Jahiliyah Kedua dan Kedatangan Imam Mahdi (as)

IMG-20160831-WA0001

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
London, 25 Maret 1992

22 Ramadhan 1412 

Wahai saudara-saudariku, khususnya yang baru bergabung, kalian semua datang ke sini karena cinta kepada Syekh.  Kalian tidak datang karena cinta terhadap Islam. Tak seorang pun yang datang ke London karena cintanya kepada Islam.  Kita semua, termasuk pembicara, datang karena cinta kepada Syekh, beliau menunjukkan jalan kebenaran kepada kita, beliau menunjukkan pula bahwa jalan kebenaran itu melalui Islam.  

Allah (swt) telah menciptakan manusia dalam pola keislaman.  Benih keislaman terdapat dalam setiap orang. Islam, seperti keselamatan, berarti “damai” dalam bahasa Arab, dan ia merujuk pada kedamaian hati.  Cahaya kedamaian Allah (swt) telah diberikan ke dalam hati setiap manusia. Tanpa disadari, kita semua datang kepada Mawlana Syekh Nazim (q) melalui pintu cinta, pintu tawaduk dan penghormatan, dan beliau telah membawa kita ke dalam Islam.  

Mengapa para Sahabat menerima Rasulullah (saw)?  Mengapa Allah (swt) memilih makhluk terbaik untuk menjadi Rasulullah?  Sebab akhlak yang baik selalu membuat orang tertarik, sebaliknya akhlak yang buruk tidak akan mampu melakukan hal itu.  Ketika kita melihat akhlak Mawlana Syekh Nazim (q), kita akan tertarik kepadanya. Daya tarik itu membuat kita mengikuti jalannya, yang pada kenyataannya merupakan jalan keimanan dalam Islam.  

Di Amerika, banyak orang yang mendatangi kita, dan setelah kedatangan mereka yang ketiga atau keempat kalinya, mereka minta syahadat, ikrar keimanan dalam Islam, mereka bahkan tidak mengetahui apa yang membuat mereka terinspirasi untuk bersyahadat.  Setelah mereka duduk dan shalat bersama kita, ketika mereka ditanya apa agama mereka, mereka menjawab, “Kami adalah Sufi”. Hal ini disebabkan karena mereka tidak datang semata-mata karena Islam. Selang beberapa waktu kemudian, empat sampai enam bulan, mereka baru menyadari bahwa mereka adalah Muslim! 

Islam adalah ajaran spiritual yang tertinggi, dan ia merupakan agama Allah.  Nabi Musa (as) membawa Judaisme kepada umat Yahudi di masa mereka. Ketika Nabi ‘Isa (as) datang, Judaisme diambil alih dan setiap orang percaya kepada Nabi ‘Isa (as).  Ketika Nabi Muhammad (saw) datang, semuanya lenyap, yang tersisa hanya Islam. Oleh sebab itu, kepercayaan yang tertinggi adalah Islam.  

Mengapa kita tidak menyangkal Nabi Musa (as), tetapi umat Yahudi menolak Islam?  Mengapa kita tidak menyangkal Nabi ‘Isa (as) tetapi orang Kristen, yang mengakui Nabi Musa (as), malah menyangkal Islam?  Kita tidak menolak siapa pun. Ini merupakan bukti kesempurnaan. Sesuatu yang tidak sempurna tidak mungkin dapat melampauinya.  Rasulullah (saw) adalah yang tertinggi, dan itulah sebabnya agama lain tidak dapat menjangkaunya. Namun demikian, sebagai Muslim dan pengikut Rasulullah (saw) dan mematuhi ajarannya, kita menerima orang-orang Kristen, sebab kita tahu bahwa mereka benar dalam mengakui Nabi ‘Isa (as), dan kita juga menerima orang-orang Yahudi karena mereka menerima Nabi Musa (as).  Sama halnya dengan orang-orang Kristen yang tingkatannya lebih tinggi dari orang-orang Yahudi karena agama mereka lebih sempurna—mereka bisa melihat Nabi Musa (as) sebagai seorang rasul, tetapi umat Yahudi tidak dapat melihat Nabi ‘Isa (as) sebagai rasul, mereka tidak bisa melihat yang lebih tinggi atau yang paling tinggi tingkatannya.  

Ketika Nabi Musa (as) datang, Allah (swt) memberinya seratus pelat (kepingan-kepingan berisi ajaran Allah).  Ketika beliau kembali dari berkhalwat kepada Allah (swt) selama empat puluh hari dan melihat bahwa umatnya telah menyimpang dari jalan yang benar, beliau melemparkan pelat-pelat itu, sehingga sembilan puluh delapan di antaranya hilang.  Hanya dua pelat yang diberikan kepada umatnya. Itulah salah satu contoh ketidaksempurnaan yang sifatnya relatif dalam agama, yang mengharuskan umat Kristen untuk terus melakukan proses penyempurnaan, dan kelanjutan proses ini, serta penyempurnaan agama Kristen dilakukan oleh Islam. 

Islam datang untuk membawa orang-orang dari kegelapan menuju cahaya.  Masa itu disebut Jahiliyah yang dalam bahasa Arab berarti Masa Kebodohan.  Menyesal sekali, di abad sekarang ini terjadi lagi Jahiliyyah Ukhra.  Di mana-mana kalian bisa menjumpai kebodohan tersebut.  Orang-orang yang berada di jalan yang benar ditentang, tidak disukai, diserang dan dilawan.  Orang-orang yang salah justru dipuja dan dihormati. Hal ini telah diprediksi oleh Rasulullah (saw),

Yukhawwanul amiin wa yushaddaqul khaa’in,”
orang yang khianat dipercaya tetapi orang yang jujur tidak dipercaya.
 

Kita telah sampai pada akhir zaman.  Tidak ada lagi waktu yang tersisa bagi dunia ini untuk terus berlanjut.  Hari ini kita mendengar kabar yang sangat mengejutkan, Tarekat Naqsybandi dilarang di salah satu negeri Timur Tengah.  Ini adalah pengaruh dari golongan Wahabi. Dengan uang mereka, mereka berusaha mengontrol dan memerangi cinta kepada Rasulullah (saw).  Mereka tidak suka orang lain mencintai Rasulullah (saw), dan untuk itu Allah (swt) akan menempatkan mereka di bawah kaki para pengikut Tarekat Naqsybandi.   

Wahabi menyebarkan ajaran yang salah untuk menentang pengikut Rasulullah (saw) dan menentang ajaran keempat mazhab, untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang kering dan liar.  Merekalah yang bertanggung jawab terhadap skandal yang baru-baru ini terjadi, yang menyebabkan Islam mempunyai nama buruk di muka Barat. Mereka berkata bahwa kaum Yahudilah yang harus bertanggung jawab dalam melontarkan gagasan bahwa Islam adalah agama yang liar.  Sebenarnya hal ini tidak benar dan kebalikannya yang benar, hal-hal yang menyakitkan bagi Islam lebih banyak berasal dari golongan Wahabi daripada Yahudi. Kebencian Wahabi terhadap Rasulullah (saw) melebihi orang-orang Yahudi, bahkan lebih buruk lagi. Ketika Imam Mahdi (as) datang, ia akan memenggal leher 70.000 orang pengikutnya untuk  membersihkan bumi ini dari orang-orang kotor yang menyebarkan ajaran Wahabi secara luas dari Timur ke Barat dengan uang mereka. Mereka membeli institusi keagamaan di setiap negeri. Mereka memprovokasi orang dengan memberikan banyak uang agar cintanya terhadap Rasulullah (saw) menjadi luntur.  

Ada sejarah yang panjang mengenai hal ini.  Di masanya, mereka mendatangi Rasulullah (saw) dan meminta agar beliau berdoa untuk mereka.  Beliau bersabda,

“Allaahumma baarik lanaa fii Syaaminaa wa fii Yamaninaa.”
“Yaa Allah, berkahilah Syam kami dan Yaman kami.”

Mereka bertanya, “Bagaimana dengan Nejd, Ya Rasulallah (saw)?”  Nejd adalah seluruh area yang mencakup Riyadh sekarang ini. Di lain kesempatan Rasulullah (saw) bersabda, “Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman.”  Mereka lalu bertanya lagi, “Bagaimana dengan Nejd?” dan lagi-lagi beliau tidak menjawab pertanyaan mereka, kecuali dengan permohonan rahmat terhadap Syam dan Yaman.  Ketiga kalinya mereka bertanya tentang Nejd, Rasulullah (saw) bersabda,

Yakhruju minha qarnayyi ‘sy-syaythani wa yakthuru fiha az-zalazilu wa ‘l-fitan.” 
Kedua tanduk Setan akan muncul di sana, dan keguncangan-keguncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah dan korupsi akan banyak terjadi di sana.”  (Bukhari—Muslim).

Sekarang adalah awal dari kejadian yang telah diprediksi dalam hadits tersebut.  Dalam hadits yang lain Rasulullah (saw) bersabda, 

Sawfa tudhi’u naarun min ardhi Najdin yashra’ibbu laha a’naqul ibili bi Bushra,”
“Api seperti itu akan datang dari tanah Nejd sehingga unta di Bushra akan lari karena panasnya.” (Bukhari—Muslim).  

Itu terjadi tahun lalu (Perang Iraq).  Oleh sebab itu persiapkanlah diri kalian, bukan untuk yang terbaik tetapi untuk yang terburuk.  Bukannya kemajuan yang akan muncul, melainkan masa-masa kegelapan. Barulah setelah masa tersebut akan datang masa keemasan, yaitu masanya Imam Mahdi (as).  

Dalam waktu dekat banyak kejadian yang akan terjadi di sekitar kita.  Setiap orang dari kita harus berhati-hati menjaga imannya, termasuk iman istri dan keluarga, serta anak-anaknya.  Setan tidak akan meninggalkan orang sendirian. Ia mencoba untuk mengubah iman kalian dan menggoyahkan cinta kalian terhadap para Awliya, pengikut Sufi, dan Rasulullah (saw). 

Allah (swt) berfirman dalam Hadits Qudsi,

“lawla Muhammadun ma khalaqtu ahadan min khalqi.”
“Jika bukan untuk Muhammad (saw), Aku tidak akan menciptakan satu makhluk pun.” 

Mereka menentang Rasulullah (saw) sebab mereka pikir beliau akan berasal dari golongan mereka, dari Nejd.  Mereka tidak menerimanya, bahkan di masanya sekalipun. Mereka itu termasuk orang-orang munafik, sama seperti sekarang ini.  Hal ini telah dilukiskan dalam al-Quran. Jika kalian membacanya, kalian akan menemukannya di sana. Ketika Imam Mahdi (as) datang dan berkata,”Laa hawla wa laa quwwata illa billaahi ‘l-`Aliyyi ‘l-`Azhiim,” mereka akan gemetar ketakutan terhadap apa yang akan menimpa mereka.  

Mereka mempersiapkan dirinya untuk peristiwa itu dengan bantuan dari negara-negara Barat.  Mereka menyimpan senjata dengan harapan dapat membantu mempertahankan kerajaan mereka. Tidak akan!  Jika Allah (swt) menginginkan yang lain, Dia dapat mengirimkan gempa bumi dan segalanya akan musnah. Tetapi Allah (swt) meninggalkan mereka karena mereka menyebarkan fitnah, pemandu mereka akan kebingungan, dan Allah (swt) menguji hati hamba-hamba-Nya dan mengecek siapa di antara mereka yang hatinya baik dan siapa yang tidak.  

Bergembiralah, karena halaqah kita, halaqahnya Mawlana Syekh Nazim (q) adalah halaqah yang terbaik, dan termasuk halaqah yang langka, yang menunggu kedatangan Imam Mahdi (as), insya Allah, beliau akan muncul.  Imam Mahdi (as) melihat kegelapan sekarang dan dengan senang hati beliau akan segera muncul.  Mawlana berkata jika kalian meletakkan cinta itu pada semua gunung di bumi ini, gunung-gunung itu akan hancur luluh menjadi kerikil dan debu.  Sampai sekarang, meskipun dengan cinta seperti itu, beliau masih menunggu untuk muncul sebab izin dari Allah (swt) belum diberikan kepadanya. Beliau menunggu izin itu, dan izin itu insya Allah akan diberikan kepada kita semua, sebab kehadiran Imam Mahdi (as) menandakan kehadiran Syekh kita, dan kehadiran Syekh adalah kehadiran kita semua sebagai pengikutnya.   

Kehadiran Syekh ada di tangan Rasulullah (saw).  Sekarang kita mendatangi Mawlana untuk bersalaman atau menciumnya, suatu saat nanti kalian tidak akan mampu mendekatinya, karena kalian akan melihat jutaan orang mencoba mendekatinya, seperti yang kita lakukan sekarang ini, melihat dan menyentuhnya.  Itu adalah masa keemasan, dan insya Allah, Allah (swt) akan memanjangkan umur kita untuk menyaksikan masa itu.  

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah (saw) kepada para Sahabat mengenai tanda-tanda Hari Kiamat, “Afdhalul ummah,akhyarul ummah akhirul ummah,” “Umat terbaik, umat yang paling disukai, adalah umat terakhir,”  Sayyidina ‘Umar (ra) mengangkat tangannya dan berkata, “Ya Rasulallah, Aku rela untuk mengorbankan semua pahala yang engkau berikan kepadaku agar Aku bisa dimasukkan sebagai umat terakhir!”  Rasulullah (saw) menjawab, “Tidak, ini hanya untuk mereka saja.” 

Alhamdulillah, kita talah mencapai masanya umat terakhir.  Rasulullah (saw) bersabda, 

Idza saluhat ummati falaha ma’ishatu yawmin wa in fasudat falaha ma’ishatu nisfi yawmin, wa innayawman ‘inda rabbika ka’alfi sanatin mimma ta’uddun,” 
“Jika umatku tetap menjaga kemurniannya dan berlaku baik, mereka akan merasakan kenikmatan selama satu hari, tetapi bila mereka korup, mereka tinggal menyisakan setengah hari.” (hadits)

Dan satu hari menurut perhitungan Allah (swt) adalah 1000 tahun menurut perhitungan kalian.” [al-Hajj: 47].  

Dengan demikian menurut Rasulullah (saw), Allah (swt) telah memberikan kita seribu lima ratus tahun.  Sekarang kita berada di tahun 1412 hijriah (1992 M), tidak banyak lagi waktu yang tersisa untuk dunia ini. 

Semua tanda bagi kedatangan Nabi ‘Isa (as) sudah ada, beliau akan memerintah dunia ini selama empat puluh tahun, begitu pula untuk Imam Mahdi (as) yang muncul mendahului beliau dan akan memerintah selama tujuh  tahun.  Peristiwa ini akan terjadi tak lebih dari delapan puluh tahun yang akan datang. Kita telah mendekati akhir zaman dan tidak ada lagi waktu yang tersisa. Kita harus mempersiapkan diri kita dengan jalan mempersiapkan hati kita.  Bagaimana cara melakukan hal itu? Caranya adalah dengan meninggalkan nafs, ego kita. 

Kita bertanya,”Bagaimana kita dapat meninggalkan ego seperti yang selalu dikatakan oleh guru kita, Mawlana Syekh Nazim (q)?”  Setiap orang mempunyai ego. Bila Allah (swt) tidak memberikan ego kepada kita, kita semua akan menjadi malaikat tanpa dosa. Suatu hari Sayyidinna Abu Yazid al-Bisthami (q) pergi ke Ka’bah, sambil memegang rantai di pintu Ka’bah, baliau berdoa, “Wahai Tuhanku, izinkanlah Aku merantai kaki Setan dan menahannya, dengan kekuatan yang Engkau berikan kepadaku, sehingga seluruh makhluk dapat melihatnya, dan ia tidak dapat melihat orang-orang, sehingga ia tidak dapat mengganggu hamba-hamba-Mu lagi dan mereka semua tidak lagi berdosa!”  Allah (swt) telah memberikan wali ini kekuatan yang luar biasa sehingga beliau dapat berdoa seperti itu. Tetapi Allah (swt) berbicara melalui hatinya, “Wahai Abu Yazid (q), lihatlah di atasmu.” Ini berarti, lihatlah ke dalam maqam yang lebih tinggi dalam hatinya. Ketika Abu Yazid (q) melakukannya, beliau kehilangan kesadarannya dan tetap tinggal di sana selama 1 jam. Setelah bangun, beliau merayap ke pintu Ka’bah dan berbisik, “Ya Afuw, Ya Afuw, Wahai Yang Maha Pengampun, ampunilah aku!” 

Dan Allah (swt) berkata, “Wahai Abu Yazid (q), untuk siapa Aku meninggalkan Samudra Rahmat yang telah Ku-ciptakan kalau bukan untuk hamba-hamba-Ku?  Jika Aku membiarkan engkau merantai setan, maka orang-orang menjadi tidak berdosa, sementara Aku adalah Yang Maha Pengampun!” “Ana ‘l-Ghafuru ‘r-Rahiim” [al-Hajr: 49], Aku Maha Pengampun dan Maha Penyayang!  Siapa lagi yang akan Ku-ampuni kalau bukan para pendosa? Jika mereka menjadi tidak berdosa mereka akan seperti malaikat, tanpa mengenal tingkatan.  Biarkan mereka berdosa, Aku akan mengampuni mereka dan akan Ku angkat derajatnya lebih tinggi. Samudra Rahmat ini adalah untuk para pendosa. Oleh sebab itu, jangalah ikut campur dalam Kehendak-Ku.  Aku adalah pencipta manusia, dan Akulah yang menjaga dan melindungi mereka dari Setan, dengan Samudra Rahmat ini, biarkan mereka datang kepada-Ku ketika mereka berdosa.”

Jika seorang anak kecil terluka, ia akan segera berlari kepada ibu atau ayahnya.  Ketika Setan melukai kalian dan membuat kalian berdosa, berlarilah menuju Allah (swt) dan katakan, ‘Ya Allah, Aku telah berbuat dosa, ampunilah aku.’  Kalian akan segera mendapatkan pengampunan-Nya. Mengapa wahai para pendosa, kalian tidak datang kepada Allah? Mengapa kita tidak, dengan seluruh ego kita, datang kepada Allah?  Kita harus mendatangi-Nya. Bergegaslah dan dapatkan pengampunan-Nya, tetapi jika kalian tidak datang kepada-Nya, bagaimana Dia dapat memaafkan kalian? 

Kita berkata, ”Bagaimana kita dapat menghindari ego kita?” Mawlana Syekh Nazim (q) memberikan teladan yang sangat baik untuk menjauhi ego kita.  Setiap hari tuliskan sebanyak-banyaknya perilaku buruk yang ada dalam hati kalian dan yang kalian lakukan pada hari itu. Setiap orang mempunyai sedikitnya 700 karakter buruk dalam hatinya.  Semuanya harus dibersihkan dari diri kita. Beberapa orang berkata, “Kami tidak mempunyai perilaku yang buruk.” Tidak!! Duduk dan renungkanlah, dan tuliskan perilaku buruk apa saja yang masih ada dalam hati kalian.  Setiap orang mengenal dirinya sendiri dan tahu bahwa hatinya menyimpan perilaku buruk. Tuliskanlah, dan cobalah setiap hari menghilangkan satu perilaku buruk tersebut. Hari demi hari akan kalian lihat bahwa kalian telah meninggalkan perilaku buruk itu satu per satu. 

Setan tidak akan membiarkan orang melakukan hal ini.  Ketika kalian duduk dan merenung, kalian akan menemukan begitu banyak perilaku buruk yang bisa kalian pikirkan.  Kita semua adalah pendosa, kalian lebih mengenal diri kalian daripada orang lain. Namun ketika seorang Wali melihat ke dalam hati kalian, ia tahu apakah kalian bersih atau tidak.  Dengan demikian, ia tahu, kapan ia akan mengirimkan kalian untuk berkhalwat atau tidak sama sekali. Khalwat berarti kalian mencoba untuk maju dan meninggalkan perilaku buruk. Ketika seorang Wali melihat bahwa kalian mencoba meninggalkan perilaku buruk di dalam hati, ia akan memberikan izin untuk berkhalwat.  Tetapi kalau ia tidak melihat hal ini, tentu saja ia tidak mungkin memberikan izin tersebut. 

Perangilah ego kalian!  Apa pun yang diinginkan olehnya, lakukanlah yang sebaliknya.  Jangan menerima nasihat darinya, sebab ia akan menyesatkan kalian.  “Fa la tuzakku anfusakum,” “Jangan menyembah dirimu sendiri,” “Jangan pernah memberikan alasan kepada ego” [an-Najm: 32] “An-nafsu ammaratun bissu’” Ego kalian selalu menganjurkan, mengizinkan dan menyuruh kalian untuk berbuat sesuatu yang buruk dan melakukan kesalahan.  Oleh sebab itu jangan sekali-kali mendengarkannya, sebagaimana sabda Rasulullah (saw), ”Jangan dengarkan dirimu sendiri, tetapi dengarkan aku.”  Tetapi siapa yang mau mendengarkan Rasulullah (saw)? Tidak ada. 

Alhamdulillah, kelompok kita mendengarkan dengan cinta mereka.  Cinta itu akan membawa kita keluar dari kegelapan dunia dan menuju cahaya dari akhirat.  Mawlana berkata bahwa seorang Badui mendatangi Rasulullah (saw) ketika beliau sedang berada di mimbar menyampaikan khotbah Jumat.  Orang itu berdiri di pintu masjid dan berkata, “Yaa Sayyidi yaa Rasulallah, matas saa`atu yaa Rasulallah,” “Ya Rasulallah (saw) kapankah Hari Kiamat tiba?” “Mendengar dan melihat hal ini para Sahabat yang duduk di sana menjadi geram, seolah-olah mereka ingin membunuhnya karena orang itu berbicara dengan nada tinggi, namun tentu saja hal itu tidak diperbolehkan.  Ketika seorang pemimpin berada di sana, para pengikut tidak diperkenankan melakukan apa pun. 

Ini adalah adab! Ketika Mawlana berada di antara kalian, apa pun yang kalian lihat, siapa pun yang datang, siapa pun yang lewat, jangan menoleh kepada mereka.  Mata kalian harus selalu tertuju pada Syekh. Ketika beliau di sana, beliaulah yang menjadi pemimpin dan kalian tidak bertanggung jawab atas apa pun. Bahkan jika kalian melihat anak-anak membuat keributan, atau seseorang melakukan suatu perbuatan buruk, jangan ikut campur, beliau yang akan menanganinya.  

Jika seseorang masuk pada saat Syekh sedang memberikan shuhbah, ia harus duduk di mana pun tempat yang ditemukannya.  Pada saat itu mendatangi Syekh dan mencium tangannya adalah tarkul adab, bertentangan dengan adab, tidak hormat.  Mereka harus memberi salam dalam hati lalu duduk dan menyembunyikan diri mereka.  Kita juga tidak boleh melihat orang-orang yang baru datang, atau memberi salam, atau menjawab salam mereka.  Hanya Syekh yang memberi atau membalas salam. Andaikata ada beberapa orang yang datang, bersalaman dengan Syekh, kemudian  bersalaman dengan yang lainnya dengan membelakangi Syekh, semua itu adalah adab yang buruk. Setelah kalian memberi salam kepada Syekh, selesai, dan kalian boleh duduk.  

Para Sahabat marah tetapi tidak dapat berbicara apa-apa di hadapan Rasulullah (saw).  Ketika Badui itu berbicara dengan keras untuk ketiga kalinya, “Kapankah Hari Kiamat tiba?”  Saat itu Jibril (as) datang dan meminta Rasulullah (saw) untuk menjawabnya. Lalu beliau pun menjawabnya.  

Dari teladan ini, kita bisa melihat bagaimana Rasulullah (saw) secara konstan mendengar dan patuh.  Hanya ketika ada inspirasi yang datang, beliau patuh dan menjawabnya. Kita tidak mendengar Syekh dan tidak juga mematuhinya.  Kita hanya patuh ketika kita bisa memperlihatkannya kepada semua orang, misalnya ketika mendapat hak istimewa untuk membawakan sepatu beliau, tongkat atau jubahnya.  Ketika diperintahkan untuk meninggalkan ego kalian dan perilaku buruk kalian, tiada yang menghormatinya lagi. Pada saat itu kita lebih suka mendengarkan ego kita dari pada perintah Syekh.  Berhentilah membawakan jubah untuk Syekh, jika kalian ingin agar orang lain melihatnya. Tetapi berlarilah dalam hati kalian menyambut perintahnya untuk meninggalkan ego kalian, dan dengarkan perintahnya, jagalah ego kalian. 

Rasulullah (saw) berkata, “Wahai orang Badui, Hari Kiamat adalah suatu perjalanan yang panjang, dan engkau membutuhkan banyak bekal untuk itu; amal dan ibadah apa yang telah engkau persiapkan?”  Orang itu menjawab,”Ala mahabbatuka, Yaa Rasulallah,” “Bukankah Aku mempunyai cintamu, Ya Rasulallah! Cintamu, Ya Rasulallah! Cintamu!” Dan Rasulullah (saw) pun membalas, “Kafi yai’rabi,” “Ya, itu sudah cukup wahai orang Badui, engkau akan bersama orang yang engkau cintai”(diriwayatkan oleh Bukhari, Ahkam).  Orang itu pergi, bahkan tanpa masuk ke dalam masjid dan shalat bersama yang lain.  

Cinta kepada Syekh adalah sangat penting.  Ia akan membawa kalian bersamanya ke mana pun beliau pergi!  Jangan sampai membiarkan cinta itu menjadi lemah! Apa pun yang terjadi, jangan menerima serangan terhadap cinta itu.  Jika orang Wahabi mendatangi kalian dan menentang apa yang kalian lakukan dengan mengatakan, ”Ini syirik, ini bid’ah, ini tidak baik,” jangan dengarkan mereka.  Ambil tongkat dan pukul mereka. Jangan coba-coba untuk menasihati mereka. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau mendengar dan sangat keras kepala, sehingga mereka tidak akan menerima kalian.  Oleh sebab itu, jangan dengarkan mereka.  

Sufisme tidak pernah merupakan syirik atau bid’ah selama 1400 tahun dan tidak bisa dinyatakan demikian karena 30 tahun  yang lalu. Pernyataan yang keliru ini timbul karena kebencian terhadap Rasulullah (saw) dalam hati orang-orang itu. Jangan dengarkan mereka,   jangan pergi ke masjid mereka, jangan shalat dengan mereka. Jika kalian tidak menemukan masjid yang imamnya mencintai Rasulullah (saw) dan memujinya, jangan shalat di sana, shalatlah di rumah.  Kalau tidak, kegelapan akan menyelimuti hati kalian, berhati-hatilah, Grandsyekh berkata bahwa satu jam bersama orang yang tidak mempunyai cinta terhadap Rasulullah (saw) atau Syekh dalam hatinya, akan mendatangkan setahun kegelapan di dalam hati kalian.  Perlu waktu satu tahun untuk membersihkan kegelapan itu dari hati kalian! Dengan demikian, jagalah diri kalian, jangan dengarkan orang-orang seperti itu. Jangan takut. Ketika mereka datang kepada kalian, katakanlah, “Lakum diinukum wa liya diin.”  “Bagimulah agamamu dan bagikulah agamaku.” [al-Kafirun: 6].  Jika mereka menyangkal bahwa kalian bukan Muslim, katakanlah, “Kami Muslim, kalianlah yang bukan!” 

Kita adalah orang-orang yang mengikuti jalur yang benar, jalannya Rasulullah (saw), para Sahabat, khalifah Rasulullah (saw), dan keempat imam dalam Islam.  Keempat imam itu mempunyai Syekh yang sufi! Mereka belajar kepada Syekh, walaupun ada beberapa Syekh yang buta huruf, misalnya, Syekh Bisyr al-Hafi (q) dan Syekh Syayban ar-Ra’i (q).  Setiap kali Imam Syafi’i bersama Syekh Bisyr al-Hafi (q) yang membuat tujuh kesalahan dalam membaca al-Fatihah, beliau tetap meminta Syekhnya untuk menjadi imam shalat. Syekh Bisyr (q) membaca, bukan dari ilmu-ilmu dari buku, melainkan dari cahaya hati.  Inilah yang kita butuhkan. Insya Allah, kita berdoa semoga cahaya akan diberikan kepada kita karena kecintaan kita kepada Syekh.  Semoga kecintaan kepadanya juga akan berkembang di hati kita. Tanpanya kita tidak akan bisa sampai ke pintu Rasulullah (saw).  

Kita harus bersikap rendah hati kepada sesama dan kepada orang lain.  Menerima saudara-saudari kita bukanlah suatu kejahatan. Agama ini berdasarkan cinta, agama ini berdasarkan hormat, dan agama ini berdasarkan kerendahan hati.  Jika kita tidak mempunyai perilaku yang baik ini, kita tidak akan menemukan Cahaya Allah dalam hati kita, sebagaimana yang diterangkan Allah (swt) dalam Hadits Qudsi, “Qalbu ‘l-Mu’min baytur Rabb,” “hati orang-orang yang beriman adalah rumah Allah.”  Untuk menjadi seorang Mukmin yang baik berarti menjadi seorang yang rendah hati, penuh hormat, dan mencintai sesama.  Tanpa ketiga perilaku baik ini, kalian tidak akan menemukan cahaya dalam hati kalian dalam kehidupan ini, ketika kita meninggal dan mengeluarkan tujuh napas terakhir—tanpa menghirup, tetapi hanya mengeluarkan—pada saat itu Syekh kita berada di sana untuk menarik kita ke dalam hatinya.  Sampai detik itu, kita tidak akan menemukan atau melihat cahaya hati kecuali, pertama kita harus memiliki ketiga perilaku baik tersebut. Berusahalah untuk mendapatkannya sekarang. Berusahalah untuk mempengaruhi ego kita agar menerima ketiga sifat ituBersikaplah rendah hati, jika seorang menyakiti kalian, jangan sakit hati, datangilah ia dan beri maaf, lebih jauh lagi ciumlah tangannya atau kakinya—itu bukan suatu kejahatan!  Sejauh kalian bisa merendah terhadap orang lain, maka lakukanlah, Allah (swt) akan mengangkat derajat kalian.  

Insya Allah, kita semua akan bersatu, karena kita memerlukan persatuan.  Biarkan semua percaya dengan hal ini, dan ikuti selalu satu Imam, satu Syekh, satu bay’at, satu pintu, satu sumber cahaya dari Sumbernya, satu stasiun pemancar untuk seluruh hati.  Pada saat itu kalian akan terangkul dengan tulus kepadanya. Semakin kuat kalian berusaha mendatanginya, semakin kuat dan kokoh rangkulannya. 

Wa min Allah at-Tawfiq bi hurmat al-Fatihah

 

Silsilah Keemasan Tarekat Naqsybandi

Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q)

 

Judul dari setiap pelajaran adalah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Athi’u ‘l-Laaha wa athi`u ‘r-Rasula wa ‘uulil  ‘amri minkum”

Patuhilah Allah, patuhi Rasul-Nya (s), dan patuhi ulil amri di antara kalian. (4: 59).

Dengan mematuhi Allah (swt), kalian mematuhi Nabi (s), dan dengan mematuhi Nabi (s), kalian mematuhi Allah (swt).  Oleh sebab itu jagalah agar Tuhan dan Nabi (s) selalu berada di dalam kalbu kalian; dan bila kalian mematuhi guru kalian, berarti kalian mematuhi Nabi (s).

Guru sangat penting dan setiap orang harus mempunyai seorang guru.  Tanpa guru, tak seorang pun dapat mengalami kemajuan dan tak seorang pun bisa menemukan jalan atau jalurnya.  Bahkan Nabi (s) dan seluruh rasul yang diutus Allah ke dunia ini juga mempunyai guru.  Mereka mempunyai Malaikat Jibril (a) sebagai guru mereka.  Itulah sebabnya kita harus mempunyai seorang guru yang akan menunjukkan jalan kepada Nabi (s) dan kepada Allah.  Jangan berpikir bahwa kalian dapat mencapai suatu tempat tanpa seorang guru, mustahil.  Bila kalian menempuh jalan sendiri, kalian tidak akan mencapai tempat tertentu karena jika kalian kehilangan jejak, kalian benar-benar akan tersesat.  Jadi, gunakanlah seorang pemandu yang mengetahui jalannya, yang telah melalui jalan itu sebelumnya, sehingga ia menjadi berpengalaman.  Ia akan mengantar kalian dan membimbing kalian langsung menuju tujuan kalian tanpa pergi ke sana ke mari, atau ke suatu tempat yang bisa menyesatkan kalian.

Itulah sebabnya mengapa kita mempunyai Silsilah Keemasan yang merupakan mata rantai guru-guru yang sambung-menyambung dan kembali secara langsung, tanpa interupsi kepada Nabi (s).  Inilah yang kita butuhkan, suatu jalinan langsung.  Kita tidak menginginkan mata rantai yang terputus di suatu tempat.  Sebuah pipa yang tertanam di dalam tanah dan membawa air dari satu desa ke desa yang lain harus benar-benar tersambung dengan baik.  Jika ada sebuah lubang di suatu tempat, air itu tidak akan sampai.  Jika mata rantai wali itu terputus, kalian tidak akan sampai kepada Nabi (s).

Beberapa orang mengatakan, “Kami adalah pengikut Sufisme, atau Buddha, atau Hindu, atau Kristen, atau Yahudi, atau yoga, atau reiki, atau meditasi transendental,” atau agama dan kepercayaan lainnya.  Jika kalian bertanya kepada mereka, “Siapa guru kalian?”  Mereka akan menjawab, “si Anu dan Anu,”  lalu siapa guru dari “si Anu dan Anu” tadi?  Sekarang kami bukannya ingin menentang suatu agama atau kepercayaan, karena semuanya itu akan mengantarkan kalian menuju tujuan yang kalian cari, tetapi pahamilah apa yang kami tanyakan, siapakah guru dari guru kalian? Orang itu tidak akan mengetahui bagaimana menjawab pertanyaan itu.

Seseorang mungkin mengatakan, “Asal mulanya berasal dari ajaran mistik dan dari orang-orang suci yang telah berusia 2.000, 3.000, atau 6.000 tahun.”  Lalu bagaimana kondisi “pipanya” dalam kurun waktu ribuan tahun itu?  Siapa guru-guru yang membentuknya, guru-guru dan guru-gurunya lagi yang meneruskannya?  Tidak ada yang mengetahuinya, mereka hanya mengenal dua, tiga atau empat guru, setelah itu pengetahuan mereka terhenti.

Sebuah pohon yang tidak mempunyai akar tidak akan menghasilkan buah.  Pohon yang perakarannya tidak kuat akan mudah diterpa angin karena fondasinya sangat lemah.  Seorang guru tidak boleh “mengaitkan diri,” begitu saja tanpa ia mengetahui siapa gurunya, siapa guru-guru sebelumnya sampai guru yang mendirikan jalur tersebut.  Itulah sebabnya guru-guru Sufi sejati merupakan guru-guru yang sangat terhubung dan merupakan guru-guru terkuat di dunia ini, mereka mempunyai hubungan yang benar, mereka mengetahui asal-usul mereka.  Jika kalian tidak mengetahui asal-usul kalian, kalian tidak akan terhubung ke mana-mana atau kalian tidak mengetahui ke mana kalian terhubung.

Dapatkah kalian menyebutkan urutan guru-guru kalian mulai dari pendirinya hingga guru yang sekarang?  Jangan hanya menyebutkan sebuah nama dari 3.000 tahun yang lalu.  Kami menginginkan mata rantai yang tidak terputus, tanpa ada satu yang hilang.  Kalian tidak akan menemukan mata rantai semacam itu dalam jalur spiritualitas atau filosofi apapun, kecuali di dalam Sufisme.  Dan tanpa mata rantai seperti itu kalian tidak bisa ke mana-mana.  Itulah sebabnya mengapa kalian memerlukan seorang guru Sufi untuk mengantarkan kalian menuju tujuan kalian.

Ini adalah ilmu yang diambil dari kalbu Nabi (s) dan dibawa melalui mata rantai guru-guru tersebut.  Kalian tidak bisa menemukannnya di dalam buku apapun.

Grandsyekh kami, semoga Allah memberkati rahasianya, mengatakan bahwa Nabi (s), beberapa saat setelah dilahirkan, beliau diambil oleh para malaikat dari tangan ibunya.  Dalam sekejap mata mereka sampai di Samudra al-Hayy.  Allah mempunyai 99 Asmaul Husna wal Sifat, dan setiap Sifat merupakan Samudra Ilmu yang tak terhingga di mana tidak seorang pun dapat memahaminya.  Salah satu Samudra Ilmu itu adalah Samudra dari Asma al-Hayy, Yang Maha Hidup.  Barang siapa yang mengetahui rahasia dari Asma itu, ia tidak akan mati.  Ia akan hidup selama-lamanya; tidak hanya sendiri, tetapi bersama setiap orang, karena setiap orang hidup melalui cahaya Ilahi di dalam kalbunya.  Ketika kalian berenang di dalam Sifat dari Asmaullah tersebut, itu berarti kalian mempunyai cahaya itu sehingga kalian akan berada di dalam kalbu setiap orang, dan mengetahui apa yang dilakukan oleh setiap orang.  Itulah tempat di mana Nabi (s) diambil oleh para malaikat yang diperintahkan untuk membersihkan kalbunya dalam “Ma’ul hayat,” Air Kehidupan.  Segera setelah mereka meletakkan kalbunya di dalam Air Kehidupan, dengan segera beliau memiliki dan dibusanai dengan “An-Nuur al-Ilahi” Cahaya Ilahi.  Dan setelah beliau dibusanai dengan Cahaya Ilahi tersebut, segalanya menjadi terbuka baginya, tidak ada lagi hijab yang tersisa.  Setelah itu Nabi (s) dibusanai dengan Samudra Kekuatan Ilahi, “Bahrul Qudrah.”

Oleh sebab itu ketika keluar dari Ma’ul Hayat, Nabi (s) menerima tiga atribut.  Pertama, beliau dibersihkan dengan Air Kehidupan dan diberikan kehidupan yang abadi.  Kedua, beliau menerima Cahaya Ilahi.  Pada saat itu, sebagaimana yang telah kami katakan, beliau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh setiap orang dan berada di dalam kalbu setiap orang.  Itulah arti dari ayat, “Wa`lamuu anna fikum rasuulallah,” “Ketahuilah bahwa Rasulullah (s) ada bersama kalian, di antara kalian dan di dalam diri kalian” [al-Hujurat: 7], karena beliau telah dibusanai dengan Cahaya Ilahi tersebut.  Itulah sebabnya Nabi (s) dapat mengetahui apa yang kalian rasakan, bagaimana masa depan kalian, apa yang kalian lakukan, dan apa yang akan terjadi baik di dunia maupun di akhirat.  Allah memberinya kekuatan itu.

Ketiga, Nabi (s) menerima Kekuatan Ilahi dari Samudra Kekuatan Ilahi.  (Pembicaraan) ini bersumber dari ilmu tingkat tinggi dan harus dipahami dengan cermat.  Itu adalah atribut dari “Bahrul Qudrah,” Samudra Kekuatan, yang pernah diminta oleh Nabi Musa (a) namun tidak diberikan oleh Allah.  Nabi Musa (a) meminta agar Allah memberinya kekuatan dari Samudra Kekuatan agar bisa mengatakan kepada sesuatu, “Kun! Fayakun.” “Jadilah!” dan jadilah ia, Allah (swt) berfirman, “Tidak, lihatlah gunung itu, Aku akan memberikan cahaya kepada gunung itu.  Jika gunung itu tetap berdiri di tempatnya, engkau akan diberikan kekuatan itu, tetapi jika gunung itu hancur lebur, kau tidak bisa menerima kekuatan itu, karena kau pun akan hancur.”  Dan ketika Allah mengirimkan cahaya ke gunung itu, gunung itu menjadi hancur lebur, Nabi Musa (a) pun jatuh pingsan [al-A’raf: 143].  Itulah sebabnya Allah mengatakan bahwa kekuatan itu bukan untuknya melainkan untuk Nabi terakhir (s).

Allah telah memberi Nabi (s) Samudra Kekuatan itu sehingga beliau bisa mengatakan kepada sesuatu, “Kun! Fayakun.” “Jadilah!” dan jadilah ia—tanpa perlu meminta izin kepada Allah karena beliau berenang di dalam Samudra itu.  Nabi (s) bersabda, “Maa shabballahu fii shadrii syay-an ilaa wa shababtuhu fi shadri Abii Bakri,” “Apapun yang telah dituangkan Allah ke dalam kalbuku, telah kutuangkan pula ke dalam kalbu Abu Bakar ash-Shiddiq (r)” (Maybudi, Razi, Ajluni, Suyuti), kemudian Abu Bakar (r) menyerahkan semuanya kepada Salman al-Farisi (r), Salman (r) kepada Qasim (r), Qasim (r) kepada Ja’far (r), Ja’far (r) kepada Tayfur [Bisthami] (q), Tayfur (q) kepada Sayyidina Khidir (a)—dan rahasia itu sampai kepada Grandsyekh dan Grandsyekh meneruskannya kepada Mawlana Syekh Nazim (q).

Bila Allah sudah memberikan sesuatu, Dia tidak akan mengambilnya kembali.  Dia adalah al-Kariim, Yang Maha Pemurah.  Makna dari kemurahan sejati adalah ketika kalian memberikan sesuatu, kalian tidak mengambilnya kembali dan tidak menyesal karena telah memberikannya, jika kalian masih menyesal, kalian bukan pemurah.  Allah (swt) memberi kekuatan kepada Nabi (s) untuk mengatakan, “Jadilah!” kepada sesuatu maka jadilah ia, dan beliau menyimpan kekuatan itu untuk Hari Kiamat, untuk membawa semua orang ke dalam Surga.  Nabi (s) tidak akan meninggalkan seorang pun.  Beliau akan merangkul seluruh manusia dengan tangannya dan membawanya ke surga.  Itulah Nabi kita, shallalaahu `alayhi wa sallam.

Setelah ketiga Atribut tersebut, muncullah lima tingkatan kalbu.  Ketika Allah menyandangkan beliau, dalam waktu singkat kalbu Nabi (s) diberkati dengan Kekuatan Ilahi dari lima tingkatan kalbu, dan dari satu tingkat ke tingkat berikutnya hanya berlangsung dalam waktu singkat.  Tingkat pertama adalah Maqam Kalbu, kemudian Maqam Rahasia, lalu Maqam Rahasia dari Rahasia, berikutnya Maqam Yang Tersembunyi dan terakhir Maqam Yang Paling Tersembunyi.

Grandsyekh dan Mawlana Syekh Nazim (q) berkata bahwa, setelah Nabi (s) dibusanai dengan semua tingkat ini, apapun dosa dan perilaku buruk dari umatnya, walaupun dosa setiap orang tidak terhitung lagi jumlahnya, bahkan jika dosa itu menyamai jumlah umat Nabi (s)—yang menurut ajaran Sufi jumlahnya mencapai 400 miliar—bagi Nabi (s) itu sama saja, bagaikan sesuatu yang dibersihkan dengan sebilas air.  Seperti itulah cahaya yang telah diberikan Allah (swt) kepada Nabi (s) sehingga beliau dapat membersihkan seluruh dosa tersebut dan memberi manfaat kepada umatnya seolah-olah semuanya tidak terjadi.

Allah (swt) mengungkapkan kepada Nabi (s), “Kalian adalah umat terbaik yang Allah kirimkan kepada manusia.”  Nabi (s) bersabda, “Afdhalul umma akhyarul umma akhirul umma,” “Umat terbaik, umat yang paling disukai adalah umat yang terakhir.”  Kalian adalah umat terakhir.  Menurut Grandsyekh, dunia ini tidak akan berusia lebih dari 50 tahun tahun lagi.  Setelah 50 tahun sesuatu akan terjadi, sesuatu yang tidak pernah kalian dengar sebelumnya.  Hari Kiamat akan terjadi setelah 50 tahun ini dan ditambah 40 tahun kemudian.  Semuanya akan berakhir dalam 90 tahun dari sekarang.  Melalui rahmat yang telah disandangkan kepada Nabi (s), seluruh dosa manusia akan dihapuskan.  Grandsyekh berkata bahwa walaupun setiap orang mempunyai 400 miliar dosa, semuanya akan dihapuskan, walaupun jumlahnya mencapai jumlah seluruh ciptaan Allah yang meliputi alam semesta dan makhluknya.  Dengan mudah semuanya dapat dihilangkan oleh Samudra Rasulullah (s), seolah-olah tidak ada dosa-dosa yang telah menyentuh kalian.

Nabi (s) bersabda, “Syafaatku adalah bagi mereka yang melakukan dosa-dosa besar di antara umatku.”

Orang-orang yang melakukan dosa-dosa kecil, akan mendapat ampunan Allah, karena mereka melakukan ibadah, menjaga kewajiban mereka dan bertobat dari kesalahannya.  Orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar (kaba’ir), memerlukan syafaat Nabi (s), dan dengannya mereka akan diselamatkan.

Jangan berpikir bahwa Allah menciptakan makhluk-Nya lalu meninggalkannya begitu saja.  Allah akan membusanai para awliya-Nya dan membusanai Nabi (s) dari Atribut dan Cahaya-Nya untuk membawa orang-orang dari penderitaan dan dosa menuju maqam tertinggi di akhirat.

Ketika Salman al-Farisi (r), salah satu Sahabat terbesar setelah Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r) yang berasal dari Persia, mengetahui dari buku yang dibacanya dan melalui tanda-tanda yang tidak biasa di gugusan bintang, yang menandakan bahwa Nabi terakhir akan muncul.  Ia tahu bahwa akan terjadi suatu peristiwa besar di dunia ini.  Untuk pergi ke Mekah, ia menjual dirinya sebagai budak kepada beberapa orang yang pergi ke Mekah, dan ia mengiringi unta milik orang yang membelinya sepanjang 5.000 mil dari Persia ke Mekah untuk bertemu Nabi (s).  Sekarang kita malah enggan untuk menempuh 20 atau 40 mil dengan kendaraan, dan mengatakan bahwa itu terlalu jauh.  Lihatlah perjalanan para awliya yang sangat panjang dan jauh untuk bertemu dengan Nabi (s).

Ketika Nabi (s) dilahirkan ke dunia ini oleh ibunya, Sayyidina Salman al-Farisi (r) mendengar kegembiraan binatang liar yang berteriak, “Allahu Akbar!” karena semua makhluk di alam semesta ini bergembira, termasuk binatang, pepohonan dan bintang-gemintang, karena Nabi terakhir (s) telah datang dan semuanya mengetahui bahwa Allah akan membusanai beliau dengan Cahaya-Nya—semuanya  tahu dan bergembira, kecuali kita, manusia.  Manusia iri terhadap Nabi (s) dan berkata, “Mengapa Allah memilihnya?”

Grandsyekh berkata, “Aku berbicara dari Samudra Ilmu yang akan dibukakan ketika Imam Mahdi (a) telah muncul.  Luasnya ilmu yang kubuka ini bagaikan cahaya yang masuk ke dalam lubang jarum.”  Jika Mawlana berbicara seolah-olah dari sebuah lubang jarum, maka apa yang kita bicarakan sekarang ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hakikat sesungguhnya.  Apa yang akan datang adalah sesuatu yang bisa membuat kalian kehilangan pikiran kalian.

Ini adalah keterangan mengenai pernyataan Sayyidina Abu Hurayrah (r) di dalam hadis, “Shabba Rasulullah fii qalbi wi’aanaini fa ammaa ahaduhumaa fa batsats-tuhu bii khalqi wa ammal akhara law batsats-tuhu laquthi’a hadzal bul’uum,” “Rasulullah (s) telah meletakkan dua macam ilmu di dalam kalbuku.  Satu ilmu telah kusebarkan kepada orang-orang, tetapi bila ilmu yang lainnya kuungkapkan, mereka akan memenggal leherku.” (Bukhari).  Apa yang Grandsyekh katakan tergolong ilmu tipe kedua—sesuatu yang berada di luar kebiasaan dan akan disebarkan di masa Imam Mahdi (a) nanti, yang sekarang disimpan di dalam kalbu orang-orang pilihan Allah.

Grandsyekh berkata bahwa hal ini telah dibukakan di dalam kalbu Nabi (s) sejak masa kelahirannya dan kalbu beliau bagaikan segelas air, transparan dari segala sisi.  Kalbunya begitu bening dari cahaya Ilahi sehingga ke mana pun Nabi (s) memandang, beliau mendapatkan ilmu dan hikmah; dan oleh sebab itu beliau berbicara berdasarkan ilmu dan hikmah tersebut.

Grandsyekh berkata bahwa ketika ruh Nabi (s) diambil dari jasadnya oleh para malaikat dan dipersembahkan ke Hadratillah, ibunya khawatir kalau bayinya telah meninggal karena tubuhnya tidak bergerak selama satu jam penuh.  Tetapi Jibril (a) segera datang dan berkata kepadanya, “Jangan takut, dan jangan ceritakan hal ini kepada orang-orang, biarkan saja.  Allah telah mengambil ruhnya untuk dibersihkan dan untuk membukakan Atribut dari 99 Asmaullah–semua Samudra dari Asmaullah.  Menurut agama Islam, Allah mempunyai 99 Nama, setiap Nama mencakup suatu Atribut Ilahi dan setiap Atribut merupakan sebuah Samudra Ilmu yang kedalamannya tidak diketahui oleh seorang pun.

قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

Qul law kaana al-bahru midaadan li-kalimaati rabbii la nafida al-bahru qabla an tanfada kalimaatu rabbii wa law ji’naa bimitslihi madada 

Katakanlah: “Sekiranya lautan menjadi tinta (untuk menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (18:109)

Allah membasuh kalbu Nabi (s) dengan “Bismillah al-A`zham,” dengan Asmaullah yang Terbesar.  Sampai sekarang setiap wali berusaha untuk mengetahui Asmaullah yang Terbesar, tetapi tidak ada yang mengetahuinya, karena rahasia itu belum dibukakan kepada seseorang, kecuali Nabi (s) sendiri yang telah menerima rahasia tersebut di dalam kalbunya.  Semua hijab dihilangkan dari kalbu Nabi (s) ketika Allah membasuh kalbunya dengan sungai Kawtsar, sebuah sungai di Surga yang diberikan kepada Nabi (s) ketika Dia berfirman,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Innaa a`thaynaaka ‘l-Kawtsar

“Sesungguhnya Kami telah memberimu Kawtsar.”  [al-Kawtsar, 108: 1].

Jika seseorang mandi di dalamnya, kalbunya tidak akan pernah mati.
Itulah sebabnya Nabi (s) bersabda,

أنا حيٌّ في قبري

Ana hayyun thariyyun fii qabri,”

“Aku hidup dan tetap segar dalam kuburku” (Suyuti).”
Ketika beliau (s) baru berusia 1 jam, Nabi (s) bertanya kepada Allah ketika Dia membasuhnya, “Wahai Tuhanku, bagaimana dengan umatku? Apakah Engkau akan membasuh umatku dengan air dari sungai ini?  Jika tidak, aku tidak mau dibasuh sendiri.  Aku harus bersama umatku, aku tidak bisa meninggalkan mereka.”  Menurut Nabi (s), ketika beliau meminta hal ini kepada Allah, Allah membasuh seluruh umatnya dengan air dari Sungai Kehidupan itu.  Allah membasuh dan membersihkan kalbu mereka sampai menjadi bersih dan transparan seperti yang dimiliki oleh Nabi (s), kemudian Allah menyerahkan mereka kepadanya, “Aku menyerahkan umatmu dalam keadaaan bersih, suci, lemah lembut, pemurah, tawaduk, saling mencintai dan menghormati sesamanya.  Apakah engkau menerimanya?”  Nabi (s) yang melihat mereka semua dalam keadaan bersih dan suci lalu berkata, “Aku menerimanya.”  Ketika beliau mengatakan akan membawa mereka, Allah menunjukkan kepadanya bagaimana mereka akan membuat banyak dosa ketika diturunkan ke dunia ini.  Nabi (s) bersabda, “Wahai Tuhanku, apa yang telah Kau lakukan?”  Allah menjawab, “Lupakan saja, cahaya tidak akan hilang dari dalam hati mereka.  Mereka akan menutupi cahaya itu dengan kegelapan, tetapi itu akan seperti noda, dan Aku akan memberimu awliya yang akan menjadi pembantumu agar mereka dapat membersihkan dan mengkilapkan kalbu mereka.”

Kita adalah umat yang diampuni, Ummatan marhuuma, Ummatan maghfuurah.  Allah telah mempercayakan kita kepada Nabi (s) dengan Kemurahan-Nya.  Kalian akan mendengar lebih banyak lagi pelajaran ini.  Namun tetap saja apa yang kita bicarakan ini hanyalah hal-hal yang sepele.  Ketika Grandsyekh memberi izin untuk berbicara dari ilmu semacam itu, pelajaran ini bukan untuk didengar oleh semua orang.  Mereka yang mendengar adalah orang-orang yang istimewa dan topik ini hanya bisa dibuka dengan izin Grandsyekh dan Mawlana Syekh Nazim (q).

Setelah Nabi (s) menerima umatnya dengan cahaya mereka, dan setelah Allah menunjukkan dosa-dosa yang akan mereka lakukan, Nabi (s) meminta beberapa pembantu.  Allah segera memberinya 7.007 wali Naqsybandi untuk membantu beliau membersihkan umatnya.  Di antara mereka terdapat 313 wali yang tingkatannya lebih tinggi.  Dan di antara mereka terdapat 40 master dari Silsilah Keemasan, jalan kita menuju Nabi (s).  Keempat puluh master kita berusaha melakukan yang terbaik untuk membersihkan setiap orang dari dosa-dosanya melalui cahaya yang telah diberikan Allah ke dalam kalbu mereka.  Kalian beruntung bahwa kalian berada di tangan salah satu master tersebut—master terakhir dalam mata rantai ini, guru yang keempat puluh.

Apakah Kawtsar itu?  Menurut riwayat yang tertulis, Kawtsar adalah nama sebuah sungai di Surga, tetapi menurut pemahaman dan pengetahuan Sufistik, Kawtsar adalah nama salah satu Grandsyekh.  Grandsyekh itu, dengan air di mana Allah membuat simbol dengan namanya dapat menghilangkan dosa-dosa semua pengikutnya, dan menghadirkan mereka dalam keadaan bersih kepada Nabi (s) setiap malam.  Itulah sebabnya kalian harus bergembira karena kalian telah terhubungkan dengan salah satu master yang agung dalam Silsilah Keemasan ini.

Grandsyekh, dan master kita, Mawlana Syekh Nazim (q) bertanya, “Mengapa Allah memberi kenabian kepada Nabi (s)?  Apakah hanya untuk dirinya sendiri?”  Grandsyekh berkata, “Tidak!”  Allah telah memberi kekuatan itu dan membusanainya dengan tajali dari 99 Asmaullah wal Sifat dan semua cahaya ini demi umatnya.  Semua itu agar Nabi (s) dapat membusanai kita semua dengan cahaya yang serupa, membagi bersama kita semua atribut dari Sunnahnya, dengan tajali lahir dan batin.    Allah telah berfirman kepada Nabi (s), “Wahai Nabi-Ku tercinta, Aku akan bertanya kepadamu secara pribadi—Aku ingin setiap orang dari umat ini menjadi seperti dirimu…”  Ini adalah suatu rahasia yang besar dan luar biasa, yaitu bahwa Nabi (s) bertanggung jawab untuk membuat setiap orang dari umatnya agar seperti beliau.  Dalam beribadah, beliau akan membagi seluruh ibadahnya untuk kita, hal ini untuk membersihkan dan membusanai diri kita dengan semua yang telah didapatkannya, dan untuk menghadirkan kita kepada Allah dalam keadaan suci dan murni, melalui kekuatan Syafaat yang telah dikaruniai oleh Allah (swt) kepadanya.  Inilah tugas beliau.

Grandsyekh dan Mawlana Syekh Nazim (q) berkata, “Setiap saat Nabi (s) mengalami peningkatan dua kali lipat dalam mendekati Hadratillah, “Yataraqqa mitslayni mitslayn,” dalam sekuen geometrik yang berkembang, setiap saat meningkatkan jarak sebelumnya dua kali lipat.  Beliau mengalami kemajuan, dan secara bersamaan beliau juga membawa umatnya—tanpa diskriminasi, tanpa perbedaan.  Umat ini adalah kumpulan dari hamba-hamba; dan hamba adalah hamba, budak adalah budak!  Tidak ada perbedaan di antara mereka!  Mereka semua adalah budak di hadapan Allah, dan Nabi (s) melihat mereka sebagai satu kesatuan dan membawanya bersamanya.

Nabi (s) bersabda, an-naasu sawaasiyyata ka asnaan al-masyti – “Manusia adalah sama seperti gigi-geligi sisir.”

Ilmu ini akan dibukakan pada masa Imam Mahdi (a) dan Nabi `Isa (a).  Sekarang, ini hanyalah aromanya saja dari apa yang akan muncul nanti.  Ketika orang-orang berbicara kepada kalian tentang Sufisme, apa yang mereka katakan?  Mereka bagaikan anak-anak dibandingkan dengan master dari Silsilah Keemasan yang mengambil ilmunya dari kalbu Nabi (s).  Apa yang akan dibukakan nanti akan mengecilkan apa yang dikatakan oleh orang yang mengaku sebagai guru Sufi itu.  Mereka akan mendapati bahwa mereka hanyalah anak-anak.  Ilmu mereka bukan apa-apa.  Itulah sebabnya Sayyidina Muhyiddin Ibnu al-`Arabi (q), setelah menulis Al-Futūhāt al-Makkīyyah berkata, “Aku tidak mengerti apa yang kutulis.”  Ia biasa tidur dengan sebuah pena di sisinya, ketika bangun, ia mendapati bahwa pena itu telah menulis sesuatu.  Demikian pula ketika ia menulis, “Fusus al-Hikam” dan buku-bukunya yang lain.  Walaupun ia tidak mengerti, sekarang mereka malah “menjelaskan” apa yang sebenarnya tidak mereka pahami.  Apa yang akan kalian pahami dari yang mereka katakan?  Derajat pengetahuan yang tinggi dalam Sufisme tidak bisa dibuka begitu saja, walaupun kalian berpikir telah melihatnya.  Jika kalian mempunyai televisi, kalian dapat melihat sesuatu tetapi tidak bisa merasakannya.  Di dalam Sufisme, jika kalian tidak bisa merasakan dan mengalami sendiri kejadian itu, kalian tidak bisa meraih tingkatan di mana ilmu itu dideskripsikan.

Sufisme adalah “dzawq,” rasa.  Kalian mempunyai beragam makanan.  Orang-orang mengambil makanan terbaik dan mereka mencoba untuk merasakannya dari sini [menunjuk ke mulut] sampai ke sini [menunjuk pangkal atas kerongkongan].  Setelah kedua titik itu, semua makanan akan sama saja.  Sama halnya ketika kalian menonton televisi, seolah-olah itu berlangsung “dari sini ke sini.”  Kalian tidak mengecap atau merasakan sesuatu.  Jika kalian tidak bisa merasakannya, itu bukan Sufisme, tetapi pantulan cermin dari Sufisme atau sebuah imaji.  Dan semua “Syekh” ini—sesungguhnya mereka tidak bisa dipanggil dengan panggilan itu—karena seorang Syekh derajatnya tinggi—semua orang ini yang menerangkan Sufisme tidak merasakan atau mengecap.  Padahal kedua hal itu hal yang paling penting dalam Sufisme.

Sekarang kalian akan mengatakan, “Kau juga berbicara seperti mereka.  Mengapa engkau tidak mengecap dan merasakan?”  Saya akan mengatakan kepada kalian bahwa belum ada izin untuk membawa kalian dan membuat kalian untuk mengecap dan merasakan.  Ini akan terjadi pada masa Imam Mahdi (a).  Kalau tidak, dunia ini tidak bisa menampung kalian lagi.  Jika kalian memberi anak kecil sebuah permen, ia akan menukarkan berlian untuk permen itu sehingga ia akan kehilangan berlian itu.  Jika kalian diberikan ilmu semacam itu, kalian akan menyia-nyiakannya bila tidak ada dukungan dari Imam Mahdi (a) yang akan segera datang.  Dukungan itu sangat dibutuhkan.  Tanpa dukungan itu, kalian tidak akan mempunyai pintu yang dibukakan bagi kalian untuk mencicipi dan merasakan.

Seorang pemimpin Sufi harus memiliki `Ilmu‘l-Yaqīn, `Aynu‘l-Yaqīn, Haqqu‘l-Yaqīn.  Pertama adalah `Ilmu‘l-Yaqīn yaitu perlunya mengetahui bahwa ada ilmu seperti itu dan untuk mendengar tentang hal itu.  Ketika kalian mendengarnya, kalian masuk ke tingkat kedua, tetapi pertama kalian harus mendengarnya.  Oleh sebab itu, Allah di dalam al-Qur’an, dan juga semua guru Sufi dari Jalaluddin Rumi (q), Ibnu al-`Arabi (q), Hallaj (q), dan Abu Yazid al-Bisthami (q) menyebutkan bahwa mendengar adalah hal yang pertama.  Ilmu tidak datang dengan melihat terlebih dahulu tetapi dengan mendengar melalui seorang guru, bahkan bagi seorang tuna netra.  Di lain pihak orang yang tuli, tidak bisa memulai untuk mendapatkan ilmu.  Ketika malaikat Jibril (a) mendatangi Nabi (s), hal pertama yang dikatakannya adalah “Iqra”, “bacalah”, dan Nabi (s) mendengarnya.  Itulah sebabnya Sufisme memberi perintah yang dipenuhi dengan mendengar bukan dengan melihat.

Tingkat pertama ini tidak diraih dengan mendengar saja namun tidak menjaganya, tetapi dengan mendengar, menerima, dan memenuhi atau menjalankannya dengan suatu tindakan!  Jika Syekh kalian mengatakan, “Pergilah ke gunung dan tinggal di sana sampai aku datang!” selama Syekh belum datang, kalian akan tinggal di sana selama bertahun-tahun, sampai ia muncul; jika kalian tidak melakukannya, berarti kalian masih anak-anak dalam ilmu Sufi.  Dalam Tarekat Naqsybandi kalian harus patuh, dan kepatuhan muncul melalui pendengaran, jika kalian melakukannya, barulah kalian menuju ke tingkat kedua.

Suatu ketika, Grand-Grandsyekh Syekh Syarafuddin (q) berbicara di dalam pertemuan guru-guru besar, di mana pada saat itu Grandsyekh (`Abdullah) sedang dalam perjalanan ke sana—ketika itu ia masih muda—karena mereka bertemu di tempat terpencil di luar kota.  “Anakku `Abdullah (q) telah mencapai suatu tingkat di mana orang belum pernah mencapainya—aku pun tidak, begitu pula dengan seluruh guru dalam Silsilah Keemasan.  Ia baru berusia 18 tahun sedangkan aku 60, tetapi ia telah mencapai tingkatan yang lebih tinggi dariku dan guru-guru lainnya yang telah wafat di dalam Silsilah Keemasan.  Jika aku mengirimkan seorang anak berusia 7 tahun untuk berkata kepadanya, ‘Syekhmu menyuruhmu untuk segera pergi haji ke Mekah,’ dari Daghestan, kota di tengah wilayah Rusia, ia akan segera memikirkannya, tanpa datang kepadaku untuk meminta konfirmasi apakah ini benar atau tidak, “Siapa yang membuat anak itu berbicara? Syekhku sudah mengetahui sebelum aku mengetahuinya.  Kalau tidak, bagaimana aku menerimanya sebagai Syekhku tetapi masih mengganggap beliau tidak mengetahui segalanya?  Jika Syekhku tidak mengetahuinya, lalu siapa yang mengetahuinya?”  Ia segera mempercayai anak itu, dan tanpa pulang ke rumahnya untuk memberitahu ibu atau istrinya bahwa ia akan pergi haji, tanpa membawa pakaian, uang atau makanan, ia akan langsung menuju ke Mekah yang berjarak 10.000 mil, berjalan tanpa bertanya apa-apa.  Ia tahu bahwa perintah itu berasal dariku dan dengan mudah ia akan mengubah arah langkahnya.”

Ini adalah “Wahdatu ‘l-af`al,” Penyatuan segala tindakan atau perbuatan atau ucapan—kalian harus melihat segala sesuatu berasal dari Allah.  Ini adalah tingkat yang lebih tinggi dalam ilmu Sufi.  Kalian tidak bisa lagi melihat bahwa orang melakukan suatu perbuatan, tetapi kalian harus menganggap mereka sebagai suatu instrumen di tangan Tuhan.  Tinggalkan anak-anak—jika Syekh Nazim (q) mendatangi kalian dan berkata, “Pergilah ke Mekah.” Kalian akan berkata, “Baiklah Syekh, aku akan membeli tiket, aku akan lihat apakah istriku mengizinkanku untuk pergi…”  Dalam Tarekat Naqsybandi kalian tidak boleh melakukan semua ini.  Kalian harus segera pergi.

Tingkat kedua adalah `Aynu‘l-Yaqīn, penglihatan yang benar.  Pada saat itu kalian akan melihat segala hal di sekitar kalian, tetapi tanpa perasaan.  Itu akan seperti layar yang diangkat hanya pada tingkat ketiga, Haqqu‘l-Yaqīn, hakikat dari kebenaran— kalian berada di sana dan mengalami kejadian itu.  Jika Grandsyekh mengatakan apa yang tadi kita katakan mengenai Nabi (s), bagaimana beliau (s) diambil dan bagaimana kalbunya dibersihkan, ketika mendengar hal ini, kalian akan mengalami kejadian itu, seolah-olah kalian hidup dan merasakan semuanya pada saat itu.  Jika Mawlana Syekh Nazim (q) berbicara mengenai kejadian yang berlangsung 500 tahun yang lalu misalnya, kalian akan hidup seolah-olah kalian hidup di masa itu, kalian mendengar, melihat dan merasakan apa yang mereka dengar, lihat, dan rasakan, seolah-olah kalian adalah salah satu dari mereka.

Ini adalah cita rasa Sufi dan ilmu dari Tarekat Naqsybandi yang menghubungkan para salik kepada Silsilah Keemasan.  Ini tidak bisa dibuka sampai masa Imam Mahdi (a), kecuali, untuk beberapa pengikut tertentu, Mawlana Syekh Nazim (q) membukakannya dengan seizin Nabi (s).  Itu bukanlah hal yang umum bagi semua orang.  Yang lain harus menunggu dukungan dari kekuatan Imam Mahdi (a) untuk memasuki tingkatan itu, kalau tidak orang akan dikutuk keras karena membicarakan apa yang mereka lihat.

Dalam Tarekat Naqsybandi, Syekh tidak akan menjadikan kalian berbeda dengan orang lain dan ini adalah jalan yang sempurna, kalian melihat Syekh yang memiliki semua kekuatan ini, merasakan segala sesuatu dan mengalami semua peristiwa, dan melukiskannya, namun demikian beliau tetap berperilaku sebagai orang yang biasa.  Syekh tidak akan membukakan ilmu bagi kalian jika kalian belum siap dan jika beliau melihat bahwa kalian akan memperlihatkan apa yang diberikannya pada kalian kepada masyarakat umum.  Itulah sebabnya mengapa belum ada izin agar pintu itu dibuka.

Wa mina-llāhit-tawfīq bi hurmatì‘l-Fātihah.

http://www.naqshbandi.org/teachings/suhbats/the-naqshbandi-golden-chain/