Kehidupan Kita adalah tentang Perjalanan ke Hadirat Ilahiah

89591512_871362696659943_7271272168413757548_n

Dr.Nour Kabbani
Shuhbah
Fenton, Michigan, 19 Maret 2020


a`uudzu billaahi syamii`i ‘l-`aliim mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
a`uudzu billaahi syamii`i ‘l-`aliim mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Rabbii laa hawla wa laa quwwata illa billaahi ‘l-`aliyyi ‘l-`azhiim 

Destur yaa Sayyidi Madad, yaa Sulthaanil Awliya, 
Yaa Sayyidi Quthbal Mutasharrif, 

Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Aziiz Allah
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Kariim Allah
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhan Allah
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Sulthan Allah

Engkau adalah Sulthan yaa Rabbii, Engkau yang mengendalikan segala sesuatu, dengan kendali penuh, kendali yang mutlak.  Tidak ada yang dapat melarikan diri dari-Mu yaa Rabbii, Engkau Maha Mengetahui apa pun yang terjadi. Yaa Rabbii, kami adalah hamba-Mu yang lemah, tolonglah kami yaa Rabbii, berikanlah apa yang kami perlukan.  

Assalamu’alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh,

Selamat datang!  Selamat datang! Selamat datang untuk kalian dan selamat ulang tahun untuk saya. (tertawa)

Mawlana Syekh Nazim, mursyid kita, guru kita.  Semoga Allah (swt) memberkahi beliau selama-lamanya, dan menjadikan kita senantiasa mengikuti jejaknya.  Alhamdulillah kita melanjutkan perjalanan kita. Perjalanan kita ke mana? Ke Hadirat Allah, ilal hadhrah qudsiyyah, ke Hadirat Ilahiah-Nya yang suci, al-hadhratul wahidiyyah, al-hadhratil asma’iyyah, semoga Allah (swt) membuka pintu itu untuk kita.  

Kita semua meminta untuk hidup.  Ini adalah perkataan Mawlana Syekh Nazim (q).  Semua kata-kata saya berasal dari kata-kata guru saya.  Saya berusaha untuk tidak mengatakan apa-apa dari imajinasi saya; saya berusaha untuk mengikuti dan mengulangi apa yang telah dikatakan oleh guru saya, untuk diri saya agar dapat mengerti dan untuk orang lain agar dapat bermanfaat.       

Beliau mengatakan, “Nahnu jamii`an tathlubul hayaat,” kita semua meminta hayat, kehidupan.  Semua orang mencintai kehidupan. Setiap orang senang untuk melanjutkan kehidupannya.  Mereka tidak senang untuk mati. Semua orang di dunia tidak ingin mati, semua orang di dunia ingin agar tetap hidup.  Setiap orang takut dengan kematian. Dan setiap orang ingin hidup selamanya. Ini adalah kata-kata dari guru kita, Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani an-Naqsybandi al-Qubrusi (qaddasAllaahu sirruhu).  Beliau mengatakan, “Setiap orang ingin hidup, setiap orang ingin agar tetap hidup selamanya. Tidak ada orang yang ingin mati.”      

Allah (swt) telah menciptakan manusia; Allah (swt) telah menciptakan kalian dan saya, Allah (swt) tetah menciptakan semua manusia di bumi dan telah memberi mereka dari ruuh-Nya, dari napas-Nya, wa nafakhtu fiihi min ruuhii, dan Aku telah meniupkan Ruh-ku ke dalamnya (QS al-Hijr: 15-29).  Allah (swt) telah memberikan napas suci itu (ruh) kepada manusia setelah Dia menciptakannya.  Dan Dia telah memberinya kekuatan, qudrah; Dia telah memberinya kemampuan; Dia membuat manusia mampu untuk belajar, untuk memahami, untuk mengetahui, untuk merasakan, untuk mencintai; dan Dia juga memberinya kemampuan untuk berkehendak dan untuk menginginkan sesuatu, dan untuk meminta, dan untuk bergerak sesuai dengan keinginannya, dan sesuai dengan permintaannya.  

Allah telah membuat kalian mampu, wahai manusia dengan kehidupan yang Dia berikan kepada kalian.  Dia telah memberi kalian kehidupan itu. Dan Dia telah memberikan kalian perlengkapan di dalamnya.  Kalian mempunyai peralatan dalam diri kalian. Peralatan, yang mereka sebut isti`adaad, kesiapan.  Allah (swt) telah memberi kalian isti`adaadun fithri, Dia telah memberi kalian kesiapan sejak Dia menciptakan kalian.  Ini adalah isti`adaad kalian, modal kalian.  Allah telah memberi kalian kesiapan untuk memulai suatu perjalanan ke Hadirat Ilahiah-Nya.  Dan itu adalah kehidupan kalian.  

Kehidupan kalian bukanlah tentang kenikmatan sebagaimana yang dilakukan oleh binatang, tidak!  Kehidupan kalian adalah tentang mengambil manfaat dari karunia yang telah Allah berikan kepada kita untuk mencari perjalanan tersebut.  Perjalanan ke Hadirat Ilahiah-Nya. Jadi kehidupan kalian adalah tentang melakukan perjalanan ke Hadirat Ilahiah itu. 

Grandsyekh mengatakan, “Laqad `athaanaa hayaat,” Allah (swt) telah memberi kita kehidupan.  Tetapi kehidupan ini tidak diberikannya kepada yang lain.  Binatang tidak mempunyai kehidupan seperti manusia. Binatang tidak akan mengetahui apa yang diketahui oleh manusia.  Binatang tidak akan mengerti apa yang dimengerti oleh manusia. Binatang tidak akan merasakan apa yang dirasakan oleh manusia.  Kehidupan kalian berbeda dengan kehidupan binatang. Binatang tidak mempunyai kekuatan untuk berkehendak. Manusia diberikan iraadah, kehendak. Kita dapat merasakan kehidupan; kita mengetahui tentang kehidupan; kita merasakan kehidupan; kita mencari kehidupan; kita meminta kehidupan.  Jadi manusia adalah seorang mujaahid, seorang pejuang.  Ia berjuang untuk apa?  Manusia berjuang agar tetap hidup dan tidak mati.  Ahh… kita ingin hidup!

Jadi Grandsyekh mengatakan, “Kalian ingin hidup, tidakkah kalian pikir bahwa Allah (swt) mengetahui keinginan itu di dalam dirimu, wahai manusia?”  Allah (swt) mengetahui keinginan manusia untuk hidup. Dia bersama kita. Apakah menurut kalian Dia tidak mengetahui hal itu? Wallaahu bi kulli syay’in `aliim, dalam Surat at-Taghabun, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.  Wahai manusia, Dia tahu bahwa kalian ingin hidup. Tidak hanya sekarang, Dia tahu bahwa kalian ingin hidup selamanya dan setiap orang ingin masuk Surga.  Setiap orang ingin berada dalam kesenangan yang abadi. Allah (swt) mengetahui hal itu tentang manusia. Jika kalian berpikir bahwa Dia tidak tahu bahwa kalian ingin hidup, berarti kalian salah.  

Grandsyekh mengatakan, “Innahu ya`lam, Allah (swt) mengetahui bahwa sepanjang hidupnya manusia akan mengalami tamparan dalam kondisi terburuk yang mungkin terjadi.  Walaupun begitu manusia ingin tetap hidup dan tidak mau mati. Menghadapi hal itu, Grandsyekh mengatakan bahwa manusia terdiri dari dua golongan.  Kebanyakan orang melihat hal itu dan mereka merasa takut. Mereka berpikir bahwa kematian adalah akhir dari keberadaan mereka. Mereka berpikir bahwa kematian adalah pintu menuju ketiadaan.  Mereka berpikir bahwa kematian merampas keberadaannya. Mayoritas orang yang berpikir seperti itu, mereka tidak mengerti tentang rahasia kehidupan; dan mereka tidak mengerti tentang hakikat kematian.  Mereka tidak mengerti tentang rahasia kehidupan yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka tidak mengerti apa makna dari kehidupan dan makna dari kematian. Mereka tidak mengerti tentang konsekuensi berada dalam kehidupan dan kematian.  Mayoritas orang tidak mengerti tentang hakikat kematian dan mereka tidak mengetahui rahasia kehidupan.         

Hanya sedikit orang yang memahami hakikat kematian dan kehidupan sejati.  Dan yang sedikit ini, mereka mengetahui apa yang diinginkan oleh Allah (swt) dan mereka mengerti hikmah dalam penciptaan ini.  Oleh sebab itu mereka adalah orang-orang yang bahagia. Mereka adalah orang-orang yang ridha. Mereka merasa puas. Orang-orang ini, mereka mengetahui hakikat kehidupan dan hakikat kematian.  Jadi ketika manusia dihadapkan dengan kematian, mayoritas orang ketakutan karena mereka tidak mengerti tentang hakikat kematian dan hanya sedikit yang menyambut kematian itu dengan senang hati, karena mereka mengerti tentang hakikat kematian dan apa yang dibawa oleh kematian itu bagi mereka.  

Jadi mayoritas orang yang takut akan kematian dan mereka berpikir bahwa kematian adalah pintu menuju ketiadaan, mereka adalah orang-orang yang menyedihkan, mereka adalah orang-orang yang tertekan.  Hari demi hari mereka jatuh semakin dalam ke dalam sumur penderitaan dan kesedihan. Orang-orang yang tidak mengerti tentang kehidupan sejati, tentang rahasia kehidupan. Tetapi yang lain, mereka bahagia, karena mereka tahu apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan mereka.  

Wahai Mukmin, di mana iman kalian?  Iman adalah senjata kalian. Iman adalah pendukung kalian; iman adalah tempat bernaung kalian, tempat kalian berlindung.  Dalam Surat at-Taghabun (QS 64: 11), wa man yu’min billaahi yahdi qalbahWa man yu’min billaahi, dan barang siapa yang mempunyai iman, barang siapa yang percaya kepada Allah (swt); yahdi qalbah, Allah menjadikan hati mereka mendapat petunjuk menuju ketenangan dan ketenteraman.  Dia memberikan ketenangan dan kedamaian di dalam hati kalian. Apa? Yu’min billaah, iman kepada Allah (swt).  Allah tidak melanjutkannya pada yang lainnya, karena iman itu adalah asal, iman adalah target utamanya; sedangkan yang lainnya akan mengikuti.  Orang-orang ini tahu bahwa Allah (swt) mengetahui bahwa kita ingin melanjutkan kehidupan kita.  

Jika Allah (swt) memberikan karunia kehidupan kepada kalian dan Dia menjadikan kalian dapat merasakan keindahan dalam kehidupan dan membuat kalian melanjutkan kehidupannya, apakah menurut kalian Allah (swt) akan mencabut nikmat tersebut dari kalian?  Grandsyekh mengatakan, “Jangan berpikir bahwa Allah (swt) akan mencabut nikmat tersebut.” Nikmat apa? Nikmat kehidupan. Jangan berpikir bahwa Allah (swt) akan menjadi pelit, dan mengeluarkan kalian dari kehidupan abadi. Kehidupan yang abadi, itulah tujuannya.  Untuk tujuan itu, Allah (swt) telah mengutus manusia pertama.  

Orang-orang bertanya, “Mengapa Adam dikeluarkan dari Surga?”  Adam keluar dari Surga untuk menyeru kepada anak cucunya, menyeru kepada hamba Allah (swt) untuk kehidupan yang abadi.  Grandsyekh mengatakan, “Allah (swt) telah mengutus manusia pertama, rasul pertama, dengan pesan pertama di bumi. Apakah pesan yang dibawa oleh Ayah dari seluruh manusia?  Ayah kalian! Apakah pesan yang dibawa oleh Nabi pertama bagi manusia? Apakah pesan pertama untuk manusia? Pesan pertama dari Allah (swt), Sang Pencipta adalah, “Wahai hamba-Ku, Aku berjanji padamu, dan Aku memanggilmu untuk masuk ke dalam kehidupan yang kekal.”  “Karena panggilan menuju kehidupan yang kekal itu, Aku telah membuat kematian untuk tinggal bersamamu. Aku telah membuat kematian berada di antara kalian.” “Aku memanggil kalian menuju kehidupan yang kekal!” Itulah pesan pertama yang datang bersama manusia pertama, dan Nabi pertama di bumi.  

Wahai manusia, Allah (swt) memanggil kalian menuju kehidupan yang kekal.  Menuju kekekalan dengan kebahagiaan dan kesenangan. Apa pun yang kalian rasakan di sini, itu akan dilipatgandakan di sana.  Apa pun yang kalian nikmati di sini, itu akan dilipatgandakan di sana. Dan di sana lebih mulia, lebih besar, lebih terhormat, tidak ada kematian dalam kehidupan di sana.  Itulah pesan pertama kepada manusia. “Itulah sebabnya Aku menciptakan kematian di antara kalian.” Alladzii khalaqa ‘l-mawta wa ‘l-hayaata… di dalam Surat Tabarak (QS 67:2).  MasyaAllah, saudara-saudari kita, kalian membaca Surat Tabarak.

Allah (swt) berfirman di dalam Surat al-Mulk, Alladzii khalaqa ‘l-mawta, Dia telah menciptakan kematian, wa ‘l-hayaata, dan kehidupan, liyabluwakum, untuk menguji kamu, ayyukum ahsanu `amala, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, itu artinya siapa di antara kalian yang akan memenuhi panggilan Rasulullah (saw), yang akan memenuhi panggilan Rasul-Rasul, yang akan memenuhi panggilan Rasul pertama.  Panggilan seperti apa? Allah (swt) mengundang kalian untuk masuk ke kehidupan yang kekal di tanah yang penuh kebahagiaan, kesenangan dan kedamaian.  

Jadi mengapa kalian takut?  Mengapa kalian termasuk golongan mayoritas tadi?  Di mana hari demi hari mereka semakin tertekan. Hari demi hari mereka semakin menderita.  Hari demi hari mereka berada dalam kegelapan. Mengapa? Kalian seharusnya termasuk golongan yang minoritas.  Minoritas yang bahagia dengan Tuhannya; mereka mengharapkan dan menyambut hari di mana mereka akan kembali kepada Tuhannya.    

Apa yang dikatakan oleh Allah (swt)?  Suatu ketika Sayyidina Umar (ra) mendapati seorang Mukmin yang sedang berdoa, “Allahumma ‘j-alni mina ‘l-Khaliil,”  “Wahai Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang sedikit.  Sayyidina Umar (ra) berkata, “Doa macam apa ini?” Orang itu berkata, “Yaa Sayyidi, yaa Amira ‘l-Mu’miniin, aku pernah mendengar firman Allah (swt), “Hanya sedikit dari hamba-Ku yang bersyukur.”  Aku berdoa agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang sedikit ini.” Kelompok mana yang sedikit ini?  Mereka adalah orang-orang yang bersyukur. Apa yang mereka syukuri? Mereka bersyukur bahwa mereka telah diciptakan dan telah ditemukan.  Mengapa? Sehingga mereka dapat mengikuti Rasulullah (saw), agar mereka dapat menjawab panggilan Allah (swt).  

Apa yang dikatakan oleh Allah (swt)?  Wahai Mukmin, bukankah Dia berfirman, “falyastajiibuu lii wa ‘l-yu’minuu bii la`allahum yarsyuduun,” (QS 2: 186)

Hendaklah mereka itu memenuhi panggilan-Ku, katakan pada mereka untuk memenuhi panggilan-Ku, kalian semua, penuhilah panggilan-Ku. Panggilan untuk apa?  Panggilan menuju kehidupan yang kekal, hayatun abadiyya, laa mawta fiiha, tidak ada kematian di sana.   

Grandsyekh memberi kita kabar gembira.  Mukmin harus bergembira setiap saat. Mukmin harus merasa puas setiap saat.  Mukmin harus menyambut datangnya hari di mana ia akan bertemu Tuhannya setiap saat.  Mengapa kalian takut, wahai Mukmin? Wahai Mukmin di Saudi, wahai Mukmin di Lebanon, wahai Mukmin di Turki, di Pakistan, di Afrika, di Amerika, di Eropa, wahai Mukmin, wahai orang-orang yang beriman, orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan Surgawi.  Mengapa kalian bersedih? Mengapa kalian takut? Allah (swt) telah menjanjikan kepada kalian kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan ini. Allah (swt) telah menjanjikan kepada kalian kehidupan yang indah dan manis yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya.  Allah (swt) telah menjanjikan kepada kalian untuk berada di Surga dengan Awliya dan Anbiya untuk mendapat maqam laa khawfun `alayhim wa laa hum yahzanuun.  Maqam itu bukan untuk setiap orang, sekarang kalian mengerti bukan?  

Untuk mendapat maqam di mana tidak ada rasa takut pada diri mereka, tidak ada kesedihan pada diri mereka, Allah (swt) memberi ujian di dunia ini.  Mereka yang telah mencapai maqam laa khawfun `alayhim wa laa hum yahzanuun tidak ada ketakutan menimpa mereka.  Tidak ada kesedihan menimpa mereka. Perhatikanlah, mana yang telah mencapai maqam tersebut, di antara masya Allah para Imam, dan Syuyukh, dan para ulama di seluruh dunia.  Mereka semua takut dan bersembunyi. Allah (swt) menunjukkan Awliya-Nya pada kalian.  Mana yang tidak takut dan tidak bersedih hati? Mereka malah senang dan merasa puas. Mereka malah penuh cinta kepada Tuhannya.  Hal itu menunjukkan kepada kalian siapa yang sesungguhnya Awliyaullah; itu menunjukkan siapa Mukmin sejati. 

Grandsyekh mengatakan bahwa nikmat terbesar yang telah dikaruniakan Allah dari Kemurahan-Nya kepada manusia adalah janji bagi mereka untuk kehidupan yang kekal.  Kehidupan dalam keabadian. Kalian tahu contoh saya dan contoh kalian? Kita adalah kuda. Saya dan kalian adalah kuda. Apa yang mereka lakukan terhadap kuda-kuda ini?  Mereka memasangkan kereta padanya. Kalian tahu di masa lalu ketika mereka mempunyai kuda-kuda dan keretanya. Sebelum semua teknologi ini, ada kuda dan kereta yang diikatkan pada kuda itu.  Apa yang dilakukan kuda-kuda ini sejak pagi hingga sore? Mereka membawa manusia, mereka membawa barang dagangan, mereka bekerja. Mereka melakukan pekerjaan berat untuk memberi manfaat bagi manusia.  Tugas saya, tugas kalian adalah itu, kita ini adalah kuda yang melakukan pekerjaan berat demi memberi manfaat bagi kemanusiaan. Ketika pekerjaan kita selesai, apa yang mereka lakukan? Ketika pekerjaan seekor kuda telah selesai, apa yang orang lakukan?  Mereka melepaskan kuda-kuda itu. Mereka melepaskan keretanya, mereka membawa kuda itu ke tempat istirahat yang nyaman, memberi mereka makanan terbaik dan membersihkannya, membelainya dan mungkin menciumnya, kita tidak tahu.  

Mereka mengatakan, “Kalian telah melakukan tugas kalian.  Kalian telah melakukan pekerjaan kalian, kalian telah memberi manfaat bagi manusia.  Sekarang waktunya bagi kalian untuk beristirahat. Grandsyekh mengatakan bahwa gerbang menuju kehidupan yang kekal adalah ketika mereka mengatakan kepada kalian, “Sekarang kalian bebas dari semua tanggung jawab ini.  Kalian telah melakukan yang terbaik, wahai manusia, wahai hamba Allah (swt), wahai hamba Tuhan, kalian telah melakukan yang terbaik untuk masyarakat kalian, kalian telah melakukan yang terbaik untuk keluarga kalian, kalian telah melakukan yang terbaik bagi tetangga kalian.  Kalian telah melakukan yang terbaik bagi negara kalian, kepada dunia, kalian telah melakukan yang terbaik untuk ciptaan Allah. Sekarang Allah menyambut kalian menuju kehidupan yang kekal. Mari lepaskan kereta ini dari kalian untuk membebaskan kalian. Itulah hikmah yang telah diberikan oleh Grandsyekh Naqsybandi ke dalam hati guru kita.  Dan hikmah itu sepatutunya berada dalam hati kalian wahai Mukmin, bahwa Allah telah menjanjikan kepada kalian hayatun abadiyya, kehidupan yang kekal dan Dia telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian apakah kalian akan melakukan pekerjaan yang baik atau tidak.  Jadi, janganlah bersedih hati, jadilah di antara mereka yang sedikit, yang bahagia, yang bersyukur dan memohon kepada Allah (swt) untuk memasukkan mereka ke dalam kehidupan yang kekal.  

Kita semua ingin hidup, tidak ada orang yang ingin mati, jadi ambillah tindakan pencegahan sehingga kalian dapat dimasukkan ke dalam hayatun abadiyya, kehidupan yang kekal.  Itulah yang penting, dan untuk masuk melalui pintu tersebut, yakni melalui kematian.  Melalui pintu itu menuju kehidupan yang kekal. Jadi bergembiralah.  

Grandsyekh mengatakan, dan saya akan mengakhirinya di sini, “Kalian harus meminta kepada Allah (swt), kalian harus berdoa, “Yaa Rabbii an im `alayya, wahai Tuhanku, karuniakan kepadaku lebih banyak nikmat dengan kehidupan yang tidak akan berakhir.”  Itulah sebabnya kita semua ingin hidup, itulah sebabnya setiap orang merasa takut, kita ingin hidup selamanya, tetapi kehidupan di dunia pada akhirnya akan berakhir.  Engkau menjanjikan kehidupan yang kekal. Jadi mintalah kepada Tuhan kalian ketika kalian berada di sini, “Yaa Rabbii, berikanlah kepada kami kehidupan yang tidak pernah berakhir, kehidupan yang akan berlangsung selamanya, hayatan khalida.”  

Mawlana sering mengatakan, “Kehidupan yang tidak pernah berakhir.”  Mintalah kepada Allah (swt) kehidupan yang tidak pernah berakhir, hayatan khalida.  Semoga Allah (swt) mengaruniai kehidupan tersebut.  Kita semua ingin hidup dan kita memohon kepada Allah agar dikaruniai kehidupan yang kekal. Kita katakan, “yaa Rabbii, kami telah memenuhi panggilan-Mu.  Tolonglah kami yaa Rabbii, tolonglah kami untuk memberi manfaat bagi manusia, agar kami dapat melakukan yang terbaik bagi kemanusiaan, sebagaimana seekor kuda telah melakukan pekerjaan terbaiknya, izinkanlah kami melakukan yang terbaik di dunia ini.”  Ketika kita telah melakukan yang terbaik, Mereka akan melepaskan kita dan mengatakan, “Engkau telah melakukan yang terbaik, Tuhanmu menantikanmu.” Itulah yang penting.  

Semoga Allah (swt) senantiasa mengumpulkan kita bersama.  Semoga Allah (swt) menjaga kita dalam jejak para Shadiqiin, jejak orang-orang yang benar, jejaknya Grandsyekh kita yang luar biasa.     

[doa]

wa min Allah at-tawfiiq bi hurmatil habib wa bi sirri Suuratul Faatihah          

Apa yang Terjadi setelah Kematian?

246446_10150880228999335_2143551206_n

Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ق
Shuhba, 10 Desember 2004
Jakarta, kediaman Bapak Tony

 

Ketika kalian dimasukkan ke liang kubur, orang-orang pun melemparkan tanah pada kalian.  Itu adalah sunnah. Apa alasannya? Setiap butir tanah akan menyerap jasad orang yang meninggal.

Habil dibunuh oleh Qabil. Allah (swt) menunjukkan bagaimana mengubur jasad tersebut. Jika manusia tidak belajar bagaimana mengubur jasad orang yang meninggal, Mawlana Syekh (semoga Allah (swt) memberkahi beliau) berkata, “Jika jasad orang yang meninggal tidak tertutupi tanah, bau jasad itu  akan membuat orang di seluruh dunia jatuh pingsan.”

Tanah yang dibuat untuk mengubur jasad itu adalah rahmat, bila tidak dikubur semua orang akan mengutuk orang yang meninggal tadi karena bau busuk yang berasal dari mayatnya.

Artinya, ketika kalian menguburnya, kalian juga sedang menutupi aibnya.

Salah satu Asma Allah (swt) adalah Sattar, Dia Yang menutupi dosa. Dia sedang menutupi jasad dengan menguburnya. Kalian tak dapat melihat jasad itu di lantai, lalu hidup! Itulah ketakutan yang muncul dalam hati kalian.

Jika seseorang meninggal di rumah dan jasadnya dibiarkan di sana, orang pun akan merasa takut. Apa yang mereka takutkan? Kematian adalah heyba-penampakan yang agung- sesuatu yang gigih dalam tubuh, yang kalian rasakan  ketika akan melihat malaikat pencabut nyawa.  Allah (swt) membuat hal itu sebagai rahmat ketika kita menguburnya di dalam tanah. Jika berada di atas tanah, kalian takkan berselera untuk makan dan minum saat melihat jasad tersebut, ia kelihatan menjijikan.

Ketika seseorang meninggal, setelah beberapa hari, kalian tidak bisa makan dan minum. Kalian menguburnya karena gambaran yang menjijikan itu. Jika kalian jijik dan merasa takut padanya, tahukah kalian apa yang dirasakan oleh orang yang telah meninggal itu terhadap hukuman Allah (swt)?

Jawabannya, mereka sedang memanggil kalian.

Berapa banyak jasad yang sedang ketakutan akan siksaan Allah (swt) dan ketika dikirim Malaikat Munkar (as) dan Nakir (as).   Orang itu ditinggal sendirian, di bawah tanah, tak mampu bergerak ke kanan dan ke kiri karena ada tanah di sampingnya untuk menjaga agar jasad tetap lurus.

Setiap orang akan mati, tak seorang pun terlewatkan. Nabi (saw) bersabda bahwa Allah (swt) mengirim roh kembali ke jasad tersebut. Begitu roh dikembalikan, orang itu pun duduk tegak. Dahinya terantuk tanah.  Setiap kali dia ingin duduk kepalanya terantuk tanah. Saat itulah dia menyadari bahwa itu adalah kali terakhir dia berada di dunia.

Dia menyadari bahwa dia sedang berada di Akhirat.

Dua malaikat datang dan bertanya padanya, ”Siapa Penciptamu? Siapa pembawa pesan-Nya? Apa agamamu? Apa kitab sucimu?”

Jika lidah kalian membeku pada saat itu, kalian berada dalam bahaya. Jika lidah kalian tidak kelu dan mampu menjawab, maka kalian pun aman.

Itulah sebabnya dulu para Syuyukh memerintahkan murid-muridnya untuk menyendiri di dalam liang kubur, untuk mengajari mereka, “Suatu hari kalian akan seperti itu.”  Mereka pun sadar suatu hari pasti Allah (swt) akan memanggil mereka. Jika kita merasakan ini dan menyadarinya, kita tidak akan duduk berleha-leha. Kita akan duduk di pojok, berzikir, bershalawat dan membaca Quran, hanya memuji Tuhan kita dan menanti saat kematian.

Tetapi Allah (swt) membuat kita ghaafil, lalai; membuat kita sibuk dengan pekerjaan dunia.  Tanpa itu, dunia akan berhenti.  Jika Allah (swt) tidak membuat kita lalai, semuanya tak akan bergerak.

Para Awliya bukanlah orang-orang yang lalai. Itulah sebabnya setiap saat mereka selalu berzikir, setiap saat mereka mengikuti muridnya untuk mengawasi kelakuan mereka.  24 jam mereka mengawasi murid-muridnya.  Semoga Allah (swt) mengampuni dan menyelamatkan kita.

Saya sedang melihat dan teringat ketika dulu pernah melihat foto-foto dua orang wanita di dinding itu, dan saya teringat mereka meninggalkan semuanya dan pergi.  Kalian tidak akan membawa apa pun, walaupun hanya baju dan cincin. Berangkat dan pergi.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita.   Ini sangat sulit – bagaimana menghadapi kubur kita?

Rabi`a al-`Adawiyya (qs) sering berada di sini dan menangis seharian sambil beristighfar. Beliau berkata, “Bagaimana aku tidak beristighfar?  Sementara aku tak tahu bagaimana Sayyidina Izrail (as) akan mengambil nyawaku; dengan siksaan-siksaan atau dengan kebaikan?”

Jika kalian tahu, maka semuanya akan lancar;  tetapi tak seorang pun yang tahu!

Bi hurmati ’l-Fatihah.