Rahasia Kenabian Aya Sophia

Dr. Nour Mohamad Kabbani
8 Mei 2019 | Zawiyah Fenton, Michigan
(Diambil dari Buku Catatan Mawlana Syekh Nazim)


A`uudzubillaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Alhamdulillaahirabbi ‘l-`aalamiin
Wa ‘sh-shalaatu wa ‘s-salaamu `alaa Sayyidinaa Muhammad wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin 
wa man tabi`ahum bi ihsan ila yaumiddin

Wa `ala saa’iri ‘l-Anbiyaa’i wa ‘l-Mursaliin wa ‘l-Awliyaa’ wa `ibaadilaahi ‘sh-shaalihiin wa `alayna ma’ahum ajma`iin yaa Arhama ‘r-raahimiin,  wa laa hawlaa wa laa quwwata illa bilaahi ‘l-`Aliyyi ‘l-`Azhiim

Destur yaa Sayyidi yaa Sulthaanul Anbiya
Destur yaa Sayyidi yaa Sulthaanul Awliyaa’
Destur yaa Sayyidi wa Mawlay 
Madad yaa Rijaalalaah, 

Rijaalallaah, Rijaalallaah, a`iinuuna bi awnillaah, wa kuunuu `awnalanaa billaah`asa nahzha bi fadhlillah,

 Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim

Subhanallaah Imam, al-Hayy, Yang Mahahidup.  Satu kata mampu menghancurkan seluruh Kekristenan.  Satu Asma Allah menghancurkan semua fondasi yang telah mereka bangun.  Allah (swt) berfirman,

Allaahu laa ilaaha illa huuwa ‘l-hayyu ‘l-qayyuum, 
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia Yang Mahahidup dan Terus-Menerus Mengurus Makhluk-Nya. (QS al-Baqarah, 2: 255)

Delegasi mereka datang kepada Rasulullah (saw) dari sebuah tempat yang bernama Najran, dan beliau (saw) mengundang mereka untuk menerima kebenaran, tetapi mereka memberikan alasan-alasan mengenai Sayyidina Isa (as).  Dalam Shalat Subuh tadi, kita membaca Surat al-Maa’idah, di mana Allah (swt) bertanya kepada Sayyidina Isa (as), 

wa idz qaalallaahu yaa `iisabna maryama a’anta qulta li ‘n-naasittakhidzuunii wa ummiya ilaahayni min duunillaah, qaala sub-haanaka maa yakuunu lii an aquula maa laysa lii bihaqq, in kuntu qultuhuu fa qad `alimtah, ta`lamu maa fii nafsik wa laa a`laamu maa fī nafsik, innaka anta `allaamu ‘l-ghuyuub

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (QS Al-Maa’idah, 5:116)

Bayangkan jika Allah (swt) bertanya kepada kalian, “A’anta qulta?”  “Apakah engkau yang mengatakannya?”  Kadang-kadang jika pengacara mengatakan kepada kalian, “Apakah engkau yang melakukannya?”  Kalian bertanya-tanya, “Oh, apa yang akan terjadi?”  yaa `iisabna maryama a’anta qulta li ‘n-naas, apakah kamu yang mengatakan kepada manusia wahai Isa putra Maryam, “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai tuhan.”–karena mereka (delegasi Nasrani) datang dan mengatakan bahwa Isa (as) adalah anak Tuhan; kadang-kadang mereka mengatakan bahwa ia adalah Tuhan.  Allah (swt) kemudian menurunkan Surat Ali Imran, pertama hampir sebanyak 80 ayat yang merupakan jawaban terhadap delegasi Nasrani yang datang kepada Rasulullah (saw).  

Allah (swt) memulainya dengan, “Alif Laam Miim,” Rasulullah (saw) mengetahui maknanya, begitu juga para Awliyaullah.  Kita lanjutkan, “Allaahu, Allah (swt) laa ilaaha illa hu–tidak ada tuhan selain Dia, al-Hayy–satu kata, Yang Mahahidup.  Tuhan tidak pernah mati!  Mustahil bahwa Tuhan bisa mati.  Jika Tuhan mati, siapa yang akan mengatur Kerajaan-Nya?  Siapa yang akan mengurus hamba-hamba-Nya?  Ciptaan-Nya?  Jika Tuhan mati, maka Yang Mahahidup menjadi tidak berlaku, sebaliknya Tuhan itu selalu hidup, Mahahidup.  

Mereka mengatakan bahwa Yesus Kristus mati di salib demi dosa-dosa kalian.  Mati!  Jika Yesus Kristus adalah Tuhan; Tuhan tidak pernah mati.  Allah (swt) mengatakan bahwa Tuhan Mahahidup, al-HayySubhanallaahi ‘l-`Aliyyi ‘l-Azhiim.  Satu kata saja sudah cukup, tidak perlu ada perdebatan lainnya.  Selesai!  Subhanalaah, satu kalimat itu muncul, allaahu laa ilaaha illaa hu, Allah (swt), tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Yang Mahahidup–tidak pernah sesaat pun kematian terjadi pada Tuhan, bahkan tidur pun tidak; bahkan tanda-tanda tidur pun tidak, sebagaimana kita semua mengalaminya sekarang (tersenyum, sambil memperagakan orang yang mengantuk), mendengkur pun tidak terjadi pada Tuhan.  Allaahu akbar walillaahi ‘l– hamd. 

Subhanallaah, saya membuka halaman ini dan kemarin kita membicarakan tentang membuat ego seseorang tunduk, dan tentang mencium tangan orang lain.  Setelah itu Mawlana Syekh Nazim (q) berbicara tentang Sayyidina Abu Ahmad as-Sughuri (q), salah satu Grandsyekh dari Silsilah Keemasan Tarekat Naqsybandi.  Beliau mengatakan bahwa Sayyidina Abu Ahmad as-Sughuri (q) mengatakan tentang Aya Sophia–orang menyebutnya Hagia Sophia di Istanbul.  Itu adalah sebuah gereja, kuil, dan istana di mana upacara pemahkotaan di Kekaisaran Bizantium dilakukan.  Jika kalian mengunjunginya kalian akan melihat lingkaran-lingkaran yang menandakan tempat berdirinya kaisar, permaisuri dan anggota kerajaan lainnya dalam upacara pemahkotaan tersebut.  Jadi Sayyidina Abu Ahmad as-Sughuri (q) mengatakan tentang gereja Aya Sophia tersebut.  Itu adalah sebuah masjid, tetapi pertama dibangun sebagai gereja.  Ini adalah kehendaknya untuk membicarakan tentang Hadits ini dan apa pun yang kita terima dari Grandsyekh, dari Syuyukh kita, kita mempercayainya.  

Mawlana Syekh Nazim (q) mengatakan bahwa Awliyaullah, ketika mereka mendengar sebuah Hadits, mereka dapat melihat cahaya yang menyertai Hadits tersebut.  Itu menegaskan bahwa Hadits tersebut adalah sahih.  Mereka tidak memerlukan sanad atau siapa yang meriwayatkan Hadits tersebut, atau dalam kitab apa Hadits tersebut disebutkan atau Imam siapa yang menyebutkannya.  Mereka melihat Nuur Rasulullah (saw), karena Cahaya Ilahiah dalam Hadits tersebut bergerak dan jika mereka melihatnya, mereka tidak memerlukan yang lainnya lagi untuk meyakinkan bahwa Hadits tersebut adalah sahih.  

Jadi beliau mengatakan bahwa mereka berusaha untuk membangun Aya Sophia ini sebagai salah satu alam, atau penanda bagi Gereja di timur.  Vatikan di barat dan yang ini sebagai penanda di timur.  Tetapi setiap kali mereka berusaha membangun kubahnya, karena ukurannya yang begitu besar, kubah itu menjadi retak dan mereka tidak pernah bisa memperbaikinya.  Mawlana Syekh Nazim (q) mengatakan bahwa sampai mereka mendengar tentang Nabi (saw) di Arabia, karena Rasulullah (saw) mengirimkan surat kepada kaisarnya.  Untuk alasan tertentu, Grandsyekh mengatakan bahwa Allah (swt) mengilhami arsiteknya untuk menemui Nabi (saw), jika beliau adalah Nabi sejati, beliau akan menjelaskan bagaimana cara membangun kubah tersebut.  Arsitek itu lalu meminta izin kepada kaisar untuk menemui Nabi (saw) dengan mengatakan bahwa jika ia adalah seorang Nabi yang sahih maka ia pasti mempunyai sesuatu agar kubah ini menjadi sempurna.  

Salah satu nama Rasulullah (saw) adalah Mukammil.  Pada kesempatan lain kita telah membahas nama Waashilun Mawshuulun, orang yang tersambung dan orang yang menyambungkan.  Dan salah satu nama beliau adalah Kaamilun Mukammil, orang yang sempurna dan yang menyempurnakan.  Allah (swt) mengilhaminya dari Hakikat Rasulullah (saw) bahwa beliau adalah orang yang menyempurnakan.  Jadi arsitek itu mengatakan, “Aku akan pergi menemuinya dan melihat apakah beliau mempunyai sesuatu untuk menyempurnakan kubah ini.”  Jadi ia pergi dari Konstantinopel dan sampai ke Madinatu ‘l-Munawwarrah `ala saakinihaa afdhalu ‘sh-shalaatu wa ’s-salaam wa `ala aalihi wa shahbihi ajma`iin. 

Ketika ia tiba ia mendatangi Rasulullah (saw), dan Rasulullah (saw) bertanya darimana ia berasal.  Ia mengatakan bahwa ia berasal dari Konstantinopel dan ia adalah seorang arsitek yang sedang membangun gereja terbesar di timur, tetapi ia mempunyai sebuah masalah yaitu setiap kali ia membangun kubahnya, kubah itu tidak bertahan.  Pada hakikatnya hal itu adalah karena keyakinan mereka yang retak.  al-Hayy, Yang Mahahidup.

Rasulullah (saw) mengambil sejumlah pasir, dan beliau (saw) memasukkan air ludahnya yang suci ke dalamnya, kemudian beliau mengatakan, “Bawalah pasir dengan air ludahku ini kemudian campurkan dengan adonan semen dan lain-lain, ia akan bertahan.” Itu adalah air ludah suci Rasulullah (saw)!  Orang itu berkata dalam hati, “Apa ini?  Aku datang jauh-jauh dari Konstantinopel ke Madinatu ‘l-Munawwarah untuk bertanya apakah ia (Rasulullah (saw)) mempunyai ilmu yang bisa diajarkan untuk membangun kubah yang sempurna.  Tetapi ia malah memberiku pasir dengan air ludahnya di dalamnya.  Apa ini?”  Jadi ia pun kembali dan sampai ke sebuah tempat di dekat Istanbul.  Ia merasa sangat kehausan.  

Ada sebuah rahasia di sini, ini adalah sebuah kisah, tetapi selalu terdapat ta’wiil, ada suatu ilmu yang tersembunyi dalam sebuah kisah.  Ia meminta ilmu kepada Rasulullah (saw).  Rasulullah (saw), ketika beliau meletakkan air ludah sucinya ke dalam mulut Sayyidina ibn al-`Abbas’(ra), ia menjadi samudra ilmu.  Jadi ketika beliau memasukkan air ludahnya yang suci ke dalam pasir tersebut, beliau (saw) memasukkan ilmu ke dalamnya, artinya “gerejamu hanya akan sempurna dengan ilmuku.”  Allaahumma shalli wa sallim wa baarik `alayh, yaa Sayyidii!  Orang itu tidak mengerti, karena ia hanya melihat air ludah, padahal air ludah itu berarti ilmu beliau (saw) yang suci, kalam beliau (saw) yang suci, yang telah beliau ucapkan dari al-Qur’an suci dan Sunnah; beliau (saw) melakukannya dengan mulutnya. 

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ
Bi lisaanin `arabiyyin mubiin
(Kami telah menurunkan al-Qur’an) dalam lisan Arab yang jelas. (Asy-Syu`ara, 26:195)

Lisaan atau lidah dibungkus dengan air ludah, jadi itu artinya, “Gerejamu hanya akan bertahan dengan ilmuku.  Agamamu hanya akan bertahan, hanya akan menjadi sahih, dan bisa berdiri tegak dengan ilmu Muhammad (saw)!”  

Jadi orang ini kembali ke Istanbul dan berjalan ke Konstantinopel dan ketika hampir sampai ke sana, ia sampai di suatu tempat di mana ia merasa sangat kehausan.  Ia lalu pergi ke sebuah sumur dan terlintas dalam hatinya bahwa ia membawa pasir yang bercampur dengan air ludah Rasulullah (saw), dan sumur ini sangat dalam,”  ia berkata, “Mari kita lihat, jika ada suatu rahasia dalam pasir ini maka ini akan menjadi jelas.”  Allah (swt) memberi ilham ke dalam hatinya, ia mengambil sedikit pasir tersebut dan melemparkannya ke dalam sumur dan tiba-tiba air memancar dari dalamnya.  Sumur itu menjadi sumber mata air.  Orang itu minum, tetapi air yang memancar dari sumur itu tidak berhenti.  Grandsyekh mengatakan bahwa sumur itu meluap dan airnya mengalir mengejarnya.  Ia berlari dan air itu mengejarnya–itu adalah ilmunya Rasulullah (saw).  Ilmu beliau (saw) tidak ada akhirnya.  Ia berlari ke gunung, dan air memenuhi seluruh daerah itu membentuk danau yang besar di negeri tersebut.  Sampai sekarang kalian masih dapat melihat seluruh tanah tersebut dengan menara gereja–karena pada saat itu masih Kristen, yang dibanjiri dengan air yang memancar dari sumur yang di dalamnya terdapat air ludah suci Rasulullah (saw).  Ilmu Rasulullah (saw) melingukupi semua gereja tersebut.  

Orang itu kemudian pergi dan akhirnya tiba di Konstantinopel.  Mawlana Syekh Nazim (q) menceritakan sebuah kisah kepada kita, tetapi kisah ini mempunyai makna yang sangat dalam.  Setiap orang sangat gembira menyambut kedatangan arsitek tersebut.  Mereka percaya bahwa pada akhirnya gereja mereka akan dibangun dengan benar.  Jadi sang Raja, para wazir dan umara dan orang-orang berkumpul dan mereka bertanya, “Ada kabar apa darimu?  Dapatkah kita membangun gereja kita?”  Grandsyekh mengatakan bahwa arsitek itu kini mengerti rahasianya, tetapi ia ingin menyandang fadhl, kekuatan atau keajaiban, anugerah atau ilmu tersebut untuk dirinya sendiri, itu adalah ego.  Egonya mengatakan, “Sekarang aku akan menunjukkan kepada mereka bahwa aku mampu melakukannya dan bahwa aku tahu segalanya.”  Jadi dengan ilmu dari Rasulullah (saw) apa yang dilakukan oleh arsitek ini?  Ia mengatakan bahwa ilmunya bukan berasal darinya (Rasulullah (saw)), melainkan dari dirinya sendiri. 

Berapa banyak “Syuyukh” sekarang ini di mana mereka mengambil ilmu dari Rasulullah (saw)–apa pun yang mereka pahami darinya, tetapi mereka mengkaitkan ilmu itu untuk dirinya sendiri, untuk menunjukkan diri mereka.  Jadi Grandsyekh mengatakan bahwa orang ini mengatakan, “Aku hanya membuat diriku lelah (dengan pergi menemui Rasulullah (saw).”  Tetapi ia tetap memasukkan pasir yang dibawanya ke dalam campuran bahan untuk membangun kubah tersebut.  Ia mengatakan, “Aku akan membangunnya, aku tahu caranya. Ayo kita lakukan!”  Jadi kali ini mereka membangunnya dan kubah itu mampu bertahan.  Ia menunjukkan kepada orang-orang bahwa ia tahu cara membangunnya.  Ia tidak mengatakan bahwa Rasulullah (saw) memberinya ilmu.  Ia tidak mengatakan bahwa, “Rasulullah (saw) memberi dukungan kepadaku dengan ilmu sucinya.”  

Sekarang ini banyak orang yang membuat acara online dan mereka berbicara tentang apa?  Tentang ilmu yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw).  Apa yang mereka lakukan?  Mereka mengkaitkannya untuk diri mereka sendiri.  

Jadi kubah itu masih berada di sana, di Aya Sophia, dan ketika Kiamat datang, Grandsyekh mengatakan bahwa ketika Allah (swt) menghancurkan Bumi ini untuk membangun Bumi yang baru pada saat Kiamat, kubah itu tidak ikut hancur, tetapi kubah itu akan terlepas sebagaimana tutup poci teh dan akan menggelinding karena adanya kekuatan Rasulullah (saw) di dalamnya.  

Grandsyekh mengatakan bahwa para Shahabati ‘l-kiram (ra), mereka terkejut.  Seseorang datang untuk membangun sebuah gereja dan Rasulullah (saw) memberinya sesuatu untuk menahan kubah tersebut.  Para Sahabat terkejut, tetapi ini adalah salah satu mukjizat Rasulullah (saw).  Beliau bersabda bahwa, “Konstantinopel akan terbuka.  Dan gereja yang mereka bangun akan menjadi masjid.”  Jadi beliau memberikan kekuatan tersebut untuk membangun gereja tersebut agar nantinya bisa menjadi masjid.  

Grandsyekh mengatakan, “itulah sebabnya Shahibu ‘z-Zamaan akan pergi ke Istanbul, ke Konstantinopel.  Gereja itu menjadi masjid, kemudian sekarang menjadi museum, tetapi nantinya akan kembali menjadi masjid.”  Shahibu ‘z-Zamaan, ketika beliau menerima amanat, yaitu di sebuah istana di belakang masjid, beliau akan mengambil amanat suci, dan beliau beserta khalifah dan wuzara (menteri-menterinya) akan melakukan shalat di dalam masjid tersebut.  

Grandsyekh mengatakan bahwa arah kiblat di dalam gereja tersebut telah diluruskan oleh Sayyidina `Ali (ra, kw).  Bila kalian pergi ke sana, kalian dapat melihat jejak jari Sayyidina `Ali (ra, kw) yang telah memutarkan gereja tersebut ke arah kiblat.  Sayyidina `Ali (ra, kw) terlibat, Sayyidina Mahdi (as) terlibat, Rasulullah (saw) terlibat, Ilmu Ilahiah terlibat.  Di mana?  Di sebuah gereja!  Mengapa?  Apa yang disembah di dalam gereja? Allah (swt), Tuhan dan yang lainnya.  

Wahai Muslim!  Wahai Mukmin!  Wahai manusia!  Hati kalian adalah gereja, hati kalian adalah gereja!  Hati kalian mestinya adalah sebuah masjid!  Di dalam hati kalian, kalian mempunyai Allah (swt), kalian menyembah Allah (swt), tetapi ada yang lain di dalam hati kalian.  Mawlana Syekh Nazim (q) memberi kalian sebuah kisah untuk menunjukkan sebuah rahasia di dalam hati kalian bahwa kalian telah membuat hati kalian menjadi sebuah gereja.  Kalian berdoa kepada Allah (swt), tetapi kalian juga menyembah yang lain, dan yang kalian sembah di sana adalah ego kalian.  Ego mengatakan kepada kalian, “Anaa Rabbakum ul-`alaa, “Aku adalah Tuhanmu yang tertinggi.”  Siapa yang akan memperbaiki hal tersebut?  Beliau adalah Shahib az-Zamaan, Sayyidina Imam Mahdi (as)!  Beliau akan mengubah hati kalian dari gereja menjadi masjid, dan Sayyidina `Ali (ra, kw) akan meluruskan kiblat kalian!  Kiblat kalian adalah untuk dunia, arah kalian adalah dunia, kalian meminta untuk dunia.  Kalian mengajarkan orang-orang dari kitab-kitab untuk meraih dunia.  Sayyidina `Ali (ra, kw) akan meluruskan kiblat kalian.  

Ini semua adalah asrar, rahasia dalam kisah tersebut.  Bahwa untuk membuat hati kalian menjadi hati yang murni, yang menghadap Allah, Sayyidina `Ali (ra, kw) harus meletakkan jarinya di sana.  Sayyidina Imam Mahdi (as) harus mengambil amanat suci kalian dan mengubah hati gereja kalian di mana Allah dan yang lain disembah menjadi masjid di mana hanya Allah (swt) yang disembah.  Itu adalah tawhiid!  Mereka bicara tetang tawhiid tetapi Grandsyekh mengajarkan lebih baik daripada mereka.  Dan gereja kalian akan menjadi masjid yang dapat menahan kubahnya dengan ilmu suci Rasulullah (saw).  

Semoga Allah (swt) mengampuni kita.  Semoga Allah (swt) membuat kita sebagai orang-orang yang dapat mencapai Shaahib az-Zamaan, yang akan memperbaiki hati kita menjadi masjid bagi Allah (swt).    

لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
li ‘th-thaa`ifiina wa ‘l-`aakifiina wa ‘r-rukka`i ‘s-sujuud (QS Al-Baqarah, 2:125)

Orang-orang yang melakukan thawaf, dan orang-orang yang melakukan i’tikaf dan orang-orang yang sujud.  Di mana? Di dalam masjid.  Allah (swt) berbicara tentang orang-orang yang melakukan thawaf di Masjidil Haram, di Makkah al-Mukarramah, dan orang-orang yang melakukan i’tikaf dan mereka ruku, mereka shalat.  Mereka mengatakan bahwa pada hakikatnya, yang melakukan thawaf adalah anwaaru ‘l-ilahiyya, Cahaya Ilahi.  Wa ‘l-`aakifiin, orang-orang yang selalu berada adalah ma`riful rabbaniyya, Ilmu Ilahi.   Jika kalian dapat mengubah hati kalian menjadi المهبط mahbath, landasan untuk mendarat, jika kalian dapat menjadikan hati kalian landasan bagi Cahaya Ilahi dan Ilmu Ilahi berarti kalian telah mengubah hati kalian menjadi masjid hakiki.  Itulah yang dilakukan oleh Sayyidina Imam Mahdi (as) Shaahibu ‘z-Zamaan pada hati kalian, wahai manusia.  Dan hati kalian diluruskan ke arah kiblat oleh Sayyidina `Ali (ra), dengan ilmu Rasulullah (saw).  Setelah itu barulah kalian mempunyai struktur masjid yang sempurna.  

Grandsyekh Mawlana Syekh Nazim (q) mengatakan, “Itu adalah sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan!”  Karena sekarang kalian melihat Cahaya Ilahi di dalam hati kalian.  Kalian duduk sebagaimana yang dilakukan oleh para Awliyaullah.  Mereka menyaksikan, melihat Cahaya Ilahi dan mereka menerima Ilmu Ilahi.  Dari siapa?  Dari Rasulullah (saw), dari Allah (swt), sebagaimana Allah (swt) berfirman,  

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ 
wahuwa ma`akum ayna maa kuntum
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. (QS al-Hadiid, 57:4)

Razzaqanallaah wa iyyakum hadza ‘l-masyhad, semoga Allah (swt) memberi kita semua pemandangan tersebut, insyaaAllah.  

Jadi, waspadalah!  Jangan menempatkan yang lain selain daripada Allah (swt).  Jangan meminta dunia dan menyimpannya dalam hati kalian; jangan meminta agar ego kalian menjadi besar dan kemudian menyimpannya di dalam hati kalian; jangan membuat hati kalian menjadi gereja di mana ada tiga yang disembah. Kita menyembah Allah (swt), tetapi kalian juga menyembah dunia dan nafs kalian.  

Berhati-hatilah wahai Muslim, wahai Mukmin!  Ini adalah ajaran Tarekat.  Ini adalah ajaran Naqsybandiyyah.  Semoga Allah (swt) menjadikan kita orang-orang yang mencapai Tawhiid sejati, “Laa ilaaha illa-Allah” di dalam hati.  “Muhammadun Rasuulullah (saw),” ilmu beliau akan meluruskan, ilmu beliau akan memberi kekuatan bagi masjid tersebut.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita.

Wa min Allah at-tawfiiq, bi hurmati ‘l-Habiib (saw) wa bi sirri Suurati ‘l-Faatihah. 
Alhamdulillah… masyaaAllah, al-Hayy!