Khotbah Jumat: Jalan Kita adalah Shalat

72374768_399587174068563_818247134527619072_o

Dr.Nour Muhamad Kabbani
Khotbah Jumat, Darul Uloom Islamia, Manchester, Inggris

11 Oktober 2019

 

shalawat…

wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahi ‘l-`Aliyyi ‘l-`Azhiim

destur yaa Sayyidi…

Assalamu’alaykum wa rahmatullahi ta`aala wa barakatuh,

Merupakan sebuah kehormatan bagi kami untuk berada di antara Muslim, di antara Mukmin yang mempunyai hati yang terbuka.  Ini merupakan tanda keimanan, sebagaimana guru kami Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q) mengatakan, “Iman membuat manusia menerima untuk percaya, dan Rasulullah (saw) telah datang untuk memberi kita cahaya iman ke dalam hati kita.  Dan beliau telah memberikannya kepada para Sahabat al-Kiraam, para Ahlul Bait, yang pada gilirannya mereka memberikannya kepada para Tabi’iin, Tabi Tabi’iin, pada Awliyaullah dan alhamdulillah ia juga datang kepada kita. Semoga Allah (swt) menambah iman kita, dan membuat iman kita kokoh.

Dalam iman, Allah (swt) memuji umat Mukmin bahwa mereka tidak takut terhadap kesalahan yang mungkin dilimpahkan kepada mereka.  Kita katakan, “Haqq!” Seorang Mukmin, seorang Muslim harus mengatakan, “Haqq!” Para ulama harus mengatakan Haqq, dan mereka tidak dapat menyembunyikannya.  Para ulama harus mengatakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah (saw) dan tidak bermain-main dengan hal itu.  Sayangnya para ulama sekarang telah mengubah Aturan Allah (swt), telah mengubah Sunnah Rasulullah (saw) untuk menyesuaikan dengan zaman.

Allah (swt) Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya, bukannya setiap waktu ada sesuatu yang lebih baik bagi hamba-hamba-Nya.  Allah (swt) Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya sepanjang waktu, setiap saat, setiap abad, tidak ada yang lebih baik selain mengikuti Sunnah Rasulullah (saw). Dan itu berlaku untuk seluruh umat, untuk seluruh manusia. Insya Allah kita senantiasa ada dalam jalur tersebut.  Kita belajar dari guru-guru kita untuk mengikuti Sunnah Rasulullah (saw). Seorang guru yang baik, seorang guru yang saleh adalah guru yang mengajarkan Sunnah yang benar. Tetapi sekarang ini orang-orang telah mengubah rambu-rambunya, seperti ketika kalian berjalan di jalan raya–saya mendengar dari guru saya, Mawlana Syekh Nazim (q), “Bila engkau berjalan di jalan raya, kau harus mengikuti rambu-rambu yang ada, jalur ini ke Birmingham, jalur ini ke Liverpool, jalur ini ke London, jalur ini ke sini, jalur ini ke sana, tetapi Setan kemudian mengubah rambu-rambu tersebut dan memutarbalikkannya sehingga sekarang misalnya arah ke Timur, ke Leeds misalnya, dan sekarang Leeds menjadi di Barat.  Kiblat telah diubah oleh Setan untuk manusia. Bukannya mengarahkan manusia kepada Allah, mereka telah diarahkan kepada sesuatu yang lainnya. Setan adalah orang yang duduk di jalannya Mukmin, Muslim dan umat manusia, dan jalan itu adalah Sunnah Rasulullah (saw). Ia duduk di sana dan berusaha untk mengubah jalurnya.

Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, dalam surat al-Baqarah,


asta`idzubillah
yaa ayyuha ‘n-naasu kuluu mimmaa fii ‘l-ardhi halalan thayyiban, wa laa tattabi`uu khuthuwaati ‘sy-syaythaani innahu lakum `aduuwum mubiin

Wahai manusia, Allah (swt) mengetahui apa yang terbaik untukmu. 


Itulah sebabnya Dia mengatakan, “Yaa ayyuha ‘n-naas!”  pada ayat ini, bukannya “yaa ayyuhal ladziina aamanuu. wahai orang-orang yang beriman,”  tetapi di sini, “Wahai manusia!” Manusia artinya manusia di seluruh abad, setiap saat, dari sekarang hingga Hari Kiamat.  Sejak Sayyidina Adam hingga Yaumul Qiyamah, Allah (swt) mengatakan kepada manusia, “Makanlah, dapatkanlah, apa yang halal dan apa yang thayyib dan jangan ikuti jejaknya Setan, ia adalah musuh yang nyata bagimu.

Allah (swt) mengatakan kepada kita apa yang baik bagi kita, setan adalah musuh yang nyata, ia adalah bukti bahwa ia adalah musuh bagi kalian, bagaimana?  Ia telah menunjukkan dirinya sebagai musuh kepada ayah kalian, Adam (as). Itu artinya ia tidak akan membiarkan kalian, sebagaimana ia tidak membiarkan ayah dan ibu kalian wahai manusia, yaa ayyuhan naas.  Sekarang, setiap orang mengikuti jejaknya Setan.  Apakah jejaknya Setan itu? Setan datang dan berbisik di pikiran manusia, atau telinga atau hati, apa pun itu, ia berbisik.  Dan ia membisiki sesuatu yang disukai ego kalian. Ia mengatakan hal-hal yang kalian inginkan. Secara alami dan karena ego kalian menyukainya, jadi ia mengatakan kepada kalian, “Ayo, ambil saja!”  “Ayo, lakukan saja!” Dan manusia, bila ia mengikuti waswasah Setan, berarti ia mengikuti jejaknya.  

Jadi Setan ketika melemparkan waswasah itu, waswasah pertama kepada manusia adalah, “Jangan percaya kepada Allah (swt)!”  Bukankah ada manusia sekarang ini yang menerima waswasah dari Setan tersebut? Bisikan pertama, “Jangan mau menerima adanya Tuhan!”  “Jangan terima adanya Sang Pencipta!” “Jangan terima Tuhan Yang Mahaesa, Allah (swt)!” Itu adalah kufur. Jadi waswasah pertama Setan kepada manusia adalah menjadikannya seorang kafir.  Lihatlah, sekarang ini begitu banyak orang yang atheis, bukan hanya menerima banyak tuhan, tetapi mereka juga tidak menerima Tuhan! Jadi atheis atau politheis, orang-orang yang menyekutukan Tuhan atau orang-orang yang menyangkal Allah (swt) mereka mengikuti waswasah Setan.  Mereka mengikuti jejaknya Setan. Ke mana mereka akan membawa kalian? Mereka mungkin akan membawa kalian ke jalan mereka, waspadalah!     

Jangan mengikuti orang yang bukan Mukmin atau bukan Muslim.  Kalian dapat berteman dengan mereka di universitas, atau di sekolah, dalam pekerjaan, itu tidak masalah.  Kalian dapat berurusan dengan mereka dan menunjukkan akhlak yang baik kepada mereka. Tetapi jangan pergi keluyuran di malam hari bersama mereka.  Mereka hanya akan mengajari kalian hal-hal yang buruk!  

Alhamdulillah anak-anak muda sekarang banyak yang pergi ke masjid, mereka sudah kelelahan untuk keluyuran.  Sekarang yang tua, ketika mereka beranjak tua, mereka mulai shalat, alhamdulillah, itu bagus. Mereka bertobat.  Tetapi anak-anak muda, Setan mengejar mereka. Setan tidak mengejar orang tua, mereka tidak dapat melakukan apa-apa lagi, mereka tidak bisa berjalan, tidak bisa bergerak, tidak bisa melakukan apa yang dapat dilakukan oleh anak muda.  Jadi Setan mengejar kalian, wahai anak-anak muda! Mereka tidak akan meninggalkan kalian. Mereka akan mengatakan, “Tinggalkan itu halal-haram, apa itu…kalian suka kan, ambillah, lakukanlah yang kalian suka.” Jadi teman kalian, masyaAllah, mereka yang senang berpesta mereka ingin berpesta bersama kalian.  Jadi kalian pergi dan itu adalah waswasah Setan. Kalian harus berhati-hati.    

Jika Setan tidak bisa menggoda manusia dengan kufur, dengan menyangkal Allah (swt) atau menyekutukan Allah (swt), apa yang ia lakukan?  Ia berkata, “Jangan dengarkan para Nabi dan Rasul, jangan terima mereka. Buatlah agamamu sendiri. Buatlah jalan kalian sendiri!” Berapa banyak syayathin yang telah membuat jalan mereka sendiri?  Mereka mengatakan, “Ini adalah jalan kami! Kami tidak mendengar Sayyidina Muhammad (saw)–jika mereka mengatakan Sayyidina–jika mereka mengatakannya, itu artinya mereka menerimanya dan mereka menjadi Muslim–tetapi mereka tidak mengatakannya.  Mereka bahkan tidak memberikan gelar penghormatan apa pun kepada Rasulullah (saw). 

“Jangan dengarkan dia, jangan dengarkan Isa (as), jangan dengarkan Musa (as), jangan dengarkan Nuh (as) dan Ibrahim (as).”  Seperti itulah ia mengatakan pada orang-orang saat itu, menyangkal risalah mereka. “Lalu apa yang harus kulakukan?” “Membuat jalanmu sendiri!”  Berapa banyak orang yang membuat agamanya sendiri? Jalan mereka sendiri, filosofi mereka sendiri?  

Para filsuf mengklaim sebagai Nabi, bahwa mereka menunjukkan jalan bagi kalian.  Mereka bukanlah orang yang menunjukkan jalan ke Surga bagi kalian. Jalan ke Surga tidak berasal dari Bumi ke Langit, tetapi dari Langit ke Bumi.  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, “faman tabi`a hudaaya, Aku mengirimkan kalian huda. (QS 2:38)” Sang Khaliq akan mengirimkan petunjuk (bimbingan), bukannya orang-orang di Bumi akan menemukan atau menciptakan petunjuk tersebut, itu adalah bid’ah.  Itu adalah Ahlul Bid’ah. Mereka menciptakan petunjuk, dan mereka mengatakan, “Kami akan menemukan jalan menuju Sang Pencipta, ke Hadirat Ilahi.” Tidak! Huda itu berasal dari Langit! Dia telah mengutus para Nabi. Huda hanya datang kepada para Nabi melalui wahyu, melalui Sayyidina Jibril (as).  Manusia harus menerimanya. Jangan ikuti para filsuf. Jangan ikuti orang-orang yang menciptakan jalannya sendiri ke Surga. Mereka menunjukkan slide kepada kalian:

Untuk mencapai Allah (swt), partama kalian lakukan ini, lalu ini, lalu ini… kalian melihat slide-slide tersebut dan kalian tidak mengerti apa itu. 

Jalan menuju Allah (swt) bukannya menunjukkan slide-slide seperti itu.  Jalan menuju Allah (swt) sangat sederhana. Ia adalah shalat! Daripada menujukkan slide, lakukan shalat berjamaah bersama orang-orang dan usahakan agar khusyuk.  Itulah yang perlu kalian lakukan. Bukannya mengatakan, “Bagaimana aku memurnikan hatiku?” “Bagaimana aku memurnikan pikiranku?” “Bagaimana aku memurnikan jiwaku?”  “Bagaimana aku melakukan meditasi?” Tidak perlu hal itu. Rasulullah (saw) telah mengatakan kepada kita, “Shalat!” Dua rakaat, empat rakaat, tiga rakaat fardhu kalian.  Sayyidina Jibril (as) mengajarkan Rasulullah (saw) cara mengerjakan shalat. Huda telah datang dari Langit melalui Sayyidina Jibril (as) kepada Rasulullah (saw). Rasulullah (saw) telah mengatakan kepada kita bagaimana kita dapat mendekati Tuhan kita.  Apa yang seharusnya kalian capai dalam shalat. Seperti itulah guru spiritual, orang yang mengaku sebagai Imam atau syuyukh dalam spiritualitas. Kalian tidak memerlukan orang-orang seperti itu. Yang kalian perlukan adalah mencapai khusyuk dalam shalat.  Itu adalah antara diri kalian dengan Tuhan, bukannya untuk dipamerkan kepada orang lain bahwa kalian tahu tentang spiritualitas. Datanglah shalat dengan jamaah dan capailah khusyuk dalam shalat dengan demikian Allah (swt) akan menerima kalian dan akan menunjukkan pada kalian.  Menunjukkan apa? Jannatal Firdaus!  

Syekh-syekh ini yang mengaku membimbing orang-orang ke chakra-chakra tertentu dan memberikan pencerahan, dan semua yang palsu ini.  “Jika engkau mengikuti jalanku, aku akan membukakan rahasia dan hakikat bagimu.” Kita tidak memerlukan semua ini, yang kalian perlukan hanyalah shalat dan mencapai khusyuk dalam shalat.  Kalian tidak memerlukan yang lain.  

Pertama kalian menerima Rasulullah (saw), kalian masuk ke dalam Iman dan Islam.  Kemudian kalian lakukan shalat kalian. Itulah yang kalian perlukan. Jangan ikuti orang yang mengatakan, “Aku akan menunjukkan jalan ke Surga.”  Katakan pada mereka, “Aku sudah tahu jalan ke Surga.” “Apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah (saw) kepada kita, dua rakaat shalat adalah jalan kita ke Surga, kau tidak perlu menunjukkan apa-apa lagi!”

Allah (swt) menegaskan hal itu dalam Surat al-Mu’minuun.

Asta`idzu billaah,

Qad aflaha ‘l-Mu’minuun     

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman

Orang yang percaya kepada Rasulullah (saw) dan Nabi-Nabi lainnya serta percaya pada risalah yang dibawanya, mereka telah mencapai keberhasilan, mereka telah mencapai falah, mereka adalah para Muflihuun, mereka adalah orang-orang yang berhasil.  Siapa mereka? Rasulullah (saw) telah memerintahkan kita untuk mengenal kesepuluh ayat ini, atau menasihati kita atau menganjurkan kepada kita, tetapi kebanyakan di antara kita tidak mengetahuinya, oleh sebab itu bacalah sepuluh ayat pertama Surat al-Mu’minuun.  

Jika kalian melakukannya, Allah menjanjikan kepada kalian Jannatul Firdaus!  Itulah yang perlu kalian katakan pada guru-guru spiritual, yakni orang-orang yang membuat aplikasi (di HP atau yang lainnya), orang-orang yang membuat iklan di media sosial, kita tidak perlu semua itu.  Kita mengetahui jalan kita. Jalan kita adalah masjid. Jalan kita adalah shalat fardu bersama jemaah. Jalan kita adalah khusyuk dalam shalat.  

Alladziina hum fii shalaatihim khaasyi`uun

(yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya. 

Allah (swt) menjanjikan Jannatul Firdaus, dan Dia menegaskan bahwa orang yang telah mencapai sukses adalah orang yang telah mencapai khusyuk dalam shalatnya.  Jadi yang perlu kalian lakukan adalah shalat dan berusaha mencapai khusyuk. Khusyuk dicapai pada saat sujud. Khusyuk adalah ketika kalian berserah diri kepada Allah sepenuhnya.  Kalian paling dekat dengan Allah ketika dalam posisi sujud, bukannya pada saat kalian berpikir bagaimana aku melakukan meditasi hari ini, atau besok. Lakukan sujud, dan itulah saat terdekat kalian dengan Allah (swt).  Kalian tidak perlu membayar seribu Euro, atau dolar, atau pound untuk mengikuti acara retreat 3 hari dan mencapai pencerahan. Kalian tidak memerlukan semua itu, yang kalian perlukan adalah sujud.

Alladziina hum fii shalaatihim khaasyi`uun, orang yang datang ke Hadirat Tuhan mereka dan mereka mencapai khusyuk

walladziina hum `ani ‘l-laghwi mu`ridhuun

dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna

walladziina hum li ‘z-zakaati ffa`iluun

dan orang yang memurnikan dirinya (dengan menunaikan) zakat.  

Zakat memurnikan uang kalian dan juga memurnikan perbuatan buruk kalian, dari akhlak buruk kalian, semua itu dicapai dalam shalat.  Agar akhlak buruk keluar dari ego kalian, kalian harus melakukan shalat, mengapa? Para Awliyaullah mengatakan, “Satu-satunya jalan untuk membuat ego kalian tunduk adalah melalui shalat,” karena ada tiga hal dalam shalat yang kalian lakukan.  Kalian melakukan tadallul, wudhu dan khusyuk. Tadallul adalah ketika kalian merendahkan diri kalian. Jadi ketika kita shalat kepada Allah (swt), kita menempatkan kedua tangan kita dalam posisi menghadap Sang Raja. Bagaimana postur tubuh kalian ketika bertemu dengan seorang walikota?  Bagaimana postur kalian ketika bertemu dengan seorang ratu? Bagaimana postur kalian ketika bertemu dengan seorang raja atau presiden? Bukankah kalian merendahkan diri kalian ketika menyapanya? Bukankah kalian melakukan hal itu kepada manusia?  

Ketika kalian shalat, kalian mengajari diri kalian, kalian mengajari ego kalian bahwa “Aku berada dalam Hadirat Sang Raja dari semua raja, Sang Khaliq, Allah (swt).”  Jadi ketika kalian menempatkan kedua tangan kalian, itu merupakan tanda hormat, tawaduk dan rendah hati kepada Tuhan kalian, itulah cara menundukkan ego kalian, dengan menundukkan diri.  

Ketika kalian ruku, itu adalah hudu, kalian membuat diri kalian menunduk kepada Allah (swt), itu artinya jangan sombong.  Berikutnya sujud. Berikutnya kalian akan berada di lantai. Itu adalah jalan untuk menundukkan ego kalian.    

walladziina hum li ‘z-zakaati ffa`iluun

dan orang yang memurnikan dirinya adalah orang yang membuat egonya tunduk, menyingkirkan semua akhlak buruk yang dimiliki egonya, termasuk takabur, serakah, suka menipu, berbohong.

Shalat, 2 rakaat, itu cukup.


Tidak perlu berpikir bagaimana aku mencapai Allah (swt).  Heeh jangan menjadi buta, itu adalah untuk orang-orang yang tidak tahu.  Kalian tahu apa yang diajarkan oleh Rasulullah (saw) kepada kita untuk mencapai Allah (swt).  Beliau (saw) bersabda, “ash-shalaatu ma’rajal Mu’minin,” shalat adalah mi’rajnya kalian, kalian ingin mencapai Hadirat Allah (swt), sejak kalian mengucapkan Takbiratul Ihram, Allahu Akbar dan kalian mengarahkan wajah kalian ke kiblat, ke Kakbah Mu`azhzhamah, kalian sudah hadir di sana, kalian tidak perlu lagi bertanya, “Apakah aku hadir di sana?  Apakah aku tidak ada di sana?” Tetapi bila kita buta, maka kita buta. Dikatakan bahwa ketika Awliyaullah mengarahkan wajahnya ke kiblat, mereka melihat Kakbah Mu`azhzhamah, mereka melihat ke mana wajah mereka menghadap, mereka tidak buta, 

wa man kaana fii hadzihi a`maa fa huwa fi ‘l-aakhirati a`maa  (QS 17:72)

Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, maka di Akhirat ia akan buta dan situasinya lebih buruk lagi.  Awliyaullah, mereka tidak buta di dunia ini, dan mereka tidak buta di Akhirat, mereka melihat ke mana mereka mengharahkan pandangannya. Sejak saat mereka mengucapkan “Allahu Akbar” mereka melihat diri mereka di depan Kakbah Mu`azhzhamah, tidak seperti kita yang melihat ke kanan ke kiri.    

walladziina hum li ‘z-zakaati ffa`iluun

walladziina hum li furuujihim haafizhuun

dan orang-orang yang memelihara kemaluannya.

Ini penting bagi anak-anak muda.  Lupakan orang-orang tua. Allah (swt) telah mengambil kekuatan dari mereka.  Tetapi anak-anak muda. Kalian lindungi martabat kalian, kalian lindungi kehormatan kalian.  Jaga kalian bersama istri kalian. Kalian jaga diri kalian dengan menikah, bukannya pergi ke sana ke mari.  Itu adalah untuk anak-anak muda. Setan akan datang dan akan menggoda kalian, berbisik pada telinga kalian, hati kalian, “Ini enak sekali, mengapa kalian tidak mencobanya!”  Karena Rasulullah (saw) dan Allah (swt) melarangnya. Rasulullah (saw) bersabda, “An-nikaahu sunnati man raghiba `an sunnati falaysa minni, nikah adalah sunnahku.”  Sayyidina Adam (as) ketika Allah mengatakan untuk masuk ke dalam Surga, Dia berfirman, “yaa Aadamuskun anta wa zawjuka ‘l-jannah, wahai Adam tinggallah engkau dan istrimu di dalam Surga. (QS2:35)”

Perintah pertama bagi Adam (as) sebagaiman yang dikatakan oleh guru kita, Mawlana Syekh Nazim adalah untuk menikah.  Perintah pertama adalah melakukan pernikahan antara dirinya dengan Sayyida Hawwa (radhiyallaahu `anwa wa karamallaahu wajhah).  Karena Allah (swt) telah berfirman, “uskun anta wa zawjuka ‘l-jannah,” wa zawj artinya istrimu, pasanganmu.  Syekh kita mengatakan bahwa orang yang melakukan pernikahan Sayyidina Adam (as) dan Sayyida Hawwa (`alayha ‘s-salaam) adalah Rasulullah (saw) di Surga.  Ini adalah jalannya Nabi (saw), jalannya Rasulullah (saw), ajaran al-Qur’an suci.  

Kita dapat melanjutkan dengan ayat berikutnya, tetapi kita tidak mempunyai waktu yang cukup.  Dan saya tidak ingin membuat kalian kehilangan fokus, fokus pada shalat. Dua rakaat sebelum kalian meninggalkan rumah, jika kalian tidak bisa melakukan shalat Subuh pada waktunya, paling tidak lakukan dua rakaat qadha, semoga Allah (swt) membuat kita semua dapat melakukan shalat fardhu, bukannya qadha.  Tetapi bila kalian tidak bisa, dan beberapa orang mempunyai alasan tertentu, lakukanlah shalat dua rakaat sebelum kalian meninggalkan rumah. Tegaskan pengabdian kalian kepada Allah (swt). Katakan,

“Wahai Tuhanku, mungkin aku terlambat. tetapi Engkau adalah Yang Maha Pemaaf. Engkau adalah Afuww, maafkanlah aku. Yang dapat kulakukan adalah dua rakaat.  Terimalah dariku yaa Rabbi.”

Allah (swt) akan melindungi kalian sepanjang hari.    

Orang-orang datang dan mengatakan “Oh sepanjang hari ini begitu mengerikan!  Begitu banyak masalah sepanjang hari.” Saya bertanya apakah kalian melakukan shalat Subuh?  “Tidak!”


Lakukanlah shalat Subuh, absen masuk (seperti di tempat kerja). Setiap orang melakukan absen masuk dan absen keluar/pulang.  Apa yang terjadi jika kita tidak melakukan absen masuk? Kalian tidak akan mendapat bayaran. Shalat Subuh adalah seperti melakukan absen masuk, menandakan kalian telah masuk ke dalam Hadirat Allah.  Allah (swt) akan memberi pahala bagi kalian. Jika kalian tidak melakukannya, maka Allah tidak akan memberi pahala bagi kalian, Allah senang terhadap orang-orang yang datang pada-Nya. Datanglah kepada Allah (swt), jangan lalai.  Jangan mengabaikan shalat dan usahakan agar khusyuk. Ajarkan diri kalian untuk khusyuk. Khusyuk adalah ketika kalian menghosongkan hati kalian dari segala hal yang mengganggu kalian; mengosongkan pikiran dari segala hal yang mengganggu kalian.   

Saya akan memberikan sebuah contoh yang mungkin kita alami.  Saya sering mengulangi cerita ini, karena saya menyukainya. Seorang pria datang untuk melakukan shalat Isya berjamaah di masjid. Imam mulai melakukan takbiratul Ihram dan memulai shalat, seluruh jemaah mengikutinya sampai Imam mengucapkan salam dan jemaah pun mengucapkan salam.  Imam lalu bertanya kepada jemaah, apakah aku shalat tiga rakaat atau empat rakaat? Imamnya juga tidak tahu. Jemaah juga tidak tahu, mereka bilang, “Kami tidak tahu, kami mengikutimu, engkau adalah Imam yang memimpin kami.” Pekerjaan Imam adalah sulit! Kalian yang memimpin mereka, dan mereka mengikuti kalian.  Jadi yang salah bukanlah mereka, kesalahan bukan pada kambing gembala, tetapi pada pengembalanya, jadi kalian harus berhati-hati.

Jadi Imam ini tidak tahu dan jemaah pun tidak tahu, kecuali seorang.  Ia mengatakan, “Wahai Imam, engkau shalat tiga rakaat!” “Dari mana engkau tahu?” tanya Imam.  Ia berkata, “Saya mempunyai empat toko! Rakaat pertama saya memikirkan seluruh penjualan di toko pertama.  Rakaat kedua saya memikirkan penjualan di toko kedua. Begitu pula dengan rakaat ketiga. Tetapi saya tidak sampai memikirkan toko keempat, jadi saya tahu kalau shalatnya tiga rakaat!”  

Sayangnya begitulah shalat kita.  Berusahalah untuk mencapai khusyuk dalam shalat.  Khusyuk, kosongkan hati kalian dari segala hal yang mengganggu kalian.  Dikatakan bahwa, dan ini adalah seorang Awliyaullah, ia mengatakan, “Sebelum masuk waktu shalat, aku mengambil wudhu dan duduk di tempat shalatku dan berdiam diri.”  Duduk selama lima atau sepuluh menit dan berdiam diri di tempat kalian akan shalat. “Kemudian aku membawa Kakbah Mu`azhzhamah di antara kedua mataku, seolah-olah aku sedang menatapnya.  Dan aku membawa Maqamul Ibrahim ke depan dadaku, seolah-olah aku shalat di Haramu ‘sy-syariif.” Betapa indahnya shalat di belakang Maqamul Ibrahim dengan memandang Kakbah Mu`azhzhamah. Insya Allah, Allah (swt) membuat kita bisa mengunjunginya lebih sering lagi, umrah, haji, insyaAllah.  “Aku letakkan Maqamul Ibrahim di hadapan dadaku, jadi aku shalat di belakang Maqamul Ibrahim. Aku letakkan Kakbah Mu`azhzhamah di antara kedua mataku dan Aku tahu bahwa Allah (swt) melihatku. Aku melihat Surga di sisi kananku, dan Jahannam di sisi kiriku. Dan aku berjalan di shirath dalam shalatku”  Ia telah meletakkan, ia telah mengelilingi dirinya dengan semua yang penting bagi kita di Akhirat. Dengan demikian dunia selesai. “Dan seperti itulah aku melakukan shalatku.” Siapa di antara kita yang melakukan hal itu? Siapa di antara kita yang benar-benar memberikan shalat dengan hak-haknya? Sangat sedikit.  Mereka adalah orang-orang yang saleh, yang telah mencapai khusyuk. Itulah yang harus kita coba. Jadi ketika kalian menghadap kiblat, bayangkan bahwa kalian sedang melihat Kakbah Mu`azhzhamah. Hadirkan di hadapan kalian. Bayangkan bahwa kalian berada dalam Hadirat Allah (swt). Rendahkan diri kalian. Kalian akan mencapai khusyuk dan kalian akan mencapai Jannatul Firdaus.  

Kalian tidak memerlukan guru-guru spiritual yang mengajarkan kalian bagaimana cara meditasi dan mencapai sesuatu.  Yang kalian perlukan hanyalah shalat dua rakaat. Semoga Allah (swt) mengampuni kita. Insya Allah kita akan bertemu lagi.

Wa min Allah at-tawfiq, aquulu qawli hadza…             

Video: https://www.facebook.com/drnourmohamadkabbani/videos/1174989786029160/

 

Advertisements

Kisah mengenai Laylat al-Israa wal-Mi’raaj

56328658_10158345282669745_715136016406544384_o

Dr. Nour Hisham Kabbani

2 April 2019 Burton, Michigan

As-Siddiq Institute & Mosque (ASIM)

 

Dalam setiap ibadah, kalian memerlukan dukungan Allah.  Di dalam Surat al-Fatihah, kita membaca, “Iyyaka na`abudu wa iyyaka nasta`iin, hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan,” karena kita tidak kuat, kita lemah, kita melakukan kesalahan, dan semoga Allah (swt) mengampuni kita.  Tetapi insya Allah kita dapat melaksanakan perintah yang telah diberikan oleh Grandsyekh, perintah yang telah diberikan oleh Mawlana Syekh Hisyam (q) dan berbicara sedikit mengenai Isra Mi`raaj.   Peristiwa Isra Mi’raj adalah adalah peristiwa besar yang dapat dibahas dalam banyak bab atau volume buku, tetapi kita tidak akan membahasnya semua; kita hanya akan menyampaikan beberapa poin yang singkat.

Awliyaullah telah mengatakan bahwa kita harus tahu bahwa ketika Rasulullah (saw) melaksanakan Isra, perjalanan malam, beliau pergi dari Mekah ke Baitul Maqdis di Quds asy-Syariif atau Jerusalem dengan Buraaq.  Allah (swt) memberinya Buraaq di mana orang-orang mengatakan bahwa hal itu adalah bukti bahwa beliau pergi dengan tubuh fisiknya, karena ad-daaba tuyuur il-jism, itu adalah seekor binatang dan hanya mengangkut tubuh fisik saja.  Beberapa orang mengatakan bahwa hanya ruh Nabi (saw) saja yang pergi, tetapi menurut aqidah kita, Ahl as-Sunnah wa ’l-Jama`ah–beliau (saw) pergi dengan tubuh fisik dan rohaninya.  Saat itu beliau (saw) berusia 52 tahun, setahun sebelum beliau hijrah ke Madinah. Di Mekah al-Mukarramah, Allah mengutus Sayyidina Jibril, Sayyidina Mika`il, Sayyidina Israfil (`alayhimu ‘s-salam) dan malaikat lainnya yang membawa Rasulullah (saw) ke kota Quds asy-Syariif dalam sekejap mata, bahkan ada yang mengatakan lebih cepat lagi.  Meskipun demikian, Allah (swt) tidak memerlukan waktu dan tidak mempunyai batas.

Jadi beliau (saw) pergi dengan binatang suci surgawi tersebut, dari Mekah ke Quds asy-Syariif dan kemudian dari Bayt al-Maqdis ke Langit Pertama.  Dikatakan bahwa dalam Mi’rajnya Rasulullah (saw) menaiki anak tangga dari emas, perak dan permata hingga ke Langit Pertama, dan dari sana beliau melanjutkan perjalanannya dengan menaiki sayap para malaikat melewati seluruh Langit hingga ke Langit Ketujuh, dan dari sana beliau (saw) melanjutkan dengan sayap Sayyidina Jibril hingga ke Sidrah.  

Nabi (saw) dibawa dengan makhluk surgawi di Bumi, melewati Langit ke Sidrat al-Muntaha ke Pohon Teratai yang disebut sebagai Barzakh, di mana cabang-cabang bagian atasnya adalah Cahaya-Cahaya dan bagian akarnya menjulur ke Neraka Jahannam.  Itu merupakan gabungan dari dua alam, yaitu Barzakh dan maqaam Sayyidina Jibril (as). Dari sana, Rasulullah (saw) melanjutkan perjalanannya ke raffraff, bantal-bantal indah yang disediakan Allah (swt).

Di Arasy dengan tubuh fisiknya, disebutkan bahwa beliau tiba di Dua Kaki.  Sekarang kita tidak dapat mengatakannya bahwa itu adalah kaki fisik, karena ar-Rahman `ala ‘l-`Arsy istauwaa, “ar-Rahman telah naik ke atas Arasy”, yang merupakan sebuah maqaam. Rasul (saw) telah mengetahui al-Mustauwaa, (istauwaa artinya “ia telah naik”), dan dalam tingkatan Mi’rajnya beliau (saw) juga melihatnya dengan Qudrah Allah (swt).  Dari sana, dikatakan bahwa pada tingkat Arasy tersebut, beliau meninggalkan komposisinya, tarkiib, taraka tarkiiba, dengan raffraff di Mustauwaa tersebut, dan beliau pergi dengan `Ayn, Essens, dan Allah (swt) Maha Mengetahui apa itu.

Saya mengatakan hal ini karena ketika beliau mencapai Level (`Ayn) tersebut, Allah memberi shalat pada Rasulullah (saw) pada level yang sangat dekat antara dirinya dengan Allah.  Dikatakan bahwa Dia (swt) mengumpulkan semua shalat yang tersebar di antara para Nabi.

SUBUH

Yang pertama melakukan shalat Subuh adalah Sayyidina Adam (as).  Dikatakan bahwa Allah (swt) membuatnya mendarat di Bumi pada malam hari, jadi kegelapan malam menyelimutinya.  Ketika beliau tidak lagi melihat apa-apa yang sebelumnya dilihat di Surga, beliau menjadi sangat takut dan sedih dan ketika Subuh tiba, beliau melakukan shalat dua rakaat untuk mensyukuri bahwa Nuur atau cahaya telah kembali dan kegelapan telah pergi.  Allah menerima tobatnya dan mengirimkan Cahaya dari keharmonisan, sukses dan tawfiq ini serta menghilangkan kegelapan dari mukhalafa, ketidakpatuhan.  Adam (as) dikaruniai Cahaya Kesuksesan dari shalatnya di waktu Subuh.  Itulah sebabnya kita bangun saat Subuh, untuk menyaksikan kegelapan itu pergi dan mengatakan, “Ya Allah, kegelapan dari ketidakpatuhanku telah pergi dan Cahaya dari Hidayah-Mu akan datang.”

ZHUHUR

Sayyidina Ibrahim (as) shalat pada saat Zhuhur, setelah zawaal.  Mengapa?  Karena Allah mengirimkan hewan untuk dikurbankan, dan pada hari pertama dari Haji, kita tahu bahwa kita harus mengorbankan hewan kurban sebelum Zhuhur, sejak awal sebelum melempar jumrah.Jadi ketika Allah mengirimkan hewan itu kepada Ibrahim (as), beliau melakukan shalat Syukur pada waktu Zhuhur; rakaat pertama karena putranya telah diselamatkan; kedua karena Allah telah ridha dengannya; ketiga karena putranya sabar; dan keempat karena Allah telah menghilangkan kesedihan dalam hatinya.

`ASHAR

Yang pertama melakukan shalat `Ashar adalah Sayyidina Yunus (as) setelah Allah menyelamatkannya dari kegelapan dalam perut ikan paus.

MAGHRIB

Yang pertama melakukan shalat Maghrib adalah Sayyidina `Isa (as), dan mengapa tiga rakaat?  Awliyaullah telah menjelaskan bahwa rakaat pertama adalah untuk menyangkal ketuhanan pada dirinya sendiri, lalu pada ibunya [sebagaimana yang salah dipahami oleh orang Kristen], kemudian menegaskan Ketuhanan pada Tuhannya.

`ISYA

Sayyidina Musa (as) adalah yang pertama melakukan shalat `isya.

Allah (swt) mengumpulkan seluruh shalat para Nabi itu dan memberikannya kepada umat Nabi Muhammad (saw).  Jadi, jagalah shalat-shalat kalian karena itu sangat berharga dan telah dilakukan oleh para Nabi.

WITIR

Semua shalat lainnya telah dilakukan oleh para Nabi, tetapi Allah (swt) memberikan shalat Witir kepada Rasulullah (saw).  Beliaulah yang pertama melakukan shalat Witir ketika beliau memimpin shalat untuk seluruh malaikat di Sidrat al-Muntaha.

Rasulullah (saw) adalah Kekasih kita yang telah dimuliakan khususnya di malam ini.  Allah (swt) menunjukkan Rasulullah (saw) kepada setiap orang. Beliau (saw) adalah yang terbaik di Bumi dan yang terbaik di Langit.  Beliau (saw) adalah Imam di Bumi dan Imam di Langit, dan beliau memberi kita hadiah berupa shalat, yang dengannya kalian akan mencapai Allah (swt) dan tanpanya tidak ada seorang pun yang dapat mencapai Allah.  Kalian harus melaksanakan semua shalat tersebut!

Rabbana wa ta qabal du`a, wahai Tuhan kami, terimalah doa kami, sebagaimana doanya Sayyidina Ibrahim, “Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat.  Wahai Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Wahai Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua Ibu Bapakku, dan semua orang yang beriman pada Hari diadakannya Perhitungan (Yawmil Hisab).” (Surah Ibrahim, 14:40-41)

Bi sirrii Surat al-Fatihah.

https://sufilive.com/The-Story-of-Laylat-al-Isra-wal-Mi-raj-6817.html
© Copyright 2019 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law.  

Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Antara Ibadah dan Pekerjaan

photo_2016-11-21_13-24-09

Sultan al-Awliya Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q)
3 Februari 2002

Setan selalu mencoba untuk memisahkan manusia dari ibadahnya, membuat mereka menunda ibadah karena sibuk dengan pekerjaan yang satu disusul pekerjaan lainnya.  Manusia zaman sekarang selalu menginginkan makanan yang masih segar.  Gaya hidup manusia yang sombong tidak mau makan dari makanan yang telah tersedia.  Bagaimana dengan Allah (swt)?  Kepada-Nya, kalian berani mengirim ‘makanan lama.’  Begitu terdengar adzan, kalian harus langsung shalat dan meninggalkan segala pekerjaan.  Siapa pun yang membuat Allah murka pasti akan berakhir masanya.

Jangan mempekerjakan orang yang tidak shalat.  Sebelum membangun sebuah pabrik, bangunlah sebuah masjid di sana.  Siapa pun yang tidak mengerjakan shalat dan tidak menyerukan orang untuk shalat, Allah katakan, “Mereka adalah musuh-Ku.”   Di Shirath al-Mustaqim nanti ada tujuh pertanyaan, satu di antaranya adalah apakah kalian telah menyeru orang agar beribadah.  Tak ada yang membicarakan hal ini sekarang, karena setiap orang disibukkan oleh gaji bulanannya.

Ketika Abu Yazid al-Bisthami (q) sedang melakukan suatu perjalanan, beliau tiba di sebuah desa yang masih asing.  Beliau shalat di belakang imam.  Selesai shalat, sang imam menyapanya, “Engkau siapa?”  “Aku adalah seorang hamba Allah.”  ”Apa pekerjaanmu?  Di kebun, toko, atau pabrik?  Punya gaji bulanan?”  “Aku piker engkau adalah seorang muslim, seorang imam, oleh sebab itu aku shalat di belakangmu.  Tetapi sekarang engkau meragukan darimana makananku berasal, berarti engkau meragukan Allah.  Sebelum menjawabnya, aku harus mengulangi shalatku dulu.”

Setelah shalat, Abu Yazid (q) berkata pada imam itu, ”Mengapa engkau tidak menanyakan bagaimana kucing dan anjing menjalani hidupnya?  Dia yang menyediakan makanan bagi mereka, Dia juga yang menyediakan makan bagi Abu Yazid (q).”

Manusia telah kehilangan keimanannya.  Selama 60 tahun orang-orang datang ke sini dan selalu tersedia roti dan sup bagi mereka.  Dan dengan berkah yang mereka bawa, saya pun bisa hidup.  Namun manusia selalu terikat pada perutnya, sehingga mereka kebingungan.

Salah satu tamu yang berkunjung hari ini berasal dari Turki dan sering bersedekah untuk kaum Muslim.  Dia punya sebuah pabrik peralatan dari baja, dan buatannya adalah nomor satu di dunia.  Dia mengirimi saya banyak sekali dan saya berdoa baginya serta memberi nasihat yang dia patuhi. Banyak pabrik bangkrut dan hanya dia yang masih bertahan. Dengan 300 pekerja, dia menjaga dan meminta mereka agar selalu beribadah.  Saya tekankan agar tidak memberi toleransi bagi mereka yang tidak beribadah.  Ketika terdengar adzan, mereka harus berhenti bekerja dan mengatakan, ‘Matikan listrik, mari kita shalat.’

Selain mengirim peralatan rumah tangga, dia juga mengirim apa yang kami butuhkan: kacang, gula, beras, minyak, dan segala yang kami masak di sini.  Dia adalah Shahibu-l khayrat wa hasanat.  Dia yang menolong Fuqara, maka Allah (swt) akan menolongnya.  Jika dia kirim satu, Allah (swt) kirim sepuluh.  Jika dia kirim 100, akan datang 1000 baginya.  Sedekah di bulan Muharram adalah 10 kali lebih berharga dibanding bulan-bulan lain.  Siapa yang memberi, maka bahan pangannya tidak akan habis.  al-Fatiha.

Mengirim Salam kepada Nabi ﷺ

19956799_1398343806886635_445656343689160005_o
 
Para Sahabat (ra) biasa melewati Nabi (saw) dan memberi salam. Tugas kita adalah mengucapkan, “As-salaamu `alayka yaa ayyuha ‘n-Nabi.”  Kita harus bertafakur ketika mengucapkan “As-Salaamu `alayka” di dalam shalat kita, bahkan hanya untuk sesaat, karena Nabi (saw) hadir. Shalat tidak diterima bila beliau (saw) tidak hadir dan melihat kalian. Jika beliau tidak hadir maka kalian akan merugi.
 
Jadi beliau hadir karena kita mengucapkannya di dalam at-Tahiyyat, “As-salaamu `alayka yaa ayyuhan- nabiyyu (yaa Muhammad)!” menyapanya secara langsung dan beliau hadir, tetapi kalian tidak melihatnya, beliau berada di sana. Allahumma shalli `ala Sayyidina Muhammad.
 
Sebagaimana yang dikatakan oleh para Awliya, kita harus bersyukur kepada Allah bahwa Dia telah menjadikan kita sebagai bagian dari umatnya dan mengajarkan kita apa yang perlu kita pelajari dari para Sahabatnya (ra). Para Sahabat (ra) menanggung beban yang berat, mereka menyebarkan Islam ke mana-mana; mereka berkorban dan ada yang terbunuh, sementara kita tidak melakukan apa-apa.
 
Dengan semua itu, Nabi (saw) bersabda, “Kalian adalah ash-haabi, mereka adalah ahbaabi, mereka percaya padaku walau tidak melihatku, namun aku melihat mereka.” Nabi (saw) melihat kita. Jika beliau mengatakan, “Aku mengamati amal umatku setiap hari,” di Makamnya yang Suci, apakah maksudnya? Beliau melihat, namun kita tidak hadir. Beliau hadir. Ketika kita mengatakan, “hadhirun, nadhirun,” Nabi (saw) melihat! Oleh sebab itu kit harus menjaga adab.
 
Ketika kalian pergi bekerja di pagi hari, kalian mandi terlebih dahulu, mengapa? Untuk membersihkan diri kita agar siap ketika berada di depan boss atau presiden perusahaan. Mengapa kita tidak membersihkan diri kita di hadapan Nabi (saw)? Pertanyaan kedua, mengapa kita tidak menunjukkan hormat kepada Allah (swt)? Agar bersih, kalian membersihkan jiw dan raga kalian. Itulah yang mereka inginkan melalui shalat, tetapi kalian harus detang dalam keadaan bersih dan kita, kita penuh dengan… kita mohon ampun. Jika kita mohon ampun, Allah akan mengampuni. Untuk itu kita ucapkan, “astaghfirullah.”
 
Jadi, ketika kalian akan pergi menjumpai tunangan atau istri kalian, atau kalian akan pergi mengunjungi teman kalian, kalian akan mengenakan pakaian terbaik kalian bukan? Mengapa? Karena kalian mencintai orang yang akan kalian jumpai, kalian tidak akan berpenampilan kotor.
 
Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Rahasia Memberi Salam kepada Nabi ﷺ

16587199_1250558664998484_3439233937190061324_o

Wahai Muslim! Teruslah memberi salam. Teruslah mengirim tahiyaat.  As-aalaamu `alayka – salaam kepada Nabi (saw), as-salaamu `alayna wa `ala `ibadillahi ‘sh-shaalihiin, dan kemudian kepada kita semua. At-tahiyaatu ‘lillah, “At-tahiyaat bagi-Mu, ya Allah.” Ketika kalian mengunjungi seseorang, untuk masuk ke dalam rumah mereka, kalian harus mengucapkan, as-salaamu `alaykum. Kalian harus mengucapkannya dengan cara yang terbaik. Bahkan jika pintunya terbuka, kalian tetap mengetuknya karena itu adalah adab. Allah mengajari kita–pada akhir shalat–bagaimana untuk berada di Hadirat-Nya. Baiklah, kalian telah melakukan shalat kalian dan sekarang kalian harus mempersembahkannya. Kalian duduk dengan tawaduk sambil berdoa, duduk dalam hadirat Sang Raja. Kalian duduk di lantai dengan adab. Kemudian kalian berbicara, “Yaa Rabbii,” kalian belum lagi mengucapkan at-tahiyaat.

Tetapi karena kalian tidak dapat melihat dan tidak dapat mengetahui karena itu jauh dari qalbu kalian untuk mengetahui, kalian harus memberi salam kepada Allah (swt) secara in absentia. Itulah sebabnya ketika kalian mengucapkan, wa ‘sh-shalawaatu; kalian tengah mempersiapkan diri kalian untuk mencapai shalawat tertinggi, artinya segala pujian akan terkandung di dalamnya. Shallu `Alayh adalah sebuah doa, dan setiap pujian dan setiap penghormatan akan terkandung di dalamnya. Itu artinya, “Wahai hamba-Ku, kalian akan menerima segala macam pujian yang kembali pada kalian. Aku adalam al-Kariim, Yang Maha Pemurah.” Allah (swt) akan memberinya dari Kemurahan-Nya itu.

Dia akan memberi kalian segala pujian. Sekarang kalian membaca ribuan macam doa, seperti dalam Burdah Syariif dari Imam Busyiri; semua ini akan dimasukkan seolah-olah kalian telah membacanya semua dengan satu kata: shalawat. Setelah kalian mempersembahkan at-tahiyaat dan shalawaat, kalian menjadi thayyib, suci dan murni, bukan seperti, bukan seperti Qaabil saat bersama Haabil: kalian tidak bisa menawarkan yang terburuk, kalian harus menawarkan yang thayyib.

Bila kalian menawarkan yang thayyib itu, maka pintu akan dibukakan bagi kalian untuk memasuki hadirat suci Sayyidina Muhammad (saw), karena kalian tidak bisa masuk sebelumnya, hanya Sayyidina Muhammad (saw) yang bisa masuk ke sana. Tetapi ketika kalian masuk ke dalam hadirat suci Sayyidina Muhammad (saw), kalian disambut oleh Allah dengan pujian terbaik dan kalian kemudian mengucapkan, As-salaamu `alayka secara langsung kepadanya (saw). Tidak seorang pun dari ideologi apa pun yang dapat mengatakannya, itu adalah sulit.

Itulah sebabnya mengapa Ibn Mas`uud (ra) berkata bahwa ketika mereka mengucapkannya, mereka mengucapkan, As-salaamu `Alayna ayyuha ‘n-Nabi (saw). Tetapi ketika Nabi (saw) wafat, mereka mengubahnya. Karena bagi mereka, Nabi (saw) meninggalkan dunia, kemudian Ibn `Abbas (ra) berkata, “Tidak, itu harus menjadi As-salaamu `alayka, (dengan huruf Arab kaaf) karena salam kita langsung kepada Nabi (saw), karena beliau masih berada di sini bersama kita.”

Setiap orang yang mengucapkan, “As-salaamu `alayka,” Nabi (saw) hadir bersamanya, tetapi ia harus dalam keadaan suci. Ideologi yang menentang Ahlu ‘s-Sunnah mempunyai masalah dengan Sayyidina Muhammad (saw)!

Jadi ketika kita memberi salam, Nabi (saw) wajib menjawab salam itu. Dan bila kalian berada dalam hadirat Nabi (saw), kalian harus berdoa untuk seluruh Muslim; kalau tidak maka itu tidak lengkap. Ketika kalian menyempurnakan diri kalian dengan mengucapkan at-tahiyaat, kemudian salaam, dan kemudian memberi salaam untuk semua orang, maka tauhid kalian dapat diterima.

Dengan demikian kalian akan memahami makna syahaadah kalian. Karena ketika kalian mengucapkan, la ilaaha illa-Llah (Tidak ada tuhan kecuali Allah), kemudian kalian mengucapkan asy-hadu, (Aku bersaksi), itu mempunyai makna yang berbeda sepenuhnya. Kalian bersaksi.

Tetapi bersaksi pada apa, bila kalian tidak suci? Jadi Allah mempersiapkan diri kalian dengan memperkenankan kalian duduk dan mengucapkan salaam dan dalam hadirat suci itu menegaskan bahwa Dia adalah Sang Pencipta, dan Sayyidina Muhammad (saw) adalah Nabi-Nya. Itulah mi`raj kalian, ketika kalian duduk berlutut, itulah saatnya kalian memasuki mi`raj, yang sebenarnya adalah tiruan, tetapi Allah (swt) akan menerimanya dari kalian.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Pentingnya Menyempurnakan Akhlak

15965399_10154267115365886_1116345893464286785_n

Awliyaullah mengajari para pengikutnya untuk menyempurnakan akhlak mereka, tetapi mereka tidak mengatakan kepada kalian untuk shalat, karena memang kalian harus melakukannya, itu adalah suatu kewajiban. Tidak perlu bagi mereka untuk menyia-nyiakan waktu mereka, tetapi perlu bagi mereka untuk mengajari kalian untuk menyempurnakan akhlak kalian, karena kalian bisa shalat tetapi masih mempunyai akhlak yang buruk sehingga kalian tidak bisa diangkat (derajatnya) atau diberi ganjaran seperti orang yang mempunyai akhlak yang baik. Jadi, kalian dapat melakukan shalat seperti itu atau kalian dapat melakukan shalat dengan kesempurnaan (akhlak) sehingga shalat itu akan mengangkat (derajat) kalian.

Mana yang lebih baik, shalat dengan kemarahan atau shalat tanpa kemarahan? Tanpa kemarahan lebih baik, jadi mengapa kalian dan orang-orang selalu marah sepanjang waktu? Mereka menolak apa yang Allah berikan kepada mereka dan itu membuat mereka marah. Prinsip pertama dalam Tarekat adalah menahan kemarahan kalian, dan Grandsyekh `AbdAllah dan Mawlana Syekh Nazim, semoga Allah memberkati ruh mereka, selalu menekankan pada akhlak yang baik, dan menahan kemarahan kalian adalah bagian dari itu. Grandsyekh berkata, al-ghadabu kufr, “Kemarahan membuat kalian dalam keadaan kufr.” Apakah kita mempunyai kemarahan? Ya, kita semua memilikinya, dan kita harus menjauhinya!

Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Mengucapkan La ilaha illa-Llah sebelum atau setelah Shalat

16105785_10154261616380886_1250383239097269176_n

Al-Imam Razi berkata bahwa barang siapa yang mengucapkan, “Laa ilaaha illa-Llah” sebelum atau setelah shalatnya, seorang hamba yang datang dengan dosa-dosanya yang bagaikan gunung-gunung, tetapi pada saat itu di dunia, ia berhenti dan mengucapkan, “Laa ilaaha illa-Llah” ia akan mendapati bahwa gunung-gunung (dosa) itu telah hancur dengan dzikrullah! Kalian harus ingat, kalian berbuat dosa dan kalian harus bertanggung jawab agar tidak diaudit di Akhirat.

Dikatakan bahwa, “Barang siapa yang menyebutkan, “Laa ilaaha illa-Llah” sebelum atau setelah shalat,” itu artinya shalat adalah tempat yang dapat kalian jadikan sandaran hingga Hari Kiamat, di mana mereka akan muncul dan memberikan syafaatnya bagi kalian di hadapan Allah (swt). Kita harus memastikan bahwa Allah (swt) mengampuni kita!
Dikatakan bahwa barang siapa yang mengucapkan “Laa ilaaha illa-Llah” ketika ia akan tidur, ruhnya akan pergi ke bawah `Arasy dalam posisi sujud dan sujud itu akan berlangsung terus di bawah `Arasy hingga waktu Isyraq.

Nabi (saw) bersabda bahwa jika seseorang mengucapkan “Laa ilaaha illa-Llah” dari qalbunya, pintu Surga akan terbuka baginya. Semoga Allah (swt) memberkati kita dan membuat kita dapat melakukan shalat pada waktunya dan tidak melewatkannya.

Shaykh Hisham Kabbani