Sekelumit Kisah mengenai Kebesaran dan Maqam yang Tinggi dari Syah Naqshband (q)

Shuhba
Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
Fenton, Michigan, 2 Mei 2009


A`uudzu billaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-riyaadhah, nawaytu ‘s-saluuk, nawaytu ‘l-`uzlah lillahi ta`ala fii hadza ‘l-masjid 

Athi` Allah wa athi` ar-rasula wa uli ‘l-amri minkum

[Dari Catatan Syekh Syarafuddin (q) mengenai Syah Naqsyband qaddas Allahu sirruh ]

Allah (swt) memuliakan kita dengan Nabi-Nya (saw) di mana Dia telah mengutusnya sebagai rahmat bagi manusia dan dari rahmat tersebut segala sesuatu yang muncul untuk kepentingan ciptaan Allah dianggap berasal dari rahmat yang telah Allah berkahi kepada Sayyidina Muhammad (saw).  Segala sesuatu yang baik pasti berasal dari rahasia rahmat tersebut dan Allah tidak menciptakan sesuatu tanpa hikmah.  

Jadi rahmatan lil-`aalamiin mengandung asrar di dalamnya – tergantung pada siapa yang dijangkaunya dari ciptaan Allah tersebut.  Selain pepohonan dan alam, binatang, samudra, ikan-ikan dan segala sesuatu, ada juga malaikat, jin dan ada juga para Awliyaullah, Anbiyaullah, Sahabat.  Sudah pasti rahmat itu sampai pada mereka semua.  Pasti!  Dengan cara tertentu. Rahmat itu harus sampai pada setiap orang.  Dan dari yang satu kepada yang lain, rahmat itu berubah.  Jika kita telusuri jejaknya, ia mungkin akan mengubah kerikil menjadi permata.  Jika kita telusuri lebih jauh, ia mungkin akan mengubah permata itu menjadi berlian dan jika ditelusuri lebih jauh, ia mungkin akan mengubah berlian itu menjadi suatu bentuk rahmat lainnya dari rahmatnya Sayyidina Muhammad (saw).

Awliyaullah, ketika mereka muncul, saat mereka dilahirkan, dengan segera mereka dikenali sebagai Awliyaullah karena mereka adalah orang-orang terpilih.  Tidak setiap orang bisa menjadi wali.  Setiap wali mempunyai busana masing-masing yang berasal dari rahmatnya Sayyidina Muhammad (saw) yang Allah sandangkan.  Setiap murid dari para Awliyaulllah ini, mereka juga menerima bagian dari rahmat tersebut yang akan membusanai diri mereka.  Dan sekarang kita akan membicarakan hakikat tersebut yang telah disandangkan kepada Sayyidina Syah Naqsyband (q).

Adalah sesuatu yang luar biasa untuk melihat dan memahami apa yang telah Allah (swt) berikan kepada Nabi-Nya Sayyidina Muhammad (saw) melalui Kebesaran-Nya.  Dan Nabi (saw) memberikannya kepada para Awliyaullah.  Jika seorang wali mendapatkannya, bagaimana menurut kalian dengan seluruh Awliya, dan bagaimana dengan para Sahabat, para Anbiya dan bagaimana dengan Rasul Penutup (saw) dan bagaimana dengan para malaikat?  

Grandsyekh Syekh Abdullah ad-Daghestani (q) mengatakan bahwa Syekh Syarafuddin (q) telah menyampaikan kepadanya mengenai sebuah kisah, tetapi sebenarnya itu bukanlah kisah, melainkan catatan tentang apa yang terjadi pada Sayyidina Syah Naqsyband (q).  Apakah Qur’an itu merupakan kisah?  Tidak!  Qur’an adalah Kalamullah yang qadim (terdahulu), tetapi Allah (swt) mengungkapkan kisah-kisah yang ada dalam al-Qur’an kepada kita bukan?  Jadi kisah-kisah itu adalah penting dalam kehidupan kita, di mana Allah berfirman di dalam Surat Yusuf, 

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَـذَا الْقُرْآنَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ

nahnu naqushshu `alayka ahsan al-qashshasi bimaa awhaynaa ilayka hadzaa al-Qur’aana wa in kunta min qalbih lamina ‘l-ghaafiliin.
Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui. (QS Yusuf, 12:3)

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik.  Jadi itu artinya bahwa Allah mewahyukan kisah-kisah di dalam al-Qur’an kepada kita agar kita mengerti.  Itulah sebabnya kisah-kisah di dalam Syariah atau dalam Islam atau dalam kewalian itu penting untuk dipelajari.  Bukan hanya kita harus membicarakan tentang akhlak, moralitas, tingkah laku yang baik, tetapi kita juga harus menceritakan kisah-kisah.  Jika kalian tidak mempunyai kisah-kisah dengan materi tersebut, itu tidak dapat menjelaskan tentang kebesaran dari apa yang Allah ingin kita ketahui. 

Jadi Grandsyekh mengatakan bahwa Syekh Syarafuddin (q) menceritakan kepadanya kisah-kisah mengenai Syah Naqsyband (q), 54.000 kisah mengenai apa yang dialami oleh Syah Naqsyband (q) sepanjang hidupnya sebagai Wali, sejak umur satu hari ketika beliau dilahirkan hingga akhir hayatnya ketika beliau berumur 74 tahun.  Syekh Syarafuddin (q) menceritakan 54.000 kisah mengenai Syah Naqsyband (q).  

Itu bukan kisah seperti, “Ada berapa ayam yang kamu miliki?”  atau “Ada berapa kambing yang kamu miliki?”  Kisah-kisah ini adalah kisah-kisah rohaniah.  Ini adalah hakikat di mana Sayyidina Syah Naqsyband (q) bergerak di dalamnya.  Beliau mengatakan bahwa ini adalah sekelumit kisah dari apa yang terjadi pada hari ketika beliau dilahirkan.  Grandsyekh Syekh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani (q) Sulthan al-Awliya meriwayatkan kisah itu dari Syekhnya, Syekh Syarafuddin (q) di mana beliau menceritakan kisah tentang Sayyidina Syah Naqsyband (q).  

Grandsyekh mengatakan bahwa pada saat beliau dilahirkan–karena ini menunjukkan kepada kalian bagaimana beliau dibusanai dengan asrar Sayyidina Muhammad (saw).  Ketika beliau lahir ke dunia… seluruh daerah di Daghestan–daerah tempat kelahirannya–dan daerah di sekitarnya antara Timur dan Barat serta merta dipenuhi dengan wewangian Surgawi.  Dari wangi yang muncul di Daghestan tersebut, 5000 sekularis, orang-orang atheis–karena itu adalah daerah komunis, hampir 5000 orang, mereka tidak mampu menerima wangi tersebut–karena itu adalah wangi Surgawi–mereka menjadi binasa, mereka semua tewas dari tajali keindahan wangi tersebut, karena mereka sangat tidak percaya kepada Sang Pencipta, Allah (swt), mereka semua meninggal dunia. 

Malam itu, Sayyidina Syah Naqsyband (q) dengan rohaniah yang muncul pada saat itu, pada hari kelahirannya, beliau memberi tarekat melalui rohaniahnya–karena tubuhnya masih kecil–kepada 10.000 orang.  Dan Grandsyekh mengatakan bahwa melalui wangi Surgawi tersebut hubbud-dunya, kecintaan terhadap dunia dibersihkan dari hati 80.000 orang pada malam itu. Jadi ada 3 kejadian yang beliau sebutkan: 5000 orang atheis meninggal dunia, 10.000 orang mengambil bay’at melalui rohaniahnya, dan 80.000 orang diberisihkan hatinya dari kecintaan terhadap dunia.  

Grandsyekh mengatakan bahwa  pada hari kelahirannya, para Awliyaullah yang hidup di masa itu diperintahkan untuk untuk bergerak dengan tayyu ‘z-zamaan, dengan haqiqat untuk melipat waktu dan muncul di daerah Sayyidina Syah Naqsyband (q) dan mereka bertasbih kepada Allah (swt) atas kelahiran Sayyidina Syah Naqsyband (q) yang akan memikul tanggung jawab dalam Tarekat Naqsybandi.  

Orang-orang munafik tidak dapat memahami kata-kata ini.  Kata-kata ini bukan untuk mereka.  Kata-kata ini adalah untuk orang-orang yang mencintai tasawuf, orang-orang yang menerima tasawuf dan bagi mereka yang mengerti kekuatan para Awliya.  Tidak ada yang dapat memahami kekuatan Awliya kecuali para Awliya itu sendiri.  Kekuatan itu berasal dari rahmatnya Nabi (saw) yang Allah berikan kepada beliau (saw).  

Grandsyekh, semoga Allah memberkahi ruhnya mendengarkan dari Sayyidina Syekh Syarafuddin (q), tetapi beliau tidak hanya mendengarkan; beliau juga menyaksikannya.  Itu adalah kasyaf, seolah-olah beliau sendiri mengalami apa yang dikatakan oleh Syekh Syarafuddin (q).  Sekarang kalian menyaksikan siaran langsung, kalian melihat apa yang terjadi, tetapi tetap saja kalian hanya melihatnya di layar; sementara para Awliyaullah, mereka dapat merasakan apa yang terjadi, mereka menyaksikan, mereka mendengar, dan mereka merasakannya, itu yang dinamakan kasyaf

Jadi Sayyidina Syekh Abdullah ad-Daghestani (q) pada saat itu beliau mengalami apa yang dikatakan oleh Syekh Syarafuddin (q) kepadanya, “Wahai anakku, yaa waladi, wahai anakku, Syekh Abdullah ad-Daghestani–Syekh Syarafuddin (q) adalah pamannya.  “Wahai anakku, jangan menganggap bahwa hal itu sudah terlalu banyak. Itu belum apa-apa.  Sejak Allah menciptakan Sayyidina Syah Naqsyband (q) sampai beliau meninggalkan dunia, dalam setiap langkah yang beliau lakukan, sejak hari pertama, bahkan ketika beliau melangkah dalam gendongan ibunya, ada berapa langkah yang dilakukan ibunya atau jika seseorang menggendongnya, ayahnya atau saudaranya, siapa pun itu, berapa langkah yang mereka lakukan, itu akan dihitung dan seluruh langkah yang beliau lakukan sepanjang hidupnya, pada setiap langkah, dikumpulkan semua, Allah akan menciptakan malaikat sejumlah langkah yang beliau lakukan dalam hidupnya.  Dan para malaikat itu akan terus beristighfar dan istighfar ini akan dicatat bagi Ummatun Nabi (saw).  

Lebih jauh lagi, untuk setiap napas yang beliau lakukan, menghirup atau menghembuskan napas, Allah akan menciptakan malaikat untuk setiap napas yang dihirup dan dihembuskan, dengan rahasia mereka, sebagaimana ketika kalian menarik napas, kalian menghirup oksigen, di sini tidak, bukan hanya itu, beliau juga menghirup asrar, dan beliau menghembuskan asrar yang akan dikirimkan kepada para pengikutnya.  Ketika beliau menarik napas, beliau menghirup asrar dan ketika mengeluarkan napas, beliau akan menghembuskan asrar tersebut untuk disandangkan pada para pengikutnya.  

Dan beliau mengatakan, “Lebih jauh lagi,” Syekh Syarafuddin (q) mengatakan kepada Syekh Abdullah ad-Daghestani (q), beliau mengatakan, dan saya menyebutkannya di dalam buku Naqshbandi Sufi Way, bahwa ada sembilan Awliya yang mempunyai Sultan adz-Dzikir.  Saya menjelaskannya dalam buku itu.  Dalam setiap napas, Sultan adz-Dzikir masuk dan dalam setiap hembusan napas, Sultan adz-Dzikir dikeluarkan.  Apakah itu Sultan adz-Dzikir?  Apakah kalian mengingatnya?  Penjelasannya ada di dalam buku tersebut.  

Hanya ada sembilan Awliya yang mempunyai Sultan adz-Dzikir dalam seluruh Tarekat Naqsybandi.  Berapa lama waktu yang kalian perlukan untuk membaca seluruh al-Qur’an?  15 jam?  Hampir 15 jam, jika seseorang ingin membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir diperlukan waktu 15 jam untuk membacanya non stop, atau sekitar 16 jam.  Sultan adz-Dzikir tidak seperti itu.  Dengan Sultan adz-Dzikir ketika kalian menarik napas, kalian dapat menyelesaikan al-Qur’an dari awal sampai akhir, dan ini masih belum merupakan Sultan adz-Dzikir.  Ini adalah sesuatu kekuatan yang diberikan kepada Awliyaullah.  Dan ketika kalian menghembuskan napas, kalian menghembuskan dengan khatmil Qur’an, kalian menyelesaikan Qur’an dalam satu napas.  Dalam satu tarikan napas, kalian menyelesaikan satu al-Qur’an.  Allah memanjangkan waktunya sehingga kalian dapat menyelesaikan al-Qur’an dalam satu napas.  Ketika kalian mengeluarkan napas, kalian menyelesaikan al-Qur’an dalam satu napas.  Itu bukanlah Sultan adz-Dzikir, hal itu diberikan kepada banyak Awliya.   Allaahu Akbar, Allahu Akbar!  

Sultan adz-Dzikir, hanya 9 Awliya yang mempunyai kekuatan ini.  Ketika kalian menarik napas, kalian mengkhatamkan seluruh al-Qur’an, di mana pada setiap hurufnya disertai dengan 12.000 ilmu.  12.000 ilmu ini masuk dengan satu napas tersebut.  Hal itu tidak seperti ketika seseorang membaca, tidak!  Tetapi ia muncul dengan asrarnya, dan memberi kalian 12.000 makna.  Kalian mengeluarkan napas, kalian mengkhatamkan al-Qur’an dengan satu huruf 12.000 makna.  Makna pertama tidaklah seperti makna berikutnya.  Pada setiap napas yang kalian tarik, kalian menghirup ilmu yang berbeda dan setiap kalian kalian mengeluarkan napas kalian mendapat ilmu yang berbeda.  Untuk satu napas berapa lama kalian melakukannya?  2-3 detik?  Jadi 3 detik berikutnya, kalian mengkhatamkan al-Qur’an dengan asrar yang berbeda dari sebelumnya.  Dan ketika kalian mengeluarkan napas, muncul 12.000 asrar lainnya.  Beginilah kesembilan Wali itu membaca al-Qur’an. 

Kita membaca al-Qur’an seperti seorang pendongeng, kita melewatkan bacaan tersebut, tetapi karena kalian terhubung dengan Sultan al-Awliya ini, kesembilan Awliya ini, di mana salah satunya adalah Grandsyekh (Abdullah (q)) dan Mawlana Syekh (Nazim (q)) serta Syekh Syarafuddin (q), Sayyidina Syah Naqsyband (q) serta lima Wali lainnya.  Karena kalian terhubung dengan mereka, Allah (swt) akan memberi kalian berkahnya ketika kalian membaca al-Qur’an.  Itulah sebabnya semakin banyak kalian membaca halaman Qur’an dan kalian melewatkan jari kalian pada huruf-hurunya ketika kalian membacanya, atau tanpa melakukan seperti itu, bahkan jika kalian membaca satu juz seperti kita, atau 2 juz atau 3 juz, tetapi Mereka akan memberi asrar dari ilmu yang mereka busanai dari kesembilan Awliya ini ke dalam hati kalian.

Jadi Grandsyekh mengatakan bahwa dari napas pertama yang dilakukan oleh Syah Naqsyband (q) di dunia, ketika beliau dilahirkan hingga beliau wafat dalam usia 74 tahun, beliau bernapas, menghirup dan menghembuskan napasanya dengan Sultan adz-Dzikir, dan berkahnya akan dituliskan untuk Ummatun Nabi (saw).  

Pada umur satu tahun, Allah (swt) mengizinkan Nabi (saw) untuk menugaskan malaikat-malaikat dari golongan malaikat terdekat dalam Hadirat Allah (swt) dan Hadirat Nabi (saw) untuk membantu Syah Naqsyband (q).  Jadi Allah (swt) telah menugaskan para malaikat ini dan memberikannya kepada Nabi (saw) untuk kemudian diserahkan kepada Syah Naqsyband (q) untuk merawatnya dan mengajarinya ilmu-Ilmu Ilahiah.  

Itulah sebabnya mereka menyebut Sayyidina Syah Naqsyband (q) sebagai Ghawts.  Ini hanyalah untuk Maqam al-Ghawtsiyyah.  Ini adalah untuk level Ghawts di mana Allah akan menunjuk para malaikat yang akan mengajarinya dan merawat para Awliya. Jadi Sayyidina Syah Naqsyband (q) mempunyai kekhasan tersebut sebagaimana yang dimiliki oleh Sayyidina Syekh Abdul Qadir Jilani (q).  

Grandsyekh mengatakan bahwa Allah juga memerintahkan Khidr (as) untuk selalu mendampinginya.  Khidr (as) tidak pernah meninggalkannya; beliau senantiasa mendampingi Sayyidina Syah Naqsyband (q) dan mengajarinya apa yang harus dilakukan serta membimbingnya bersama para malaikat yang telah ditugaskan untuk membimbingnya.

Ketika beliau masih muda, pada umur lima, enam atau tujuh tahun beliau bahkan sudah membimbing anak-anak seumurannya ke dalam tarekat.  Grandsyekh mengatakan bahwa sejak umur lima sampai tujuh tahun, Sayyidina Syah Naqsyband (q) dapat membawa lima ribu anak di daerahnya untuk masuk ke dalam tarekat karena kekuatan dari perkataannya, dari nasihat-nasihat yang diberikan; beliau melontarkan mutiara-mutiara–artinya ilmu-ilmu ke dalam hati anak-anak itu.  

Syekh Syarafuddin (q) melanjutkan pembicaraannya kepada Grandsyekh Syekh Abdullah al-Faiz Daghestani–semoga Allah (swt) memberkahi ruh mereka,  bahwa pada usia 15 tahun Sayyidina Syah Naqsyband (q) sudah mencapai transformasi rohaniahnya secara lengkap di mana beliau mampu mencapai maqam di Surga di mana rohaniahnya selalu berada di sana bersama para malaikat yang jumlahnya tak terhingga.  Itulah sebabnya ketika beliau bermunajat, doanya lebih tinggi 12.000 kali lipat daripada doa para malaikat pada maqam tersebut.  Nabi (saw) menunjuknya sebagai Wali untuk para malaikat tersebut di mana beliau membimbing mereka untuk memuji Nabi (saw) dan pujian-pujian tersebut akan dituliskan untuk ummatun Nabi (saw).  

Grandsyekh mengatakan ketika beliau mencapai usia 17 tahun, beliau mampu mencapai maqam kesempurnaan tertinggi, sehingga beliau disebut sebagai Ghawts, Ghawts al-Anaam, Ghawts az-Zamaan.  Beliau mencapai maqam kesempurnaan para Awliyaullah yang telah wafat sebelumnya dan mereka berada di  jannat al-barzakh.  Seberapa pun ketinggian maqam yang Allah berikan kepada mereka di alam Barzakhnya, Allah membusanai Sayyidina Syah Naqsyband (q) dengan semua itu dan beliau mampu mencapai maqam untuk sujud di bawah Arasy ar-Rahmaan. 


Di bawah Arasy itu terdapat sungai yang luas berisi makhluk yang tak terhingga.  Allah (swt) telah menciptakan mereka seperti Surga yang indah dari kaum pria dan wanita.  Kaum wanitanya berasal dari hur ul-`ayn dan sungai itu pun dipenuhi para pemuda sebagaimana yang disebutkan dalam Surat ad-Dahr (al-Insaan):

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَّنثُورًا 

Wa yathuufu `alayhim wildaanun mukhalladuun idzaa ra’aytahum hasibtahum lu’lu’an mantsuuraa

Mereka dikelilingi oleh para pemuda yang tetap muda. Apabila melihatnya, kamu akan mengira bahwa mereka adalah mutiara yang bertaburan. (QS Al-Insaan, 76:19)

Allah berfirman di dalam Surat ad-Dahr, bahwa mereka dikelilingi oleh para pemuda yang tetap muda, wildaanun mukhaladuun, pemuda yang tetap muda, mereka tidak menua, mereka tetap muda dan mereka semua melakukan tawaf secara terus-menerus.  Jika kalian melihat mereka, kalian melihat para pemuda ini seperti mutiara-mutiara putih dan itulah sebabnya dikatakan bahwa itu adalah sungai yang berwarna putih.  Grandsyekh mengatakan bahwa kalian tidak dapat menghitung jumlah mereka, tidak ada awal dan akhirnya. 

Ketika Syah Naqsyband (q) berusia 17 tahun, beliau diangkat untuk melakukan sujud di bawah Arasy ar-Rahmaan, dan pada maqam tersebut terdapat sungai putih yang penuh dengan hur al-`ayn dan para pemuda sebagaimana yang baru saja kita gambarkan dan mereka semua mendengarkan nasihat beliau. Apa pun yang diajarkannya, mereka mendengarkannya.  Sayyidina Syah Naqsyband (q) menugaskan para hur al-`ayn dan para pemuda itu untuk berkhidmah pada Ummatun Nabi (saw); untuk murid ini 10, untuk murid ini 1000, untuk murid ini 1 juta dan seterusnya; dan ini adalah salah satu dari keistimewaan beliau.

Ini adalah gambaran sekilas tentang Awliyaullah.  

Grandsyekh mengatakan bahwa ketika beliau berusia 19 tahun, Nabi (saw) memanggil seluruh Rasul dan Nabi-Nabi lainnya untuk membusanai beliau dengan kekuatan mereka agar beliau dapat mengajarkannya kepada Ummatun Nabi (saw) baik yang muncul sebelumnya maupun setelahnya hingga Hari Kiamat.  Itu adalah sebuah keistimewaan bagi Sayyidina Syah Naqsyband (q), bukan hanya orang-orang yang muncul di zamannya, tetapi juga mereka yang hidup sebelumnya hingga Sayyidina Adam (as) dan mempersiapkan mereka untuk Hari Perhitungan agar mereka dapat diampuni.  

Grandsyekh mengatakan bahwa beliau selalu berada di sisi kanan dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra).  Beliau selalu bersama Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra) dan menyerap ilmu dari hatinya dan kemudian menyampaikannya.  

Semoga Allah (swt) mengampuni kita, semoga Allah memberkahi kita dan saya pikir ini sudah cukup mengenai Sayyidina Syah Naqsyband (q).  Kita dapat melanjutkannya lagi nanti. 

Wa min Allah at-tawfiq bi hurmatil Fatihah.

https://sufilive.com/Fifty-Four-Thousand-Stories-about-The-Greatness-and-High-Rank-of-Shah-Naqshband-q–1613.html

© Copyright 2009 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

Advertisement