Mengapa Kita Tidak Menyukai Kota Besar

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu  ‘alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin  wa ‘alaa aalihi wa Shahbihi ajma’iin

Seorang murid yang berkebangsaan Amerika bertanya kepada Syekh apakah istrinya sebaiknya melanjutkan pekerjaannya di luar rumah atau berhenti saja untuk mengkhususkan dirinya melakukan pekerjaan rumah dan tugas-tugas keagamaan saja.

Syekh  menjawab:

Seandainya saja saya ada di posisi di mana saya memiliki otoritas terhadap pemerintahan, salah satu di antara hal-hal pertama yang akan saya lakukan adalah menghimpun dana khusus untuk diberikan kepada ibu-ibu rumah tangga atas jasa mereka yang tak ternilai bagi masyarakat.  Saya akan memerintahkan agar wanita yang bekerja di luar rumah diberikan gaji berlipat ganda agar mereka bisa kembali ke profesi yang paling diiberkahi, yakni pekerjaan yang dapat mambuat tempat tinggal mereka benar-benar sebagai ‘rumah’, dan bukan hanya tempat untuk tidur di malam hari.

Menurut saya, penting sekali  bagi seorang wanita untuk mengabdikan dirinya bagi suami dan anak-anaknya: itulah jalan bagi pemenuhan kewanitaan yang sejati. Tetapi tampuk pemerintahan tidak berada dalam gengaman saya, sehingga yang dapat saya lakukan hanyalah menasihati mereka agar memperhatikan nasihat saya.

Ya, kebijakan saya akan memberatkan sebagian besar wanita, khususnya ibu-ibu yang  bekerja di luar rumah.  Saya akan mendukung kebijakan tersebut dengan dana insentif, karena tidak akan ada jumlah uang yang pantas untuk mencoba memperbaiki penyesalan akibat ‘masyarakat yatim’.  Memang ada beberapa profesi di luar rumah yang dapat dikerjakan dengan lebih baik oleh kaum wanita daripada  pria, dan wanita-wanita berprestasi akan banyak diperlukan untuk mengisi posisi tersebut; namun para wanita yang mengerjakan pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh pria akan dibayar untuk meninggalkan pekerjaan tersebut.

Sebagai Mukmin, kita percaya bahwa seorang wanita yang puas dengan gaji suaminya akan lebih bahagia, dan kehidupan keuangannya akan lebih layak daripada yang bekerja dan mendapat penghasilan sendiri.  Kalian mungkin bertanya, bagaimana mungkin?  Kita percaya pada apa yang disebut ‘berkah’; uang hasil jerih payah suami secara halal dan menjadikan pendapatan keluarga jauh dari berlebihan akan diberkahi oleh Allah (swt).  Sehingga yang dibelanjakan bagi kebutuhan keluarga akan menjadi pemenuhan atas kebutuhan mereka; sedangkan uang yang diperoleh istri  melalui ketidakhadirannya di rumahnya tidak akan membawanya pada kepuasan yang sama.  Terlebih lagi, banyak sekali orang kaya yang hidupnya susah, karena mereka memiliki begitu banyak harta, sementara yang lainnya, yang hidupnya sederhana, dengan pendapatan yang jauh dari berlebih, hidupnya begitu bahagia dan puas dengan beratapkan rumah yang penuh kasih dan pengabdian?

Maksud saya: bila kalian berpenghasilan seribu dolar per bulan, dan istrimu berpenghasilan, katakanlah tujuh ratus, seribu dolar penghasilan kalian sebagai suami akan terasa lebih banyak jumlahnya dibanding dengan seribu tujuh ratus dolar penghasilan kalian berdua.  Itulah yang saya yakini, dan itu adalah kenyataan yang dapat diuji kebenarannya oleh siapa pun, kapan pun mereka inginkan.  Lagi pula, bila istri setuju untuk memenuhi kebutuhan hidup dari gaji kalian saja, maka hidupnya dan kehidupan anak-anak mereka akan lebih bahagia.

Tetapi belakangan ini, setan tak memperkenankan ibu-ibu untuk tinggal di rumah mereka lagi.  Mereka memaksanya untuk meninggalkan rumah di pagi hari buta untuk berjuang di arena balapan tikus sepanjang hari, dan pulang ke rumah penuh dengan kelelahan di malam hari ketika mereka seharusnya mengumpulkan cukup tenaga untuk menyediakan makan malam bagi keluarga dan perhatian bagi sang anak yang hanya dapat diberikan oleh seorang ibu. Kehidupan yang tegang ini membuat para ibu menjadi cepat tua.  Memaksa wanita untuk bekerja ganda di luar dan di dalam rumah tidaklah adil, dan karenanya kita berjuang bagi hak-hak wanita dengan jalan menentang gagasan bahwa wanita harus memikul beban ganda.  Dalam Islam, sang suami harus membantu istrinya sebisa mungkin dalam mengerjakan pekerjaan rumah, walau mungkin ia bekerja seharian.  Ia haruslah memikul tanggung jawabnya dan sekaligus juga membantu istrinya dengan penuh perhatian.

Pada tahap ini sebagian orang akan beargumen bahwa wanita seharusnya bekerja di luar rumah, sementara pria mengurusi anak-anak dan menjaga rumah.  Sungguh hal ini merupakan pendapat anak kecil yang sangat bodoh, karena wanitalah dan bukannya pria yang ditugasi dan secara alami sesuai untuk mengandung, melahirkan, merawat dan membesarkan anak.  Pria tak dapat menggantikan tempat wanita.  Dan kami juga menentang pendapat bodoh bahwa kedua orang tua seharusnya bekerja, meninggalkan anak-anak mereka di pusat-pusat penitipan anak, dan keduanya pulang penuh dengan kelelahan di malam hari, makan malam TV, nonton TV sejam, lalu tertidur di tempat tidur.  Sungguh itu bukan sebuah kehidupan keluarga.  Bukan.

Oleh karena itu, bila pemerintah ingin mencegah krisis ekonomi, dan kerusuhan sosial, mereka harus membayar para wanita untuk tinggal di rumah.  Bila gaji kalian saja sudah cukup, tidak baik menyuruh istri kalian untuk bekerja.

(Murid Amerika): ‘Alhamdulillaah! Dia Yang Maha Kuasa telah memberkahi kami dengan lebih dari yang pernah kami impikan’

Syekh :

Oleh sebab itu kalian harus memintanya untuk tetap di rumah untuk menjaga anak-anak kalian.  Terutama bila kalian berkecukupan, seharusnya tidak ada alasan bagi istri kalian untuk bekerja.

(Murid Amerika): Ia senang bekerja.

Syekh:

Bukan, keinginan seperti itu adalah tipu daya ego dan berbahaya bagi masyarakat.  Kita haruslah mengasihi yang lain, jutaan pengangguran cemas menantikan pekerjaan yang kini dipegang istri kalian: para pria yang sudah berkeluarga, para janda. Allah Yang Mahakuasa telah memberinya kekayaan dengan jalan ia memiliki seorang suami pekerja keras dan berhasil, lalu mengapa ia tetap memegang pekerjaannya, mengapa ia mencegah orang lain yang jauh lebih membutuhkan pekerjaan itu?

Itulah masalahnya.  Begitu banyak pengangguran di negara-negara industri-mengapa?  Terutama karena semua wanita bekerja.  Bila saya anggota masyarakat yang bertanggung jawab, bagaimana bisa saya membiarkan istri saya bekerja? Bila saya membiarkan ia bekerja, maka saya membiarkan diri saya dan istri saya menjadi beban masyarakat, mengubah diri saya dan istri saya menjadi parasit, yang dengan rakus mengambil lebih dari yang sebenarnya kami perlukan dan lebih dari yang baik bagi kami dengan biaya orang lain.  Sungguh itu merupakan kerja yang parasit: biarkan seorang pengangguran bekerja dan menghidupi dirinya sendiri.

(Murid Amerika yang lain): Bagaimana bisa seorang wanita di Negara-negara Barat dapat menemukan kedamaian di hatinya serta kepuasan dalam keempat dinding rumahnya, bila orientasi seluruh masyarakat menentang kehidupan semacam itu?

Di negara-negara timur, keadaanya berbeda: adalah mudah bagi seorang wanita untuk membuat rumahnya sebagai tempat yang nyaman dan memuaskan, karena selalu banyak wanita yang menjalani kehidupan semacam itu di sekitarnya yang dapat ia kunjungi seharian, atau sebaliknya–teman, tetangga, sanak saudara- begitu banyak kegiatan di lingkungannya.’

‘Sedangkan di Barat gaya hidup demikian terasingnya, sehingga orang merasa seolah-olah dinding rumah mereka dingin membeku, tanpa keramahan, dan hampa: mereka merasa seolah-olah dinding rumah mereka menghimpit mereka.  Dalam suasana seperti itu sungguh sulit memang bagi para wanita untuk tinggal saja di dalam rumah, walaupun sebetulnya mereka tak begitu menginginkan sesuatu di luar sana.

Syekh menjawab:

Ya, hal itu terjadi karena mereka tak memiliki pengkalibrasi dalam timbangannya.  Jika tidak ada yang demikian dalam kehidupan jiwanya, maka timbangan tersebut akan selalu tergelincir ke satu sisi saja; namun bila mereka memiliki dunia alternatif, yakni kedalaman pengabdian jiwa sebagai penyeimbang, sungguh sangat mudah bagi para wanita untuk berdiam diri di rumah walaupun ada banyak kejanggalan yang menentangnya.

Ya, saya paham bahwa bagi wanita barat, duduk berdiam di rumah sangatlah membosankan dan menjemukan, dan berada di rumah bagaikan terpenjara; namun bila mereka dapat mengecap manisnya kedalaman batin, mereka akan sangat bersyukur telah mendapatkan kesempatan untuk berada di rumah di mana mereka dapat mengkonsentrasikan usahanya daripada harus berkeliaran di jalanan modern yang tercemar.  Namun bila mereka belum membuka pintu kedalaman batin mereka, mereka akan tetap mencari jalan keluar untuk pergi dari rumah segera setelah suami mereka berangkat di pagi hari.

Apa yang sekarang kita gambarkan haruslah dianggap sebagai tujuan akhir: suatu target jangka panjang untuk ditaklukan oleh kaum wanita kita- suatu target kesempurnaan bagi kehidupan para wanita.  Namun seperti yang telah kami tunjukkan sebelumnya, kondisi di dunia Barat tidaklah kondusif bagi para wanita untuk mengembangkan kehidupan spritual mereka dengan cara demikian: yakni tinggal di rumah.  Oleh sebab itu bila saya indikasikan, cara hidup ideal bagi seorang wanita, saya tak mengharapkan seluruh wanita dapat menjalani gaya hidup seperti itu, oleh sebab itu saya tak memerintahkan mereka untuk melakukannya.  Bila kondisinya berbeda, maka mungkin lain lagi keadaannya.

Seperti yang saya katakan, seandainya saya berkuasa, maka para wanita akan menerima bayaran ganda bila mereka mau tinggal di rumah mereka; dan saya akan memerintahkan bahwa rumah-rumah hendaknya dibangun dengan cukup lapang, tak seperti penjara.  Di malam pertama masa kepemimpinan saya, saya akan memerintahkan agar seluruh bangunan apartemen dimusnahkan; di malam kedua, saya akan memerintahkan agar rumah-rumah baru yang lapang dan berkebun dibangun bagi setiap keluarga, sehingga para wanita takkan pernah lagi berkeinginan untuk meninggalkan rumah mereka-begitu indah dan luas, rumah-rumah mereka nantinya…

Di sini (di Siprus), kami tinggal di sebuah rumah tua yang terbuat dari batu bata, jenis rumah yang kini banyak ditinggalkan orang demi untuk tinggal di apartemen-apartemen yang sempit di kota-kota besar.  Rumah ini setahun lalu hanyalah reruntuhan puing yang ditinggalkan orang, dan seluruh kebunnya mati dan ditumbuhi gulma.  Ketika saya membelinya, semua orang melarang dan mengejek saya; tetapi lihatlah sekarang, hanya setelah setahun kerja yang teratur rumah ini cukup indah, dan kebunnya pun berbunga, dan walaupun ini sederhana dan tidak mewah, rumah ini luas, nyaman dan indah.

Baik istri saya maupun putri saya tidak pernah merasa bosan dan terpenjara tinggal di rumah ini.  Mereka sangat jarang berkeinginan untuk pergi ke luar rumah, dan bila mereka pergi, mereka selalu ingin cepat pulang.  Ya, mengapa tidak tinggal di rumah semacam itu saja?  Bumi ini begitu luasnya; mengapa kita demikian bodohnya untuk tinggal di atas orang lain dalam apartemen yang dingin dan jelek?  Allah (swt) memerintahkan: “Tafasahu” yang artinya, “Wahai manusia, berpencarlah di bumi’ Perintah ini mestinya sudah cukup bagi kita untuk memahami bahwa Tuhan kita tak menginginkan kita untuk tinggal dalam situasi yang sempit dan berjejalan di bumi Allah yang luas ini. 

Cara yang keliru yang telah diambil oleh manusia untuk hidup, yakni tinggal dengan kondisi berdesakan yang sebenarnya tidak perlu itulah yang menjadi penyebab utama krisis ekonomi dunia ini.  Terlebih, kota-kota besar yang padat adalah bencana bagi kesejahteraan ekonomi dan sosial bangsa-bangsa. Hanya jika kecenderungan berbahaya ini mulai dibalik dan orang-orang mulai kembali ke pedesaan  maka kondisi sosial ekonomi manusia akan menjadi lebih baik.

Apa ada baiknya membangun kota-kota besar semacam itu? Bahkan di Inggris kalian mungkin harus berkendaraan bermil-mil jauhnya untuk menemui hunian atau pemukiman, sementara pusat-pusat urban menelan jutaan orang yang membutuhkan sistem yang kompleks untuk penyediaan dan pendistribusian barang.  Orang mengerjakan lahan yang memproduksi bahan pangan yang mereka makan:  lalu ada apa dengan pedesaan sehingga orang tidak memadatinya dan mengelola kehidupan perekonomian di desa-desa kecil?  Udara yang segar, sinar matahari dan alamnya-tak ada lagi krisis ekonomi.  Orang mungkin akan banyak tumbuh di kebun-kebun mereka-tak ada lagi kemacetan lalu-lintas, penyakit pun tak begitu mewabah.  Begitu banyak penyakit masyarakat yang dapat disembuhkan dengan desentralisasi.  Kota-kota dengan 10.000 penduduk sudah cukup besar.

Kecenderungan di muka bumi ini menuju ke arah yang destruktif: Orang-orang bergerombol ke kota-kota besar untuk mencapai posisi yang lebih baik demi memanjakan syahwatnya.  Hasil akhirnya bukan hanya kehancuran ekonomi saja melainkan juga perubahan nilai-nilai yang menyeluruh dan kegilaan yang akan mendominasi masyarakat- hal ini sudah dapat kita amati.  Kota-kota besar membuat orang menjadi asing satu dengan yang lainnya. Walau begitu banyak orang tinggal di tempat yang sangat berdekatan, namun mereka saling asing, saling berprasangka dan curiga satu dengan yang lainnya.  Orang-orang kota biasanya terputus dari saudaranya, teman-teman dan para tetangga.

Kita tak pernah diperintahkan untuk hidup bagai binatang buas: masing-masing saling bebas, mengharapkan kesempatan di mana si kuat memangsa yang lemah, tidak!  Kita lebih diperintahkan untuk hidup berkelompok, untuk saling tergantung; dan di desa-desa kecil sungguh sangat mudah untuk hidup seperti itu, karena semua orang mengenal tetangganya dan dapat merawatnya. 

Tak ada perlunya bagi siapa pun untuk meninggalkan Lefke, Siprus, sebuah kota agraris kecil untuk pergi ke Amerika, Jerman, Inggris, Austrlia, atau bahkan Nikosia untuk bekerja. Semua orang dapat menghidupi diri dan keluarganya; dan bila satu desa telah padat, mereka dapat membangunnya satu lagi di tempat lain.  Cara seperti ini jauh lebih berkah.

(Seorang murid): “Tetapi orang pergi ke kota-kota besar dan ke luar negeri untuk dapat hidup dalam kehidupan yang diimpikannya: bioskop, televisi, klub malam, uang dan sebagainya.  Dan mereka juga tak kurang tertarik dengan berkah.  Sepertinya itu sebuah penyakit: bahwa orang berkeinginan untuk hidup dengan mimpi mereka dan bukannya hidup sederhana saja.’

Syekh:

Mereka boleh saja memanjakan fantasinya, namun mereka akhirnya tidak akan dapat menghindar dari keruntuhan ekonomi, dan tak ada yang dapat dilakukan pemerintah yang cukup efektif untuk mencegah keruntuhan tersebut.  Kini kita mendekati titik itu dengan sangat cepat, dan tak seorang pun dari pemerintahan yang berani melakukan langkah drastis untuk mencegah keruntuhan – obatnya terasa terlalu pahit bagi ego mereka.  Namun bila titik itu telah tercapai orang akan dipaksa untuk meninggalkan kota-kota yang kelaparan dan menyebar ke pedesaan, mencari pertolongan.

(seorang murid): “Haruskah saya menyampaikan kepada saudara-saudara yang di Amerika sana bahwa Anda menasihati mereka untuk menjual rumah-rumah mereka di kota dan berhenti dari pekerjaannnya dan lalu pindah ke pedesaan?”

Syekh:

Pelan-pelan!  Sedikit demi sedikit mereka akan berjuang menuju cita-cita pindah ke pedesaan.  Mereka harus mencari keadaan yang dibutuhkan untuk membuat perpindahan itu berjalan lancar.  Dengan cara yang pintar dan tenang mereka mestinya dapat mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan dan pindah menuju cita-citanya dengan gangguan seminimal mungkin terhadap kehidupan dan pendapatannya.

Di pedesaan mereka akan lebih aman dari kasus-kasus peperangan, karena biasanya kota-kota besarlah yang menjadi sasaran pertama; lagi pula, dalam kejadian keruntuhan ekonomi mereka lebih mudah mengatasinya.  Telah terdapat begitu banyaknya pedesaan, sehingga saya tidak melihat perlunya membangun desa-desa baru lagi, saya pun tak menganjurkan kalian semua untuk datang bersamaan menuju sebuah tempat terisolasi untuk membuat perkampungan muslim di Amerika.  Lebih baik mereka pindah ke suatu komunitas umum sebagai suatu kelompok kecil di antara penduduk non-muslim yang jumlahnya lebih banyak.  Ada kebijaksanaan di sini, dan rahmat bagi orang Amerika, karena saudara-saudara kita laksana bintang-gemintang menyinari, menaungi mereka dengan cahaya berkah di sekeliling mereka.  Bintang-gemintang tersebar di seluruh langit;  bila mereka semua berkelompok di satu tempat saja, maka belahan langit yang lain akan menjadi gulita.  Ya, kalian boleh tinggal di mana saja; dan kami berharap Allah (swt) akan membuat kalian sebagai alat untuk menyadarkan hati rakyat Amerika akan Rahmat-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s