RINGKASAN SUHBAH FAJAR 28 RAMADHAN

Dr. Nour Kabbani dari catatan Grandsyaikh Nazim

 

Awliya’Allah memiliki cahaya dari Allah, yang dengan cahaya itu mereka berjalan. Dengan cahaya itu pula mereka mampu melihat apa yang terlintas maupun tersimpan dalam hati manusia.

Syaitan juga memiliki kemampuan yang sama. Syaitan tidak memiliki cahaya Ilahi, tetapi Allah SWT mengaruniakan padanya kemampuan untuk melihat dan mengetahui apa yang terlintas di hati manusia.

Perbedaan antara kemampuan Awliya’ dengan Syaitan adalah, Awliya’ juga dikaruniai pengetahuan akan hikmah munculnya niat yang timbul di hati seseorang, sedangkan syaitan tidak faham hikmahnya.

Karena itulah, Awliya’Allah terkadang membiarkan munculnya niat buruk pada orang / murid yang hadir di majelis mereka, karena mereka faham akan hikmah yang lebih dalam akan niat tersebut, misalnya mungkin untuk menguji murid yang lain, dan sebagainya.

Sedangkan syaitan tidak memahaminya. Bila ia melihat niatan baik pada hati seseorang, ia akan berusaha mencegahnya. Sebaliknya, bila ia melihat niatan buruk dalam hati seseorang, ia akan mendorongnya.

Demikianlah hati manusia pada level qalb, ditempatkan di dalamnya cahaya Awliya’ dan kegelapan Syaitani. Dan di antara keduanya, Allah SWT letakkan haqiqat (realitas) diri kita.

Hakikat Insaniyah itu yang telah Allah ciptakan dari citra / refleksi Ilahiah-Nya, berdasarkan hadits sahih di Bukhari dan Muslim:
Innallaha khalaqa Adama ‘alaa suuratih

Sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas citra-Nya.

Maksudnya sebagai refleksi Atribut dan Asma-Nya.

Ketika diri kita mencari cahaya Ilahi yaitu melalui Awliya’Allah, dan meninggalkan kegelapan syaitani, maka saat itulah perlahan2 ruh kita menjadi bercahaya, Ruh Nurani. Dan jika kita istiqomah pada jalan tersebut, maka kita akan mencapai Maqam berikutnya dari hati, yaitu Sirr qalbu. Kita akan mencapai Syarqiy tempat terbitnya cahaya Ilahi dalam diri kita.

Allah SWT berfirman:

وَاذْكُرْ فِى الْـكِتٰبِ مَرْيَمَ ۘ اِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ اَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا
wazkur fil-kitaabi maryam, izintabazat min ahlihaa makaanan syarqiyyaa

“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al-Qur’an), (yaitu) ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitulmaqdis),”
(QS. Maryam 19: Ayat 16)

* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Dengan mengasingkan diri dari “keluarga” kita, yaitu Nafs (ego), Hawa’ (keinginan2 buruk), Syaithan dan Dunia, maka kita akan mencapai Syarqiyy.

Allah SWT berfirman:

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُوْنِهِمْ حِجَابًا ۗ فَاَرْسَلْنَاۤ اِلَيْهَا رُوْحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
fattakhozat min duunihim hijaabaa, fa arsalnaaa ilaihaa ruuhanaa fa tamassala lahaa basyaron sawiyyaa

“lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.”
(QS. Maryam 19: Ayat 17)

dan ketika kita telah memasuki Maqam Sirr, maka Allah akan menurunkan hijab-Nya untuk melindungi kita dari Syaithan, Ego, Hawa dan Dunia. Keempat musuh2 kita tersebut tidak akan mampu mengakses diri kita di Maqam Sirr.

Kemudian Allah akan menurunkan ruh-Nya yaitu Awliya’Nya untuk membimbing kita di maqam ini. Grandsyaikh mengatakan bahwa Maqam Sirr ini diperuntukkan bagi Aimmah (Imam-imam) dari 40 Turuq (Tariqah2) selain Naqsybandi. Karenanya, Grandsyaikh menjelang wafatnya selalu menyeru Shah Mardan Sayyidina ‘Ali alayhissalaam, sebagai Pir, Pemimpin dari 40 Turuq, sebagai Pintu menuju Haqiqat kita. Karena kita tidak bisa menjadi Naqsybandi sebelum menjadi ke 40 Turuq lainnya.

InsyaAllah pada kesempatan berikutnya, kita akan membahas Maqam Hati berikutnya. Namun, yang lebih penting bukanlah sekedar mendengarnya, karena ego suka mendengar tanpa melakukannya.

Yang lebih penting adalah untuk memalingkan diri kita dari keburukan 4 musuh kita, mengarahkan wajah kita ke cahaya Ilahi yang dibawa Awliya’Allah.

Itulah makna doa yang diajarkan Nabi SAW:

Allahumma arina l-haqqa haqqan warzuqna t-tibaa’ah, wa arina l-bathila bathilan, warzuqna j-tinaabah

Yaa Allah tunjukkanlah bahwa yang Haqq itu adalah Haqq dan karuniakan kami untuk mengikutinya, dan tunjukkan bahwa yang bathil adalah bathil, dan karuniakan kami untuk menjauhinya.

Wallahu a’lam bissawab, wa min Allah at Taufiq, Alfatihah.

Advertisements

Catatan Ringkas SUHBAH ZUHUR 28 RAMADAN 1439H

 

Dr. Nur Kabbani

 

Penyakit di zaman ini adalah Depresi. Setiap orang memiliki depresi. Dan obat untuk depresi adalah Dzikrullah. Jangan buang waktumu dengan pergi ke Psikiater untuk mengobati depresimu. Mereka hanya memberikan obat yang membuatmu tidur dan tidak sadar. Obat terbaik untuk depresi adalah Dzikrullah. Karena itu kita datang ke majelis ini, untuk memperoleh Hudhur, ketenangan. Dan hudhur hanya dapat diperoleh dengan dzikrullah, seperti yang disebutkan dalam Alquran untuk orang2 yang menginginkan tuma’ninah, ketenangan, obatnya adalah dzikrullah.

Allah SWT berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
allaziina aamanuu wa tathma`innu quluubuhum bizikrillaah, alaa bizikrillaahi tathma`innul-quluub

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 28)

Juga dalam surat Jumu’ah, ketika kita diperintahkan Allah untuk berlari menuju dzikrullah.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۗ ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu izaa nuudiya lish-sholaati miy yaumil-jumu’ati fas’au ilaa zikrillaahi wa zarul baii’, zaalikum khoirul lakum ing kuntum ta’lamuun

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
(QS. Al-Jumu’ah 62: Ayat 9)

Jadi, ketika kita ingin meninggalkan keadaan sekeliling kita yang membuat depresi, kita ke masjid, untuk berlari menuju Hadirat Allah di Masjid itu, bukan kepada orang2 yang berada di masjid itu.

Tiap kali kita merasa depresi, lakukan dzikrullah. Kalian tidak akan menemukan kepuasan dengan berteriak dan marah. Namun berdzikirlah. Datanglah ke masjid, dengarkan para Syuyukh, untuk bisa pulang dalam keadaan bahagia. Kebahagiaan adalah sesuatu yang hilang di dunia saat ini. Qalbu kita berada di Tangan Allah. Ia berkuasa untuk membalikkan hati kita dari situasi depresi ke situasi bahagia.

 

Madad yaa Sayyidii, Madad yaa Mawlana…

Mawlana Grandsyaikh berkata, Ketika Yaqin bertambah, Raahah, Ketenangan pun bertambah.

Allah SWT berfirman:

… وَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗ …

…, wa may yu`mim billaahi yahdi qolbah,…

“…; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. ….”
(QS. At-Taghabun 64: Ayat 11)

Haadii atau petunjuk itu muncul sebagai Huzhur, ketenangan. “Jika kalian yaqin terhadap Allah, Allah akan memberikan petunjuk padamu menuju kebahagiaan dan ketenangan.”

Ketika seseorang beriman kepada Allah SWT, dan imannya mencapai level yaqin, Tuma’ninah akan mewujud di hatinya, tidak ada rasa khawatir lagi dalam hatinya. Seandainya seluruh dunia dilanda api, “Terserah Engkau, wahai Tuhanku”. Seandainya seluruh dunia diliputi banjir, “Terserah Engkau, wahai Tuhanku!”

Ketika Iman mencapai Yaqin, Sakinah ketenangan akan datang. Sakinah dari kata Sakan yang bermakna rumah, kalian akan merasa berada di rumah sendiri, merasa aman dan tentram, yaitu ketika qalbu kalian hanya berisi Allah SWT.

Sekarang, di rumah kalian, kalian memasang gembok di setiap pintu, bahkan jeruji. Tetapi, kalian lupa memasang gembok di hati kalian untuk mencegah masuknya syaitan. Akibatnya, segala bentuk kekhawatiran dan depresi datang.

Ketika Iman meliputi segenap qalbu, tak ada lagi syaitan tertinggal dalam qalbu. Tak ada lagi syaitan yang membuatmu ragu akan Tuhan. Ketika Iman kita bertambah hingga tiada lagi yang tersisa dalam hati kecuali Tuhan, bahkan seandainya seluruh dunia diliputi api, kita bersikap “Hasbiyallahu” Cukup Allah sebagai Penolong.

Lihatlah teladan Sayyidina Ibrahim ‘alayhissalaam yang menggantungkan dirinya pada Allah semata, bahkan ketika Jibril dan Malaikat2 lainnya telah menawarkan pertolongan pada beliau.

Inilah iman yang kita cari, iman orang2 di shaf terdepan. Bahkan seandainya mereka dilempar ke api, mereka tetap tenang, tiada kekhawatiran. Untuk itulah, kita berada di sini sekarang, untuk menghilangkan keresahan kita dengan meningkatkan iman kita.

Jadi, bagaimana kita dapat meningkatkan Iman kita?

Mawlana mengatakan, bahwa jika Allah SWT adalah Ia Yang Menggerakkan diri kalian pada arah perjalanan kalian, maka tiada keraguan bahwa pastilah Dia tengah menunjukkan kita pada jalan Kebaikan. Jadi, mengapa kita mesti khawatir? Inilah Islam, untuk berserah diri kepada Kehendak Allah SWT. Jika kita memahami bahwa Allah SWT tengah menunjukkan kita menuju tujuan kita, maka tidak perlu ada keresahan dalam hati kita.

Orang2 yang memiliki iman yang lemah, mereka berlarian mencari berbagai hal yang berbeda siang dan malam. Seperti diri kita yang mengejar dunia siang dan malam tanpa hasil.

Mengapa? Karena orang2 ini bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya mereka cari. Ketika kalian bekerja, kalian mengejar begitu banyak target.

Sebenarnyalah yang mereka cari adalah Tauhid, mencari Allah SWT saja. Banyak orang mencari uang, padahal semestinya mereka hanya mencari Allah SWT.

Begitu banyak Muslim mereka tidak tahu apa yang mesti mereka cari. Semestinya mereka berkata, “Aamantu billahi”, kami mencari Allah.

Ketika mereka mencari sesuatu selain Allah, syayathin, setan2 akan bersemayam dalam hati mereka. Dan mereka pun menjadi resah dan khawatir. Namun, seandainya mereka hanya mencari Allah SWT, mereka akan tenang tanpa rasa khawatir. Seperti Sayyidina Ibrahim a.s. Karena itulah Nabi kita Muhammad SAW diperintahkan untuk mengikuti Millata Ibraahim, Jalan Nabi Ibrahim alayhissalaam.

Kita harus meminta Tuhan kita. Ketika kita mencapai Tuhan kita, kita mendapatkan segalanya. Karena setiap permintaan manusia, jawabannya ada pada Allah SWT. Inilah Tauhid, mintalah hanya Allah SWT! Karena apapun yang kalian perlukan ada pada-Nya! Sayangnya Muslim saat ini justru mencari penolong2 yang lain, tuhan jadi2an.

Grandsyaikh berkata, mintalah kalian Allah SWT: inilah Tauhid! Mereka yang mendapatkannya, mendapatkan Hadirat Ilahiah Allah, mereka mendapatkan semuanya.

Sebaliknya, mereka yang mendapatkan sesuatu selain Allah, pada hakikatnya, mereka tidak mendapatkan apa2. Kalian punya uang, tetapi uang itu ada di Bank, atau di pasar saham, dlsb. Apa yang kalian pegang dengan tangan kalian? Tidak ada! Namun, jika kalian memiliki Allah SWT bersama kalian, kalian memiliki segalanya di ujung jari kalian. Kalian dapat membelah laut menjadi gunung. Atau, seperti Sayyidina ‘Isa ‘alayhissalaam yang dapat membuat burung dari tanah liat. Jika kalian bersama Allah SWT, segala sesuatunya akan bersama kalian. Apapun yang kalian miliki selain Allah, akan pergi. Bahkan seandainya kalian memiliki seluruh dunia, atau 10x dunia, suatu waktu kalian mesti memberi salam perpisahan pada mereka. Apa yang tidak akan berpisah dari kalian adalah jika kalian bersama Tuhan kalian.

Jadi, berusahalah untuk mencapai Tauhid, Tauhid yang sejati. Jangan ikuti badut2 yang mengajarkan kalian tauhid palsu (kaum Wahabi Salafi, penerj.) yang sebenarnya hanya ingin mengajak kalian mengikuti mereka, menjadikan mereka sebagai tuhan2 palsu kalian.

Suatu waktu seseorang mengeluh dan menangis kepada Sayyidina Jalaluddin Rumi. Beliau pun bertanya padanya, apa yang terjadi. Orang tersebut berkata, “Wahai Syaikhku, aku kehilangan anakku”. Sayyidina Rumi pun berkata, “Lihatlah orang ini yang menangis karena kehilangan anakknya, padahal manusia telah kehilangan Tuhan mereka, namun mereka tidak mencari-Nya. Carilah Tuhanmu agar Ia dapat mengembalikan anakmu, sebagaimana Ia mengembalikan Yusuf alayhissalaam kepada ayahandanya, Ya’qub alayhissalaam.” Ketika Ya’qub alayhissalaam berkata Fa sabrun jamiil, Wallahu l-musta’aan.

Allah SWT berfirman:

وَجَآءُوْ عَلٰى قَمِيـْصِهٖ بِدَمٍ كَذِبٍ ۗ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَـكُمْ اَنْفُسُكُمْ اَمْرًا ۗ فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ ۗ وَاللّٰهُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ
wa jaaa`uu ‘alaa qomiishihii bidaming kazib, qoola bal sawwalat lakum anfusukum amroo, fa shobrun jamiil, wallohul-musta’aanu ‘alaa maa tashifuun

“Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Ya’qub) berkata, Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 18)

Inilah contoh orang2 yang berada pada saf terdepan ummat ini.

Utlub Rabbak
Carilah Tuhanmu!

Mawlana Syaikh Nazim biasa berdzikir “Allahu Rabbii, Kafaanii Rabbal”
“Allah Tuhanku, Ia mencukupi semua kebutuhan”.

Carilah iman seperti itu. Semoga Allah SWT mengaruniakan kita Iman dan Yaqin seperti itu. Dialah Yang Awal sebelum segala sesuatu, dan Dialah Yang Akhir setelah segala sesuatu.

Marilah kita mengejar Tauhid sejati, Laa ilaaha illAllah. Ketika kalian bersama-Nya, dan tidak bersama yang selain-Nya, kalian akan mendapatkan segalanya. Berusahalah mencapai Yaqin seperti itu.

Ketika Iman dan Yaqin kita bertambah, kebahagiaan dan ketentraman kita pun bertambah. Dan kita telah memberikan contoh Sayyidina Ibrahim dan Sayyidina Ya’qub alayhimassalam.

Semoga Allah menyelamatkan kita dengan Iman dan jalan terbaik menambah keimanan adalah dengan Dzikrullah, dan sebaik2 Dzikrullah adalah Laa ilaaha illAllah.

Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai Muwahhidin sejati, bukan seperti orang2 palsu itu.

Wa min Allah At Taufiq, Alfatihah

Kita Berenang dalam Rahmat Allah

Seri Ramadhan 2018

Dr. Nour Hisham Kabbani

Mawlana Shaykh Nazim’s Notebook Series

22 Mei 2018 Fenton, Michigan

Shuhbah Subuh

 

Allah (swt) adalah ar-Rahmaan, ar-Rahiim, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.  Grandsyekh Sulthanul Awliya Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (qs), semoga Allah (swt) memberkahi ruhnya dan mengangkat derajatnya setinggi-tingginya di Surga dan senantiasa menjadikan kita berada di bawah bimbingan dan dukungannya.  Beliau selalu memulai shuhbah-nya dalam bahasa Inggris dengan menyebut Nama Allah (swt) Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kita mengucapkan nama-nama ini, tetapi apa maknanya?  Kita mengatakan bahwa Allah (swt) adalah Maha Pengasih, kita mengatakan bahwa Allah (swt) Maha Penyayang, kita katakan bahwa Dia adalah ar-Rahmaan, kita katakan bahwa Dia adalah ar-Rahiim; itu artinya Dia mempunyai rahmat dan itu artinya Dia mempunyai kasih sayang.  Kasih sayang seperti apa?

Ketika saya membaca dari catatan shuhba Mawlana Syekh, ini adalah samudra ilmu yang sangat-sangat dalam yang beliau selami dan beliau berikan beberapa permatanya bagi kita.  Apa yang akan kalian dengar, belum pernah kalian dengar sebelumnya dan kalian tidak akan mendengarnya dari yang lain, dari para imam atau pendeta atau biarawan yang berada di luar sana, atau dari para rabi, atau guru yang berada di luar sana.  Kalian tidak akan mendengar hal semacam ini, karena mereka tidak menyelami Samudra Rahmat Allah (swt), tetapi Grandsyekh kita, Sulthanul Awliya, beliau menyelam ke dalam Samudra Allah (swt) dan beliau membawakan segelintir permata bagi kita, karena yang segelintir itu merupakan samudra bagi kita.  Beliau berbicara tentang Rahmatullah.

Kita mengatakan bahwa Allah adalah ar-Rahmaan, Yang Maha Pengasih, jadi Grandsyekh, Sulthanul Awliya Syekh Nazim al-Haqqani (qs), beliau mengatakan, “Rahmatullaahi waasi`ah, Rahmat Allah waasi`ah.”  Waasi`ah artinya ia dapat menampung segala sesuatu di dalamnya.  Segala sesuatu dapat masuk ke dalamnya, seperti misalnya ketika kalian masuk ke dalam lift, mereka katakan kapasitasnya 15 orang, itu artinya 15 orang bisa masuk ke dalamnya.  Tetapi kalian bisa masuk ke dalam lift yang lebih besar, misalnya di Sears Tower, sekarang mereka menyebutnya Menara Willis yang kapasitas liftnya 50. Kalian bisa juga mendapati lift yang kapasitasnya 100, beberapa pesawat kapasitasnya 200, beberapa aula kapasitasnya 500 dan ada juga yang 5000, beberapa masjid kapasitasnya 50.000, ada juga yang kapasitasnya 250.000.  Kapasitas Masjidil Haram, kita katakan mencapai 1 juta orang. Jadi semuanya ada kapasitasnya, apa artinya? Artinya semuanya dapat masuk ke dalamnya.

Lalu bagaimana dengan kapasitas Rahmatullah?  Seberapa besar kapasitas rahmat dari Sang Pencipta?  Grandsyekh mengatakan “Waasi`ah”, sangat luas.  Ada apa di dalamnya?  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, “Wa rahmati waasi`ah” Rahmat-Ku mencakup segalanya, artinya kapasitas dari Rahmat Allah–tentu saja tidak ada batasnya, kita tidak dapat membatasi kapasitas Rahmat-Nya, tetapi agar kita dapat memahaminya, apa yang Dia katakan?  4 huruf: Rahmat-Ku, waasi`ah, mencakup, kullu syay’in, segalanya.  Apakah yang dimaksud segalanya?  Dapatkah kalian memberi batasan untuk segalanya?  Apakah kalian dapat mengatakan bahwa orang ini bukan bagian dari segalanya?  Dapatkah kalian mengatakan bahwa wanita ini bukan bagian dari segalanya? Dapatkah kalian mengatakan bahwa orang Kristen ini bukan bagian dari segalanya? Dapatkah kalian mengatakan bahwa burung-burung ini bukan bagian dari segalanya?  Dapatkah kalian mengatakan bahwa malaikat ini bukan bagian dari segalanya? Dapatkah kalian mengatakan bahwa orang-orang non Mukmin ini, manusia-manusia yang ada di depan kalian bukan bagian dari segalanya?

Allah (swt) berfirman bahwa, “Rahmat-Ku, kapasitas dari Rahmat-Ku, artinya apa yang bisa masuk ke dalamnya mencakup segalanya.  Segalanya!” Jadi pada dasarnya kita berenang dalam Rahmat Allah (swt). Kita berada dalam Rahmat Allah (swt). Kita bergerak dalam Rahmat Allah (swt).  Kita dikelilingi oleh Rahmat Allah (swt).

Dan Grandsyekh mengatakan bahwa dosa-dosa dari orang-orang di dalam rahmat tersebut tidak akan mampu mengotori rahmat tersebut.  Kita berenang di samudra, kita bergerak di Samudra Rahmat dari Sang Pencipta. Dan Grandsyekh mengatakan bahwa dosa-dosa semua orang yang berada di dalam Samudra Rahmat itu, sebagaimana Allah berfirman bahwa, “Segala sesuatu berada di dalam Rahmat-Ku,” Grandsyekh mengatakan bahwa dosa-dosa hamba-hamba tidak akan pernah mengalahkan Rahmat Allah.  Dosa-dosa manusia tidak akan pernah melampaui rahmat Tuhan mereka. Sebagai contoh, misalnya kalian mempunyai limbah yang masuk ke dalam samudra, samudra itu tidak akan berubah menjadi limbah, tidak, justru samudra itu akan membersihkan limbah tersebut. Dan samudra yang membersihkan limbah tersebut bahkan tidak sampai setetesnya dari Samudra al-Haqq (swt), di dalam Samudra-Nya Allah (swt).  Samudra yang membersihkan semua limbah tersebut tidak sampai setetes dari Samudra Rahmat-Nya Allah (swt). Oleh sebab itu dosa-dosa manusia tidak akan pernah mengalahkan atau melampaui atau mengotori Samudra Rahmat yang dimiliki oleh Allah (swt). Oleh sebab itu rahmat Allah akan membersihkan semua dosa manusia.

Sebagian orang akan mengatakan, “Oh, darimana engkau mengatakan begitu?” Hadits.  Ada haditsnya dan hadits ini disebutkan dalam Bukhari. Bahwa Allah (swt) telah menulis sebuah kitab–dan setiap orang dapat mengeceknya kembali untuk mendapatkan haditsnya secara lengkap.  Allah (swt) telah menulis sebuah kitab sebelum Dia menciptakan ciptaan. Di dalam kitab itu Dia telah menuliskan “Inna rahmati sabaqat ghadabi, sesungguhnya Rahmat-Ku lebih kuat daripada Amarah-Ku.”  Dan tulisan ini tergantung di atas Arasy, dan ini adalah hadits Rasulullah (saw) yang disebutkan dalam sahih Bukhari.  Inilah yang dikatakan oleh Grandsyekh.

Grandsyekh menambahkan, “Oleh sebab itu semua pintu Surga terbuka bagi semua hamba.  Jika mereka tidak masuk dari salah satu pintu, mereka akan masuk lewat pintu kedua; jika mereka tidak masuk dari pintu kedua, mereka akan masuk dari pintu ketiga.”  Semua Surga seluruh pintunya terbuka bagi hamba, seluruh anak cucu Adam (as). Mereka semua akan bahagia pada akhirnya. Tidak peduli betapa banyak keburukan, dosa, ketidakpatuhan, kekufuran yang muncul dari mereka di dunia ini, karena yang harus kita lihat adalah bagaimana mereka mengakhiri hidup mereka.  

Dan Grandsyekh juga mengutip Hadits Rasulullah (saw) dan ini disebutkan dalam sahih Bukhari, bahwa Rasulullah (saw) bersabda, “Innamal a`malu bil khawatim, sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada akhirnya.”  Amal, perbuatan kita tergantung pada bagaimana kita mengakhiri perbuatan tersebut.  Bagaimana kalian mengakhiri hidup kalian, itulah yang dilihat. Bagaimana seorang hamba menutup hidupnya, itulah yang terpenting.  Jika seorang hamba, baik yang beriman maupun yang tidak beriman menutup hidupnya dengan perbuatan baik melalui apa yang ia katakan atau apa yang ia lakukan; atau bahkan hanya dengan niat untuk mengatakan sesuatu yang baik atau melakukan sesuatu yang baik, karena hal itu Allah (swt) akan membukakan jalan baginya ke Surga.  Oleh sebab itu akhir dari setiap nasib manusia adalah rahasia dan tersembunyi. Itu adalah antara ia dan Tuhannya dan itu tidak dapat diketahui. Allah (swt) yang mengetahui rahasia tersebut.

Allah (swt) berfirman di dalam Surat Thaaha (QS 20:7), “fa innahu ya`lamu ‘s-sirra wa akhfa. Sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.  Dan akhir dari setiap hidup manusia, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya karena itu adalah hal yang tersembunyi dari manusia.  Jadi Grandsyekh mengatakan bahwa “Tidak peduli apa pun yang mereka lakukan dalam hidup ini, mereka akan selalu mempunyai akhir yang baik sebagaimana Allah (swt) berfirman “Rahmat-Ku mengalahkan Amarah-Ku.”  Dan semua pintu Surga terbuka bagi seluruh hamba ini.

Sekarang kita masuk lebih dalam lagi.   Yang akan kalian dengar ini akan lebih membingungkan pikiran kalian.  Ini berasal dari ilmu seseorang yang telah menjumpai hakikat, bukan dari seseorang yang hanya membicarakan tentang hakikat.  Ini berasal dari orang yang telah melihat hakikat tersebut dan mereka mengatakan kepada kita apa yang telah dilihatnya.

Grandsyekh berkata bahwa Allah (swt) akan bertanya kepada mereka apa yang telah mereka lakukan di dunia.  Ini adalah apa yang terjadi antara hamba dengan Tuhannya. Ini adalah suatu hal yang tersembunyi, di mana saya tidak melihat, kalian tidak melihat, tidak ada yang dapat melihatnya, tetapi para Awliyaullah, mereka telah melihatnya dan mereka telah mengalaminya.  Jadi ketika Allah (swt) bertanya kepada hamba ketika mereka berada di antara kehidupan ini dengan kehidupan berikutnya, Allah (swt) bersama hamba-Nya. Dia berkata, “Apa yang kau lakukan di dunia?” Karena setiap orang akan ditanya apa yang mereka lakukan di dunia ini.  Allah (swt) akan memberi mereka jawabannya.

Mereka akan mengatakan, “Wahai Tuhan kami, kami melakukan persis seperti apa yang Engkau inginkan.”  Setiap hamba akan mengatakan demikian. Orang beriman dan yang tidak beriman. Mereka akan mengatakan, “Wahai Tuhanku, aku melakukan apa yang Kau inginkan.”  “Kami tidak menyimpang dari apa yang Kau inginkan.” “Jika Engkau ingin kami menjadi patuh, kami patuh. Bila Engkau ingin kami menjadi orang yang tidak patuh, kami pun tidak patuh.”  “Dan kami datang sesuai dengan apa yang Engkau inginkan dari kami wahai Tuhan kami.” Jawaban seperti ini akan diinspirasikan oleh Allah (swt) kepada para hamba untuk diucapkan.

Mereka mengatakan, “Engkau membiarkan kami melakukan apa yang kami inginkan, dan Engkau mengatakannya di dalam kitab suci al-Qur’an, “i`maluu maa syi’tum innahu bimaa ta`maluuna bashiir”  (QS41: 40)  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, “Lakukanlah apa yang kalian sukai, i`maluu maa syi’tum”  i`maluu–lakukanlah, dalam bentuk jamak, kalian semua; lakukanlah; maa–apa pun, syi’tum–apa yang kalian sukai.   Lakukanlah apa yang kalian sukai.  “Wahai Tuhan kami, kami telah melakukan apa yang kami sukai, dan kami datang pada-Mu.”  Allah (swt) tidak akan menanyai mereka karena mereka tidak berarti untuk ditanyai. Ini dari kitab suci al-Qur’an dan kita percaya sepenuhnya dengan apa yang dikatakan oleh Grandsyekh, Sulthanul Awliya kepada kita.  

Jadi Allah (swt) berkata, “Apa yang telah engkau lakukan di dunia?”  Mereka katakan, “Wahai Tuhan kami, Engkau telah memerintahkan kepada kami di dalam kitab suci-Mu, i`maluu maa syi’tum, lakukanlah apa yang kalian sukai, apa yang kalian inginkan.  Dan kami telah memenuhi perintah-Mu dan kami telah melakukan apa yang kami sukai, dan kami datang kepada-Mu wahai Tuhan kami.”  Allah (swt) akan membiarkan mereka karena mereka telah memenuhi perintah-Nya.

Ini adalah dari Kemurahan-Nya Allah, jangan salah paham dengan mengatakan, “Aku akan melakukan apa pun yang aku inginkan.”  Tunggu dulu. Tidak, kalian mengetahui lebih baik dari mereka. Ini adalah untuk orang yang tidak tahu, bahwa Rahmat Allah (swt) mencakup kalian, wahai Mukmin dan juga mencakup non Mukmin.  Itu berasal dari Kebesaran Allah (swt), dari Luasnya Rahmat Allah (swt). Tetapi kalian… tidak, kalian ikuti apa yang Allah perintahkan kepada kalian dalam Syari’ah, jangan menyimpang. Tetapi bagi yang lain, yang tidak dimuliakan dengan kemuliaan Islam; tidak dimuliakan dengan kemuliaan Iman, Allah (swt) telah membukakan pintu bagi mereka, telah membuka jalan bagi mereka—di dalam kitab suci al-Qur’an agar mereka masuk ke dalam Rahmat-Nya yang luas.  Karena Rahmat Allah, sebagaimana yang Dia katakan dalam kitab suci al-Qur’an, wa Rahmati wasi`ah–Rahmat-Ku mencakup kulla sya’in–segala sesuatu, semua umat manusia.  

Sekarang kita masuk lebih dalam lagi.  Grandsyekh berkata bahwa jasad manusia adalah benda yang diam dari bumi sedangkan ruh, jiwa adalah cahaya dari Hadirat Ilahi.  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, “Quli ‘r-ruuhu min amri Rabbi. Katakanlah wahai Rasul, wahai Kekasih-Ku, katakan kepada mereka yang bertanya kepadamu mengenai ruh bahwa ruh berasal dari perintah Tuhanku.”  Grandsyekh mengatakan bahwa benda diam tidak dapat melakukan apa-apa. Lihatlah meja ini. Ia sudah berada di sini sejak 2 bulan yang lalu dan ia tidak bergerak.  Benda diam tidak bergerak. Jasad manusia tidak bergerak. Jika kalian meletakkan jasad itu di tanah, ia tidak bergerak. Ia tidak akan bergerak.

Jadi Grandsyekh berkata bahwa jasad manusia tidak mampu menghasilkan suatu perbuatan sementara ruh yang masuk ke dalam tubuh manusia adalah cahaya murni yang berasal dari Hadirat Ilahi.  Dan sesuatu yang murni tidak dapat dikotori. Sesuatu yang sejatinya murni tidak dapat diubah menjadi sesuatu yang tidak murni. Kegelapan tidak dapat menguasai cahaya. Oleh sebab itu dari ruh manusia tidak akan pernah tercipta kegelapan.  Ruh itu adalah cahaya dari Hadirat Ilahi dan tidak ada kegelapan di dalamnya. Sementara jasad adalah benda diam, tidak bergerak.

Jadi Allah (swt) akan bertanya pada jasad, dan ini adalah apa yang dikatakan oleh Grandsyekh.  Dan jasad itu akan menjawab, “Wahai Tuhanku, aku tidak bisa bergerak tanpa ruh. Jika Engkau tidak mengirimkan ruh ke dalam diriku, aku tidak akan melakukan suatu perbuatan buruk pun.”  Ruh pun akan mengatakan hal yang sama, “Wahai Tuhanku, aku adalah cahaya dari Hadirat Ilahiah-Mu, jika bukan untuk jasad ini, aku tidak akan melakukan hal-hal yang salah.” Jadi Allah (swt) akan memberikan inspirasi kepada ruh dan jasad agar selamat dari hukuman.

Jadi perbuatan anak cucu Adam (as) tidak bisa dihubungan dengan jasad atau tubuhnya dan tidak pula dengan ruhnya.  Kalian tidak dapat mengatakan bahwa ini adalah perbuatan jasad atau ini adalah perbuatan dari ruh karena jasad adalah benda diam sedangkan ruh dari Hadirat Ilahi. Contoh untuk hal ini adalah ketika kalian menggosokkan bati api dengan logam, darimana percikan apinya timbul?  Dari batu apinya atau dari logamnya? Ketika keduanya diadukan akan muncul percikan api, apakah itu berasal dari logam atau dari batu apinya?

Grandsyekh mengatakan bahwa perbuatan manusia muncul antara jasad dan ruh dengan Kekuatan Allah (swt). Kekuatan Allah (swt) adalah asal-muasal dari perbuatan anak cucu Adam (as).  Itulah makna dari khayrihi wa syarrihi minallaahi ta`aala.   Kita percaya pada qadar, baik dan buruk, keduanya berasal dari Hadirat Ilahi yang datang dengan Hikmah Allah (swt).  Dan Allah (swt) berfirman bahwa itu adalah fardhu bagi kalian.  Dalam iman kita wajib mengatakan wa bil qadri wa khayrihi wa syarrihi, kita percaya pada qadar Allah (swt), baik dan buruk adalah dari-Nya.  Oleh sebab itu perbuatan tidak bisa dihubungkan dengan jasad atau dengan ruh.  

Ini adalah perkara yang mendalam yang menunjukkan Rahmat Allah (swt) kepada seluruh umat manusia, apakah mereka Mukmin atau bukan, apakah mereka patuh atau tidak, Allah (swt) akan mengampuni mereka.  Rahmat Allah mencakup segalanya. Tetapi sekali lagi ini tidak berarti bahwa kalian wahai Muslim, wahai Mukmin yang percaya pada Allah dan mengikuti perintah-Nya, kalian mengatakan, “Baiklah, aku akan melakukan segala sesuatu yang bisa kulakukan.”  Tidak! Itu bukan untuk kalian. Itu adalah untuk orang-orang yang tidak tahu. Kalian tahu. Kalian tahu. Dan ada berapa banyak orang yang tidak tahu? Begitu banyak! Begitu banyak orang yang tidak mengetahui Allah (swt). Begitu banyak orang tidak mengetahui Rasulullah (saw), begitu banyak orang yang tidak mengetahui tentang Nabi mereka sendiri.  Jadi ini untuk mencakup mereka semua. Itulah betapa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia akan memberi rahmat pada siapa saja. Grandsyekh mengatakan bahwa semua surga terbuka bagi hamba-hamba-Nya. Jika mereka tidak dapat masuk melalui pintu pertama, mereka akan memasukinya lewat pintu kedua. Dan kami telah menjelaskan beberapa jalan yang telah dilihat oleh Grandsyekh kita, telah dialami oleh Grandsyekh kita dan beliau membaginya dengan kita.  

Kita masuk semakin dalam lagi sekarang.  Beliau mengatakan bahwa perbuatan yang muncul dari manusia adalah dari Kekuatan Allah (swt).  Pada Hari Kiamat perbuatan-perbuatan ini akan muncul sebagai sosok-sosok tertentu. Apa pun perbuatan yang telah kita lakukan akan muncul sebagai suatu sosok.  Dan sosok-sosok ini muncul pada Hari Kiamat. Grandsyekh mengatakan, “Tukhlaq a`maluna, amal atau perbuatan kita diciptakan, dan tumatsal–diberikan sebuah rupa, bentuk atau sosok pada Hari Kiamat.”  Dan pada perbuatan-perbuatan ini diberlakukan perhitungan: engkau adalah perbuatan buruk dari hamba-Ku, engkau adalah perbuatan baik dari hamba-Ku.  Jadi Allah (swt) akan menghakimi amal perbuatan manusia. Allah (swt) tidak akan TIDAK mengatakan kebenaran. Dia mengatakan bahwa Dia akan menghakimi amal perbuatan kalian, jika kalian melakukan kebaikan, kalian akan melihatnya dan jika kalian melakukan kejahatan kalian akan melihatnya, itu artinya kalian akan melihat amal perbuatan itu dibuat ke dalam suatu rupa.  Dan pada Hari Kiamat Allah akan mengadili sosok-sosok tersebut dari perbuatan yang buruk. Dan perbuatan-perbuatan yang buruk ini sosoknya akan muncul dengan bentuk kalian.

Jika kalian, wahai Hasan, wahai Husain, wahai Wilayat, wahai Bisyarat, wahai Selamat, apa pun nama kalian, semua sosok buruk akan muncul dengan rupa kalian.  Jadi jangan mempunyai banyak sosok semacam itu pada hari Kiamat. Kalian tidak mau melihat diri kalian dalam sosok yang buruk rupa, kalian ingin melihat banyak sosok kalian yang dibusanai dengan cahaya.  

Jadi Allah (swt) akan meciptakan sosok buruk dari amal yang telah kalian lakukan dengan rupa kalian pada hari Kiamat.  Dan ini berasal dari pembukaan yang telah dilihat dan dialami oleh Grandsyekh. Dan sosok-sosok yang telah diciptakan ini dengan bentuk rupa kalian akan dilemparkan ke dalam Neraka.  Dan ketika sosok ini terbakar dalam api Neraka, amal buruk kalian dalam api Neraka, ruh kalian akan tetap tinggal sampai Allah (swt) selesai dengan sosok-sosok ini. Dan ketika itu sudah selesai ruh kalian akan kembali ke posisi asalnya.  Dan itu berdasarkan ilmu-Nya Allah (swt). Beliau mengatakan bahwa hukuman akan berlangsung dengan cara seperti ini. Azab Neraka Jahanam akan berlangsung dengan cara seperti ini dan ini adalah berkat Rahmat Allah (swt).

Allah (swt) adalah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.  Haqq.  Alhamdulillah kita mempunyai Tuhan Yang Maha Pengasih.  Kalian harus merasa malu untuk melakukan sesuatu yang buruk kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, melanggar perintah-Nya, perintah Tuhan Yang Maha Pengasih seperti itu.  Malah semestinya kalian terus-menerus dalam posisi sujud untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih ini. Semoga Allah (swt) mengampuni kita semua.

Ingatlah bahwa Rahmat Allah mencakup segalanya.  Jangan menyakiti manusia. Jangan menggunjing sesama.  Jangan menyakiti siapa pun. Jangan mengatakan ia adalah orang yang buruk, jangan katakan ia begini,.. tinggalkan itu.  Allah (swt) akan merawat seluruh hamba-Nya. Dan seluruh hamba-Nya akan masuk Surga. Seluruh ruh akan kembali ke posisi semula.  Dan Allah (swt) adalah Yang Maha Pengasih. Jangan berpikir sebaliknya. Milikilah kasih sayang dalam hati kalian terhadap setiap orang, termasuk Mukmin dan non Mukmin, Atheis atau Kristen, Yahudi atau Buddha, Hindu atau apa pun agama yang mereka ikuti.  Milikilah selalu kasih sayang itu dalam hati kalian karena Allah (swt) mempunyai kasih sayang terhadap mereka. Jadilah seperti Tuhan kalian, jadilah orang yang penyayang. Semoga Allah (swt) mengampuni kita. Semoga Allah (swt) menjadikan rahmat itu memasuki hati kita untuk seluruh ciptaan-Nya.  Dan semoga Allah (swt) tidak membuat kita malu pada hari itu (hari Kiamat). Semoga Dia menciptakan amal kita menjadi sosok yang sangat indah.

Dan ini semua dari Ahadits.  Rasulullah (saw) telah bersabda bahwa amal kalian akan bersama kalian dalam kubur kalian.  Sebagian dari mereka akan muncul dalam sosok yang sangat buruk sehingga ia akan bertanya, “Siapa engkau?”  Dan sosok itu akan berkata, “Aku adalah amal perbuatanmu.” Dan amal itu mempunyai bau yang busuk dan menjijikan dan ia akan bersama kalian hingga hari Kiamat. Ini semua berasal dari Hadits dan Qur’an.  

Grandsyekh kita tidak akan keluar dari Qur’an atau Hadits.  Tetapi penglihatan kita sangat terbatas, kita tidak dapat melihat lebih dari itu.  Jika kita tidak dapat melihat di luar itu, tidak berarti bahwa hal itu tidak ada. Kalian hanya tidak dapat melihatnya.  Jadi itulah yang namanya iman atau percaya kepada yang gaib. Kita percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mawlana. Semoga Allah (swt) memberkahi ruhnya.  Dan semoga seperti yang tadi kita katakan, semoga Allah menjadikan amal kita sebagai sosok yang sangat indah dengan cahaya yang indah sehingga kita akan merasa bahagia dan Tuhan kita pun ridha dengan kita dan Dia menciptakan amal kita menjadi sosok yang akan membuat kita bahagia, bukan sesuatu yang membuat kita malu.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita semua. Semoga Allah (swt) mengampuni leluhur kita, kakek dan nenek kita, dan saudara-saudari kita. Semoga Allah (swt) mengampuni seluruh umat Muhammad (saw). Bi hurmatil habib wa bi hurmatil Fatihah.    

   

https://sufilive.com/We-Are-Swimming-in-Allah-s-Mercy-6587.html

© Copyright 2018 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.