Pentingnya Bersahabat dengan Ulama dan Awliya

11691356765_f47d041f7e_b

 

SERI MUTIARA HIKMAH

Bagian 2

Pentingnya Bersahabat dengan Ulama dan Awliya

Kumpulan tulisan bersumber dari ajaran-ajaran Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Qabbani qs dan Syekh Gabriel Fouad Hadad

dirangkum oleh Muhammad Dedy Wicaksono

 

A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim

Bismillahirrahmanirrahiim

Walhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala aalihi wasahbihi wa man tabi’ahu bi-ihsanin ilaa yaumiddin

 

Pengantar Bagian 2

Pada bagian pertama, telah dijelaskan secara singkat bagaimana adab hormat dan tabarruk merupakan bagian integral tradisi keilmuan Islam selama lebih dari 1400 tahun ini.  Telah dijelaskan pula secara singkat, dasar naqli pentingnya penghormatan pada mereka yang lebih tua, atau mereka yang memang dimuliakan Allah Taala karena ketinggian ilmunya atau ketinggian akhlaq dan ketaqwaannya.  Sedikit ilustrasi telah pula diberikan yang menjelaskan bahwa penghormatan pada ulama atau awliya sebenarnya adalah perluasan dari penghormatan yang memang kita lakukan sehari-hari secara berbeda pada orang yang berbeda pula.

Apakah kemudian yang menjadi latar belakang sekaligus hikmah dari perlunya interaksi langsung kebanyakan kita sebagai murid, dengan para ulama, atau para awliya?  Dan apakah latar belakang serta hikmah perlunya adab hormat serta tabarruk dalam interaksi kita dengan mereka ini?

 

Pentingnya Bersahabat dengan Awliya dan Ulama: 

Tinjauan Naql

Pada bagian pertama telah diberikan sedikit ilustrasi bagaimana Imam Malik rahimahullah mengajarkan hadits kepada murid-murid beliau.  Dalam tradisi Islam, esensi interaksi (atau dalam terminologi islamnya: SHUHBAH, asosiasi, persahabatan) antara seorang guru dan murid, seorang alim dengan muridnya, tidaklah semata-mata demi transfer ilmu atau pengetahuan, namun lebih daripada itu, adalah sebagai transfer HIKMAH sebagai esensi dan inti dari Pengetahuan.

Sebagaimana Allah Taala berfirman:

Yu’tii ‘l-hikmata man yasyaa’u wa man yu’ta ‘l-hikmata faqad ‘uutiya khayran katsiiran wa maa ya ‘dz-dzakkaru illaa uluu ‘l-albaab [QS Al-Baqarah 2:269] “

Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya.  Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.  Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

”

Dalam bahasa guru kami, Mawlana Syekh Nazim Al-Haqqani qaddasAllahu sirrahu, Hikmah ini disebut pula sebagai Pemahaman.  Menurut beliau, pemahaman adalah suatu anugerah atau karunia Allah.  Pemahaman lebih dari sekedar penghafalan.  Orang yang paham tidak sekedar hafal apa yang tersurat dari suatu teks keagamaan, baik itu Quran ataupun Hadits, tetapi ia juga paham apa yang tersirat di balik yang tersurat, dan mampu menderivasi dari pemahaman tersebut, aplikasi untuk kondisi dan situasi yang berbeda sesuai tuntutan ruang dan zaman.

Sebagaimana pula dengan hal-hal lain dalam dunia sebab-akibat di alam fana ini, pemahaman atau hikmah ini tidaklah bisa didapat kecuali dengan mencari sabab/jalan untuk memperolehnya.

fa-atba’a sababaan [QS 18:85]

maka dia pun menempuh suatu jalan.

 

Beberapa kali kata sabab disebut dalam Surat Al-Kahfi.  Ini menunjukkan pentingnya mencari jalan untuk mendapatkan sesuatu; tidaklah mungkin Allah Taala mengaruniakan sesuatu tanpa kita terlebih dahulu mencarinya, kecuali bagi orang-orang tertentu yang Ia kehendaki.

Dan jalan/asbab beroleh hikmah itu, tiada lain adalah dengan berkhidmat pada ulama’ dan awliya sebagai pewaris Nabi shall-Allahu `alayhi wasallam.  Sebagaimana Allah Taala perintahkan kita mengulang-ngulang doa berikut dalam salat-salat kita setiap hari:

Ihdina ‘sh-shiratha ‘l-Mustaqiim, Shiratha ‘l-ladziina an`amta ‘`alayhim ghayri ‘l-maghdhuubi `alayhim wa la ‘dh-daalliin”[QS 1:6-7] “

Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan mereka yang Engkau karuniakan nikmat, bukan mereka yang Kau murkai, dan bukan pula mereka yang tersesat.

 

Allah Taala memberikan petunjuk atau di sini, bahwa jalan lurus tersebut hanya dapat ditemukan dengan mencari dan berkumpul (baca: berinteraksi, ber-shuhbat, bersahabat) dengan orang-orang yang Ia (swt) karuniakan nikmat (baca: hidayah, taufiq dan hikmah, atau  shirata ‘l-mustaqiim tadi) pada mereka, dan bukan berkumpul dengan mereka yang Ia murkai atau tersesat.   Allah Taala di sini, dalam menjelaskan Shiratha ‘l-Mustaqiim tersebut tidak langsung serta merta menyebut Al-Quran atau Al-Kitab [buku tertulis].   Al-Quran atau Al-Kitab baru disebut pada ayat berikutnya di surat berikutnya:

Alif Laaam Miiim. Dzaalika ‘l-kitaabu laa rayba fiihi, hudan li ‘l-muttaqiin [QS 2: 1-2] “

Alif Laam Miim, Inilah Al-Kitab yang tak ada keraguan padanya.  Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.

Allah Taala tidak langsung menggandengkan Al-Kitab dengan Shiratha ‘l-Mustaqiim, melainkan Ia (swt) melampirkan syarat Shiratha ‘l-Ladziina an’`amta ‘`alayhim. Jalan mereka yang Kau beri nikmat dst.  sebelum beranjak ke Al-Quran atau Al-Kitab.

Dan siapakah Alladziina an`amta `alayhim, orang-orang yang Kau beri nikmat itu?

Menilik firman Allah Taala lainnya:

wa man yuthi`i allaaha wa ‘r-rasuula fa ’ulaa’ika ma`a ‘l-ladziina an`ama ‘l-Laahu `alayhim mina ‘n-nabiyyiina wa ‘sh-shiddiiqiina wa ‘sy-syuhadaa’i wa ‘sh-shaalihiina wa hasuna ulaa’ika rafiiqaan [QS. 4:69]

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh.  Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Mereka yang diberi nikmat oleh Allah itu tiada lain adalah para Nabi, Shiddiiqiin atau Awliyaullah, yaitu mereka yang benar dan menepati janjinya pada Allah pada Hari Perjanjian di alam ruh [lihat QS 33:23] untuk taat pada-Nya dan pada Rasul-Nya, kemudian orang-orang yang syahid, yang menyaksikan kebenaran risalah Rasul, dan disusul hamba-hamba Allah yang saleh.   Ayat tersebut ditutup dengan wa hasuna ulaa-ika rafiiqan, dan merekalah sebaik-baik teman, yang menunjukkan sekali lagi pentingnya berteman, bersahabat, berinteraksi dengan para pewaris Nabi: Ulama dan Awliya.

 

Sebuah Ilustrasi

Untuk menunjukkan pentingnya interaksi ini sebagai asbab masuknya hikmah dan pemahaman akan agama Allah, kita coba menengok kembali kisah shuhbat antara K.H. Hasyim Asy`ari dengan salah satu guru beliau, Syaikhuna Kholil Bangkalan.  Konon, almarhum K.H. Hasyim Asy`ari saat nyantri ke almarhum Kyai Kholil Bangkalan, malah tidak menerima pelajaran apa pun secara formal, melainkan hanya disuruh untuk menggembalakan ternak milik Kyai Kholil.  Namun, seperti kemudian kita pahami dari sejarah, betapa pribadi Hasyim Asy`ari yang terbentuk adalah pribadi yang luhur dan mumpuni, dan beliau inilah pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang dan pendiri Nahdlatul Ulama.  Bahkan, sepulang beliau dari Hijaz, beliau dikenal sebagai ulama ahli hadits yang memiliki ijazah (izin) untuk mengajarkan Sahih Bukhari.  Dan setiap bulan Ramadan, di pesantren Tebu Ireng yang beliau dirikan, beliau mengadakan majelis Sahih Bukhari, yang dihadiri banyak santri, termasuk mantan guru beliau, Mbah Kholil Bangkalan.  Berikut saya kutipkan dari [1]:

[Awal Kutipan]

Jombang 1933.  Terjadi dialog yang mengesankan antara dua ulama besar, K.H. Muhammad Hasyim Asy`ari dengan K.H. Mohammad Cholil, gurunya. “Dulu saya memang mengajar Tuan.   Tetapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan,” kata Mbah Cholil, begitu kiai dari Madura ini populer dipanggil.  Kiai Hasyim menjawab, “Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian.  Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang.  Bahkan, akan tetap menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya.”  Tanpa merasa tersanjung, Mbah Cholil tetap bersikeras dengan niatnya. “Keputusan dan kepastian hati kami sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa kami akan turut belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan,” katanya.  Karena sudah hafal dengan watak gurunya, Kiai Hasyim tidak bisa berbuat lain selain menerimanya sebagai santri.

Lucunya, ketika turun dari masjid usai shalat berjamaah, keduanya cepat-cepat menuju tempat sandal, bahkan kadang saling mendahului, karena hendak memasangkan ke kaki gurunya.

Sesungguhnya bisa saja terjadi seorang murid akhirnya lebih pintar ketimbang gurunya.  Dan itu banyak terjadi.  Namun yang ditunjukkan Kiai Hasyim juga Kiai Cholil; adalah kemuliaan akhlak.  Keduanya menunjukkan kerendahan hati dan saling menghormati, dua hal yang sekarang semakin sulit ditemukan pada para murid dan guru-guru kita.

[Akhir kutipan]

 

Artinya, dalam Islam kita diajarkan untuk terjadinya proses pemindahan ilmu dan hikmah secara sempurna, selain praktik-praktik pemindahan ilmu secara lahiriah diperlukan pula adab.  Adab ini a.l. berupa ketakziman sang santri atau murid pada kyai dan pada syekhnya yang telah dimuliakan Allah Taala dengan hikmah dan pemahaman agama.  Kepada para guru/syekh/kyai yang saleh dan taqwa ini, ketakziman murid bisa berbentuk “tabarruk” atau mengharapkan berkah, misal dengan mencium tangan sang kyai, dengan menggunakan barang-barang bekas digunakan oleh sang kyai, dan lain-lain bentuk tabarruk.  Dalam hal ini yang perlu dipahami adalah, bahwa kaum muslim yang melakukan “tabarruk” ini tetap paham dan yakin, bahwa sumber barokah adalah Allah ‘Azza wa Jalla.  Adapun tangan Syekh, atau sisa makanan sang kyai, bekas air wudhu’ kyai, sandal sang Guru, dll., adalah jalan/wasilah buat memperoleh barokah Allah.  Barokah Allah ini bisa berupa mudahnya penyerapan ilmu, perbaikan akhlaq sang murid oleh Allah (swt), dan lain-lain.

Esensi tabarruk sebenarnya adalah cinta.  Ketika kita mencintai seseorang yang dicintai Allah, maka apa pun yang terkait dengan orang tersebut, kita pun mencintainya.  Bukankah hal yang sama kita lakukan pula terhadap kekasih atau istri/suami yang kita cintai?  Dan karena orang yang kita cintai tersebut, dalam hal ini Ulama atau Awliya’ adalah mereka yang dicintai dan mencintai Allah, mencintai mereka (dan atau apa pun yang terkait dengan mereka) insya Allah akan mengundang cinta Allah pada kita. Itulah esensinya.

Praktik “tabarruk” dan penghormatan ini sebetulnya sudah ada sejak zaman Rasulullah (s) bahkan sejak sebelum beliau (s).  Dan karena ulama yang taqwa adalah pewaris para Nabi (lihat tulisan bagian 1 yang lalu), adalah wajar kalau kemudian praktik tabarruk juga dilakukan pula pada orang-orang saleh ini.  Sebagaimana Allah Taala sendiri telah mengatakan (dalam QS 4:69 di atas) bahwa mereka (para Nabi, para shiddiqin, para syuhada dan salihin) adalah sebaik-baik teman, yang menjadi wasilah sampainya hidayah Allah, serta Hikmah bagi diri kita. Insya Allah.

 

Penutup Bagian 2

Untuk menutup bagian ke-2, serial tulisan Adab dan Tabarruk ini, saya hendak menyampaikan sebuah hadits yang diriwayatkan pada saya dari Syekh Zakaria bin `Umar Bagharib di Singapura, dari salah seorang guru beliau di Singapura, al-Marhum al-Fadhil Syekh `Umar ibn `Abdallah ibn Ahmad ibn Salim ibn `Abdallah ibn Abu Bakr al-Khatib at-Tarimi asy-Syafi’i [2],  seorang faqih mazhab Syafi’i.  Syekh Zakaria Bagharib mengajarkan kepada saya hadits ini yang beliau dapat dari Almarhum Syekh `Umar Al-Khatib menjelang wafatnya beliau di tahun 1997:

Hudhuuruka aw Wuquufuka bayna yadayyi waliyyin hayyin aw mayyitin khayrul laka min an-taqtha’a fi ‘l-`ibaadati irban irban”

Kehadiranmu atau diam-mu di hadapan seorang Wali (literalnya: di antara tangan seorang Wali) baik wali itu masih hidup atau telah wafat, adalah lebih baik daripada dirimu beribadah nafilah sebanyak-banyaknya (literalnya: lebih baik daripada dirimu memotong dalam ibadah berkeping-keping)”

Hadits di atas menunjukkan sekali lagi, betapa pentingnya umat ini dekat dan berinteraksi, serta bersahabat dengan para Kekasih Allah Taala, para Ulama yang diakui ketaqwaannya serta memiliki isnad keilmuan dan hikmah yang bersambung hingga Rasulullah shallAllahu `alayhi wasallam,  serta para Awliyaullah, kekasih-kekasih Allah.

Insya Allah, pada bagian berikutnya kita mencoba mengulas praktik-praktik tabarruk yang bahkan telah dilakukan sejak zaman Rasulullah shall-Allahu `alayhi wasallam oleh para sahabat kepada beliau shall-Allahu `alayhi wasallam.

 

Wallahu A’lam bishshawab

wassalamu`alaykum wa rahmatullah wa barakatuh

Muhammad Dedy Wicaksono

 

Catatan Kaki:

[1] http://muslimdelft.nl/titian_ilmu/biografi/hadratus_syaikh_kyai_haji_m_hasyim_asyari.php dibaca Jumat, 23 Juni 2006

[2] Tentang Syekh ‘Umar al-Khatib, dapat dibaca lebih lanjut di http://sufistic.red-sulphur.org/2005/11/20/shaykh-umar-ibn-abdallah-al-khatib/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s