Rahasia Tarekat Naqsybandi berada di Tangan Syah-i-Mardaan

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

20 September 2014   Feltham, UK

Acara di Manor House

 

As-salaam `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh. Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim. Alhamdulillahi rabbi ‘l-`alamiin, `alaa asyrafi ‘l-mursaliina wa ‘sh-shalaat wa ‘s-salaam `alaa Sayyidina Muhammad (s) wa `alaa aalihi wa Shahbihi ajma`iin. 

Merupakan sebuah kehormatan untuk berada di antara kalian, karena jika bukan karena kalian, saya akan berbicara dengan siapa?  Jadi saya memerlukan kalian dan itulah sebabnya saya berada di sini, karena setiap orang adalah sebuah bunga bagi Mawlana Syekh, setiap orang mempunyai warna yang berbeda, mempunyai madu yang diisap oleh lebah dengan rasa yang berbeda, dan setiap orang disayang oleh Mawlana Syekh Nazim, semoga Allah memberkati ruhnya! 

Dan itulah sebabnya mengapa Grandsyekh `AbdAllah (q) sering berkata, “Awliyaullah memerlukan murid-muridnya.  Murid tidak memerlukan syekh, tetapi syekh memerlukan murid, kalau tidak, apa yang dapat mereka lakukan?  Kepada siapa mereka bicara?”  Beliau mengatakan lebih dari itu, tetapi saya tidak dapat mengatakannya, saya akan menyimpannya.  Tetapi saya dapat mengatakan, “Yaa Sayyidii, yaa Rasuulallah, yaa Habiiballah, yaa Qurrat al-`Ayyun, yaa man arsalnaak Allahu ta`ala, yaa Rahmatan li ‘l-`Alamiin, yaa Syaf`ii ’l-mudznibiin, anta ‘l-Muda`fi `ani ‘l-muzhlimiin, anta ‘l-Nabiyy, anta ‘r-Rasuul, anta ‘l-Habiibi ’Lladzii turja syafa`atuhu li kulli hawlin min al-ahwali muktahimi, nahnu fii ahwaalin katsiiratin, wa nahnu `alaa abwaabin huruubin, fa narju yaa Rasuulallah, an taj`alana bayna yadayk wa tahta rijlayk, insyaa-Allah! 

Engkau adalah Sang Perantara, engkaulah yang kami tuju untuk meminta keselamatan dari segala bencana!  Kami berada dalam berbagai bencana dan berada di pintu peperangan besar, dan kami meminta darimu yaa Rasuulullah, untuk menjadikan kami berada di antara tanganmu dan di bawah kakimu!)

 

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Wa law annahum idz zhalamuu anfusahum ja’uuka f ’astaghfaruullaaha w ’astaghfara lahumu ‘r-rasuulu la-wajaduu ’Llaaha tawwaaba ‘r-rahiima 

Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya diri mereka, mereka datang kepadamu, dan memohon ampunan Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, mereka akan mendapati bahwa Allah Maha Penerita Tobat lagi Maha Penyayang. (Surat an-Nisaa, 4:64)

 

“Jika mereka ketika menganiaya diri mereka, mereka datang kepadamu, yaa Rasuulallah! Nahnu mazhlumuun”  Ketika seseorang berbuat dosa, ia datang kepadamu untuk memohon ampunan Allah, tetapi orang-orang yang dizalimi, mereka juga datang kepadamu untuk membebaskan mereka dari kezaliman yang mereka alami!  Kami telah dizalimi oleh orang dekat kami!  Kami telah dizalimi setelah 60 tahun menyerahkan kehidupan kami karena cinta kami kepada Grandsyekh `AbdAllah al-Fa’iz ad-Daghestani (q) dan kepada Mawlana Syekh Nazim (q)!  Kami telah dizalimi! 

Allah (swt) berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُو

Inna Allaha yudaafi`u `ani ’Lladziina aamanuu.

Allah akan membela orang-orang beriman. (Surat al-Hajj, 22:38)

 

Allah (swt) akan membela orang-orang beriman yang telah dizalimi!

 

لاَّ يُحِبُّ اللّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوَءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلاَّ مَن ظُلِمَ وَكَانَ اللّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

Laa yuhibullahu ’l-jahra bi ’s-suuwi min al-qawli illa man zhulima wa kaana ’Llahu sam`iyan `aliiman.

Allah tidak menyukai ucapan buruk  (yang diucapkan) dengan terus terang (di muka publik), kecuali oleh orang yang telah dianiaya, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Surat an-Nisaa, 4:148)

 

Allah tidak suka melihat orang-orang berbicara sesuatu yang tidak baik, kecuali ketika mereka telah dizalimi.  Mereka telah menzalimi kita dan sebagian dari mereka berusaha sebaik-baiknya untuk memojokkan kita dan mereka ingin menampar kita, tetapi engkau mempunyai singa-singa yaa Rasuulallah!  Engkau mempunyai Sayyidina `Ali (r), yaa Syah-i-Mardaan, yaa Asadullah al-Ghaalib!  Nabi (s) bersabda, haqqik (di kananmu):

أنا مدينة العلم و علي بابه

Anaa madinatu ‘l-`ilmi wa `Aliyyun baabuha.

Aku adalah kota ilmu dan `Ali adalah pintunya (atau gerbangnya). (al-Haakim, Tirmidzi)

 

“Aku adalah Kota Ilmu dan Sayyidina `Ali (r) adalah pintunya!” Kami tahu bahwa engkau akan membela kami, kau dan Nabi (s), dan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r), Sayyidina `Umar (r), Sayyidina `Utsman (r), dan seluruh Sahabat (r) akan membela kami, karena kami telah dizalimi! Mengapa Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil, sering kali dan lebih dari satu tahun menyebut nama ‘Syah-i-Mardaan’,pada Sayyidina `Ali (r)?  Mengapa beliau memanggil Sayyidina `Ali (r)?  Karena mereka merasakan kezaliman itu akan datang, mereka tahu bahwa kezaliman yang akan memecah belah tarekat ini akan datang, yang bertentangan dengan apa yang Allah katakan,

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ

W `atasimuu bi hablillaahi jamiyy`an wa laa tafaraquu.

Berpegangteguhlah pada tali Allah dan jangan bercerai berai. (Surat Aali-`Imraan, 3:103)

 

 

Musyahadah:  Sebuah Keramat Mawlana Syekh Hisyam 

Yaa Sayyidii, yaa Rasuulullah, yaa Habiiballah, asyukru-lak, wa ‘l-hamdulillah, wa ‘l-`azhaamatu kibriyaa, kulil’lah, wa ‘l-muhabbatu walak, wa lii dzalik ji’tana bi bisyaaratan kabiir, bisyaraatan `azhiima!  Ya Rasulallah (s)!  Syukur bagimu, segala pujian, keagungan, kebesaran dan cinta bagimu!  Kau datang kepada kami karena semua kemegahan adalah bagi Allah, segala pujian adalah bagi Allah dan bagimu, rahmat adalah bagi Allah dan bagimu!  Untuk itulah engkau datang kepada kami dengan kabar gembira, untuk membantu kami, membebaskan kami dari kezaliman, kezaliman yang telah dilakukan oleh orang yang kami cintai, dan itulah yang menyakitkan, ketika kalian mencintai dan membesarkan seseorang, tetapi bukannya kata-kata manis yang kalian dapatkan, kalian malah mendapat kata-kata yang kasar, tetapi biarlah. Dan kami katakan, saya katakan, saya tidak suka mengatkatan “saya”, tetapi karena hal itu terjadi; aku sangat bergembira, yaa Rasuulallah, atas mimpi berjumpa denganmu!  Aku melihatmu di dalam mimpi.  Aku sangat tertekan malam itu, dua bulan yang lalu dan begitu tertindas, tertekan, dan stes, dan aku serahkan urusan itu kepada Allah (swt) dan Nabi-Nya (s), karena Allah Maha Mengetahui dan Nabi (s) pun mengetahui. 

Malam itu, setelah saya salat Fajar dan kemudian tidur, wa raa’itu ma raa’itu fi ’l-manaam, saya seperti melihat sebuah ru’yah (penglihatan) yang sesungguhnya bukan seperti mimpi, ma bayn al-nawmi wa ‘l-yaqazhah, antara tidur dan tidak tidur, seluruh dunia lenyap dan hanya ada sebuah kubah raksasa yang melingkupi seluruh dunia dan kubah itu penuh cahaya. 

Dan saya tidak mengatakan hal ini untuk menjadi sombong atau arogan; astaghfirullah, saya bukanlah orang yang bahkan tidak pantas untuk berada di bawah sepatu orang-orang.  Kami tidak arogan karena Mawlana Syeh Nazim (q) memoles kami dengan sangat baik, dua syekh dari Tarekat Naqsybandi cabang Daghestani[1], dan banyak syekh dari cabang lain yang sering datang ke rumah ayah saya. 

Alhamdulillah, ayah saya mempunyai kekayaan dan rumah yang sangat besar; barangkali masjid ini hanya menjadi satu ruangan dari rumah itu.  Semua ulama, para cendikiawan, para awliya datang ke sana.   Di rumah itu, kami dibesarkan dalam ribaan banyak awliyaullah, bukan hanya satu atau dua wali, dan bukan hanya dengan Grandsyekh `AbdAllah al-Fa’iz ad-Daghestani (q) dan Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil (q), yang merupakan syuyukh kita yang kita banggakan, tetapi banyak syekh dari tarekat lainnya yang juga datang, kebanyakan dari Naqsybandi, Qadiri, Syadzili dan tarekat lainnya.  Setiap hari kami mempunyai seorang atau dua orang tamu yang datang dari Suriah atau dari segala penjuru dunia untuk tinggal di rumah kami dan kami menjamu mereka dan mereka mempunyai lingkaran ilmu dengan paman saya. 

[Melanjutkan narasi dari penglihatan Mawlana]  Saya berada dalam keadaan antara tidur dan tidak tidur, dan saya melihat seluruh dunia lenyap dan sebuah kubah raksasa dengan banyak orang di belakang dan saya berdiri bersama mereka.  Saya melihat kubah raksasa ini, [ia mencapai] cakrawala dan terbuka.  Saya berkata pada diri saya sendiri, “Mengapa aku harus tinggal di sini?  Aku dengar Nabi (s) berada di sana.”  Kemudian saya berjalan dan orang-orang lain berada di belakang dan tidak ada yang diperintahkan untuk bergerak.  Saya bergerak hinga saya mencapai shaf orang-orang yang akan salat dan mereka menunggu Nabi (s).  Saya mendekat dan saya berdiri di antara shaf itu, tepat di belakang posisi imam.  Saya mendengar suara, “Nabi (s) datang!  Beliau berada di lantai dua dan akan memimpin salat dari sana.”  Saya berkata, “Mengapa aku harus tetap berada di lantai dasar, aku akan naik ke lantai dua.”  Saya pergi ke lantai dua dan saya melihat Nabi (s) berdiri seperti itu (membungkuk), berbicara dan menggerakkan tangannya.  Saya merasa takut, tetapi saya tetap mendekat.  Ada shaf di sana dan Nabi (s) berbicara dengan orang-orang di shaf itu; itu adalah Muslim inti, bagaimana kalian menyebutnya?  Para Muslim elit yang membawa Risalah setelah Nabi (s), mereka yang menyebarkannya.  Saya berdiri di antara mereka, tetapi ketika saya sedang mendengarkan, tiba-tiba saya mendengar suara yang mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ

Inna ’Llaha yudafi`u `ani-’Lladziina aamanuu.

Sesungguhnya Allah akan membela orang-orang yang beriman!  Sesungguhnya Allah tidak menyukai pengkhianat bagi keimanan dan orang yang tidak berterima kasih.

Allah membela orang-orang yang beriman.  Saya melihat dan Nabi (s) membela saya!  Yang aneh adalah bahwa saya melihat Nabi (s) tetapi dalam waktu sekejap beliau terlihat seperti Mawlana Syekh Nazim, tak lama kemudian saya melihatnya sebagai Nabi (s) kembali, tetapi kemudian saya melihat Mawlana Syekh Nazim lagi, dan mereka berdua membela dan berbicara.  Saya tidak dapat memahami apa yang mereka bicarakan, tetapi saya tahu bahwa mereka membela saya atas perintah Allah. 

Yaa Sayyidii, yaa Rasuulullah, itu cukup untukku!  Siapa pun yang ingin mengatakan sesuatu, biarkan mereka berkata: saya mempunyai berlian saya, medali saya dari Nabi (s) dan dari Mawlana Syekh!  Itu sudah cukup untuk saya dan untuk kalian semua!  Itu adalah sebuah mimpi tetapi sarat makna, tetapi kita tidak akan membahas tentang makna-makna itu.  Namun demikian ini adalah hal utamanya: ketika kalian sungguh… mereka sungguh memikirkan kalian, Nabi (s) peduli dengan kalian dan mereka tahu bahwa kalian telah dizalimi, mazhluum, dan mereka mendukung kalian!  Mereka tidak meninggalkan kalian ketika kalian memberikan enam puluh tahun hidup kalian kepada Grandsyekh dan Mawlana Syekh, enam puluh tahun berdakwah untuk Islam, saya dan saudara saya! 

Kami mendapatkan banyak tamparan sejak hari pertama, sejak kami masih muda, karena orang-orang berkata, “Mengapa Grandsyekh tidak mencintai anak-anak kami seperti beliau mencintai kedua anak ini?”  sejak saat itu, kami tidak mengatakan semuanya.  Pada saat itu, Baha dan Muhammad bahkan belum lahir!  Tetapi masalahnya sekarang adalah mengapa Mawlana Syekh Nazim (q) selama satu tahu atau lebih pada setiap Fajr selalu menyebut, “Yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan!” bukankah begitu?  “Hayaraan, yaa Syah-i-Mardaan!” Siapakah Syah-i-Mardaan?  Sayyidina `Ali, karamallahu wajha.  Setiap kalimat Mawlana Syekh akan mengatakan, “Yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan,” karena Grandsyekh, semoga Allah memberkati ruhnya, berbicara mengenai Hari Kiamat dan ini adalah kisahnya, kisah seorang awliya, bukan kisah seorang ulama. 

Ketika Sayyidina `Ali, karamallah wajha, ditikam, sebelum beliau menyerahkan nyawanya, beliau berpesan, “Setelah engkau memandikan aku, letakkan aku pada unta dan jangan ikuti aku,” bukankah demikian?  Ini ada di dalam sejarah, ia dapat mengkonfirmasinya.  [Syekh Gibril: Ya, itu benar.]  Jadi, ketika mereka meletakkannya pada unta, mereka lalu membiarkan unta itu pergi [mengembara] dan unta itu pergi ke gurun dan lenyap.  Para Sahabat (r) menunggu sampai ada beberapa orang dari rombongan karavan datang dari seberang–dan inilah yang menurut saya awliyaullah mempunyai ru’yah (penglihatan).

Para Sahabat bertanya pada mereka, “Apakah kalian melihat seekor unta dengan jasad Sayyidina `Ali (r) padanya?”  Mereka berkata, “Tidak, kami tidak melihatnya.  Kami melihat Syah-i-Mardaan duduk menunggangi unta yang berlari!” 

Allah (swt) dapat memberi apa yang Dia inginkan, tidak ada yang dapat mengatakan “tidak”.  Jika kalian percaya atau tidak percaya, tidak ada yang meminta pendapat kalian.  Dia mengatakan ketika perintah datang bagi Sayyidina Mahdi (a) untuk datang, perubahan akan terjadi karena beliau adalah cucu Sayyidina `Ali (r)!  Itulah sebabnya mengapa Ahl as-Sunnah wa ‘l-Jama`ah berkata, “Kami tidak tahu di mana Sayyidina `Ali (r) dikuburkan,” bukan di Karbala; Karbala adalah tempat di mana Sayyidina al-Husayn (r) dibunuh, tetapi mereka mempunyai sebuah mazaar (semacam petilasan) Sayyidina `Ali (r) di sana; tidak ada yang tahu di mana Sayyidina `Ali (r) dimakamkan, tetapi para awliyaullah tahu.

 

Rahasia Mengapa Mawlana Syekh Nazim Begitu Sering Menyebut ‘Syah-i-Mardaan’ 

Suatu hari, Sayyida Fatima az-Zahra (r) dalam keadaan tidak senang–dan ini juga (kisah) dari Grandshaykh `AbdAllah (q)–dan Nabi (s) sangat mencintainya, melebihi semua istrinya, bahkan melebihi Sayyida `A’isya (r), dan beliau pun sangat mencintai Nabi (s).  Sayyida Fatima az-Zahra (r) menemui ayahnya, Nabi (s).  SubhaanAllah, betapa beruntungnya beliau!  Beliau adalah ibu kita, semoga Allah (swt) membuat kita untuk tetap bersamanya pada Hari Kiamat demikian pula di dunia dan akhirat!  Nabi (s) memandangnya dan berkata, apakah engkau tidak senang ketika Nabi (s) memandangmu?  Kita akan menjual dunia ini beserta isinya untuk pandangan Nabi (s) pada diri kita!  Qasidah ini, dari mana mereka berasal?  Dari kalbu, dari `isyq, cinta ilahi, mereka bernyanyi dengan `isyq. 

Nabi (s) berkata kepadanya, “Wahai putriku Fatima, mengapa engkau sedih?”

Beliau berkata, “Yaa Sayyidii, yaa Rasuulullah, yaa Abii, aku tidak ingin mengeluh.”

Beliau (s) berkata, “Apakah ada masalah dengan Sayyidina `Ali (r)?”

Beliau berkata, “Tidak ada masalah, tetapi Sayyidina `Ali (r) tidak selalu tidur di rumah dan aku tidak menanyakannya ke mana beliau pergi.” 

Sekarang, bila kalian terlambat satu jam, Allah Maha Tahu apa yang akan terjadi, barangkali TV akan hancur, dan segala sesuatu akan hancur, pria dan wanita sama: jika istri pergi mengunjungi ibunya atau sepupunya, suaminya menjadi kesal.  Apakah kalian seperti itu? Ishaq tidak peduli. 

Jadi Sayyida Fatima (r) berkata, “Yaa Rasuulallah, yaa Habiibi, yaa Abii!  Kadang-kadang beliau tidak pulang ke rumah selama satu, dua, atau tiga hari.”

Nabi (s) berkata, “Yaa Fatimah, jangan bicarakan hal ini kepada orang lain.  Ia tidak akan pergi ke mana-mana tanpa seizinku.  Aku memberinya izin untuk pergi ke suatu tempat dan itulah sebabnya ia menjadi sibuk.  Berdoalah untuknya.”

Beliau berkata, “Yaa Rasuulallah!  Aku senang sekarang, karena beliau berkhidmah kepadamu.”

Nabi (s) berkata, “Aku akan menceritakannya kepadamu.  Aku yang mengutusnya, karena di alam semesta ini, Allah menciptakan banyak makhluk, dan yang terdekat dengan Bumi adalah yang paling berbahaya, dan jika mereka menyerang Bumi, selesailah sudah, mereka akan membunuh semua orang!  Aku mengutus Sayyidina `Ali (r) untuk memerangi mereka sendiri, alien ini adalah yang paling dekat dengan Bumi, dan dengan pedang dan kekuatannya, karena beliau adalah Asadullah al-Ghaalib, beliau mampu menghancurkan dua pertiga dari mereka sehingga mereka tidak lagi mempunyai kekuatan untuk datang ke Bumi.  Itulah sebabnya aku mengirimnya.” 

Itulah sebabnya mengapa Mawlana Syekh Nazim (q) memanggil Syah-i-Mardaan.  Mengapa bukan pada Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r) atau Sayyidina `Umar (r) atau Sayyidina `Utsman (r)?  Beliau menyebut mereka semua, tetapi setiap orang di antara mereka, Allah (swt) memberi khusuusiyyah, suatu keistimewaan dan mereka tidak mengambil sesuatu yang bukan milik mereka, tidak seperti yang dilakukan oleh orang-orang sekarang ini.  Di dalam Syari`ah, di dalam madzaahib dan di dalam tarekat, mereka [yang mengambil apa yang bukan miliknya] senang membuat kebingungan; mereka menginginkan kue terbesar dan mereka tidak tahu bahwa kue itu dari Allah!  Bila Allah ingin menghentikannya, Dia akan menghentikannya, dan Allah memang menghentikannya!

Ketika Mawlana Syekh Nazim (q) berkata, “Yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan!” kita memberikan bay’at kita kepadanya.  Ketika kita mengatakan, “Inna alladziina yubaayi`uunaka innamaa yubaayi`uun Allah, yadullaahi fawqa aydiihim, faman nakatsa fa-innama yankutsu `alaa nafsihi wa man awfaa bimaa `ahad `alayhullaaha fa-sayu’tiihi ajran `azhiima (48:10) …wallah bima naquul wakiil wa qabilnaa bi Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil wa Grandsyekh `AbdAllah al-Fa’iz ad-Daghestani wa bi Syah-i-Mardaan wa Imam al-Mahdi al-muntazir… wa kullun min rasuulullah multamisun. 

Jadi Mawlana Syekh Nazim (q) menyebut Syah-i-Mardaan dan terus menyebut Syah-i-Mardaan, dan beliau berkata, “Aku menarik rahasia Tarekat Naqsybandi dan aku berikan kepadamu (Sayyidina `Ali)!  Ini adalah pekerjaanmu, kau yang akan menanganinya!” sebagaimana Grandsyekh `AbdAllah berkata, “Ketika seorang syekh tarekat meninggal dunia, beliau menyerahkannya kepada Sayyidina `Ali (r) dan Sayyidina al-Mahdi (a).” 

Jadi sekarang sebagian besar tarekat berada di tangan Sayyidina `Ali (r) dan Sayyidina al-Mahdi (a) kecuali untuk Tarekat Naqsybandi, ia masih terus menetes. Tetapi sebelum meninggal dunia, Mawlana Syekh menyerahkannya ke tangan Syah-i-Mardaan, menyerahkan ke tangannya!  Itu adalah rahasia, yang diberikan kepada Syah-i-Mardaan!  Itu adalah rahasia yang dikirimkan oleh Mawlana Syekh, untuk memahami, apa makna menyebut Syah-i-Mardaan. Rahasia itu tidak dapat diteruskan dalam video klip selama setengah menit!  Rahasia itu telah diteruskan dari Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil (q) kepada Sayyidina al-Mahdi (s) dan kepada Syah-i-Mardaan, tetapi itu memerlukan waktu.

 

Mawlana Syekh Nazim Mempersiapkan Masa Depan Setiap Murid 

Jadi itu adalah menanggung seluruh beban dunia ini dan beban setiap murid di pundak mereka.  Itu adalah proses penyerahan kekuatan dan itu memerlukan waktu.  Jadi Mawlana Syekh menyerahkan kekuatan itu setiap salat Fajar kepada Syah-i-Mardaan, mengatakan, “Aku siap untukkmu,” dan segera setelah beliau mengatakan “Yaa Syah-i-Mardaan!” Sayyidina `Ali (r) muncul dan mengambil dari beliau, mengambil dari beliau.  Mawlana Syekh tidak meninggalkan dunia ini hingga seluruh muridnya, satu demi satu diserahkan kepada Sayyidina `Ali (r) dan kepada Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r), dari kedua sisi ini, sebelum beliau meninggalkan dunia ini!  Itulah sebabnya mengapa Thariqat an-Naqsybandiyya al-`Aliyya atau Nazimiyya berada di sana sekarang, pada gigi terendah, pada akselerasi terendah hingga Tanda-Tanda Hari Kiamat muncul lebih banyak, hingga munculnya Sayyidina Mahdi (a). Kemudian ia akan dipercepat untuk meliputi seluruh dunia ini dan murid-murid Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil (q) akan menjadi bagaikan bintang-gemintang di gelap malam[2]. Sekarang, ia berjalan lambat; tidak ada Sulthan al-Awliya, tetapi Sulthan al-Awliya yang sekarang adalah Syah-i-Mardaan, sebagaimana Grandsyekh berkata, “Beliau duduk menunggangi unta dan ketika rombongan karavan lewat, mereka melihatnya, dan beliau mengucapkan, ‘Salaam `alaykum,’”  Beliau Syahiid:

بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Tidak, mereka hidup di sisi Tuhannya dan mendapat rezeki. (Surat `Ali Imraan, 3:169) 

Tentu saja mereka hidup dalam Hadirat Tuhan mereka, mereka disediakan.  Disediakan dengan apa?  Disediakan dengan apa yang ingin mereka berikan kepada Ummat an-Nabi (s) dan para pengikut tarekat; mereka menunggu untuk memberikannya kapan saja.  Jadi mereka sanggup untuk datang dari Hayyaat al-Barzakh, kehidupan pada masa antara alam kubur dengan Hari Kebangkitan, kehidupan antara, dan ruh mereka bebas.  Mereka dapat terlihat jika kalian mempunyai kekuatan untuk melihat mereka; sebagian orang melihat mereka di dalam mimpi, sebagian dalam ru’yah, seperti halnya di dalam mimpi, saya melihatnya antara tidur dan tidak tidur. 

Jadi rahasia kalian sekarang bukan di tangan seseorang, melainkan di tangan Syah-i-Mardaan. Kalian telah terhubung sekarang, dan seluruh tarekat ini terhubung dengan Sayyidina `Ali (r), dan dari Sayyidina `Ali (r) kepada Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r) dan kepada Nabi (s) dan tidak ada yang dapat mengubahnya! 

أَمَّا أَحَدُكُمَا فَيَسْقِي رَبَّهُ خَمْرًا وَأَمَّا الآخَرُ فَيُصْلَبُ فَتَأْكُلُ الطَّيْرُ مِن رَّأْسِهِ قُضِيَ الأَمْرُ الَّذِي فِيهِ تَسْتَفْتِيَانِ

 Adapun salah seorang di antara kamu berdua, ia akan memberi minuman kepada tuannya (sang Raja) dengan anggur; adapun yang seorang lagi, ia akan disalib dan burung-burung akan memakan sebagian dari kepalanya. (Tetapi apapun yang menjadi masa depanmu,) perkara yang kalian tanyakan kepadaku telah diputuskan (oleh Tuhan).” (Surah Yusuf, 12:41) 

Perkara yang kalian tanyakan, perkara yang mereka minta Sayyidina Yusuf (a) memberikan fatwanya bagi mereka itu telah selesai: seorang akan mati dengan burung memakan sebagian kepalanya, sementara yang lain akan berada di dewan raja!  Perkara itu telah selesai!  Mereka yang akan diambil dari dunia adalah mahruumuun, mereka dihilangkan dari Rahasia Hakikat dari Hadirat Ilahi!  Para pengikut tarekat dan penganut Ahl as-Sunnah wa ‘l-Jama`ah tidak akan dihilangkan, tetapi yang lain dihilangkan.  Qad qudiyy al-amr, selesai, perintah itu telah selesai! Ia telah distempel, bersertifikasi dan disahkan, tidak ada yang dapat mengubahnya, jadi jangan melihat ke sana ke mari!  Lihatlah bahwa rahasia kalian berada di tangan Sayyidina `Ali (r) dan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r). 

Itulah sebabnya beliau menyebut Syah-i-Mardaan: Yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan! [Seluruh jemaah menyebut Syah-i-Mardaan.]  Apakah kalian merasakan sesuatu, sesuatu yang membuat merinding, qasyaariira.  Kalian merasakan sesuatu karena kita memanggilnya secara berjamaah, tetapi bila kalian menyebutnya secara pribadi, itu belum level kalian.  Seorang wali dapat menyebutnya secara pribadi, tetapi yang lain belum sampai levelnya. 

Yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan!

Yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan!

Yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan!

Yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan!

Yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan! 

Bagaimana menurut kalian, apa yang akan dikatakan oleh beliau (Sayyidina `Ali)?  Kalian memanggilnya!  Apa yang akan beliau lakukan?  Beliau akan membawa kita semua, satu per satu dengan nama kita masing-masing ke hadirat Nabi (s)! [Naray takbiir.]  Setiap orang telah dibawa ke hadirat Nabi (s): mereka yang berada di sini, saudara mereka, teman-teman mereka, orang-orang yang mereka cintai, setiap orang masuk ke dalam tajali itu dan mereka membawa kalian semua ke hadirat Nabi (s).  Orang-orang yang tidak muncul dan tidak peduli, kita biarkan mereka melakukan apa yang mereka suka. Kita berada di sisi Syah-i-Mardaan dan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r) tetapi mereka, saya tidak tahu di mana, mereka yang lebih tahu! 

Semoga Allah memberi kita izin untuk masuk ke dalam Hadirat Ilahiah-Nya, sebagaimana Sayyidina Bayazid al-Bisthami (q) mengatakan kepada Tuhannya, “Yaa Rabbii kayf al-wushuulu ilayk, “Wahai Tuhanku!  Bagaimana aku mencapai-Mu?”  Beliau mendengar sebuah suara yang mengatakan, “atruk nafsak wa ta`al,” “Tinggalkan dirimu dan datanglah pada-Ku.”, kemudian beliau meninggalkan egonya, ansalak kamaa ansalak al-hayya min jasadihaa, sebagaimana seekor ular menarik dirinya dari kulitnya, beliau menarik keluar ruhnya, dan kalian telah dikaruniai hal itu!  Hal itu karena Allah Maha Pemurah, Nabi (s) seorang pemurah, beliau adalah Rahmatan li ’l-`Alamiin, Sahaabah (r) juga pemurah, mereka mencurahkan berkahnya kepada kita!  Sesi seperti itu adalah sangat jarang terjadi dan menghadiahkan, termasuk keluarganya, karena ia mewakili keluarganya, anak-anaknya, keturunannya, leluhurnya, dan setiap orang akan mendapat bagian dari tajali ini! 

Yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan, yaa Syah-i-Mardaan! 

Allah Maha Mengetahui.  Kita mengatkan semoga Allah (swt) mengampuni kita dan memaafkan mereka, yaitu orang-orang yang selalu memperlihatkan permusuhan dan kebencian, tidak peduli apapun yang kalian lakukan untuk mereka. 

Nabi (s) bersabda,

اتركوا الترك ما تركوكم

Itrukuu ’t-turku maa tarakuukum.

Biarkan orang Turki sendirian selama mereka membiarkan kalian sendirian.

Itu artinya jangan percaya mereka karena tidak ada manfaatnya, kecuali untuk krim mereka, tetapi secara umum, kalian tidak akan tahu kapan mereka akan mengkhianati kalian.  Mereka berkhianat, tetapi kita mempunyai Syah-i-Mardaan, kita mempunyai Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r), kita mempunyai Sayyidina `Umar (r), kita mempunyai Sayyidina `Utsman (r), kita mempunyai Allah (swt)! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar wa lillahi ‘l-hamd! 

Semoga Allah mengampuni kita, dan saya minta Muhammad as-Saggaf, beliau adalah seorang Sayyid dan tinggal di Madinatu ‘l-Munawwarah, untuk berdoa bagi kita.

 

[Ziyara Rambut Suci Nabi (s)] 

A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim. Salaam `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh. Ini adalah momentum yang sangat terhormat, untuk berada dir hadirat Rambut Suci Nabi (s), karena bagian dari diri beliau seperti seluruhnya, jadi tidak ada orang yang dapat mengatakan “tidak” [menyangkal hal ini].  Beliau (s) hidup, beliau mendapat rezeki, dan beliau didukung oleh Allah (swt) dan itulah sebabnya di dalam hadirat sucinya kita mengucapkan, 

Asy-hadu an laa ilaaha illa-Llah wa asy-hadu anna Muhammadan `abduhu wa rasuuluh!

Asy-hadu an laa ilaaha illa-Llah wa asy-hadu anna Muhammadan `abduhu wa rasuuluh!

Asy-hadu an laa ilaaha illa-Llah wa asy-hadu anna Muhammadan `abduhu wa rasuuuh!

Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim. Inna alladziina yubaayi`uunaka innamaa yubaayi`uunallah

wa qabilna bi Grandsyekh  `AbdAllah al-Fa’iz ad-Daghestani (q) wa bi Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil (q).

Allahu, Allahu, Allahu Haqq!

Allahu, Allahu, Allahu Haqq!

Allahu, Allahu, Allahu Haqq! 

[Mawlana Syekh Hisyam Hisham menyambut Syahadah yang baru.]  Ia adalah Muslim baru dan pamannya adalah salah seorang uskup yang paling penting. Kita sangat gembira ia berada di sini.

 

http://sufilive.com/The_Secret_of_the_Naqshbandi_Tariqah_is_in_the_Hands_of_Syah_Mardan_-5658.html

 

© Hak Cipta 2014 oleh Sufilive.  Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.  Transkrip ini dilindungi oleh Hukum Hak Cipta Internasional.  Dimohon untuk menyebutkan Sufilive ketika membaginya.  JazakAllahu khayr.

[1] Mawlana Syekh Hisyam Kabbani dan Mawlana Syekh Adnan Kabbani.

[2] Merujuk pada sebuah hadits Nabi (s) yang terkenal mengenai Sahabat (r).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s