Mengingat Mati dan Menghormati Ahli Kubur

Shuhba
Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani ق

15325310_1180187118702306_1231173489499364410_o

Suatu ketika ada sekelompok orang yang membangun sebuah hotel besar bersebelahan dengan sebuah masjid. Ketika hampir selesai, mereka berkonsultasi dengan seorang ahli Yahudi, tentang bagaimana sebaiknya menjalankan hotel itu.  Mereka datang lengkap dengan foto-foto lokasi hotel. Ketika melihat foto-foto tersebut, si Yahudi mengatakan bahwa mustahil hotel itu dapat memberi keuntungan, karena letaknya tepat di sebelah masjid. Menurut sang ahli, dua hal yang berlawanan tersebut tidak mungkin saling mendukung-–karena sebuah hotel harus mengandalkan tiga hal demi keuntungannya, yaitu: judi, minuman dan seks.

Para tamu hotel yang sedang tenggelam dalam perbuatan dosa-dosa itu akan mendengar panggilan Adzan selama lima kali dalam sehari.  Mereka akan kembali teringat Tuhannya dan lari meninggalkan hotel.  Bagaimana mau bersenang-senang dengan segala kemaksiatan bila masjid sebelah mengingatkan untuk menyembah Tuhan?  Sayangnya, manusia abad dua puluh memohon agar bisa melupakan Sang Pencipta mereka.

Di kota-kota tua, kompleks pemakaman mengelilingi masjid-masjid.  Namun pemerintah sekarang ini mencegah pemakaman seperti itu, dengan alasan membuat lingkungan menjadi tidak sehat.  Mereka lalu meminta penguburan diharuskan beberapa ratus kilometer jauhnya dari kota.

Mengatakan bahwa lingkungan menjadi tidak sehat adalah kebohongan besar.  Padahal dulu makam-makam diletakkan di taman di depan rumah.  Mereka akan mengatakan, ”Ini makam ayahku, yang di sana makam bibiku, lalu yang di sini makam ibuku.”  Ini bukan hanya mengingat para leluhur mereka, tetapi juga mengingatkan akan kematian mereka sendiri, mengingat Tuhan mereka dan juga adanya kehidupan akhirat.

Wahabi adalah jenis lain dari kaum Iblis, mereka akan memakamkan di dekat rumah atau masjid, tetapi tidak mengizinkan ada tanda di makam tersebut.  Ketika saya bersama seseorang yang ingin berziarah di makam ayahnya di dekat Masjid Dehiwela,  Sri Lanka-–ternyata dia tidak tahu di mana tepatnya makam ayahnya, karena tidak ada tanda atau nisan.  Dia mengatakan ada sekumpulan manusia Iblis yang mencegah dibuatnya tanda-tanda atau nisan.  Mereka ini adalah para penyangkal adanya akhirat.

Imam-imam kita yang tak pernah bimbang akan syariat memiliki hikmah akan penulisan nama orang yang meninggal pada batu nisan.  Para pengunjung makam dapat membacakan al-Fatihah bagi para ahli kubur.  Penulisan itu sebagai sebuah pengingat terhadap mereka yang telah meninggal.  Namun kaum Wahabi menyebut hal itu sebagai syirik.  Semoga bebatuan menimpa kepala mereka yang mengatakan bahwa penulisan nama-nama orang tua mereka di batu nisan sebagai syirik dan bid’ah.  Suatu ketololan dari para kaum Iblis.

Bila mereka tidak menandai makam-makam itu, mereka bisa terjatuh ke dalam sesuatu yang makruh – yaitu menginjak-injak makam-makam yang tidak terlihat keberadaannya – seperti yang saya lihat di pemakaman Dehiwela.  Bukan hanya tidak menghormati, hal itu juga mengganggu mereka yang di makamkan di situ.  Melangkahi sebuah makam bisa diibaratkan berjalan di atas perut wanita yang sedang hamil.

Rasulullah (saw) mengajari sebuah doa bagi mereka yang mengunjungi makam, Subbuhun Quddusun Rabbu ’l-Malaaikati Wa ‘r-Ruuh, Subbuhun Quddusun Rabbu ’l-Malaaikati Wa ‘r-Ruuh, Subbuhun Quddusun Rabbu ’l-Malaaikati Wa ‘r-Ruuh.”  Ketika kalian membaca tasbih ini saat memasuki makam, maka berkah akan turun menaungi ahli kubur yang dituju, dan penghuni makam yang lain akan berharap kalian juga berkenan mendekati makam-makam mereka

Ribuan sahabat dimakamkan di Jannatul Baqi dan Jannatul Mualla, tetapi orang-orang melangkahi makam-makam itu tanpa adab sama sekali.  Dan kemerosotan moral ini telah berjalan selama 50 tahun terakhir dalam dunia Islam.  Semoga Allah (swt) menjauhkan ide-ide buruk seperti itu dari Hijaz.  Orang-orang yang lalai itu mengira mereka telah melakukan kebaikan, padahal yang dilakukan adalah hal terburuk.

Advertisements