Ketahuilah Posisi Kalian di dalam Tarekat

IMG-20160824-WA0026

Syekh Hisyam Kabbani
Masjid Peckham, 23 Februari 1995 – Ramadan

 

A`udzu billaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim 
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim

Allah (swt) berfirman di dalam Al-Qur’an, “Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.  Taatilah Allah (swt), taatilah Rasul, Sayyidina Muhammad (saw), dan taatilah ulil amri (para pemimpin) di antara kalian,” ini artinya patuh kepada syekh kalian.  Dan Nabi (saw) bersabda di dalam sebuah hadits sahih, “ad-diinu nasiiha” “Agama adalah nasihat.”  Agama bukan seperti materi kuliah untuk diajarkan oleh seorang ulama kemudian pergi begitu saja.  Agama adalah nasihat, dan nasihat tidak akan muncul tanpa melalui pengalaman. Nasihat tidak bisa berupa teori saja.  Orang yang memberi nasihat harus mempunyai pengalaman tentang apa yang diberikannya itu.

Sayyidina Syah Naqsyband (q) berkata, “Thariqatuna ‘sh-shuhbah wa ‘l-khayru fi jam`iyyah “Tarekat kita berdasarkan pada asosiasi, yaitu menjaga kebersamaan, shuhbah atau asosiasi, perkumpulan; dan kebaikan dicapai melalui kebersamaan.”  Bisa juga dikatakan, “Jalan kita adalah melalui bimbingan, dan kebaikan ada dalam asosiasi.”  Tanpa asosiasi, tanpa nasihat, tidak mungkin kita mendapatkan mudarat atau kebaikan.

Sekarang, setiap kali Mawlana Syekh Nazim (q) meminta saya untuk berbicara, saya merasa malu.  Karena kalian semua, masya Allah adalah murid-murid senior.  Dan kalian semua mempunyai pengalaman yang luas, kalian memiliki bintang di pundak kalian, seperti saudara kita di sini, Syekh `Ali, kalian semua adalah perwira.  Mustahil seorang prajurit memberi nasihat kepada perwira. Jadi makin sering Mawlana berkata, “Bicaralah sesuatu,” saya merasa, diri saya ini tidak mengetahui apa-apa.  Ini juga merupakan ujian bagi saya di mana saya merasa seperti terpojok. Karena saya merasa apa pun yang akan saya katakan, ada beberapa orang yang bisa menerima, dan ada pula yang tidak.  Saya tidak ingin mengatakan bahwa pembicaraan itu tidak ada gunanya sama sekali, karena selama ada orang yang mendapat manfaat, saya akan berbicara. Tetapi, pada saat yang sama, saya merasa malu kepada orang yang tidak senang dengan apa yang saya katakan.  Mungkin mereka merasa bahwa mereka telah dipaksa untuk mendengarkannya.

Saya masih sangat muda ketika pertama kali datang kepada Mawlana Syekh.  Tidak perlu untuk membicarakan apa yang saya lihat dari Mawlana, tetapi jangan berpikir bahwa ego akan menyerah begitu saja.  Ego tidak pernah menyerah. Bahkan jika salah seorang dari kita berkata bahwa ia mencintai Mawlana Syekh Nazim (q), ego kita juga tidak menyerah.  Kita telah bepergian dari jarak yang cukup jauh untuk sampai ke sini (Inggris), untuk duduk bersama Mawlana Syekh selama 10 hari atau 1 minggu, sebagian datang hanya selama 3 hari, kemudian pergi.  Bahkan mereka, dengan antusiasme dan energi yang tinggi, ego mereka juga tidak menyerah.

Bagaimana kalian mengetahui bahwa ego tidak menyerah?  Itu mudah. Ketika Syekh mengirimkan ujian kepada kalian, Syekh biasanya mengirimkan ujian, bukan untuk mengetahui sampai di mana tingkat pencapaian kalian, atau apakah kalian gagal atau tidak—karena mereka telah mengetahui semuanya.  Mereka tidak memerlukan informasi semacam itu, karena mereka adalah orang-orang yang berdiri di belakang kalian—tetapi mereka ingin KALIAN mengetahui sampai di mana kalian mampu berdiri sendiri.

Jika seorang anak—seorang bayi—tidak jatuh, ia tidak akan belajar bagaimana caranya berjalan.  Kita harus jatuh, dan mereka (syekh) akan membiarkan kita jatuh, agar kita bisa berdiri sendiri nantinya.  Agar kita bisa mendatangi mereka. Seorang ibu mencoba menjaga jarak dengan bayinya, satu atau dua meter darinya, lalu ia memanggilnya sehingga si bayi akan menghampirinya, kemudian bayi itu terjatuh—barulah sang ibu mengangkatnya.  Dengan cara ini seorang ibu mengajarkan bayinya untuk datang kepadanya di waktu-waktu berikutnya dengan berjalan kaki.  

Ujian ini diletakkan di depan kita agar kita tidak pernah kehilangan harapan, kita harus selalu mempunyai pikiran bahwa suatu hari nanti kita akan berserah diri.  Nabi (saw) adalah orang yang sempurna, Sayyidina Muhammad (saw), beliau adalah manusia yang sempurna, beliau memiliki jiwa yang sempurna, beliau yang akan sampai di Hadratillah pertama kali, beliau adalah cermin dan juga pintu bagi seluruh makhluk.  Dengan semua kebesaran itu, hidup beliau tetap saja penuh dengan kesulitan dan perjuangan.

Orang-orang Quraisy datang kepadanya dan berkata, “Wahai Muhammad!  Jika kau menginginkan kekayaan, kami akan memberikannya kepadamu, jika kau menginginkan Ka`bah, kami akan memberikannya kepadamu.  Jika kau menginginkan ketenaran, kami akan memberikannya kepadamu, dan jika kau menginginkan jabatan, kami akan mengangkatmu sebagai pemimpin.”  Lalu beliau menjawab dengan ucapannya yang sangat terkenal, “Jika mereka memberikan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, Aku tidak akan meninggalkan risalah ini.”  Jadi apa pun yang akan terjadi, kita harus berjuang untuk mencapai yang terbaik. Kita harus menjaga iman kita sebagaimana Syekh kita datang, menunjukkan dan membuka jalan yang benar bagi kita.

Pertama kita harus meraih hati Syekh dan dari beliau kepada hati Nabi (saw), lalu ke Hadratillah.  Sebagaimana yang digambarkan Allah (swt) di dalam Al-Qur’an, “Ketika manusia menzalimi diri sendiri, mereka datang kepadamu, wahai Muhammad (saw).”  Ini adalah ayat dalam Al-Qur’an. Ayat itu mengisyaratkan adanya perantaraan. “Mereka datang kepadamu, wahai Muhammad (saw), dan mereka bertobat kepada Allah (swt),” dan itu saja belum cukup.  Allah mengatakan hal itu! Jika bertobat kepada Allah (swt) saja sudah cukup, maka seseorang dapat berhenti di situ. Ketika mereka mendatangi Muhammad (saw) dan memintakan pengampunan atas namanya, SAAT ITU barulah mereka akan mendapati bahwa Allah Maha Pengampun.

Allah (swt) mengatakan hal itu!  Jika bertobat kepada Allah (swt) saja sudah cukup, maka seseorang dapat berhenti sampai di situ, tetapi ayat di dalam Al-Qur’an tidak berhenti sampai di situ.  Keseluruhan ayat itu berbunyi, “Dan ketika mereka telah menzalimi diri mereka sendiri, jika mereka datang kepadamu dan memohon ampunan Allah (swt) dan meminta Nabi (saw) untuk memohonkan ampunan bagi mereka, barulah mereka akan mendapati bahwa Allah (swt) Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”  “Pada saat itu mereka akan mendapati bahwa Allah (swt) Maha Pengampun,” berarti itu adalah kondisi pada saat Nabi (saw) memohonkan ampunan atas nama kita. Dan para pemimpin yang disebutkan oleh Allah (swt) di dalam ayat, “Taatilah Allah (swt), taatilah Rasul (saw) dan taatilah ulil amri di antara kalian.”  Itu berarti ketika kita memohon ampun, kita harus benar-benar bertobat dalam kehadiran mereka kepada Allah (swt) karena doa orang–orang yang saleh akan dikabulkan oleh Allah (swt). Dengan kata lain kita harus berdoa melalui perantaraan mereka. Sebagaimana firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah (swt) dan berkumpullah bersama orang-orang yang dapat dipercaya.”  Para pemimpin (ulil amri) itu adalah orang-orang yang dapat dipercaya. Ketika mereka mengangkat tangannya untuk berdoa, “Ya Allah, ampunilah mereka!” Allah (swt) akan mengampuni kalian.

Kita semua adalah bayi dan kita terjatuh, kita bangun, lalu jatuh lagi.  Satu hari bangkit, sehari kemudian jatuh, satu hari jatuh hari berikutnya bangun.  Walaupun seorang bayi terjatuh, ia tidak mengetahui apa yang sedang dilakukannya, ibunya sangat sayang kepadanya, begitu juga keluarganya.  Mereka membersihkannya, memandikannya, memberinya bedak, mereka tidak pernah merasa bosan atau jemu dalam membesarkan anaknya. Dalam pandangan Syekh, kita semua adalah anak-anaknya, oleh sebab itu beliau memandikan kita, membersihkan kita, memberi kita bedak agar tubuh kita menjadi wangi walaupun pada kenyataannya kita berbau busuk, tetapi beliau memberi kita bedak wangi yang sangat spesial—mahal dan eksklusif.

Orang kaya tidak suka membeli parfum yang murah, palsu, atau bercampur alkohol—mereka membeli parfum tua yang nilainya sangat tinggi dan dengan merek yang terkenal.  Mereka berkata, “Parfum seharga lima puluh pound, itu baru bagus; kalau yang dua pound, itu tidak bagus.” Syekh memberi kita wewangian tua semacam itu, yang bernilai tinggi, dan mahal, jangan menyia-nyiakannya dengan terus melakukan akhlak dan perilaku yang buruk.

Kita semua masih seperti bayi, bahkan beberapa orang dari kita masih berada dalam momongan.  Beberapa yang lain mulai merangkak dengan kedua kaki dan tangannya seperti makhluk lain yang saya tidak mau sebutkan namanya, karena nanti mereka akan bilang, “Syekh Hisyam (q) menyebut kita binatang.”  Hal ini karena saya berada dalam pengawasan yang ketat, mereka sangat memperhatikan setiap kata yang saya ucapkan, sehingga mereka akan meninggalkan 99% bagian yang baik yang telah diberikan dalam pelajaran ini, mereka juga akan mengeluarkan kritik.  Saya senang dengan sifat kritis ini agar nanti saya bisa mengoreksi diri dan untuk yang berikutnya saya akan lebih akurat lagi. Jadi kita harus seimbang dengan memperhatikan kondisi hati setiap orang. 

Saya lanjutkan, yang lain bisa berjalan dan merangkak dengan kaki dan tangannya, atau mereka bisa berjalan dengan kakinya.  Yang lain bisa berjalan namun karena belum kuat mereka terjatuh, sementara yang lain lagi bisa berjalan dengan tegap. Walaupun mereka bisa berjalan, tetap saja ibunya masih memegangi tangannya.  Mereka belum bisa dilepaskan begitu saja, karena kalau dibiarkan mereka akan mengambil apa saja yang ada di atas meja, menghancurkannya dan akan merusak rumah. Begitu mereka mulai berjalan, mereka menjadi masalah, mereka menjadi berisik.  Ayah dan ibu harus berlarian ke sana ke mari seharian untuk mengejar mereka, karena kalau saja pintu terbuka kemungkinan anaknya akan keluar dan bisa saja ia tertabrak mobil lalu meninggal. Ia akan menghancurkan dirinya sendiri, ini adalah keadaan yang paling membahayakan.  Ketika ia mulai sedikit terlihat dewasa, orang tua mulai memberi kepercayaan kepada mereka untuk melakukan pekerjaannya sendiri. Walaupun ia masih mungkin melakukan kesalahan tetapi ini masih bisa dipantau dan kesalahan ini tergolong minor. Sampai ia bisa bertanggung jawab dan Syariah mengharuskan ia melakukan segala kewajiban dalam agama ketika ia berusia 15 tahun dan telah dewasa atau akil balig.

Tetapi di dalam tarekat walaupun kalian telah mencapai usia 70 tahun, kalian masih dianggap sebagai anak kecil tanpa “tanggung jawab” yang sebenarnya.  Jangan berkata, “Aku telah bersama Syekh selama 70 tahun tetapi aku tidak mencapai apa-apa!” Perhatikanlah apa yang bisa terjadi. Kalian mungkin bisa merusak diri kalian sendiri dan siapa saja yang berada di dekat kalian.

[komentar: yang dimaksud Syekh Hisyam di sini: Syekh tidak memberikan amanat rohaniah kepada kita, karena kita belum cakap dalam menggunakan amanat itu dengan benar–bukannya mendatangkan kebaikan, boleh jadi kita malah dapat menyebabkan sesuatu yang berbahaya.  Dengan demikian orang tidak pernah melihat ada kekuatan ajaib atau keramat yang muncul dari murid-murid Syekh Nazim (q) dan seringkali kita merasa bahwa kita telah mencapai sedikit kemajuan rohani. Hal ini berbeda dengan tarekat yang lain, di mana seringkali keadaan kasyaf dan beberapa keramat dianugerahkan kepada murid bahkan dalam tahap-tahap awal di jalur mereka. Wallaahu a`alam – dan Allah Maha Mengetahui.]

Kalian harus mencapai suatu keadaan di mana mereka memperbolehkan kalian melakukan jalan kalian sendiri.  Tetap saja ketika kalian terjatuh, mereka akan membantu mengangkat kalian. Kalian akan terjatuh, mustahil kalian mengatakan, “Tidak, aku tidak akan membuat kesalahan lagi.  Sekarang aku adalah seorang syekh besar; tidak mungkin, aku adalah seorang deputi sekarang; atau aku adalah murid senior; atau aku adalah seorang wakil atau utusan dari syekh.  Aku yang memimpin zikir, syekh memberi ijazah kepadaku untuk memimpin zikir. Oh, sekarang aku adalah sebuah balon yang besar.” (tertawa) Penuh udara di dalamnya. Psssh! [membuat gerakan seperti balon yang kempis]  Selesailah sudah. Kalian harus seperti roket, bertekad kuat, barulah tidak ada yang dapat mempengaruhi kalian, sebagaimana ketika kalian mengalami kemajuan dan membawa orang-orang bersama kalian ke hadirat Syekh.

“Deputi” adalah salah satu jabatan besar, “Representatif” (dari seorang Syekh) adalah jabatan besar.  Itu berarti syekh bergantung kepada orang itu baik dalam kehadirannya maupun ketika beliau tidak hadir untuk memberikan nasihat, menyembuhkan suatu penyakit dengan izin Allah (swt), melakukan pembacaan (ayat Qur’an atau zikir), menafsirkan mimpi, membimbing murid, memimpin zikir dan memberikan izin kepada seseorang untuk memimpin zikir, mengangkat level murid ke jenjang yang mampu mereka raih, membesarkan bayi hingga mereka bisa berjalan atau mencapai usia di mana bayi itu bisa berjalan.  Lalu ia akan membawa mereka semua dan mempersembahkan mereka kepada Syekh. 

Sayyidina Khalid Al-Baghdadi (q) mempunyai 300 deputi atau khalifah.  Kita mengucapkan kata “Khalifah” dalam bahasa Arab, tetapi orang Arab mengetahui bahwa “Khalifah” bukan berarti “penerus”, tetapi “deputi”.  Beliau mempunyai 300 deputi dan beliau menyebarkannya ke seluruh penjuru Timur dan Barat, dan mereka semua membawa murid-muridnya ke hadirat Syekh, mereka semua memimpin murid-muridnya kepada Syekh.  Namun demikian setelah Syekh Khalid (q) wafat terbentuklah 300 cabang dalam Tarekat Naqsybandi. Karena setiap orang begitu terikat dengan Khalifahnya masing-masing, di mana mereka biasa berasosiasi dengannya, Khalifah yang telah ditunjuk oleh Sayyidina Khalid (q) kepada mereka.

Setiap orang begitu dekat dengan  Khalifah setempatnya, mereka berkata, “Oh, dialah milik kami!  Dialah pembimbing kami, setelah Syekh, dialah pembimbing kami.  Kami tidak bisa menerima yang lain.” Bisa jadi (khalifah-khalifah) yang lain lebih tinggi tetapi karena ia tidak mempunyai hubungan dengan mereka, ia tidak mengetahui apa-apa tentang mereka.  Ia hanya terhubung dengan khalifah yang diikutinya, dan orang yang diikutinya itu membawanya ke hadirat Sayyidina Khalid (q). Namun demikian, beberapa di antara mereka membawa para pengikutnya dengan keledai, seperti mengendarai keledai, yang lain dengan unta, ada yang berjalan, ada yang seolah-oleh dengan mobil, pesawat, kereta api, atau roket, tergantung kapabilitas dari deputi atau khalifahnya. 

Tetapi ada juga hikmah dan manfaatnya dari terbentuknya 300 cabang dalam Tarekat Naqsybandi setelah wafatnya Sayyidina Khalid (q).  Tetapi rahasia dari Mata Rantai Emas hanya diturunkan ke satu cabang, dan tidak kepada 299 cabang lainnya. Jadi apa yang terjadi dengan yang lain itu?  Apakah kita bisa menganggap mereka itu telah putus hubungan? Tidak, mereka tidak terputus, dan itulah sebabnya di dalam Sufisme, ada dua macam Syekh, yaitu: Syaykh ul-wilayat dan Syaykh at-tabarrukSyaykh ul-wilayat adalah Syekh yang mempunyai kekuatan awliya dan kekuatan untuk mengangkat muridnya ke tingkatan wali.  Syekh inilah yang memegang rahasia utama. Syekh yang kedua adalah Syekh yang membawa tajali atau berkah, berkah dari tarekat.  Inilah yang mengakibatkan berkah tersebut menyebar luas, karena terdapat hikmah di balik segala sesuatu. Orang yang mempunyai kekuatan dan rahasia kewalian inilah yang memegang cabang utama dari tarekat.  Rahasia utama atau arus listrik yang utama. Kalian perhatikan bahwa arus listrik ini masuk ke dalam gedung dari luar, tetapi ia dapat menerangi seluruh gedung. Setiap lampu melambangkan satu cabang, tetapi seluruh kekuatan berasal dari luar.  Mengerti?

Cabang-cabang ini hanya bisa memberi cahaya seperti dua atau tiga buah lampu.  Jika kalian menambahkan lebih banyak mereka akan meledak. Situasi semacam ini terjadi pada masa setelah wafatnya Sayyidina Khalid Baghdadi (q).  Satu di antara mereka adalah cabang utamanya, yang lain adalah cabang yang kecil-kecil, yang hanya menerangi orang-orang di daerahnya. Yang pertama adalah Syaykh ul-Wilayat, Syekh dengan kekuatan wali, orang yang menanggung semua tanggung jawab dari seorang Syekh, yang lainnya adalah syekh-syekh yang tugasnya menyebarkan tarekat ke seluruh penjuru Timur dan Barat.  Karena yang satu tidak bisa berada di mana-mana, oleh sebab itu lewat ke-299 syekh, terbentuklah 299 cabang, masing-masing di daerah yang berbeda sehingga lebih banyak orang yang mengikuti tarekat. Walaupun rahasia utama tidak mencapai hati mereka, paling tidak mereka mempunyai hubungan dengan tarekat ini.  Karena setiap orang yang mengatakan, “Aku adalah seorang pengikut Naqsybandi”, pasti telah berada di Hadirat Nabi (saw) dan Sayyidina Abu Bakar (ra) ketika berada di Gua Tsur, ketika Nabi (saw) hijrah dari Mekah ke Madinah. Itulah saat pertama mereka menerima Tarekat Naqsybandi dari Sayyidina Abu Bakar (ra) dan untuk pertama kali zikir Khatam Syariif dilaksanakan di gua itu.  Setiap orang yang mengatakan dirinya, “Aku seorang Naqsybandi,” walaupun ia terhubung melalui salah satu cabangnya, melalui Syaykh al-Barakah, ia tetap hadir di sana.  Namun demikian, rahasia utama tetap berada di satu cabang saja. 

Jadi, sebagian dari 299 khalifah dari Sayyidina Khalid Al-Baghdadi (q) menerima seorang pemegang rahasia utama, tetapi kebanyakan tidak menerimanya.  Beberapa khalifah itu mentransfer para pengikutnya kepada Syekh utama, yaitu Syekh Ismail (q), tetapi yang lain tidak. Jadi, tipe percabangan ini juga terjadi pada masa Grandsyekh `Abdullah (q).  Saya hadir di sana, Saya berada di Suriah. Pada saat itu banyak murid Grandsyekh dari Suriah yang menerima Mawlana Syekh, tetapi yang lainnya tidak. Itu adalah ego, egoisme. Bagaimana mereka akan menerima?  Mereka adalah syekh besar dengan turban yang besar, lebih besar dari turbannya Mawlana Syekh Nazim (q). Beberapa di antara mereka mempunyai turban sekitar 40 yards di kepalanya, ya! (tertawa) Mereka semua hadir ketika Mawlana Grandsyekh (`Abdullah (q)) membuat surat wasiatnya, seminggu sebelum beliau wafat.  Mereka yang hadir dan duduk bersama mendorong dan melihat pada Mawlana Grandsyekh, “Di mana nama kami dalam daftar itu?” dan nama-nama mereka tidak pernah disebutkan. Mereka berada di sana, duduk di sana dan ketika Mawlana pergi, setelah beliau membuat surat wasiat, mereka membuat satu salinannya lalu mereka menambahkan nama-nama mereka.  Saya tidak bisa menyebutkan nama-nama mereka. Itu akan selalu menjadi masalah. Jadi kita harus membuka hati kita.

Seperti yang dikatakan oleh Syekh Jamaluddin (q), “Ego tidak akan membiarkan kalian menerima fakta dan kebenaran.”  Dengan perintah Syekh Nazim (q) ia akan berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain di Eropa. Oleh sebab itu ia mempunyai pengalaman tentang hal itu, dan seperti itulah tarekat.  Tarekat adalah pengalaman. Kalian tidak bisa duduk di rumah dan berkata, “Aku mengerjakan bisnisku, tugasku di universitas, aku mengajar, aku melakukan bisnisku di kantor dan aku ikut tarekat, aku melaksanakan zikir dan datang pada malam hari, berzikir dan aku mengetahui segala hal!”  Tidak! Itu bukan pengalaman namanya, pengalaman berarti bergaul dengan masyarakat, datang dan berbicara dengan mereka dan mengetahui cara berpikir mereka, bagaimana mereka merasakan kesulitan yang dihadapi, melalui ujian, lewat beragam ujian yang berbeda, dan dengan cara itu kalian membangun pengalaman kalian.

Itulah sebabnya Mawlana Syekh Nazim (q) menginginkan kalian untuk bepergian, agar kalian bisa belajar dari kebudayaan ini dan dari kebudayaan itu.  Beliau ingin agar kita selalu waspada terhadap segala hal [terkait budaya setempat sebelum kita berbicara]. Namun demikian, bukan berarti kalian tidak mempunyai izin untuk berbicara dengan orang-orang itu jika kalian tidak mengenal kebudayaan mereka—bukan, bicaralah dengan siapa saja yang kalian inginkan.  Tetapi harus diingat, kalian harus berhati-hati terhadap hal-hal dalam kebudayaan mereka yang tidak kalian sadari.

Ketika Saya sedang berada di Amerika ada seseorang yang datang kepada saya dengan mengeluh.  Ia berkata, “Syekh, Aku ingin mengeluarkan unek-unek kepadamu.” Ia mengatakan, “Aku tidak mau menerima caramu memperlakukan kami!”  Ia adalah orang yang baik, dan ia menyukai saya, tetapi bukan berarti apa yang dilakukannya adalah baik. Saya hanya akan mengatakan satu hal, dan itu menunjukkan kepada kalian betapa buruknya ego.  Hal itu mustahil dan luar biasa! Ia adalah orang Amerika, dan itu adalah cara mereka–untuk mengekspresikan sesuatu, tidak memendam sesuatu dalam hatinya. Mereka harus mengeluarkan apa yang mereka rasakan atau mereka merasa bahwa mereka akan meledak. 

Ia berkata, “Ini adalah negeri yang bebas, dan kami bukan Nazi di sini.  Di sini tidak ada perjuangan, kau tidak bisa memaksa orang lain.” Saya berkata, “Saya tidak pernah memaksa seseorang di Amerika, siapa saja.”  Ia berkata, “Tidak, tidak, tidak, kau memaksa semua orang.” Saya heran, “Dalam hal apa?” Ia berkata, “Orang-orang, ketika mereka datang untuk menemuimu pada waktu Zuhur, Ashar atau Maghrib—itu adalah suatu masalah yang sangat besar.”  Itu dianggap sebagai komplain yang besar bagi setiap orang. Orang Amerika merasa malu untuk salat. Ia berkata lagi, “Kau telah mencampuri urusan pribadi kami.” Saya lalu berpikir, “Hari kiamat akan datang kepada saya dan saya dalam masalah besar.” (tertawa) Ia berkata, “Ketika kami datang menemuimu, kadang-kadang kami datang pada saat Zuhur, atau Ashar, saat itu kau sedang makan, dan kau menyodorkan makanan kepada kami dan kami bilang, ‘tidak!’ lalu engkau memaksa kami untuk makan, dengan berkata, “Kalian duduk dan sekarang kalian harus makan.”  “Kau tidak bisa memaksa kami untuk makan dengan paksaan seperti itu. Kami adalah orang Amerika, kami berada di negeri yang bebas, kau tidak bisa memaksa kami. Ini adalah suatu kezaliman, ini adalah penindasan, kami tidak mau makan.”

Di negeri saya, jika kalian tidak mendesaknya, tamu selalu merasa malu untuk mengatakan “ya” ketika diminta untuk makan.  Tetapi jika saya tidak mengajaknya makan, saya merasa bahwa saya telah menghina tamu. Dalam kebudayaan Amerika, yang terjadi adalah kebalikannya.  Jika kalian mendesak tamu untuk makan, itu berarti kalian telah mengintervensi tamu. Ketika ia bilang “tidak” itu artinya ia tidak ingin makan, jadi tidak perlu memaksanya untuk makan.  Orang itu datang kepada saya untuk mengatakan bahwa inilah yang menjadi keluhan orang Amerika tentang perilaku saya. Jadi untuk itulah mereka mengeluh.

Jadi ini adalah masalah besar bagi orang Amerika, sementara bagi kami itu adalah simbol keramahan.  Jadi Mawlana Syekh mengirimkan murid-muridnya, murid yang senior atau deputinya untuk bepergian ke negeri yang berbeda-beda, dengan tujuan untuk mengenal budaya mereka.  Karena semua kebudayaan harus melebur menjadi satu dalam tarekat ini. Kita tidak bisa bilang bahwa kita adalah orang Amerika, Perancis, Arab, Jerman, Turki, Inggris, Skotlandia, Irlandia, Malaysia, atau Pakistan.  Yang ada hanya satu simbol, yaitu kecintaan Syekh kita—kita semua berasal darinya. Ini adalah sasaran terbesar, itulah sebabnya Mawlana mengirimkan setiap orang untuk belajar untuk mendapat pengalaman.

Perawi hadis yang paling penting adalah Imam Bukhari.  Beliau tidak pernah menulis hadis sebelum mandi, salat 2 rakaat lalu tidur.  Lalu dalam mimpinya beliau akan bertemu Nabi (saw) yang mengatakan, “Tulislah hadis ini pertama, kemudian yang itu, berikan nama bab itu sebagai, ‘Bab tentang Wudu’, tentang Zakat, Salat, dan begitu seterusnya.  Beliau tidak pernah membaca hadis walaupun itu diizinkan kecuali setelah beliau mandi, dan salat dua rakaat, lalu tidur dan bertemu dengan Nabi (saw) dalam mimpinya. Nabi (saw) kemudian memerintahkan untuk meletakkan suatu hadis di bab tertentu.  Hadis pertama yang beliau tuliskan dalam bukunya adalah, “Perbuatan seseorang adalah tergantung pada niatnya, jika niatnya untuk Allah (swt) dan Nabi (saw), maka ia akan diberi balasan sesuai dengan niatnya itu.” Bahkan jika orang itu membuat kesalahan [dalam melakukan pekerjaannya] tetapi jika niatnya baik [ia juga akan diberi balasan yang setimpal]. “Dan bagi siapa yang berniat untuk dunya, untuk kesenangan dunia ini orang itu akan mendapatkannya pula.”

Jadi niat adalah hal yang sangat penting dan harus kita perhatikan.  Bisa jadi seseorang tidak beruntung, tetapi ia berusaha dengan sebaik-baiknya.  Tetapi karena tidak beruntung mereka malah menghinanya. Kemudian ia menjadi lelah.

Dan seperti yang dikatakan oleh Nabi (saw), “Berhati-hatilah dengan kesabaran orang yang sabar, bisa jadi ia akan meledak.”  Ketika hal itu terjadi ia akan bergerak seperti kereta api, melabrak dan menghancurkan semua yang ada di hadapannya. Jadi kita harus menetapkan niat, dan itulah sebabnya Nabi (saw) bersabda, “Berusahalah selalu untuk melihat sesuatu dari sisi yang baik, segalanya dilihat dengan tafsir yang baik.”  Jangan memandang suatu masalah dengan tafsir yang salah karena kalian tidak bisa melihat hati seseorang, kalian tidak bisa mengerti apa yang ada di dalam hati. Jika kalian menarik tafsir yang salah, pemahaman yang salah mengenai niat seseorang, kalian akan membuat suatu kesalahan. Jika kalian memandang segala sesuatu dengan kebaikan, SEGALANYA, Nabi (saw) berkata SEGALANYA, dengan tafsir yang baik kalian mungkin benar.  Oleh sebab itu kita harus selalu berada dalam hubungan dengan Mawlana Syekh. Bukannya bayi, yang masih sering jatuh, jatuh, jatuh, jatuh.

Jangan pernah berkata bahwa kalian tawaduk  Jika kalian berkata bahwa kalian tawaduk ketika kalian berbicara dengan orang lain dan berkata, “Tidak Aku tidak mengetahui apa-apa, ENGKAU-lah sumber inspirasiku.”  Mereka akan memandang kalian seolah-olah kalian adalah sampah (tertawa). Kalian sebaiknya berkata, “Aku adalah yang paling pandai di sini.” Jangan! Jangan! Jangan! Jangan berkata seperti itu di Amerika!  Jangan menjadi bodoh seperti saya (tertawa). Jika kalian pergi ke Amerika dan berkata demikian, kalian akan habis, tamat! Kalian tidak bisa berkata, “Aku rendah hati”, kalian tidak bisa berkata, ”Oh! Maafkan Aku! Aku orang yang lemah yang duduk bersamamu.”  Ketika kalian datang, insya Allah ke Amerika untuk menghadiri undangan di suatu Universitas atau di mana pun, jangan pernah berkata, “Aku yang terlemah”, mencoba untuk merendah.  Katakanlah, “Aku adalah Presiden (tertawa)” Inilah cara berpikir mereka.

Jangan berpikir bahwa Mawlana Syekh tidak dapat mendengar kalian.  Jika beliau mengerahkan kekuatan yang Allah berikan untuk menjadi kasyaf atau tanpa hijab, beliau dapat mendengar seluruh percakapan kalian.  Bagaimana kalian mendengar suara guntur? Sejelas itulah kira-kira suara yang didengar oleh para awliya.  Hal itu tidak sulit bagi Allah (swt), bukankah Dia memberi Sayyidina `Isa (as) kemampuan untuk melihat isi suatu rumah dan apa yang dimakan mereka?  Bukankah Dia telah menganugerahkan Sayyidina `Umar (ra) kemampuan untuk melihat apa yang terjadi dengan salah satu jendralnya 2000 kilometer jauhnya.  Beliau mengatakan, “Ya Sariya, al-jabal”  “Wahai Sariya, gunung!”  Beliau memberi peringatan kepadanya terhadap serangan dari balik gunung.  Dan Sariya mendengar suaranya! Tidak ada yang bisa menyangkal hal ini—Ini harus diyakini oleh seorang Muslim.  [Bahkan ulama yang paling ketat, Ibn Taymiyyah, mengatakan bahwa percaya kepada kasyaf dan keramat (kekuatan ajaib) para awliya merupakan persyaratan keimanan, di dalam kitabnya`Aqidat al-wasitiyya.–penerj.]

Keistimewaan seperti itu merupakan karunia Allah (swt), namun demikian mereka tetap saja seorang hamba.  Mereka tidak berpikir bahwa dirinya lebih dari sekedar hamba-Nya, mereka adalah “`abd”, mereka adalah hamba Allah.  Allah (swt) adalah Sang Pencipta, tidak seperti kaum Wahhabi yang gila, ketika kalian bilang, “Seorang wali mempunyai kekuatan istimewa,” mereka akan mengatakan, “Apa kamu bilang, dia seperti Allah?” Mereka berkhayal bahwa Allah (swt) seperti manusia!  Allahu Akbar! Takbir! Takbir! Allah Mahabesar.  Allah memberi umat manusia, kepada awliya, raghman `an anfihim.

http://www.naqshbandi.org/teachings/suhbats/know-your-station-in-tariqa/

Aku Memerlukan Seorang Pemandu

64899673_10213614800186411_3892114018063613952_o

Shuhbah
Shaykh Muhammad Hisyam Kabbani 

 

Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an [9:109] bahwa jika seseorang membangun rumahnya pada karang yang terjal tanpa fondasi yang kuat, maka rumahnya pasti akan runtuh.  Jika seseorang membangun fondasi rumahnya dengan bahan yang baik, atau pada tanah yang padat, lapisan demi lapisan disusun dengan baik, ia akan mempunyai rumah yang kokoh.  Segalanya memerlukan orang yang ahli. Jika Saya bilang kepada saudara saya, “Bisakah kamu membuatkan rumah untuk kami?” Ia akan menjawab, “Tidak, saya bukan tukang kayu.” Jadi kita harus memanggil orang lain dan berkata, “Tolong buatkan rumah untuk kami karena engkau ahlinya.”  Orang itu akan menjawab, “Baiklah! Begini rencananya, di sini kita meletakkan dinding, lalu di sini fondasi, di sini semen dan seterusnya.”

Jika kalian memerlukan seorang ahli untuk membangun rumah yang biasa, lalu bagaimana dengan hati kalian?  Bagaimana kalian membuat suatu pendekatan kepada Tuhan kalian tanpa dibimbing seorang ahli? Kalian harus mencari ahlinya.  Kalian tidak dapat mencapai-Nya tanpa bantuan seorang pemandu, tidak peduli betapa keras kalian mencoba mengikuti jalan-Nya sendirian.  Tak seorang pun yang dapat mencapainya sendirian karena kadang-kadang walaupun seseorang tahu bahwa ia berada di jalur yang benar, bisa saja ia melakukan sesuatu yang bukan pada tempat dan waktunya.  Dan dengan demikian seterusnya ia akan gagal. Jadi kita memang memerlukan bantuan seorang ahli dan ia akan menjadi pemandu kita. 

Untuk mencapai Tuhan, kalian tidak akan menemukan jalan dalam mengarungi gurun kehidupan ini kecuali dengan bantuan seorang pemandu karena angin yang berasal dari keinginan ego dan nafsu dapat mengubah segalanya.  Ego memiliki keinginan. Tiupan angin dari ego adalah keinginan yang kosong dan nafsu untuk menonjolkan diri. Bila keinginan itu muncul, ia akan menutupi jalur yang benar sehingga kalian akan tersesat. Kalian akan berhenti dan tidak tahu cara melanjutkannya.  Itulah sebabnya kalian memerlukan bantuan dari seorang pemandu yang benar-benar ahli dalam mengarungi gurun kehidupan tersebut. Ia adalah ahli dalam mengarungi jalur-jalur ego. Bila kalian tidak dapat menemukannya berarti buang-buang waktu saja dalam mencoba mendekati Tuhan di kehidupan ini.  Tuhan Maha Penyayang, karena kalian berusaha untuk mencapai-Nya, kalian akan menemukan-Nya juga di akhir hayat kalian walaupun tanpa bantuan seorang pemandu, tetapi kalian tidak dapat mencapai-Nya dengan cepat. Sekarang kalian telah kehilangan waktu tanpa kemajuan yang berarti, tetapi segera setelah kalian menemukan seorang pemandu dan kalian menerima panduan yang diberikannya, melewati kemauan ego dan nafsu, maka kalian akan sampai di sisi sebrang.  Sebaliknya jika kalian tidak menerimanya, kalian akan tersesat di gurun yang sangat luas.

Ketika Rasulullah SAW diperintahkan untuk hijrah dari Mekah ke Madinah, beliau bersabda, “Aku memerlukan seorang pemandu.”  Beliau adalah seorang rasul, mengapa beliau memerlukan seorang pemandu? Hal itu untuk mengajari kita bahwa walaupun beliau adalah seorang rasul, beliau tetap memerlukan seorang pemandu, pemandu lahiriah yang dapat menunjukkan jalan menuju Madinah.  Misalnya kita ingin menunjukkan jalan ke air terjun Niagara kepada anak kita, tetapi kita tidak tahu jalan menuju ke sana, maka kita akan mencari seorang ahli, yang tidak akan menyesatkan kita. Beliau adalah rasul tetapi beliau tetap mencari seorang pemandu, apakah beliau tidak tahu?  Nabi ‘Isa AS bersabda, “Salah satu di antara kalian akan mengkhianatiku.” Ini adalah benar, dan sebagai Muslim kita wajib mempercayainya. Beliau mengatakan ‘salah satu di antara kalian,’ apakah beliau tidak tahu? Beliau tahu tetapi tidak mengatakannya. Rasulullah SAW pun tahu, tetapi mereka (Nabi ‘Isa AS dan Rasulullah SAW) ingin menunjukkan kelemahan dan kerendahan hati sepenuhnya.  Beliau mengajari kita untuk mencari seorang pemandu. Mereka memerlukan seorang pemandu untuk menunjukkan jalan dari Mekah ke Madinah dan dengan bantuannya mereka bisa sampai di Madinah dengan aman. 

Jika kita memerlukan seorang pemandu untuk mengarungi gurun pasir, bagaimana dengan kehidupan rohaniah kita?  Ini lebih sulit. Kalian jelas memerlukan seorang pemandu untuk masalah ini. Rasulullah SAW mempunyai pemandu, yaitu malaikat Jibril AS yang memberinya inspirasi dan menyampaikan wahyu.  Pada peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah SAW dibimbing menuju Hadirat Ilahi. Jadi secara lahiriah beliau memerlukan seorang pemandu yaitu ketika hijrah dari Mekah ke Madinah dan secara internal beliau juga memerlukan seorang pemandu, ketika hijrah menuju Tuhannya di malam Isra’ Mi’raj.  Tanpa ada jalan mustahil melakukan hijrah, kalian tidak bisa pergi ke mana-mana tanpa ada jalan.

Itulah sebabnya mengapa setiap orang harus mencari seorang pemandu untuk menunjukkan jalan kebenaran dan jalan menuju realitas.  Tanpa panduannya kalian akan berada dalam keraguan, apakah yang kalian lakukan benar atau salah. Kalian tidak akan mengetahuinya.  Dengan adanya pemandu, kalian akan bergantung kepadanya karena ia adalah seorang yang ahli. Seperti yang telah dikatakan bahwa Rasulullah SAW mengambil seorang pemandu untuk menunjukkan jalan ke Madinah.  Beliau tidak berkata kepadanya, “Tidak! Mengapa kamu membawaku ke jalan yang ini, bukan yang itu?” Beliau menggantungkan dirinya kepada pemandunya karena keahliannya.

Pemandu yang menunjukkan jalan harus dapat dipercaya.  Kalian tidak bisa mengambil sembarang pemandu dan mengaku bahwa ia adalah pemandu kalian.  Jika kalian mengambil pemandu yang keliru, bisa saja ia membawa kalian ke dalam samudra Setan.  Kalian akan tersesat dalam samudra halusinasi. Banyak orang yang mengikuti pemandu semacam ini, suatu saat para pengikutnya akan mengalami halusinasi.  Apa yang mereka lihat sebenarnya tidak ada. Oleh sebab itu pemandu yang sejati sangatlah penting.

Bagaimana kalian bisa mengenalinya?  Grandsyekh pernah berkata bahwa jika kalian ingin mengetahui apakah seseorang itu adalah seorang pemandu yang sejati, pertama kali yang harus dilakukan adalah melihat pakaian luarnya.  Apakah ia telah memakai pakaian luar dengan lengkap? Jika belum, berarti ada kerusakan di dalam hatinya, oleh sebab itu jangan ikuti dia. Segala sesuatu pada seorang guru Sufi, (kita berbicara tentang Sufisme, bukan hal yang lain) yang tidak sesuai dengan pakaian dan perilaku seorang guru yang sejati, menunjukkan suatu ketidaksempurnaan atau kesalahan.  Grandsyekh berkata, “Jika kalian mempunyai sebuah jam dan jam itu secara internal bekerja 100% tetapi tidak mempunyai jarum, jam itu tidak bisa menunjukkan waktu kepada kalian sehingga tidak ada manfaat yang dapat diambil darinya. Sama halnya dengan jam yang mempunyai jarum, tetapi mekanik internalnya tidak bekerja 100%, ia juga tidak dapat menunjukkan waktu yang tepat bagi kalian.”  Jadi bagi seorang pemandu sisi lahir dan batinnya harus sempurna.

Kita tidak berbicara tentang diri kita.  Kita mengikuti guru kita. Beliaulah pemandu kita.  Beliau bekerja 100% lahir dan batin. Kita hanya mencoba mengikutinya.  Itulah sebabnya bila kita melihat kepada seseorang dan berpikir apakah ia adalah seorang pemandu sejati, kalian harus melihat bahwa ia telah melengkapi sisi lahiriah tanpa ada kekurangan.  Jika ada sesuatu yang hilang, kalian jangan mengikutinya. Bila ia kehilangan salah satu sisi lahiriahnya berarti ia telah kehilangan banyak sisi batiniahnya, yang tidak dapat diketahui orang.  Kalian berpakaian dengan rapi karena tahu bahwa orang melihat kalian. Tetapi bila menyangkut hal-hal yang tidak dapat dilihat, kalian berkata, “Biarkan saja, toh tidak ada yang melihat.” Jika kalian kehilangan salah satu item dari pakaian luar yang jelas akan dilihat orang, berarti kalian ‘tidak fit’.  Apalagi kalau menyangkut hal-hal yang tidak terlihat, tentu akan lebih banyak yang hilang. Orang seperti itu tidak bisa menjadi pemandu sejati. Dia adalah pemandu yang tidak terhubung. Bisa saja ia membawa kalian ke jarak tertentu dalam kehidupan spiritual, tetapi ia tidak terhubung dengan tingkat yang lebih tinggi lagi.  Pemandu sejati harus mempunyai eksterior yang lengkap, tidak kurang sedikit pun!

Grandsyekh berkata bahwa itu adalah langkah pertama untuk menentukan seorang pemandu sejati.  Bila kalian melihatnya dan mengatakan, “Ia sudah lolos,” bukan ujian pertama, tetapi lolos dari “kriteria pertama.”  Berikutnya kita tinjau dari sisi batin. Bagaimana kalian bisa melihat sisi batinnya? Grandsyekh berkata, “Kalian harus lihat bahwa orang itu mempunyai rasa hormat kepada setiap orang tanpa diskriminasi sekecil apa pun, tanpa memandang agama karena setiap manusia adalah hamba Tuhan yang sama.  Sang pemandu harus menghormatinya, pertama karena seluruh manusia adalah ciptaan Tuhan dan mempunyai Cahaya Ilahi dalam hatinya. Selain itu ia juga harus mempunyai rasa cinta terhadap mereka. Menerima apa yang ia inginkan baginya dan bagi anak-anaknya, untuk menjadi dan bertindak atas nama mereka, walaupun mereka hanya orang biasa yang belum menjadi pengikutnya.  Jadi ia harus bisa menunjukkan rasa hormat dan cinta kepada mereka. Ketiga, ia harus menunjukkan kerendahan hati kepada mereka. Ia tidak bisa berkata bahwa ia lebih tinggi dari mereka. Tidak ada seorang pun yang tinggi kecuali Tuhan. Jika ia menganggap dirinya lebih tinggi dari mereka berarti ia seperti Setan yang menganggap dirinya lebih tinggi dari Adam AS. 

Ketiga kriteria ini adalah “aksesoris batin” yang dimiliki pemandu sejati.  Dalam hal pakaian ia harus memiliki pakaian lengkap seorang guru Sufi. Jika guru kalian seperti itu, barulah ia seorang pemandu sejati, ikutilah ia.  Bersamanya kalian akan menemukan kepuasan hati dan menemukan hal-hal yang telah hilang. Jika kalian tidak menemukan orang seperti itu, lanjutkan pencarian kalian.  Kalian akan menemukannya karena Allah SWT Maha Penyayang. Bila kalian melihatnya, Allah SWT akan memberi. Bila kalian tidak meminta, Allah SWT tidak akan memberi. Jika kalian sungguh-sungguh, memohonlah dengan hati kalian.  Kalian akan menemukannya dan ia akan memberi kunci hati kalian. Jika kalian tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh, tidak melakukannya sepenuh hati, hanya di lidah saja mungkin kalian akan menemukannya atau mungkin juga tidak.

Ahmad al-Badawi QS adalah seorang wali yang sangat terkenal di semua kalangan Sufi.  Ia menyatakan “Aku tidak memerlukan seorang pemandu. Pemanduku adalah al-Qur’an,” sebagaimana yang dikatakan orang Wahhabi sekarang, “…dan cara hidup Rasulullah SAW.”  Ia mencoba mendekati Tuhannya sebagaimana Rasulullah SAW bersabda atas nama Tuhannya, “Hambaku tidak berhenti untuk mendekati-Ku melalui ibadah sunnah atau perbuatan baik, sampai Aku mencintainya.  Dan bila Aku mencintainya, pada saat itu Aku akan menjadi telinga yang digunakan untuk mendengar, mata yang dipakainya untuk melihat, tangan untuk merasakan, dan kaki untuk berjalan. Jika ia meminta, Aku akan memberi.  Jika ia memohon perlindungan, Aku akan melindunginya. Aku akan menjadi dirinyaa, dan ia dapat mengatakan kepada sesuatu, “Jadilah!” maka jadilah ia.” Orang-orang Wahhabi biasanya memotong bagian terakhir dari hadis tersebut, tetapi kita mengucapkannya secara lengkap.

Ahmad al-Badawi QS berusaha mendekatai Tuhannya sampai mencapai pintu Hadirat Ilahi, lalu ia berkata, “Ya Tuhanku!  Bukakanlah pintu ini untukku.” Tetapi ia tidak mendapat jawaban. Ia mencobanya berulang-ulang sampai akhirnya ia ‘secara tidak sengaja’ bertemu dengan seseorang.  Saya bilang ‘tidak sengaja’ tetapi sebetulnya itu sudah direncanakan dengan sangat rapi, karena itu adalah Kehendak Allah SWT untuk mengujinya. Ia bertemu orang itu di jalan, seseorang yang kelihatannya biasa-biasa saja.  Orang itu lalu memanggilnya, “Hei Ahmad!” bahkan ia tidak menyebutnya “Syekh Ahmad!” sebagai tanda penghormatan. Ia berkata, “Wahai Ahmad! Engkau perlu kunci untuk mencapai Hadirat Ilahi? Aku punya kuncinya dan jika kau mau, datanglah kepadaku dan akan kuberikan kepadamu.”

Banyak di antara kita yang menolak fakta atau kenyataan karena merasa bangga, walaupun ia tahu sebenarnya itu adalah jalan yang benar.  Mereka tidak mau menerimanya sebab ego mereka mengatakan, “tidak!” Ego Ahmad QS berkata kepadanya, “Bagaimana mungkin Engkau menerima sesuatu darinya?  Jangan menerima kunci darinya. Terimalah dari Tuhan.” Lalu ia berkata, “Wahai saudaraku, Aku tidak akan menerima kunci darimu, tidak juga dari orang lain, kecuali dari Sang Pembuat Kunci.  Siapa Engkau. Engkau bukan siapa-siapa.”

Selanjutnya Ahmad QS berusaha untuk mencapai Hadirat Ilahi sampai ia mendengar Suara Tuhan (hatif Rabbani) kepadanya, “Wahai Ahmad QS, kehidupan ini adalah kehidupan yang mengandung sebab dan akibat.  Aku tidak akan memberimu kunci. Sesuai Kehendak-Ku kunci untukmu berada pada orang itu. Pergilah dan dapatkan kunci itu darinya.”  Sekarang persoalannya sudah selesai. Ia mendengarnya langsung dari Tuhannya, dan ia menerima hal itu. Sekarang ia harus mencari pemandunya.  Tetapi sang pemandu telah lenyap. Orang itu telah meninggalkannya. Selama enam bulan pemandu itu mengamati hati Ahmad QS secara rahasia, melihat bahwa ia mencarinya dan berdoa kepada Tuhan siang dan malam, “Ya Tuhanku kirimkanlah orang itu kembali kepadaku,” sampai akhirnya ia bisa menemukannya kembali.  Dengan segera orang itu membuka hijab yang ada pada dirinya selama ini.  

Jadi sang pemandu membuka hijab dan menampakkan dirinya di hadapan Ahmad QS.  Ahmad QS berkata, “Wahai Syekhku! Aku menemukanmu.” Ia tidak menemukannya tetapi sang pemandulah yang menghilangkan hijabnya.  Tetapi tetap saja ia berpikir bahwa ia telah menemukannya. Ia berkata, “Wahai Syekhku, Aku menerimamu sebagai pemanduku.” Sang pemandu menjawab, “Jika engkau menerimaku sebagai pemandumu sekarang, engkau harus pasrah, menyerahkan diri, dan menyerahkan seluruh kehendakmu kepadaku.  Engkau tidak diperkenankan mempunyai kemauan selama bersamaku. Engkau telah membangun ilmu pengetahuanmu pada sebuah karang yang hanya dengan satu tiupan dari ego, ia akan jatuh. Aku harus membangun fondasi yang kuat bagimu. Jadi, lihatlah ke dalam mataku.” Ahmad melihat ke matanya dan pemandu itu dengan segera menghapus seluruh pengetahuan yang telah dipelajari oleh Ahmad al-Badawi QS dari buku.  “Lewat buku” maksudnya ada banyak hal yang berasal dari ego si penulis. Maka ia menghilangkan pengetahuan itu dari hati Ahmad QS dan kemudian lenyap. Ia meninggalkannya selama 6 bulan lagi bahkan dalam keadaan tidak tahu bagaimana mengucapkan, “Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim,” bahkan tanpa mengetahui bagaimana mengucapkan Nama Allah SWT. 

Orang-orang di kota kini mengejek Ahmad al-Badawi QS, yang kelihatannya seperti orang gila setelah sebelumnya menjadi ulama yang terkemuka.  Karena keterbatasan pengetahuan spiritual mereka, mereka berpikir bahwa ia benar-benar sakit. Yang mereka ketahui hanyalah bahwa ia mengikuti seseorang yang membuatnya gila, tetapi Ahmad al-Badawi QS tahu bahwa ia telah mendengar suara Tuhannya yang mengatakan bahwa, “Kuncimu ada pada orang itu.”  Tidak ada yang membuatnya gila. Ia mengikuti orang itu. Tetapi bila ia menerimanya sejak awal, ketika pemandu itu datang untuk pertama kalinya atas Kehendak Allah SWT, ia tidak harus melewati ujian ini. Jadi mengapa kalian membuat diri kalian harus melewati ujian yang sama? Bila kalian menemukan kebenaran, seorang pemandu yang benar, terimalah ia dengan segera! Jangan bermain-main dengan ego kalian. 

Dia meninggalkannya selama 6 bulan lagi dan muncul kembali di waktu yang lain.  Dalam kurun waktu tersebut Ahmad al-Badawi QS terus mencarinya dan ketika ia bertemu kembali, Ahmad al-Badawi QS berkata, “Wahai Syekhku, Aku menemukanmu lagi.”  Saat itu sang pemandu memandang mata Ahmad al-Badawi QS dan memancarkan sesuatu dari lubuk hatinya kepada hati Ahmad al-Badawi QS melalui matanya. Pada saat itu terjadi transfer pengetahuan batin, pengetahuan dari Kitab Allah SWT dan rahasia-rahasianya.  Pemandu itu melakukannya 3 kali sampai mata Ahmad al-Badawi QS memancarkan cahaya yang begitu kuat bahkan orang yang melihatnya pun bisa mati. Oleh sebab itu ia menutup wajahnya dengan cadar. Saat itu ia bisa memasuki Hadirat Ilahi dan ia menerima kuncinya.

Tanpa bantuan pemandu sejati kalian tidak akan bisa mencapai Hadirat-Nya.  Dialah yang akan membukakan pintu bagimu ke mana pun kalian akan pergi. Ahmad al-Badawi QS adalah seorang ulama besar yang mengetahui banyak hal.  Ia bangga dengan pengetahuannya itu dan tidak mau menerima pelajaran dari orang lain. Ia hanya mau mengambil langsung dari posisi Yang Mahatinggi. Ia tidak melihat ada yang lebih tinggi darinya kecuali Tuhan.  Bagaimana mungkin ia akan mengambil pelajaran dari orang lain? Berarti tidak ada sifat rendah hati pada dirinya. Ia telah kehilangan satu dari tiga karakteristik yang diperlukan oleh hamba Allah SWT. Ia mempunyai rasa hormat, ia juga mencintai sesamanya, tetapi ia tidak mempunyai kerendahan hati untuk menerima nasihat dari orang lain.  Dan karena ia telah kehilangan satu karakteristik itu, seolah-olah ia tidak mengalami kemajuan lagi.

Seorang wali, seorang guru harus memiliki karakteristik hormat, cinta dan rendah hati.  Jika kalian melihat salah satunya tidak ada, maka ia bukanlah seorang pemandu sejati. Ia hanya akan membawa kalian ke jarak tertentu seperti yang kita lihat pada diri Ahmad al-Badawi QS yang bisa mencapai Tuhan sampai pada jarak tertentu, namun tidak bisa membukanya.  Ia memerlukan seseorang yang mempunyai kunci tetapi ketika ditemukan ia tidak menerimanya langsung karena kesombongannya. Ia terlalu banyak memikirkan dirinya. Akhirnya ia menerima juga setelah mendengar langsung dari Tuhannya, tetapi ia harus melewati ujian tertentu.  Jika pada mulanya ia langsung menerimanya tanpa melalui rasa bangga terhadap dirinya, pintu itu segera terbuka baginya tanpa harus melewati ujian selama 2 tahun. 

Bila kalian menemukan seorang pemandu dan hatimu merasa senang dengan kehadirannya, jangan dengarkan ego kalian.  Katakan kepada ego, “Kau salah! Apa ruginya jika Aku menerimanya sebagai guru?“ Kalian tidak akan kehilangan apa pun.  Bila kalian menunjukkan sifat rendah hati, ini cukup bagi Allah SWT untuk mengangkat kalian. Jika Saya datang dan mengatakan, “Si Anu dan si Anu” adalah Syekh saya, dan Saya telah berbay’at dengannya.  Apa salahnya? Saya menerimanya dan Saya menunjukkan kerendahan hati, Allah SWT akan mengangkat saya.

Mempunyai sifat rendah hati adalah sangat penting.  Jika kalian bersifat rendah hati, kalian akan menerima semua orang sebab setiap orang dapat menjadi pemandu bagi kalian.  Ada sebuah ungkapan di Turki, berupa pertanyaan kepada seorang yang bijak,

“Dari mana engkau belajar adab yang sempurna dalam masyarakat?”  jawabnya, “Dari orang-orang yang bersalah. Aku mengamatinya, melihat kesalahan yang mereka lakukan lalu Aku menghindarinya. Jadi Aku bisa memperbaiki diriku lewat kesalahan orang lain.” 

Jika kalian bisa menerima semua orang sebagai pemandu kalian, bahkan orang yang jahat pun dapat memandu kalian. Dengan mengamati dan melihat kesalahan yang dilakukannya, kalian berhenti (melakukannya). 

Wa min Allah at tawfiq

 

 

Tarekat

HQ-957 Painting

Tentang Tarekat Naqsybandi

Sebuah Penjelasan mengenai Islam dan Sufisme

 

Asal

Nama Mata Rantai Emas Naqsybandi

Pewaris Spiritual Pertama dari Rasulullah (s)

Imam Tarekat,  Syah Baha`uddin Naqsyband (q)

 

Mursyid yang masih hidup

Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani (q)

Mengenai Hajah Amina Adil (w.2004), Istri Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani

 

Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q)

Mengenai Syekh Muhammad Hisyam Kabbani

Biografi Syekh Muhammad Hisyam Kabbani

Pesan Mawlana Syekh Nazim mengenai Syekh Hisyam

Lebih Jauh mengenai Syekh Hisyam

Wawancara dengan Syekh Hisyam Kabbani

Mengenai Hajah Naziha, Istri Syekh Muhammad Hisyam Kabbani

 

Bergabung dengan Tarekat Naqsybandi secara Online