Khotbah Jumat Akhir Ramadhan

WhatsApp Image 2020-04-23 at 4.55.38 PM

Khotbah Jumat Dr. Nour Kabbani
Fenton, Michigan; Jumat, 22 Mei 2020

Assalamu`alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh, 

[Adzan]

[Pendahuluan dalam bahasa Arabi]

Wahai orang-orang yang beriman, alhamdulillah kita sebagai Muslim, Mukmin, kita adalah pialang saham yang berbeda, kita adalah pialang saham untuk Akhirat.  Kita memperhatikan saham yang menguntungkan dan kita meninggalkan saham yang merugikan di Akhirat.  Allah (swt) mengirimkan kita pedoman, yakni al-Qur’anul kariim.  Al-Qur’anul kariim adalah pedoman bagi pialang saham Muslim. Orang yang menginginkan saham yang berkembang dan memberikan untung yang besar, mereka harus merujuk pada Qur’anul kariim dan Hadits Rasulullah (saw).  Dan keuntungan besar apa yang mereka berikan?  Tak terhitung!  

Berapa besar keuntungan orang yang menjadikan Qur’anul kariim sebagai pedoman dalam kehidupan ini dan dalam perniagaan ini?  Allah (swt) berfirman, 

Yā ayyuhalladzīna āmanụ hal adullukum `alā tijāratin tunjīkum min `adzābin alīm

Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (QS As-Shaff, 61:10) 

Allah (swt) menggunakan kata tersebut, tijaarah, saham atau perniagaan.  MasyaAllah non-Muslim telah menjadikannya halal bagi Muslim, dan Muslim mengatakan itu adalah halal, ok, kalian mempunyai ilmunya, kalian berniaga dengan saham tersebut, kalian mengambil tijaarah, perniagaan.  Allah (swt) menunjukkan kepada kalian suatu perniagaan yang lain, tijaarah yang lain.  

Tu’minuuna biallaahi walyawmi al-aakhiri, jika kamu beriman kepada Allah dari Hari Akhir, (QS An-Nisa`, 4:59)

Saatnya akan tiba di mana Allah (swt) akan memberi ganjaran kepada kita.  Allah akan mengganjar kita berdasarkan perniagaan yang telah kita lakukan.  Oleh sebab itu lakukanlah perniagaan qur’ani, juallah dunia untuk Akhirat.  Juallah yang fana untuk yang baqi, yang kekal.  Mukmin yang cerdas melakukan hal itu.  Mukmin yang tidak cerdas mengatakan, “Aku percaya, tetapi aku tidak puasa, aku tidak shalat, aku tidak ini, aku tidak itu.”  Pada akhirnya ia akan mengetahui siapa yang akan menuai hasil, siapa yang tidak.  Siapa yang mendapatkan tempat terhormat di hadapan Allah (swt) dan mendapatkan cinta dari Rasulullah (saw). Itulah yang penting.  Bukannya saham kalian yang naik 1 dolar, atau turun 2 dolar, kemudian kalian melakukan ini dan itu, itu tidak penting.  

Salah satu perniagaan yang penting adalah Laylat al-Qadr.  Dan saya membacakan sebuah hadits dari Awliyaullah, dan apa yang dikatakan oleh Awliyaullah adalah benar.  Sebagaimana yang diajarkan oleh guru kita, bahwa Awliyaullah, mereka dapat melihat nuur dari suatu hadits dan itu sudah cukup menunjukkan kesahihan hadits tersebut.  Jika Awliyaullah mendengar atau membaca atau melihat hadits dan mereka melihat cahaya yang memancar dari hadits tersebut, guru kita mengatakan bahwa itu artinya hadits tersebut adalah sahih, meskipun orang mengatakan bahwa itu dhaif (lemah), atau hadits palsu, tetapi selama Awliyaullah telah melhat cahaya dari hadits tersebut maka itu adalah hadits yang sahih.  

Dan Awliyaullah telah mengatakan bahwa Rasulullah (saw) bersabda, “Barang siapa yang membaca innā anzalnāhu fī lailatil-qadr, Allah (swt) akan memberikan tsawaab, pahala puasa Ramadhan dan qiyam, shalat Laylat al-Qadr.”  Salah satu shalat yang dianjurkan oleh Awliyaullah adalah minimal shalat dua rakaat pada Laylat al-Qadr, yang tentu saja (waktunya) tersembunyi, oleh sebab itu kita melakukan shalat nafil (shalat sunnah) sepanjang bulan Ramadhan, tetapi dua rakaat dengan innā anzalnāhu dan tiga surat al-Ikhlash.  Dan ini adalah salah satu rahasia tersembunyi yang diberikan oleh Awliyaullah kepada Ummatul Habiib, agar mereka gembira, karena begitu banyak orang tidak mengetahui kapan terjadinya Laylat al-Qadr.   

Mereka katakan, “Bacalah Surat al-Qadr, bacalah innā anzalnāhu fī lailatil-qadr dari awal hingga akhir, yang terdiri dari 30 kata, setara dengan jumlah hari dalam bulan Ramadhan, dan salāmun hiya, hiya di sini artinya kedamaian, dan itu adalah kata ke-27 dari Surat al-Qadr.  

Jadi orang yang membaca Surat al-Qadr, Allah (swt) dengan Kemurahan-Nya akan memberi mereka tsawaab, pahala dari shalat Laylat al-Qadr dan puasa Ramadhan.  Jadi jangan terlalu gelisah atau sedih bahwa “Aku tidak mencapainya, aku tidak tahu kapan Laylat al-Qadr itu.”  Bacalah Surat al-Qadr dan Allah (swt) akan memberi kalian pahalanya; dan hadits ini disebutkan oleh Awliyaullah, dan kita percaya pada apa yang mereka katakan.  

Alhamdulillah kita sampai pada penghujung Ramadhan.  Malam ini adalah malam terakhir tarawih dan insyaAllah besok adalah hari terakhir puasa dan insya Allah hari Ahad adalah permulaan Ied.  

Dalam hadits lainnya, Al-Hasan (ra) meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) bersabda, dan hadits ini disebutkan dalam Bayhaqi, bahwa setiap malam Allah (swt) akan memberikan pembebasan dari Api Neraka kepada ribuan dan ribuan Muslim, dalam hadits lainnya disebutkan sittiin alf, di hadits yang lain dikatakan alfu alf, tetapi yang jelas itu menunjukkan jumlah yang banyak.  Setiap malam Allah akan memberikan pembebasan kepada ribuan dan ribuan Muslim.  Ketika tiba pada malam terkahir, yaitu malam ini, malam terakhir tarawih dan besok laylatul ied, Allah akan memberikan pembebasan dari Api Neraka kepada orang-orang yang telah meninggal dunia.  

Jadi menurut hadits ini, sejak awal Ramadhan Allah telah membebaskan enam ratus ribu orang dari Api Neraka, malam berikutnya enam ratus ribu orang, malam berikutnya enam ratus ribu orang hingga malam terakhir, Allah akan memberikan bara’ah, pembebasan dari Api Neraka kepada seluruh orang yang telah meninggal dunia pada malam-malam sebelumnya.  Jadi besok, lakukanlah yang terbaik, mintalah ampunan kepada Allah.  Mintalah kepada Rasulullah (saw) untuk melakukan istighfaar atas nama kalian, katakanlah, “Yaa Sayyidi, yaa Rasulallaah (saw), aku datang kepadamu, sebagaimana yang diajarkan oleh guru kami, aku datang kepadamu yaa Sayyidi, aku telah berbuat banyak kesalahan, begitu banyak kebodohan, yaa Sayyidi yaa Rasulallah, aku datang kepadamu sebagaimana Allah telah mengarahkan diriku kepadamu untuk mengucapkan astaghfirullah dan engkau pun mengucapkan astaghfirullah atas namaku, sehingga Tuhanku akan mengampuniku.”  Lakukanlah hal itu, dan Allah (swt) akan mengampuni kalian.  

Pada malam Laylat al-Qadr, Allah (swt) mengatakan bahwa ruh dan malaikat akan turun.  Tanazzalul-malā`ikatu war-rụḥu fīhā, malaikat dan ruh turun pada malam ini.  Sebagian di antara Awliyaullah mengatakan bahwa yang dimaksud ruh tersebut adalah Malaikat Jibril (as), ia turun bersama para malaikat dan ia termasuk dalam rombongan malaikat tersebut, tetapi sebagian Awliya lainnya mengatakan bahwa ruh tersebut adalah malaikat yang berbeda.  

Para Awliya tersebut mengatakan bahwa ruh yang dimaksud adalah malaikat yang kepalanya tepat berada di bawah Arasy, sementara kakinya berada di Bumi ketujuh.  Malaikat itu bertasbih kepada Allah dua kali, yakni di pagi hari, ketika matahari terbit dan sore hari ketika matahari terbenam. Malaikat itu mempunyai seribu kepala, dan setiap kepala mempunyai seribu muka.  Di setiap muka terdapat seribu mulut, dan setiap mulut mempunyai seribu lidah dan dengan semua lidahnya itu, ia bertasbih kepada Allah dengan seribu macam tasbih yang berbeda-beda.  Setiap lidah mempunyai bahasa yang berlainan.  Pada malam Laylat al-Qadr, sebagian Awliya mengatakan bahwa malaikat tersebut turun bersama para malaikat lainnya.  

Apa yang dilakukannya?  salāmun hiya ḥattā mathla’il-fajr, sejak matahari terbenam hingga fajr, semuanya diliputi kedamaian hingga terbit fajr.  Ruh tersebut dengan semua lidah yang dimilikinya dalam seluruh mulut yang dimilikinya, pada seluruh muka yang dimilikinya, pada semua kepala yang dimilikinya akan memintakan ampunan, istighfar.  Ia akan memintakan ampunan bagi shaimin dan shaimat dari Ummatu Muhammad (saw). Ruh itu akan memintakan ampunan atas nama pria dan wanita yang berpuasa dari Ummatnya Nabi Muhammad (saw) hingga terbit fajar. 

Lihatlah bagaimana Allah (swt) memberi kenikmatan bagi orang-orang yang mengikuti perintah-Nya.  Di manakah perintah-Nya tersebut?  Di dalam buku pedoman, yakni al-Qur’aanul kariim, itulah buku perniagaan kita.  Jika kalian menginginkan hasil yang besar, bukalah al-Qur’aanul kariim dan ikuti perintah Allah (swt), dan hadits yang merupakan penjelasan dari kitab suci al-Qur’an melalui hati dan lisan yang mulia dari Rasulullah (saw).  Semoga Allah (swt) selalu menjadikan kita memegang teguh Sunnah Rasulullah (saw), memegang teguh ilmunya, mengikuti jejak Rasulullah (saw), para Sahabat dan ahlul bait menuju Hadirat Ilahiah-Nya.

[doa]