Khotbah Jumat Akhir Ramadhan

WhatsApp Image 2020-04-23 at 4.55.38 PM

Khotbah Jumat Dr. Nour Kabbani
Fenton, Michigan; Jumat, 22 Mei 2020

Assalamu`alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh, 

[Adzan]

[Pendahuluan dalam bahasa Arabi]

Wahai orang-orang yang beriman, alhamdulillah kita sebagai Muslim, Mukmin, kita adalah pialang saham yang berbeda, kita adalah pialang saham untuk Akhirat.  Kita memperhatikan saham yang menguntungkan dan kita meninggalkan saham yang merugikan di Akhirat.  Allah (swt) mengirimkan kita pedoman, yakni al-Qur’anul kariim.  Al-Qur’anul kariim adalah pedoman bagi pialang saham Muslim. Orang yang menginginkan saham yang berkembang dan memberikan untung yang besar, mereka harus merujuk pada Qur’anul kariim dan Hadits Rasulullah (saw).  Dan keuntungan besar apa yang mereka berikan?  Tak terhitung!  

Berapa besar keuntungan orang yang menjadikan Qur’anul kariim sebagai pedoman dalam kehidupan ini dan dalam perniagaan ini?  Allah (swt) berfirman, 

Yā ayyuhalladzīna āmanụ hal adullukum `alā tijāratin tunjīkum min `adzābin alīm

Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (QS As-Shaff, 61:10) 

Allah (swt) menggunakan kata tersebut, tijaarah, saham atau perniagaan.  MasyaAllah non-Muslim telah menjadikannya halal bagi Muslim, dan Muslim mengatakan itu adalah halal, ok, kalian mempunyai ilmunya, kalian berniaga dengan saham tersebut, kalian mengambil tijaarah, perniagaan.  Allah (swt) menunjukkan kepada kalian suatu perniagaan yang lain, tijaarah yang lain.  

Tu’minuuna biallaahi walyawmi al-aakhiri, jika kamu beriman kepada Allah dari Hari Akhir, (QS An-Nisa`, 4:59)

Saatnya akan tiba di mana Allah (swt) akan memberi ganjaran kepada kita.  Allah akan mengganjar kita berdasarkan perniagaan yang telah kita lakukan.  Oleh sebab itu lakukanlah perniagaan qur’ani, juallah dunia untuk Akhirat.  Juallah yang fana untuk yang baqi, yang kekal.  Mukmin yang cerdas melakukan hal itu.  Mukmin yang tidak cerdas mengatakan, “Aku percaya, tetapi aku tidak puasa, aku tidak shalat, aku tidak ini, aku tidak itu.”  Pada akhirnya ia akan mengetahui siapa yang akan menuai hasil, siapa yang tidak.  Siapa yang mendapatkan tempat terhormat di hadapan Allah (swt) dan mendapatkan cinta dari Rasulullah (saw). Itulah yang penting.  Bukannya saham kalian yang naik 1 dolar, atau turun 2 dolar, kemudian kalian melakukan ini dan itu, itu tidak penting.  

Salah satu perniagaan yang penting adalah Laylat al-Qadr.  Dan saya membacakan sebuah hadits dari Awliyaullah, dan apa yang dikatakan oleh Awliyaullah adalah benar.  Sebagaimana yang diajarkan oleh guru kita, bahwa Awliyaullah, mereka dapat melihat nuur dari suatu hadits dan itu sudah cukup menunjukkan kesahihan hadits tersebut.  Jika Awliyaullah mendengar atau membaca atau melihat hadits dan mereka melihat cahaya yang memancar dari hadits tersebut, guru kita mengatakan bahwa itu artinya hadits tersebut adalah sahih, meskipun orang mengatakan bahwa itu dhaif (lemah), atau hadits palsu, tetapi selama Awliyaullah telah melhat cahaya dari hadits tersebut maka itu adalah hadits yang sahih.  

Dan Awliyaullah telah mengatakan bahwa Rasulullah (saw) bersabda, “Barang siapa yang membaca innā anzalnāhu fī lailatil-qadr, Allah (swt) akan memberikan tsawaab, pahala puasa Ramadhan dan qiyam, shalat Laylat al-Qadr.”  Salah satu shalat yang dianjurkan oleh Awliyaullah adalah minimal shalat dua rakaat pada Laylat al-Qadr, yang tentu saja (waktunya) tersembunyi, oleh sebab itu kita melakukan shalat nafil (shalat sunnah) sepanjang bulan Ramadhan, tetapi dua rakaat dengan innā anzalnāhu dan tiga surat al-Ikhlash.  Dan ini adalah salah satu rahasia tersembunyi yang diberikan oleh Awliyaullah kepada Ummatul Habiib, agar mereka gembira, karena begitu banyak orang tidak mengetahui kapan terjadinya Laylat al-Qadr.   

Mereka katakan, “Bacalah Surat al-Qadr, bacalah innā anzalnāhu fī lailatil-qadr dari awal hingga akhir, yang terdiri dari 30 kata, setara dengan jumlah hari dalam bulan Ramadhan, dan salāmun hiya, hiya di sini artinya kedamaian, dan itu adalah kata ke-27 dari Surat al-Qadr.  

Jadi orang yang membaca Surat al-Qadr, Allah (swt) dengan Kemurahan-Nya akan memberi mereka tsawaab, pahala dari shalat Laylat al-Qadr dan puasa Ramadhan.  Jadi jangan terlalu gelisah atau sedih bahwa “Aku tidak mencapainya, aku tidak tahu kapan Laylat al-Qadr itu.”  Bacalah Surat al-Qadr dan Allah (swt) akan memberi kalian pahalanya; dan hadits ini disebutkan oleh Awliyaullah, dan kita percaya pada apa yang mereka katakan.  

Alhamdulillah kita sampai pada penghujung Ramadhan.  Malam ini adalah malam terakhir tarawih dan insyaAllah besok adalah hari terakhir puasa dan insya Allah hari Ahad adalah permulaan Ied.  

Dalam hadits lainnya, Al-Hasan (ra) meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) bersabda, dan hadits ini disebutkan dalam Bayhaqi, bahwa setiap malam Allah (swt) akan memberikan pembebasan dari Api Neraka kepada ribuan dan ribuan Muslim, dalam hadits lainnya disebutkan sittiin alf, di hadits yang lain dikatakan alfu alf, tetapi yang jelas itu menunjukkan jumlah yang banyak.  Setiap malam Allah akan memberikan pembebasan kepada ribuan dan ribuan Muslim.  Ketika tiba pada malam terkahir, yaitu malam ini, malam terakhir tarawih dan besok laylatul ied, Allah akan memberikan pembebasan dari Api Neraka kepada orang-orang yang telah meninggal dunia.  

Jadi menurut hadits ini, sejak awal Ramadhan Allah telah membebaskan enam ratus ribu orang dari Api Neraka, malam berikutnya enam ratus ribu orang, malam berikutnya enam ratus ribu orang hingga malam terakhir, Allah akan memberikan bara’ah, pembebasan dari Api Neraka kepada seluruh orang yang telah meninggal dunia pada malam-malam sebelumnya.  Jadi besok, lakukanlah yang terbaik, mintalah ampunan kepada Allah.  Mintalah kepada Rasulullah (saw) untuk melakukan istighfaar atas nama kalian, katakanlah, “Yaa Sayyidi, yaa Rasulallaah (saw), aku datang kepadamu, sebagaimana yang diajarkan oleh guru kami, aku datang kepadamu yaa Sayyidi, aku telah berbuat banyak kesalahan, begitu banyak kebodohan, yaa Sayyidi yaa Rasulallah, aku datang kepadamu sebagaimana Allah telah mengarahkan diriku kepadamu untuk mengucapkan astaghfirullah dan engkau pun mengucapkan astaghfirullah atas namaku, sehingga Tuhanku akan mengampuniku.”  Lakukanlah hal itu, dan Allah (swt) akan mengampuni kalian.  

Pada malam Laylat al-Qadr, Allah (swt) mengatakan bahwa ruh dan malaikat akan turun.  Tanazzalul-malā`ikatu war-rụḥu fīhā, malaikat dan ruh turun pada malam ini.  Sebagian di antara Awliyaullah mengatakan bahwa yang dimaksud ruh tersebut adalah Malaikat Jibril (as), ia turun bersama para malaikat dan ia termasuk dalam rombongan malaikat tersebut, tetapi sebagian Awliya lainnya mengatakan bahwa ruh tersebut adalah malaikat yang berbeda.  

Para Awliya tersebut mengatakan bahwa ruh yang dimaksud adalah malaikat yang kepalanya tepat berada di bawah Arasy, sementara kakinya berada di Bumi ketujuh.  Malaikat itu bertasbih kepada Allah dua kali, yakni di pagi hari, ketika matahari terbit dan sore hari ketika matahari terbenam. Malaikat itu mempunyai seribu kepala, dan setiap kepala mempunyai seribu muka.  Di setiap muka terdapat seribu mulut, dan setiap mulut mempunyai seribu lidah dan dengan semua lidahnya itu, ia bertasbih kepada Allah dengan seribu macam tasbih yang berbeda-beda.  Setiap lidah mempunyai bahasa yang berlainan.  Pada malam Laylat al-Qadr, sebagian Awliya mengatakan bahwa malaikat tersebut turun bersama para malaikat lainnya.  

Apa yang dilakukannya?  salāmun hiya ḥattā mathla’il-fajr, sejak matahari terbenam hingga fajr, semuanya diliputi kedamaian hingga terbit fajr.  Ruh tersebut dengan semua lidah yang dimilikinya dalam seluruh mulut yang dimilikinya, pada seluruh muka yang dimilikinya, pada semua kepala yang dimilikinya akan memintakan ampunan, istighfar.  Ia akan memintakan ampunan bagi shaimin dan shaimat dari Ummatu Muhammad (saw). Ruh itu akan memintakan ampunan atas nama pria dan wanita yang berpuasa dari Ummatnya Nabi Muhammad (saw) hingga terbit fajar. 

Lihatlah bagaimana Allah (swt) memberi kenikmatan bagi orang-orang yang mengikuti perintah-Nya.  Di manakah perintah-Nya tersebut?  Di dalam buku pedoman, yakni al-Qur’aanul kariim, itulah buku perniagaan kita.  Jika kalian menginginkan hasil yang besar, bukalah al-Qur’aanul kariim dan ikuti perintah Allah (swt), dan hadits yang merupakan penjelasan dari kitab suci al-Qur’an melalui hati dan lisan yang mulia dari Rasulullah (saw).  Semoga Allah (swt) selalu menjadikan kita memegang teguh Sunnah Rasulullah (saw), memegang teguh ilmunya, mengikuti jejak Rasulullah (saw), para Sahabat dan ahlul bait menuju Hadirat Ilahiah-Nya.

[doa]  

ADAB PERPISAHAN DENGAN BULAN RAMADHAN

WhatsApp Image 2020-05-22 at 2.09.52 PM

Shaykh Hisham Kabbani
Fenton Zawiya, Michigan, 14 Juni 2018
Shuhbah bakda Ashar

Ramadhan ini mereka memerintahkan saya untuk membaca Rijalul Isyraaqiyuun, yang demi mereka Allah (swt) akan mengampuni kita; demi mereka Sayyidina Muhammad (saw) akan mencintai kita. Jadi kita menyebut nama-nama mereka. Ini adalah kitab catatan Grandsyekh, jadi saya membaca apa yang beliau tuliskan mengenai orang-orang ini. Mereka ada di mana-mana. Mereka tidak menghilang, kecuali ketika mereka meninggalkan dunia.

[Mawlana membacakan nama-nama rijaalAllah, termasuk khalifah dan deputi dari Sayyidina al-Mahdi (as)]:

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
1. Madad ul-Haqqi Hujjatullah il-Mukhlis,
2. Rafraf al-Baraybi yaa Basyaaratallah,
3. Hasaballah as-Sughuri,
4. Naqiibul-Ummah `AbdAllah il-Fa’iz (ini adalah Grandsyekh)
5. `Ubaydillah Ahmad Ahzaabi,
6. Fathallahi Jabaruudi,
7. Hamad ar-Rahbaani,
8. Ziadatallah ar-Rabbani,
9. Mu`izziddiin is-Sundusi,
10. Nuurullah Ibn Najiullah ash-Shaabiq,
11. Qayarullah il-Kaamil,
12. Abu Najiib Yahya Marwan Ray`ani,
13. Thalha al-Qaaim Safwatullah as-Saabir,
14. Amrullahi Waarits as-Saamullah al-Azal,
15. Khayrullahi as-Samadaani,
16. Rahmatullahi l-`Amali,
17. Waarits as-Sa`aada wa sy-Syakawa,
18. Abu `Ayna Baab il-llahi? Malakuuti,
19. Mughil il-Bahta Khaleel ir-Rahmaan,
20. Hizbudiin Ma`ruuf bi Anis il-Malaaika,
21. `Abd ar-Raqiib is-Saajid,
22. al-Mraqab bi-Shiraatil-Mustaqiim,
23. Abu Ma`aali Yusuf adz-Dzaakir al-Ma`ruuf liyatayn,
24. `Adnan uth-Thahir,
25. Tabiib uz-Zamaan,
26. Syam`n ash-Shafaar,
27. Ibn Ahmad al-Uwaysi,
28. Yunus Ibn Khiratullah al-Ma`ruufil Shiraatul Bahrayn,
29. Qiblatullah il-`Arif,
30. Wuqudwatul-Muhaqqiqiin Waarits al-Miraaj Abu ul-Fuqaraa (ini adalah Grand Grandsyekh)
31. Yuqaal Kahlul Mutaar Nahjul-Akhtar Ahmed al-Faani,
32. Salman Ibn Muraadallah il-Ghaarib,
33. Ghawtullahi t-Tijaani,
34. Magdad il-Aswad Abul-Abbas al-Madani,
35. `Abdul `Aliim Saahib Siyaahatil-Jinaan,
36. `Abdul Matiin Ibn Muyaddiin (ini adalah Mawlana Syekh),
37. Ar-Raqii ila Sidhratil-ullah,
38. Zakariyya Ibn `Umar al-Adil yiqaal lahu Mursyid il-Barzakh,
39. `Abul Baa`its Ibn Khiyaaratullah ats-Tsaaqir,
40. `Abdul Mu`iid Ibn Baabullah ad-Dahaawi,
41. Dzuratullah il-Rawh il-Adhar,
42. Ibn Daliil al-Akhyaar il-Ma`ruuf wa inna Rijaal il-Qibriit al-Ahmar,
43. Nuqtat ul-Haqq Ruuhullah,
44. Ibn al-Ahrar ash-Shidiiq,
45. Muhammad Ibn Daa`iiAllah huwa ayah min ayaatillah tamsyii `alaa wajillah wa sirru min asraarillah,
46. `Abdallah ir-Raahiq Ibn `Abdul-Kariim ash-Shaa`im,
47. Jafar az-Zaahid Ibn Ziljalahayn az-Zaaki,
48. Abu Najaah Ibn Hamalat ar-Ra` al-Baydaar (Ini adalah di zaman Imam Mahdi (as), Ra` al-Baydaar, Bendera Putih),
49. Muhammad Waasi` qudratul muqiniin wa riwaa` `ala al-`ayaanaa,
50. Hamaad Raasirii,

`ala l-Allah darajaatihim daa`iman wa amadanaa bi madadihim wa nafaa`ana bi barakaatihim al-faazhim qudsiiya.

DU`A AL-WAD`A SYAHRU RAMADHAN AL-MUBARAK

دُعَاءُ وَدَاعُ شَهْرِ رَمَضَانَ المبارك
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم،
بسم الله الرحمن الرحيم

الوداع الوداع يا شهر الأمان.
الوداع الوداع يا شهر القرآن.
الوداع الوداع يا شهر الغفران.
الوداع الوداع يا شهر الإحسان.
الوداع الوداع يا شهر التراويح.
الوداع الوداع يا شهر التسابيح.
الوداع الوداع يا شهر القناديل.
الوداع الوداع يا شهر الصيام.
الوداع الوداع يا شهر القيام.
الوداع الوداع يا شهر الفقراء.
الوداع الوداع يا شهر الأيتام.
الوداع الوداع يا شهر العتق والنجاة.
الوداع الوداع يا شهر رمضان الذي أُنزل فيه القرآن.
الوداع الوداع يا شهر البر والعطية.
لم نعرف قدرك ولم نحفظ حرمتك يا شهر الغفران، فارض عنا ولا تشك منَّا إلى الرحمن، وكن شاهداً لنا بالفضل والإحسان.

A`ūdzubillāhi mina ‘sy-syaythāni ‘r-rajīm
Bismillāhi ‘r-Raḥmāni ‘r-Raḥīm
Al-wadā` al-wadā` yā Syahra ‘l-Amān
Al-wadā` al-wadā` yā Syahra ‘l-Qur’ān
Al-wadā` al-wadā` yā Syahra ‘l-Ghufrān
Al-wadā` al-wadā` yā Syahra‘l-Iḥsān
Al-wadā` al-wadā`yā Syahra‘l-Tarāwīḥ
Al-wadā` al-wadā`yā Syahra‘t-Tasābīḥ
Al-wadā` al-wadā` yā Syahra‘l-Qanādīl
Al-wadā` al-wadā` yā Syahra‘sh-Shiyām
Al-wadā` al-wadā` yā Syahra‘l-Qiyām
Al-wadā` al-wadā` yā Syahra‘l-Fuqarā’
Al-wadā` al-wadā` yā Syahra ‘l-Aytām
Al-wadā` al-wadā` yā Syahra ‘l-`Itqi wa ‘n-Najāh
Al-wadā` al-wadā` yā Syahra Ramadhāna ‘l-ladzī unzila fīhi ‘l-Qur’ān
Al-wadā` al-wadā` yā Syahra ‘l-Birri wa ‘l-`Athiyah
lam na`rif qadraka wa lam naḥfazh ḥurmataka yā Syahra ‘l-Ghufrān
fa ardhi `annā wa lā tasykū minnā ila ‘r-Raḥmān
wa kun syāhidan lanā bi fadhli wa ‘l-iḥsān
walhamdulillaahi rabbil `aalamiin

Sebagaimana yang dikatakan oleh Grandsyekh `AbdAllah (q), shalat kalian dan puasa kalian di bulan Ramadhan akan diangkat ketika kalian membaca doa tersebut, karena ia melibatkan semua orang, itulah sebabnya kita membaca doa al-Wada`a al-Wada`a untuk mendapatkan keistimewaan tersebut, yakni untuk memperoleh pengampunan dan untuk mendapat Cahaya Surgawi.

Bi hurmati ‘l-Habiib bi hurmati ‘l-Fatihah.

[Dr. Nour Kabbani membacakan Du`a Matsuur Grandsyekh `AbdAllah (q). Di bawah ini adalah versi singkatnya.]

DU`A MATSUUR NABI (SAW)
ditulis oleh al-Ghawts Abu Madyan

يا من يغيث الورى من بعد ما قنطوا
ارحم عبيدا أكف الفـقر قد بسطوا
و استزلوا جودك المعهود فاسـقهم
ريــا يريهم رضـى لم يثنه سخط
وعامـل الكل بالفضل الذي ألفوا
يـا عادلا لا يـرى في حكمه سطط
إن البـهائم أضحى الترب مرتعها
و الــطير تـعدو من الحصاء تلتقط
و الأرض من حـلة الأزهار عارية
كـــــأنها ما تحلت بالنبات قط
و أنت أكرم مفضال تمـــد له
أيدي العصاة و إن جاروا و إن غلطوا
ناجوك و الليل جلاه الظلام سـنا
كـما يجلى سواد اللمة الشــمسط
فشـــــارب الذنب غص به
و آخــــرون كما أخبرتنا خلطوا
و منهم في لـفيف العيش و هو يرى
في سلك من حام حول العرش ينخرط
و ملحد يدعى في ربـــا سواك له
حيران في شــــرك الأشراك يختبط
كل ينــــال من المقدور قسمته
قـــوم ترقوا و قوم في الهوى سقطوا
حــــكم من الله عدل في بريته
فرض علينـــــا التسليم مشترط
و ما ذنـوب الورى في جنب رحمته
و هل يقـــاس بفيض الأبحر النقط
فما لنا شــافع غير الكريم و من
يلفى على الحوض و هو السابق الفرط
هو الرســول الذي كل الأنام به
يوم القــــيامة مسرور و مغتيط
صــــلى عليه صلاة لا نفاد لها
من اسمه باسمه في الـــذكر متربط

Yaa man yaghiits al-waraa min ba`di maa qanathuu arham `abiidan akufa al-faqr qad basathuu w ‘astazaluu juudika al-ma`huuda fa‘sqihim ruyaa yuriihim radhiyy lam yatsnahu sakhathu wa `aamil li-kulli bi ‘l-fadhli ‘Lladzii allafuu yaa `adlan laa yaraa fii hukmihi sathathu innal-bahaa’imu adhaa at-turubi marta`ahaa wa ‘th-thayru ta`duu minal-hashaa’i taltaqath wa ‘l-ardhu min halati ‘l-azhaari `aariyatin ka-annahaa maa tahallat bi ’n-nabaati qath wa anta akram mufadhiilin tammuda lahu ayydiil-`ushaat wa in jaaruu wa in ghalathuu naajuuk wa ‘l-layli jalaahu ‘zh-zhalaami sanaa kamaa yujalli sawaada ‘l-lammati ’sy-syamisath fa-syaaribi ‘dz-dzanbi ghasha bihi wa aakharuuna kamaa akhbaratnaa khalathuu wa minhum fii lafiifu ‘l-`aysyi wa huwa yara fii silki min haamin hawla ‘l-`arsyi yankharithu wa mulhidin yada`ii fii rabban siwaaka lahu hayraani fii syirkin al-asyraaki yakhtabathu kullun yanaalu mina maqduuru ‘l-qismatuhu qawmun taraquu wa qawmun fi’l-hawwa saqathuu hakamun min-Allahi `adlun fii barriyatahu faradha `alaynaa at-tasliimu musytarathu wa maa dzunuuba ‘l-waraa fii janbi rahmatahu wa hal yuqaasu bi-faydhi ‘l-abharu ‘l-naqathu famaa lanaa syaafi`in ghayra ‘l-kariimu wa man yalfii `alaa ‘l-hawdhi wa huwa as-saabiqu ‘l-farathu huwa ar-rasuulu ‘lladzii kulli ‘l-anaami bihi yawma ‘l-qiyaamati masruurun wa mughtiithu shalli `alayhi shalaatan laa nafaada lahaa min ismuhu bi-ismihi fi ‘dz-dzikr mutrabathu.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq bi hurmati ‘l-Fatihah.

https://sufilive.com/Dhikr-and-Duaa-of-Farewell-to-Ramadan-6737-EN-print.html

© Copyright 2019 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

video: https://www.youtube.com/watch?v=UXzprvYpLSc

Kekuatan Penyembuhan Awliyaullah

92848440_523781051649174_4688627196439298048_n

Dr. Nour Kabbani
Seri Ramadhan hari ke-15
8 Mei 2020

Suatu ketika Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani menceritakan sebuah kisah kepada Grandsyekh Syekh Nazim. Pada masa Dinasti Tsar Rusia yang menjadi kepala dokter di sana adalah ayah dari Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani. Beliau banyak mempunyai medali kehormatan dari kaisar. Grandsyekh Abdullah mengatakan, “Wahai anakku tercinta, Nazim Effendi, Ayahku meninggal dunia ketika aku berumur dua belas tahun, tetapi aku masih ingat seluruh perlakuan yang diberikan Ayahku kepada pasien-pasiennya. Semua ilmu ini tersimpan di dalam hatiku. Setiap orang yang datang kepadaku dengan penyakitnya, aku mempunyai pengobatan untuknya, tetapi aku tidak dapat mengobati diriku sendiri.” Itu artinya, “Aku memerlukan seseorang yang dapat memberikan penyembuhan untukku.” Grandsyekh memerlukan Grandsyekhnya, beliaulah yang akan memberikan penyembuhan kepadanya.

Ini adalah masalah yang kita hadapi sekarang. Orang-orang mengatakan, “Bagaimana agar aku menjadi lebih baik lagi?” “Bagaimana aku dapat melakukan tazkiyatun nafs?” “Aku akan membaca buku-buku dan menemukan jalan untuk memurnikan diriku sendiri.” Grandsyekh mengatakan, “Tidak! Kalian tidak dapat melakukan hal itu. Kalian harus menemukan seorang guru.” Waliyullah akan merawat kalian. Waliyullah akan mengobati kalian. Kalian bisa memberikan pengobatan kepada orang lain, tetapi tidak bisa pada diri kalian sendiri. Setan mengatakan, “Aku dapat melakukannya sendiri. Aku tidak memerlukan orang lain untuk mengajariku bagaimana merawat diriku.” Itulah sebabnya ia menjadi terusir, jadi jangan sampai terperangkap ke dalam tipu dayanya.

Grandsyekh mengatakan bahwa karunia itu diperoleh dari Rasulullah (saw), karena Anbiyaullah diutus kepada manusia untuk menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani mereka; begitu pula dengan Awliyaullah, mereka akan menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani kalian. Contoh orang suci seperti ini yang disebutkan di dalam al-Qur’an adalah Sayyidina Isa (as). Beliau adalah orang yang memperoleh risalah Surgawi untuk merawat dan menyembuhkan manusia, baik fisik maupun rohani. “Aku akan menyembuhkan orang yang buta, dan aku akan menyembuhkan penderita lepra.” Jadi Anbiyaullah, mereka memberikan perawatan untuk penyakit rohani dan jasmani, begitu pula dengan Awliyaullah. Dan mereka telah mewarisinya dari Rasulullah (saw). Jika Sayyidina Isa (as) mempunyai kekuatan seperti itu, tentu saja Rasulullah (saw) juga mempunyai kekuatan seperti itu. Dan Rasulullah (saw) telah memberikannya kepada Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani. Beliau mengatakan, “Aku mempunyai obat untuk semua penyakit zhahiri wa ma’nawi, jasmani dan rohani.”

Oleh sebab itu penting sekali untuk percaya bahwa Syekh kalian mampu mengobati penyakit jasmani dan rohani.  I`tiqad, kalian harus percaya dengan Syekh kalian. Seseorang mendatangi Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani karena ibunya menderita kanker. Grandsyekh memerintahkan agar ibunya minum jus bawang (dalam hal ini maksudnya adalah bawang bombai–penerj.).  Orang ini sudah pergi ke mana-mana, termasuk ke Eropa dan Amerika, tetapi ia tidak dapat menemukan obat untuk ibunya. Ia datang kepada Grandsyekh dan beliau mengatakan agar ibunya minum jus bawang. Hal yang sederhana. Orang itu berkata, “Apa yang bisa dilakukan bawang ini?!” Ketika ia ragu, Grandsyekh mengatakan, “Saat itu rahasianya menjadi terhenti.”

Ada kekuatan rahasia yang dikirimkan oleh Awliyaullah, energi rahasia. Yang perlu kalian lakukan adalah percaya bahwa mereka mempunyai energi penyembuhan semacam itu. Seperti tabib, di mana sekarang setiap orang pergi mendatangi tabib. Ada tabib yang asli dan ada juga yang palsu. Awliyaullah adalah tabib sejati. Mereka dapat memberi penyembuhan. Yang perlu kalian lakukan adalah percaya bahwa mereka dapat melakukannya! Mungkin saja seorang Waliyullah akan membacakan sesuatu ke dalam air, kemudian meniupkannya dan memberikannya kepada kalian, dan kalian mengatakan, “Aku percaya bahwa Syekhku memberikan air yang dapat menyembuhkan aku.” Kalian lalu meminumnya dan kalian akan sembuh, insyaaAllah. Tentu saja atas izin Allah.

Mawlana Syekh Nazim mengatakan, “Seorang hamba sejati, bila ia menginginkan sesuatu, maka Allah pun menginginkannya.” Jika ia mengatakan, “Yaa Rabbii, sembuhkanlah ia.” Allah (swt) tidak akan membuatnya mengulangi lagi permintaannya, Dia akan menyembuhkannya. Air itu akan menyembuhkan penyakitnya. Apakah kalian percaya dengan hal itu atau tidak? Itu adalah ujian terhadap keimanan kalian wahai Muslim, wahai orang-orang yang selalu keberatan.

Kalian harus mempercayainya. Sayyidina Jibril mengatakan kepada Sayyidina Ayyub (as), “Injaklah tanah itu dengan kakimu, air akan terpancar darinya, minumlah air itu dan penyakitmu akan sembuh.” Apakah Sayyidina Ayyub (as) mempercayainya? Sayyidina Ayyub (as) mempunyai penyakit yang sangat parah yang membuatnya terusir dari desanya. Cacing-cacing keluar masuk dari kulitnya. Ia kehilangan segalanya, kulit dan dagingnya mengelupas. Siapa yang dapat menyembuhkan penyakit seperti itu? Dokter mana yang dapat menyembuhkannya? Masya Allah kalian terkenal dengan segala vaksin dan kemoterapi, dan saya tidak tahu lagi, ada imunoterapi dan pengobatan canggih lainnya, tetapi kalian tidak bisa menyembuhkan semua orang. Kalian mengalami kebuntuan, dan pada akhirnya pasien itu akan meninggal di tangan kalian karena kalian memberikan sesuatu yang tidak dapat menolongnya. Iman, percaya kepada Allah dan Kekuatan-Nya akan menyembuhkan segala penyakit.

Allah (swt) mengatakan, “Injaklah tanah itu dengan kakimu.” Itu adalah kaki dari Sayyidina Ayyub (as) yang suci. Kaki dari orang yang suci–dan kalian keberatan dengan Nalayn Syariif (terompah Nabi (saw)), “Injaklah tanah itu wahai Ayyub, engkau akan menemukan air yang memancar darinya, minumlah air itu, dan mandilah dengan air itu. Kisah ini ada dalam Surat Shad, bacalah wahai Muslim yang selalu keberatan. Bagi Non Muslim tidak perlu dibicarakan lagi karena mereka memang tidak menerima seluruh risalah ini, tetapi bagi Muslim, mereka menyangkal dan keberatan dengan keajaiban yang dimiliki oleh Anbiyaullah dan Awliyaullah. Kaki suci Sayyidina Ayyub (as) menginjak tanah dan air memancar dari sana, air biasa saja tetapi apa yang terjadi padanya? “Kami tidak hanya memberinya syifa tetapi Kami kembalikan juga keluarga dan anak-anaknya.” Anak-anak Nabi Ayyub (as) semuanya meninggal dunia tertimpa rumahnya yang runtuh, kemudian api membakar rumah dan seluruh harta bendanya. Beliau kehilangan anak-anak dan juga harta bendanya.

Air itu memberikan kesembuhan kepadanya, dan bukan hanya itu, Allah (swt) berfirman, “Aku kembalikan kepadanya keluarganya, dan menambahkan anak-anaknya, rahmatan minna, itu adalah Rahmat dari Kami!” Jadi orang yang mempunyai pikiran yang baik, pikiran yang murni dapat mengingat Kekuatan Allah (swt) pada kaki suci dari seorang hamba yang suci. Allah (swt) meletakkan kekuatan penyembuhan itu di sana. Jangan menyangkal kekuatan Awliyaullah. Wahai manusia, kalian mengetahui satu dua hal, tetapi masih banyak hal yang tidak kalian ketahui, jadi jangan suka menyangkal. Kaki suci seorang hamba dapat membawa kesembuhan untuk penyakit fisik dan tidak hanya itu, Allah (swt) juga mengarunikannya lebih banyak lagi. Jika kalian percaya dengan kekuatan Awliyaullah dan keajaibannya, kalian akan memperoleh kemenangan.

Datanglah ke Majelis Awliyaullah, biarkan mereka merawat penyakit hati dan penyakit jasmani kalian. Grandsyekh Syekh Nazim al-Haqqani adalah orang semacam itu, dan Quthbul Mutasharrif, orang yang kita ikuti, dan beliau membawa kita kepada Syekh Nazim, dan seluruh Awliyaullah mempunyai kekuatan semacam itu. Semoga Allah (swt) senantiasa mengumpulkan kita bersama mereka, dan memberi kekuatan kepada kita untuk mengikuti mereka dengan benar, insyaaAllah, insyaaAllah. Datanglah ke majelis Awliyaullah, percayalah pada kekuatannya, dan kalian akan memperolah kemenangan. Jika kalian tidak percaya dengan kekuatan Awliyaullah, kalian bisa mendapat masalah, namun demikian mereka akan tetap menjangkau kalian, karena mereka adalah rahmat untuk Ummah.

Wa min Allah at-tawfiq, bi hurmatil habiib, wa bi sirri Suuratil Faatihah.

Wali Sejati Terhubung dengan Sayyidina al-Mahdi (as)

91150429_512789539414992_4341452152246370304_o

Dr. Nour Kabbani
Fenton, Michigan, 28 April 2020
Seri Ramadhan Hari ke-6

A`uudzubillaahi sami`i ‘l-`aliim mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
A`uudzubillaahi sami`i ‘l-`aliim mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Alhamdulillaahirabbi ‘l-`aalamiin
Wa ‘sh-shalaatu wa ‘s-salaamu `alaa Sayyidinaa Muhammad wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin 
wa man tabi`ahu bi ihsan ila yaumiddin
Wa `ala saa’iri ‘l-Anbiyaa’i wa ‘l-Mursaliin wa ‘l-Awliyaa’ wa `ibaadilaahi ‘sh-shaalihiin wa `alayna ma’ahum ajma`iin yaa Arhama ‘r-raahimiin,  wa laa hawlaa wa laa quwwata illa bilaahi ‘l-`Aliyyi ‘l-`Azhiim
Allaahumma alhimnaa rusydanaa wa a`idznaa min syuruuri anfusinaa
Allaahumma arina ‘l-haqqa haqqan warzuqna ‘t-tiba`ah, wa arina ‘l-bathila baathilan warzuqna ‘j-tinaabah yaa rabba ‘l-`aalamiin

Destuur yaa Sayyidi yaa Sulthaan al-Anbiyaa, yaa Sulthaan al-Awliyaa’ , madad yaa Rijalallaah
Destuur yaa Sayyidi wa Mawlay, yaa Sayyidi Syaykh Naazhim, nadharak yaa Sayyidi, madadak yaa Sayyidi, himmatak yaa Sayyidi ‘l-kariim, 
Destuur yaa Sayyidi Quthba ‘l-Mutasharrif, madad yaa Sulthaan al-Awliyaa’, nadharak yaa Sayyidi, himmatak yaa Sayyidi ‘l-kariim,

Assalamu’alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh,

Alhamdulillah, saya adalah orang yang dhaif (lemah), saya adalah hamba yang dhaif, tidak banyak mempunyai ilmu; dan sebelum memulai shuhbah sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, dan kalian juga sudah mengetahuinya bahwa saya memohon dukungan kepada guru saya, Grandsyekh–Syekh Nazim al-Haqqani (q), saya katakan, “Yaa Sayyidi,” dan saya memohon dukungan kepada Quthbu ‘l-Mutasharrif, saya katakan, “yaa Sayyidi, untuk orang-orang yang menyaksikan, apa yang mereka perlukan yaa Sayyidi, aku tidak mengetahuinya.”

Masya Allah, shuhbah-nya Mawlana begitu luas, jadi saya katakan, “Yaa Sayyidi, apa yang harus kulakukan? Mana yang harus kubaca?” Dan saya biasanya membuka buku, lalu seperti ini dan pada akhirnya saya membuka suatu halaman dan saya letakkan “Yaa Maalikal Mulk” (pembatas buku) Ini adalah kalimat yang tertulis di atas rumah guru saya. Saya katakan, “Yaa Sayyidi apa yang harus kubaca? Apa yang harus kukatakan, berilah aku petunjuk.”

Jadi hari ini, ketika saya berusaha untuk menemukan apa yang harus saya baca untuk shuhbah, muncullah shuhbah ini, mengenai Sayyidina Mahdi (as). Saya tidak mengetahui banyak mengenai Sayyidina Mahdi (as) selain bahwa kita sedang menunggu datangnya seorang penyelamat bagi ummah yang akan muncul di akhir zaman.  Beliau berasal dari keluarga Rasulullah (saw), yakni anak cucu beliau (saw), dan beliau akan muncul di antara ummah untuk membimbing mereka pada kebenaran, dan mengantarkan mereka pada kedamaian dan keadilan yang diharapkan oleh semua orang.  Itulah yang saya ketahui.  Kita masih menunggu kedatangannya, sebagaimana yang dikatakan oleh guru kita, “Kalian harus menunggu kedatangannya,” maka kita menunggu dan insya Allah beliau akan muncul di masa hidup kita.   

Berbicara mengenai Mahdi (as) adalah hal yang sulit, karena berbicara tentang sesuatu yang tidak kalian ketahui adalah hal yang sulit, kalian harus melihatnya, kalian harus mendengarnya, kalian harus memahaminya.  Sebagaimana yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim, “Berbicara mengenai Imam Mahdi (as) bukanlah tentang membaca kitab-kitab, ini adalah hakikat yang diperoleh melalui ru’yah, melalui penglihatan.”  Awliyaullah mempunyai ru’yah, penglihatan–bukan mimpi.  Tentu saja sebagian di antara mereka mempunyai mimpi, tetapi ini adalah mengenai ru’yah.   Jadi, berbicara mengenai Imam Mahdi (as) bukanlah seperti membaca kitab-kitab, atau seperti membaca sinopsis buku yang mengatakan bahwa beliau seperti ini atau seperti itu, tidak; tetapi kita harus melihat pada hakikat Mahdi (as).  

Rasulullah (saw) ketika berbicara mengenai kejadian-kejadian di masa mendatang, sebagaimana yang kita pelajari dari guru kita, Grandsyekh, Syekh Nazim al-Haqqani, beliau mengatakan bahwa Rasulullah (saw) akan memvisualisasikan kejadian-kejadian itu kepada para Sahabat.  Beliau tidak hanya membicarakan kejadian-kejadian di masa depan, tetpi beliau juga menunjukannya.  Dalam al-Qur’an banyak ayat yang menjelaskannya, di antaranya,

wa idz qaala Rabbuka li ‘l-malaa’ikati,
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat. (QS Al-Baqarah, 2:30). 

Bukan hanya ingatlah mengenai waktunya, tetapi juga melihat  kejadian pada saat itu.  Jadi ketika Rasulullah (saw) berbicara mengenai kejadian di masa depan, waktu-waktu yang akan datang itu berisi peristiwa-peristiwa di dalamnya, dan peristiwa itu dapat dilihat oleh para Shahabatil kiraam.  Jadi berbicara mengenai Mahdi (as) pun, bukan seperti kalian membaca buku lalu berbicara, tidak; tetapi itu dilakukan setelah mendapat ru’yah, setelah melihatnya.  

Mawlana Syekh Nazim telah bertemu dengan Mahdi (as).  Mawlana Syekh Nazim mengatakan bahwa pada suatu ketika Grandsyekh, Syekh Abdullah ad-Daghestani diperintahkan untuk bertemu dengan Mahdi (as) secara fisik.  Kita menyakini bahwa Mahdi (as) berada di suatu tempat antara Yaman dan Hijaz, di daerah yang kosong menantikan al-`amr, perintah untuk muncul.  

Jadi Grandsyekh (Mawlana Syekh Nazim) mengatakan bahwa, “Guruku, Syekh Abdullah ad-Daghestani ketika itu sedang melakukan khalwat di Madinatul Munawwarah, dan beliau diperintahkan untuk bertemu Mahdi (as) secara fisik.”  Barang siapa yang mempunyai izin, maka Bumi akan melipat diri untuknya, ini yang kita sebut tayyul makan, tayyul ardh.  Para Awliyaullah bisa pergi dengan kecepatan yang sangat tinggi seolah-olah Bumi terlipat di bawah mereka.  Mereka dapat tiba dalam sekian menit, atau sekian detik, atau bahkan kurang dari satu detik, wallaahu a`lam.  Jangan berpikir bahwa ini adalah hal yang mustahil.  Jangan berpikir bahwa mereka tidak dapat pergi ke tempat yang jauh dalam sekejap.  Mereka dapat melakukannya.  Jika kalian berpikir bahwa hal tersebut tidak mungkin dilakukan, berarti kalian menyangkal peristiwa Israa’, di mana Rasulullah (saw) dibawa dari Mekah ke Jerusalem dalam sekejap dan orang-orang pada saat itu tidak dapat menerima hal ini.  Jadi janganlah kalian seperti orang-orang yang hatinya tidak mau menerima hal ini.  Milikilah hati yang lapang, yang artinya mempunyai iman yang kuat.  Iman, percaya terhadap kata-kata Awliyaullah.  

Jadi Grandsyekh diperintahkan untuk pergi dari Madinah ke sebuah tanah kosong antara Yaman dan Hijaz untuk bertemu dengan Mahdi (as).  Ketika tiba, Grandsyekh mendapati Sayyidina Mahdi (as) berdiri di pintu gua, di baabil ghar.  Ada sebuah gua yang disebut ghaaru Su’ada.  Mahdi (as) sekarang berada di sebuah tempat antara Yaman dan Hijaz yang disebut Rub al-Khali, sebuah tempat yang kosong yang pada dasarnya adalah sebuah gurun pasir, di ghaari suada, beliau menunggu perintah Allah (swt) untuk muncul.  Daerah itu dikelilingi oleh makhluk-makhluk rohaniah untuk mencegah siapa pun memasuki daerah itu. 

Ketika Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani tiba, beliau melihat Sayyidina Mahdi (as) berdiri di depan gua.  Gua itu selebar enam puluh meter, dan Mahdi (as) menutupi pintu masuk gua itu dengan tangannya.  Salah satu ciri khas Mahdi (as) adalah bahwa tangan beliau sampai hingga ke bawah lututnya, begitu panjangnya.  Itu artinya beliau sangat kuat!  Mahdi (as) dapat menjangkau lututnya.  Mahdi (as) dapat meraih ego kalian dan mendisiplinkannya.  

Mahdi (as) melambangkan Cahaya Allah (swt), Ruh Allah (swt).  

wa nafakhtu fihi min ruhi
Dan Aku tiupkan padanya (ketika manusia diciptakan) dari Ruh-Ku, dari Napas-Ku. (QS Al-Hijr: 29).  

Beliau melambangkan kekuatan tersebut, nuuru ‘r-ruuh, cahaya ruh, kekuatan ruh, ilmu ruh, dari ruh kalian, ruh Ilahiah kalian, di mana Allah (swt) telah meniupkan Ruh-Nya kepadanya.  Allah (swt) meniupkan Napas Suci-Nya kepada kalian, Ruh Suci-Nya kepada kalian dan Mahdi (as) melambangkan hal itu.  Itulah yang ingin kalian capai.  Kalian memohon agar dapat mencapai Napas Suci Ilahi yang ada dalam diri kalian, wahai manusia.  Itu adalah makna rohaniah dari Mahdi (as), Imam Mahdi (as).  

Kita katakan bahwa ada nama, ada shuurah atau citra atau fisik; ada makna dan ada hakikat untuk beliau.  Mahdi (as) melambangkan Napas Suci Ilahiah yang ditiupkan ke dalam diri kalian, nuuru ‘r-ruuh.  Beliau melambangkan ruh, dengan ilmunya, dan itu ada dalam diri kalian.  Kalian harus menemukannya. 

Mawlana Syekh Nazim mengatakan bahwa kekuatannya, bahwa tangannya mencapai lututnya.  Kekuatan Mahdi (as) akan mencapai ego kalian.  Apakah kalian pernah mendengar tentang Balqis, Ratu Sheba?  Di dalam Al-Qur’an disebutkan bersama Nabi Sulayman (as). 

Innahu min Sulayman wa innahu Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim 
Sesungguhnya (surat) itu berasal dari Sulayman dan sesungguhnya (isinya) itu adalah Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim. (QS An-Naml, 27:30)  

Beliau menyampaikan sebuah pesan dari Yang Mahabesar, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, beliau mewakili Tuhan, dengan apa?  Dengan ruh tersebut.  Kalian adalah khalifah, kalian mewakili Tuhan, dengan apa wahai manusia?  Dengan nuur  dalam diri kalian yang berasal dari Napas Suci Allah (swt) yang ditiupkan pada diri kalian.

Jadi ketika Sulayman (as) mengirimkan surat kepada Balqis, sang Ratu Sheba, artinya beliau menjangkaunya dan isi surat itu adalah Bismillaahi ‘r-Rahmaani r-Rahiim.  Pada akhirnya, apa yang ia lakukan?  Ketika ia memasuki istana yang megah itu bersama Sulayman (as), ia masuk ke dalam samudra yang dalam, samudra yang tak bertepi, Samudra Rahmat-Nya Allah (swt).  Ia masuk dan ia mengangkat sedikit gaunnya, artinya ia tidak ingin agar gaunnya menjadi basah–itu yang dikatakan dalam tafsir kepada kita, tetapi beliau membuka sebagian dari kakinya, itu artinya Sayyidina Sulayman (as) menjangkau egonya.  Balqis melambangkan ego.  Sulayman (as) melambangkan Napas Ilahi yang datang untuk menyelamatkan manusia dari kekuasaan ego yang buruk.  Dan pada akhirnya ia menjadi Muslim.  

Ego yang ada pada diri kita harus menjadi Muslim dan itulah yang menjadi tugas Mahdi (as).  Tugas beliau adalah menundukkan ego kalian sepenuhnya agar menjadi patuh sehingga dalam diri kalian tidak ada lagi bisikan Setan, hati kalian dipenuhi cahaya Rasulullah (saw).  Tidak ada Setan di dalam hati yang dipenuhi dengan cahaya Mahdi (as), nuur dari ruh, nuur dari Rasulullah (saw).  Mahdi (as) muncul untuk menyelamatkan kalian dari diri kalian, dari sisi jahat kalian wahai manusia.  Itulah makna rohaniah dari Mahdi (as), itulah hakikat dari Mahdi (as).  

Secara fisik Mahdi (as) juga mempunyai rupa, beliau akan menyelamatkan dunia ini secara fisik dari kejahatan dan keburukan di dalamnya; dari ketidakadilan, korupsi, dan pertumpahan darah yang terjadi.  Secara fisik Mahdi (as) akan menyelamatkan mereka.  Dan Mahdi (as) juga akan menjangkau kalian, wahai manusia dari sisi batin kalian.  Beliau akan menjangkau ego yang buruk dari diri kita dan membuatnya mengatakan, 

aslamtu ma’a sulaymāna lillāhi rabbil-‘ālamīn, rabbi innī ẓalamtu nafsī.  

Ratu Sheba pada akhirnya mengatakan, “Yaa Rabbii, aku telah berbuat salah, aku telah berbuat zalim kepada diriku dan aku menjadi Muslim (berserah diri) kepada-Mu wahai Tuhanku, bersama Sulayman.”  (QS An-Naml, 27:44).

Kita akan menjadi Muslim yang sempurna.  Bersama siapa?  Bersama Mahdi (as).  Itulah yang kita nantikan, yakni menjadi Muslim yang sempurna.  Muslim yang sempurna maksudnya adalah Waliyullah.  Lihatlah apa yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim.  Ketika kalian menjadi orang yang sempurna, artinya menjadi Waliyullah, bersama Mahdi (as); beliau mengatakan, “Tidak ada Waliyullah kecuali bahwa ia telah bertemu dan berada dalam hadirat Mahdi (as) salafan, sejak dahulu, seluruh Awliya terdahulu.  Mereka selalu berada dalam hadirat Mahdi (as) dan juga mereka yang akan muncul setelahnya.  Mereka yang hadir di dunia ini, dan mereka yang berada di alam Barzakh, artinya orang-orang yang masih hidup dan orang-orang yang telah wafat.  Tidak ada Waliyullah, illa mukaasyif, kecuali bahwa hijabnya telah terbuka bagi mereka untuk melihat dan bertemu dengan Mahdi (as) untuk mengambil kekuatan darinya dan memperoleh ilmu darinya.  

Adalah suatu keharusan bagi seseorang yang mempunyai rahasia kewalian, sirrul wilayah–setiap orang berbicara mengenai rahasia kewalian ini.  Ada seseorang yang bertanya kepada saya setahun yang lalu, “Apakah sirrul wilayah itu?”  Saya katakan, “Saya tidak tahu.”  Saya tidak tahu, tetapi Mawlana tahu, guru saya tahu.  Mawlana Syekh Nazim mengatakan bahwa sirrul wilayah atau rahasia kewalian, pembukaan gerbang menuju kewalian, kunci menuju kewalian, kunci menuju khazanah kalian, wahai manusia adalah ketika kalian mempunyai sila, pertalian, hubungan dengan Mahdi (as).  Ketika kalian menjadi seorang Waliyullah, kalian bergerak bersama Mahdi (as), kalian mengambil dari Mahdi (as), kalian belajar dari Mahdi (as), kalian berperang bersama Mahdi (as).   

Apa yang tertulis pada pedang Mahdi (as)?  Mawlana Syekh Nazim mengatakan bahwa pada pedang Sayyidina Mahdi (as) tertulis, “Nashrun minallaah wa fathun qariib,”  “Kemenangan dari Allah bagimu wahai Mukmin, wa fathun qariib, dan pembukaan yang akrab, yang sangat dekat.”  Bersama Mahdi (as) kalian masuk ke Hadirat Ilahi.  Rabbi adkhilnī mudkhala ṣidqin, Yaa Rabbi, masukkanlah aku dengan masuk yang benar; wa akhrijnī mukhraja ṣidqin, dan keluarkanlah aku dengan keluar yang benar, waj’al lī mil ladunka, dan jadikanlah aku dari sisi-Mu, dari Hadirat-Mu; sulṭānan naṣīrā, Sultan yang meraih kemenangan, yakni Mahdi (as). (QS al-Isra, 17:80).

Yaa Rabbii, kami tidak mengetahui apa-apa, yaa Rabbii, kami tidak mengetahui apa-apa.  Jadikanlah kami sebagai orang-orang yang dapat meraih sisi batinnya dan meraih Napas Suci-Mu yaa Rabbii, Napas Ilahiah Suci yang ada dalam diri kami yang dilambangkan oleh Mahdi (as), al-haqiiqatul Mahdi (as).  Itu adalah Napas Suci yang harus kalian temukan.  Napas Suci Ilahiah dari Allah (swt), dan itulah yang membuat kalian istimewa, wahai manusia.   

Orang yang tidak mempunyai hubungan dengan Mahdi (as)–tak peduli betapa terkenalnya ia di antara orang-orang–begitu banyak orang alim sekarang ini, kalian buka Youtube, kalian buka Facebook, kalian buka Instagram, oooh penuh dengan alim, tanyalah pada mereka, “Apakah engkau sentiasa bertemu dengan Mahdi (as)?”  Secara rohaniah hubungan kalian tidak bisa terputus; ketika kalian menemukan kebenaran, kalian tidak bisa memutuskan diri darinya, itu adalah Haqqul Yaqiin, kalian telah dibusanai dengannya.  Kalian telah menjadi qaa’imun billaah, mutahaqqiqun bi ‘l-Haqq, kalian hadir bersama Allah (swt), dan Haqq atau kebenaran telah masuk ke dalam diri kalian, dan ia telah menjadi bagian dari diri kalian.  Hanya bersama Allah (swt) kalian bergerak, ini adalah orang-orang yang shiddiq, orang-orang yang benar, para Awliyaullah.  Secara rohaniah, mereka tidak pernah memutuskan hubungannya dengan Mahdi (as), mereka selalu hadir dalam hadiratnya.  Itu adalah nuuru ‘r-ruuh.

Grandsyekh mengatakan bahwa orang yang tidak mempunyai hubungan dengan Mahdi (as), tak peduli ia dikenal di antara orang-orang sebagai Qutub, sebagai Wali, sebagai Khalifah, sebagai Allamah, sebagai Mawlana atau dengan gelar lainnya yang tidak saya ketahui, yang mereka tambahkan sendiri pada diri mereka, sebagai Ayatullah, atau sebagai Hujjatullah, jika mereka tidak mempunyai hubungan dengan Mahdi (as), tak peduli betapa terkenalnya mereka atau berpura-pura menjadi Syuyukh, jangan terima mereka.  Kita memerlukan seorang yang telah bertemu dengan Mahdi (as).

Grandsyekh Mawlana Syekh Nazim mengatakan, “Ketika guruku dipanggil untuk bertemu Mahdi (as) secara fisik,” secara rohaniah mereka selalu bersamanya, tidak pernah terpisah.  “Ketika Syekhku diperintahkan untuk bertemu dengan Mahdi (as) secara fisik,” beliau membawa Syekh Nazim juga.  Grandsyekh Syekh Nazim al-Haqqani mempunyai pertalian dengan Mahdi (as).  Itulah orang yang kalian cari, wahai manusia.  Orang yang mempunyai hubungan dengan Napas Ilahiah di dalam diri kalian.  

Beliau mengatakan, “Di sana aku melihatnya, bi `ayn`Ayn di sini bisa bermakna dua hal, menurut pemahaman saya.  Bi `aynihi ra’aytuh artinya “Aku telah melihat Mahdi (as) dengan mata Grandsyekhku,” dan ini yang lebih baik.  Itu artinya Mawlana Syekh Nazim menganggap dirinya tidak ada.  Beliau tidak mengatakan, “Aku melihat Mahdi (as) dengan mataku.”  Tidak ada istilah aku.  Mawlana Syekh Nazim tidak mengkonfirmasi dirinya. Bi `aynihi ra’aytuh, beliau mengatakan bahwa, “Aku telah melihat Mahdi (as) dengan mata Syekhku.”  Lihatlah ketawadukan guru kita.  Jika kalian melihat Mahdi (as), kalian akan mengatakan kepada semua orang, “Ya, aku melihatnya dengan mataku.  Aku mendengarnya dengan telingaku.”  Semuanya tentang diri kaliian!  Kalian belum mencapai apa yang telah dicapai oleh Grandsyekh, beliau mengatakan, “Bi `ayni ra’aytuh, aku telah melihat Mahdi (as) dengan mata Syekhku.”  

Kita melihat Mahdi (as) dengan mata Syekh kita.  Kita mendengar tentang Mahdi (as) dengan telinga Grandsyekh kita.  Jangan katakan dengan mata telinga kalian sendiri.  Bila kalian mengatakannya demikian berarti kalian melakukan syirik.  Wahai Wahhabi Salafi, ini adalah syirik, yaitu ketika kalian mengkonfirmasi diri kalian.  Ketika kalian mengatakan, “Aku!”  Tidak ada “Aku”, yang ada hanyalah Allah (swt) dan orang-orang yang Dia kehendaki.  Kita semua akan binasa.  Cepat atau lambat mereka akan memasukkan kita ke liang lahad, dan selesai, kalian tidak ada lagi.  Temukanlah hakikat, dan dalam hakikat tidak ada kalian, wahai manusia.  Kalian hanya ada selama beberapa tahun, dan kemudian kalian kembali ke Hadirat Ilahi, ke tempat asal kalian.  Jadi sejak sekarang kita harus mengkonfirmasi bahwa tidak ada “Aku”, itu adalah mutu qabla an tamutu, matilah sebelum engkau mati–yang selama ini kalian keberatan dengan hal ini.  Itu artinya kalian menarik diri dari dunia, dari kecintaan, dari kehidupan materialistik, dan kesenangan dunia ini dan kalian mengatakan, “Aku adalah untuk Tuhanku.  Aku bukan untuk dunia ini, tidak ada “Aku” di sini.”  

Awliyaullah mengatakan bahwa “Nafsuka samkatun, ego kalian adalah seekor ikan.”  Hayatuha bahru ‘d-dunya wa maa’ul hawaa, kehidupan seekor ikan adalah di samudra dunia ini dan air hawa nafsu, kalian harus mengeluarkannya.  Rasulullah (saw) bersabda, “Mutu qabla an tamutu, matilah sebelum engkau mati,” artinya keluarkan ego kalian dari samudra dunia dan air hawa nafsu, karena ikan akan mati bila kalian mengeluarkannya dari dalam samudra.  Artinya tariklah diri kalian dari dunia dan tariklah diri kalian dari hawa nafsu, wahai manusia; sehingga kalian mempunyai ikan yang mati.  Maka kalian menjadi ikan yang mati.  Apa yang terjadi bila kalian menjadi ikan yang mati?  Seseorang akan membawa kalian.  

Bila kalian menjadi ikan yang mati, bila kalian telah meninggalkan dunia, meninggalkan hawa nafsu kalian, itu artinya kalian berada di gerbangnya Waliyullah.  Waliyullah akan mengangkat kalian.  Kalian meninggalkan dunia kepada siapa?  Kepada Allah (swt), itu artinya kalian menuju pintunya Awliyaullah.  Itulah sebabnya di masa lalu ada dergah, ada khanaqah, zawiyah di mana masya Allah begitu banyak orang yang menarik diri mereka.  Orang-orang meninggalkan dunia, tharaqu bahra ‘d-dunya wa maa’al hawaa, mereka meninggalkan samudra dunia dan air hawa nafsu, karena tanpa air kalian akan mati.  Jadi ego, untuk melanjutkan hidupnya ia harus minum, dan minuman ego itu apa?  Hawa nafsu.  Jadi ketika kalian meninggalkan samudra dunia, dan kalian meninggalkan air hawa nafsu dan kalian pergi ke pintunya Waliyullah, ia akan membawa kalian.  Ke mana kalian akan pergi bersama Waliyullah?  

Kalian adalah seekor ikan yang mati bersama Waliyullah.  Di manakah kisah tentang ikan yang mati dalam al-Qur’an suci?  Ketika Nabiyullah membawa seekor ikan yang mati bersamanya.  Nabiyullah, dan Waliyullah–Waliyullah adalah pewaris dari Anbiyaullah, mereka mengambil ilmu tauhid darinya, mereka membawa ikan-ikan yang mati itu bersama mereka, ke mana?  Ke Majma al-Bahrain, ke tempat pertemuan antara dua alam, alam rohaniah dan alam fisik, jasmani.  Apakah ikan kalian akan hidup di sana?  Apa tandanya bagi Musa (as) di mana, “Ketika engkau menemukan pintu-Ku, ketika engkau menemukan hamba-Ku, ketika engkau menemukan ilmi ‘l-ladunni, ketika engkau menemukan ilmu rohaniah-Ku, ikan yang engkau bawa menjadi hidup.”

Ketika kalian meninggalkan bahra ‘d-dunya dan maa’ul hawaa, ketika kalian meninggalkan samudra dunia dan air hawa nafsu, dan kalian pergi bersama Waliyullah sebagai ikan yang mati dan ketika ia sampai bersama kalian ke tempat pertemuan antara dua alam, yakni alam rohaniah dan alam jasmaniah, kalian akan menjadi hidup, dan apa yang kalian lakukan?  Fattakhaża sabīlahụ fil-baḥri sarabā, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke samudra itu. (QS Al-Kahfi, 18:61), kalian mengambil jalan kalian masuk ke dalam Samudra Rahmat, Samudra Cinta-Nya Allah (swt).  Kalian menjadi hidup dan masuk ke dalam samudra tersebut. 

Ilmunya Awliyaullah begitu dalam, kita bahkan belum sampai menggores permukaannya.  Semoga Allah mengampuni kita.  Saya rasa ini sudah cukup.  Ini sudah cukup untuk menunjukkan apa yang ada bersama Awliyaullah, oleh sebab itu mari datanglah bersama Awliyaullah.  Jika kalian tidak dapat menemukannya secara fisik, pergilah ke maqam suci mereka, pergilah dan ambillah rahmat yang turun kepada mereka, ambillah berkah dari tempat itu.  Allah (swt) akan membimbing kalian kepada Awliya yang masih hidup.  Semoga Allah (swt) senantiasa mengumpulkan kita bersama Awliyaullah.  Aamiin.  Yaa Rabbii, kumpulkanlah kami bersama Sayyidina Mahdi (as) zhaahiran wa bathinan, yaa Rabbal `aalaamiin.  Jadikanlah kami orang yang sempurna, dan selalu tersambung dengan Mahdi (as), aamiin, aamiin, aamiin, bi hurmatil habiib (saw), wa bi sirri Suurati ‘l-Faatihah. 

Satu hal lagi, ada seseorang yang bertanya tentang apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang merasa khawatir dan cemas.  Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan, tetapi subhanallah shuhbah ini juga muncul untuk itu.  Semua kekhawatiran dan kecemasan kalian akan lenyap dengan pikiran bahwa kalian akan bersama Hadirat Ilahi dalam samudra Nuur dari dzikir, dzikrullah, tidak ada lagi kekhawatiran yang tersisa, jadi berusahalah untuk menemukan pintu Waliyullah, dan kekhawatiran dan kecemasan kalian akan hilang.  

Wa min Allah at-tawfiiq, bi hurmatil habiib (saw), wa bi sirri Suurati ‘l-Faatihah.  

Wassalamu`alaykum wa rahmatullaahi ta`aala wa barakatuh

https://sufilive.com/True-Saints-Are-Connected-with-Sayyidina-al-Mahdi-as–7243.html

© Hak Cipta 2020 Sufilive. Seluruh hak cipta. Transkrip ini dilindungi

 

oleh hukum hak cipta internasional. Harap cantumkan Sufilive saat membagikannya. JazakAllahu khayr.

Rahmat Allah bagi Umat Muhammad (saw) di Bulan Ramadhan

WhatsApp Image 2020-04-23 at 4.55.38 PM

Khotbah Jumat Dr. Nour Kabbani

Fenton, Michigan; Sabtu, 17 April 2020

 

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Syahru ramadhānalladzī unzila fīhi ‘l-qur`ānu hudal lin-nāsi wa bayyinātim mina ‘l-hudā wa ‘l-furqān, fa man syahida mingkumu ‘sy-syahra falyashum-h, wa mang kāna marīdhan au `alā safarin fa `iddatum min ayyāmin ukhar, yurīdullāhu bikumu ‘l-yusra wa lā yurīdu bikumu ‘l-`usra wa litukmilu ‘l-`iddata wa litukabbirullāha `alā mā hadākum wa la`allakum tasykurụn (Surat al-Baqarah, 2:185)

Assalamu`alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh, 

Wahai Mukmin, wahai orang-orang yang beriman!  MubarakInsya Allah bulan suci Ramadhan akan datang pada hari Kamis atau Jumat depan, insya Allah.  Kita akan memulainya dengan ibadah di bulan suci Ramadhan, yakni Tarawih dan shiyam.  Semoga Allah (swt) memberi kekuatan bagi umat untuk memikul beban di bulan ini.  

Syahru Ramadhan.  Bulan ini adalah bulan yang sulit.  Bulan ini adalah bulannya hidayah.  Saya membaca di Surat al-Baqarah ayat 185, Allah (swt) menjelaskan tentang bulan Ramadhan.  Dia mengatakan, alladzī unzila fīhil-qur`ānu hudal lin-nāsi, di bulan ini diturunkan petunjuk ke Hadirat Ilahiah-Nya.  Al-Qur’anul Kariim adalah huda, petunjuk bagi manusia, petunjuk bagi makhluk kepada Penciptanya.  Jalan bagi makhluk mencapai Penciptanya adalah melalui Al-Qur’an suci, tidak ada jalan lain.  Al-Qur’an menegaskan apa yang telah dibawa oleh risalah sebelumnya dan ia dilengkapi dengan jalan yang paling mudah dan paling cepat.  

Jadi di bulan ini, bulan Ramadhan, dan itulah sebabnya ia disebut Ramadhan, ia berasal dari kata RamdhaRamdha artinya ketika terik matahari membakar bumi.  Itu artinya wahai manusia, kalian akan berada di bawah panas yang terik.  Di bulan Ramadhan, terik matahari, artinya terik dari nuur.  Kalian akan berada di bawah nuur dan naar di bulan Ramadhan.  Kalian akan berada di bawah panas dari nuur, Nuur IlaahiNuur Ilaahi tersebut adalah jalan turunnya al-Qur’an, itulah sebabnya ia disebut Ramadhan, ia membakar, dan kalian akan terbakar.

Para Awliyaullah mengatakan bahwa nafs atau ego terbakar dengan cahaya, dengan nuuril haqq di bulan Ramadhan.  Itulah yang terjadi pada ego.  Cahaya Ilahiah bersinar padanya melalui petunjuk dari al-Qur’an suci.  Petunjuk itu sampai ke bumi, sampai pada kalian, ardhu ‘n-nafs, ego.  Ini adalah makna spiritual, makna rohaniah.  Tentu saja ada makna secara fisik.  Kita percaya padanya, az-zhahir, makna secara fisik, tetapi juga ada makna batiniah.  Dan ini adalah salah satu makna yang dikatakan oleh Awliyaullah.  Allah (swt) membimbing ego melalui cahaya Qur’an ke Hadirat Ilahiah-Nya.  

Barang siapa yang menyaksikan–itu artinya ada sesuatu yang harus disaksikan di bulan Ramadhan, dan itu adalah Maqamul Wahdah, syuhuudi maqaamil wahdah.  Di bulan Ramadhan, ketika ego kalian terbakar dengan nuuril haqq, dan ia dibimbing oleh cahaya al-Qur’an suci, dan sang Imam, Rasulullah (saw), ego itu akan menyaksikan sesuatu, ia akan terbakar lalu lenyap, itu adalah Maqamil Wahdah, artinya hanya Allah (swt) yang harus disaksikan, itulah sebabnya kita katakan, “Laa ilaaha illaAllaah, laa mawjuuda illa Allaah, laa ma`buda illa Allaah,” itu adalah Maqaamu ‘t-Tawhiid. Jadi lakukanlah yang terbaik di bulan Ramadhan, untuk mengikuti apa yang dibawa oleh Syari`ah, yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw); dan secara rohaniah Syekh kalian akan membimbing kalian kepada nuurul haqq ke Hadirat Ilahiah-Nya.      

fa man syahida mingkumu ‘sy-syahra falyashum-h, orang yang dapat menjadi saksi, dapat melihat, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, artinya kalian berpuasa dari perkataan yang bukan haqq, dari segala perbuatan yang bukan haqq, sehingga tidak ada lagi kebatilan, segala sesuatunya adalah haqq, dan ini adalah jalan yang tersembunyi, jalan batin, yang juga harus ditempuh oleh seorang Muslim; bukan hanya yang zhahir saja kalian berpuasa dan shalat, tidak!  Tetapi ada juga jalan batin.  Insya Allah kita akan mencapainya, nuurul haqq, nuur Allah (swt).

Rasulullah (saw) bersabda bahwa Allah (swt) akan mengampuni dosa-dosa kalian, jika kalian menghindari dosa-dosa besar, Dia akan mengampuni dosa-dosa kalian dari Jumat ke Jumat berikutnya.  Alhamdulillah, dari Jumat ke Jumat berikutnya dosa-dosa kita diampuni bila kalian mendirikan shalat dan menjauhi dosa-dosa besar; juga dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya dan di antara kelima waktu shalat.  Ini adalah jalan-jalan bagi Rahmat Allah dan Ampunan-Nya untuk sampai kepada kita.  Jadi jagalah shalat lima waktu kalian, jagalah Ramadhan kalian, dan jagalah Jumat kalian.  

Dan saya akan membacakan sebuah Hadits dari Jabir (ra).  Rasulullah (saw) bersabda, “Allah (swt) telah mengaruniai umatku, yaitu kita, ummatu Muhammad (saw), suatu kehormatan untuk menjadi seorang pengikut Rasulullah, khatami ‘n-Nabiyyiin (saw), tidak ada kehormatan lain yang melebihinya.  Itu adalah kehormatan terbesar.  Mengapa kalian masih mencari yang lain?   

Ketika risalah yang sempurna telah datang, mengapa kalian masih mencari risalah yang lain?  Ketika Nabi yang sempurna telah datang, dan Rasul terakhir telah datang, mengapa kalian masih mencari yang lain?  Mengapa kalian masih mencari orang yang lain, mencari filsuf yang lain dan orang-orang palsu lainnya?  Ketika seseorang yang sempurna telah datang dan ketika risalah yang sempurna telah datang dan ketika kitab yang sempurna telah datang, maka mencari ketidaksempurnaan adalah sesuatu yang tidak masuk akal.  Oleh sebab itu, maka tinggallah. Tinggallah sebagai pengikut Rasulullah (saw). 

Beliau (saw) bersabda, “Para pengikutku telah diberikan lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada umat terdahulu.  Hal pertama yang diterima oleh umatku tetapi tidak pernah diberikan kepada umat lainnya adalah malam pertama dari Syahru Ramadhan, ketika nuurul haqq mulai terwujud pada diri kalian, pada hati kalian, pada ego kalian, pada sisi lahir dan batin kalian, di bulan yang terik tersebut.  

Allah (swt) akan memandang diri kalian, dan siapa pun yang telah dipandang oleh Allah (swt), ia tidak akan pernah dihukum.  Jadi malam pertama dari Syahru Ramadhan adalah penting.  Berusahalah agar kalian mendapatkannya dengan benar, dengan sebaik-baiknya.  Kita bukanlah seorang astronom, kita tidak mempunyai teleskop. Kita hanya mengikuti saja, ketika mereka mengatakan bahwa bulan telah terlihat, maka kita mulai berpuasa.  Kita adalah orang yang lemah.  

Hal kedua yang dikaruniakan kepada umatku adalah bahwa napas mereka di penghujung hari lebih manis daripada wanginya kesturi.  Karena dengan mulut itu, kalian tidak berbohong sepanjang hari; dengan mulut itu, kalian tidak berbuat curang sepanjang hari; dengan mulut itu kalian tidak melakukan gosip sepanjang hari.  Mulut itu, lisan itu dalam keadaan suci sepanjang hari, sehingga tentu saja ia akan lebih manis daripada wangi kesturi. 

Bila kita tidak berpuasa, kita sudah membuat gosip sejak pagi hingga sore hari, sehingga bau itu muncul.  Malaikat mencium bau busuk dari gosip tersebut.  Jadi ketika kita berpuasa, kita tidak melihat apa-apa kecuali yang haqq.  Wangi dari amal baik lisan kalian lebih manis daripada wangi kesturi di Hadirat Ilahi. 

Hal ketiga adalah bahwa para malaikat akan memintakan ampun bagi kalian setiap hari, siang dan malam di bulan Ramadhan.  Inilah yang dikaruniakan kepada para pengikut Rasulullah (saw).  Jangan tinggalkan risalah beliau, kalian tidak akan mendapatkan karunia ini.  Kalian hanya akan mendapat kerikil.  Allah (swt) mengirimkan permata kepada Rasulullah (saw).  Jangan menjadi orang-orang yang bodoh dengan mengumpulkan kerikil-kerikil tersebut. 

Jadi, pertama Allah (swt) akan memandang kalian pada malam pertama di bulan Ramadhan, yang kedua, amal dari mulut dan lisan kalian akan menjadi lebih manis daripada wangi kesturi, dan Allah berfirman bahwa di Surga kalian akan diberi minuman di mana yang menjadi segelnya adalah kesturi.  Itu artinya amal kalian, lisan kalian akan lebih manis daripada minuman tersebut.  Jadi yang kedua, amal dari mulut dan lisan kalian lebih manis daripada wangi yang dimiliki Surga.  Ketiga, malaikat akan diminta untuk memohonkan ampunan bagi kalian, wahai manusia, siang dan malam.  

Hal keempat, Allah (swt) memerintahkan Surga untuk mempersiapkan diri mereka, menghiasi diri mereka untuk hamba-hamba-Nya.  “Mereka akan segera mendapat kebebasan dari kesulitan mereka di dunia dan masuk ke rumah-Ku, ke Daar-Ku.”  Jadi jangan takut!  “Oh mungkin aku akan mati hari ini, mungkin aku akan mati besok atau lusa.”  Mintalah kepada Allah (swt) agar memanjangkan umur kalian untuk mencapai Ramadhan.  Itulah sebabnya Rasulullah (saw) selalu mengingatkan kita, “Allaahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya`bana wa ballighnaa Ramadhan,” “Sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan yaa Rabbii, sehingga Engkau dapat memandang kami, sehingga para Malaikat dapat membacakan istighfar untuk kami, sehingga Surga dapat menghiasi diri mereka untuk kami, dan agar amal kami lebih manis daripada apa pun di Surga.  

Dan yang kelima, pada malam terakhir di bulan Ramadhan–itu artinya kalian telah berpuasa sepanjang bulan–jangan lewatkan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang, mereka melewatkan di sini, mereka melewatkan di sana, tidak!  Jika kalian mampu, maka berpuasalah.  Ketika malam terakhir tiba, Allah (swt) akan menyirami mereka dengan Rahmat-Nya, Ampunan-Nya dan Cinta-Nya.  Sebagian orang mengatakan, “Yaa Rasulallah, engkau menyebutkan malam terakhir, apakah hal itu berarti Laylatul Qadar?”  Rasulullah (saw) menjawab, “Tidak, tetapi pekerjaan itu akan dibayarkan pada akhir bulan.”  Jadi pada malam terakhir bulan Ramadhan, Allah (swt) akan mengampuni semua dosa.  

Jadi, ini adalah hal-hal yang zhahir, sedangkan sisi batinnya adalah ketika kalian meraih fana.  Ketika diri kalian lenyap, hanya haqq yang muncul, itu adalah fana.  Ketika orang melihat kalian, mereka hanya melihat nuurul haqq pada diri kalian. Nuun, huruf pertama dari an-Nuur.  Rasulullah (saw) adalah Nuur.  Ketika orang-orang melihat kalian, mereka akan melihat nuurul haqq, tidak ada lagi diri kalian.  Yang ada hanyalah nuurul haqq, dan itulah yang kita cari melaui bimbingan para Awliyaullah, bimbingan Grandsyekh kita dan bimbingan Rasulullah (saw).  Kita berusaha untuk mencari hal tersebut, di mana ketika orang melihat diri kalian, mereka melihat nuurul haqq.  Dan itulah yang lihat pada diri Mursyid kita. 

Semoga Allah (swt) menjaga kita untuk senantiasa berada di jalur mereka.  Semoga Allah (swt) membuat kita sampai ke bulan Ramadhan, insya Allah kita dapat meraih kehormatan dari Allah (swt), kita semua insya Allah.  Semoga Allah (swt) memberi kalian umur panjang, memberi kita semua umur panjang.  Jika kita sakit, semoga Allah (swt) menyingkirkan penyakit itu, menghilangkan kesulitan itu, dan menjadikan ummatu Muhammad, umat yang diberkahi, umat yang diampuni, umat yang mendapat kehormatan mengikuti Nabi mereka, Rasulullah (saw).

(doa)

 

     

Rahmat Allah Tak Terhingga

89591512_871362696659943_7271272168413757548_n

Dr. Nour Kabbani
Fenton, Michigan, Sabtu, 11 April 2020

A`uudzubillaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
A`uudzubillaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Alhamdulillaahirabbi ‘l-`aalamiin
Wa ‘sh-shalaatu wa ‘s-salaamu `alaa Sayyidinaa Muhammad wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin 
wa man tabi`ahum bi ihsan ila yaumiddin
Wa `ala saa’iri ‘l-Anbiyaa’i wa ‘l-Mursaliin wa ‘l-Awliyaa’ wa `ibaadilaahi ‘sh-shaalihiin wa `alayna ma’ahum ajma`iin yaa Arhama ‘r-raahimiin,  wa laa hawlaa wa laa quwwata illa bilaahi ‘l-`Aliyyi ‘l-`Azhiim

Destur yaa Sayyidi wa Mawlay, yaa Sayyidi Syaykh Naazhim, nadharak yaa Sayyidi, madadak yaa Sayyidi, himmatak yaa Sayyidi ‘l-kariim, 
 
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim,
Assalamu`alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh, 

Selamat datang kembali, selamat datang kembali.  Semoga Allah (swt) senantiasa membuat kita bahagia, menjaga agar kita senatiasa kuat, semoga Allah (swt) selalu mengampuni kita, memaafkan kita, dan menyirami kita dengan rahmat dan berkah-Nya, dan melindungi kita, khususnya di masa-masa yang sulit ini, di mana Allah (swt) akan melindungi siapa pun yang dikehendaki-Nya.  Alhamdulillah, alhamdulillah kita masih dapat menyebut Nama-Nama Suci-Nya, kita masih mampu melakukan shalat, dan insya Allah kita akan berpuasa di bulan Ramadhan yang akan datang. 

(suara terputus…)

Saya merasa malu untuk berbicara… (suara terputus).  Allah (swt) mempunyai begitu banyak hamba, hamba-hamba yang kuat, tetapi kami ditempatkan di posisi untuk menyampaikan sesuatu kepada sesama manusia.  Saya hanyalah manusia biasa seperti orang lain, dengan dua mata, dengan lidah, dengan pikiran, dengan tubuh, dan saya juga membaca. Itu saja, tidak lebih.  Saya tidak berpura-pura untuk menjadi seorang ulama atau Awliya, atau ini itu, tidak! Saya adalah hamba yang paling lemah, semoga Allah (swt) mengampuni saya.  

Sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, saya diminta untuk memberikan shuhba dan melaksanakan dzikir, dan inilah yang kita lakukan pada hari ini, mengikuti perintah syuyukh kita.  Insya Allah saya berniat untuk membacakan dari ajaran Awliyaullah, dan kemudian kita akan melakukan Khatm Khwajagan dan insyaAllah, Allah akan mengampuni kita, dan menolong kita dari apa yang akan kita lalui.  Semoga Allah (swt) memanjangkan umur setiap orang yang bekerja bagi kebaikan umat. Semoga Allah (swt) memberi kekuatan dan kesehatan yang baik bagi mereka semua, insyaAllah.

Mawlana Syekh Nazim (q), Grandsyekh kita dalam tarekat—tarekat kita, mata air kita adalah Naqsybandiyya, kita minum dari sungai tersebut.  Mawlana Syekh Nazim (q), guru kita, beliau mengatakan bahwa Rahmatullaahi waasi`a, Rahmat Allah (swt) itu luas, Rahmat Allah (swt) dapat menampung segala sesuatu yang berada di dalamnya.  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur`an,

Wa rahmatii wasi`at kulla syay’in,    

Dan Rahmat-Ku mencakup segala sesuatu. (QS al-A`raf, 7:156)

Segala sesuatu dikelilingi oleh Rahmat Allah (swt).  Tidak ada satu pun di antara ciptaan-Nya yang berada di luar Rahmat Allah (swt).  Setiap orang berada dalam Rahmat Tuhan Surgawi. Rahmat-Nya mencakup segala sesuatu yang berada di dunia, Rahmat-Nya mencakup segala sesuatu yang ada di Akhirat, Rahmat-Nya mencakup segala sesuatu sebelum masa azali, dan segala sesuatu setelah masa azali.  Dengan Rahmat Allah (swt) tersebut segala sesuatu menjadi muncul, segala sesuatu diciptakan dan segala sesuatu dapat ditemukan; dan bagian dari Rahmat tersebut adalah iman.  

Grandsyekh mengatakan, Mawlana Syekh Nazim (q) mengatakan bahwa iman adalah hibah, itu adalah pemberian dari Allah (swt).  Itu juga berasal dari Rahmat-Nya. Dan beliau mengatakan, “Sejak kapan kalian memiliki iman wahai manusia? Sejak kapan kalian menjadi seorang Mukmin, sejak kapan kalian menjadi seorang Muslim?”  Jika seseorang bertanya, “Sejak kapan engkau menjadi seorang Mukmin?” “Sejak kapan engkau menjadi seorang Muslim?” Grandsyekh mengatakan, “Kalian harus mengatakan sejak sebelum kalian datang ke dunia ini.”  Ada suatu hari di mana kita semua hadir pada hari tersebut dan Grandsyekh mengatakan dan kalian mengatakan, “Aku adalah orang yang percaya pada Tuhan Surgawi,” sejak saat itu. Hari alastu birabbikum, hari di mana Allah (swt) telah mengumpulkan kita dan Dia berkata, “Bukankah Aku ini adalah Tuhanmu?”  Dan kita semua mengatakan, “Ya!”  

Jadi dari Rahmat-Nya, Dia telah memberi kita iman sejak hari itu.  Dan apa yang sudah diberikan oleh Allah (swt) tidak akan ditariknya kembali.  Allah (swt) adalah al-Wahhab, Yang Maha Pemberi dan tidak mengharapkan kembali.  Allah (swt) memberikan hibah dan Dia tidak mengharapkan hibah itu kembali. Dan iman itu diberikan kepada seluruh bani Adam (as).  Siapa pun yang hadir pada hari itu, Hari Perjanjian, yakni di alam rohaniah sebelum kita muncul ke dunia ini, ke alam yang lebih rendah ini, di alam yang lebih tinggi kita memberikan pernyataan, “Engkau adalah Tuhan kami, Sang Pencipta, dan kami adalah hamba-Mu.”  

Grandsyekh mengatakan bahwa sebagian di antara kita telah diizinkan untuk menunjukkan iman mereka di alam yang lebih rendah ini (dunia), dan sebagian lagi tidak diizinkan untuk menunjukkan iman mereka di alam yang lebih rendah ini, tetapi kita semua di alam yang lebih tinggi, di alam rohaniah, kita semua telah memberikan ikrar bahwa Dia adalah Tuhan kita dan Pencipta kita.

Wahai manusia, dengan Rahmat-Nya, Allah (swt) menciptakan bani Adam (as); dengan Rahmat-Nya Dia mengangkat mereka; dengan Rahmat-Nya Dia membuat rohaniah kalian berkembang; dengan Rahmat-Nya Dia membuat fisik kalian, kecerdasan kalian dan keuangan kalian berkembang; dan dengan Rahmat-Nya Dia telah mencurahkan berbagai kenikmatan kepada kalian; karena kalian adalah makhluk yang sangat istimewa bagi Tuhan Surgawi.  

Oleh sebab itu, `inda ahlil haqiqah, Mawlana Syekh Nazim (q), Grandsyekh, guru kita mengatakan bahwa para Ahli haqiqat, para ahli kebenaran, orang-orang yang menyaksikan kebenaran, mereka semua telah melewati semua hijab ini, dan mereka dihadapkan pada kebenaran.  Mereka melihat bahwa seluruh bani Adam (as), pada akhirnya akan berada di Surga.

Jadi apakah seseorang itu menunjukkan imannya di dunia ini, atau orang yang tidak menunjukkan iman mereka di dunia ini, pada akhirnya Allah (swt) akan membawa mereka ke dalam Rahmat-Nya.  Dan Grandsyekh mengatakan bahwa pada akhirnya seluruh bani Adam (as) akan masuk Surga dengan Rahmat Allah. Dan ini adalah sebuah kabar gembira yang besar bagi kita. Allah (swt) Maha Pemaaf.

Grandsyekh mengatakan bahwa jika seseorang senantiasa membutuhkan Rahmat Allah, tetapi Dia tidak bisa memberikan Rahmat-Nya kepadanya, bagaimana mungkin Dia menjadi Rahiim?  Bagaimana mungkin Dia menjadi Rahmaan?  Bagaimana mungkin Dia menjadi Arhama ‘r-Raahimiin?  Jika seseorang membutuhkan Rahmat Allah tetapi Allah tidak dapat memberikannya kepada mereka, maka Dia bukanlah Rahmaan dan RahiimRahmaan artinya Maha Pemberi Rahmat bagi semua.  Lihatlah di dunia ini, Allah telah memberi Rahmat-Nya kepada semua orang, baik orang-orang yang beriman maupun orang-orang yang tidak menunjukkan keimanannya.  Dia telah memberi mereka makanan, tempat tinggal, kenyamanan, kemudahan kepada seluruh manusia di Bumi, apakah mereka percaya kepada Allah (swt) atau tidak! Ini adalah Rahmaan, Rahmat-Nya adalah ammah, berlaku umum kepada setiap orang.  Jadi jika ada seseorang yang memerlukan rahmat, Nama-Nya adalah Rahmaan, jadi Dia pasti memberikannya; Nama-Nya adalah Rahiim, jadi Dia pasti memberikannya.  Allah (swt) Maha Penyayang untuk semuanya dan pada akhirnya setiap orang akan masuk Surga.  

Kita mengambil pernyataan ini dari Grandsyekh, dan kita senang mendengarnya.  Kita pun senang karena ini berlaku untuk sesama manusia. Kita senang bahwa setiap orang akan berakhir dalam Rahmat Allah (swt).  Kita tidak menginginkan penderitaan bagi siapa pun, kita tidak menginginkan penderitaan bagi sesama manusia. Kita menginginkan kebaikan bagi semua.  Allah (swt) berfirman, wa rahmatii kulla syay’in, Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.  Syay’in artinya sesuatu, apakah kalian bagian dari sesuatu?  Apakah kalian sesuatu? Ya! Segala sesuatu di antara ciptaan adalah syay’in, dan Rahmat Allah (swt) mencakup segala sesuatu.  Oleh sebab itu Grandsyekh mengatakan bahwa kalian harus mempunyai tuma’ninah, ketenangan dalam hati, Allah (swt) akan mengatur segalanya.  Allah (swt) adalah ar-Rahmaanu ‘r-Rahiim, al-Kariim, al-Afuww, Akramul Akramiin, Arhaamu ‘r-Raahimiin.  Rahmat-Nya adalah karam, untuk kalian, wahai manusia. Dan Allah (swt) akan memberikannya.  Semoga Allah (swt) menjadikan kita termasuk orang-orang yang mempunyai kebaikan di dalam hatinya kepada orang lain, kepada orang lain.

Ketika seseorang memiliki kebaikan di dalam hatinya, mempunyai perasaan baik dan mencintai sesama manusia, itu adalah tandanya iman.  Ketika hati kalian terbuka, maka ia dapat mengambil sesuatu dan ia dapat menerima lebih banyak orang ke dalamnya. itu artinya iman kalian besar.  Sebaliknya, jika dada kalian tertutup, jika hati kalian sempit, maka yang terjadi adalah, “Orang ini tidak boleh masuk, yang ini ditolak, yang ini harus keluar, yang ini begini, yang itu begitu.”  Itu juga mencerminkan iman kalian. Jika iman kalian besar, setiap orang bisa masuk, jika iman kalian lemah, maka banyak orang yang tidak bisa masuk. Berhati-hatilah! Ini adalah perkataan Mawlana Syekh Nazim (q).  Setiap kali iman masuk ke dalam hati, maka ia dapat menampung lebih banyak orang. Jadi berhati-hatilah! Hati kalian harus bisa menampung lebih banyak orang!  

Para Imam, orang-orang yang religius, rabbi, pendeta, manusia secara umum, hati kalian harus bisa menampung lebih banyak orang.  Itu adalah tandanya iman. Itu adalah tanda kebaikan. Itu adalah tanda rahmat. Jika hati kalian menjauhkan orang-orang, jika kalian menolak orang-orang, jika kalian menyakiti orang-orang, maka itu adalah sebuah pertanda buruk.  Ketika iman masuk ke dalam hati, ia akan mampu menampung lebih banyak orang. Oleh sebab itu, kalian melihat pada Awliyaullah–bukan yang lain, ada begitu banyak orang yang berada pada posisi yang tinggi, baik di bidang keagamaan maupun tidak, tetapi mereka menolak begitu banyak kelompok orang, begitu banyak ras, begitu banyak keyakinan yang berbeda.  

Seorang Waliyullah, yang berada pada maqam rohaniah yang tinggi, kalian akan mendapati mereka mempunyai dada yang lapang, hati yang luas, artinya mereka dapat menampung semua orang.  Wa ‘r-rahma, kalian akan mendapatkan rahmat dalam hatinya untuk semua orang, apakah mereka Mukmin, fasik, kafir, munafik, mufsid, atau musyrik, kalian akan mendapati rahmat di dalam hati Awliyaullah bagi mereka semua.  Dadanya terbuka bagi mereka semua. Mereka bahkan akan berdoa, “Yaa Rabbii, aku akan memikul beban mereka.” “Aku akan memikul penderitaan orang lain, tetapi lepaskanlah mereka dari beban mereka, lepaskan penderitaan mereka.  Jadikanlah mereka bahagia.” Para Awliyaullah dan Anbiyaullah dan Rasulullah (saw), mereka semua memohon kepada Allah (swt) untuk mengampuni dan memaafkan setiap orang. Itu adalah syafaat mereka. Awliyaullah, mereka mengatakan, “Yaa Rabbii, kami akan memikul apa yang telah Engkau tuliskan bagi mereka.”  Dan apa yang Allah (swt) putuskan, itu terserah pada-Nya. Kita tidak dapat mengatakan, “Ya atau tidak! Allah tidak dapat melakukan hal itu.” Allah (sw) melakukan apa yang Dia kehendaki dan memerintah sesuai keinginan-Nya. Ada sebuah pembukaan di sana.  

Awliyaullah, mereka melihat pada manusia, Muslim, Kristen, Yahudi, Buddha, Sikh, Hindu, atheis, semuanya.  Para Wali, para kekasih Allah, mereka memandang seluruh manusia dengan cinta, dengan rahmat, dengan kebaikan dan dada yang lapang, untuk membawa mereka semua ke dalamnya.  Dan mereka berdoa, “Yaa Rabbii, aku akan memikul penderitaan mereka. Berikanlah kenyamanan pada mereka.” Mereka mengatakan, “Bagi seluruh hamba-Mu.” Mereka tidak mengatakan “kuffar”.  Allah (swt) mengajarkan adab di dalam al-Qur’an suci. Di dalam Surat al-Ma`idah, apa yang dikatakan oleh Sayyidina `Isa (as)?  

Allah (swt) berfirman melalui lisan Sayyidina `Isa (as),
In tu `adzdzibhum fa’innahum `ibaaduk (QS al-Ma`idah, 5:118)


Kita menjadikan Sayyidina `Isa (as) sebagai contoh bagi kita, beliau adalah seorang Waliyullah, beliau adalah seorang Nabiyullah, beliau adalah seorang Rasulullaah, beliau adalah seorang yang istimewa bagi Allah (swt).  Beliau mengatakan, “Yaa Rabbii, in tu `adzdzibhum fa’innahum `ibaaduk, jika Engkau menghukum mereka, jika Engkau memberi kesulitan pada mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu.”  Beliau mengatakan, “innahum `ibaaduk,” artinya mereka semua: Mukmin dan non Mukmin, orang-orang yang telah percaya kepada Sayyidina `Isa (as) di masanya dan orang-orang yang tidak percaya kepadanya di masanya.   

Kemudian, 

Wa in taghfir lahum fa’innaka anta ‘l-`Aziizu ‘l-Hakiim 

Dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana

Beliau menyebut mereka sebagai hamba, dan beliau mengatakan, “Yaa Rabbii, jika Engkau menghukum mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, lakukanlah apa yang ingin Engkau lakukan dalam Kerajaan-Mu dengan ciptaan-Mu, tetapi bila Engkau mengampuni mereka, Engkau mampu melakukannya, Engkau Mahaperkasa dan Engkau Mahabijaksana.”  Ini adalah karakeristik dari Awliyaullah, karakteristik dari Anbiyaullah.

Jika kalian ingin mengetahui seorang Waliyullah, lihatlah pada seseorang yang menerima semua orang, lihatlah pada seseorang yang mencintai semua orang, lihatlah pada seseorang yang menyayangi semua orang.  Jika kalian ingin mengikuti seorang yang baik, maka orang yang baik itu haruslah orang yang tidak menolak orang ini, orang yang tidak mengusir orang itu, orang yang tidak menghindari orang ini, tidak menghina orang ini, tidak menyakiti orang itu, tidak mengatakan hal-hal yang buruk tentang orang itu, tidak!  Waliyullah adalah seseorang yang mempunyai dada yang lapang, sebagaimana yang dikatakan oleh Mawlana Shaykh Nazim (q). Waliyullah menerima semua orang, ia mencintai semua orang, ia menyayangi semua orang, dan inilah jalan kita, tarekat kita, jalan kita Tarekat Naqsybandiyya mengajarkan hal itu kepada kita, yakni bahwa kalian harus berada di jejaknya Awliyaullah, kalian harus berada di jejaknya Rasulullah (saw).  Lalu apa jejak beliau (saw)? Beliau adalah Rahmatan lil `aalamiin, beliau adalah rahmat bagi semua orang.     

Jika kalian mengaku sebagai Waliyullah atau mengaku sebagai orang yang baik, tetapi kalian tidak mempunyai rasa sayang terhadap semua orang, berarti ada suatu PR yang harus dilakukan.  Kita harus berbuat lebih banyak, kita harus lebih maju, semoga Allah (swt) menjadikan kita sebagai bagian dari orang-orang yang berada di jejak tersebut. Selalu bersikap baiklah kepada orang lain, cintailah mereka selalu, dan sayangilah mereka selalu.  Ini adalah karakteristik Awliyaullah. Dan mereka mengambil karakteristik itu dari guru mereka, yaitu Rasulullah (saw). Dan Rasulullah (saw) mengambilnya dari siapa? Dari ar-Rahmaan ar-Rahiim, dari Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim, dengan Nama Allah, ar-Rahmaan ar-Rahiim.  Mereka semua mengambil dari Rahmaan tersebut, dari Nama Suci Rahma.  Wahai manusia, jadilah di antara `ibaadu ‘r-Rahmaan, jadilah orang yang baik, yang mencintai dan menyangi orang lain!  Allah (swt) mencintai hal itu. Insya Allah kita dapat menjadi salah satu dari mereka. 

Rahmatullaahi waasi`a, sebagaimana yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim (q) bahwa Rahmat Allah itu luas dan setiap orang telah memberikan ikrarnya kepada Tuhan mereka dan Allah (swt) akan membawa mereka ke dalam Rahmat-Nya, ke dalam Surga-Nya.  Jadi, jangan bersedih! Jangan gundah! Laa taqnathuu min Rahmatillaah, janganlah berputus asa dengan Rahmat Allah, karena ia mencakup segala sesuatu.  Allah (swt) akan memberikan Rahmat-Nya kepada semua orang. Semoga Allah (swt) mengampuni kita semua, insyaAllah.

Saya rasa ini cukup untuk kita sekarang.  Insya Allah kita akan melakukan Khatmul Khwajagan dan semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang bermurah hati kepada orang lain. 

Saya berniat untuk membaca beberapa halaman berikutnya, tetapi saya pikir ini sudah cukup untuk malam ini.  Insya Allah Kamis depan, hamba yang lemah ini, hamba yang dhaif ini–guru kita mengajarkan kita untuk mengatakan bahwa kita adalah orang-orang yang lemah, kita tidak berpura-pura untuk menjadi sesuatu.  Kita adalah orang yang lemah. Kita hanya berbicara dari apa yang telah kita baca, yang telah kita dengar dari guru kita. Semoga Allah (swt) memberkahi ruh mereka, mensucikan asrar (rahasia-rahasia) mereka, dan menjadikan kita selalu sebagai mutaraabithiin, selalu tersambung dengan mereka. 

Dalam Surat Ali `Imran, Allah (swt) berfirman,
Yaa ayyuhalladziina aamanushbiruu 

Ayat terakhir Surat Ali `Imran, karena sebagian orang merasa keberatan dengan pertalian atau koneksi antara kita dengan guru kita.  Allah (swt) berfirman di dalam Surat Ali `Imran, ayat karimah terakhir,

Asta`idzubillah, 

Yaa ayyuhalladziina aamanushbiruu 


Wahai orang-orang yang beriman, orang-orang yang mempunyai iman kepada Allah (swt), dan Rasul-Nya, kepada kitab-kitab suci dan malaikat-Nya, pada Hari Akhir dan takdir, ushbiruu, bersabarlah!  Itu artinya buatlah ego kalian bersabar dalam beribadah.  Ego kalian harus setuju dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah (swt).  Ego kalian harus berserah diri pada apa yang Allah (swt) inginkan, ego kalian harus tunduk.  Jadi sabar di sini adalah untuk ego, nafs.

Yaa ayyuhalladziina aamanushbiruu wa shaabiruu 


Dan shaabiruu ma`a Allah, lakukan yang terbaik untuk terus menempuh jalan kalian, artinya mampu menghadapi kesulitan dan beban untuk dijalankan ma`a Allah bersama Allah (swt), ini adalah untuk hati.  Allah (swt) harus mengirim min shifatil Jalaal, karakteristik Jalaal di dalam hati untuk membersihkan karakter-karakter buruk dalam hati.  Jadi Yaa ayyuhalladziina aamanushbiruu wa shaabiruu artinya bersabarlah dalam ketaatan, dalam kepatuhan, itu adalah untuk ego, nafs; wa shaabiruu dan berusahalah agar mampu memikul beban yang datang pada kalian untuk membersihkan hati kalian; wa raabithuu sambungkan diri kalian dan ini adalah untuk ruh. 

Sejak Hari Perjanjian ada beberapa ruh yang saling terhubung, menjadi bersahabat, dan ada beberapa ruh yang tidak terhubung.  Jadi kalian harus mencari tahu kepada siapa ruh kalian terhubung, raabithuu, dan ini adalah Syekh kalian, ini adalah Grandsyekh kalian, Waliyullah, ini adalah Mursyid kalian.  Kalian harus membuat pertalian dengan Mursyid kalian, wa raabithuu wattaqullaaha , kemudian bertakwalah kepada Allah, la`allakum tuflihuun agar kalian menjadi orang-orang yang beruntung, yang akan masuk Surga.

Jadi, jangan lupa: bersabar dengan ego kalian, biarkan ego kalian bersabar pada ketaatan, dan biarkan hati kalian menanggung kesulitan yang muncul dan biarkan ruh kalian terhubung dengan ruh Mursyid kalian dan lakukan kebaikan sehingga kalian bisa masuk ke Surga.  Kita dapat melakukan keempat-empatnya. Ini adalah ayatul kariimah terakhir dalam Surat Ali `Imran.  Insya Allah yaa Rabbii, jadikanlah kami sebagai orang yang dapat melakukan hal tersebut. 

Bi hurmatil habib wa bi sirri Suuratil Faatihah.     

        

Kehidupan Kita adalah tentang Perjalanan ke Hadirat Ilahiah

89591512_871362696659943_7271272168413757548_n

Dr.Nour Kabbani
Shuhbah
Fenton, Michigan, 19 Maret 2020


a`uudzu billaahi syamii`i ‘l-`aliim mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
a`uudzu billaahi syamii`i ‘l-`aliim mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Rabbii laa hawla wa laa quwwata illa billaahi ‘l-`aliyyi ‘l-`azhiim 

Destur yaa Sayyidi Madad, yaa Sulthaanil Awliya, 
Yaa Sayyidi Quthbal Mutasharrif, 

Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Aziiz Allah
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Kariim Allah
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhan Allah
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Sulthan Allah

Engkau adalah Sulthan yaa Rabbii, Engkau yang mengendalikan segala sesuatu, dengan kendali penuh, kendali yang mutlak.  Tidak ada yang dapat melarikan diri dari-Mu yaa Rabbii, Engkau Maha Mengetahui apa pun yang terjadi. Yaa Rabbii, kami adalah hamba-Mu yang lemah, tolonglah kami yaa Rabbii, berikanlah apa yang kami perlukan.  

Assalamu’alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh,

Selamat datang!  Selamat datang! Selamat datang untuk kalian dan selamat ulang tahun untuk saya. (tertawa)

Mawlana Syekh Nazim, mursyid kita, guru kita.  Semoga Allah (swt) memberkahi beliau selama-lamanya, dan menjadikan kita senantiasa mengikuti jejaknya.  Alhamdulillah kita melanjutkan perjalanan kita. Perjalanan kita ke mana? Ke Hadirat Allah, ilal hadhrah qudsiyyah, ke Hadirat Ilahiah-Nya yang suci, al-hadhratul wahidiyyah, al-hadhratil asma’iyyah, semoga Allah (swt) membuka pintu itu untuk kita.  

Kita semua meminta untuk hidup.  Ini adalah perkataan Mawlana Syekh Nazim (q).  Semua kata-kata saya berasal dari kata-kata guru saya.  Saya berusaha untuk tidak mengatakan apa-apa dari imajinasi saya; saya berusaha untuk mengikuti dan mengulangi apa yang telah dikatakan oleh guru saya, untuk diri saya agar dapat mengerti dan untuk orang lain agar dapat bermanfaat.       

Beliau mengatakan, “Nahnu jamii`an tathlubul hayaat,” kita semua meminta hayat, kehidupan.  Semua orang mencintai kehidupan. Setiap orang senang untuk melanjutkan kehidupannya.  Mereka tidak senang untuk mati. Semua orang di dunia tidak ingin mati, semua orang di dunia ingin agar tetap hidup.  Setiap orang takut dengan kematian. Dan setiap orang ingin hidup selamanya. Ini adalah kata-kata dari guru kita, Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani an-Naqsybandi al-Qubrusi (qaddasAllaahu sirruhu).  Beliau mengatakan, “Setiap orang ingin hidup, setiap orang ingin agar tetap hidup selamanya. Tidak ada orang yang ingin mati.”      

Allah (swt) telah menciptakan manusia; Allah (swt) telah menciptakan kalian dan saya, Allah (swt) tetah menciptakan semua manusia di bumi dan telah memberi mereka dari ruuh-Nya, dari napas-Nya, wa nafakhtu fiihi min ruuhii, dan Aku telah meniupkan Ruh-ku ke dalamnya (QS al-Hijr: 15-29).  Allah (swt) telah memberikan napas suci itu (ruh) kepada manusia setelah Dia menciptakannya.  Dan Dia telah memberinya kekuatan, qudrah; Dia telah memberinya kemampuan; Dia membuat manusia mampu untuk belajar, untuk memahami, untuk mengetahui, untuk merasakan, untuk mencintai; dan Dia juga memberinya kemampuan untuk berkehendak dan untuk menginginkan sesuatu, dan untuk meminta, dan untuk bergerak sesuai dengan keinginannya, dan sesuai dengan permintaannya.  

Allah telah membuat kalian mampu, wahai manusia dengan kehidupan yang Dia berikan kepada kalian.  Dia telah memberi kalian kehidupan itu. Dan Dia telah memberikan kalian perlengkapan di dalamnya.  Kalian mempunyai peralatan dalam diri kalian. Peralatan, yang mereka sebut isti`adaad, kesiapan.  Allah (swt) telah memberi kalian isti`adaadun fithri, Dia telah memberi kalian kesiapan sejak Dia menciptakan kalian.  Ini adalah isti`adaad kalian, modal kalian.  Allah telah memberi kalian kesiapan untuk memulai suatu perjalanan ke Hadirat Ilahiah-Nya.  Dan itu adalah kehidupan kalian.  

Kehidupan kalian bukanlah tentang kenikmatan sebagaimana yang dilakukan oleh binatang, tidak!  Kehidupan kalian adalah tentang mengambil manfaat dari karunia yang telah Allah berikan kepada kita untuk mencari perjalanan tersebut.  Perjalanan ke Hadirat Ilahiah-Nya. Jadi kehidupan kalian adalah tentang melakukan perjalanan ke Hadirat Ilahiah itu. 

Grandsyekh mengatakan, “Laqad `athaanaa hayaat,” Allah (swt) telah memberi kita kehidupan.  Tetapi kehidupan ini tidak diberikannya kepada yang lain.  Binatang tidak mempunyai kehidupan seperti manusia. Binatang tidak akan mengetahui apa yang diketahui oleh manusia.  Binatang tidak akan mengerti apa yang dimengerti oleh manusia. Binatang tidak akan merasakan apa yang dirasakan oleh manusia.  Kehidupan kalian berbeda dengan kehidupan binatang. Binatang tidak mempunyai kekuatan untuk berkehendak. Manusia diberikan iraadah, kehendak. Kita dapat merasakan kehidupan; kita mengetahui tentang kehidupan; kita merasakan kehidupan; kita mencari kehidupan; kita meminta kehidupan.  Jadi manusia adalah seorang mujaahid, seorang pejuang.  Ia berjuang untuk apa?  Manusia berjuang agar tetap hidup dan tidak mati.  Ahh… kita ingin hidup!

Jadi Grandsyekh mengatakan, “Kalian ingin hidup, tidakkah kalian pikir bahwa Allah (swt) mengetahui keinginan itu di dalam dirimu, wahai manusia?”  Allah (swt) mengetahui keinginan manusia untuk hidup. Dia bersama kita. Apakah menurut kalian Dia tidak mengetahui hal itu? Wallaahu bi kulli syay’in `aliim, dalam Surat at-Taghabun, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.  Wahai manusia, Dia tahu bahwa kalian ingin hidup. Tidak hanya sekarang, Dia tahu bahwa kalian ingin hidup selamanya dan setiap orang ingin masuk Surga.  Setiap orang ingin berada dalam kesenangan yang abadi. Allah (swt) mengetahui hal itu tentang manusia. Jika kalian berpikir bahwa Dia tidak tahu bahwa kalian ingin hidup, berarti kalian salah.  

Grandsyekh mengatakan, “Innahu ya`lam, Allah (swt) mengetahui bahwa sepanjang hidupnya manusia akan mengalami tamparan dalam kondisi terburuk yang mungkin terjadi.  Walaupun begitu manusia ingin tetap hidup dan tidak mau mati. Menghadapi hal itu, Grandsyekh mengatakan bahwa manusia terdiri dari dua golongan.  Kebanyakan orang melihat hal itu dan mereka merasa takut. Mereka berpikir bahwa kematian adalah akhir dari keberadaan mereka. Mereka berpikir bahwa kematian adalah pintu menuju ketiadaan.  Mereka berpikir bahwa kematian merampas keberadaannya. Mayoritas orang yang berpikir seperti itu, mereka tidak mengerti tentang rahasia kehidupan; dan mereka tidak mengerti tentang hakikat kematian.  Mereka tidak mengerti tentang rahasia kehidupan yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka tidak mengerti apa makna dari kehidupan dan makna dari kematian. Mereka tidak mengerti tentang konsekuensi berada dalam kehidupan dan kematian.  Mayoritas orang tidak mengerti tentang hakikat kematian dan mereka tidak mengetahui rahasia kehidupan.         

Hanya sedikit orang yang memahami hakikat kematian dan kehidupan sejati.  Dan yang sedikit ini, mereka mengetahui apa yang diinginkan oleh Allah (swt) dan mereka mengerti hikmah dalam penciptaan ini.  Oleh sebab itu mereka adalah orang-orang yang bahagia. Mereka adalah orang-orang yang ridha. Mereka merasa puas. Orang-orang ini, mereka mengetahui hakikat kehidupan dan hakikat kematian.  Jadi ketika manusia dihadapkan dengan kematian, mayoritas orang ketakutan karena mereka tidak mengerti tentang hakikat kematian dan hanya sedikit yang menyambut kematian itu dengan senang hati, karena mereka mengerti tentang hakikat kematian dan apa yang dibawa oleh kematian itu bagi mereka.  

Jadi mayoritas orang yang takut akan kematian dan mereka berpikir bahwa kematian adalah pintu menuju ketiadaan, mereka adalah orang-orang yang menyedihkan, mereka adalah orang-orang yang tertekan.  Hari demi hari mereka jatuh semakin dalam ke dalam sumur penderitaan dan kesedihan. Orang-orang yang tidak mengerti tentang kehidupan sejati, tentang rahasia kehidupan. Tetapi yang lain, mereka bahagia, karena mereka tahu apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan mereka.  

Wahai Mukmin, di mana iman kalian?  Iman adalah senjata kalian. Iman adalah pendukung kalian; iman adalah tempat bernaung kalian, tempat kalian berlindung.  Dalam Surat at-Taghabun (QS 64: 11), wa man yu’min billaahi yahdi qalbahWa man yu’min billaahi, dan barang siapa yang mempunyai iman, barang siapa yang percaya kepada Allah (swt); yahdi qalbah, Allah menjadikan hati mereka mendapat petunjuk menuju ketenangan dan ketenteraman.  Dia memberikan ketenangan dan kedamaian di dalam hati kalian. Apa? Yu’min billaah, iman kepada Allah (swt).  Allah tidak melanjutkannya pada yang lainnya, karena iman itu adalah asal, iman adalah target utamanya; sedangkan yang lainnya akan mengikuti.  Orang-orang ini tahu bahwa Allah (swt) mengetahui bahwa kita ingin melanjutkan kehidupan kita.  

Jika Allah (swt) memberikan karunia kehidupan kepada kalian dan Dia menjadikan kalian dapat merasakan keindahan dalam kehidupan dan membuat kalian melanjutkan kehidupannya, apakah menurut kalian Allah (swt) akan mencabut nikmat tersebut dari kalian?  Grandsyekh mengatakan, “Jangan berpikir bahwa Allah (swt) akan mencabut nikmat tersebut.” Nikmat apa? Nikmat kehidupan. Jangan berpikir bahwa Allah (swt) akan menjadi pelit, dan mengeluarkan kalian dari kehidupan abadi. Kehidupan yang abadi, itulah tujuannya.  Untuk tujuan itu, Allah (swt) telah mengutus manusia pertama.  

Orang-orang bertanya, “Mengapa Adam dikeluarkan dari Surga?”  Adam keluar dari Surga untuk menyeru kepada anak cucunya, menyeru kepada hamba Allah (swt) untuk kehidupan yang abadi.  Grandsyekh mengatakan, “Allah (swt) telah mengutus manusia pertama, rasul pertama, dengan pesan pertama di bumi. Apakah pesan yang dibawa oleh Ayah dari seluruh manusia?  Ayah kalian! Apakah pesan yang dibawa oleh Nabi pertama bagi manusia? Apakah pesan pertama untuk manusia? Pesan pertama dari Allah (swt), Sang Pencipta adalah, “Wahai hamba-Ku, Aku berjanji padamu, dan Aku memanggilmu untuk masuk ke dalam kehidupan yang kekal.”  “Karena panggilan menuju kehidupan yang kekal itu, Aku telah membuat kematian untuk tinggal bersamamu. Aku telah membuat kematian berada di antara kalian.” “Aku memanggil kalian menuju kehidupan yang kekal!” Itulah pesan pertama yang datang bersama manusia pertama, dan Nabi pertama di bumi.  

Wahai manusia, Allah (swt) memanggil kalian menuju kehidupan yang kekal.  Menuju kekekalan dengan kebahagiaan dan kesenangan. Apa pun yang kalian rasakan di sini, itu akan dilipatgandakan di sana.  Apa pun yang kalian nikmati di sini, itu akan dilipatgandakan di sana. Dan di sana lebih mulia, lebih besar, lebih terhormat, tidak ada kematian dalam kehidupan di sana.  Itulah pesan pertama kepada manusia. “Itulah sebabnya Aku menciptakan kematian di antara kalian.” Alladzii khalaqa ‘l-mawta wa ‘l-hayaata… di dalam Surat Tabarak (QS 67:2).  MasyaAllah, saudara-saudari kita, kalian membaca Surat Tabarak.

Allah (swt) berfirman di dalam Surat al-Mulk, Alladzii khalaqa ‘l-mawta, Dia telah menciptakan kematian, wa ‘l-hayaata, dan kehidupan, liyabluwakum, untuk menguji kamu, ayyukum ahsanu `amala, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, itu artinya siapa di antara kalian yang akan memenuhi panggilan Rasulullah (saw), yang akan memenuhi panggilan Rasul-Rasul, yang akan memenuhi panggilan Rasul pertama.  Panggilan seperti apa? Allah (swt) mengundang kalian untuk masuk ke kehidupan yang kekal di tanah yang penuh kebahagiaan, kesenangan dan kedamaian.  

Jadi mengapa kalian takut?  Mengapa kalian termasuk golongan mayoritas tadi?  Di mana hari demi hari mereka semakin tertekan. Hari demi hari mereka semakin menderita.  Hari demi hari mereka berada dalam kegelapan. Mengapa? Kalian seharusnya termasuk golongan yang minoritas.  Minoritas yang bahagia dengan Tuhannya; mereka mengharapkan dan menyambut hari di mana mereka akan kembali kepada Tuhannya.    

Apa yang dikatakan oleh Allah (swt)?  Suatu ketika Sayyidina Umar (ra) mendapati seorang Mukmin yang sedang berdoa, “Allahumma ‘j-alni mina ‘l-Khaliil,”  “Wahai Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang sedikit.  Sayyidina Umar (ra) berkata, “Doa macam apa ini?” Orang itu berkata, “Yaa Sayyidi, yaa Amira ‘l-Mu’miniin, aku pernah mendengar firman Allah (swt), “Hanya sedikit dari hamba-Ku yang bersyukur.”  Aku berdoa agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang sedikit ini.” Kelompok mana yang sedikit ini?  Mereka adalah orang-orang yang bersyukur. Apa yang mereka syukuri? Mereka bersyukur bahwa mereka telah diciptakan dan telah ditemukan.  Mengapa? Sehingga mereka dapat mengikuti Rasulullah (saw), agar mereka dapat menjawab panggilan Allah (swt).  

Apa yang dikatakan oleh Allah (swt)?  Wahai Mukmin, bukankah Dia berfirman, “falyastajiibuu lii wa ‘l-yu’minuu bii la`allahum yarsyuduun,” (QS 2: 186)

Hendaklah mereka itu memenuhi panggilan-Ku, katakan pada mereka untuk memenuhi panggilan-Ku, kalian semua, penuhilah panggilan-Ku. Panggilan untuk apa?  Panggilan menuju kehidupan yang kekal, hayatun abadiyya, laa mawta fiiha, tidak ada kematian di sana.   

Grandsyekh memberi kita kabar gembira.  Mukmin harus bergembira setiap saat. Mukmin harus merasa puas setiap saat.  Mukmin harus menyambut datangnya hari di mana ia akan bertemu Tuhannya setiap saat.  Mengapa kalian takut, wahai Mukmin? Wahai Mukmin di Saudi, wahai Mukmin di Lebanon, wahai Mukmin di Turki, di Pakistan, di Afrika, di Amerika, di Eropa, wahai Mukmin, wahai orang-orang yang beriman, orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan Surgawi.  Mengapa kalian bersedih? Mengapa kalian takut? Allah (swt) telah menjanjikan kepada kalian kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan ini. Allah (swt) telah menjanjikan kepada kalian kehidupan yang indah dan manis yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya.  Allah (swt) telah menjanjikan kepada kalian untuk berada di Surga dengan Awliya dan Anbiya untuk mendapat maqam laa khawfun `alayhim wa laa hum yahzanuun.  Maqam itu bukan untuk setiap orang, sekarang kalian mengerti bukan?  

Untuk mendapat maqam di mana tidak ada rasa takut pada diri mereka, tidak ada kesedihan pada diri mereka, Allah (swt) memberi ujian di dunia ini.  Mereka yang telah mencapai maqam laa khawfun `alayhim wa laa hum yahzanuun tidak ada ketakutan menimpa mereka.  Tidak ada kesedihan menimpa mereka. Perhatikanlah, mana yang telah mencapai maqam tersebut, di antara masya Allah para Imam, dan Syuyukh, dan para ulama di seluruh dunia.  Mereka semua takut dan bersembunyi. Allah (swt) menunjukkan Awliya-Nya pada kalian.  Mana yang tidak takut dan tidak bersedih hati? Mereka malah senang dan merasa puas. Mereka malah penuh cinta kepada Tuhannya.  Hal itu menunjukkan kepada kalian siapa yang sesungguhnya Awliyaullah; itu menunjukkan siapa Mukmin sejati. 

Grandsyekh mengatakan bahwa nikmat terbesar yang telah dikaruniakan Allah dari Kemurahan-Nya kepada manusia adalah janji bagi mereka untuk kehidupan yang kekal.  Kehidupan dalam keabadian. Kalian tahu contoh saya dan contoh kalian? Kita adalah kuda. Saya dan kalian adalah kuda. Apa yang mereka lakukan terhadap kuda-kuda ini?  Mereka memasangkan kereta padanya. Kalian tahu di masa lalu ketika mereka mempunyai kuda-kuda dan keretanya. Sebelum semua teknologi ini, ada kuda dan kereta yang diikatkan pada kuda itu.  Apa yang dilakukan kuda-kuda ini sejak pagi hingga sore? Mereka membawa manusia, mereka membawa barang dagangan, mereka bekerja. Mereka melakukan pekerjaan berat untuk memberi manfaat bagi manusia.  Tugas saya, tugas kalian adalah itu, kita ini adalah kuda yang melakukan pekerjaan berat demi memberi manfaat bagi kemanusiaan. Ketika pekerjaan kita selesai, apa yang mereka lakukan? Ketika pekerjaan seekor kuda telah selesai, apa yang orang lakukan?  Mereka melepaskan kuda-kuda itu. Mereka melepaskan keretanya, mereka membawa kuda itu ke tempat istirahat yang nyaman, memberi mereka makanan terbaik dan membersihkannya, membelainya dan mungkin menciumnya, kita tidak tahu.  

Mereka mengatakan, “Kalian telah melakukan tugas kalian.  Kalian telah melakukan pekerjaan kalian, kalian telah memberi manfaat bagi manusia.  Sekarang waktunya bagi kalian untuk beristirahat. Grandsyekh mengatakan bahwa gerbang menuju kehidupan yang kekal adalah ketika mereka mengatakan kepada kalian, “Sekarang kalian bebas dari semua tanggung jawab ini.  Kalian telah melakukan yang terbaik, wahai manusia, wahai hamba Allah (swt), wahai hamba Tuhan, kalian telah melakukan yang terbaik untuk masyarakat kalian, kalian telah melakukan yang terbaik untuk keluarga kalian, kalian telah melakukan yang terbaik bagi tetangga kalian.  Kalian telah melakukan yang terbaik bagi negara kalian, kepada dunia, kalian telah melakukan yang terbaik untuk ciptaan Allah. Sekarang Allah menyambut kalian menuju kehidupan yang kekal. Mari lepaskan kereta ini dari kalian untuk membebaskan kalian. Itulah hikmah yang telah diberikan oleh Grandsyekh Naqsybandi ke dalam hati guru kita.  Dan hikmah itu sepatutunya berada dalam hati kalian wahai Mukmin, bahwa Allah telah menjanjikan kepada kalian hayatun abadiyya, kehidupan yang kekal dan Dia telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian apakah kalian akan melakukan pekerjaan yang baik atau tidak.  Jadi, janganlah bersedih hati, jadilah di antara mereka yang sedikit, yang bahagia, yang bersyukur dan memohon kepada Allah (swt) untuk memasukkan mereka ke dalam kehidupan yang kekal.  

Kita semua ingin hidup, tidak ada orang yang ingin mati, jadi ambillah tindakan pencegahan sehingga kalian dapat dimasukkan ke dalam hayatun abadiyya, kehidupan yang kekal.  Itulah yang penting, dan untuk masuk melalui pintu tersebut, yakni melalui kematian.  Melalui pintu itu menuju kehidupan yang kekal. Jadi bergembiralah.  

Grandsyekh mengatakan, dan saya akan mengakhirinya di sini, “Kalian harus meminta kepada Allah (swt), kalian harus berdoa, “Yaa Rabbii an im `alayya, wahai Tuhanku, karuniakan kepadaku lebih banyak nikmat dengan kehidupan yang tidak akan berakhir.”  Itulah sebabnya kita semua ingin hidup, itulah sebabnya setiap orang merasa takut, kita ingin hidup selamanya, tetapi kehidupan di dunia pada akhirnya akan berakhir.  Engkau menjanjikan kehidupan yang kekal. Jadi mintalah kepada Tuhan kalian ketika kalian berada di sini, “Yaa Rabbii, berikanlah kepada kami kehidupan yang tidak pernah berakhir, kehidupan yang akan berlangsung selamanya, hayatan khalida.”  

Mawlana sering mengatakan, “Kehidupan yang tidak pernah berakhir.”  Mintalah kepada Allah (swt) kehidupan yang tidak pernah berakhir, hayatan khalida.  Semoga Allah (swt) mengaruniai kehidupan tersebut.  Kita semua ingin hidup dan kita memohon kepada Allah agar dikaruniai kehidupan yang kekal. Kita katakan, “yaa Rabbii, kami telah memenuhi panggilan-Mu.  Tolonglah kami yaa Rabbii, tolonglah kami untuk memberi manfaat bagi manusia, agar kami dapat melakukan yang terbaik bagi kemanusiaan, sebagaimana seekor kuda telah melakukan pekerjaan terbaiknya, izinkanlah kami melakukan yang terbaik di dunia ini.”  Ketika kita telah melakukan yang terbaik, Mereka akan melepaskan kita dan mengatakan, “Engkau telah melakukan yang terbaik, Tuhanmu menantikanmu.” Itulah yang penting.  

Semoga Allah (swt) senantiasa mengumpulkan kita bersama.  Semoga Allah (swt) menjaga kita dalam jejak para Shadiqiin, jejak orang-orang yang benar, jejaknya Grandsyekh kita yang luar biasa.     

[doa]

wa min Allah at-tawfiiq bi hurmatil habib wa bi sirri Suuratul Faatihah