Rahmat Allah bagi Umat Muhammad (saw) di Bulan Ramadhan

WhatsApp Image 2020-04-23 at 4.55.38 PM

Khotbah Jumat Dr. Nour Kabbani

Fenton, Michigan; Sabtu, 17 April 2020

 

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Syahru ramadhānalladzī unzila fīhi ‘l-qur`ānu hudal lin-nāsi wa bayyinātim mina ‘l-hudā wa ‘l-furqān, fa man syahida mingkumu ‘sy-syahra falyashum-h, wa mang kāna marīdhan au `alā safarin fa `iddatum min ayyāmin ukhar, yurīdullāhu bikumu ‘l-yusra wa lā yurīdu bikumu ‘l-`usra wa litukmilu ‘l-`iddata wa litukabbirullāha `alā mā hadākum wa la`allakum tasykurụn (Surat al-Baqarah, 2:185)

Assalamu`alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh, 

Wahai Mukmin, wahai orang-orang yang beriman!  MubarakInsya Allah bulan suci Ramadhan akan datang pada hari Kamis atau Jumat depan, insya Allah.  Kita akan memulainya dengan ibadah di bulan suci Ramadhan, yakni Tarawih dan shiyam.  Semoga Allah (swt) memberi kekuatan bagi umat untuk memikul beban di bulan ini.  

Syahru Ramadhan.  Bulan ini adalah bulan yang sulit.  Bulan ini adalah bulannya hidayah.  Saya membaca di Surat al-Baqarah ayat 185, Allah (swt) menjelaskan tentang bulan Ramadhan.  Dia mengatakan, alladzī unzila fīhil-qur`ānu hudal lin-nāsi, di bulan ini diturunkan petunjuk ke Hadirat Ilahiah-Nya.  Al-Qur’anul Kariim adalah huda, petunjuk bagi manusia, petunjuk bagi makhluk kepada Penciptanya.  Jalan bagi makhluk mencapai Penciptanya adalah melalui Al-Qur’an suci, tidak ada jalan lain.  Al-Qur’an menegaskan apa yang telah dibawa oleh risalah sebelumnya dan ia dilengkapi dengan jalan yang paling mudah dan paling cepat.  

Jadi di bulan ini, bulan Ramadhan, dan itulah sebabnya ia disebut Ramadhan, ia berasal dari kata RamdhaRamdha artinya ketika terik matahari membakar bumi.  Itu artinya wahai manusia, kalian akan berada di bawah panas yang terik.  Di bulan Ramadhan, terik matahari, artinya terik dari nuur.  Kalian akan berada di bawah nuur dan naar di bulan Ramadhan.  Kalian akan berada di bawah panas dari nuur, Nuur IlaahiNuur Ilaahi tersebut adalah jalan turunnya al-Qur’an, itulah sebabnya ia disebut Ramadhan, ia membakar, dan kalian akan terbakar.

Para Awliyaullah mengatakan bahwa nafs atau ego terbakar dengan cahaya, dengan nuuril haqq di bulan Ramadhan.  Itulah yang terjadi pada ego.  Cahaya Ilahiah bersinar padanya melalui petunjuk dari al-Qur’an suci.  Petunjuk itu sampai ke bumi, sampai pada kalian, ardhu ‘n-nafs, ego.  Ini adalah makna spiritual, makna rohaniah.  Tentu saja ada makna secara fisik.  Kita percaya padanya, az-zhahir, makna secara fisik, tetapi juga ada makna batiniah.  Dan ini adalah salah satu makna yang dikatakan oleh Awliyaullah.  Allah (swt) membimbing ego melalui cahaya Qur’an ke Hadirat Ilahiah-Nya.  

Barang siapa yang menyaksikan–itu artinya ada sesuatu yang harus disaksikan di bulan Ramadhan, dan itu adalah Maqamul Wahdah, syuhuudi maqaamil wahdah.  Di bulan Ramadhan, ketika ego kalian terbakar dengan nuuril haqq, dan ia dibimbing oleh cahaya al-Qur’an suci, dan sang Imam, Rasulullah (saw), ego itu akan menyaksikan sesuatu, ia akan terbakar lalu lenyap, itu adalah Maqamil Wahdah, artinya hanya Allah (swt) yang harus disaksikan, itulah sebabnya kita katakan, “Laa ilaaha illaAllaah, laa mawjuuda illa Allaah, laa ma`buda illa Allaah,” itu adalah Maqaamu ‘t-Tawhiid. Jadi lakukanlah yang terbaik di bulan Ramadhan, untuk mengikuti apa yang dibawa oleh Syari`ah, yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw); dan secara rohaniah Syekh kalian akan membimbing kalian kepada nuurul haqq ke Hadirat Ilahiah-Nya.      

fa man syahida mingkumu ‘sy-syahra falyashum-h, orang yang dapat menjadi saksi, dapat melihat, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, artinya kalian berpuasa dari perkataan yang bukan haqq, dari segala perbuatan yang bukan haqq, sehingga tidak ada lagi kebatilan, segala sesuatunya adalah haqq, dan ini adalah jalan yang tersembunyi, jalan batin, yang juga harus ditempuh oleh seorang Muslim; bukan hanya yang zhahir saja kalian berpuasa dan shalat, tidak!  Tetapi ada juga jalan batin.  Insya Allah kita akan mencapainya, nuurul haqq, nuur Allah (swt).

Rasulullah (saw) bersabda bahwa Allah (swt) akan mengampuni dosa-dosa kalian, jika kalian menghindari dosa-dosa besar, Dia akan mengampuni dosa-dosa kalian dari Jumat ke Jumat berikutnya.  Alhamdulillah, dari Jumat ke Jumat berikutnya dosa-dosa kita diampuni bila kalian mendirikan shalat dan menjauhi dosa-dosa besar; juga dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya dan di antara kelima waktu shalat.  Ini adalah jalan-jalan bagi Rahmat Allah dan Ampunan-Nya untuk sampai kepada kita.  Jadi jagalah shalat lima waktu kalian, jagalah Ramadhan kalian, dan jagalah Jumat kalian.  

Dan saya akan membacakan sebuah Hadits dari Jabir (ra).  Rasulullah (saw) bersabda, “Allah (swt) telah mengaruniai umatku, yaitu kita, ummatu Muhammad (saw), suatu kehormatan untuk menjadi seorang pengikut Rasulullah, khatami ‘n-Nabiyyiin (saw), tidak ada kehormatan lain yang melebihinya.  Itu adalah kehormatan terbesar.  Mengapa kalian masih mencari yang lain?   

Ketika risalah yang sempurna telah datang, mengapa kalian masih mencari risalah yang lain?  Ketika Nabi yang sempurna telah datang, dan Rasul terakhir telah datang, mengapa kalian masih mencari yang lain?  Mengapa kalian masih mencari orang yang lain, mencari filsuf yang lain dan orang-orang palsu lainnya?  Ketika seseorang yang sempurna telah datang dan ketika risalah yang sempurna telah datang dan ketika kitab yang sempurna telah datang, maka mencari ketidaksempurnaan adalah sesuatu yang tidak masuk akal.  Oleh sebab itu, maka tinggallah. Tinggallah sebagai pengikut Rasulullah (saw). 

Beliau (saw) bersabda, “Para pengikutku telah diberikan lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada umat terdahulu.  Hal pertama yang diterima oleh umatku tetapi tidak pernah diberikan kepada umat lainnya adalah malam pertama dari Syahru Ramadhan, ketika nuurul haqq mulai terwujud pada diri kalian, pada hati kalian, pada ego kalian, pada sisi lahir dan batin kalian, di bulan yang terik tersebut.  

Allah (swt) akan memandang diri kalian, dan siapa pun yang telah dipandang oleh Allah (swt), ia tidak akan pernah dihukum.  Jadi malam pertama dari Syahru Ramadhan adalah penting.  Berusahalah agar kalian mendapatkannya dengan benar, dengan sebaik-baiknya.  Kita bukanlah seorang astronom, kita tidak mempunyai teleskop. Kita hanya mengikuti saja, ketika mereka mengatakan bahwa bulan telah terlihat, maka kita mulai berpuasa.  Kita adalah orang yang lemah.  

Hal kedua yang dikaruniakan kepada umatku adalah bahwa napas mereka di penghujung hari lebih manis daripada wanginya kesturi.  Karena dengan mulut itu, kalian tidak berbohong sepanjang hari; dengan mulut itu, kalian tidak berbuat curang sepanjang hari; dengan mulut itu kalian tidak melakukan gosip sepanjang hari.  Mulut itu, lisan itu dalam keadaan suci sepanjang hari, sehingga tentu saja ia akan lebih manis daripada wangi kesturi. 

Bila kita tidak berpuasa, kita sudah membuat gosip sejak pagi hingga sore hari, sehingga bau itu muncul.  Malaikat mencium bau busuk dari gosip tersebut.  Jadi ketika kita berpuasa, kita tidak melihat apa-apa kecuali yang haqq.  Wangi dari amal baik lisan kalian lebih manis daripada wangi kesturi di Hadirat Ilahi. 

Hal ketiga adalah bahwa para malaikat akan memintakan ampun bagi kalian setiap hari, siang dan malam di bulan Ramadhan.  Inilah yang dikaruniakan kepada para pengikut Rasulullah (saw).  Jangan tinggalkan risalah beliau, kalian tidak akan mendapatkan karunia ini.  Kalian hanya akan mendapat kerikil.  Allah (swt) mengirimkan permata kepada Rasulullah (saw).  Jangan menjadi orang-orang yang bodoh dengan mengumpulkan kerikil-kerikil tersebut. 

Jadi, pertama Allah (swt) akan memandang kalian pada malam pertama di bulan Ramadhan, yang kedua, amal dari mulut dan lisan kalian akan menjadi lebih manis daripada wangi kesturi, dan Allah berfirman bahwa di Surga kalian akan diberi minuman di mana yang menjadi segelnya adalah kesturi.  Itu artinya amal kalian, lisan kalian akan lebih manis daripada minuman tersebut.  Jadi yang kedua, amal dari mulut dan lisan kalian lebih manis daripada wangi yang dimiliki Surga.  Ketiga, malaikat akan diminta untuk memohonkan ampunan bagi kalian, wahai manusia, siang dan malam.  

Hal keempat, Allah (swt) memerintahkan Surga untuk mempersiapkan diri mereka, menghiasi diri mereka untuk hamba-hamba-Nya.  “Mereka akan segera mendapat kebebasan dari kesulitan mereka di dunia dan masuk ke rumah-Ku, ke Daar-Ku.”  Jadi jangan takut!  “Oh mungkin aku akan mati hari ini, mungkin aku akan mati besok atau lusa.”  Mintalah kepada Allah (swt) agar memanjangkan umur kalian untuk mencapai Ramadhan.  Itulah sebabnya Rasulullah (saw) selalu mengingatkan kita, “Allaahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya`bana wa ballighnaa Ramadhan,” “Sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan yaa Rabbii, sehingga Engkau dapat memandang kami, sehingga para Malaikat dapat membacakan istighfar untuk kami, sehingga Surga dapat menghiasi diri mereka untuk kami, dan agar amal kami lebih manis daripada apa pun di Surga.  

Dan yang kelima, pada malam terakhir di bulan Ramadhan–itu artinya kalian telah berpuasa sepanjang bulan–jangan lewatkan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang, mereka melewatkan di sini, mereka melewatkan di sana, tidak!  Jika kalian mampu, maka berpuasalah.  Ketika malam terakhir tiba, Allah (swt) akan menyirami mereka dengan Rahmat-Nya, Ampunan-Nya dan Cinta-Nya.  Sebagian orang mengatakan, “Yaa Rasulallah, engkau menyebutkan malam terakhir, apakah hal itu berarti Laylatul Qadar?”  Rasulullah (saw) menjawab, “Tidak, tetapi pekerjaan itu akan dibayarkan pada akhir bulan.”  Jadi pada malam terakhir bulan Ramadhan, Allah (swt) akan mengampuni semua dosa.  

Jadi, ini adalah hal-hal yang zhahir, sedangkan sisi batinnya adalah ketika kalian meraih fana.  Ketika diri kalian lenyap, hanya haqq yang muncul, itu adalah fana.  Ketika orang melihat kalian, mereka hanya melihat nuurul haqq pada diri kalian. Nuun, huruf pertama dari an-Nuur.  Rasulullah (saw) adalah Nuur.  Ketika orang-orang melihat kalian, mereka akan melihat nuurul haqq, tidak ada lagi diri kalian.  Yang ada hanyalah nuurul haqq, dan itulah yang kita cari melaui bimbingan para Awliyaullah, bimbingan Grandsyekh kita dan bimbingan Rasulullah (saw).  Kita berusaha untuk mencari hal tersebut, di mana ketika orang melihat diri kalian, mereka melihat nuurul haqq.  Dan itulah yang lihat pada diri Mursyid kita. 

Semoga Allah (swt) menjaga kita untuk senantiasa berada di jalur mereka.  Semoga Allah (swt) membuat kita sampai ke bulan Ramadhan, insya Allah kita dapat meraih kehormatan dari Allah (swt), kita semua insya Allah.  Semoga Allah (swt) memberi kalian umur panjang, memberi kita semua umur panjang.  Jika kita sakit, semoga Allah (swt) menyingkirkan penyakit itu, menghilangkan kesulitan itu, dan menjadikan ummatu Muhammad, umat yang diberkahi, umat yang diampuni, umat yang mendapat kehormatan mengikuti Nabi mereka, Rasulullah (saw).

(doa)

 

     

Rahmat Allah Tak Terhingga

89591512_871362696659943_7271272168413757548_n

Dr. Nour Kabbani
Fenton, Michigan, Sabtu, 11 April 2020

A`uudzubillaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
A`uudzubillaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Alhamdulillaahirabbi ‘l-`aalamiin
Wa ‘sh-shalaatu wa ‘s-salaamu `alaa Sayyidinaa Muhammad wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin 
wa man tabi`ahum bi ihsan ila yaumiddin
Wa `ala saa’iri ‘l-Anbiyaa’i wa ‘l-Mursaliin wa ‘l-Awliyaa’ wa `ibaadilaahi ‘sh-shaalihiin wa `alayna ma’ahum ajma`iin yaa Arhama ‘r-raahimiin,  wa laa hawlaa wa laa quwwata illa bilaahi ‘l-`Aliyyi ‘l-`Azhiim

Destur yaa Sayyidi wa Mawlay, yaa Sayyidi Syaykh Naazhim, nadharak yaa Sayyidi, madadak yaa Sayyidi, himmatak yaa Sayyidi ‘l-kariim, 
 
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim,
Assalamu`alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh, 

Selamat datang kembali, selamat datang kembali.  Semoga Allah (swt) senantiasa membuat kita bahagia, menjaga agar kita senatiasa kuat, semoga Allah (swt) selalu mengampuni kita, memaafkan kita, dan menyirami kita dengan rahmat dan berkah-Nya, dan melindungi kita, khususnya di masa-masa yang sulit ini, di mana Allah (swt) akan melindungi siapa pun yang dikehendaki-Nya.  Alhamdulillah, alhamdulillah kita masih dapat menyebut Nama-Nama Suci-Nya, kita masih mampu melakukan shalat, dan insya Allah kita akan berpuasa di bulan Ramadhan yang akan datang. 

(suara terputus…)

Saya merasa malu untuk berbicara… (suara terputus).  Allah (swt) mempunyai begitu banyak hamba, hamba-hamba yang kuat, tetapi kami ditempatkan di posisi untuk menyampaikan sesuatu kepada sesama manusia.  Saya hanyalah manusia biasa seperti orang lain, dengan dua mata, dengan lidah, dengan pikiran, dengan tubuh, dan saya juga membaca. Itu saja, tidak lebih.  Saya tidak berpura-pura untuk menjadi seorang ulama atau Awliya, atau ini itu, tidak! Saya adalah hamba yang paling lemah, semoga Allah (swt) mengampuni saya.  

Sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, saya diminta untuk memberikan shuhba dan melaksanakan dzikir, dan inilah yang kita lakukan pada hari ini, mengikuti perintah syuyukh kita.  Insya Allah saya berniat untuk membacakan dari ajaran Awliyaullah, dan kemudian kita akan melakukan Khatm Khwajagan dan insyaAllah, Allah akan mengampuni kita, dan menolong kita dari apa yang akan kita lalui.  Semoga Allah (swt) memanjangkan umur setiap orang yang bekerja bagi kebaikan umat. Semoga Allah (swt) memberi kekuatan dan kesehatan yang baik bagi mereka semua, insyaAllah.

Mawlana Syekh Nazim (q), Grandsyekh kita dalam tarekat—tarekat kita, mata air kita adalah Naqsybandiyya, kita minum dari sungai tersebut.  Mawlana Syekh Nazim (q), guru kita, beliau mengatakan bahwa Rahmatullaahi waasi`a, Rahmat Allah (swt) itu luas, Rahmat Allah (swt) dapat menampung segala sesuatu yang berada di dalamnya.  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur`an,

Wa rahmatii wasi`at kulla syay’in,    

Dan Rahmat-Ku mencakup segala sesuatu. (QS al-A`raf, 7:156)

Segala sesuatu dikelilingi oleh Rahmat Allah (swt).  Tidak ada satu pun di antara ciptaan-Nya yang berada di luar Rahmat Allah (swt).  Setiap orang berada dalam Rahmat Tuhan Surgawi. Rahmat-Nya mencakup segala sesuatu yang berada di dunia, Rahmat-Nya mencakup segala sesuatu yang ada di Akhirat, Rahmat-Nya mencakup segala sesuatu sebelum masa azali, dan segala sesuatu setelah masa azali.  Dengan Rahmat Allah (swt) tersebut segala sesuatu menjadi muncul, segala sesuatu diciptakan dan segala sesuatu dapat ditemukan; dan bagian dari Rahmat tersebut adalah iman.  

Grandsyekh mengatakan, Mawlana Syekh Nazim (q) mengatakan bahwa iman adalah hibah, itu adalah pemberian dari Allah (swt).  Itu juga berasal dari Rahmat-Nya. Dan beliau mengatakan, “Sejak kapan kalian memiliki iman wahai manusia? Sejak kapan kalian menjadi seorang Mukmin, sejak kapan kalian menjadi seorang Muslim?”  Jika seseorang bertanya, “Sejak kapan engkau menjadi seorang Mukmin?” “Sejak kapan engkau menjadi seorang Muslim?” Grandsyekh mengatakan, “Kalian harus mengatakan sejak sebelum kalian datang ke dunia ini.”  Ada suatu hari di mana kita semua hadir pada hari tersebut dan Grandsyekh mengatakan dan kalian mengatakan, “Aku adalah orang yang percaya pada Tuhan Surgawi,” sejak saat itu. Hari alastu birabbikum, hari di mana Allah (swt) telah mengumpulkan kita dan Dia berkata, “Bukankah Aku ini adalah Tuhanmu?”  Dan kita semua mengatakan, “Ya!”  

Jadi dari Rahmat-Nya, Dia telah memberi kita iman sejak hari itu.  Dan apa yang sudah diberikan oleh Allah (swt) tidak akan ditariknya kembali.  Allah (swt) adalah al-Wahhab, Yang Maha Pemberi dan tidak mengharapkan kembali.  Allah (swt) memberikan hibah dan Dia tidak mengharapkan hibah itu kembali. Dan iman itu diberikan kepada seluruh bani Adam (as).  Siapa pun yang hadir pada hari itu, Hari Perjanjian, yakni di alam rohaniah sebelum kita muncul ke dunia ini, ke alam yang lebih rendah ini, di alam yang lebih tinggi kita memberikan pernyataan, “Engkau adalah Tuhan kami, Sang Pencipta, dan kami adalah hamba-Mu.”  

Grandsyekh mengatakan bahwa sebagian di antara kita telah diizinkan untuk menunjukkan iman mereka di alam yang lebih rendah ini (dunia), dan sebagian lagi tidak diizinkan untuk menunjukkan iman mereka di alam yang lebih rendah ini, tetapi kita semua di alam yang lebih tinggi, di alam rohaniah, kita semua telah memberikan ikrar bahwa Dia adalah Tuhan kita dan Pencipta kita.

Wahai manusia, dengan Rahmat-Nya, Allah (swt) menciptakan bani Adam (as); dengan Rahmat-Nya Dia mengangkat mereka; dengan Rahmat-Nya Dia membuat rohaniah kalian berkembang; dengan Rahmat-Nya Dia membuat fisik kalian, kecerdasan kalian dan keuangan kalian berkembang; dan dengan Rahmat-Nya Dia telah mencurahkan berbagai kenikmatan kepada kalian; karena kalian adalah makhluk yang sangat istimewa bagi Tuhan Surgawi.  

Oleh sebab itu, `inda ahlil haqiqah, Mawlana Syekh Nazim (q), Grandsyekh, guru kita mengatakan bahwa para Ahli haqiqat, para ahli kebenaran, orang-orang yang menyaksikan kebenaran, mereka semua telah melewati semua hijab ini, dan mereka dihadapkan pada kebenaran.  Mereka melihat bahwa seluruh bani Adam (as), pada akhirnya akan berada di Surga.

Jadi apakah seseorang itu menunjukkan imannya di dunia ini, atau orang yang tidak menunjukkan iman mereka di dunia ini, pada akhirnya Allah (swt) akan membawa mereka ke dalam Rahmat-Nya.  Dan Grandsyekh mengatakan bahwa pada akhirnya seluruh bani Adam (as) akan masuk Surga dengan Rahmat Allah. Dan ini adalah sebuah kabar gembira yang besar bagi kita. Allah (swt) Maha Pemaaf.

Grandsyekh mengatakan bahwa jika seseorang senantiasa membutuhkan Rahmat Allah, tetapi Dia tidak bisa memberikan Rahmat-Nya kepadanya, bagaimana mungkin Dia menjadi Rahiim?  Bagaimana mungkin Dia menjadi Rahmaan?  Bagaimana mungkin Dia menjadi Arhama ‘r-Raahimiin?  Jika seseorang membutuhkan Rahmat Allah tetapi Allah tidak dapat memberikannya kepada mereka, maka Dia bukanlah Rahmaan dan RahiimRahmaan artinya Maha Pemberi Rahmat bagi semua.  Lihatlah di dunia ini, Allah telah memberi Rahmat-Nya kepada semua orang, baik orang-orang yang beriman maupun orang-orang yang tidak menunjukkan keimanannya.  Dia telah memberi mereka makanan, tempat tinggal, kenyamanan, kemudahan kepada seluruh manusia di Bumi, apakah mereka percaya kepada Allah (swt) atau tidak! Ini adalah Rahmaan, Rahmat-Nya adalah ammah, berlaku umum kepada setiap orang.  Jadi jika ada seseorang yang memerlukan rahmat, Nama-Nya adalah Rahmaan, jadi Dia pasti memberikannya; Nama-Nya adalah Rahiim, jadi Dia pasti memberikannya.  Allah (swt) Maha Penyayang untuk semuanya dan pada akhirnya setiap orang akan masuk Surga.  

Kita mengambil pernyataan ini dari Grandsyekh, dan kita senang mendengarnya.  Kita pun senang karena ini berlaku untuk sesama manusia. Kita senang bahwa setiap orang akan berakhir dalam Rahmat Allah (swt).  Kita tidak menginginkan penderitaan bagi siapa pun, kita tidak menginginkan penderitaan bagi sesama manusia. Kita menginginkan kebaikan bagi semua.  Allah (swt) berfirman, wa rahmatii kulla syay’in, Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.  Syay’in artinya sesuatu, apakah kalian bagian dari sesuatu?  Apakah kalian sesuatu? Ya! Segala sesuatu di antara ciptaan adalah syay’in, dan Rahmat Allah (swt) mencakup segala sesuatu.  Oleh sebab itu Grandsyekh mengatakan bahwa kalian harus mempunyai tuma’ninah, ketenangan dalam hati, Allah (swt) akan mengatur segalanya.  Allah (swt) adalah ar-Rahmaanu ‘r-Rahiim, al-Kariim, al-Afuww, Akramul Akramiin, Arhaamu ‘r-Raahimiin.  Rahmat-Nya adalah karam, untuk kalian, wahai manusia. Dan Allah (swt) akan memberikannya.  Semoga Allah (swt) menjadikan kita termasuk orang-orang yang mempunyai kebaikan di dalam hatinya kepada orang lain, kepada orang lain.

Ketika seseorang memiliki kebaikan di dalam hatinya, mempunyai perasaan baik dan mencintai sesama manusia, itu adalah tandanya iman.  Ketika hati kalian terbuka, maka ia dapat mengambil sesuatu dan ia dapat menerima lebih banyak orang ke dalamnya. itu artinya iman kalian besar.  Sebaliknya, jika dada kalian tertutup, jika hati kalian sempit, maka yang terjadi adalah, “Orang ini tidak boleh masuk, yang ini ditolak, yang ini harus keluar, yang ini begini, yang itu begitu.”  Itu juga mencerminkan iman kalian. Jika iman kalian besar, setiap orang bisa masuk, jika iman kalian lemah, maka banyak orang yang tidak bisa masuk. Berhati-hatilah! Ini adalah perkataan Mawlana Syekh Nazim (q).  Setiap kali iman masuk ke dalam hati, maka ia dapat menampung lebih banyak orang. Jadi berhati-hatilah! Hati kalian harus bisa menampung lebih banyak orang!  

Para Imam, orang-orang yang religius, rabbi, pendeta, manusia secara umum, hati kalian harus bisa menampung lebih banyak orang.  Itu adalah tandanya iman. Itu adalah tanda kebaikan. Itu adalah tanda rahmat. Jika hati kalian menjauhkan orang-orang, jika kalian menolak orang-orang, jika kalian menyakiti orang-orang, maka itu adalah sebuah pertanda buruk.  Ketika iman masuk ke dalam hati, ia akan mampu menampung lebih banyak orang. Oleh sebab itu, kalian melihat pada Awliyaullah–bukan yang lain, ada begitu banyak orang yang berada pada posisi yang tinggi, baik di bidang keagamaan maupun tidak, tetapi mereka menolak begitu banyak kelompok orang, begitu banyak ras, begitu banyak keyakinan yang berbeda.  

Seorang Waliyullah, yang berada pada maqam rohaniah yang tinggi, kalian akan mendapati mereka mempunyai dada yang lapang, hati yang luas, artinya mereka dapat menampung semua orang.  Wa ‘r-rahma, kalian akan mendapatkan rahmat dalam hatinya untuk semua orang, apakah mereka Mukmin, fasik, kafir, munafik, mufsid, atau musyrik, kalian akan mendapati rahmat di dalam hati Awliyaullah bagi mereka semua.  Dadanya terbuka bagi mereka semua. Mereka bahkan akan berdoa, “Yaa Rabbii, aku akan memikul beban mereka.” “Aku akan memikul penderitaan orang lain, tetapi lepaskanlah mereka dari beban mereka, lepaskan penderitaan mereka.  Jadikanlah mereka bahagia.” Para Awliyaullah dan Anbiyaullah dan Rasulullah (saw), mereka semua memohon kepada Allah (swt) untuk mengampuni dan memaafkan setiap orang. Itu adalah syafaat mereka. Awliyaullah, mereka mengatakan, “Yaa Rabbii, kami akan memikul apa yang telah Engkau tuliskan bagi mereka.”  Dan apa yang Allah (swt) putuskan, itu terserah pada-Nya. Kita tidak dapat mengatakan, “Ya atau tidak! Allah tidak dapat melakukan hal itu.” Allah (sw) melakukan apa yang Dia kehendaki dan memerintah sesuai keinginan-Nya. Ada sebuah pembukaan di sana.  

Awliyaullah, mereka melihat pada manusia, Muslim, Kristen, Yahudi, Buddha, Sikh, Hindu, atheis, semuanya.  Para Wali, para kekasih Allah, mereka memandang seluruh manusia dengan cinta, dengan rahmat, dengan kebaikan dan dada yang lapang, untuk membawa mereka semua ke dalamnya.  Dan mereka berdoa, “Yaa Rabbii, aku akan memikul penderitaan mereka. Berikanlah kenyamanan pada mereka.” Mereka mengatakan, “Bagi seluruh hamba-Mu.” Mereka tidak mengatakan “kuffar”.  Allah (swt) mengajarkan adab di dalam al-Qur’an suci. Di dalam Surat al-Ma`idah, apa yang dikatakan oleh Sayyidina `Isa (as)?  

Allah (swt) berfirman melalui lisan Sayyidina `Isa (as),
In tu `adzdzibhum fa’innahum `ibaaduk (QS al-Ma`idah, 5:118)


Kita menjadikan Sayyidina `Isa (as) sebagai contoh bagi kita, beliau adalah seorang Waliyullah, beliau adalah seorang Nabiyullah, beliau adalah seorang Rasulullaah, beliau adalah seorang yang istimewa bagi Allah (swt).  Beliau mengatakan, “Yaa Rabbii, in tu `adzdzibhum fa’innahum `ibaaduk, jika Engkau menghukum mereka, jika Engkau memberi kesulitan pada mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu.”  Beliau mengatakan, “innahum `ibaaduk,” artinya mereka semua: Mukmin dan non Mukmin, orang-orang yang telah percaya kepada Sayyidina `Isa (as) di masanya dan orang-orang yang tidak percaya kepadanya di masanya.   

Kemudian, 

Wa in taghfir lahum fa’innaka anta ‘l-`Aziizu ‘l-Hakiim 

Dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana

Beliau menyebut mereka sebagai hamba, dan beliau mengatakan, “Yaa Rabbii, jika Engkau menghukum mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, lakukanlah apa yang ingin Engkau lakukan dalam Kerajaan-Mu dengan ciptaan-Mu, tetapi bila Engkau mengampuni mereka, Engkau mampu melakukannya, Engkau Mahaperkasa dan Engkau Mahabijaksana.”  Ini adalah karakeristik dari Awliyaullah, karakteristik dari Anbiyaullah.

Jika kalian ingin mengetahui seorang Waliyullah, lihatlah pada seseorang yang menerima semua orang, lihatlah pada seseorang yang mencintai semua orang, lihatlah pada seseorang yang menyayangi semua orang.  Jika kalian ingin mengikuti seorang yang baik, maka orang yang baik itu haruslah orang yang tidak menolak orang ini, orang yang tidak mengusir orang itu, orang yang tidak menghindari orang ini, tidak menghina orang ini, tidak menyakiti orang itu, tidak mengatakan hal-hal yang buruk tentang orang itu, tidak!  Waliyullah adalah seseorang yang mempunyai dada yang lapang, sebagaimana yang dikatakan oleh Mawlana Shaykh Nazim (q). Waliyullah menerima semua orang, ia mencintai semua orang, ia menyayangi semua orang, dan inilah jalan kita, tarekat kita, jalan kita Tarekat Naqsybandiyya mengajarkan hal itu kepada kita, yakni bahwa kalian harus berada di jejaknya Awliyaullah, kalian harus berada di jejaknya Rasulullah (saw).  Lalu apa jejak beliau (saw)? Beliau adalah Rahmatan lil `aalamiin, beliau adalah rahmat bagi semua orang.     

Jika kalian mengaku sebagai Waliyullah atau mengaku sebagai orang yang baik, tetapi kalian tidak mempunyai rasa sayang terhadap semua orang, berarti ada suatu PR yang harus dilakukan.  Kita harus berbuat lebih banyak, kita harus lebih maju, semoga Allah (swt) menjadikan kita sebagai bagian dari orang-orang yang berada di jejak tersebut. Selalu bersikap baiklah kepada orang lain, cintailah mereka selalu, dan sayangilah mereka selalu.  Ini adalah karakteristik Awliyaullah. Dan mereka mengambil karakteristik itu dari guru mereka, yaitu Rasulullah (saw). Dan Rasulullah (saw) mengambilnya dari siapa? Dari ar-Rahmaan ar-Rahiim, dari Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim, dengan Nama Allah, ar-Rahmaan ar-Rahiim.  Mereka semua mengambil dari Rahmaan tersebut, dari Nama Suci Rahma.  Wahai manusia, jadilah di antara `ibaadu ‘r-Rahmaan, jadilah orang yang baik, yang mencintai dan menyangi orang lain!  Allah (swt) mencintai hal itu. Insya Allah kita dapat menjadi salah satu dari mereka. 

Rahmatullaahi waasi`a, sebagaimana yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim (q) bahwa Rahmat Allah itu luas dan setiap orang telah memberikan ikrarnya kepada Tuhan mereka dan Allah (swt) akan membawa mereka ke dalam Rahmat-Nya, ke dalam Surga-Nya.  Jadi, jangan bersedih! Jangan gundah! Laa taqnathuu min Rahmatillaah, janganlah berputus asa dengan Rahmat Allah, karena ia mencakup segala sesuatu.  Allah (swt) akan memberikan Rahmat-Nya kepada semua orang. Semoga Allah (swt) mengampuni kita semua, insyaAllah.

Saya rasa ini cukup untuk kita sekarang.  Insya Allah kita akan melakukan Khatmul Khwajagan dan semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang bermurah hati kepada orang lain. 

Saya berniat untuk membaca beberapa halaman berikutnya, tetapi saya pikir ini sudah cukup untuk malam ini.  Insya Allah Kamis depan, hamba yang lemah ini, hamba yang dhaif ini–guru kita mengajarkan kita untuk mengatakan bahwa kita adalah orang-orang yang lemah, kita tidak berpura-pura untuk menjadi sesuatu.  Kita adalah orang yang lemah. Kita hanya berbicara dari apa yang telah kita baca, yang telah kita dengar dari guru kita. Semoga Allah (swt) memberkahi ruh mereka, mensucikan asrar (rahasia-rahasia) mereka, dan menjadikan kita selalu sebagai mutaraabithiin, selalu tersambung dengan mereka. 

Dalam Surat Ali `Imran, Allah (swt) berfirman,
Yaa ayyuhalladziina aamanushbiruu 

Ayat terakhir Surat Ali `Imran, karena sebagian orang merasa keberatan dengan pertalian atau koneksi antara kita dengan guru kita.  Allah (swt) berfirman di dalam Surat Ali `Imran, ayat karimah terakhir,

Asta`idzubillah, 

Yaa ayyuhalladziina aamanushbiruu 


Wahai orang-orang yang beriman, orang-orang yang mempunyai iman kepada Allah (swt), dan Rasul-Nya, kepada kitab-kitab suci dan malaikat-Nya, pada Hari Akhir dan takdir, ushbiruu, bersabarlah!  Itu artinya buatlah ego kalian bersabar dalam beribadah.  Ego kalian harus setuju dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah (swt).  Ego kalian harus berserah diri pada apa yang Allah (swt) inginkan, ego kalian harus tunduk.  Jadi sabar di sini adalah untuk ego, nafs.

Yaa ayyuhalladziina aamanushbiruu wa shaabiruu 


Dan shaabiruu ma`a Allah, lakukan yang terbaik untuk terus menempuh jalan kalian, artinya mampu menghadapi kesulitan dan beban untuk dijalankan ma`a Allah bersama Allah (swt), ini adalah untuk hati.  Allah (swt) harus mengirim min shifatil Jalaal, karakteristik Jalaal di dalam hati untuk membersihkan karakter-karakter buruk dalam hati.  Jadi Yaa ayyuhalladziina aamanushbiruu wa shaabiruu artinya bersabarlah dalam ketaatan, dalam kepatuhan, itu adalah untuk ego, nafs; wa shaabiruu dan berusahalah agar mampu memikul beban yang datang pada kalian untuk membersihkan hati kalian; wa raabithuu sambungkan diri kalian dan ini adalah untuk ruh. 

Sejak Hari Perjanjian ada beberapa ruh yang saling terhubung, menjadi bersahabat, dan ada beberapa ruh yang tidak terhubung.  Jadi kalian harus mencari tahu kepada siapa ruh kalian terhubung, raabithuu, dan ini adalah Syekh kalian, ini adalah Grandsyekh kalian, Waliyullah, ini adalah Mursyid kalian.  Kalian harus membuat pertalian dengan Mursyid kalian, wa raabithuu wattaqullaaha , kemudian bertakwalah kepada Allah, la`allakum tuflihuun agar kalian menjadi orang-orang yang beruntung, yang akan masuk Surga.

Jadi, jangan lupa: bersabar dengan ego kalian, biarkan ego kalian bersabar pada ketaatan, dan biarkan hati kalian menanggung kesulitan yang muncul dan biarkan ruh kalian terhubung dengan ruh Mursyid kalian dan lakukan kebaikan sehingga kalian bisa masuk ke Surga.  Kita dapat melakukan keempat-empatnya. Ini adalah ayatul kariimah terakhir dalam Surat Ali `Imran.  Insya Allah yaa Rabbii, jadikanlah kami sebagai orang yang dapat melakukan hal tersebut. 

Bi hurmatil habib wa bi sirri Suuratil Faatihah.     

        

Kita Berenang dalam Rahmat Allah

Seri Ramadhan 2018

Dr. Nour Hisham Kabbani

Mawlana Shaykh Nazim’s Notebook Series

22 Mei 2018 Fenton, Michigan

Shuhbah Subuh

 

Allah (swt) adalah ar-Rahmaan, ar-Rahiim, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.  Grandsyekh Sulthanul Awliya Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (qs), semoga Allah (swt) memberkahi ruhnya dan mengangkat derajatnya setinggi-tingginya di Surga dan senantiasa menjadikan kita berada di bawah bimbingan dan dukungannya.  Beliau selalu memulai shuhbah-nya dalam bahasa Inggris dengan menyebut Nama Allah (swt) Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kita mengucapkan nama-nama ini, tetapi apa maknanya?  Kita mengatakan bahwa Allah (swt) adalah Maha Pengasih, kita mengatakan bahwa Allah (swt) Maha Penyayang, kita katakan bahwa Dia adalah ar-Rahmaan, kita katakan bahwa Dia adalah ar-Rahiim; itu artinya Dia mempunyai rahmat dan itu artinya Dia mempunyai kasih sayang.  Kasih sayang seperti apa?

Ketika saya membaca dari catatan shuhba Mawlana Syekh, ini adalah samudra ilmu yang sangat-sangat dalam yang beliau selami dan beliau berikan beberapa permatanya bagi kita.  Apa yang akan kalian dengar, belum pernah kalian dengar sebelumnya dan kalian tidak akan mendengarnya dari yang lain, dari para imam atau pendeta atau biarawan yang berada di luar sana, atau dari para rabi, atau guru yang berada di luar sana.  Kalian tidak akan mendengar hal semacam ini, karena mereka tidak menyelami Samudra Rahmat Allah (swt), tetapi Grandsyekh kita, Sulthanul Awliya, beliau menyelam ke dalam Samudra Allah (swt) dan beliau membawakan segelintir permata bagi kita, karena yang segelintir itu merupakan samudra bagi kita.  Beliau berbicara tentang Rahmatullah.

Kita mengatakan bahwa Allah adalah ar-Rahmaan, Yang Maha Pengasih, jadi Grandsyekh, Sulthanul Awliya Syekh Nazim al-Haqqani (qs), beliau mengatakan, “Rahmatullaahi waasi`ah, Rahmat Allah waasi`ah.”  Waasi`ah artinya ia dapat menampung segala sesuatu di dalamnya.  Segala sesuatu dapat masuk ke dalamnya, seperti misalnya ketika kalian masuk ke dalam lift, mereka katakan kapasitasnya 15 orang, itu artinya 15 orang bisa masuk ke dalamnya.  Tetapi kalian bisa masuk ke dalam lift yang lebih besar, misalnya di Sears Tower, sekarang mereka menyebutnya Menara Willis yang kapasitas liftnya 50. Kalian bisa juga mendapati lift yang kapasitasnya 100, beberapa pesawat kapasitasnya 200, beberapa aula kapasitasnya 500 dan ada juga yang 5000, beberapa masjid kapasitasnya 50.000, ada juga yang kapasitasnya 250.000.  Kapasitas Masjidil Haram, kita katakan mencapai 1 juta orang. Jadi semuanya ada kapasitasnya, apa artinya? Artinya semuanya dapat masuk ke dalamnya.

Lalu bagaimana dengan kapasitas Rahmatullah?  Seberapa besar kapasitas rahmat dari Sang Pencipta?  Grandsyekh mengatakan “Waasi`ah”, sangat luas.  Ada apa di dalamnya?  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, “Wa rahmati waasi`ah” Rahmat-Ku mencakup segalanya, artinya kapasitas dari Rahmat Allah–tentu saja tidak ada batasnya, kita tidak dapat membatasi kapasitas Rahmat-Nya, tetapi agar kita dapat memahaminya, apa yang Dia katakan?  4 huruf: Rahmat-Ku, waasi`ah, mencakup, kullu syay’in, segalanya.  Apakah yang dimaksud segalanya?  Dapatkah kalian memberi batasan untuk segalanya?  Apakah kalian dapat mengatakan bahwa orang ini bukan bagian dari segalanya?  Dapatkah kalian mengatakan bahwa wanita ini bukan bagian dari segalanya? Dapatkah kalian mengatakan bahwa orang Kristen ini bukan bagian dari segalanya? Dapatkah kalian mengatakan bahwa burung-burung ini bukan bagian dari segalanya?  Dapatkah kalian mengatakan bahwa malaikat ini bukan bagian dari segalanya? Dapatkah kalian mengatakan bahwa orang-orang non Mukmin ini, manusia-manusia yang ada di depan kalian bukan bagian dari segalanya?

Allah (swt) berfirman bahwa, “Rahmat-Ku, kapasitas dari Rahmat-Ku, artinya apa yang bisa masuk ke dalamnya mencakup segalanya.  Segalanya!” Jadi pada dasarnya kita berenang dalam Rahmat Allah (swt). Kita berada dalam Rahmat Allah (swt). Kita bergerak dalam Rahmat Allah (swt).  Kita dikelilingi oleh Rahmat Allah (swt).

Dan Grandsyekh mengatakan bahwa dosa-dosa dari orang-orang di dalam rahmat tersebut tidak akan mampu mengotori rahmat tersebut.  Kita berenang di samudra, kita bergerak di Samudra Rahmat dari Sang Pencipta. Dan Grandsyekh mengatakan bahwa dosa-dosa semua orang yang berada di dalam Samudra Rahmat itu, sebagaimana Allah berfirman bahwa, “Segala sesuatu berada di dalam Rahmat-Ku,” Grandsyekh mengatakan bahwa dosa-dosa hamba-hamba tidak akan pernah mengalahkan Rahmat Allah.  Dosa-dosa manusia tidak akan pernah melampaui rahmat Tuhan mereka. Sebagai contoh, misalnya kalian mempunyai limbah yang masuk ke dalam samudra, samudra itu tidak akan berubah menjadi limbah, tidak, justru samudra itu akan membersihkan limbah tersebut. Dan samudra yang membersihkan limbah tersebut bahkan tidak sampai setetesnya dari Samudra al-Haqq (swt), di dalam Samudra-Nya Allah (swt).  Samudra yang membersihkan semua limbah tersebut tidak sampai setetes dari Samudra Rahmat-Nya Allah (swt). Oleh sebab itu dosa-dosa manusia tidak akan pernah mengalahkan atau melampaui atau mengotori Samudra Rahmat yang dimiliki oleh Allah (swt). Oleh sebab itu rahmat Allah akan membersihkan semua dosa manusia.

Sebagian orang akan mengatakan, “Oh, darimana engkau mengatakan begitu?” Hadits.  Ada haditsnya dan hadits ini disebutkan dalam Bukhari. Bahwa Allah (swt) telah menulis sebuah kitab–dan setiap orang dapat mengeceknya kembali untuk mendapatkan haditsnya secara lengkap.  Allah (swt) telah menulis sebuah kitab sebelum Dia menciptakan ciptaan. Di dalam kitab itu Dia telah menuliskan “Inna rahmati sabaqat ghadabi, sesungguhnya Rahmat-Ku lebih kuat daripada Amarah-Ku.”  Dan tulisan ini tergantung di atas Arasy, dan ini adalah hadits Rasulullah (saw) yang disebutkan dalam sahih Bukhari.  Inilah yang dikatakan oleh Grandsyekh.

Grandsyekh menambahkan, “Oleh sebab itu semua pintu Surga terbuka bagi semua hamba.  Jika mereka tidak masuk dari salah satu pintu, mereka akan masuk lewat pintu kedua; jika mereka tidak masuk dari pintu kedua, mereka akan masuk dari pintu ketiga.”  Semua Surga seluruh pintunya terbuka bagi hamba, seluruh anak cucu Adam (as). Mereka semua akan bahagia pada akhirnya. Tidak peduli betapa banyak keburukan, dosa, ketidakpatuhan, kekufuran yang muncul dari mereka di dunia ini, karena yang harus kita lihat adalah bagaimana mereka mengakhiri hidup mereka.  

Dan Grandsyekh juga mengutip Hadits Rasulullah (saw) dan ini disebutkan dalam sahih Bukhari, bahwa Rasulullah (saw) bersabda, “Innamal a`malu bil khawatim, sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada akhirnya.”  Amal, perbuatan kita tergantung pada bagaimana kita mengakhiri perbuatan tersebut.  Bagaimana kalian mengakhiri hidup kalian, itulah yang dilihat. Bagaimana seorang hamba menutup hidupnya, itulah yang terpenting.  Jika seorang hamba, baik yang beriman maupun yang tidak beriman menutup hidupnya dengan perbuatan baik melalui apa yang ia katakan atau apa yang ia lakukan; atau bahkan hanya dengan niat untuk mengatakan sesuatu yang baik atau melakukan sesuatu yang baik, karena hal itu Allah (swt) akan membukakan jalan baginya ke Surga.  Oleh sebab itu akhir dari setiap nasib manusia adalah rahasia dan tersembunyi. Itu adalah antara ia dan Tuhannya dan itu tidak dapat diketahui. Allah (swt) yang mengetahui rahasia tersebut.

Allah (swt) berfirman di dalam Surat Thaaha (QS 20:7), “fa innahu ya`lamu ‘s-sirra wa akhfa. Sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.  Dan akhir dari setiap hidup manusia, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya karena itu adalah hal yang tersembunyi dari manusia.  Jadi Grandsyekh mengatakan bahwa “Tidak peduli apa pun yang mereka lakukan dalam hidup ini, mereka akan selalu mempunyai akhir yang baik sebagaimana Allah (swt) berfirman “Rahmat-Ku mengalahkan Amarah-Ku.”  Dan semua pintu Surga terbuka bagi seluruh hamba ini.

Sekarang kita masuk lebih dalam lagi.   Yang akan kalian dengar ini akan lebih membingungkan pikiran kalian.  Ini berasal dari ilmu seseorang yang telah menjumpai hakikat, bukan dari seseorang yang hanya membicarakan tentang hakikat.  Ini berasal dari orang yang telah melihat hakikat tersebut dan mereka mengatakan kepada kita apa yang telah dilihatnya.

Grandsyekh berkata bahwa Allah (swt) akan bertanya kepada mereka apa yang telah mereka lakukan di dunia.  Ini adalah apa yang terjadi antara hamba dengan Tuhannya. Ini adalah suatu hal yang tersembunyi, di mana saya tidak melihat, kalian tidak melihat, tidak ada yang dapat melihatnya, tetapi para Awliyaullah, mereka telah melihatnya dan mereka telah mengalaminya.  Jadi ketika Allah (swt) bertanya kepada hamba ketika mereka berada di antara kehidupan ini dengan kehidupan berikutnya, Allah (swt) bersama hamba-Nya. Dia berkata, “Apa yang kau lakukan di dunia?” Karena setiap orang akan ditanya apa yang mereka lakukan di dunia ini.  Allah (swt) akan memberi mereka jawabannya.

Mereka akan mengatakan, “Wahai Tuhan kami, kami melakukan persis seperti apa yang Engkau inginkan.”  Setiap hamba akan mengatakan demikian. Orang beriman dan yang tidak beriman. Mereka akan mengatakan, “Wahai Tuhanku, aku melakukan apa yang Kau inginkan.”  “Kami tidak menyimpang dari apa yang Kau inginkan.” “Jika Engkau ingin kami menjadi patuh, kami patuh. Bila Engkau ingin kami menjadi orang yang tidak patuh, kami pun tidak patuh.”  “Dan kami datang sesuai dengan apa yang Engkau inginkan dari kami wahai Tuhan kami.” Jawaban seperti ini akan diinspirasikan oleh Allah (swt) kepada para hamba untuk diucapkan.

Mereka mengatakan, “Engkau membiarkan kami melakukan apa yang kami inginkan, dan Engkau mengatakannya di dalam kitab suci al-Qur’an, “i`maluu maa syi’tum innahu bimaa ta`maluuna bashiir”  (QS41: 40)  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, “Lakukanlah apa yang kalian sukai, i`maluu maa syi’tum”  i`maluu–lakukanlah, dalam bentuk jamak, kalian semua; lakukanlah; maa–apa pun, syi’tum–apa yang kalian sukai.   Lakukanlah apa yang kalian sukai.  “Wahai Tuhan kami, kami telah melakukan apa yang kami sukai, dan kami datang pada-Mu.”  Allah (swt) tidak akan menanyai mereka karena mereka tidak berarti untuk ditanyai. Ini dari kitab suci al-Qur’an dan kita percaya sepenuhnya dengan apa yang dikatakan oleh Grandsyekh, Sulthanul Awliya kepada kita.  

Jadi Allah (swt) berkata, “Apa yang telah engkau lakukan di dunia?”  Mereka katakan, “Wahai Tuhan kami, Engkau telah memerintahkan kepada kami di dalam kitab suci-Mu, i`maluu maa syi’tum, lakukanlah apa yang kalian sukai, apa yang kalian inginkan.  Dan kami telah memenuhi perintah-Mu dan kami telah melakukan apa yang kami sukai, dan kami datang kepada-Mu wahai Tuhan kami.”  Allah (swt) akan membiarkan mereka karena mereka telah memenuhi perintah-Nya.

Ini adalah dari Kemurahan-Nya Allah, jangan salah paham dengan mengatakan, “Aku akan melakukan apa pun yang aku inginkan.”  Tunggu dulu. Tidak, kalian mengetahui lebih baik dari mereka. Ini adalah untuk orang yang tidak tahu, bahwa Rahmat Allah (swt) mencakup kalian, wahai Mukmin dan juga mencakup non Mukmin.  Itu berasal dari Kebesaran Allah (swt), dari Luasnya Rahmat Allah (swt). Tetapi kalian… tidak, kalian ikuti apa yang Allah perintahkan kepada kalian dalam Syari’ah, jangan menyimpang. Tetapi bagi yang lain, yang tidak dimuliakan dengan kemuliaan Islam; tidak dimuliakan dengan kemuliaan Iman, Allah (swt) telah membukakan pintu bagi mereka, telah membuka jalan bagi mereka—di dalam kitab suci al-Qur’an agar mereka masuk ke dalam Rahmat-Nya yang luas.  Karena Rahmat Allah, sebagaimana yang Dia katakan dalam kitab suci al-Qur’an, wa Rahmati wasi`ah–Rahmat-Ku mencakup kulla sya’in–segala sesuatu, semua umat manusia.  

Sekarang kita masuk lebih dalam lagi.  Grandsyekh berkata bahwa jasad manusia adalah benda yang diam dari bumi sedangkan ruh, jiwa adalah cahaya dari Hadirat Ilahi.  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, “Quli ‘r-ruuhu min amri Rabbi. Katakanlah wahai Rasul, wahai Kekasih-Ku, katakan kepada mereka yang bertanya kepadamu mengenai ruh bahwa ruh berasal dari perintah Tuhanku.”  Grandsyekh mengatakan bahwa benda diam tidak dapat melakukan apa-apa. Lihatlah meja ini. Ia sudah berada di sini sejak 2 bulan yang lalu dan ia tidak bergerak.  Benda diam tidak bergerak. Jasad manusia tidak bergerak. Jika kalian meletakkan jasad itu di tanah, ia tidak bergerak. Ia tidak akan bergerak.

Jadi Grandsyekh berkata bahwa jasad manusia tidak mampu menghasilkan suatu perbuatan sementara ruh yang masuk ke dalam tubuh manusia adalah cahaya murni yang berasal dari Hadirat Ilahi.  Dan sesuatu yang murni tidak dapat dikotori. Sesuatu yang sejatinya murni tidak dapat diubah menjadi sesuatu yang tidak murni. Kegelapan tidak dapat menguasai cahaya. Oleh sebab itu dari ruh manusia tidak akan pernah tercipta kegelapan.  Ruh itu adalah cahaya dari Hadirat Ilahi dan tidak ada kegelapan di dalamnya. Sementara jasad adalah benda diam, tidak bergerak.

Jadi Allah (swt) akan bertanya pada jasad, dan ini adalah apa yang dikatakan oleh Grandsyekh.  Dan jasad itu akan menjawab, “Wahai Tuhanku, aku tidak bisa bergerak tanpa ruh. Jika Engkau tidak mengirimkan ruh ke dalam diriku, aku tidak akan melakukan suatu perbuatan buruk pun.”  Ruh pun akan mengatakan hal yang sama, “Wahai Tuhanku, aku adalah cahaya dari Hadirat Ilahiah-Mu, jika bukan untuk jasad ini, aku tidak akan melakukan hal-hal yang salah.” Jadi Allah (swt) akan memberikan inspirasi kepada ruh dan jasad agar selamat dari hukuman.

Jadi perbuatan anak cucu Adam (as) tidak bisa dihubungan dengan jasad atau tubuhnya dan tidak pula dengan ruhnya.  Kalian tidak dapat mengatakan bahwa ini adalah perbuatan jasad atau ini adalah perbuatan dari ruh karena jasad adalah benda diam sedangkan ruh dari Hadirat Ilahi. Contoh untuk hal ini adalah ketika kalian menggosokkan bati api dengan logam, darimana percikan apinya timbul?  Dari batu apinya atau dari logamnya? Ketika keduanya diadukan akan muncul percikan api, apakah itu berasal dari logam atau dari batu apinya?

Grandsyekh mengatakan bahwa perbuatan manusia muncul antara jasad dan ruh dengan Kekuatan Allah (swt). Kekuatan Allah (swt) adalah asal-muasal dari perbuatan anak cucu Adam (as).  Itulah makna dari khayrihi wa syarrihi minallaahi ta`aala.   Kita percaya pada qadar, baik dan buruk, keduanya berasal dari Hadirat Ilahi yang datang dengan Hikmah Allah (swt).  Dan Allah (swt) berfirman bahwa itu adalah fardhu bagi kalian.  Dalam iman kita wajib mengatakan wa bil qadri wa khayrihi wa syarrihi, kita percaya pada qadar Allah (swt), baik dan buruk adalah dari-Nya.  Oleh sebab itu perbuatan tidak bisa dihubungkan dengan jasad atau dengan ruh.  

Ini adalah perkara yang mendalam yang menunjukkan Rahmat Allah (swt) kepada seluruh umat manusia, apakah mereka Mukmin atau bukan, apakah mereka patuh atau tidak, Allah (swt) akan mengampuni mereka.  Rahmat Allah mencakup segalanya. Tetapi sekali lagi ini tidak berarti bahwa kalian wahai Muslim, wahai Mukmin yang percaya pada Allah dan mengikuti perintah-Nya, kalian mengatakan, “Baiklah, aku akan melakukan segala sesuatu yang bisa kulakukan.”  Tidak! Itu bukan untuk kalian. Itu adalah untuk orang-orang yang tidak tahu. Kalian tahu. Kalian tahu. Dan ada berapa banyak orang yang tidak tahu? Begitu banyak! Begitu banyak orang yang tidak mengetahui Allah (swt). Begitu banyak orang tidak mengetahui Rasulullah (saw), begitu banyak orang yang tidak mengetahui tentang Nabi mereka sendiri.  Jadi ini untuk mencakup mereka semua. Itulah betapa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia akan memberi rahmat pada siapa saja. Grandsyekh mengatakan bahwa semua surga terbuka bagi hamba-hamba-Nya. Jika mereka tidak dapat masuk melalui pintu pertama, mereka akan memasukinya lewat pintu kedua. Dan kami telah menjelaskan beberapa jalan yang telah dilihat oleh Grandsyekh kita, telah dialami oleh Grandsyekh kita dan beliau membaginya dengan kita.  

Kita masuk semakin dalam lagi sekarang.  Beliau mengatakan bahwa perbuatan yang muncul dari manusia adalah dari Kekuatan Allah (swt).  Pada Hari Kiamat perbuatan-perbuatan ini akan muncul sebagai sosok-sosok tertentu. Apa pun perbuatan yang telah kita lakukan akan muncul sebagai suatu sosok.  Dan sosok-sosok ini muncul pada Hari Kiamat. Grandsyekh mengatakan, “Tukhlaq a`maluna, amal atau perbuatan kita diciptakan, dan tumatsal–diberikan sebuah rupa, bentuk atau sosok pada Hari Kiamat.”  Dan pada perbuatan-perbuatan ini diberlakukan perhitungan: engkau adalah perbuatan buruk dari hamba-Ku, engkau adalah perbuatan baik dari hamba-Ku.  Jadi Allah (swt) akan menghakimi amal perbuatan manusia. Allah (swt) tidak akan TIDAK mengatakan kebenaran. Dia mengatakan bahwa Dia akan menghakimi amal perbuatan kalian, jika kalian melakukan kebaikan, kalian akan melihatnya dan jika kalian melakukan kejahatan kalian akan melihatnya, itu artinya kalian akan melihat amal perbuatan itu dibuat ke dalam suatu rupa.  Dan pada Hari Kiamat Allah akan mengadili sosok-sosok tersebut dari perbuatan yang buruk. Dan perbuatan-perbuatan yang buruk ini sosoknya akan muncul dengan bentuk kalian.

Jika kalian, wahai Hasan, wahai Husain, wahai Wilayat, wahai Bisyarat, wahai Selamat, apa pun nama kalian, semua sosok buruk akan muncul dengan rupa kalian.  Jadi jangan mempunyai banyak sosok semacam itu pada hari Kiamat. Kalian tidak mau melihat diri kalian dalam sosok yang buruk rupa, kalian ingin melihat banyak sosok kalian yang dibusanai dengan cahaya.  

Jadi Allah (swt) akan meciptakan sosok buruk dari amal yang telah kalian lakukan dengan rupa kalian pada hari Kiamat.  Dan ini berasal dari pembukaan yang telah dilihat dan dialami oleh Grandsyekh. Dan sosok-sosok yang telah diciptakan ini dengan bentuk rupa kalian akan dilemparkan ke dalam Neraka.  Dan ketika sosok ini terbakar dalam api Neraka, amal buruk kalian dalam api Neraka, ruh kalian akan tetap tinggal sampai Allah (swt) selesai dengan sosok-sosok ini. Dan ketika itu sudah selesai ruh kalian akan kembali ke posisi asalnya.  Dan itu berdasarkan ilmu-Nya Allah (swt). Beliau mengatakan bahwa hukuman akan berlangsung dengan cara seperti ini. Azab Neraka Jahanam akan berlangsung dengan cara seperti ini dan ini adalah berkat Rahmat Allah (swt).

Allah (swt) adalah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.  Haqq.  Alhamdulillah kita mempunyai Tuhan Yang Maha Pengasih.  Kalian harus merasa malu untuk melakukan sesuatu yang buruk kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, melanggar perintah-Nya, perintah Tuhan Yang Maha Pengasih seperti itu.  Malah semestinya kalian terus-menerus dalam posisi sujud untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih ini. Semoga Allah (swt) mengampuni kita semua.

Ingatlah bahwa Rahmat Allah mencakup segalanya.  Jangan menyakiti manusia. Jangan menggunjing sesama.  Jangan menyakiti siapa pun. Jangan mengatakan ia adalah orang yang buruk, jangan katakan ia begini,.. tinggalkan itu.  Allah (swt) akan merawat seluruh hamba-Nya. Dan seluruh hamba-Nya akan masuk Surga. Seluruh ruh akan kembali ke posisi semula.  Dan Allah (swt) adalah Yang Maha Pengasih. Jangan berpikir sebaliknya. Milikilah kasih sayang dalam hati kalian terhadap setiap orang, termasuk Mukmin dan non Mukmin, Atheis atau Kristen, Yahudi atau Buddha, Hindu atau apa pun agama yang mereka ikuti.  Milikilah selalu kasih sayang itu dalam hati kalian karena Allah (swt) mempunyai kasih sayang terhadap mereka. Jadilah seperti Tuhan kalian, jadilah orang yang penyayang. Semoga Allah (swt) mengampuni kita. Semoga Allah (swt) menjadikan rahmat itu memasuki hati kita untuk seluruh ciptaan-Nya.  Dan semoga Allah (swt) tidak membuat kita malu pada hari itu (hari Kiamat). Semoga Dia menciptakan amal kita menjadi sosok yang sangat indah.

Dan ini semua dari Ahadits.  Rasulullah (saw) telah bersabda bahwa amal kalian akan bersama kalian dalam kubur kalian.  Sebagian dari mereka akan muncul dalam sosok yang sangat buruk sehingga ia akan bertanya, “Siapa engkau?”  Dan sosok itu akan berkata, “Aku adalah amal perbuatanmu.” Dan amal itu mempunyai bau yang busuk dan menjijikan dan ia akan bersama kalian hingga hari Kiamat. Ini semua berasal dari Hadits dan Qur’an.  

Grandsyekh kita tidak akan keluar dari Qur’an atau Hadits.  Tetapi penglihatan kita sangat terbatas, kita tidak dapat melihat lebih dari itu.  Jika kita tidak dapat melihat di luar itu, tidak berarti bahwa hal itu tidak ada. Kalian hanya tidak dapat melihatnya.  Jadi itulah yang namanya iman atau percaya kepada yang gaib. Kita percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mawlana. Semoga Allah (swt) memberkahi ruhnya.  Dan semoga seperti yang tadi kita katakan, semoga Allah menjadikan amal kita sebagai sosok yang sangat indah dengan cahaya yang indah sehingga kita akan merasa bahagia dan Tuhan kita pun ridha dengan kita dan Dia menciptakan amal kita menjadi sosok yang akan membuat kita bahagia, bukan sesuatu yang membuat kita malu.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita semua. Semoga Allah (swt) mengampuni leluhur kita, kakek dan nenek kita, dan saudara-saudari kita. Semoga Allah (swt) mengampuni seluruh umat Muhammad (saw). Bi hurmatil habib wa bi hurmatil Fatihah.    

   

https://sufilive.com/We-Are-Swimming-in-Allah-s-Mercy-6587.html

© Copyright 2018 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.