Berserahdirilah kepada Allah Ta’ala!

17022468_1272518766135807_3119648654061690335_n

Pasrahlah kepada Kehendak Tuhan.  Berserahdirilah kalian!  Hancurkan batas yang ada antara dirimu dan Tuhanmu.  Jika engkau tidak menghancurkannya, engkau tak akan mampu berserah diri.  Batas itu adalah ‘Engkau’ dan ‘Aku’. Kalian mengatakan pada Tuhan kalian, ‘Engkau,’ dan kalian mengatakan pada diri kalian sendiri, ‘Aku.’ Semestinya kalian tidak mengatakan, ‘Aku.’ Kalian mesti mengatakan ‘Engkau’ setiap saat.

Tak ada ‘Aku’ dalam laku berserah diri dan pasrah kepada Kehendak Tuhan. Jika masih ada ‘Aku’, itu artinya kalian belum berserah diri kepada Tuhan. Kalian perlu berjuang memerangi ego kalian hingga ego kalian berkata, ‘Aku tak wujud lagi.’ Ketika kalian mencapai titik itu, Tuhan akan memperlihatkan Diri-Nya kepada kalian. Seorang Waliyullah besar pernah berkata, ‘Aku melihat Tuhanku dengan mata Tuhanku.’ Ini artinya, ‘Aku tak dapat melihat dengan kedua mataku sendiri.’ Ia tidak memiliki penglihatan apa pun kecuali melalui Tuhannya. Diri sang wali telah lenyap, dan Tuhannyalah yang muncul.

Ketika Tuhan kalian muncul, kalian dapat ‘melihat’ Tuhan kalian. Sekelompok orang beraliran spiritual tertentu menyebut pengalaman ini sebagai ‘kekosongan paripurna’. Mereka mencapai suatu tingkatan di mana tak ada apa pun lagi. Ketiadaan Mutlak. Mereka berkata, ‘Kami telah mencapai kesempurnaan.’ Memang mereka telah mencapai sesuatu, tetapi tingkatan itu bukanlah kesempurnaan. Mereka tak mampu untuk menyeberanginya dan mencapai tingkatan setelahnya, karena itulah mereka berpikir bahwa tingkatan itu adalah tujuan tertinggi. Ketika kalian mencapai ketiadaan, kalian tengah berdiri di depan pintu kewujudan penuh dalam Kewujudan Tuhan.

Ketika beberapa kaum spiritual mencapai kekosongan paripurna, mereka memerlukan suatu cara untuk menyeberang. Mereka tidak menemukan cara itu. Semestinya, dengan cara atau sarana itu, mereka dapat menyeberang dan menemukan kewujudan paripurna. Lawan dari ketiadaan mutlak, pasti ada kewujudan mutlak, sebagaimana lawan dari ciptaan, pasti ada Tuhan, Sang Pencipta. Ada suatu jembatan di antaranya.

Untuk menyeberang dari yang satu ke yang lai, kalian mesti melalui jembatan tersebut. Tuhan berfirman dalam suatu Hadits Qudsi, ‘Aku adalah Harta Tersembunyi yang Tak Diketahui, dan Aku ingin untuk diketahui, maka Aku ciptakan Makhluq.’ Jika kalian tidak melihat-Nya, kalian akan berfikir tentang ketiadaan, ketidakwujudan. Tidak. Ketika kalian mencapai kekosongan paripurna-dan ini adalah suatu maqam yang tinggi-kalian mesti menemukan jembatan yang dapat membawa diri kalian ke kewujudan paripurna yang berada di seberang maqam ketiadaan paripurna tadi, karena ada suatu tingkatan yang lebih tinggi, dan suatu tingkatan yang masih lebih tinggi lagi daripada itu.

Sebagaimana Allah (swt) telah berfirman, ‘’dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi lebih mengetahui.” (QS. Yusuf, 12:76). Kita harus pula memahami bahwa ‘Di atas setiap orang yang memiliki suatu maqam ada seseorang lain yang berada di maqam lebih tinggi.’ Ia yang berada di atas dapat melihat ia yang berada di bawahnya, tetapi yang di bawah tidak mampu melihat yang di atasnya. Bagaimana kemudian kita bisa mengatakan bahwa tingkatan yang kita berada di atasnya adalah suatu tingkatan terakhir? Kita tak mampu melihat di atas tingkatan kita. Karena itulah, Allah memperingatkan kita bahwa seseorang tak mampu mengetahui seluruh pengetahuan tak peduli seberapa dekat ia telah mendekati. Kalian hanya akan memiliki sebagian dari pengetahuan itu.

Pengetahuan sempurna hanya dimiliki oleh-Nya. Karena itu, janganlah mengatakan seperti apa yang mereka katakan ketika mereka mencapai kekosongan sejati, ‘Ini adalah tingkatan terakhir.’ Memang tingkatan itu adalah suatu tingkatan yang cukup tinggi dan berharga bagimu, tetapi pasti ada seseorang yang Allah telah tempatkan lebih tinggi darimu.

Jangan meremehkan kekuatan Tuhan. Tuhan tak pernah dapat dibatasi. Ada tak berhingga banyaknya maqam dan tingkatan. Kemana pun dirimu telah mencapai, masih ada lagi maqam-maqam berikutnya.

Mawlana Syaikh Hisham Kabbani
http://www.naqsybandi.com

Advertisements

Esensi Setiap Manusia

15349562_1187444074643277_8161426601939920673_n
Sayyidina ‘Abdul-Khaliq berkata,

“Esensi sejati setiap orang tertanam di dalam esensi Nabi ﷺ. (Grandsyaikh berkata dalam buku catatan beliau) (dari Quran) وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّه – wa’lamuu annaa fiikum rasulallaah – dan ketahuilah bahwasanya Nabi ﷺ ada dalam diri kalian.” (QS. Al-Hujurat 49:7) ‘Jika beliau tidak berada dalam dirimu, engkau tidak akan ada.’

Allah (swt) menjadikan setiap orang muncul karena wujud Sayyidina Muhammad ﷺ dalam Hadirat Ilahi, jika tidak, kalian pun tidak akan muncul; artinya kalian tidak akan diciptakan. Jika kalian melihat diri kalian di sini, tercipta, itu suatu pertanda bahwa kalian berada dalam haqiqat Nabi ﷺ dan bahwa kalian berada di Hadirat Ilahi. Karena itulah Nabi ﷺ selalu berbahagia ketika Allah (swt) memanggil beliau ‘hamba-Ku,’ `abdii. Jika kalian tidak dapat memahami hal ini, kalian tidak akan pernah mencapai maqam haqiqat diri kalian. Sebab kalian mesti memahami bahwa tiada kewujudan bagi diri kalian. Kalian wujud melalui wujud Nabi ﷺ, artinya kalian mestilah berserah diri. Jika kalian tidak berserah diri, kalian bukan apa-apa.

Ubaydullah (seorang murid) bertanya, “Bagaimana aku harus berserah diri?”

Sayyidina ‘Abdul-Khaliq menjawab, “Seperti ketika engkau memiliki segelas air dan mengambil setetes darinya dengan ujung jarimu, engkau melihat setetes air telah terbentuk. Tetapi, ketika tetesan itu kembali ke dalam gelas air tersebut, ia akan kehilangan bentuknya; ia kembali ke sebuah samudra. Engkau mesti meniadakan bentukmu dan berenang dalam samudra Nabi ﷺ. Itulah kuncinya bagimu.”

“Bagaimana melakukannya?” tanya Ubaydullah.

Sayyidina ‘Abdul-Khaliq menjawab, “Untuk melakukannya adalah dengan berada dalam shuhbat seorang Syekh, berada dalam perkumpulannya, berserah diri dan patuh sepenuhnya kepada perintah-perintahnya. Engkau datang dengan suatu bejana yang kosong; hatimu mestilah kosong. Jangan datang dengan bejana yang sudah penuh.”

Dapatkah kalian melihat seseorang yang mendatangi perkumpulan seorang Syekh dengan bejana hatinya yang kosong? Dia malah berkata, “Aku tahu ini atau itu.” Mungkin di hadapan syekh kalian, kalian berkata bahwa beliau lebih tahu, tetapi di hadapan saudara-saudara kalian, dapatkah kalian mengatakan bahwa mereka lebih tahu? Kalian berpikir bahwa kalianlah yang paling tahu. Orang-orang suka untuk bernyanyi. Karena itulah kalian melihat sekarang Mawlana Syekh bernyanyi untuk orang-orang, karena mereka suka mendengar nyanyian.

Sayyidina ‘Abdul-Khaliq melanjutkan, “Engkau mesti datang tanpa apa pun, seperti daun sebatang pohon: ia bergerak ke mana pun angin menghembuskannya, ke kanan atau ke kiri. Engkau mesti menjadi sehelai daun di atas gunung, turun ke bawah, ke bawah, dan ke bawah, terus ke bawah hingga masuk ke lembah yang dalam, dan akhirnya lenyap. Artinya, bawalah egomu turun dari gunung tinggi, sebagaimana kita semua berpikir bahwa kita berada di suatu gunung Himalaya yang tinggi. Bawalah dirimu ke bawah.”

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani (ق)
Nazimiyya Indonesia
http://www.naqsybandi.com