Keutamaan Bulan Rajab

6e5fc588-7303-42f8-a50e-5825d34e0d55

Nabi (saw) telah menegaskan bahwa Rajab adalah bulannya Allah (swt), Sya’ban bulannya Nabi (saw), dan Ramadan adalah bulannya umat. Itu artinya Rajab adalah persiapan bagi setiap orang untuk berjumpa dengan Nabi (saw) di bulan Sya’ban, dan di bulan Sya’ban kita berpuasa dan memuji Allah (swt) serta Nabi (saw) untuk mempersiapkan diri memasuki Ramadan. Dan Sayyidina Muhammad (saw) bersabda, “Barang siapa yang berpuasa satu hari di bulan Rajab, Allah (swt) akan senang terhadapnya dan ia akan memperoleh rida Allah (swt) dan tingkat tertinggi dari Jannat al-Firdaus.”

Dan Nabi (saw) bersabda,
Hormatilah Rajab, bulannya Allah, Allah akan memberi penghormatan bagi kalian.
Penghormatan Allah tidak seperti penghormatan kita; penghormatan kita adalah penghormatan biasa. Kita adalah orang yang lemah, tidak berdaya dan lalai. Penghormatan kita tidak diperhitungkan, tetapi Allah (swt) berfirman, “Jika engkau memberi penghormatan kepada-Ku di bulan Rajab, Aku akan memberimu penghormatan.” Dikatakan bahwa pada Hari Kiamat, Allah akan memberi 1000 penghormatan bagi setiap hari yang diisi dengan puasa selama bulan Rajab!

(Melanjutkan hadits) “Dan barang siapa yang melakukan ghusl (mandi) pada hari pertama di bulan Rajab dengan niat memasuki hari pertama bulan Rajab dan pada hari ke-15 serta hari terakhir, Allah (swt) akan menghapus seluruh dosanya seolah-olah ia bagaikan baru dilahirkan.”

Allah (swt) memberi kita banyak jalan untuk menyelamatkan kita, untuk menjadi suci, dan bahagia di dunia dan akhirat. Nabi (saw) bersabda, “Kehormatan Rajab dibandingkan bulan-bulan yang lain bagaikan kehormatan al-Qur’an di antara kitab-kitab yang lain.”

Shaykh Hisham Kabbani

Khalwat Terakhir Grandsyekh `Abdullah (q)

20160417094043

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
Zawiyah Fenton, Michigan; 15 April 2016
Shuhba bakda Maghrib

 

Alam Barzah, alam antara dunia dan akhirat adalah hidup.   Pada periode waktu di mana orang-orang berada di dalam kubur itu, Allah mengubah kubur Mukmin dan Muslim menjadi Surga dan mereka akan melaksanakan khalwat.  

Grandsyekh, semoga Allah memberkahi ruhnya, ketika beliau sakit, beliau berkata, “Aku akan pergi ke suatu tempat di mana tidak ada seorang pun dapat mengikutiku.”  Beliau mengatakannya dengan nada humor.  Pada saat itu karena cinta kami, kami tidak dapat memahami apa yang beliau katakan.  Artinya beliau ingin melakukan operasi itu dan memperoleh kesehatannya kembali, tetapi kami tidak mengerti karena beliau mengatakan bahwa, “Aku harus pergi untuk berkhalwat.”  “Tetapi sebelum aku melakukan khalwat itu, yang akan merupakan khalwat yang sangat kuat, aku harus melakukan operasi katarak di mataku.”  Setiap orang melihatnya bahwa Grandsyekh akan melakukan operasi katarak, yang merupakan operasi yang mudah, tetapi tidak semudah sekarang, kemudian setelah itu beliau akan pergi ke Madinah al-Munawwarah untuk melakukan khalwatnya, tetapi kami tidak mengerti bahwa beliau mempunyai maksud yang lain, bahwa beliau akan pergi ke suatu tempat yang tidak dapat dicapai oleh seorang pun.   Kami pikir beliau akan pergi ke Madinatul Munawwarah dan ketika beliau mengatakan bahwa beliau akan pergi ke suatu tempat yang tidak dapat dicapai seorang pun, itu artinya kami berada di Lebanon atau Syam dan beliau di Madinah, sehingga sulit untuk sampai ke sana, jadi ada kesulitan untuk mencapainya.  

Jadi kami membawanya untuk melakukan operasi katarak, tetapi terjadi komplikasi di sana dan beliau berhenti makan.  Beliau mengatakan bahwa beliau tidak mempunyai selera untuk makan.  Jadi beliau tidak makan dan itu berlangsung selama 40 hari.  Dan beliau mengatakan–saya masih menyimpan shuhba yang beliau katakan–dan beliau mengatakan bahwa, “Aku telah menyelesaikan khalwat selama 40 hari.”  “Atas nama para pengikutku, atas nama ummatun-Nabi (saw), untuk menanggung beban para pengikutku, aku mengambil tanggung jawab itu sendiri dan melakukan 40 hari (khalwat).”  Dan di dalam khalwat ini beliau (boleh dikatakan) tidak makan.  Saya tahu beliau hanya makan sedikit sekali dan hanya minum air.  Ketika 40 hari berlalu, beliau mengatakan, “Aku telah menyelesaikan khalwat 40 hari.”  

Itu terjadi di bulan Rajab.  Dan beliau mengatakan pada 15 Sya’ban.  Itu adalah Rajab dan kemudian 10 hari di bulan Sya’ban sehingga 40 hari.  Pada hari ke-40 beliau mengatakan, “Aku ingin kembali ke Syam, karena aku akan meninggalkan dunia.”  Kami juga tidak memahaminya, tetapi saya ingat bahwa kami membawanya, saya membawanya dengan mobil, kami melepaskan kursinya dan kami letakkan kasur di sana, dan kami membawanya dari Beirut ke Syam.  

Pada malam ke-15, Laylatul Bara’ah, beliau berkata, “Lakukan Mawlid dan undang setiap murid yang bisa datang.”  Dan keesokan harinya, pada 15 Sya’ban kami membawanya ke Syam.  Kami melakukannya.  Dan melalui ru’ya, pandangan spiritualnya, beliau mengatakan bahwa Nabi (saw) senang dengan niat melakukan khalwat atas nama seluruh pengikutnya.  Dan bukan hanya itu, beliau juga melakukannya untuk ummatun Nabi (saw).

Secara spiritual, menurut apa yang beliau katakan, saya dapat mengatakan bahwa beliau telah melakukan khalwat untuk setiap orang di antara kita.  Jadi itu akan dituliskan di dalam buku catatan amal kita.  Dan khalwat beliau tidak seperti khalwat kita.  Jadi, innamal a`malu bin-niyyat (setiap amal tergantung pada niatnya); jadi ini adalah niat beliau, dan ini telah diterima dari beliau dan hingga Ramadan, beliau meninggalkan dunia pada hari Ahad, 4 Ramadan.  

Jadi, bagi beberapa tarekat, khalwat adalah salah satu kewajiban di dalam awradnya.  Dan karena kelemahan kita, mereka melakukannya atas nama kita.  Orang-orang bertanya tentang khalwat sekarang ini.  Karena berbagai masalah di seluruh dunia, khalwat sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi (saw) di dalam hadits yang kemarin kami sebutkan, “Tinggallah di rumahmu, patahkan pedangmu, dan duduklah di kamar terdalam dari rumahmu,” yakni sembunyikan diri kalian di dalam kamar yang paling jauh dari pintu depan.  Dari hadits itu kita mengerti bahwa jika kalian tidak dapat melakukannya karena terlalu banyak fitnah, niat kalian ingin melakukannya, itu akan dituliskan bagi kalian.  Dan kalian dapat melakukannya antara Ashar dan Maghrib, artinya saat akhir Ashar menjelang Maghrib, kemudian antara Maghrib dan Isya, kemudian Fajar hingga Isyraq; jika kalian melakukannya pada ketiga waktu ini, kalian akan dihitung seolah-olah telah melakukan khalwat sepenuhnya selama 40 hari.   

Rahmat Allah Maha Besar, dan di bulan ini Allah tidak memperkenankan para malaikat untuk segera mencatat dosa apapun yang kita lakukan.  Dia menunda mereka hingga 24 jam, barangkali selama itu kita akan bertobat.  Dan Grandsyekh, semoga Allah memberkati ruhnya, berkata bahwa, “Aku mengamati setiap pengikutku pada saat itu, jika mereka tidak bertobat, sebagaimana hadits Nabi (saw), “Aku mengamati setiap amal umatku, jika aku mendapatinya baik, aku memuji Allah (swt), bersyukur; tetapi bila buruk aku memohonkan ampunan.”  Jadi Nabi (saw) akan melihat setiap orang di antara umatnya, dan wali akan melihat setiap orang di antara pengikutnya untuk dipersembahkan kepada Nabi (saw).  Dalam 24 jam kita semua dari ummatun Nabi (saw) akan bersih suci.  Dan pada bulan ini, setiap sayyiat tidak dituliskan, Rajabun Syahrullah, Rajab adalah bulannya Allah, setiap amal sampai kepada Allah secara langsung tanpa melalui malaikat.

Jadi, pastikan kalian menghindari dosa sebaik-baiknya, karena itu tidak mudah.  Sekarang kalian pergi keluar, kalian bisa melihat segala yang telanjang di sana, pria dan wanita.  Jadi kita memohon kepada Allah untuk melindungi kita, dari kebingungan yang akan datang dan untuk memberi ganjaran pahala dan menjadikan kita mendapat berkah dari khalwatnya Grandsyekh, dan khalwatnya Nabi (saw), dan khalwatnya Sayyidina Musa (as) selama 40 hari, dan khalwatnya Sayyidina Yunus (as) di dalam perut ikan paus.

Dan untuk memudahkan bagi setiap orang, Nabi (saw) melakukan khalwat selama 10 hari.  Setelah khalwat 40 hari yang biasa beliau (saw) lakukan di Gua Hira, beliau menguranginya hingga menjadi 10 hari.  Karena kita adalah hamba yang lemah.  Karena itulah i’tikaf selama 10 hari di akhir Ramadan, kita melakukan i’tikaf selama 10 hari, bukannya khalwat, khalwat adalah 40 hari.  Nabi (saw) tahu bahwa kita tidak sanggup melakukannya, kecuali beberapa orang.  Jadi beliau (saw) menguranginya menjadi 10 hari.  Kalian dapat melakukan 10 hari ini di rumah kalian, artinya setelah kalian menyelesaikan pekerjaan kalian, pulang ke rumah, duduk, baca Qur’an, baca Dalailul-Khayrat, baca Burdah dan Mudariyyah, baca istighfar, dan apapun yang ingin kalian baca dari awrad, itu akan menjadi 10 hari terakhir di bulan Ramadan, yaitu itqun minnan naar, bebas dari api neraka.  

Orang-orang yang datang ke sini, dianggap sebagai khalwat bagi mereka.  Dan setiap hasanah dilipatgandakan 10 kali lipat, jadi jika kalian melakukan khalwat, seperti khalwati jalwati; khalwat, mengasingkan diri kalian dari orang-orang, jalwa itu melaksanakan (awrad) pada ketiga waktu yang tadi kita sebutkan, antara Ashar dan Maghrib, Maghrib dan Isya serta antara Fajar dan Isyraq.  Jadi ada tiga langkah, setiap hasanah dilipatgandakan 10 kali lipat, dan mereka ada 3 (waktu) dikalikan 10 menjadi 30, jadi seolah-olah kalian telah melakukan 30 hari khalawat.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita, semoga Allah menjadikan amal kita menjadi amal khalwat di mana segala sesuatu yang kalian lakukan di sana berbeda dengan apa yang kalian lakukan di antara orang-orang.  

wa min Allah at-tawiq, bi hurmatil fatihah.         

 

http://sufilive.com/The-Last-Seclusion-of-Grand-Shaykh-Abdallah-q–6184.html
© Copyright 2016 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.