Waspadalah dengn Penglihatan Awliya, Mereka dapat Membacamu Luar dan Dalam

Seri Ramadhan 2021

Dr Nour Mohamad Kabbani

Sabtu Malam, 17 April 2021 | Fenton Zawiya, MI



Bismillaahi ‘r-rahmaani ‘r-rahiim

Assalamu`alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh,

Semoga Allah (swt) selalu menjaga kita bersama Syuyukh kita, bersama Awliyaullah, selalu menjaga kita untuk berada di pintu mereka, selalu menjaga kita untuk datang ke majelisnya, semoga Allah (swt) juga memberi kita kekuatan untuk beribadah kepada-Nya dengan baik.  Kadang-kadang kita tidak mempunyai tenaga untuk beribadah, semoga Allah (swt) mengampuni kita dan semoga Dia memberi kekuatan kepada kita untuk melanjutkan ibadah kita. 

Kita berbicara dari kata-kata Syekh kita, Sulthanul Awliya Mawlana Syekh Nazim (q).  Beliau telah meninggalkan begitu banyak shuhbah kepada kita baik secara online, di internet, di youtube, maupun di buku-buku.  Berusahalah untuk membacanya sebanyak-banyaknya.  Orang-orang ingin mendapatkan buku spesifik ini (buku yang biasa dibaca oleh Dr.Nour–red).  Buku ini berisi kumpulan shuhbah Mawlana dan ini bukanlah buku yang ekslusif, kalian dapat menemukan shuhbahnya di berbagai buku beliau.  Buku apa pun yang kalian baca dari shuhbah Mawlana Syekh Nazim, kalian dapat menemukan hikmah-hikmah ini di dalamnya.  

Beliau mengatakan, “Suatu hari aku sedang berada di Damaskus pada tahun 50-an bersama Syekh.”  Adab yang benar bagi seorang murid adalah selalu dekat bersama Syekhnya, bergerak bersama Syekhnya.  Jadi ketika kalian telah menemukan seorang syekh, kalian harus dekat dengannya; kalian tidak bisa berada di Asia, tetapi Syekh kalian di Eropa; atau Syekh kalian berada di Afrika tetapi kalian berada di Amerika; itu tidak akan berjalan.  Seorang murid harus bersama Syekhnya.  Itu adalah shuhbah yang sesungguhnya.  

Mawlana Syekh Nazim (q) mengatakan bahwa pada suatu hari beliau sedang berada di Damaskus bersama Syekhnya, Mawlana Syekh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani (q).  Beliau mengatakan, “Aku sedang berada di pasar, berbelanja untuk keperluan dergah Syekhku.  Setelah selesai berbelanja aku naik bus untuk pulang ke arah gunung.  Dergah beliau terletak di sebuah gunung di Damaskus.  Di dalam bus muncullah seorang pria dan aku tidak pernah melihat orang seperti itu sebelumnya.  Aku tahu bahwa orang itu bukanlah orang biasa, seperti kita, ia adalah seorang Awliyaullah.  Aku tahu dari caranya memandang dan bagaimana ia beristirahat.  

Ia datang ke arahku, mengucapkan salam dan duduk di sebelahku.  Ia lalu berkata, “Wahai Syekh Nazim.”  Mawlana Syekh Nazim tidak pernah memperkenalkan dirinya.  Beliau mengatakan bahwa Awliyaullah mengetahui ism dan jism (الاسم والجسم), mereka mengetahui nama dan tubuh.  Tidak ada yang tersembunyi dari mereka.  Jadi waspadalah bila kalian bertemu Awliyaullah, mereka membaca kalian luar dan dalam, mereka tahu untuk apa kalian datang kepadanya.  Jika kalian datang untuk dunia, mereka akan memberi kalian dunia.  Jika kalian datang untuk Allah, dan kalian melihat tidak banyak orang-orang di sekitarnya yang menginginkan Allah (swt), maka dengan kekuatan yang telah diberikan Allah (swt) kepadanya melalui Rasulullah (saw), mereka akan membawa kalian.  

Jadi ketika kalian datang ke Majelis Awliyaullah, pastikan bahwa kalian tahu apa yang ada di dalam hati kalian, karena Syekh akan memberikannya kepada kalian. Jika beliau memberikan dunia, berarti kalian telah tersesat.  Jadi, bila di dalam hati kalian, kalian mencari dunia, beliau akan memberikannya, tetapi kemudian kalian akan tersesat.  Kalian akan kehilangan Akhirat, dan kalian akan kehilangan Allah (swt).  

Allah (swt) berfirman di dalam Surat al-Baqarah atau di surat lainnya, bahwa barang siapa yang menginginkan dunia, Kami akan memberikannya kepadanya, tetapi di Akhirat ia tidak mempunyai mempunyai bagian, jadi berhati-hatilah ketika kalian datang ke Majelis Awliyaullah.        

Jadi Syekh tadi mendatangi Syekh Nazim dan ia berkata, “Wahai Syekh Nazim,” Grandsyekh mengatakan bahwa Awliyaullah ini dapat mengenali nama seseorang.  

Grandsyekh mengisahkan bahwa pada suatu hari Sayyidina Ibrahim (as) sedang berada di suatu tempat dan beliau merasa kehausan.  Beliau melihat ke sekeliling dan beliau melihat seorang pengembala di kejauhan.  Sayyidina Ibrahim (as) mendekati pengembala itu yang ternyata adalah seorang Habashi dari Ethiopea. Ia adalah orang yang berkulit hitam tetapi cahaya terpancar dari wajahnya.  Beliau berkata, “Apakah engkau mempunyai sesuatu yang dapat kuminum?”  Orang itu menjawab, “Ya, wahai Ibrahim Khalilullah.”  Pengembala itu menyebut nama Ibrahim (as) walaupun beliau tidak memperkenalkan dirinya.  Orang itu berkata, “Wahai Ibrahim Khalilullah (as), apakah engkau menginginkan air atau susu?” 

Subhanallah, Grandsyekh mengatakan bahwa Sayyidu ‘l-syarab (سيد الشراب), induk dari segala minuman di dunia dan akhirat adalah air, karena Allah (swt) telah menjadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air.  Beliau mengatakan, “Aku mau air.”  Pengembala itu lalu menghentakkan kakinya di tanah, dan muncullah air yang sangat nikmat dan segar.”  Mawlana Syekh Nazim (q) mengatakan bahwa Sayyidina Ibrahim (as) tidak pernah merasakan air senikmat itu selama hidupnya.  Ketika beliau meminumnya, beliau merasa terkejut dan bertanya kepada pengembala itu, “Bagaimana engkau bisa mengenali diriku?”  Orang itu berkata, “Wahai Nabiyullah, wahai Khalilullah, hadza kalam, apakah ini yang engkau katakan wahai Khalilullah?  Orang yang mengenal Rabbul `ibad, apakah ia tidak mengenal `ibad?  Orang yang mengenal Tuhan, apakah ia tidak mengenal hamba-Nya?”  

Sayyidina Ibrahim (as) terkejut.  Beliau bertanya, “Yaa Rabbi, bagaimana orang ini bisa mempunyai karamah seperti ini?”  Ia dapat mengetahui nama seseorang, mengetahui kedudukan seseorang, yakni Khalilullah.  Lalu jawabannya muncul, “Wahai Ibrahim (as), ia mempunyai karamah seperti itu, karena di dalam hatinya tidak ada apa-apa kecuali Aku.”  

Jadi jika kalian datang kepada seorang Waliyyullah, lebih baik simpan yang terbaik di dalam hati kalian, Allah!   Jika kalian menyimpan dunia, kalian akan mendapatkannya, jika kalian menyimpan jabatan di dalamnya, kalian akan mendapatkannya, jika kalian menyimpan Akhirat dan Jannah, kalian akan mendapatkannya.  Tetapi jika kalian menyimpan Allah, seperti pengembala ini, yang di dalam hatinya tidak ada apa-apa kecuali Allah (swt), apa yang dilakukan oleh orang ini?  Ia dapat menampilkan karamah. 

Ketika kalian datang kepada Awliyaullah, berusahalah untuk menyimpan Allah di dalam hati kalian, pintu-pintu akan terbuka bagi kalian.  Itulah sebabnya kita berada di pintu itu, berharap agar pintu ke Hadirat Allah dibukakan bagi kita, tetapi syaratnya adalah ikhlas.  Oleh sebab itu jadilah orang yang ikhlas wahai Mukmin, bersihkan hati kalian dari segala sesuatu selain Allah (swt).

Grandsyekh mengatakan bahwa orang yang naik bus tersebut adalah orang seperti pengembala itu, orang yang di dalam hatinya hanya ada Allah (swt).  Ia mengatakan kepada Mawlana Syekh Nazim bahwa ia berada di situ untuk mengunjungi Grandsyekh.  Mawlana Syekh Nazim (q) lalu membawanya ke dergah dan beliau memberitahu Grandsyekh Abdullah (q) mengenai orang itu.  Mawlana Syekh Abdullah ad-Daghestani (q) keluar untuk menemuinya dan orang itu mencium tangan Grandsyekh.  Grandsyekh lalu mengatakan, “Yaa waladi, mubarak lakumul maqam, wahai anakku, semoga maqam yang diberikan kepadamu diberkahi untukmu.”  Ia telah dipilih menjadi salah satu di antara 40 Budala (Wali Pengganti) di Syam.  

Jadi orang ini, ketika ia telah ditunjuk sebagai salah satu dari 40 wali abdal, ia pergi mendatangi Grandsyekh.  Ini adalah adab.  Mereka mendatangi Qutub.  Dan Grandsyekh mengatakan kepada Mawlana Syekh Nazim (q), “Wahai anakku, terjemahkan untuknya.”  Wahai murid, wahai muqaddam, ini adalah kata-kata dari guru kita, guru dari guru kita, Mawlana Syekh Abdullah (q).  Beliau berkata kepada wali tersebut, ia adalah orang yang telah mencapainya; sementara kita, sampai di mana kita?  Kita masih meminta dunia, kita masih menghiasi halaman facebook kita dengan berbagai gelar.  Kita masih meminta dunia, termasuk diri saya, jangan khawatir saya masih seperti kalian.  Kita masih berada di jalur yang sama.  Semoga Allah (swt) menyelamatkan kita.  Menyelamatkan kita dari ego kita, ya ego kita. Karena ego selalu berada di sana dengan kait duniawinya.  

Bagaimana menurut kalian dengan namla, bagaimana menurut kalian kisah tentang semut.  Apakah kalian mengetahui tentang wadi namlWadi naml adalah hawa nafsu. Lembah semut yang dibicarakan oleh Grandsyekh dan Mawlana Syekh adalah hawa nafsu kalian, yakni keinginan dari ego.  Lalu siapakah semut tersebut, apa kalian tahu?  Ketika Grandsyekh berbicara, beliau membicarakan rahasia dan ini semua ada dalam buku Mawlana Syekh Nazim, bukunya Awliyaullah.  

Jadi semut itu adalah an-nafsu lawwamah, ego yang menyalahkan, ego yang telah meningkat levelnya dari memerintahkan kejahatan menjadi ego yang menyesali apa yang telah dilakukannya.  Dikatakan bahwa, “Wahai semut, kita hidup dalam keserakahan dunia, kita hidup dalam kecintaan terhadap dunia, di lembah kecintaan terhadap dunia, itu adalah lembah semut ketika Sayyidina Sulayman (as) datang, ketika Qutub datang untuk menghancurkannya–bukan menghancurkannya, tetapi beliau datang untuk mengontrolnya.  

Qutub zaman datang ke dalam hati kalian, dan hati kalian adalah wadi naml, lembah semut.  Lembah semut itu adalah hawa nafsu, keinginan dari ego.  Hati kalian berisi keinginan terhadap dunia ini, keinginan dari ego.  Dan namla tersebut, sang ratu semut mengatakan bahwa apa pun keinginan yang ada di sana, itu adalah ego yang menyesali apa yang telah dilakukannya.  Masuklah ke dalam sarang-sarang kalian, artinya masuklah ke dalam kelima indera kalian, kembalilah pada mata kalian, kembalilah pada telinga kalian, kembalilah pada lisan kalian, artinya menarik diri dari dunia melalui indera kalian, jangan melihat hal-hal yang haram lagi, jangan mendengar hal-hal yang haram lagi, jangan mengucapkan hal-hal yang haram, jangan menyentuh hal-hal yang haram, jangan menyentuh hal yang dilarang.  Itu adalah lembah semut.

Grandsyekh mengatakan (kepada wali abdal tadi), “Wahai anakku, engkau adalah waliyyulah, engkau telah mencapainya, tidak ada dunia di dalam hatimu,” tidak seperti i kita, lembah semut ada dalam hati kita.  “Di dalam hatimu tidak ada dunia, tetapi engkau harus tahu bahwa kedudukan apa pun yang telah engkau capai, masih ada kedudukan yang lebih tinggi di atasmu.  Tidak peduli seberapa luas ilmu yang telah kau peroleh, masih ada ilmu yang lebih tinggi lagi.  Jika engkau telah menjadi alim”–masya Allah setiap orang membanggakan dirinya sekarang ini bahwa ia mengetahui, bahkan di antara orang-orang kita.  

Grandsyekh menasihati kalian, wahai murid Tarekat Naqsybandiyyah, sebelum menasihati orang lain, tetapi kalian yang mengaku sebagai muqaddam, yang mengklaim sebagai Syekh atau wakil Syekh, beliau menasihati kalian dulu wahai murid, dan jika kalian mengabaikan ajaran Grandsyekh, berarti kalian telah mengabaikan ajaran tarekat.  Beliau mengatakan kepada kalian, dan juga kepada diri saya bahwa jika kalian mempunyai maqam tertentu, ketahuilah bahwa ada maqam di atas kalian, jika kalian mempunyai ilmu, kalian harus tahu bahwa masih banyak ilmu di atas kalian, jika engkau adalah seorang alim, ketahuilah bahwa masih banyak alim di atas kalian, maqam apa pun yang kalian capai, kalian harus tahu bahwa masih ada orang yang maqamnya di atas kalian.  Grandsyekh seringkali mengatakan, “Isma`, dengarkan!”  Jika engkau adalah Sulthan al-Awliya, ada yang lebih tinggi di atasmu.  Jika kalian adalah Sulthan al-Anbiya, ada seseorang yang lebih tinggi di atas kalian. 

وَفَوْقَ كُلِّ ذِيْ عِلْمٍ عَلِيْمٌ
Wa fawqa kulli dzii `ilmin `aliim
Di atas setiap orang yang berilmu ada yang lebih berilmu (QS Yusuf, 12:76)    

Mawlana Syekh Nazim (q) mengatakan kepada orang-orang yang hadir di majelisnya, “Oleh sebab itu wahai manusia, wahai sayyidana, kami tidak mengklaim untuk `ilm wa rutbah, ilmu dan kedudukan; dan kami mengaku, kami menegaskan bahwa ada seseorang yang lebih tinggi di atas kita, baik dari sisi ilmu maupun kedudukannya.”  Lihatlah, bagaimana adab tarekat yang telah hilang sekarang ini, hal itu sudah dilupakan.  Dengarkanlah wahai murid-murid Syekh Nazim, “Kami tidak mengklaim sebagai Sulthan, kami tidak mengklaim sebagai Syekh, kami tidak mengklaim sebagai wakil Syekh.”  Ini adalah perkataan Grandsyekh Mawlana Syekh Nazim (q), bukan saya; saya hanya membacakannya.  

Kita telah menjadi seekor semut di lembah semut yang mengejar dunia.  Dan apa yang dikatakan oleh seekor semut itu?  “Masuklah ke dalam sarang-sarangmu,” artinya kembalilah kepada indera-indera kalian.  Mata kalian, tariklah ia dari dunia.  Telinga kalian, tariklah ia dari dunia.  Hati kalian, tariklah ia dari dunia.  Lisan kalian, tariklah ia dari dunia, ke mana?  Ke tempat seperti yang dilakukan oleh pengembala hitam tadi, yakni orang yang tidak mempunyai apa-apa di dalam hatinya kecuali Allah.  Tidak ada lagi dunia, tidak pula Akhirat, yang ada hanyalah Allah (swt).  Ketika hal itu terjadi, kalian dapat menampilkan karamah, kalian dapat mengenal seseorang melalui nama dan tubuhnya.  Itu adalah pintu Awliyaullah.  Jika ketika kalian datang ke pintunya Awliyaullah, ketahuilah, mengapa kalian di sini dan untuk apa kalian berada di sini dan jadilah orang yang tawduk, rendahkan hati kalian sehingga kalian dapat mengambil dari apa yang mereka curahkan.

Semoga Allah mengampuni kita.  Yaa Rabbii, jadikanlah kami sebagai orang yang selalu bersama Awliyaullah, yang selalu berada di pintu Awliyaullah, yang mencium tangan dan kaki Awliyaullah, mengambil dari berkah mereka, baik dari berkah rohaniah maupun berkah fisiknya.  Aamiin, aamiin, aamiin, bi hurmatil habib (saw) wa bi sirri suuratil Faatihah.     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s