Perayaan Mawlid Nabi Muhammad (saw)

47230846_1943462812374729_6910494193332781056_o

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
Feltham, London, Inggris, 8 November 2018



A`uudzubillaahi mina ‘sy syaythaani ‘r-rajiim

Bismillaahi ‘r-rahmaani  ‘r-rahiim

كلمتان خفيفتان على اللسان ثقيلتان فى الميزان حبيبتان إلى الرحمن سبحان الله و بحمده سبحان الله العظيم

Kalimataani khafiifataani `alaa ’l-lisaan tsaqiilataan fi ’l-miizaan habiibataan li ’r-rahmaan: SubhaanAllah wa bihamdihi subhaanAllahi ’l-`Azhiim.

Dua kalimat yang sangat mudah diucapkan, namun sangat berat di Mizan, sangat dicintai oleh Sang Maha Penyayang, “SubhaanAllah wa bihamdihi subhaanAllahi ’l-`Azhiim.  (Bukhari dan Muslim)

 

Secara keseluruhan Islam berdasarkan pada dua kalimat.  Allah menyebutkannya pada Nabi (saw) dan Nabi (saw) menyebutkannya pada kita dua kalimat yang sangat ringan di lidah tetapi sangat berat di Mizan. 

Apakah kalian ingin masuk Surga?  [Ya…]

Kalau begitu, ingatlah ini: Kalimataani khafiifataani `alaa ’l-lisaan tsaqiilataan fi ’l-miizaan habiibataan li ’r-rahmaan: SubhaanAllah wa bihamdihi subhaanAllahi ’l-`Azhiim, astaghfirullaah. Itu akan membawa kalian dengan ghad al-bashara, dalam sekejap ke Surga kalian, bukan hanya pada Hari Perhitungan, tetapi pada hari-hari kalian di dunia.

Allah (swt) ridha dengan orang-orang yang ridha terhadap-Nya.  Apakah kalian ridha dengan Allah (swt)? [Ya…]

Islam adalah sesuatu yang tidak dapat kalian sentuh.  Itu adalah sebuah kata. Kalian harus memahaminya. Ketika kalian paham, maka kalian akan mengetahui segalanya.  Kalian harus memahami apa arti dari Kalimataani khafiifataani `alaa ’l-lisaanKalimataani artinya dua kata, yaitu Allah, Muhammad.  Begitu sederhana. Orang yang memahami Hakikat Sayyidina Muhammad (saw) akan meraih segalanya.  Sebagaimana yang beliau katakan, Kalimataani khafiifataani `alaa ’l-lisaan, dua kalimat yang ringan di lidah tetapi berat di Mizan.  Selesai!  

Sekarang, berapa kali kita membaca kata “Allah” dan “Muhammad” tadi?  Mungkin kita membacanya sepuluh kali. Sayyidina Muhammad (saw) menyebutkan bahwa pada Hari Perhitungan kalian akan melewati Shirath menuju Jannatal Firdaus bersama dengan Ahlu ‘l-Bayt karena Allah, Muhammad.  Muhammad adalah Ahlu ‘l-Bayt, beliau adalah al-Bayti, beliau adalah Jannah, beliau adalah al-Qasr, beliau adalah segalanya!  

Sekarang kita merayakan hari kelahiran Nabi (saw).  Apa artinya bahwa kita merayakan hari kelahiran Nabi (saw)?  Arti yang paling rendah adalah bahwa kita merayakan apa yang beliau ingin kita ketahui tentang beliau.  Bukannya semuanya tentang qasidah dan nasyid. Qasidah dan nasyid adalah contoh dari apa yang Nabi (saw) inginkan agar kita menyebutkannya untuk dapat masuk ke dalam Surga kita.  Kalian memerlukan kunci, dan setiap orang memerlukan sebuah kunci yang terhubung di lehernya. Kalian akan datang pada Hari Kiamat dalam keadaan dilucuti, tidak ada yang tersisa, bahkan pakaian. 

Sayyida `Aisyah (ra) bertanya, “Ya Rasulullah, mungkinkah mereka telanjang?” Nabi (saw) menjawab, “Bagaimana menurutmu?  Dengan Api di depanmu, apakah engkau masih peduli bahwa engkau telanjang atau tidak?” Setiap orang akan diadili sesuai dengan apa yang ia lakukan, tetapi para pecinta Sayyidina Muhammad (saw) akan melintasi jembatan itu dalam waktu sekejap mata.  Quluu minhum, jadilah seperti mereka. Jika kita seperti mereka, mereka akan ridha dengan kita. Jika mereka tidak ridha dengan kita, kita akan menghadapi masalah, dan masalah di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalah di Akhirat! Kita bertanya di sini, apakah ada masalah di Akhirat?  Tentu saja ada masalah di Akhirat. Bagi orang yang tidak melakukan kebaikan di dunia, ia akan menderita di Akhirat, ketika mereka melewati Jahannam. 

Jadi, kita merayakan hari kelahiran Nabi (saw), menjadi hari rekognisi, hari pengenalan, di mana setiap orang berpikir tentang Hakikatnya.  Di sana Allah akan membukakan pintu bagi hakikat semua orang, mereka yang mempunyai hakikat yang baik akan masuk Surga, sedangkan yang hakikatnya buruk akan masuk ke Jahannam.  

Semoga Allah (swt) memberi kita kekuatan untuk memahami apa yang harus kita lakukan pada hari-hari ini.  Itulah sebabnya Dia mengirim para Awliya, bukannya Nabi. Para Anbiya telah meninggalkan dunia dan kita menunggu untuk Akhirat.  Sekarang Allah masih memberikan kesempatan bagi orang-orang yang masih berada di dunia. Sepuluh sampai lima belas tahun yang lalu, tidak ada kesulitan semacam ini di dunia, di mana-mana telanjang.  Ke mana pun kalian pergi, kalian melihat orang-orang telanjang, dan barang siapa yang telanjang di dunia, ia akan telanjang di Akhirat. 

Semoga Allah mengampuni semua orang.

Perayaan itu penting, karena ketika kalian merayakan, kalian belajar, ketika kalian belajar, kalian melakukan tafakur.  Ketika kalian melakukan tafakur, kalian akan mendekati Nabi (saw) dan Awliyaullah. Semakin sering tafakur, kalian akan menjadi wali dan Mereka akan membawa kalian pada ilmu-ilmu Surgawi.   Ilmu-ilmu Surgawi akan diberikan untuk Akhirat. Itu adalah kunci untuk Akhirat. Itulah sebabnya beliau (saw) bersabda, “Berikan aku dua kalimat, dan aku akan memberimu Surga. Kalimataani khafiifataani `alaa ’l-lisaan tsaqiilataan fi ’l-miizaan: SubhaanAllah wa bihamdihi subhaanAllahi ’l-`Azhiim.  Ada dua kalimat yang sangat ringan di lidah namun sangat berat di Mizan.”  Beliau (saw) memuji Allah (swt), artinya Allah (swt) senang dipuji. Salah satu Kesenangan-Nya terhadap orang-orang di dunia adalah ketika mereka memuji-Nya, seperti di dalam Surat al-Fatihah, kalian tidak melakukan apa-apa melainkan memuji-Nya, memuji Allah (swt), alhamdulillaahi rabbil `alaamin (dst.. Mawlana membaca Surat al-Fatihah.]   Semuanya adalah pujian. Tidak ada satu ayat pun dalam Surat al-Fatihah yang tidak memuji Allah (swt). Allah senang dipuji dan Sayyidina Muhammad (saw) mengetahui bagaimana memuji-Nya, tasbih apa yang harus diucapkannya untuk memuji Allah (swt).  

Semoga Allah mengampuni kita dan memberkahi kita di dunia dan Akhirat.  Selama kita masih berada di dunia, doa-doa tidak pernah berhenti. Insya Allah kita akan berbicara tentang hal itu besok.  Sekarang saya merasa agak lelah, saya akan melanjutkannya besok insyaAllah, dan orang-orang juga tidak teralu suka dengan shuhbah yang panjang, mereka senang dengan shuhbah yang singkat.  [Kami senang dengan shuhbah-mu yang panjang, kami beruntung mempunyaimu dan mendengar shuhbah-mu.  Terima kasih.  Kami tidak pantas berada di hadiratmu.]  Terima kasih, semoga Allah memberkahi kalian, Wa ’s-salaam `alaykum.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq bi hurmati ‘l-Habiib bi hurmati ‘l-Fatihah.

https://sufilive.com/Celebrating-the-Mawlid-of-Sayyidna-Muhammad-pbuh–6699.html

© Copyright 2018 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.