Aku Memerlukan Seorang Pemandu

64899673_10213614800186411_3892114018063613952_o

Shuhbah
Shaykh Muhammad Hisyam Kabbani 

 

Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an [9:109] bahwa jika seseorang membangun rumahnya pada karang yang terjal tanpa fondasi yang kuat, maka rumahnya pasti akan runtuh.  Jika seseorang membangun fondasi rumahnya dengan bahan yang baik, atau pada tanah yang padat, lapisan demi lapisan disusun dengan baik, ia akan mempunyai rumah yang kokoh.  Segalanya memerlukan orang yang ahli. Jika Saya bilang kepada saudara saya, “Bisakah kamu membuatkan rumah untuk kami?” Ia akan menjawab, “Tidak, saya bukan tukang kayu.” Jadi kita harus memanggil orang lain dan berkata, “Tolong buatkan rumah untuk kami karena engkau ahlinya.”  Orang itu akan menjawab, “Baiklah! Begini rencananya, di sini kita meletakkan dinding, lalu di sini fondasi, di sini semen dan seterusnya.”

Jika kalian memerlukan seorang ahli untuk membangun rumah yang biasa, lalu bagaimana dengan hati kalian?  Bagaimana kalian membuat suatu pendekatan kepada Tuhan kalian tanpa dibimbing seorang ahli? Kalian harus mencari ahlinya.  Kalian tidak dapat mencapai-Nya tanpa bantuan seorang pemandu, tidak peduli betapa keras kalian mencoba mengikuti jalan-Nya sendirian.  Tak seorang pun yang dapat mencapainya sendirian karena kadang-kadang walaupun seseorang tahu bahwa ia berada di jalur yang benar, bisa saja ia melakukan sesuatu yang bukan pada tempat dan waktunya.  Dan dengan demikian seterusnya ia akan gagal. Jadi kita memang memerlukan bantuan seorang ahli dan ia akan menjadi pemandu kita. 

Untuk mencapai Tuhan, kalian tidak akan menemukan jalan dalam mengarungi gurun kehidupan ini kecuali dengan bantuan seorang pemandu karena angin yang berasal dari keinginan ego dan nafsu dapat mengubah segalanya.  Ego memiliki keinginan. Tiupan angin dari ego adalah keinginan yang kosong dan nafsu untuk menonjolkan diri. Bila keinginan itu muncul, ia akan menutupi jalur yang benar sehingga kalian akan tersesat. Kalian akan berhenti dan tidak tahu cara melanjutkannya.  Itulah sebabnya kalian memerlukan bantuan dari seorang pemandu yang benar-benar ahli dalam mengarungi gurun kehidupan tersebut. Ia adalah ahli dalam mengarungi jalur-jalur ego. Bila kalian tidak dapat menemukannya berarti buang-buang waktu saja dalam mencoba mendekati Tuhan di kehidupan ini.  Tuhan Maha Penyayang, karena kalian berusaha untuk mencapai-Nya, kalian akan menemukan-Nya juga di akhir hayat kalian walaupun tanpa bantuan seorang pemandu, tetapi kalian tidak dapat mencapai-Nya dengan cepat. Sekarang kalian telah kehilangan waktu tanpa kemajuan yang berarti, tetapi segera setelah kalian menemukan seorang pemandu dan kalian menerima panduan yang diberikannya, melewati kemauan ego dan nafsu, maka kalian akan sampai di sisi sebrang.  Sebaliknya jika kalian tidak menerimanya, kalian akan tersesat di gurun yang sangat luas.

Ketika Rasulullah SAW diperintahkan untuk hijrah dari Mekah ke Madinah, beliau bersabda, “Aku memerlukan seorang pemandu.”  Beliau adalah seorang rasul, mengapa beliau memerlukan seorang pemandu? Hal itu untuk mengajari kita bahwa walaupun beliau adalah seorang rasul, beliau tetap memerlukan seorang pemandu, pemandu lahiriah yang dapat menunjukkan jalan menuju Madinah.  Misalnya kita ingin menunjukkan jalan ke air terjun Niagara kepada anak kita, tetapi kita tidak tahu jalan menuju ke sana, maka kita akan mencari seorang ahli, yang tidak akan menyesatkan kita. Beliau adalah rasul tetapi beliau tetap mencari seorang pemandu, apakah beliau tidak tahu?  Nabi ‘Isa AS bersabda, “Salah satu di antara kalian akan mengkhianatiku.” Ini adalah benar, dan sebagai Muslim kita wajib mempercayainya. Beliau mengatakan ‘salah satu di antara kalian,’ apakah beliau tidak tahu? Beliau tahu tetapi tidak mengatakannya. Rasulullah SAW pun tahu, tetapi mereka (Nabi ‘Isa AS dan Rasulullah SAW) ingin menunjukkan kelemahan dan kerendahan hati sepenuhnya.  Beliau mengajari kita untuk mencari seorang pemandu. Mereka memerlukan seorang pemandu untuk menunjukkan jalan dari Mekah ke Madinah dan dengan bantuannya mereka bisa sampai di Madinah dengan aman. 

Jika kita memerlukan seorang pemandu untuk mengarungi gurun pasir, bagaimana dengan kehidupan rohaniah kita?  Ini lebih sulit. Kalian jelas memerlukan seorang pemandu untuk masalah ini. Rasulullah SAW mempunyai pemandu, yaitu malaikat Jibril AS yang memberinya inspirasi dan menyampaikan wahyu.  Pada peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah SAW dibimbing menuju Hadirat Ilahi. Jadi secara lahiriah beliau memerlukan seorang pemandu yaitu ketika hijrah dari Mekah ke Madinah dan secara internal beliau juga memerlukan seorang pemandu, ketika hijrah menuju Tuhannya di malam Isra’ Mi’raj.  Tanpa ada jalan mustahil melakukan hijrah, kalian tidak bisa pergi ke mana-mana tanpa ada jalan.

Itulah sebabnya mengapa setiap orang harus mencari seorang pemandu untuk menunjukkan jalan kebenaran dan jalan menuju realitas.  Tanpa panduannya kalian akan berada dalam keraguan, apakah yang kalian lakukan benar atau salah. Kalian tidak akan mengetahuinya.  Dengan adanya pemandu, kalian akan bergantung kepadanya karena ia adalah seorang yang ahli. Seperti yang telah dikatakan bahwa Rasulullah SAW mengambil seorang pemandu untuk menunjukkan jalan ke Madinah.  Beliau tidak berkata kepadanya, “Tidak! Mengapa kamu membawaku ke jalan yang ini, bukan yang itu?” Beliau menggantungkan dirinya kepada pemandunya karena keahliannya.

Pemandu yang menunjukkan jalan harus dapat dipercaya.  Kalian tidak bisa mengambil sembarang pemandu dan mengaku bahwa ia adalah pemandu kalian.  Jika kalian mengambil pemandu yang keliru, bisa saja ia membawa kalian ke dalam samudra Setan.  Kalian akan tersesat dalam samudra halusinasi. Banyak orang yang mengikuti pemandu semacam ini, suatu saat para pengikutnya akan mengalami halusinasi.  Apa yang mereka lihat sebenarnya tidak ada. Oleh sebab itu pemandu yang sejati sangatlah penting.

Bagaimana kalian bisa mengenalinya?  Grandsyekh pernah berkata bahwa jika kalian ingin mengetahui apakah seseorang itu adalah seorang pemandu yang sejati, pertama kali yang harus dilakukan adalah melihat pakaian luarnya.  Apakah ia telah memakai pakaian luar dengan lengkap? Jika belum, berarti ada kerusakan di dalam hatinya, oleh sebab itu jangan ikuti dia. Segala sesuatu pada seorang guru Sufi, (kita berbicara tentang Sufisme, bukan hal yang lain) yang tidak sesuai dengan pakaian dan perilaku seorang guru yang sejati, menunjukkan suatu ketidaksempurnaan atau kesalahan.  Grandsyekh berkata, “Jika kalian mempunyai sebuah jam dan jam itu secara internal bekerja 100% tetapi tidak mempunyai jarum, jam itu tidak bisa menunjukkan waktu kepada kalian sehingga tidak ada manfaat yang dapat diambil darinya. Sama halnya dengan jam yang mempunyai jarum, tetapi mekanik internalnya tidak bekerja 100%, ia juga tidak dapat menunjukkan waktu yang tepat bagi kalian.”  Jadi bagi seorang pemandu sisi lahir dan batinnya harus sempurna.

Kita tidak berbicara tentang diri kita.  Kita mengikuti guru kita. Beliaulah pemandu kita.  Beliau bekerja 100% lahir dan batin. Kita hanya mencoba mengikutinya.  Itulah sebabnya bila kita melihat kepada seseorang dan berpikir apakah ia adalah seorang pemandu sejati, kalian harus melihat bahwa ia telah melengkapi sisi lahiriah tanpa ada kekurangan.  Jika ada sesuatu yang hilang, kalian jangan mengikutinya. Bila ia kehilangan salah satu sisi lahiriahnya berarti ia telah kehilangan banyak sisi batiniahnya, yang tidak dapat diketahui orang.  Kalian berpakaian dengan rapi karena tahu bahwa orang melihat kalian. Tetapi bila menyangkut hal-hal yang tidak dapat dilihat, kalian berkata, “Biarkan saja, toh tidak ada yang melihat.” Jika kalian kehilangan salah satu item dari pakaian luar yang jelas akan dilihat orang, berarti kalian ‘tidak fit’.  Apalagi kalau menyangkut hal-hal yang tidak terlihat, tentu akan lebih banyak yang hilang. Orang seperti itu tidak bisa menjadi pemandu sejati. Dia adalah pemandu yang tidak terhubung. Bisa saja ia membawa kalian ke jarak tertentu dalam kehidupan spiritual, tetapi ia tidak terhubung dengan tingkat yang lebih tinggi lagi.  Pemandu sejati harus mempunyai eksterior yang lengkap, tidak kurang sedikit pun!

Grandsyekh berkata bahwa itu adalah langkah pertama untuk menentukan seorang pemandu sejati.  Bila kalian melihatnya dan mengatakan, “Ia sudah lolos,” bukan ujian pertama, tetapi lolos dari “kriteria pertama.”  Berikutnya kita tinjau dari sisi batin. Bagaimana kalian bisa melihat sisi batinnya? Grandsyekh berkata, “Kalian harus lihat bahwa orang itu mempunyai rasa hormat kepada setiap orang tanpa diskriminasi sekecil apa pun, tanpa memandang agama karena setiap manusia adalah hamba Tuhan yang sama.  Sang pemandu harus menghormatinya, pertama karena seluruh manusia adalah ciptaan Tuhan dan mempunyai Cahaya Ilahi dalam hatinya. Selain itu ia juga harus mempunyai rasa cinta terhadap mereka. Menerima apa yang ia inginkan baginya dan bagi anak-anaknya, untuk menjadi dan bertindak atas nama mereka, walaupun mereka hanya orang biasa yang belum menjadi pengikutnya.  Jadi ia harus bisa menunjukkan rasa hormat dan cinta kepada mereka. Ketiga, ia harus menunjukkan kerendahan hati kepada mereka. Ia tidak bisa berkata bahwa ia lebih tinggi dari mereka. Tidak ada seorang pun yang tinggi kecuali Tuhan. Jika ia menganggap dirinya lebih tinggi dari mereka berarti ia seperti Setan yang menganggap dirinya lebih tinggi dari Adam AS. 

Ketiga kriteria ini adalah “aksesoris batin” yang dimiliki pemandu sejati.  Dalam hal pakaian ia harus memiliki pakaian lengkap seorang guru Sufi. Jika guru kalian seperti itu, barulah ia seorang pemandu sejati, ikutilah ia.  Bersamanya kalian akan menemukan kepuasan hati dan menemukan hal-hal yang telah hilang. Jika kalian tidak menemukan orang seperti itu, lanjutkan pencarian kalian.  Kalian akan menemukannya karena Allah SWT Maha Penyayang. Bila kalian melihatnya, Allah SWT akan memberi. Bila kalian tidak meminta, Allah SWT tidak akan memberi. Jika kalian sungguh-sungguh, memohonlah dengan hati kalian.  Kalian akan menemukannya dan ia akan memberi kunci hati kalian. Jika kalian tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh, tidak melakukannya sepenuh hati, hanya di lidah saja mungkin kalian akan menemukannya atau mungkin juga tidak.

Ahmad al-Badawi QS adalah seorang wali yang sangat terkenal di semua kalangan Sufi.  Ia menyatakan “Aku tidak memerlukan seorang pemandu. Pemanduku adalah al-Qur’an,” sebagaimana yang dikatakan orang Wahhabi sekarang, “…dan cara hidup Rasulullah SAW.”  Ia mencoba mendekati Tuhannya sebagaimana Rasulullah SAW bersabda atas nama Tuhannya, “Hambaku tidak berhenti untuk mendekati-Ku melalui ibadah sunnah atau perbuatan baik, sampai Aku mencintainya.  Dan bila Aku mencintainya, pada saat itu Aku akan menjadi telinga yang digunakan untuk mendengar, mata yang dipakainya untuk melihat, tangan untuk merasakan, dan kaki untuk berjalan. Jika ia meminta, Aku akan memberi.  Jika ia memohon perlindungan, Aku akan melindunginya. Aku akan menjadi dirinyaa, dan ia dapat mengatakan kepada sesuatu, “Jadilah!” maka jadilah ia.” Orang-orang Wahhabi biasanya memotong bagian terakhir dari hadis tersebut, tetapi kita mengucapkannya secara lengkap.

Ahmad al-Badawi QS berusaha mendekatai Tuhannya sampai mencapai pintu Hadirat Ilahi, lalu ia berkata, “Ya Tuhanku!  Bukakanlah pintu ini untukku.” Tetapi ia tidak mendapat jawaban. Ia mencobanya berulang-ulang sampai akhirnya ia ‘secara tidak sengaja’ bertemu dengan seseorang.  Saya bilang ‘tidak sengaja’ tetapi sebetulnya itu sudah direncanakan dengan sangat rapi, karena itu adalah Kehendak Allah SWT untuk mengujinya. Ia bertemu orang itu di jalan, seseorang yang kelihatannya biasa-biasa saja.  Orang itu lalu memanggilnya, “Hei Ahmad!” bahkan ia tidak menyebutnya “Syekh Ahmad!” sebagai tanda penghormatan. Ia berkata, “Wahai Ahmad! Engkau perlu kunci untuk mencapai Hadirat Ilahi? Aku punya kuncinya dan jika kau mau, datanglah kepadaku dan akan kuberikan kepadamu.”

Banyak di antara kita yang menolak fakta atau kenyataan karena merasa bangga, walaupun ia tahu sebenarnya itu adalah jalan yang benar.  Mereka tidak mau menerimanya sebab ego mereka mengatakan, “tidak!” Ego Ahmad QS berkata kepadanya, “Bagaimana mungkin Engkau menerima sesuatu darinya?  Jangan menerima kunci darinya. Terimalah dari Tuhan.” Lalu ia berkata, “Wahai saudaraku, Aku tidak akan menerima kunci darimu, tidak juga dari orang lain, kecuali dari Sang Pembuat Kunci.  Siapa Engkau. Engkau bukan siapa-siapa.”

Selanjutnya Ahmad QS berusaha untuk mencapai Hadirat Ilahi sampai ia mendengar Suara Tuhan (hatif Rabbani) kepadanya, “Wahai Ahmad QS, kehidupan ini adalah kehidupan yang mengandung sebab dan akibat.  Aku tidak akan memberimu kunci. Sesuai Kehendak-Ku kunci untukmu berada pada orang itu. Pergilah dan dapatkan kunci itu darinya.”  Sekarang persoalannya sudah selesai. Ia mendengarnya langsung dari Tuhannya, dan ia menerima hal itu. Sekarang ia harus mencari pemandunya.  Tetapi sang pemandu telah lenyap. Orang itu telah meninggalkannya. Selama enam bulan pemandu itu mengamati hati Ahmad QS secara rahasia, melihat bahwa ia mencarinya dan berdoa kepada Tuhan siang dan malam, “Ya Tuhanku kirimkanlah orang itu kembali kepadaku,” sampai akhirnya ia bisa menemukannya kembali.  Dengan segera orang itu membuka hijab yang ada pada dirinya selama ini.  

Jadi sang pemandu membuka hijab dan menampakkan dirinya di hadapan Ahmad QS.  Ahmad QS berkata, “Wahai Syekhku! Aku menemukanmu.” Ia tidak menemukannya tetapi sang pemandulah yang menghilangkan hijabnya.  Tetapi tetap saja ia berpikir bahwa ia telah menemukannya. Ia berkata, “Wahai Syekhku, Aku menerimamu sebagai pemanduku.” Sang pemandu menjawab, “Jika engkau menerimaku sebagai pemandumu sekarang, engkau harus pasrah, menyerahkan diri, dan menyerahkan seluruh kehendakmu kepadaku.  Engkau tidak diperkenankan mempunyai kemauan selama bersamaku. Engkau telah membangun ilmu pengetahuanmu pada sebuah karang yang hanya dengan satu tiupan dari ego, ia akan jatuh. Aku harus membangun fondasi yang kuat bagimu. Jadi, lihatlah ke dalam mataku.” Ahmad melihat ke matanya dan pemandu itu dengan segera menghapus seluruh pengetahuan yang telah dipelajari oleh Ahmad al-Badawi QS dari buku.  “Lewat buku” maksudnya ada banyak hal yang berasal dari ego si penulis. Maka ia menghilangkan pengetahuan itu dari hati Ahmad QS dan kemudian lenyap. Ia meninggalkannya selama 6 bulan lagi bahkan dalam keadaan tidak tahu bagaimana mengucapkan, “Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim,” bahkan tanpa mengetahui bagaimana mengucapkan Nama Allah SWT. 

Orang-orang di kota kini mengejek Ahmad al-Badawi QS, yang kelihatannya seperti orang gila setelah sebelumnya menjadi ulama yang terkemuka.  Karena keterbatasan pengetahuan spiritual mereka, mereka berpikir bahwa ia benar-benar sakit. Yang mereka ketahui hanyalah bahwa ia mengikuti seseorang yang membuatnya gila, tetapi Ahmad al-Badawi QS tahu bahwa ia telah mendengar suara Tuhannya yang mengatakan bahwa, “Kuncimu ada pada orang itu.”  Tidak ada yang membuatnya gila. Ia mengikuti orang itu. Tetapi bila ia menerimanya sejak awal, ketika pemandu itu datang untuk pertama kalinya atas Kehendak Allah SWT, ia tidak harus melewati ujian ini. Jadi mengapa kalian membuat diri kalian harus melewati ujian yang sama? Bila kalian menemukan kebenaran, seorang pemandu yang benar, terimalah ia dengan segera! Jangan bermain-main dengan ego kalian. 

Dia meninggalkannya selama 6 bulan lagi dan muncul kembali di waktu yang lain.  Dalam kurun waktu tersebut Ahmad al-Badawi QS terus mencarinya dan ketika ia bertemu kembali, Ahmad al-Badawi QS berkata, “Wahai Syekhku, Aku menemukanmu lagi.”  Saat itu sang pemandu memandang mata Ahmad al-Badawi QS dan memancarkan sesuatu dari lubuk hatinya kepada hati Ahmad al-Badawi QS melalui matanya. Pada saat itu terjadi transfer pengetahuan batin, pengetahuan dari Kitab Allah SWT dan rahasia-rahasianya.  Pemandu itu melakukannya 3 kali sampai mata Ahmad al-Badawi QS memancarkan cahaya yang begitu kuat bahkan orang yang melihatnya pun bisa mati. Oleh sebab itu ia menutup wajahnya dengan cadar. Saat itu ia bisa memasuki Hadirat Ilahi dan ia menerima kuncinya.

Tanpa bantuan pemandu sejati kalian tidak akan bisa mencapai Hadirat-Nya.  Dialah yang akan membukakan pintu bagimu ke mana pun kalian akan pergi. Ahmad al-Badawi QS adalah seorang ulama besar yang mengetahui banyak hal.  Ia bangga dengan pengetahuannya itu dan tidak mau menerima pelajaran dari orang lain. Ia hanya mau mengambil langsung dari posisi Yang Mahatinggi. Ia tidak melihat ada yang lebih tinggi darinya kecuali Tuhan.  Bagaimana mungkin ia akan mengambil pelajaran dari orang lain? Berarti tidak ada sifat rendah hati pada dirinya. Ia telah kehilangan satu dari tiga karakteristik yang diperlukan oleh hamba Allah SWT. Ia mempunyai rasa hormat, ia juga mencintai sesamanya, tetapi ia tidak mempunyai kerendahan hati untuk menerima nasihat dari orang lain.  Dan karena ia telah kehilangan satu karakteristik itu, seolah-olah ia tidak mengalami kemajuan lagi.

Seorang wali, seorang guru harus memiliki karakteristik hormat, cinta dan rendah hati.  Jika kalian melihat salah satunya tidak ada, maka ia bukanlah seorang pemandu sejati. Ia hanya akan membawa kalian ke jarak tertentu seperti yang kita lihat pada diri Ahmad al-Badawi QS yang bisa mencapai Tuhan sampai pada jarak tertentu, namun tidak bisa membukanya.  Ia memerlukan seseorang yang mempunyai kunci tetapi ketika ditemukan ia tidak menerimanya langsung karena kesombongannya. Ia terlalu banyak memikirkan dirinya. Akhirnya ia menerima juga setelah mendengar langsung dari Tuhannya, tetapi ia harus melewati ujian tertentu.  Jika pada mulanya ia langsung menerimanya tanpa melalui rasa bangga terhadap dirinya, pintu itu segera terbuka baginya tanpa harus melewati ujian selama 2 tahun. 

Bila kalian menemukan seorang pemandu dan hatimu merasa senang dengan kehadirannya, jangan dengarkan ego kalian.  Katakan kepada ego, “Kau salah! Apa ruginya jika Aku menerimanya sebagai guru?“ Kalian tidak akan kehilangan apa pun.  Bila kalian menunjukkan sifat rendah hati, ini cukup bagi Allah SWT untuk mengangkat kalian. Jika Saya datang dan mengatakan, “Si Anu dan si Anu” adalah Syekh saya, dan Saya telah berbay’at dengannya.  Apa salahnya? Saya menerimanya dan Saya menunjukkan kerendahan hati, Allah SWT akan mengangkat saya.

Mempunyai sifat rendah hati adalah sangat penting.  Jika kalian bersifat rendah hati, kalian akan menerima semua orang sebab setiap orang dapat menjadi pemandu bagi kalian.  Ada sebuah ungkapan di Turki, berupa pertanyaan kepada seorang yang bijak,

“Dari mana engkau belajar adab yang sempurna dalam masyarakat?”  jawabnya, “Dari orang-orang yang bersalah. Aku mengamatinya, melihat kesalahan yang mereka lakukan lalu Aku menghindarinya. Jadi Aku bisa memperbaiki diriku lewat kesalahan orang lain.” 

Jika kalian bisa menerima semua orang sebagai pemandu kalian, bahkan orang yang jahat pun dapat memandu kalian. Dengan mengamati dan melihat kesalahan yang dilakukannya, kalian berhenti (melakukannya). 

Wa min Allah at tawfiq

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s