Tafsir Surat Al-Kautsar (bagian 1)

17861479_1307162532671430_8107538454058164747_n

Kami akan menjelaskan tentang Surat Al-Kautsar, Surat ke-108.

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Inna a`thaynaaka al-kautsar, fa shalli li rabbika wanhar, inna syaa-ni’aka huwa al-abtar”

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Karunia yang Banyak (Al-Kautsar). (1) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (2) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (3)

Allah (swt) berfirman, “Innaa a`thaynaaka al-Kautsar” — “Sesungguhnya Kami telah memberimu Al-Kautsar.”

Ia (swt) tidak mengatakan, “Kami sedang memberimu.” Ia (swt) tidak pula mengatakan, “Kami akan memberimu.” Ia (swt) mengatakan dalam bentuk lampau, “Innaa a`thaynaaka” — “Sungguh Kami telah berikan kepadamu…”

Ketika Allah (swt) berfirman, “Kami telah memberikan kepadamu,” itu artinya, “Kami telah memberikannya sebelum dirimu diciptakan dan sebelum apa pun lainnya diciptakan, Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar, Karunia Allah yang banyak.”

Apakah Karunia Allah yang banyak itu? Tidak ada penjelasannya, tidak ada detailnya, jadi tak seorang pun mengetahuinya. Allah (swt) mengatakan, “Sungguh Kami telah memberikan padamu,” bermakna, “Tak seorang pun tahu apa yang telah Ku-berikan padamu, Yaa Muhammad; Aku telah memberimu menurut Keagungan-Ku, tanpa batas.”

Artinya, dengan cara apa pun kalian berusaha memberikan batas atas Nabi (saw), itu adalah suatu kesalahan. Ketika kalian mengatakan, “Nabi (saw) adalah seseorang yang hanya membawa risalah dan kemudian wafat dan hanya itu,” maka mengatakan seperti itu adalah suatu kesalahan besar.

Setiap orang akan wafat, dan memang Nabi (saw) telah meninggalkan kehidupan fana dunia ini, tetapi itu bukan berarti beliau seperti diri saya atau diri kalian atau seperti yang lain. Tidak.

Allah (swt) tidak mengatakan pada nabi-nabi lain seperti apa yang telah Ia katakan pada Baginda Nabi (saw), “Kami telah memberikan padamu ‘Al-Kautsar’, ‘Sesuatu yang Banyak’.”

Dan apakah yang telah Ia (swt) katakan? Al-Kautsar. Kautsar berasal dari bahasa Arab “Katsiir.” “Katsiir” bermakna “terlalu banyak.” Kami telah memberimu sesuatu yang terlalu banyak. Bagaimana kemudian kita dapat membatasi sesuatu yang telah Allah karuniakan kepada Sayyidina Muhammad (saw)?

Apa pun kelebihan dan keutamaan yang telah kalian sebutkan saat memuji Nabi (saw), dan apa pun yang telah kalian puji tak ada bandingannya dengan apa yang telah Allah karuniakan pada beliau dan pada ketinggian maqam yang Ia (swt) telah tempatkan beliau di sana. Namun, kalian memerlukan keduanya, yaitu: akal dan hati untuk mampu memahami hal ini.

Pada hari ini, mereka (kaum Wahabi dan Salafi, red.) menyerang orang-orang, yang seperti Imam Muhammad al-Bushayri, memuji Nabi (saw) dengan penuh cinta. Sekalipun demikian, pada hari ini orang-orang tetap membaca syair-syair beliau, Al-Burdah asy-Syarif dan Al-Mudariyyah. Beberapa orang malah membacanya setiap hari. Dan sebagian orang yang lain mencela mereka, “Jangan, jangan kalian lakukan hal itu; itu berarti kalian memuji Nabi (saw) terlalu berlebihan.”

Dalam tiga ayat Surat Al-Kautsar ini, Allah (swt) telah memberitahukan pada diri kita, “Wahai umat manusia, katakanlah apa pun yang ingin kalian katakan untuk memuji Nabi (saw), sebanyak yang kalian rasa perlu untuk dikatakan sebagai pujian atas beliau, hal itu bukanlah syirik, karena kalian tak akan mampu memujinya sebagaimana Aku telah memujinya.”

Dan dari rahasia ayat-ayat Al-Kautsar inilah, Muhammad Al-Busayri mengatakan dalam Al-Burdah-nya, “Katakan apa pun yang ingin kau katakan tentang Nabi (saw), tetapi jangan katakan seperti orang-orang Kristen berkata tentang ‘Isa bahwa ia adalah Tuhan atau anak Tuhan.” Artinya, pujilah Nabi (saw) setinggi yang kalian inginkan untuk memuji beliau (saw).

دَعْ مَــا ادَّعَتْهُ النَّصَارٰى فِيْ نَبِيِّهِـمِ
وَاحْكُمْ بِمَا شِئْتَ مَدْحاً فِيْهِ وَاحْتَكِـمِ

“Tinggalkan apa yang dikatakan orang-orang Kristen tentang Nabi mereka (yaitu ‘Isa),
Lalu putuskan apa yang kau inginkan untuk memujinya.”

Jadi siapakah yang dapat memuji lebih tinggi daripada Ia (swt) yang telah mengatakan “Muhammadun Rasulullah” setelah “Laa ilaaha ill-Allah”?

Ketika seseorang ingin untuk memberi, misalnya saya ingin memberimu sesuatu, harus ada seseorang yang memberi dan seseorang yang lain menerima. Seseorang memberi dan seseorang menerima. Jika tak seorang pun menerima, bagaimana kalian dapat memberi? Apakah kalian memberikan sesuatu di udara? Tentu tidak.

Jadi ketika Allah (swt) berfirman, “Kami telah memberikan padamu,” maka pemberian ini bukanlah terjadi ketika di dunia, melainkan sudah terjadi sebelum dunia ini. Artinya, sesuatu telah diberikan oleh Allah (swt) pada seseorang yang telah wujud.

Karena itulah ketika Jaabir bertanya kepada Nabi (saw), “Apakah yang Allah ciptakan pertama-tama?” Beliau (saw) menjawab, “Yang pertama-tama Allah ciptakan adalah cahaya Nabimu, wahai Jaabir.” Dan cahaya itu berputar dalam Bahru ‘l-Qudrah, Samudra Sifat Kekuasaan Allah. Di sana, beliau berputar, mengumpulkan energi lebih banyak dan lebih banyak lagi.  Ketika seseorang berputar ia mengumpulkan gaya sentrifugal.  Lebih banyak dan lebih banyak lagi kekuatan terkumpul ketika cahaya beliau (saw) berputar dalam Bahr al-Qudrah.

Dan hadits tersebut berlanjut, dari cahaya itu Ia (swt) menciptakan makhluk, dan dari seperempat cahaya itu, dunia diciptakan.

Artinya, “Kami telah memberikan padamu karunia yang tak bisa dijelaskan. Kami telah memberimu ‘al-katsiir, min kulli syai-in,’ dari apa pun yang telah Kami ciptakan, Kami berikan kepadamu, Yaa Muhammad, bahkan lebih dari itu.”

Jadi apa yang telah diberikan kepada Nabi (saw)? Itu adalah sesuatu yang tak seorang pun mengetahuinya. Artinya pula, apa pun maqam yang Allah telah karuniakan pada beliau, tak seorang pun mengetahuinya. Tak seorang pun kecuali Allah yang mengetahuinya. Tak seorang pun lainnya.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Dzikrullah Membawa Kita ke Maqam Tertinggi

17855142_10154509516290886_1807937837903623257_o

Dzikrullah membawa kalian ke maqam (tingkatan) tertinggi, dan maqam tertinggi itu adalah dengan membaca Al-Qur’an Suci. Bagaimana kalian dapat membaca Al Qur’an suci dengan cara yang paling sempurna? Alquran Suci adalah Sulthan adz-Dzikr, Rajanya Dzikir: tidak ada satu buku atau kitab pun yang menyerupai Kitab Suci Allah, bahkan seluruh Hadits-hadits Nabi (SAW) tidak dapat dibandingkan dengannya. Allah SWT mewahyukan Qur’an Suci kepada Nabi (SAW) dan Nabi (SAW) menyampaikannya kepada para Sahabat (radiyAllahu Ta’ala ‘anhum). Apakah haqiqat sejati dzikrullah? Hakikat dzikrullah adalah untuk mengingat-Nya, dan untuk mengingat-Nya adalah suatu hal yang amat mulia, tetapi mengingat-Nya saja tidaklah cukup.

Ketika kalian membaca Al-Qur’an Suci, Allah (SWT) ‘duduk’ bersama kalian, sebagaimana disebutkan dalam suatu Hadits (*), namun bukan berarti Ia SWT sungguh-sungguh ‘duduk’; arti yang sebenarnya ialah Allah (SWT) tengah hadir bersama kalian di Hadirat Ilahiah. Ia SWT membawa kalian ke Hadirat Ilahiah-Nya ketika kalian membaca Qur’an Suci. Jadi, jika kalian suka untuk berada di Hadirat Ilahi, bacalah Alquran Suci! Mungkin kalian tak melihatnya sekarang, namun jika seseorang mampu melihat Haqiqat segala sesuatu, mereka dapat melihat bahwa Qur’an Suci adalah bentuk tertinggi dari dzikrullah dan bahwa Allah Ta’ala membawa diri kalian lebih dekat dan lebih dekat kepada-Nya ketika kalian membacanya. Karena itulah ketika seseorang menyela kalian saat kalian membaca Qur’an Suci, hal ini bertentangan dengan etiket membaca Alquran. Ketika kalian tengah membaca Alquran, mereka tidak boleh menyela dan bercakap-cakap dengan kalian, dan kalian pun semestinya tidak berbicara dengan mereka.

Syaikh Hisham Kabbani.

Catatan:
(*) Hadits Qudsi dari Nabi SAW, “Ana jalisu man dzakaranii” “Aku duduk bersama orang yang berdzikir mengingat-Ku”. Hadits riwayat Imam Ad-Dailami dengan sanad dha’if, namun terdapat hadits dengan makna serupa dalam Sahih Bukhari, dengan matan:
وأنا معه إذا ذكرني
“Dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku”

Tanda-Tanda Seorang Darwis Sejati

24139781894_56f7736efe_z

Syekh Hisyam Kabbani
30 Januari 2016   Zawiyah Fenton, Michigan
Shuhba Zhuhr

Grandsyekh `AbdAllah, semoga Allah memberkahi ruhnya, pada suatu hari berkata di dalam shuhba-nya mengenai tanda-tanda atau gambaran tentang seorang darwis.  Seperti dalam pertemuan ini misalnya kita katakan keluarkan tasbih kalian dan bertasbihlah; sebagian membawanya, yang lain tidak.  Kalian harus selalu siap sedia, seperti halnya ketika di padang pasir atau di dalam hutan, kalian merasa takut dengan harimau sehingga kalian membawa sebilah pisau karena kalian tidak tahu siapa yang menyerang kalian.  Agar tidak diserang oleh Setan, karena setiap saat ia dapat menyerang kalian–kalian harus membawa kelima tanda ini, sehingga ketika seorang wali melihat, ia akan mengetahui apakah kalian seorang darwis atau bukan.  

Tanda pertama adalah bahwa kalian selalu membawa al-Qur’an, atau jika kalian tidak mempunyai hafalan, basahilah lidah kalian dengan zikrullah sebagaimana disebutkan dalam Hadits Nabi (saw):

عن عبد الله بن بسر رضي الله عنه أن رجلا قال: يا رسول الله إن شرائع الإسلام قد كثرت علي فأخبرني بشيء أتشبث به؟ قال لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله” الترمذي.

Seorang  pria mendatangi Nabi (s) dan berkata, “Ya Rasulallah!  Syari`at Islam sangat berat bagiku, oleh sebab itu berikanlah aku sesuatu yang dapat aku pertahankan.” Nabi (saw) bersabda, “Basahilah lidahmu dengan zikrullah.” (Tirmidzi)

“Aku merasa kewalahan dengan aturan-aturan di dalam Islam,” Nabi (saw) bersabda, “Kalau begitu, basahilah lidahmu dengan zikrullah.” Zikrullah yang pertama adalah al-Qur’an.  Kalian harus mempunyai al-Qur’an untuk menjadi seorang darwis.  Bahkan jika kalian membacanya dalam hati atau melakukan zirullah dalam hati, para malaikat akan datang karena mereka mendengar kalian.  Bila kalian membacanya dengan keras, mereka dapat mendengar kalian, tetapi bila kalian membacanya dalam hati, mereka juga dapat mendengar kalian bahkan itu lebih baik lagi kerena lebih banyak berkahnya.

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan hati dan dalam rasa takut, tanpa mengeraskan kata-kata, di waktu pagi dan sore.  Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (Surat al-A’raf, 7:205)

“Bacalah zikir itu dalam hati ketika kalian pergi keluar rumah pada siang hari dan sore hari,” karena Allah tidak menyukai orang yang sombong, yang suka pamer, “Aku membaca al-Qur’an,” atau “Aku melakukan zikrullah,” jadi bersikaplah rendah hati.  Jadi tanda pertama seorang darwis adalah zikrullah.  

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami yang menurunkan adz-Dzikra (al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.. (Surat al-Hijr, 15:9)

Ketika Allah mengatakan bahwa Dia melindungi al-Qur’an Suci, artinya Dia melindungi orang yang membacanya, memelihara mereka, karena mereka memelihara Kalamullah, terlebih lagi para huffazh, mereka yang menghafal al-Qur’an.  Sungguh besar berkah mereka bagi orang-orang yang ada di sekitarnya, karena mereka akan bersinar bagaikan lampu sorot pada Hari Kiamat.  Tidak seperti kita, orang lain yang tidak menghafal.  Sekarang orang-orang berkata, “Apakah aku dapat menghafalnya?”  Ya, kalian dapat menghafalnya, tetapi itu sulit, karena kita mempunyai ini itu.  Hadits Nabi (saw) mengatakan, “Membaca Qul Huw Allah tiga kali seolah-olah kalian telah membaca seluruh Qur’an, sepenuhnya.”    

Jadi itulah sebabnya salah satu awrad di dalam zikrullah yang harus dilakukan oleh seorang darwis adalah membaca 100 kali Qul Huw Allahu Ahad, hingga 1000 kali setiap hari.  Itu adalah tanda seorang darwis, yaitu orang yang menjaga zikrullah.  Yang memegang al-Qur’an Suci.  Karena kalian tidak bisa membawa al-Qur’an secara fisik ke tempat kerja kemudian kembali, kalian dapat membaca Qul Huw Allahu Ahad atau apa pun yang kalian hafal.  Sekarang orang-orang di dalam mobilnya menyetel qasidah.  Hal itu baik, tetapi mengapa kalian tidak menyetel Qur’an?  Paling tidak kalian dapat menghafalnya pada saat berangkat dan pulang ke rumah.

Jadi tanda pertama bagi seorang darwis, seorang yang sederhana yang berdiri di Pintunya Nabi (saw) dan Pintunya Allah (swt), adalah mempunyai zikrullah.  Awliyaullah, mereka dapat melihat pada dahi kalian, tanda zikrullah, yaitu Laa ilaaha illa ‘Llah Muhammadun Rasuulullah.  Ketika mereka melihat kalian, mereka dapat melihat pada wajah kalian, pada dahi kalian,  Laa ilaaha illa ‘Llah Muhammadun Rasuulullah, khususnya bagi Muslim; bagi non-Muslim, kita tidak membicarakannya.  Setiap Muslim akan mempunyai zikrullah tertulis di dahinya, tetapi bila ia melupakan zikrullah, tulisan Laa ilaaha illa ‘Llah Muhammadun Rasuulullah itu akan memudar kemudian lenyap.  Jadi Awliyaullah dapat melihat, “Oh, apa yang terjadi dengan orang ini?  Sebelumnya tertulis Laa ilaaha illa ‘Llah, tetapi sekarang sudah pudar, sudah menghilang, artinya ia telah mengabaikan awrad-nya, mengabaikan zikrullah.  

Zikrullah tidak sama dengan sebuah perkuliahan, ia adalah nasihat.

الدين نصيحة
Agama adalah nasihat.

Kuliah tidak akan mengangkat derajat kalian lebih tinggi seperti halnya zikrullah.  Jika kalian mengucapkan, “Laa ilaaha illa ‘Llah” sekali, itu akan membawa kalian ke Surga.

من قال لا اله الا الله دخل الجنة

Barang siapa yang mengucapkan, “Laa ilaaha illa ‘Llah” masuk Surga.

Jadi  zikrullah adalah penting bagi mereka yang menganggap dirinya darwis.  Jangan peduli dengan apa yang dikatakan orang, pedulilah dengan apa yang dikatakan oleh malaikat.  Jika malaikat melihat ‘Laa ilaaha illa ‘Llah Muhammadun Rasuulullah’ tertulis di dahi kalian, mereka tahu bahwa kalian berasal dari adz-dzaakiruun, orang-orang yang berzikir.  Itulah sebabnya zikrullah dianjurkan dalam berbagai tarekat, mereka melakukan zikir jahar (dengan suara keras), itu tidak masalah karena mereka ingin agar orang-orang dapat mendengar.  Sebagian yang lain seperti Naqsybandi, mereka melakukan zikir khafi di dalam awrad mereka.

Untuk melakukan zikrullah, kalian harus mempersiapkan diri kalian.  Agar bersih suci, bagaimana caranya agar kita menjadi bersih suci?  Dengan membaca Dalaa’il al-Khayraat.  Tanda kedua bagi seorang darwis, seorang yang sederhana yang mencari Hakikat.  Hakikat itu bukannya berapa banyak kalian mempunyai ini itu.  Kalian bisa saja miskin, tetapi lebih kaya dalam zikrullah, kalian akan lebih tinggi (derajatnya) di Surga atau lebih tinggi di dunia melalui timbangan para malaikat.  Walaupun dengan harta sedikit, malaikat dapat membuat kalian bahagia dengan apa yang kalian miliki melebihi apa yang dimiliki oleh orang kaya yang tidak melakukan zikrullah, karena Allah (swt) dapat mengirimkan penyakit kepada mereka, sementara orang miskin yang berzikir, mereka tidak mempunyai beban berat pada diri mereka.  Jadi kalian lebih baik daripada mereka.  Jadi untuk mempersiapkan diri kalian, kalian harus membaca shalawat Nabi (saw)

وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا

Masuklah ke rumah itu melalui pintu-pintunya. (Surat al-Baqarah, 2:189)

“Datanglah ke tujuanmu melalui pintumu,” kata buyuut mempunyai banyak makna, salah satunya adalah “tujuan”, setiap orang mempunyai pintu masing-masing, jangan berpikir bahwa itu akan sama.  Tidak!  Karena setiap orang akan mencapai sesuatu, jadi sesuai dengan apa yang akan dicapainya setiap orang akan masuk melalui pintu yang telah ditentukan baginya.  Seperti contoh di dalam al-Qur’an suci mengenai saudara dari Sayyidina Yusuf (as).  Sayyidina Ya`quub (as) berkata kepada anak-anaknya,

وَقَالَ يَا بَنِيَّ لاَ تَدْخُلُواْ مِن بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُواْ مِنْ أَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنكُم مِّنَ اللّهِ مِن شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

Dan ia menambahkan, “Wahai anak-anakku!  Janganlah kalian semua memasuki [kota] melalui satu pintu, masuklah dari pintu yang berlainan, namun demikian aku tidak dapat melepaskan kamu daripada [apa yang dikehendaki oleh] Allah: keputusan untuk menetapkan sesuatu ada di tangan Allah.  Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan hendaknya hanya kepada-Nya orang-orang bertawakkal dan bereserah diri.” (Surah Yusuf, 12:67)

“Masuklah lewat pintu yang berbeda.”  Kalian tidak bisa masuk lewat pintu saudara kalian, karena itu tidak ditetapkan untuk kalian, pintu itu mempunyai kode, kalian akan terperangkap di sana.  Sayyidina Ya’quub (as) mengatakan kepada mereka bahwa ada pintu yang berbeda-beda dan setiap orang harus memasuki pintunya masing-masing.  Karena jika orang itu melihat pintu saudaranya, ia bisa cemburu.  Jadi agar tidak terjadi kecemburuan pada saat itu–karena Allah mengawasi mereka, apa yang akan mereka katakan kepada Sayyidina Yusuf (as) ketika mereka sampai.  Jadi setiap orang harus melewat pintu yang telah ditentukan baginya.  Jadi mereka masuk melalui pintu yang berbeda-beda.

Kalian juga mempunyai pintu-pintu yang berbeda, tergantung seberapa banyak yang akan kalian capai, apakah lebih banyak atau lebih sedikit.  Jika kalian mencapai lebih banyak, pintu kalian berbeda dan yang lain tidak dapat memasukinya.  Dapatkah kalian memegang kabel listrik?  Kalian akan terbakar, tetapi jika kalian memakai sepatu kayu atau berdiri pada suatu insulator–bahan penyekat, kalian dapat memegangnya bahkan dengan voltase yang lebih besar, karena kalian telah menyekat diri kalian dengannya.  Kalian tidak mengetahui shalawat mana yang dapat menyekat diri kalian dan itulah sebabnya mengapa Muhammad al-Talmaysani (q), salah satu orang saleh yang membaca Dalaa’il al-Khayraat 100,000 kali, ia sangat bergembira dan menghadiahkannya kepada Nabi (saw) kemudian ia tidur dan di dalam mimpinya Muhammad al-Talmaysani (q) bertemu Nabi (saw).  Beliau (saw) berkata, “Wahai Muhammad al-Talmaysani, aku akan mengajarimu sebuah shalawat yang setara dengan membaca Dalaa’il al-Khayraat 800,000 kali.”  Kalian lihat bahwa ia membaca seluruh Dalaa’il al-Khayraat tetapi tidak mendapatkan itu, ia mendapatkan yang lainnya tetapi Nabi (saw) mengatakan kepadanya tentang shalawat ini–dan banyak pula shalawat lainnya yang dikatakan oleh Nabi (saw) kepada orang-orang lainnya, bukan kepada Sahabat.  Jadi jika kalian membacanya, kalian akan mendapat pahala seolah-olah telah membaca Dalaa’il al-Khayraat 800.000 kali.  

Jadi setiap orang mempunyai sebuah pintu dan pintu kita harus melalui Nabi (saw).  “Masuklah ke dalam rumah melalui pintu-pintunya.”  Jadi pertama adalah zikrullah.  Untuk melakukan zikrullah, kalian harus membuka pintunya melalui shalawat.  Itulah sebabnya di dalam awrad kita membaca shalawat Nabi (saw) mulai dari 300 hingga 24.000 kali sehari.  Kalian adalah darwis, lidah kalian sibuk, kalbu kalian sibuk dan kalian tetap bekerja.  Kalian dapat melakukan ketiganya secara bersama-sama.  Kalian harus bekerja, dan kalian harus melakukan zikrullah, dan kalian harus melakukan shalawat tanpa interupsi.  Seorang darwis yang menyerahkan dirinya kepada Allah (swt) dapat melakukan shalawat, zikrullah dan melakukan pekerjaannya sekaligus.  Karena ia tidak mengatakan, “Aku mendedikasikan waktuku 1 jam untuk membaca al-Qur’an”, tidak; atau untuk melakukan shalawat, tidak, ia secara terus-menerus menyelam dalam samudra zikrullah dan al-Qur’an suci dan menyelam di dalam samudra Nabi (saw), sehingga tubuhnya seperti yang dikatakan oleh Nabi (saw),

لي ساعة مع الرب وساعة مع الخلق

Aku mempunyai satu wajah, satu sisi (atau satu jam) bersama Tuhanku dan satu sisi (atau satu jam) bersama makhluk.

Jadi seorang darwis yang mewarisi dari Nabi (saw), ia akan menemukan banyak waktu karena tubuhnya secara terus-menerus menjadi dzaakir, selalu mengingat!  Seperti angin yang membuat kipas angin terus berputar, jadi angin zikrullah di mana malaikat menghasilkan humbusan semacam ini membuat tubuh kalian terus bertawaf dalam zikrullah mengelilingi al-Qur’an suci, jadi ini tidak menghentikan kalian dari pekerjaan kalian, kalian tetap bekerja.  Pada saat itu kalian mulai melakukan shalawat dan sesuai dengan seberapa kuat shalawat yang kalian ikuti, kalian akan ditetapkan pintunya dan itulah pintu kalian di Hari Kiamat dan pintu kalian ketika masuk ke alam kubur dan itu akan menjadi pintu kalian di dunia!  Awliyaullah dapat mendeteksi pintu itu baik bagi dirinya sendiri maupun bagi para pengikutnya.  Ketika mereka menugaskan para pengikutnya untuk melakukan beberapa awrad, khususnya beberapa awrad yang berbeda dari awrad lainnya.  Dan setiap wali mempunyai awrad-nya masing-masing yang mereka pelajari dari Nabi (saw) karena ada 124.000 wali.  Kita mengikuti seorang wali, beliau membimbing kita, kita mengikutinya, alhamdulillah.  Kita tidak berusaha untuk melompat dari satu wali kepada yang lain, yang lain, dan yang lain lagi, karena itu akan mengacaukan pintu kalian.  Tidak ada satu pintu pun yang akan dibukakan bagi kalian.    Jagalah satu pintu itu.  Pintu itu adalah pintu yang akan membawa kalian kepada Nabi (saw) dan dari beliau kepada Allah (swt).  

Jadi, apa yang kita katakan?  Pertama, kalian mempunyai al-Qur’an bersama kalian, dengan jalan menghafalnya atau melalui kitab secara fisik atau dengan membaca Qul Huw Allahu Ahad, kemudian Dalaa’il al-Khayraat, Shalaat al-Ibrahimiyya, atau shalawat lainnya yang dikenal oleh setiap orang. Itu akan membawa kalian menuju pintu kalian.  Dan bila kalian telah membuka pintu kalian, itu tidak akan tertutup, seperti sekarang ini, kalian dapat mempelajari dari apa yang ada di sekitar kalian.  Orang-orang sekarang bermain video game, mereka melewati satu level, kemudian pintu berikutnya terbuka untuk melanjutkan permainan kalian.  Dari satu level ke level berikutnya dan itu semakin sulit dan semakin sulit.  Ketika kalian mendekati Level Ilahiah dari Nabi (saw), ketika pintu itu terbuka dan kalian memasukinya, jangan mengharapkan itu akan menjadi mudah; tidak!  Mereka ingin melihat seberapa besar kesabaran kalian dalam menjaga awrad kalian, menjaga kehidupan normal kalian dan menjaga waaridaat–inspirasi yang masuk ke dalam kalbu kalian dan mengikuti apa yang harus kalian ikuti untuk maju lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.  Itu akan sangat menyakitkan, karena terlihat bahwa kalian akan mencapai tujuan kalian, tetapi ketika kalian mendekat untuk mencapai cakrawala itu, ternyata kalian melihat cakrawala lainnya!  

Ketika Awliyaullah mulai menyelam dalam cinta terhadap Sayyidina Muhammad (saw) dan cinta kepada Allah (swt), mereka menemui kesulitan itu.  Kadang-kadang orang berkata, “Ketika kami melakukan awrad, kami merasa berat,” karena ketika mereka membukakan lebih banyak pintu, itu akan semakin kuat, misalnya, bukan 100, 240 atau 360 volt, tetapi seperti voltase terkuat yang langsung berasal dari transformator, kalian akan memasuki daerah transformator tersebut, dengan voltase yang sangat kuat.  Orang menuliskan tanda peringatan, “Awas tegangan tinggi!”  Karena kalian bisa tertarik, seperti Sayyidina Musa (as), apa yang terjadi padanya?  Beliau tertarik, ketika beliau memasuki pintu-pintu ini, masuk ke pintunya Nabi (saw) dan sampai ke gerbangnya Hadratillah kemudian beliau berkata, “Oh, aku sudah ada di sini, izinkalah aku melihat-Mu.”  Allah menjawab, “Kau tidak dapat melihat-Ku.”  Karena beliau meminta, namun beliau tidak diberikan kekuatan itu.  Apa yang terjadi?  Ketika Allah mengirimkan satu tajali, itu sudah cukup.  Gunung menjadi hancur.  Allah berifirman, “Lihatlah gunung itu.”  Karena Allah ingin membuatnya mudah bagi Sayyidina Musa (as) sebagaimana Sayyidina Ya`qub (as) ingin membuatnya mudah bagi anak-anaknya sehingga beliau memerintahkan, “Masuklah dari pintu yang berbeda.”      

وَلَمَّا جَاء مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَن تَرَانِي وَلَـكِنِ انظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ موسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan ketika Musa datang [ke Bukit Thursina] pada waktu yang telah ditetapkan dan Tuhan telah berbicara langsung dengannya, berkatalah Musa, “Wahai Tuhanku!  Tampakkanlah Diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu!”  Tuhan berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke bukit itu; jika ia tetap berada di tempatnya niscaya engkau dapat melihat-Ku.”  Ketika Tuhan menampakkan Diri-Nya kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.  Dan setelah sadar kembali ia bicara pada dirinya, “Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada-Mu dan aku menjadi orang yang pertama-tama beriman”. (Surat al-`Araf, 7:143)

Voltasenya akan terlalu tinggi bila kalian masuk melalui pintu yang sama.  Jika seseorang mendapat 120 volt, yang lain 120 volt, maka itu menjadi 240 volt, ditambah yang lain menjadi 360; jadi itu terakumulasi di dalam satu pintu, sehingga jika kalian masuk ke sana, kalian akan selesai.  Seperti yang terjadi pada Sayyidina Musa (as), Allah mengirimkan sedikit (tajali) dan itu menghancurkan seluruh gunung.  Jadi kita harus berhati-hati.  Ketika kita sedang melakukan zikrullah, ya kadang-kadang terasa berat di dada.  Ketika hal itu terjadi, bacalah shalawat.  Shalawat selalu menjadi proses menenangkan.  Shalawat Nabi (saw) sangat dianjurkan karena Asmaullah al-Husna begitu kuatnya, membawa kekuatan yang luar biasa dan kadang-kadang orang tidak kuat menerimanya, tetapi untuk shalawat–itulah sebabnya di Mekah, shalawat di sana setara dengan 100.000 kali, sedangkan di Madinah setara dengan 24.000 kali.  Shalawat selalu menenangkan kalian, seperti halnya hembusan angin sejuk yang menyejukkan kalian sehingga kalian dapat melanjutkan awrad kalian.  Jadi dua tanda yang harus kalian bawa adalah Qur’an Suci dan  Dalaa’il al-Khayraat.  Ketiga lainnya saya lupa (tertawa).  Tanda lainnya adalah miswak (batang kayu dari pohon Arak/Niim).  Seorang darwis harus tahu bahwa ia harus selalu datang dalam keadaan suci, sebagaimana Nabi (saw) bersabda,

لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة

Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan memerintahkan mereka untuk menggunakan miswak sebelum melakukan salat. (Abu Hurayrah; Bukhari dan Muslim)

Menggunakan miswak sebelum salat menjadikan pahalanya 27 kali lipat.  Jadi sebelum memulai zikrullah kalian bersiwak, sebelum kalian bershalawat kalian bersiwak, jadi miswak itu diperlukan sebagaimana kalian membawa zikrullah dalam kalbu kalian atau secara fisik membawa al-Qur’an dan Dalaa’il al-Khayraat, kalian juga harus senantiasa membersihkan mulut kalian.  Grandsyekh (q), semoga Allah memberkati ruhnya mengatakan bahwa pada suatu ketika orang-orang kafir menyerang Nabi (saw) dan Nabi (saw) memerintahkan Sahabat untuk mengeluarkan miswak-nya, lalu duduk di tanah, mengangkat satu lututnya dan bersandar padanya, lalu membaca Allahumma thahhir qalbii min asy-syirki wan-nifaaq, “Ya Allah!  Sucikanlah kalbuku dari syirik dan kemunafikan,” itu akan mensucikan kalbu kalian pada saat itu dari syirik tersembunyi dan kemunafikan, karena ketika kita memasuki salat kita, segala macam gosip buruk, segala macam hal buruk masuk ke dalam pikiran kita dari alam bawah sadar kita, karena kita selalu mengunduh informasi yang buruk ke dalam “chip” dalam pikiran kita, dan untuk membersihkannya kita menggunakan miswak.  

Kamudian kalian memerlukan sajadah agar kalian siap untuk melakukan salat kalian.  Jadi apa yang harus ada bersama kalian?  Qur’an, shalawat, miswak, sajadah dan wudu.  Dikatakan bahwa Al-wudu silaah al-mu’min, wudu adalah senjata orang beriman.  Wudu di atas wudu, jadi bila kalian selesai melakukan Salat Zhuhur kemudian pada saat Ashar kalian memperbarui wudu kalian, karena itu adalah nuurun `ala nuur, kalian menjadi cahaya di atas cahaya.  Tetapi kadang-kadang sulit untuk memperbarui wudu dan bila kalian masih mempunyai wudu, kalian dapat melakukan salat kalian.  Jadi ini adalah lima hal yang harus kalian bawa sepanjang waktu.  

Semoga Allah (swt) menjadikan setiap napas kita\, baik tarikan maupun hembusan senantiasa suci, dengan wudu, dengan zikrullah dan shalawat Nabi (saw).  Ini adalah hal yang sangat penting bila kita ingin mengatakan, “Aku adalah seorang darwis.”  Jangan berpikir bahwa duduk di sudut melakukan zikrullah siang malam menjadikan kalian seorang darwis!  Tidak, menjadi darwis adalah dengan membaca al-Qur’an Suci dan Dalaa’il al-Khayraat tanpa menghentikan pekerjaan kalian.  Pada saat yang sama, kalian tetap bekerja, artinya kalbu dan lidah kalian sibuk (dengan berzikir), karena kadang-kadang–saya memberikan sebuah contoh, kadang-kadang ketika kalian sedang bekerja, apa yang kalian dengarkan?  Mereka menyetel lagu-lagu, mereka menyetel radio atau memasang earphone sambil bekerja, jadi mengapa tidak mendengarkan al-Qur’an?  Awliyaullah menyarankan untuk mendengarkan al-Qur’an pada saat bekerja atau kapanpun yang kalian bisa dan lambat laun tubuh kalian akan bereaksi terhadapnya dengan sendirinya dan kalian mendengar kalbu kalian mengucapkan, “Allah, Allah, Huwa, Huwa.”  Kalian dapat merasakannya.  Segera setelah kalian merapatkan lidah kalian ke langit-langit mulut kalian, itu adalah zikir khafi, kalbu kalian akan bekerja; segera setelah kalian memegang tasbih untuk membuat jari syahadat (telunjuk) bergerak–yang terpenting adalah jari syahadatnya, bukan tasbihnya–karena orang Wahabi mengatakan, “Oh, kalian tidak boleh menggunakannya”, tidak–jari syahadat itu yang bergerak menjadi saksi terhadap zikir yang kalian buat.  Jadi jari syahadat itu bergerak pada tasbih untuk menyaksikan bahwa kalian menggerakkannya; atau kalian dapat menggerakkan jari-jemari kalian.  Jadi itu tidak akan mengganggu pekerjaan kalian.  Pada awalnya mungkin akan mengganggu, tetapi setelah kalian cukup kuat, itu akan mengalir dengan sendirinya seperti sungai menuju samudra.  

Semoga Allah membuat kita mengalir ke sungai, sungai Ilahiah, insya Allah,  dan dunia kita akan seperti itu, insya Allah, mengalir dari sungai menuju samudra; dan di sana kalian akan menjadi seekor ikan, melayang dalam samudra dan tidak tenggelam. Subhaan-Allah.

Semoga Allah mengampuni kita dan menerima dari kita.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

http://sufilive.com/The-Signs-of-a-Real-Dervish–6147.html

© Copyright 2016 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Jangan Menjadikan Rumahmu sebagai Kuburan

Kitab Suci al-Qur’an akan Memberimu Syafaat (Serial)

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

4 April 2014   Burton, Michigan

Khotbah Jumat di Masjid As-Siddiq

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِين

Yaa ayyuha ‘Lladziina aamanuu ittaqullah wa kuunu ma` ash-shaadiqiin.

Wahai orang-orang yang beriman!  Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya kamu bersama orang-orang yang benar (dalam perkataan dan perbuatan).

(Surat at-Tawbah, 9:119)

Wahai Muslim, saudara-saudari sekalian. Alhamdulillah bahwa Dia telah menciptakan kita sebagai Muslim, bahwa kita telah dibusanai selengkapnya dengan Islam, karena kita mengucapkan, “laa ilaaha illa-Llah,” dan Nabi (s) bersabda,

من قال لا اله الا الله دخل الجنة         

Man qaala laa ilaaha illa-Llah dakhal al-jannah.

Barang siapa yang mengucapkan, ‘Laa ilaaha illa-Llah’ ia akan masuk Surga.

Kita memohon kepada Allah agar kita senantiasa dapat mengucapkan, “laa ilaaha illa-Llah,” agar tidak menjadikan lidah kita kelu pada saat ajal menjemput, agar tidak menjadikan lidah kita kelu di kubur kita, dan tidak kelu pada Hari Kiamat!

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِي

Wa innaka la-`alaa khuluqin `azhiim.

Dan sesungguhnya engkau mempunyai akhlak yang agung. (Surat al-Qalam, 68:4)

Setan selalu berada di sana dan jangan berpikir bahwa ia tidak mempengaruhi kalian.  Setan terbesar ada di sana, di rumah kita, yaitu layar itu, layar televisi.  Berbagai hal ada di sana, dan Nabi (s) tahu bahwa di setiap rumah ada Setan, dan ‘setiap rumah’ maksudnya adalah setiap orang.  Di dalam setiap kalbu ada tempat yang menjadi jalan masuknya Setan dan Nabi (s) bersabda agar kita waspada,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ

Laa taj`alu buyuutakum maqaabir.

Jangan jadikan rumahmu sebagai kuburan.

(Diriwayatkan oleh Abu Hurayrah; Tirmidzi)

“Jangan menjadikan rumahmu sebagai kuburan bagi dirimu sendiri.”  Ketika kalian pergi ke pemakaman, Setan tinggal di sana, banyak jin yang tinggal di sana.  Itulah sebabnya tidak dianjurkan untuk pergi ke pemakaman setelah gelap, tetapi sampai Maghrib, tidak apa-apa. Nabi (s) bersabda,

وَإِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ الْبَقَرَةُ لاَ يَدْخُلُهُ الشَّيْطَانُ

Asy-Syaythan yanfiru min albayti ’lladzii tuqraa’u fiihaa surat al-Baqara.

Sesungguhnya Setan tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya dibacakan Surat al-Baqarah.  (Diriwayatkan oleh Abu Hurayrah; Tirmidzi)

Ketika kalian masuk ke dalam rumah, dan melihat bahwa istri kalian mempunyai masalah, atau  anak-anak kalian mempunyai masalah, segeralah mandi atau wudu dan salat 2 rakaat lalu baca Surat al-Baqarah.  Dengan segera Setan akan pergi!  Kita pergi ke dokter dan berkata, “Istri saya sakit,” atau, “Suami saya sakit,” dan kadang-kadang mereka katakan bahwa kalian menderita skizofrenia atau bi-polar, tetapi apa yang dikatakan oleh Nabi (s)?  Bacalah Surat al-Baqarah.  Itulah pentingnya kitab suci al-Qur’an di rumah kita.  Bacalah selalu al-Qur’an di rumah kalian, bahkan jika kalian hanya membaca satu halaman, bacalah satu halaman itu.  Kita lanjutkan topik mengenai pentingnya membaca kitab suci al-Qur’an.

Nabi (s) sering memperingatkan para Sahabat (r) mengenai Dajjal.  Disebutkan di dalam banyak ahadits bahwa di antara tanda-tanda Hari Kiamat adalah munculnya al-Massih ad-Dajjal.  Di masa para Sahabat (r), mereka sering melihat ke belakang pohon kurma, kalau-kalau Dajjal sudah muncul, tetapi Nabi (s) tidak menyebutkan waktu tertentu.  Nabi (s) menyebutkan bahwa al-Massih ad-Dajjal akan muncul dan Nabi Isa (a) akan membunuhnya.  Ya, ia akan datang, tetapi hal itu juga adalah untuk memberi peringatan kepada kalian mengenai segala sesuatu yang jahat di dalam kehidupan kalian.

Untuk menjauhkan kejahatan dari rumah kalian, apa yang harus kita lakukan?  Nabi (s) bersabda,

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

Man hafizha awwala `asyara ayaatin min surat al-kahf `usima min ad-dajjal.

Jika seseorang menghafal sepuluh ayat pertama Surat al-Kahfi, maka ia akan dilindungi dari Dajjal.

(Diriwayatkan oleh Abu Darda`; Muslim)

“Barang siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari Surat al-Kahfi, bukan hanya akan dilindungi oleh Allah dari Dajjal, tetapi ia juga akan `usima minhu, dilindungi, dan Dajjal tidak akan mempunyai kekuatan terhadapnya, dengan kata lain rumahnya akan terlindungi.”  Dan di dalam riwayat yang lain:

من حفظ عشر آيات من أول سورة الكهف، عصم من الدجال‏”‏ وفي رواية‏:‏ ‏”‏من آخر سورةالكهف

Man hafizha akhira `asyara ayaatin min surat al-kahf `usima min ad-dajjal.

(Barang siapa) yang menghafal sepuluh ayat terakhir dari Surat al-Kahfi, ia akan dilindungi dari (fitnah atau ujian) dari ad-Dajjal. (Diriwayatkan oleh Abu Darda`; Muslim)

“Barang siapa yang menghafal sepuluh ayat terakhir dari Surat al-Kahfi, ia akan dilindungi dari Dajjal dan diselamatkan dari hari itu.”

Jadi, apalagi yang kita inginkan?  Surat al-Baqarah atau sepuluh ayat pertama atau sepuluh ayat terakhir dari Surat al-Kahfi akan melindungi kita dari Setan dan melindungi kita dari al-Massih ad-Dajjal!

Wahai Muslim!  Sungguh, jika kalian mendalami agama kalian, kalian akan menyadari bahwa kita belum bersyukur kepada Allah sebagaimana mestinya, bahkan jika kalian banyak membaca shalawat Nabi (s), itu masih jauh dari yang sepatutunya.  Dan itulah sebabnya mengapa Nabi (s) memberi kita Surat al-Baqarah yang pertama, dan kemudian beliau mengatakan tentang sepuluh ayat pertama dan terakhir dari Surat al-Kahfi, karena inna ma` al-`usri yusraa, “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. (94:6),” dan jadikan sesuatu itu mudah, jangan membuatnya menjadi sulit.

Nabi (s) bersabda, “Yassiruu wa laa tu`assiruu, mudahkanlah dan jangan kau persulit.”

فَجِئْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ سُورَةٌ لَهِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ثُمَّ قَرَأَ إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

Suatu hari Nabi (s) sangat gembira, sebagaimana dilaporkan oleh Sayyidina `Umar (r) (Nabi (s) ingin memberi sesuatu yang manis kepada umatnya.  Sepanjang hidupnya, beliau khawatir, tidak tidur, sangat memperhatikan umatnya ketika malam, sampai Sayyida `A’isyah (r) berkata, “Wahai Nabi Allah!  Mengapa engkau salat dan salat begitu banyak hingga kakimu bengkak?)

Dan Nabi (s) bersabda, “Ini adalah hari terbaik di bumi, ini adalah yang terbaik, kabar paling menggembirakan yang pernah aku dengar!” Dan beliau berkata, laqad unzila `alayya hadzihi ‘l-layla afdhal ma tala`t `alahyi ’sy-syams. “Malam ini sebuah ayat diturunkan dan ini lebih baik daripada terbitnya matahari di mana pun.”

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا

Inna fatahnaa laka fathan mubiina.

Sesungguhnya, Kami telah memberikan kepadamu (wahai Muhammad!) kemenangan/pembukaan yang nyata.   (Surat al-Fath, 48:1)

“Kami telah memberikan kepadamu suatu pembukaan yang nyata,” dan itu adalah pembukaan sampai Hari Kiamat.

795 وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ سُورَةَ الْكَهْفِ وَعِنْدَهُ فَرَسٌ مَرْبُوطٌ بِشَطَنَيْنِ فَتَغَشَّتْهُ سَحَابَةٌ فَجَعَلَتْ تَدُورُ وَتَدْنُو وَجَعَلَ فَرَسُهُ يَنْفِرُ مِنْهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ لِلْقُرْآنِ

Ada seseorang yang membaca Surat al-Kahfi duduk di bawah pohon sendiri.  Ia telah mengikat kudanya sangat kuat dengan dua tali, karena itu adalah kuda yang sangat liar dan ia akan melarikan diri, dan sebuah awan datang di atasnya dan mendekatinya dan awan itu menutupi daerah itu, di atas kudanya.  Kudanya mulai memberontak berusaha untuk melarikan diri.  Itu adalah kuda yang liar dan kuat, tetapi ia tidak bisa melarikan diri dari situasi itu. Ketika awan itu datang mendekat, ia berusaha untuk melarikan diri, dan di pagi hari orang itu mendatangi Nabi (s) dan menceritakan apa yang terjadi.  Nabi (s) berkata kepadanya, tilka as-sakiinatu tanazalat bi’l-Qur’an, “Itu adalah sakinah,ketenangan, kedamaian, yang turun bersama kitab suci al-Qur’an dan kuda itu takut dengan sakinah yang turun.” Karena kadang-kadang, misalnya ketika kalian bangun, bulu roma kalian merinding karena sesuatu yang baik atau sesuatu yang buruk, begitu pula dengan rahmatullah itu yang membuat kuda menjadi gemetar, jadi apapun yang datang, ia juga mencakup kuda dan orang itu.

Saya akan mengakhiri dengan hadits ini,

من القرآن سورة ثلاثون آية شفعت لرجل حتى غفرت له ،وهي‏:‏ تبارك الذي بيده الملك

Min al-qur’anu suratun tsalaatsuun ayati syufi`at li rajulin hatta ghufirat lahu.wa hiya tabaarak alladzii bi-yadihi’l-mulk.

Ada sebuah Surat di dalam al-Qur’an yang berisi tiga puluh ayat, yang terus memberikan syafaat bagi seseorang sampai dosa-dosanya diampuni.  Surat ini adalah ‘Maha Suci Allah yang di Tangan-Nyalah segala Kerajaan.’

(Diriwayatkan oleh Abu Hurayrah; Tirmidzi)

“Ada sebuah Surat di dalam al-Qur’an yang berisi tiga puluh ayat, Surat itu akan memberikan syafaat bagi seseorang sampai ia diampuni.”  Surat itu terus meminta dan meminta sampai orang itu diampuni.  Apakah Surat itu?  Surat al-Mulk, dan banyak di antara kalian yang mengetahuinya.

(Doa Penutup.)

http://www.sufilive.com/Do_Not_Turn_Your_Homes_into_Graveyards-5503.html

© Copyright 2014 Sufilive. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.  Transkrip ini dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta Internasional.  Mohon untuk menyebutkan Sufilive ketika membagi tulisan ini. JazakAllahu khayr.

Kitab Suci al-Qur’an akan Memberi Syafaat Bagimu (Serial)

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

28 Maret 2014  Burton, Michigan

Khotbah Jumat di Masjid As-Siddiq

 

Wahai Muslim, wahai Mukmin! Allah (swt) mengirimkan kitab suci al-Qur’an kepada Nabi (s) untuk kebaikan manusia, sebagaimana Dia berfirman,

A`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Alif. Laam. Miim. Dzalika al-kitaabu laa rayba fiihi hudan li ‘l-muttaqiin.

Ini adalah, ini adalah Kitab, yang di dalamnya terdapat petunjuk, tidak ada keraguan; bagi orang yang bertaqwa.

(Surat al-Baqarah, 2:2)

Dia berfirman kepada Nabi (s), “Kitab itu, bukannya kitab lain, hanya Kitab itu.”  Dia tidak berfirman, “Dzalika‘l-kutub.’ Dia berfirman, “Kitab itu,  laa rayba fiihi, tidak ada keraguan di dalamnya, hudan li ‘l-muttaqiin, ia merupakan petunjuk bagi manusia, bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah (swt), bagi mereka yang saleh dan ikhlas,” dan mereka mengerti bahwa Allah menurunkan kitab suci al-Qur’an untuk kebaikan manusia.

Sebagaimana yang kami sebutkan minggu lalu, melanjutkan subjek yang sama, untuk menjelaskan sedikit apa yang kami katakan minggu lalu, setiap orang memerlukan seorang penolong, memerlukan seorang pemandu untuk membimbing kita.  Allah mengutus rasul untuk membimbing umat dan Allah mengutus pembimbing untuk membimbing mereka: Allah mengutus Sayyidina Jibriil (a).  Itulah sebabnya Nabi (s) dibimbing dengan Ilmu Terbaik, dengan Kalamullah, apa yang Allah ingin Nabi-Nya pelajari dan apa yang Allah ingin sandangkan padanya, dan Dia membusanainya dengan kitab suci al-Qur’an, sebagaimana Dia berfirman,

لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Kalau seandainya Kami turunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk dan terpecah belah karena ketakutannya kepada Allah!  Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. (Surat al-Hasyr, 59:21)

“Kalau seandainya Kami turunkan kitab suci al-Qur’an ini kepada seluruh alam semesta, alam semesta akan hancur lebur!”  Ketika disebutkan kata ‘gunung’ di sini, dengan segera terbersit di dalam pikiran kalian bahwa itu adalah sesuatu yang sangat besar, jabal, itu adalah sesuatu yang sangat besar; bukannya seperti gua, atau bukit, yang berukuran lebih kecil.  Itulah Al-Qur’an, bahasanya fasih, kita harus mempelajarinya.  Kata ‘jabal’artinya sesuatu yang paling besar yang dapat kita pikirkan, tetapi sekarang yang terbesar yang dapat kita pikirkan adalah alam semesta, jadi itu artinya, “Kalau seandainya kitab suci Al-Qur’an ini diturunkan kepada alam semesta, kamu akan melihat seluruh alam semesta ini retak seperti gempa bumi.”

Di mana posisi Bumi di dalam peta alam semesta?  Kalian tidak bisa melihatnya, kalian bahkan tidak bisa melihatnya di dalam tata surya; bahkan ukurannya tidak lebih dari seukuran peniti, ia bahkan tidak ada di sana!  Yang ada di sana adalah planet-planet yang besar dan bintang-bintang yang besar, lebih besar daripada Bumi ini dan tata surya, galaksi.  Jika Allah menurunkan Al-Qur’an ini pada seluruh galaksi di alam semesta, kalian akan melihatnya retak, tetapi Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Sayyidina Muhammad (s) dan kalbu beliau tidak hancur! Lihatlah kekuatan kalbu Sayyidina Muhammad (s), karena Jibriil (a) telah membersihkan kalbunya.  Ketika Sayyidina Muhammad masih kecil, Jibriil (a) mendatanginya dan membuka dadanya dan mengambil kalbunya dan membersihkannya di dalam operasi jantung terbuka, 1400 tahun yang lalu; itu adalah teknik 1400 tahun yang lalu, bukan seperti teknik kita sekarang.  Yang pertama melakukan operasi jantung secara terbuka adalah Jibriil (a). Ya, sekarang kita dapat mengatakan, ‘operasi jantung terbuka,’ tetapi jika mereka mengatakannya enam puluh atau tujuh puluh tahun yang lalu, mereka akan mengatakan, “tidak mungkin.”  Jika mereka mengatakan, ‘mengganti jantung,” mereka akan mengatakan, “tidak mungkin,” tetapi sekarang mereka melakukannya.  Tetapi 1400 tahun yang lalu, Jibriil (a) mengambil jantung Nabi (s) dan membersihkannya dari tempat yang dapat dimasuki Setan.

Nabi (s) bersabda, “Satu-satunya orang yang telah menaklukkan Setannya adalah aku,” karena kalbu beliau suci, tidak ada jalan masuk bagi Setan.  Kita semua, semua manusia mempunyai satu tempat di masa Setan bisa memasukinya.

روى مسلم وأحمد عن ابن مسعود قال ، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :ما منكم من أحد إلا وقد وكل به قرينه من الجن وقرينه من الملائكة . قالوا : وإياك يا رسول الله ؟ قال : وإياي ، ولكن الله أعانني عليه فأسلم ، فلا يأمرني إلا بخير.

Nabi (s) bersabda, “Setiap orang di antara kalian, telah diutus untuknya seorang qarin (pendamping) dari golongan jin.”  Para Sahabat bertanya, “Termasuk dirimu, ya Rasulallah (s)?”  Beliau bersabda, “Termasuk diriku, tetapi Allah telah membantuku untuk menundukannya, sehingga ia tunduk kepadaku, sehingga ia tidak pernah memerintahkan kepadaku kecuali yang baik.”

(Muslim)

Sehingga tidak ada pengaruh Setan pada diri Nabi (s), sedangkan semua manusia mempunyai pengaruh Setan.  Sehingga Nabi (s) menerima kehormatan besar itu, karunia yang besar yang sayangnya pada hari ini hanya kita letakkan di rak buku; kita tidak membacanya, kita menaruhnya di lemari.  Padahal Nabi (s) bersabda, “Bahkan jika kalian tidak membacanya dengan baik, bacalah.”

Apakah kalian tahu Qul Huw Allahu Ahad (Surat al-Ikhlaash)? Ya, kalian mengetahuinya, dan bacalah tiga kali, seolah-olah kalian membaca seluruh al-Qur’an!

تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما : كتاب الله وسنة رسوله

Nabi (s) bersabda, “Aku telah meninggalkan dua hal bagi kalian, yang jika kalian berpegang teguh dengan keduanya, kalian tidak akan tersesat: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.

(Malik dalam Muwatta)

“Apapun yang kulakukan, jalan yang kutunjukkan kepada kalian, risalah Islam, di samping segala ketentuan di Islam.” Di samping itu, beliau (s) bersabda,

انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق

Innamaa bu`itstu li utammimu makaarim al-akhlaaq.

Aku telah diutus untuk menyempurnakan akhlak (perilaku dan karakter kalian). (Bazzaar)

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak kalian.”  Itu artinya kitab suci Al-Qur’an menyempurnakan perilaku manusia dan Sunnah Nabi (s) menyempurnakan akhlak manusia, karena beliau bersabda, Tharaqtu fi kitaabi wa sunnati, jadi jika kalian mengikuti keduanya, kalian tidak akan tersesat.  Dan kemudian Nabi (s) biasa membaca seluruh Al-Qur’an dalam hadirat Jibril (a) setiap bulan Ramadan dan Sayyidina Jibriil (a) biasa membacakannya kepada Nabi (s).

Kami menyebutkan hadits ini sebelumnya:

اقرأوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه

iqraau ‘l-qur’ana fa innahu ya`ti yawm al-qiyaama syafi`an li ash-haabih

Bacalah Qur’an karena sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi Sahabatnya.

Apa lagi yang kalian inginkan lebih dari itu?  Nabi (s) bersabda, “Bacalah al-Qur’an dan ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat; ketika kalian memerlukan syafaat, ia akan datang memberikan syafaatnya bagi kalian,”  dan ini berasal dari Imam Muslim, sebuah hadits autentik yang kuat.  Sayyida `A’isyah (r) mengatakan bahwa Nabi (s) bersabda, ‘Bacalah al-Qur’an, ia akan memberi syafaat bagimu pada Hari Kiamat.’ Itu artinya semua huruf ini dapat berbicara, karena mereka adalah Kalamullah, mereka tidak diciptakan, kitab suci al-Qur’an bukanlah makhluk, ia tidak diciptakan.

Bagaimana menurut kalian, apa yang akan terjadi ketika kalian membaca Kalamullah?  Sekarang id universitas atau sekolah-sekolah, mereka mengajari kalian tentang puisi dan kalian menjadi seorang penyair atau mereka membaca qasidah dan orang-orang menjadi senang ketika mereka melantunkan qasidah.  Dan itu adalah syair yang ditulis oleh manusia, itu bukanlah Kalamullah.  Orang-orang menjadi senang dengannya dan kalian melihat di mana-mana orang melantunkan qasidah, itu adalah sesuatu yang baik.  Tetapi jangan lupa, qasidah itu mungkin tidak memberi syafaat bagi kalian, tetapi kitab suci al-Qur’an akan memberi syafaat bagi kalian, meskipun melantunkan qasidah adalah melantunkan pujian kepada Nabi (s) dan kalian akan diberi pahala untuk itu, ia akan membersihkan dosa-dosa kalian.

Tetapi Sayyida `A’isyah (r) berkata bahwa Nabi (s) bersabda bahwa Al-Qur’an akan memberis syafaat bagimu pada Hari Kiamat dan itulah yang penting!  Ketika pemberi syafaat itu datang kepada Allah, Al-Qur’an akan berbicara, “Yaa Rabbii!  Orang-orang ini tidak pernah meninggalkan aku, mereka membaca Al-Qur’an.  Aku memberi syafaat bagi mereka.”  Kalamullah akan memberi syafaat bagi seseorang.  Apakah Allah akan menolak Kalam-Nya sendiri?  Dia tidak akan menolak Kalam-Nya sendiri.  Jika seseorang memberi kata-katanya kepada kalian, berjanji kepada kalian, apakah ia akan melanggarnya?  Hanya orang-orang munafik yang melakukannya.  Setiap Muslim bukan munafik, insya Allah.  Jadi, Allah berjanji pada kita, apakah Dia akan melanggarnya?  Tidak, al-Qur’an adalah Kalamullah, dan ia akan memberi syafaat kepada kita!  Semoga Allah (swt) mengampuni kita semua, insya Allah.

Suatu hari Nabi (s) mendatangi Ibn Mas`uud (r) dan berkata kepadanya, iqraa `alayya, “Bacakan padaku.”  Nabi (s) senang bila orang membacakan Al-Qur’an kepadanya; itu artinya mereka tidak meremehkan Kalamullah.  Dan saya sangat menghargai orang-orang di daerah Sub Kontinen yang mempersiapkan anak-anaknya untuk menghafal al-Qur’an, termasuk orang-orang Pakistan, India, Bangladesh, Timur Jauh, Asia Tenggara; mereka senang anak-anak mereka menghafalkan Qur’an.  Bukannya seperti di Timur Tengah di mana mereka mengirimkan kalian ke sekolah-sekolah Kristen, Buddha, dengan mengatakan bahwa pendidikannya lebih baik.  Bahkan di sini, saya mendengar bahwa para orang tua mengirimkan anak-anaknya ke beberapa sekolah untuk “pendidikan yang lebih baik,” tetapi di sana mengjarkan Islam sementara di sini tidak!

عن عبد الله قال . قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم : اقرأ علي قلت : أقرأ عليك وعليك أنزل ؟ قال : إني أحب أن أسمعه من غيري فقرأت عليه سورة ” النساء ” حتى بلغت فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد وجئنا بك على هؤلاء شهيدا قال : أمسك فإذا عيناه تذرفان

Sayyidina Ibn Mas`uud (r) berkata,“Bagaimana aku dapat membaca al-Qur’an untukmu sementara al-Qur’an diturunkan kepadamu? Aku merasa tidak enak, aku merasa malu.”

Nabi (s) bersabda, “Walaupun begitu, bacalah.”

Ibn Mas`uud (r) berkata, “Dan aku membaca Surat an-Nisa hingga aku sampai pada ayat: wa kayfa idza ji’na min kullin ummatin bi syahiid wa ji’na bika `ala haauulaai syahiida, “Bagaimana nanti ketika Kami mendatangkan saksi (rasul) dari setiap umat?” [artinya dari umat Sayyidina Adam (a) dan umat Sayyidina Ibrahim (a) dan umat Sayyidina Nuh (a) dan umat Sayyidina `Isa (a) dan umat Sayyidina Musa (a), dan umat-umat lainnya dari Nabi-Nabi lainnya yang datang sebagai saksi bagi umat mereka.], “dan kemudian Kami mendatangkan kamu, wahai Muhammad, sebagai saksi atas mereka bahwa apa yang mereka katakan adalah benar; [Yakni walaupun mereka adalah Nabi, Kami tidak akan membiarkan segala sesuatunya lolos sebelum engkau menjadi saksi bagi mereka.]” Dan pada saat itu, Nabi (s) bersabda, Amsik, “Stop, jangan dilanjutkan,” dan dari matanya mengalir air matanya.

Karena itu adalah sebuah kehormatan besar bagi Nabi kita (s) dan kehormatan bagi Ummat an-Nabi (s), bahwa Nabi (s) akan menjadi saksi bagi semua Rasul dan umat mereka pada Hari Kiamat.

دم فمن دونه تحت لوائي ولا فخر

Adam faman duunahu tahta liwaa’ii yawm al-Qiyamah wa laa fakhr

Oleh sebab itu Nabi (s) bersabda, “Adam dan yang lainnya akan berada di bawah benderaku pada Hari Kiamat, dan ini bukannya sombong.” (Ahmad, Musnad)

Ibn Mas`uud (r) berkata, “Aku memandangnya dan beliau menangis.” Kehormatan apa yang telah disandangkan Allah kepada Nabi (s)!  Kehormatan apa yang telah Allah berikan kepadanya dengan membusanainya dengan al-Qur’an dan menjadikannya sebagai manusia paling utama, yang paling sempurna!  Allah telah mengutusnya sebagai Rahmatan li ’l-`Alamiin. Dan hadits ini ada di dalam Bukhari dan Muslim.

Dan saya akan mengakhiri dengan hadits ini, bahwa Abu Hurayrah (r) meriwayatkan bahwa Nabi (s) bersabda,

….. وما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله و يتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة و غشيتهم الرحمة و حفتهم الملائكة و ذكرهم الله في من عنده

Tidak ada sekelompok orang yang berkumpul di rumah Allah (masjid) membaca Kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka tanpa turun sakiinah, ketenangan kepada mereka, dan rahmat melingkupi mereka, dan para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebutkan mereka kepada mereka yang berada di Hadirat-Nya.

“Jika ada sekelompok orang duduk bersama mengingat Allah (swt),” artinya di mana pun kalian melakukan dzikrullah itu adalah ‘Rumah Allah,’ dan setiap kali kalian membaca al-Qur’an, itu adalah dzikrullah, di mana Allah disebutkan, bahkan kalbu kalian menjadi Rumah Allah (swt), sebagaimana Nabi (s) bersabda,

قلب الموءمن بيت الرب

Qalb al-mu’min bayt ar-rabb.

Kalbu orang-orang yang beriman adalah Rumah Tuhan.

Beliau bersabda, “Jika mereka datang bersama, sekelompok orang,” artinya paling tidak ada tiga orang di antara mereka, “kemudian mereka menunjuk seorang Imam,” sebagaimana dalam hadits Nabi (s):

إذا كنتم ثلاثة فأمروا أحدكم

Idzaa kuntum tsalaatsat fa ammiruu ahadakum.

Jika kalian bertiga, maka jadikanlah seorang sebagai pemimpin.

“Jika kalian bertiga, tunjuk seorang pemimpin untuk memandu kalian.”  Jadi jika orang-orang akan duduk bersama, bahkan jika seorang pria dengan istrinya dan anak-anaknya, dan mereka duduk membaca al-Qur’an dan berzikir, apa yang akan terjadi?  Allah akan menurunkan sakiinah, ketenangan, kedamaian akan membusanai mereka, dan rahmat akan bersama mereka dan para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan mengingat mereka dalam Hadirat-Nya.  Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.

Wahai Muslim!  Ada banyak penjelasan yang indah dan mulia terhadap ahadits Nabi (s) dan ayat-ayat suci al-Qur’an untuk membuat orang-orang bahagia!  Jangan membuat orang menjadi sedih dengan perkataan kalian, jadikanlah orang-orang cinta kepada Allah (swt) dan Nabi-Nya (s).  Sebagaimana Nabi (s) cinta kepada Allah (swt) dan sebagaimana orang-orang yang saleh dan ikhlas cinta kepada Allah dan Nabi-Nya (s)!  Kita harus membuat keluarga kita, anak-anak kita bahagia dan mencintai Allah dan Nabi-Nya (s)!

http://www.sufilive.com/The_Quran_Will_Intercede_For_You-5494.html

© Copyright 2014 Sufilive. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.  Transkrip ini dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta Internasional.  Mohon untuk menyebutkan Sufilive ketika membagi tulisan ini. JazakAllahu khayr.