Pentingnya Bulan Suci Rajab dan Sya`ban

91070140_2773558369365165_108589310252417024_o

Shaykh Hisham Kabbani
Burton, Michigan, 20 Mei 2016
Khotbah Jumu`ah di As-Siddiq Institute & Mosque (ASIM)
As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

[Doa Khotbah]

Wahai Muslim, wahai Mukmin!  Setiap saat dalam kehidupan kita diperhitungkan; kita hanyalah seorang hamba yang lemah, tanpa kekuatan, dan tidak berdaya.  Kita berusaha menjadi seorang hamba yang ikhlas kepada Allah (swt) dan itulah sebabnya kita tidak dapat mengangkat kepala kita dan mengatakan, “Kami di sini.”  Yang ada hanyalah Allah (swt), Sang Pencipta. Dia membawa kita ke dunia dan membawa kita ke Akhirat dalam perjalanan yang penuh dengan rintangan, kesulitan; penuh masalah, dan berbagai penderitaan yang dihadapi dunia Muslim seluruhnya.  Tetapi Allah (swt) Maha Penyayang, dan Dia ingin menolong kita dalam ibadah kita dan agar diterima oleh-Nya. 

Hamba terbaik atau dapat kita katakan Hamba yang Unik adalah Sayyidina Muhammad `alayhi afdhalu ’sh-shalaatu wa ’s-salaam.  Allah (swt) mengangkat derajatnya di bawah Pengawasan-Nya dan menjadikannya sebagai Penghulu dari seluruh Rasul, sejak Adam (as) hingga Hari Kiamat, dan tidak ada lagi Rasul setelah beliau. 

Sayyidina Muhammad, `alayhi afdhalu shalaatu wa salaam, berusaha untuk tidak terlalu membebani umatnya. 

عن عبد الله بن بسر رضي الله عنه أن رجلا قال: يا رسول الله إن شرائع الإسلام قد كثرت علي فأخبرني بشيء أتشبث به؟ قال لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله” الترمذي.

Seorang pria datang kepada Nabi (saw) dan berkata, “Wahai Rasulullah (saw)!  Sesungguhnya Syariat Islam terlalu banyak bagi kami, berikanlah suatu amalan yang dapat kami pertahankan.  Rasulullah (saw) menjawab, “Senantiasa basahi lidahmu dengan dzikrullah.” (Tirmidzi)

Ketika seorang Badui mendatangi Rasulullah (saw) dan mengatakan, “Terlalu banyak Syariat Islam, berikanlah sesuatu yang dapat kulakukan.”  Nabi (saw) menjawab, “Ij`al lisaanaka ratban bi-dzikrillah, “Basahi lidahmu dengan dzikrullah.”  Dzikrullah adalah kitab suci al-Qur’an, oleh sebab itu jadikanlah ia sebagai sahabatmu, agar Allah menyelamatkan dirimu!  Nabi (saw) tidak memberikan sesuatu yang tidak dapat dipikul orang itu, tetapi makna dan tafsir hadits tersebut pada hakikatnya mengatakan bahwa kitab suci al-Qur’an dapat membawa seluruh alam semesta!  Allah (swt) ingin menyelamatkan Ummat an-Nabi (saw), jadi Dia memberikan waktu-waktu yang berharga dalam kehidupan mereka, seperti sekarang ini, kita berada di tiga bulan suci yang sangat dicintai oleh Nabi (saw), di mana beliau (saw) mengatakan dalam Haditsnya, 

رجب شهر الله، وشعبان شهري، ورمضان شهر أمتي

Rajab adalah bulannya Allah, Sya`baan adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.   (Abul-Fath ibn Abi Fawaris dalam `Amalii dari al-Hasan)

Ketika Nabi (saw) mengatakan, “Rajabun syahrullah, “Rajab adalah bulannya Allah,”  Allah tidak memerlukannya, itu adalah untuk kita!  Dia menawarkan satu bulan dengan piring emas kepada kita, di mana bila kalian melakukan ibadah di dalamnya, kalian akan meraih keberhasilan.  Ketika beliau (saw) mengatakan, “Rajabun syahrullah, itu artinya ibadah apa pun yang kalian lakukan di bulan itu akan diangkat oleh Allah (swt) secara langsung, bukan oleh para malaikat, karena itu adalah bulannya Allah.

Wa Rajabun tsalatsatu ahrufin fa ar-Raa rahmatullah, huruf pertama, Ra, adalah Rahmatullah, Rahmat Allah pada kita; wa ‘l-jiim juuduhu `alayna, huruf Jiim melambangkan Kemurahan-Nya kepada kita; wa ‘l-Baa, huruf Baa adalah birruhu `alayna, memberi birr, nikmat kepada kita.  Li anna ar-rahmata tasubbu fiihi sabban, itulah sebabnya ia disebut ‘Rajabun syahrullah,’ karena rahmat akan turun secara langsung kepada kita di bulan itu, tidak ada malaikat yang membawakannya; wa ismuhu ‘l-asamm, dan Allah menyebutnya, “Rajabun syahrullah al-asamm,” artinya, “tidak mendengar apa-apa,” karena bertengkar di bulan ini tidak diperbolehkan, termasuk bertengkar di antara saudara-saudari kalian, kerabat dan tetangga.  Lupakan tentang perang, bahkan bertengkar pun tidak dapat diterima di bulan Rajab.  

Allah akan bertanya kepada bulan Rajab, “Apa yang telah dilakukan oleh hamba-Ku untuk-Ku, wahai Rajab?”  Allah akan bertanya kepada bulan Rajab, “Apa yang telah dilakukan oleh hamba-Ku untuk-Ku?” dan jawabannya adalah, Inna Rajab yurfa`u ila ‘Llahi ta`ala idzaa anqada fa-yas’aluhu ‘Llahu ta`ala `an `amali `ibaadihi fa yaskut. Allah akan bertanya kepada bulan Rajab ketika ia berakhir, “Apa yang telah dilakukan oleh hamba-Ku?  Katakan pada-Ku.” Apakah Allah tidak tahu? Dia tahu, tetapi Dia ingin agar kita mengetahui karena di bulan Rajab amal kita akan diangkat secara langsung kepada-Nya.  

Dan Allah bertanya kepadanya (Rajab), “Katakan apa yang mereka lakukan?” Fa yaskut. Lihatlah adabnya, ia tidak menjawab.  Tsumma yas’aluhu tsaaniyan fa yaskut, kemudian Dia bertanya sekali lagi, dan bulan Rajab tetap diam. Tsumma yasa’luhu tsaalitsan, kemudian Dia bertanya untuk ketiga kalinya, dan bulan Rajab tetap diam, tsumma yaquul, karena tiga kali ia tidak mengatakan apa-apa, kemudian ia ingin membela kita, “Yaa Rabb, Anta amarta `ibaadaka an yastura ba`dahum ba`da, “Wahai Tuhanku, Engkau telah memerintahkan hamba-Mu untuk tidak saling membuka aib masing-masing, untuk saling menutupi jika mereka melakukan kesalahan,” wa sammaanii nabiyyuka Muhammad shallAllahu `alayhi wa sallama al-asamm, fa anna ‘l-asamm,” dan Nabi (saw) menyebutku, “Bulan yang tidak mendengar, dan aku tidak mendengar apa-apa, fa anna ‘l-asamm sama`atu ta`atahum,” tetapi aku mendengar ibadah mereka.”  Duuna ma`aasiihim, “Aku tidak mendengar dosa-dosa mereka, aku hanya mendengar sisi baiknya, dan aku tidak ingin mendengar sisi buruknya.”  Fa yaghfiru ‘Llah `azza wa jall li ‘l-ummat al-Muhammadiyya, Allah akan mengampuni umat Muhammad karena bulan Rajab ini, syahrullah, wa qiil rajabun li-istighfaaru ’dz-dzunuub, Allah telah menjadikan Rajab sebagai bulan pengampunan dari dosa untuk mempersiapkan kita memasuki bulan Sya`ban dan Ramadhan, wa qiil Rajab syahru ‘t-tawbah, wa Sya`baanu syahru ‘l-mahabbah wa Ramadhanu syahru ‘l-qurbah. Dikatakan bahwa Rajab adalah bulan tawbah, ampunan, dan Sya`baan adalah bulan cinta dan Ramadhan adalah bulan keakraban.  Itulah sebabnya mengapa Nabi (saw) sering mengatakan, “Sya`baanu syahrii, beliau mencintai bulan itu, wa Ramadhanu syahru qurba,“ dan Ramadhan adalah bulan keakraban, yakni ketika hamba akan dekat dengan Allah (swt), sebagaimana Dia berfirman, 

Nabi (saw) bersabda bahwa Allah (swt) berfirman,

« كل عمل ابن آدم يضاعف الحسنة عشرة أمثالها إلى سبعمائة ضعف. قال الله عز وجل: إلا الصوم، فإنه لي وأنا أجزي به. يدع شهوته وطعامه من أجلي. للصائم فرحتان: فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه. ولخلوف فيه أطيب عند الله من ريح المسك» رواه مسلم

“Setiap amal anak Adam akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat, dan Allah (`azza wa jalla) berfirman, “Kecuali puasa, karena amal itu dilakukan (murni) untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.  Ia telah meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya demi Aku. Ada dua kebahagiaan yang didapatkan oleh orang yang berpuasa, yaitu kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sesungguhnya bau mulut (orang yang berpuasa) lebih harum di sisi Allah daripada harumnya minyak kasturi.” (Muslim)

Sekarang (malam) kelima belas Sya`ban akan tiba.  Dikatakan oleh banyak ulama bahwa Nabi (saw) bersabda, 

عن النبي صلى الله عليه وسلم من صلى أول ليلة من شعبان اثنتي عشرة ركعة يقرأ في الركعة الأولى فاتحة الكتاب مرة وقل هو الله أحد خمس مرات أعطاه الله تعالى ثواب اثنى عشر ألف شهيد وخرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه ولا يكتب عليه خطيئة إلى ثمانين يوما

Barang siapa yang shalat dua belas rakaat pada malam pertama bulan Sya`ban dan membaca Surat al-Fatihah sekali dan Qul Huwa ‘Llahu Ahad lima kali pada rakaat pertama, Allah akan memberinya pahala dari 12.000 syuhada dan ia akan dibebaskan dari dosa-dosanya seperti ketika baru dilahirkan ibunya dan tidak ada dosa yang akan dituliskan baginya selama delapan puluh hari berikutnya. (Nuzhat al-Majalis oleh as-Safuri).

Jadi, itu adalah Rahmatan li ‘l-Ummah, Allah (swt) memberi kita kesempatan untuk melakukannya.  Saya akan menyebutkan sebuah sebuah kisah dari kitab Nuzhatu ‘l-Majalis dan di dalam Rawdhatu ‘l-Afkaar:

مر عيسى بن مريم عليه السلام على جبل فرأى فيه صخرة بيضاء فطاف بها عيسى وتعجب منها، فأوحى الله إليه أتريد أن أبين لك أعجب ممارأيت، قال: نعم فانفلقت الصخرة عن رجل بيده عكازة خضراء وعنده شجرة عنب، فقال: هذا رزق كل يوم، فقال: كم تعبد الله في هذه الحجر، فقال: منذ أربعمائة سنة، فقال عيسى: يارب ما أظن أنك خلقت خلقاً أفضل منه، فقال: من صلى ليلة النصف من شعبان من أمة محمد صلى الله عليه وآله وسلم ركعتين فهو أفضل من عبادته أربعمائة عام، قال عيسى: ليتني من أمة محمد صلى الله عليه وآله وسلم

Sayyidina `Isa (as) melewati sebuah gunung dan beliau melihat sebuah batu berwarna putih di sana. Beliau berjalan mengelilinginya dan tercengang melihatnya.  Kemudian Allah (swt) mewahyukan kepadanya, “Maukah engkau Kutunjukkan sesuatu yang lebih menakjubkan dari apa yang kau lihat di sini?” Beliau menjawab, “Ya.”  Kemudian batu itu pun terbelah. (Nuzhat al-Majalis oleh as-Safuri)

Seperti halnya Nabi-Nabi lainnya, Sayyidina `Isa (as) sering bepergian di padang pasir atau hutan untuk melakukan suatu siyaaha, perjalanan.  Dalam perjalanannya, fa ra’aa fiihi sakhratun baydaa’ “Ketika beliau menemukan sebuah batu putih yang besar dan sangat bersih.” Fa-taafa bihaa `Isa, “Beliau berjalan mengitarinya dan berpikir, ‘Betapa mengagumkannya batu ini.’ Wa ta`ajjaba minha, “Beliau tercengang pada batu putih yang indah yang ada di sana di tengah-tengah daerah antah berantah.”  Fa-awha ‘Llahu ilayh, “Allah mewahyukan kepadanya, a-turiidu an ubayyina laka a`jaba mimmaa ra’ayt, ‘Maukah engkau Kutunjukkan sesuatu yang lebih menakjubkan dari apa yang kau lihat di sini?’  Sayyidina `Isa (as) mengatakan, qaala na’am, ‘Ya, aku ingin melihatnya.’”

Fa anfalaqat as-sakhrah, “Batu itu pun terbelah,” seperti dalam kisah tiga orang yang berlindung di dalam gua, Nabi (saw) menyebutkannya dalam sebuah Hadits, gua itu tertutup oleh sebuah batu dan setiap orang menceritakan pengalamannya tentang ibadah terbaik yang mereka lakukan untuk Allah, kemudian batu itu terbuka sehingga mereka bisa keluar.  Jadi ketika Allah berkata kepadanya, “Maukah engkau Kutunjukkan yang lebih hebat dari itu?” Nabi `Isa (as) menjawaba, “Na`am yaa Rabbii.” Fa anfalaqat as-sakhrah `an rajulin bi yadihi ukaazah khadraa. “Batu itu pun terbelah dan ada seorang pria yang duduk di sana dengan sebuah tongkat hijau.”  Wa `indahu syajaratu `inab, “dan di sampingnya terdapat sebatang pohon anggur.”

Hal itu lebih mencengangkan, bagaimana sebatang pohon anggur dan pria itu hidup di dalam batu itu, karena Allah berfirman, infalaqat, “Batu itu terbelah dan mereka pun terlihat.”  Orang itu berkata kepada Sayyidina `Isa, “Wahai `Isa,” ia langsung menyebutkan namanya.  Sayyidina `Isa (as) lebih terkejut lagi dan berpikir, “Bagaimana ia bisa mengetahui namaku?” Fa qaala hadza rizqu kulli yawm, “Ini adalah milikku, Allah mengirimkannya kepadaku.  Aku tidak peduli dengan dunia, aku hanya peduli dengan Akhirat, dan orang yang peduli dengan Akhirat, Allah akan memberi mereka rezeki [bahkan] di dalam sebuah batu.”  

Kita mengejar dunia seolah-oleh kita tidak melihatnya, kita menginginkan semuanya dalam kantong kita.  Kita tidak bersyukur kepada Allah (swt) bahwa Dia telah memberi kita kepala, mata, telinga dan hidung untuk mengucapkan, “Laa ilaaha illa-Llah Muhammadun Rasuulullah.”  Dia memberi kita lidah untuk membuat kita senantiasa berdzikir.  Dia memberi kita hati untuk menjaga dzikrullah!  Orang itu menyembah Allah di dalam batu dan Allah mengirimkan rezekinya di sana.  Jangan terkejut, mereka ini adalah para anbiyaa. Allah memberi tanda-tanda kepada mereka, karena kehidupan mereka adalah untuk Allah (swt), tetapi kehidupan kita adalah untuk diri kita, kita tidak hidup untuk Allah (swt), kita adalah hamba yang lemah dan tidak berdaya, kita tidak bisa seperti mereka.  Namun kita dapat mengambil teladan dari kisah-kisah mereka. 

Hadza rizq kulli yawm, fa qaala kam ta`budullah fii hadzihi ‘l-hajar, “Sudah berapa lama engkau beribadah di dalam batu itu?”  Fa qaala, mundzu arba`a mi’ata sannah, “Aku sudah berada di dalam batu itu selama empat ratus tahun.”  Sebelum Ummat an-Nabi (saw) dan Ummat Bani Israiil hingga ke Sayyidina `Isa (as), orang-orang terdahulu berumur panjang, sekarang tidak seperti itu.  Faa qaala `Isa, yaa Rabb, beliau terkejut karena orang itu bergantung kepada Allah sepenuhnya; Allah mengirimkan makanan untuknya.  Sayyidina `Isa (as) berkata, “Yaa Rabb, ma azhunnu annaka khalaqta khalqan afdhala minhu,” “Wahai Tuhan, aku pikir Engkau tidak menciptakan orang yang lebih baik darinya, sebagai seorang manusia, sebagai seorang makhluk.” 

Allah (swt) mewahyukan kepadanya, laa yaa `Isa, “Jangan berkata begitu wahai `Isa,” Fa qaal, yaa `Isa, man shalla Laylat al-nishf Sya`baan min Ummati Muhammad shall`Allahu `alayhi wa-sallam bi raka`tain fa huwa afdhal min `ibadatihi arba`a mi’ata `aam, “Karena ini adalah bulannya Sayyidina Muhammad (saw), barang siapa yang melakukan shalat dua rakaat di bulan Sya`ban, terutama pada malam kelima belas bulan Sya`ban, itu lebih baik daripada ibadah selama 400 tahun.”  

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyerukan untuk berbuat yang makruf, dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah. (Surat Aali-`Imraan, 3:110)

“Kalian adalah umat terbaik yang telah dilahirkan untuk manusia, Ummat an-Nabi (saw).” Allah mengaruniakan berbagai rahmat dan ampunan, walaupun kita tidak banyak melakukannya, Allah mengaruniakan umat ini segala sesuatu untuk Akhirat, sudah disiapkan untuk kita di Surga, insyaa-Allah.  Itu tidak berarti bahwa kita bisa sombong, Allah (swt) mengaruniainya kepada kita karena Dia menjadikan kita sebagai bagian dari Ummat an-Nabi (saw), kehormatan itu adalah untuk Nabi (saw), Allah (swt) memuliakan Nabi (saw) untuk Ummatnya, untuk shalat dua rakaat dan memberi mereka `ibadaat saa’ir al-umam bi arba`a mi’ata `am.

Dia memuliakan Ummat an-Nabi lebih dari Dia memuliakan Ummah lain karena Sayyidina Muhammad (saw)!  Itulah sebabnya mengapa, Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim, wa law annahum idz zhalamuu anfusahum jaa’uuka fa astaghfaruullaah, “Ketika mereka telah menganiaya dirinya, satu-satunya jalan keluar adalah dengan mendatangimu yaa Muhammad (saw),” sebagaimana firman Allah di dalam kitab suci al-Qur’an.

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Jika sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (Surat an-Nisaa, 4:64)

Jadi kehormatan itu adalah untuk Nabi (saw) karena Allah mengampuni kita melalui beliau!  Semoga Allah (swt) mengampuni kita. 

Banyak syuyukh yang mengatakan, kaana ash-shaalihuuna yuhafizhuuna `alaa shalaati ’t-tasaabiih fii syahri sya`baan: Pada Hari Kiamat, Allah akan bertanya pada kita, “Apakah kalian melakukan Shalaat at-Tasaabiih di bulan Sya`ban?” sebagaimana Nabi (saw) telah menyebutkannya ketika beliau menunjukkan Shalaat at-Tasaabiih kepada para Sahaabah (ra), bahkan jika kalian melakukannya sekali seumur hidup, kalian akan masuk Surga, insyaa-Allah.

[Doa penutup khotbah.]

http://sufilive.com/The-Significance-of-the-Holy-Month-of-Rajab-and-Shaban-LS–6190.html
© Copyright 2016 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

AYAT SUCI YANG DAPAT MENYELAMATKAN MANUSIA DARI SEGALA PENYAKIT

89614700_10157130179505886_2694062736572153856_o

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

12 Maret 2020 | Fenton Zawiya, Michigan



Adab terhadap Syekh adalah jika kalian mengaitkan sesuatu kepada diri kalian sendiri, maka tidak akan ada yang berhasil. 


Duduklah di rumah!  Jika kalian mempunyai masalah, bacalah: 

‏بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.

Dzalika taqdiiru ‘l-`Aziizi ‘l-`Aliim.

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Surah Yasiin, 36:38)

 

Masalah tersebut akan cair dengan sendirinya. Itulah yang diajarkan oleh Grandsyekh AbdAllah ad-Daghestani (q) kepada kami pada tahun-tahun yang baik di masa lalu.  Sekarang kita berada di tahun-tahun yang buruk. Tahun yang buruk, tetapi insyaAllah khalaash, keselamatan akan datang.  Pada akhirnya Islam akan menyebarkan kedamaian di mana-mana dan kita (Muslim) tidak menyebarkan apa-apa selain kedamaian.  


As-salam `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh 

Semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat dan keberkahan kepada kalian.  

 

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim dibaca sebelum ayat untuk mengikutsertakan setiap orang yang telah meninggal dunia akibat penyakit ini agar mereka diampuni.  Itulah sebabnya mengapa Umat Sayyidina Muhammad (saw) sangat beruntung memperoleh semua keselamatan dari Langit ini.
 

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.

Dzalika taqdiiru ‘l-`Aziizi ‘l-`Aliim.

 

Dan Dia memberitahukan pentingnya Dzikrullah waqt al-masaa’ib, mengingat Allah pada masa-masa sulit.  

Ja’at al-ayat ats-tsaaniya Dzalika taqdiiru ‘l-`Aziizi ‘l-`Aliim.

Kemudian ayat kedua muncul: 

Demikianlah ketetapan dari-Nya, Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, artinya Dia mengetahui segalanya, jadi jangan menempatkan iraadah, kehendak kalian di atas Kehendak-Nya.  Iraadah kalian adalah seberapa banyak dzikrullah yang dapat kalian lakukan dalam sehari: itulah yang Allah (swt) berikan kepada kalian untuk memilihnya; sementara Iraadah Allah, Kehendak Ilahiah adalah untuk menghapuskan kezaliman, kegelapan dan penindasan, dan memberikan umat Muslim dari ketetapan pentingnya Bahr al-`Azhama, Samudra Keagungan, Qudratullah, Samudra Kekuasaan Allah di seluruh dunia ini. 

Keagungan-Nya adalah, bahwa dari satu ayat al-Qur’an suci seluruh dunia selamat.  Ketika Allah tidak senang dengan manusia, Dia menarik kekuatan dari dunia dan sebelum itu terjadi, seluruh dunia akan mengalami kejatuhan.  Jadi, agar kalian selamat dari masalah ini, `alaykum bi qira’at hadzihi ayah, kalian harus membaca ayat ini: 

 

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.

Dzalika taqdiiru ‘l-`Aziizi ‘l-`Aliim. (36:38)

 

Itu adalah dzikirnya Mawlana Syekh AbdAllah yang biasa beliau baca 100 kali sebelum terbang, atau mengendarai kendaraan atau ketika bepergian.  Bila kalian membacanya atau menuliskannya, Allah (swt) akan membukakan bagi kalian sebuah taj (mahkota), satu derajat, satu maqam di atas maqam lainnya di atas maqam lainnya di atas maqam lainnya dan seterusnya sampai seluruhnya habis. 


Pada saat itu kemurnian akan muncul ke dunia dan Allah (swt) akan menunjukkan `Azhamat-Nya kepada manusia.  Jadi berusahalah untuk menjadi orang yang baik, daripada melakukan maksiat setiap saat, lebih baik melakukan dzikrullah.  

Dzikrullah (adalah apa) yang harus kita tunjukkan kepada Allah bahwa betapa kita sangat tertarik untuk mengikuti apa yang telah dijelaskan oleh Nabi (saw) mengenai ayat ini dan apa yang telah dijelaskan oleh para ulama mengenai hal ini.  

Semoga Allah mengampuni kita dan memberkahi kita, dan semoga Allah menyingkirkan penyakit (virus Corona) tersebut.  Barang siapa yang membaca dzikir ini 100 kali setiap hari ia akan diselamatkan dari segala penyakit. Jadi siapa pun yang mempunyai masalah dari penyakit semacam ini, biarkan mereka membaca ayat tersebut 100 kali setiap hari dan insyaAllah itu akan terbuka. 

Wa min Allah at-tawfiiq, dan segala keberhasilan berasal dari Allah.