Menghancurkan Sifat Ujub dan Takabur

Asalamu Alaykum,

Dapatkah Anda merekomendasikan doa untuk menghilangkan ujub dan takabur saya?

Jawaban:

wa `alaykum salam,

Ya, sebagaimana seorang Syekh yang berkata kepada muridnya setelah 23 tahun, murid itu bertanya kepada Syekh, “Wahai Syekhku, aku telah banyak belajar darimu selama 23 tahun ini.  Bolehkah aku menyebarkan ajaranmu?”  Ia adalah seorang murid yang terhormat, seorang alim ulama dalam Syariah dan Tarekat.  Syekhnya menjawab, “Ya, dengan satu syarat.  Jika engkau sudah melakukannya dan menyelesaikannya, aku akan mengatakan hal berikutnya kepadamu sampai aku memberikan izin kepadamu dan engkau dapat menyebarkan ajaran ini.” 

Dan hal ini juga berlaku bagi banyak orang, termasuk kita semua secara umum.  Kita harus meletakkannya di depan mata kita.  Itu bukanlah sesuatu yang mudah bagi ego dan nafs itu begitu kuat. 

Syekh berkata kepada orang itu, “Bawalah sebuah keranjang dan isilah dengan kacang walnut lalu pergilah ke pintu masjid di mana orang biasa keluar masuk dari sana.  Duduklah di dekat pintu itu, lalu lepaskan sepatumu dan letakkan di depanmu.  Setiap ada orang yang masuk ke masjid, katakan padanya, ‘Jika engkau memukul kepalaku dengan sepatuku sekali, aku akan memberimu sebutir walnut, jika engkau memukul kepalaku dengan kedua sepatuku, aku akan memberimu dua butir walnut.’  Lakukan hal itu, itu adalah pekerjaanmu dan bila keranjangmu sudah kosong, kembalilah kepadaku.” 

Orang itu memandang kepada Syekhnya dengan marah dan ia berkata, “Wahai Syekhku!  Bagaimana mungkin engkau bisa mengatakan hal itu kepadaku?”  Lihatlah, 23 tahun! Makan dan minum bersama Syekh, melakukan segala hal bersama Syekh, tetapi karena satu ujian yang diberikan Syekhnya, tiba-tiba putus hubungannya.

Ini adalah seperti seorang Imam, kalian semua tahu, dan ia adalah salah satu murid terbaik, tanpa menyebutkan namanya, ia tidak sependapat mengenai sesuatu dan murid itu meninggalkannya dan tidak lagi berbicara dengannya.  Cinta dan kehormatan macam apa ini?  Itu artinya cinta dan kehormatan yang dangkal.  Cinta kita seperti itu.  Orang-orang ketika masih muda, mereka sangat tertarik, maksudnya muda dalam tarekat, bukan dalam hal usia, tetapi setelah mereka mendapat beberapa ilmu, kalian tidak bisa mengendalikan mereka lagi. 

Dalam banyak narasi siirah, Iblis adalah kepala dari para malaikat selama 2000 tahun dan ia telah melakukan sujud di setiap jengkal langit dan bumi, kemudian Allah memberinya satu perintah sederhana, “Sujudlah kepada Sayyidina Adam (as)!”  Ia menolak dan jatuh dari pengabdiannya selama 2000 tahun.  Ia mengatakan, “Aku lebih baik darimu.”

Itulah masalahnya.  Orang-orang berpikir, “Mengapa ia yang memberikan ceramah?  Aku dapat melakukannya lebih baik.”  “Mengapa ia mau ikut campur dalam keputusanku?  Aku melakukan apa yang kuinginkan.”  Tidak!  Jika kalian mengikuti arahan guru, jika guru itu menempatkan seorang zalim pada diri kalian, kalian harus mengikutinya.  Itu ada dalam sebuah hadits di mana jika seorang pemimpin itu adalah seorang penindas, maka berdoalah agar Allah mengubah sikapnya menjadi orang yang lebih baik.  Allah Maha Mengetahui kapan Dia akan menghilangkan sikap tiran tersebut.  Dia membiarkannya, inna Allah yumhil wa la yuhmil – sesungguhnya Allah membiarkan, tetapi Dia tidak melalaikannya, tidak meninggalkannya tanpa balasan.

Jadi orang tadi berkata kepada Syekhnya, “Aku harus menjual walnut dan orang-orang memukuli kepalaku?  Subhaanallah wa laa ilaaha illa ‘Llah,” dengan marah.  Syekhnya berkata, “Wahai anakku, jika seorang non-Muslim mengucapkan laa ilaaha illa ‘Llah ia akan menjadi Muslim dan akan masuk Surga, tetapi caramu mengucapkan laa ilaaha illa ‘Llah adalah ironis dan itu membuatmu melakukan dosa dan engkau tidak mempunyai tempat di sini sampai engkau bertobat.”  Syekhnya tetap tidak mengusirnya.  Syekh tidak mengenal doktor, tukang ledeng, tukan kayu atau tukang sampah, mereka semua adalah sama dalam pandangan rohaniahnya.

`Abdul Wahhaab as-Salahi, salah seorang yang sangat baik di Damaskus, yang merupakan seorang ulama besar ketika itu sedang bersama Grandsyekh `Abdullah al-Fa’iz ad-Daghestani (q).  Pada saat itu mereka tidak menggunakan mobil, sekitar 80 atau 60 tahun yang lalu dan Mawlana pergi bersamanya ke Masjid Sayyidina Muhyidiin ibn al-`Arabi menggunakan kereta yang ditarik seekor kuda.  Tiba-tiba seorang pria muncul dan mendatangi mereka.  Ia memandang `Abdul Wahhaab as-Salahi, menahan kudanya dan berkata, “Apakah engkau Syekh dari Mawlana Grandsyekh `Abdullah al-Fa’iz ad-Daghestani (q) atau apakah beliau adalah Syekhmu?”

Lihatlah, betapa hal-hal yang sangat rumit ada dalam tarekat.  Hal-hal semacam itu lebih tipis daripada sehelai rambut.  Ia mengatakan, “Tidak, aku bukanlah Syekhnya dan beliau pun bukan Syekhku.”  Ia mengatakan sesuatu yang secara teknis memang benar, bahwa ia bukanlah Syekh dari Grandsyekh dan Grandsyekh pun bukanlah Syekhnya.  Tiba-tiba orang itu menghilang; seolah-olah langit menelannya.  Grandsyekh mengatakan kepada kami bahwa beliau adalah salah satu dari Budala di Syam.  `Abdul Wahhaab as-Salahi bertanya, “Di mana dia?”  Grandsyekh berkata, “Ia ada di sana.  Tetapi bau dari kata-katamu begitu menjijikan sehingga ia meninggalkanmu.”

Apa salahnya untuk mengatakan, “Ia adalah Syekhku”?  Itu artinya memberi penghormatan dan kemuliaan dan Allah senang jika orang saling menghormati satu sama lain sehingga bau yang muncul dari mulut orang-orang itu seperti kisah `Abdul-Wahhaab Sya`rani yang disebutkan dalam kitabnya di mana seorang Syekh Naqsybandi ingin memoles ego muridnya dan menghancurkannya.  Jadi itu adalah untuk menunjukkan kepadanya bahwa egonya ada di sana dengan jawabannya yang salah.

Kembali kepada orang sebelumnya, ia berkata, “Aku?  Kau ingin agar aku melakukannya?  Aku sudah bersamamu selama 23 tahun!” Bahkan jika kalian sudah bersama Syekh kalian selama 100 tahun, tetap saja kalian harus memoles ego kalian.  Jadi itulah mengapa kami menjawab pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan pada malam hari.  Itu artinya jangan sombong! 

Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
Posted on March 30, 2012 by Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
http://eshaykh.com/dreams/does-shaykh-know-when-in-our-dreams/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s