Tafsir Surat Al-Kautsar (bagian 1)

17861479_1307162532671430_8107538454058164747_n

Kami akan menjelaskan tentang Surat Al-Kautsar, Surat ke-108.

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Inna a`thaynaaka al-kautsar, fa shalli li rabbika wanhar, inna syaa-ni’aka huwa al-abtar”

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Karunia yang Banyak (Al-Kautsar). (1) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (2) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (3)

Allah (swt) berfirman, “Innaa a`thaynaaka al-Kautsar” — “Sesungguhnya Kami telah memberimu Al-Kautsar.”

Ia (swt) tidak mengatakan, “Kami sedang memberimu.” Ia (swt) tidak pula mengatakan, “Kami akan memberimu.” Ia (swt) mengatakan dalam bentuk lampau, “Innaa a`thaynaaka” — “Sungguh Kami telah berikan kepadamu…”

Ketika Allah (swt) berfirman, “Kami telah memberikan kepadamu,” itu artinya, “Kami telah memberikannya sebelum dirimu diciptakan dan sebelum apa pun lainnya diciptakan, Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar, Karunia Allah yang banyak.”

Apakah Karunia Allah yang banyak itu? Tidak ada penjelasannya, tidak ada detailnya, jadi tak seorang pun mengetahuinya. Allah (swt) mengatakan, “Sungguh Kami telah memberikan padamu,” bermakna, “Tak seorang pun tahu apa yang telah Ku-berikan padamu, Yaa Muhammad; Aku telah memberimu menurut Keagungan-Ku, tanpa batas.”

Artinya, dengan cara apa pun kalian berusaha memberikan batas atas Nabi (saw), itu adalah suatu kesalahan. Ketika kalian mengatakan, “Nabi (saw) adalah seseorang yang hanya membawa risalah dan kemudian wafat dan hanya itu,” maka mengatakan seperti itu adalah suatu kesalahan besar.

Setiap orang akan wafat, dan memang Nabi (saw) telah meninggalkan kehidupan fana dunia ini, tetapi itu bukan berarti beliau seperti diri saya atau diri kalian atau seperti yang lain. Tidak.

Allah (swt) tidak mengatakan pada nabi-nabi lain seperti apa yang telah Ia katakan pada Baginda Nabi (saw), “Kami telah memberikan padamu ‘Al-Kautsar’, ‘Sesuatu yang Banyak’.”

Dan apakah yang telah Ia (swt) katakan? Al-Kautsar. Kautsar berasal dari bahasa Arab “Katsiir.” “Katsiir” bermakna “terlalu banyak.” Kami telah memberimu sesuatu yang terlalu banyak. Bagaimana kemudian kita dapat membatasi sesuatu yang telah Allah karuniakan kepada Sayyidina Muhammad (saw)?

Apa pun kelebihan dan keutamaan yang telah kalian sebutkan saat memuji Nabi (saw), dan apa pun yang telah kalian puji tak ada bandingannya dengan apa yang telah Allah karuniakan pada beliau dan pada ketinggian maqam yang Ia (swt) telah tempatkan beliau di sana. Namun, kalian memerlukan keduanya, yaitu: akal dan hati untuk mampu memahami hal ini.

Pada hari ini, mereka (kaum Wahabi dan Salafi, red.) menyerang orang-orang, yang seperti Imam Muhammad al-Bushayri, memuji Nabi (saw) dengan penuh cinta. Sekalipun demikian, pada hari ini orang-orang tetap membaca syair-syair beliau, Al-Burdah asy-Syarif dan Al-Mudariyyah. Beberapa orang malah membacanya setiap hari. Dan sebagian orang yang lain mencela mereka, “Jangan, jangan kalian lakukan hal itu; itu berarti kalian memuji Nabi (saw) terlalu berlebihan.”

Dalam tiga ayat Surat Al-Kautsar ini, Allah (swt) telah memberitahukan pada diri kita, “Wahai umat manusia, katakanlah apa pun yang ingin kalian katakan untuk memuji Nabi (saw), sebanyak yang kalian rasa perlu untuk dikatakan sebagai pujian atas beliau, hal itu bukanlah syirik, karena kalian tak akan mampu memujinya sebagaimana Aku telah memujinya.”

Dan dari rahasia ayat-ayat Al-Kautsar inilah, Muhammad Al-Busayri mengatakan dalam Al-Burdah-nya, “Katakan apa pun yang ingin kau katakan tentang Nabi (saw), tetapi jangan katakan seperti orang-orang Kristen berkata tentang ‘Isa bahwa ia adalah Tuhan atau anak Tuhan.” Artinya, pujilah Nabi (saw) setinggi yang kalian inginkan untuk memuji beliau (saw).

دَعْ مَــا ادَّعَتْهُ النَّصَارٰى فِيْ نَبِيِّهِـمِ
وَاحْكُمْ بِمَا شِئْتَ مَدْحاً فِيْهِ وَاحْتَكِـمِ

“Tinggalkan apa yang dikatakan orang-orang Kristen tentang Nabi mereka (yaitu ‘Isa),
Lalu putuskan apa yang kau inginkan untuk memujinya.”

Jadi siapakah yang dapat memuji lebih tinggi daripada Ia (swt) yang telah mengatakan “Muhammadun Rasulullah” setelah “Laa ilaaha ill-Allah”?

Ketika seseorang ingin untuk memberi, misalnya saya ingin memberimu sesuatu, harus ada seseorang yang memberi dan seseorang yang lain menerima. Seseorang memberi dan seseorang menerima. Jika tak seorang pun menerima, bagaimana kalian dapat memberi? Apakah kalian memberikan sesuatu di udara? Tentu tidak.

Jadi ketika Allah (swt) berfirman, “Kami telah memberikan padamu,” maka pemberian ini bukanlah terjadi ketika di dunia, melainkan sudah terjadi sebelum dunia ini. Artinya, sesuatu telah diberikan oleh Allah (swt) pada seseorang yang telah wujud.

Karena itulah ketika Jaabir bertanya kepada Nabi (saw), “Apakah yang Allah ciptakan pertama-tama?” Beliau (saw) menjawab, “Yang pertama-tama Allah ciptakan adalah cahaya Nabimu, wahai Jaabir.” Dan cahaya itu berputar dalam Bahru ‘l-Qudrah, Samudra Sifat Kekuasaan Allah. Di sana, beliau berputar, mengumpulkan energi lebih banyak dan lebih banyak lagi.  Ketika seseorang berputar ia mengumpulkan gaya sentrifugal.  Lebih banyak dan lebih banyak lagi kekuatan terkumpul ketika cahaya beliau (saw) berputar dalam Bahr al-Qudrah.

Dan hadits tersebut berlanjut, dari cahaya itu Ia (swt) menciptakan makhluk, dan dari seperempat cahaya itu, dunia diciptakan.

Artinya, “Kami telah memberikan padamu karunia yang tak bisa dijelaskan. Kami telah memberimu ‘al-katsiir, min kulli syai-in,’ dari apa pun yang telah Kami ciptakan, Kami berikan kepadamu, Yaa Muhammad, bahkan lebih dari itu.”

Jadi apa yang telah diberikan kepada Nabi (saw)? Itu adalah sesuatu yang tak seorang pun mengetahuinya. Artinya pula, apa pun maqam yang Allah telah karuniakan pada beliau, tak seorang pun mengetahuinya. Tak seorang pun kecuali Allah yang mengetahuinya. Tak seorang pun lainnya.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Advertisements