Enam Tanda Mendekatnya Hari Kiamat

82711117_2653195414734795_8931220780763578368_o

Seri Tanda-Tanda Akhir Zaman, Bagian ke-7

 Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

7 Februari 2015 Burton, Michigan

Shuhbah di Ash-Shiddiq Institute & Mosque (ASIM)

 

Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, `Aziiz Allah. Tidak ada Maalik kecuali Allah: Maalik al-Muluuk, tidak ada raja kecuali Dia.  Maaliki Yawmi ’d-diin. Sang Pemilik Hari Kebangkitan.

Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ’r-riyaadhah, nawaytu ‘s-saluuk, lillahi ta`ala fii hadza ‘l-masjid.

[Khatm]


Ketika kita membaca Istighfar, ini mencakup seluruh Tarekat.  Jika seseorang dari suatu Tarekat mengucapkan, “istaghfirullah” seolah-olah seluruh 41 Tarekat juga mengucapkannya, dan pada saat itu para malaikat akan siap untuk membawa istighfaar yang telah dibaca pada waktu tertentu, di tempat tertentu di negeri-negeri lainnya.  Para malaikat akan membawa istighfaar itu kepada seluruh Tarekat.  Ada 41 Tarekat, 40 dari Sayyidina `Ali (ra) dan satu dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra), dan ketika mereka melakukan suatu dzikrullah, mereka mencakup seluruh 41 Tarekat dan mereka mencakup seluruh umat.  Serupa halnya, jika kita membaca istighfaar itu mencakup mereka semua dan berlaku juga sebaliknya, saling berbagi.  

Salaam `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Kita berada di zaman yang telah disebutkan oleh Nabi (saw), yang telah diprediksikan oleh beliau 1500 tahun yang lalu.  Hari ini saya akan menyebutkan sebuah Hadits dan kita sekarang menyebutkan lima sampai enam Ahadits tentang Tanda-Tanda Akhir Zaman, yang semuanya adalah Hadits dan Tanda-Tanda yang sangat kuat.  Saya akan menyebutkan Hadits ini karena ia disertai dengan tetesan air mata di mata Nabi (saw) karena beliau khawatir terhadap umatnya tetapi mereka tidak memahaminya dan mereka memberi fatwa sesuai dengan keinginan mereka. 

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ , صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَهُوَ فِي بِنَاءٍ لَهُ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ , فَقَالَ لِي : ” أَعَوْفٌ ؟ ” ، فَقُلْتُ : نَعَمْ ، فَقَالَ لِي : ” ادْخُلْ ” ، فَقُلْتُ : أَكُلِّي أَمْ بَعْضِي ؟ فَقَالَ : ” بَلْ كُلُّكَ ” ، فَقَالَ لِي : ” يَا عَوْفُ , اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ ؛ أَوَّلُهُنَّ مَوْتِي ” ؛ فَاسْتَبْكَيْتُ حَتَّى جَعَلَ يُسْكِتُنِي . ثُمَّ قَالَ لِي : ” قُلْ : إِحْدَى ” ، فَقُلْتُ : إِحْدَى ، فَقَالَ : ” وَالثَّانِيَةُ : فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ , قُلِ : ” اثْنَتَانِ ” ، فَقُلْتُ : اثْنَتَانِ , فَقَالَ : وَالثَّالِثَةُ : مُوتَانٌ يَكُونُ فِي أُمَّتِي يَأْخُذُهُمْ مِثْلَ قُعَاصِ الْغَنَمِ ، قُلْ : ثَلاثٌ ” . فَقُلْتُ : ثَلاثٌ ، فَقَالَ : ” وَالرَّابِعَةُ : فِتْنَةٌ تَكُونُ فِي أُمَّتِي وَعَظَّمَهَا ” فَقَالَ : ” قُلْ : أَرْبَعٌ ” ، قَالَ : فَقُلْتُ : أَرْبَعٌ ، ” وَالْخَامِسَةُ : يَفِيضُ فِيكُمُ الْمَالُ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ لَيُعْطَى الْمِائَةَ دِينَارٍ فَيَتَسَخَّطُهَا ، قُلْ : خَمْسٌ ” ، فَقَالَ : قُلْتُ : خَمْسٌ ، ” وَالسَّادِسَةُ : هُدْنَةٌ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي الأَصْفَرِ فَيَسِيرُونَ إِلَيْكُمْ عَلَى ثَمَانِينَ رَايَةً ، تَحْتَ كُلِّ رَايَةٍ اثْنَا عَشَرَ أَلْفًا ، فَفُسْطَاطُ الْمُسْلِمِينَ يَوْمَئِذٍ فِي أَرْضٍ يُقَالُ لَهَا : الْغُوطَةُ ، فِي مَدِينَةٍ يُقَالُ لَهَا : دِمَشْقُ ” .

`Awf bin Maalik (ra) mengatakan, “Aku datang kepada Rasulullah (saw) dan beliau sedang berada di sebuah bangunan dan aku memberi salam padanya, kemudian beliau (saw) berkata kepadaku, ‘Apakah ini `Awf?’ dan aku menjawab, ‘Ya’. Kemudian beliau (saw) berkata, ‘Masuklah,’ lalu aku berkata, ‘Apakah aku masuk dengan seluruh diriku atau separuh diriku?’ lalu beliau (saw) menjawab, ‘Seluruhnya!’  Kemudian beliau mengatakan, ‘Wahai `Awf! Hitunglah enam tanda Hari Kiamat! Yang pertama adalah kematianku.’ Aku mulai menangis sampai beliau harus meredakan tangisanku, kemudian beliau berkata kepadaku, ‘Katakan “Satu,” lalu aku mengatakan “Satu.” Kemudian beliau berkata, ‘Yang kedua adalah pembebasan Jerusalem (Baitul Maqdis). Katakan, “Dua,” lalu aku mengatakan, “Dua.” Yang ketiga adalah kematian umatku.  Mereka akan jatuh bagaikan biri-biri yang terkena wabah penyakit. Katakan “Tiga,” lalu aku mengatakan, “Tiga.” Kemudian beliau mengatakan, ‘Yang keempat adalah timbulnya fitnah di antara umatku. Katakan, “Empat,” lalu aku mengatakan, “Empat.” Kemudian beliau mengatakan, ‘Dan yang kelima adalah melimpahnya harta kekayaan sehingga seseorang yang diberi seratus dinar akan marah (karena masih merasa kurang). Katakan “Lima,” lalu aku mengatakan, “Lima.”  Kemudian beliau berkata, ‘Dan yang keenam adalah adanya perjanjian antara kalian dengan Bani Ashfar dan pasukan mereka akan berbaris mengepung kalian dengan delapan puluh bendera di mana pada setiap bendera terdapat dua belas ribu (pasukan). Pada saat itu perlindungan bagi umat Muslim akan berada di daerah yang disebut “Ghouta” di kota yang dinamakan “Damaskus.” (Bukhari)

`Awf ibn Malik,  ataytu rasuulullah wa huwa fii binaa’in lahu… `Awf ibn Malik meriwayatkan bahwa, “Aku datang kepada Rasulullah (saw) dan beliau sedang berada di sebuah bangunan, al-binaa’, itu bisa sebuah rumah dengan dua kamar, atau sebuah bangunan.  Beliau sedang duduk di sana, fa sallamtu `alayh, kemudian aku menyalami beliau.  Fa qaala lii, dan beliau (saw) berkata kepadaku, “`Awf?”  dan aku menjawab, “Qultu na`m yaa Rasuulallah, aku mengatakan, ‘Ya, wahai Rasuulallah.’”

“Masuklah, udkhul.”

Karena adabnya–perhatikan adab beliau, ia mengatakan, “Kullii am ba`dhii, apakah aku masuk dengan separuh diriku, hanya kepalaku atau dengan seluruh tubuhku?”  Mereka tahu batas-batas mereka, mereka tahu tentang adab, mereka tahu tentang kebudayaannya, tidak seperti sekarang, orang-orang masuk ke dalam rumah seorang Muslim, tetapi mereka tidak peduli tentang etika dalam Islam, dan mereka masuk hingga mendekati kaum wanita seolah-olah tidak ada apa-apa.  Padahal dalam Islam, tidak seperti itu, Islam menjaga kehormatan pria dan wanita. Jadi ketika kita masuk ke dalam rumah seseorang, kita harus menjaga adab, dan tinggal di mana mereka menempatkan kita, bukan masuk ke tempat-tempat lainnya. Itulah sebabnya Sahabat `Awf (ra) tadi mengatakan, “Apakah aku masuk hanya dengan kepalaku saja atau dengan seluruh tubuhku, apakah hanya separuh tubuhku yang masuk, atau seluruh tubuhku masuk?”

Nabi (saw) berkata, “Bal kullukaa, masuklah dengan seluruh tubuhmu.”  Dan beliau mengatakan kepadaku, “Yaa `Awf, `iddad sittan, hitunglah enam.”  Kami telah menyebutkan sebelumnya di dalam buku Armageddon.  “Bayna yadayya as-sa`at, ada enam perkara sebelum Kiamat, yang merupakan tanda-tanda Hari Akhir, aku akan mengatakannya kepadamu.”

Itulah sebabnya mengapa kita melihat orang-orang yang tidak mengerti tentang Hadits, dan mengatakan, “Ini adalah ini, dan ini adalah ini,”  Nabi (saw) bisa saja memberi sebuah Hadits kepada seorang Sahabi dan di waktu lainnya beliau memberi Hadits lainnya kepada Sahabi lainnya; dan sesuai dengan Maqam Mi’raj beliau, Nabi (saw) dapat memberi Ahadits yang berbeda mengenai subjek yang sama.  Itulah sebabnya Hadits itu bisa berbeda-beda, dari satu waktu dengan waktu lainnya, dari seorang Sahabi dengan Sahabi lainnya, tetapi sekarang orang-orang ingin mengoreksinya. Tinggalkan hal itu, jangan berusaha untuk mengoreksinya. Jangan mengatakan, “Kami mengetahui tentang hal ini, kami tahu tentang hal itu,” atau “Hadits ini lemah, atau yang ini tidak dapat diterima.”  Tidak! Adab ma` ar-rasuul, jagalah adab kepada Rasul (saw), apa pun Hadits yang muncul di antara kedua tangan kita, kita katakan, “Aamanna wa shadaqnaa, Allah Yang Maha Mengetahui.”  Jangan menjadi seperti… karena sekarang engkau (merujuk pada seorang murid) mempelajari Hadits, jangan menjadi orang yang suka pililh-pilih!  

Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an:

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ

Saat (Hari Kiamat) semakin dekat, dan bulan pun terbelah. (Surat al-Qamar, 54:1)

Tanda-tanda Hari Kiamat adalah ketika bulan terbelah, ketika Nabi (saw) memerintahkan bulan untuk membelah dan ia pun terbelah, menurut al-Qur’an Suci, itu adalah tanda terbesar, tetapi di sini kita berbicara mengenai Hadits Suci, jadi Nabi (saw) berkata, “Wahai `Awf, hitunglah enam.”  Yang pertama di antaranya adalah, jika seseorang datang kepadamu dan mengatakan kepadamu, “Husayn, ayahmu sedang sekarat.” Apa yang akan kalian lakukan? Kalian akan menangis. Bagaimana menurut kalian jika seorang Sahaabi dan Nabi (saw) memintanya untuk menghitung kematiannya? Bagaimana orang itu akan menerima pesan atau berita tersebut? 

  1. Beliau (saw) bersabda, “Yang pertama dari Tanda-Tanda Hari Kiamat adalah kematianku.”  Itu adalah Tanda Hari Kiamat, karena beliau adalah Nabi terakhir. Fa astabkaytu, “Jadi aku mulai menangis dan aku tidak bisa menahan diri, air mata bercucuran dari mataku seperti sungai yang mengalir, dan Nabi (saw) mulai menenangkan dan menghiburku.  Kemudian beliau (saw) berkata, “Tsumma qaal, qul, “Katakan, ‘ihdaa’.  Aku mengatakan, ‘Ihdaa’ (satu).  Tanda Pertama adalah wafatnya Nabi (saw).”
  2. W ‘ats-tsaaniya, yang kedua adalah fathu bayt al-maqdis, “Pembebasan Bayt al-Maqdis dan shalat akan didirikan di sana dan ia menjadi bagian dari Muslim, dan katakan ‘Dua,’ Tanda Kedua, lalu qul, aku mengatakan, ‘Dua.’”
  3. Tsaalitsa, mawtun, yakuunu fii ummatii mitsla qu`aash al-ghanam, “Tanda Ketiga adalah banyaknya kematian dan kematian itu seperti penyakit yang menimpa biri-biri dan mereka akan mati dalam satu tembakan, di antara umatku, mereka akan mati seperti itu.”  Dan sekarang kalian melihat bagaimana orang-orang terbunuh baik dari kedua belah pihak (yang berperang), maupun dari pihak yang tidak melakukan apa-apa, tetapi mereka tinggal di desa-desa di dekat tempat peperangan itu dan mereka pun ikut terbunuh.  Apakah kalian melihat hal ini atau tidak? Dapatkah kalian menghitungnya? Kalian tidak dapat menghitungnya. Sebagaimana ghanam, kambing, atau biri-biri atau sapi, yakni hewan yang kalian makan mati karena wabah penyakit, seperti itulah umat akan meninggal dunia.
  4. Keempat adalah fitnah, tidak ada satu rumah di antara rumah-rumah kaum Arab, rumah-rumah Muslim yang tidak dimasuki fitnah tersebut.  Sekarang jika kalian mengatakan bahwa kalian adalah Muslim, maka kalian membawa masalah bagi diri kalian sendiri. Sekarang kalian tidak dapat mengatakan, “Saya adalah Muslim,” karena beberapa Muslim menghancurkan nama Islam, “dan Tanda Keempat adalah adanya fitnah di antara umatku, Qul yaa `Awf arba`a, dan aku mengatakan, “Empat.” 
  5. Wa ‘l-khaamisu yufiidu fiikumu ‘l-maal. Akan banyak uang di antara tangan-tangan manusia, banyak sekali.  Jangan lihat orang-orang di sini (yang hadir bersama Mawlana saat itu), mereka tidak punya apa-apa.  Lihatlah orang-orang Badui, mereka membangun gedung-gedung tinggi. Kalian lihat orang-orang Badui yang tadinya tidak memakai sandal, telanjang, sekarang berlomba-lomba membangung gedung pencakar langit, inilah yang kita lihat di kawasan Teluk.  Setiap orang ingin berlomba dalam membangun gedung yang lebih tinggi dari gedung-gedung lainnya, dan setiap gedung memakan biaya miliaran dollar; pada saat yang sama banyak sekali uang yang beredar di pasar. Sekarang jika kalian memberi uang kepada orang yang miskin, bukan di negeri ini, tetapi di negeri yang lain, jika kalian memberi mereka satu dollar, ia akan memandang kalian dan melemparkan uang itu ke muka kalian, mereka tidak senang dan mengemis menjadi sebuah bisnis bagi mereka.
  6. Kemudian, “Kalian membuat perjanjian dengan Bani Ashfar,” yaitu China dan Russia, mereka turun untuk berperang melawan Muslim, kemudian mereka mengadakan perjanjian.  Itu adalah sebuah prediksi tentang perang besar yang akan terjadi di Wadi `Umuq di Suriah Utara dan Turki Selatan, di mana sebuah pertempuran besar akan terjadi. Orang-orang beriman akan berkumpul di Damaskus. 

Saya akan mengatakan kepada kalian apa yang akan terjadi selanjutnya mengenai ‘Kondisi dan Tanda-Tanda Hari Kiamat,’ pertama tentang gempa-gempa yang akan terjadi, kedua akan terjadi pertempuran besar antara dua kelompok besar, laa taquumu s-sa`atu hatta taqtatila fi’ataani `azhiimataani; kemudian, kharaabu ‘l-madina, penghancuran Madinah, penghancuran Mekah, penghancuran Yaman, penghancuran Kufa, penghancuran Iraq, penghancuran Basra, penghancuran Syam, penghancuran Mesir, penghancuran Afrika, penghancuran Andalusia.  Kemudian bab tentang Nabi (saw) berlindung kepada Allah (swt) dari fitnah, kebingungan yang muncul dari al-Maghrib, dari Barat. Ini mungkin ada lima belas prediksi, tetapi dalam buku ini terdapat ratusan prediksi.


Semoga Allah (swt) melindungi kita dan menyelamatkan kita. 

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq bi hurmati ‘l-Fatihah.


https://sufilive.com/Six-Signs-of-the-Approach-of-the-Last-Days-5787-EN-print.html

 

© Copyright 2015 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Jahiliyah Kedua dan Kedatangan Imam Mahdi (as)

IMG-20160831-WA0001

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
London, 25 Maret 1992

22 Ramadhan 1412 

Wahai saudara-saudariku, khususnya yang baru bergabung, kalian semua datang ke sini karena cinta kepada Syekh.  Kalian tidak datang karena cinta terhadap Islam. Tak seorang pun yang datang ke London karena cintanya kepada Islam.  Kita semua, termasuk pembicara, datang karena cinta kepada Syekh, beliau menunjukkan jalan kebenaran kepada kita, beliau menunjukkan pula bahwa jalan kebenaran itu melalui Islam.  

Allah (swt) telah menciptakan manusia dalam pola keislaman.  Benih keislaman terdapat dalam setiap orang. Islam, seperti keselamatan, berarti “damai” dalam bahasa Arab, dan ia merujuk pada kedamaian hati.  Cahaya kedamaian Allah (swt) telah diberikan ke dalam hati setiap manusia. Tanpa disadari, kita semua datang kepada Mawlana Syekh Nazim (q) melalui pintu cinta, pintu tawaduk dan penghormatan, dan beliau telah membawa kita ke dalam Islam.  

Mengapa para Sahabat menerima Rasulullah (saw)?  Mengapa Allah (swt) memilih makhluk terbaik untuk menjadi Rasulullah?  Sebab akhlak yang baik selalu membuat orang tertarik, sebaliknya akhlak yang buruk tidak akan mampu melakukan hal itu.  Ketika kita melihat akhlak Mawlana Syekh Nazim (q), kita akan tertarik kepadanya. Daya tarik itu membuat kita mengikuti jalannya, yang pada kenyataannya merupakan jalan keimanan dalam Islam.  

Di Amerika, banyak orang yang mendatangi kita, dan setelah kedatangan mereka yang ketiga atau keempat kalinya, mereka minta syahadat, ikrar keimanan dalam Islam, mereka bahkan tidak mengetahui apa yang membuat mereka terinspirasi untuk bersyahadat.  Setelah mereka duduk dan shalat bersama kita, ketika mereka ditanya apa agama mereka, mereka menjawab, “Kami adalah Sufi”. Hal ini disebabkan karena mereka tidak datang semata-mata karena Islam. Selang beberapa waktu kemudian, empat sampai enam bulan, mereka baru menyadari bahwa mereka adalah Muslim! 

Islam adalah ajaran spiritual yang tertinggi, dan ia merupakan agama Allah.  Nabi Musa (as) membawa Judaisme kepada umat Yahudi di masa mereka. Ketika Nabi ‘Isa (as) datang, Judaisme diambil alih dan setiap orang percaya kepada Nabi ‘Isa (as).  Ketika Nabi Muhammad (saw) datang, semuanya lenyap, yang tersisa hanya Islam. Oleh sebab itu, kepercayaan yang tertinggi adalah Islam.  

Mengapa kita tidak menyangkal Nabi Musa (as), tetapi umat Yahudi menolak Islam?  Mengapa kita tidak menyangkal Nabi ‘Isa (as) tetapi orang Kristen, yang mengakui Nabi Musa (as), malah menyangkal Islam?  Kita tidak menolak siapa pun. Ini merupakan bukti kesempurnaan. Sesuatu yang tidak sempurna tidak mungkin dapat melampauinya.  Rasulullah (saw) adalah yang tertinggi, dan itulah sebabnya agama lain tidak dapat menjangkaunya. Namun demikian, sebagai Muslim dan pengikut Rasulullah (saw) dan mematuhi ajarannya, kita menerima orang-orang Kristen, sebab kita tahu bahwa mereka benar dalam mengakui Nabi ‘Isa (as), dan kita juga menerima orang-orang Yahudi karena mereka menerima Nabi Musa (as).  Sama halnya dengan orang-orang Kristen yang tingkatannya lebih tinggi dari orang-orang Yahudi karena agama mereka lebih sempurna—mereka bisa melihat Nabi Musa (as) sebagai seorang rasul, tetapi umat Yahudi tidak dapat melihat Nabi ‘Isa (as) sebagai rasul, mereka tidak bisa melihat yang lebih tinggi atau yang paling tinggi tingkatannya.  

Ketika Nabi Musa (as) datang, Allah (swt) memberinya seratus pelat (kepingan-kepingan berisi ajaran Allah).  Ketika beliau kembali dari berkhalwat kepada Allah (swt) selama empat puluh hari dan melihat bahwa umatnya telah menyimpang dari jalan yang benar, beliau melemparkan pelat-pelat itu, sehingga sembilan puluh delapan di antaranya hilang.  Hanya dua pelat yang diberikan kepada umatnya. Itulah salah satu contoh ketidaksempurnaan yang sifatnya relatif dalam agama, yang mengharuskan umat Kristen untuk terus melakukan proses penyempurnaan, dan kelanjutan proses ini, serta penyempurnaan agama Kristen dilakukan oleh Islam. 

Islam datang untuk membawa orang-orang dari kegelapan menuju cahaya.  Masa itu disebut Jahiliyah yang dalam bahasa Arab berarti Masa Kebodohan.  Menyesal sekali, di abad sekarang ini terjadi lagi Jahiliyyah Ukhra.  Di mana-mana kalian bisa menjumpai kebodohan tersebut.  Orang-orang yang berada di jalan yang benar ditentang, tidak disukai, diserang dan dilawan.  Orang-orang yang salah justru dipuja dan dihormati. Hal ini telah diprediksi oleh Rasulullah (saw),

Yukhawwanul amiin wa yushaddaqul khaa’in,”
orang yang khianat dipercaya tetapi orang yang jujur tidak dipercaya.
 

Kita telah sampai pada akhir zaman.  Tidak ada lagi waktu yang tersisa bagi dunia ini untuk terus berlanjut.  Hari ini kita mendengar kabar yang sangat mengejutkan, Tarekat Naqsybandi dilarang di salah satu negeri Timur Tengah.  Ini adalah pengaruh dari golongan Wahabi. Dengan uang mereka, mereka berusaha mengontrol dan memerangi cinta kepada Rasulullah (saw).  Mereka tidak suka orang lain mencintai Rasulullah (saw), dan untuk itu Allah (swt) akan menempatkan mereka di bawah kaki para pengikut Tarekat Naqsybandi.   

Wahabi menyebarkan ajaran yang salah untuk menentang pengikut Rasulullah (saw) dan menentang ajaran keempat mazhab, untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang kering dan liar.  Merekalah yang bertanggung jawab terhadap skandal yang baru-baru ini terjadi, yang menyebabkan Islam mempunyai nama buruk di muka Barat. Mereka berkata bahwa kaum Yahudilah yang harus bertanggung jawab dalam melontarkan gagasan bahwa Islam adalah agama yang liar.  Sebenarnya hal ini tidak benar dan kebalikannya yang benar, hal-hal yang menyakitkan bagi Islam lebih banyak berasal dari golongan Wahabi daripada Yahudi. Kebencian Wahabi terhadap Rasulullah (saw) melebihi orang-orang Yahudi, bahkan lebih buruk lagi. Ketika Imam Mahdi (as) datang, ia akan memenggal leher 70.000 orang pengikutnya untuk  membersihkan bumi ini dari orang-orang kotor yang menyebarkan ajaran Wahabi secara luas dari Timur ke Barat dengan uang mereka. Mereka membeli institusi keagamaan di setiap negeri. Mereka memprovokasi orang dengan memberikan banyak uang agar cintanya terhadap Rasulullah (saw) menjadi luntur.  

Ada sejarah yang panjang mengenai hal ini.  Di masanya, mereka mendatangi Rasulullah (saw) dan meminta agar beliau berdoa untuk mereka.  Beliau bersabda,

“Allaahumma baarik lanaa fii Syaaminaa wa fii Yamaninaa.”
“Yaa Allah, berkahilah Syam kami dan Yaman kami.”

Mereka bertanya, “Bagaimana dengan Nejd, Ya Rasulallah (saw)?”  Nejd adalah seluruh area yang mencakup Riyadh sekarang ini. Di lain kesempatan Rasulullah (saw) bersabda, “Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman.”  Mereka lalu bertanya lagi, “Bagaimana dengan Nejd?” dan lagi-lagi beliau tidak menjawab pertanyaan mereka, kecuali dengan permohonan rahmat terhadap Syam dan Yaman.  Ketiga kalinya mereka bertanya tentang Nejd, Rasulullah (saw) bersabda,

Yakhruju minha qarnayyi ‘sy-syaythani wa yakthuru fiha az-zalazilu wa ‘l-fitan.” 
Kedua tanduk Setan akan muncul di sana, dan keguncangan-keguncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah dan korupsi akan banyak terjadi di sana.”  (Bukhari—Muslim).

Sekarang adalah awal dari kejadian yang telah diprediksi dalam hadits tersebut.  Dalam hadits yang lain Rasulullah (saw) bersabda, 

Sawfa tudhi’u naarun min ardhi Najdin yashra’ibbu laha a’naqul ibili bi Bushra,”
“Api seperti itu akan datang dari tanah Nejd sehingga unta di Bushra akan lari karena panasnya.” (Bukhari—Muslim).  

Itu terjadi tahun lalu (Perang Iraq).  Oleh sebab itu persiapkanlah diri kalian, bukan untuk yang terbaik tetapi untuk yang terburuk.  Bukannya kemajuan yang akan muncul, melainkan masa-masa kegelapan. Barulah setelah masa tersebut akan datang masa keemasan, yaitu masanya Imam Mahdi (as).  

Dalam waktu dekat banyak kejadian yang akan terjadi di sekitar kita.  Setiap orang dari kita harus berhati-hati menjaga imannya, termasuk iman istri dan keluarga, serta anak-anaknya.  Setan tidak akan meninggalkan orang sendirian. Ia mencoba untuk mengubah iman kalian dan menggoyahkan cinta kalian terhadap para Awliya, pengikut Sufi, dan Rasulullah (saw). 

Allah (swt) berfirman dalam Hadits Qudsi,

“lawla Muhammadun ma khalaqtu ahadan min khalqi.”
“Jika bukan untuk Muhammad (saw), Aku tidak akan menciptakan satu makhluk pun.” 

Mereka menentang Rasulullah (saw) sebab mereka pikir beliau akan berasal dari golongan mereka, dari Nejd.  Mereka tidak menerimanya, bahkan di masanya sekalipun. Mereka itu termasuk orang-orang munafik, sama seperti sekarang ini.  Hal ini telah dilukiskan dalam al-Quran. Jika kalian membacanya, kalian akan menemukannya di sana. Ketika Imam Mahdi (as) datang dan berkata,”Laa hawla wa laa quwwata illa billaahi ‘l-`Aliyyi ‘l-`Azhiim,” mereka akan gemetar ketakutan terhadap apa yang akan menimpa mereka.  

Mereka mempersiapkan dirinya untuk peristiwa itu dengan bantuan dari negara-negara Barat.  Mereka menyimpan senjata dengan harapan dapat membantu mempertahankan kerajaan mereka. Tidak akan!  Jika Allah (swt) menginginkan yang lain, Dia dapat mengirimkan gempa bumi dan segalanya akan musnah. Tetapi Allah (swt) meninggalkan mereka karena mereka menyebarkan fitnah, pemandu mereka akan kebingungan, dan Allah (swt) menguji hati hamba-hamba-Nya dan mengecek siapa di antara mereka yang hatinya baik dan siapa yang tidak.  

Bergembiralah, karena halaqah kita, halaqahnya Mawlana Syekh Nazim (q) adalah halaqah yang terbaik, dan termasuk halaqah yang langka, yang menunggu kedatangan Imam Mahdi (as), insya Allah, beliau akan muncul.  Imam Mahdi (as) melihat kegelapan sekarang dan dengan senang hati beliau akan segera muncul.  Mawlana berkata jika kalian meletakkan cinta itu pada semua gunung di bumi ini, gunung-gunung itu akan hancur luluh menjadi kerikil dan debu.  Sampai sekarang, meskipun dengan cinta seperti itu, beliau masih menunggu untuk muncul sebab izin dari Allah (swt) belum diberikan kepadanya. Beliau menunggu izin itu, dan izin itu insya Allah akan diberikan kepada kita semua, sebab kehadiran Imam Mahdi (as) menandakan kehadiran Syekh kita, dan kehadiran Syekh adalah kehadiran kita semua sebagai pengikutnya.   

Kehadiran Syekh ada di tangan Rasulullah (saw).  Sekarang kita mendatangi Mawlana untuk bersalaman atau menciumnya, suatu saat nanti kalian tidak akan mampu mendekatinya, karena kalian akan melihat jutaan orang mencoba mendekatinya, seperti yang kita lakukan sekarang ini, melihat dan menyentuhnya.  Itu adalah masa keemasan, dan insya Allah, Allah (swt) akan memanjangkan umur kita untuk menyaksikan masa itu.  

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah (saw) kepada para Sahabat mengenai tanda-tanda Hari Kiamat, “Afdhalul ummah,akhyarul ummah akhirul ummah,” “Umat terbaik, umat yang paling disukai, adalah umat terakhir,”  Sayyidina ‘Umar (ra) mengangkat tangannya dan berkata, “Ya Rasulallah, Aku rela untuk mengorbankan semua pahala yang engkau berikan kepadaku agar Aku bisa dimasukkan sebagai umat terakhir!”  Rasulullah (saw) menjawab, “Tidak, ini hanya untuk mereka saja.” 

Alhamdulillah, kita talah mencapai masanya umat terakhir.  Rasulullah (saw) bersabda, 

Idza saluhat ummati falaha ma’ishatu yawmin wa in fasudat falaha ma’ishatu nisfi yawmin, wa innayawman ‘inda rabbika ka’alfi sanatin mimma ta’uddun,” 
“Jika umatku tetap menjaga kemurniannya dan berlaku baik, mereka akan merasakan kenikmatan selama satu hari, tetapi bila mereka korup, mereka tinggal menyisakan setengah hari.” (hadits)

Dan satu hari menurut perhitungan Allah (swt) adalah 1000 tahun menurut perhitungan kalian.” [al-Hajj: 47].  

Dengan demikian menurut Rasulullah (saw), Allah (swt) telah memberikan kita seribu lima ratus tahun.  Sekarang kita berada di tahun 1412 hijriah (1992 M), tidak banyak lagi waktu yang tersisa untuk dunia ini. 

Semua tanda bagi kedatangan Nabi ‘Isa (as) sudah ada, beliau akan memerintah dunia ini selama empat puluh tahun, begitu pula untuk Imam Mahdi (as) yang muncul mendahului beliau dan akan memerintah selama tujuh  tahun.  Peristiwa ini akan terjadi tak lebih dari delapan puluh tahun yang akan datang. Kita telah mendekati akhir zaman dan tidak ada lagi waktu yang tersisa. Kita harus mempersiapkan diri kita dengan jalan mempersiapkan hati kita.  Bagaimana cara melakukan hal itu? Caranya adalah dengan meninggalkan nafs, ego kita. 

Kita bertanya,”Bagaimana kita dapat meninggalkan ego seperti yang selalu dikatakan oleh guru kita, Mawlana Syekh Nazim (q)?”  Setiap orang mempunyai ego. Bila Allah (swt) tidak memberikan ego kepada kita, kita semua akan menjadi malaikat tanpa dosa. Suatu hari Sayyidinna Abu Yazid al-Bisthami (q) pergi ke Ka’bah, sambil memegang rantai di pintu Ka’bah, baliau berdoa, “Wahai Tuhanku, izinkanlah Aku merantai kaki Setan dan menahannya, dengan kekuatan yang Engkau berikan kepadaku, sehingga seluruh makhluk dapat melihatnya, dan ia tidak dapat melihat orang-orang, sehingga ia tidak dapat mengganggu hamba-hamba-Mu lagi dan mereka semua tidak lagi berdosa!”  Allah (swt) telah memberikan wali ini kekuatan yang luar biasa sehingga beliau dapat berdoa seperti itu. Tetapi Allah (swt) berbicara melalui hatinya, “Wahai Abu Yazid (q), lihatlah di atasmu.” Ini berarti, lihatlah ke dalam maqam yang lebih tinggi dalam hatinya. Ketika Abu Yazid (q) melakukannya, beliau kehilangan kesadarannya dan tetap tinggal di sana selama 1 jam. Setelah bangun, beliau merayap ke pintu Ka’bah dan berbisik, “Ya Afuw, Ya Afuw, Wahai Yang Maha Pengampun, ampunilah aku!” 

Dan Allah (swt) berkata, “Wahai Abu Yazid (q), untuk siapa Aku meninggalkan Samudra Rahmat yang telah Ku-ciptakan kalau bukan untuk hamba-hamba-Ku?  Jika Aku membiarkan engkau merantai setan, maka orang-orang menjadi tidak berdosa, sementara Aku adalah Yang Maha Pengampun!” “Ana ‘l-Ghafuru ‘r-Rahiim” [al-Hajr: 49], Aku Maha Pengampun dan Maha Penyayang!  Siapa lagi yang akan Ku-ampuni kalau bukan para pendosa? Jika mereka menjadi tidak berdosa mereka akan seperti malaikat, tanpa mengenal tingkatan.  Biarkan mereka berdosa, Aku akan mengampuni mereka dan akan Ku angkat derajatnya lebih tinggi. Samudra Rahmat ini adalah untuk para pendosa. Oleh sebab itu, jangalah ikut campur dalam Kehendak-Ku.  Aku adalah pencipta manusia, dan Akulah yang menjaga dan melindungi mereka dari Setan, dengan Samudra Rahmat ini, biarkan mereka datang kepada-Ku ketika mereka berdosa.”

Jika seorang anak kecil terluka, ia akan segera berlari kepada ibu atau ayahnya.  Ketika Setan melukai kalian dan membuat kalian berdosa, berlarilah menuju Allah (swt) dan katakan, ‘Ya Allah, Aku telah berbuat dosa, ampunilah aku.’  Kalian akan segera mendapatkan pengampunan-Nya. Mengapa wahai para pendosa, kalian tidak datang kepada Allah? Mengapa kita tidak, dengan seluruh ego kita, datang kepada Allah?  Kita harus mendatangi-Nya. Bergegaslah dan dapatkan pengampunan-Nya, tetapi jika kalian tidak datang kepada-Nya, bagaimana Dia dapat memaafkan kalian? 

Kita berkata, ”Bagaimana kita dapat menghindari ego kita?” Mawlana Syekh Nazim (q) memberikan teladan yang sangat baik untuk menjauhi ego kita.  Setiap hari tuliskan sebanyak-banyaknya perilaku buruk yang ada dalam hati kalian dan yang kalian lakukan pada hari itu. Setiap orang mempunyai sedikitnya 700 karakter buruk dalam hatinya.  Semuanya harus dibersihkan dari diri kita. Beberapa orang berkata, “Kami tidak mempunyai perilaku yang buruk.” Tidak!! Duduk dan renungkanlah, dan tuliskan perilaku buruk apa saja yang masih ada dalam hati kalian.  Setiap orang mengenal dirinya sendiri dan tahu bahwa hatinya menyimpan perilaku buruk. Tuliskanlah, dan cobalah setiap hari menghilangkan satu perilaku buruk tersebut. Hari demi hari akan kalian lihat bahwa kalian telah meninggalkan perilaku buruk itu satu per satu. 

Setan tidak akan membiarkan orang melakukan hal ini.  Ketika kalian duduk dan merenung, kalian akan menemukan begitu banyak perilaku buruk yang bisa kalian pikirkan.  Kita semua adalah pendosa, kalian lebih mengenal diri kalian daripada orang lain. Namun ketika seorang Wali melihat ke dalam hati kalian, ia tahu apakah kalian bersih atau tidak.  Dengan demikian, ia tahu, kapan ia akan mengirimkan kalian untuk berkhalwat atau tidak sama sekali. Khalwat berarti kalian mencoba untuk maju dan meninggalkan perilaku buruk. Ketika seorang Wali melihat bahwa kalian mencoba meninggalkan perilaku buruk di dalam hati, ia akan memberikan izin untuk berkhalwat.  Tetapi kalau ia tidak melihat hal ini, tentu saja ia tidak mungkin memberikan izin tersebut. 

Perangilah ego kalian!  Apa pun yang diinginkan olehnya, lakukanlah yang sebaliknya.  Jangan menerima nasihat darinya, sebab ia akan menyesatkan kalian.  “Fa la tuzakku anfusakum,” “Jangan menyembah dirimu sendiri,” “Jangan pernah memberikan alasan kepada ego” [an-Najm: 32] “An-nafsu ammaratun bissu’” Ego kalian selalu menganjurkan, mengizinkan dan menyuruh kalian untuk berbuat sesuatu yang buruk dan melakukan kesalahan.  Oleh sebab itu jangan sekali-kali mendengarkannya, sebagaimana sabda Rasulullah (saw), ”Jangan dengarkan dirimu sendiri, tetapi dengarkan aku.”  Tetapi siapa yang mau mendengarkan Rasulullah (saw)? Tidak ada. 

Alhamdulillah, kelompok kita mendengarkan dengan cinta mereka.  Cinta itu akan membawa kita keluar dari kegelapan dunia dan menuju cahaya dari akhirat.  Mawlana berkata bahwa seorang Badui mendatangi Rasulullah (saw) ketika beliau sedang berada di mimbar menyampaikan khotbah Jumat.  Orang itu berdiri di pintu masjid dan berkata, “Yaa Sayyidi yaa Rasulallah, matas saa`atu yaa Rasulallah,” “Ya Rasulallah (saw) kapankah Hari Kiamat tiba?” “Mendengar dan melihat hal ini para Sahabat yang duduk di sana menjadi geram, seolah-olah mereka ingin membunuhnya karena orang itu berbicara dengan nada tinggi, namun tentu saja hal itu tidak diperbolehkan.  Ketika seorang pemimpin berada di sana, para pengikut tidak diperkenankan melakukan apa pun. 

Ini adalah adab! Ketika Mawlana berada di antara kalian, apa pun yang kalian lihat, siapa pun yang datang, siapa pun yang lewat, jangan menoleh kepada mereka.  Mata kalian harus selalu tertuju pada Syekh. Ketika beliau di sana, beliaulah yang menjadi pemimpin dan kalian tidak bertanggung jawab atas apa pun. Bahkan jika kalian melihat anak-anak membuat keributan, atau seseorang melakukan suatu perbuatan buruk, jangan ikut campur, beliau yang akan menanganinya.  

Jika seseorang masuk pada saat Syekh sedang memberikan shuhbah, ia harus duduk di mana pun tempat yang ditemukannya.  Pada saat itu mendatangi Syekh dan mencium tangannya adalah tarkul adab, bertentangan dengan adab, tidak hormat.  Mereka harus memberi salam dalam hati lalu duduk dan menyembunyikan diri mereka.  Kita juga tidak boleh melihat orang-orang yang baru datang, atau memberi salam, atau menjawab salam mereka.  Hanya Syekh yang memberi atau membalas salam. Andaikata ada beberapa orang yang datang, bersalaman dengan Syekh, kemudian  bersalaman dengan yang lainnya dengan membelakangi Syekh, semua itu adalah adab yang buruk. Setelah kalian memberi salam kepada Syekh, selesai, dan kalian boleh duduk.  

Para Sahabat marah tetapi tidak dapat berbicara apa-apa di hadapan Rasulullah (saw).  Ketika Badui itu berbicara dengan keras untuk ketiga kalinya, “Kapankah Hari Kiamat tiba?”  Saat itu Jibril (as) datang dan meminta Rasulullah (saw) untuk menjawabnya. Lalu beliau pun menjawabnya.  

Dari teladan ini, kita bisa melihat bagaimana Rasulullah (saw) secara konstan mendengar dan patuh.  Hanya ketika ada inspirasi yang datang, beliau patuh dan menjawabnya. Kita tidak mendengar Syekh dan tidak juga mematuhinya.  Kita hanya patuh ketika kita bisa memperlihatkannya kepada semua orang, misalnya ketika mendapat hak istimewa untuk membawakan sepatu beliau, tongkat atau jubahnya.  Ketika diperintahkan untuk meninggalkan ego kalian dan perilaku buruk kalian, tiada yang menghormatinya lagi. Pada saat itu kita lebih suka mendengarkan ego kita dari pada perintah Syekh.  Berhentilah membawakan jubah untuk Syekh, jika kalian ingin agar orang lain melihatnya. Tetapi berlarilah dalam hati kalian menyambut perintahnya untuk meninggalkan ego kalian, dan dengarkan perintahnya, jagalah ego kalian. 

Rasulullah (saw) berkata, “Wahai orang Badui, Hari Kiamat adalah suatu perjalanan yang panjang, dan engkau membutuhkan banyak bekal untuk itu; amal dan ibadah apa yang telah engkau persiapkan?”  Orang itu menjawab,”Ala mahabbatuka, Yaa Rasulallah,” “Bukankah Aku mempunyai cintamu, Ya Rasulallah! Cintamu, Ya Rasulallah! Cintamu!” Dan Rasulullah (saw) pun membalas, “Kafi yai’rabi,” “Ya, itu sudah cukup wahai orang Badui, engkau akan bersama orang yang engkau cintai”(diriwayatkan oleh Bukhari, Ahkam).  Orang itu pergi, bahkan tanpa masuk ke dalam masjid dan shalat bersama yang lain.  

Cinta kepada Syekh adalah sangat penting.  Ia akan membawa kalian bersamanya ke mana pun beliau pergi!  Jangan sampai membiarkan cinta itu menjadi lemah! Apa pun yang terjadi, jangan menerima serangan terhadap cinta itu.  Jika orang Wahabi mendatangi kalian dan menentang apa yang kalian lakukan dengan mengatakan, ”Ini syirik, ini bid’ah, ini tidak baik,” jangan dengarkan mereka.  Ambil tongkat dan pukul mereka. Jangan coba-coba untuk menasihati mereka. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau mendengar dan sangat keras kepala, sehingga mereka tidak akan menerima kalian.  Oleh sebab itu, jangan dengarkan mereka.  

Sufisme tidak pernah merupakan syirik atau bid’ah selama 1400 tahun dan tidak bisa dinyatakan demikian karena 30 tahun  yang lalu. Pernyataan yang keliru ini timbul karena kebencian terhadap Rasulullah (saw) dalam hati orang-orang itu. Jangan dengarkan mereka,   jangan pergi ke masjid mereka, jangan shalat dengan mereka. Jika kalian tidak menemukan masjid yang imamnya mencintai Rasulullah (saw) dan memujinya, jangan shalat di sana, shalatlah di rumah.  Kalau tidak, kegelapan akan menyelimuti hati kalian, berhati-hatilah, Grandsyekh berkata bahwa satu jam bersama orang yang tidak mempunyai cinta terhadap Rasulullah (saw) atau Syekh dalam hatinya, akan mendatangkan setahun kegelapan di dalam hati kalian.  Perlu waktu satu tahun untuk membersihkan kegelapan itu dari hati kalian! Dengan demikian, jagalah diri kalian, jangan dengarkan orang-orang seperti itu. Jangan takut. Ketika mereka datang kepada kalian, katakanlah, “Lakum diinukum wa liya diin.”  “Bagimulah agamamu dan bagikulah agamaku.” [al-Kafirun: 6].  Jika mereka menyangkal bahwa kalian bukan Muslim, katakanlah, “Kami Muslim, kalianlah yang bukan!” 

Kita adalah orang-orang yang mengikuti jalur yang benar, jalannya Rasulullah (saw), para Sahabat, khalifah Rasulullah (saw), dan keempat imam dalam Islam.  Keempat imam itu mempunyai Syekh yang sufi! Mereka belajar kepada Syekh, walaupun ada beberapa Syekh yang buta huruf, misalnya, Syekh Bisyr al-Hafi (q) dan Syekh Syayban ar-Ra’i (q).  Setiap kali Imam Syafi’i bersama Syekh Bisyr al-Hafi (q) yang membuat tujuh kesalahan dalam membaca al-Fatihah, beliau tetap meminta Syekhnya untuk menjadi imam shalat. Syekh Bisyr (q) membaca, bukan dari ilmu-ilmu dari buku, melainkan dari cahaya hati.  Inilah yang kita butuhkan. Insya Allah, kita berdoa semoga cahaya akan diberikan kepada kita karena kecintaan kita kepada Syekh.  Semoga kecintaan kepadanya juga akan berkembang di hati kita. Tanpanya kita tidak akan bisa sampai ke pintu Rasulullah (saw).  

Kita harus bersikap rendah hati kepada sesama dan kepada orang lain.  Menerima saudara-saudari kita bukanlah suatu kejahatan. Agama ini berdasarkan cinta, agama ini berdasarkan hormat, dan agama ini berdasarkan kerendahan hati.  Jika kita tidak mempunyai perilaku yang baik ini, kita tidak akan menemukan Cahaya Allah dalam hati kita, sebagaimana yang diterangkan Allah (swt) dalam Hadits Qudsi, “Qalbu ‘l-Mu’min baytur Rabb,” “hati orang-orang yang beriman adalah rumah Allah.”  Untuk menjadi seorang Mukmin yang baik berarti menjadi seorang yang rendah hati, penuh hormat, dan mencintai sesama.  Tanpa ketiga perilaku baik ini, kalian tidak akan menemukan cahaya dalam hati kalian dalam kehidupan ini, ketika kita meninggal dan mengeluarkan tujuh napas terakhir—tanpa menghirup, tetapi hanya mengeluarkan—pada saat itu Syekh kita berada di sana untuk menarik kita ke dalam hatinya.  Sampai detik itu, kita tidak akan menemukan atau melihat cahaya hati kecuali, pertama kita harus memiliki ketiga perilaku baik tersebut. Berusahalah untuk mendapatkannya sekarang. Berusahalah untuk mempengaruhi ego kita agar menerima ketiga sifat ituBersikaplah rendah hati, jika seorang menyakiti kalian, jangan sakit hati, datangilah ia dan beri maaf, lebih jauh lagi ciumlah tangannya atau kakinya—itu bukan suatu kejahatan!  Sejauh kalian bisa merendah terhadap orang lain, maka lakukanlah, Allah (swt) akan mengangkat derajat kalian.  

Insya Allah, kita semua akan bersatu, karena kita memerlukan persatuan.  Biarkan semua percaya dengan hal ini, dan ikuti selalu satu Imam, satu Syekh, satu bay’at, satu pintu, satu sumber cahaya dari Sumbernya, satu stasiun pemancar untuk seluruh hati.  Pada saat itu kalian akan terangkul dengan tulus kepadanya. Semakin kuat kalian berusaha mendatanginya, semakin kuat dan kokoh rangkulannya. 

Wa min Allah at-Tawfiq bi hurmat al-Fatihah

 

Tak Ada Kekuatan Apa pun Di Tangan Siapa pun

17990975_10154521785165886_6571231729702897088_n

Allah akan memerintahkan yang terakhir, Sayyidina Israfil (‘alayhissalam), untuk meniup Terompet dan segala sesuatunya akan mati; tak satu pun kehidupan tertinggal di muka Bumi dan Allah (swt) akan berkata, “Li man il-Mulk al-Yaum? Lillahi ‘l-Waahidi ‘l-Qahhaar!” “Milik siapakah Kerajaan di hari ini? Siapakah yang mampu mengangkat kepalanya dari kuburnya dan berkata, ‘Aku adalah sesuatu, atau seseorang?’” Tak seorang pun mampu mengatakan hal itu! Itulah suatu Hakikat dan Fakta yang akan terjadi, “li man al-Mulk al-Yaum?” Allah (swt) akan menjawabnya sendiri, “Lillaahi ‘l-waahid al-Qahhar” Kerajaan itu berada di Tangan-Nya dan tak seorang pun mampu memiliki sesuatu tanpa izin Allah. Bila kita tak mampu memahami hal ini, maka kita menjadi orang-orang yang merugi. Tak ada kekuatan apa pun di tangan siapa pun. Kita tidak dapat mengatakan ‘Orang ini berkuasa,’ atau ‘orang ini mampu melakukan ini atau itu’. Suatu hari akan datang di mana segala sesuatunya akan dimatikan.

Shaykh Hisham Kabbani

Tanda-Tanda Kiamat

16729243_10154358183190886_1303266147366130114_n

Nabi (saw) tidak meninggalkan umatnya tanpa ilmu, beliau meninggalkan umat penuh dengan ilmu, tetapi dari Tanda-Tanda Hari Kiamat beliau memprediksikan bahwa akan tiba suatu masa di mana kebodohan memenuhi bumi. Beliau menyebutkan hal ini kepada para Sahabat (ra) karena merekalah orang-orang yang dekat dengan beliau dan ketika mendengar hal ini, mereka berpikir bahwa hal ini akan terjadi di zamannya mereka, tetapi sebenarnya itu terjadi sekarang. Dari generasi ke generasi, mereka bersiap untuk Tanda-Tanda Hari Kiamat. Awliyaullah mengetahui hal ini dan mereka mempersiapkan para pengikutnya ketika akan tiba masanya, dan sekarang kita menyaksikan hari-hari yang sangat sulit di Timur Tengah dan tempat-tempat lainnya di seluruh dunia. Semoga Allah melindungi kita dan senantiasa menjaga kita agar tetap aman.

Nabi (saw) bersabda,

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ أَيَّامًا يَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ , وَيُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ , وَيَكْثُرُ فِيهَا الْهَرْجُ ” .
قَالَ : قُلْنَا : وَمَا الْهَرْجُ ؟ قَالَ : الْقَتْلُ

“Sesungguhnya menjelang datangnya Hari Kiamat akan ada beberapa hari di mana kebodohan turun dan ilmu dihilangkan, dan harj di mana-mana.” Beliau ditanya, “Apakah harj itu?” Nabi (saw) menjawab, “Pembunuhan.”
(Bukhari, Muslim)

Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Jangan Menjadikan Rumahmu sebagai Kuburan

Kitab Suci al-Qur’an akan Memberimu Syafaat (Serial)

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

4 April 2014   Burton, Michigan

Khotbah Jumat di Masjid As-Siddiq

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِين

Yaa ayyuha ‘Lladziina aamanuu ittaqullah wa kuunu ma` ash-shaadiqiin.

Wahai orang-orang yang beriman!  Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya kamu bersama orang-orang yang benar (dalam perkataan dan perbuatan).

(Surat at-Tawbah, 9:119)

Wahai Muslim, saudara-saudari sekalian. Alhamdulillah bahwa Dia telah menciptakan kita sebagai Muslim, bahwa kita telah dibusanai selengkapnya dengan Islam, karena kita mengucapkan, “laa ilaaha illa-Llah,” dan Nabi (s) bersabda,

من قال لا اله الا الله دخل الجنة         

Man qaala laa ilaaha illa-Llah dakhal al-jannah.

Barang siapa yang mengucapkan, ‘Laa ilaaha illa-Llah’ ia akan masuk Surga.

Kita memohon kepada Allah agar kita senantiasa dapat mengucapkan, “laa ilaaha illa-Llah,” agar tidak menjadikan lidah kita kelu pada saat ajal menjemput, agar tidak menjadikan lidah kita kelu di kubur kita, dan tidak kelu pada Hari Kiamat!

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِي

Wa innaka la-`alaa khuluqin `azhiim.

Dan sesungguhnya engkau mempunyai akhlak yang agung. (Surat al-Qalam, 68:4)

Setan selalu berada di sana dan jangan berpikir bahwa ia tidak mempengaruhi kalian.  Setan terbesar ada di sana, di rumah kita, yaitu layar itu, layar televisi.  Berbagai hal ada di sana, dan Nabi (s) tahu bahwa di setiap rumah ada Setan, dan ‘setiap rumah’ maksudnya adalah setiap orang.  Di dalam setiap kalbu ada tempat yang menjadi jalan masuknya Setan dan Nabi (s) bersabda agar kita waspada,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ

Laa taj`alu buyuutakum maqaabir.

Jangan jadikan rumahmu sebagai kuburan.

(Diriwayatkan oleh Abu Hurayrah; Tirmidzi)

“Jangan menjadikan rumahmu sebagai kuburan bagi dirimu sendiri.”  Ketika kalian pergi ke pemakaman, Setan tinggal di sana, banyak jin yang tinggal di sana.  Itulah sebabnya tidak dianjurkan untuk pergi ke pemakaman setelah gelap, tetapi sampai Maghrib, tidak apa-apa. Nabi (s) bersabda,

وَإِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ الْبَقَرَةُ لاَ يَدْخُلُهُ الشَّيْطَانُ

Asy-Syaythan yanfiru min albayti ’lladzii tuqraa’u fiihaa surat al-Baqara.

Sesungguhnya Setan tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya dibacakan Surat al-Baqarah.  (Diriwayatkan oleh Abu Hurayrah; Tirmidzi)

Ketika kalian masuk ke dalam rumah, dan melihat bahwa istri kalian mempunyai masalah, atau  anak-anak kalian mempunyai masalah, segeralah mandi atau wudu dan salat 2 rakaat lalu baca Surat al-Baqarah.  Dengan segera Setan akan pergi!  Kita pergi ke dokter dan berkata, “Istri saya sakit,” atau, “Suami saya sakit,” dan kadang-kadang mereka katakan bahwa kalian menderita skizofrenia atau bi-polar, tetapi apa yang dikatakan oleh Nabi (s)?  Bacalah Surat al-Baqarah.  Itulah pentingnya kitab suci al-Qur’an di rumah kita.  Bacalah selalu al-Qur’an di rumah kalian, bahkan jika kalian hanya membaca satu halaman, bacalah satu halaman itu.  Kita lanjutkan topik mengenai pentingnya membaca kitab suci al-Qur’an.

Nabi (s) sering memperingatkan para Sahabat (r) mengenai Dajjal.  Disebutkan di dalam banyak ahadits bahwa di antara tanda-tanda Hari Kiamat adalah munculnya al-Massih ad-Dajjal.  Di masa para Sahabat (r), mereka sering melihat ke belakang pohon kurma, kalau-kalau Dajjal sudah muncul, tetapi Nabi (s) tidak menyebutkan waktu tertentu.  Nabi (s) menyebutkan bahwa al-Massih ad-Dajjal akan muncul dan Nabi Isa (a) akan membunuhnya.  Ya, ia akan datang, tetapi hal itu juga adalah untuk memberi peringatan kepada kalian mengenai segala sesuatu yang jahat di dalam kehidupan kalian.

Untuk menjauhkan kejahatan dari rumah kalian, apa yang harus kita lakukan?  Nabi (s) bersabda,

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

Man hafizha awwala `asyara ayaatin min surat al-kahf `usima min ad-dajjal.

Jika seseorang menghafal sepuluh ayat pertama Surat al-Kahfi, maka ia akan dilindungi dari Dajjal.

(Diriwayatkan oleh Abu Darda`; Muslim)

“Barang siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari Surat al-Kahfi, bukan hanya akan dilindungi oleh Allah dari Dajjal, tetapi ia juga akan `usima minhu, dilindungi, dan Dajjal tidak akan mempunyai kekuatan terhadapnya, dengan kata lain rumahnya akan terlindungi.”  Dan di dalam riwayat yang lain:

من حفظ عشر آيات من أول سورة الكهف، عصم من الدجال‏”‏ وفي رواية‏:‏ ‏”‏من آخر سورةالكهف

Man hafizha akhira `asyara ayaatin min surat al-kahf `usima min ad-dajjal.

(Barang siapa) yang menghafal sepuluh ayat terakhir dari Surat al-Kahfi, ia akan dilindungi dari (fitnah atau ujian) dari ad-Dajjal. (Diriwayatkan oleh Abu Darda`; Muslim)

“Barang siapa yang menghafal sepuluh ayat terakhir dari Surat al-Kahfi, ia akan dilindungi dari Dajjal dan diselamatkan dari hari itu.”

Jadi, apalagi yang kita inginkan?  Surat al-Baqarah atau sepuluh ayat pertama atau sepuluh ayat terakhir dari Surat al-Kahfi akan melindungi kita dari Setan dan melindungi kita dari al-Massih ad-Dajjal!

Wahai Muslim!  Sungguh, jika kalian mendalami agama kalian, kalian akan menyadari bahwa kita belum bersyukur kepada Allah sebagaimana mestinya, bahkan jika kalian banyak membaca shalawat Nabi (s), itu masih jauh dari yang sepatutunya.  Dan itulah sebabnya mengapa Nabi (s) memberi kita Surat al-Baqarah yang pertama, dan kemudian beliau mengatakan tentang sepuluh ayat pertama dan terakhir dari Surat al-Kahfi, karena inna ma` al-`usri yusraa, “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. (94:6),” dan jadikan sesuatu itu mudah, jangan membuatnya menjadi sulit.

Nabi (s) bersabda, “Yassiruu wa laa tu`assiruu, mudahkanlah dan jangan kau persulit.”

فَجِئْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ سُورَةٌ لَهِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ثُمَّ قَرَأَ إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

Suatu hari Nabi (s) sangat gembira, sebagaimana dilaporkan oleh Sayyidina `Umar (r) (Nabi (s) ingin memberi sesuatu yang manis kepada umatnya.  Sepanjang hidupnya, beliau khawatir, tidak tidur, sangat memperhatikan umatnya ketika malam, sampai Sayyida `A’isyah (r) berkata, “Wahai Nabi Allah!  Mengapa engkau salat dan salat begitu banyak hingga kakimu bengkak?)

Dan Nabi (s) bersabda, “Ini adalah hari terbaik di bumi, ini adalah yang terbaik, kabar paling menggembirakan yang pernah aku dengar!” Dan beliau berkata, laqad unzila `alayya hadzihi ‘l-layla afdhal ma tala`t `alahyi ’sy-syams. “Malam ini sebuah ayat diturunkan dan ini lebih baik daripada terbitnya matahari di mana pun.”

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا

Inna fatahnaa laka fathan mubiina.

Sesungguhnya, Kami telah memberikan kepadamu (wahai Muhammad!) kemenangan/pembukaan yang nyata.   (Surat al-Fath, 48:1)

“Kami telah memberikan kepadamu suatu pembukaan yang nyata,” dan itu adalah pembukaan sampai Hari Kiamat.

795 وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ سُورَةَ الْكَهْفِ وَعِنْدَهُ فَرَسٌ مَرْبُوطٌ بِشَطَنَيْنِ فَتَغَشَّتْهُ سَحَابَةٌ فَجَعَلَتْ تَدُورُ وَتَدْنُو وَجَعَلَ فَرَسُهُ يَنْفِرُ مِنْهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ لِلْقُرْآنِ

Ada seseorang yang membaca Surat al-Kahfi duduk di bawah pohon sendiri.  Ia telah mengikat kudanya sangat kuat dengan dua tali, karena itu adalah kuda yang sangat liar dan ia akan melarikan diri, dan sebuah awan datang di atasnya dan mendekatinya dan awan itu menutupi daerah itu, di atas kudanya.  Kudanya mulai memberontak berusaha untuk melarikan diri.  Itu adalah kuda yang liar dan kuat, tetapi ia tidak bisa melarikan diri dari situasi itu. Ketika awan itu datang mendekat, ia berusaha untuk melarikan diri, dan di pagi hari orang itu mendatangi Nabi (s) dan menceritakan apa yang terjadi.  Nabi (s) berkata kepadanya, tilka as-sakiinatu tanazalat bi’l-Qur’an, “Itu adalah sakinah,ketenangan, kedamaian, yang turun bersama kitab suci al-Qur’an dan kuda itu takut dengan sakinah yang turun.” Karena kadang-kadang, misalnya ketika kalian bangun, bulu roma kalian merinding karena sesuatu yang baik atau sesuatu yang buruk, begitu pula dengan rahmatullah itu yang membuat kuda menjadi gemetar, jadi apapun yang datang, ia juga mencakup kuda dan orang itu.

Saya akan mengakhiri dengan hadits ini,

من القرآن سورة ثلاثون آية شفعت لرجل حتى غفرت له ،وهي‏:‏ تبارك الذي بيده الملك

Min al-qur’anu suratun tsalaatsuun ayati syufi`at li rajulin hatta ghufirat lahu.wa hiya tabaarak alladzii bi-yadihi’l-mulk.

Ada sebuah Surat di dalam al-Qur’an yang berisi tiga puluh ayat, yang terus memberikan syafaat bagi seseorang sampai dosa-dosanya diampuni.  Surat ini adalah ‘Maha Suci Allah yang di Tangan-Nyalah segala Kerajaan.’

(Diriwayatkan oleh Abu Hurayrah; Tirmidzi)

“Ada sebuah Surat di dalam al-Qur’an yang berisi tiga puluh ayat, Surat itu akan memberikan syafaat bagi seseorang sampai ia diampuni.”  Surat itu terus meminta dan meminta sampai orang itu diampuni.  Apakah Surat itu?  Surat al-Mulk, dan banyak di antara kalian yang mengetahuinya.

(Doa Penutup.)

http://www.sufilive.com/Do_Not_Turn_Your_Homes_into_Graveyards-5503.html

© Copyright 2014 Sufilive. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.  Transkrip ini dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta Internasional.  Mohon untuk menyebutkan Sufilive ketika membagi tulisan ini. JazakAllahu khayr.

Kalbu para Sahabat (r)

Khotbah Jumat, 30 November 2001

Syekh Hisyam Kabbani

Renungkan keampuhan kalbu para Sahabat.  Mereka melakukan perjalanan ke seluruh dunia dan mampu menarik orang-orang untuk masuk Islam walaupun tidak fasih dalam berbagai bahasa.  Seorang Sahabat dapat mengadakan perubahan bagi suatu bangsa.  Bayangkan kehidupan Abu Ayyub al-Anshari (r).  Beliau pindah ke Turki, tanpa mengetahui bahasa Turki.  Beliau tinggal hingga akhir hayatnya di sana dan dikenal sebagai Tokoh Islam di Turki.  Sahabat lainnya membawa Islam ke Spanyol.  Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, apa rahasia yang diberikan Allah (swt) ke dalam kalbu mereka?  Mengapa para ulama sekarang tidak mempunyai kekuatan semacam itu?  Nabi Muhammad (s) membawa kekuatan itu untuk seluruh umat.  Pada abad ketiga dan keempat, yang merupakan era para Sahabat dan Tabi’iin, umat Islam sanggup memberi kontribusi terhadap perubahan yang berlangsung secara dinamis.  Jika kita tidak bisa melakukan hal yang sama, pasti ada sesuatu yang salah dengan kita sekarang ini.  Kini negeri-negeri Muslim mempunyai miliaran dolar dari minyak.  Mereka mencetak buku-buku dalam jumlah yang sangat banyak tetapi mereka hanya mampu membawa sedikit orang ke dalam Islam.  Ada sekitar 1.2 miliar Muslim di seluruh dunia, dan jumlahnya hanya bertambah sedikit setiap harinya.  Peningkatannya itu dapat diabaikan, ibarat langkah seekor semut.

Ketika Anas bin Malik (r), seorang Sahabat Nabi (s) mendekati akhir hayatnya, beliau bertanya kepada para sahabat-sahabatnya, “Maukah kalian mendengar hadis yang belum pernah didengar oleh orang lain, dan jika aku wafat, maka tak seorang pun akan mendengarnya?” Mereka menjawab, “Ya.”

Beliau mengatakan bahwa, “Rasulullaah (s) berkata kepada para Sahabatnya, ‘Pada Hari Kiamat, ilmu akan dicabut–yurfa’u al-ilm—dan kebodohan akan meningkat.’  Para Sahabat bertanya, ‘Bagaimana ilmu itu akan dicabut?’ Rasulullah (s) menjawab, ‘Dengan wafatnya para ulama.’”

Renungkan hal ini!  Ada 124.000 Sahabat yang duduk bersama Nabi (s) dan mempelajari tradisi beliau, tetapi hanya ada 10 atau 15 orang yang memenuhi persyaratan untuk memberikan fatwa.  Saya sarankan agar kalian melihatnya di dalam buku-buku sejarah.  Setelah masa Sahabat, para Tabi’iin dan Tabi’ tabi’iin tidak membuat peraturan-peraturan baru, tetapi hanya menggunakan peraturan Islam sebelumnya.  Hanya beberapa ratus ulama yang mampu memberikan fatwa.  Mereka sangat teliti dan takut untuk membuat kesalahan.  Kontras sekali dengan sekarang, tampaknya semua orang memberikan fatwa.  Kita katakan, ‘Inilah apa yang aku pahami dan begitulah mekanisme kerjanya.’  Jadi sekarang orang-orang bagaikan ulama yang mengeluarkan fatwa.  Setiap orang juga suka meniru kebebasan ala Barat.  Muslim mencoba membuat keputusan dengan cara Barat.  Ini adalah jahil—suatu bentuk kebodohan.

Di sekolah, anak-anak bisa mengambil kursus teknik, atau kursus medis dan sebagainya, tetapi mereka tidak bisa mempelajari korupsi.  Sekarang sebagai tambahan terhadap pengetahuan teknis yang kita pelajari untuk hidup kita, generasi muda juga mempelajari ide-ide berbeda yang tidak ada kaitannya dengan pelajaran sekolah mereka—yang tidak berhubungan dengan pelajaran mereka.  Inilah yang dimaksud dengan meningkatnya kebodohan.  Di masa lalu satu-satunya yang orang inginkan setelah kerja adalah pulang ke rumah dan berusaha membesarkan anak-anaknya dengan sebaik-baiknya.

Dan hadis itu berlanjut, ‘wa yasyrab al-khamr’–dan mereka akan minum anggur.  Saya melihat banyak orang Muslim yang melakukan salat tetapi juga masih minum alkohol.  Beberapa Muslim hanya berhubungan dengan Islam atau masjid pada saat  pernikahan atau kematian saja.  Ini adalah situasi yang umum di negara-negara Muslim di Timur Tengah dan Asia Tengah.

Selanjutnya, “Perzinaan semakin meluas.”  Perzinaan terjadi di mana-mana dan menjadi kebiasaan.  Anak-anak muda baik pria maupun wanita yang berpakaian bagus atau mengendarai mobil mewah, menemukan kesempatan untuk berzina dengan mudah.  Hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidina Anas (r) berlanjut, “Kaum pria akan meninggal dunia.”  Perlu dicatat bahwa hal ini terjadi tepat setelah perzinaan.  Hal ini menunjukkan bahwa pria akan mati dalam perang atau karena penyakit.  Saya mengetahui ada beberapa orang yang akan pergi meninggalkan negeri Muslim selama bulan Ramadan untuk menghindari puasa.  Saya melihat hal ini.  Mereka pergi ke berbagai tempat di Eropa, karena mereka ingin berada jauh dari masyarakatnya.  Di sana mereka merasa bebas untuk pergi ke mana saja, incognito, dan melakukan apa yang mereka suka.  Oleh sebab itu Allah (swt) menciptakan suatu penyakit yang kebanyakan diderita kaum pria.  Prostitusi adalah penyebab langsungnya, tetapi prialah yang lebih banyak menderita dari penyakitnya.  Mereka juga meneruskan penyakitnya kepada anak-anak dan anak cucunya.

Narasinya berlanjut, “wa yabqa an-nisa”—“Wanita akan hidup sedangkan pria meninggal dunia.”  Pada akhirnya akan ada 50 wanita untuk setiap pria.  Sekarang kita telah melihat bahwa jumlah pria semakin sedikit.  Statistik memperlihatkan bahwa prosentasi tinggi meninggalnya pria terjadi selama Perang Dunia II, khususnya di Jerman.

Nabi (s) telah menyebutkan suatu penyakit 1400 tahun yang lalu yang sekarang menjadi kenyataan.  Allah (swt) memberi Nabi (s) suatu kemampuan yang istimewa yang disebut ‘ulum al-awwaliin wal-aakhiriin—ilmu tentang hal-hal yang pertama dan terakhir.  Nabi (s) bersabda, “Enam peristiwa yang akan mendahului Hari Kiamat adalah: kematianku, munculnya berbagai penyakit [dan empat peristiwa lainnya].”  Beliau menggambarkan kematian akibat suatu penyakit dengan ‘okaas al-ghanam’.  ‘Okaas’ adalah suatu penyakit yang melanda biri-biri, kambing atau hewan ternak lainnya.  Saliva dan mukosa mengalir secara berlebihan melalui lubang hidung dan mulut hewan dan jika tidak disembelih ia akan mengalami kematian yang mengenaskan.  Kita telah menyaksikannya di Eropa belum lama ini.  Jutaan biri-biri tewas dan jutaan lainnya disembelih untuk menghindari penyebaran penyakitnya.  Bagaimana mungkin Nabi (s) bisa melihat hal ini sebelumnya?

Dalam hadis lain disebutkan bahwa salah satu tanda Hari Kiamat adalah tasliim al-khassa—orang-orang memberi salam hanya kepada orang yang mereka kenal.  Mengucapkan “assalamu alaykum” “salam sejahtera bagimu”—kepada setiap Muslim, baik yang dikenal maupun tidak, pria maupun wanita adalah sunnah.  Namun demikian sekarang ini Muslim hanya memberi salam kepada teman-teman terdekatnya.  Skenario yang berlaku bagi Muslim di negara-negara Barat adalah, “Jika aku tidak mengenalmu, aku tidak akan memberi salam.”  Mungkin ini disebabkan karena, “Aku tidak mengenalimu sebagai Muslim.”  Di negeri-negeri Muslim, banyak orang yang beragama Islam, tetapi tetap saja kita tidak memberi salam.  Hal ini dikarenakan tidak adanya kehangatan di antara kita—yang ada hanya es.  Mengapa?  Karena hubungan kita tidak lagi berdasarkan Hubungan Ilahiah, tetapi hanya berlandaskan ketertarikan diri, hubungan duniawi.

Semoga Allah (swt) membimbing kita ke jalan yang benar, dan menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang bertaqwa.