Berkah yang Luar Biasa dari Memberikan Donasi untuk Masjid

Seri Ramadan 2015, Vol 15

Shaykh Hisham Kabbani

 

5 Juli 2015, Zawiyah Fenton, Michigan

Shuhbah Zhuhur (2)

 

A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.

Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu’l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ‘r-riyaadhah, nawaytu ‘s-saluuk, fii hadza ‘l-masjid

 

أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

Athii`uullaaha wa athii`uu ‘r-Rasuula wa uuli ‘l-amri minkum.

Patuhi Allah, patuhi Rasul dan patuhi para ulil amri (pemimpin) di antara kalian. (Surat an-Nisa, 4:59)

As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Alhamdulillah bahwa di bulan Ramadan ini kita telah mencapai Nikmat Allah (swt), dan di bulan Ramadan tentu saja orang menjadi haus, tetapi Allah menginginkan agar mereka haus sehingga di Hari Perhitungan mereka tidak kehausan.  Jadi bagi mereka yang berpuasa selama 17-18 jam akan memperoleh kenikmatan untuk tidak kehausan pada hari tersebut. Jadi para awliyaullah, semua fokus mereka adalah pada awraad yang mereka berikan kepada para pengikut mereka, agar mereka tidak dihisab dan mereka tidak kehausan.  Yang saya maksud “dihisab” di sini adalah sebagaimana sabda Nabi (saw) kepada Sayyida `Aisyah (ra),

من حوسب عذب

(Wahai `Aisyah!) Barang siapa yang dihisab, pasti akan mendapat azab. (Bukhari)

Beliau menyebut “dzarrah,” yaitu partikel terkecil yang ada di alam semesta ini.  Orang-orang biasanya menggunakan ukuran atom; kebaikan apa pun yang dilakukan seseorang akan dihitung dengan berat atom, tetapi “dzarrah” adalah partikel terkecil yang dapat diketahui.  Sekarang orang-orang mengatakan bahwa quarks lebih kecil (daripada atom).  Jadi sekecil apa pun kebaikan yang telah mereka lakukan, Allah (swt) akan membusanai mereka dengan Busana Surgawi.  Jadi pada Hari Perhitungan, orang-orang yang mendapat nikmat dari Allah karena perbuatan mereka di dunia akan dikenali melalui bintang-bintang kebaikan ini.  Allah akan memberi petunjuk dan membusanai mereka dengan maghfirah pada Hari Perhitungan.

Saya telah menceritakan tentang kisah Sayyidina Ibrahim ad-Dasuqi (q), agar tidak menyia-nyiakan waktu kalian dengan meninggalkan awraad kalian, karena awraad sebagaimana yang beliau katakan pada saat itu adalah bagaikan sebuah lilin yang diletakkan dan dinyalakan di dalam masjid.  Awraad bagaikan lilin yang menyala yang akan memberikan cahaya kepada diri kalian dan juga orang lain. Oleh sebab itu, jadilah seperti lilin, yang bersinar di tengah kegelapan.

Beliau memberi contoh tentang Sayyidina Ahmad al-Badawi (q).  Beliau mengatakan bahwa pada suatu hari Sayyid Ahmad al-Badawi (q), salah satu dari kelima Qutub pada saat itu, sedang melewati sebuah jalan dan beliau bertemu dengan seorang Yahudi yang menyapanya.  Orang itu membawa sejumlah lilin di tangannya dan ia berkata, “Wahai Imam.” Pertama, lihatlah bagaimana ia menyapa Sayyidina Ahmad al-Badawi (q), ia tidak mengatakan, “Wahai Bapak,” karena ia mengenali bahwa beliau adalah seorang Imam, yang artinya ada sesuatu di dalam hatinya.  Kita ini adalah orang-orang yang lalai, kita tidak bisa mengatakan hal itu kepada seseorang.

Kita tidak suka mengatakan, “Wahai Imam,” untuk mengangkat derajat seseorang, tetapi orang Yahudi tersebut mengatakan, “Wahai Imam, aku ingin memberikan lilin-lilin ini kepadamu untuk diletakkan di dalam masjidmu.”  Ia memberikan enam batang lilin kepada Imam Ahmad al-Badawi untuk diletakkan di dalam masjid agar orang-orang dapat melihat satu sama lain.

Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) berkata, “Engkau menyangkal agama kami dan engkau tidak menyukai Nabi kami meskipun beliau (saw) menerima Sayyidina Musa (as) dan Sayyidina `Isa (as), namun engkau datang kepadaku untuk menyerahkan enam lilin ini untuk di masjid?”

Beliau adalah Qutub sedangkan orang Yahudi itu adalah orang biasa; di mana pada saat itu orang-orang Yahudi, Muslim dan Kristen tinggal berdampingan.

Orang Yahudi itu berkata, “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada Hari Perhitungan.  Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku atau agamaku, barangkali aku akan mendapat manfaat dari lilin-lilin ini, barangkali aku akan diselamatkan dari kesulitan besar di Hari Perhitungan.”

Ketika ia mengatakan hal itu, Sayyid Ahmad al-Badawi (q) menerima lilin-lilin tersebut, padahal sebelumnya beliau sempat mempertanyakannya, tetapi beliau melihat ada perubahan di dalam hatinya ke arah kebenaran, bukannya menyangkal atau berbohong, jadi beliau menerima keenam lilin tersebut dan meletakkannya di dalam masjid dan menyalakannya di setiap penjuru di sekeliling mihrab di mana beliau mengajar.  Orang itu memberikan enam batang lilin. Sekarang perhatikan, ada 6.666 ayat dalam kitab suci al-Qur’an ya kan? 6.666. Allah menciptakan Langit dan Bumi dalam enam hari.

وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء

“Dan Dialah yang menciptakan Langit dan Bumi  dalam enam hari.” (Surah Hud, 11:7)


Ada 114 Surat, di mana 1+1+4=6. “Enam” mempunyai makna yang istimewa.  Beliau menyalakan lilin-lilin itu dan meletakkannya di dalam masjid, kemudian beliau menyampaikan ajarannya sampai lilin-lilin itu menjadi redup saat matahari terbit, kemudian lilin itu pun padam.  Beliau meninggalkan masjid, tetapi hatinya berkata, “Pasti ada sebuah `ibrah dari perbuatan orang Yahudi itu.”

Allah berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـٰكِنَّ اللَّـهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki. (Surat al-Qasas, 28:56)

 

Allah ingin agar setiap orang masuk Islam terlepas dari agama mereka, karena,

 

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُُ

Agama di sisi Allah adalah Islam (tunduk pada Kehendak-Nya). (Surat Aali-`Imraan, 3:19)

 

Wa li kulli wajhi muwalihaa. Allah membuat arah bagi setiap orang, sebuah shiraath, jalan, thariqah, madzhab, seorang ulama dan seorang pemandu, orang yang memberi petunjuk.

 

وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ

Bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk. (Surat Ar-Ra`d,13:7)

 

Dia menjadikan pemandu bagi setiap orang, karena Dia tidak ingin ada orang yang mengatakan, “Allah tidak memberkahiku dengan seorang pemandu.”  Tidak, ada pemandu, ada Sahabat (ra), Rasul dan para Anbiya yang membimbing umat; jadi Ahmad al-Badawi (q) berkata, “Pasti ada sesuatu di dalam hati orang itu, aku akan melihatnya,” dan beliau mempunyai kekuatan khariqa, yang dapat bergerak seperti laser yang menembus segala sesuatu; dan beliau melihat bahwa orang itu mempunyai karomah di dalam hatinya, yang begitu tercerahkan sehingga ia hanya perlu sedikit saja untuk menjadi Muslim.  Oleh sebab itu tanpa melihat melalui kekuatan spiritualnya, dan hanya menggunakan kekuatan fisiknya, Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) berkata, “Orang ini telah memberi kebaikan untuk kita, terima kasih.” Kemudian tiba-tiba beliau mendapat ilham, “Lihatlah dirinya dengan kekuatan yang Aku berikan kepadamu,” dan awliyaullah mempunyai kekuatan semacam itu.  Beliau lalu melihat bahwa dari masjidnya cahaya lilin itu terpancar hingga ke Bayt al-Ma`muur; Itu adalah cahaya petunjuk yang menunjukkan bahwa orang itu harus dibimbing untuk masuk Islam!

Allah (swt) memberi kekuatan kepada Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) untuk melihat bahwa orang Yahudi itu telah diterima sehingga beliau harus memberinya Syahadat atas kebaikannya memberikan lilin-lilin itu untuk masjid sehingga orang-orang dapat melihatnya ketika beliau sedang menyampaikan ajarannya.  Kemudian beliau mendengar suara yang berkata kepadanya, “Wahai Ahmad! Kabar gembira! Aku telah mengubah orang Yahudi itu menjadi Muslim karena kebaikan yang telah diberikannya untuk masjid.”

Dikatakan bahwa jika seseorang menyalakan sebatang lilin di bulan Ramadan, pada Hari Perhitungan Allah akan memberinya sepuluh lilin dari Bayt al-Ma`muur, bukannya lilin fisik, tetapi Dia akan memberikan sepuluh pelangi cahaya yang indah dari Asmaul Husna wal Sifaat-Nya sebagai sebuah donasi untuk menunjukkan Kemurahan-Nya atas sebatang lilin di bulan Ramadan, jadi jika kalian menyalakan 30 batang lilin, kalian akan meraih keberhasilan, kalian akan diberi hasanaat selama 30 hari dikalikan 10 sehingga menjadi 300 hasanaat dari dalam Bayt al-Ma`muur yang tidak diketahui oleh siapa pun!

Sekarang di Mekah, ketika mereka membuka Ka`bah, orang-orang akan melompat ke dalamnya bahkan untuk mengambil sebuah batu untuk mendapat keberkahan.  Lalu bagaimana menurut kalian ketika Allah (swt) akan membusanai kalian dengan Cahaya dari Bayt al-Ma`muur, dari Langit Keempat, karena donasi kalian untuk masjid?  Allah akan menyukai kalian melebih orang lain karena kalian telah memberikan sesuatu yang besar untuk orang-orang yang mengelola masjid tersebut. Dia mengatakan bukan hanya ketika orang memberi donasi, di sini dikatakan “lililn,” tetapi itu adalah sebuah donasi.  Jadi ketika seseorang memberikan sebatang lilin atau memberi donasi ke masjid, pada saat sakaratul maut, Allah akan memerintahkan Malaikat Maut untuk membawa sepuluh lilin dari Bayt al-Ma`muur dan meletakkannya di kuburnya dan ia akan memperoleh fadilahnya di Akhirat di mana hatinya bersinar dengan Cahaya Surgawi tersebut, dan bukan hanya itu, Allah (swt) akan memberinya Cahaya untuk kuburnya, yang akan menjadi bagian dari Surga, sebagaimana Nabi (saw) bersabda,

 

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّمَا القَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ

Di dalam kubur ada sebuah taman dari Taman-Taman Surga atau parit dari Neraka. (Sunan at-Tirmidzi)

Jadi donasi untuk masjid adalah seperti itu, dan haddith wa laa haraj, berbicara tanpa akhir mengenai pahala yang diberikan kepada orang-orang yang menyumbang untuk masjid.  Orang Yahudi tadi menjadi Muslim karena cahaya dari hati Imam Ahmad al-Badawi (q) dipantulkan pada hatinya.  Jadi saya katakan di sini bahwa ada kebaikan dari program-program interfaith yang mereka lakukan di sini, di masjid maupun di negeri-negeri lainnya.  Untuk enam batang lilin, orang Yahudi itu akhirnya masuk Islam. Kalian tidak tahu berapa banyak orang yang akan masuk Islam melalui program interfaith oleh para Muslim yang menunjukkan keramahannya kepada non-Muslim.  Itu akan membawa manfaat besar bagi banyak pihak, karena kita harus berdoa agar Allah memberi hidayah kepada semua orang. Nabi (saw) ingin agar umatnya masuk Surga. Tentu saja orang-orang ini adalah bagian dari Ummat an-Nabi (saw), baik dari Ummat al-Ijaabah, yaitu mereka yang menerima seruannya Nabi (saw) atau dari  Ummat ad-Da`wah, yaitu mereka yang telah diserukan untuk masuk ke dalam Islam namun masih belum menerimanya. Tentu saja Nabi (saw) ingin agar mereka masuk Islam setiap saat.

Orang-orang ini memberikan hibah untuk masjid dan menyumbang di sana sini seperti orang Yahudi yang memberikan enam batang lilin dan Allah memberinya Cahaya Surgawi.  Jika kalian menyalakan lilin di bulan Ramadan, akan ada pahala yang besar bagi Ummat an-Nabi (saw) dan apa itu?

Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra) bertanya kepada Nabi (saw) untuk memberi informasi kepada kita mengenai pahala dari puasa Ramadan.  Jika mereka bangun di bulan Ramadan menurut adab dari bulan tersebut, tanpa menggunjing, tanpa berbuat curang dan tidak berbohong dan tidak melakukan segala perilaku buruk yang kalian lakukan dalam kehidupan kalian, jika mereka mengikuti adab Ramadan menjaganya, maka Ramadan tersebut yarmud adz-dzunuub, menghapuskan dosa.  Allah akan menjadikan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya Nabi (saw), ja`ala min kulli kalimat kharajat min famihi laylat al-mi`raaj bahran muwakkalan `alayhaa malaaikat laa y`alamu `addadahum illa Huwa fa idzaa jaa ramadhan `alaa ummatii araa tilka al-malaaikati tahmil dzunuuba ummatii wa yakuunuhaa fii [tidak jelas] kamaa yahmil al-janaza ila maqaabir fi ‘d-dunya yaa abaa bakr.

Beliau bersabda, “Orang yang menjaga Ramadan dengan segala prinsip-prinsip, etika dan adab, pada malam di mana Allah mengundangku ke Qaaba Qawsayni aw Adnaa, pada hari itu Allah menjadikan setiap kata yang aku ucapkan sebagai samudra ilmu.”  Allah menciptakan sebuah Surga khususnya untuk kata-kata dalam hati Nabi (saw) dan kata-kata yang telah diucapkannya tanpa huruf dan bunyi; Nabi (saw) memahami kata-kata tanpa bunyi dan juga kata-kata dengan bunyi. Tanpa bunyi Allah mewahyukan ke dalam hati Nabi (saw) tanpa tulisan dan Nabi (saw) dapat memahami apa yang Allah kirimkan kepadanya.

Beliau (saw) bersabda, “Dari mulutku, apa pun kata-kata yang keluar tanpa huruf atau bunyi, Allah menciptakan samudra ilmu dan meletakkan malaikat-malaikat yang tak terhingga di samudra itu dan ketika Ramadan tiba, aku melihat dosa-dosa umatku dibawa oleh para malaikat ini dan kemudian dilemparkannya ke dalam samudra-samudra itu dan akan menghapuskan dosa-dosa mereka sepenuhnya.”  Itu akan dibukakan bagi hati mereka dari setiap kata yang beliau (saw) ucapkan dan kita tidak tahu ada berapa kata yang beliau ucapkan, yang dari sana Allah (swt) memberikan samudra-samudra ilmu kepada Nabi (saw) yang dikendalikan oleh para malaikat dan tidak ada yang tahu berapa jumlahnya.

Beliau (saw) bersabda, “Ketika Ramadan tiba, aku melihat para malaikat mengambil dosa-dosa dari umatku dan melemparkannya ke dalam samudra-samudra itu dan mereka akan muncul dengan bersih suci pada Hari Perhitungan .”  

Sekarang masih Ramadan, jadi mari kita hindari menempatkan diri kita dalam masalah akibat menggunjing, melakukan kecurangan dan seterusnya, dan berusahalah sebaik mungkin untuk menerima dari bulan suci ini, di mana sepuluh hari pertamanya adalah rahmat, sepuluh hari keduanya adalah maghfirah, dan sepuluh hari terakhirnya adalah `itqun min an-naar.

Semoga Allah (swt) mengampuni dan memberkahi kita.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

http://sufilive.com/Adab-in-the-Naqshbandi-Tariqah-8–5934.html

© Copyright 2015 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Pentingnya Memohon Dukungan

71B148C2-D596-4E87-371913E729C61D87

Seri Ramadhan 2018

Dr. Nour Hisham Kabbani

23 Mei 2018 Fenton, Michigan

Shuhbah Subuh

 

Grandsyekh, Sulthanul Awliya Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani, semoga Allah senantiasa mengangkat derajatnya, berkata bahwa salah satu tanda iman adalah diluaskan dadanya, dan tanda lainnya adalah bila seorang pembicara memohon dukungan, madad.  Ini akan menundukkan ego.  Dukungan dari siapa? Dari Khalifah Rasulullah (saw), Shahibul Waqt, Sang Penguasa Waktu.  Setiap masa memiliki Penguasa Waktunya, seorang wali yang memberikan dukungan kepada manusia.

Imam Rabbani, Abdul Wahhab Asy-Sya’rani (qs) mengatakan bahwa setiap kali beliau duduk memberikan shuhba, beliau akan mengucapkan, “Madad yaa Sayyidi, yaa Shahibal Waqt, yaa Shahibaz Zaman”, memohon dukungan dari Sang Penguasa Waktu.  Orang yang tidak meminta dukungan sebelum berbicara, misalnya dalam sebuah seminar, ia berbicara bagaikan seorang tiran, dan Allah akan meninggalkan dirinya bersama egonya dan Setan.  Dan ia akan menghancurkan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Oleh sebab itu Grandsyekh menasihati agar kita selalu memohon dukungan ketika kita duduk di sebuah majelis dzikir atau suatu asosiasi, ketika memberikan nasihat atau suatu ceramah, selalu katakan, “Wahai Tuhanku, aku memohon dukungan-Mu, wahai Shahibal Waqt, wahai Khalifah Rasulullah (saw), aku memohon dukunganmu agar aku dapat menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi diriku dan bagi orang-orang di sekitarku.”  

Khususnya bagi orang-orang yang telah diberi wewenang untuk memimpin zikir dan memberi nasihat di seluruh dunia, jangan lupa, jangan duduk bagaikan seorang tiran, mintalah selalu dukungan dari guru kalian, berusahalah selalu untuk mendundukkan ego kalian dan katakan bahwa kalian bukanlah tuan tertinggi–ana rabbukum a`la; tetapi guru kitalah yang mengajari kita, guru kitalah yang membawa kita ke Hadirat Ilahi, dan beliau adalah Sulthanul Awliya, Grandsyekh Muhammad Nazim al-Haqqani dan BELIAU SENANTIASA HIDUP, di mana pun kita berada, dukungannya sampai pada khalifahnya, dan kemudian sampai kepada kita, dan kita bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut.   Dalam situasi apa pun kalian dapat memohon dukungan kepada Grandsyekh, dan beliau tidak akan meninggalkan kita, beliau akan mengirimkan dukungannya kepada khalifahnya dan dari beliau kepada kita.

Mengapa kita memerlukan dukungan?

Grandsyekh mengatakan bahwa melalui ibadahnya, melalui tafakurnya, melalui dzikirnya seorang manusia dapat mencapai suatu maqam tertentu.  Dan Grandsyekh mengatakan bahwa Sayyidina Ahmad Badawi (qs) telah mencapai maqam Kalimullaah, di mana Allah berbicara langsung kepadanya dari balik hijab dan ini adalah maqamnya Sayyidina Musa (as).  

Suatu hari seorang Qutub, Shahibul Waqt melihat Sayyidina Ahmad Badawi, dan beliau berkata, “Wahai Ahmad, datanglah padaku, aku mempunyai kuncimu.”  Tetapi Ahmad Badawi berkata, “Aku tidak memerlukan kunci darimu. Aku hanya akan mengambil kunci dari al-Fattah, Yang Maha Membuka, Allah (swt). Aku mengambil dari-Nya dan aku tidak memerlukan kunci darimu.”  

Grandsyekh berkata, “Mengapa kita mengangkat kisah ini?”  Karena manusia tidak senang untuk merendahkan dirinya, ego mereka.  Ego tidak mau menghentikan apa yang dilakukannya, karena ego kita berpikir bahwa semakin banyak kita beribadah, semakin kuat perjuangan kita, semakin tinggi pahalanya; sehingga kita mengatakan, “Aku yang mencapainya sendiri, aku mencapainya dengan ibadah-ibadahku, aku mencapainya dengan tafakurku, dengan dzikirku, dengan shalawatku.  Akulah orang yang telah sampai pada hakikat, akulah orang yang … akulah, akulah, akulah….” Itulah ego. Jadi pada awalnya Sayyidina Ahmad Badawi melakukan ibadah hingga ia mencapai maqamnya Sayyidina Musa (as). Egonya memompa dirinya sehingga ia mengatakan, “Akulah orang yang telah mencapai maqam tersebut dengan ibadahku, dengan kekuatanku, dengan kecakapanku, dengan perjuanganku.”  

Shahibul Waqt tersebut datang padanya untuk meruntuhkan egonya.  Itu adalah contoh bagi kita. Betapa banyak di antara kita yang berpikir bahwa dengan membaca ini, atau dengan melakukan ini, itu, kita akan terbang, bergerak ke sana ke mari dan berkelana ke Langit.  Kita tidak menerima orang lain yang berkata, “Datanglah padaku, aku akan tunjukkan jalanmu, aku akan memberikan kuncimu.” “Tidak. Apa itu, aku tidak mau menerimanya darimu. Aku ingin mendapatkannya dari Tuhanku.”  Begitu banyak di antara kita yang melakukannya.

Grandsyekh mengatakan bahwa nafsul insan, yaitu ego manusia tidak akan membiarkan dirinya untuk merendahkan dirinya.  Tetapi Aturan Allah (swt) mengharuskan kalian untuk mengikuti Ahlullaah, orang-orang di Jalan Allah, para Awliya-Nya dan kalian menyerahkan ego kalian kepada mereka. Ego itu tidak mau berserah diri pada Ahlullaah, ia akan terus mengatakan “Ana rabbukum a’la”  Aku adalah tuhanmu yang tertinggi.   

Jadi apa yang terjadi pada Sayyidina Ahmad Badawi?  Suatu ketika saat ia sedang bertafakur, ia berkata, “Wahai Tuhanku, izinkan aku melihat-Mu.”  Itu artinya Sayyidina Ahmad Badawi rindu untuk melihat Tuhannya, seperti kita semua, dan ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyidina Musa (as) kepada Tuhannya.  Allah berkata, “Engkau tidak akan melihat-Ku.” Artinya “Selama dirimu masih ada, engkau tidak akan melihat-Ku. Selama engkau mengaku bahwa engkau ada, bahwa engkaulah yang bergerak, engkau yang melakukan sesuatu, engkau yang beribadah, engkau yang telah sampai; engkau tidak akan mencapai apa-apa, engkau tidak akan melihat-Ku.”  Grandsyekh mengatakan, “Barang siapa yang mengaku bahwa dirinya ada, ia tidak akan melihat Tuhannya.”

Itu artinya ia menjadikan egonya sebagai “yang kedua”.   Grandsyekh mengatakan bahwa Istana dari Raja dari semua raja tidak akan menerima adanya raja kedua, tidak ada yang kedua, hanya ada satu.  Allah berkata kepada Sayyidina Ahmad Badawi, “Wahai hamba-Ku, engkau tidak akan melihat-Ku, Aku telah memberikan kuncimu pada seorang Qutub, pada Shahibul Waqt, pergilah temui dia.”  Allah mengirimnya pada Qutub itu agar egonya dihancurkan sehingga tidak ada lagi “yang kedua” di istana Hadirat Ilahiah-Nya. “Kunci itu adalah jalan bagimu untuk berada di Hadirat-Ku, dan Aku telah memberikannya kepada Shahibal Waqt.”  Dan ini juga merupakan sebuah contoh bagi kita.

Kita semua ingin berada di Hadirat Tuhan kita, kita semua, termasuk semua Muslim, semua Imam, semua syuyukh, semuanya, bahkan semua non Muslim, tetapi untuk berada di Hadirat Ilahi, kalian harus menemukan, kalian harus mengikuti Qutbuz Zamaan, kalian harus menemukan Qutub dari zaman ini.  Kalian tidak bisa pergi begitu saja ke sembarang orang. Kalian harus menemukan Qutub, Qutub Mutasharrif, Sultan Awliya. Dan ketika kita telah menemukannya, ketika kita duduk, kita memohon dukungan kepada Qutub Mutasharrif, Sulthanul Awliya. Sampai sekarang banyak orang yang tidak memohon dukungan kepadanya.  Untuk mencapai Hadirat Ilahi, kita harus menemukan Qutub Mutasharrif, Sulthanul Awliya.

Jadi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Grandsyekh Sulthanul Awliya, Sayyidina Ahmad Badawi akhirnya pergi untuk mencari Qutub yang memegang kunci tersebut, namun ia tidak dapat menemukannya.  Ia terus mencari dan mencari hingga akhirnya ia menyerah. Saat itulah sang Qutub menampakkan dirinya, dan berkata,

“Jadi engkau datang yaa Ahmad,”

“Ya Sayyidi, aku datang.”  

“Apakah engkau menyerahkan dirimu kepadaku?”  

“Ya Sayyidi, aku menyerahkan diriku padamu.”

Grandsyekh mengatakan bahwa Qutub itu memandang Ahmad Badawi sekali dan dengan sekali pandangannya itu, ia telah mencabut seluruh ingatan Ahmad Badawi dan mencabut seluruh ilmu dari dadanya.  Ia membuat Ahmad Badawi benar-benar berada di derajat terendah dan kemudian ia meninggalkannya. Selama enam bulan bahkan Ahmad Badawi tidak tahu lagi bagaimana caranya shalat.

Grandsyekh berkata, “Sebelum itu, ia shalat untuk dirinya sendiri, bukan untuk Tuhannya. Ia telah menjadikan dirinya sebagai Imam, ia menyebutkan dirinya sendiri, ia mengingat dirinya sendiri dan ia shalat untuk dirinya sendiri.”  Dan itu adalah contoh bagi kita. Betapa banyak di antara kita yang berdzikir dan shalat untuk diri sendiri. Mengapa? Untuk mengangkat derajat diri kita di depan orang-orang. Kita memberi mereka ilmu untuk menunjukkan bahwa diri kita seorang alim, kita berzikir untuk menunjukkan bahwa diri kita seorang dzaakir, kita memberi mereka nasihat untuk menunjukkan bahwa diri kita luar biasa, itu semua adalah untuk kita, untuk mengangkat diri kita dan sayangnya itu yang terjadi sekarang ini.  Kita tidak beribadah untuk Allah (swt). Kalian dapat melihat pada hati kalian. Wahai Tuhan kami, ampunilah kami.

Jadi Qutub itu mencabut semua ilmu yang telah dicapai oleh egonya Ahmad Badawi–ilmu yang telah dipelajari oleh ego untuk mengangkat dirinya.  Dan ia dibiarkan selama 6 bulan sampai tidak mengetahui bagaimana caranya shalat. Sayyidina Ahmad Badawi berusaha mencari Qutub itu dan ia berjuang dengan sekuat tenaga namun ia tetap bersabar.  Dan setelah 6 bulan Qutub itu memperlihatkan dirinya kembali. Sayyidina Ahmad Badawi bertanya, “Ke mana saja engkau pergi yaa Sayyidi?” Qutub itu berkata, “Aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku bersamamu, tetapi engkau tidak melihatku.”   Jadi jangan berpikir bahwa Sulthanul Awliya Grandsyekh Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani meninggalkan kita, tidak, beliau bersama kita, tetapi kita tidak melihatnya.

Kemudian sekali lagi Qutub itu melihat pada Ahmad Badawi (qs) dan ia menuangkan ke dalam hatinya sebagaimana Rasululllah (saw) menuangkan ke dalam hati Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra) dan ia mengangkat kembali derajat Ahmad Badawi ke derajatnya semula, tetapi bukan melalui amal atau perbuatannya Ahmad Badawi.  Kita harus memahami hal ini, bahwa Qutub itu telah memenuhi hati Ahmad Badawi dengan ilmu dan cahaya, tetapi bukan melalui amal Sayyidina Ahmad Badawi, melainkan dari Kemurahan Allah (swt). Dan itu yang terjadi pada murid, pada seorang dzaakir, pada syaakir, pada shaabur, pada orang yang mengikuti jalan ini, mereka tidak perlu melihat buku-buku, mereka tidak perlu mempelajari ilmu-ilmu ini itu; yang mereka perlukan adalah menanti syekhnya untuk melihatnya dengan suatu pandangan dan mereka akan dipenuhi dengan ilmu dan cahaya kewalian dan itu berasal dari Kemurahan Allah (swt), itu berasal dari nikmat Allah (swt), bukan dari hasil perbuatan egonya, dan bukan dari pekerjaan setan.  Tidak ada lagi ananiyya, keinginan dan ilmu egoistik.   Ia tidak lagi dicap dengan cap ego.  Itu adalah dari Kemurahan Allah (swt).  Karena Ahmad Badawi tidak lagi dipengaruhi egonya, seluruh cahaya turun padanya, dan ia dibusanai dengan cahaya Allah (swt) dan cahaya Rasulullah (saw) dan saking kuatnya cahaya itu, Sayyidina Ahmad Badawi harus menutupi dirinya, kalau tidak orang akan pingsan ketika melihatnya.  Itulah yang berusaha kita raih.

Jangan terlalu berusaha untuk meraih suatu maqam dengan membaca atau belajar untuk diri kalian sendiri atau dengan diri kalian sendiri.  Tetap istiqomah berada di bawah gerbangnya Sang Qutub. Temukanlah Qutub itu, perkerjaan kalian adalah untuk menemukannya. Mencari apa? Mencari Qutbuz Zamaan.  Sekarang semua orang berusaha mencari melalui Google Search, tetapi ia tidak akan membawa kalian pada Qutbuz Zamaan.  Kalian harus menemui seorang shaadiq, orang yang dapat dipercaya.  Jika kalian belum dapat menemukan seorang mursyid, carilah seorang saudara yang dapat dipercaya.  Dan Allah akan tetap membukakan pintu itu sampai kalian menemukan seorang Qutub. Dan Qutub itu akan memenuhi hati kalian dengan ilmu dan cahaya, dan itu bukan dari ego tetapi dari Kemurahan Allah (swt), dan itu adalah ilmu sejati, ilmu ladunni, ilmu haqiqi.  

Jangan terkecoh oleh Setan, jangan terkecoh oleh ego yang mengatakan bahwa orang akan melihat kalian bila kalian mempunyai ilmu, yang artinya kalian bekerja untuk ego kalian, bukannya berusaha untuk mencapai Hadirat Ilahi.  Semoga Allah menjauhkan kita dari kendali ego kita. Semoga Allah senantiasa membuat kita berada di ambang gerbang Sang Qutub. Temukanlah Qutub itu, bila kalian tidak tahu siapa dia, mintalah kepada Allah dalam shalat kalian.  Al-Qutub adalah orang yang bersama dengan Shahibuz Zamaan, mintalah, “Wahai Tuhanku, jadikanlah aku bersama dengan Shahibuz Zamaan. Panjangkan umurku untuk mencapai masanya.” Dan kalian akan menemukan Qutub yang akan membawa kalian pada Shahibuz Zamaan.  Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang diterima oleh Qutub dan membawa kita pada Shahibuz Zamaan, membawa kita pada Hadirat Ilahi. Aamiin yaa Rabbii.

Allahumma la takilna lii anfusina tharfata ‘ain, wa laa aqalla min dzalik“, ini adalah doa Rasulullah (saw), mengapa orang-orang tidak memahami doanya.  Beliau berkata, wahai Tuhanku, jangan tinggalkan aku pada egoku walau hanya sekejap mata.  Apa artinya? Itu artinya jangan membuat egoku sebagai guruku; jangan menjadikan egoku sebagai mursyidku; jangan membuat nafsuku menjadi pedoman bagaimana aku berbuat di dunia ini dan bagaimana tingkah lakuku dalam beragama; jangan membuat ego sebagai bos bagiku, bahkan untuk sekejap mata, itu artinya, “Jagalah diriku agar senantiasa bersama-Mu, Engkaulah guruku, Engkaulah pembimbingku, jangan tinggalkan aku pada egoku.”  Sayangnya begitu banyak dari kita yang dikuasai ego kita melalui perbuatan kita sendiri. Bacalah doa itu, mintalah dukungan pada Allah (swt), Dia akan melindungi kalian dari ego kalian.

Semoga Allah melindungi kita dari ego kita, semoga Allah memberikan kita dari Cahaya-Nya yang tak terhingga.

© Copyright 2018 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Pentingnya Puasa Ramadan

maxresdefault

Syekh Hisyam Kabbani
Khotbah Jumat
Masjid Ash-Shiddiq, Burton, Michigan
5 September 2008

 

Wahai Muslim, wahai Mukmin!  Bulan ini adalah bulan Ramadan dan dalam bahasa Arab kita mengatakan, “Ramadhan kariim – Ramadan yang pemurah.”  Kariim berasal dari al-karam al-Ilahi, Kemurahan Ilahi.  Itu artinya Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, itu adalah bulan yang penuh pertolongan.  Itu adalah bulan untuk semua amal baik, semua berada di bulan itu.  Dan agar Allah membantu kita mengingat-Nya, di bulan ini Dia membuat kita berpuasa.  Karena ketika kalian berpuasa, kalian akan mengingat Tuhan kalian dan kalian akan ingat betapa besar nikmat yang Dia karuniakan sepanjang tahun di mana setiap saat kalian bisa makan dan minum siang dan malam.  Tetapi di bulan ini kalian tidak bisa makan dan minum kecuali pada jam-jam tertentu untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang miskin.

Nama Ramadan berasal dari kata ramadha, yang artinya untuk menghapus, Ramadan adalah bulan ketika Allah menghapus dosa hamba-hamba-Nya.  Dia memberi pahala kepada mereka.  Dan sebagaimana Allah menjadikan Jumat sebagai hari terbaik dalam seminggu, Dia juga menjadikan Ramadan sebagai bulan terbaik dalam setahun.

Wahai Muslim!  Ada orang-orang yang kelaparan dan ada orang-orang yang tidak mempunyai rumah, dan itu merupakan tanggung jawab kita bersama, khususnya para pemimpin dan pihak yang berwenang untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang menderita kelaparan.

Ramadan menguji kalian untuk melihat seberapa teguhnya kalian berpuasa.  Ada orang yang mengatakan, “Aku haus, aku tidak bisa berpuasa.”  “Oh, aku tidak bisa berpuasa karena perutku sakit, perutku akan kelaparan.”  Tentu saja perut kalian akan merasa lapar; itu adalah untuk membuat kalian menderita di siang hari.  Bahkan anak-anak pun berpuasa.  Banyak Muslim sekarang ini yang tidak tahu kapan Ramadan dan mengapa Ramadan.  Puasa kalian adalah untuk kalian.  Jika kalian tidak berpuasa kalian tahu di mana kalian berakhir.

Nabi ﷺ telah menekankan pentingnya Ramadan dan saya akan mengutip beberapa hal yang penting.  Sebelumnya saya akan bercerita tentang Sayyidina `Umar (r) ketika beliau menjadi amirul mukminiin, ketika beliau menjadi khalifah Nabi ﷺ yang kedua.  Ketika beliau mendapat kewenangan, ketika setiap orang memberikan bay’at kepadanya—itu artinya memberi dukungan kepadanya untuk menjadi khalifah.  Beliau pulang ke rumah dan menangis, bukannya tangisan biasa, tetapi tangisan yang mendalam.  Istri beliau melihatnya dan berpikir, “Apakah ia menangis karena terharu atau karena hal lainnya?”  Ia bertanya, “Wahai Umar!  Mengapa engkau menangis?”  Beliau berkata, “Wahai istriku, kau harus tahu bahwa sebelumnya aku tidak mengemban tanggung jawab tetapi sekarang aku mempunyai tanggung jawab terhadap setiap orang yang kelaparan, orang-orang yang terbunuh dan orang-orang yang melakukan ini, itu.  Aku akan ditanya oleh Allah (swt), “Apa yang telah kau lakukan, wahai Umar untuk para pengikutmu?  Apakah engkau membiarkan mereka kelaparan?’”

Beliau sering menyamar di malam hari dan membawakan makanan untuk orang-orang yang kelaparan.  Tetapi lihatlah pada presiden di seluruh dunia sekarang.  Apakah kalian melihat mereka membawakan makanan bagi orang-orang yang kelaparan?  Kalian bahkan tidak bisa bicara dengan mereka, mereka mempunyai ratusan pengawal.  Sayyidina `Umar (r) tidak memerlukan pengawal.  Allah yang menjaganya.

Wahai Muslim, apakah kalian membantu orang lain dengan puasa kalian?  Khususnya memberi makanan.  Orang-orang memerlukan makanan.  Bila kalian memberi uang, mereka bisa memboroskannya.  Bila kalian memberi makanan, mereka akan memakannya.  Itulah sebabnya itu penting sekali bagi kita semua, bukannya mengatakan, “Oh zakat fitrahku adalah 5 dolar, atau 7 atau 10 dolar per orang, aku membayar 50 dolar dan selesai.”  Ada 5 orang di rumah.  Tidak, itu adalah zakat fitrah, dan tidak ada hubungannya dengan memberi makanan kepada orang miskin.  Untuk orang miskin kalian harus memberinya sesuatu agar mereka senang.  Jadi berikanlah makanan, sedekahkan makanan.  Akan ada berkah di sana.  Ketika mereka mengucapkan “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim” itu akan dituliskan bagi kalian karena makanan itu adalah untuk Ramadan.

وجاء في حديث آخر إذا كان يوم القيامة أوحى الله إلى رضوان إنّي أخرجت الصائمين من قبورهم جائعين عطاشا فاستقبلهم بشهواتهم من الجنة فيصيح رضوان أيها الغلمان والولدان عليكم بأطباق من نور فتجتمع عنده أكثر من الكواكب بالفاكهة والأشربة اللذيذة فيستقبلون الصائمين والصائمات ويقال لهم كلوا واشربوا هنيئا بما أسلفتم في الأيام الخالية.

Wahai Muslim, disebutkan bahwa ketika Hari Kiamat tiba, idza kaana yawm al-qiyama awha Allahu tala ila Sayyidina Ridhwan – bahwa Allah berkata kepada Sayyidina Ridwan, malaikat penjaga Surga, “Aku telah membawa semua orang yang berpuasa di bulan Ramadan dari kubur mereka.  Aku membawa mereka dalam keadaan lapar, dan Aku memanggil mereka dari kubur-kubur mereka dan Aku membuat mereka dalam keadaan lapar.”

Dan kalian tahu ketika seseorang merasa lapar, ia ingin agar Maghrib segera tiba sehingga ia bisa segera berbuka puasa, dan memang sunnah untuk segera berbuka.

“Aku membuat mereka haus, dan mereka datang dari kubur-kubur mereka.  Jadi, segeralah datangi mereka dan tawarkan makanan dan minuman surgawi untuk mereka.”  Wa yuqaaluu lahum kuluu w’asyrabuu haniyyan bima aslaftum fii ayaamin khaliyyah -” (Dan kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan nikmat disebabkan amal yang telah engkau kerjakan pada hari-hari yang telah berlalu!'” [69:24]

Jadi ini bukan mengenai puasa atau tidak puasa, atau memberi alasan bagi diri kalian untuk tidak puasa.  Saya tahu banyak orang dari negeri Arab yang bepergian di bulan Ramadan.  Mengapa?  Untuk membatalkan puasa mereka.

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an,

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau sedang dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” [2:184 juga 2:185]

Jadi mereka mencari alasan untuk tidak puasa, dengan mengatakan bahwa mereka sedang dalam perjalanan.  Mengapa?  Karena waktu yang lebih singkat.  Mereka berbuat curang.  Di musim dingin yang waktunya lebih singkat, mereka baru berpuasa.

Karena sekarang Ramadan datang di musim panas dan siang hari bisa sangat panjang.  Sebagian orang mungkin berpuasa selama 18 jam.

Saya mengenal seseorang yang berpuasa sepanjang tahun, ia tidak berpuasa selama 5 hari: Iedul Fitri, Iedul Adha dan (3 hari Tasyrik).  Sepanjang tahun ia berpuasa dan ia berasal dari daerah gurun di antara Suriah dan Irak.  Ia telah lama meninggal dunia. 5 hari dalam setahun ia tidak berpuasa, sementara bagi kita, kita mengatakan, “Aku sakit, aku sekarat.”  Kita mengatakan, “Tolonglah aku.”  Kalahkan dia, kalahkan dia dengan lidah kalian.

وقال علي بن أبي طالب رضي الله عنه: لو أراد الله أن يعذب أمة محمد صلى الله عليه وسلم ماأعطاهم رمضان وقل هو الله أحد.

Wa qaala `Aliyun wa law arad-Allah an yu`adziba ummata Muhammad ma ataahum Ramadhan.”

Sayyidina `Ali (r) berkata, “Jika Allah ingin menghukum umat Nabi Muhammad (saw), Dia tidak akan memberikan Ramadan kepada mereka.”  Ramadan adalah pagar yang menjaga agar tetap aman, seperti sabuk pengaman.  Dengan sabuk itu kalian akan aman berada di tempat kalian di Surga, tidak ada yang dapat membawa kalian ke tempat penghukuman.  Sayyidina `Ali (r) berkata, “Allah tidak akan memberikan mereka Ramadan dan Dia tidak akan memberikan mereka qul huwa Allahu ahad.”

Apakah kita membaca qul huwa Allahu ahad tiga kali sehari atau tidak?  Jika kita tidak melakukannya, maka lakukanlah; tetapi bila kita telah melakukannya, tambahkanlah sebanyak yang kalian inginkan.

وسأل موسى عليه الصلاة والسلام ربه: يارب أكرمتني بالتكليم فهل أعطيت أحداً مثل ذلك؟ فأوحى الله تعالى إليه : ياموسى إن لي عباداً أخرجهم في آخر الزمان وأكرمهم بشهر رمضان فأكون أقرب لأحدهم منك، لأنك كلمتني وبيني وبينك سبعون ألف حجاب فإذا صامت أمة محمد صلى الله عليه وسلم حتى ابيضت شفاههم واصفرت ألوانهم أرفع الحجاب بيني وبينهم وقت إفطارهم.. ياموسى طوبى لمن عطش كبده وأجاع بطنه في رمضان..

Qaala Musa, ya Rabbii, Engkau telah memberiku kenikmatan di mana aku bisa berbicara langsung kepada-Mu, takliim, apakah Engkau memberikan kenikmatan seperti itu kepada yang lainnya?

Karena Sayyidina Musa (as) adalah Kaliimullah, ia tidak mempunyai malaikat perantara antara dirinya dengan Allah.  Allah memberi keistimewaan itu dan Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.

Allah berfirman, “Inna lii `ibadan ukhrijahum fii akhira ‘z-zaman – Aku mempunyai hamba-hamba dan Aku menyimpannya sekarang tetapi akan Kubawa pada Akhir Zaman dari dunia ini.”

Wa ukrimahum bi syahri Ramadhan fa akuunu aqrab li-ahadihim minka – Aku akan memberi mereka kenikmatan dengan bulan Ramadan,… dan Aku akan lebih dekat dengan mereka daripada denganmu.  Aku lebih dekat dengan mereka karena mereka berpuasa.  Itulah sebabnya Aku memberi mereka Ramadan.  Ketika Aku berbicara kepadamu, ada 70.000 hijab di antara Aku denganmu tetapi ketika Ummat an-Nabi (saw) berpuasa, hatta abyadat syifahahum sampai bibir mereka menjadi putih.  Ketika bibir mereka menjadi putih (itu artinya mereka begitu kehausan, bibir ini mulai pecah-pecah, mulai luka karena tidak ada air).  Sekarang orang-orang berbuat curang dengan mengatakan, gunakan make up ini.  Mereka menjualnya di apotek.  Apa itu?  Chopstick.  Mereka terus memakainya.  Itu memang tidak membatalkan puasa, karena itu tidak mempunyai rasa dan tidak berwarna.  Allah ingin agar kalian mempunyai bibir yang putih.  Dan orang-orang juga mengatakan, “Mulut kita bau.”  Tidak, Allah ingin kalian mempunyai bau yang tidak enak itu, tetapi para malaikat senang dengan bau itu.

“Mereka yang menjadi pucat sampai bibirnya putih dan kulit mereka menjadi kuning, arfa` al-hujjub baynii wa baynahum wa asfarat alwaanahum arfa` al-hujub baynii wa baynahum waqt iftaarhim– Aku singkirkan hijab antara Aku dengan mereka, pada saat mereka berbuka puasa.”

وقال كعب الأحبار أوْحى الله إلى موسى عليه السلام إنّي كَتبْتُ على نفسي أنْ لا أَرُدَّ دعْوَةَ صائمِ رمضانَ.

“Wahai Musa, jika mereka berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya.”

Oleh sebab itu sangat dianjurkan untuk berdoa pada saat berbuka.  Sebagian orang mengatakan, “Mengapa engkau terlambat berbuka?”  Tidak, tunggulah sampai adzan selesai.  Ucapkan,  Allahumma rabba haadzihi dawata at-taama wash-shalaat al-qa’imah ati Sayyidina Muhammadi’l-wasiilah wa’l-fadiilah wa’d-darajat ar-rafii`a wa’b`atsu’l-maqaam al-mahmuud alladzii wa a`datahu… Sekarang sebagian orang begitu Allahu Akbar [dikumandangkan], mereka langsung (berbuka) tanpa Bismillah, tanpa berdoa, kurma sudah ada di mulut, tunggulah satu atau dua menit!  Bacalah doa setelah adzan, bacalah shalawat Nabi lalu berdoalah untuk segala keperluan kalian, berdoalah agar dihilangkan segala kesulitan kalian, Allah akan mengatasinya.

Dan kemudian Dia berkata, tuuba liman atasya batanahu … kabar gembira bagi orang yang berpuasa dan kehausan, dan menderita karenanya.  Allah akan memberkati kita di bulan Ramadan dengan berkah Sayyidina Muhammad ﷺ .

Aqulu qawli hadza wa astaghfirullah al-azhiim….