Pentingnya Khalwat

Shaykh Hisham Kabbani

“Athiiullaaha wa athiiu ‘r-rasuula wa uulil amri minkum”
Patuhi Allah, patuhi Rasul dan patuhi orang-orang yang mempunyai otoritas di antara kalian. [QS An-Nisaa, 4: 59]

“Wa min Allah at-tawfiq” “Kesuksesan hanya datang dari Allah (swt).”

Kita bertemu di masjid ini dan kita harus memohon, sebagaimana Nabi (saw)memerintahkan seluruh Sahabat dan semua guru setelah beliau telah memerintahkan murid-muridnya, agar 1 jam duduk di sini akan dihitung sebagai 1 jam berkhalwat. Kalian melepaskan diri dengan dunia luar dan datang ke sini untuk memuliakan Allah, memuliakan Nabi (saw), dan memuliakan Syekh. Untuk menjadi contoh yang baik dan menjadi murid tarekat yang baik. Kalian meninggalkan negeri kalian, rumah kalian dan segalanya dan datang ke sini demi kebaikan dan untuk mempelajari sesuatu.

Kalian tidak datang ke sini hanya sekadar mengisi waktu. Kalian datang untuk memperoleh nasihat rohaniah dari Syekh. Itulah sebabnya kalian harus mendengarkan dengan baik dan berlaku sesuai dengannya. Jangan datang ke sini, menghabiskan waktu 15 hari untuk berlibur, lalu kembali. Kalau seperti itu, lebih baik tidak usah datang.

Nabi (saw) telah memerintahkan seluruh Sahabat untuk berkhalwat atau mengasingkan diri. Ini berarti menjaga Hadirat Allah dan kecintaan terhadap Nabi (saw) dalam hati mereka. Setelah Nabi (saw), seluruh Sahabat, khususnya Sayyidina Abu Bakar (ra) dan Sayyidina `Ali (kw)—dari keduanya seluruh ordo tarekat diturunkan—mengajarkan pengikutnya untuk berkhalwat. Grandsyekh pernah berkata, “Seseorang yang tidak pernah berkhalwat selama hidupnya berarti ia telah menyia-nyiakan hidupnya.” Jika kalian tidak pernah berkhalwat walaupun hanya sekali saja, berarti hidup kalian sia-sia.

Kalian tidak akan memperoleh apa-apa dari hidup kalian. Kalian hanya akan mendapat apa yang telah direncanakan oleh Allah (swt) bagi kalian. Dan Allah (swt) telah berencana agar setiap orang menjadi Mukmin yang baik. Itulah sebabnya ketika Dia menciptakan roh manusia, Dia bertanya kepada mereka, “Siapa Aku dan siapa kalian?” Rasul dan para awliya menjawab, “Engkau adalah Tuhan kami dan kami adalah hamba-Mu!” Yang lain berkata, “Engkau adalah engkau, kami adalah kami!” yang berarti, “Kami tidak percaya kepada-Mu, jika Engkau adalah Tuhan, kami juga.” Mereka semua adalah orang-orang kafir. Allah (swt) melemparkan mereka ke dalam kegelapan selama 70.000 tahun, kemudian memanggil mereka kembali, dan bertanya lagi, “Siapa Aku dan siapa kalian?” Sebagian dari mereka menjawab, “Engkau adalah Tuhan kami dan kami adalah hamba-Mu.” Mereka ini juga termasuk Mukmin, orang yang beriman.

Kita semua adalah Mukmin tersebut. Jangan mendengar ego kalian yang berkata seperti yang kita katakan pertama kali ketika Allah (swt) bertanya kepada kita, sebelum Dia melemparkan kita ke dalam kegelapan, “Engkau adalah engkau dan kami adalah kami.” Setelah Allah melemparkan ego ke dalam kegelapan barulah ego menerima dan berkata, “Engkau adalah Tuhan kami!” Sekarang di kesempatan yang lain ketika kita sudah turun ke bumi—dalam bentuk fisik setelah yang pertama makhluk spiritual—kita masih mengatakan, “Engkau adalah engkau dan kami adalah kami.” Tak ada yang menerimanya.

Seluruh guru Tarekat Naqsybandi harus menempatkan muridnya untuk berkhalwat, dengan alasan yang sama ketika Allah (swt) menempatkan roh kita ke dalam kegelapan selama 70.000 tahun, yaitu untuk memoles kita dan mengajarkan kita akhlak yang baik, agar nanti kita dapat menerima kenyataan bahwa, “Engkau adalah Tuhan kami dan kami adalah hamba-Mu.”

Inilah yang diajarkan oleh Mawlana selama ini, untuk menjadi hamba yang baik bagi Allah, untuk patuh kepada-Nya. Tetapi ego kita tidak menerima, oleh sebab itu Grandsyekh berkata, sebagaimana Nabi (saw) memerintahkan para Sahabat untuk berkhalwat, beliau juga harus memerintahkan para pengikutnya untuk berkhalwat. Jika tidak di dunia ini, mereka harus berkhalwat dalam kuburnya, dalam periode 40 hari. Ini adalah kewajiban bagi setiap orang. Tak ada yang membersihkan diri kalian dari perilaku buruk kalian kecuali dengan berkhalwat.

Jika kalian tidak berkhalwat, kalian tidak akan dibersihkan dan kalian akan masuk dalam maqam ‘penuh warna’ atau ‘multiwarna’. Tarekat Naqsybandi menyebut posisi atau maqam kita sekarang dengan istilah itu—artinya terus-menerus berubah, satu hari kita baik, hari berikutnya buruk dan berikutnya lagi setengah-setengah. Ini tidak bisa dihilangkan dan kita tidak bisa menjadi satu warna saja kecuali dengan berkhalwat.

Saudara-saudaraku, berusahalah sekuat tenaga agar Syekh memerintahkan kalian untuk berkhalwat. Bukan dengan datang kepadanya lalu memohon, “Wahai Syekh, izinkanlah aku untuk berkhalwat,” bukan demikian caranya. Jalannya adalah dengan mencoba menerima apa yang diberikan kepada kalian tanpa menggunakan pikiran kalian. Tetaplah yakin dengan apa yang dikatakannya kepada kalian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s