Hakikat Bay’at dan Khalwat di Hijaz

Shuhbah oleh Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Madinah, 11 Januari 2020

Bulan ini adalah bulannya Awliya.
Bulan ini menyatukan para Awliya dari Timur ke Barat dan dari Utara hingga Selatan. Jadi, apa pun yang mereka katakan amanna wa shadaqna (kami percaya dan kami membenarkan). Kami berada di bawah kaki Nabi ﷺ.

Ketika bulan ini dimulai kami melihat kebesaran syekh kami. Mereka bertemu dengan ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah. Memberi mereka dorongan yang besar. Itulah sebabnya mengapa terjadi perubahan besar di jalan Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah.

Saya melihat Grandsyekh, semoga Allah memberkahi ruhnya dan Mawlana Syekh Nazim (q); mereka berkata kepada saya, “Hisyam, waktunya telah tiba. Kami akan mengajakmu berkeliling untuk melihatnya.” Dan itu bukan mimpi. (Mawlana Syekh Hisyam menangis)

Mereka membawa tangan saya dan mereka masuk ke dalam sebuah nafaq, terowongan besar. Ia mempunyai awal, tetapi tidak ada ujungnya. Ujungnya ada di tangan Mahdi (as). Mereka mengatakan, “Ini adalah jalan kita dan ini adalah kehidupan kita di dunia.”

Mereka memberi kita terowongan. Ada juga orang-orang yang lain, mereka adalah para Ashab an-Nabi ﷺ, dan mereka mempunyai terowongan yang lain sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan di masa Nabi ﷺ.
Agar kami mendapat sesuatu dari mereka, mereka membawa kami dalam sebuah perjalanan yang tidak diketahui, dan itu adalah sebuah perjalan menuju sesuatu yang sangat penting di mana setiap Muslim pasti ingin melihatnya. Mereka membawa kami ke maqam dari Ahlu ‘l-Bay’at, di mana pada zamannya Nabi ﷺ, mereka memberi bay’at kepada Nabi ﷺ.

(Mawlana membacakan Ayat Bay’at)
Inna ‘l-ladziina yubaayi`uunaka innamaa yubaayi`uun-Allaah, yadullaahi fawqa aydiihim faman nakatsa fa-innamaa yankutsu ‘alaa nafsih wa man awfaa bimaa `aahada `alayhullaaha fa-sayu’tiihi ajran `azhiimaa [al-Fath, 48:10]
Radhiinaa billaahi rabban, wa bi ‘l-Islaami diinaa wa bi sayyidinaa Muhammad shall-Allaahu`alayhi wa sallam… Masyayikhina ‘l-kiraam

Kami pergi ke maqam tersebut dan itu adalah tempat di mana para Sahabat biasa memberikan bay’atnya kepada Nabi ﷺ. Mereka mengatakan, “Lakukan bay’at di sini! Ia telah terbuka untukmu,” dan orang-orang yang bersama saya, sekitar dua belas orang. Kami melakukan bay’at kepada Grandsyekh dan Mawlana Syekh Nazim dan dari mereka kami mengambil bay’at dan memperoleh dukungan dari mereka. Kemudian kami membaca doa dari Ahlu ‘l-Bay’at. Itu bukanlah sebuah peristiwa kecil, tetapi itu adalah sebuah peristiwa besar bagi mereka yang dapat melihat. Orang-orang yang tidak dapat melihat, bahkan jika mereka melakukan bay’at sepanjang hari, mereka tetap tidak dapat melihat. Tetapi bagi Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah dan para Ahlu ‘n-Naqsy, para Sahabat membuat naqsy, ukiran. Para Sahabat menuliskan di dalam hati kita, dengan kekuatan spiritual “Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah,” Itu tertulis pada Maqam ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah sekitar seminggu sebelumnya.

Jadi itu adalah kekuatan spiritual dari Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah yang dapat mereka ambil dari para Awliyaullah. Dan tanda dari hal tersebut adalah bahwa kalian akan datang ke sini, karena kalian adalah bagian dari mereka. Kalian termasuk Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jamaah, dan kalian adalah Naqsybandi. Kita adalah orang-orang yang cinta damai. Setiap saat, kita berada di sini, sebuah pembukaan baru dibukakan, banyak hal yang telah ditunjukkan, sesuai dengan level setiap orang, mereka akan diberi kekuatan ini. Ini adalah sebuah karunia, ini adalah dukungan dan cinta dari Langit.

Semoga Allah (swt) membukakan bagi kita, bagi hati kita, dan kita telah melakukan bay’at, artinya kita harus menerima; dan ketika kita menerimanya, dan ada banyak pembukaan yang dibukakan pada malam tersebut. Jangan berpikir bahwa mereka tidak menyadari apa yang kita lakukan. Mereka ada di belakang, mendukung kita.

Kalian bisa duduk dan merasa lelah, tetapi bagi mereka hal itu tidak melelahkan. Bagi mereka, para Awliyaullah dapat melihat bahwa kalian lelah, tetapi kelelahan itu penting dalam kehidupan kalian untuk membersihkan kalian dari berbagai dosa. Sekarang, seolah-olah kalian baru dilahirkan, khususnya orang-orang dari Jakarta, maksud saya Indonesia, dan Malaysia dan Singapura, dan seluruh daerah di Timur.

Saya berbicara ke hati, itu akan menjadi naqsy (ukiran) di dalam hati. Itu akan terus bersama kalian hingga Akhir Zaman. Saya tahu karena saya sakit, dan saya tidak dapat berbicara lebih keras lagi. Alhamdulillah, ruh saya telah dibawa untuk menjadi seperti pewaris Grandsyekh dan Mawlana Syekh Nazim, di mana mereka berdua, ruhnya telah dibawa ke hadirat Mahdi (as).

Saya tidak ingin membuka hal ini, tetapi karena kalian meminta, saya katakan bahwa Grandsyekh telah diambil dari dunia, di Turki sejak dulu; dan kemudian Mawlana Syekh Nazim telah diambil menjelang wafatnya, dan sekarang sebagai pewaris dari para Syuyukh, ruh saya telah diambil untuk menjauh dari orang-orang, itulah sebabnya kami tinggal di sini, antara dua puluh sampai empat puluh hari, dan ternyata itu belum cukup, mereka meminta saya untuk tinggal dua puluh hari lagi di sini. Jadi kami akan tinggal lebih lama lagi di sini, insyaAllah, dekat Sayyidina Muhammad ﷺ.

Hajjah Naziha telah melakukan yang terbaik. Beliau terus membaca kitab suci al-Qur’an dan setiap dua atau tiga hari khatam. Beliau akan membuat sekitar dua puluh khatam, khatmil Qur’an. Jadi, inilah pekerjaannya. Karena dengan membaca Qur’an, kalian akan mengangkat para Ahlu ‘th-Thariqah, para pengamal tarekat di seluruh dunia. Mereka memberi posisi itu padanya. Awalnya beliau tidak menyadarinya, tetapi sekarang beliau sudah mengetahuinya.

Jadi, mereka mengambil ruh saya sebagai pewaris Nabi ﷺ, dan Grandsyekh serta Mawlana Syaikh, Mawlana Syaikh Nazim. Mereka membukakan dari rahasia-rahasia Al-Quran dalam Samudra Ilmu-ilmu, dan dalam Samudra Naqsy, dan dalam Samudra Iman, dan dalam Samudra Kesempurnaan, dan dalam Samudra Pertolongan, dan dalam Samudra-Samudra Thariqah, dan dalam Samudra-Samudra Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jama’ah, dan dalam samudra-samudra yang belum pernah dibukakan sebelumnya, namun kini telah terbuka melalui pertemuan ini! Alhamdulillah untuk hal ini. Kemudian mereka berkata pada saya, “Ini sudah cukup.”
Rabbana taqabbal minna bi hurmati ‘l-Fatihah
Adzan Ashar.

Apa yang Ada di Dalam Ka`bah

81565876_10214877895242998_2440839470619033600_o

Syekh Hisyam Kabbani

Fenton Zawiya, Michigan, 27 Juni 2015
Zhuhr Suhbah (2)

(lanjutan dari Shuhbah sebelumnya oleh Syekh Nour Kabbani

Saya ingin menambahkan mengenai rahasia Ka`bah yang tadi disebutkan oleh Nour [Kabbani].  Segala sesuatu mempunyai cerminannya dan Allah (swt) menciptakan segala sesuatu zawjayni zawjayn, dengan dua identitas dari seseorang: Dia memberi mereka identitas melalui ibu jari dan Dia memberinya identitas melalui retina mata mereka. Jadi kalian dapat melihat lebih baik melalui mata kalian daripada melihat dengan ibu jari kalian.  Jika mata-mata ini dibukakan melalui suatu perjuangan (riyadhah) agar mendapat petunjuk dari Allah (swt), karena Allah akan memberi petunjuk bagi orang yang berjuang untuk-Nya:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad di (Jalan) Kami, benar-benar akan tunjukkan kepada mereka Jalan-Jalan Kami, dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Surat al-`Ankabut, 29:69) 

“Orang-orang yang berjihad di (Jalan) Kami,  Kami akan tunjukkan kepada mereka Jalan-Jalan Kami”, dan ketika Dia mengatakan “jalan-jalan” itu artinya jalan yang tak pernah berakhir, di mana setiap orang akan mempunyai sebuah jalan atau sepuluh jalan atau dua jalan yang dapat diraih melalui awraad-nya; bahkan ia mungkin membuat awraad-nya sendiri dan itu adalah jalannya, dan Allah akan memberi petunjuk kepada setiap orang menuju Jalan-Nya!

Bayangkan apa yang terjadi di Masjid al-Haraam di Mekah: ketika kalian masuk, kalian melihat jutaan orang berdesakan dari berbagi penjuru dunia. Siapa yang menarik mereka bagaikan sebuah magnet, menarik mereka ke Ka`batullah, Baytullah?  Ka`bah aslinya adalah Bayt al-Maa’muur yang dibawa dengan jalan surgawi.  Ia berada di Surga Keempat! Bayt al-Maa’muur menarik rahasia itu dan menarik jutaan orang ke Ka`batullah; hakikat rahasia yang berada di Surga Keempat menarik orang untuk mengunjungi Baitullah.  Jika kalian menyingkirkan temboknya, apa yang ada di sana? Beberapa orang akan mengatakan tidak ada apa-apa, tetapi tidak: 

ما وسعني أرضي ولا سمائي ولكن وسعني قلب عبدي المؤمن

Langit dan Bumi tidak dapat menampung-Ku, tetapi kalbu orang beriman dapat mengandung-Ku. 

(Hadits Qudsi, Al-Ihya dari Imam al-Ghazali)

Ada Ka’bah di sana, di dalam hati kalian, ada qiblat, yang akan mengantarkan kalian kepada Ka`bah sesungguhnya, mengantarkan kalian ke Bayt al-Maa’muur.

Jadi itu adalah untuk Bayt al-Maa’muur dalam sepersekian detik, di mana tidak ada waktu.  Kita mengenal tiga dimensi dan waktu adalah dimensi imajiner.  Para ilmuwan berkata, “Kita akan mengambil waktu dan membaginya ke dalam fraksi dari satu detik”, dan sebanyak mungkin mereka membagi satu detik hingga ke angka 10-23 (1 dengan 23 nol) .  Di sana, pada saat itu, tidak ada waktu lagi, segala sesuatunya adalah energi, jadi di dalam Ka`bah yang kita lihat adalah Tajalli Allah (swt) dalam setiap partikel waktu terkecil, mengirimkan dari Langit Tajali Asmaul Husna wal Shifat-Nya yang berbeda-beda, itu juga yang menarik orang-orang ke Ka`batullah, untuk mencapai spiritualitas tingkat tinggi itu.  Kisah yang engkau [Syekh Nour] sebutkan mengenai Mawlana Syekh terangkat, meskipun mereka diangkat dengan jalan spiritual, dan meskipun awliyaullah dapat melihat secara fisik dan yang lain dapat melihat secara spiritual dan yang lain tidak dapat melihat apa-apa, jadi beliau diangkat dan tawafnya awliyaullah berada pada level kedua, di mana [baru-baru ini] mereka mendirikan jembatan, sebagaimana yang engkau sebutkan.  Apa rahasia Ka`bah? Itu adalah batu yang berasal dari Langit. Ada dua tempat yang berasal dari Langit: Hajar al-As`ad dan kemudian Rawdhah asy-Syarifah:

ما بين قبري و منبري روضة من رياض الجنة

Di antara kubur dan mimbarku terdapat sebuah taman dari Taman Surga. (Ahmad)

Jadi ketika kalian masuk Surga, kalian masuk tanpa dosa karena kalian tidak bisa mempunyai dosa di Surga.  Itulah sebabnya orang-orang saling mendorong untuk sampai ke sana, karena mereka tahu jika mereka melangkahkan kaki ke sana, mereka akan melangkah ke dalam Surga tanpa dihisab pada Hari Kiamat: setiap orang yang melangkahkan kaki di Rawdhah berarti melangkahkan kaki ke dalam Surga.  Jadi alasan Nabi (saw) mencium Hajar al-As`ad, sebagaimana yang disebutkan oleh Sayyidina `Ali (ra), ketika Sayyidina `Umar (ra) berkata, “Aku menciummu (Hajar Aswad), karena aku melihat Nabi (saw) menciummu, tetapi aku tahu bahwa engkau adalah sebuah batu yang tidak membahayakan dan juga tidak mendatangkan manfaat.”  

عن عابس بن ربيعة عن عمر رضي الله عنه أنه جاء إلى الحجر الأسود فقبله فقال إني أعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع ولولا أني رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يقبلك ما قبلتك

روى الحاكم من حديث أبي سعيد أن عمر لما قال هذا قال له علي بن أبي طالب : إنه يضر وينفع ، وذكر أن الله لما أخذ المواثيق على ولد آدم كتب ذلك في رق ، وألقمه الحجر ، قال : وقد سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : يؤتى يوم القيامة بالحجر الأسود وله لسان ذلق يشهد لمن استلمه بالتوحيد

Sebuah hadits mencatat ketika Khalifah kedua, `Umar ibn al-Khattab (ra) datang mencium Hajar Aswad.  Di depan semua orang yang hadir beliau berkata, “Tidak ada keraguan lagi, aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak membahayakan dan juga tidak mendatangkan manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu.”  Sayyidina `Ali (ra) menanggapi perkataan Sayyidina `Umar (ra), “Sesungguhnya batu ini (Hajar al-Aswad) dapat mendatangkan manfaat dan juga kerugian,” dan beliau mengingatkannya bahwa Allah (swt) berfirman di dalam al-Qur’an bahwa Dia menciptakan manusia dari keturunan Nabi Adam (as) dan membuat mereka bersaksi atas diri mereka sendiri dan Allah bertanya pada mereka, ‘Bukankah Aku adalah Penciptamu?’   Terhadap hal ini mereka semua mengiakannya. Jadi Allah menuliskan konfirmasi ini dan batu ini mempunyai sepasang mata, telinga dan lidah, dan ia membuka mulutnya atas perintah Allah (swt), Yang meletakkan konfirmasi tersebut di dalamnya dan memerintahkannya untuk bersaksi bagi seluruh hamba yang menegaskan keyakinannya pada Keesaan Allah.” 

Hadits lainnya mengenai keutamaan Hajar al-Aswad dari ibn `Abbas (ra):

 حَدِيث ابْن عَبَّاس رَضِي الله عَنهُ انه قَالَ: الْحجر الْأسود يَمِين الله فِي الأَرْض يُصَافح بهَا عباده أَو قَالَ:
خلقه كَمَا يُصَافح النَّاس بَعضهم بَعْضًا.

Sesungguhnya Batu itu adalah Tangan Kanan Allah di Bumi; dan melaluinya Dia bersalaman dengan hamba-hamba-Nya.  (Ibn Qutayba dalam Ghariib al-Hadits)

Untuk menjadi saksi bagi setiap orang yang pergi ke sana dan memberikan salam, walaupun dari kejauhan, karena sekarang kalian tidak leluasa untuk mencapainya.  Kalian ucapkan, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, itu sudah cukup bagi Hajar al-Aswad untuk menjadi saksi bagi kalian di Hari Kiamat bahwa kalian adalah seorang Mukmin dan Muslim dan kalian telah menyentuh Surga walau dengan mengangkat tangan kalian dari kejauhan, sehingga kalian dapat masuk ke dalam Surga tanpa dihisab.

Tinggalkan hal ini, tetapi ketika kalian melakukan shalat sunnah, Nabi (saw) menganjurkan kita untuk melaksanakan shalat setelah shalat fardhu.  Jadi, ketika kalian melakukan shalat sunnah, kalian menghadapkan wajah kalian ke arah Qiblat. Ketika kalian mengucapkan, “Allahu Akbar,” karena di dalam shalat, kalian melakukan kelima rukun Islam; kalian shalat, kalian puasa karena kalian tidak makan ketika shalat, kalian mengarahkan wajah kalian ke arah Mekah, ini adalah haji, dan kalian membayar zakat, karena kalian menyerahkan waktu kalian kepada Allah (swt) padahal kalian dapat menggunakannya untuk berbisnis.  Jadi kelima rukun Islam ada di dalam shalat. Ketika kalian mengucapkan, “Allahu Akbar,” kalian mengarahkan wajah ke arah Ka`bah, ke arah Batu Kebahagiaan atau Batu Hitam, dan ia akan menjadi saksi bagi kalian lima kali sehari, setiap kali kalian mengucapkan “Allahu Akbar,” itu sampai ke sana.  

Untuk Madinata ’l-Munawwarah, ketika kalian melakukan sunnah, seolah-olah kalian telah memasuki mihrab Nabi yang berada di Rawdhah asy-Syarifah.  Setiap kali ia (Sayyidina Zakaria) masuk ke mihrab Sayyida Maryam, ia mendapati makanan di sana.  Setiap kali ia masuk ke ruang istimewanya Sayyida Maryam, ia mendapati makanna di sana. Jadi Rawdhah asy-Syarifah dan juga mihrab tersebut seperti tempat suci di mana doa-doa dikabulkan.Sayyidina Zakariya (as) pergi ke mihrab tersebut dan berdoa agar ia dikaruniai anak dan akhirnya ia dikaruniai Sayyidina Yahya (as), di usianya yang sudah tua.  Jadi bila kalian berdoa di sana, maka tempat itu akan memberi wasilah bagi kalian di Hari Kiamat karena kalian telah shalat di sana.  

Ada begitu banyak penjelasan dan insyaAllah di lain waktu Taher akan bicara dan Ishaq akan bicara, dan kita akan melihat permata-permata yang keluar dan memberi kita cita rasa sejati, sebagaimana Ibn `Ajiiba berkata,  

Al-`ilmu`ilmaan `Ilm al-Awraaq wa `Ilm al-Adzwaaq

Ada dua jenis ilmu, yaitu ilmu kertas dan ilmu rasa.

Ada begitu banyak ulama yang menyentuh pada Ilm al-Awraaq, atau ilmu kertas, tetapi dalam `Ilm al-Adzwaaq, yakni ilmu rasa, kalian menyentuh pada Syariah dan juga Makrifat.  Kita berharap para ulama Syariah juga akan berbicara mengenai tasawwuf karena kalian memerlukan rasa tersebut, seperti ketika kalian datang untuk ifthar, berbuka puasa, setiap orang minum, tetapi kalian tidak minum dan mereka mengatakan, “Ini enak, airnya manis,” tetapi mereka tidak memberikannya kepada kalian untuk dicicipi.  Jadi para Ahl al-Haqaa’iq, para ahli hakikat, mereka memberi kalian rasa dari air tersebut, bukan hanya cangkir yang berwarna saja. 

Jadi dari yang benar-benar abstrak, `adm, dari non-eksistensi, Allah menciptakan makhluk dan dari sana Allah mengirimkan ke non-eksistensi.  Jadi karena hal tersebut, Ibn `Arabi mengatakan bahwa kita kembali kepada non-eksistensi.

http://sufilive.com/What-is-Inside-the-Kaaba–5920.html 

© Copyright 2015 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.