Keutamaan Bulan Rajab

6e5fc588-7303-42f8-a50e-5825d34e0d55

Nabi (saw) telah menegaskan bahwa Rajab adalah bulannya Allah (swt), Sya’ban bulannya Nabi (saw), dan Ramadan adalah bulannya umat. Itu artinya Rajab adalah persiapan bagi setiap orang untuk berjumpa dengan Nabi (saw) di bulan Sya’ban, dan di bulan Sya’ban kita berpuasa dan memuji Allah (swt) serta Nabi (saw) untuk mempersiapkan diri memasuki Ramadan. Dan Sayyidina Muhammad (saw) bersabda, “Barang siapa yang berpuasa satu hari di bulan Rajab, Allah (swt) akan senang terhadapnya dan ia akan memperoleh rida Allah (swt) dan tingkat tertinggi dari Jannat al-Firdaus.”

Dan Nabi (saw) bersabda,
Hormatilah Rajab, bulannya Allah, Allah akan memberi penghormatan bagi kalian.
Penghormatan Allah tidak seperti penghormatan kita; penghormatan kita adalah penghormatan biasa. Kita adalah orang yang lemah, tidak berdaya dan lalai. Penghormatan kita tidak diperhitungkan, tetapi Allah (swt) berfirman, “Jika engkau memberi penghormatan kepada-Ku di bulan Rajab, Aku akan memberimu penghormatan.” Dikatakan bahwa pada Hari Kiamat, Allah akan memberi 1000 penghormatan bagi setiap hari yang diisi dengan puasa selama bulan Rajab!

(Melanjutkan hadits) “Dan barang siapa yang melakukan ghusl (mandi) pada hari pertama di bulan Rajab dengan niat memasuki hari pertama bulan Rajab dan pada hari ke-15 serta hari terakhir, Allah (swt) akan menghapus seluruh dosanya seolah-olah ia bagaikan baru dilahirkan.”

Allah (swt) memberi kita banyak jalan untuk menyelamatkan kita, untuk menjadi suci, dan bahagia di dunia dan akhirat. Nabi (saw) bersabda, “Kehormatan Rajab dibandingkan bulan-bulan yang lain bagaikan kehormatan al-Qur’an di antara kitab-kitab yang lain.”

Shaykh Hisham Kabbani

Apa yang Terjadi setelah Kematian?

246446_10150880228999335_2143551206_n

Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ق
Shuhba, 10 Desember 2004
Jakarta, kediaman Bapak Tony

 

Ketika kalian dimasukkan ke liang kubur, orang-orang pun melemparkan tanah pada kalian.  Itu adalah sunnah. Apa alasannya? Setiap butir tanah akan menyerap jasad orang yang meninggal.

Habil dibunuh oleh Qabil. Allah (swt) menunjukkan bagaimana mengubur jasad tersebut. Jika manusia tidak belajar bagaimana mengubur jasad orang yang meninggal, Mawlana Syekh (semoga Allah (swt) memberkahi beliau) berkata, “Jika jasad orang yang meninggal tidak tertutupi tanah, bau jasad itu  akan membuat orang di seluruh dunia jatuh pingsan.”

Tanah yang dibuat untuk mengubur jasad itu adalah rahmat, bila tidak dikubur semua orang akan mengutuk orang yang meninggal tadi karena bau busuk yang berasal dari mayatnya.

Artinya, ketika kalian menguburnya, kalian juga sedang menutupi aibnya.

Salah satu Asma Allah (swt) adalah Sattar, Dia Yang menutupi dosa. Dia sedang menutupi jasad dengan menguburnya. Kalian tak dapat melihat jasad itu di lantai, lalu hidup! Itulah ketakutan yang muncul dalam hati kalian.

Jika seseorang meninggal di rumah dan jasadnya dibiarkan di sana, orang pun akan merasa takut. Apa yang mereka takutkan? Kematian adalah heyba-penampakan yang agung- sesuatu yang gigih dalam tubuh, yang kalian rasakan  ketika akan melihat malaikat pencabut nyawa.  Allah (swt) membuat hal itu sebagai rahmat ketika kita menguburnya di dalam tanah. Jika berada di atas tanah, kalian takkan berselera untuk makan dan minum saat melihat jasad tersebut, ia kelihatan menjijikan.

Ketika seseorang meninggal, setelah beberapa hari, kalian tidak bisa makan dan minum. Kalian menguburnya karena gambaran yang menjijikan itu. Jika kalian jijik dan merasa takut padanya, tahukah kalian apa yang dirasakan oleh orang yang telah meninggal itu terhadap hukuman Allah (swt)?

Jawabannya, mereka sedang memanggil kalian.

Berapa banyak jasad yang sedang ketakutan akan siksaan Allah (swt) dan ketika dikirim Malaikat Munkar (as) dan Nakir (as).   Orang itu ditinggal sendirian, di bawah tanah, tak mampu bergerak ke kanan dan ke kiri karena ada tanah di sampingnya untuk menjaga agar jasad tetap lurus.

Setiap orang akan mati, tak seorang pun terlewatkan. Nabi (saw) bersabda bahwa Allah (swt) mengirim roh kembali ke jasad tersebut. Begitu roh dikembalikan, orang itu pun duduk tegak. Dahinya terantuk tanah.  Setiap kali dia ingin duduk kepalanya terantuk tanah. Saat itulah dia menyadari bahwa itu adalah kali terakhir dia berada di dunia.

Dia menyadari bahwa dia sedang berada di Akhirat.

Dua malaikat datang dan bertanya padanya, ”Siapa Penciptamu? Siapa pembawa pesan-Nya? Apa agamamu? Apa kitab sucimu?”

Jika lidah kalian membeku pada saat itu, kalian berada dalam bahaya. Jika lidah kalian tidak kelu dan mampu menjawab, maka kalian pun aman.

Itulah sebabnya dulu para Syuyukh memerintahkan murid-muridnya untuk menyendiri di dalam liang kubur, untuk mengajari mereka, “Suatu hari kalian akan seperti itu.”  Mereka pun sadar suatu hari pasti Allah (swt) akan memanggil mereka. Jika kita merasakan ini dan menyadarinya, kita tidak akan duduk berleha-leha. Kita akan duduk di pojok, berzikir, bershalawat dan membaca Quran, hanya memuji Tuhan kita dan menanti saat kematian.

Tetapi Allah (swt) membuat kita ghaafil, lalai; membuat kita sibuk dengan pekerjaan dunia.  Tanpa itu, dunia akan berhenti.  Jika Allah (swt) tidak membuat kita lalai, semuanya tak akan bergerak.

Para Awliya bukanlah orang-orang yang lalai. Itulah sebabnya setiap saat mereka selalu berzikir, setiap saat mereka mengikuti muridnya untuk mengawasi kelakuan mereka.  24 jam mereka mengawasi murid-muridnya.  Semoga Allah (swt) mengampuni dan menyelamatkan kita.

Saya sedang melihat dan teringat ketika dulu pernah melihat foto-foto dua orang wanita di dinding itu, dan saya teringat mereka meninggalkan semuanya dan pergi.  Kalian tidak akan membawa apa pun, walaupun hanya baju dan cincin. Berangkat dan pergi.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita.   Ini sangat sulit – bagaimana menghadapi kubur kita?

Rabi`a al-`Adawiyya (qs) sering berada di sini dan menangis seharian sambil beristighfar. Beliau berkata, “Bagaimana aku tidak beristighfar?  Sementara aku tak tahu bagaimana Sayyidina Izrail (as) akan mengambil nyawaku; dengan siksaan-siksaan atau dengan kebaikan?”

Jika kalian tahu, maka semuanya akan lancar;  tetapi tak seorang pun yang tahu!

Bi hurmati ’l-Fatihah.

Pentingnya Seorang Mursyid (Pembimbing Jalan Ruhani)

17103408_1272525859468431_4223710434948260787_n

Panduan adalah penting. Jika kalian tidak memiliki seorang pemandu yang membimbing kalian menuju tujuan kalian, maka kalian akan menjumpai banyak kesulitan sepanjang jalan kalian. Ketika kalian pergi ke suatu gurun pasir, mereka berkata kepada kalian, “Berhati-hatilah, jangan pergi memasuki padang pasir, karena kamu akan menderita.” Mereka mungkin tetap akan menunjukkan padamu awal dari perjalanan memasukinya itu. Sekalipun demikian, kalian tetap memerlukan seorang pemandu yang akan menunjukkan pada kalian perjalanan berikutnya melalui gurun pasir tersebut. Mengapa demikian? Karena di padang pasir segala sesuatunya nampak serupa. Ketika angin berhembus, pasir pun bergerak, dan kalian tersesat dengan mudahnya. Seorang pakar, seorang pemandu dapat membawa kalian bergerak di jalur yang benar bahkan seandainya angin bertiup dan dalam dua atau tiga hari kalian dapat melalui gurun pasir tersebut dan mencapai sisi lainnya.

Demikian pula, untuk mencapai Tuhanmu, kalian tak akan pernah menjumpai jalan kalian melalui gurun pasir kehidupan ini kecuali dengan bantuan seorang Pembimbing, karena angin hasrat-hasrat keakuan serta keinginan-keinginan semu mengubah segala sesuatunya. Sang ego memiliki hasrat-hasratnya sendiri. Angin sang ego adalah hasrat-hasrat kosong dan gairah-gairah semu. Ketika hasrat dan gairah semu ini mendatangi ego kalian, mereka menyelubungi jalan yang benar bagi kalian. Kalian pun tersesat. Kalian berhenti dan menjadi tidak tahu bagaimana melanjutkan perjalanan kalian. Untuk itulah kalian memerlukan seorang Pemandu yang juga adalah seorang pakar tentang jalan-jalan di padang pasir kehidupan ini. Ia mestilah seorang pakar dalam jalan-jalan yang dapat melampaui sang ego. Jika kalian tidak mampu menemukan seorang Pembimbing seperti itu, maka kalian hanya menghabiskan waktu kalian dalam berusaha mencapai Tuhan kalian dalam hidup ini.

Tuhan adalah Maha Pengasih. Jika kalian berusaha mencapai-Nya, kalian akan mencapai-Nya juga pada akhirnya, bahkan sekalipun tanpa seorang Pemandu, tetapi kalian tak akan mencapai-Nya dengan cepat. Kalian kehabisan waktu, dan tidak mengalami kemajuan. Begitu kalian menemukan seorang Pemandu dan kalian menerima untuk mengikutinya untuk menunjukkan pada kalian jalan singkat melalui hasrat-hasrat sang ego serta kehendak sang ego, yaitu keinginan-keinginan dan gairah-gairah semunya, maka kalian akan mendapati diri kalian mencapai sisi yang lain. Jika kalian tidak menemukan Pemandu itu, kalian akan tersesat di Gurun Pasir Kehidupan yang luas ini.

Ketika Nabi (SAW) diperintahkan untuk berhijrah dari Makkah menuju Madinah, beliau berkata, “Aku memerlukan seorang Pemandu.” Beliau seorang nabi. Untuk apakah beliau memerlukan seorang pemandu? Untuk mengajarkan pada kita bahwa sekalipun beliau seorang nabi, beliau masih memerlukan seorang pemandu, seorang pemandu eksternal untuk menunjukkan pada beliau jalan menuju Madinah. Sebagai contoh, katakanlah kita sedang menunjukkan pada anak saya jalan menuju ke Air Terjun Niagara. Kita tidak mengetahuinya, maka kita mencari seorang pakar, insya Allah, seorang pakar yang baik yang tidak akan memberikan pada kita arah yang salah! Nabi Muhammad (SAW) adalah seorang Nabi, namun beliau tetap meminta seorang pemandu. Apakah beliau tidak tahu jalan? (Haasya!) Sedangkan ‘Isa (‘alayhissalam) pun mengetahui akan ada yang mengkhianati beliau ketika beliau berkata, “Salah seorang di antara kalian akan mengkhianatiku.” Dan hal itu betul-betul terjadi kemudian.

Sebagai Muslim, kita mempercayai hal ini. Beliau (‘Isa ‘alayhissalam) berkata “Salah seorang di antara kalian”, apakah ia tidak tahu? Ia mengetahuinya, tetapi ia tidak membuka atau memberitahu siapa orangnya. Para Anbiya’ mengetahui, tetapi mereka ingin menunjukkan kelemahan diri dan kerendahan hati sepenuhnya. Nabi Muhammad (SAW) juga mengetahui jalan untuk pergi dari Makkah menuju Madinah, tetapi beliau tengah mengajarkan pada kita untuk mencari seorang Pemandu/Pembimbing. Mereka membutuhkan seorang Pemandu untuk menunjukkan pada mereka jalan dari Makkah menuju Madinah. Mereka mencapai Madinah dengan selamat dengan bantuan dan bimbingan Pemandu tadi.

Jika kita memerlukan seorang pemandu untuk menyeberangi suatu padang pasir, bagaimana pula dengan kehidupan ruhaniah kita? Ini jauh lebih sulit. Tentu saja kalian memerlukan seorang Pembimbing untuk hal ini, dan itulah mengapa Nabi (SAW) memiliki seorang Pembimbing pada diri Malaikat Jibril (‘alayhissalam) yang membawakan pada beliau ilham-ilham dan Wahyu.

Nabi (SAW) dibimbing oleh Jibril ‘alayhissalam menuju Hadirat Allah pada Malam Mi’raj, malam ketika Nabi pergi menjumpai Tuhannya. Jadi, beliau memerlukan seorang pembimbing eksternal (fisik) ketika beliau berhijrah dari Makkah ke Madinah. Secara internal (ruhani), beliau memerlukan seorang pembimbing ketika beliau berhijrah menuju Tuhannya di Malam Mi’rah. Adalah mustahil untuk berhijrah tanpa menggunakan suatu wasilah. Tanpa wasilah (melalui Sang Pembimbing) kalian tak mampu mencapai kemanapun jua.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Berserahdirilah kepada Allah Ta’ala!

17022468_1272518766135807_3119648654061690335_n

Pasrahlah kepada Kehendak Tuhan.  Berserahdirilah kalian!  Hancurkan batas yang ada antara dirimu dan Tuhanmu.  Jika engkau tidak menghancurkannya, engkau tak akan mampu berserah diri.  Batas itu adalah ‘Engkau’ dan ‘Aku’. Kalian mengatakan pada Tuhan kalian, ‘Engkau,’ dan kalian mengatakan pada diri kalian sendiri, ‘Aku.’ Semestinya kalian tidak mengatakan, ‘Aku.’ Kalian mesti mengatakan ‘Engkau’ setiap saat.

Tak ada ‘Aku’ dalam laku berserah diri dan pasrah kepada Kehendak Tuhan. Jika masih ada ‘Aku’, itu artinya kalian belum berserah diri kepada Tuhan. Kalian perlu berjuang memerangi ego kalian hingga ego kalian berkata, ‘Aku tak wujud lagi.’ Ketika kalian mencapai titik itu, Tuhan akan memperlihatkan Diri-Nya kepada kalian. Seorang Waliyullah besar pernah berkata, ‘Aku melihat Tuhanku dengan mata Tuhanku.’ Ini artinya, ‘Aku tak dapat melihat dengan kedua mataku sendiri.’ Ia tidak memiliki penglihatan apa pun kecuali melalui Tuhannya. Diri sang wali telah lenyap, dan Tuhannyalah yang muncul.

Ketika Tuhan kalian muncul, kalian dapat ‘melihat’ Tuhan kalian. Sekelompok orang beraliran spiritual tertentu menyebut pengalaman ini sebagai ‘kekosongan paripurna’. Mereka mencapai suatu tingkatan di mana tak ada apa pun lagi. Ketiadaan Mutlak. Mereka berkata, ‘Kami telah mencapai kesempurnaan.’ Memang mereka telah mencapai sesuatu, tetapi tingkatan itu bukanlah kesempurnaan. Mereka tak mampu untuk menyeberanginya dan mencapai tingkatan setelahnya, karena itulah mereka berpikir bahwa tingkatan itu adalah tujuan tertinggi. Ketika kalian mencapai ketiadaan, kalian tengah berdiri di depan pintu kewujudan penuh dalam Kewujudan Tuhan.

Ketika beberapa kaum spiritual mencapai kekosongan paripurna, mereka memerlukan suatu cara untuk menyeberang. Mereka tidak menemukan cara itu. Semestinya, dengan cara atau sarana itu, mereka dapat menyeberang dan menemukan kewujudan paripurna. Lawan dari ketiadaan mutlak, pasti ada kewujudan mutlak, sebagaimana lawan dari ciptaan, pasti ada Tuhan, Sang Pencipta. Ada suatu jembatan di antaranya.

Untuk menyeberang dari yang satu ke yang lai, kalian mesti melalui jembatan tersebut. Tuhan berfirman dalam suatu Hadits Qudsi, ‘Aku adalah Harta Tersembunyi yang Tak Diketahui, dan Aku ingin untuk diketahui, maka Aku ciptakan Makhluq.’ Jika kalian tidak melihat-Nya, kalian akan berfikir tentang ketiadaan, ketidakwujudan. Tidak. Ketika kalian mencapai kekosongan paripurna-dan ini adalah suatu maqam yang tinggi-kalian mesti menemukan jembatan yang dapat membawa diri kalian ke kewujudan paripurna yang berada di seberang maqam ketiadaan paripurna tadi, karena ada suatu tingkatan yang lebih tinggi, dan suatu tingkatan yang masih lebih tinggi lagi daripada itu.

Sebagaimana Allah (swt) telah berfirman, ‘’dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi lebih mengetahui.” (QS. Yusuf, 12:76). Kita harus pula memahami bahwa ‘Di atas setiap orang yang memiliki suatu maqam ada seseorang lain yang berada di maqam lebih tinggi.’ Ia yang berada di atas dapat melihat ia yang berada di bawahnya, tetapi yang di bawah tidak mampu melihat yang di atasnya. Bagaimana kemudian kita bisa mengatakan bahwa tingkatan yang kita berada di atasnya adalah suatu tingkatan terakhir? Kita tak mampu melihat di atas tingkatan kita. Karena itulah, Allah memperingatkan kita bahwa seseorang tak mampu mengetahui seluruh pengetahuan tak peduli seberapa dekat ia telah mendekati. Kalian hanya akan memiliki sebagian dari pengetahuan itu.

Pengetahuan sempurna hanya dimiliki oleh-Nya. Karena itu, janganlah mengatakan seperti apa yang mereka katakan ketika mereka mencapai kekosongan sejati, ‘Ini adalah tingkatan terakhir.’ Memang tingkatan itu adalah suatu tingkatan yang cukup tinggi dan berharga bagimu, tetapi pasti ada seseorang yang Allah telah tempatkan lebih tinggi darimu.

Jangan meremehkan kekuatan Tuhan. Tuhan tak pernah dapat dibatasi. Ada tak berhingga banyaknya maqam dan tingkatan. Kemana pun dirimu telah mencapai, masih ada lagi maqam-maqam berikutnya.

Mawlana Syaikh Hisham Kabbani
http://www.naqsybandi.com

Bersyukur atas Nikmat Allah

17016071_10154396621540886_1273409547835399855_o

“Orang-orang zaman sekarang menyukai fitnah dan suka untuk membuat kebingungan, untuk apa? Hasad, yaitu untuk kedengkian semata. Berbahagialah dengan apa yang Allah (swt) telah berikan kepadamu. Jika engkau benar-benar seorang Muslim, jangan iri atas apa yang orang lain punya, jangan melihat ke atas, tetapi melihatlah ke bawah, lihatlah pada para tunawisma, dan Allah (swt) telah menghindarkanmu dari menjadi tunawisma. Renungkan dan syukuri apa yang Allah (swt) telah karuniakan kepadamu namun tidak kepada mereka. Inilah yang engkau perlu lakukan, untuk tidak memandang jijik pada mereka, namun bersyukur atas karunia-Nya padamu.”

Shaykh Hisham Kabbani
http://www.naqsybandi.com

Makna Mendalam dari Alif, Lam dan Miim

16729499_1251521948235489_5473584841732476402_n
 
Jadi, Awliyaullah (para Kekasih Allah) dapat melihat para pengikut (murid) mereka dengan melihat bintang-bintang mereka. Setiap orang memiliki suatu bintang yang selalu berada di hadirat Nabi (saw), karena ilayhi yantahi ‘l-amr, segala sesuatu bermuara kepada beliau. Sebagaimana kami mengatakan kemarin tentang “Alif. Lam. Miim.” Penciptaan bermula dengan Alif, namun ia tersembunyi di dalam Muhammadun Rasuulullah. Rahasia Nama-nama dan Sifat-sifat Indah (Al-Asma’u l-Husna wa ‘s-Shifatu ‘l-’Ulya) adalah proyeksi penampilan dari haqiqat Yaa’ yang berada di antara dua Miim (pada pembacaan huruf Miim, red.). Alif. Lam. Miim: Alif adalah Allah (swt), ia mengacu kepada Allah (swt), Lam menunjuk kepada Jibril (‘alayhissalam), dan Miim menunjuk kepada Nabi (saw). Jadi huruf terakhir dibaca “Miim”, kalian tidak dapat membacanya sebagai ‘maa’, karena dalam daftar abjad, kalian mesti mengucapkannya “Miim”. Dan “Miim” dieja sebagai Miim, Yaa, Miim.
 
Jadi Miim pertama mengambil dari Jibril, dan Miim kedua mengambil dari Miim pertama. Namun apa yang diambil tadi akan direduksi, dikurangi agar dapat diterima oleh orang-orang. Jadi, Miim pertama mewakili Nabi (saw), sebab beliau berada di Hadirat Ilahi untuk menerima Wahyu. Miim kedua mengambil dari Miim pertama, tetapi ia seperti suatu kondenser atau suatu transformator yang menurunkan tegangan listrik dari jaringan listrik, masuk dengan tegangan 360 Volt, untuk diturunkan menjadi tegangan yang lebih rendah ke rumah-rumah sehingga kawat/kabel listrik di rumah dapat membawa listrik itu. Tidak semua orang dapat memegang listrik bertegangan 360 Volt, (kalau tidak percaya) coba pegang kabel listrik tegangan tinggi itu!
 
Jadi di antara kedua Miim tadi ada Yaa’, yang dalam gramatika bahasa Arab ekuivalen dengan Alif. Kalian belajar hal ini? Yaa’ adalah Alif dalam tata bahasa Arab. Jadi dalam Yaa’ segala sesuatunya tersembunyi karena dari Miim pertama yang wajahnya menerima (wahyu) di Hadirat Ilahi, dan selalu dalam keadaan ‘ubudiyyah (penghambaan), sebagaimana tecermin dalam kalimat “Laa ilaaha illa-Llaah Muhammadun Rasuulullah,” sejak permulaan, Muhammadun Rasulullah berada di sana, menerima dari Hadirat Ilahi dan meneruskannya ke Yaa’.
 
Di antara kedua Miim ini, seluruh pengetahuan tersembunyi di dalam Yaa’. Apa-apa yang perlu untuk diketahui, akan muncul seperti tetesan-tetesan air dari sebuah samudera, muncul dari Yaa’ yang tersembunyi dalam Miim di Muhammadun Rasuulullah, dan semua berasal dari rahasia-rahasia Nama-nama dan Sifat-sifat Indah Allah yang Allah kehendaki untuk diketahui Nabi (saw) dan untuk muncul bagi alam semesta ini.
 
Semua ini tersembunyi pada tempatnya di dalam Yaa’ di antara kedua Miim. Dari Yaa’ itu, tajali-tajali (manifestasi) di sini dan di sana dikaruniakan pada manusia, setelah dikurangi dan disesuaikan oleh Nabi (saw) agar mereka mampu memikul tajali-tajali ini, sedangkan Haqiqat dari Dzat (Esensi) tetap tersembunyi di sana. Tak seorang pun mengetahuinya kecuali Nabi (saw), dan itu pun sebanyak apa yang Allah (swt) telah wahyukan bagi beliau.
 
Itulah sebabnya mengapa beliau dibawa ke maqam “Qaaba Qawsayni aw Adna” (QS. An-Najm, 53: 9) secara fisik (dalam peristiwa Mi’raj, red.), karena secara spiritual beliau sudah ada di sana. Beliau (saw) berada di Hadirat Ilahi, dalam maqam ‘ubudiyyah (penghambaan). Sekarang menurut kalian, apakah beliau berada di sana sendirian ataukah menurut kalian beliau membawa seluruh umat ini bersama beliau? Beliau membawa seluruh umat bersama beliau.
 
Yang kedua, apa-apa yang Allah karuniakan pada beliau di sana tersembunyi dalam Yaa’. Tak seorang pun tahu. Seluruhnya milik Allah (swt). Apa yang Allah (swt) perintahkan Nabi (saw) untuk katakan, beliau akan mengatakannya. Karena itulah, tak seorang pun pernah mendengar Jibril (‘alayhissalam) dan bagaimana ia menyampaikan wahyu Al Quran Suci dan dengan suara apa. Apakah Jibril membuka suatu kitab dan membacanya? Tidak, ia menuangkannya ke dalam qalbu. Awliyaullah menerima dari Miim kedua. Tak seorang pun dapat menyentuh Miim pertama. Apa yang datang dari Yaa’, Allah telah meletakkan seluruh rahasia itu di sana, sehingga karena itulah Ia (swt) memanggil Nabi-Nya (saw), “Yaa Siin”. Yaa’ dan Siin. Siin selalu digunakan sebagai indikasi masa depan, di dalam Hadits maupun Qur’an Suci. Misalnya, “Sa-takuunu fitanun”, akan muncul fitnah; “sa-yakuunu dzaalik”, hal itu akan terjadi. Siin adalah indikasi masa depan. Artinya, apa pun yang berada di dalam Yaa akan dibuka di masa depan.

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda [kekuasaan] Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. (Quran Surat al-Fushshilat, 41:53)
 
“Kami akan perlihatkan kepada mereka Ayat-Ayat Kami di segenap ufuk.” Karena itulah, Yaa muncul lebih dahulu, dan Siin muncul kemudian. Artinya, “Kami akan tunjukkan kepada mereka”, ‘Sa’, kami akan perlihatkan kepada mereka Tanda-Tanda Kami. Saat ini, semua tersembunyi dalam Muhammadun Rasuulullah. Ketika Ayat-Ayat itu dilepaskan, pengetahuan yang tersembunyi di antara dua Miim akan diperintahkan untuk muncul, Nabi (saw) diperintahkan untuk mengirimkan kepada umat, tajali-tajali Nama-nama dan Sifat-sifat Indah Allah ini.
 
Sekarang kita berada di bawah tajali Nama al-Khaaliq, sedangkan Nabi (saw) berada di bawah keseluruhan 99 Nama-Nama dan Sifat-sifat Indah. Tetapi, 99 Asmaul Husna ini bukanlah sekedar Nama-nama, melainkan mereka adalah kelompok-kelompok 99 Nama-nama, bukan hanya satu kelompok 99 Nama. Ada tak terbatas jumlahnya kelompok 99 Nama-nama yang melalui mereka muncul tak terhingga jumlahnya proyeksi-proyeksi ciptaan, melalui kelompok yang satu atau kelompok yang lain dari Nama-Nama Ilahiah.
 
Mawlana Shaykh Hisham Kabbani.
 

Pentingnya memiliki Niat yang Baik

16835731_10154365063835886_772839708438681323_o

Setiap gerakan yang kalian lakukan dan setiap perbuatan yang kalian lakukan bergantung pada niyyah kalian: jika niyyat kalian adalah untuk Allah dan Nabi-Nya (saw) dan kalian ingin berbuat suatu kebaikan, kalian akan dikaruniai pahala atas kebaikan tersebut, bahkan seandainya kalian tidak jadi melakukannya, tetapi kalian telah meniatkannya, Allah (swt) akan mengaruniakan pahala bagi kalian. Jika seseorang berniat melakukan perbuatan itu untuk dunia, maka Allah (swt) akan memberinya bagian dari dunia dan melarang mereka mendapatkan bagian dari Akhirah, sesuatu yang tidak diinginkan kaum Muslimin dan Mukminin.

Karena itulah, Nabi (saw) menyuruh kita untuk berhati-hati, “Innama ‘l-a’maalu bi ‘n-niyyaat” artinya jika apa yang kalian niatkan dalam hati adalah untuk Allah dan Nabi-Nya (saw), maka itulah yang terbaik. Namun, jika yang kalian niatkan dalam hati adalah untuk suatu persekongkolan atau untuk bertengkar, atau untuk menunjukkan kesalehan dan ketulusan palsu sambil menyembunyikan ego negatif dan syaitani kalian, maka hijrah kalian, adalah untuk kenikmatan dunia belaka.

Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia