Esensi Setiap Manusia

15349562_1187444074643277_8161426601939920673_n
Sayyidina ‘Abdul-Khaliq berkata,

“Esensi sejati setiap orang tertanam di dalam esensi Nabi ﷺ. (Grandsyaikh berkata dalam buku catatan beliau) (dari Quran) وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّه – wa’lamuu annaa fiikum rasulallaah – dan ketahuilah bahwasanya Nabi ﷺ ada dalam diri kalian.” (QS. Al-Hujurat 49:7) ‘Jika beliau tidak berada dalam dirimu, engkau tidak akan ada.’

Allah (swt) menjadikan setiap orang muncul karena wujud Sayyidina Muhammad ﷺ dalam Hadirat Ilahi, jika tidak, kalian pun tidak akan muncul; artinya kalian tidak akan diciptakan. Jika kalian melihat diri kalian di sini, tercipta, itu suatu pertanda bahwa kalian berada dalam haqiqat Nabi ﷺ dan bahwa kalian berada di Hadirat Ilahi. Karena itulah Nabi ﷺ selalu berbahagia ketika Allah (swt) memanggil beliau ‘hamba-Ku,’ `abdii. Jika kalian tidak dapat memahami hal ini, kalian tidak akan pernah mencapai maqam haqiqat diri kalian. Sebab kalian mesti memahami bahwa tiada kewujudan bagi diri kalian. Kalian wujud melalui wujud Nabi ﷺ, artinya kalian mestilah berserah diri. Jika kalian tidak berserah diri, kalian bukan apa-apa.

Ubaydullah (seorang murid) bertanya, “Bagaimana aku harus berserah diri?”

Sayyidina ‘Abdul-Khaliq menjawab, “Seperti ketika engkau memiliki segelas air dan mengambil setetes darinya dengan ujung jarimu, engkau melihat setetes air telah terbentuk. Tetapi, ketika tetesan itu kembali ke dalam gelas air tersebut, ia akan kehilangan bentuknya; ia kembali ke sebuah samudra. Engkau mesti meniadakan bentukmu dan berenang dalam samudra Nabi ﷺ. Itulah kuncinya bagimu.”

“Bagaimana melakukannya?” tanya Ubaydullah.

Sayyidina ‘Abdul-Khaliq menjawab, “Untuk melakukannya adalah dengan berada dalam shuhbat seorang Syekh, berada dalam perkumpulannya, berserah diri dan patuh sepenuhnya kepada perintah-perintahnya. Engkau datang dengan suatu bejana yang kosong; hatimu mestilah kosong. Jangan datang dengan bejana yang sudah penuh.”

Dapatkah kalian melihat seseorang yang mendatangi perkumpulan seorang Syekh dengan bejana hatinya yang kosong? Dia malah berkata, “Aku tahu ini atau itu.” Mungkin di hadapan syekh kalian, kalian berkata bahwa beliau lebih tahu, tetapi di hadapan saudara-saudara kalian, dapatkah kalian mengatakan bahwa mereka lebih tahu? Kalian berpikir bahwa kalianlah yang paling tahu. Orang-orang suka untuk bernyanyi. Karena itulah kalian melihat sekarang Mawlana Syekh bernyanyi untuk orang-orang, karena mereka suka mendengar nyanyian.

Sayyidina ‘Abdul-Khaliq melanjutkan, “Engkau mesti datang tanpa apa pun, seperti daun sebatang pohon: ia bergerak ke mana pun angin menghembuskannya, ke kanan atau ke kiri. Engkau mesti menjadi sehelai daun di atas gunung, turun ke bawah, ke bawah, dan ke bawah, terus ke bawah hingga masuk ke lembah yang dalam, dan akhirnya lenyap. Artinya, bawalah egomu turun dari gunung tinggi, sebagaimana kita semua berpikir bahwa kita berada di suatu gunung Himalaya yang tinggi. Bawalah dirimu ke bawah.”

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani (ق)
Nazimiyya Indonesia
http://www.naqsybandi.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s