Pentingnya Bulan Suci Rajab dan Sya`ban

91070140_2773558369365165_108589310252417024_o

Shaykh Hisham Kabbani
Burton, Michigan, 20 Mei 2016
Khotbah Jumu`ah di As-Siddiq Institute & Mosque (ASIM)
As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

[Doa Khotbah]

Wahai Muslim, wahai Mukmin!  Setiap saat dalam kehidupan kita diperhitungkan; kita hanyalah seorang hamba yang lemah, tanpa kekuatan, dan tidak berdaya.  Kita berusaha menjadi seorang hamba yang ikhlas kepada Allah (swt) dan itulah sebabnya kita tidak dapat mengangkat kepala kita dan mengatakan, “Kami di sini.”  Yang ada hanyalah Allah (swt), Sang Pencipta. Dia membawa kita ke dunia dan membawa kita ke Akhirat dalam perjalanan yang penuh dengan rintangan, kesulitan; penuh masalah, dan berbagai penderitaan yang dihadapi dunia Muslim seluruhnya.  Tetapi Allah (swt) Maha Penyayang, dan Dia ingin menolong kita dalam ibadah kita dan agar diterima oleh-Nya. 

Hamba terbaik atau dapat kita katakan Hamba yang Unik adalah Sayyidina Muhammad `alayhi afdhalu ’sh-shalaatu wa ’s-salaam.  Allah (swt) mengangkat derajatnya di bawah Pengawasan-Nya dan menjadikannya sebagai Penghulu dari seluruh Rasul, sejak Adam (as) hingga Hari Kiamat, dan tidak ada lagi Rasul setelah beliau. 

Sayyidina Muhammad, `alayhi afdhalu shalaatu wa salaam, berusaha untuk tidak terlalu membebani umatnya. 

عن عبد الله بن بسر رضي الله عنه أن رجلا قال: يا رسول الله إن شرائع الإسلام قد كثرت علي فأخبرني بشيء أتشبث به؟ قال لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله” الترمذي.

Seorang pria datang kepada Nabi (saw) dan berkata, “Wahai Rasulullah (saw)!  Sesungguhnya Syariat Islam terlalu banyak bagi kami, berikanlah suatu amalan yang dapat kami pertahankan.  Rasulullah (saw) menjawab, “Senantiasa basahi lidahmu dengan dzikrullah.” (Tirmidzi)

Ketika seorang Badui mendatangi Rasulullah (saw) dan mengatakan, “Terlalu banyak Syariat Islam, berikanlah sesuatu yang dapat kulakukan.”  Nabi (saw) menjawab, “Ij`al lisaanaka ratban bi-dzikrillah, “Basahi lidahmu dengan dzikrullah.”  Dzikrullah adalah kitab suci al-Qur’an, oleh sebab itu jadikanlah ia sebagai sahabatmu, agar Allah menyelamatkan dirimu!  Nabi (saw) tidak memberikan sesuatu yang tidak dapat dipikul orang itu, tetapi makna dan tafsir hadits tersebut pada hakikatnya mengatakan bahwa kitab suci al-Qur’an dapat membawa seluruh alam semesta!  Allah (swt) ingin menyelamatkan Ummat an-Nabi (saw), jadi Dia memberikan waktu-waktu yang berharga dalam kehidupan mereka, seperti sekarang ini, kita berada di tiga bulan suci yang sangat dicintai oleh Nabi (saw), di mana beliau (saw) mengatakan dalam Haditsnya, 

رجب شهر الله، وشعبان شهري، ورمضان شهر أمتي

Rajab adalah bulannya Allah, Sya`baan adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.   (Abul-Fath ibn Abi Fawaris dalam `Amalii dari al-Hasan)

Ketika Nabi (saw) mengatakan, “Rajabun syahrullah, “Rajab adalah bulannya Allah,”  Allah tidak memerlukannya, itu adalah untuk kita!  Dia menawarkan satu bulan dengan piring emas kepada kita, di mana bila kalian melakukan ibadah di dalamnya, kalian akan meraih keberhasilan.  Ketika beliau (saw) mengatakan, “Rajabun syahrullah, itu artinya ibadah apa pun yang kalian lakukan di bulan itu akan diangkat oleh Allah (swt) secara langsung, bukan oleh para malaikat, karena itu adalah bulannya Allah.

Wa Rajabun tsalatsatu ahrufin fa ar-Raa rahmatullah, huruf pertama, Ra, adalah Rahmatullah, Rahmat Allah pada kita; wa ‘l-jiim juuduhu `alayna, huruf Jiim melambangkan Kemurahan-Nya kepada kita; wa ‘l-Baa, huruf Baa adalah birruhu `alayna, memberi birr, nikmat kepada kita.  Li anna ar-rahmata tasubbu fiihi sabban, itulah sebabnya ia disebut ‘Rajabun syahrullah,’ karena rahmat akan turun secara langsung kepada kita di bulan itu, tidak ada malaikat yang membawakannya; wa ismuhu ‘l-asamm, dan Allah menyebutnya, “Rajabun syahrullah al-asamm,” artinya, “tidak mendengar apa-apa,” karena bertengkar di bulan ini tidak diperbolehkan, termasuk bertengkar di antara saudara-saudari kalian, kerabat dan tetangga.  Lupakan tentang perang, bahkan bertengkar pun tidak dapat diterima di bulan Rajab.  

Allah akan bertanya kepada bulan Rajab, “Apa yang telah dilakukan oleh hamba-Ku untuk-Ku, wahai Rajab?”  Allah akan bertanya kepada bulan Rajab, “Apa yang telah dilakukan oleh hamba-Ku untuk-Ku?” dan jawabannya adalah, Inna Rajab yurfa`u ila ‘Llahi ta`ala idzaa anqada fa-yas’aluhu ‘Llahu ta`ala `an `amali `ibaadihi fa yaskut. Allah akan bertanya kepada bulan Rajab ketika ia berakhir, “Apa yang telah dilakukan oleh hamba-Ku?  Katakan pada-Ku.” Apakah Allah tidak tahu? Dia tahu, tetapi Dia ingin agar kita mengetahui karena di bulan Rajab amal kita akan diangkat secara langsung kepada-Nya.  

Dan Allah bertanya kepadanya (Rajab), “Katakan apa yang mereka lakukan?” Fa yaskut. Lihatlah adabnya, ia tidak menjawab.  Tsumma yas’aluhu tsaaniyan fa yaskut, kemudian Dia bertanya sekali lagi, dan bulan Rajab tetap diam. Tsumma yasa’luhu tsaalitsan, kemudian Dia bertanya untuk ketiga kalinya, dan bulan Rajab tetap diam, tsumma yaquul, karena tiga kali ia tidak mengatakan apa-apa, kemudian ia ingin membela kita, “Yaa Rabb, Anta amarta `ibaadaka an yastura ba`dahum ba`da, “Wahai Tuhanku, Engkau telah memerintahkan hamba-Mu untuk tidak saling membuka aib masing-masing, untuk saling menutupi jika mereka melakukan kesalahan,” wa sammaanii nabiyyuka Muhammad shallAllahu `alayhi wa sallama al-asamm, fa anna ‘l-asamm,” dan Nabi (saw) menyebutku, “Bulan yang tidak mendengar, dan aku tidak mendengar apa-apa, fa anna ‘l-asamm sama`atu ta`atahum,” tetapi aku mendengar ibadah mereka.”  Duuna ma`aasiihim, “Aku tidak mendengar dosa-dosa mereka, aku hanya mendengar sisi baiknya, dan aku tidak ingin mendengar sisi buruknya.”  Fa yaghfiru ‘Llah `azza wa jall li ‘l-ummat al-Muhammadiyya, Allah akan mengampuni umat Muhammad karena bulan Rajab ini, syahrullah, wa qiil rajabun li-istighfaaru ’dz-dzunuub, Allah telah menjadikan Rajab sebagai bulan pengampunan dari dosa untuk mempersiapkan kita memasuki bulan Sya`ban dan Ramadhan, wa qiil Rajab syahru ‘t-tawbah, wa Sya`baanu syahru ‘l-mahabbah wa Ramadhanu syahru ‘l-qurbah. Dikatakan bahwa Rajab adalah bulan tawbah, ampunan, dan Sya`baan adalah bulan cinta dan Ramadhan adalah bulan keakraban.  Itulah sebabnya mengapa Nabi (saw) sering mengatakan, “Sya`baanu syahrii, beliau mencintai bulan itu, wa Ramadhanu syahru qurba,“ dan Ramadhan adalah bulan keakraban, yakni ketika hamba akan dekat dengan Allah (swt), sebagaimana Dia berfirman, 

Nabi (saw) bersabda bahwa Allah (swt) berfirman,

« كل عمل ابن آدم يضاعف الحسنة عشرة أمثالها إلى سبعمائة ضعف. قال الله عز وجل: إلا الصوم، فإنه لي وأنا أجزي به. يدع شهوته وطعامه من أجلي. للصائم فرحتان: فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه. ولخلوف فيه أطيب عند الله من ريح المسك» رواه مسلم

“Setiap amal anak Adam akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat, dan Allah (`azza wa jalla) berfirman, “Kecuali puasa, karena amal itu dilakukan (murni) untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.  Ia telah meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya demi Aku. Ada dua kebahagiaan yang didapatkan oleh orang yang berpuasa, yaitu kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sesungguhnya bau mulut (orang yang berpuasa) lebih harum di sisi Allah daripada harumnya minyak kasturi.” (Muslim)

Sekarang (malam) kelima belas Sya`ban akan tiba.  Dikatakan oleh banyak ulama bahwa Nabi (saw) bersabda, 

عن النبي صلى الله عليه وسلم من صلى أول ليلة من شعبان اثنتي عشرة ركعة يقرأ في الركعة الأولى فاتحة الكتاب مرة وقل هو الله أحد خمس مرات أعطاه الله تعالى ثواب اثنى عشر ألف شهيد وخرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه ولا يكتب عليه خطيئة إلى ثمانين يوما

Barang siapa yang shalat dua belas rakaat pada malam pertama bulan Sya`ban dan membaca Surat al-Fatihah sekali dan Qul Huwa ‘Llahu Ahad lima kali pada rakaat pertama, Allah akan memberinya pahala dari 12.000 syuhada dan ia akan dibebaskan dari dosa-dosanya seperti ketika baru dilahirkan ibunya dan tidak ada dosa yang akan dituliskan baginya selama delapan puluh hari berikutnya. (Nuzhat al-Majalis oleh as-Safuri).

Jadi, itu adalah Rahmatan li ‘l-Ummah, Allah (swt) memberi kita kesempatan untuk melakukannya.  Saya akan menyebutkan sebuah sebuah kisah dari kitab Nuzhatu ‘l-Majalis dan di dalam Rawdhatu ‘l-Afkaar:

مر عيسى بن مريم عليه السلام على جبل فرأى فيه صخرة بيضاء فطاف بها عيسى وتعجب منها، فأوحى الله إليه أتريد أن أبين لك أعجب ممارأيت، قال: نعم فانفلقت الصخرة عن رجل بيده عكازة خضراء وعنده شجرة عنب، فقال: هذا رزق كل يوم، فقال: كم تعبد الله في هذه الحجر، فقال: منذ أربعمائة سنة، فقال عيسى: يارب ما أظن أنك خلقت خلقاً أفضل منه، فقال: من صلى ليلة النصف من شعبان من أمة محمد صلى الله عليه وآله وسلم ركعتين فهو أفضل من عبادته أربعمائة عام، قال عيسى: ليتني من أمة محمد صلى الله عليه وآله وسلم

Sayyidina `Isa (as) melewati sebuah gunung dan beliau melihat sebuah batu berwarna putih di sana. Beliau berjalan mengelilinginya dan tercengang melihatnya.  Kemudian Allah (swt) mewahyukan kepadanya, “Maukah engkau Kutunjukkan sesuatu yang lebih menakjubkan dari apa yang kau lihat di sini?” Beliau menjawab, “Ya.”  Kemudian batu itu pun terbelah. (Nuzhat al-Majalis oleh as-Safuri)

Seperti halnya Nabi-Nabi lainnya, Sayyidina `Isa (as) sering bepergian di padang pasir atau hutan untuk melakukan suatu siyaaha, perjalanan.  Dalam perjalanannya, fa ra’aa fiihi sakhratun baydaa’ “Ketika beliau menemukan sebuah batu putih yang besar dan sangat bersih.” Fa-taafa bihaa `Isa, “Beliau berjalan mengitarinya dan berpikir, ‘Betapa mengagumkannya batu ini.’ Wa ta`ajjaba minha, “Beliau tercengang pada batu putih yang indah yang ada di sana di tengah-tengah daerah antah berantah.”  Fa-awha ‘Llahu ilayh, “Allah mewahyukan kepadanya, a-turiidu an ubayyina laka a`jaba mimmaa ra’ayt, ‘Maukah engkau Kutunjukkan sesuatu yang lebih menakjubkan dari apa yang kau lihat di sini?’  Sayyidina `Isa (as) mengatakan, qaala na’am, ‘Ya, aku ingin melihatnya.’”

Fa anfalaqat as-sakhrah, “Batu itu pun terbelah,” seperti dalam kisah tiga orang yang berlindung di dalam gua, Nabi (saw) menyebutkannya dalam sebuah Hadits, gua itu tertutup oleh sebuah batu dan setiap orang menceritakan pengalamannya tentang ibadah terbaik yang mereka lakukan untuk Allah, kemudian batu itu terbuka sehingga mereka bisa keluar.  Jadi ketika Allah berkata kepadanya, “Maukah engkau Kutunjukkan yang lebih hebat dari itu?” Nabi `Isa (as) menjawaba, “Na`am yaa Rabbii.” Fa anfalaqat as-sakhrah `an rajulin bi yadihi ukaazah khadraa. “Batu itu pun terbelah dan ada seorang pria yang duduk di sana dengan sebuah tongkat hijau.”  Wa `indahu syajaratu `inab, “dan di sampingnya terdapat sebatang pohon anggur.”

Hal itu lebih mencengangkan, bagaimana sebatang pohon anggur dan pria itu hidup di dalam batu itu, karena Allah berfirman, infalaqat, “Batu itu terbelah dan mereka pun terlihat.”  Orang itu berkata kepada Sayyidina `Isa, “Wahai `Isa,” ia langsung menyebutkan namanya.  Sayyidina `Isa (as) lebih terkejut lagi dan berpikir, “Bagaimana ia bisa mengetahui namaku?” Fa qaala hadza rizqu kulli yawm, “Ini adalah milikku, Allah mengirimkannya kepadaku.  Aku tidak peduli dengan dunia, aku hanya peduli dengan Akhirat, dan orang yang peduli dengan Akhirat, Allah akan memberi mereka rezeki [bahkan] di dalam sebuah batu.”  

Kita mengejar dunia seolah-oleh kita tidak melihatnya, kita menginginkan semuanya dalam kantong kita.  Kita tidak bersyukur kepada Allah (swt) bahwa Dia telah memberi kita kepala, mata, telinga dan hidung untuk mengucapkan, “Laa ilaaha illa-Llah Muhammadun Rasuulullah.”  Dia memberi kita lidah untuk membuat kita senantiasa berdzikir.  Dia memberi kita hati untuk menjaga dzikrullah!  Orang itu menyembah Allah di dalam batu dan Allah mengirimkan rezekinya di sana.  Jangan terkejut, mereka ini adalah para anbiyaa. Allah memberi tanda-tanda kepada mereka, karena kehidupan mereka adalah untuk Allah (swt), tetapi kehidupan kita adalah untuk diri kita, kita tidak hidup untuk Allah (swt), kita adalah hamba yang lemah dan tidak berdaya, kita tidak bisa seperti mereka.  Namun kita dapat mengambil teladan dari kisah-kisah mereka. 

Hadza rizq kulli yawm, fa qaala kam ta`budullah fii hadzihi ‘l-hajar, “Sudah berapa lama engkau beribadah di dalam batu itu?”  Fa qaala, mundzu arba`a mi’ata sannah, “Aku sudah berada di dalam batu itu selama empat ratus tahun.”  Sebelum Ummat an-Nabi (saw) dan Ummat Bani Israiil hingga ke Sayyidina `Isa (as), orang-orang terdahulu berumur panjang, sekarang tidak seperti itu.  Faa qaala `Isa, yaa Rabb, beliau terkejut karena orang itu bergantung kepada Allah sepenuhnya; Allah mengirimkan makanan untuknya.  Sayyidina `Isa (as) berkata, “Yaa Rabb, ma azhunnu annaka khalaqta khalqan afdhala minhu,” “Wahai Tuhan, aku pikir Engkau tidak menciptakan orang yang lebih baik darinya, sebagai seorang manusia, sebagai seorang makhluk.” 

Allah (swt) mewahyukan kepadanya, laa yaa `Isa, “Jangan berkata begitu wahai `Isa,” Fa qaal, yaa `Isa, man shalla Laylat al-nishf Sya`baan min Ummati Muhammad shall`Allahu `alayhi wa-sallam bi raka`tain fa huwa afdhal min `ibadatihi arba`a mi’ata `aam, “Karena ini adalah bulannya Sayyidina Muhammad (saw), barang siapa yang melakukan shalat dua rakaat di bulan Sya`ban, terutama pada malam kelima belas bulan Sya`ban, itu lebih baik daripada ibadah selama 400 tahun.”  

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyerukan untuk berbuat yang makruf, dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah. (Surat Aali-`Imraan, 3:110)

“Kalian adalah umat terbaik yang telah dilahirkan untuk manusia, Ummat an-Nabi (saw).” Allah mengaruniakan berbagai rahmat dan ampunan, walaupun kita tidak banyak melakukannya, Allah mengaruniakan umat ini segala sesuatu untuk Akhirat, sudah disiapkan untuk kita di Surga, insyaa-Allah.  Itu tidak berarti bahwa kita bisa sombong, Allah (swt) mengaruniainya kepada kita karena Dia menjadikan kita sebagai bagian dari Ummat an-Nabi (saw), kehormatan itu adalah untuk Nabi (saw), Allah (swt) memuliakan Nabi (saw) untuk Ummatnya, untuk shalat dua rakaat dan memberi mereka `ibadaat saa’ir al-umam bi arba`a mi’ata `am.

Dia memuliakan Ummat an-Nabi lebih dari Dia memuliakan Ummah lain karena Sayyidina Muhammad (saw)!  Itulah sebabnya mengapa, Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim, wa law annahum idz zhalamuu anfusahum jaa’uuka fa astaghfaruullaah, “Ketika mereka telah menganiaya dirinya, satu-satunya jalan keluar adalah dengan mendatangimu yaa Muhammad (saw),” sebagaimana firman Allah di dalam kitab suci al-Qur’an.

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Jika sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (Surat an-Nisaa, 4:64)

Jadi kehormatan itu adalah untuk Nabi (saw) karena Allah mengampuni kita melalui beliau!  Semoga Allah (swt) mengampuni kita. 

Banyak syuyukh yang mengatakan, kaana ash-shaalihuuna yuhafizhuuna `alaa shalaati ’t-tasaabiih fii syahri sya`baan: Pada Hari Kiamat, Allah akan bertanya pada kita, “Apakah kalian melakukan Shalaat at-Tasaabiih di bulan Sya`ban?” sebagaimana Nabi (saw) telah menyebutkannya ketika beliau menunjukkan Shalaat at-Tasaabiih kepada para Sahaabah (ra), bahkan jika kalian melakukannya sekali seumur hidup, kalian akan masuk Surga, insyaa-Allah.

[Doa penutup khotbah.]

http://sufilive.com/The-Significance-of-the-Holy-Month-of-Rajab-and-Shaban-LS–6190.html
© Copyright 2016 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

Keutamaan Bulan Rajab

6e5fc588-7303-42f8-a50e-5825d34e0d55

Nabi (saw) telah menegaskan bahwa Rajab adalah bulannya Allah (swt), Sya’ban bulannya Nabi (saw), dan Ramadan adalah bulannya umat. Itu artinya Rajab adalah persiapan bagi setiap orang untuk berjumpa dengan Nabi (saw) di bulan Sya’ban, dan di bulan Sya’ban kita berpuasa dan memuji Allah (swt) serta Nabi (saw) untuk mempersiapkan diri memasuki Ramadan. Dan Sayyidina Muhammad (saw) bersabda, “Barang siapa yang berpuasa satu hari di bulan Rajab, Allah (swt) akan senang terhadapnya dan ia akan memperoleh rida Allah (swt) dan tingkat tertinggi dari Jannat al-Firdaus.”

Dan Nabi (saw) bersabda,
Hormatilah Rajab, bulannya Allah, Allah akan memberi penghormatan bagi kalian.
Penghormatan Allah tidak seperti penghormatan kita; penghormatan kita adalah penghormatan biasa. Kita adalah orang yang lemah, tidak berdaya dan lalai. Penghormatan kita tidak diperhitungkan, tetapi Allah (swt) berfirman, “Jika engkau memberi penghormatan kepada-Ku di bulan Rajab, Aku akan memberimu penghormatan.” Dikatakan bahwa pada Hari Kiamat, Allah akan memberi 1000 penghormatan bagi setiap hari yang diisi dengan puasa selama bulan Rajab!

(Melanjutkan hadits) “Dan barang siapa yang melakukan ghusl (mandi) pada hari pertama di bulan Rajab dengan niat memasuki hari pertama bulan Rajab dan pada hari ke-15 serta hari terakhir, Allah (swt) akan menghapus seluruh dosanya seolah-olah ia bagaikan baru dilahirkan.”

Allah (swt) memberi kita banyak jalan untuk menyelamatkan kita, untuk menjadi suci, dan bahagia di dunia dan akhirat. Nabi (saw) bersabda, “Kehormatan Rajab dibandingkan bulan-bulan yang lain bagaikan kehormatan al-Qur’an di antara kitab-kitab yang lain.”

Shaykh Hisham Kabbani

Khalwat Terakhir Grandsyekh `Abdullah (q)

20160417094043

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
Zawiyah Fenton, Michigan; 15 April 2016
Shuhba bakda Maghrib

 

Alam Barzah, alam antara dunia dan akhirat adalah hidup.   Pada periode waktu di mana orang-orang berada di dalam kubur itu, Allah mengubah kubur Mukmin dan Muslim menjadi Surga dan mereka akan melaksanakan khalwat.  

Grandsyekh, semoga Allah memberkahi ruhnya, ketika beliau sakit, beliau berkata, “Aku akan pergi ke suatu tempat di mana tidak ada seorang pun dapat mengikutiku.”  Beliau mengatakannya dengan nada humor.  Pada saat itu karena cinta kami, kami tidak dapat memahami apa yang beliau katakan.  Artinya beliau ingin melakukan operasi itu dan memperoleh kesehatannya kembali, tetapi kami tidak mengerti karena beliau mengatakan bahwa, “Aku harus pergi untuk berkhalwat.”  “Tetapi sebelum aku melakukan khalwat itu, yang akan merupakan khalwat yang sangat kuat, aku harus melakukan operasi katarak di mataku.”  Setiap orang melihatnya bahwa Grandsyekh akan melakukan operasi katarak, yang merupakan operasi yang mudah, tetapi tidak semudah sekarang, kemudian setelah itu beliau akan pergi ke Madinah al-Munawwarah untuk melakukan khalwatnya, tetapi kami tidak mengerti bahwa beliau mempunyai maksud yang lain, bahwa beliau akan pergi ke suatu tempat yang tidak dapat dicapai oleh seorang pun.   Kami pikir beliau akan pergi ke Madinatul Munawwarah dan ketika beliau mengatakan bahwa beliau akan pergi ke suatu tempat yang tidak dapat dicapai seorang pun, itu artinya kami berada di Lebanon atau Syam dan beliau di Madinah, sehingga sulit untuk sampai ke sana, jadi ada kesulitan untuk mencapainya.  

Jadi kami membawanya untuk melakukan operasi katarak, tetapi terjadi komplikasi di sana dan beliau berhenti makan.  Beliau mengatakan bahwa beliau tidak mempunyai selera untuk makan.  Jadi beliau tidak makan dan itu berlangsung selama 40 hari.  Dan beliau mengatakan–saya masih menyimpan shuhba yang beliau katakan–dan beliau mengatakan bahwa, “Aku telah menyelesaikan khalwat selama 40 hari.”  “Atas nama para pengikutku, atas nama ummatun-Nabi (saw), untuk menanggung beban para pengikutku, aku mengambil tanggung jawab itu sendiri dan melakukan 40 hari (khalwat).”  Dan di dalam khalwat ini beliau (boleh dikatakan) tidak makan.  Saya tahu beliau hanya makan sedikit sekali dan hanya minum air.  Ketika 40 hari berlalu, beliau mengatakan, “Aku telah menyelesaikan khalwat 40 hari.”  

Itu terjadi di bulan Rajab.  Dan beliau mengatakan pada 15 Sya’ban.  Itu adalah Rajab dan kemudian 10 hari di bulan Sya’ban sehingga 40 hari.  Pada hari ke-40 beliau mengatakan, “Aku ingin kembali ke Syam, karena aku akan meninggalkan dunia.”  Kami juga tidak memahaminya, tetapi saya ingat bahwa kami membawanya, saya membawanya dengan mobil, kami melepaskan kursinya dan kami letakkan kasur di sana, dan kami membawanya dari Beirut ke Syam.  

Pada malam ke-15, Laylatul Bara’ah, beliau berkata, “Lakukan Mawlid dan undang setiap murid yang bisa datang.”  Dan keesokan harinya, pada 15 Sya’ban kami membawanya ke Syam.  Kami melakukannya.  Dan melalui ru’ya, pandangan spiritualnya, beliau mengatakan bahwa Nabi (saw) senang dengan niat melakukan khalwat atas nama seluruh pengikutnya.  Dan bukan hanya itu, beliau juga melakukannya untuk ummatun Nabi (saw).

Secara spiritual, menurut apa yang beliau katakan, saya dapat mengatakan bahwa beliau telah melakukan khalwat untuk setiap orang di antara kita.  Jadi itu akan dituliskan di dalam buku catatan amal kita.  Dan khalwat beliau tidak seperti khalwat kita.  Jadi, innamal a`malu bin-niyyat (setiap amal tergantung pada niatnya); jadi ini adalah niat beliau, dan ini telah diterima dari beliau dan hingga Ramadan, beliau meninggalkan dunia pada hari Ahad, 4 Ramadan.  

Jadi, bagi beberapa tarekat, khalwat adalah salah satu kewajiban di dalam awradnya.  Dan karena kelemahan kita, mereka melakukannya atas nama kita.  Orang-orang bertanya tentang khalwat sekarang ini.  Karena berbagai masalah di seluruh dunia, khalwat sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi (saw) di dalam hadits yang kemarin kami sebutkan, “Tinggallah di rumahmu, patahkan pedangmu, dan duduklah di kamar terdalam dari rumahmu,” yakni sembunyikan diri kalian di dalam kamar yang paling jauh dari pintu depan.  Dari hadits itu kita mengerti bahwa jika kalian tidak dapat melakukannya karena terlalu banyak fitnah, niat kalian ingin melakukannya, itu akan dituliskan bagi kalian.  Dan kalian dapat melakukannya antara Ashar dan Maghrib, artinya saat akhir Ashar menjelang Maghrib, kemudian antara Maghrib dan Isya, kemudian Fajar hingga Isyraq; jika kalian melakukannya pada ketiga waktu ini, kalian akan dihitung seolah-olah telah melakukan khalwat sepenuhnya selama 40 hari.   

Rahmat Allah Maha Besar, dan di bulan ini Allah tidak memperkenankan para malaikat untuk segera mencatat dosa apapun yang kita lakukan.  Dia menunda mereka hingga 24 jam, barangkali selama itu kita akan bertobat.  Dan Grandsyekh, semoga Allah memberkati ruhnya, berkata bahwa, “Aku mengamati setiap pengikutku pada saat itu, jika mereka tidak bertobat, sebagaimana hadits Nabi (saw), “Aku mengamati setiap amal umatku, jika aku mendapatinya baik, aku memuji Allah (swt), bersyukur; tetapi bila buruk aku memohonkan ampunan.”  Jadi Nabi (saw) akan melihat setiap orang di antara umatnya, dan wali akan melihat setiap orang di antara pengikutnya untuk dipersembahkan kepada Nabi (saw).  Dalam 24 jam kita semua dari ummatun Nabi (saw) akan bersih suci.  Dan pada bulan ini, setiap sayyiat tidak dituliskan, Rajabun Syahrullah, Rajab adalah bulannya Allah, setiap amal sampai kepada Allah secara langsung tanpa melalui malaikat.

Jadi, pastikan kalian menghindari dosa sebaik-baiknya, karena itu tidak mudah.  Sekarang kalian pergi keluar, kalian bisa melihat segala yang telanjang di sana, pria dan wanita.  Jadi kita memohon kepada Allah untuk melindungi kita, dari kebingungan yang akan datang dan untuk memberi ganjaran pahala dan menjadikan kita mendapat berkah dari khalwatnya Grandsyekh, dan khalwatnya Nabi (saw), dan khalwatnya Sayyidina Musa (as) selama 40 hari, dan khalwatnya Sayyidina Yunus (as) di dalam perut ikan paus.

Dan untuk memudahkan bagi setiap orang, Nabi (saw) melakukan khalwat selama 10 hari.  Setelah khalwat 40 hari yang biasa beliau (saw) lakukan di Gua Hira, beliau menguranginya hingga menjadi 10 hari.  Karena kita adalah hamba yang lemah.  Karena itulah i’tikaf selama 10 hari di akhir Ramadan, kita melakukan i’tikaf selama 10 hari, bukannya khalwat, khalwat adalah 40 hari.  Nabi (saw) tahu bahwa kita tidak sanggup melakukannya, kecuali beberapa orang.  Jadi beliau (saw) menguranginya menjadi 10 hari.  Kalian dapat melakukan 10 hari ini di rumah kalian, artinya setelah kalian menyelesaikan pekerjaan kalian, pulang ke rumah, duduk, baca Qur’an, baca Dalailul-Khayrat, baca Burdah dan Mudariyyah, baca istighfar, dan apapun yang ingin kalian baca dari awrad, itu akan menjadi 10 hari terakhir di bulan Ramadan, yaitu itqun minnan naar, bebas dari api neraka.  

Orang-orang yang datang ke sini, dianggap sebagai khalwat bagi mereka.  Dan setiap hasanah dilipatgandakan 10 kali lipat, jadi jika kalian melakukan khalwat, seperti khalwati jalwati; khalwat, mengasingkan diri kalian dari orang-orang, jalwa itu melaksanakan (awrad) pada ketiga waktu yang tadi kita sebutkan, antara Ashar dan Maghrib, Maghrib dan Isya serta antara Fajar dan Isyraq.  Jadi ada tiga langkah, setiap hasanah dilipatgandakan 10 kali lipat, dan mereka ada 3 (waktu) dikalikan 10 menjadi 30, jadi seolah-olah kalian telah melakukan 30 hari khalawat.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita, semoga Allah menjadikan amal kita menjadi amal khalwat di mana segala sesuatu yang kalian lakukan di sana berbeda dengan apa yang kalian lakukan di antara orang-orang.  

wa min Allah at-tawiq, bi hurmatil fatihah.         

 

http://sufilive.com/The-Last-Seclusion-of-Grand-Shaykh-Abdallah-q–6184.html
© Copyright 2016 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.