Tak Ada Kekuatan Apa pun Di Tangan Siapa pun

17990975_10154521785165886_6571231729702897088_n

Allah akan memerintahkan yang terakhir, Sayyidina Israfil (‘alayhissalam), untuk meniup Terompet dan segala sesuatunya akan mati; tak satu pun kehidupan tertinggal di muka Bumi dan Allah (swt) akan berkata, “Li man il-Mulk al-Yaum? Lillahi ‘l-Waahidi ‘l-Qahhaar!” “Milik siapakah Kerajaan di hari ini? Siapakah yang mampu mengangkat kepalanya dari kuburnya dan berkata, ‘Aku adalah sesuatu, atau seseorang?’” Tak seorang pun mampu mengatakan hal itu! Itulah suatu Hakikat dan Fakta yang akan terjadi, “li man al-Mulk al-Yaum?” Allah (swt) akan menjawabnya sendiri, “Lillaahi ‘l-waahid al-Qahhar” Kerajaan itu berada di Tangan-Nya dan tak seorang pun mampu memiliki sesuatu tanpa izin Allah. Bila kita tak mampu memahami hal ini, maka kita menjadi orang-orang yang merugi. Tak ada kekuatan apa pun di tangan siapa pun. Kita tidak dapat mengatakan ‘Orang ini berkuasa,’ atau ‘orang ini mampu melakukan ini atau itu’. Suatu hari akan datang di mana segala sesuatunya akan dimatikan.

Shaykh Hisham Kabbani

Advertisements

Tanda-Tanda Kiamat

16729243_10154358183190886_1303266147366130114_n

Nabi (saw) tidak meninggalkan umatnya tanpa ilmu, beliau meninggalkan umat penuh dengan ilmu, tetapi dari Tanda-Tanda Hari Kiamat beliau memprediksikan bahwa akan tiba suatu masa di mana kebodohan memenuhi bumi. Beliau menyebutkan hal ini kepada para Sahabat (ra) karena merekalah orang-orang yang dekat dengan beliau dan ketika mendengar hal ini, mereka berpikir bahwa hal ini akan terjadi di zamannya mereka, tetapi sebenarnya itu terjadi sekarang. Dari generasi ke generasi, mereka bersiap untuk Tanda-Tanda Hari Kiamat. Awliyaullah mengetahui hal ini dan mereka mempersiapkan para pengikutnya ketika akan tiba masanya, dan sekarang kita menyaksikan hari-hari yang sangat sulit di Timur Tengah dan tempat-tempat lainnya di seluruh dunia. Semoga Allah melindungi kita dan senantiasa menjaga kita agar tetap aman.

Nabi (saw) bersabda,

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ أَيَّامًا يَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ , وَيُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ , وَيَكْثُرُ فِيهَا الْهَرْجُ ” .
قَالَ : قُلْنَا : وَمَا الْهَرْجُ ؟ قَالَ : الْقَتْلُ

“Sesungguhnya menjelang datangnya Hari Kiamat akan ada beberapa hari di mana kebodohan turun dan ilmu dihilangkan, dan harj di mana-mana.” Beliau ditanya, “Apakah harj itu?” Nabi (saw) menjawab, “Pembunuhan.”
(Bukhari, Muslim)

Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Jangan Menjadikan Rumahmu sebagai Kuburan

Kitab Suci al-Qur’an akan Memberimu Syafaat (Serial)

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

4 April 2014   Burton, Michigan

Khotbah Jumat di Masjid As-Siddiq

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِين

Yaa ayyuha ‘Lladziina aamanuu ittaqullah wa kuunu ma` ash-shaadiqiin.

Wahai orang-orang yang beriman!  Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya kamu bersama orang-orang yang benar (dalam perkataan dan perbuatan).

(Surat at-Tawbah, 9:119)

Wahai Muslim, saudara-saudari sekalian. Alhamdulillah bahwa Dia telah menciptakan kita sebagai Muslim, bahwa kita telah dibusanai selengkapnya dengan Islam, karena kita mengucapkan, “laa ilaaha illa-Llah,” dan Nabi (s) bersabda,

من قال لا اله الا الله دخل الجنة         

Man qaala laa ilaaha illa-Llah dakhal al-jannah.

Barang siapa yang mengucapkan, ‘Laa ilaaha illa-Llah’ ia akan masuk Surga.

Kita memohon kepada Allah agar kita senantiasa dapat mengucapkan, “laa ilaaha illa-Llah,” agar tidak menjadikan lidah kita kelu pada saat ajal menjemput, agar tidak menjadikan lidah kita kelu di kubur kita, dan tidak kelu pada Hari Kiamat!

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِي

Wa innaka la-`alaa khuluqin `azhiim.

Dan sesungguhnya engkau mempunyai akhlak yang agung. (Surat al-Qalam, 68:4)

Setan selalu berada di sana dan jangan berpikir bahwa ia tidak mempengaruhi kalian.  Setan terbesar ada di sana, di rumah kita, yaitu layar itu, layar televisi.  Berbagai hal ada di sana, dan Nabi (s) tahu bahwa di setiap rumah ada Setan, dan ‘setiap rumah’ maksudnya adalah setiap orang.  Di dalam setiap kalbu ada tempat yang menjadi jalan masuknya Setan dan Nabi (s) bersabda agar kita waspada,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ

Laa taj`alu buyuutakum maqaabir.

Jangan jadikan rumahmu sebagai kuburan.

(Diriwayatkan oleh Abu Hurayrah; Tirmidzi)

“Jangan menjadikan rumahmu sebagai kuburan bagi dirimu sendiri.”  Ketika kalian pergi ke pemakaman, Setan tinggal di sana, banyak jin yang tinggal di sana.  Itulah sebabnya tidak dianjurkan untuk pergi ke pemakaman setelah gelap, tetapi sampai Maghrib, tidak apa-apa. Nabi (s) bersabda,

وَإِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ الْبَقَرَةُ لاَ يَدْخُلُهُ الشَّيْطَانُ

Asy-Syaythan yanfiru min albayti ’lladzii tuqraa’u fiihaa surat al-Baqara.

Sesungguhnya Setan tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya dibacakan Surat al-Baqarah.  (Diriwayatkan oleh Abu Hurayrah; Tirmidzi)

Ketika kalian masuk ke dalam rumah, dan melihat bahwa istri kalian mempunyai masalah, atau  anak-anak kalian mempunyai masalah, segeralah mandi atau wudu dan salat 2 rakaat lalu baca Surat al-Baqarah.  Dengan segera Setan akan pergi!  Kita pergi ke dokter dan berkata, “Istri saya sakit,” atau, “Suami saya sakit,” dan kadang-kadang mereka katakan bahwa kalian menderita skizofrenia atau bi-polar, tetapi apa yang dikatakan oleh Nabi (s)?  Bacalah Surat al-Baqarah.  Itulah pentingnya kitab suci al-Qur’an di rumah kita.  Bacalah selalu al-Qur’an di rumah kalian, bahkan jika kalian hanya membaca satu halaman, bacalah satu halaman itu.  Kita lanjutkan topik mengenai pentingnya membaca kitab suci al-Qur’an.

Nabi (s) sering memperingatkan para Sahabat (r) mengenai Dajjal.  Disebutkan di dalam banyak ahadits bahwa di antara tanda-tanda Hari Kiamat adalah munculnya al-Massih ad-Dajjal.  Di masa para Sahabat (r), mereka sering melihat ke belakang pohon kurma, kalau-kalau Dajjal sudah muncul, tetapi Nabi (s) tidak menyebutkan waktu tertentu.  Nabi (s) menyebutkan bahwa al-Massih ad-Dajjal akan muncul dan Nabi Isa (a) akan membunuhnya.  Ya, ia akan datang, tetapi hal itu juga adalah untuk memberi peringatan kepada kalian mengenai segala sesuatu yang jahat di dalam kehidupan kalian.

Untuk menjauhkan kejahatan dari rumah kalian, apa yang harus kita lakukan?  Nabi (s) bersabda,

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

Man hafizha awwala `asyara ayaatin min surat al-kahf `usima min ad-dajjal.

Jika seseorang menghafal sepuluh ayat pertama Surat al-Kahfi, maka ia akan dilindungi dari Dajjal.

(Diriwayatkan oleh Abu Darda`; Muslim)

“Barang siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari Surat al-Kahfi, bukan hanya akan dilindungi oleh Allah dari Dajjal, tetapi ia juga akan `usima minhu, dilindungi, dan Dajjal tidak akan mempunyai kekuatan terhadapnya, dengan kata lain rumahnya akan terlindungi.”  Dan di dalam riwayat yang lain:

من حفظ عشر آيات من أول سورة الكهف، عصم من الدجال‏”‏ وفي رواية‏:‏ ‏”‏من آخر سورةالكهف

Man hafizha akhira `asyara ayaatin min surat al-kahf `usima min ad-dajjal.

(Barang siapa) yang menghafal sepuluh ayat terakhir dari Surat al-Kahfi, ia akan dilindungi dari (fitnah atau ujian) dari ad-Dajjal. (Diriwayatkan oleh Abu Darda`; Muslim)

“Barang siapa yang menghafal sepuluh ayat terakhir dari Surat al-Kahfi, ia akan dilindungi dari Dajjal dan diselamatkan dari hari itu.”

Jadi, apalagi yang kita inginkan?  Surat al-Baqarah atau sepuluh ayat pertama atau sepuluh ayat terakhir dari Surat al-Kahfi akan melindungi kita dari Setan dan melindungi kita dari al-Massih ad-Dajjal!

Wahai Muslim!  Sungguh, jika kalian mendalami agama kalian, kalian akan menyadari bahwa kita belum bersyukur kepada Allah sebagaimana mestinya, bahkan jika kalian banyak membaca shalawat Nabi (s), itu masih jauh dari yang sepatutunya.  Dan itulah sebabnya mengapa Nabi (s) memberi kita Surat al-Baqarah yang pertama, dan kemudian beliau mengatakan tentang sepuluh ayat pertama dan terakhir dari Surat al-Kahfi, karena inna ma` al-`usri yusraa, “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. (94:6),” dan jadikan sesuatu itu mudah, jangan membuatnya menjadi sulit.

Nabi (s) bersabda, “Yassiruu wa laa tu`assiruu, mudahkanlah dan jangan kau persulit.”

فَجِئْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ سُورَةٌ لَهِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ثُمَّ قَرَأَ إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

Suatu hari Nabi (s) sangat gembira, sebagaimana dilaporkan oleh Sayyidina `Umar (r) (Nabi (s) ingin memberi sesuatu yang manis kepada umatnya.  Sepanjang hidupnya, beliau khawatir, tidak tidur, sangat memperhatikan umatnya ketika malam, sampai Sayyida `A’isyah (r) berkata, “Wahai Nabi Allah!  Mengapa engkau salat dan salat begitu banyak hingga kakimu bengkak?)

Dan Nabi (s) bersabda, “Ini adalah hari terbaik di bumi, ini adalah yang terbaik, kabar paling menggembirakan yang pernah aku dengar!” Dan beliau berkata, laqad unzila `alayya hadzihi ‘l-layla afdhal ma tala`t `alahyi ’sy-syams. “Malam ini sebuah ayat diturunkan dan ini lebih baik daripada terbitnya matahari di mana pun.”

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا

Inna fatahnaa laka fathan mubiina.

Sesungguhnya, Kami telah memberikan kepadamu (wahai Muhammad!) kemenangan/pembukaan yang nyata.   (Surat al-Fath, 48:1)

“Kami telah memberikan kepadamu suatu pembukaan yang nyata,” dan itu adalah pembukaan sampai Hari Kiamat.

795 وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ سُورَةَ الْكَهْفِ وَعِنْدَهُ فَرَسٌ مَرْبُوطٌ بِشَطَنَيْنِ فَتَغَشَّتْهُ سَحَابَةٌ فَجَعَلَتْ تَدُورُ وَتَدْنُو وَجَعَلَ فَرَسُهُ يَنْفِرُ مِنْهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ لِلْقُرْآنِ

Ada seseorang yang membaca Surat al-Kahfi duduk di bawah pohon sendiri.  Ia telah mengikat kudanya sangat kuat dengan dua tali, karena itu adalah kuda yang sangat liar dan ia akan melarikan diri, dan sebuah awan datang di atasnya dan mendekatinya dan awan itu menutupi daerah itu, di atas kudanya.  Kudanya mulai memberontak berusaha untuk melarikan diri.  Itu adalah kuda yang liar dan kuat, tetapi ia tidak bisa melarikan diri dari situasi itu. Ketika awan itu datang mendekat, ia berusaha untuk melarikan diri, dan di pagi hari orang itu mendatangi Nabi (s) dan menceritakan apa yang terjadi.  Nabi (s) berkata kepadanya, tilka as-sakiinatu tanazalat bi’l-Qur’an, “Itu adalah sakinah,ketenangan, kedamaian, yang turun bersama kitab suci al-Qur’an dan kuda itu takut dengan sakinah yang turun.” Karena kadang-kadang, misalnya ketika kalian bangun, bulu roma kalian merinding karena sesuatu yang baik atau sesuatu yang buruk, begitu pula dengan rahmatullah itu yang membuat kuda menjadi gemetar, jadi apapun yang datang, ia juga mencakup kuda dan orang itu.

Saya akan mengakhiri dengan hadits ini,

من القرآن سورة ثلاثون آية شفعت لرجل حتى غفرت له ،وهي‏:‏ تبارك الذي بيده الملك

Min al-qur’anu suratun tsalaatsuun ayati syufi`at li rajulin hatta ghufirat lahu.wa hiya tabaarak alladzii bi-yadihi’l-mulk.

Ada sebuah Surat di dalam al-Qur’an yang berisi tiga puluh ayat, yang terus memberikan syafaat bagi seseorang sampai dosa-dosanya diampuni.  Surat ini adalah ‘Maha Suci Allah yang di Tangan-Nyalah segala Kerajaan.’

(Diriwayatkan oleh Abu Hurayrah; Tirmidzi)

“Ada sebuah Surat di dalam al-Qur’an yang berisi tiga puluh ayat, Surat itu akan memberikan syafaat bagi seseorang sampai ia diampuni.”  Surat itu terus meminta dan meminta sampai orang itu diampuni.  Apakah Surat itu?  Surat al-Mulk, dan banyak di antara kalian yang mengetahuinya.

(Doa Penutup.)

http://www.sufilive.com/Do_Not_Turn_Your_Homes_into_Graveyards-5503.html

© Copyright 2014 Sufilive. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.  Transkrip ini dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta Internasional.  Mohon untuk menyebutkan Sufilive ketika membagi tulisan ini. JazakAllahu khayr.

Kalbu para Sahabat (r)

Khotbah Jumat, 30 November 2001

Syekh Hisyam Kabbani

Renungkan keampuhan kalbu para Sahabat.  Mereka melakukan perjalanan ke seluruh dunia dan mampu menarik orang-orang untuk masuk Islam walaupun tidak fasih dalam berbagai bahasa.  Seorang Sahabat dapat mengadakan perubahan bagi suatu bangsa.  Bayangkan kehidupan Abu Ayyub al-Anshari (r).  Beliau pindah ke Turki, tanpa mengetahui bahasa Turki.  Beliau tinggal hingga akhir hayatnya di sana dan dikenal sebagai Tokoh Islam di Turki.  Sahabat lainnya membawa Islam ke Spanyol.  Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, apa rahasia yang diberikan Allah (swt) ke dalam kalbu mereka?  Mengapa para ulama sekarang tidak mempunyai kekuatan semacam itu?  Nabi Muhammad (s) membawa kekuatan itu untuk seluruh umat.  Pada abad ketiga dan keempat, yang merupakan era para Sahabat dan Tabi’iin, umat Islam sanggup memberi kontribusi terhadap perubahan yang berlangsung secara dinamis.  Jika kita tidak bisa melakukan hal yang sama, pasti ada sesuatu yang salah dengan kita sekarang ini.  Kini negeri-negeri Muslim mempunyai miliaran dolar dari minyak.  Mereka mencetak buku-buku dalam jumlah yang sangat banyak tetapi mereka hanya mampu membawa sedikit orang ke dalam Islam.  Ada sekitar 1.2 miliar Muslim di seluruh dunia, dan jumlahnya hanya bertambah sedikit setiap harinya.  Peningkatannya itu dapat diabaikan, ibarat langkah seekor semut.

Ketika Anas bin Malik (r), seorang Sahabat Nabi (s) mendekati akhir hayatnya, beliau bertanya kepada para sahabat-sahabatnya, “Maukah kalian mendengar hadis yang belum pernah didengar oleh orang lain, dan jika aku wafat, maka tak seorang pun akan mendengarnya?” Mereka menjawab, “Ya.”

Beliau mengatakan bahwa, “Rasulullaah (s) berkata kepada para Sahabatnya, ‘Pada Hari Kiamat, ilmu akan dicabut–yurfa’u al-ilm—dan kebodohan akan meningkat.’  Para Sahabat bertanya, ‘Bagaimana ilmu itu akan dicabut?’ Rasulullah (s) menjawab, ‘Dengan wafatnya para ulama.’”

Renungkan hal ini!  Ada 124.000 Sahabat yang duduk bersama Nabi (s) dan mempelajari tradisi beliau, tetapi hanya ada 10 atau 15 orang yang memenuhi persyaratan untuk memberikan fatwa.  Saya sarankan agar kalian melihatnya di dalam buku-buku sejarah.  Setelah masa Sahabat, para Tabi’iin dan Tabi’ tabi’iin tidak membuat peraturan-peraturan baru, tetapi hanya menggunakan peraturan Islam sebelumnya.  Hanya beberapa ratus ulama yang mampu memberikan fatwa.  Mereka sangat teliti dan takut untuk membuat kesalahan.  Kontras sekali dengan sekarang, tampaknya semua orang memberikan fatwa.  Kita katakan, ‘Inilah apa yang aku pahami dan begitulah mekanisme kerjanya.’  Jadi sekarang orang-orang bagaikan ulama yang mengeluarkan fatwa.  Setiap orang juga suka meniru kebebasan ala Barat.  Muslim mencoba membuat keputusan dengan cara Barat.  Ini adalah jahil—suatu bentuk kebodohan.

Di sekolah, anak-anak bisa mengambil kursus teknik, atau kursus medis dan sebagainya, tetapi mereka tidak bisa mempelajari korupsi.  Sekarang sebagai tambahan terhadap pengetahuan teknis yang kita pelajari untuk hidup kita, generasi muda juga mempelajari ide-ide berbeda yang tidak ada kaitannya dengan pelajaran sekolah mereka—yang tidak berhubungan dengan pelajaran mereka.  Inilah yang dimaksud dengan meningkatnya kebodohan.  Di masa lalu satu-satunya yang orang inginkan setelah kerja adalah pulang ke rumah dan berusaha membesarkan anak-anaknya dengan sebaik-baiknya.

Dan hadis itu berlanjut, ‘wa yasyrab al-khamr’–dan mereka akan minum anggur.  Saya melihat banyak orang Muslim yang melakukan salat tetapi juga masih minum alkohol.  Beberapa Muslim hanya berhubungan dengan Islam atau masjid pada saat  pernikahan atau kematian saja.  Ini adalah situasi yang umum di negara-negara Muslim di Timur Tengah dan Asia Tengah.

Selanjutnya, “Perzinaan semakin meluas.”  Perzinaan terjadi di mana-mana dan menjadi kebiasaan.  Anak-anak muda baik pria maupun wanita yang berpakaian bagus atau mengendarai mobil mewah, menemukan kesempatan untuk berzina dengan mudah.  Hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidina Anas (r) berlanjut, “Kaum pria akan meninggal dunia.”  Perlu dicatat bahwa hal ini terjadi tepat setelah perzinaan.  Hal ini menunjukkan bahwa pria akan mati dalam perang atau karena penyakit.  Saya mengetahui ada beberapa orang yang akan pergi meninggalkan negeri Muslim selama bulan Ramadan untuk menghindari puasa.  Saya melihat hal ini.  Mereka pergi ke berbagai tempat di Eropa, karena mereka ingin berada jauh dari masyarakatnya.  Di sana mereka merasa bebas untuk pergi ke mana saja, incognito, dan melakukan apa yang mereka suka.  Oleh sebab itu Allah (swt) menciptakan suatu penyakit yang kebanyakan diderita kaum pria.  Prostitusi adalah penyebab langsungnya, tetapi prialah yang lebih banyak menderita dari penyakitnya.  Mereka juga meneruskan penyakitnya kepada anak-anak dan anak cucunya.

Narasinya berlanjut, “wa yabqa an-nisa”—“Wanita akan hidup sedangkan pria meninggal dunia.”  Pada akhirnya akan ada 50 wanita untuk setiap pria.  Sekarang kita telah melihat bahwa jumlah pria semakin sedikit.  Statistik memperlihatkan bahwa prosentasi tinggi meninggalnya pria terjadi selama Perang Dunia II, khususnya di Jerman.

Nabi (s) telah menyebutkan suatu penyakit 1400 tahun yang lalu yang sekarang menjadi kenyataan.  Allah (swt) memberi Nabi (s) suatu kemampuan yang istimewa yang disebut ‘ulum al-awwaliin wal-aakhiriin—ilmu tentang hal-hal yang pertama dan terakhir.  Nabi (s) bersabda, “Enam peristiwa yang akan mendahului Hari Kiamat adalah: kematianku, munculnya berbagai penyakit [dan empat peristiwa lainnya].”  Beliau menggambarkan kematian akibat suatu penyakit dengan ‘okaas al-ghanam’.  ‘Okaas’ adalah suatu penyakit yang melanda biri-biri, kambing atau hewan ternak lainnya.  Saliva dan mukosa mengalir secara berlebihan melalui lubang hidung dan mulut hewan dan jika tidak disembelih ia akan mengalami kematian yang mengenaskan.  Kita telah menyaksikannya di Eropa belum lama ini.  Jutaan biri-biri tewas dan jutaan lainnya disembelih untuk menghindari penyebaran penyakitnya.  Bagaimana mungkin Nabi (s) bisa melihat hal ini sebelumnya?

Dalam hadis lain disebutkan bahwa salah satu tanda Hari Kiamat adalah tasliim al-khassa—orang-orang memberi salam hanya kepada orang yang mereka kenal.  Mengucapkan “assalamu alaykum” “salam sejahtera bagimu”—kepada setiap Muslim, baik yang dikenal maupun tidak, pria maupun wanita adalah sunnah.  Namun demikian sekarang ini Muslim hanya memberi salam kepada teman-teman terdekatnya.  Skenario yang berlaku bagi Muslim di negara-negara Barat adalah, “Jika aku tidak mengenalmu, aku tidak akan memberi salam.”  Mungkin ini disebabkan karena, “Aku tidak mengenalimu sebagai Muslim.”  Di negeri-negeri Muslim, banyak orang yang beragama Islam, tetapi tetap saja kita tidak memberi salam.  Hal ini dikarenakan tidak adanya kehangatan di antara kita—yang ada hanya es.  Mengapa?  Karena hubungan kita tidak lagi berdasarkan Hubungan Ilahiah, tetapi hanya berlandaskan ketertarikan diri, hubungan duniawi.

Semoga Allah (swt) membimbing kita ke jalan yang benar, dan menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang bertaqwa.