Kalbu para Sahabat (r)

Khotbah Jumat, 30 November 2001

Syekh Hisyam Kabbani

Renungkan keampuhan kalbu para Sahabat.  Mereka melakukan perjalanan ke seluruh dunia dan mampu menarik orang-orang untuk masuk Islam walaupun tidak fasih dalam berbagai bahasa.  Seorang Sahabat dapat mengadakan perubahan bagi suatu bangsa.  Bayangkan kehidupan Abu Ayyub al-Anshari (r).  Beliau pindah ke Turki, tanpa mengetahui bahasa Turki.  Beliau tinggal hingga akhir hayatnya di sana dan dikenal sebagai Tokoh Islam di Turki.  Sahabat lainnya membawa Islam ke Spanyol.  Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, apa rahasia yang diberikan Allah (swt) ke dalam kalbu mereka?  Mengapa para ulama sekarang tidak mempunyai kekuatan semacam itu?  Nabi Muhammad (s) membawa kekuatan itu untuk seluruh umat.  Pada abad ketiga dan keempat, yang merupakan era para Sahabat dan Tabi’iin, umat Islam sanggup memberi kontribusi terhadap perubahan yang berlangsung secara dinamis.  Jika kita tidak bisa melakukan hal yang sama, pasti ada sesuatu yang salah dengan kita sekarang ini.  Kini negeri-negeri Muslim mempunyai miliaran dolar dari minyak.  Mereka mencetak buku-buku dalam jumlah yang sangat banyak tetapi mereka hanya mampu membawa sedikit orang ke dalam Islam.  Ada sekitar 1.2 miliar Muslim di seluruh dunia, dan jumlahnya hanya bertambah sedikit setiap harinya.  Peningkatannya itu dapat diabaikan, ibarat langkah seekor semut.

Ketika Anas bin Malik (r), seorang Sahabat Nabi (s) mendekati akhir hayatnya, beliau bertanya kepada para sahabat-sahabatnya, “Maukah kalian mendengar hadis yang belum pernah didengar oleh orang lain, dan jika aku wafat, maka tak seorang pun akan mendengarnya?” Mereka menjawab, “Ya.”

Beliau mengatakan bahwa, “Rasulullaah (s) berkata kepada para Sahabatnya, ‘Pada Hari Kiamat, ilmu akan dicabut–yurfa’u al-ilm—dan kebodohan akan meningkat.’  Para Sahabat bertanya, ‘Bagaimana ilmu itu akan dicabut?’ Rasulullah (s) menjawab, ‘Dengan wafatnya para ulama.’”

Renungkan hal ini!  Ada 124.000 Sahabat yang duduk bersama Nabi (s) dan mempelajari tradisi beliau, tetapi hanya ada 10 atau 15 orang yang memenuhi persyaratan untuk memberikan fatwa.  Saya sarankan agar kalian melihatnya di dalam buku-buku sejarah.  Setelah masa Sahabat, para Tabi’iin dan Tabi’ tabi’iin tidak membuat peraturan-peraturan baru, tetapi hanya menggunakan peraturan Islam sebelumnya.  Hanya beberapa ratus ulama yang mampu memberikan fatwa.  Mereka sangat teliti dan takut untuk membuat kesalahan.  Kontras sekali dengan sekarang, tampaknya semua orang memberikan fatwa.  Kita katakan, ‘Inilah apa yang aku pahami dan begitulah mekanisme kerjanya.’  Jadi sekarang orang-orang bagaikan ulama yang mengeluarkan fatwa.  Setiap orang juga suka meniru kebebasan ala Barat.  Muslim mencoba membuat keputusan dengan cara Barat.  Ini adalah jahil—suatu bentuk kebodohan.

Di sekolah, anak-anak bisa mengambil kursus teknik, atau kursus medis dan sebagainya, tetapi mereka tidak bisa mempelajari korupsi.  Sekarang sebagai tambahan terhadap pengetahuan teknis yang kita pelajari untuk hidup kita, generasi muda juga mempelajari ide-ide berbeda yang tidak ada kaitannya dengan pelajaran sekolah mereka—yang tidak berhubungan dengan pelajaran mereka.  Inilah yang dimaksud dengan meningkatnya kebodohan.  Di masa lalu satu-satunya yang orang inginkan setelah kerja adalah pulang ke rumah dan berusaha membesarkan anak-anaknya dengan sebaik-baiknya.

Dan hadis itu berlanjut, ‘wa yasyrab al-khamr’–dan mereka akan minum anggur.  Saya melihat banyak orang Muslim yang melakukan salat tetapi juga masih minum alkohol.  Beberapa Muslim hanya berhubungan dengan Islam atau masjid pada saat  pernikahan atau kematian saja.  Ini adalah situasi yang umum di negara-negara Muslim di Timur Tengah dan Asia Tengah.

Selanjutnya, “Perzinaan semakin meluas.”  Perzinaan terjadi di mana-mana dan menjadi kebiasaan.  Anak-anak muda baik pria maupun wanita yang berpakaian bagus atau mengendarai mobil mewah, menemukan kesempatan untuk berzina dengan mudah.  Hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidina Anas (r) berlanjut, “Kaum pria akan meninggal dunia.”  Perlu dicatat bahwa hal ini terjadi tepat setelah perzinaan.  Hal ini menunjukkan bahwa pria akan mati dalam perang atau karena penyakit.  Saya mengetahui ada beberapa orang yang akan pergi meninggalkan negeri Muslim selama bulan Ramadan untuk menghindari puasa.  Saya melihat hal ini.  Mereka pergi ke berbagai tempat di Eropa, karena mereka ingin berada jauh dari masyarakatnya.  Di sana mereka merasa bebas untuk pergi ke mana saja, incognito, dan melakukan apa yang mereka suka.  Oleh sebab itu Allah (swt) menciptakan suatu penyakit yang kebanyakan diderita kaum pria.  Prostitusi adalah penyebab langsungnya, tetapi prialah yang lebih banyak menderita dari penyakitnya.  Mereka juga meneruskan penyakitnya kepada anak-anak dan anak cucunya.

Narasinya berlanjut, “wa yabqa an-nisa”—“Wanita akan hidup sedangkan pria meninggal dunia.”  Pada akhirnya akan ada 50 wanita untuk setiap pria.  Sekarang kita telah melihat bahwa jumlah pria semakin sedikit.  Statistik memperlihatkan bahwa prosentasi tinggi meninggalnya pria terjadi selama Perang Dunia II, khususnya di Jerman.

Nabi (s) telah menyebutkan suatu penyakit 1400 tahun yang lalu yang sekarang menjadi kenyataan.  Allah (swt) memberi Nabi (s) suatu kemampuan yang istimewa yang disebut ‘ulum al-awwaliin wal-aakhiriin—ilmu tentang hal-hal yang pertama dan terakhir.  Nabi (s) bersabda, “Enam peristiwa yang akan mendahului Hari Kiamat adalah: kematianku, munculnya berbagai penyakit [dan empat peristiwa lainnya].”  Beliau menggambarkan kematian akibat suatu penyakit dengan ‘okaas al-ghanam’.  ‘Okaas’ adalah suatu penyakit yang melanda biri-biri, kambing atau hewan ternak lainnya.  Saliva dan mukosa mengalir secara berlebihan melalui lubang hidung dan mulut hewan dan jika tidak disembelih ia akan mengalami kematian yang mengenaskan.  Kita telah menyaksikannya di Eropa belum lama ini.  Jutaan biri-biri tewas dan jutaan lainnya disembelih untuk menghindari penyebaran penyakitnya.  Bagaimana mungkin Nabi (s) bisa melihat hal ini sebelumnya?

Dalam hadis lain disebutkan bahwa salah satu tanda Hari Kiamat adalah tasliim al-khassa—orang-orang memberi salam hanya kepada orang yang mereka kenal.  Mengucapkan “assalamu alaykum” “salam sejahtera bagimu”—kepada setiap Muslim, baik yang dikenal maupun tidak, pria maupun wanita adalah sunnah.  Namun demikian sekarang ini Muslim hanya memberi salam kepada teman-teman terdekatnya.  Skenario yang berlaku bagi Muslim di negara-negara Barat adalah, “Jika aku tidak mengenalmu, aku tidak akan memberi salam.”  Mungkin ini disebabkan karena, “Aku tidak mengenalimu sebagai Muslim.”  Di negeri-negeri Muslim, banyak orang yang beragama Islam, tetapi tetap saja kita tidak memberi salam.  Hal ini dikarenakan tidak adanya kehangatan di antara kita—yang ada hanya es.  Mengapa?  Karena hubungan kita tidak lagi berdasarkan Hubungan Ilahiah, tetapi hanya berlandaskan ketertarikan diri, hubungan duniawi.

Semoga Allah (swt) membimbing kita ke jalan yang benar, dan menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang bertaqwa.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s