Apa yang Terjadi setelah Kematian?

246446_10150880228999335_2143551206_n

Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ق
Shuhba, 10 Desember 2004
Jakarta, kediaman Bapak Tony

 

Ketika kalian dimasukkan ke liang kubur, orang-orang pun melemparkan tanah pada kalian.  Itu adalah sunnah. Apa alasannya? Setiap butir tanah akan menyerap jasad orang yang meninggal.

Habil dibunuh oleh Qabil. Allah (swt) menunjukkan bagaimana mengubur jasad tersebut. Jika manusia tidak belajar bagaimana mengubur jasad orang yang meninggal, Mawlana Syekh (semoga Allah (swt) memberkahi beliau) berkata, “Jika jasad orang yang meninggal tidak tertutupi tanah, bau jasad itu  akan membuat orang di seluruh dunia jatuh pingsan.”

Tanah yang dibuat untuk mengubur jasad itu adalah rahmat, bila tidak dikubur semua orang akan mengutuk orang yang meninggal tadi karena bau busuk yang berasal dari mayatnya.

Artinya, ketika kalian menguburnya, kalian juga sedang menutupi aibnya.

Salah satu Asma Allah (swt) adalah Sattar, Dia Yang menutupi dosa. Dia sedang menutupi jasad dengan menguburnya. Kalian tak dapat melihat jasad itu di lantai, lalu hidup! Itulah ketakutan yang muncul dalam hati kalian.

Jika seseorang meninggal di rumah dan jasadnya dibiarkan di sana, orang pun akan merasa takut. Apa yang mereka takutkan? Kematian adalah heyba-penampakan yang agung- sesuatu yang gigih dalam tubuh, yang kalian rasakan  ketika akan melihat malaikat pencabut nyawa.  Allah (swt) membuat hal itu sebagai rahmat ketika kita menguburnya di dalam tanah. Jika berada di atas tanah, kalian takkan berselera untuk makan dan minum saat melihat jasad tersebut, ia kelihatan menjijikan.

Ketika seseorang meninggal, setelah beberapa hari, kalian tidak bisa makan dan minum. Kalian menguburnya karena gambaran yang menjijikan itu. Jika kalian jijik dan merasa takut padanya, tahukah kalian apa yang dirasakan oleh orang yang telah meninggal itu terhadap hukuman Allah (swt)?

Jawabannya, mereka sedang memanggil kalian.

Berapa banyak jasad yang sedang ketakutan akan siksaan Allah (swt) dan ketika dikirim Malaikat Munkar (as) dan Nakir (as).   Orang itu ditinggal sendirian, di bawah tanah, tak mampu bergerak ke kanan dan ke kiri karena ada tanah di sampingnya untuk menjaga agar jasad tetap lurus.

Setiap orang akan mati, tak seorang pun terlewatkan. Nabi (saw) bersabda bahwa Allah (swt) mengirim roh kembali ke jasad tersebut. Begitu roh dikembalikan, orang itu pun duduk tegak. Dahinya terantuk tanah.  Setiap kali dia ingin duduk kepalanya terantuk tanah. Saat itulah dia menyadari bahwa itu adalah kali terakhir dia berada di dunia.

Dia menyadari bahwa dia sedang berada di Akhirat.

Dua malaikat datang dan bertanya padanya, ”Siapa Penciptamu? Siapa pembawa pesan-Nya? Apa agamamu? Apa kitab sucimu?”

Jika lidah kalian membeku pada saat itu, kalian berada dalam bahaya. Jika lidah kalian tidak kelu dan mampu menjawab, maka kalian pun aman.

Itulah sebabnya dulu para Syuyukh memerintahkan murid-muridnya untuk menyendiri di dalam liang kubur, untuk mengajari mereka, “Suatu hari kalian akan seperti itu.”  Mereka pun sadar suatu hari pasti Allah (swt) akan memanggil mereka. Jika kita merasakan ini dan menyadarinya, kita tidak akan duduk berleha-leha. Kita akan duduk di pojok, berzikir, bershalawat dan membaca Quran, hanya memuji Tuhan kita dan menanti saat kematian.

Tetapi Allah (swt) membuat kita ghaafil, lalai; membuat kita sibuk dengan pekerjaan dunia.  Tanpa itu, dunia akan berhenti.  Jika Allah (swt) tidak membuat kita lalai, semuanya tak akan bergerak.

Para Awliya bukanlah orang-orang yang lalai. Itulah sebabnya setiap saat mereka selalu berzikir, setiap saat mereka mengikuti muridnya untuk mengawasi kelakuan mereka.  24 jam mereka mengawasi murid-muridnya.  Semoga Allah (swt) mengampuni dan menyelamatkan kita.

Saya sedang melihat dan teringat ketika dulu pernah melihat foto-foto dua orang wanita di dinding itu, dan saya teringat mereka meninggalkan semuanya dan pergi.  Kalian tidak akan membawa apa pun, walaupun hanya baju dan cincin. Berangkat dan pergi.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita.   Ini sangat sulit – bagaimana menghadapi kubur kita?

Rabi`a al-`Adawiyya (qs) sering berada di sini dan menangis seharian sambil beristighfar. Beliau berkata, “Bagaimana aku tidak beristighfar?  Sementara aku tak tahu bagaimana Sayyidina Izrail (as) akan mengambil nyawaku; dengan siksaan-siksaan atau dengan kebaikan?”

Jika kalian tahu, maka semuanya akan lancar;  tetapi tak seorang pun yang tahu!

Bi hurmati ’l-Fatihah.