Dzikrullah Membawa Kita ke Maqam Tertinggi

17855142_10154509516290886_1807937837903623257_o

Dzikrullah membawa kalian ke maqam (tingkatan) tertinggi, dan maqam tertinggi itu adalah dengan membaca Al-Qur’an Suci. Bagaimana kalian dapat membaca Al Qur’an suci dengan cara yang paling sempurna? Alquran Suci adalah Sulthan adz-Dzikr, Rajanya Dzikir: tidak ada satu buku atau kitab pun yang menyerupai Kitab Suci Allah, bahkan seluruh Hadits-hadits Nabi (SAW) tidak dapat dibandingkan dengannya. Allah SWT mewahyukan Qur’an Suci kepada Nabi (SAW) dan Nabi (SAW) menyampaikannya kepada para Sahabat (radiyAllahu Ta’ala ‘anhum). Apakah haqiqat sejati dzikrullah? Hakikat dzikrullah adalah untuk mengingat-Nya, dan untuk mengingat-Nya adalah suatu hal yang amat mulia, tetapi mengingat-Nya saja tidaklah cukup.

Ketika kalian membaca Al-Qur’an Suci, Allah (SWT) ‘duduk’ bersama kalian, sebagaimana disebutkan dalam suatu Hadits (*), namun bukan berarti Ia SWT sungguh-sungguh ‘duduk’; arti yang sebenarnya ialah Allah (SWT) tengah hadir bersama kalian di Hadirat Ilahiah. Ia SWT membawa kalian ke Hadirat Ilahiah-Nya ketika kalian membaca Qur’an Suci. Jadi, jika kalian suka untuk berada di Hadirat Ilahi, bacalah Alquran Suci! Mungkin kalian tak melihatnya sekarang, namun jika seseorang mampu melihat Haqiqat segala sesuatu, mereka dapat melihat bahwa Qur’an Suci adalah bentuk tertinggi dari dzikrullah dan bahwa Allah Ta’ala membawa diri kalian lebih dekat dan lebih dekat kepada-Nya ketika kalian membacanya. Karena itulah ketika seseorang menyela kalian saat kalian membaca Qur’an Suci, hal ini bertentangan dengan etiket membaca Alquran. Ketika kalian tengah membaca Alquran, mereka tidak boleh menyela dan bercakap-cakap dengan kalian, dan kalian pun semestinya tidak berbicara dengan mereka.

Syaikh Hisham Kabbani.

Catatan:
(*) Hadits Qudsi dari Nabi SAW, “Ana jalisu man dzakaranii” “Aku duduk bersama orang yang berdzikir mengingat-Ku”. Hadits riwayat Imam Ad-Dailami dengan sanad dha’if, namun terdapat hadits dengan makna serupa dalam Sahih Bukhari, dengan matan:
وأنا معه إذا ذكرني
“Dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku”

Haul ke-3 Sultan al-Awliya Mawlana Syekh Nazim Adil al-Haqqani (q)

17554236_1636018516412432_5181135000999241624_n

Assalamu’alaykum wr.wb.
Kami mengundang seluruh murid, muhib, pecinta Mawlana Syekh Nazim Adil al-Haqqani (q) untuk hadir dalam acara Haul ke-3 Mawlana Syekh Nazim Adil al-Haqqani (q) bersama Mawlana Syekh Hisyam Kabbani di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia Jakarta pada hari Minggu, 9 April 2017 mulai Isya.

Terima kasih atas perhatiannya. wassalamu’alaykum wr.wb.

Majelis Nazimiyya Indonesia
Jl. Warung Jati Barat Raya No.9C Rt.012/09
Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan 12740
Telp: 021-79199468
Seluler: 0816-295-313

Mengapa Kita Memperingati Urs Seorang Wali

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
5 Mei 2015   Lefke, Siprus
Shuhbah di Dergah Mawlana Syekh Nazim

 

As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim. Alhamdulillahi Rabbi ‘l-`Alamiin, wa ’sh-shalaatu wa ’s-salaamu `alaa asyrafi ‘l-mursaliina Sayyidina wa Nabiyyina Muhammadin wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin. Alhamdulillahi yaa Rabb al-ladzii ja`altanaa min atbaa`i Sayyidinaa Syaykh Muhammad Nazim al-Haqqani wa ayyadtanaa bi ta`yiidin minhu wa `allamtanaa maa lam nakun na`lam wa haadza bi-fadl al-masyaaykh al-`izhaam.

Ya Allah!  Segala puji bagi-Mu bahwa Engkau telah membawa kami menjadi pengikut Mawlana Syekh Nazim–semoga Allah memberkati ruhnya.  Satu tahun telah berlalu dan saya tidak bisa menerima, bukan ‘menerima’ dalam arti sebenarnya, tetapi saya tidak dapat menggambarkan bahwa Mawlana meninggalkan dunia karena saya masih mengingatnya setiap saat dan bagaimana beliau berada di dalam kubur, bahwa beliau–sebagaimana Allah (swt) berfirman,

بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Tidak, mereka itu hidup di Sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (Surat Aali-`Imraan, 3:169)

“Mereka hidup di kubur mereka, yurzaquun,” mereka mendapat rezeki, berupa apa?  Apakah buah-buahan, daging, atau manisan?  Allah (swt) berfirman, “Mereka mendapat rezeki,” dan ketika Dia memberi rezeki kepada seseorang, itu artinya Dia menghiasinya dengan Khazanah Ilmu-Nya yang tak terhingga!  Allah (swt) menciptakan makhluk untuk mengenali-Nya.  Jadi ketika Allah membusanai awliya-Nya, itu adalah untuk lebih mengenali-Nya lebih banyak lagi, yang artinya untuk belajar.  Ketika kalian belajar di universitas, mereka membawa kalian dari gelar Sarjana menuju gelar Doktor, kalian meningkat pada setiap langkah, bukannya menurun.

أولياء الله تحت قبابي لا يعلمهم غيري

Awliya-Ku berada di bawah Kubah-Ku, tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Aku. (Hadits Qudsi)

Ketika Allah (swt) berkata, “Tidak ada yang mengetahui wali-Ku kecuali Aku,” dan “Mereka mendapat rezeki di Sisi Tuhannya,” itu tidak mudah, itu artinya orang yang berada di Hadirat Ilahi dilindungi dan Allah menjaganya bersama-Nya.  Ketika Allah telah memberi awliyaullah derajat rezeki itu, itu adalah derajat perlindungan dari Api Neraka, azab dan segala perbuatan Setan di dalam diri kita untuk para pengikutnya.  Ini adalah berkat kewaliannya dan karena ia berada di Hadirat Ilahi, bukannya di luar. Itu adalah salah satu makna dari yurzaquun; itu tidak berarti memperoleh sesuatu yang bersifat duniawi di dalam kubur, itu artinya kubur itu akan menjadi sebuah Surga.  Dan apa manfaatnya jika sebuah surga itu kosong, kalian duduk sendiri dan berkata, “Aku ada di Surga.”  Wali itu memerlukan sahabat dan kalian adalah sahabatnya dan juga anaknya, kalian adalah segalanya baginya, beliau duduk dengan para pengikutnya.

Tahun lalu di bulan Maret sebelum meninggalkan dunia, Mawlana Syekh Nazim (q) menyebutkan sesuatu, saya tidak tahu apakah ada yang memperhatikannya.  “Aku menginginkan sahabat-sahabatku, aku menginginkan sahabat lamaku, aku menginginkan murid-murid lamaku, aku merindukan mereka dan ingin bertemu dengan mereka.”  Jika Mawlana merindukan murid-murid lamanya, beliau juga merindukan murid baru karena yang baru menjadi lama, jadi itu artinya beliau merindukan semua orang!

Pertemanan dengan awliyaullah adalah penting.  Ketika Allah (swt) berfirman,

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

Ingatlah!  Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. [QS 10:62]

“Jangan takut mengenai awliyaullah, tidak perlu repot-repot untuk berusaha memahami level mereka, karena itu adalah mustahil.  Ia (wali itu) bersama kita dan bersama Nabi (saw).”  ‘Mendapat rezeki di kubur mereka’ maksudnya mereka berada dalam asosiasi bersama Nabi (saw) bersama umatnya, para awliya dan para anbiya di Hadirat Ilahi.  Itulah sebabnya apa yang kita lihat dari sisi luarnya sama sekali berbeda dengan sisi batinnya, seperti halnya ketika kalian mencari sebuah sumur dan kalian melihat air dari kejauhan, tetapi ketika kalian mendekat ternyata itu hanyalah fatamorgana, tidak ada airnya.  Air itu ada, tetapi mata kalian tidak dapat melihatnya.  Awliyaullah tidak akan mengatakan kepada kalian untuk mencari bila memang tidak ada apa-apa!  Itu bukan fatamorgana, tetapi orang awam tidak dapat melihat airnya.  Orang-orang yang diberi ilmu oleh Allah, dan menjadikan kubur itu sebagai mi’raj, itu adalah Surga.  Mereka berada di `Aalam al-Barzakh, yang disebutkan dalam Ahadiits mengenai Tanda-Tanda Akhir Zaman, di mana ruh orang Mukmin bergerak bebas ke seluruh dunia tanpa batasan dalam gerakan mereka, karena kubur mereka adalah Surga.

Jadi mereka mempunyai dua macam ilmu: pertama, yang mereka sampaikan kepada kalian dan satunya lagi yang mereka sampaikan pada seseorang lainnya, yang berbeda dengan kalian, atau mereka dapat mengatakan kepada seseorang tentang sesuatu yang sama dengan yang dikatakan kepada kalian tetapi dengan cara yang berbeda.  Sebagaimana dalam Ahadiits: Nabi (saw) menyampaikan sebuah hadits dan tergantung pada waktu dan kejadinnya, bagaimana wahyu itu turun dan siapa yang duduk, beliau akan menyampaikan hadits yang sama, namun lebih panjang atau lebih singkat.  Jika seorang wali duduk bersama Mawlana Syekh Nazim (q), ilmunya akan berbeda dengan ilmu yang beliau berikan kepada murid-murid seperti kita.  Ketika dua orang awliya duduk bersama, mereka berbicara wali-ke-wali, tetapi ketika mereka bersama murid mereka, itu bagaikan ayah kepada putranya atau ayah kepada putrinya, karena mereka menyayangi anak-anaknya dan ia menutupi mereka di bawah sayapnya. Kalian adalah anak-anaknya, putra putrinya.  Jadi ilmunya berbeda, ia mempunyai dua wajah: satu pada pemahaman ilahiah, yang lainnya pada pemahaman normal.  Saya tidak ingin berbicara tentang hal ini hari ini, kita hanya ingin berziarah dan mengikuti acara Urs.

Mengapa mereka mengatakan “Urs”, apakah ada yang bertanya tentang hal ini?  Dalam bahasa Arab Urs artinya “pernikahan.” Ya, ia berada dalam pernikahan, karena kalian memberikan yang terbaik dalam sebuah pernikahan.  Allah memberi para Awliya-Nya tahun-tahun lebih banyak dari tahun sebelumnya dan itu adalah Urs bagi mereka.  Misalnya, lihatlah bagaimana ilmu itu berubah, Allah (swt) menyebutkan beberapa huruf, huruf al-muqaththa`ah, di dalam Al-Qur’an Suci dan huruf pertama dalam Surat al-Fatihah dan Surat al-Baqarah adalah Alif.  Bagi para awliyaullah dan bagi Mawlana Syekh, Alif melambangkan al-Wujuud al-Kamil yang mutlak, “Wujud yang Sempurna.” Dari Alif, awliyaullah dapat menganalisis dan mengeluarkan wujud yang terbaik, karena ‘Wujud’ itu adalah bagi Allah (swt) bukan bagi yang lainnya karena semua orang akan pergi sedangkan Allah tetap ada. Dia adalah Sang Pencipta dan kita adalah hamba-Nya.  Jadi Alif itu melambangkan Wujud dan kalian dapat mengambil ilmu dari segala sesuatu yang berada di bawah Wujud itu, bahkan jika itu adalah sehelai daun dari sebuah pohon atau loquat.  Jadi awliyaullah dapat mengambil semua rahasia ini dan itulah sebabnya Al-Qur’an Suci dimulai dengan huruf Alif.

Allah mengirim ilmu ini bahwa Dia ingin dikenal kepada Jibril (as), yang merepresentasikan al-Mulk wal Malakut.  Ada dua Laam dalam “Allah,” satu berada dalam “Mulk” dan satu lagi dalam “Malakut,” kita tidak akan membicarakannya sekarang.  Tetapi kedua Laam merujuk pada Wujud al-Mulk wal Malakut, yaitu “Ilmu Duniawi” dan “Ilmu Surgawi,” atau “Khazanah Duniawi” dan “Khazanah Surgawi.” Laam merepresentasikan (makhluk) yang Allah berikan untuk memberi, yakni Jibriil (as).  Itulah sebabnya dikatakan di antara para awliyaullah bahwa Laam melambangkan Sayyidina Jibriil (as), kita tidak akan lebih jauh membicarakannya.

Jadi apa yang tersisa?  Miim. Alif untuk Allah, Laam untuk Jibriil (as), al-Mulk wal Malakut, dan seluruh alam semesta yang Allah ciptakan berada pada Miim.  Dan Miim itu adalah Muhammad (saw).  Sementara Miim mewakili Nabi (saw) saja, ada rahasia di dalamnya; bukan seperti ketika orang membaca “Alif, Laam, Miim,” dan berpikir bahwa itu tidak ada artinya. Miim dibentuk dari dua Miim.  Ketika kalian melihat alfabet, kalian mengucapkan Miim dua kali, dan di antara kedua Miim adalah Yaa.  Yaa adalah huruf terakhir dari alfabet. Alif adalah huruf pertama dan Yaa terakhir; Alif mewakili keseluruhan Wujud dan Yaa mewakili Yang Tersembunyi, dan ini berada di antara kedua Miim.  Dalam tata bahasa Arab, Yaa adalah Alif, bukannya Yaa; kalian tidak mengucapkannya kecuali sebagai Alif. Jadi ketika Yaa berada di antara dua Miim, itu artinya satu Miim berada dekat Yaa, yaitu Alif, dan Miim kedua berada di sisi lainnya yang terbuka bagi semua orang.  Itulah sebabnya Nabi (saw) bersabda,

ولكل شيء وجهان وجه الى الخلق ووجه الى ربه

Segala sesuatu mempunyai dua wajah: satu wajah menghadap ciptaan dan satu wajah menghadap Tuhannya. (Ghazali dalam Misykat al-Anwar)

Jadi satu Miim bersama Hadirat Ilahi dan yang lainnya bersama umat.  Apa yang Jibril (as) berikan kepada Miim pertama, Nabi (saw), diberikan dengan kekuatan terbaik, ‘Alif, Laam, Miim.’  Ketika ia sampai pada Miim kedua pada sisi lainnya, ilmu itu diberikan secara perlahan karena Nabi (saw) mengalami mi’raj, seperti ketika listrik masuk ke dalam transformator, ia akan  dikurangi sehingga dapat dialirkan; ilmu yang sampai pada Miim kedua sebenarnya tidak dikurangi, tetapi diberikan secara perlahan dalam mi’rajnya Nabi (saw).  Itulah sebabnya Nabi (saw) bersabda,

أوتيت جوامع الكلم

Aku telah diberikan induknya kalam. (Muslim)

Awliyaullah menerima ilmu semacam itu dan mereka tidak membukanya untuk orang-orang tertentu, melainkan hanya kepada orang yang dapat memahaminya, jadi ketika mereka membukanya, itu dalam jumlah tertentu.  Namun demikian kita harus tahu bahwa ketika mereka membaca  “Alif, Laam, Miim,” itu bukan seperti kita membacanya.  Dan itu bukan berarti mereka tidak akan memberikannya kepada murid-murid apa yang mereka sembunyikan dari mereka, tetapi murid itu tidak dapat membawanya sehingga mereka menghiasi mereka dengannya dan itu akan diberikan secara perlahan-lahan ke dalam qalbu mereka, baik pria maupun wanita.  Itulah sebabnya Allah (swt) berfirman,

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

Ingatlah! Sesungguhnya Wali-Wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Surat Yunus, 10:62)

“Mereka tidak mempunyai sesuatu untuk dikhawatirkan atau disedihkan, Aku memberi rezeki pada mereka.”  Mereka hidup: Mawlana hidup, tetapi beliau tidak berada di sini.  Segera setelah beliau ditempatkan di makamnya, para malaikat membawanya ke Syaam.  Pada suatu waktu, Grandsyekh–semoga Allah memberkahi ruhnya, mengatakan dari rahasia ini, “Ketika seorang Wali, Mukmin, atau siapa pun dari pengikutku meninggal dunia, mereka akan dipindahkan ke Syaam, karena itu adalah tempat di mana Allah akan menurunkan Singgasana-Nya pada Hari Kiamat.”

Jadi mereka akan diberkahi dengan keberkahan yang turun pada makam-makam Muslim dan Mukmin yang dikuburkan di Syaam.  Beliau berkata, “Setiap Muslim atau Mukmin dengan Iman yang baik yang memasuki Syaam, ketika ia keluar, dosa-dosanya akan dihapuskan.”  Jasad Mawlana tidak berada di sini.  Sebagaimana yang dikatakan oleh Grandsyekh (q), dan saya kutip, “Seluruh 124,000 awliya bertemu pada setiap hari Senin, Kamis, dan Jumat dalam sebuah asosiasi bersama Nabi (saw) di Jabal al-Qasiyoun dalam kehidupan rohaniah mereka, (di alam) Barzakh.”  Itulah sebabnya seluruh awliya dipindahkan ke sana.

Menjelang akhir hayatnya, sebelum Mawlana meninggalkan dunia ini, beliau sering mengatakan bahwa Syaam adalah Siprus sekarang.  Apa yang beliau maksudkan dengan hal itu, tidak ada yang mengerti.  Itu artinya ketika beliau berada di sini, tajali Syaam turun ke Siprus dan kini karena keberadaan beliau di sini, itu akan menjadi seperti tajali yang turun di Syaam.  Jadi awliyaullah memindahkan Mawlana ke Syaam asy-Syariif. Grandsyekh (q) menambahkan, “Seluruh Nabi selain Sayyidina Muhammad (saw) pindah dari tempat asalnya,” hal ini tidak diketahui orang karena ada banyak sekali makam dan ada banyak sekali Nabi, “dan ketika Sayyidina Mahdi (as) muncul, tajali mereka juga akan muncul dan kekuatan mereka akan muncul.”

Semoga Allah (swt) rida dengan kita!  Kalian beruntung karena kalian dapat melakukan ziarah setiap hari.  Kami melakukan ziarah dan mengingat Mawlana Syekh dari jarak jauh, tetapi kami percaya bahwa jarak bukanlah masalah karena mereka dapat menjumpai kita dalam sekejap.  Di mana pun murid berada di seluruh dunia ini, ketika ia memanggil Syekhnya, beliau hadir, bahkan jika ia tidak melihatnya secara bertatap muka, syekhnya hadir ketika ia memanggilnya!  Sekarang kita memanggil Syekh kita dan membaca ayat:

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (Surat an-Nisa, 4:64)

Kami membaca ayat ini, yaa Sayyidi dan kami datang padamu!  Kami memohon syafaatmu di hadirat Nabi (saw), untuk menghiasi kami dengna rahasia dari ayat tersebut!  Semoga Allah memberkahimu dan semoga Allah rida dengan kami semua.

Kita menghadapi masalah besar, jika orang tidak mengetahui, biarkan mereka tahu.  Kita perlu bersatu, karena sebatang lidi mudah dipatahkan, tetapi seratus lidi tidak dapat dipatahkan.  Saya berada di Inggris, memberikan ceramah dan ada seorang ulama terkenal dari Pakistan di sana.  Beliau senang dengan ceramah saya dan mengundang saya untuk datang ke Pakistan bulan Juni, tetapi saya pikir saya tidak dapat pergi ke sana.  Pada akhir acara, beliau mendatangi saya dan berkata, “Saya seorang Naqsybandi.  Saya mempunyai lima juta murid dan saya ingin semua orang mendengar apa yang engkau katakan.  Ini adalah berkah dari syekh Anda, Mawlana Syekh Nazim (q).”  Jadi ini adalah sebuah kabar gembira, tetapi ada serangan besar pada Tarekat Naqsybandi dari sebuah negeri di Timur Jauh, dari menteri agamanya.  Kami berusaha untuk tenang.  Kami telah mencoba segala cara yang mungkin, tetapi mereka telah ditekan untuk melakukannya.  Mereka mulai mengambil beberapa daerah dan mengatakan bahwa kami adalah kelompok yang sesat.  Kita harus menunjukkan yang sebaliknya pada mereka, dengan mengikuti Syari`ah dalam setiap perbuatan sebagaimana seharusnya.  Ada kesalahpahaman dan saya harus menjaga pada level itu. yang artinya mereka harus menghentikan apa yang mereka tuduhkan pada kita.  Jika kita bersatu, seperti keluarga di sini, tidak akan ada kesalahpahaman dalam segala hal karena  insyaa-Allah seluruh murid akan bersatu dan menunjukkan cinta kepada Mawlana Syekh, dan Mawlana Syekh akan menunjukkan cintanya kepada kita.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

 

http://sufilive.com/Why-We-Celebrate-the-Urs-of-the-Wali-5839.html

© Copyright 2015 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

Keutamaan Bulan Rajab

6e5fc588-7303-42f8-a50e-5825d34e0d55

Nabi (saw) telah menegaskan bahwa Rajab adalah bulannya Allah (swt), Sya’ban bulannya Nabi (saw), dan Ramadan adalah bulannya umat. Itu artinya Rajab adalah persiapan bagi setiap orang untuk berjumpa dengan Nabi (saw) di bulan Sya’ban, dan di bulan Sya’ban kita berpuasa dan memuji Allah (swt) serta Nabi (saw) untuk mempersiapkan diri memasuki Ramadan. Dan Sayyidina Muhammad (saw) bersabda, “Barang siapa yang berpuasa satu hari di bulan Rajab, Allah (swt) akan senang terhadapnya dan ia akan memperoleh rida Allah (swt) dan tingkat tertinggi dari Jannat al-Firdaus.”

Dan Nabi (saw) bersabda,
Hormatilah Rajab, bulannya Allah, Allah akan memberi penghormatan bagi kalian.
Penghormatan Allah tidak seperti penghormatan kita; penghormatan kita adalah penghormatan biasa. Kita adalah orang yang lemah, tidak berdaya dan lalai. Penghormatan kita tidak diperhitungkan, tetapi Allah (swt) berfirman, “Jika engkau memberi penghormatan kepada-Ku di bulan Rajab, Aku akan memberimu penghormatan.” Dikatakan bahwa pada Hari Kiamat, Allah akan memberi 1000 penghormatan bagi setiap hari yang diisi dengan puasa selama bulan Rajab!

(Melanjutkan hadits) “Dan barang siapa yang melakukan ghusl (mandi) pada hari pertama di bulan Rajab dengan niat memasuki hari pertama bulan Rajab dan pada hari ke-15 serta hari terakhir, Allah (swt) akan menghapus seluruh dosanya seolah-olah ia bagaikan baru dilahirkan.”

Allah (swt) memberi kita banyak jalan untuk menyelamatkan kita, untuk menjadi suci, dan bahagia di dunia dan akhirat. Nabi (saw) bersabda, “Kehormatan Rajab dibandingkan bulan-bulan yang lain bagaikan kehormatan al-Qur’an di antara kitab-kitab yang lain.”

Shaykh Hisham Kabbani

Apa yang Terjadi setelah Kematian?

246446_10150880228999335_2143551206_n

Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ق
Shuhba, 10 Desember 2004
Jakarta, kediaman Bapak Tony

 

Ketika kalian dimasukkan ke liang kubur, orang-orang pun melemparkan tanah pada kalian.  Itu adalah sunnah. Apa alasannya? Setiap butir tanah akan menyerap jasad orang yang meninggal.

Habil dibunuh oleh Qabil. Allah (swt) menunjukkan bagaimana mengubur jasad tersebut. Jika manusia tidak belajar bagaimana mengubur jasad orang yang meninggal, Mawlana Syekh (semoga Allah (swt) memberkahi beliau) berkata, “Jika jasad orang yang meninggal tidak tertutupi tanah, bau jasad itu  akan membuat orang di seluruh dunia jatuh pingsan.”

Tanah yang dibuat untuk mengubur jasad itu adalah rahmat, bila tidak dikubur semua orang akan mengutuk orang yang meninggal tadi karena bau busuk yang berasal dari mayatnya.

Artinya, ketika kalian menguburnya, kalian juga sedang menutupi aibnya.

Salah satu Asma Allah (swt) adalah Sattar, Dia Yang menutupi dosa. Dia sedang menutupi jasad dengan menguburnya. Kalian tak dapat melihat jasad itu di lantai, lalu hidup! Itulah ketakutan yang muncul dalam hati kalian.

Jika seseorang meninggal di rumah dan jasadnya dibiarkan di sana, orang pun akan merasa takut. Apa yang mereka takutkan? Kematian adalah heyba-penampakan yang agung- sesuatu yang gigih dalam tubuh, yang kalian rasakan  ketika akan melihat malaikat pencabut nyawa.  Allah (swt) membuat hal itu sebagai rahmat ketika kita menguburnya di dalam tanah. Jika berada di atas tanah, kalian takkan berselera untuk makan dan minum saat melihat jasad tersebut, ia kelihatan menjijikan.

Ketika seseorang meninggal, setelah beberapa hari, kalian tidak bisa makan dan minum. Kalian menguburnya karena gambaran yang menjijikan itu. Jika kalian jijik dan merasa takut padanya, tahukah kalian apa yang dirasakan oleh orang yang telah meninggal itu terhadap hukuman Allah (swt)?

Jawabannya, mereka sedang memanggil kalian.

Berapa banyak jasad yang sedang ketakutan akan siksaan Allah (swt) dan ketika dikirim Malaikat Munkar (as) dan Nakir (as).   Orang itu ditinggal sendirian, di bawah tanah, tak mampu bergerak ke kanan dan ke kiri karena ada tanah di sampingnya untuk menjaga agar jasad tetap lurus.

Setiap orang akan mati, tak seorang pun terlewatkan. Nabi (saw) bersabda bahwa Allah (swt) mengirim roh kembali ke jasad tersebut. Begitu roh dikembalikan, orang itu pun duduk tegak. Dahinya terantuk tanah.  Setiap kali dia ingin duduk kepalanya terantuk tanah. Saat itulah dia menyadari bahwa itu adalah kali terakhir dia berada di dunia.

Dia menyadari bahwa dia sedang berada di Akhirat.

Dua malaikat datang dan bertanya padanya, ”Siapa Penciptamu? Siapa pembawa pesan-Nya? Apa agamamu? Apa kitab sucimu?”

Jika lidah kalian membeku pada saat itu, kalian berada dalam bahaya. Jika lidah kalian tidak kelu dan mampu menjawab, maka kalian pun aman.

Itulah sebabnya dulu para Syuyukh memerintahkan murid-muridnya untuk menyendiri di dalam liang kubur, untuk mengajari mereka, “Suatu hari kalian akan seperti itu.”  Mereka pun sadar suatu hari pasti Allah (swt) akan memanggil mereka. Jika kita merasakan ini dan menyadarinya, kita tidak akan duduk berleha-leha. Kita akan duduk di pojok, berzikir, bershalawat dan membaca Quran, hanya memuji Tuhan kita dan menanti saat kematian.

Tetapi Allah (swt) membuat kita ghaafil, lalai; membuat kita sibuk dengan pekerjaan dunia.  Tanpa itu, dunia akan berhenti.  Jika Allah (swt) tidak membuat kita lalai, semuanya tak akan bergerak.

Para Awliya bukanlah orang-orang yang lalai. Itulah sebabnya setiap saat mereka selalu berzikir, setiap saat mereka mengikuti muridnya untuk mengawasi kelakuan mereka.  24 jam mereka mengawasi murid-muridnya.  Semoga Allah (swt) mengampuni dan menyelamatkan kita.

Saya sedang melihat dan teringat ketika dulu pernah melihat foto-foto dua orang wanita di dinding itu, dan saya teringat mereka meninggalkan semuanya dan pergi.  Kalian tidak akan membawa apa pun, walaupun hanya baju dan cincin. Berangkat dan pergi.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita.   Ini sangat sulit – bagaimana menghadapi kubur kita?

Rabi`a al-`Adawiyya (qs) sering berada di sini dan menangis seharian sambil beristighfar. Beliau berkata, “Bagaimana aku tidak beristighfar?  Sementara aku tak tahu bagaimana Sayyidina Izrail (as) akan mengambil nyawaku; dengan siksaan-siksaan atau dengan kebaikan?”

Jika kalian tahu, maka semuanya akan lancar;  tetapi tak seorang pun yang tahu!

Bi hurmati ’l-Fatihah.

Pentingnya Seorang Mursyid (Pembimbing Jalan Ruhani)

17103408_1272525859468431_4223710434948260787_n

Panduan adalah penting. Jika kalian tidak memiliki seorang pemandu yang membimbing kalian menuju tujuan kalian, maka kalian akan menjumpai banyak kesulitan sepanjang jalan kalian. Ketika kalian pergi ke suatu gurun pasir, mereka berkata kepada kalian, “Berhati-hatilah, jangan pergi memasuki padang pasir, karena kamu akan menderita.” Mereka mungkin tetap akan menunjukkan padamu awal dari perjalanan memasukinya itu. Sekalipun demikian, kalian tetap memerlukan seorang pemandu yang akan menunjukkan pada kalian perjalanan berikutnya melalui gurun pasir tersebut. Mengapa demikian? Karena di padang pasir segala sesuatunya nampak serupa. Ketika angin berhembus, pasir pun bergerak, dan kalian tersesat dengan mudahnya. Seorang pakar, seorang pemandu dapat membawa kalian bergerak di jalur yang benar bahkan seandainya angin bertiup dan dalam dua atau tiga hari kalian dapat melalui gurun pasir tersebut dan mencapai sisi lainnya.

Demikian pula, untuk mencapai Tuhanmu, kalian tak akan pernah menjumpai jalan kalian melalui gurun pasir kehidupan ini kecuali dengan bantuan seorang Pembimbing, karena angin hasrat-hasrat keakuan serta keinginan-keinginan semu mengubah segala sesuatunya. Sang ego memiliki hasrat-hasratnya sendiri. Angin sang ego adalah hasrat-hasrat kosong dan gairah-gairah semu. Ketika hasrat dan gairah semu ini mendatangi ego kalian, mereka menyelubungi jalan yang benar bagi kalian. Kalian pun tersesat. Kalian berhenti dan menjadi tidak tahu bagaimana melanjutkan perjalanan kalian. Untuk itulah kalian memerlukan seorang Pemandu yang juga adalah seorang pakar tentang jalan-jalan di padang pasir kehidupan ini. Ia mestilah seorang pakar dalam jalan-jalan yang dapat melampaui sang ego. Jika kalian tidak mampu menemukan seorang Pembimbing seperti itu, maka kalian hanya menghabiskan waktu kalian dalam berusaha mencapai Tuhan kalian dalam hidup ini.

Tuhan adalah Maha Pengasih. Jika kalian berusaha mencapai-Nya, kalian akan mencapai-Nya juga pada akhirnya, bahkan sekalipun tanpa seorang Pemandu, tetapi kalian tak akan mencapai-Nya dengan cepat. Kalian kehabisan waktu, dan tidak mengalami kemajuan. Begitu kalian menemukan seorang Pemandu dan kalian menerima untuk mengikutinya untuk menunjukkan pada kalian jalan singkat melalui hasrat-hasrat sang ego serta kehendak sang ego, yaitu keinginan-keinginan dan gairah-gairah semunya, maka kalian akan mendapati diri kalian mencapai sisi yang lain. Jika kalian tidak menemukan Pemandu itu, kalian akan tersesat di Gurun Pasir Kehidupan yang luas ini.

Ketika Nabi (SAW) diperintahkan untuk berhijrah dari Makkah menuju Madinah, beliau berkata, “Aku memerlukan seorang Pemandu.” Beliau seorang nabi. Untuk apakah beliau memerlukan seorang pemandu? Untuk mengajarkan pada kita bahwa sekalipun beliau seorang nabi, beliau masih memerlukan seorang pemandu, seorang pemandu eksternal untuk menunjukkan pada beliau jalan menuju Madinah. Sebagai contoh, katakanlah kita sedang menunjukkan pada anak saya jalan menuju ke Air Terjun Niagara. Kita tidak mengetahuinya, maka kita mencari seorang pakar, insya Allah, seorang pakar yang baik yang tidak akan memberikan pada kita arah yang salah! Nabi Muhammad (SAW) adalah seorang Nabi, namun beliau tetap meminta seorang pemandu. Apakah beliau tidak tahu jalan? (Haasya!) Sedangkan ‘Isa (‘alayhissalam) pun mengetahui akan ada yang mengkhianati beliau ketika beliau berkata, “Salah seorang di antara kalian akan mengkhianatiku.” Dan hal itu betul-betul terjadi kemudian.

Sebagai Muslim, kita mempercayai hal ini. Beliau (‘Isa ‘alayhissalam) berkata “Salah seorang di antara kalian”, apakah ia tidak tahu? Ia mengetahuinya, tetapi ia tidak membuka atau memberitahu siapa orangnya. Para Anbiya’ mengetahui, tetapi mereka ingin menunjukkan kelemahan diri dan kerendahan hati sepenuhnya. Nabi Muhammad (SAW) juga mengetahui jalan untuk pergi dari Makkah menuju Madinah, tetapi beliau tengah mengajarkan pada kita untuk mencari seorang Pemandu/Pembimbing. Mereka membutuhkan seorang Pemandu untuk menunjukkan pada mereka jalan dari Makkah menuju Madinah. Mereka mencapai Madinah dengan selamat dengan bantuan dan bimbingan Pemandu tadi.

Jika kita memerlukan seorang pemandu untuk menyeberangi suatu padang pasir, bagaimana pula dengan kehidupan ruhaniah kita? Ini jauh lebih sulit. Tentu saja kalian memerlukan seorang Pembimbing untuk hal ini, dan itulah mengapa Nabi (SAW) memiliki seorang Pembimbing pada diri Malaikat Jibril (‘alayhissalam) yang membawakan pada beliau ilham-ilham dan Wahyu.

Nabi (SAW) dibimbing oleh Jibril ‘alayhissalam menuju Hadirat Allah pada Malam Mi’raj, malam ketika Nabi pergi menjumpai Tuhannya. Jadi, beliau memerlukan seorang pembimbing eksternal (fisik) ketika beliau berhijrah dari Makkah ke Madinah. Secara internal (ruhani), beliau memerlukan seorang pembimbing ketika beliau berhijrah menuju Tuhannya di Malam Mi’rah. Adalah mustahil untuk berhijrah tanpa menggunakan suatu wasilah. Tanpa wasilah (melalui Sang Pembimbing) kalian tak mampu mencapai kemanapun jua.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Berserahdirilah kepada Allah Ta’ala!

17022468_1272518766135807_3119648654061690335_n

Pasrahlah kepada Kehendak Tuhan.  Berserahdirilah kalian!  Hancurkan batas yang ada antara dirimu dan Tuhanmu.  Jika engkau tidak menghancurkannya, engkau tak akan mampu berserah diri.  Batas itu adalah ‘Engkau’ dan ‘Aku’. Kalian mengatakan pada Tuhan kalian, ‘Engkau,’ dan kalian mengatakan pada diri kalian sendiri, ‘Aku.’ Semestinya kalian tidak mengatakan, ‘Aku.’ Kalian mesti mengatakan ‘Engkau’ setiap saat.

Tak ada ‘Aku’ dalam laku berserah diri dan pasrah kepada Kehendak Tuhan. Jika masih ada ‘Aku’, itu artinya kalian belum berserah diri kepada Tuhan. Kalian perlu berjuang memerangi ego kalian hingga ego kalian berkata, ‘Aku tak wujud lagi.’ Ketika kalian mencapai titik itu, Tuhan akan memperlihatkan Diri-Nya kepada kalian. Seorang Waliyullah besar pernah berkata, ‘Aku melihat Tuhanku dengan mata Tuhanku.’ Ini artinya, ‘Aku tak dapat melihat dengan kedua mataku sendiri.’ Ia tidak memiliki penglihatan apa pun kecuali melalui Tuhannya. Diri sang wali telah lenyap, dan Tuhannyalah yang muncul.

Ketika Tuhan kalian muncul, kalian dapat ‘melihat’ Tuhan kalian. Sekelompok orang beraliran spiritual tertentu menyebut pengalaman ini sebagai ‘kekosongan paripurna’. Mereka mencapai suatu tingkatan di mana tak ada apa pun lagi. Ketiadaan Mutlak. Mereka berkata, ‘Kami telah mencapai kesempurnaan.’ Memang mereka telah mencapai sesuatu, tetapi tingkatan itu bukanlah kesempurnaan. Mereka tak mampu untuk menyeberanginya dan mencapai tingkatan setelahnya, karena itulah mereka berpikir bahwa tingkatan itu adalah tujuan tertinggi. Ketika kalian mencapai ketiadaan, kalian tengah berdiri di depan pintu kewujudan penuh dalam Kewujudan Tuhan.

Ketika beberapa kaum spiritual mencapai kekosongan paripurna, mereka memerlukan suatu cara untuk menyeberang. Mereka tidak menemukan cara itu. Semestinya, dengan cara atau sarana itu, mereka dapat menyeberang dan menemukan kewujudan paripurna. Lawan dari ketiadaan mutlak, pasti ada kewujudan mutlak, sebagaimana lawan dari ciptaan, pasti ada Tuhan, Sang Pencipta. Ada suatu jembatan di antaranya.

Untuk menyeberang dari yang satu ke yang lai, kalian mesti melalui jembatan tersebut. Tuhan berfirman dalam suatu Hadits Qudsi, ‘Aku adalah Harta Tersembunyi yang Tak Diketahui, dan Aku ingin untuk diketahui, maka Aku ciptakan Makhluq.’ Jika kalian tidak melihat-Nya, kalian akan berfikir tentang ketiadaan, ketidakwujudan. Tidak. Ketika kalian mencapai kekosongan paripurna-dan ini adalah suatu maqam yang tinggi-kalian mesti menemukan jembatan yang dapat membawa diri kalian ke kewujudan paripurna yang berada di seberang maqam ketiadaan paripurna tadi, karena ada suatu tingkatan yang lebih tinggi, dan suatu tingkatan yang masih lebih tinggi lagi daripada itu.

Sebagaimana Allah (swt) telah berfirman, ‘’dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi lebih mengetahui.” (QS. Yusuf, 12:76). Kita harus pula memahami bahwa ‘Di atas setiap orang yang memiliki suatu maqam ada seseorang lain yang berada di maqam lebih tinggi.’ Ia yang berada di atas dapat melihat ia yang berada di bawahnya, tetapi yang di bawah tidak mampu melihat yang di atasnya. Bagaimana kemudian kita bisa mengatakan bahwa tingkatan yang kita berada di atasnya adalah suatu tingkatan terakhir? Kita tak mampu melihat di atas tingkatan kita. Karena itulah, Allah memperingatkan kita bahwa seseorang tak mampu mengetahui seluruh pengetahuan tak peduli seberapa dekat ia telah mendekati. Kalian hanya akan memiliki sebagian dari pengetahuan itu.

Pengetahuan sempurna hanya dimiliki oleh-Nya. Karena itu, janganlah mengatakan seperti apa yang mereka katakan ketika mereka mencapai kekosongan sejati, ‘Ini adalah tingkatan terakhir.’ Memang tingkatan itu adalah suatu tingkatan yang cukup tinggi dan berharga bagimu, tetapi pasti ada seseorang yang Allah telah tempatkan lebih tinggi darimu.

Jangan meremehkan kekuatan Tuhan. Tuhan tak pernah dapat dibatasi. Ada tak berhingga banyaknya maqam dan tingkatan. Kemana pun dirimu telah mencapai, masih ada lagi maqam-maqam berikutnya.

Mawlana Syaikh Hisham Kabbani
http://www.naqsybandi.com