Khotbah Jumat: Jalan Kita adalah Shalat

72374768_399587174068563_818247134527619072_o

Dr.Nour Muhamad Kabbani
Khotbah Jumat, Darul Uloom Islamia, Manchester, Inggris

11 Oktober 2019

 

shalawat…

wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahi ‘l-`Aliyyi ‘l-`Azhiim

destur yaa Sayyidi…

Assalamu’alaykum wa rahmatullahi ta`aala wa barakatuh,

Merupakan sebuah kehormatan bagi kami untuk berada di antara Muslim, di antara Mukmin yang mempunyai hati yang terbuka.  Ini merupakan tanda keimanan, sebagaimana guru kami Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q) mengatakan, “Iman membuat manusia menerima untuk percaya, dan Rasulullah (saw) telah datang untuk memberi kita cahaya iman ke dalam hati kita.  Dan beliau telah memberikannya kepada para Sahabat al-Kiraam, para Ahlul Bait, yang pada gilirannya mereka memberikannya kepada para Tabi’iin, Tabi Tabi’iin, pada Awliyaullah dan alhamdulillah ia juga datang kepada kita. Semoga Allah (swt) menambah iman kita, dan membuat iman kita kokoh.

Dalam iman, Allah (swt) memuji umat Mukmin bahwa mereka tidak takut terhadap kesalahan yang mungkin dilimpahkan kepada mereka.  Kita katakan, “Haqq!” Seorang Mukmin, seorang Muslim harus mengatakan, “Haqq!” Para ulama harus mengatakan Haqq, dan mereka tidak dapat menyembunyikannya.  Para ulama harus mengatakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah (saw) dan tidak bermain-main dengan hal itu.  Sayangnya para ulama sekarang telah mengubah Aturan Allah (swt), telah mengubah Sunnah Rasulullah (saw) untuk menyesuaikan dengan zaman.

Allah (swt) Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya, bukannya setiap waktu ada sesuatu yang lebih baik bagi hamba-hamba-Nya.  Allah (swt) Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya sepanjang waktu, setiap saat, setiap abad, tidak ada yang lebih baik selain mengikuti Sunnah Rasulullah (saw). Dan itu berlaku untuk seluruh umat, untuk seluruh manusia. Insya Allah kita senantiasa ada dalam jalur tersebut.  Kita belajar dari guru-guru kita untuk mengikuti Sunnah Rasulullah (saw). Seorang guru yang baik, seorang guru yang saleh adalah guru yang mengajarkan Sunnah yang benar. Tetapi sekarang ini orang-orang telah mengubah rambu-rambunya, seperti ketika kalian berjalan di jalan raya–saya mendengar dari guru saya, Mawlana Syekh Nazim (q), “Bila engkau berjalan di jalan raya, kau harus mengikuti rambu-rambu yang ada, jalur ini ke Birmingham, jalur ini ke Liverpool, jalur ini ke London, jalur ini ke sini, jalur ini ke sana, tetapi Setan kemudian mengubah rambu-rambu tersebut dan memutarbalikkannya sehingga sekarang misalnya arah ke Timur, ke Leeds misalnya, dan sekarang Leeds menjadi di Barat.  Kiblat telah diubah oleh Setan untuk manusia. Bukannya mengarahkan manusia kepada Allah, mereka telah diarahkan kepada sesuatu yang lainnya. Setan adalah orang yang duduk di jalannya Mukmin, Muslim dan umat manusia, dan jalan itu adalah Sunnah Rasulullah (saw). Ia duduk di sana dan berusaha untk mengubah jalurnya.

Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, dalam surat al-Baqarah,


asta`idzubillah
yaa ayyuha ‘n-naasu kuluu mimmaa fii ‘l-ardhi halalan thayyiban, wa laa tattabi`uu khuthuwaati ‘sy-syaythaani innahu lakum `aduuwum mubiin

Wahai manusia, Allah (swt) mengetahui apa yang terbaik untukmu. 


Itulah sebabnya Dia mengatakan, “Yaa ayyuha ‘n-naas!”  pada ayat ini, bukannya “yaa ayyuhal ladziina aamanuu. wahai orang-orang yang beriman,”  tetapi di sini, “Wahai manusia!” Manusia artinya manusia di seluruh abad, setiap saat, dari sekarang hingga Hari Kiamat.  Sejak Sayyidina Adam hingga Yaumul Qiyamah, Allah (swt) mengatakan kepada manusia, “Makanlah, dapatkanlah, apa yang halal dan apa yang thayyib dan jangan ikuti jejaknya Setan, ia adalah musuh yang nyata bagimu.

Allah (swt) mengatakan kepada kita apa yang baik bagi kita, setan adalah musuh yang nyata, ia adalah bukti bahwa ia adalah musuh bagi kalian, bagaimana?  Ia telah menunjukkan dirinya sebagai musuh kepada ayah kalian, Adam (as). Itu artinya ia tidak akan membiarkan kalian, sebagaimana ia tidak membiarkan ayah dan ibu kalian wahai manusia, yaa ayyuhan naas.  Sekarang, setiap orang mengikuti jejaknya Setan.  Apakah jejaknya Setan itu? Setan datang dan berbisik di pikiran manusia, atau telinga atau hati, apa pun itu, ia berbisik.  Dan ia membisiki sesuatu yang disukai ego kalian. Ia mengatakan hal-hal yang kalian inginkan. Secara alami dan karena ego kalian menyukainya, jadi ia mengatakan kepada kalian, “Ayo, ambil saja!”  “Ayo, lakukan saja!” Dan manusia, bila ia mengikuti waswasah Setan, berarti ia mengikuti jejaknya.  

Jadi Setan ketika melemparkan waswasah itu, waswasah pertama kepada manusia adalah, “Jangan percaya kepada Allah (swt)!”  Bukankah ada manusia sekarang ini yang menerima waswasah dari Setan tersebut? Bisikan pertama, “Jangan mau menerima adanya Tuhan!”  “Jangan terima adanya Sang Pencipta!” “Jangan terima Tuhan Yang Mahaesa, Allah (swt)!” Itu adalah kufur. Jadi waswasah pertama Setan kepada manusia adalah menjadikannya seorang kafir.  Lihatlah, sekarang ini begitu banyak orang yang atheis, bukan hanya menerima banyak tuhan, tetapi mereka juga tidak menerima Tuhan! Jadi atheis atau politheis, orang-orang yang menyekutukan Tuhan atau orang-orang yang menyangkal Allah (swt) mereka mengikuti waswasah Setan.  Mereka mengikuti jejaknya Setan. Ke mana mereka akan membawa kalian? Mereka mungkin akan membawa kalian ke jalan mereka, waspadalah!     

Jangan mengikuti orang yang bukan Mukmin atau bukan Muslim.  Kalian dapat berteman dengan mereka di universitas, atau di sekolah, dalam pekerjaan, itu tidak masalah.  Kalian dapat berurusan dengan mereka dan menunjukkan akhlak yang baik kepada mereka. Tetapi jangan pergi keluyuran di malam hari bersama mereka.  Mereka hanya akan mengajari kalian hal-hal yang buruk!  

Alhamdulillah anak-anak muda sekarang banyak yang pergi ke masjid, mereka sudah kelelahan untuk keluyuran.  Sekarang yang tua, ketika mereka beranjak tua, mereka mulai shalat, alhamdulillah, itu bagus. Mereka bertobat.  Tetapi anak-anak muda, Setan mengejar mereka. Setan tidak mengejar orang tua, mereka tidak dapat melakukan apa-apa lagi, mereka tidak bisa berjalan, tidak bisa bergerak, tidak bisa melakukan apa yang dapat dilakukan oleh anak muda.  Jadi Setan mengejar kalian, wahai anak-anak muda! Mereka tidak akan meninggalkan kalian. Mereka akan mengatakan, “Tinggalkan itu halal-haram, apa itu…kalian suka kan, ambillah, lakukanlah yang kalian suka.” Jadi teman kalian, masyaAllah, mereka yang senang berpesta mereka ingin berpesta bersama kalian.  Jadi kalian pergi dan itu adalah waswasah Setan. Kalian harus berhati-hati.    

Jika Setan tidak bisa menggoda manusia dengan kufur, dengan menyangkal Allah (swt) atau menyekutukan Allah (swt), apa yang ia lakukan?  Ia berkata, “Jangan dengarkan para Nabi dan Rasul, jangan terima mereka. Buatlah agamamu sendiri. Buatlah jalan kalian sendiri!” Berapa banyak syayathin yang telah membuat jalan mereka sendiri?  Mereka mengatakan, “Ini adalah jalan kami! Kami tidak mendengar Sayyidina Muhammad (saw)–jika mereka mengatakan Sayyidina–jika mereka mengatakannya, itu artinya mereka menerimanya dan mereka menjadi Muslim–tetapi mereka tidak mengatakannya.  Mereka bahkan tidak memberikan gelar penghormatan apa pun kepada Rasulullah (saw). 

“Jangan dengarkan dia, jangan dengarkan Isa (as), jangan dengarkan Musa (as), jangan dengarkan Nuh (as) dan Ibrahim (as).”  Seperti itulah ia mengatakan pada orang-orang saat itu, menyangkal risalah mereka. “Lalu apa yang harus kulakukan?” “Membuat jalanmu sendiri!”  Berapa banyak orang yang membuat agamanya sendiri? Jalan mereka sendiri, filosofi mereka sendiri?  

Para filsuf mengklaim sebagai Nabi, bahwa mereka menunjukkan jalan bagi kalian.  Mereka bukanlah orang yang menunjukkan jalan ke Surga bagi kalian. Jalan ke Surga tidak berasal dari Bumi ke Langit, tetapi dari Langit ke Bumi.  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, “faman tabi`a hudaaya, Aku mengirimkan kalian huda. (QS 2:38)” Sang Khaliq akan mengirimkan petunjuk (bimbingan), bukannya orang-orang di Bumi akan menemukan atau menciptakan petunjuk tersebut, itu adalah bid’ah.  Itu adalah Ahlul Bid’ah. Mereka menciptakan petunjuk, dan mereka mengatakan, “Kami akan menemukan jalan menuju Sang Pencipta, ke Hadirat Ilahi.” Tidak! Huda itu berasal dari Langit! Dia telah mengutus para Nabi. Huda hanya datang kepada para Nabi melalui wahyu, melalui Sayyidina Jibril (as).  Manusia harus menerimanya. Jangan ikuti para filsuf. Jangan ikuti orang-orang yang menciptakan jalannya sendiri ke Surga. Mereka menunjukkan slide kepada kalian:

Untuk mencapai Allah (swt), partama kalian lakukan ini, lalu ini, lalu ini… kalian melihat slide-slide tersebut dan kalian tidak mengerti apa itu. 

Jalan menuju Allah (swt) bukannya menunjukkan slide-slide seperti itu.  Jalan menuju Allah (swt) sangat sederhana. Ia adalah shalat! Daripada menujukkan slide, lakukan shalat berjamaah bersama orang-orang dan usahakan agar khusyuk.  Itulah yang perlu kalian lakukan. Bukannya mengatakan, “Bagaimana aku memurnikan hatiku?” “Bagaimana aku memurnikan pikiranku?” “Bagaimana aku memurnikan jiwaku?”  “Bagaimana aku melakukan meditasi?” Tidak perlu hal itu. Rasulullah (saw) telah mengatakan kepada kita, “Shalat!” Dua rakaat, empat rakaat, tiga rakaat fardhu kalian.  Sayyidina Jibril (as) mengajarkan Rasulullah (saw) cara mengerjakan shalat. Huda telah datang dari Langit melalui Sayyidina Jibril (as) kepada Rasulullah (saw). Rasulullah (saw) telah mengatakan kepada kita bagaimana kita dapat mendekati Tuhan kita.  Apa yang seharusnya kalian capai dalam shalat. Seperti itulah guru spiritual, orang yang mengaku sebagai Imam atau syuyukh dalam spiritualitas. Kalian tidak memerlukan orang-orang seperti itu. Yang kalian perlukan adalah mencapai khusyuk dalam shalat.  Itu adalah antara diri kalian dengan Tuhan, bukannya untuk dipamerkan kepada orang lain bahwa kalian tahu tentang spiritualitas. Datanglah shalat dengan jamaah dan capailah khusyuk dalam shalat dengan demikian Allah (swt) akan menerima kalian dan akan menunjukkan pada kalian.  Menunjukkan apa? Jannatal Firdaus!  

Syekh-syekh ini yang mengaku membimbing orang-orang ke chakra-chakra tertentu dan memberikan pencerahan, dan semua yang palsu ini.  “Jika engkau mengikuti jalanku, aku akan membukakan rahasia dan hakikat bagimu.” Kita tidak memerlukan semua ini, yang kalian perlukan hanyalah shalat dan mencapai khusyuk dalam shalat.  Kalian tidak memerlukan yang lain.  

Pertama kalian menerima Rasulullah (saw), kalian masuk ke dalam Iman dan Islam.  Kemudian kalian lakukan shalat kalian. Itulah yang kalian perlukan. Jangan ikuti orang yang mengatakan, “Aku akan menunjukkan jalan ke Surga.”  Katakan pada mereka, “Aku sudah tahu jalan ke Surga.” “Apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah (saw) kepada kita, dua rakaat shalat adalah jalan kita ke Surga, kau tidak perlu menunjukkan apa-apa lagi!”

Allah (swt) menegaskan hal itu dalam Surat al-Mu’minuun.

Asta`idzu billaah,

Qad aflaha ‘l-Mu’minuun     

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman

Orang yang percaya kepada Rasulullah (saw) dan Nabi-Nabi lainnya serta percaya pada risalah yang dibawanya, mereka telah mencapai keberhasilan, mereka telah mencapai falah, mereka adalah para Muflihuun, mereka adalah orang-orang yang berhasil.  Siapa mereka? Rasulullah (saw) telah memerintahkan kita untuk mengenal kesepuluh ayat ini, atau menasihati kita atau menganjurkan kepada kita, tetapi kebanyakan di antara kita tidak mengetahuinya, oleh sebab itu bacalah sepuluh ayat pertama Surat al-Mu’minuun.  

Jika kalian melakukannya, Allah menjanjikan kepada kalian Jannatul Firdaus!  Itulah yang perlu kalian katakan pada guru-guru spiritual, yakni orang-orang yang membuat aplikasi (di HP atau yang lainnya), orang-orang yang membuat iklan di media sosial, kita tidak perlu semua itu.  Kita mengetahui jalan kita. Jalan kita adalah masjid. Jalan kita adalah shalat fardu bersama jemaah. Jalan kita adalah khusyuk dalam shalat.  

Alladziina hum fii shalaatihim khaasyi`uun

(yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya. 

Allah (swt) menjanjikan Jannatul Firdaus, dan Dia menegaskan bahwa orang yang telah mencapai sukses adalah orang yang telah mencapai khusyuk dalam shalatnya.  Jadi yang perlu kalian lakukan adalah shalat dan berusaha mencapai khusyuk. Khusyuk dicapai pada saat sujud. Khusyuk adalah ketika kalian berserah diri kepada Allah sepenuhnya.  Kalian paling dekat dengan Allah ketika dalam posisi sujud, bukannya pada saat kalian berpikir bagaimana aku melakukan meditasi hari ini, atau besok. Lakukan sujud, dan itulah saat terdekat kalian dengan Allah (swt).  Kalian tidak perlu membayar seribu Euro, atau dolar, atau pound untuk mengikuti acara retreat 3 hari dan mencapai pencerahan. Kalian tidak memerlukan semua itu, yang kalian perlukan adalah sujud.

Alladziina hum fii shalaatihim khaasyi`uun, orang yang datang ke Hadirat Tuhan mereka dan mereka mencapai khusyuk

walladziina hum `ani ‘l-laghwi mu`ridhuun

dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna

walladziina hum li ‘z-zakaati ffa`iluun

dan orang yang memurnikan dirinya (dengan menunaikan) zakat.  

Zakat memurnikan uang kalian dan juga memurnikan perbuatan buruk kalian, dari akhlak buruk kalian, semua itu dicapai dalam shalat.  Agar akhlak buruk keluar dari ego kalian, kalian harus melakukan shalat, mengapa? Para Awliyaullah mengatakan, “Satu-satunya jalan untuk membuat ego kalian tunduk adalah melalui shalat,” karena ada tiga hal dalam shalat yang kalian lakukan.  Kalian melakukan tadallul, wudhu dan khusyuk. Tadallul adalah ketika kalian merendahkan diri kalian. Jadi ketika kita shalat kepada Allah (swt), kita menempatkan kedua tangan kita dalam posisi menghadap Sang Raja. Bagaimana postur tubuh kalian ketika bertemu dengan seorang walikota?  Bagaimana postur kalian ketika bertemu dengan seorang ratu? Bagaimana postur kalian ketika bertemu dengan seorang raja atau presiden? Bukankah kalian merendahkan diri kalian ketika menyapanya? Bukankah kalian melakukan hal itu kepada manusia?  

Ketika kalian shalat, kalian mengajari diri kalian, kalian mengajari ego kalian bahwa “Aku berada dalam Hadirat Sang Raja dari semua raja, Sang Khaliq, Allah (swt).”  Jadi ketika kalian menempatkan kedua tangan kalian, itu merupakan tanda hormat, tawaduk dan rendah hati kepada Tuhan kalian, itulah cara menundukkan ego kalian, dengan menundukkan diri.  

Ketika kalian ruku, itu adalah hudu, kalian membuat diri kalian menunduk kepada Allah (swt), itu artinya jangan sombong.  Berikutnya sujud. Berikutnya kalian akan berada di lantai. Itu adalah jalan untuk menundukkan ego kalian.    

walladziina hum li ‘z-zakaati ffa`iluun

dan orang yang memurnikan dirinya adalah orang yang membuat egonya tunduk, menyingkirkan semua akhlak buruk yang dimiliki egonya, termasuk takabur, serakah, suka menipu, berbohong.

Shalat, 2 rakaat, itu cukup.


Tidak perlu berpikir bagaimana aku mencapai Allah (swt).  Heeh jangan menjadi buta, itu adalah untuk orang-orang yang tidak tahu.  Kalian tahu apa yang diajarkan oleh Rasulullah (saw) kepada kita untuk mencapai Allah (swt).  Beliau (saw) bersabda, “ash-shalaatu ma’rajal Mu’minin,” shalat adalah mi’rajnya kalian, kalian ingin mencapai Hadirat Allah (swt), sejak kalian mengucapkan Takbiratul Ihram, Allahu Akbar dan kalian mengarahkan wajah kalian ke kiblat, ke Kakbah Mu`azhzhamah, kalian sudah hadir di sana, kalian tidak perlu lagi bertanya, “Apakah aku hadir di sana?  Apakah aku tidak ada di sana?” Tetapi bila kita buta, maka kita buta. Dikatakan bahwa ketika Awliyaullah mengarahkan wajahnya ke kiblat, mereka melihat Kakbah Mu`azhzhamah, mereka melihat ke mana wajah mereka menghadap, mereka tidak buta, 

wa man kaana fii hadzihi a`maa fa huwa fi ‘l-aakhirati a`maa  (QS 17:72)

Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, maka di Akhirat ia akan buta dan situasinya lebih buruk lagi.  Awliyaullah, mereka tidak buta di dunia ini, dan mereka tidak buta di Akhirat, mereka melihat ke mana mereka mengharahkan pandangannya. Sejak saat mereka mengucapkan “Allahu Akbar” mereka melihat diri mereka di depan Kakbah Mu`azhzhamah, tidak seperti kita yang melihat ke kanan ke kiri.    

walladziina hum li ‘z-zakaati ffa`iluun

walladziina hum li furuujihim haafizhuun

dan orang-orang yang memelihara kemaluannya.

Ini penting bagi anak-anak muda.  Lupakan orang-orang tua. Allah (swt) telah mengambil kekuatan dari mereka.  Tetapi anak-anak muda. Kalian lindungi martabat kalian, kalian lindungi kehormatan kalian.  Jaga kalian bersama istri kalian. Kalian jaga diri kalian dengan menikah, bukannya pergi ke sana ke mari.  Itu adalah untuk anak-anak muda. Setan akan datang dan akan menggoda kalian, berbisik pada telinga kalian, hati kalian, “Ini enak sekali, mengapa kalian tidak mencobanya!”  Karena Rasulullah (saw) dan Allah (swt) melarangnya. Rasulullah (saw) bersabda, “An-nikaahu sunnati man raghiba `an sunnati falaysa minni, nikah adalah sunnahku.”  Sayyidina Adam (as) ketika Allah mengatakan untuk masuk ke dalam Surga, Dia berfirman, “yaa Aadamuskun anta wa zawjuka ‘l-jannah, wahai Adam tinggallah engkau dan istrimu di dalam Surga. (QS2:35)”

Perintah pertama bagi Adam (as) sebagaiman yang dikatakan oleh guru kita, Mawlana Syekh Nazim adalah untuk menikah.  Perintah pertama adalah melakukan pernikahan antara dirinya dengan Sayyida Hawwa (radhiyallaahu `anwa wa karamallaahu wajhah).  Karena Allah (swt) telah berfirman, “uskun anta wa zawjuka ‘l-jannah,” wa zawj artinya istrimu, pasanganmu.  Syekh kita mengatakan bahwa orang yang melakukan pernikahan Sayyidina Adam (as) dan Sayyida Hawwa (`alayha ‘s-salaam) adalah Rasulullah (saw) di Surga.  Ini adalah jalannya Nabi (saw), jalannya Rasulullah (saw), ajaran al-Qur’an suci.  

Kita dapat melanjutkan dengan ayat berikutnya, tetapi kita tidak mempunyai waktu yang cukup.  Dan saya tidak ingin membuat kalian kehilangan fokus, fokus pada shalat. Dua rakaat sebelum kalian meninggalkan rumah, jika kalian tidak bisa melakukan shalat Subuh pada waktunya, paling tidak lakukan dua rakaat qadha, semoga Allah (swt) membuat kita semua dapat melakukan shalat fardhu, bukannya qadha.  Tetapi bila kalian tidak bisa, dan beberapa orang mempunyai alasan tertentu, lakukanlah shalat dua rakaat sebelum kalian meninggalkan rumah. Tegaskan pengabdian kalian kepada Allah (swt). Katakan,

“Wahai Tuhanku, mungkin aku terlambat. tetapi Engkau adalah Yang Maha Pemaaf. Engkau adalah Afuww, maafkanlah aku. Yang dapat kulakukan adalah dua rakaat.  Terimalah dariku yaa Rabbi.”

Allah (swt) akan melindungi kalian sepanjang hari.    

Orang-orang datang dan mengatakan “Oh sepanjang hari ini begitu mengerikan!  Begitu banyak masalah sepanjang hari.” Saya bertanya apakah kalian melakukan shalat Subuh?  “Tidak!”


Lakukanlah shalat Subuh, absen masuk (seperti di tempat kerja). Setiap orang melakukan absen masuk dan absen keluar/pulang.  Apa yang terjadi jika kita tidak melakukan absen masuk? Kalian tidak akan mendapat bayaran. Shalat Subuh adalah seperti melakukan absen masuk, menandakan kalian telah masuk ke dalam Hadirat Allah.  Allah (swt) akan memberi pahala bagi kalian. Jika kalian tidak melakukannya, maka Allah tidak akan memberi pahala bagi kalian, Allah senang terhadap orang-orang yang datang pada-Nya. Datanglah kepada Allah (swt), jangan lalai.  Jangan mengabaikan shalat dan usahakan agar khusyuk. Ajarkan diri kalian untuk khusyuk. Khusyuk adalah ketika kalian menghosongkan hati kalian dari segala hal yang mengganggu kalian; mengosongkan pikiran dari segala hal yang mengganggu kalian.   

Saya akan memberikan sebuah contoh yang mungkin kita alami.  Saya sering mengulangi cerita ini, karena saya menyukainya. Seorang pria datang untuk melakukan shalat Isya berjamaah di masjid. Imam mulai melakukan takbiratul Ihram dan memulai shalat, seluruh jemaah mengikutinya sampai Imam mengucapkan salam dan jemaah pun mengucapkan salam.  Imam lalu bertanya kepada jemaah, apakah aku shalat tiga rakaat atau empat rakaat? Imamnya juga tidak tahu. Jemaah juga tidak tahu, mereka bilang, “Kami tidak tahu, kami mengikutimu, engkau adalah Imam yang memimpin kami.” Pekerjaan Imam adalah sulit! Kalian yang memimpin mereka, dan mereka mengikuti kalian.  Jadi yang salah bukanlah mereka, kesalahan bukan pada kambing gembala, tetapi pada pengembalanya, jadi kalian harus berhati-hati.

Jadi Imam ini tidak tahu dan jemaah pun tidak tahu, kecuali seorang.  Ia mengatakan, “Wahai Imam, engkau shalat tiga rakaat!” “Dari mana engkau tahu?” tanya Imam.  Ia berkata, “Saya mempunyai empat toko! Rakaat pertama saya memikirkan seluruh penjualan di toko pertama.  Rakaat kedua saya memikirkan penjualan di toko kedua. Begitu pula dengan rakaat ketiga. Tetapi saya tidak sampai memikirkan toko keempat, jadi saya tahu kalau shalatnya tiga rakaat!”  

Sayangnya begitulah shalat kita.  Berusahalah untuk mencapai khusyuk dalam shalat.  Khusyuk, kosongkan hati kalian dari segala hal yang mengganggu kalian.  Dikatakan bahwa, dan ini adalah seorang Awliyaullah, ia mengatakan, “Sebelum masuk waktu shalat, aku mengambil wudhu dan duduk di tempat shalatku dan berdiam diri.”  Duduk selama lima atau sepuluh menit dan berdiam diri di tempat kalian akan shalat. “Kemudian aku membawa Kakbah Mu`azhzhamah di antara kedua mataku, seolah-olah aku sedang menatapnya.  Dan aku membawa Maqamul Ibrahim ke depan dadaku, seolah-olah aku shalat di Haramu ‘sy-syariif.” Betapa indahnya shalat di belakang Maqamul Ibrahim dengan memandang Kakbah Mu`azhzhamah. Insya Allah, Allah (swt) membuat kita bisa mengunjunginya lebih sering lagi, umrah, haji, insyaAllah.  “Aku letakkan Maqamul Ibrahim di hadapan dadaku, jadi aku shalat di belakang Maqamul Ibrahim. Aku letakkan Kakbah Mu`azhzhamah di antara kedua mataku dan Aku tahu bahwa Allah (swt) melihatku. Aku melihat Surga di sisi kananku, dan Jahannam di sisi kiriku. Dan aku berjalan di shirath dalam shalatku”  Ia telah meletakkan, ia telah mengelilingi dirinya dengan semua yang penting bagi kita di Akhirat. Dengan demikian dunia selesai. “Dan seperti itulah aku melakukan shalatku.” Siapa di antara kita yang melakukan hal itu? Siapa di antara kita yang benar-benar memberikan shalat dengan hak-haknya? Sangat sedikit.  Mereka adalah orang-orang yang saleh, yang telah mencapai khusyuk. Itulah yang harus kita coba. Jadi ketika kalian menghadap kiblat, bayangkan bahwa kalian sedang melihat Kakbah Mu`azhzhamah. Hadirkan di hadapan kalian. Bayangkan bahwa kalian berada dalam Hadirat Allah (swt). Rendahkan diri kalian. Kalian akan mencapai khusyuk dan kalian akan mencapai Jannatul Firdaus.  

Kalian tidak memerlukan guru-guru spiritual yang mengajarkan kalian bagaimana cara meditasi dan mencapai sesuatu.  Yang kalian perlukan hanyalah shalat dua rakaat. Semoga Allah (swt) mengampuni kita. Insya Allah kita akan bertemu lagi.

Wa min Allah at-tawfiq, aquulu qawli hadza…             

Video: https://www.facebook.com/drnourmohamadkabbani/videos/1174989786029160/

 

Jangan Jadikan Masjid sebagai Arena Politik

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
Khotbah Jumat, Masjid al-Iman, Oakland, California; 3 Januari 2003

Wahai Mukmin, wahai Muslim, wahai orang-orang beriman.  Alhamdulillah bahwa Allah telah menciptakan kita dan membimbing kita kepada Islam dan menjadikan kita sebagai bagian dari umat Nabi (saw).  Jika Dia menjadikan kita sebagai umatnya Musa (as) apa yang dapat kita lakukan?  Tidak ada.  Jika kita menjadi umatnya `Isa (as) apa yang dapat kita lakukan?  Tetapi Dia menjadikan kita sebagai umatnya Nabi (saw).

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kuntum khayra ummatin ukhrijat li-naas ta’muruuna bi ’l-ma‘aruufi wa tanhawna `ani al-munkari wa tu’minuuna billahi wa law aamana aahlu al-kitabi lakaana khayran lahum minhumu ’l-mu’minuuna wa aktsaruhumu ’l-faasiquun

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” [3:110]

Dia menjadikan kita bagian dari umat tersebut.  Menjadikan kita berada di bawah nikmat tersebut, “wa maa arsalnaaka illa rahmatan.”  Dia menjadikan kita berada di bawah orang yang digambarkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.  Jika kita berasal dari umat lainnya, kita akan menderita karena tidak termasuk bagian dari umat Nabi (saw).  Penderitaan semacam apa?  Penderitaan pada Hari Kiamat. Karena Ummat an-Nabi hiya ummatan marhuma, umat yang mendapatkan rahmat.  Dan rahmat itu telah dijamin.  Umat Nabi (saw) akan menjadi umat pertama yang masuk Surga.[1]

Apakah rahmat itu karena kita atau karena beliau (saw)?  Jika itu adalah karena kita, mengapa kita tidak patuh?  Jika kita memohon siang dan malam untuk menjadi bagian dari umat Nabi (saw), bahkan jika seluruh manusia meminta, hanya karena karunia-Nyalah yang menjadikan kalian sebagai bagian darinya.  Itu bukan karena amal kalian.  Nikmat itu bukan dari amal kalian.  Bila kita tidak diberi apa-apa selain karunia itu, itu saja sudah cukup untuk membuat kita bahagia.

Lalu mengapa dengan semua rahmat dan nikmat yang Dia berikan kepada kita, kita masih mengeluh dan tidak patuh?  Mengapa kita tidak patuh?  Mengapa manusia tidak patuh?

Ia tidak patuh, karena ia mematuhi dirinya sendiri.  Karena nafs-nya–egonya memintanya untuk patuh pada dirinya dan bukan mematuhi Penciptanya.  Itulah sebabnya kalian tidak patuh.  Ego kalian mengatakan kepada kalian, “Lakukan ini!” dan kalian melakukannya.  Allah mengatakan kepada kalian, “Lakukan ini… “ tetapi kalian tidak melakukannya.

Kalian patuh dengan apa yang kalian cintai.  Kalian tidak patuh pada apa yang tidak kalian cintai.

Ketidakpatuhan memberi bukti pada kalian bahwa cinta kalian tidak sempurna.  Saya tidak ingin mengatakan bahwa cinta kalian adalah palsu, karena kita adalah orang yang dhaif.  Kalian harus berusaha.  Tetapi kalian lebih banyak patuh pada diri sendiri daripada patuh kepada Allah.  Itulah sebabnya orang-orang menjadi tersesat.

Nabi (saw) tidak pernah tersesat.  Mengapa kita tidak mengikuti jejak Nabi (saw) agar kita tidak tersesat?  

Satu-satunya yang perbuatannya menyesatkan adalah Iblis.  Jadi bila kita tersesat berarti kita mengikuti Iblis.  Berapa kali Iblis tidak patuh?  Seratus kali, sejuta kali, atau satu kali?

Jawabannya adalah satu kali.  Dan berapa kali kita tidak patuh?

Terlepas dari hal ini, kita datang dan mengatakan, “Aku harus dipanggil dengan sebutan ‘Imam’,” “Aku harus dipanggil ‘Syekh’”  “Aku harus dipanggil ‘Yang Mulia’”.  

Kalian tidak pantas mendapatkannya.  Kalian pantas mendapatkannya bila Allah memberikan sebutan itu kepada kalian.  Sebutan-sebutan dari manusia tidak ada nilainya.  Hanya sebutan dari Allah yang bernilai.  Jika orang-orang menyebut kalian ‘Imam’, ‘Syekh’, ‘Raja’, itu tidak ada nilainya.  Kalian menjadi orang penting dalam pandangan manusia, tetapi bagaimana hal itu akan menolong kalian di akhirat?  Ia tidak dapat menolong kalian!

Jadi masalah kita sekarang, di masyarakat kita dan di seluruh dunia adalah bahwa kita ingin dihormati.  Tidak ada yang lain.

Jika Allah tidak mendukung kalian, kalian tidak akan menjadi apa-apa.

Mereka katakan, kami melakukan domonstrasi, kami menentang pemerintah, menentang ini, itu.  Apa pun yang kalian lakukan, jika Allah tidak menghendaki untuk berhasil, maka kalian tidak akan berhasil.  Lalu mengapa kita tidak berhasil?  Apakah kita berada di jalan yang haqq atau batil?  Jika kita berada pada yang haqq, mengapa kita tidak berhasil?

Allah berfirman:

وَقُلْ جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“qad ja’a al-haqqa wa zahaqq al-baathila inna al-baathila kaana zahuuqa.”

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” [17:81]

Lalu mengapa Muslim di seluruh dunia tidak berhasil?  Namun demikian, mereka terus mengadakan konferensi, seminar, mendatangkan para pembicara, dan melakukan demonstrasi dan mengkritik.  Tetapi kalian tetap tidak berhasil.  Pasti ada yang sesuatu yang salah.  Sesuatu yang tersembunyi di dalam qalbu, sesuatu yang tersembunyi.  

Apakah itu?  Itu adalah arogansi.  Arogansi tersembunyi.  Kalian ingin menjadi yang terbaik, kalian tidak ingin mengakui bahwa kalian adalah orang yang berdosa, bahwa kalian harus menjaga kepala kalian dalam posisi sujud agar Allah mengubah diri kalian.

Mereka mengajari orang, sejak kanak-kanak, sesuatu yang tidak pernah kita pelajari di kampung halaman kita.  Mereka tidak pernah mengatakan, dalam bahasa Arab, “Ana fakhuur bi nafsii”- “Aku bangga dengan diriku sendiri.”  Di sini mereka mengajari orangtua untuk berkata pada anak-anaknya, “Aku bangga padamu.”  Kalian bangga.  Bangga terhadap apa?  Kata ‘bangga’ itulah yang membuat Iblis diusir dari Surga.

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

Qaala ana khayrun minhu khalaqtanii min naarin wa khalaqtahu min tiin
Ia [Ibliis]  berkata, “Aku lebih baik daripadanya karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”  [38:76]

“Aku lebih baik daripadanya.”  Kata “lebih baik” itu adalah sebuah kesalahan.

Apakah kalian pernah mendengar Nabi (saw) bersabda, “Aku adalah yang terbaik; aku yang terhebat!”  Tidak pernah.  Nabi (saw) selalu tawaduk dan beliau mengajarkan kerendahan hati.

Wahai Muslim, masalah kita di seluruh dunia adalah bahwa kita harus mengubah cinta kita dan cara ibadah kita.  Kita harus kembali pada tradisi kita, kembali pada jalan yang diajarkan oleh Nabi (saw) dan para Sahabat.

Ada berapa Sahabat di sana; di Dar al-Arqam ketika wahyu pertama diturunkan?  Ada berapa?  Lima, sepuluh?  Namun demikian mereka dapat menaklukkan dunia.

Saya pernah berkunjung ke Asia Tengah, dekat perbatasan Cina.  Salah satu sepupu Nabi (saw), Qutsam ibn `Abbas (ra), beliau membawa seluruh daerah di sana ke dalam Islam.  Beliau tidak berbicara dalam bahasa Cina, beliau tidak bicara dalam bahasa Rusia.  Beliau hanya bisa berbahasa Arab.  Segera setelah beliau tiba di sana, orang-orang mulai masuk Islam.  Bagaimana beliau melakukannya?  Melalui konferensi, film, televisi, atau video?  Dengan membelanjakan jutaan petrodollar?  Sekarang dengan film dan televisi, kalian juga tidak bisa berdakwah, hanya sedikit yang masuk Islam.

Dulu mereka membawa masa ke dalam Islam.  100.000 atau 200.000 orang – seluruh kota masuk Islam.  Cahaya Islam ada dalam qalbu mereka, cahaya Iman ada dalam qalbu mereka, itulah yang membuat orang menerima Islam.

Sebagaimana Nabi (saw) menggambarkan agama terdiri atas tiga tingkatan, yaitu: Islam, Iman, Ihsan.  Mereka biasa melaksanakan kelima kewajiban, tetapi sebagai tambahan, mereka melakukan lebih banyak lagi.  Qalbu mereka penuh cahaya, menarik orang kepada mereka.  Hal itu karena mereka melakukan ibadah tambahan.  Sekarang sebagian orang mengeluh dan mengatakan tidak ada yang namanya ibadah tambahan itu.

Bagaimana Sayyidina `Umar (ra) sanggup berbicara dari Madinat al-munawaarah kepada panglima perangnya Sariya.  Apakah Sayyidina `Umar (ra) di Syam?  Beliau bukanlah nabi.  Beliau adalah seorang khalifah Nabi (saw).  Allah memberinya kemampuan itu.  Beliau mampu melihat musuh yang akan menyerang Sariya dari belakang sehingga beliau memanggilnya dan memberinya peringatan, dari jarak 2000 kilometer.  Karamah itu adalah sebuah tanda bahwa Sayyidina ‘Umar (ra) mempunyai dua karakteristik Iman, yaitu: penglihatan dan pendengaran.  Haqiqat Pendengaran– ‘Ilm al-Yaqiin dan ‘Ayn al-Yaqiin, bukan hanya Pendengaran, tetapi juga Haqiqat Penglihatan.

Karakteristik pertama adalah seperti orang yang mempunyai sebuah audio tape.  Tetapi ketika kalian mempunyai video, itu lebih kuat – itu membawa kalian kepada Haqq al-Yaqiin.  Banyak orang tidak melihat pada ajaran Islam tradisional ini lagi.

Perbedaannya adalah bahwa Sariya hanya mampu mendengar, beliau tidak melihat Sayyidina `Umar (ra), tetapi beliau mampu mendengarnya, dari jarak jauh, sementara Sayyidina `Umar (ra) mampu melihat, mendengar dan berbicara.

Orang-orang yang patuh pada Allah dan patuh pada Nabi (saw), mereka sungguh mengikuti Sunnah.  Allah berfirman,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

In kuntum tuhibuun Allah, fa-tabi‘uunii yuhbibkumullah wa yaghfir lakum dzunuubakum w’Allahu ghafuurun rahiim

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [3:31]

Mereka mengikuti jejak Nabi (saw) dan dengan mengikutinya, Allah memberi mereka kekuatan.

Mereka mampu membawa orang-orang dalam jumlah besar ke dalam Islam.

Mereka tidak punya televisi, tidak punya film, tidak ada petrodollar, tidak ada buku-buku.  Tetapi mereka mampu membawa jutaan orang ke dalam Islam.  Mereka berjalan dengan cahaya dalam qalbu mereka.  Itulah Maqam al-Ihsan yang disebut dalam hadits Jibril (as) sebagai “Untuk menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya.”  Ini sangat transparan, sangat halus.  Itu artinya ada kemungkinan untuk melihat-Nya.  Kalian tidak dapat melihat-Nya, tetapi kalian dapat melihat Tanda-Tanda-Nya.

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Sa-nuriihim ayaatina fil-afaaq wa fii anfusihim hatta yatabayyana lahum annahu al-haqqu awa lam yakfi bi rabbika annahu `ala kulli syay’in syahiid”

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala cakrawala (ufuk) dan pada diri mereka sendiri.”  [41:53]

Dia menyebutkannya di dalam al-Qur’an, “Di mana Tanda-Tanda-Ku?”  Bukan di dalam buku-buku.  Bukan pada satelit.  “Aku akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda di cakrawala.” Itu artinya, “Jika mereka membuka mata mereka, Aku akan memberi mereka kekuatan untuk menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya.”  Seseorang yang diberikan kekuatan itu, jika ia melihat, apakah menurut kalian ia akan melihat apa yang kalian lihat?  Kita tidak melihat apa-apa, kita hanya melihat hidung kita.  Jika mereka melihat, mereka mampu melihat jauh.

Sayyidina `Umar (ra) dapat melihat jauh.  Sayyidina Muhammad (saw) dapat melihat dan menyaksikan jauh.  Mereka tahu apa yang harus dilakukan untuk menarik orang-orang ke dalam Islam.  Mereka menarik tanpa bicara.  Orang-orang yang mengatakan bahwa mereka tidak ada lagi sekarang, mereka salah.  Awliyaullah ada hingga Hari Kiamat.  “alaa awliya-ullahi laa khawfun `alayhim wa la hum yahzanuun.”

Dan tidak semua Muslim adalah Mukmin.  Tidak setiap Mukmin adalah Wali.

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِن تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Qaalat il-‘Arabu aamana qul lam tu’minuu wa laakin quuluu aslamna. Wa lamma yadkhuli al-iimanu fii quluubikum wa in tuthii`uu Allaha wa rasuulahu laa yalitkum min a`malikum syay’an inna Allaha ghafuurun rahiim.

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  [49:14]

“Katakanlah ‘Kami telah menjadi Muslim.’” Seorang Muslim adalah orang yang mengatakan, “Aku percaya pada Keesaan Allah.”  Itu adalah tingkatan tauhid.  Itu adalah tingkatan Muslim, Islam: siapa pun yang percaya bahwa Allah tidak punya sekutu dan Nabi (saw) adalah Rasul penutup.  Kalian dapat menjadi Muslim, tetapi bukan seorang Mukmin.  Seorang Mukmin lebih sempurna.  Dan Muhsin ada di puncak, telah sampai pada puncaknya.

“karena iman belum memasuki qalbu-mu.”

Jika iman telah masuk ke dalam qalbu kita, barulah kita dapat mengubah kegelapan menjadi cahaya, kebatilan menjadi kebenaran.  Kebatilan akan musnah dan yang haqq akan muncul.  Hingga kita mencapainya, kita akan menderita.  Kita memohon kepada Allah agar tidak membuat kita menderita.

Allah mencintai Islam.

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ

Inna ’d-diin ‘inda-Allahi ’l-Islam. – “Agama di Sisi Allah adalah Islam…” [3:19]

Lalu mengapa non-Muslim mendapat dukungan sedangkan Muslim tidak?  Setiap tahun 2-3 juta orang pergi menunaikan haji.  Kita melakukan shalat kita, kita puasa, kita membayar zakat, kita menunaikan haji.  Mengapa kita tidak berhasil?  Itu artinya ada sesuatu yang salah.

Apa itu?  Hubbud-dunya, cinta dunia.

Karena kita adalah Muslim, dan kita mencintai dunia, Allah ingin mensucikan diri kita di dunia.  Jadi Dia menjaga kita tetap di bawah.  Itu adalah proses pembersihan, seperti halnya mesin cuci.  Jika kalian mempunyai baju-baju kotor, kalian akan membersihkannya di mesin cuci.

Sucikan dulu diri kalian.  Jika kita tidak mensucikan diri kita, kita tidak akan pernah berhasil.

Nabi (saw) bersabda, “Jika tiga orang berada dalam suatu perjalanan, angkatlah seseorang di antaranya sebagai amir.”[2]   Bagaimana sekarang amir itu menjadi lebih tirani daripada tiran.  Bahkan pada tiga orang.  Jika kita memilih seseorang untuk berkonsultasi dan memberi nasihat, dan membuatnya bertanggung jawab, ia menjadi lebih tirani daripada tiran.  Itu adalah hubb al-riasa.  Kecintaan untuk menjadi orang yang memegang jabatan, menjadi presiden, menjadi pucuk pimpinan.

Ada sebuah kisah mengenai seseorang di masa lalu ketika orang-orang saleh dengan uangnya akan meletakkan keran air di luar rumah sehingga orang lain dapat mengambil air dan juga minum dari sana.  Orang menyebutnya sabiil dalam bahasa Arab.  Ada juga tempat yang tidak ada airnya, namun ada seseorang yang mempunyai toko jual beli, ia meletakkan kendi-kendi air sehingga orang bisa datang dan minum di sana.

Pada suatu hari orang itu menjadi arogan.  Iblis berbisik di telinganya, “Semua orang terkenal, sementara engkau membagikan air itu.  Buatlah dirimu menjadi orang yang penting.”  Ia adalah orang yang sudah tua, jadi apa yang ia lakukan?  Ia mengecat semua kendinya dengan warna-warni yang berbeda-beda.   Ketika ada orang yang datang dan mengambil kendi itu untuk minum ia berkata, “Jangan!  Ambil yang hijau, jangan yang putih…”  Ia melakukan hal ini agar ia bisa memberi perintah.  Inilah masalah yang kita hadapi sekarang.  Setiap orang ingin terkenal dan menjadi sesuatu.  Itulah sebabnya kita menjadi orang yang merugi.  Allah berfirman, dan kami akan memberi penjelasannya nanti.

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Wal-‘ashr, inn al-insaana lafii khusr.
Allah bersumpah, “Demi Masa!  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” [103: 1-2]

Tidak ada orang yang lebih zalim daripada orang yang mencegah dzikrullah di masjid.  Itu adalah sebuah ayat.  Tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan “Lakukan ini, lakukan itu” di masjid.  Itulah sebabnya masjid-masjid di Amerika adalah yang terburuk, tetapi bukannya orang-orang yang melakukan shalat di sana, melainkan orang-orang yang mempunyai kuasa di masjid-masjid tersebut.  Itulah sebabnya tidak ada dukungan terhadap Islam di Amerika.  Apa pun yang mereka lakukan, mereka  tidak akan menang sampai mereka kembali ke tradisi mereka, kembali pada akidah dan perilaku islami, barulah Allah akan mendukung mereka.  Mereka menghalangi cahaya dzikir di masjid-masjid sehingga ayat tadi berlaku pada mereka.

Di dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman, sebagaimana diriwayatkan oleh Nabi (saw), Man adzaa lii waliiyun adzaantahu bil harb. “Barang siapa yang menentang Wali-Ku, Aku nyatakan perang kepadanya.”

Itu terkait manusia biasa yang saleh, bagaimana menurut kalian mengenai orang yang menentang Nabi (saw)?  Saya tidak peduli dengan pendeta ini dan itu.  Orang-orang yang menanggapinya (pendeta tersebut–penerj.) adalah keledai.  Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.  Jangan tanggapi dia; sebab kalian akan membuatnya terkenal.  Seperti Salman Rushdie. Orang-orang membuatnya terkenal dengan memprotes bukunya.  Jika tidak ada orang yang berbicara tentangnya, tidak ada orang yang akan tahu tentang hal itu.

اللّهِ أَن يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُوْلَـئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَن يَدْخُلُوهَا إِلاَّ خَآئِفِينَ لهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Wa man adzlamu mimman mana`a masajida Allahi an yudzkara fiiha ’smuhu wasa`a fii kharaabiha ula’ika maa kaana lahum an yadkhuluuha illa kha’ifiina lahum fii’d-dunya khizyun wa lahum fii al-aakhirati ‘adzaabun ‘azhiimun

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya?  Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. [2:114]

Yudzkara fiiha ’smuh artinya Nama Allah dan Nama Nabi (saw).

Itu artinya masjid harus terbuka selama 24 jam.

Mereka menempatkan ketua dewan pengurus.  Apa yang mereka ketuai?  Ketua urusan uang?  Buka pintunya dan biarkan orang keluar masuk untuk shalat.  

Allah mencegah hal itu.  “Barang siapa yang menentang Wali-Ku, Aku nyatakan perang kepadanya.”  Bagaimana dengan Nabi (saw)?

Orang-orang ini tidak mempunyai rasa malu atau khajal sama sekali di hadapan Nabi (saw).  Mereka “menyerang” Nabi (saw).  Ada beberapa penyerang terhadap Muslim yang sangat terkenal; ya, memang ada, tetapi Muslim menyerang Nabi (saw), wa haasya.

Mereka katakan bahwa beliau (saw) hanyalah seorang manusia yang mendapatkan wahyu.  Mereka tidak mengerti makna dari ayat.  Mereka katakan ini bid’ah, ini haram.  Itulah sebabnya hukuman Allah turun pada kita.  Karena kita berada pada yang haqq tetapi mengenakan busana batil.  Kita tahu bahwa Islam adalah yang haqq, tetapi kita tutupi dengan kebatilan pada diri kita.

Sekarang kalian takut untuk mengatakan bahwa kalian adalah seorang Muslim.  Mengapa?  Sekarang, bahkan di negara-negara Muslim, kalian tidak bisa pergi ke bandara dengan wajah yang berjanggut.  Mereka katakan, “Engkau adalah teroris.”  Kalian harus mencukur janggut kalian atau kalau tidak mereka akan menanyai kalian beberapa jam di bandara.  Dan mereka ingin protes di Amerika.  Bahkan di negara-negara Muslim, mereka tidak membiarkan kalian [menjalankan agama].

Apakah kalian terima hidup dalam situasi seperti itu atau kalian pulang ke kampung halaman.  Jika ia pulang ke kampung halaman dengan wajah berjanggutnya, mereka akan menghentikannya di al-Hijaz, Suriah, Libia, Aljajair, negeri-negeri teluk.

Jadi, jika orang-orang itu di sini, yang berpikir bahwa mereka adalah qayyimiin `ala umur al-Muslimiin, yang menegakkan urusan-urusan umat Muslim–melanjutkan apa yang mereka lakukan, mereka akan membuat seluruh umat Muslim terkena imbasnya.  Para “pemimpin” ini di Washington, dalam satu malam, mereka berhasil mengumpulkan dana 1 juta di Los Angeles.  Mereka membeli gedung seharga 8 juta dolar.  Mengapa?  Ke mana uang itu pergi?  Tidak masalah jika uang itu digunakan di jalan yang benar, tetapi jangan membahayakan umat Muslim dengan mengirim uang itu–ke mana, kita tidak tahu.

Masjid-masjid harus digunakan untuk ibadah.  Orang yang datang untuk beribadah, silakan datang.  Itulah sebabnya masjid-masjid besar tidak mempunyai berkah di sana.  Ia telah menjadi sebuah bisnis untuk mengumpulkan uang.  Salah satu masjid-masjid ini, sebuah masjid besar di sebuah daerah mengumpulkan semua uang tunai.

Kalian tahu apa yang mereka lakukan?  Mereka membuat toko dengan tiga gerai yang menjual rokok dan anggur untuk “mencuci” uang itu.

Dan Muslim tetap diam, tidak bicara apa pun, menutup mata mereka.  Itulah sebabnya kita menjadi target pemerintah dan kita berada dalam pengawasan.

Semoga Allah menyelamatkan kita!  Jagalah qalbu kalian agar tetap bersih, dan jangan berkonspirasi menentang diri sendiri dan orang-orang di sekitar kalian.  Jangan membuat strategi-strategi, serahkan itu kepada Allah.

Itulah sebabnya para Sahabat berhasil tetapi kita tidak berhasil.  Kita datang ke suatu tempat di mana tidak ada Islam di sana, tetapi kita tidak berhasil karena kita tidak berada pada yang haqq.

Kalian temukan di setiap masjid bahwa orang-orang berkonspirasi menentang satu sama lain.  [Mereka mengatakan satu hal, tetapi mengerjakan yang lain.]

Bagaimana menurut kalian jika hal itu terjadi di sebuah masjid kecil, lalu bagaimana dengan masjid besar?  Masjid-masjid itu menjadi pusat politik.  Mereka adalah orang-orang yang spesialiasinya di bidang politik.  Tetapi jangan menjadikan masjid sebagai forum politik.  Jika kalian ingin membuat sebuah kantor dan berpastisipasi di bidang politik, itu tidak masalah.  Tetapi mereka menjadikan masjid menjadi arena politik.  Mengapa membahayakan orang-orang yang tidak bersalah?  Pergilah dan deklarasikan sikap politik kalian di luar masjid dan orang-orang yang berminat akan mengikuti kalian.

Sekarang mereka mempunyai Dewan Pengawas, dan mereka bertemu di ruang-ruang kecil dan berdiskusi, “Bagaimana menentang pemerintah, bagaimana memerangi media.”  Bahkan di negeri-negeri Arab kalian tidak bisa bicara.  Selama tiga puluh tahun, atau empat puluh tahun kalian mempunyai presiden yang sama.

Lihatlah Libia.  Tahun 1969 ia memperoleh kekuasaan.  Sampai sekarang, berapa tahun untuk presiden yang sama?  Ay – apa.  Kalian menentang raja-raja dan keluarga kerajaan?!  Mereka mengatakan, “Kami menentang monarki.”  Itu adalah salah satu contoh di mana kalian membuatnya lebih buruk lagi.  Dan mereka semua sama.  Mengapa?  Karena Hubb ar-riyasa.  Mencintai posisi puncak, kursi tertinggi.  Mintalah mereka untuk menyerahkan kursinya, mereka tidak akan memberikannya.  Itu sudah seperti lem.

Sekarang di Kenya, untuk pertama kalinya pihak oposisi menang.  Di Indonesia, Suharto berkuasa selama 35 tahun.  Di negara lain juga, saya tidak ingin menyebutkan nama-nama mereka, atau bisa jadi saya akan dihentikan di perbatasan.

Karena orang-orang Amerika tidak tahu-menahu tentang Islam.  Mereka tidak diajarkan (tentang Islam).  Mereka pikir setiap orang adalah sama.  Itu adalah kesalahan dari Muslim yang mengatakan, “Setiap orang adalah sama.”  Mereka membuatnya sama.  Mereka mengatakan tidak ada hierarki di dalam Islam, jadi jika seseorang melakukan perbuatan yang salah, mereka membawa setiap orang (terlibat) ke dalamnya.

Alhamdulillah `ala kulli haal…

[1] “Umatku adalah umat yang dirahmati, tidak ada azab bagi mereka di akhirat.  Azabnya adalah di dunia, berupa fitnah-fitnah, gempa bumi dan pembunuhan.” Abu Dawud.

[2] Abu Dawud.

Sumber:
http://naqshbandi.org/teachings/sermons-khutab/dont-turn-mosques-into-political-centers/