Perayaan Mawlid Nabi Muhammad (saw)

47230846_1943462812374729_6910494193332781056_o

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
Feltham, London, Inggris, 8 November 2018



A`uudzubillaahi mina ‘sy syaythaani ‘r-rajiim

Bismillaahi ‘r-rahmaani  ‘r-rahiim

كلمتان خفيفتان على اللسان ثقيلتان فى الميزان حبيبتان إلى الرحمن سبحان الله و بحمده سبحان الله العظيم

Kalimataani khafiifataani `alaa ’l-lisaan tsaqiilataan fi ’l-miizaan habiibataan li ’r-rahmaan: SubhaanAllah wa bihamdihi subhaanAllahi ’l-`Azhiim.

Dua kalimat yang sangat mudah diucapkan, namun sangat berat di Mizan, sangat dicintai oleh Sang Maha Penyayang, “SubhaanAllah wa bihamdihi subhaanAllahi ’l-`Azhiim.  (Bukhari dan Muslim)

 

Secara keseluruhan Islam berdasarkan pada dua kalimat.  Allah menyebutkannya pada Nabi (saw) dan Nabi (saw) menyebutkannya pada kita dua kalimat yang sangat ringan di lidah tetapi sangat berat di Mizan. 

Apakah kalian ingin masuk Surga?  [Ya…]

Kalau begitu, ingatlah ini: Kalimataani khafiifataani `alaa ’l-lisaan tsaqiilataan fi ’l-miizaan habiibataan li ’r-rahmaan: SubhaanAllah wa bihamdihi subhaanAllahi ’l-`Azhiim, astaghfirullaah. Itu akan membawa kalian dengan ghad al-bashara, dalam sekejap ke Surga kalian, bukan hanya pada Hari Perhitungan, tetapi pada hari-hari kalian di dunia.

Allah (swt) ridha dengan orang-orang yang ridha terhadap-Nya.  Apakah kalian ridha dengan Allah (swt)? [Ya…]

Islam adalah sesuatu yang tidak dapat kalian sentuh.  Itu adalah sebuah kata. Kalian harus memahaminya. Ketika kalian paham, maka kalian akan mengetahui segalanya.  Kalian harus memahami apa arti dari Kalimataani khafiifataani `alaa ’l-lisaanKalimataani artinya dua kata, yaitu Allah, Muhammad.  Begitu sederhana. Orang yang memahami Hakikat Sayyidina Muhammad (saw) akan meraih segalanya.  Sebagaimana yang beliau katakan, Kalimataani khafiifataani `alaa ’l-lisaan, dua kalimat yang ringan di lidah tetapi berat di Mizan.  Selesai!  

Sekarang, berapa kali kita membaca kata “Allah” dan “Muhammad” tadi?  Mungkin kita membacanya sepuluh kali. Sayyidina Muhammad (saw) menyebutkan bahwa pada Hari Perhitungan kalian akan melewati Shirath menuju Jannatal Firdaus bersama dengan Ahlu ‘l-Bayt karena Allah, Muhammad.  Muhammad adalah Ahlu ‘l-Bayt, beliau adalah al-Bayti, beliau adalah Jannah, beliau adalah al-Qasr, beliau adalah segalanya!  

Sekarang kita merayakan hari kelahiran Nabi (saw).  Apa artinya bahwa kita merayakan hari kelahiran Nabi (saw)?  Arti yang paling rendah adalah bahwa kita merayakan apa yang beliau ingin kita ketahui tentang beliau.  Bukannya semuanya tentang qasidah dan nasyid. Qasidah dan nasyid adalah contoh dari apa yang Nabi (saw) inginkan agar kita menyebutkannya untuk dapat masuk ke dalam Surga kita.  Kalian memerlukan kunci, dan setiap orang memerlukan sebuah kunci yang terhubung di lehernya. Kalian akan datang pada Hari Kiamat dalam keadaan dilucuti, tidak ada yang tersisa, bahkan pakaian. 

Sayyida `Aisyah (ra) bertanya, “Ya Rasulullah, mungkinkah mereka telanjang?” Nabi (saw) menjawab, “Bagaimana menurutmu?  Dengan Api di depanmu, apakah engkau masih peduli bahwa engkau telanjang atau tidak?” Setiap orang akan diadili sesuai dengan apa yang ia lakukan, tetapi para pecinta Sayyidina Muhammad (saw) akan melintasi jembatan itu dalam waktu sekejap mata.  Quluu minhum, jadilah seperti mereka. Jika kita seperti mereka, mereka akan ridha dengan kita. Jika mereka tidak ridha dengan kita, kita akan menghadapi masalah, dan masalah di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalah di Akhirat! Kita bertanya di sini, apakah ada masalah di Akhirat?  Tentu saja ada masalah di Akhirat. Bagi orang yang tidak melakukan kebaikan di dunia, ia akan menderita di Akhirat, ketika mereka melewati Jahannam. 

Jadi, kita merayakan hari kelahiran Nabi (saw), menjadi hari rekognisi, hari pengenalan, di mana setiap orang berpikir tentang Hakikatnya.  Di sana Allah akan membukakan pintu bagi hakikat semua orang, mereka yang mempunyai hakikat yang baik akan masuk Surga, sedangkan yang hakikatnya buruk akan masuk ke Jahannam.  

Semoga Allah (swt) memberi kita kekuatan untuk memahami apa yang harus kita lakukan pada hari-hari ini.  Itulah sebabnya Dia mengirim para Awliya, bukannya Nabi. Para Anbiya telah meninggalkan dunia dan kita menunggu untuk Akhirat.  Sekarang Allah masih memberikan kesempatan bagi orang-orang yang masih berada di dunia. Sepuluh sampai lima belas tahun yang lalu, tidak ada kesulitan semacam ini di dunia, di mana-mana telanjang.  Ke mana pun kalian pergi, kalian melihat orang-orang telanjang, dan barang siapa yang telanjang di dunia, ia akan telanjang di Akhirat. 

Semoga Allah mengampuni semua orang.

Perayaan itu penting, karena ketika kalian merayakan, kalian belajar, ketika kalian belajar, kalian melakukan tafakur.  Ketika kalian melakukan tafakur, kalian akan mendekati Nabi (saw) dan Awliyaullah. Semakin sering tafakur, kalian akan menjadi wali dan Mereka akan membawa kalian pada ilmu-ilmu Surgawi.   Ilmu-ilmu Surgawi akan diberikan untuk Akhirat. Itu adalah kunci untuk Akhirat. Itulah sebabnya beliau (saw) bersabda, “Berikan aku dua kalimat, dan aku akan memberimu Surga. Kalimataani khafiifataani `alaa ’l-lisaan tsaqiilataan fi ’l-miizaan: SubhaanAllah wa bihamdihi subhaanAllahi ’l-`Azhiim.  Ada dua kalimat yang sangat ringan di lidah namun sangat berat di Mizan.”  Beliau (saw) memuji Allah (swt), artinya Allah (swt) senang dipuji. Salah satu Kesenangan-Nya terhadap orang-orang di dunia adalah ketika mereka memuji-Nya, seperti di dalam Surat al-Fatihah, kalian tidak melakukan apa-apa melainkan memuji-Nya, memuji Allah (swt), alhamdulillaahi rabbil `alaamin (dst.. Mawlana membaca Surat al-Fatihah.]   Semuanya adalah pujian. Tidak ada satu ayat pun dalam Surat al-Fatihah yang tidak memuji Allah (swt). Allah senang dipuji dan Sayyidina Muhammad (saw) mengetahui bagaimana memuji-Nya, tasbih apa yang harus diucapkannya untuk memuji Allah (swt).  

Semoga Allah mengampuni kita dan memberkahi kita di dunia dan Akhirat.  Selama kita masih berada di dunia, doa-doa tidak pernah berhenti. Insya Allah kita akan berbicara tentang hal itu besok.  Sekarang saya merasa agak lelah, saya akan melanjutkannya besok insyaAllah, dan orang-orang juga tidak teralu suka dengan shuhbah yang panjang, mereka senang dengan shuhbah yang singkat.  [Kami senang dengan shuhbah-mu yang panjang, kami beruntung mempunyaimu dan mendengar shuhbah-mu.  Terima kasih.  Kami tidak pantas berada di hadiratmu.]  Terima kasih, semoga Allah memberkahi kalian, Wa ’s-salaam `alaykum.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq bi hurmati ‘l-Habiib bi hurmati ‘l-Fatihah.

https://sufilive.com/Celebrating-the-Mawlid-of-Sayyidna-Muhammad-pbuh–6699.html

© Copyright 2018 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Langit dan Bumi Bersuka Cita untuk Mawlid an-Nabi (saw)!

Sulthan al-Awliya

Mawlana Shaykh Nazim al-Haqqani

Lefke, Siprus, 22 Februari 2010

 

Bismillaah Sayyidii, madad. (Mawlana Syekh berdiri.)  La ilaaha illa-Llaah, la ilaaha illa-Llaah, la ilaaha illa-Llaah, Sayyidina Muhammad-ur Rasuulullah. Sayyidi ‘l-awwaliin wa’l-akhiriin, Sayyidina Muhammad (saw), zidhu `izzan wa syarafan, nuuran wa suruuran. Syafa`atak, kami memohon syafaatmu, dan menentang orang-orang bodoh yang menyangkal syafaatmu. syafa`ata ‘l-uzhma adalah untukmu! (Mawlana Syekh duduk.)

Sulthan al-Awliya, kami memohon dukungan surgawimu, wahai tuan kami, yang mengawasi segala sesuatu di planet ini.  Allah Allah, Allahu akbar al-akbar. Dan kami ucapkan, “Dastuur, memohon dukunganmu.”  Kami adalah orang-orang yang lemah, tidak mengetahui apa-apa.  Ajarilah kami segala yang kami perlukan untuk menjadi hamba yang baik bagi Tuhan Surgawi.  Awal dari adab yang baik adalah mengucapkan, “a`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim, menyatakan bahwa kita tidak bersama kelompok setani.  Begitu banyak kelompok berada di bawah payung Islam. Nabi (saw) mengatakan bahwa akan ada 73 golongan; satu di antara mereka akan selamat di dunia dan akhirat, dan mendapat kemuliaan yang lebih tinggi di antara seluruh makhluk, hanya satu (golongan) di antara mereka.

Para Sahabat (ra) Nabi Suci (saw) bertanya, “Siapakah mereka wahai Nabi yang kami cintai?”  

Nabi (saw) menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang akan bersamaku dan mengikuti kalian, karena kalian mengikuti aku.  Dan mereka akan berusaha untuk mengikuti kalian karena mereka tahu bahwa jalan kalian adalah jalan yang lurus, Shiraatha ‘l-Mustaqiim. Dan itu hanya ada satu, tidak mungkin ada dua Shiraatha ‘l-Mustaqiim.  Kalian dan orang-orang yang mengikuti kalian akan menjadi firqatun naajiyyah, golongan orang-orang yang selamat.  Mereka akan masuk Surga karena jalan mereka adalah jalan yang benar.”

“Bagaimana dengan 72 golongan lainnya?”

“Mereka akan mengaku bahwa, ‘Kami bersama Khatamul Anbiya, Nabi Penutup,’ tetapi mereka adalah para pembohong.  Mereka tidak mengikutiku, mereka mengikuti Setan. Ke-72 golongan itu semuanya bersama Setan. Jika Setan tidak bersama mereka, maka mereka akan menghormatiku.  Tetapi mereka tidak menghormatiku karena Setan mengatakan kepada mereka, ‘Engkau berada di jalan yang benar, dan merekalah yang tidak berada di jalan yang benar.”  

Guru dan pemimpin mereka yaitu Setan telah meletakkan sesuatu ke dalam 72 golongan ini.  Jika kalian bertanya siapa saja mereka, itu mudah. Besok malam adalah hari kelahiran Nabi (saw), Milad un-Nabi.  Orang-orang yang menolak untuk merayakan hari kelahiran Nabi Penutup (saw), kalian tahu–mereka bersama Setan. Hal ini karena Setan begitu hasad, begitu dengki dengan Nabi (saw), dan membuat orang-orang tidak merayakan hari kelahiran dan malam pertama dari Nabi Penutup (saw).  Mereka semua ini merayakan hari ulang tahun seseorang, ptuuh (meludah), tetapi jika kalian merayakan hari ulang tahun Nabi Penutup (saw), mereka mengatakan itu adalah haram, syirik, bid’ah dan kufur.

Di kepala mereka akan tertulis raghab `ala anfihim, kutukan bagi mereka!  Mereka begitu dengki terhadap manusia yang seharusnya dihormati, manusia yang paling mulia di antara seluruh makhluk!  Apa itu? Setan tidak senang, ia iri dengan Nabi (saw), sebagai makhluk yang paling dicintai, yang paling agung, yang paling mulia.  Setan adalah makhluk yang paling iri terhadap Nabi Penutup (saw), terhadap Kekasih Allah, makhluk yang paling dicintai di Hadirat Ilahi!  Saya bertanya pada kalian, wahai ulama Salafi dan orang-orang Wahhabi, siapakah makhluk yang paling dicintai di Hadirat Ilahi? Katakan!! (Mawlana Syekh berdiri)  Jika Muhammad (saw) bukan orang itu, lalu siapa yang akan berada di Hadirat Ilahi?!! (Mawlana Syekh duduk.)

Kalian adalah bangsa Arab, dan kalian mengerti bahasa Arab.  Allah (swt) berfirman kepada Kekasih-Nya,

لولاك لولاك ما خلقت الأفلاك

Law laak law laak maa khalaqtu ‘l-aflaak.

Jika bukan untukmu (wahai Muhammad), Aku tidak akan menciptakan aflaak (tubuh Surgawi; alam semesta).”

Itu adalah bahasa Arab, ya, dan kalian mengatakan bahwa itu tidak benar, tetapi kami katakan haatuu burhaanukum, bawa bukti-bukti kalian!  Itu adalah hadits qudsi, di mana Allah berfirman kepada Kekasih-Nya (saw), “Kapan dan di mana?  Yaitu ketika belum ada waktu dan ruang,” Allah (swt) mengatakannya kepada Nabi Penutup (saw). Ya, Allah mengatakannya tetapi tidak ada orang yang mengetahui jika Nabi (saw) tidak mengatakannya, tidak ada orang yang tahu, tidak ada orang yang membawa buku catatan dari sakunya dan mencatatnya, tidak.  Itu terjadi sebelum ada waktu dan ruang, “tidak ada waktu dan ruang,” ketika Allah mengatakannya kepada Kekasih-Nya. Hanya satu! Kepada satu-satunya!

Wahai orang-orang yang lalai, wahai para pendengki, para pengikuti Setan, khalifahnya Setan!  Seseorang bertanya kepada saya, “Wahai Syekh, engkau mengatakan bahwa Khalifah Nabi (saw) ada terus hingga Hari Kebangkitan.  Bagaimana dengan Setan, apakah ia juga mempunyai khalifah?” Ya, Setan mempunyai khalifah yang menentang Nabi Penutup (saw), yang penuh kedengkian.  Mereka adalah para khalifah Setan. Khalifah Setan artinya deputi, penerus atau pengikuti sejati dari Setan. Ya, itu begitu jelas. Mereka mengatakan hal-hal yang berbeda dan mempertahankan gagasannya.  Darimana kalian membawa hal-hal semacam itu dan mengatakan bahwa hadits qudsi tadi tidak benar? Katakan, “Law laak law laak maa khalaqtu ‘l-aflaak,”  “Jika bukan untukmu, Kami tidak akan menciptakan seluruh alam semesta.”   Selama 1400 tahun (hadits) ini sudah dikenal, ia tertulis untuk setiap ulama yang mengikuti jalannya Nabi (saw) hingga sekarang.  Hatuu burhanakum, bawa bukti-bukti kalian jika ini bukan hadits qudsi sungguhan.  Katakan, dari mana sumbernya? Apakah menurut kalian Islam dimulai dari Muhammad `Abdu ‘l-Wahhab, dan umat Muslim telah mengikuti jalan yang salah dan mereka semua akan menjadi musyrik dan kafir?  Darimana ia berasal, Abdul Wahhab? Tiba-tiba muncul sesuatu yang bertentangan dengan Nabi (saw)?

Tidak, kalian yang bertentangan dengan Syariatullah, dengan perintah Allah.  Islam tidak dimulai dengan `Abdu ‘l-Wahhab, Islam dimulai dengan Nabi Penutup (saw)!  Mereka bertanya, “Mengapa kalian menyebut kami ‘Wahhabi’?” Mereka sendiri yang mengatakan bahwa mereka adalah Wahhabi!  Saya bertanya pada ulama Salafi, satu pertanyaan. Apakah kalian membaca al-Qur’an suci? Siapa yang mengatakan, `ala dhalaalah (orang-orang yang sesat)?  Bagaimana kalian mengubah nama kalian?  Mengapa kalian tidak mengatakan, “Kami adalah Muslim!”  Allah (swt) menyebut kalian Muslim, mengapa kalian mengatakan, “Kami adalah Wahhabi!”  Mengapa kalian tidak mengatakan, “Kami adalah Muslim!” Kalian telah melanggar Islam dan melakukan dosa terbesar, sebuah kejahatan dalam Islam.  Mengapa kalian tidak mengatakan, sammaakum; mengapa kalian tidak mengatakan, “Kami menjadi Muslim.”  Kalian menyangkal diri sendiri dengan mengatakan, “Kami adalah Wahhabi!”

Wahai manusia!  Siapa yang mengikuti kaum Wahhabi, maka kutukan akan datang pada mereka.  Saya pikir mereka tidak mengetahui bahwa tafriqa (pemecahan) akan terjadi, dalam setengah abad berikutnya tidak ada satu pun dari mereka yang akan hidup di Bumi.  Seluruh dunia hanya untuk Muslim, dan kita tidak mengatakan, “Kami adalah Wahhabi,” kita mengatakan, “Kami adalah Muslim.”  Dan saya mengatakan ini kepada seluruh kaum Muslim, mengapa kalian mengikuti orang-orang itu? Mereka mengubah nama mereka, dengan mengatakan, “Kami mengikuti  `Abdu ‘l-Wahhab.” Mengapa kalian tidak mengatakan, “Kami adalah Muslim.” Apakah `Abdu ‘l-Wahhab seorang Nabi? Memberi kalian nama, “Kami adalah Wahhabi.” Siapa di antara kalian yang memberikan wewenang kepada mereka?  Para pengikut Setan, khaaf Allah, takutlah kepada Allah, qudratuh (Kekuasaan-Nya), atau kalau tidak, tidak ada seorang pun yang akan hidup di dunia.

Saya rasa tidak ada seorang pun di antara orang-orang yang mengatakan “Kami adalah Wahhabi” akan sampai pada zaman Sayyidina `Isa (as).  Ini adalah sebuah pengakuan yang besar. Kita mendapat deklarasi istimewa ini sekarang, malam ini, bahwa mereka berada di jalan yang salah, karena mereka mengatakan, “Kami adalah pengikut `Abdu ‘l-Wahhab,” dan, “Kami adalah Wahhabi,” dan memberi mereka nama bahwa mereka adalah “Wahhabi.”

إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ

inna bathsya rabbuka la syadiid.

Sungguh azab Tuhanmu sangat keras. (Al-Buruj, 85:12)

Allahu Akbar `alayhim, Allahu Akbar `alayhim, Allahu Akbar `alayhim dan kepada para pengikutnya!

A`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim.  Di manakah Islam sejati dan di mana (posisi dari) orang-orang yang mengikuti jalan yang salah sekarang?  Mereka begitu hasad, dengki, mereka tidak pernah rela untuk menghormati Nabi Penutup (saw). Allah (swt) sangat memuliakannya!  Itu artinya kalian berkelahi dan bertengkar dengan Allah (swt)! Kalian menentang Allah dan mengatakan, “Mengapa kalian bersama orang ini?”

Ohh, ohh, yaa Rabbii, subhaanallah!  As-salaamu `alaykum wahai para pendengar kami,

وَالسَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

wa ‘s-salaamu `alaa mani ‘ttaba`a ‘l-huda.

Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. (Thaha, 20:47)

Keselamatan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk Nabi (saw).  Ya, kita berusaha untuk mengikuti jalan Nabi Penutup (saw), Sayyidi ‘l-awwaliin wa ‘l-akhiriin.  Kita adalah para pendosa. Kita tahu bahwa kita adalah para pendosa, tetapi saya pikir kita tidak mengganggu kehormatan Nabi Penutup (saw).  Kita adalah para pendosa, tetapi manusia yang paling mulia adalah Sang Nabi Penutup (saw), (Mawlana Syekh berdiri lalu duduk kembali) dan kita berharap bahwa beliau akan memberikan syafaatnya bagi para pengikutnya yang lemah!

Wahai Tuhan kami!  Kami tidak menyukai orang-orang yang salah, dan fitnah itu akan menjadi akhir dari zaman ini.  Begitu banyak fitnah yang muncul, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi Penutup (saw), begitu banyak hal-hal palsu yang muncul menentang Islam sejati dari para pengikut Setan.  Mereka akan datang menentang posisi mansyuur (yang mendapat Dukungan Ilahi) dan mereka akan mengatakan, “Ini salah, itu benar.”   Akhbathu ‘n-naas, orang-orang yang sangat kotor, yang mengikuti ego mereka, heh?  Ego itu mengikuti Setan.

Wahai Tuhan kami!  Jagalah kami agar tidak terjatuh dalam perangkap Setan.  Setan berusaha sejak zamannya Nabi Penutup (saw) hingga akhir zaman, mengatakan, “Aku tidak akan membiarkan umatmu mengikutimu, tetapi aku akan membuat umatmu mengikutiku, khususnya di akhir zamanmu.”  Setan telah melakukan yang terburuk untuk membuat fitnah besar melalui Islam, mengapa? Sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Penutup (saw), “Akan ada 73 golongan.” Beliau (saw) memberi peringatan kepada umatnya, “Wahai manusia!  Ikutilah jalan yang benar, karena ada begitu banyak jalan yang akan muncul dan setiap orang akan mengatakan, ‘Ikutilah jalan kami, ikutilah jalan kami,’ tetapi mereka membawa kalian ke dalam perangkap mereka. Mereka semua akan terjatuh dari jembatan Shirath.”  Semoga Allah mengampuni kita.

Wahai manusia!  Apa yang kami katakan adalah tidak mudah, karena hari Kamis (atau Rabu malam) adalah hari kelahiran Nabi Penutup (saw), sebuah perayaan menentang gagasan yang salah akan terjadi di Bumi dan begitu pula di Langit.  Seluruh Langit akan dihiasi dengan dekorasi yang begitu rupa yang belum pernah muncul sebelumnya, untuk merayakan “Malam Kelahiran Nabi Penutup (saw)!” (Mawlana Syekh berdiri). Yaa Muhammad!! Yaa Allah!! (Mawlana Syekh duduk kembali).

Seluruh malaikat, seluruh Muslim sejati, ruh mereka bernyanyi, jiwa sejati mereka bernyanyi, yaa Muhammad, Dost Muhammad canım pek sever seni.  Ribuan dan ribuan nasyid yang indah dilantunkan di Langit; malam itu akan menjadi malam perayaan di Langit, untuk Mukmin sejati yang hatinya penuh dengan kecintaan pada Sayyidina Muhammad!! (Mawlana Syekh berdiri dan duduk kembali.)  Oleh sebab itu, seluruh Muslim selama berabad-abad, mereka menyanyi dan melantunkan,

Huuuuu Huuuu Huuuuu Huuuuu Huuuuuu Huuuuuu

Huuuuu Huuuu Huuuuu Huuuuu Huuuuuu Huuuuuu Huuuu yaa Muhammad

Huu Huuu Huuuu Huuu Huuuuu Hu Huuu Hu Huuu Hu Huuuu Huuuu Hu Huuuuuu.

Fatihah.

Dari Samudra yang Tak Bertepi, apa yang kita katakan adalah sebagai takzim, penghormatan kepada Nabi Penutup (saw), dan itu lebih kecil daripada sebuah atom!

Huu Huuuu Huuuu Huuuuu Huuuu Huuuu.

Wahai para malaikat, bawalah mereka pergi, mereka yang penuh kedengkian, yang membenci Nabi Penutup (saw); Nabi yang paling dicintai di Hadirat Ilahi!  Bawalah mereka pergi atau bawalah mereka pada jalannya.

Fatihah.

(43 menit) (535)

Alhamdulillah.

(Mawlana Syekh berbicara dengan Hajjah Naziha di telepon.)

 

Nabi Muhammad (saw) ialah Pahlawan Kita

photo_2016-11-10_10-49-17

Nabi Muhammad (saw) ialah pahlawan kita, bahkan super pahlawan kita! Rakyat di setiap negeri muslim bergembira karena telah mendapatkan kemerdekaannya dari kaum penjajah yang telah membelenggu mereka, dengan anggapan bahwa hari kemerdekaan adalah hari kelahiran bagi bangsanya—itulah hari raya nasional. Di setiap negeri muslim, penekanan pada hal ini begitu kuat terasa sehingga setiap anak hafal benar tanggal hari kemerdekaannya dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengannya. Peringatan hari ulang tahun tersebut menggambarkan kebebasan mereka dari penjajahan dan diterimanya identitas baru mereka sebagai suatu bangsa yang belia. Pada hari raya itu, bendera-bendera berkibar di setiap jalanan, foto-foto para bapak pendiri bangsa dipasang secara mencolok di mana-mana, nama-nama para pahlawan lainnya disebut-sebut, dan riwayat hidup mereka disiarkan ke seantero negeri sepanjang hari, minggu, dan bulan. Di mana-mana hari kelahiran bangsa diperingati dengan berbagai pertunjukan yang memesona, parade, lampu warna-warni, dekorasi, kembang api, dan pawai militer, seperti di Amerika pada tanggal 4 Juli (atau Indonesia, pada tanggal 10 November–penerj). Subhanallah, keberatan-keberatan tidak diajukan atas peringatan hari-hari raya nasional kaum muslim. Oleh karena itu, tak selayaknyakah kaum muslim memperingati satu-satunya orang yang telah membebaskan kita dari sesuatu selain Allah (swt), yang telah membawa kita dari kekufuran ke keimanan, dari kemusryrikan ke tauhid, yang telah membangun masyarakat kita dan memberi kita identitas baru sebagai muslim? Mengapa kita tidak bergembira akan peristiwa tersebut dengan mengingat kebesarannya, keberaniannya, kepemimpinannya, dan berterima kasih kepada Allah (swt) pada hari itu, yaitu hari Dia menganugerahi kita dengan menjadi umat Muhammad (saw)? Sebagai umat terbaik di muka bumi, tidak akankah kita masuk ke surga lebih dahulu karena kebesaran Nabi kita?

Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia
http://www.naqsybandi.com