka kalian, mengoceh semaunya, tetapi ketika kalian masuk ke alam Barzakh, kalian tidak bisa melakukannya lagi. 

Nabi kita (saw), Sultan bagi kedua alam mengatakan, “Ketika mereka menguburkan kalian, Neraka akan menyerang kalian dari keempat penjuru.  Ketika ia menyerang dari sisi kanan, shalat harian kalian akan melindungi kalian sehingga api itu tidak mengenai kalian; ketika ia menyerang dari sisi kiri, puasa kalian akan membentengi kalian; ketika ia menyerang dari kaki kalian, haji kalian akan menghadangnya; ketika ia menyerang dari kepala kalian, sedekah dan amal baik akan melindungi kubur kalian, kemudian cahaya iman akan bersinar di atas kalian seperti matahari yang bersinar.”

Orang yang tidak shalat, api akan membakarnya dari sisi kanan; ular berbisa, kalajengking, dan kobra akan menyerangnya.  Dari sisi lainnya, berbagai jenis serangga akan menggigitnya, memakannya dan menyiksanya.  

Wahai manusia!  Ini bukanlah dongeng!  Orang yang berpikir bahwa mereka adalah sesuatu, dan orang-orang yang lalai dan suka mengolok-olok islam, kalian pikir menjadi Muslim itu sebuah permainan?  Mereka mengatakan, “Kami bebas melalukan apa saja yang kami sukai.” Kalian akan melihat apakah kalian bebas atau tidak ketika kalian masuk ke dalam kubur bersama ular, serangga, dan kalajengking yang menyerang kalian!  Kalian melakukan apa pun yang kalian sukai di dunia. Ketika seseorang masuk ke dalam kubur di mana ada berbagai jenis serangga, tidak ada seorang pun yang dapat mendengar jeritan atau tangisannya. 

Wahai orang-orang Anatolia!  Wahai orang-orang dari daerah Laut Hitam!  Kami tidak menceritakan sebuah dongeng; jadi janganlah kalian menjadikannya sebagai bahan tertawaan, karena ini adalah hal yang serius!  Hal ini adalah untuk mengabarkan kepada orang-orang bahwa Hari Kiamat sudah dekat, Allah (swt) mengirimkan berbagai kejadian. Tidak ada lagi orang yang hidup di dunia dalam kedamaian, mereka semua berada dalam ketakutan!  Mereka yang berada di posisi tertinggi bertanya pada dirinya sendiri dengan rasa takut, “Sekarang aku memimpin negeri ini, tetapi besok di mana aku akan berada, tidak ada yang tahu.”  

Bulan suci Ramadhan telah tiba, dan Allah (swt) mengawasi apakah hamba-hamba-Nya menjaga perintah-Nya untuk menjauhi hal-hal terlarang.  Jika tidak, para malaikat akan berkata pada mereka, “Barang siapa yang tidak mengikuti perintah Allah dan tidak berusaha untuk meninggalkan larangan-Nya, semoga ia tidak bertemu dengan suatu hari yang baik atau damai!”  Dan setiap makhluk di Bumi akan mengatakan, “Aamiin!” 

Oleh sebab itu, bangsa kita harus memegang teguh iman dan agamanya.  Siapa yang menentang hal ini akan meninggalkan dunia pada akhir Ramadhan.  Pernyataan ini diumumkan kepada kami. Barang siapa yang meletakkan rintangan di jalan Islam, barang siapa yang menyiksa Muslim di bulan suci ini atau mencegah mereka untuk beribadah, setelah Ied mereka akan selesai!  Kemurkaan Ilahiah sedang mendekat, siksaan yang tidak terduga akan menimpa manusia. Allah (swt) dapat membuat gunung berapi meletus pada waktu yang tak terduga, atau mengirim gempa bumi atau tsunami dan tornado yang dapat menyapu kota dan melemparkannya ke laut.  Apakah kalian aman dari semua itu? 

Wahai manusia!  Apakah kalian tidak takut dengan Kemurkaan Langit?  Atau menurut kalian, kalian sudah aman, bahwa tanah di bawah kaki kalian aman dan kokoh?  Kalian akan melihatnya ketika Dia mengguncangnya! Sebuah tornado dapat menyapu segalanya.  Ketika gedung pencakar langit kalian berguncang, tidak ada lagi yang tersisa, semuanya akan binasa.  

Wahai manusia!  Berdamailah dengan Allah (swt); kalau tidak, akhir kalian akan mengerikan, terutama bagi Muslim!  Waspadalah selama di bulan Ramadhan ini untuk menjaga perintah Allah (swt); jika tidak, itu terserah kalian.   Dia akan mengirimkan virus yang akan mendatangi manusia dengan tiba-tiba. Ia tidak terlihat dengan mata manusia, virus itu akan menyerang mereka dan membuat mereka sulit untuk bernapas, sulit untuk makan dan minum.  Dokter-dokter kebingungan, “Dari mana ia datangnya?” Ia berasal dari perilaku buruk manusia yang membuang kehormatannya ketika diciptakan sebagai manusia! Mereka menjadi begitu buas, membunuh dan menghancurkan orang-orang yang telah Allah ciptakan sebagai makhluk yang mulia.  Kemurkaan Ilahiah akan menimpa mereka! Ia akan datang ke Damaskus, Iraq, Mesir, Lebanon, Libya, Tunisia, Yaman, dan sekarang ia datang ke Turki, dan melayang di langit dunia Muslim Arab. Di belahan dunia lainnya ada api juga, tetapi api terkuat ada di negeri-negeri Muslim. Jika kalian tidak insyaf, Dia akan menghancurkan segalanya dalam satu guncangan!  

Wahai Jubbali Ahmad Effendi dan mufti Istanbul!  Jangan lupa bahwa Allah `azza wa jalla dapat melakukan apa pun yang Dia kehendaki.  Dia dapat menciptakan dan dapat menghancurkan dalam sekejap.  Berilah nasihat kepada orang-orang! Katakan pada mereka, “Tenangkan diri kalian di bawah perintah Allah dan jangan menunjukkan adab yang buruk terhadap Perintah-Nya.” 

Saya akan mengatakan sesuatu terkait Istanbul, berdasarkan apa yang telah dikabarkan kepada kami.  Leluhur kita yang mulia telah menanamkan benih-benih Islam tradisional dan menghancurkan kebatilan di perbatasan Istanbul Lama.  Gempa bumi akan terjadi di perbatasan itu dan hanya Istanbul Lama yang akan terlindungi; sisanya termasuk semua bangunan baru akan hancur dalam sekejap!  Oleh sebab itu berdasarkan tanda-tanda yang ditunjukkan kepada kami, kami menyarankan untuk mengevakuasi Istanbul; kalau tidak, maka tidak ada keselamatan bagi kalian.

Saya tidak tahu apakah ini akan terjadi di bulan Ramadhan, setelah Ramadhan, pada saat Ied, atau di bulan Muharram, siang atau malam hari, ini tidak pasti.  Gempa bumi itu akan berlangsung selama tujuh menit, tidak perlu delapan. Dalam tujuh menit, Kemurkaan Ilahi akan menghantam dengan magnitudo 13.0! Air laut dari Marmara akan naik dan menelan pulau-pulau di sekitarnya bagaikan api!  Ini adalah sebuah peringatan. Kami tidak mengatakan sesuatu dengan melihat mesin tertentu, kami berbicara menurut apa yang dikabarkan kepada kami. Evakuasi Istanbul! Evakuasi Istanbul, atau tinggal saja bila kalian tidak takut. Hanya kota Islam yang dibangun pada masa Ottoman yang akan terlindungi, di mana panggilan Adzan al-Muhammadi [adzan yang diikuti dengan shalawat Nabi (saw) dengan lantang] dikumandangkan dari menara-menara masjid, dan membuat rahmat turun dari Langit.  Gedung-gedung pencakar langit itu adalah tempat yang korup dan rumah bagi kemaksiatan. Dalam waktu singkat, mereka akan rata bersama orang-orang yang ada di dalamnya. Waspadalah terhadap peringatan ini!  

Jubbali Ahmad Hoja kita mengetahui hadits di mana Nabi (saw) bersabda bahwa, “Ketika perzinaan menjadi hal yang umum, gempa bumi akan semakin bertambah.”  Wahai mufti Istanbul! Apakah engkau tidak mengetahui hadits ini? Mengapa engkau tidak mengumumkannya kepada orang-orang? Bukankah engkau telah membaca bahwa perzinaan itu menyebabkan gempa bumi?  Ia mengatakan, “Jangan mengunjungi makam-makam.” Apakah hal ini yang perlu diumumkan? Seorang mufti Istanbul sejati adalah seorang alim yang menjaga Sunnah Nabi (saw) (Mawlana Syekh berdiri dan duduk kembali), yang mempunyai atribut basyiiran wa nadziiran, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan bagi manusia.  Ini adalah perintah dari Langit, “(Yaa Muhammad!) Berikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan peringatan kepada orang-orang yang tidak beriman!” 

Kita berada di tingkat nol, tetapi jalan kita selaras dengan jalannya Nabi (saw), Sulthan al-Anbiya, yang datang baik sebagai basyiiran wa nadziiran, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada manusia.  Kabar gembira yang dijanjikan bagi orang-orang beriman adalah keselamatan di dunia dan akhirat!  Ini adalah kabar baik. Ini adalah perintah Allah `azza wa jalla, yakni memberikan kabar baik kepada orang-orang beriman, wa andzir, mulai dari yang terdekat dengannya; dan mengabarkan kepada mereka mengenai kemurkaan Allah yang akan mereka hadapi (jika mereka tidak patuh). 

Mengenai Istanbul, dulu pernah disebut “Islambul اسلامبول (Penuh dengan Islam),” tidak ada lagi orang yang mengajak pada kebaikan dan mencegah kemunkaran; ia telah menjadi tempat yang berbahaya.  Oleh sebab itu, evakuasilah Istanbul wahai orang-orang Anatolia! Jika kalian tidak ingin mati tertimpa bangunan; kembalilah ke tempat asal kalian.  Lebih aman bagi kalian untuk makan roti kering (di kampung kalian) daripada duduk dan makan kebab di Istanbul. Ini adalah instruksi yang diberikan kepada kita pada hari ini.  Semoga Allah `azza wa jalla mengampuni kita.

Ini mungkin menjadi Ramadhan terakhir bagi kita sebelum banyak badai yang muncul.  Semoga Allah mengampuni kita! Ya Allah, ampunilah kami. Kirimkanlah kepada kami hamba-hamba-Mu yang akan menunjukkan jalan bagi kami.  Orang-orang yang menjauhkan kami dari jalan yang lurus akan binasa! Semoga bendera Islam dapat berkibar dan kesultanan Islam akan berkuasa.  Yaa Rabbii, ini adalah harapan kami. 

Fatihah.

Pengumuman hari ini sangat penting.  Setiap hari ada persoalan baru untuk dibicarakan.  Amaan yaa Rabbii!  Tawbah yaa Rabbii, tawbah yaa Rabbii, tawbah astaghfirullah. As-salaamu `alaykum bagi mereka yang menerima kebenaran, dan celakalah bagi yang tidak mau menerimanya.  Amaan yaa Rabbii!  Tawbah yaa Rabbii, tawbah yaa Rabbii, tawbah astaghfirullah.  Engkaulah Yang Maha Pengampun!  Kirimkanlah kepada kami hamba-hamba-Mu yang akan membimbing kami ke jalan yang benar.

Fatihah.

© Sufilive.com 2011
Bahasa Inggris: https://sufilive.com/A-Virus-Is-Coming–7213-EN-print.html

 

Kekuatan Nishfu Sya`ban

92097337_2811803658906608_120051379669565440_o

Mawlana Shaykh Nazim al-Haqqani
Lefke, Siprus, 15 Juli 2011
Shuhbah setelah Shalat Jumat

A`uudzu billaahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahi ‘l hamd! Yaa Rabbii, yaa Allah! zidhu yaa Rabbii! A`uudzu billaahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim. (Mawlana Syekh duduk kembali).

Madad, yaa Sulthaan al-Awliya. Madad yaa RijalAllah. Yaa Rabbana w`afuw `anna w ’aghfir lanaa w ’arhamna w ’ansurna `ala ’l-qawmi’l-kaafiriin, wa azhar Sayyidina al-Mahdi, ajaban-Allah, bi-jaahi nabiyyika wa`fu `anna w ’aghfir lanaa wa tub `alayna tubna wa raja’na.

Wahai hadirin dari Timur ke Barat!  Tiba waktunya di mana seluruh bangsa akan bergegas mendengar deklarasi surgawi, dan oleh sebab itu kami katakan, “Wahai manusia!  Cukup sudah mabuk kalian! Berusahalah untuk datang, mendengar dan mengetahui.” Kita harus berusaha untuk menjadi tahu. Kita datang ke sini, dan itu bukanlah sesuatu yang sia-sia, bukan seperti daun-daun yang suatu saat berada di pohon, lalu jatuh ke Bumi dan kemudian akan lenyap.  Kita harus mengetahui tentang diri kita. Apa tujuan kita, bagaimana kita bisa berada di sini untuk sementara kemudian kita akan meninggalkan dunia ini. Allah (swt) mengirimkan ratusan atau ribuan orang-orang pilihan yang mempunyai hubungan antara Bumi dan Langit, atau alam Malakut, yang memberi kabar dan peringatan untuk manusia karena mereka mengetahui sesuatu mengenai manusia dan segala sesuatu di sekitar mereka. 

Dan kita ucapkan, “a`uudzu billaahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim.”  Kita harus selalu mengatakan, “Wahai Tuhan kami!  Kami berlindung kepada-Mu dari Setan!” Karena Setan berusaha untuk membuat manusia tidak percaya dengan apa yang dibawa oleh para Nabi dari Langit.  Para Nabi berseru, “Wahai manusia! Datang dan percayalah,” tetapi Setan mengejar manusia dan mengatakan, “Jangan percaya!” Astaghfirullah. 

Orang-orang berkata, “Ini seperti dongeng dari masa lalu yang tidak ada kenyataannya, jadi tidak perlu percaya pada mereka, nikmati saja apa yang fisik kita inginkan dan tidak perlu memikirkan yang lain.”  Setan menggunakan nama-nama yang berbeda tetapi dengan racun yang sama untuk membuat pemahaman kita menjadi nol. Sekarang seluruh bangsa dalam keadaan mabuk, sebagaimana Sayyidina `Ali (ra) mengatakan, “Orang-orang tertidur dan mereka tidak bangun-bangun sampai ajal mendatangi mereka, barulah mereka bangun dan menanyakan apa yang terjadi.” 

Allah (swt) mengirimkan para malaikat kepada mereka dengan perintah suci dari Langit yang mengatakan, “Wahai manusia!  Jangan menanyakan apa yang terjadi karena engkau telah diberi peringatan tentang hal itu sepanjang hidupmu, tetapi engkau mengatakan bahwa itu hanyalah dongeng dari masa lalu.  Kini waktunya telah habis dan kami akan membawa ruhmu kepada Sang Penciptamu, karena ini bukanlah tujuanmu sebenarnya, kami akan membawamu ke tempat itu, ke tempat asalmu.” 

Wahai manusia!  Kita sudah sangat dekat dengan tujuan kita, di mana Nabi Penutup (saw) telah memberi kabar kepada kita.  Hari Kiamat begitu dekat dan ia datang kepada kalian, jadi waspadalah! Sekarang kita semakin dekat dengan Hari Kiamat di mana sangkakala akan segera dibunyikan.  Sebelumnya begitu banyak hal yang tidak pernah kalian yakini, tetapi kini kalian telah melihat kejadian-kejadian surgawi sebagaimana yang dikatakan kepada kita oleh para Nabi, sekarang kejadian itu datang satu demi satu.

Dastuur, yaa Sayyidi.  Sekarang adalah 14 Sya’ban.  Ini adalah bulan suci, dan malam ke-15 dari bulan suci ini akan menjadi malam yang paling penting dalam setahun setelah Malam Laylatul Qadar.  Barangkali ini (lebih penting); hanya Dia Yang Maha Mengetahui! Para Nabi mengajarkan kita mengenai Laylatul Bara`ah, di mana takdir setiap orang untuk tahun yang akan datang telah ditetapkan dan dituliskan, apa yang akan terjadi pada mereka baik secara pribadi maupun berkelompok.  

Malam ini adalah awal bagi Tahun Baru Surgawi (Langit), yang dimulai pada Malam Bara`ah.  Takdir kita akan dituliskan baik secara pribadi maupun kolektif di Loh Mahfuz. Siapa yang akan hidup, siapa yang akan meninggal dunia, nama-nama mereka akan dituliskan, juga bagi mereka yang akan muncul ke dunia, dan berapa lama hidup mereka di dunia–empat puluh tahun, tiga puluh tahun, sembilan puluh tahun, tujuh puluh tahun–dan bagi setiap orang akan ditulis segala sesuatu tentang kehidupan pribadi mereka.  Itu tidak akan berubah: siapa yang akan datang, siapa yang akan meninggal dunia, apa yang akan mereka lakukan, dan apa yang akan terjadi pada mereka baik secara pribadi maupun kolektif. 

Sekarang kita berada di bagian terakhir dari kehidupan manusia, kita berada di abad ke-15 tahun hijriah.  Sesuai dengan niat kita, sesuai dengan perbuatan kita, malam ini kita dapat mengubah (apa yang telah dituliskan, karena setelah itu tidak) akan ada perubahan lagi.

Manusia di Bumi ada dua macam, sebagian ada di kelompok yang positif dan yang lainnya di kelompok negatif.  Kelompok yang positif adalah orang-orang yang beriman yang melakukan perbuatan baik bagi Tuhannya, dan terhadap ciptaan Sang Pencipta.  Mereka adalah orang-orang yang berguna. Kelompok lainnya, yaitu kelompok negatif, tidak pernah memikirkan tentang mendekatnya Hari Kiamat dan mereka hanya menimbulkan masalah bagi orang-orang, mereka melakukan pembunuhan dan menyebabkan penderitaan.  Satu kelompok berusaha untuk menolong orang, berusaha membuat mereka bahagia tetapi kelompok satunya selalu menyebabkan masalah dan inilah kesenangan mereka! Malam ini, perbuatan dari seluruh manusia akan dituliskan apakah di tangan kanan (kebaikan) atau di tangan kiri (dosa-dosa).

Wahai manusia!  Menurut Nabi (saw), malam ini adalah malam yang sangat penting, jadi berusahalah agar diri kalian bersama Tuhan kalian dalam kondisi yang baik, sehingga kalian akan meraih rahmat Allah, sehingga kalian akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.  Malam ini adalah malam pertama dan besok adalah hari pertama dari tahun baru bagi seluruh dunia. Ini bukanlah kalender hijriah atau kalender Barat, ini adalah kalender Surgawi. 

Wahai manusia!  Jagalah agar jasmani dan rohani kalian bersih untuk suatu awal yang baru.  Saya takut kalau niat dan perbuatan buruk manusia tiba-tiba akan membawa mereka kepada hukuman surgawi.  Mereka dapat menyebabkan pembalasan Surgawi mendatangi mereka jika mereka tidak mengatakan, “Wahai Tuhan kami!  Engkau telah menciptakan kami tetapi kami telah banyak melakukan kesalahan, Engkaulah satu-satunya yang dapat memaafkan apa yang telah kami lakukan dan memberikan energi baik kepada kami sehingga kami dapat menjadi hamba-Mu yang taat!”  

Wahai manusia!  Malam ini adalah malam yang penting karena mungkin saja ini akan menjadi malam suci terakhir bagi manusia, karena tahun depan wujud dunia ini mungkin akan berubah; mungkin saja di antara lima orang, hanya ada satu yang bertahan sementara empat lainnya meninggal dunia!  Ini adalah suatu kutukan, karena orang-orang berlari di jalan Kematian. Oleh sebab itu, siapa pun yang berlari di sisi jalan itu dapat bertahan menurut pengetahuan surgawi. Hanya sedikit orang yang bertahan di sini. Saya pikir kita tidak akan mengerti bila azab terjadi di Bumi, kalian akan mendapati gurun yang kosong, tanpa rumah, pepohonan, lautan, hujan dan segala yang menyenangkan bagi manusia akan dicabut!  Bagi yang bertahan, Allah (swt) akan membukakan dunia yang baru bagi mereka.

Suatu hari nanti akan tiba di mana dunia kalian akan berubah hingga sulit dikenali sampai-sampai orang akan bertanya, “Inikah dunia yang kita tinggali?”  Ia dapat berubah sepenuhnya dan hanya segelintir orang yang akan bertahan, mereka yang percaya dan memberi penghormatan yang tinggi bagi Tuhannya, sementara yang lain akan disapu bersih.

Wahai manusia!  Apa yang Allah katakan akan terjadi, dan saya memohon ampunan bagi saya dan bagi kalian.  Saya memohon agar Allah menjadikan niat kita, niat yang baik. Semoga Allah mengampuni kita dan mengirimkan kepada kita para pemimpin yang dapat membawa kita ke jalan yang aman, jalan yang diridai Allah; kalau tidak, pemahaman kita akan dicabut. 

Wahai manusia!  Sekarang dunia, besok akan menjadi kuburan!  Jangan mengatakan, “Aku kaya,” atau “Aku adalah orang terkaya.”  Itu tidak akan memberi manfaat bagi kalian, hanya perbuatan baik yang akan bermanfaat bagi kalian, yaa Rabbanaa! 

Kami hanyalah hamba-hamba-Mu. Jangan tinggalkan kami pada Setan untuk menjadi hambanya!  Barang siapa yang mengejar Allah, ia akan selamat dan barang siapa yang mengejar Setan, ia akan dimasukkan ke dalam Neraka, astaghfirullah!

Ini bagaikan samudra di mana kita dapat berbicara hingga minggu depan atau tahun depan jika Allah memberi kekuatan, tetapi saya adalah orang yang lemah, dan kalian juga lemah.  Mintalah kepada Allah ampunan dan Samudra Rahmat-Nya yang tak terhingga. Mintalah demi kemuliaan Nabi Penutup (saw) agar kita diselamatkan dari kejahatan, dan dari tempat yang buruk setelah kemaatian kita!  

Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, `Aziiz Allah
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Kariim Allah.
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhaan Allah.
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Sultaan Allah.
Subhan sen, Sultan sen, yaa Rabb!

Engkau adalah Sultan!  Engkau adalah Subhaan! Engkau adalah Rahmaan!  Wahai Tuhan kami, ighfir lanaa maa madaa fii salif hayatuna!  Berikanlah ampunan-Mu dan kirimkanlah kepada kami hamba-hamba-Mu yang baik yang dapat menyelamatkan kami dan mengubah gaya hidup kami menjadi pengikut al-Qur’an suci dan Islam yang suci, demi kemuliaan Rasuulullah, Sayyidina Muhammad (saw)!

Allaahuma shalli `ala Sayyidina Muhammadin wa `aala alihi wa shahbihi wa sallim.

Allaahuma shalli `ala Sayyidina Muhammadin wa `aala alihi wa shahbihi wa sallim.

Allaahuma shalli `ala Sayyidina Muhammadin wa `aala alihi wa shahbihi wa sallim.

Fatihah.

https://sufilive.com/The-Power-of-Nisf-Sha-ban-3641.html

©Copyright 2011 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected by international copyright law.
Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

Pentingnya Malam Laylat al-Bara`ah

26196482_1555977204456627_3864816671046252175_n
Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
1 Juni 2015 Zawiyah Fenton, Michigan

 

A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.

Sebagaimana yang dikatakan oleh para Awliyaullah bahwa sebuah majelis yang melakukan dzikrullah, bahkan dengan hanya 3 orang pun akan membersihkan 70,000 majlis suu’ (buruk), yaitu majelis setani (majelis yang di dalamnya tidak disebutkan nama Allah–penerj.), jadi ini adalah pembersihan bagi kita. Dan khatm ini dari generasi ke generasi, selama 1436 tahun dari Hijrahnya Nabi (saw) dari Mekah ke Madinah, senantiasa dilakukan secara terus-menerus tanpa henti, mengikuti perintah man tasyabbaha bi qawmin fa huwa minhum, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, ia akan digolongkan sebagai kaum tersebut,” dan ktia melakukannya atas perintah Allah (swt), yang mengatakan kepada Nabi (saw) dalam sebuah Hadits Qudsi:

أَنَا جَلِيْسُ مَنْ ذَكَرَنِي

Aku duduk bersama orang-orang yang berdzikir (mengingat-Ku). (Hadits Qudsi. Ahmad, Bayhaqi)

“Aku duduk bersama orang yang mengingat-Ku,” bukannya duduk sebagaimana yang kita pikirkan karena kita tidak percaya dengan tajsim, tetapi di sini artinya adalah bersama kita, Hadirat Ilahiah-Nya.

Kita lakukan dzikrullah dan selesai menjelang Maghrib, lalu kita baca Yasiin tiga kali. Grandsyekh (q) menjelang akhir hayatnya, beliau berada di rumah kami di Beirut dan saat itu tanggal 15 Sya`baan 1973, beliau berkata, “Aku tidak ingin tinggal lebih lama lagi di Beirut setelah 15 Sya’ban, bawalah aku kembali ke Damaskus.” Setidaknya itu memerlukan sebuah shuhba, tetapi beliau berkata, “Untuk membuat rumahmu manis seperti surga, tidak perlu pergi ke pasar, temukan buah apa pun yang kau temukan, baik yang sedang musim maupun di luar musimnya.” Pada saat itu, di sana tidak seperti di sini yang mudah untuk menemukan segala hal. Tetapi kami mendapatkannya, orang-orang datang membawakan buah-buahan.

Beliau berkata, “Kita akan membaca (melakukan adab) Laylat al-Bara`ah dan ada banyak kejadian yang akan terjadi, tetapi kalian akan selamat, dan insyaAllah sebagian dari kalian akan hidup di zamannya Mahdi (as). Setalah menyelesaikan awraad, makanlah buah-buahan itu dan hidup kalian akan menjadi manis, insyaAllah.”

Saya mengatakan kepada Ishaq sebelum naik pesawat hari ini bahwa kata-kata Mawlana Syekh datang kepada kami untuk melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh Grandsyekh, karena dunia sedang memanas sekarang dan agar kita selamat dan kehidupan kita menjadi manis, oleh sebab itu saya minta untuk membawa buah-buahan dan memakannya setelah khatm, dan beberapa orang membawa jus! Itu boleh saja, bahkan air pun boleh, itu adalah berkah untuk kita, itu sudah cukup bagi kita.

15 Sya’ban adalah tanggal dimulainya tahun surgawi. Insya Allah, semoga Allah memberkahi kita dengan tajali malam Nisfu (pertengahan) Sya’ban itu, di mana Allah akan memberitahu kepada para malaikat apa yang akan terjadi pada tahun yang akan datang. Allah turun ke Langit Pertama, dan bagi orang-orang yang melakukan adab pada malam itu, sesuai dengan zona waktu masing-masing, Allah akan memberi kabar kepada para malaikat bahwa kita duduk memuji-Nya dan pahalanya akan begitu besar, dan kejadian atau peristiwa yang akan terjadi pada tahun itu akan dikabarkan kepada para malaikat. Saya tidak akan membahasnya lebih lanjut mengenai apa yang telah dikabarkan kepada para malaikat karena masih terlalu awal, tetapi kita katakan semoga Allah mengaruniai kita kehidupan yang manis dan kehidupan tanpa perselisihan!

Jika kalian marah, tinggalkanlah rumah kalian dan kembalilah beberapa saat kemudian ketika sudah tenang. Jangan berdebat, perdebatan berasal dari Setan, sedangkan tawakal berasal dari Rahman, jadi pilihlah. Kita memohon kepada Allah (swt) untuk memberkahi kita dengan tawakal kepada-Nya dan tawakal kepada perintah-Nya, tawakal pada Ketetapan-Nya, dan untuk menunjukkan cinta kepada Sayyidina Muhammad (saw).

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq bi hurmati ‘l-habiib bi hurmati ‘l-Fatihah.

Pentingnya Bulan Suci Rajab dan Sya`ban

91070140_2773558369365165_108589310252417024_o

Shaykh Hisham Kabbani
Burton, Michigan, 20 Mei 2016
Khotbah Jumu`ah di As-Siddiq Institute & Mosque (ASIM)
As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

[Doa Khotbah]

Wahai Muslim, wahai Mukmin!  Setiap saat dalam kehidupan kita diperhitungkan; kita hanyalah seorang hamba yang lemah, tanpa kekuatan, dan tidak berdaya.  Kita berusaha menjadi seorang hamba yang ikhlas kepada Allah (swt) dan itulah sebabnya kita tidak dapat mengangkat kepala kita dan mengatakan, “Kami di sini.”  Yang ada hanyalah Allah (swt), Sang Pencipta. Dia membawa kita ke dunia dan membawa kita ke Akhirat dalam perjalanan yang penuh dengan rintangan, kesulitan; penuh masalah, dan berbagai penderitaan yang dihadapi dunia Muslim seluruhnya.  Tetapi Allah (swt) Maha Penyayang, dan Dia ingin menolong kita dalam ibadah kita dan agar diterima oleh-Nya. 

Hamba terbaik atau dapat kita katakan Hamba yang Unik adalah Sayyidina Muhammad `alayhi afdhalu ’sh-shalaatu wa ’s-salaam.  Allah (swt) mengangkat derajatnya di bawah Pengawasan-Nya dan menjadikannya sebagai Penghulu dari seluruh Rasul, sejak Adam (as) hingga Hari Kiamat, dan tidak ada lagi Rasul setelah beliau. 

Sayyidina Muhammad, `alayhi afdhalu shalaatu wa salaam, berusaha untuk tidak terlalu membebani umatnya. 

عن عبد الله بن بسر رضي الله عنه أن رجلا قال: يا رسول الله إن شرائع الإسلام قد كثرت علي فأخبرني بشيء أتشبث به؟ قال لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله” الترمذي.

Seorang pria datang kepada Nabi (saw) dan berkata, “Wahai Rasulullah (saw)!  Sesungguhnya Syariat Islam terlalu banyak bagi kami, berikanlah suatu amalan yang dapat kami pertahankan.  Rasulullah (saw) menjawab, “Senantiasa basahi lidahmu dengan dzikrullah.” (Tirmidzi)

Ketika seorang Badui mendatangi Rasulullah (saw) dan mengatakan, “Terlalu banyak Syariat Islam, berikanlah sesuatu yang dapat kulakukan.”  Nabi (saw) menjawab, “Ij`al lisaanaka ratban bi-dzikrillah, “Basahi lidahmu dengan dzikrullah.”  Dzikrullah adalah kitab suci al-Qur’an, oleh sebab itu jadikanlah ia sebagai sahabatmu, agar Allah menyelamatkan dirimu!  Nabi (saw) tidak memberikan sesuatu yang tidak dapat dipikul orang itu, tetapi makna dan tafsir hadits tersebut pada hakikatnya mengatakan bahwa kitab suci al-Qur’an dapat membawa seluruh alam semesta!  Allah (swt) ingin menyelamatkan Ummat an-Nabi (saw), jadi Dia memberikan waktu-waktu yang berharga dalam kehidupan mereka, seperti sekarang ini, kita berada di tiga bulan suci yang sangat dicintai oleh Nabi (saw), di mana beliau (saw) mengatakan dalam Haditsnya, 

رجب شهر الله، وشعبان شهري، ورمضان شهر أمتي

Rajab adalah bulannya Allah, Sya`baan adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.   (Abul-Fath ibn Abi Fawaris dalam `Amalii dari al-Hasan)

Ketika Nabi (saw) mengatakan, “Rajabun syahrullah, “Rajab adalah bulannya Allah,”  Allah tidak memerlukannya, itu adalah untuk kita!  Dia menawarkan satu bulan dengan piring emas kepada kita, di mana bila kalian melakukan ibadah di dalamnya, kalian akan meraih keberhasilan.  Ketika beliau (saw) mengatakan, “Rajabun syahrullah, itu artinya ibadah apa pun yang kalian lakukan di bulan itu akan diangkat oleh Allah (swt) secara langsung, bukan oleh para malaikat, karena itu adalah bulannya Allah.

Wa Rajabun tsalatsatu ahrufin fa ar-Raa rahmatullah, huruf pertama, Ra, adalah Rahmatullah, Rahmat Allah pada kita; wa ‘l-jiim juuduhu `alayna, huruf Jiim melambangkan Kemurahan-Nya kepada kita; wa ‘l-Baa, huruf Baa adalah birruhu `alayna, memberi birr, nikmat kepada kita.  Li anna ar-rahmata tasubbu fiihi sabban, itulah sebabnya ia disebut ‘Rajabun syahrullah,’ karena rahmat akan turun secara langsung kepada kita di bulan itu, tidak ada malaikat yang membawakannya; wa ismuhu ‘l-asamm, dan Allah menyebutnya, “Rajabun syahrullah al-asamm,” artinya, “tidak mendengar apa-apa,” karena bertengkar di bulan ini tidak diperbolehkan, termasuk bertengkar di antara saudara-saudari kalian, kerabat dan tetangga.  Lupakan tentang perang, bahkan bertengkar pun tidak dapat diterima di bulan Rajab.  

Allah akan bertanya kepada bulan Rajab, “Apa yang telah dilakukan oleh hamba-Ku untuk-Ku, wahai Rajab?”  Allah akan bertanya kepada bulan Rajab, “Apa yang telah dilakukan oleh hamba-Ku untuk-Ku?” dan jawabannya adalah, Inna Rajab yurfa`u ila ‘Llahi ta`ala idzaa anqada fa-yas’aluhu ‘Llahu ta`ala `an `amali `ibaadihi fa yaskut. Allah akan bertanya kepada bulan Rajab ketika ia berakhir, “Apa yang telah dilakukan oleh hamba-Ku?  Katakan pada-Ku.” Apakah Allah tidak tahu? Dia tahu, tetapi Dia ingin agar kita mengetahui karena di bulan Rajab amal kita akan diangkat secara langsung kepada-Nya.  

Dan Allah bertanya kepadanya (Rajab), “Katakan apa yang mereka lakukan?” Fa yaskut. Lihatlah adabnya, ia tidak menjawab.  Tsumma yas’aluhu tsaaniyan fa yaskut, kemudian Dia bertanya sekali lagi, dan bulan Rajab tetap diam. Tsumma yasa’luhu tsaalitsan, kemudian Dia bertanya untuk ketiga kalinya, dan bulan Rajab tetap diam, tsumma yaquul, karena tiga kali ia tidak mengatakan apa-apa, kemudian ia ingin membela kita, “Yaa Rabb, Anta amarta `ibaadaka an yastura ba`dahum ba`da, “Wahai Tuhanku, Engkau telah memerintahkan hamba-Mu untuk tidak saling membuka aib masing-masing, untuk saling menutupi jika mereka melakukan kesalahan,” wa sammaanii nabiyyuka Muhammad shallAllahu `alayhi wa sallama al-asamm, fa anna ‘l-asamm,” dan Nabi (saw) menyebutku, “Bulan yang tidak mendengar, dan aku tidak mendengar apa-apa, fa anna ‘l-asamm sama`atu ta`atahum,” tetapi aku mendengar ibadah mereka.”  Duuna ma`aasiihim, “Aku tidak mendengar dosa-dosa mereka, aku hanya mendengar sisi baiknya, dan aku tidak ingin mendengar sisi buruknya.”  Fa yaghfiru ‘Llah `azza wa jall li ‘l-ummat al-Muhammadiyya, Allah akan mengampuni umat Muhammad karena bulan Rajab ini, syahrullah, wa qiil rajabun li-istighfaaru ’dz-dzunuub, Allah telah menjadikan Rajab sebagai bulan pengampunan dari dosa untuk mempersiapkan kita memasuki bulan Sya`ban dan Ramadhan, wa qiil Rajab syahru ‘t-tawbah, wa Sya`baanu syahru ‘l-mahabbah wa Ramadhanu syahru ‘l-qurbah. Dikatakan bahwa Rajab adalah bulan tawbah, ampunan, dan Sya`baan adalah bulan cinta dan Ramadhan adalah bulan keakraban.  Itulah sebabnya mengapa Nabi (saw) sering mengatakan, “Sya`baanu syahrii, beliau mencintai bulan itu, wa Ramadhanu syahru qurba,“ dan Ramadhan adalah bulan keakraban, yakni ketika hamba akan dekat dengan Allah (swt), sebagaimana Dia berfirman, 

Nabi (saw) bersabda bahwa Allah (swt) berfirman,

« كل عمل ابن آدم يضاعف الحسنة عشرة أمثالها إلى سبعمائة ضعف. قال الله عز وجل: إلا الصوم، فإنه لي وأنا أجزي به. يدع شهوته وطعامه من أجلي. للصائم فرحتان: فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه. ولخلوف فيه أطيب عند الله من ريح المسك» رواه مسلم

“Setiap amal anak Adam akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat, dan Allah (`azza wa jalla) berfirman, “Kecuali puasa, karena amal itu dilakukan (murni) untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.  Ia telah meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya demi Aku. Ada dua kebahagiaan yang didapatkan oleh orang yang berpuasa, yaitu kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sesungguhnya bau mulut (orang yang berpuasa) lebih harum di sisi Allah daripada harumnya minyak kasturi.” (Muslim)

Sekarang (malam) kelima belas Sya`ban akan tiba.  Dikatakan oleh banyak ulama bahwa Nabi (saw) bersabda, 

عن النبي صلى الله عليه وسلم من صلى أول ليلة من شعبان اثنتي عشرة ركعة يقرأ في الركعة الأولى فاتحة الكتاب مرة وقل هو الله أحد خمس مرات أعطاه الله تعالى ثواب اثنى عشر ألف شهيد وخرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه ولا يكتب عليه خطيئة إلى ثمانين يوما

Barang siapa yang shalat dua belas rakaat pada malam pertama bulan Sya`ban dan membaca Surat al-Fatihah sekali dan Qul Huwa ‘Llahu Ahad lima kali pada rakaat pertama, Allah akan memberinya pahala dari 12.000 syuhada dan ia akan dibebaskan dari dosa-dosanya seperti ketika baru dilahirkan ibunya dan tidak ada dosa yang akan dituliskan baginya selama delapan puluh hari berikutnya. (Nuzhat al-Majalis oleh as-Safuri).

Jadi, itu adalah Rahmatan li ‘l-Ummah, Allah (swt) memberi kita kesempatan untuk melakukannya.  Saya akan menyebutkan sebuah sebuah kisah dari kitab Nuzhatu ‘l-Majalis dan di dalam Rawdhatu ‘l-Afkaar:

مر عيسى بن مريم عليه السلام على جبل فرأى فيه صخرة بيضاء فطاف بها عيسى وتعجب منها، فأوحى الله إليه أتريد أن أبين لك أعجب ممارأيت، قال: نعم فانفلقت الصخرة عن رجل بيده عكازة خضراء وعنده شجرة عنب، فقال: هذا رزق كل يوم، فقال: كم تعبد الله في هذه الحجر، فقال: منذ أربعمائة سنة، فقال عيسى: يارب ما أظن أنك خلقت خلقاً أفضل منه، فقال: من صلى ليلة النصف من شعبان من أمة محمد صلى الله عليه وآله وسلم ركعتين فهو أفضل من عبادته أربعمائة عام، قال عيسى: ليتني من أمة محمد صلى الله عليه وآله وسلم

Sayyidina `Isa (as) melewati sebuah gunung dan beliau melihat sebuah batu berwarna putih di sana. Beliau berjalan mengelilinginya dan tercengang melihatnya.  Kemudian Allah (swt) mewahyukan kepadanya, “Maukah engkau Kutunjukkan sesuatu yang lebih menakjubkan dari apa yang kau lihat di sini?” Beliau menjawab, “Ya.”  Kemudian batu itu pun terbelah. (Nuzhat al-Majalis oleh as-Safuri)

Seperti halnya Nabi-Nabi lainnya, Sayyidina `Isa (as) sering bepergian di padang pasir atau hutan untuk melakukan suatu siyaaha, perjalanan.  Dalam perjalanannya, fa ra’aa fiihi sakhratun baydaa’ “Ketika beliau menemukan sebuah batu putih yang besar dan sangat bersih.” Fa-taafa bihaa `Isa, “Beliau berjalan mengitarinya dan berpikir, ‘Betapa mengagumkannya batu ini.’ Wa ta`ajjaba minha, “Beliau tercengang pada batu putih yang indah yang ada di sana di tengah-tengah daerah antah berantah.”  Fa-awha ‘Llahu ilayh, “Allah mewahyukan kepadanya, a-turiidu an ubayyina laka a`jaba mimmaa ra’ayt, ‘Maukah engkau Kutunjukkan sesuatu yang lebih menakjubkan dari apa yang kau lihat di sini?’  Sayyidina `Isa (as) mengatakan, qaala na’am, ‘Ya, aku ingin melihatnya.’”

Fa anfalaqat as-sakhrah, “Batu itu pun terbelah,” seperti dalam kisah tiga orang yang berlindung di dalam gua, Nabi (saw) menyebutkannya dalam sebuah Hadits, gua itu tertutup oleh sebuah batu dan setiap orang menceritakan pengalamannya tentang ibadah terbaik yang mereka lakukan untuk Allah, kemudian batu itu terbuka sehingga mereka bisa keluar.  Jadi ketika Allah berkata kepadanya, “Maukah engkau Kutunjukkan yang lebih hebat dari itu?” Nabi `Isa (as) menjawaba, “Na`am yaa Rabbii.” Fa anfalaqat as-sakhrah `an rajulin bi yadihi ukaazah khadraa. “Batu itu pun terbelah dan ada seorang pria yang duduk di sana dengan sebuah tongkat hijau.”  Wa `indahu syajaratu `inab, “dan di sampingnya terdapat sebatang pohon anggur.”

Hal itu lebih mencengangkan, bagaimana sebatang pohon anggur dan pria itu hidup di dalam batu itu, karena Allah berfirman, infalaqat, “Batu itu terbelah dan mereka pun terlihat.”  Orang itu berkata kepada Sayyidina `Isa, “Wahai `Isa,” ia langsung menyebutkan namanya.  Sayyidina `Isa (as) lebih terkejut lagi dan berpikir, “Bagaimana ia bisa mengetahui namaku?” Fa qaala hadza rizqu kulli yawm, “Ini adalah milikku, Allah mengirimkannya kepadaku.  Aku tidak peduli dengan dunia, aku hanya peduli dengan Akhirat, dan orang yang peduli dengan Akhirat, Allah akan memberi mereka rezeki [bahkan] di dalam sebuah batu.”  

Kita mengejar dunia seolah-oleh kita tidak melihatnya, kita menginginkan semuanya dalam kantong kita.  Kita tidak bersyukur kepada Allah (swt) bahwa Dia telah memberi kita kepala, mata, telinga dan hidung untuk mengucapkan, “Laa ilaaha illa-Llah Muhammadun Rasuulullah.”  Dia memberi kita lidah untuk membuat kita senantiasa berdzikir.  Dia memberi kita hati untuk menjaga dzikrullah!  Orang itu menyembah Allah di dalam batu dan Allah mengirimkan rezekinya di sana.  Jangan terkejut, mereka ini adalah para anbiyaa. Allah memberi tanda-tanda kepada mereka, karena kehidupan mereka adalah untuk Allah (swt), tetapi kehidupan kita adalah untuk diri kita, kita tidak hidup untuk Allah (swt), kita adalah hamba yang lemah dan tidak berdaya, kita tidak bisa seperti mereka.  Namun kita dapat mengambil teladan dari kisah-kisah mereka. 

Hadza rizq kulli yawm, fa qaala kam ta`budullah fii hadzihi ‘l-hajar, “Sudah berapa lama engkau beribadah di dalam batu itu?”  Fa qaala, mundzu arba`a mi’ata sannah, “Aku sudah berada di dalam batu itu selama empat ratus tahun.”  Sebelum Ummat an-Nabi (saw) dan Ummat Bani Israiil hingga ke Sayyidina `Isa (as), orang-orang terdahulu berumur panjang, sekarang tidak seperti itu.  Faa qaala `Isa, yaa Rabb, beliau terkejut karena orang itu bergantung kepada Allah sepenuhnya; Allah mengirimkan makanan untuknya.  Sayyidina `Isa (as) berkata, “Yaa Rabb, ma azhunnu annaka khalaqta khalqan afdhala minhu,” “Wahai Tuhan, aku pikir Engkau tidak menciptakan orang yang lebih baik darinya, sebagai seorang manusia, sebagai seorang makhluk.” 

Allah (swt) mewahyukan kepadanya, laa yaa `Isa, “Jangan berkata begitu wahai `Isa,” Fa qaal, yaa `Isa, man shalla Laylat al-nishf Sya`baan min Ummati Muhammad shall`Allahu `alayhi wa-sallam bi raka`tain fa huwa afdhal min `ibadatihi arba`a mi’ata `aam, “Karena ini adalah bulannya Sayyidina Muhammad (saw), barang siapa yang melakukan shalat dua rakaat di bulan Sya`ban, terutama pada malam kelima belas bulan Sya`ban, itu lebih baik daripada ibadah selama 400 tahun.”  

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyerukan untuk berbuat yang makruf, dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah. (Surat Aali-`Imraan, 3:110)

“Kalian adalah umat terbaik yang telah dilahirkan untuk manusia, Ummat an-Nabi (saw).” Allah mengaruniakan berbagai rahmat dan ampunan, walaupun kita tidak banyak melakukannya, Allah mengaruniakan umat ini segala sesuatu untuk Akhirat, sudah disiapkan untuk kita di Surga, insyaa-Allah.  Itu tidak berarti bahwa kita bisa sombong, Allah (swt) mengaruniainya kepada kita karena Dia menjadikan kita sebagai bagian dari Ummat an-Nabi (saw), kehormatan itu adalah untuk Nabi (saw), Allah (swt) memuliakan Nabi (saw) untuk Ummatnya, untuk shalat dua rakaat dan memberi mereka `ibadaat saa’ir al-umam bi arba`a mi’ata `am.

Dia memuliakan Ummat an-Nabi lebih dari Dia memuliakan Ummah lain karena Sayyidina Muhammad (saw)!  Itulah sebabnya mengapa, Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim, wa law annahum idz zhalamuu anfusahum jaa’uuka fa astaghfaruullaah, “Ketika mereka telah menganiaya dirinya, satu-satunya jalan keluar adalah dengan mendatangimu yaa Muhammad (saw),” sebagaimana firman Allah di dalam kitab suci al-Qur’an.

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Jika sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (Surat an-Nisaa, 4:64)

Jadi kehormatan itu adalah untuk Nabi (saw) karena Allah mengampuni kita melalui beliau!  Semoga Allah (swt) mengampuni kita. 

Banyak syuyukh yang mengatakan, kaana ash-shaalihuuna yuhafizhuuna `alaa shalaati ’t-tasaabiih fii syahri sya`baan: Pada Hari Kiamat, Allah akan bertanya pada kita, “Apakah kalian melakukan Shalaat at-Tasaabiih di bulan Sya`ban?” sebagaimana Nabi (saw) telah menyebutkannya ketika beliau menunjukkan Shalaat at-Tasaabiih kepada para Sahaabah (ra), bahkan jika kalian melakukannya sekali seumur hidup, kalian akan masuk Surga, insyaa-Allah.

[Doa penutup khotbah.]

http://sufilive.com/The-Significance-of-the-Holy-Month-of-Rajab-and-Shaban-LS–6190.html
© Copyright 2016 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

Waspadalah di Bulan Muharram

448c42289d04f01857325643bd302ab7

Sultan al-Awliya Mawlana Shaykh Nazim al-Haqqani
Lefke, Siprus, 16 November 2011
(Diterjemahkan dari bahasa Arab)

Sesungguhnya tahun ini adalah Haji al-Akbar, tetapi mereka (para Awliyaullah) menundanya satu hari karena para Awliya berkumpul di Arafat pada tahun ini, dan mereka tidak ingin bila orang-orang berada di sana tahun ini.  Hari pertama bulan Muharram akan jatuh pada hari Sabtu (26 November 2011). Bulan Dzul Hijjah ini ada 29 hari, artinya Sabtu lebih tepat. 

Allah (swt) mengetahui apa yang akan terjadi di bulan Muharram, oleh sebab itu jika tidak ada keperluan yang mendesak atau keperluan yang sangat mutlak, tidak perlu melakukan perjalanan, tidak ke Amerika, tidak ke Eropa.  Kalian harus mengambil langkah-langkah pencegahan, lebih hati-hati dan waspada. 

Mungkin Perang Dunia III akan bermula di Timur Tengah dan pasukan Russia akan masuk ke dataran Amuq di Suriah.  Perang akan terjadi. Allah (swt) akan membuat Islam berjaya. Allah memberi dukungan dan membuka jalan ke Turki.  Allah akan membuka jalan ke Istanbul. Dari sana Sultan akan datang dan masuk ke Istanbul, dan Imam Mahdi (as) sudah ada dalam pergerakan ini, tetapi beliau belum muncul. 

Mungkin peristiwa ini akan terjadi di bulan Rajab atau setelahnya, ketika Imam Mahdi (as) akan masuk ke Istanbul.  Ini artinya daerah di Timur Tengah sedang bergolak. Pasukan akan datang dari Damaskus dan mereka berperang melawan tentara Russia.  Tangan Imam Mahdi (as) bersama pasukan itu, tetapi beliau sendiri belum muncul.  

Saya tidak merasa takut, tetapi lebih berhati-hati dengan terjadinya Armageddon ini karena waktunya sudah sangat dekat!  Oleh sebab itu orang-orang harus berhati-hati dan mengambil langkah-langkah pencegahan di bulan Muharram. Mereka tidak boleh pergi ke sana ke mari bila tidak ada keperluan yang mendesak.  Setiap orang harus tinggal di daerahnya dan tinggal di rumah-rumah mereka.

Udkhuluu masaakinakum, “Masuklah ke dalam sarang-sarangmu!”  

قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Qaalat namlatun yaa ayyuha ‘n-namlu ‘dkhuluu masaakinakum laa yahthimannakum Sulaymaanu wa junuuduhuu wa hum la yasy`uruun.

Salah satu semut berkata, “Wahai semut-semur!  Masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kalian tidak diinjak oleh Sulayman dan bala tentaranya. (an-Naml, 27:18)

Itu artinya jangan pergi keluar rumah kecuali ada keperluan yang mendesak.  Tinggallah di dalam rumah kalian, karena orang-orang yang tinggal di dalam rumahnya akan aman dan selamat, tetapi orang-orang yang keluar dari rumahnya, mereka berada dalam bahaya karena sesuatu bisa menghantam mereka. 

Oleh sebab itu, setiap orang sesuai dengan situasi dan kondisinya harus menyimpan persediaan (makanan) di rumah-rumah mereka sehingga mereka tidak perlu keluar rumah.  Kalian tidak pernah tahu kapan toko-toko sembako itu akan tutup sehingga kalian tidak bisa mendapat apa-apa, dengan demikian kalian hanya bisa mendapatkan sesuatu yang ada di rumah kalian.  Dari persediaan yang kalian buat untuk kalian dan keluarga selama dua puluh hari, dengan izin dan berkah ilahiah, itu akan cukup untuk empat puluh hari. Jika seseorang mampu membeli lebih, melebihi keparluan keluarganya dan ia ingin memberikan kepada orang-orang miskin yang datang ke pintunya, ia juga dapat menjangkau mereka.  Dengan Kemurahan Allah dan dengan Nikmat dan Keberkahan-Nya, jika kalian membelanjakan harta kalian untuk orang-orang miskin, Allah (swt) akan menambah rezeki kalian di rumah tanpa kalian sadari, kalian paham?  

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim… (doa).  Semoga apa yang kita makan dan kita minum memberikan kekuatan kepada tubuh kita, memberikan cahaya kepada hati kita dan menyembuhkan dada kita, demi kemuliaan Nabi (saw), para Sahabatnya (ra), syuyukh kita, Um Hiram (ra), Hajjah Amina (q) dan para pengikut, dan orang-orang yang beriman, 

al-Faatihah.

(Apakah instruksi ini untuk semua orang?) Ya, tentu saja ini untuk semua orang, khususnya bagi mereka yang tinggal di Timur Tengah.

Zamannya Shaahib uz-Zamaan telah tiba.  Tidak perlu pergi ke luar negeri. Jika memungkinkan mereka harus menjaga diri mereka.  Jika ada sesuatu yang terjadi di rumah kalian, ambil wudhu, shalat dua rakaat dan duduklah di sana; tidak ada yang dapat menyentuh kalian. Alhamdulillah, barakat.

(Kapankah ini?)  Sepanjang bulan Muharram, segala sesuatu akan jungkir balik!

[selesai]