Dari Siapa Kita Bisa Mengambil Tarekat? (Bagian 2)

Shuhbah Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Zawiyah Fenton, Michigan | 24 Agustus 2009

A`udzu billahi min ‘asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim. `Athi Allah wa `athi’ur Rasul wa uli’ l-amri minkum.

Kita membicarakan tentang dari mana kita dapat mengambil thariqah; siapa yang dapat mengajar dan memberi bay`at. Ada sebuah tanya-jawab antara Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه dan seorang tamunya, Syekh Abdur-Rahiim al-Maghribi dari Maroko, yang telah belajar di bawah bimbingan Sayyidina Khidr (as) selama sembilan tahun, menerima berbagai macam Ilmu Ilahiah.  Dan dari tanya-jawab mereka, kita dapat mempelajari karakteristik siapa seseorang itu dan dari mana kalian dapat mengambil tarekat.   

Ketika kalian ingin belajar tentang Alquran, kalian tidak dapat mengajari diri sendiri; kalian dapat menghafalnya, tetapi itu bukan jalan yang benar.  Kalian harus belajar dari seseorang yang mempunyai ijazah untuk mengajar Alquran, seorang qaari, karena mereka mengetahui cara pengucapan yang benar, tajwiid, tartiil, dan semua aturan pembacaan khusus lainnya, bagaimana setiap huruf diucapkan. Mereka telah dilatih melalui serangkaian qaari yang semuanya kembali kepada para Sahabat, yang belajar Alquran dari Nabi (saw). 

Serupa dengan itu, dalam ajaran rohaniah kalian harus mengambil dari seseorang yang telah mempelajarinya dari gurunya dan seterusnya hingga sampai pada Sahabat dan Nabi (saw). Kalian tidak bisa mengambilnya begitu saja dari seseorang; kalian harus mengambilnya dari seseorang yang telah merasakan dari Haqiqat, dan ia akan meletakkan (Ilmu Ilahiah) di lidah kalian dan di dalam hati kalian.  Sebagaimana yang kita katakan pada sesi sebelumnya, Syekh Abdur-Rahiim Maghribi bertanya, “Dari mana engkau mengambil thariqah ini?  Apakah dari seorang wali yang dapat bicara dengan orang-orang mati dari Timur ke Barat?” dan Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه menjawab, “Tidak!”  

Lalu ia bertanya, “Apakah dari wali yang tahu segala sesuatu di alam semesta, yang memuji dan mengagungkan Allah  dari Timur ke Barat?  Dapatkah aku mengambil thariqah darinya?  Dapatkah aku belajar dengannya?”  Dan sekali lagi Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه menjawab, “Tidak.”  

Lalu Abdur-Rahiim al-Maghribi tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan.  “Jika engkau tidak bisa mengambil dari wali itu dan tidak juga dari wali yang satunya lagi, lalu siapa yang memenuhi syarat untuk memberinya thariqah?” Kita tidak bicara tentang hal-hal yang berhubungan dengan ulama, di mana kalian dapat mengambil ilmu dari siapa saja.  Di dalam thariqah ada batasan-batasan dan wali yang tidak mempunyai hak atau otoritas tidak dapat mengajar dan ia akan diam.  Banyak awliya yang tidak diketahui atau dikenal orang-orang, mereka diam.  Apa manfaat dari ajaran wali bila ia tidak dapat mengangkat kalian sampai pada levelnya?  Itulah sebabnya ketika Grandshaykh, semoga Allah memberkatinya, diminta untuk menerima tanggung jawab bagi thariqah ini, beliau berkata, “Aku tidak menginginkan tanggung jawab itu.” Syekh beliau, Syekh Syarafuddin قدس سرّه, berkata, “Tak seorang pun diperintahkan untuk membawa thariqah. Mengapa kau mengatakan ‘tidak’?” Grandshaykh berkata, “Apa manfaatnya yaa Sayyidii, jika aku tidak dapat mengangkat murid-murid ke levelku ketika mereka duduk bersamaku?”

Jadi awliya tahu pentingnya memberikan thariqah.  Saya akan mengutip di akhir bagaimana buruknya mendengar seseorang yang tidak mempunyai tanggung jawab untuk mengajar thariqah, karena semua ajarannya akan menjadi negatif pada diri kalian, karena ia tidak memenuhi persyaratan dalam memberikan thariqah

Jadi Syekh Abdur-Rahiim Maghribi bertanya lagi pada Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه untuk ketiga kalinya, “Dapatkah aku mengambil atau mempelajari thariqah dari seorang wali yang sanggup mencapai bagian bawah Arasy dan semua maqam di bawahnya?” Itu artinya bahwa wali itu telah mencapai kemampuan untuk sujud di bawah Singgasana Allah.  Dan Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه tetap diam, lalu ia bertanya lagi, “Yaa Sayyidi, demi Allah, dapatkah aku mengambil thariqah dari seseorang yang mampu mencapai level di bawah Arasy dan seluruh maqam di bawahnya?” Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه kembali menatapnya dan berkata, “Tidak.” 

Jika ini “tidak”, dan itu “tidak”, dan yang ini “tidak”, dari mana ia akan mengambil ilmu itu?  Itu artinya apa pun yang kita bicarakan itu belum dari level yang benar untuk diajarkan, yang artinya kalian belum memenuhi syarat untuk mengajarkan dan orang-orang yang mendengar belum mendapat thariqah dari sisi yang benar–mereka mengambil dari nama ajarannya, tetapi belum mengambil rahasia darinya.

Para  awliya berusaha untuk mendapat rahasia dari setiap kata yang mereka ucapkan, untuk dicurahkan ke dalam hati kalian! Kemudian ia bertanya, “Bagaimana tentang orang yang telah mencapai alam semesta dan tujuh langit dalam sekejap tanpa berpindah dari posisinya, dan ia dapat berada di segala tempat yang Allah ciptakan?  Dapatkah aku belajar darinya dan mengambil thariqah darinya?” Bagaimana menurut kalian, apa yang Sayyidina Abdul-Khaliq قدس سرّه katakan, ya atau tidak? Beliau berkata, “Tidak!”  Jadi, lalu dari mana ia dapat mengambil thariqah?!!  

Syekh Abdur-Rahiim Maghribi tidak mempunyai kata-kata lagi, dan ia bertanya kepada Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه, “Lalu kepada siapa aku akan menyerahkan diriku sendiri?  Siapa orang itu?” Sebelum sampai di sana, ia tidak menyerahkan dirinya.  Ia terus mengajukan pertanyaan, menunjukkan bahwa ia mengetahui sesuatu, dengan bertanya, “Dapatkah aku mengambil thariqah dari orang yang bisa menjangkau orang mati, atau dari orang yang mengetahui tasbih seluruh ciptaan kepada Allah?” Ia memuji egonya di sana.  Ketika ia bertanya, “Dapatkah aku mengambil dari orang yang bertasbih di bawah Arasy?” Ia memperlihatkan bahwa ia tahu semua level yang beragam dari awliya.  

Ketika Sayyidina Abdul-Khaliq قدس سرّه mengatakan kepadanya, “tidak”, barulah ia menyerah. Ia sampai pada titik di mana ia sadar, “Ya Sayyidii, aku tidak tahu.”  Melalui pelajaran itu, Sayyidina Abdul-Khaliq قدس سرّه mengajarkan kepadanya, “Jangan tunjukkan pengetahuanmu di hadapanku.”  Banyak orang yang bicara terus; mereka senang menunjukkan bahwa mereka tahu segala hal, dalam kehidupan normal atau kehidupan spiritual.  Kita semua berusaha untuk mengatakan bahwa kita tahu sesuatu.  Dalam kehidupan normal, hal itu tidak masalah, tetapi lebih baik diam dalam hadirat seorang wali. Jangan bicara!  Jika kalian bicara, kalian membuat suatu kesalahan.  Jika tidak bicara, kalian aman. Orang yang memberi presentasi senang untuk menunjukkan diri sendiri; mereka tidak berserah diri. Mereka bertanya, “Apakah kalian suka membuat presentasi?” dan mereka berlomba-lomba untuk itu, agar mendapat ketenaran.  Jika kalian bertanya pada awliyaullah, “Apakah engkau ingin membuat presentasi atau sebuah wawancara?” mereka akan menjawab “tidak.”  Mereka tidak suka (bicara) kecuali terpaksa.  

Jadi Syekh Abdur-Rahiim Maghribi bertanya.  “Apa yang harus kulakukan sekarang?  Aku berusaha untuk mengerahkan semua pengetahuanku untuk mengetahuinya.”   Seperti halnya insiden dengan Syekh Ahmad al-Badawi dari Mesir.  Kalian tahu ceritanya.  Ia berdoa, “Bukalah Pintu-Mu, ya Rabbii!” dan seseorang datang dan berkata, “Aku mempunyai kunci-kuncimu, berserahdirilah padaku.”  Ia menjawab, “Memangnya siapa aku musti berserah diri padamu?!”  Berserah diri kepada Allah, OK, tetapi ada disiplinnya: pertama (berserah diri dulu) kepada guru, lalu kepada Nabi (saw) dan kemudian kepada Allah .  Jadi ia menjawab, “Aku hanya akan mengambil kunci dari Sang Pembuat Kunci langsung!”  Lalu orang itu pergi dan Ahmad al-Badawi mendengar sebuah suara, “Apakah kau menginginkan kuncimu? Aku meninggalkannya pada seorang wali yang baru saja kau usir!”

Jadi sekarang ia tahu bahwa ia harus mengambilnya dari orang itu, tetapi egonya menghalanginya.  Sayyidina Ahmad al-Badawi mencari wali itu, ia berlari, berlari, berlari selama enam bulan, dan itu mengajarkannya bersabar.  Akhirnya wali itu muncul di hadapannya. Sayyidina Ahmad al-Badawi berkata, “Wahai saudaraku!  Dari mana saja engkau?” Wali itu menjawab, “Aku di sini, tetapi kau tidak bisa melihatku.””Bisakah aku mendapatkan kunci-kunciku?””Tidak, sudah terlambat wahai saudaraku.  Ketika aku datang dan menawarkannya kepadamu, kau menolak.  Sekarang kau menginginkannya, tetapi aku tidak akan memberikannya; ada harga untuk itu.”Sayyidina Ahmad al-Badawi berkata, “Aku akan membayarnya dengan seluruh kekayaanku, rumahku.””Kami tidak mengejar harta duniamu.””Lalu apa yang harus kuberikan?””Aku menginginkan ilmumu, semua ilmu yang telah kau ajarkan dan yang telah kau pelajari dari buku-buku dan amal ibadah yang telah kau lakukan, (katakan) ‘Aku bersedia, aku bersedia, aku bersedia.’  Kau selalu egois dan membandingkan segala sesuatu dengan dirimu.  Aku menginginkan keegoisan itu, egois dalam ilmu yang telah membangun egomu.”

Allah berfirman di dalam Alquran suci: 

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىَ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Afaman assasa bunyaanahu `ala taqwa mina Allahi wa ridwaanin khayrun am man assasa bunyaanahu `ala syafaa jurufin haarin fanhara bihi fii naari jahannama w’Allahu laa yahdi ’l-qawma azh-zhaalimiin

Lalu manakah yang terbaik? – orang-orang yang mendirikan masjidnya atas dasar taqwa kepada Allah dan rida-Nya? – atau orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersamanya ke neraka Jahanam.  Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Suratu ’t-Tawbah [9:109] 

Di tepi jurang itu akan jatuh ke neraka.  Itu artinya kalian tidak dapat membangun ilmu kalian pada ego, karena ego akan dipotong bila kalian berada dalam thariqah karena ego akan runtuh cepat atau lambat.  Jadi (wali itu berkata padanya) “Aku tidak dapat membiarkan kau memiliki ilmu ini.” Ahmad al-Badawi merupakan Grand mufti di Tanta, daerah di Mesir, sangat terkenal, dan dua juta orang mengunjungi makamnya setiap tahun.

Wali itu berkata, “Berikan ilmu itu kepadaku.”Ahmad al-Badawi berkata, “OK.” Jadi ia melihat ke dalam mata wali itu dan wali itu menarik semuanya keluar, bagaikan magnet menarik logam.  Ia meninggalkan Ahmad al-Badawi tanpa mengetahui apa pun, bahkan satu kata pun, bahkan untuk membaca Surat al-Fatihah!  Bila kalian melakukan kesalahan dalam membaca Surat al-Fatihah, itu artinya awliya mengambil pengetahuan itu.  Jadi ia menarik segala sesuatu dari Ahmad al-Badawi sampai ia tidak mengetahui apa-apa, hingga anak-anak mengejar mereka, mengejeknya dengan berkata, “Dia tidak tahu apa-apa!”  Jika kalian kehilangan akal kalian, kalian akan baik-baik saja.  Setiap orang di seluruh dunia berpikir bahwa mereka mengetahui sesuatu.  

Lihatlah, ketika Mawlana Syekh, semoga Allah memanjangkan umurnya, memberikan nasihat harian melalui siaran langsung di sufilive.com, orang-orang juga senang untuk mendengarkan.  Mereka menghentikan pekerjaan mereka, menghentikan semuanya hanya untuk mendengar.  Mengapa?  Karena pesan beliau mencapai hati mereka dan mereka telah siap dalam menerima informasi itu.  Dan setiap orang begitu gembiranya dan memuji Mawlana dengan pujian yang tinggi karena kecintaan mereka terhadapnya, karena mereka tahu tanpa beliau mereka bukanlah apa-apa!  Jadi mereka yang menyaksikannya sungguh beruntung.  Bagi yang tidak menyaksikan; jika mereka mempunyai alasan seperti karena pekerjaannya, itu tidak apa-apa.  Tetapi yang lainnya (tidak menyaksikan) karena sombong dengan diri mereka.  Menurut kalian, memangnya kalian siapa?  Apakah Mawlana membuang-buang waktunya untuk siaran itu?!!  Berikanlah paling tidak setengah jam dari waktu duniawi kalian untuk melihat dan mendengar, itu lebih baik.  

Jadi dalam setiap hal, wali itu mengambil segala sesuatu dari Sayyidina Ahmad al-Badawi dan meninggalkannya selama enam bulan, dan anak-anak mengejar mereka sambil berkata, “Grand mufti kita menjadi gila!”  Dan ia mencari wali itu, mencari dan mencari, sementara wali itu menyembunyikan dirinya lagi. Kemudian ia muncul dan berkata, “Wahai Ahmad!  Apakah engkau siap?” Ia menjawab, “Aku siap.”(Itu setelah perjuangan yang panjang.)  Ia mendengar suara yang mengatakan, “Ambil kunci itu darinya.”

 Jika ia menerimanya sejak awal, ia pasti telah mencapai level yang lebih tinggi lagi! Wali itu berkata, “Lihatlah mataku sekarang.”  Lalu ia mencurahkan apa yang ada di dalam hatinya ke dalam mata Ahmad al-Badawi sampai ia tidak bisa melihat lagi, hingga matanya bagaikan kilat, dan wali itu membukakan Enam Haqiqat dari Hati, yang sebelumnya telah kita bicarakan berulang kali: Haqiqat Daya Tarik (Haqiqatu ’l-jazbah); Haqiqat Mengantarkan Berkah (Haqiqatu ’l-fayd); Haqiqat Memfokuskan (Haqiqatu ’t-tawajjuh); Haqiqat Perantaraan (Haqiqatu ’t-tawassul); Haqiqat Bimbingan (Haqiqatu ’l-irsyad); dan, Haqiqat Menggulung Ruang dan Waktu (Haqiqatu ’th-thayy). Setelah itu, tak seorang pun dapat melihat ke dalam mata Ahmad al-Badawi, mereka akan pingsan bila melihatnya.  Jadi pada akhirnya ia berserah diri.

Abdur-Rahiim al-Maghribi paham bahwa setiap pertanyaan yang ia ajukan, Syekhnya selalu mengatakan “tidak”.  Segala sesuatu yang ia tanyakan, Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه menjawabnya “tidak” untuk setiap pertanyaan.  Ia mengajukan lima pertanyaan, dan semuanya ditolak.  Lalu ia berkata, “Ya Sayyidii, ke mana aku harus memasrahkan diriku?”  Ia lalu mengerti, dan kemudian menjadi pasrah.  Di luar itu, tak ada yang dapat dicapai; jika kalian tidak berserah diri kepada kehendak syekh, kalian tidak bisa melangkah ke mana-mana atau mencapai sesuatu. Misalnya, setiap hari Mawlana Syekh memberikan pelajaran dan banyak orang yang menerjemahkannya ke dalam berbagai bahasa, dan jika kalian mendengar, itu saja sudah cukup; jika kalian mengerti atau tidak, rahasianya terpancar ke dalam hati kalian!  

Seperti halnya ketika komputer sedang mengambil, memuat (upload) informasi, kalian melihat garis-garis hijau (menunjukkan progres dari proses upload yang sedang berjalan) atau kalian menulis pesan atau gambar atau suatu lampiran, dan ketika kalian membukanya, lambat laun ia terbuka.  Tetapi di lain waktu kalian ingin melihatnya lagi, dengan cepat ia terbuka, tidak memerlukan waktu lama.  Sama halnya, Mawlana Syekh mengisi kalian dengan cahaya ini; kalian mungkin tidak memahaminya, tetapi ketika waktunya tiba untuk dibuka, ia sudah berada di sana (pada diri kalian).  Kalian akan bergerak seperti roket menuju level yang mereka ingin kalian capai.  

Sekarang kalian belum bisa diangkat; kalian mungkin mendengar sebuah shuhbah dan melupakannya, tetapi hati kalian tidak melupakannya, dan hati kalian telah mengunduh (download) informasi itu. Kalian telah mengunduhnya dan dalam waktu satu detik, kalian dapat mengecek dan melihatnya.Ketika saat mengunduh tiba dan syekh memberi kalian kunci kalian, itu akan membuka seluruh kata-kata bercahaya, rahasia ilmu yang beliau telah sampaikan sebelumnya, dan kalian dapat melihat dari level mana beliau berkata, di mana beliau berdiri, dan mengucapkan salam kepada Nabi (saw) dan mengucapkan syahadah. Dari mana beliau berdiri? Di mana? Apakah Mawlana Syekh berdiri di Lefke, di samping kursinya?  Ketika beliau berdiri mengucapkan salam kepada Nabi (saw), beliau berdiri di Hadirat Ilahiah dari Nabi (saw)!!!  

Dan ketika waktunya tiba, kalian akan melihatnya, apa yang telah kalian dengar dari beliau akan tampak sebagai Haqiqat. Itu akan muncul ketika kalian berserah diri, tetapi sekarang kita tidak berserah diri.  Bahkan kalian melihat orang-orang melakukan chatting.  Mengapa mereka melakukan hal itu ketika Mawlana Syekh sedang bicara?  Lakukan chatting sebelum atau setelahnya. Bila kalian berserah diri, maka komputer kalian akan siap untuk menerima semua informasi yang dimasukkan (upload) ke dalam hati kalian.   

Syekh Abdur-Rahiim al-Maghribi berkata, madha afal, “Aku berserah diri.  Apa yang harus kulakukan; aku perlu jawaban.  Aku datang kepadamu untuk berserah diri.  Kepada wali yang mana aku harus berserah diri?” Ia masih melakukan kesalahan, karena ia belum menyadari: wali yang kau bicarakan adalah yang bertanggung jawab atas dirimu!  Dengan mengatakan, “Wali yang mana,” lebih baik menjadi seorang pengembala dari pada biri-birinya.  Kau menanyakan semua pertanyaan ini dan beliau terus mengatakan “tidak”, dan di saat akhir, ia masih bertanya, “Wali yang mana?” Banyak orang seperti itu.  Kalian tidak merasa senang dengan wali yang kalian bicarakan itu?  

Kita akan melanjutkannya besok, insyaAllah. Bi hurmati l-Habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s