Kita Berenang dalam Rahmat Allah

Seri Ramadhan 2018

Dr. Nour Hisham Kabbani

Mawlana Shaykh Nazim’s Notebook Series

22 Mei 2018 Fenton, Michigan

Shuhbah Subuh

 

Allah (swt) adalah ar-Rahmaan, ar-Rahiim, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.  Grandsyekh Sulthanul Awliya Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (qs), semoga Allah (swt) memberkahi ruhnya dan mengangkat derajatnya setinggi-tingginya di Surga dan senantiasa menjadikan kita berada di bawah bimbingan dan dukungannya.  Beliau selalu memulai shuhbah-nya dalam bahasa Inggris dengan menyebut Nama Allah (swt) Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kita mengucapkan nama-nama ini, tetapi apa maknanya?  Kita mengatakan bahwa Allah (swt) adalah Maha Pengasih, kita mengatakan bahwa Allah (swt) Maha Penyayang, kita katakan bahwa Dia adalah ar-Rahmaan, kita katakan bahwa Dia adalah ar-Rahiim; itu artinya Dia mempunyai rahmat dan itu artinya Dia mempunyai kasih sayang.  Kasih sayang seperti apa?

Ketika saya membaca dari catatan shuhba Mawlana Syekh, ini adalah samudra ilmu yang sangat-sangat dalam yang beliau selami dan beliau berikan beberapa permatanya bagi kita.  Apa yang akan kalian dengar, belum pernah kalian dengar sebelumnya dan kalian tidak akan mendengarnya dari yang lain, dari para imam atau pendeta atau biarawan yang berada di luar sana, atau dari para rabi, atau guru yang berada di luar sana.  Kalian tidak akan mendengar hal semacam ini, karena mereka tidak menyelami Samudra Rahmat Allah (swt), tetapi Grandsyekh kita, Sulthanul Awliya, beliau menyelam ke dalam Samudra Allah (swt) dan beliau membawakan segelintir permata bagi kita, karena yang segelintir itu merupakan samudra bagi kita.  Beliau berbicara tentang Rahmatullah.

Kita mengatakan bahwa Allah adalah ar-Rahmaan, Yang Maha Pengasih, jadi Grandsyekh, Sulthanul Awliya Syekh Nazim al-Haqqani (qs), beliau mengatakan, “Rahmatullaahi waasi`ah, Rahmat Allah waasi`ah.”  Waasi`ah artinya ia dapat menampung segala sesuatu di dalamnya.  Segala sesuatu dapat masuk ke dalamnya, seperti misalnya ketika kalian masuk ke dalam lift, mereka katakan kapasitasnya 15 orang, itu artinya 15 orang bisa masuk ke dalamnya.  Tetapi kalian bisa masuk ke dalam lift yang lebih besar, misalnya di Sears Tower, sekarang mereka menyebutnya Menara Willis yang kapasitas liftnya 50. Kalian bisa juga mendapati lift yang kapasitasnya 100, beberapa pesawat kapasitasnya 200, beberapa aula kapasitasnya 500 dan ada juga yang 5000, beberapa masjid kapasitasnya 50.000, ada juga yang kapasitasnya 250.000.  Kapasitas Masjidil Haram, kita katakan mencapai 1 juta orang. Jadi semuanya ada kapasitasnya, apa artinya? Artinya semuanya dapat masuk ke dalamnya.

Lalu bagaimana dengan kapasitas Rahmatullah?  Seberapa besar kapasitas rahmat dari Sang Pencipta?  Grandsyekh mengatakan “Waasi`ah”, sangat luas.  Ada apa di dalamnya?  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, “Wa rahmati waasi`ah” Rahmat-Ku mencakup segalanya, artinya kapasitas dari Rahmat Allah–tentu saja tidak ada batasnya, kita tidak dapat membatasi kapasitas Rahmat-Nya, tetapi agar kita dapat memahaminya, apa yang Dia katakan?  4 huruf: Rahmat-Ku, waasi`ah, mencakup, kullu syay’in, segalanya.  Apakah yang dimaksud segalanya?  Dapatkah kalian memberi batasan untuk segalanya?  Apakah kalian dapat mengatakan bahwa orang ini bukan bagian dari segalanya?  Dapatkah kalian mengatakan bahwa wanita ini bukan bagian dari segalanya? Dapatkah kalian mengatakan bahwa orang Kristen ini bukan bagian dari segalanya? Dapatkah kalian mengatakan bahwa burung-burung ini bukan bagian dari segalanya?  Dapatkah kalian mengatakan bahwa malaikat ini bukan bagian dari segalanya? Dapatkah kalian mengatakan bahwa orang-orang non Mukmin ini, manusia-manusia yang ada di depan kalian bukan bagian dari segalanya?

Allah (swt) berfirman bahwa, “Rahmat-Ku, kapasitas dari Rahmat-Ku, artinya apa yang bisa masuk ke dalamnya mencakup segalanya.  Segalanya!” Jadi pada dasarnya kita berenang dalam Rahmat Allah (swt). Kita berada dalam Rahmat Allah (swt). Kita bergerak dalam Rahmat Allah (swt).  Kita dikelilingi oleh Rahmat Allah (swt).

Dan Grandsyekh mengatakan bahwa dosa-dosa dari orang-orang di dalam rahmat tersebut tidak akan mampu mengotori rahmat tersebut.  Kita berenang di samudra, kita bergerak di Samudra Rahmat dari Sang Pencipta. Dan Grandsyekh mengatakan bahwa dosa-dosa semua orang yang berada di dalam Samudra Rahmat itu, sebagaimana Allah berfirman bahwa, “Segala sesuatu berada di dalam Rahmat-Ku,” Grandsyekh mengatakan bahwa dosa-dosa hamba-hamba tidak akan pernah mengalahkan Rahmat Allah.  Dosa-dosa manusia tidak akan pernah melampaui rahmat Tuhan mereka. Sebagai contoh, misalnya kalian mempunyai limbah yang masuk ke dalam samudra, samudra itu tidak akan berubah menjadi limbah, tidak, justru samudra itu akan membersihkan limbah tersebut. Dan samudra yang membersihkan limbah tersebut bahkan tidak sampai setetesnya dari Samudra al-Haqq (swt), di dalam Samudra-Nya Allah (swt).  Samudra yang membersihkan semua limbah tersebut tidak sampai setetes dari Samudra Rahmat-Nya Allah (swt). Oleh sebab itu dosa-dosa manusia tidak akan pernah mengalahkan atau melampaui atau mengotori Samudra Rahmat yang dimiliki oleh Allah (swt). Oleh sebab itu rahmat Allah akan membersihkan semua dosa manusia.

Sebagian orang akan mengatakan, “Oh, darimana engkau mengatakan begitu?” Hadits.  Ada haditsnya dan hadits ini disebutkan dalam Bukhari. Bahwa Allah (swt) telah menulis sebuah kitab–dan setiap orang dapat mengeceknya kembali untuk mendapatkan haditsnya secara lengkap.  Allah (swt) telah menulis sebuah kitab sebelum Dia menciptakan ciptaan. Di dalam kitab itu Dia telah menuliskan “Inna rahmati sabaqat ghadabi, sesungguhnya Rahmat-Ku lebih kuat daripada Amarah-Ku.”  Dan tulisan ini tergantung di atas Arasy, dan ini adalah hadits Rasulullah (saw) yang disebutkan dalam sahih Bukhari.  Inilah yang dikatakan oleh Grandsyekh.

Grandsyekh menambahkan, “Oleh sebab itu semua pintu Surga terbuka bagi semua hamba.  Jika mereka tidak masuk dari salah satu pintu, mereka akan masuk lewat pintu kedua; jika mereka tidak masuk dari pintu kedua, mereka akan masuk dari pintu ketiga.”  Semua Surga seluruh pintunya terbuka bagi hamba, seluruh anak cucu Adam (as). Mereka semua akan bahagia pada akhirnya. Tidak peduli betapa banyak keburukan, dosa, ketidakpatuhan, kekufuran yang muncul dari mereka di dunia ini, karena yang harus kita lihat adalah bagaimana mereka mengakhiri hidup mereka.  

Dan Grandsyekh juga mengutip Hadits Rasulullah (saw) dan ini disebutkan dalam sahih Bukhari, bahwa Rasulullah (saw) bersabda, “Innamal a`malu bil khawatim, sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada akhirnya.”  Amal, perbuatan kita tergantung pada bagaimana kita mengakhiri perbuatan tersebut.  Bagaimana kalian mengakhiri hidup kalian, itulah yang dilihat. Bagaimana seorang hamba menutup hidupnya, itulah yang terpenting.  Jika seorang hamba, baik yang beriman maupun yang tidak beriman menutup hidupnya dengan perbuatan baik melalui apa yang ia katakan atau apa yang ia lakukan; atau bahkan hanya dengan niat untuk mengatakan sesuatu yang baik atau melakukan sesuatu yang baik, karena hal itu Allah (swt) akan membukakan jalan baginya ke Surga.  Oleh sebab itu akhir dari setiap nasib manusia adalah rahasia dan tersembunyi. Itu adalah antara ia dan Tuhannya dan itu tidak dapat diketahui. Allah (swt) yang mengetahui rahasia tersebut.

Allah (swt) berfirman di dalam Surat Thaaha (QS 20:7), “fa innahu ya`lamu ‘s-sirra wa akhfa. Sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.  Dan akhir dari setiap hidup manusia, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya karena itu adalah hal yang tersembunyi dari manusia.  Jadi Grandsyekh mengatakan bahwa “Tidak peduli apa pun yang mereka lakukan dalam hidup ini, mereka akan selalu mempunyai akhir yang baik sebagaimana Allah (swt) berfirman “Rahmat-Ku mengalahkan Amarah-Ku.”  Dan semua pintu Surga terbuka bagi seluruh hamba ini.

Sekarang kita masuk lebih dalam lagi.   Yang akan kalian dengar ini akan lebih membingungkan pikiran kalian.  Ini berasal dari ilmu seseorang yang telah menjumpai hakikat, bukan dari seseorang yang hanya membicarakan tentang hakikat.  Ini berasal dari orang yang telah melihat hakikat tersebut dan mereka mengatakan kepada kita apa yang telah dilihatnya.

Grandsyekh berkata bahwa Allah (swt) akan bertanya kepada mereka apa yang telah mereka lakukan di dunia.  Ini adalah apa yang terjadi antara hamba dengan Tuhannya. Ini adalah suatu hal yang tersembunyi, di mana saya tidak melihat, kalian tidak melihat, tidak ada yang dapat melihatnya, tetapi para Awliyaullah, mereka telah melihatnya dan mereka telah mengalaminya.  Jadi ketika Allah (swt) bertanya kepada hamba ketika mereka berada di antara kehidupan ini dengan kehidupan berikutnya, Allah (swt) bersama hamba-Nya. Dia berkata, “Apa yang kau lakukan di dunia?” Karena setiap orang akan ditanya apa yang mereka lakukan di dunia ini.  Allah (swt) akan memberi mereka jawabannya.

Mereka akan mengatakan, “Wahai Tuhan kami, kami melakukan persis seperti apa yang Engkau inginkan.”  Setiap hamba akan mengatakan demikian. Orang beriman dan yang tidak beriman. Mereka akan mengatakan, “Wahai Tuhanku, aku melakukan apa yang Kau inginkan.”  “Kami tidak menyimpang dari apa yang Kau inginkan.” “Jika Engkau ingin kami menjadi patuh, kami patuh. Bila Engkau ingin kami menjadi orang yang tidak patuh, kami pun tidak patuh.”  “Dan kami datang sesuai dengan apa yang Engkau inginkan dari kami wahai Tuhan kami.” Jawaban seperti ini akan diinspirasikan oleh Allah (swt) kepada para hamba untuk diucapkan.

Mereka mengatakan, “Engkau membiarkan kami melakukan apa yang kami inginkan, dan Engkau mengatakannya di dalam kitab suci al-Qur’an, “i`maluu maa syi’tum innahu bimaa ta`maluuna bashiir”  (QS41: 40)  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, “Lakukanlah apa yang kalian sukai, i`maluu maa syi’tum”  i`maluu–lakukanlah, dalam bentuk jamak, kalian semua; lakukanlah; maa–apa pun, syi’tum–apa yang kalian sukai.   Lakukanlah apa yang kalian sukai.  “Wahai Tuhan kami, kami telah melakukan apa yang kami sukai, dan kami datang pada-Mu.”  Allah (swt) tidak akan menanyai mereka karena mereka tidak berarti untuk ditanyai. Ini dari kitab suci al-Qur’an dan kita percaya sepenuhnya dengan apa yang dikatakan oleh Grandsyekh, Sulthanul Awliya kepada kita.  

Jadi Allah (swt) berkata, “Apa yang telah engkau lakukan di dunia?”  Mereka katakan, “Wahai Tuhan kami, Engkau telah memerintahkan kepada kami di dalam kitab suci-Mu, i`maluu maa syi’tum, lakukanlah apa yang kalian sukai, apa yang kalian inginkan.  Dan kami telah memenuhi perintah-Mu dan kami telah melakukan apa yang kami sukai, dan kami datang kepada-Mu wahai Tuhan kami.”  Allah (swt) akan membiarkan mereka karena mereka telah memenuhi perintah-Nya.

Ini adalah dari Kemurahan-Nya Allah, jangan salah paham dengan mengatakan, “Aku akan melakukan apa pun yang aku inginkan.”  Tunggu dulu. Tidak, kalian mengetahui lebih baik dari mereka. Ini adalah untuk orang yang tidak tahu, bahwa Rahmat Allah (swt) mencakup kalian, wahai Mukmin dan juga mencakup non Mukmin.  Itu berasal dari Kebesaran Allah (swt), dari Luasnya Rahmat Allah (swt). Tetapi kalian… tidak, kalian ikuti apa yang Allah perintahkan kepada kalian dalam Syari’ah, jangan menyimpang. Tetapi bagi yang lain, yang tidak dimuliakan dengan kemuliaan Islam; tidak dimuliakan dengan kemuliaan Iman, Allah (swt) telah membukakan pintu bagi mereka, telah membuka jalan bagi mereka—di dalam kitab suci al-Qur’an agar mereka masuk ke dalam Rahmat-Nya yang luas.  Karena Rahmat Allah, sebagaimana yang Dia katakan dalam kitab suci al-Qur’an, wa Rahmati wasi`ah–Rahmat-Ku mencakup kulla sya’in–segala sesuatu, semua umat manusia.  

Sekarang kita masuk lebih dalam lagi.  Grandsyekh berkata bahwa jasad manusia adalah benda yang diam dari bumi sedangkan ruh, jiwa adalah cahaya dari Hadirat Ilahi.  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, “Quli ‘r-ruuhu min amri Rabbi. Katakanlah wahai Rasul, wahai Kekasih-Ku, katakan kepada mereka yang bertanya kepadamu mengenai ruh bahwa ruh berasal dari perintah Tuhanku.”  Grandsyekh mengatakan bahwa benda diam tidak dapat melakukan apa-apa. Lihatlah meja ini. Ia sudah berada di sini sejak 2 bulan yang lalu dan ia tidak bergerak.  Benda diam tidak bergerak. Jasad manusia tidak bergerak. Jika kalian meletakkan jasad itu di tanah, ia tidak bergerak. Ia tidak akan bergerak.

Jadi Grandsyekh berkata bahwa jasad manusia tidak mampu menghasilkan suatu perbuatan sementara ruh yang masuk ke dalam tubuh manusia adalah cahaya murni yang berasal dari Hadirat Ilahi.  Dan sesuatu yang murni tidak dapat dikotori. Sesuatu yang sejatinya murni tidak dapat diubah menjadi sesuatu yang tidak murni. Kegelapan tidak dapat menguasai cahaya. Oleh sebab itu dari ruh manusia tidak akan pernah tercipta kegelapan.  Ruh itu adalah cahaya dari Hadirat Ilahi dan tidak ada kegelapan di dalamnya. Sementara jasad adalah benda diam, tidak bergerak.

Jadi Allah (swt) akan bertanya pada jasad, dan ini adalah apa yang dikatakan oleh Grandsyekh.  Dan jasad itu akan menjawab, “Wahai Tuhanku, aku tidak bisa bergerak tanpa ruh. Jika Engkau tidak mengirimkan ruh ke dalam diriku, aku tidak akan melakukan suatu perbuatan buruk pun.”  Ruh pun akan mengatakan hal yang sama, “Wahai Tuhanku, aku adalah cahaya dari Hadirat Ilahiah-Mu, jika bukan untuk jasad ini, aku tidak akan melakukan hal-hal yang salah.” Jadi Allah (swt) akan memberikan inspirasi kepada ruh dan jasad agar selamat dari hukuman.

Jadi perbuatan anak cucu Adam (as) tidak bisa dihubungan dengan jasad atau tubuhnya dan tidak pula dengan ruhnya.  Kalian tidak dapat mengatakan bahwa ini adalah perbuatan jasad atau ini adalah perbuatan dari ruh karena jasad adalah benda diam sedangkan ruh dari Hadirat Ilahi. Contoh untuk hal ini adalah ketika kalian menggosokkan bati api dengan logam, darimana percikan apinya timbul?  Dari batu apinya atau dari logamnya? Ketika keduanya diadukan akan muncul percikan api, apakah itu berasal dari logam atau dari batu apinya?

Grandsyekh mengatakan bahwa perbuatan manusia muncul antara jasad dan ruh dengan Kekuatan Allah (swt). Kekuatan Allah (swt) adalah asal-muasal dari perbuatan anak cucu Adam (as).  Itulah makna dari khayrihi wa syarrihi minallaahi ta`aala.   Kita percaya pada qadar, baik dan buruk, keduanya berasal dari Hadirat Ilahi yang datang dengan Hikmah Allah (swt).  Dan Allah (swt) berfirman bahwa itu adalah fardhu bagi kalian.  Dalam iman kita wajib mengatakan wa bil qadri wa khayrihi wa syarrihi, kita percaya pada qadar Allah (swt), baik dan buruk adalah dari-Nya.  Oleh sebab itu perbuatan tidak bisa dihubungkan dengan jasad atau dengan ruh.  

Ini adalah perkara yang mendalam yang menunjukkan Rahmat Allah (swt) kepada seluruh umat manusia, apakah mereka Mukmin atau bukan, apakah mereka patuh atau tidak, Allah (swt) akan mengampuni mereka.  Rahmat Allah mencakup segalanya. Tetapi sekali lagi ini tidak berarti bahwa kalian wahai Muslim, wahai Mukmin yang percaya pada Allah dan mengikuti perintah-Nya, kalian mengatakan, “Baiklah, aku akan melakukan segala sesuatu yang bisa kulakukan.”  Tidak! Itu bukan untuk kalian. Itu adalah untuk orang-orang yang tidak tahu. Kalian tahu. Kalian tahu. Dan ada berapa banyak orang yang tidak tahu? Begitu banyak! Begitu banyak orang yang tidak mengetahui Allah (swt). Begitu banyak orang tidak mengetahui Rasulullah (saw), begitu banyak orang yang tidak mengetahui tentang Nabi mereka sendiri.  Jadi ini untuk mencakup mereka semua. Itulah betapa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia akan memberi rahmat pada siapa saja. Grandsyekh mengatakan bahwa semua surga terbuka bagi hamba-hamba-Nya. Jika mereka tidak dapat masuk melalui pintu pertama, mereka akan memasukinya lewat pintu kedua. Dan kami telah menjelaskan beberapa jalan yang telah dilihat oleh Grandsyekh kita, telah dialami oleh Grandsyekh kita dan beliau membaginya dengan kita.  

Kita masuk semakin dalam lagi sekarang.  Beliau mengatakan bahwa perbuatan yang muncul dari manusia adalah dari Kekuatan Allah (swt).  Pada Hari Kiamat perbuatan-perbuatan ini akan muncul sebagai sosok-sosok tertentu. Apa pun perbuatan yang telah kita lakukan akan muncul sebagai suatu sosok.  Dan sosok-sosok ini muncul pada Hari Kiamat. Grandsyekh mengatakan, “Tukhlaq a`maluna, amal atau perbuatan kita diciptakan, dan tumatsal–diberikan sebuah rupa, bentuk atau sosok pada Hari Kiamat.”  Dan pada perbuatan-perbuatan ini diberlakukan perhitungan: engkau adalah perbuatan buruk dari hamba-Ku, engkau adalah perbuatan baik dari hamba-Ku.  Jadi Allah (swt) akan menghakimi amal perbuatan manusia. Allah (swt) tidak akan TIDAK mengatakan kebenaran. Dia mengatakan bahwa Dia akan menghakimi amal perbuatan kalian, jika kalian melakukan kebaikan, kalian akan melihatnya dan jika kalian melakukan kejahatan kalian akan melihatnya, itu artinya kalian akan melihat amal perbuatan itu dibuat ke dalam suatu rupa.  Dan pada Hari Kiamat Allah akan mengadili sosok-sosok tersebut dari perbuatan yang buruk. Dan perbuatan-perbuatan yang buruk ini sosoknya akan muncul dengan bentuk kalian.

Jika kalian, wahai Hasan, wahai Husain, wahai Wilayat, wahai Bisyarat, wahai Selamat, apa pun nama kalian, semua sosok buruk akan muncul dengan rupa kalian.  Jadi jangan mempunyai banyak sosok semacam itu pada hari Kiamat. Kalian tidak mau melihat diri kalian dalam sosok yang buruk rupa, kalian ingin melihat banyak sosok kalian yang dibusanai dengan cahaya.  

Jadi Allah (swt) akan meciptakan sosok buruk dari amal yang telah kalian lakukan dengan rupa kalian pada hari Kiamat.  Dan ini berasal dari pembukaan yang telah dilihat dan dialami oleh Grandsyekh. Dan sosok-sosok yang telah diciptakan ini dengan bentuk rupa kalian akan dilemparkan ke dalam Neraka.  Dan ketika sosok ini terbakar dalam api Neraka, amal buruk kalian dalam api Neraka, ruh kalian akan tetap tinggal sampai Allah (swt) selesai dengan sosok-sosok ini. Dan ketika itu sudah selesai ruh kalian akan kembali ke posisi asalnya.  Dan itu berdasarkan ilmu-Nya Allah (swt). Beliau mengatakan bahwa hukuman akan berlangsung dengan cara seperti ini. Azab Neraka Jahanam akan berlangsung dengan cara seperti ini dan ini adalah berkat Rahmat Allah (swt).

Allah (swt) adalah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.  Haqq.  Alhamdulillah kita mempunyai Tuhan Yang Maha Pengasih.  Kalian harus merasa malu untuk melakukan sesuatu yang buruk kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, melanggar perintah-Nya, perintah Tuhan Yang Maha Pengasih seperti itu.  Malah semestinya kalian terus-menerus dalam posisi sujud untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih ini. Semoga Allah (swt) mengampuni kita semua.

Ingatlah bahwa Rahmat Allah mencakup segalanya.  Jangan menyakiti manusia. Jangan menggunjing sesama.  Jangan menyakiti siapa pun. Jangan mengatakan ia adalah orang yang buruk, jangan katakan ia begini,.. tinggalkan itu.  Allah (swt) akan merawat seluruh hamba-Nya. Dan seluruh hamba-Nya akan masuk Surga. Seluruh ruh akan kembali ke posisi semula.  Dan Allah (swt) adalah Yang Maha Pengasih. Jangan berpikir sebaliknya. Milikilah kasih sayang dalam hati kalian terhadap setiap orang, termasuk Mukmin dan non Mukmin, Atheis atau Kristen, Yahudi atau Buddha, Hindu atau apa pun agama yang mereka ikuti.  Milikilah selalu kasih sayang itu dalam hati kalian karena Allah (swt) mempunyai kasih sayang terhadap mereka. Jadilah seperti Tuhan kalian, jadilah orang yang penyayang. Semoga Allah (swt) mengampuni kita. Semoga Allah (swt) menjadikan rahmat itu memasuki hati kita untuk seluruh ciptaan-Nya.  Dan semoga Allah (swt) tidak membuat kita malu pada hari itu (hari Kiamat). Semoga Dia menciptakan amal kita menjadi sosok yang sangat indah.

Dan ini semua dari Ahadits.  Rasulullah (saw) telah bersabda bahwa amal kalian akan bersama kalian dalam kubur kalian.  Sebagian dari mereka akan muncul dalam sosok yang sangat buruk sehingga ia akan bertanya, “Siapa engkau?”  Dan sosok itu akan berkata, “Aku adalah amal perbuatanmu.” Dan amal itu mempunyai bau yang busuk dan menjijikan dan ia akan bersama kalian hingga hari Kiamat. Ini semua berasal dari Hadits dan Qur’an.  

Grandsyekh kita tidak akan keluar dari Qur’an atau Hadits.  Tetapi penglihatan kita sangat terbatas, kita tidak dapat melihat lebih dari itu.  Jika kita tidak dapat melihat di luar itu, tidak berarti bahwa hal itu tidak ada. Kalian hanya tidak dapat melihatnya.  Jadi itulah yang namanya iman atau percaya kepada yang gaib. Kita percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mawlana. Semoga Allah (swt) memberkahi ruhnya.  Dan semoga seperti yang tadi kita katakan, semoga Allah menjadikan amal kita sebagai sosok yang sangat indah dengan cahaya yang indah sehingga kita akan merasa bahagia dan Tuhan kita pun ridha dengan kita dan Dia menciptakan amal kita menjadi sosok yang akan membuat kita bahagia, bukan sesuatu yang membuat kita malu.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita semua. Semoga Allah (swt) mengampuni leluhur kita, kakek dan nenek kita, dan saudara-saudari kita. Semoga Allah (swt) mengampuni seluruh umat Muhammad (saw). Bi hurmatil habib wa bi hurmatil Fatihah.    

   

https://sufilive.com/We-Are-Swimming-in-Allah-s-Mercy-6587.html

© Copyright 2018 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s