Pentingnya Puasa Ramadan

maxresdefault

Syekh Hisyam Kabbani
Khotbah Jumat
Masjid Ash-Shiddiq, Burton, Michigan
5 September 2008

 

Wahai Muslim, wahai Mukmin!  Bulan ini adalah bulan Ramadan dan dalam bahasa Arab kita mengatakan, “Ramadhan kariim – Ramadan yang pemurah.”  Kariim berasal dari al-karam al-Ilahi, Kemurahan Ilahi.  Itu artinya Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, itu adalah bulan yang penuh pertolongan.  Itu adalah bulan untuk semua amal baik, semua berada di bulan itu.  Dan agar Allah membantu kita mengingat-Nya, di bulan ini Dia membuat kita berpuasa.  Karena ketika kalian berpuasa, kalian akan mengingat Tuhan kalian dan kalian akan ingat betapa besar nikmat yang Dia karuniakan sepanjang tahun di mana setiap saat kalian bisa makan dan minum siang dan malam.  Tetapi di bulan ini kalian tidak bisa makan dan minum kecuali pada jam-jam tertentu untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang miskin.

Nama Ramadan berasal dari kata ramadha, yang artinya untuk menghapus, Ramadan adalah bulan ketika Allah menghapus dosa hamba-hamba-Nya.  Dia memberi pahala kepada mereka.  Dan sebagaimana Allah menjadikan Jumat sebagai hari terbaik dalam seminggu, Dia juga menjadikan Ramadan sebagai bulan terbaik dalam setahun.

Wahai Muslim!  Ada orang-orang yang kelaparan dan ada orang-orang yang tidak mempunyai rumah, dan itu merupakan tanggung jawab kita bersama, khususnya para pemimpin dan pihak yang berwenang untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang menderita kelaparan.

Ramadan menguji kalian untuk melihat seberapa teguhnya kalian berpuasa.  Ada orang yang mengatakan, “Aku haus, aku tidak bisa berpuasa.”  “Oh, aku tidak bisa berpuasa karena perutku sakit, perutku akan kelaparan.”  Tentu saja perut kalian akan merasa lapar; itu adalah untuk membuat kalian menderita di siang hari.  Bahkan anak-anak pun berpuasa.  Banyak Muslim sekarang ini yang tidak tahu kapan Ramadan dan mengapa Ramadan.  Puasa kalian adalah untuk kalian.  Jika kalian tidak berpuasa kalian tahu di mana kalian berakhir.

Nabi ﷺ telah menekankan pentingnya Ramadan dan saya akan mengutip beberapa hal yang penting.  Sebelumnya saya akan bercerita tentang Sayyidina `Umar (r) ketika beliau menjadi amirul mukminiin, ketika beliau menjadi khalifah Nabi ﷺ yang kedua.  Ketika beliau mendapat kewenangan, ketika setiap orang memberikan bay’at kepadanya—itu artinya memberi dukungan kepadanya untuk menjadi khalifah.  Beliau pulang ke rumah dan menangis, bukannya tangisan biasa, tetapi tangisan yang mendalam.  Istri beliau melihatnya dan berpikir, “Apakah ia menangis karena terharu atau karena hal lainnya?”  Ia bertanya, “Wahai Umar!  Mengapa engkau menangis?”  Beliau berkata, “Wahai istriku, kau harus tahu bahwa sebelumnya aku tidak mengemban tanggung jawab tetapi sekarang aku mempunyai tanggung jawab terhadap setiap orang yang kelaparan, orang-orang yang terbunuh dan orang-orang yang melakukan ini, itu.  Aku akan ditanya oleh Allah (swt), “Apa yang telah kau lakukan, wahai Umar untuk para pengikutmu?  Apakah engkau membiarkan mereka kelaparan?’”

Beliau sering menyamar di malam hari dan membawakan makanan untuk orang-orang yang kelaparan.  Tetapi lihatlah pada presiden di seluruh dunia sekarang.  Apakah kalian melihat mereka membawakan makanan bagi orang-orang yang kelaparan?  Kalian bahkan tidak bisa bicara dengan mereka, mereka mempunyai ratusan pengawal.  Sayyidina `Umar (r) tidak memerlukan pengawal.  Allah yang menjaganya.

Wahai Muslim, apakah kalian membantu orang lain dengan puasa kalian?  Khususnya memberi makanan.  Orang-orang memerlukan makanan.  Bila kalian memberi uang, mereka bisa memboroskannya.  Bila kalian memberi makanan, mereka akan memakannya.  Itulah sebabnya itu penting sekali bagi kita semua, bukannya mengatakan, “Oh zakat fitrahku adalah 5 dolar, atau 7 atau 10 dolar per orang, aku membayar 50 dolar dan selesai.”  Ada 5 orang di rumah.  Tidak, itu adalah zakat fitrah, dan tidak ada hubungannya dengan memberi makanan kepada orang miskin.  Untuk orang miskin kalian harus memberinya sesuatu agar mereka senang.  Jadi berikanlah makanan, sedekahkan makanan.  Akan ada berkah di sana.  Ketika mereka mengucapkan “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim” itu akan dituliskan bagi kalian karena makanan itu adalah untuk Ramadan.

وجاء في حديث آخر إذا كان يوم القيامة أوحى الله إلى رضوان إنّي أخرجت الصائمين من قبورهم جائعين عطاشا فاستقبلهم بشهواتهم من الجنة فيصيح رضوان أيها الغلمان والولدان عليكم بأطباق من نور فتجتمع عنده أكثر من الكواكب بالفاكهة والأشربة اللذيذة فيستقبلون الصائمين والصائمات ويقال لهم كلوا واشربوا هنيئا بما أسلفتم في الأيام الخالية.

Wahai Muslim, disebutkan bahwa ketika Hari Kiamat tiba, idza kaana yawm al-qiyama awha Allahu tala ila Sayyidina Ridhwan – bahwa Allah berkata kepada Sayyidina Ridwan, malaikat penjaga Surga, “Aku telah membawa semua orang yang berpuasa di bulan Ramadan dari kubur mereka.  Aku membawa mereka dalam keadaan lapar, dan Aku memanggil mereka dari kubur-kubur mereka dan Aku membuat mereka dalam keadaan lapar.”

Dan kalian tahu ketika seseorang merasa lapar, ia ingin agar Maghrib segera tiba sehingga ia bisa segera berbuka puasa, dan memang sunnah untuk segera berbuka.

“Aku membuat mereka haus, dan mereka datang dari kubur-kubur mereka.  Jadi, segeralah datangi mereka dan tawarkan makanan dan minuman surgawi untuk mereka.”  Wa yuqaaluu lahum kuluu w’asyrabuu haniyyan bima aslaftum fii ayaamin khaliyyah -” (Dan kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan nikmat disebabkan amal yang telah engkau kerjakan pada hari-hari yang telah berlalu!'” [69:24]

Jadi ini bukan mengenai puasa atau tidak puasa, atau memberi alasan bagi diri kalian untuk tidak puasa.  Saya tahu banyak orang dari negeri Arab yang bepergian di bulan Ramadan.  Mengapa?  Untuk membatalkan puasa mereka.

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an,

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau sedang dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” [2:184 juga 2:185]

Jadi mereka mencari alasan untuk tidak puasa, dengan mengatakan bahwa mereka sedang dalam perjalanan.  Mengapa?  Karena waktu yang lebih singkat.  Mereka berbuat curang.  Di musim dingin yang waktunya lebih singkat, mereka baru berpuasa.

Karena sekarang Ramadan datang di musim panas dan siang hari bisa sangat panjang.  Sebagian orang mungkin berpuasa selama 18 jam.

Saya mengenal seseorang yang berpuasa sepanjang tahun, ia tidak berpuasa selama 5 hari: Iedul Fitri, Iedul Adha dan (3 hari Tasyrik).  Sepanjang tahun ia berpuasa dan ia berasal dari daerah gurun di antara Suriah dan Irak.  Ia telah lama meninggal dunia. 5 hari dalam setahun ia tidak berpuasa, sementara bagi kita, kita mengatakan, “Aku sakit, aku sekarat.”  Kita mengatakan, “Tolonglah aku.”  Kalahkan dia, kalahkan dia dengan lidah kalian.

وقال علي بن أبي طالب رضي الله عنه: لو أراد الله أن يعذب أمة محمد صلى الله عليه وسلم ماأعطاهم رمضان وقل هو الله أحد.

Wa qaala `Aliyun wa law arad-Allah an yu`adziba ummata Muhammad ma ataahum Ramadhan.”

Sayyidina `Ali (r) berkata, “Jika Allah ingin menghukum umat Nabi Muhammad (saw), Dia tidak akan memberikan Ramadan kepada mereka.”  Ramadan adalah pagar yang menjaga agar tetap aman, seperti sabuk pengaman.  Dengan sabuk itu kalian akan aman berada di tempat kalian di Surga, tidak ada yang dapat membawa kalian ke tempat penghukuman.  Sayyidina `Ali (r) berkata, “Allah tidak akan memberikan mereka Ramadan dan Dia tidak akan memberikan mereka qul huwa Allahu ahad.”

Apakah kita membaca qul huwa Allahu ahad tiga kali sehari atau tidak?  Jika kita tidak melakukannya, maka lakukanlah; tetapi bila kita telah melakukannya, tambahkanlah sebanyak yang kalian inginkan.

وسأل موسى عليه الصلاة والسلام ربه: يارب أكرمتني بالتكليم فهل أعطيت أحداً مثل ذلك؟ فأوحى الله تعالى إليه : ياموسى إن لي عباداً أخرجهم في آخر الزمان وأكرمهم بشهر رمضان فأكون أقرب لأحدهم منك، لأنك كلمتني وبيني وبينك سبعون ألف حجاب فإذا صامت أمة محمد صلى الله عليه وسلم حتى ابيضت شفاههم واصفرت ألوانهم أرفع الحجاب بيني وبينهم وقت إفطارهم.. ياموسى طوبى لمن عطش كبده وأجاع بطنه في رمضان..

Qaala Musa, ya Rabbii, Engkau telah memberiku kenikmatan di mana aku bisa berbicara langsung kepada-Mu, takliim, apakah Engkau memberikan kenikmatan seperti itu kepada yang lainnya?

Karena Sayyidina Musa (as) adalah Kaliimullah, ia tidak mempunyai malaikat perantara antara dirinya dengan Allah.  Allah memberi keistimewaan itu dan Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.

Allah berfirman, “Inna lii `ibadan ukhrijahum fii akhira ‘z-zaman – Aku mempunyai hamba-hamba dan Aku menyimpannya sekarang tetapi akan Kubawa pada Akhir Zaman dari dunia ini.”

Wa ukrimahum bi syahri Ramadhan fa akuunu aqrab li-ahadihim minka – Aku akan memberi mereka kenikmatan dengan bulan Ramadan,… dan Aku akan lebih dekat dengan mereka daripada denganmu.  Aku lebih dekat dengan mereka karena mereka berpuasa.  Itulah sebabnya Aku memberi mereka Ramadan.  Ketika Aku berbicara kepadamu, ada 70.000 hijab di antara Aku denganmu tetapi ketika Ummat an-Nabi (saw) berpuasa, hatta abyadat syifahahum sampai bibir mereka menjadi putih.  Ketika bibir mereka menjadi putih (itu artinya mereka begitu kehausan, bibir ini mulai pecah-pecah, mulai luka karena tidak ada air).  Sekarang orang-orang berbuat curang dengan mengatakan, gunakan make up ini.  Mereka menjualnya di apotek.  Apa itu?  Chopstick.  Mereka terus memakainya.  Itu memang tidak membatalkan puasa, karena itu tidak mempunyai rasa dan tidak berwarna.  Allah ingin agar kalian mempunyai bibir yang putih.  Dan orang-orang juga mengatakan, “Mulut kita bau.”  Tidak, Allah ingin kalian mempunyai bau yang tidak enak itu, tetapi para malaikat senang dengan bau itu.

“Mereka yang menjadi pucat sampai bibirnya putih dan kulit mereka menjadi kuning, arfa` al-hujjub baynii wa baynahum wa asfarat alwaanahum arfa` al-hujub baynii wa baynahum waqt iftaarhim– Aku singkirkan hijab antara Aku dengan mereka, pada saat mereka berbuka puasa.”

وقال كعب الأحبار أوْحى الله إلى موسى عليه السلام إنّي كَتبْتُ على نفسي أنْ لا أَرُدَّ دعْوَةَ صائمِ رمضانَ.

“Wahai Musa, jika mereka berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya.”

Oleh sebab itu sangat dianjurkan untuk berdoa pada saat berbuka.  Sebagian orang mengatakan, “Mengapa engkau terlambat berbuka?”  Tidak, tunggulah sampai adzan selesai.  Ucapkan,  Allahumma rabba haadzihi dawata at-taama wash-shalaat al-qa’imah ati Sayyidina Muhammadi’l-wasiilah wa’l-fadiilah wa’d-darajat ar-rafii`a wa’b`atsu’l-maqaam al-mahmuud alladzii wa a`datahu… Sekarang sebagian orang begitu Allahu Akbar [dikumandangkan], mereka langsung (berbuka) tanpa Bismillah, tanpa berdoa, kurma sudah ada di mulut, tunggulah satu atau dua menit!  Bacalah doa setelah adzan, bacalah shalawat Nabi lalu berdoalah untuk segala keperluan kalian, berdoalah agar dihilangkan segala kesulitan kalian, Allah akan mengatasinya.

Dan kemudian Dia berkata, tuuba liman atasya batanahu … kabar gembira bagi orang yang berpuasa dan kehausan, dan menderita karenanya.  Allah akan memberkati kita di bulan Ramadan dengan berkah Sayyidina Muhammad ﷺ .

Aqulu qawli hadza wa astaghfirullah al-azhiim….

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s