Shuhbah pada Malam Laylatul Israa’ wal Mi’raaj

89591512_871362696659943_7271272168413757548_n

Dr. Nour Kabbani
Fenton, Michigan, 21 Maret 2020

A`uudzubillaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Alhamdulillaahirabbi ‘l-`aalamiin
Wa ‘sh-shalaatu wa ‘s-salaamu `alaa Sayyidinaa Muhammad wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin

Destur yaa Sayyidi wa Mawlay, destur yaa Sayyidi Syekh Nazim, nadharak yaa Sayyidi, madadak yaa Sayyidi, himmatak yaa Sayyidi, destur yaa Rijalallaah

Subhanaka, la `ilma lana illa ma `alamtana, innaka Anta ‘l-`Aziizu ‘l-Hakim, innaka Anta ‘l-`Aliimu ‘l-Hakim

Assalamu`alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh, 

Semoga Allah (swt) senantiasa mengumpulkan kita bersama.  Allah (swt) Mahabesar, tidak peduli apa pun situasinya, rahmat-Nya selalu hadir.  

Mawlana Syekh Nazim, semoga Allah memberkahi ruhnya, semoga Allah (swt) senantiasa mengangkat derajatnya.  Beliau mengatakan, “Apa pun situasi yang mungkin terjadi, rahmat Allah (swt) yang akan selalu unggul. Rahmat Allah selalu hadir dan selalu terlihat.  Ketika kita mengingat Rahmat-Nya, kita menjadi bahagia. Ketika kita bahagia, semua kekhawatiran menjadi hilang.  

Majelis kita ini, majelisnya Mawlana Syekh Nazim, majelisnya Grandsyekh Naqsybandiyya, majelis dzikrullah adalah majelis di mana rahmat itu muncul.  Itulah yang dikatakan oleh Syekh kita bahwa ketika kita duduk bersama, ketika kita berkumpul bersama, rahmat itu mulai muncul. Mengapa? Karena kita berkumpul di sini untuk menghidupkan apa yang dibawa oleh Rasulullah (saw).  

Kita adalah manusia di bumi ini, kita berada dalam kegelapan.  Kegelapan dari dunia ini. Allah (swt) berfirman, “waja `ala zhulumaati wa ‘n-nuur dalam Surat al-Anam, 

alhamdulillaahi ‘l-ladzii khalaqa ‘s-samaawaati wa ‘l-ardh, ayat pertama. 

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَجَعَلَ ٱلظُّلُمَٰتِ وَٱلنُّورَ ۖ 

alhamdulillaahi ‘l-ladzii khalaqa ‘s-samaawaati wa ‘l-ardha waja `ala zhulumaati wa ‘n-nuur  

Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang. (QS 6:1).

Di bumi kita berada dalam kegelapan.  Rasulullah (saw) telah membawa cahaya, jadi majelis kita, majelis Naqsybandiyya, majelisnya Grandsyekh, majelis bagi seluruh Muslimin dan Mukminin adalah majelis untuk menghidupkan apa yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw).  Apa yang telah beliau bawa? Beliau membawa cahaya tersebut. Beliau membawa nuur, cahaya.  

Jadi pertemuan kita adalah untuk Allah (swt).  Pertemuan kita di sini adalah untuk mengingat. Untuk mengingat apa yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw), untuk mengingat apa yang telah diberikan oleh Allah (swt) kepada kita.  Itulah sebabnya kita duduk di majelisnya Awliyaullah. Majelisnya Awliyaullah adalah majelis untuk mengingat, mengingat siapa diri kalian, apa yang seharusnya kalian lakukan, bagaimana seharusnya kalian bertingkah laku.  Ketika persoalan muncul, sebagaimana yang dinyatakan oleh Mawlana Syekh Nazim dalam shuhbah-nya, ketika awdha`, ketika muncul persoalan, apa yang kalian lakukan wahai Mukmin?  Jangan menjadi seperti orang yang jahil, jangan menjadi seperti orang yang putus asa terhadap rahmat Allah.  Sebagaimana yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim ketika beliau mengawali shuhbah-nya, “Rahmatullaahi ghaalib, Rahmat Allah yang akan selalu hadir dan terlihat.”  Jangan menjadi seperti yang lain. Kalian adalah Mukmin yang percaya kepada apa yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw), nuur, cahaya.  

Sekarang kita berada dalam suatu situasi, kita berada dalam situasi di mana Allah (swt) telah menciptakannya, Allah (swt) sadar mengenai hal ini.  Apa yang kita lakukan? Kita pergi ke majelis Awliyaullah untuk mendengar dan mengingat serta menghidupkan kembali apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah (saw).  

Jadi, kita selalu bisa mengatakan suatu hal di mana-mana.  Pembicaraan kita bukan hanya mengenai rahasia. Di mana pun kita berada di dunia ini, pembicaraan kita sama, yaitu untuk menghidupkan apa yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw).  Untuk mengingatkan orang terhadap apa yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw), itulah yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim (q).  

Asosiasi Grandsyekh Abdullah (q), asosiasi Mawlana Syekh Nazim (q), asosiasi Grandsyekh Naqsybandiyya, asosiasi para ulama Awliyaullah adalah untuk mengingat.  Nabi (saw) telah datang sebagai pemberi peringatan, siffatuhum mudzakiriin, sifat atau karakter dari para Anbiya, Nabi-Nabi dan Rasul adalah sebagai pengingat, untuk mengingatkan kalian wahai manusia, karena kalian sendiri sudah mempunyai pengetahuan tentang hal itu.  

Manusia sudah mempunyai pengetahuan.  Kalian mempunyai pengetahuan, kalian hanya lupa, karena kalian telah bergerak dari kegelapan menuju kegelapan, dari satu daerah ke daerah yang lain, dari satu tingkat ke tingkatan lainnya, kalian telah bergerak dari alaamil arwaah, ke alaamil asaam, kalian telah bergerak dari alam jiwa ke alam raga, alam fisik.  Wahai manusia, kalian telah bergerak dari alam rohaniah ke alam fisik.  Kalian telah melupakan apa yang terjadi di alam rohaniah.

Itu adalah pekerjaannya Anbiyaullah, itu adalah tugas para Awliyaullah.  Ketika seseorang mengatakan, “Aku adalah seorang Waliyullah,” Apa tugasmu wahai Waliyullah?  Atau orang yang mengaku sebagai seorang yang arif di zaman ini, orang yang mengaku mengetahui segalanya di zaman ini, orang yang mengatakan bahwa “Aku adalah Qutub di zaman ini.”  Apakah tugasmu wahai Qutub? Apakah tugasmu wahai Alim? Wahai Waliyullah? Apa tugasmu wahai para filsuf? Para filsuf juga mengaku bahwa mereka mengetahui alam spiritual. Baiklah, apa tugas kalian?  Tugas kalian adalah untuk mengingatkan orang-orang dari alam yang telah mereka tinggalkan. Mereka menjadi absen dari alam yang pernah mereka masuki. Apakah kalian mengetahui apa yang terjadi di alam tersebut wahai Qutub?  Apakah kalian mengetahui apa yang terjadi di alam tersebut wahai Wali? Apakah kalian mengetahui apa yang terjadi di alam tersebut wahai khalifah? Apakah kalian mengetahui apa yang terjadi di alam tersebut wahai Imam? Apakah kalian mengetahui apa yang terjadi di alam spiritual wahai alim?  Apa yang terjadi, apakah kalian mengetahuinya?

Tugas kalian, wahai para ulama, baik Muslim maupun non Muslim, para ulama Yahudi, para ulama Kristen, para ulama Buddha; tugas kalian adalah untuk mengatakan kepada orang-orang apa yang telah mereka janjikan kepada Tuhan mereka di alam rohaniah tersebut.  Bahkan mungkin kalian sendiri tidak ingat apa janji kalian kepada Tuhan kalian.  

Jadi, wa dzakkir, Allah (swt) mengatakan kepada Rasulullah (saw), “Ingatkan mereka, wahai Habib-Ku, ingatkan mereka apa yang telah mereka lupakan.”  Ketika kalian telah pindah dari alam rohaniah dan masuk ke dalam rahim ibu kalian, tubuh kalian mulai diciptakan. Tubuh kalian diciptakan di dalam rahim ibu kalian.  Ruh sampai pada tubuh fisik itu. Sebagian orang keluar dari rahim dalam keadaan tidak bernyawa, sebagian lagi keluar dari rahim dalam keadaan hidup. Ruh itu telah sampai dari alam arwah, dari alam rohaniah, ia telah sampai ke rahim ibu kalian dan masuk ke dalam tubuh fisik yang telah diciptakan untuk masuk ke alam fisik. 

Wa dzakkir yaa Habibi yaa Muhammad, yaa Muhammadul aamiin, wahai Muhammad yang dapat dipercaya.  Mengapa nama beliau Aamiin? Wahai orang yang dapat dipercaya, ingatkan mereka, fa inna dzikraa tanfa`u ‘l-mu’miniin (QS Ad-Dzaariat, 51:55), ketika mereka ingat, mereka akan mendapat manfaat, karena mereka akan menemukan apa yang telah mereka janjikan pada Tuhan mereka. 

Eey Waliyullah, masyaAllah kita mempunyai banyak sekali Syuyukh; begitu banyak Syuyukh dan Rabbi, pendeta serta orang-orang suci di seluruh dunia yang mengaku sebagai pembimbing.  Ini bukanlah mengenai pengetahuan dari buku-buku, ini adalah tentang mengingat apa yang terjadi di alamul arwah, alam rohaniah.  

Kapankah alamul arwah itu bermula?  Kapankah alam rohaniah itu bermula?  Siapa yang tahu? Kapan ruh itu bermula?  Orang yang telah melihatnya, orang yang telah menyaksikannya adalah orang yang merupakan Nabi sejati, Anbiyaullah, Awliyaullah, yang merupakan para ahli kasyaf, yang matanya terbuka, dan mereka telah melihat.  Nabiyullah, Rasulullah (saw) adalah orang yang telah mengambil ruh-ruh ini. Demikianlah yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim (q).  

Beliau mengatakan bahwa Allah (swt) telah memberi perintah, pertama kita semua harus mengingat perintah Allah (swt).  Mawlana Syekh Nazim (q) mengatakan bahwa Rasulullah (saw) telah mengajarkan kepada kita untuk menghormati perintah Allah (swt).  Kalian harus menghormati perintah Allah (swt) dalam Qur’anil Kariim, dan jalan kita adalah untuk menghormati apa yang Allah perintahkan dalam Qur’anil Kariim.  Moto kita adalah ayat berikut:  

yaa ayyuha ‘l-ladziina aamanuu athi’ullaah wa athi’u ‘r-rasuula wa uli ‘l-amri minkum, 

wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasulullah (saw) dan taatilah ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kalian. (QS. An Nisa’ 4:59)

Kita tidak pernah berpikir untuk tidak taat. Kita sebagai pengikut Mawlana Syekh Nazim (q), pengikuti Grandsyekh, pengikut para Syekh Naqsybandi, dalam sedetik pun kita tidak pernah berpikir untuk menentang para penguasa.  Kita tidak pernah menentang orang-orang yang mempunyai otoritas, kita tidak pernah menentang perintah Rasulullah (saw), kita tidak pernah menentang perintah Allah (swt). Jika hal itu terjadi pada diri kita, hal itu adalah karena lupa atau kita telah berbuat kesalahan.  

Kita tidak pernah berniat secara sengaja untuk tidak patuh, malah setiap hari kita berniat, “Yaa Rabbii, wahai Tuhan kami, kami berniat untuk mematuhi perintah-Mu, kita berniat untuk mematuhi Rasulullah (saw), kita berniat untuk mematuhi ulil amri, para pemegang kekuasaan, orang-orang yang kalian tempatkan di posisi atas.  

Perhatikan adabnya.  Adab yang berusaha diajarkan oleh para Syuyukh kepada kita.  Hormati perintahnya dan patuhi. Kita menghormati semua orang, baik pemegang kekuasaan, maupun yang tidak, kita menghormati semua orang.  Kita menjaga perintah. Kita tidak pernah menjadi orang-orang yang tidak menjaga perintah dan kita patuh. Kita mematuhi Pencipta kita, kita mematuhi Nabi (saw) dan kita mematuhi para ulil amri.  Jadi apa yang telah kita lupakan, di mana Mawlana Syekh Nazim (q) berusaha mengingatkan kita dalam shuhbah ini?  Ketika kita berada di alam rohaniah, dan tidak banyak orang yang mengetahui hal ini, itulah sebabnya banyak orang yang keberatan dengan hal ini.  Orang-orang yang keberatan dengan ajaran para Awliyaullah adalah orang-orang yang tidak mengetahui tentang apa yang terjadi di alam rohaniah sebelum kita datang ke sini.

Dalam Surat al-A’raf ayat 172, Allah (swt) berbicara tentang suatu pertemuan yang pernah diadakan di antara para arwah.  Sebelum tubuh diciptakan, Allah (swt) telah mengambil dzarrah, saripati dari Bani Adam, dari keturunan Adam (as), dan Dia berfirman, “Alastu birabbikum, bukankah Aku ini adalah Tuhanmu?”  Ini terjadi sebelum kita datang ke sini.  Pada hari itu Allah (swt) telah menunjuk orang-orang yang akan menjadi ulil amri; orang-orang yang akan menjadi presiden di dunia ini; orang-orang yang akan menjadi perdana menteri di dunia ini; orang-orang yang akan menjadi menteri-menteri, raja, kaisar, walikota, anggota parlemen, apa pun itu, setiap orang yang akan menempati suatu posisi di dunia ini  sekarang ini, mereka semua telah ditunjuk pada hari itu di alam rohaniah.  

Allah telah memberi sari pati atau hakikat keturunan Adam ini kepada Rasulullah (saw).  Dan Dia berfirman, “Aku mempercayakan mereka semua kepadamu.” Itulah sebabnya Rasulullah (saw) disebut dengan al-Aamiin, orang yang tidak akan mengkhianati amanatnya.  Beliau telah meneriman amanat seluruh anak cucu Adam dari Allah (swt) dan beliau mengatakan, “Yaa Rabbii, engkau dapat memberikan amanat-Mu kepadaku. Aku akan menjaga amanat ini.”  Hal ini tidak kalian ketahui. Jadi jangan protes. Awliyaullah berbicara tentang kejadian yang terjadi di alam rohaniah.  

Jadi Rasulullah (saw) telah mengambil hakikat manusia, sari pati manusia, dan Allah (swt) telah mengatakan kepadanya siapa yang akan menjadi presiden di dunia ini, siapa yang akan menjadi raja di dunia ini, siapa yang akan menjadi kaisar di dunia ini, siapa yang akan menjadi gubernur di dunia ini.  Dia mengatakan bahwa hamba-hamba yang telah kau ambil ini, wahai Kekasih-Ku, mereka telah sepakat dengan-Ku. Ada kesepakatan yang terjadi antara mereka dengan Allah (swt). Kalian telah menyepakati sesuatu dengan Allah (swt), ketika Dia mengatakan, “Bukankah Aku ini adalah Tuhanmu?” Dia telah memberi kesepakatan itu kepada kalian, dan kalian mengatakan, “Balaa, ya, wahai Tuhanku, aku akan melaksanakan perintah-Mu.  Aku akan melaksanakan apa yang Engkau inginkan dariku, Engkau adalah Tuhanku, dan aku adalah hamba-Mu.”  Ketika Dia mengatakan, “Bukankah Aku adalah Tuhanmu?” Kita mengatakan, “Ya, kami adalah hamba-Mu.” Rasulullah (saw) mengetahui apa yang telah diberikan kepada orang itu; apa yang telah diberikan kepada setiap manusia.  Apa pun yang telah disepakati dengan Tuhannya, maka di dunia ini mereka harus melakukannya.  

Grandsyekh mengatakan bahwa pada hari itu, pada pertemuan itu, ketika kita masih di alam arwah, (Surat al-A’raf ayat 172, bacalah).  Pada hari itu Allah (swt) telah membusanai presiden dengan atribut kepresidenan; Allah telah membusanai raja dengan atribut kerajaan, dan Rasulullah (saw) kemudian mengkonfirmasinya dan menandatanganinya.  Salah satu nama dari Rasulullah (saw) adalah Raafi`u ‘r-Ruthab, orang yang mengangkat derajat, Raafi` adalah mengangkat,  baik di dunia maupun di Akhirat, apakah kalian presiden di dunia atau sultan di Akhirat, seorang Waliyullah, Allah (swt) telah membusanai kalian dengan atribut masing-masing dan Rasulullah (saw) telah sepakat dan menandatanganinya, karena beliau adalah Raafi`u ‘r-Ruthab fi ‘d-dunya wa fi ‘l-Akhrat.  Jabatan atau posisi apa pun yang diambil manusia di dunia ini dan di Akhirat harus dikonfirmasi dan ditandatangani oleh Rasulullah (saw).  Bahkan jika itu adalah sersan, mayor, atau presiden, Rasulullah (saw) telah mengetahui bahwa posisi itu telah disandangkan kepada orang itu, baik bagi Mukmin, maupun non Mukmin.  Rasulullah (saw) adalah orang yang akan bertanggung jawab atas mereka semua. Untuk memenuhi janji mereka, Rasulullah (saw) harus bertanggung jawab, beliau harus memastikan bahwa setiap manusia memenuhi janjinya kepada Tuhannya.  Lihatlah seberapa jauhnya tugas Rasulullah (saw). Beliau patut menjadi orang yang dapat dipercaya, seorang yang Aamiin yang dapat membuat setiap manusia memenuhi janjinya kepada Allah (swt).

Itu artinya tak ada seorang pun di antara kita yang boleh keberatan dengan aturan seorang raja, dengan peraturan seorang presiden, karena yang telah menunjuk mereka adalah Allah (swt) dan Rasulullah (saw) telah mengangkat derajat mereka.  Kalian tidak bisa mengatakan, “Wahai Tuhanku, mengapa engkau menempatkannya sebagai pemegang kekuasaan?” Karena Rasulullah (saw) telah bersabda, “Kama takuunuun, yuwalla `alaykum, sebagaimana (kondisi) diri kalian, kalian akan mendapatkan ulil amri yang sesuai dengan kalian.  Jika kalian baik, maka kalian akan mendapat penguasa yang baik, dan sebaliknya. Namun jika presiden terburuk pun yang muncul, atau raja terburuk yang muncul, atau kaisar terburuk yang muncul, Mawlana Syekh Nazim mengatakan, “Jika kalian adalah orang yang lurus dan adil, kalian tidak akan mendapat suatu bahaya pun dari mereka.  Tidak ada bahaya yang akan mengenai kalian. Tidak ada bahaya yang akan mencapai kalian bahkan dari seorang presiden terburuk pun. Tidak ada bahaya yang akan mencapai kalian dari seorang penguasa yang buruk. Jika kalian lurus dan adil. Mengapa tidak ada bahaya yang dapat menyentuh kalian? Karena seorang Mukmin sejati, ahlul hakikat, mereka melihat bahwa bahaya sesungguhnya bukanlah bahaya di dunia ini; bahaya sesungguhnya adalah bahaya pada iman kalian.   

Wahai manusia, bahaya yang akan mencapai kalian tidak ada kaitannya dengan dunia ini, karena dunia ini tidak akan berlangsung selamanya.  Akan ada masa di mana dunia akan berakhir.     

Jadi tidak ada bahaya akan mencapai kalian wahai Mukmin, terkait urusan dunia ini.  Itu bukanlah bahaya yang sesungguhnya. Jangan sedih bila kalian tidak bisa tidur dengan nyaman; jangan sedih bila kalian tidak bisa makan dengan enak, kalian tidak dapat mengumpulkan uang seperti sebelumnya, kalian tidak bisa bepergian seperti sebelumnya.  Kalian tidak dapat bersenang-senang seperti sebelumnya. Kalian tidak bisa berpesta seperti sebelumnya. Jangan mengatakan, “Oh aku terluka.” Ini semua hanya terkait dengan dunia. Wahai Mukmin sejati, tidak ada bahaya yang dapat menyentuh kalian terkait dengan urusan dunia ini karena bahaya sesungguhnya terletak pada iman kalian, wahai Muslim.  Demikian yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim (q) kepada kita.

Jadi apa pun yang terjadi sekarang ini, itu semua adalah dunia.  Jika kalian makan lebih sedikit, jika kalian lebih jarang bertemu orang-orang, jika kalian lebih sedikit bersenang-senang, ini semua adalah dunia.  Dunia tidak mempunyai keberlanjutan. Ia akan berakhir. Jadi wahai Mukmin, bahaya sesungguhnya yang akan datang pada kalian adalah melalui iman kalian.  Jangan biarkan iman kalian terluka. Ingatlah selalu apa yang dikatakan oleh Rasulullah (saw), ikuti selalu apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah (saw).  Jika kalian tidak tahu apa yang beliau katakan, ikuti Syekh kalian, apa yang dikatakan oleh Syekh kalian, apa yang diingatkan oleh Syekh kalian. Jangan kehilangan iman kalian karena itu adalah bahaya sesungguhnya.  Jangan seperti orang lain, yang terlalu khawatir, tertekan, cemas dan sedih. Lindungi iman kalian. Ketahuilah bahwa Allah (swt) mempunyai kendali atas segala sesuatu.  

Dalam Surat at-Thalaq (QS 65:3), Allah (swt) berfirman, wa man yatawakkal `alallaahi fahuwa hasbuh, innallaaha baalighu amrih, qad ja`alallaahu likulli syay’in qadraa

Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah (swt) sudah cukup baginya, Allah (swt) akan memberikan segala yang diperlukannya, dan apa yang diperlukan keluarganya.  Allah (swt) akan memastikan bahwa apa yang telah ditetapkan untuknya akan terjadi. Dan itu akan terjadi. Qada dan qadar Allah (swt) yang akan berlaku. Tetapi Allah (swt) melanjutkan pada ayat karimah itu qad ja`alallaahu likulli syay’in qadraa, Allah telah menetapkan batas bagi segala sesuatu, batas dan umurnya, kapan ia akan berakhir.  Jadi Mukmin adalah orang yang ridha dengan Keputusan Tuhannya, dengan takdir Tuhannya, dan ia mengatakan “Ya Rabbii, terserah pada-Mu.”  

Sebagaimana yang sering dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim kepada kita, “Kama tuhibbu Rabbii wa tardha.”  “Seperti yang Engkau sukai dan ridhai, Yaa Rabbii, aku adalah hamba-Mu.”  Itu adalah janji yang telah kita berikan kepada Tuhan kalian, bahwa “Yaa Rabbii, Engkau adalah Tuhan dan aku adalah seorang hamba.”  

Ajaran Mawlana Syekh Nazim, Syekh kita, mursyid kita, Awliyaullah, adalah untuk mengingatkan apa yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw); untuk menghidupkan apa yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw) dan membawa cahaya yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw).  Kita semua telah melupakan Nuurun Nabi (saw), kita telah melupakan cahaya Rasulullah (saw).  Kita telah membenamkan diri kita dalam kegelapan dari kesenangan dunia ini.  Kita telah membenamkan diri kita dalam kegelapan dari kesenangan mengejar emas, dollar dan Euro, saham dan obligasi serta kesenangan dunia ini.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita. Semoga Allah (swt) mengampuni kita.  

Mawlana Syekh Nazim (q) mengatakan, “Laa baqa lil jismi wa laa lil maali innamal baqa lil iimaani, tidak ada baqa, tidak ada kekekalan bagi jasad, karena ia akan musnah ditelan tanah; tidak ada kekekalan bagi harta, bagi uang, ia akan pergi kepada orang lain, sesungguhnya yang kekal itu adalah iman.  Jagalah iman kalian dari Setan yang berusaha untuk memberi keraguan dalam iman kalian. Jagalah agar iman kalian tetap kuat. Datanglah ke majelis Awliyaullah. Kalian akan mendapat peringatan terhadap apa yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw).  Kalian akan mendapatkan peringatan dari shuhbah Grandsyekh, dari perkataan Grandsyekh.  Datanglah, dan raihlah manfaatnya.

Wahai Muslim, lindungi iman kalian.  Di dalam Surat at-Thalaq (QS 65:12), Allah (swt) berfirman, “Allahu ‘l-ladzii khalaqa sab`a samaawaatin wa mina ‘l-ardhi mitslahunna, yatanazzalu ‘l-amru baynahunna, lita`lamuu annallaaha `alaa kulli syay’in qadiir,

Allah (swt) yang menciptakan tujuh langit dan Dia juga telah menciptakan tujuh bumi.  Sebagimana Dia menciptakan tujuh langit, Dia juga menciptakan tujuh bumi. Takdir Allah turun dari tujuh langit ke tujuh bumi, itu artinya apa yang ada di antaranya semuanya merupakan takdir Allah, perintah dan ketetapan-Nya, agar kamu mengetahui wahai manusia, bahwa Allah (swt) Maha Mengetahui segalanya dan mencakup segalanya.  Tidak ada yang luput dari-Nya. Dia melihat pada iman kalian, wahai manusia.

Wahai Muslim, wahai murid, wahai para pengikut dan pecinta Mawlana Syekh Nazim (q), Allah (swt) melihat pada iman kalian.  Dia menempatkan kalian pada situasi yang paling sulit, dan Dia melihat pada hati kalian. Apakah ada keraguan dalam iman kalian, dalam cinta kalian kepada Allah (swt); adakah guncangan pada cinta kalian terhadap Rasulullah (saw), pada cahaya yang telah dibawanya.  Adakah guncangan pada cinta kalian terhadap mereka. Berhati-hatilah, jangan biarkan cinta itu terguncang. Jagalah agar iman kalian tetap kuat. Ya, kalian mengalami penurunan, tetapi Allah (swt) memang menghendakinya dan Dia akan melindungi kalian dan melindungi keluarga kalian.  Patuhi Allah (swt), patuhi Rasulullah (saw), dan patuhi orang yang mempunyai otoritas atas kalian.

Ketahuilah apa yang telah kalian janjikan pada Tuhan kalian pada hari itu di alam rohaniah, dan jalan untuk mengetahuinya adalah dengan cara diingatkan oleh Waliyullah yang mengambil dari Rasulullah (saw).  Semoga Allah (swt) melindungi kalian, melindungi saya, melindungi keluarga kita, melindungi Mawlana, melindungi Syuyukh kita, melindungi para ulama kita. Semoga Allah (swt) melindungi orang-orang yang baik, dan semoga Allah (swt) membuat yang jahat  berubah menjadi baik, dan semoga Allah (swt) melindungi kita semua, orang-orang yang telah mengikuti cahaya dan pesan Surgawi yang telah datang melalui para Nabi melalui langit. Semoga Allah (swt) mengampuni kita.

Wa min Allah at-tawfiq, sekali lagi, Laylatul Israa’ wal Mi’raj Mubarak untuk kalian! 


Jangan biarkan iman kalian terguncang, lanjutkan cinta kalian, lanjutkan cinta kalian terhadap Allah dan para Utusan-Nya.  Ketahuilah bahwa Allah (swt) dapat memperluas dan membuatnya sempit. Lanjutkan cinta kalian, iman kalian kepada Allah (swt), jangan pernah membiarkan ia terguncang, dan hidupkan malam ini.  Lakukan lebih banyak ibadah di malam ini, Laylatul Israa’ wal Mi’raj.  Mawlana Syekh Nazim biasa melakukannya bersama jemaah, Shalat Tasbih dan Syukur dan kemudian Ziarah.  Jika kalian dapat melakukan ziarah, maka lakukanlah. Jika kalian mempunyai sesuatu yang suci, maka lakukanlah ziarah bersama keluarga kalian di rumah.  Itu adalah adab yang biasa dilakukan oleh Mawlana Syekh Nazim, dan selebihnya kalian dapat melakukan ibadah lainnya yang kalian inginkan. Tetapi hal utama yang biasa dilakukan oleh Mawlana Syekh Nazim adalah setelah Isya, Shalat Tasbih, Syukur dan ziarah rambut suci Rasulullah (saw).  Jika kalian tidak mempunyai rambut suci, ziarah apa pun dapat kalian lakukan, dan Allah (swt) akan memberkahi kalian dan memberkahi keluarga kalian, dan Dia akan melindungi kalian. Dia telah membuat batas bagi segala sesuatu, jangan putus asa. wa man yatawakkal `alallaahi fahuwa hasbuh, innallaaha baalighu amrih, qad ja`alallaahu likulli syay’in qadraa, Allah telah menetapkan batas bagi segala sesuatu, ini akan berakhir.  Segala sesuatu akan berakhir, kecuali Kekekalannya Allah (swt), oleh sebab itu kejarlah itu dan jagalah agar iman kalian tetap kuat. 

wa Mubarak Laylatul  Israa’ wal Mi’raj untuk kalian semua, dan untuk semua ummatun Nabi Muhammad (saw).  Kita semua mengharapkan Surga. Surga sekarang, sepuluh tahun dari sekarang, dan seratus tahun dari sekarang, kita memohon agar dimasukkan ke dalam Surga.  Jangan khawatir, jagalah iman kalian. Semoga Allah (swt) mengampuni kita.     

Wa min Allah at-tawfiq wa bi hurmatil Habib, wa bi sirri suuratil Fatihah

  

     

Kisah mengenai Laylat al-Israa wal-Mi’raaj

58372893_315522412475040_1331549168677683200_o

Dr. Nour Hisham Kabbani

2 April 2019 Burton, Michigan

As-Siddiq Institute & Mosque (ASIM)

 

Dalam setiap ibadah, kalian memerlukan dukungan Allah.  Di dalam Surat al-Fatihah, kita membaca, “Iyyaka na`abudu wa iyyaka nasta`iin, hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan,” karena kita tidak kuat, kita lemah, kita melakukan kesalahan, dan semoga Allah (swt) mengampuni kita.  Tetapi insya Allah kita dapat melaksanakan perintah yang telah diberikan oleh Grandsyekh, perintah yang telah diberikan oleh Mawlana Syekh Hisyam (q) dan berbicara sedikit mengenai Isra Mi`raaj.   Peristiwa Isra Mi’raj adalah adalah peristiwa besar yang dapat dibahas dalam banyak bab atau volume buku, tetapi kita tidak akan membahasnya semua; kita hanya akan menyampaikan beberapa poin yang singkat. 

Awliyaullah telah mengatakan bahwa kita harus tahu bahwa ketika Rasulullah (saw) melaksanakan Isra, perjalanan malam, beliau pergi dari Mekah ke Baitul Maqdis di Quds asy-Syariif atau Jerusalem dengan Buraaq.  Allah (swt) memberinya Buraaq di mana orang-orang mengatakan bahwa hal itu adalah bukti bahwa beliau pergi dengan tubuh fisiknya, karena ad-daaba tuyuur il-jism, itu adalah seekor binatang dan hanya mengangkut tubuh fisik saja.  Beberapa orang mengatakan bahwa hanya ruh Nabi (saw) saja yang pergi, tetapi menurut aqidah kita, Ahl as-Sunnah wa ’l-Jama`ah–beliau (saw) pergi dengan tubuh fisik dan rohaninya.  Saat itu beliau (saw) berusia 52 tahun, setahun sebelum beliau hijrah ke Madinah. Di Mekah al-Mukarramah, Allah mengutus Sayyidina Jibril, Sayyidina Mika`il, Sayyidina Israfil (`alayhimu ‘s-salam) dan malaikat lainnya yang membawa Rasulullah (saw) ke kota Quds asy-Syariif dalam sekejap mata, bahkan ada yang mengatakan lebih cepat lagi.  Meskipun demikian, Allah (swt) tidak memerlukan waktu dan tidak mempunyai batas.

Jadi beliau (saw) pergi dengan binatang suci surgawi tersebut, dari Mekah ke Quds asy-Syariif dan kemudian dari Bayt al-Maqdis ke Langit Pertama.  Dikatakan bahwa dalam Mi’rajnya Rasulullah (saw) menaiki anak tangga dari emas, perak dan permata hingga ke Langit Pertama, dan dari sana beliau melanjutkan perjalanannya dengan menaiki sayap para malaikat melewati seluruh Langit hingga ke Langit Ketujuh, dan dari sana beliau (saw) melanjutkan dengan sayap Sayyidina Jibril hingga ke Sidrah. 

Nabi (saw) dibawa dengan makhluk surgawi di Bumi, melewati Langit ke Sidrat al-Muntaha ke Pohon Teratai yang disebut sebagai Barzakh, di mana cabang-cabang bagian atasnya adalah Cahaya-Cahaya dan bagian akarnya menjulur ke Neraka Jahannam.  Itu merupakan gabungan dari dua alam, yaitu Barzakh dan maqaam Sayyidina Jibril (as). Dari sana, Rasulullah (saw) melanjutkan perjalanannya ke raffraff, bantal-bantal indah yang disediakan Allah (swt).

Di Arasy dengan tubuh fisiknya, disebutkan bahwa beliau tiba di Dua Kaki.  Sekarang kita tidak dapat mengatakannya bahwa itu adalah kaki fisik, karena ar-Rahman `ala ‘l-`Arsy istauwaa, “ar-Rahman telah naik ke atas Arasy”, yang merupakan sebuah maqaam. Rasul (saw) telah mengetahui al-Mustauwaa, (istauwaa artinya “ia telah naik”), dan dalam tingkatan Mi’rajnya beliau (saw) juga melihatnya dengan Qudrah Allah (swt).  Dari sana, dikatakan bahwa pada tingkat Arasy tersebut, beliau meninggalkan komposisinya, tarkiib, taraka tarkiiba, dengan raffraff di Mustauwaa tersebut, dan beliau pergi dengan `Ayn, Essens, dan Allah (swt) Maha Mengetahui apa itu.

Saya mengatakan hal ini karena ketika beliau mencapai Level (`Ayn) tersebut, Allah memberi shalat pada Rasulullah (saw) pada level yang sangat dekat antara dirinya dengan Allah.  Dikatakan bahwa Dia (swt) mengumpulkan semua shalat yang tersebar di antara para Nabi.

SUBUH

Yang pertama melakukan shalat Subuh adalah Sayyidina Adam (as).  Dikatakan bahwa Allah (swt) membuatnya mendarat di Bumi pada malam hari, jadi kegelapan malam menyelimutinya.  Ketika beliau tidak lagi melihat apa-apa yang sebelumnya dilihat di Surga, beliau menjadi sangat takut dan sedih dan ketika Subuh tiba, beliau melakukan shalat dua rakaat untuk mensyukuri bahwa Nuur atau cahaya telah kembali dan kegelapan telah pergi.  Allah menerima tobatnya dan mengirimkan Cahaya dari keharmonisan, sukses dan tawfiq ini serta menghilangkan kegelapan dari mukhalafa, ketidakpatuhan.  Adam (as) dikaruniai Cahaya Kesuksesan dari shalatnya di waktu Subuh.  Itulah sebabnya kita bangun saat Subuh, untuk menyaksikan kegelapan itu pergi dan mengatakan, “Ya Allah, kegelapan dari ketidakpatuhanku telah pergi dan Cahaya dari Hidayah-Mu akan datang.” 

ZHUHUR

Sayyidina Ibrahim (as) shalat pada saat Zhuhur, setelah zawaal.  Mengapa?  Karena Allah mengirimkan hewan untuk dikurbankan, dan pada hari pertama dari Haji, kita tahu bahwa kita harus mengorbankan hewan kurban sebelum Zhuhur, sejak awal sebelum melempar jumrah.Jadi ketika Allah mengirimkan hewan itu kepada Ibrahim (as), beliau melakukan shalat Syukur pada waktu Zhuhur; rakaat pertama karena putranya telah diselamatkan; kedua karena Allah telah ridha dengannya; ketiga karena putranya sabar; dan keempat karena Allah telah menghilangkan kesedihan dalam hatinya.

`ASHAR

Yang pertama melakukan shalat `Ashar adalah Sayyidina Yunus (as) setelah Allah menyelamatkannya dari kegelapan dalam perut ikan paus.

MAGHRIB

Yang pertama melakukan shalat Maghrib adalah Sayyidina `Isa (as), dan mengapa tiga rakaat?  Awliyaullah telah menjelaskan bahwa rakaat pertama adalah untuk menyangkal ketuhanan pada dirinya sendiri, lalu pada ibunya [sebagaimana yang salah dipahami oleh orang Kristen], kemudian menegaskan Ketuhanan pada Tuhannya. 

`ISYA

Sayyidina Musa (as) adalah yang pertama melakukan shalat `isya. 

Allah (swt) mengumpulkan seluruh shalat para Nabi itu dan memberikannya kepada umat Nabi Muhammad (saw).  Jadi, jagalah shalat-shalat kalian karena itu sangat berharga dan telah dilakukan oleh para Nabi.

WITIR

Semua shalat lainnya telah dilakukan oleh para Nabi, tetapi Allah (swt) memberikan shalat Witir kepada Rasulullah (saw).  Beliaulah yang pertama melakukan shalat Witir ketika beliau memimpin shalat untuk seluruh malaikat di Sidrat al-Muntaha. 

Rasulullah (saw) adalah Kekasih kita yang telah dimuliakan khususnya di malam ini.  Allah (swt) menunjukkan Rasulullah (saw) kepada setiap orang. Beliau (saw) adalah yang terbaik di Bumi dan yang terbaik di Langit.  Beliau (saw) adalah Imam di Bumi dan Imam di Langit, dan beliau memberi kita hadiah berupa shalat, yang dengannya kalian akan mencapai Allah (swt) dan tanpanya tidak ada seorang pun yang dapat mencapai Allah.  Kalian harus melaksanakan semua shalat tersebut!

Rabbana wa ta qabal du`a, wahai Tuhan kami, terimalah doa kami, sebagaimana doanya Sayyidina Ibrahim, “Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat.  Wahai Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Wahai Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua Ibu Bapakku, dan semua orang yang beriman pada Hari diadakannya Perhitungan (Yawmil Hisab).” (Surah Ibrahim, 14:40-41)

Bi sirrii Surat al-Fatihah.

 

https://sufilive.com/The-Story-of-Laylat-al-Isra-wal-Mi-raj-6817.html

© Copyright 2019 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Kisah mengenai Laylat al-Israa wal-Mi’raaj

56328658_10158345282669745_715136016406544384_o

Dr. Nour Hisham Kabbani

2 April 2019 Burton, Michigan

As-Siddiq Institute & Mosque (ASIM)

 

Dalam setiap ibadah, kalian memerlukan dukungan Allah.  Di dalam Surat al-Fatihah, kita membaca, “Iyyaka na`abudu wa iyyaka nasta`iin, hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan,” karena kita tidak kuat, kita lemah, kita melakukan kesalahan, dan semoga Allah (swt) mengampuni kita.  Tetapi insya Allah kita dapat melaksanakan perintah yang telah diberikan oleh Grandsyekh, perintah yang telah diberikan oleh Mawlana Syekh Hisyam (q) dan berbicara sedikit mengenai Isra Mi`raaj.   Peristiwa Isra Mi’raj adalah adalah peristiwa besar yang dapat dibahas dalam banyak bab atau volume buku, tetapi kita tidak akan membahasnya semua; kita hanya akan menyampaikan beberapa poin yang singkat.

Awliyaullah telah mengatakan bahwa kita harus tahu bahwa ketika Rasulullah (saw) melaksanakan Isra, perjalanan malam, beliau pergi dari Mekah ke Baitul Maqdis di Quds asy-Syariif atau Jerusalem dengan Buraaq.  Allah (swt) memberinya Buraaq di mana orang-orang mengatakan bahwa hal itu adalah bukti bahwa beliau pergi dengan tubuh fisiknya, karena ad-daaba tuyuur il-jism, itu adalah seekor binatang dan hanya mengangkut tubuh fisik saja.  Beberapa orang mengatakan bahwa hanya ruh Nabi (saw) saja yang pergi, tetapi menurut aqidah kita, Ahl as-Sunnah wa ’l-Jama`ah–beliau (saw) pergi dengan tubuh fisik dan rohaninya.  Saat itu beliau (saw) berusia 52 tahun, setahun sebelum beliau hijrah ke Madinah. Di Mekah al-Mukarramah, Allah mengutus Sayyidina Jibril, Sayyidina Mika`il, Sayyidina Israfil (`alayhimu ‘s-salam) dan malaikat lainnya yang membawa Rasulullah (saw) ke kota Quds asy-Syariif dalam sekejap mata, bahkan ada yang mengatakan lebih cepat lagi.  Meskipun demikian, Allah (swt) tidak memerlukan waktu dan tidak mempunyai batas.

Jadi beliau (saw) pergi dengan binatang suci surgawi tersebut, dari Mekah ke Quds asy-Syariif dan kemudian dari Bayt al-Maqdis ke Langit Pertama.  Dikatakan bahwa dalam Mi’rajnya Rasulullah (saw) menaiki anak tangga dari emas, perak dan permata hingga ke Langit Pertama, dan dari sana beliau melanjutkan perjalanannya dengan menaiki sayap para malaikat melewati seluruh Langit hingga ke Langit Ketujuh, dan dari sana beliau (saw) melanjutkan dengan sayap Sayyidina Jibril hingga ke Sidrah.  

Nabi (saw) dibawa dengan makhluk surgawi di Bumi, melewati Langit ke Sidrat al-Muntaha ke Pohon Teratai yang disebut sebagai Barzakh, di mana cabang-cabang bagian atasnya adalah Cahaya-Cahaya dan bagian akarnya menjulur ke Neraka Jahannam.  Itu merupakan gabungan dari dua alam, yaitu Barzakh dan maqaam Sayyidina Jibril (as). Dari sana, Rasulullah (saw) melanjutkan perjalanannya ke raffraff, bantal-bantal indah yang disediakan Allah (swt).

Di Arasy dengan tubuh fisiknya, disebutkan bahwa beliau tiba di Dua Kaki.  Sekarang kita tidak dapat mengatakannya bahwa itu adalah kaki fisik, karena ar-Rahman `ala ‘l-`Arsy istauwaa, “ar-Rahman telah naik ke atas Arasy”, yang merupakan sebuah maqaam. Rasul (saw) telah mengetahui al-Mustauwaa, (istauwaa artinya “ia telah naik”), dan dalam tingkatan Mi’rajnya beliau (saw) juga melihatnya dengan Qudrah Allah (swt).  Dari sana, dikatakan bahwa pada tingkat Arasy tersebut, beliau meninggalkan komposisinya, tarkiib, taraka tarkiiba, dengan raffraff di Mustauwaa tersebut, dan beliau pergi dengan `Ayn, Essens, dan Allah (swt) Maha Mengetahui apa itu.

Saya mengatakan hal ini karena ketika beliau mencapai Level (`Ayn) tersebut, Allah memberi shalat pada Rasulullah (saw) pada level yang sangat dekat antara dirinya dengan Allah.  Dikatakan bahwa Dia (swt) mengumpulkan semua shalat yang tersebar di antara para Nabi.

SUBUH

Yang pertama melakukan shalat Subuh adalah Sayyidina Adam (as).  Dikatakan bahwa Allah (swt) membuatnya mendarat di Bumi pada malam hari, jadi kegelapan malam menyelimutinya.  Ketika beliau tidak lagi melihat apa-apa yang sebelumnya dilihat di Surga, beliau menjadi sangat takut dan sedih dan ketika Subuh tiba, beliau melakukan shalat dua rakaat untuk mensyukuri bahwa Nuur atau cahaya telah kembali dan kegelapan telah pergi.  Allah menerima tobatnya dan mengirimkan Cahaya dari keharmonisan, sukses dan tawfiq ini serta menghilangkan kegelapan dari mukhalafa, ketidakpatuhan.  Adam (as) dikaruniai Cahaya Kesuksesan dari shalatnya di waktu Subuh.  Itulah sebabnya kita bangun saat Subuh, untuk menyaksikan kegelapan itu pergi dan mengatakan, “Ya Allah, kegelapan dari ketidakpatuhanku telah pergi dan Cahaya dari Hidayah-Mu akan datang.”

ZHUHUR

Sayyidina Ibrahim (as) shalat pada saat Zhuhur, setelah zawaal.  Mengapa?  Karena Allah mengirimkan hewan untuk dikurbankan, dan pada hari pertama dari Haji, kita tahu bahwa kita harus mengorbankan hewan kurban sebelum Zhuhur, sejak awal sebelum melempar jumrah.Jadi ketika Allah mengirimkan hewan itu kepada Ibrahim (as), beliau melakukan shalat Syukur pada waktu Zhuhur; rakaat pertama karena putranya telah diselamatkan; kedua karena Allah telah ridha dengannya; ketiga karena putranya sabar; dan keempat karena Allah telah menghilangkan kesedihan dalam hatinya.

`ASHAR

Yang pertama melakukan shalat `Ashar adalah Sayyidina Yunus (as) setelah Allah menyelamatkannya dari kegelapan dalam perut ikan paus.

MAGHRIB

Yang pertama melakukan shalat Maghrib adalah Sayyidina `Isa (as), dan mengapa tiga rakaat?  Awliyaullah telah menjelaskan bahwa rakaat pertama adalah untuk menyangkal ketuhanan pada dirinya sendiri, lalu pada ibunya [sebagaimana yang salah dipahami oleh orang Kristen], kemudian menegaskan Ketuhanan pada Tuhannya.

`ISYA

Sayyidina Musa (as) adalah yang pertama melakukan shalat `isya.

Allah (swt) mengumpulkan seluruh shalat para Nabi itu dan memberikannya kepada umat Nabi Muhammad (saw).  Jadi, jagalah shalat-shalat kalian karena itu sangat berharga dan telah dilakukan oleh para Nabi.

WITIR

Semua shalat lainnya telah dilakukan oleh para Nabi, tetapi Allah (swt) memberikan shalat Witir kepada Rasulullah (saw).  Beliaulah yang pertama melakukan shalat Witir ketika beliau memimpin shalat untuk seluruh malaikat di Sidrat al-Muntaha.

Rasulullah (saw) adalah Kekasih kita yang telah dimuliakan khususnya di malam ini.  Allah (swt) menunjukkan Rasulullah (saw) kepada setiap orang. Beliau (saw) adalah yang terbaik di Bumi dan yang terbaik di Langit.  Beliau (saw) adalah Imam di Bumi dan Imam di Langit, dan beliau memberi kita hadiah berupa shalat, yang dengannya kalian akan mencapai Allah (swt) dan tanpanya tidak ada seorang pun yang dapat mencapai Allah.  Kalian harus melaksanakan semua shalat tersebut!

Rabbana wa ta qabal du`a, wahai Tuhan kami, terimalah doa kami, sebagaimana doanya Sayyidina Ibrahim, “Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat.  Wahai Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Wahai Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua Ibu Bapakku, dan semua orang yang beriman pada Hari diadakannya Perhitungan (Yawmil Hisab).” (Surah Ibrahim, 14:40-41)

Bi sirrii Surat al-Fatihah.

https://sufilive.com/The-Story-of-Laylat-al-Isra-wal-Mi-raj-6817.html
© Copyright 2019 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law.  

Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.